Bintang Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Belum Diperiksa Untuk kegunaan lain dari Bintang, lihat

Bintang (disambiguasi). Bintang merupakan benda langit yang memancarkan cahaya. Terdapat bintang semu dan bintang nyata. Bintang semu adalah bintang yang tidak menghasilkan cahaya sendiri, tetapi memantulkan cahaya yang diterima dari bintang lain. Bintang nyata adalah bintang yang menghasilkan cahaya sendiri. Secara umum sebutan bintang adalah objek luar angkasa yang menghasilkan cahaya sendiri (bintang nyata). Menurut ilmu astronomi, definisi bintang adalah: “ Semua benda masif (bermassa antara 0,08 hingga 200 massa matahari) yang sedang dan pernah melangsungkan pembangkitan energi melalui reaksi fusi nuklir. ”

Oleh sebab itu bintang katai putih dan bintang neutron yang sudah tidak memancarkan cahaya atau energi tetap disebut sebagai bintang. Bintang terdekat dengan Bumi adalah Matahari pada jarak sekitar 149,680,000 kilometer, diikuti oleh Proxima Centauri dalam rasi bintang Centaurus berjarak sekitar empat tahun cahaya. Daftar isi [sembunyikan]
 

1 Sejarah Pengamatan 2 Radiasi
o o o

2.1 Fluks pancaran 2.2 Luminositas 2.3 Magnitudo

   

3 Satuan pengukuran 4 Klasifikasi 5 Penampakan dan Distribusi 6 Evolusi
o o o

6.1 Terbentuknya bintang 6.2 Deret Utama 6.3 Akhir sebuah bintang

dan bercocok tanam.[1] ide yang telah diusulkan sebelumnya oleh filsuf-filsuf Yunani kuno seperti Democritus dan Epicurus. mendasarkan diri pada posisi Bumi relatif terhadap bintang terdekat. ide bahwa bintang adalah Matahari yang jauh mencapai konsensus di antara para astronom. memperlihatkan bahwa mereka berubah posisi dari sejak pengukuran yang dilakukan Ptolemaeus dan Hipparchus. Bintang-bintang digunakan dalam praktik-praktik keagamaan. Pengukuran langsung jarak bintang 61 Cygni dilakukan pada 1838 oleh Friedrich Bessel menggunakan teknik paralaks.[4] Selain itu William Herschel juga menemukan bahwa beberapa pasangan bintang bukanlah bintang-bintang yang secara kebetulan berada dalam satu arah garis .[2] Pada abad berikutnya. Astronom-astronom awal seperti Tycho Brahe berhasil mengenali „bintang-bintang baru‟ di langit (kemudian dinamakan novae) menunjukkan bahwa langit tidaklah kekal. Isaac Newton mengusulkan bahwa bintang-bintang terdistribusi secara merata di seluruh langit. dan mungkin saja memiliki planet-planet seperti Bumi di dalam orbitnya. Untuk menjelaskan mengapa bintang-bintang ini tidak memberikan tarikan gravitasi pada tata surya. William Herschel adalah astronom pertama yang mencoba menentukan distribusi bintang di langit. dalam navigasi. Matahari. yang digunakan hampir di semua bagian dunia. Selama 1780an ia melakukan pencacahan di sekitar 600 daerah langit berbeda. Kalender Gregorian. adalah kalender Matahari. Putranya John Herschel mengulangi pekerjaan yang sama di hemisfer langit sebelah selatan dan menemukan hasil yang sama. Ia kemudian menyimpulkan bahwa jumlah bintang bertambah secara tetap ke suatu arah langit. yakni pusat galaksi Bima Sakti.   7 Catatan kaki 8 Daftar pustaka 9 Pranala luar [sunting]Sejarah Pengamatan Bintang-bintang telah menjadi bagian dari setiap kebudayaan.[3] Astronom Italia Geminiano Montanari merekam adanya perubahan luminositas pada bintang Algol pada 1667. sebuah ide yang berasal dari teolog Richard Bentley. Edmond Halley menerbitkan pengukuran pertama gerak diri dari sepasang bintang “tetap” dekat. Pada 1584 Giordano Bruno mengusulkan bahwa bintang-bintang sebenarnya adalah Matahari-matahari lain.

misal dengan metode paralaks. Banyaknya radiasi elektromagnetik yang dipancarkan oleh bintang dipengaruhi terutama oleh luas permukaan. [sunting]Radiasi Tenaga yang dihasilkan oleh bintang. Pada akhirnya astronom dapat memperkirakan umur sebuah bintang dari parameter-parameter di atas. gravitasi permukaan. yaitu jumlah cahaya atau tenaga yang diterima . Teleskopteleskop luar angkasa telah diluncurkan untuk mengamati bintang-bintang pada panjang gelombang lain. Namun tidak semua rentang panjang gelombang tersebut dapat diterima oleh teleskop landas Bumi. dan periode rotasi kemudian dapat diperkirakan dari pemodelan. Pada akhirnya kita dapat menduga kondisi di bagian dalam bintang. astronom dapat menentukan temperatur permukaan. Massa. Radiasi partikel yang dipancarkan bintang dimanifestasikan sebagai angin bintang (yang berwujud sebagai pancaran tetap partikel-partikel bermuatan listrik seperti proton bebas. Hanya gelombang radio dan gelombang cahaya yang dapat diteruskan oleh atmosfer Bumi dan menciptakan „jendela radio‟ dan „jendela optik‟. maka luminositas bintang dapat diturunkan. Dengan menelaah spektrum bintang. dan kecepatan rotasi dari sebuah bintang.pandang. Jika jarak bisa ditentukan. yang terentang dari panjang gelombang radiohingga sinar gamma. Hampir semua informasi yang kita miliki mengenai bintang yang lebih jauh dari Matahari diturunkan dari pengamatan radiasi elektromagnetiknya. sebagai hasil samping dari reaksi fusi nuklear. radius. metalisitas. [sunting]Fluks pancaran Kuantitas yang pertama kali langsung dapat ditentukan dari pengamatan sebuah bintang adalah fluks pancarannya. gravitasi permukaan. suhu dan komposisi kimia dari bagian luar (fotosfer) bintang tersebut. partikel alpha dan partikel beta yang berasal dari bagian terluar bintang) dan pancaran tetap neutrino yang berasal dari inti bintang. dipancarkan ke luar angkasa sebagai radiasi elektromagnetik dan radiasi partikel. karena apa yang terjadi di permukaan pastilah sangat dipengaruhi oleh bagian yang lebih dalam. melainkan mereka memang secara fisik berpasangan membentuk sistem bintang ganda. Massa bintang dapat juga diukur secara langsung untuk bintang-bintang yang berada dalam sistem bintang ganda atau melalui metode mikrolensing.

Secara tradisi magnitudo semu bintang yang dapat dilihat oleh mata bugil dibagi dari 1 hingga 6.5. [sunting]Magnitudo Secara tradisi kecerahan bintang dinyatakan dalam satuan magnitudo.0 sampai -26. Biasanya dinyatakan dalam satuan watt per cm2 (satuan internasional) atau erg per detik per cm2 (satuan cgs). luminositas sebuah bintang dapat ditentukan melalui hubungan dengan E adalah fluks pancaran. σ adalah tetapan Stefan-Boltzmann. L adalah luminositas dan d adalah jarak bintang ke pengamat. dan terentang antara +26. Jika jarak bintang dapat diketahui.permukaan kolektor (mata atauteleskop) per satuan luas per satuan waktu. Kecerahan bintang yang kita amati. dinyatakan oleh magnitudo tampak(m) atau magnitudo semu. yang terhubungkan melalui persamaan. Magnitudo adalah besaran lain dalam menyatakan fluks pancaran. dimana L adalah luminositas. baik menggunakan mata bugil maupun teleskop. di mana satu ialah bintang paling cerah. [sunting]Satuan pengukuran . Terdapat juga kecerahan yang diukur secara mutlak. erg per detik (satuan cgs) atau luminositas Matahari. misalnya dengan menggunakan metode paralaks. Dengan menganggap bahwa bintang adalah sebuah benda hitam sempurna. dimana m adalah magnitudo semu dan E adalah fluks pancaran. Biasanya satuan luminositas dinyatakan dalam watt (satuan internasional). R adalah jarijari bintang dan Te adalah temperatur efektif bintang. Kecerahan ini dikenal sebagai magnitudo mutlak (M). maka luminositasnya adalah. [sunting]Luminositas Di dalam astronomi. yang menyatakan kecerahan bintang sebenarnya. dan 6 sebagai bintang paling redup. luminositas adalah jumlah cahaya atau energi yang dipancarkan oleh sebuah bintang ke segala arah per satuan waktu.

