PERBEDAAN PP 30 DENGAN PP 53

Kali ini saya ingin memberikan informasi kepada para Pegawai Negeri Sipil (PNS), dan mungkin masih banyak para pegawai negeri sipil yang tidak tahu tentang berubahan peraturan pemerintah tentang kepegawaian ini, dulunya para pegawai negeri sangat pamilier dengan PP 30 Tahun 1980 nah pada tahun 2010, Peraturan Pemerintah Tentang Kepegawaian tersebut telah dirubah dengan PP 53 Tahun 2010, kalau kita telaah ternyata pemerintah sangat sulit untuk merubah atau memperbaharui PP 30 tersebut, sehingga butuh tiga puluh tahun (sesuai nama PP nya 30) untuk merubah. Ada beberapa perbedaan diantara kedua PP tersebut antara lain : NO URAIAN PP 53 TAHUN 2010 Adanya upaya administratif, keberatan dan banding administratif ada Hal tersebut tidak PP 30 TAHUN 1980

1 Ketentuan Umum

2Kewajiban

17 Kewajiban -Mengucapkan sumpah/janji PNS dan Jabatan -Masuk kerja dan menaati ketentuan jam kerja -Mencapai sasaran kerja pegawai yang ditetapkan

1.

26 Kewajiban

2. Tidak ada mengucapakan sumpah/janji PNS dan Jabatan 3. Hanya mentaati ketentuan jam kerja 4. Tidak ada pencapaian sasaran kerja 3Larangan 15 Larangan 1. 2. 18 Larangan Menjadi pegawai atau bekerja

-Bekerja pada perusahaan asing, konsultan asing untuk negara asing

3.

Tidak ada hal tersebut diatur

Hanya garis-garis 2. Badan pertimbangan kepegawaian . Belum terinci dan masih besifat delegasi 3. Tidak ada tata cara pemanggilan 4.atau lembaga swadaya masyarakat asing -Poin 12 s/d 15 mengenai keterlibatan PNS dalam dukung mendukung parpol maupun perseorangan maupun pasangan calon dalam Pemilu 4Hukuman Disiplin Tingkat dan jenis hukuman disiplin lebih dirincikan Pejabat yang berwenang menghukum lebih dirincikan Tata cara pemanggilan Upaya administratif pokoknya saja 1.

pemberhentian dengan hormat tidak atas permintaan sendiri. Tingkat sedang terdiri dari penundaan kenaikan gaji. Tingkat ringan terdiri dari teguran lisan. menjadi anggota dan atau pengurus partai politik (PP Nomor 37 Tahun 2004). Ketidaktaatan atau pelanggaran akan mengakibatkan seorang PNS terkena hukuman yang terdiri dari 3 tingkat. Kedua. dan pernyataan tidak puas secara tertulis. PP Nomor 30 Tahun 1980 mengatur adanya 26 kewajiban dan 18 larangan bagi PNS. lahirnya UU Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah jo UU Nomor 12 Tahun 2008 telah menghilangkan kewenangan Menteri Dalam Negeri dalam menjatuhkan hukuman disiplin. penurunan gaji. Tingkat berat terdiri dari penurunan pangkat. dan penundaan kenaikan pangkat. larangan. Pertama. dan sanksi apabila kewajiban tidak ditaati atau larangan dilanggar oleh setiap PNS. Kelima. Dengan adanya perubahan dalam peraturan kepegawaian. Hal-hal seperti itu tidak diatur dalam PP Nomor 30 Tahun 1980. UU Nomor 43 Tahun 1999 sebagai perubahan dari UU Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian memperkenalkan istilah Pejabat Pembina Kepegawaian yang tidak dikenal dalam PP Nomor 30 Tahun 1980. maka ada beberapa isi dalam PP Nomor 30 Tahun 1980 yang sudah tidak sesuai lagi. Peraturan ini dibuat di jaman Presiden Suharto. Selain perlu adanya perubahan dalam PP Nomor 30 Tahun 1980 karena adanya perkembangan peraturan kepegawaian juga ada beberapa kelemahan dalam hal . Peraturan disiplin PNS selama ini diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.PP Nomor 30 Tahun 1980 Tentang Peraturan Disiplin PNS Telah Usang Peraturan disiplin adalah peraturan yang mengatur kewajiban. yakni ringan. pembebasan dari jabatan. UU Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara jo UU Nomor 9 Tahun 2004 memperkenalkan istilah upaya administratif yang terdiri dari keberatan dan banding administratif. dan berat. sedang. dan mendukung calon anggota legislatif/kepala daerah serta terlibat aktif dalam kampanye pemilu. Selama kurun waktu itu belum pernah ada perubahan terhadap peraturan tersebut. PP Nomor 30 Tahun 1980 hanya mengatur tentang keberatan. dalam beberapa Peraturan Pemerintah. Ketiga. Masing-masing tingkat hukuman tersebut mempunyai jenis hukuman yang berbeda. PNS memperoleh sanksi jika melanggar aturan ijin perkawinan dan ijin perceraian (PP Nomor 10 Tahun 1983 jo PP Nomor 45 Tahun 1990). dan pemberhentian tidak dengan hormat. teguran tertulis.

dan Kepala Perwakilan RI di luar negeri (Pasal 7). namun juga bisa terkena hukuman pemberhentian. Gubernur. Sehingga seolah-olah tidak ada hubungan antara pelanggaran dan hukuman. Menteri dan Jaksa Agung. toh pejabatnya juga suka kebiasaan ini. Karena ketidakjelasan itu masing-masing Pemerintah Daerah menafsirkan beragam. Semakin banyak jumlah hari yang dilanggar mestinya semakin berat hukumannya. rumusan tentang kewenangan Badan Pertimbangan Kepegawaian (Pasal 23) sudah tidak relevan dengan PP Nomor 9 Tahun 2003 tentang Wewenang Pengangkatan. Ia bisa hanya dikenai teguran lisan. Misalnya tindakan sewenang-wenang terhadap bawahannya (larangan huruf j) tidak jelas harus diberi hukuman apa. pengenaan hukumannnya berbeda jauh sekali. termasuk pendelegasian kewenangan terhadapnya. Jadi hal ini tergantung suka tidak sukanya pejabat setempat. pers. tidak ada rumusan yang tegas jika ada pejabat yang berwenang menghukum enggan menjatuhkan hukuman disiplin. hingga ancaman pihak luar (LSM. Atau hukuman apa yang harus dikenakan seorang PNS yang melanggar ketentuan ini. bahkan dalam satu instansi pun boleh jadi ada ketidaksamaan penafsiran. rumusan tentang pelanggaran terhadap jam kerja tidak terlalu jelas. Pemindahan. DPRD. Ketiga. Keempat. Akibatnya ada kasus yang dilindungi oleh pejabat yang bersangkutan. Bahkan dua orang yang melakukan pelanggaran yang sama. Pejabat yang berwenang menghukum adalah Presiden. yakni berpakaian rapi dan sopan serta bersikap dan bertingkah laku sopan santun.materi. tidak ada klasifikasi kewajiban dan larangan yang dikaitkan dengan pengenaan hukuman disiplinnya. namun tidak diberi kejelasan atau pembatasan dalam pasal-pasal berikutnya mulai berapa hari seorang PNS yang melanggar ketentuan jam kerja baru bisa dikenai hukuman. Seharusnya setiap kewajiban dan larangan harus disertai apa hukumannya. Misalnya karena adanya hubungan kekerabatan. Namun di daerah lain hal itu tidak masalah. Pertama adanya ketidakjelasan (tidak kongkret) dalam rumusan kewajiban (Pasal 2) dan larangan (Pasal 3). Jam kerja hanya diatur dalam kewajiban di Pasal 2 huruf k. Setiap daerah tentu menafsirkan berbeda masalah kesopanan. . dan Pemberhentian PNS. Contohnya kewajiban yang tercantum dalam huruf u. misalkan menganggap bahwa PNS yang menyemir rambutnya dengan warna merah merupakan perbuatan tidak sopan sehingga harus terkena hukuman. rasa kasihan. massa). tidak diberikannya kewenangan menghukum sama sekali kepada Bupati/Walikota. Satu pemda. Kedua. Keenam. lobi dari pelaku. Pimpinan Kesekretariatan Lembaga Tertinggi/Tinggi dan Negara dan Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen. Rumusan ini seharusnya masuk dalam ranah etika. Kelima.

sesuai dengan nomor PP-nya. Perlu waktu 30 tahun. PP Nomor 30 Tahun 1980 itu pun dicabut dan diganti dengan PP Nomor 53 Tahun 2010. . untuk menggantinya.Akhirnya setelah menunggu cukup lama.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful