P. 1
Lanjut Usia

Lanjut Usia

|Views: 182|Likes:
Published by Rezky Sya'bani
penjelasan lanjut usia dalam organisasi
penjelasan lanjut usia dalam organisasi

More info:

Published by: Rezky Sya'bani on Mar 31, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/11/2015

pdf

text

original

Emotional Intelegence dan Psychological Well-being pada Manusia Lanjut Usia Anggota Organisasi berbasis Keagamaan di Jakarta

Bonar Hutapea
Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia Y.A.I

Abstract.
The empirical validations of relationship between emotional intelligence and psychological wellbeing remained inconsistent, particularly among older adults. This research was intended to examine the relationship between the emotional intelligence and psychological well-being among elderly people in Jakarta. A sample of 72 elderly men and women of religion-based group completed a set of questionnaires on demographic factors and psychological measurement of emotional intelligence and psychological well-being. These results support previous studies that found positive and significant association between two variable and several demographic factors related. The discussion focuses on finding and limitations of this research for implication and in the light of theoretical and methodological consideration for further research.

Keywords: emotional intelligence, psychological well-being, and elderly people Abstrak.
Validasi empiris hubungan antara kecerdasan emosional dan psychological well-being diwarnai dengan hasil penelitian yang tidak konsisten, khususnya di kalangan manusia lanjut usia (manula). Penelitian ini bertujuan untuk menguji hubungan antara kecerdasan emosional dengan psychological well-being pada manula di Jakarta. Sebuah sampel dari 72 pria usia lanjut dan wanita dari kelompok berbasis keagamaan menyelesaikan satu set kuesioner faktor demografi, pengukuran psikologis kecerdasan emosional, dan psychological well-being. Hasil dalam penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang menemukan hubungan positif dan signifikan antara kedua faktor demografi dan beberapa variabel terkait. Diskusi dalam penelitian ini berfokus pada penemuan dan keterbatasan implikasi penelitian sebagai pencerahan terhadap pandangan teoritis dan metodologis untuk penelitian lebih lanjut.

Keywords: kecerdasan emosional, psychological well-being, dan orang lansia

Menjadi tua memang bukan pilihan melainkan sesuatu yang pasti dialami. Setiap orang, tanpa kecuali, jika berumur panjang akan menjadi tua. Hal ini sesuai dengan siklus kehidupan dan perkembangan yang dialami manusia dengan ciri yang sangat jelas, seperti yang

dinyatakan oleh Hurlock (1996:308), yakni terjadinya perubahan fisik dan psikologis tertentu. Setiap tahun terjadi peningkatan jumlah lanjut usia (lansia) pada berbagai negara. Survei Biro Sensus Amerika Serikat dalam laporannya tentang data demograf i kependudukan

Korespondensi: Bonar Hutapea. Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI. Jl. Diponegoro No. 74 Jakarta Pusat Telp. +6221-3926000 ext. 1501, 1551. E-mail: bonarhtp@yahoo.com atau bonarhtp@gmail.com
INSAN Vol. 13 No. 02, Agustus 2011