Untuk Matahari. B. bintang dibagi ke dalam 7 kelas utama yang dinyatakan dengan huruf O. parameter-parameter berikut diketahui: massa Matahari: luminositas Matahari: radius Matahari: kg[5] watt[5] m[6] Skala panjang seperti setengah sumbu besar dari sebuah orbit sistem bintang ganda seringkali dinyatakan dalam satuan astronomi (AU = astronomical unit). dan K0 lebih awal daripada K5. Untuk mengingat urutan penggolongan ini biasanya digunakan kalimat "Oh Be A Fine Girl Kiss Me". bintang A0 bertipe lebih awal daripada F5. Klasifikasi ini dikembangkan oleh Observatorium Universitas Harvard dan Annie Jump Cannon pada tahun 1920an dan dikenal sebagai sistem klasifikasi Harvard. warna dan komposisi-kimianya.Kebanyakan parameter-parameter bintang dinyatakan dalam satuan SI. Penggunaan satuan cgs lebih bersifat tradisi daripada sebuah konvensi. yaitu jarak rata-rata antara Bumi dan Matahari. Seringkali pula massa. Jadi. mengingat Matahari adalah bintang yang paling banyak dipelajari dan diketahui parameterparameter fisisnya. luminositas dan jari-jari bintang dinyatakan dalam satuan Matahari. [sunting]Klasifikasi Artikel utama untuk bagian ini adalah: Klasifikasi bintang Berdasarkan spektrumnya. G. K. Dengan kualitas spektrogram yang lebih baik memungkinkan penggolongan ke dalam 10 sub-kelas yang diindikasikan oleh sebuah bilangan (0 hingga 9) yang mengikuti huruf. A. Kelas Warna Suhu Permukaan °C Contoh . F. M yang juga menunjukkan urutan suhu. tetapi satuan cgs kadang-kadang digunakan (misalnya luminositas dinyatakan dalam satuan erg per detik). Sudah menjadi kebiasaan untuk menyebut bintang-bintang di awal urutan sebagai bintang tipe awal dan yang di akhir urutan sebagai bintang tipe akhir.

25. dan Edith Kellman dari Observatorium Yerkes menambahkan sistem pengklasifikasian berdasarkan kuat cahaya atau luminositas.000 Rigel A Putih 7.500 . Pengklasifikasian tersebut dikenal sebagai sistem klasifikasi Yerkes dan membagi bintang ke dalam kelaskelas berikut :         0 Maha maha raksasa I Maharaksasa II Raksasa-raksasa terang III Raksasa IV Sub-raksasa V deret utama (katai) VI sub-katai VII katai putih .11. yang seringkali merujuk pada ukurannya.000 .000 Arcturus M Merah <3.000 Spica B Putih-Biru 11.500 Procyon A G Kuning 5.000 .O Biru > 25.7.6.5. Phillip C.500 Betelgeuse Pada tahun 1943. Keenan.000 .000 Matahari K Jingga 3. William Wilson Morgan.500 .000 Sirius F Putih-Kuning 6.

Karena 85% populasi bintang . Diagram ini adalah diagram paling penting bagi para astronom dalam usaha mempelajari evolusi bintang. dimana 80% populasinya dipercaya berada dalam suatu sistem bintang ganda atau pun multi bintang. Telah lama dikira bahwa kebanyakan bintang berada pada sistem bintang ganda atau sistem multi bintang. [sunting]Penampakan dan Distribusi Karena jaraknya yang sangat jauh. semua bintang (kecuali Matahari) hanya tampak sebagai titik saja yang berkelap-kelip karena efek turbulensi atmosfer Bumi. Semakin redup bintang. Diameter sudut bintang bernilai sangat kecil ketika diamati menggunakan teleskop optik landas Bumi. hingga diperlukan teleskop interferometer untuk dapat memperoleh citranya.057 detik busur. Matahari kita misalnya. Diagram Hertzsprung-Russell adalah diagram hubungan antara luminositas dan kelas spektrum (suhu permukaan) bintang. citra NASA. adalah sebuah bintang dengan kelas G2V. semakin besar kemungkinannya dijumpai sebagai sistem tunggal. bersuhu dan berukuran sedang. Sebuah katai putih yang sedang mengorbitSirius (konsep artis). berwarna kuning. Kenyataan ini hanya benar untuk bintang-bintang masif kelas O dan B.Umumnya kelas bintang dinyatakan dengan dua sistem pengklasifikasian di atas. dengan 0. Bintang dengan ukuran diameter sudut terbesar setelah Matahari adalah R Doradus. Dijumpai hanya 25% populasi katai merah yang berada dalam sebuah sistem bintang ganda atau sistem multi bintang.

Bintang-bintang tidak tersebar secara merata mengisi seluruh ruang alam semesta. dan terdapat lebih dari 100 miliar galaksi di seluruh alam semesta teramati. Bintang terdekat dengan Matahari adalah Proxima Centauri.2 tahun untuk mencapai Bumi. Jarak ini adalah jarak antar bintang tipikal di dalam sebuah piringan galaksi. Sebuah galasi tipikal mengandung ratusan miliar bintang. Istilah pengembara merujuk pada jejak evolusi yang berbeda dengan bintang normal lainnya pada diagram Hertzsprung-Russel. tetapi terkelompokkan ke dalam galaksi-galaksi bersama-sama dengan gas antarbintang dan debu.di galaksi Bimasakti adalah katai merah. komposisi kimia juga ikut mengambil peran dalam skala yang lebih kecil. Selain itu. Tumbukan seperti ini dapat menghasilkan pengembara-pengembara biru yaitu sebuah bintang abnormal hasil penggabungan yang memiliki temperatur permukaan yang lebih tinggi dibandingkan bintang deret utama lainnya di sebuah gugus bintang dengan luminositas yang sama. Cahaya dari Proxima Centauri memakan waktu 4. atau 4. Ini berarti 70 000 000 000 000 000 000 000 bintang. atau pada jarak yang lebih jauh di halo galaksi. . Bintang-bintang dapat berada pada jarak yang lebih dekat satu sama lain di daerah sekitar pusat galasi dan di dalam gugus bola. evolusi. berjarak 39. Sistem yang lebih besar yang disebut gugus bintang juga dijumpai. dan nasib akhir sebuah bintang sangat dipengaruhi oleh massanya.9 triliun (1012) kilometer. atau 230 miliar kali banyaknya bintang di galaksi Bimasakti yang berjumlah sekitar 300 miliar. tumbukan antar bintang jarang terjadi. Karena kerapatan yang rendah di dalam sebuah galaksi. Namun di daerah yang sangat padat seperti di inti sebuah gugus bintang atau lingkungan sekitar pusat galaksi. maka tampaknya kebanyakan bintang di dalam Bimasakti berada pada sistem bintang tunggal. tumbukan dapat sering terjadi[9] .2 tahun cahaya. [sunting]Evolusi Struktur.[7] Astronom memperkirakan terdapat 70 sekstiliun (7×1022) bintang di seluruh alam semesta yang teramati[8].

Runtuhnya globula membuat bertambahnya kerapatan.[sunting]Terbentuknya bintang Bintang terbentuk di dalam awan molekul. Pada proses ini energi gravitasi diubah menjadi energi panas sehingga temperatur meningkat. Begitu awan runtuh. Pengerutan atau keruntuhan awan molekul ini memakan waktu hingga puluhan juta tahun. kemudian terpecah menjadi konglomerasi individual. Hal ini didukung oleh pengamatan dimana banyak bintang berusia sama tergabung dalam gugus atau asosiasi bintang. yaitu sebuah daerah medium antarbintang yang luas dengan kerapatan yang tinggi (meskipun masih kurang rapat jika dibandingkan dengan sebuahvacuum chamber yang ada di Bumi). Komposisi elemen dalam awan ini tidak banyak berubah sejak peristiwa nukleosintesis Big Bang pada saat awal alam semesta. sebuah protobintang akan terbentuk di intinya. Reaksi nuklir di dalam inti bintang menyuplai cukup energi . Ketika awan protobintang ini mencapaikesetimbangan hidrostatik. Pembentukan bintang dimulai dengan ketidakstabilan gravitasi di dalam awan molekul yang dapat memiliki massa ribuan kali Matahari. Ketika peningkatan temperatur di inti protobintang mencapai kisaran 10 juta kelvin. Gravitasi mengambil peranan sangat penting dalam proses pembentukan bintang. Globula Bok ini dapat memiliki massa hingga 50 kali Matahari. Awan ini kebanyakan terdiri dari hidrogen dengan sekitar 23–28% helium dan beberapa persen elemen berat. melainkan dalam kelompok yang berasal dari suatu keruntuhan di suatu awan molekul yang besar. awan tersebut mulai runtuh di bawah gaya gravitasinya sendiri. akan terjadi konglomerasi individual dari debu dan gas yang padat yang disebut sebagai globula Bok. Bintang pra deret utama ini seringkali dikelilingi oleh piringan protoplanet. Sekali sebuah wilayah mencapai kerapatan materi yang cukup memenuhi syarat terjadinya instabilitas Jeans. Berdasarkan syarat instabilitas Jeans. Ketidakstabilan ini seringkali dipicu oleh gelombang kejut dari supernova atau tumbukan antara dua galaksi. hidrogen di inti 'terbakar' menjadi helium dalam suatu reaksi termonuklir. bintang tidak terbentuk sendirisendiri.

Lapisan luar bintang yang masih banyakhidrogen mengembang dan bertukar warna merah dan disebut bintang raksaksa merah yang dapat mencapai 100 kali ukuran Matahari sebelum membentuk bintang kerdil putih. [sunting]Akhir sebuah bintang Ketika kandungan hidrogen di teras bintang habis. Pada fase ini bintang dikatakan berada dalam deret utama dan disebut sebagai bintang katai. teras bintang mengecil dan membebaskan banyak panas dan memanaskan lapisan luar bintang. . Protobintang kini memulai kehidupan baru sebagai bintang deret utama. Sekiranya bintang tersebut berukuran lebih besar dari matahari. [sunting]Deret Utama Bintang menghabiskan sekitar 90% umurnya untuk membakar hidrogen dalam reaksi fusi yang menghasilkan helium dengan temperatur dan tekanan yang sangat tinggi di intinya.untuk mempertahankan tekanan di pusat sehingga proses pengerutan berhenti. bintang tersebut akan membentuk superraksaksa merah. Superraksaksa merah ini kemudiannya membentuk Nova atau Supernova dan kemudiannya membentuk bintang neutron atau Lubang hitam.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful