P. 1
depresi .doc

depresi .doc

|Views: 138|Likes:
depresi
depresi

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Arif Emping Gustidewatamuliaraya on Apr 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/06/2013

pdf

text

original

PERBEDAAN TINGKAT DEPRESI PADA LANSIA YANG MEMILIKI KELUARGA DENGAN LANSIA YANG TIDAK MEMILIKI KELUARGA DI PANTI

SOSIAL TRISNA WERDHA UNIT BUDI LUHUR, KASONGAN, BANTUL,YOGYAKARTA
NASKAH PUBLIKASI Program Studi Kedokteran Umum

Disusun Oleh

Diajukan oleh: RICHY NARULITA 20040310085 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA 2007

kes. Kusbaryanto. 14 April 2007 Pembimbing Dr. Demikian harap maklum.PERNYATAAN Dengan ini kami selaku pembimbing karya tulis ilmiah mahasiswa Program Studi Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta: Nama No Mahasiswa Judul : : : Richy Narulita 20040310085 Perbedaan Tingkat Depresi antara Lansia yang memiliki keluarga dengan lansia yang tidak memiliki keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur. M. Bantul. *) Coret yang tidak perlu . H. Yogyakarta Setuju/tidak setuju *) naskah ringkasan penelitian yang disusun oleh yang bersangkutan dipublikasikan dengan/tanpa*) mencantumkan nama pembimbing sebagai co-author. Yogyakarta. Kasongan.

Depresi sering komorbid dengan penyakit fisik. Staf Pengajar UMY*2 Perbedaan Tingkat Depresi antara Lansia yang Memiliki Keluarga dengan Lansia yang Tidak Memiliki Keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur Kasongan Bantul Yogyakarta Richy Narulita1. dr. Kusbaryanto2 INTISARI Latar belakang penelitian: Depresi merupakan gangguan mental yang sering ditemui pada geriatri. Depresi pada lansia bukan merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Lansia yang mengalami depresi akan mengakibatkan kesulitan dalam melakukan aktivitas hidup sehari . H. .harinya. Tujuan penelitian: Memperoleh gambaran perbedaan tingkat depresi antara geriatri yang memiliki keluarga dengan geriatri yang tidak memiliki keluarga.*2 Sarjana Kedokteran Program Stud Kedokteran Umum Fakultas Kedokteran UMY *1. Prevalensi depresi pada geriatri yang tinggal di rumah sakit dan panti jompo sepuluh kali lebih banyak daripada yang tinggal bersama keluarga. M. Dukungan keluarga akan menurunkan angka kejadian depresi pada lansia. Kusbaryanto.Perbedaan Tingkat Depresi antara Lansia yang Memiliki Keluarga dengan Lansia yang Tidak Memiliki Keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur Kasongan Bantul Yogyakarta The Difference of Depression Level between Geriatric who Have Family and Geriatric who Don’t Have Family in Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur Kasongan Bantul Yogyakarta Richy Narulita*1. oleh karena itu gejala dan keluhan sering tersamar dan tumpang tindih. Kes.

Responden terdiri dari 15 lansia yang memiliki keluarga dan 15 lansia yang tidak memiliki keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha Kasongan Bantul Yogyakarta. Kesimpulan : tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat depresi pada lansia yang memiliki keluarga dengan lansia yang tidak memiliki keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha Kasongan Bantul Yogyakarta. Responden dalam penelitian ini sebanyak 30 subyek yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.754 (signifikansi lebih besar dari 0. lansia . Hal ini dibuktikan dengan nilai signifikansi antara lansia yang memiliki keluarga dengan lansia yang tidak memiliki keluarga sebesar 0. Hasil penelitian : tidak ada perbedaan yang bermakna antara tingkat depresi pada lansia yang memiliki keluarga dengan lansia yang tidak memiliki keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha Kasongan Bantul Yogyakarta.Metode penelitian: non experimental dengan pendekatan cross sectional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah Geriatric Depression Scale (GDS) untuk mengukur derajat depresi pada lansia.05). Kata kunci: depresi. dukungan keluarga.

Results of the research: there is no significant difference in the levels of depression between geriatric who have family and geriatric who don’t have family in Panti Sosial Trisna Werdha Kasongan Bantul Yogyakarta. Research methodology: is non experimental research with cross sectional approach. The support of the family will decrease the prevalence of depression in geriatric.754 (significance level is more than 0. Prevalence of depression in geriatric who live in hospital and elderly hostels is 10 times more than who live with their family. It is showed by the significance value between geriatric who have family and geriatric who don’t have family is 0.05). . Because of that. Depression usually happens in accordance with physical disease. Geriatric who have depression will find difficulty doing their daily activities. the sign and symptom are usually vague and overlap unsystematically. This sample consists of 15 geriatric who have family and 15 geriatric who don’t have family in Panti Sosial Trisna Werdha Kasongan Bantul Yogyakarta.The Difference of Depression Level between Geriatric who Have Family and Geriatric who Don’t Have Family in Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur Kasongan Bantul Yogyakarta Richy Narulita1. Kusbaryanto2 ABSTRACT Background of the research: Background of the research: Depression is a mental disorder that always found in geriatric patient. The instrument used in this research is Geriatric Depression Scale (GDS) for measuring the level of depression in geriatric. Depression in geriatric is not a part of normal aging process. The purpose of this research is to get the description about the difference of depression level between geriatric who have family with geriatric who don’t have family. The sample of this research is 30 responders fulfilling inclusion and exclusion criterion.

Depresi merupakan gangguan mood yang paling sering terjadi pada lansia dan 15% dari penduduk yang berusia 65 tahun atau lebih menderita depresi. kesedihan terus-menerus dirasakan melebihi waktu yang normal. Suatu episode depresi biasanya berlangsung selama enam sampai sembilan bulan. Keywords: depression. tetapi tidak sebanding dengan peristiwa tersebut. Masalah psikologi yang lazim dan praktis ada pada lansia adalah demensia dan depresi (Gallo et al. Dalam hal ini depresi tidak hanya disebabkan oleh faktor usia saja tetapi disebabkan juga oleh faktor lain seperti kehilangan anggota keluarga dan penyakit kronik yang diderita. Pada aspek kesehatan. Episode depresi cenderung berulang sebanyak beberapa kali (Medicastore. baik masalah fungsional maupun psikologi. geriatric PENDAHULUAN Peningkatan jumlah lanjut usia (lansia) yang cepat akan menimbulkan permasalahan yang komplek dan memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan serta berpengaruh terhadap kelompok penduduk lainnya.1998). 1992). tetapi pada 15-20% penderita bisa berlangsung sampai dua tahun atau lebih. . yang bisa terjadi setelah kehilangan seseorang atau mengalami peristiwa menyedihkan lainnya. peningkatan jumlah tersebut akan menimbulkan masalah. 2007). dan gangguan bipolar (13%). Depresi adalah suatu perasaan sedih yang sangat mendalam.Conclusions: the level of depression in geriatric who have family same with geriatric who don’t have family in Panti Sosial Trisna Werdha Kasongan Bantul Yogyakarta. Masalah psikiatri yang umum terjadi pada lansia yaitu: depresi (42%). Keadaan depresi sering terlupakan jika tidak diperhatikan dengan seksama karena orang yang usia lanjut sering tidak mengeluhkan perasaan depresinya (Krack dan Yang. skizofrenia (22%). family’s support. Kaplan dan Sadock (1997) mengungkapkan bahwa gejala depresi ditemukan pada 25% dari semua penduduk komunitas lanjut usia dan pasien rumah perawatan.

Selain itu juga terapi keagamaan/ibadah dapat menurunkan terjadinya depresi (AAGP. Populasi dan Sampel Penelitian Populasi penelitian adalah semua lansia yang ada atau tinggal di Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur yang terdiri dari 7 wisma dan memiliki jumlah lansia sebanyak 79 orang.Agustus 2007 di Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur Kasongan. Yogyakarta. Psikologi terapi keluarga.Scott (2006) menyatakan bahwa depresi hendaknya diterapi seperti penyakit kronik pada umumnya. Sampel dalam penelitian ini adalah lansia yang ada di Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur Kasongan. Pokok permasalahan dari penelitian ini adalah “Adakah perbedaan tingkat depresi antara lansia yang mempunyai keluarga dengan lansia yang tidak mempunyai keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul?” dan “Bagaimana perbedaan tingkat depresi antara lansia yang mempunyai keluarga dengan lansia yang tidak mempunyai keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha Yogyakarta Unit Budi Luhur Kasongan Bantul?” METODE PENELITIAN Desain Penelitian Desain penelitian adalah non experimental dengan pendekatan cross sectional yaitu pengukuran variable-variabelnya dapat dilakukan dalam satu kali (Sastroasmoro dan Ismael. Cara pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah non probability sampling berupa purposive sampling sebanyak 30 responden lansia. 2002). dan ECT ( Electro Convulsive Teraphy) efektif digunakan untuk penatalaksanaan pasien lansia yang mengalami depresi. Bantul. . Yogyakarta. 2002). Waktu dan Tempat Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Juli . Bantul. terapi obat. Hal ini disebabkan karena tingginya angka kejadian bunuh diri pada lansia yang depresi.

HASIL PENELITIAN Karakteristik Responden Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa usia lansia antara 60 – 74 tahun sebanyak 15 orang (50%). usia 75 – 90 tahun sebanyak 14 orang (46. Teknik Pengolahan Data Teknik pengolahan data untuk variabel bebas yang berupa ada atau tidak adanya keluarga dilakukan dengan melakukan wawancara secara langsung dengan kategori jawaban ya dan tidak. Data yang dikumpulkan untuk variabel bebas adalah ada atau tidak adanya keluarga yang merupakan data primer dengan menggunakan teknik wawancara secara langsung kepada sampel. Mekanisme Penelitian Mekanisme penelitian ini meliputi teknik pengumpulan data. Sedangkan data yang dikumpulkan untuk variabel terikat adalah tingkat depresi berupa data primer dengan menggunakan kuisoner ”Skala Depresi Geriatrik” yang diisi oleh lansia. 2002). Sedangkan untuk variabel terikat. dengan rentang jawaban: apabila jawaban benar = 1 dan apabila salah = 0. penulis menggunakan uji hipotesis t-test dengan program_SPSS for windows release 14 (Sastroasmoro dan Ismael. Hasil dari data yang diperoleh.67%). data dikumpulkan dari koesioner yang terdiri dari 30 item. variabel bebasnya adalah skala nominal dan variabel tergantungnya adalah skala numerik berupa skala interval maka dalam proses pengolahan data. dan . Sedangkan variabel terikatnya adalah tingkat depresi pada lansia.Identifikasi Variabel Penelitian Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ada atau tidak adanya keluarga. dianalisis dengan menggunakan scorring berdasarkan Depression Geriaric Scale dengan rentang: 20 – 30 = Depresi Berat 10 – 19 = Depresi Ringan 0–9 = Non Depresi Tenik Analisis Data Dalam penelitian ini.

33%).3 3 50 Depresi berat F 1 1 % 3.6 7 Depresi F 8 7 15 ringan % 26. Sebanyak 60% responden adalah janda dan 66. Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Lansia.33%).6 7 23. Tabel.67%) dan untuk laki – laki sebanyak 7 orang (23.33 3.67% responden mempunyai pendidikan SD/SR. Sebagian besar lansia mempunyai riwayat pekerjaan sebagai pedagang atau wiraswasta sebanyak 12 orang (40%). 1.33 100 Tabel. Tabel 2 Hubungan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Depresi pada Lansia Tingkat depresi Dukungan keluarga Ada Tidak ada Total Sumber : Primer Terolah Non depresi F 7 7 14 % 23. Tingkat Depresi pada Lansia Tabel 1 Tingkat Depresi pada Lansia Bulan Juli 2007 Tingkat Depresi Non Depresi Depresi Ringan Depresi Berat Jumlah Sumber : Primer Terolah Jumlah 14 15 1 30 Persen (%) 46. sebagian besar adalah wanita yakni sebanyak 23 orang (76.3 3 23.33 F 15 15 30 % 50 50 100 Total .67 50 3.3 3 46. Sedangkan untuk jenis kelamin.usia >90 tahun sebanyak 1 orang (3. 2.

depresi ringan 23. dan peningkatan kerentanan terhadap gangguan kognitif. dan umur >90 tahun sebanyak 3. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan hormonal. dan kekuatan (power) dan orang yang kehilangan jabatan adalah orang yang kahilangan kekuasaan dan kekuatan (powerless). dan yang tidak mengalami depresi sebanyak 12 orang. dan model perilaku tentang keputusasaan yang dipelajari (Kaplan dan Sadock. gangguan mental seperti depresi juga bisa disebabkan oleh penyakit yang diderita dengan kecacatan medis kronis penyerta. Keluhan – keluhan tersebut disertai dengan . kecemasan. efek kelahiran. depresi ringan sebanyak 10 orang. wewenang.PEMBAHASAN Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden berdasarkan umur antara 60 – 74 tahun sebanyak 50%.33%. artinya sesuatu yang dimiliki dan dicintai kini telah tiada (loss of love object). Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa laki – laki mengalami depresi ringan sebanyak lima orang dan yang tidak mengalami depresi sebanyak dua orang. Dampak dari loss of love object ini adalah terganggunya keseimbangan mental emosional dengan munculnya berbagai keluhan fisik (somatik).67%. Responden yang mempunyai riwayat pekerjaan wiraswasta/dagang mempunyai kecenderungan yang lebih besar untuk mengalami depresi. didapatkan hasil bahwa responden sebagian besar adalah wanita yaitu 76. 1997). pemakaian obat – obatan (polifarmasi).33%.67%. dan depresi.33%. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mengalami depresi berat 3. perbedaan stresor psikososial bagi wanita dan bagi laki – laki. umur 75 – 90 tahun sebanyak 46. Riwayat pekerjaan pada penelitian ini menunjukkan bahwa responden yang mempunyai riwayat pekerjaan wiraswasta/dagang adalah 40%. Hawari (2002) menyatakan bahwa orang yang mempunyai jabatan adalah orang yang mempunyai kekuasaan. Sedangkan perempuan yang mengalami depresi berat sebanyak satu orang. Weinberg (1995) mengungkapkan bahwa selain faktor usia yang sudah lanjut. Sedangkan untuk jenis kelamin. dan yang tidak mengalami depresi 13. Prevalensi depresi pada wanita biasanya dua kali lebih besar daripada laki – laki.33%.

Kaplan dan Sadock (1997) menyatakan bahwa gangguan depresi lebih sering terjadi pada orang yang mempunyai riwayat pendidikan rendah daripada orang yang mempunyai riwayat pendidikan lebih tinggi.perubahan sikap dan perilaku yang disebut sindrom pasca kuasa ( post power syndrome).33% responden tidak mengalami depresi dan 13. hal ini kemungkinan mencerminkan usia onset yang relatif awal untuk gangguan tersebut.67% dengan 3. Lansia yang mengalami depresi ringan yaitu . antara lain: kehilangan pasangan hidup. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa 60% responden adalah janda dimana 33.33% mengalami depresi ringan. 23.1997).67% mengalami depresi ringan.33% dari mereka tidak mengalami depresi. penyakit yang diderita.33% mengalami depresi berat. dan 3. Tingkat depresi pada tabel 1 termasuk dalam kategori depresi ringan sebanyak 50%.67%. atau yang bercerai atau berpisah.33% terdiri dari 3. Gangguan depresif lebih sering pada orang yang bercerai dan hidup sendirian daripada orang yang menikah. Gangguan depresi yang terjadi pada lansia yang tinggal di Panti Sosial Trisna Wedha disebabkan oleh beberapa hal. tetapi perbedaan tersebut mungkin mencerminkan onset awal dan percekcokan perkawinan yang diakibatkannya yang karakteristik untuk gangguan tersebut (Kaplan dan Sadock. dan merasa terisolasi. Keadaan ini sebagian besar disebabkan oleh stressor psikososial. stres lingkungan.33% mengalami depresi ringan. mempunyai penyakit fisik yang serius disertai disabilitas. Pada umumnya.33% tidak mengalami depresi dan 6. Sedangkan responden yang masih memiliki pasangan hidup sebanyak 13. dan status perkawinan. Jumlah responden yang tidak pernah menikah sebanyak 16. Responden yang berstatus duda sebanyak 13.33% ini terdiri dari responden yang mengalami depresi ringan dan yang tidak mengalami depresi dalam jumlah yang sama. Hasil penelitian juga menjelaskan bahwa sebagian besar responden mempunyai riwayat pendidikan SD atau SR (Sekoleh Rakyat) yaitu sebanyak 66. gangguan depresif berat terjadi pada orang yang tidak memiliki hubungan interpersonal yang erat.

memiliki penyakit penyerta misalnya: darah tinggi. agama. antara lain: • perbedaan dalam latar belakang kehidupan yang meliputi perbedaan tingkat pendidikan. Berbagai faktor yang berbeda tersebut akan menyebabkan tingkat depresi yang dialami oleh individu tersebut berbeda pula. status perkawinan. Pada lansia. Proses terjdinya depresi pada lansia dihubungkan dengan perubahan pada sistem biologis saraf (AAGP. dan meningkatkan kondisi depresi dan reaksi emosional individu terhadap berbagai masalah kehidupan. merasa hidupnya kosong. memicu. Lansia yang mengalami kehilangan misalnya kehilangan pasangan hidup. dan genetik merupakan multifaktor yang bisa mempengaruhi. Lingkungan panti merupakan tempat yang memungkinkan untuk munculnya berbagai stressor psikososial.lansia yang merasa takut akan kekambuhan penyakitnya. yang mungkin akan menambah stressor .stressor lama yang dibawa oleh lansia sebelum mereka masuk panti. stres lingkungan yang sering menyebabkan depresi dan kemampuan beradaptasi yang sudah menurun menyebabkan depresi lebih mudah terjadi pada lansia dan prognosisnya seringkali tidak sebaik pada usia muda (Darmojo dan Martono. tinggal seorang diri. keadaan sosioekonomi dan budaya. stroke. 2002). Usia bukan merupakan faktor risiko terjadinya depresi. ras. namun kehilangan pasangan hidup atau menderita penyakit kronik merupakan faktor yang dapat meningkatkan kerentananterhadap terjadinya depresi. dan merasa dirinya tidak berarti bagi keluarganya. keadaan sosioekonomi dan . kesepian. gangguan daya ingat. status perkawinan. 2004). dan adanya interaksi obat berisiko mengalami depresi. Tabel 2 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan tingkat depresi yang signifikan antara lansia yang memiliki keluarga dengan lansia yang tidak memiliki keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha. Perbedaan latar belakang kehidupan yang meliputi perbedaan dalam tingkat pendidikan.setelah operasi pengangkatan payudara. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor.

tidak ada yang mendapat perhatian dan perlakuan yang lebih baik dari yang lain.budaya. Faktor – faktor tersebut menyebabkan tingkat depresi antara responden yang memiliki keluarga dengan responden yang memiliki keluarga tidak mempunyai perbedaan yang bermakna. • Lingkungan panti dengan segala aktivitasnya menyebabkan baik responden yang memiliki keluarga maupun tidak akan merasakan adanya kebersamaan. Mereka harus melaksanakan dan berpartisipasi dalam semua kegiatan . Hal ini akan menyebabkan mereka merasa tidak berarti lagi bagi keluarga mereka. ras. agama. Hidup bersama di panti membuat para lansia tersebut merasa memiliki teman yang senasib dan sepenanggungan. Hal ini menyebabkan lansia merasa kecewa karena waktu kunjungan yang singkat itu tidak dapat menghapus rasa rindu mereka. Kunjungan keluarga maksimal satu kali dalam seminggu dan dalam setiap kunjungan hanya berlangsung kurang dari satu jam. Hal ini menyebabkan responden yang tidak memiliki keluarga merasakan adanya teman yang menggantikan keluarga mereka. meskipun mereka tidak mendapatkan dukungan dari keluarga mereka namun lingkungan panti sudah dapat menghilangkan sebagian dari rasa kesepian yang mereka alami. dan genetik sehingga kerentanan terhadap timbulnya depresi juga berbeda. • Responden yang memiliki keluarga akan berpikir bahwa keluarga mereka sudah tidak mau merawat mereka lagi sehingga mere ditempatkan di panti oleh keluarga mereka. • Dukungan keluarga yang diberikan kepada responden yang memiliki keluarga sangat kurang baik dari segi kualitas maupun kuantitas. setiap lansia diperlakukan sama. Sama halnya dengan responden yamg tidak memiliki keluarga. Di panti. Meskipun responden yang memiliki keluarga mendapatkan dukungan dari keluarga mereka namun terkadang hal itu justru dapat memicu terjadinya depresi.

Nasrun (2000) mengungkapkan bahwa terapi psikologi untuk lansia yang mengalami depresi adalah terapi keluarga. namun kesempatan itu tidak diberikan oleh keluarga sehingga hal ini akan membuat lansia merasa dikucilkan dan tidak diperhatikan. Lansia terkadang bertingkah seperti anak . Tujuan dari terapi keluarga adalah untuk meredakan perasaan putus asa dan frustasi. maka keluarga merasa bahwa lansia dalam keadaan baik tanpa melihat sisi psikologis dari lansia tersebut. Perangainya pun berubah – ubah. Perasaan ini akan memicu depresi pada lansia yang merasa hidupnya kosong dan tidak berharga lagi. Proses penuaan mengubah dinamika keluarga. Lansia juga kurang mendapat dukungan penghargaan dari keluarga padahal mereka sangat membutuhkan dukungan tersebut misalnya ketika lansia berprestasi dalam kegiatan di panti. Sebenarnya lansia ingin bercerita kepada keluarganya. Mereka sangat berharap kedatangan keluarganya dan terkadang tidak menginginkan keluarganya pulang. jika keluarga mengunjungi lansia di panti dan lansia dalam keadaan sehat. 1997). sebentar gembira sebentar susah/sedih (Oswari.anak. Dukungan emosional juga kurang diberikan pada lansia.yang diselenggarakan oleh pihak panti kecuali jika kondisi memang tidak memungkinkan misalnya sakit. Hal ini akan memicu terjadinya depresi pada lansia. Lingkungan panti tersebut akan menimbulkan rasa kebersamaan di antara para lansia sehingga merupakan suatu hal yang wajar jika tidak terdapat perbedaan yang signifikan terhadap tingkat depresi antara lansia yang memiliki keluarga dengan lansia yang tidak memiliki keluarga. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia yang tidak memiliki keluarga tidak mengalami depresi yang lebih berat. Hal ini disebabkan karena mereka merasa . Stressor psikologi akan semakin bertambah apabila lansia membutuhkan dukungan penghargaan namun keluarga tidak memberikan dukungan tersebut dengan alasan keluarga tidak tahu apa yang diinginkan oleh lansia. Terdapat perubahan posisi dari dominan menjadi dependen pada lansia. Hal ini disebabkan karena sebagian besar masalah keluarga yang berperan dalam timbulnya gangguan depresi sehingga dukungan keluarga sangat penting bagi lansia.

ketidakikhlasan menerima kenyataan baru seperti penyakit yang tidak kunjung sembuh. . Rasa tersisih. Agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang cara yang tepat untuk mendeteksi dan mengatasi depresi secara dini pada lansia. 2. Tingkat depresi pada lansia sebagian termasuk dalam kategori depresi ringan. Bagi Peneliti Lain a. Depresi adalah permasalahan yang makin memberatkan kehidupan lansia. 2.upaya pencegahan dini dengan memperhatikan tingkat depresi pada lansia di panti dan tidak menganggap sepele masalah depresi. 3. 2001). tidak dibutuhkan. KESIMPULAN 1. kematian pasangan merupakan sebagian kecil dari semua stressor yang harus dihadapi oleh lansia. mereka sudah pasrah dengan sisa hidupnya dan siap bila suatu saat Allah SWT memanggilnya. Mayoritas dari mereka adalah yang mempunyai uang pensiun sendiri sehingga mereka merasa bahwa dirinya masih berguna untuk dirinya maupun orang lain yang ada di panti. Pada lansia permasalahan psikologi terutama muncul bila lansia tidak berhasil menemukan jalan keluar masalah yang timbul sebagai akibat dari proses menua. SARAN 1. Tingkat depresi antara lansia yang memiliki keluarga dengan lansia yang tidak memiliki keluarga di Panti Sosial Trisna Werdha tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Bagi Ilmu Kedokteran Melakukan upaya . Bagi Instansi Sosial (Pengelola Panti) Hendaknya meningkatkan kualitas tenaga pengasuh dalam menangani lansia yang depresi dan meningkatkan kerjasama dengan tenaga kesehatan dalam rangka memberikan perawatan pada lansia dengan depresi.panti adalah suatu tempat yang menyenangkan dan banyak teman. Dukungan keluarga juga sangat penting dalam mengatasi depresi karena keluarga merupakan orang terdekat yakni ada ikatan hubungan (Amir.

Darmojo. D. Menyongsong Usia Lanjut dengan Bugar dan Bahagia.. dan Sadock. dari http: //www. Ucapan terima kasih 1. Budhi. 4. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2. Diakses pada tanggal 23 April 2007. 2. dan Depresi. dan Yang. dari http://www. 8. Ismael. dr. Ayah dan Ibu tercinta yang telah memberikan kasih sayang. AAGP. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis Edisi kedua. Kasongan. 6. Jakarta: Gaya Baru. Medicastore. Bantul. Kepala dan Staf Karyawan Panti Sosial Trisna Werdha Unit Budi Luhur. (1998). Sinopsis Psikiatri. (1997).medicastore. Diakses pada tanggal 20 April 2007. Majalah Psikiatri Indonesia. Erwin Santosa. (2004). Sastroasmoro. XXXII (1): 75 – 89. M.org. Sp. T. Diakses pada tanggal 18 April 2007. dr. 7.. dari http://www.com. (2007). 3. [versi elektronik]. Jilid I. DAFTAR PUSTAKA 1. 3. Gallo. Kusbaryanto. Oswari. Gerontologi. Jakarta: EGC. Manajemen Stres. W. et al. Kes. [versi elektronik]. . 5. Amir. H. 10. J. Yogyakarta yang telah memberikan izin dan bantuan dalam penelitian. selaku pembimbing yang telah banyak memberikan masukan kepada penulis. Geriatri: Ilmu Kesehatan Usia Lanjut. Depression: A Serious But Treatable Illness. Krack. (2002). Jakarta: CV Sagung Seto. H. 9. N. Hawari. (1997).b. (2007). M. J.A. (2002). [versi elektronik]. et al. Agar dilakukan penelitian lebih lanjut tentang cara mengefektifkan peran keluarga dalam terapi depresi pada lansia.I. Kaplan. R. (1992). Depression in Senior Citizens Found to Diminish Ability to Plan and Control. Penyakit Manik-Depresif.Kes selaku ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.. (1998). com. B. HPA pada Pasien Depresi. Cemas. 4.aagpgpa. D. Jakarta: Binarupa Aksara. atas ijin Alloh swt setetes keringat pengorbanan kalian tidak akan pernah terlupakan. Reichel.senior journal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->