64

Peningkatan kuantitas lanjut usia belum tentu diikuti dengan meningkatnya kualitas hidup. Pada masa ini seorang yang merasa dirinya diterima dan dihargai oleh sekelilingnya merupakan anugerah yang tidak mungkin dapat dinilai dengan materi (Hardywinoto & Setiabudhi. Senin. Keadaan seseorang yang sehat secara mental yang memiliki sejumlah kualitas kesehatan mental yang positif seperti penyesuaian aktif terhadap lingkungan. kondisi hidup yang menunjang juga amat dibutuhkan agar lansia tidak merasa tertekan karena ketidaksiapan memasuki masa lansia. ekonomi. Perasaan ini tentu saja tidak membantu untuk penyesuaian sosial dan pribadi yang baik. apakah lanjut usia akan melakukan penyesuaian sosial yang baik atau buruk. Kasus bunuh diri juga meningkat seiring dengan usia. khususnya dalam kebudayaan Amerika. Kondisi hidup yang menunjang tersebut antara lain adalah sosial ekonomi. yaitu berbentuk suatu keutuhan kebijaksanaan.” Disfungsional dan psikopatologi yang dialami lansia. sama seperti penyakit otak setelah usia 60 tahun. membutuhkan kondisi hidup yang sangat diperhitungkan dalam parameter kepuasan hidup. Dalam kurun waktu antara tahun 1990 hingga 2025. Menurutnya. 02. Karena itu. kesehatan. salah satu yang amat penting. dan kesatuan kepribadian.terus bertambah. 2003:4).. disebut Shek (1992) sebagai psychological well-being. diperkirakan jumlah lanjut usia di Indonesia meningkat hingga 414% (Suara Merdeka. Menurut Hurlock (1996:308). Berdasarkan teori psikososial dari Erik Erikson. Dari segi pendidikan.Emotional Intelegence dan Psychological Well-being pada Manusia Lanjut Usia Anggota Organisasi berbasis Keagamaan di Jakarta internasional menyebutkan bahwa di berbagai negara terjadi peningkatan sangat signifikan. Akibatnya penyesuaian pribadi dan sosial pada lansia menjadi jauh lebih sulit. Agustus 2011 65 . para lansia yang mempunyai mental yang sehat masih dapat melakukan hal yang positif. Untuk menjaga keseimbangan kualitas hidup pada lansia. Insiden psikopatologi timbul seiring dengan bertambahnya usia. hubungan dalan keluarga... Sehubungan dengan itu. Hal ini dapat dilihat dari beberapa indikator antara lain adalah banyaknya lansia yang memiliki ketergantungan kuat pada anak atau keluarga lain. Peningkatan harapan hidup. sampai taraf tertentu. Ilmuwan sosial. dibutuhkan kondisi hidup yang menunjang agar lansia dapat menjalani masa lansia dengan baik dan memuaskan. dan masalah psikologis (Hurlock. kesehatan mental (Depsos RI. disebabkan oleh beberapa bahaya yang terjadi pada masa lansia antara lain masalah kesehatan. di mana pada prinsipnya menghasilkan prestasi positif. lansia matang berada pada tahap perkembangan kepribadian yakni Integritas Ego. ditemukan bahwa secara umum lansia berpendidikan rendah. 1996:384) menyatakan bahwa orang lanjut usia secara tidak proporsional menjadi subyek bagi masalah emosional dan mental yang berat. Shek mendefinisikan psychological well-being sebagai “keadaan seseorang yang sehat secara mental yang memiliki sejumlah kualitas kesehatan mental yang positif seperti penyesuaian aktif terhadap lingkungan. kualitas lansia masih dianggap rendah. dan kesatuan kepribadian”. kemandirian.. dan kemandirian (Depsos RI. menurut Hardywinoto dan Setiabudhi (1999: 99117) adalah aspek psikologis dan perilaku. 1996:405-409). pembuat kebijakan dan para profesional khususnya yang bekerja dalam bidang lanjut usia memiliki sasaran meningkatkan kualitas hidup para manula (manusia usia lanjut). Rendahnya tingkat pendidikan ini berkorelasi positif dan signifikan dengan buruknya kondisi sosial ekonomi. Karena kondisi kehidupan dan perawatan cenderung lebih baik. Selain untuk dapat menjalani masa lansia secara memuaskan. usia lanjut lebih takuti daripada usia madya. 2002:2). 1999:106). selain kurang produktif. INSAN Vol. 24 Juni 2002). ciri-ciri usia lanjut cenderung menuju dan membawa penyesuaian diri yang buruk daripada yang baik dan kepada kesengsaraan daripada ke kebahagiaan. 13 No. Di Indonesia. Butler (dalam Hurlock. Perubahan fisik dan psikologis yang dialami lansia menentukan. Perasaan tidak berguna dan tidak diinginkan membuat banyak lansia mengembangkan perasaan rendah diri dan marah. derajat kesehatan. Gangguan fungsional–keadaan depresi dan paranoid. seperti yang dikatakan Butler tersebut. Angka kenaikan jumlah paling tinggi di dunia ditemukan di Indonesia. terdapat kecenderungan peningkatan angka harapan hidup. Dengan demikian. Bahaya psikologis pada lansia dianggap memiliki dampak yang lebih besar dibandingkan pada usia muda.

2003). dikaitkan dengan rendahnya kecerdasan emosional dan kebermaknaan hidup pada sebagian lansia. Zika dan Zamberlain. kepribadian. dukungan sosial. banyak paguyuban lansia mengembangkan program seputar kecerdasan emosional sebagai upaya menghambat bentuk-bentuk perilaku negatif. 1993). Selanjutnya. adalah apa yang dikenal sebagai kecerdasan emosional. penurunan tingkat kecerdasan. Beberapa faktor yang mempengaruhi Psychological well-being antara lain adalah demografi. dan evaluasi terhadap pengalaman hidup. Para lansia seringkali dipersoalkan dan diteliti aspek psikologis dan perilakunya dalam kerangka kognitif. dan variabel gaya hidup. 2000). terdapat banyak perhatian mengenai kegagalan penyesuaian sosial. (2000) menyimpulkan bahwa selain makna hidup. dan bentuk perilaku negatif lainnya. 1992 sebagaimana dikutip De Lazzari. dapat pula diartikan sebagai kepuasan hidup. aspek ini seringkali diabaikan (Gross & John. Mayer dan Salovey. Salah satu dari unsur kepribadian yang dianggap mempengaruhi Psychological well-being adalah masalah emosi Hasil penelitian Gross dan John (2003) menunjukkan bahwa terdapat perbedaan individual dalam pengalaman dan ekspresi emosi dan selanjutnya berdampak secara berbeda terhadap kebahagiaan. Hal ini didukung oleh pendapat Ryff. kebahagiaan. Misalnya. Selain itu. Apabila emosi negatif menurun dan emosi positif meningkat berdampak terhadap kepuasan hidup yang lebih besar. 1992. kekecewaan. 1998 (dalam Gross & John. yang dapat dianggap sebagai perwujudan ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan dalam hidup. penyesalan. dukungan sosial. Dari uraian di atas. 13 No. Lansia juga menghadapi perjuangan menemukan makna diri sendiri dengan benarbenar menemukan seperti apa sesungguhnya menjadi manusia. 2003) bahwa perbedaan individual dalam regulasi emosi berdampak pada kebahagiaan hidup. 1995) mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai satu tipe kecerdasan sosial yang meliputi kemampuan untuk memonitor emosi sendiri dan emosi orang lain. Keadaan sehat secara mental. 2003). Hasil tinjauan De Lazzari. khususnya lansia. kepuasan hidup. aspek intrinsik lansia seperti halnya juga pada orang dewasa. salah satu yang biasanya tidak diuji. Emosi adalah salah satu aspek perkembangan manusia yang sangat penting. dan kepuasan hidup ini sangat penting agar para lansia dapat menjalani masa lansia dengan baik. dan keputusasaan. beberapa peneliti justru melihat periode lansia dari perspektif yang lebih negatif di mana dirasakan bahwa sebagian besar lansia kurang mampu menangani periode perkembangan ini dengan baik. menbedakan keduanya. dalam arti bebas dari distress yang dicerminkan oleh keseimbangan afek positif dan negatif (Diener & Larsen. memori. dalam rangka mendorong kehidupan lansia yang memuaskan. dan menggunakan informasi untuk memandu pemikiran dan tindakan sendiri. Inilah tahap perkembangan di mana individu berusaha m e n e m u k a n i n te g r i t a s p r i b a d i s a m b i l mengupayakan kebahagian dan kepuasan dalam hidup. kepribadian. dan evaluasi terhadap pengalaman hidup. Salah satu dari unsur kepribadian yang dianggap mempengaruhi Psychological well-being adalah masalah emosi (De Lazzari. (Gross & John. berbahasa. meskipun 66 . Penelitian Shek. stres. Dapat dikatakan bahwa bentuk-bentuk perilaku negatif ini. Agustus 2011 penuh kekacauan. Dalam melihat perjuangan ini. 1995). Meskipun banyak yang memandang periode lansia sebagai waktu yang tidak memerlukan perjuangan hebat dan INSAN Vol. dan lain sebagainya Namun. 02. Pengalaman emosi berdampak signifikan tehadap Psychological wellbeing. dan dalam masyarakat secara keseluruhan. sebuah pemahaman emosi bagi lansia sangat penting dalam menentukan psychological well-being. emotional intelligence dapat dianggap sebagai faktor yang berkontribusi pada psychological well-being. Akibatnya.Bonar Hutapea Psychological well-being dapat diartikan sebagai kebahagiaan. emotional intelligence juga diduga prediktor terhadap psychological well-being. Membantu lansia perihal emosinya dan bagaimana menangani tindakan sendiri seperti halnya tindakan orang lain bisa sangat membantu dalam perjuangan hidup seharihari dalam menjalani masa tua. (2000) terhadap berbagai hasil penelitian menunjukkan beberapa faktor yang mempengaruhi Psychological wellbeing antara lain adalah demografi. Kecerdasan emosional kini dianggap esensial bagi kesuksesan hidup (Goleman. 1993 (dalam Goleman.

Dalam penelitian ini. beberapa lansia menggambarkan dirinya sangat menderita. Dalam penelitian ini diduga bahwa terdapat hubungan antara emotional intelligence dengan psychological well-being Bentuk-bentuk perilaku negatif ini dapat juga dilekatkan pada makna hidup. Berdasarkan uraian di atas. Dari uraian ini. Fabry (1968) mencatat bahwa kebosanan merupakan akibat dari hidup yang tanpa makna dan tidak adanya tantangan. 02.from an empirical basis. Tampak para lansia memiliki kecakapan emosional. layak diduga bahwa kesejahteraan psikologis para lansia tersebut berkaitan dengan kecakapan mengelola emosi. psychological wellbeing ditelaah dalam hubungannya dengan emotional intelligence. diperoleh kesan bahwa terdapat dua kelompok pada lansia di perkumpulan ini. sedangkan keterkaitannya dengan makna hidup tidak diikutkan sebagai variabel yang diukur disebabkan kebermaknaan hidup. mengenali emosi yang dialami dan juga mampu memahami emosi orang lain. tidak terdapat ciri-ciri individu yang memiliki psychological well-being. Hal ini dapat diperhatikan dari percakapan yang bisa disimak bahwa mereka mengerti. Studi ini akan mengeksplorasi hubungan antara emotional intelligence dengan psychological well-being pada lansia di salah satu perhimpunan lansia di bawah koordinasi salah satu gereja di Jakarta Pusat yang mengorganisir pertemuan berkala perkumpulan lansia sebagai bagian dari pelayanan terhadap jemaat dan terbuka untuk lansia di luar jemaat gereja tersebut. adalah sama pentingnya untuk mencoba dan membantu lansia menemukan makna hidup maupun identitas sebagai upaya menghadang bentuk-bentuk perilaku negatif dan patologi kejiwaan tersebut dengan upaya untuk membantu memunculkan rasa psychological well-being. pengumpulan dana kemanusiaan dan kunjungan sosial. Berdasarkan percakapan informal dan pengamatan. Artinya. beribadah mingguan di gereja maupun wilayah tempat tinggal masing-masing. Hal ini tampak antara lain dari aktivitas dan partisipasi yang cukup intensif dalam kegiatan-kegiatan para lansia di gereja seperti paduan suara. yang dengannya para lansia tersebut berinteraksi. Agustus 2011 67 . kebermaknaan hidup merupakan bagian atau indikasi dari psychological well-being. dan berbagai pandangan negatif lainnya. secara khusus adalah kejelasan tujuan dan kemampuan mencari makna dalam hidup. secara umum.. Sebaliknya. dan mampu mengisi hari tua dengan penghayatan mendalam akan hakekat hidup. Berdasarkan uraian di atas. m e n g a l a m i kebahagiaan. it has been shown in a variety of studies as outlined above that a sense of meaning and sense of well-being tend to almost co-exist. Hal yang sebaliknya diakui para lansia yang kurang bahagia dan tertekan bahwa seringkali merasa tidak mampu mengedalikan emosi sehingga tidak jarang menyinggung perasaan anak-anak dan cucu maupun anggota keluarga lainnya. Sebagian lansia dapat dianggap memiliki karakteristik seperti yang terdapat pada konsep psychological well-being. Pychological well-being pada lansia di INSAN Vol. sangat tertekan. tidak bahagia. Dengan demikian masih perlu kajian untuk menguji hubungan keduanya. dapat disimpulkan bahwa penting memandang lebih dekat emotional intelligence dengan psychological well-being pada lansia. menurut Ryff (1995) merupakan salah satu dimensi psychological well-being yakni purpose in life. Para lansia ini mengakui d i r i n y a m e n i k m a t i h i d u p. while the literatur points out that there is not much indication of what emotional intelligence predicts” Dari pernyataan De Lazzari ini ditunjukkan bahwa dari beragam kajian secara empiris ditemukan bahwa rasa akan makna dan well-being tidak cukup kuat indikasi bahwa keduanya diprediksikan oleh emotional intelligence.Emotional Intelegence dan Psychological Well-being pada Manusia Lanjut Usia Anggota Organisasi berbasis Keagamaan di Jakarta bukan merupakan prediktor kuat. Namun De Lazzari (2000) juga menjelaskan bahwa emotional intelliegence seringkali juga tidak terbukti sebagai prediktor terhadap well-being. Secara terbatas diamati pula perilaku para lansia yang mengakui dirinya bahagia ini dari segi emotional intelligence. yang terlihat dari kemampuannya memonitor emosi sendiri dan orang lain. Secara umum. Sebagai dikatakan De Lazzari (2000) bahwa: “. Juga diakui bahwa seringkali merasakan kebingungan akan penyebab emosi tertentu yang dialami. 13 No. Dengan demikian. Banyak lansia yang terlibat dalam bentuk perilaku negatif dan patologi kejiawaan sebagai akibat dari kebosanan. terdapat dua pendapat yang agak berbeda tentang sejauhmana keterkaitan antara emotional intelligence dengan psychological well-being.

status pekerjaan. tujuan dalam hidup. kelima indera masih berfungsi dengan baik dan mampu mendayagunakan motorik untuk menulis. Item yang valid pada skala psychological well-being dan skala emotional intelligence dengan rit ≥ 0. status pernikahan. dan pendidikan terakhir. 1996:308.3. memotivasi diri sendiri. empati.926 dan 0. tempat tinggal. mengelola emosi. suku bangsa (etnis). tidak sedang sakit. Kedua instrumen tersebut dikonstruksi berdasarkan model Likert dengan lima pilihan respon mulai dari “sangat jarang” (1) hingga “sangat sering” (5) untuk item favorabel.0 for Windows. dan Psychological well-being sebagai variabel terikat (Y). Emotional Intelligence adalah kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengelola emosi sendiri dan orang lain sehingga mampu menjalankan hubungan interpersonal yang hangat dan memuaskan. yang dioperasionalkan melalui skor total yang diperoleh melalui skor setiap aspek yang diukur menggunakan Skala Emotional Intelligence yang disusun penulis sendiri berdasarkan teori Goleman (1995) meliputi dimensi-dimensi: kesadaran diri.Bonar Hutapea organisasi berbasis keagamaan di Jakarta Pusat kemungkinan sangat terkait erat dengan emotional Intelligence yang dimiliki. Agustus 2011 68 . 2003). Semua analisis menggunakan statistik dengan bantuan SPSS versi 16. maka sampel diperoleh dengan menggunakan teknik insidental sampling. Mengingat tidak tersedianya data yang jelas tentang jumlah lansia sebab sifat perkumpulan ini sangat terbuka dan cair serta tidak menetap dalam jadwal pertemuan.937 mana keduanya tergolong sangat reliabel. pertumbuhan pribadi. dengan pensekoran ( scoring ) sebaliknya bagi item unfavorabel. sedangkan koefisien reliabilitas dengan menggunakan teknik Alpha Cronbach masingmasing adalah 0. Psychological well-being adalah keadaan individu yang ditandai dengan kualitaskualitas kesehatan mental. dan analisis varians. Jakarta Pusat. METODE PENELITIAN Populasi penelitian ini adalah lanjut usia anggota perkumpulan manula dalam asuhan gereja di daerah Menteng. HASIL DAN BAHASAN Hasil analisis statistik deskriptif menunjukkan gambaran umum subyek penelitian sebagaimana ditunjukkan dalam table 1 di bawah ini: INSAN Vol. UU No. Data demografis yang diminta diisikan dalam kuesioner/skala tersebut antara lain adalah usia. dan otonomi. yang dioperasionalkan melalui skor total yang diperoleh dari skor setiap aspek-aspek yang diukur menggunakan Skala Psychological well-being yang disusun penulis berdasarkan teori Ryff (1989a) meliputi dimensidimensi seperti penerimaan diri. 13 Tahun 1998 Pasal 1 ayat 2). dan menangani hubungan dengan baik. hubungan dengan orang lain. 13 No. penguasaan lingkungan. 02. uji t (t-test). Analisis data penelitian menggunakan Pearson Product Moment. dan status kesehatan maka jumlah populasi tidak diketahui dengan pasti. Adapun kriteria yang ditetapkan dalam populasi penelitian ini adalah: Berusia 60 tahun ke atas (Hurlock. Penelitian ini mengumpulkan data 2 variabel yakni emotional intelligence sebagai variabel bebas (X). Kualitas instrumen sebelum digunakan untuk mengumpulkan data ditentukan melalui pengujian validitas dengan teknik korelasi Product Moment dari Pearson dan reliabilitas konsistensi internal Cronbach Alpha (Azwar.

