P. 1
Pengertian Uji Hipotesis

Pengertian Uji Hipotesis

|Views: 135|Likes:
Published by Irfan Barat

More info:

Published by: Irfan Barat on Mar 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/23/2013

pdf

text

original

Paper Statistik

Hipotesis Satu Sisi

disusun untuk memnuhi tugas mata kuliah Statistik

oleh
Irfandi 1105106010007

FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA DARUSSALAM - BANDA ACEH 2012

A. Pengertian Uji Hipotesis Banyak pendapat yang menjelaskan arti dari pengujian hipotesis tersebut. Berikut akan dijabarkan beberapa pengertian dari berbagai refrensi yang ada. Sutrisno Hadi(1981), dalam bukunya yang berjudul “Statistika” istilah hipotesa sebenarnya adalah kata majemuk, terdiri dari kata-kata hipo dan tesa. Hipo besrasal dari bahasa yunani hupo, yang berarti dibawah, kurang atau lemah. Tesa berasal dari bahasa yunani thesis, yang berarti teori atau proposisi yang disajikan sebagai bukti. Jadi hipotesa adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya. Hipotesa pada dasarnya merupakan suatu proposisi atau anggapan yang mungkin benar dan sering dipergunakan untuk dasar pembuatan keputusan atau pemecahan persoalan atau untuk dasar penelitian yang lebih lanjut (Supranto, 1986). Hipotesis adalah pernyataan tentang sesuatu yang perlu dibuktikan atau diuji kebenarannya (Kuswadi, 2004). Asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal itu yang sering dituntut untuk melakukan penegcekkannya. Jika asumsi atau dugaan itu dikhususkan mengenai populasi, maka hipotesis tersebut merupakan hipotesis statistik. Setiap hipotesis bisa benar atau tidakbenar dan karenanya perlu diadakan penelitian sebelum hipotesis itu diterima atau ditolak. Langkah atau prosedur untuk menentukan apakah hipotesis tersebut diterima atau ditolak disebut dengan pengujian hipotesis. Telah kita ketahui bahwa suatu penduga pada umumnya tidaklah harus sama dengan nilai parameter yang sebenarnya. Istilah hipotesis sebenarnya adalah kata majemuk, terdiri dari kata-kata hipo dan tesa, hipo berasal dari kata yunani yang berarti di bawah, kurang, atau lemah. Sedangkan tesa yang berarti teori atau proporsi yang disajikan sebagai bukti. Jadi hipotesis adalah pernyataan yang masih lemah kebenarannya dan masih perlu dibuktikan kenyataannya. Jika suatu hipotesis telah dibuktikan kebenarannya namanya bukan lagi hipotesis (Kerlinger, 1979).

B. Prosedur Pengujian Hipotesis Prosedur pengujian hipotesis adalah langkah-langkah yang dipergunakan dalam menyelesaikan pengujian hipotesis tersebut. Langkah-langkhanya adalah sebagai berikut: 1. Menentukan Formulasi Hipotesis Formulasi atau perumusan hipotesis statistic dapat dibedakan atas dua jenis, yaitu sebagai berikut: a. Hipotesis nol atau hipotesis nihil Hipotesis nol disimbulkan dengan H0 adalah hipotesis yang dirumuskan sebagai suatu pernyataan yang akan diuji. Disebut hipotesis nol karena hipotesis tersebut tidak memiliki perbedaan, atau perbedaannya nol dengan hipotesis sebenarnya. b. Hipotesis alternative atau hipotesis tandingan Hipotesis ini disimbolkan H1 atau Ha adalah hipotesis yang dirumuskan sebagai lawan atau tandingan dari hipoesis nol. Dalam menyusun hipotesis alternative timbul 3 keadaan berikut: 1. H1 menyatakan bahwa harga parameter lebih besar daripada harga yang dihipotesiskan. Pengujian itu disebut pengujian satu sisi.yaitu sisi kanan. 2. H1 menyatakan bahwa harga parameter lebih kecil daripada harga yang dihipotesiskan. Pengujian ini disebut pengujian satu sisi yaitu sisi kiri. 3. H1 menyatakan harga parameter tidak sama dengan harga yang

dihipotesiskan. Pengujian itu disebut pengujian dua sisi yaitu pengujian sisi kanan dan kiri sekaligus.Apabila hipotesis nol diterima (benar) maka hipotesis alternative ditolak. Demikian sebaliknya. 2. Menentukan Taraf Nyata Taraf nyata adalah besarnya batas toleransi dalam menerima kesalahan hasil hipotesis terhadap nilai parameter populasinya. Taraf nyata dilambangkan dengan

(α) Semakin tinggi taraf nyata yang digunakan, semakin tinggi pula penolakan hipotesis nol atau hipotesis yang diuji, padahal hipotesis nol besar. 3. Menentukan Kriteria Pengujian Criteria pengujian adalah bentuk pembuatan keputusan dalam menerima atau menolak hipotesis nol (H0) dengan cara membandingkan nilai (α) table distribusinya dengan nilai uji statistiknya, sesuai dengan bentuk pengujiannya. 4. Menentukan Nilai Uji Statistik Uji statistic merupakan rumus-rumus yang berhubungan dengan distribusi tertentu dalam pengujian hipotesis. Uji statistic merupakan perhitungan untuk menduga parameter data sample yang diambil secara random dari sebuah populasi. 5. Membuat Kesimpulan Pembuatan kesimpulan merupakan penetapan keputusan dalam hal

penerimaan atau penolakan hipotesis nol, sesuai dengan criteria pengujiannya. Pembuatan kesimpulan dilakukan setelah membandingkan nilai uji statistic dengan nilai (α) table atau nilai kritis (Iqbal, 2003).

C. Uji Hipotesis Satu Sisi Terdapat dua macam pengujian hipotesis deskriptif , yaitu dengan uji dua sisi (two tail test) dan uji satu sisi (one tail test). uji satu sisi ada dua macam yaitu uji sisi kanan dan uji sisi kiri.Uji hipotesis satu sisi atau satu arah adalah uji hipotesis tandingannya merupakan pernyataan lebih besar atau lebih kecil. Apabila hipotesis tandingannya merupakan pernyataan yang lebih besar, maka arah penolakkannya adalah kearah kanan yaitu menolak 𝐻𝑜 apabila statistik uji yang diperoleh lebih besar dari ambang nilai kritis yang ditetapkan. Sedangkan apabila hipotesis tandingannya merupakan pernyataan yang lebih kecil, maka arah penolakannya adalah kearah kiri yaitu menolak 𝐻𝑜 apabila statistik uji yang diperoleh lebih kecil dari nilai kritis yang ditetapkan. Nilai kritis (critical value) suatu statistik uji adalah nilai yang begitu ekstrem sehingga probabilitas untuk mendapatkan nilai tersebut atau yang lebih ekstrem, bila H0 benar, sama dengan a. Dengan demikian bahwa dalam kaidah pengambilan keputusan (decesion rule) dapat dinyatakan menurut nilai-nilai kritis.

Sebagai contoh, dalam suatu uji satu sisi kaidah pengambilan keputusan memutuskan bahwa menolak H0 jika nilai statistik uji hasil perhitungan lebih ekstrem (entah lebih besar atau lebih kecil, bergantung pada arah hipotesis tandingan) daripada nilai kritis. Dalam uji dua sisi akan dihadapi dua nilai kritis, sehingga dalam kaidah pengambilan keputusan memutuskan bahwa menolak H0 jika nilai statistik uji hasil perhitungan lebih besar daripada nilai kritis yang besar atau lebih kecil daripada nilai kritis yang kecil.

1. Uji Sisi Kiri Menerima H0

Menrima H0

H0: P = P dan H1: P < P.

2. Uji Sisi Kanan

Menerima H0

H0: P = P dan H1: P > P.

Uji statistik merupakan rumus-rumus yang berhubungan dengan distribusi tertentu dalam pengujian hipotesis. Uji statistik merupakan perhitungan untuk menduga parameter data sampel yang diambil secara random darisebuah populasi.

Pembuatan kesimpulan merupakan penetapan keputusan dalam hal penerimaan atau penolakan hipotesis nol (H0), sesuai dengan kriteria pengujiannya.Pembuatan kesimpulan dilakukan setelah membandingkan nilai uji staistik dengan nilai a tabel atau nial kritis. D. Dua Jenis Kesalahan Dalam pengujian hipotesis, kesimpulan yang diperoleh hanya penerimaan atau penolakan terhadap hipotesis yang diajukan, tidak berarti kita telah membuktikan atau tidak membuktikan kebenaran hipotesis tersebut. Hal ini disebabkan kesimpulan tersebut hanya merupakan inferensi didasarkan sampel. Dalam pengujian hipotesis dapat terjadi dua jenis kesalahan, yaitu : a. Kesalahan Jenis I Kesalahan jenis I adalah karena H0 ditolak padahal kenyataannya benar. Artinya, kita menolak hipotesis tersebut (H0) yang seharusnya diterima. b. Kesalahan Jenis II Kesalahan jenis II adalah kesalahan karena H0 diterima padahal kenyataannya salah. Artinya, kita menerima hipotesis (H0) yang seharusnya ditolak. Contoh soal Sebuah perusahaan alat olahraga mengembangkan jenis batang pancing sintetik, yangdikatakan mempunyai kekuatan dengan nilai tengah 8 kilogram dan simpangan baku 0,5 kilogram. Ujilah hipotesis bahwa P = 8 kilogram lawan alternatifnya P ≠ 8 kilogram bila suatu contoh acak 50 batang pancing itu setelah ditesmemberikan kekuatan nilai tengahnya 7,8 kilogram. Gunakan taraf nyata 0,01. Jawab: 1. H0: P = 8 kilogram 2. H1: P ≠ 8 kilogram 3. α = 0,01 4. Wilayah kritik: z < -2,575 dan z > 2,575 𝑧

= 𝑧 =

x − 𝑃0 𝜎

/√𝑛 = −2,83

7,8 − 8 0,5/√50

5. Kesimpulan: Tolak H0 dan disimpulkan bahwa rata-rata kekuatan batang pancing tidak sama dengan 8 kilogram, tetapi kurang dari 8 kilogram.

Daftar Pustaka Hadi, Sutrisno. 1981. Statistik. Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, Yogyakarta. Hasan, M. Iqbal. 2003. Pokok-pokok Statistik 2. PT.Bumi Aksara, Jakarta. Kuswadi dan E. Mutiara. 2004. Statistik Berbasis Komputer untuk Orang-Orang Non Statistik. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Supranto, J. 1986. Statistika teori dan aplikasi. Erlangga, Jakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->