P. 1
I. MK PHPT 18 MARET 2013

I. MK PHPT 18 MARET 2013

|Views: 8|Likes:
Published by efriyadi60

More info:

Published by: efriyadi60 on Apr 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/28/2014

pdf

text

original

“ PENGANTAR PHPT DAN KONSEP PENGELOLAAN HAMA TERPADU “

MATA KULIAH PHPT POKOK BAHASAN I
Farida Adriani, SP adriani_farida@yahoo.com STIPER AMUNTAI Senin, 18 Maret 2013

PENDAHULUAN

Setiap usaha pertanian manusia selalu mengalami gangguan oleh pesaing-pesaing berupa binatang yang ikut memakan tanaman yang diusahakan. Karena itu binatang pesaing tersebut dianggap sebagai musuh manusia atau hama. Oleh karena itu keberadaannya di pertanaman bisa merugikan, dan pada akhirnya manusia akan memusnahkan hama tersebut dengan cara apapun.

Awalnya membunuh hama dengan cara sederhana, misalnya dengan fisik mekanik, sebagai bentuk reaksi pertahanan alami manusia.

Namun karena semakin luasnya daerah pertanian dan bertambahnya penduduk, cara sederhana tersebut tidak bisa lagi mengatasi peningkatan populasi dan keganasan hama.

Praktek pengendalian hama berubah setelah ditemukan dan digunakannya secara luas insektisida. Pada awalnya insektisida menunjukkan hasil yang mengagumkan dibandingkan dengan cara yang lain. Insektisida sangat praktis dan efektif bagi petani. Setelah tahun 1950 an penggunaan pestisida semakin tinggi dan berkembang pesat. Namun banyak orang yang melupakan sifat dari pestisida yang sebenarnya. Pestisida memang diberi istilah obat-obatan pertanian. Tetapi bagaimanapun pestisida adalah RACUN Pembunuh hama, yang dapat membuh organisme lain selain hama di ekosistem.

Dari sisi keberhasilannya, ada dampak negatif dari pestisida. Banyak korban dari pestisida, dari hewan ternak dan manusia itu sendiri. Berdasarkan hasil penelitian, residu pestisida di dalam makanan dan lingkungan dapat membentuk jaringan penyakit kanker. Dengan melihat kembali ciri dan sifat ekosistem pertanian dan akibat yang muncul dari penggunaan pestisida, kemudian berkembanglah konsep Pengelolaan Hama Terpadu (PHT) atau Integrated Pest Management, yang didahului dengan konsep Pengendalian Hama Terpadu atau Integrated Pest Control.

KONSEP PENGELOLAAN HAMA TERPADU Saat ini dikenal ada 2 istilah bahasa Inggris yang sering digunakan untuk pengendalian hama terpadu, yaitu IPC (Integrated Pest Control) yang kita tersejemahkan sebagai Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Dan IPM (Integrated Pest Management) yang kita terjemahkan sebagai Pengelolaan Hama Terpadu. Kedua istilah tersebut digunakan untuk menjelaskan hal yang sama. Saat ini di dunia dalam pergaulan ilmiah internasional istilah IPC sudah ditinggalkan, dan yang digunakan sekarang adalah IPM.

Konsep PHT adalah dengan memadukan berbagai metode pengendalian hama yang dikenal, termasuk di dalamnya : pengendalian secara fisik mekanik, pengendalian dengan bercocok tanam, pengendalian hayati, dan pengendalian secara kimiawi sebagai alternatif pengendalian hama yang terakhir.

Pengertian…

Pengendalian hama dengan PHT dapat diartikan sebagai pengendalian hama yang memadukan berbagai teknik pengendalian hama sedemikian rupa sehingga populasi hama dapat tetap berada di bawah Ambang Ekonomi. Dengan keadaan populasi hama yang rendah, usaha budidaya tanaman lain untuk meningkatkan produktivitas tanaman tidak akan terhambat oleh gangguan hama tanaman.

MENGAPA HARUS PHT ?

Lanjutan...

Ada berbagai faktor yang mendorong diterapkan PHT secara nasional terutama dalam rangka program pembangunan nasional berkelanjutan yang berwawasan lingkungan, diantaranya :
1.

Kegagalan Pemberantasan Hama Konvensional. 2. Kesadaran Akan Kualitas Lingkungan Hidup. 3. Pola Perlindungan Tanaman. 4. Kebijakan Pemerintah.

1. KEGAGALAN PEMBERANTASAN HAMA KONVENSIONAL
Sampai saat ini banyak petani dan masyarakat mengartikan pengendalian hama sama dengan penggunaan pestisida. Apabila diketahui bahwa tanaman yang diusahakan mereka rusak karena hama maka petani akan langsung mencari pestisida untuk disemprotkan ke tanamannya. Demikian juga apabila petani mengetahui bahwa pada tanamannya terdapat kerumunan serangga yang merugikan/bermanfaat. Kekhawatiran petani akan datangnya serangan hama menyebabkan mereka melakukan tindakan pencegahan dengan melakukan penyemprotan pada tanaman secara berjadwal, artinya pada waktu tertentu dan pada stadia tertentu. Cara penggunaan pestisida semacam ini disebut dengan cara pemberantasan hama yang konvensional.

Lanjutan… Meskipun manfaat penggunaan pestisida dapat dirasakan petani, tetapi hal ini tidak berjalan lama. Petani semakin merasakan untuk memperoleh hasil pengendalian yang sama dan terpaksa semakin meningkatkan frekuensi maupun dosis penyemprotan. Keadaan tersebut timbul karena adanya berbagai dampak dari insektisida yang merugikan. Ada 3 dampak samping utama penggunaan insektisida. a. Munculnya ketahanan hama terhadap insektisida. b. Timbulnya resurjensi hama. c. Letusan hama kedua.

Munculnya Ketahanan Hama Terhadap Insektisida Karena hama terus menerus mendapat tekanan dari insektisida, maka melalui proses seleksi alam spesies hama mampu membentuk strain yang lebih tahan terhadap insektisida tertentu yang sering digunakan petani.

Timbulnya Resurjensi Resurjensi hama adalah peristiwa peningkatan populasi hama setelah hama tersebut memperoleh perlakuan insektisida tertentu. Apabila pada peristiwa resistensi hama menjadi lebih tahan terhadap insektisida sehingga sulit untuk dimusnahkan, akan tetapi pada resurjensi justru populasi hama tersebut semakin meningkat setelah memperoleh insektisida. Banyak kelompok serangga seperti kutu tanaman & wereng batang padi coklat yang sangat cepat menunjukkan reaksi resurjensi. Dengan adanya sifat resurjensi ini penggunaan insektisida tidak hanya sia-sia, tapi sangat membahayakan.

Letusan hama Kedua Setelah perlakuan insektisida tertentu secara intensif ternyata hama sasaran utama memang dapat terkendali, tapi kemudian yang muncul dan berperan menjadi hama utama adalah jenis hama lain yang sebelumnya masih dianggap tidak membahayakan dan makin bermunculannya hama-hama baru. Misalnya wereng coklat pada padi, kutu kebul dan aphis pada kedelai. Wereng coklat sebelum tahun 1950 tidak pernah dikenal sebagai hama padi, tetapi setelah tahun 1970 ternyata hama ini menjadi hama utama tanaman padi di Indonesia.

2. KESADARAN AKAN KUALITAS LINGKUNGAN HIDUP
Pestisida sebagai bahan beracun termasuk bahan pencemar yang berbahaya bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Oleh karena sifatnya yang beracun di lingkungan maka residu yang ditinggalkan menjadi masalah. Kesadaran akan perlunya kualitas lingkungan hidup yang tinggi dari masyarakat, pemerintah mendorong dan mengharuskan kita untuk segera menerapkan PHT karena dengan PHT penggunaan pestisida dapat ditekan sekecil-kecilnya.

3. POLA PERLINDUNGAN TANAMAN Menurut Dr. Ray Smith dari Universitas California (Pencetus Konsep PHT), apabila kita mengusahakan budidaya tanaman dalam hubungannya dengan permasalahan hama tanaman, akan melampaui 5 tahap utama, yaitu : Tahap Subsisten 2. Tahap Eksploitasi 3. Tahap Kritis 4. Tahap Bencana 5. Tahap Pengendalian Terpadu
1.

Tahap Subsisten
Tahap ini adalah tahap permulaan, biasanya petani mengusahakan lahan pertaniannya untuk memenuhi kebutuhannya sendiri atau untuk keluarganya. Dalam pembudidayaan tanaman petani biasanya jarang menggunakan masukan produksi modern seperti pupuk kimiawi dan pestisida, oleh karena itu produktivitasnya rendah. Kalau terjadi serangan hama cara pengendalian yang biasa dilakukan biasanya secara fisik mekanik / secara bercocok tanam.

Tahap Eksploitasi
Pada tahap ini usaha tani sudah berkembang, lahan jadi luas, produksi tinggi merupakan sasaran. Produksi ditujukan untuk pasar dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu penggunaan teknologi modern semakin intensif. Insektisida merupakan teknik utama untuk memberantas hama dengan perlakuan berjadwal dengan intensitas dan frekuensi yang tinggi tanpa memperhatikan keadaan populasi hama di lapangan. Pada awalnya diperoleh produksi tanaman yang baik sehingga petani semakin terdorong untuk terus meningkatkan penggunaan insektisida.

Tahap Kritis
Setelah penggunaan insektisida yang makin tinggi, peristiwa-peristiwa seperti resistensi, resurjensi, dan letusan hama kedua semakin kelihatan.

Sehingga biaya pengendalian yang dikeluarkan semakin meningkat dan keuntungan makin menurun.

Tahap Bencana
Tahap kritis apabila berlanjut akan sampai pada tahap bencana. Pada tahap ini usaha pengendalian hama dengan insektisida tidak lagi mendatangkan keuntungan, karena biaya pembelian insektisida makin tinggi, tapi serangan hama tidak berkurang (semakin meningkat). Petani juga makin meningkatkan frekuensi dan dosis penyemprotan, juga pencampuran beberapa jenis insektisida, tapi tetap tidak berhasil.

Tahap Pengendalian Terpadu
Apabila petani ingin berhasil dalam mengusahakan tanamannya agar sasaran produksi tercapai dan peningkatan penghasilan tercapai, dan setelah belajar dari pengalaman, mereka mau menerapkan PHT dan merasakan manfaat/keuntungan yang optimal dari usaha taninya. Menurut Dr. Smith urutan tersebut di atas tidak selalu secara tegas dilalui oleh petani/pengusaha pertanian karena ada kemungkinan langsung ke tahap kedua atau ke tiga. Bagi negara berkembang dianjurkan untuk tidak mengikuti tahapan tersebut, sebaiknya langsung menuju tahap 5.

4. KEBIJAKAN PEMERINTAH Pemerintah telah menetapkan PHT sebagai kebijakan dasar bagi setiap program perlindungan tanaman. Kebijakan ini merupakan program pemerintah sejak Pelita III sampai sekarang. Dasar hukum penerapan dan pengembangan PHT di Indonesia adalah Instruksi Presiden No. 3 Tahun 1986 dan UU No. 12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman.

KONSEP PHT ?

1.

Pemahaman Sifat Dinamika Ekosistem Pertanian 2. Analisis Biaya Manfaat Pengendalian Hama 3. Toleransi Tanaman Terhadap Kerusakan 4. Pertahankan Adanya Sedikit Populasi Hama di Tanaman 5. Budidaya Tanaman Yang Sehat 6. Pemantauan Lahan 7. Pemasyarakatan Konsep PHT

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->