Demikian pula melalui kajian kepustakaan dan penelitian terdahulu.33%) 1 (1.94%) 26 (36. Reker. Peacock & Wong. 1992.67%) 0 (0 %) 100 (100%) 0 (0%) 32 (44.78 %) 4 (5. Usia responden bervariasi antara di bawah 65 hingga di atas 75 tahun dengan per terbesar pada usia 60-65 dan 65-70 tahun.94%) 6 (8.17%) 14 (19. 02. Mayoritas responden adalah pensiunan dan tidak bekerja. Hanya saja koefisien korelasi antara kedua variabel tergolong rendah. Tingkat pendidikan responden dengan persentasi terbesar tingkat responden adalah diploma dan sekolah menengah atas. Demikian juga dengan pendapat dari De Lazzari (2000) menyatakan bahwa dari dasar empiris INSAN Vol. Hasil temuan dalam penelitian ini mendukung studi terdahulu yang menyimpulkan adanya hubungan.33 %) 23 (31.11%) 12 (16. Agustus 2011 69 . Dari daftar isian diketahui bahwa latar belakang etnis termasuk (kebetulan) homogen dan mayoritas tinggal bersama pasangan dan tinggal bersama keluarga anak dan tak ada yang tinggal di Panti Werdha.menunjukkan kemungkinan adanya keterkaitan yang positif antara keduanya.62%) 5 (6. 13 No.94 %) 0 (0%) 3 (4.22 %) 18 (25%) 41 (56. Temuan ini tidak mengagetkan peneliti mengingatkan studi awal lewat pengamatan dan percakapan-meskipun amat terbatas dalam jumlah subyek maupun waktu. 1987 (dalam De Lazzari. 2000) bahwa emotional intelligence.Emotional Intelegence dan Psychological Well-being pada Manusia Lanjut Usia Anggota Organisasi berbasis Keagamaan di Jakarta Table 1. Maksudnya semakin tinggi emotional intelligence maka akan diikuti dengan semakin baiknya psychological well-being yang dimiliki para lansia tersebut dan sebaliknya.94%) 24 (33.78%) 52 (72. berstatus menikah.05).035(p<0.249 dengan p=0.56 %) Jenis kelamin Status pernikahan Usia Pendidikan terakhir Etnis/suku bangsa Tempat tinggal Status pekerjaan Tabel di atas menunjukkan bahwa mayoritas responden berjenis kelamin pria. Gambaran umum subyek penelitian Data personal Laki-laki Perempuan Lajang/Tidak Menikah Menikah Duda/Janda 60-65 tahun 65-70 tahun 70-75 tahun Di atas 75 tahun Dasar Menengah pertama Menengah atas Diploma Sarjana Pasca sarjana Batak Etnis lain Bersama Pasangan Bersama Keluarga Anak Panti Werdha Tinggal Sendiri Lain-lain Masih Bekerja Tidak Bekerja Pensiunan Wiraswasta Jumlah (%) 41 (56.44 %) 23 (31.06 %) 2 (2. Hal ini berarti ada hubungan emotional intelligence dengan psychological wellbeing pada lanjut usia yang menjadi responden penelitian ini. Berdasarkan hasil analisis korelasi Pearson Product Moment diperoleh rxy=0.bukan merupakan prediktor kuat dari psychological well-being.94%) 38 (52.44 %) 7 (9. lebih banyak pernyataan yang mendukung bahwa terdapat korelasi yang positif dan signifikan antara kedua variabel tersebut.39%) 54(44.94%) 31 (43.72 %) 23 (31. dapat dijelaskan melalui pendapat Shek. sejauh yang dapat disimpulkan.

Selain itu. 13 No. baik kegiatan di rumah maupun kegiatan yang secara sukarela dilakukan. dan relasi yang positif dengan orang lain namun sebaliknya terkait tujuan dalam hidup. m) menikmati kegiatan sosial yang dilakukan dengan kerabat keluarga dan temanteman. Salah satu alasan yang mungkin bahwa sangat mungkin bahwa psychological well-being lebih rendah pada perempuan dalam hal penguasaan terhadap lingkungan. e) menerima kenyataan diri dan kondisi hidup yang ada sekarang walaupun kenyataan tersebut berada di bawah kondisi yang diharapkan. n) melakukan kegiatan produktif. i) perasaan puas dengan status yang ada sekarang dan prestasi masa lalu. g) terus berpartisipasi dengan kegiatan yang berarti dan menarik. Agustus 2011 hidup. temuan sederhana ini mengkonfirmasikan korelasi positif dan signifikan di antara keduanya sebagaimana temuan De Lazzari (2000) dan Gross dan John (2003). h) diterima oleh dan memperoleh respek dari kelompok sosial. dan o) situasi keluarganya memadai untuk memenuhi seluruh keinginan dan kebutuhan. Vinokur. Szinovacz.. kepribadian. pertumbuhan pribadi. Hal ini berkaitan dengan temuan penelitian sebelumnya yang menyimpulkan bahwa perempuan cenderung memiliki masalah serius dalam beradaptasi dengan masa pensiun. kepuasan INSAN Vol. dan variabel gaya hidup. j) puas dengan status perkawinan dan kehidupan seksualnya. Terkait kontroversi dan inkonsistensi keterkaitan emotional intelligence dengan psychological well-being pada sejumlah studi hingga saat ini. 1983. dkk (1995). 2000) antara lain adalah makna hidup. 1992. disimpulkan ada beberapa kondisi penting yang menunjang pencapaian kebahagiaan pada masa lansia.Bonar Hutapea ditunjukkan bahwa dalam beragam studi ditemukan bahwa tidak cukup kuat indikasi adanya prediksi yang kuat dari emotional intelligence. yaitu: a) sikap yang menyenangkan terhadap usia lanjut berkembang sebagai akibat dari kontak pada usia sebelumnya dengan orang lansia yang menyenangkan. Analisis terhadap perbedaan psychological well-being ditinjau dari status pekerjaan ditemukan bahwa perempuan memiliki skor yang lebih rendah daripada laki-laki. c) bebas untuk mencapai gaya hidup yang diinginkan tanpa ada interferensi dari luar. & Caplan 1996. ada beberapa variabel lain yang merupakan prediktor dari psychological well-being menurut Shek. Demikian pula temuan Landa. Hal ini sesuai dengan penelitian Fredrickson (2000) yang menyimpulkan bahwa emosi positif sangat penting untuk mendorong kesehatan yang optimum dan well-being. Berdasarkan uraian Hurlock (1996:444). 1982. dukungan sosial. Kemungkinan disebabkan kewajiban dan urusan pengeluaran dalam rumah tangga tetap atau tak berubah maka kenyataan menjadi pensiunan menjadi tak menarik sama sekali bagi perempuan (Sproat. l) menikmati kegiatan rekreasional yang direncanakan khusus bagi orang usia lanjut. (2006) pada responden yang berbeda. Ha s i l a n a l i s i s te rh a d a p p e rb e d a a n psychological well-being ditinjau dari tempat tinggal menunjukkan bahwa individu yang tinggal bersama dengan anak (mungkin juga cucu) 70 . baik sebagai pensiunan maupun sebagai pasangan hidup dari individu yang pensiun. 1987 (dalam De Lazzari. Zika dan Zamberlain. b) kenangan yang menggembirakan sejak masa kanak-kanak sampai masa dewasanya. 02. k) kesehatan cukup bagus tanpa mengalami masalah kesehatan yang kronis. (2003) pada lansia di Inggris bahwa relasi sosial yang baik dengan orang lain merupakan faktor utama yang berpengaruh pada kesejahteraan psikologis lansia. Kurang tingginya korelasi antar varibel dapat disebabkan oleh adanya beberapa faktor yang mungkin berkaitan erat dengan psychological well-being . dan evaluasi terhadap pengalaman hidup. Peacock & Wong. f) mempunyai kesempatan untuk memantapkan kepuasan dan pola hidup yang diterima oleh kelompok sosial di mana ia sebagai anggota. dan penerimaan diri Hal ini juga mengkonfirmasi sebagian dari temuan Bowling et al. Sedangkan Ryff. 2005). Reker. 1992. mengemukakan beberapa faktor yang mempengaruhi Psychological well-being antara lain adalah demografi. Price. et al. dalam Van Solinge & Henkens. d) sikap yang realistis terhadap kenyataan tentang perubahan fisik dan psikis sebagai akibat dari usia lanjut yang tidak dapat dihindari. Dari hasil analisis terhadap beberapa faktor demografis ditemukan antara lain: hasil uji t (ttest) terhadap psychological well-being ditinjau dari jenis kelamin ditemukan bahwa tidak ada perbedaan di antara perempuan dan laki-laki.

1997). perlu penyelidikan interaksi jenis kelamin dan status pernikahan dengan psychological well-being. secara khusus lingkungan pertetanggaan ( neighborhood environment) dan komunitas pemukiman sangat berperan penting dalam interaksi mereka.5278 diantara interval 154-210. hendaknya dipertimbangkan meneliti kesejahteraan psikologis lansia yang berstatus sebagai perantau di Jakarta mengingat etnis Batak dikenal sebagai perantau terutama 71 INSAN Vol. Hal ini mengkonfirmasi temuan studi tentang lingkungan tempat tinggal dalam penelitian Kahana. Terlepas dari keterbatasan di atas. et al. dengan mean teoritis 96). Demikian pula faktor lingkungan. Penelitian ini mengandung sejumlah keterbatasan. Selain itu. juga disarankan untuk mempertimbangkan variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi dan terkait psychological well-being pada lansia. 13 No.4861 diantara interval 117-160. Artinya. secara psikologis para lansia ini sangat sehat dan kecerdasan emosionalnya sangat baik. karena harga diri dan locus of control merupakan elemen kepribadian yang dianggap terkait erat dengan kesejahteraan psikologis atau kepuasan hidup. 1998). depresi. mengingat terdapatnya korelasi positif dan signif ikan dengan psychological well-being. dengan mean teoritis 126). Terkait status pernikahan. Yang pertama adalah jumlah sampel yang tergolong kecil bila dibandingkan jumlah lansia umumnya dan di Jakarta pada khususnya. Disarankan bagi para lansia yang menjadi subyek penelitian ini agar mempertahankan sebaik mungkin emotional intelligence yang dimiliki. pertumbuhan pribadi merupakan dimensi yang berkorelasi sangat tinggi dengan total yaitu sebesar 0. ditemukan bahwa Psychological well-being para lansia ini termasuk tinggi (mean temuan 118. (2003) pada faktor kesesuaian pribadi dengan lingkungan yang sangat menentukan kepuasan hidup para lansia. penelitian ini memiliki kelemahan dalam validitas terkait sampel. Hasil ini tampaknya bersesuaian dengan temuan Marks (1996) bahwa status pernikahan tidak berkait langsung dengan well-being meski secara parsial ditemukan bahwa perempuan yang melajang memiliki sedikit skor yang lebih tinggi dibandingkan perempuan yang menikah. Hal ini dapat dimaknai bahwa segi pertumbuhan pribadi aspek terpenting bagi lansia dalam mempertahankan kesejahteraan psikologisnya. reflektif. dan locus of control (Murphy. Teknik ini berimplikasi pada terbatasnya generalisasi temuan penelitian semata-mata kepada subyek yang menjadi responden penelitian ini. penelitian ini memiliki kontribusi dalam khazanah kepustakaan kajian psikologi usia lanjut di Indonesia mengingat masih terbatasnya literatur empiris mengenai permasalahan ini sekaligus sebagai dasar bagi penelitian lanjutan. 02. SIMPULAN DAN SARAN Dari analisis statistik diperoleh hasil bahwa terdapat hubungan yang signifikan dengan arah positif antara emotional intelligence dengan psychological well-being pada lansia yang menjadi responden penelitian ini.906. Agustus 2011 . Diharapkan pada penelitian selanjutnya diterapkan teknik sampel secara random dengan jumlah yang lebih besar dan populasi yang lebih luas. 2007) Selain itu. Dari hasil korelasi antar faktor pada skala psychological well-being. Demikian pula dengan Emotional Intelligence. kebijaksanaan yang merupakan komposit dari kualitas kognitif. penerimaan psikologis khususnya terhadap perasaan-perasaan tak menyenangkan (Butler & Ciarrochi. Berdasarkan perhitungan kategorisasi. Dalam hal ini. seperti religiusitas (Ellison. Selain itu. dari penelitian ini tidak dimungkinkan prediksi terhadap variabel dependen yakni psychological well-being mengingat penelitian ini merupakan studi korelasi sederhana dan bersifat ex post factum atau non-eksperimental Kelemahan lain adalah tidak adanya faktor kontrol. sedangkan depresi merupakan salah satu aspek kesehatan yang juga dianggap berpengaruh langsung terhadap kepuasan hidup.Emotional Intelegence dan Psychological Well-being pada Manusia Lanjut Usia Anggota Organisasi berbasis Keagamaan di Jakarta memiliki skor psychological well-being yang lebih baik. Artinya. dan afektif (Ardelt. dari analisis varians tidak ditemukan adanya perbedaan pada psychological well-being. berada pada kategori tinggi (mean temuan 159. misalnya harga diri. 2006). Diperlukan emotional intelligence yang cukup tinggi jika ingin psychological well-being tetap berada pada taraf yang baik.

(1996). environment. (1998). meaning. 2003. December.P. (1999).. (1996). (2004). Secara khusus pada lansia yang berusia di atas 75 tahun perlu dilakukan studi khusus mengingat umur tersebut melampaui angka harapan hidup pada umumnya di kota besar (urban living) di Indonesia. P15-P27 Azwar. & Pulido.. A. de Antonana. (2003b). PUSTAKA ACUAN Ardelt. (1998). Dykes. Psicothema. M. S.. Z. 434-453 Lai. Vol. R. Faktor kecemasan menghadapi kematian mungkin menjadi perhatian tersendiri dan relevan. Journal of Personality and Social Psychology.. O. & Sutton. and psychological well-being: a comparison between early and late adolescence. J. No. Banister. Psychological acceptance and quality of life in the elderly. Vol. D. selain mengacu pada pendapat Smith (2000) bahwa lansia berusia 70-an dan 80-an merupakan usia period ke-empat yang memiliki permasalahan psikologis tertentu dan berbeda dengan periode sebelumnya sebab dianggap terlalu dekat momen mortalitas (kematian). No. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 348-362 Hardywinoto & Setiabudi. May. Lovegreen.1. L. 13 No. Emotional intelligence (alihbahasa T. J. Vol. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Hurlock. E. relationship..pdf Ellison. Sebagaimana ditemukan oleh Lai (2004) pada imigran lansia Cina yang menyimpulkan bahwa faktor kultural dan psikososial imigrasi menjadi faktor determinan pada kesehatan mental lansia tersebut. Spring).twu. Vol.Bonar Hutapea lansia yang tak tinggal bersama anaknya dan juga tak tinggal di panti jompo melainkan tinggal bersama dengan pasangan dan datang dari desa serta belum lama menetap di Jakarta.M. T. 85. Emotional intelligence. Lopez-Zafra. Bowling.. Vol. Qual Life Res. and well-being among African Americans. D. and person-environment fit as influences on residential satisfaction of elders.A. and well-being. 2. 49. M. J. Person. (2000). D. London: Bloombury Publishing Gross. Jakarta: Penerbit Erlangga Kahana. C.. & Kahana. J. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. health. (1997). 94-103 Goleman.J.. Agustus 2011 72 . 16:607–615 De Lazzari. Environment and Behavior. A. Gabriel.. 269-306 Butler. (2003a).. Religion. Fleissig. E. Diunduh dari http://www2. Vol. 820-827 Landa. M.A. Hermaya). B. Wisdom and life satisfaction in old age. suatu pendekatan sepanjang rentang kehidupan (terjemahan). Individual differences in two emotion regulation processes: implications for affect. Journal of Gerontology: Psychological Sciences. Let's ask them: A national survey of definitions of quality of life and its enhancement among people aged 65 and over. J. tinjauan dari berbagai aspek. S. 02. Kahana. M.52B.ca/cpsy/assets/studenttheses/delazzaristeven. 56(4).G. (2003). Jakarta: Penerbit PT.B. 3. L.M. (2006). E. S (2003). (2007). Dowding. 152-157 INSAN Vol..(2003). Panduan gerontologi. Psikologi perkembangan. D. Evans. Int'l. Impact of culture on depressive symptoms of elderly Chinese immigrants. S. 35 No.. No 12. J. Penyusunan skala psikologi. Azwar. Reliabilitas dan validitas. 18. Gramedia Pustaka Utama Goleman.W.. & John. supl. Can J Psychiatry. O. African American Research Perspectives 4 (2. Working with emotional intelligence. Perceived emotional intelligence and life satisfaction among university teachers.L. Aging And Human Development. Hal ini akan menjadi kajian menarik bagi pemahaman tentang psychological well-being pada lansia di Indonesia selain menambah khazanah kepustakaan yang masih sangat minim dalam bidang psikologi sosial perkembangan khususnya psikologi usia lanjut. & Ciarrochi.

K. Vol.edu/etd/2640 Reker. December 2000 Biomolecular Aspects of Aging: Social and Ethical Implications. 4. 42.T. 14-23 pada Harnack-Haus Forum.. E.usf.pdf Murphy. P. Mills.2.D. No. 44-49 Ryff. (1995). 1. 93-104. P. & Caplan. & Singer.D. 60B. Psychological well-being: Meaning. Paper 2640. (2000) Depression.M.demogr. 1989. T. The relationship between emotional intelligence and satisfaction with life after controlling for self-esteem. 4. Journal of Gerontology. 6. C. & Wong. No. 65. Vol. (1987). No.edu/prba/perspectives/springsummer2000/tmills.D. (2005) Couples' adjustment to retirement: A multi-actor panel study. Diunduh dari http://www. 13 No. H. Flying solo at midlife: Gender. Nov. & Keyes. S11–S20 Vinokur.L. Peacock. G. Hard times and hurtful partners: How financial strain affects depression and relationship satisfaction of unemployed persons and their spouses. marital status. Journal of Personality and Social Psychology. 917-932. Price.. (1996). (1983). mental health and psychosocial well-being among older african american: A selective review of the literatur. 1069-1081 Ryff.de/Papers/workshops/010730_paper01. R. Vol.pdf Sproat. In the eye of the beholder: Views of psychological well-being among middle aged and older adults. and locus of control among community college students" Theses and Dissertations. Perspectives (Spring/Summer). N. C. 1. D.L. No.isr. and implications for therapy research. Journal of Personality and Social Psychology. Journal of Marriage and the Family. K. How do families fare when the breadwinner retires? Monthly Labor Review. T.Emotional Intelegence dan Psychological Well-being pada Manusia Lanjut Usia Anggota Organisasi berbasis Keagamaan di Jakarta Marks. 166-179 73 INSAN Vol. and psychological well-being.mpg. (2006). R. Psychoter Psychosom. 02.H. C. Diunduh dari ttp://rcgd. Vol. December. Agustus 2011 . T. measurement. Meaning and purpose in life and wellbeing: A life-span perspective. The structure of psychological well-being revisited. Vol. Happines is everything or is it? Exploration on meaning of psychological well-being.D (1989). No.. 40-44 Van Solinge. J. (1993). 195-210 Ryff. 69.(1996). depression. Vol. http://scholarcommons. Journal of Personality and Social Psychology.F. 58. 57. Journal of Gerontology: Social Sciences. 57. C. K.umich. 7 I. A. 719-727 Ryff. .. No. C. & Henkens.D (1989). Psychology and Aging.D.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->