LAPORAN PENDAHULUAN PERILAKU KEKERAAN

LAPORAN PENDAHULUAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN PERILAKU KEKERASAN

1. Konsep Dasar Teori a. Pengertian Perilaku kekerasan adalah suatu keadaan dimana seseorang melakukan tindakan yang dapat membahayakan secara fisik, baik kepada diri sendiri maupun orang lain (Yosep, 2007; hal, 146). Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun psikologis (Depkes, RI, 2000 ; hal. 147 ) b. Rentang Respon Marah Adaptasi Maladaftif Asertif Prestasi Pasif Agresif Amuk/perilaku kekerasan Menurut ( Yosep, 2007 rentang respon marah yaitu : Asertif adalah : kemarahan atau rasa tidak setuju yang dinyatakan atau diungkapkan tanpa menyakiti orang lain akan memberi kelegaan pada individu dan tidak menimbulkan masalah. Frustasi adalah: respon yang terjadi akibat gagal mencapai tujuan karena tidak reakstis atau hambatan dalam proses percakapan tujuan. Pasif adalah : individu tidak mampu mengungkapkan perasaannya, klien tampak pemalu, pendiam sulit diajak bicara karena rendah diri dan merasa kurang mampu. Agresif adalah: perilaku yang menyertai marah dan merupakan dorongan untuk bertindak dalam bentuk destruktif dan masih terkontrol. Perilaku yang tampak dapat berupa : muka kusam , bicara kasar, menuntut, kasar disertai kekerasan. Ngamuk adalah: perasaan marah dan bermusuhan kuat disertai kehilangan kontrol diri , individu dapat merusak diri sendiri, orang lain dan lingkungan. c. Psikopatologi Adapun beberapa hal yang menyebabkan munculnya gangguan jiwa pada perilaku kekerasan yang dipengaruhi oleh faktor predesposi dan faktor presipitasi. (Yosep (2007)) 1) Faktor Predisposisi Ada beberapa teori yang berkaitan dengan timbulnya perilaku kekerasan yaitu : a) Faktor Psikologis PSICHOANALYTICAL THEORY : teori ini mendukung bahwa perilaku agresif merupakan akibat dari INSTRUCTUAL DRIVES. Freud berpendapat bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh dua insting, pertama insting hidup yang diekspresikan dengan seksualitas ; dan kedua : insting kematian yang diekspresikan dengan agresifitas. b) Faktor Sosial Budaya Ini mengemukakan bahwa agresif tidak berbeda dengan respon-respon yang lain. Agresif dapat dipelajari melalui observasi atau imitasi, dan semakin sering mendapatkan penguatan maka semakin besar kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan berespon terhadap keterbangkitan emosionalnya secara agresif sesuai dengan respon yang dipelajarinya. Kultur dapat pula mempengaruhi perilaku kekerasan, adanya norma dapat membantu mendefinisikan ekspresi agresif mana yang diterima atau tidak dapat diterima sehingga dapat membantu individu untuk mengekspresikan marah dengan cara yang asertif.

baik perawat maupun klien harus bersama-sama mengidentifikasikannya. kehilangan hubungan yang dianggap bermakna dan adanya kritikan dari orang lain. sedangkan contoh dari stressor internal : merasa gagal dalam bekerja. 2003). keputusasaan. Ancaman tersebut dapat berupa injury secara psikis. Pengkajian 1) Pengumpulan data Pengkajian merupakan langkah awal dari proses dan merupakan proses yang sistematis untuk . maka faktor yang mencetuskan terjadinya perilaku kekerasan terbagi dua yaitu : a) Klien : kelemahan fisik. Konsep dasar asuhan keperawatan prilaku kekerasan a. Oleh karena itu. tanda dan gejala yang mucul pada perilaku kekerasan atau agresifitas dilihat dari tingkah laku klien yaitu : a) Menyatakan perilaku kekerasan b) Mengatakan perasaan jengkel atau kesal c) Sering memaksakan kehendak d) Merampas atau memukul e) Tekanan darah meningkat f) Wajah merah. merasa kehilangan seseoranga yang dicintai. penelitian neurobiologis mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus elektris ringan pada hipotalamus (yang berada ditengah sistem limbik) 2) Faktor Presipitasi Secara umum seseorang akan berespon dengan marah apabila merasa dirinya terancam. Bila dilihat dari sudut pandang perawat-klien. b) Terapi kejang listrik Terapi kejang listrik atau elektronik convulsive therapy (ECT) adalah bentuk terapi kepada klien dengan menimbulkan kejang grand mall dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang ditempatkan pada pelipis klien. contoh stressor eksternal : serangan secara psikis. 3) Tanda dan gejala Menurut (Radjiman. 2. kehilangan orang atau objek yang berharga. 4) Penatalak sanaan medis a) Terapi Somatik Menurut (Depkes RI. ketika sesorang merasa terancam. Terapi ini ada awalnya untuk menangani skizofrenia membutuhkan 20-30 kali terapi biasanya dilaksanakan adalah tiap 2-3 hari sekali (seminggu 2 kali). 2000. atau lebih dikenal dengan adanya ancaman terhadap konsep diri seseorang. mungkin dia tidak menyadari sama sekali apa yang menjadi sumber kemarahannya. hal 230) menerangkan bahwa terapi Somatik adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladaptife menjadi perilaku adaktif dengan melakukan tindakan yang ditujukan pada kondisi fisik klien. b) Lingkungan : ribut. tetapi target terapi adalah perilaku klien . kurang percaya diri. Ancaman dapat berupa internal ataupun eksternal. ketidak berdayaan. dan ketakutan terhadap penyakit yang diderita. konflik interaksi social. Pupil melebar g) Mual h) Kewaspadaan meningkat disertai ketegangan otot.c) Faktor biologis Ada beberapa penelitian membuktikan bahwa dorongan agresif mempunyai dasar biologis.

Dari data tersebut didapatkan beberapa rumusan masalah : a) Resiko mencederai diri sendiri dan orang lain b) Resiko prilaku kekerasan terhadap diri sendiri dan orang lain c) Kerusakan interaksi sosial: menarik diri d) Gangguan hubungan sosial: harga diri rendah e) Ideal diri tidak tercapai. Rasional : Dengan memberi kesempatan mengungkapkan perasaannya dapat mengetahui masalah yang dialami oleh klien. jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat. beri rasa aman dan sikap empati. lakukan kontrak singkat tapi sering. Rasional : Dengan mengungkapkan penyebab perasaan jengkel maka akan meringankan beban pikiran. pupil melebar. Adapun data yang diperoleh pada klien dengan prilaku kekerasan adalah sebagai berikut : menyatakan melakukan prilaku kekerasan. Tekanan darah meningkat. mual. mengatakan perasaan jengkel / kesal. 2) Pohon masalah : Resiko prilaku kekerasan terhadap diri sendiri. pandangan mata tajam. sering menyendiri. c) Klien dapat mengidentifikasikan tanda dan gejala prilaku kekerasan. Wajah memerah. menganalisis data dan menentukan diagnosa keperawatan ( Keliat. Rasional : hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi perawat dan klien.mengumpulkan data. perkenalkan nama perawat. Perencanaan 1) Tupan : Klien tidak melakukan perilaku kekerasan 2) Tupen : a) Klien dapat membina hubungan saling percaya Intervensi : Bina hubungan saling percaya dengan klien. merampas atau memukul. orang lain dan lingkungan b) Perilaku kekerasan c) Harga diri rendah b. harga diri rendah merasa keinginan tercapai. 1998). jelaskan maksud pertemuan. . Intervensi : (1) Anjurkan klien mengungkapkan apa yang dialami dan di rasakan saat ini. orang lain perilaku kekerasan Harga diri rendah 3) Adapun diagnosa keperawatan diantaranya : a) Resiko prilaku kekerasan terhadap diri sendiri. dengan menggunakan komunikasi terapeutik yaitu beri salam atau panggil nama. kewasapadaan meningkat disertai ketegangan otot. sering memaksakan kehendak. (2) Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab perasaan jengkel atau kesal. Rasional : Agar dapat meringankan beban pikiran yang dialami oleh klien. b) Klien dapat mengidenifikasikan penyebab prilaku kekerasan Intervensi : (1) Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya. (2) Observasi tanda dan prilaku kekerasan pada klien.

(3) Simpulkan bersama klien tanda dan gejala jengkel atau kesal. Intervensi : (1) Diskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien. (3) Bicarakan dengan klien. Rasional : Dengan memberikan kesempatan untuk mengungkapkannya dapat meringankan beban yang dialami oleh klien. klien dapat mengingat agar lien mau menerapkan kegiatan ibadah yang dilakukan. (2) Beri pujian atas kegiatan fisik yang biasa dilakukan oleh klien. Rasonal: Agar dapat diketahui bahwa tindakan yang dilakukan telah merugikan dirinya sendiri (2) Bersama klien menyimpulkan akibat dari cara yang dilakukan klien. Intervensi : (1) Diskusikan cara bicara yang baik dengan klien dan beri contoh cara bicara yang baik dan mita klien mengikuti contoh cara bicara yang baik. f) Klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah prilaku kekerasan. Rasional : Agar dapat meningkatkan harga diri klien h) Klien dapat mendemonstrasikan cara spritual untuk mencegah prilaku kekerasan. Rasional : Dengan mediskusikan kegiatan ibadah. Rasional : Agar dapat diketahui bahwa tindakan yang dilakkan benar atau salah. Rasional : Dengan mendiskusikan kegiatan yang biasa dilakukan dapat memotivasi kegiatan yang baik dilakuakn. Rasional : Agar klien termotivasi untuk mempelajari cara yang dapatmencegah prilaku kekerasan. Intervensi : (1) Bicarakan akibat atau kerugian dari cara yang dilakukan klien. (3) Beri pujian atas keberhasilan klien. Rasional : Agar klien termotivasi untuk mempelajari cara yang dapatmencegah prilaku kekerasan. (2) Minta klien mengulang sendiri. Rasional : Dengan mendiskusikan kegiatan yang biasa dilakukan dapat memotivasi kegiatan yang baik dilakuakn.apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai. Rasional : Agar dapat diketahui tanda dan gejala jengkel yang dialami oleh klien. (3) Tanyakan kepada klien ”apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”. (2) Bantu klien bermain peran sesuai dengan prilaku kekerasan yang biasa dilakukan. . Rasional : Agar dapat diketahui bahwa tindakan yang dilakukan salah. pada lingkungan dan pada diri sendiri). d) Klien dapat mengidentifikasikan prilaku kekerasan yang biasa dilakukan. pada orang lain. g) Klien dapat mendemonstrasikan cara sosial untuk mencegah prilaku kekerasan. Rasional : Agar dapat meningkatkan harga diri klien. e) Klien dapat mengidentifikasikan akibat prilaku kekerasan.Rasional : Agar dapat dipantau tindakan yang dilakukan oleh klien. Intervensi : (1) Diskusikan dengan klien kegiatan ibadah yang pernah dilakukan. Rasional : Agar dapat dipertimbangkan perbuatan yang dilakukannya adalah sikap yang menyimpang atau salah. Intervensi : (1) Anjurkan klien untuk mengungkapkan prilaku kekerasan yang biasa dilakukan (verbal.

Rasional : Dengan mendiskusikan manfaat minum obat dapat merangsang keinginan klien untuk patuh minum obat. (2) Diskusikan dengan klien tentang manfaat minum obat. Intervensi : (1) Diskusikan dengan klien tentang jenis obat yang diminumnya (5 benar). (3) Beri pujian atas keberhasilan Klien. Pelaksanaan Menurut keliat (2005). Evaluasi dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu evaluasi proses atau formatif dan evaluasi hasil atau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan respon klien dengan tujuan yang telah ditentukan. k) Klien mendapatkan dukungan keluarga dalam melakukan cara pencegahan prilaku kekersan. Rasional : Agar dapat menumbuhkan peran serta keluarga. Hasil yang diharapkan pada asuhan keperawatan klien dengan prilaku kekerasan adalah : 1) Klien membina hubungan saling percaya. Rasional : Agar dapat mengevaluasi perasaan klien selama TAK. Intervensi : (1) Anjurkan klien untuk ikut TAK. (2) Diskusikan dengan klien tentang kegiaatan selama TAK. Rasional : Dapat meningkatkan harga diri klien. Evaluasi Evaluasi menurut Keliat (2005) adalah proses yang berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan yang dilaksanakan. i) Klien dapat mendemonstrasikan kepatuhan minum obat untuk mencegah prilaku kekerasan. 4) Klien dapat mengidentifikasi prilaku kekerasan yang biasa dilakukan. Rasional : Agar klien mau mematuhi peraturan minum obat. Hubungan saling percaya antara perawat dengan klien merupakan dasar utama dalam pelaksanaan tindakan keperawatan. 2) Jelaskan keuntungan peran serta keluarga dalam merawat klien. perawat perlu memvalidasi apakah rencana tindakan keperawatan masih di butuhkan dan sesuai dengan kondisi klien pada saat ini (here and now). j) Klien dapat mengikuti TAK : stimulasi persepsi pencegahan prilaku kekerasan. Intervensi : 1) Identifikasi kemampuan keluarga dalam merawat klien sesuai dengan yang telah dilakukan ke keluarga dalam merawat klien. 3) Klien dapat mengidentifikasikan tanda dan gejala prilaku kekerasan. Rasional : Agar dapat diketehui seberapa jauh tentang perawatan keluarga terhadap klien. c. 2) Klien dapat mengidentifikasi penyebab prilaku kekerasan. Rasional : Dengan menganjurkan klien TAK dapat membantu klien berinteraksi dengan temantemannya. d. .(2) Minta klien mendemonstrasikan kegiatan ibadah yang akan dilakukan. Rasional : Dengan memberikan kesempatan untuk mendemontrasikannya dapat diingat kegiatan ibadahyang dilaksanakan. Sebelum melaksanakan tindakan keperawatan yang sudah di rencanakan. implementasi keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan dengan memperhatikan dan mengutamakan masalah utama yang aktual dan mengancam integritas klien beserta lingkungannya.

C. Diagnosa Keperawatan: Aplikasi pada Praktek Klinik. Edisi 2 Jakarta: EGC Maramis. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC . (1999). (2005).K. DAFTAR PUSTAKA Carpenito. (2000). 10) Klien dapat mengikuti TAK : stimulasi persepsi pencegahan prilaku kekerasan. (2003). (2005).J. W. Edisi 3. Malang: Dep Kes RI. Keliat. M. 6) Klien dapan mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah prilaku kekerasan. B. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. (2005). Buku Saku Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri. L. Pedoman Penulisan Laporan dan Strategi Pelaksanaan. Jakarta: EGC Townsend. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. 11) Klien mendapatkan dukungan keluarga dalam melakukan cara pencegahan prilaku kekerasan.5) Klien dapat mengidentifikasi akibat prilaku kekerasan. 7) Klien dapat mendemonstrasikan cara sosial untuk mencegah prilaku kekerasan 8) Klien dapat mendemonstrasikan cara spiritual untuk mencegah prilaku kekerasan. Suliswati. W. Rajiman.A. Surabaya: Airlangga University Press. 9) Klien dapat mendemonstrasikan kepatuhan minum obat untuk mencegah prilaku kekerasan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful