115

KHUSUS
1. HIPEREMESIS GRAVIDARUM dr. H.B. Hafied, dr. H.M.M. Palisuri, SpOG BATASAN : Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan, sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidarasi, terdapat aseton dalam urin, bukan karena penyakit seperti apendisitis, pielitits dsb.(1) ETIOLOGI : Tidak jelas(2) KLASIFIKASI : (2,3,4) Secara klinis dibedakan atas 3 tingkat 1. Tingkat I : muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir dan sedikit empedu kemudian hanya lendir, cairan empedu dan terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 x/menit dan tekanan darah sistole menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang, urine masih normal. 2. Tingkat II : Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan , haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih 100 - 140 x/menit, tekanan darah sistole lebih rendah 80 mm Hg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus (+), aseton (+), bilirubin (+), berar badan turun cepat. 3. Tingkat III : Gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, ikterus (+), sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin (+), proteinuria.

116 DIAGNOSIS : (2,3) 1. Amenorea yang disertai muntah hebat (segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan), pekerjaan sehari-hari terganggu, haus hebat. 2. Fungsi vital : nadi meningkat 100 x/menit, tekanan darah turun pada keadaan berat subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma), 3. Fisis : dehidrasi, keadaan berat, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan turun. VT porsio lunak, uterus besar sesuai besarnya kehamilan. 4. Laboratorium : kenaikan relatif Hb dan Hm, shift to the left, benda keton (+) dan proteinuria. PENATALAKSANAAN : (2,3) 1. Rawat di Rumah Sakit, batasi pengunjung. 2. Stop per oral 24 - 48 jam 3. Infus glukosa 10 % atau 5 % : RL = 2 : 1, 40 tetes per /menit 4. • • • • • Vitamin B1, B2, B6 masing-masing 50 - 100 mg per/hari/infus Vitamin B12 200 mcg/hari/infus, vit. C 200mg/hari/infus. Phenobarbital 30 mg im 2 - 3 x/hari ATAU Chlorpromasime 25 - 50 mg/hari im ATAU Diazepam 5 mg 2 - 3 x/hari im. Antiemetik : Prometazine (Avopreg) 2-3 x 25 mg/hari p.o, ATAU Prochlorperazine (Stimetil) 3x3 mg/hari p.o, ATAU Mediamer B6 3x1/hari p.o. Antasida : Acidrine 3x1 tab/hari p.o ATAU Mylanta 3x1 tab/hari p.o ATAU Magnam 3x1 tab/hari p.o 5. Diet : a. Diet Hiperemsis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat-zat gizi, kecuali vitamin c, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. b. Diet Hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang, Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.

117 c. Diet Hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium.

2. ABORTUS dr. Rudianto HP, dr. Retno B. Farid, SpOG BATASAN: Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. (1,2,3,4) Abortus komplit adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang 20 minggu. Abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri. Abortus insipiens adalah abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri. Abortus membakat adalah abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. “Missed abortion” adalah abortus dimana embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih Abortus habitualis adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.1 Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia . Abortus septik adalah abortus infeksiosa berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum.(2) KLASIFIKASI : I. Menurut terjadinya dibedakan atas : (1,5,6) 1. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja.

dibedakan atas : (1. leukosit. Toksoplasmosis. b. Kelainan telur (ovum yang patologik ) 2. tetapi dapat pula bersifat medisinalis kriminalis tergantung dari pelaku abortusnya yang dibedakan antara : a. waktu bekuan. hemoglobin. Menurut gambaran klinis. Abortus insipiens 3. Abortus provokatus (induksi abortus) hanya dibolehkan bila bertujuan menjaga kesehatan fisik.3. Pemeriksaan USG 2. hormonal.4. mungkin disertai jaringan hasil konsepsi 3. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi 3.6) 1. Abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. Rasa sakit atau keram perut pada daerah atas simfisis. . trombosit.118 2. Pemeriksaan laboratorium : tes kehamilan. Kelainan pada plasenta 4. waktu perdarahan. DIAGNOSIS : (1. ETIOLOGI : (2.(7) Abortus yang disengaja ini dapat bersifat murni medisinalis. Abortus komplit 5. Missed abortion Disamping itu dikenal pula abortus habitualis.4. Kelainan traktus genitalis 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1) 1.2. dan kadar fibrinogen pada “missed abortion ”. abortus infeksiosa dan abortus septik. Perdarahan pervaginam. Abortus inkomplit 4.2) 1. Penyakit ibu.5. Adanya amenore pada masa reproduksi dengan hasil tes kehamilan positif/pernah positif 2. mental serta kehidupan ibu hamil. GDS. II. Abortus membakat 2.6) 1. pemeriksaan lain yang diperlukan untuk melacak abortus habiatualis seperti HSG. Abortus provokatus medisinalis ( terapeutik ) yaitu abortus yang dilakukan atas indikasi medis.

Trombosit. ketuban menonjol • Hasil konsepsi masih utuh dalam uterus • Kehamilan ≥ 12 minggu bila diterapi sesuai abortus komplit.BT. Abortus membakat • • • • • • Gejala klinis Amenore Tanda -tanda hamil muda Perdarahan pervaginam sedikit Nyeri/mules Ostium uteri internum tertutup USG : kantung gestasi utuh Penatalaksanaan • Tirah baring minimal 2X24 jam • Fenobarbital 3X30 mg/hari kalau perlu 2. Abortus insipiens • Perdarahan pervaginam • Nyeri/mules lebih sering/kuat • Ostium uteri terbuka. ”Missed abortion” • Perdarahan • Keluhan kehamilan hilang • Tinggi fundus uteri menetap. Abortus inkomplit • • • • Perdarahan pervaginam banyak Nyeri. kadang disertai syok Ostium uteri terbuka USG : kantung gestasi tidak utuh .119 PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan abortus tergantung dari jenis abortusnya : Diagnosis 1. transfusi darah • Dilatasi serviks • Bila kehamilan ≤ 12 minggu lakukan kuret • Bila kehamilan > 12 minggu diberikan tetesan Oksitosin 20 -30u dalam 500cc Dextrose 5% mulai 20 tetes/menit bila tidak timbul . bila inkomplit diterapi sesuai ab. • Kehamilan < 12 minggu bila komplit diterapi sesuai abortus komplit. Fibrinogen.bila inkomplit di terapi sesuai ab.sisa hasil konsepsi 4.Hb dan leukosit normal.inkomplit.7 hari/oral • Metyhl ergometrin 3X1/oral /hari 5 hari • Hematinik • Methyl ergometrin 3X1/hari • Hematinik 3. Inkomplit • Perbaiki keadaan umum • Kosongkan uterus dengan kuret • Amoxycillin 3X500mg/oral / hari 5 .) • Kadang disertai fluor warna coklat • USG : janin mati • Periksa CT. Abortus komplit • • • • Perdarahan pervaginam sedikit Hasil konsepsi sudah keluar Uterus kecil Ostium uteri tertutup 5. bahkan mengecil • Tes kehamilan ( .

Abortus infeksiosa • Diabetes melitus ( lihat penatalaksanaan DM dalam kehamilan) • Adanya tanda-tanda infeksi • Procaine PenicillineG 1 juta genitalia seperti panas. dosis tertinggi 140 u • Bila dengan dosis tersebut tidak berhasil.48 jam. (7) 6.(2) • Toksoplasmosis diterapi dgn Spiramisin 50 .diulangi lagi setelah istirahat 24 .5 gr/oral/hari ( 5 hari ) • Bila perdarahan terus. transfusi darah dilanjutkan kuret • Bila ada tanda-tanda resistensi PP. Abortus habitualis • Abortus yang terjadi 3 kali berturut-turut atau lebih • Pada inkompetensi serviks dapat dilakukan operasi menurut Shirodkar atau Mac Donald.120 kontraksi uterus.tiroid bila kekurangan hormon ini. uterus • Bila tidak syok. Abortus septik .kuret 6 jam setelah pemberian obat • Dilakukan histerektomi total bila 8.5gr/infus dilanjutkan 1 gr/oral. peritonitis. perdarahan • Streptomycin 0. unit /6 jam im takikardia. tensi lebih rendah bahkan sampai syok • Periksa biakan darah dan tes kepekaan • Procaine PenicillineG 10 juta unit/6 jam im • Streptomycin 0.5 gr/12jam IM • Metronidazol 0. segera kuret • Bila tidak berdarah. dosis dinaikkan 10 u tiap 30 menit tanpa mengubah kecepatan tetesan sampai timbul kontraksi uterus dan ini dipertahankan.dilakukan biakan darah dan tes kepekaan • Gejala seperti abortus infeksiosa hanya lebih berat. demam lebih tinggi.100 mg/kgBB/hari. kemudian 3 X 0.(2) • Terapi dengan hormon progesteron.kuret 24 jam besar lunak. nadi lebih cepat. (8) 7. nyeri tekan dan kemudian leukositosis • Bila syok/perdarahan (N>120X/menit).5 gr/12jam IM pervaginam yang berbau.infus RL.

Welchii. SpOG BATASAN : Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana ovum yang telah dibuahi tidak berinplantasi ditempat yang biasa.121 gagal kuret. kuretase secara sistimatis dan “lege artis” 4.6) 1. IMS. dr. Syok LAMA PERAWATAN : Setelah kuretase pasien tidak perlu dirawat. sondase uterus. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0.5 cc IM (10) Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang kerumah. Murah Manoe. Helida Abbas. Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. Anemia:Biasanya anemia post hemoragi. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi. KEHAMILAN EKTOPIK dr. tetapi berinplantasi diluar endometrium kavum uteri (1) . Bila Kehamilan Ektopik tersebut berakhir dengan abortus atau ruptur disebut Kehamilan Ektopik Terganggu (2) ETIOLOGI : (3) .2.tanda perforasi uterus. Perforasi : Untuk mencegahnya: pemberian uterotonik. Infeksi :Kasus abortus yang datang dalam keadaan infeksi harus mendapat perlindungan antibiotik dulu sebelum dikuret 3. kecuali bila ada komplikasi. Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menanda tangani surat persetujuan tindakan.(1) PENYULIT : (1.diatasi dengan transfusi darah bila Hb < 8 gr% 2. kerusakan alat abdomen. infeksi oleh Cl. (1) 3. ada tanda. (9) Abortus septik dengan syok lihat penatalaksanaan septik syok.

2) • • • • • DIAGNOSIS : Kehamilan tuba (95% .122 Kerusakan tuba dapat disebabkan : • • • LOKASI : (1. hipotensi.98% dari seluruh Kehamilan ektopik). Tes kehamilan positif (+) membantu diagnosis. takikardi. nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen. • • • • Didapatkan rahim yang juga membesar. 2. Berat ringannya nyeri tergantung pada jumlah darah yang terkumpul dalam peritonium. adanya tumor didaerah adneksa Adanya tanda-tanda syok hipovolemik yaitu. Ditemukan nyeri ketok. 2. mungkin ringan atau berat bahkan mungkin ditemukan nyeri bahu menunjukkan bahwa perdarahan peritonium telah mengiritasi diafragma (1. Kehamilan ovarium Kehamilan intraligamenter Kehamilan abdominal Kehamilan ektopik pada uterus Inflamasi Infeksi Pembedahan 1. pucat dan ekstremitas dingin. Nyeri bisa dirasakan bilateral atau unilateral atau hanya perut bagian bawah. Trias klasik Kehamilan ektopik yaitu : • • • Terlambat haid (amenore) Nyeri perut suprapubik Perdarahan pervaginam berupa bercak.4). Pemeriksaan fisis . Pemeriksaan ginekologis . Anamnesis dan gejala klinis. Adanya tanda-tanda abdomen akut yaitu perut tegang bagian bawah.

leukosit dan ß HCG USG : . dilakukan observasi dan USG. . bukan hamil ektopik  konservatif. Pemeriksaan dalam : − Serviks teraba lunak − Nyeri goyang serviks (+) − Kanan/kiri uterus : Nyeri pada perabaan dan dapat teraba massa tumor − Kavum douglasi bisa menonjol.3) • • • Perbaiki keadaan umum Kehamilan ektopik dengan gejala klinis jelas + pemeriksaan penunjang (+) siapkan laparotomi Curiga Keamilan ektopik. nyeri tekan (+). 3. .Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri .4) Radang panggul Kista ovarium pecah dan mengalami perdarahan Torsi kista ovarium Abortus iminens Endometriosis Apendisitis Konsultasi  bila perlu ke bagian bedah.Adanya kantung kehamilan diluar kavum uteri.Adanya massa komplek dirongga panggul • • • • • • • • Kuldosentesis  untuk mengetahui adanya daerah dalam kavum douglas. PENATA LAKSANAAN : (1. Laparoskopi diagnosis.2. bila (+)  laparoskopi . Pemeriksaan penunjang • • Labotratorium : Hb.2.123 Pemeriksaan dengan spekulum : ada fluksus sedikit. • Hasil laparoskopi. DIAGNOSIS BANDING : ( 1.

tampon atau ligasi arteri hipogastrika. • • • • Kehamilan tuba. Kehamilan serviks.124 • • Bila laparoskopi Kehamilan ektopik  laparotomi/tindakan sesuai tempat kejadian Laparotomi bila . lakukan kuret. lakukan salpingektomi Kehamilan ovarium. . keluarkan anak saja dan plasenta di tinggalkan. lakukan ovarial kistektomi Kehamilan abdominal. bila anak cukup histerektomi total.

Leuko.125 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN EKTOPIK CURIGA KEHAMILAN EKTOPIK Gejala Klinis Amenore Nyeri abdomen suprapubik Perdarahan bercak Lab. Hm.gol darah Tes kehamilan USG Laparoskopi Tidak jelas Gejala klinis Observasi GK & USG Laparotomi tindakan Sesuai tempat kejadian Kehamilan Kehamilanektopik ektopik Laparoskopi Bukan hamil ektopik TUBA OVARIUM ABDOMINAL/ Hamil lanjut Hamil muda Konservatif SERVIKS Interstisial kornu Tuba kontra lateral Lekat dengan tuba Tidak lekat dengan tuba Tidak baik Baik Tuba kontra lateral Keluarkan anak saja tinggalkan plasenta Reseksi baji ooforektomi Anak cukup tidak mau anak mau anak Anak cukup tidak mau anak Anak tidak ada Salpingektomi dg ovarial kistektomi Histerekto mi Reseksi kornu histerektomi Masih mau anak Anak tidak ada mau anak tidak mau anak Tubektom i Kuret+tampon ligasi A hipogastrika Slpingektomi Bilateral Slpingektomi Unilateral Tuba dibiarkan Salpingostomi Slpingektomi parsial Salpingostomi Slpingektomi Unilateral . Hb.

Pertama teori missed abortion : Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion). GEJALA KLINIK : (1.126 4.2. Kedua teori neoplasma dari Park yang mengatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas.2). Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematia mudigah3. dimana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan ke dalam vili sehingga timbul gelembung.2. • • • • • • Hiperemesis gravidarum Tanda-tanda preeklampsia pada trimester I Tanda-tanda tirotoksikosis Kista lutein unilateral/bilateral Umumnya uterus lebih besar dari usia kehamilan Tidak dirasakan tanda-tanda adanya gerakan anak.3) • Adanya tanda-tanda kehamilan disertai dengan perdarahan.Arifuddin Djuanna. balotemen negatif kecuali pada mola parsial PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1. yang mempunyai fungsi abnormal pula. Karena perdarahan ini maka umumnya penderita mola hidatidosa masuk rumah sakit dalam keadaan anemia. Perdarahan ini bisa intermitten. MOLAHIDATIDOSA dr.3) .A. dr. karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari vili dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.H. PATOFISIOLOGI : Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblas. SpOG BATASAN : Molahidatidosa adalah penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kistik villi dan perubahan hidropik(1.Efendi Lukas. sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian.

5) • • • • • Dilakukan setelah pemeriksaan persiapan selesai (pemeriksaan darah rutin.2.6) . kadar βhCG serta foto toraks) kecuali bila jaringan mola sudah keluar spontan Bila kanalis servikalis belum terbuka.5) • • • • Koreksi dehidrasi Transfusi darah bila ada anemia (Hb ≤ 8 gr%) Bila ada gejala preeklampsia dan hiperemesis gravidarum diobati sesuai dengan protokol penanganan di Bagian OBSGIN FK.UNHAS Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis dikonsulkan ke Bagian Penyakit Dalam 2. Sonde masuk tanpa tahanan dan dapat diputar 360 ° dengan deviasi sonde kurang dari 10° • T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis PENANGANAN : Terapi mola hidatidosa terdiri dari 3 tahap yaitu : 1. Perbaikan keadaan umum(4.127 • • • • Foto toraks Pemeriksaan hCG urin atau serum Ultrasonografi Uji sonde menurut Hanifa.u siapkan darah 500 cc dan pasang infus dengan tetesan Oxytocin’S 10 IU dalam 500 cc Dextrose 5% Kuretase dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval minimal 1 minggu Seluruh jaringan hasil kerokan dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi B. Pengeluaran jaringan mola Dengan cara : A. Histerektomi (1. maka dilakukan pemasangan laminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian Sebelum kuretase terlebih dahu. Kuretase (3.

dan foto toraks setelah satu tahun semuanya normal) maka penderita tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi dan hamil lagi • Bila selama masa observasi kadar β-hCG tetap atau bahkan meningkat dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi atau pada pemeriksaan klinis. foto toraks ditemukan adanya metastasis maka penderita harus KOMPLIKASI : (1.3) • • Lama pengawasan berkisar satu sampai dua tahun Selama pengawasan penderita dianjurkan memakai kontrasepsi kondom. pemeriksaan fisk. Umur ≥ 35 tahun Anak hidup ≥ 3 orang Pemeriksaan tindak lanjut(1.128 • • 3. pil kombinasi atau diafragma dan pemeriksaan fisik dilakukan setiap kali pada saat penderita datang kontrol • • • Pemeriksaan kadar β-hCG dilakukan setiap minggu sampai ditemukan kadar β-hCG normal 3 kali berturut-turut Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan setiap bulan sampai kadar β-hCG normal selama 6 kali berturut-turut Bila telah terjadi remisi spontan (kadar β-hCG.2) • • • • • • Perdarahan hebat Anemia Syok Infeksi Perforasi uterus Keganasan (PTG) LAMA PERAWATAN : Bila tidak ada komplikasi yang berat maka lama perawatan kurang lebih 7 hari .

kadar β-hcg .129 SKEMA PENATALAKSANAAN MOLA HIDATIDOSA MOLA HIDATIDOSA PERBAIKI KEADAAN UMUM PENGELUARAN JARINGAN MOLA PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT HISTEREKTOMI BILA : UMUR ≥ 35 THN ANAK HIDUP ≥ 3 * KURET I & II PAKAI KB PIL.darah rutin * kecuali bila terjadi perdarahan maka pemeriksaan foto toraks dan kadar β-hcg dilakukan setelah kuret .foto toraks . KONDOM TUBEKTOMI PERIKSA KADAR β-hCG TIAP MINGGU REMISI SPONTAN BILA : KADAR β-hCG NORMAL 3 x BERTURUT-TURUT KADAR β-hCG MENETAP/MENINGGI EVALUASI METASTASIS & TERAPI SEBAGAI PTG Keterangan : * sebelum kuret periksa .

Menurunnya oksigenasi ibu 3. IMS. Menurunnya aliran darah umbilikus KLASIFIKASI(1) Akut : Klinis : ETIOLOGI (2) Akut : Ibu : • • • • • • • • • Hipotensi (misalnya “Supine hypotensive syndrome”) Hipoksia atau hiperkarbia (misalnya “maternal aspiration syndrome”) Gangguan pernafasan (shock-lung. septic”) “Sickle cell crisis” Berupa episode hipoksemia sementara yang tidak disertai asidosis Uterus : Hipertonik atau “polysystole” Pemberian oksitosin yang berlebih Ruptur uteri Plasenta . Setia Budi. dr. SpOG BATASAN : Asfiksia intrauterina adalah keadaan kekurangan oksigen dan adanya penimbunan karbon-dioksida yang menyebabkan asidosis intrauterina akibat gangguan pertukaran gas melalui plasenta dan jika beban tersebut lama. berat dan nyata sehingga terjadi kegagalan mekanisme kompensasi. ASFIKSIA INTRAUTERIN dr.2) Asfiksia atau hipoksia biasanya ditimbulkan oleh 3 mekanisme : (2) 1. cardiac. Menurunnya aliran darah uteroplasenter 2.(1. maka gejala asfiksia tampak jelas. bronchospasm”) Hipertensi pada kehamilan Syok (”hemorrhagic. Ny.130 5.. Murah M.

tachyarrhythmia.131 • • • • • • • Fetus : • • • • Payah jantung (“hydrops fetalis. myocarditis”) Kelainan kongenital Perdarahan “Iso immunozation” Solusio plasenta plasenta previa “Premature placental aging” Tali pusat : Prolaps Ruptur vasa previa Terjepit atau tali pusat pendek Tali pusat tersimpul Kronis : Ibu : • Spasme pembuluh darah : • • • • Hipertensi kronis Hipertensi pada kehamilan DM Sirkulasi sistemik yang tidak adekuat : • • Penyakit jantung yang berat Anemia berat • Oksigenasi yang tidak cukup didalam darah : • • • Penyakit jantung sianotik “longeterm pulmonary shunting” Tinggal didaerah tinggi Plasenta : • “Prematur placental aging” • DM .

5) • • • • • • FHM (Fetal Heart Monitoring) memperlihatkan adanya kelainan Profil biofisik janin (gerak janin.3.6) Oligohidramnion Pertumbuhan janin terhambat Pewarnaan mekoneum pada cairan ketuban PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1.5) • • • • Kardiotokografi (KTG). NST.3. OCT USG Fetal blood sampling (pengambilan contoh darah janin) Amnioskopi PENANGANAN : (1) • • Resusitasi intra uterin (lihat Bab resusitasi intra uterin) Terminasi kehamilan tergantung keadaan asfiksia dan keadaan janin .4.132 Fetus : • • • • • • “Postmaturity syndrome” Kehamilan multiple “Twin-to-twin transfusion” Kelainan kongenital “Erythroblastosis fetalis” “Maternal-fetal transfusion” KRITERIA DIAGNOSIS : Akut : (1.4.2. tonus janin) berkurang atau menghilang Perubahan PH janin Kronis : (1.4.2.

133 .

Tipe I (simetrik) : Terjadi pada saat dini dari suatu kehamilan dimana terjadi pengecilan semua ukuran baik berat maupun panjang janin. Tipe II (asimetrik) : Biasanya terjadi pada trimester III dari suatu kehamilan juga dapat terjadi pada periode postterm dari suatu kehamilan. Tipe kombinasi. Suzanna SP. Aphrodite pandin.(2) 2.. sehingga beberapa parameter janin berada dibawah 10 persentil dari umur kehamilan yang seharusnya. (2) 3.134 6. yang disebabkan oleh kombinasi faktor ibu dan faktor janin. PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT dr. SpOG BATASAN : Pertumbuhan janin terrhambat keadaan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. Meskipun demikian selama trimester II hiperplasia selluler dan hipertrofi selluler dapat terjadi dan gambaran yang tidak simetrik. dr.Terjadi pada saat hiperplasia selluler. karena itu akan mempengaruhi jumlah sel pada seluruh tubuh janin. (1) PATOFISIOLOGI : Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian pertumbuhan janin terhambat (PJT) dapat dibedakan atas : (1) • Faktor ibu : • • • • • • • • Faktor plasenta : • Faktor janin : • • • • Penyakit hipertensi Malnutrisi Anemi berat Penyakit paru kronis Penyakir jantung sianotik Perokok Insufisiensi plasenta Cacat bawaan Trisomi Kehamilan kembar Infeksi intrauterin : ~ AIDS ~ TORCH Ada 3 tipe pertumbuhan janin terhambat : 1.(1) ..

3) • • • • • • • Hipertensi Anemia kronis Penyakit jantung sianotik Pemakaian obat-obatan Merokok Infeksi Riwayat PJT sebelumnya 2.3.135 DIAGNOSIS : 1. Anamnesis : Ada riwayat / faktor risiko : (1. Kecurigaan PJT ditegakkan apabila TFU menetap pada 2 kali pemeriksaan dengan selang waktu 1-2 minggu atau menurun dibawah garis 10 persentil. USG berkala untuk menentukan : (1.3) • • • • • • • • • • • BPD Panjang femur Lingkaran kepala Lingkaran perut Volume air ketuban Cacat bawaan Taksiran berat badan janin Kondisi biofisik janin Kematangan plasenta 4. (1. (3) 3. Pemeriksaan klinik : pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) dan linkaran perut (LP).3) Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi . (1) Penambahan berat badan ibu kurang dari 7 kg pada saat aterm atau berat badan ibu kurang dari 45 kg. Pemeriksaan Kardiotokografi : (1.4) Kecurigaan PJT ditegakkan apabila tidak ditemukan penambahan berat badan ibu pada 2 kali pemeriksaan dengan selang 1 atau 2 minggu.

136 Secara berkala tiap 7 hari. (1. Bila pertumbuhan janin tidak ada. Penyakit paru kronik. bila perlu dilakukan setiap hari pada pasien DM. maturitas paru cukup (biasanya pada kehamilan 35 minggu). AIDS : kerja sama dengan Bagian Penyakit Dalam Anemi : Koreksi anemi dengan pemberian tablet besi Terminasi kehamilan : sesuai penatalaksanaan terminasi kehamilan / induksi persalinan. Malnutrisi : konsultasi/kerjasama bagian gizi.3) • • • • • • • Istirahat baring (tidur miring) Minum lebih dari 2000 ml/hari Makan lebih dari 2100 kal/hari Secara khusus : Hipertensi (preeklampsia) : sesuai penatalaksanaan preeklampsia. penyakit ginjal. lakukan terminasi. terminasi dilakukan pada kehamilan 37 minggu.3) . Secara umum setiap kasus PJT dikelola sebagai berikut : (1. penyakit jantung sianotik. TERAPI : Terapi kausal terhadap penyebab atau penyakit yang mendasarinya. Bila pertumbuhan janin berdasar USG masih berlangsung.

berikan dulu Betametason 12mg/hari selama 2 hari .137 SKEMA PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT Faktor Faktorrisiko risikoPJT PJT Konfirmasi penyakit Konfirmasi penyakityang yangendasari endasari Pemeriksaan PemeriksaanTinggi Tinggifundus fundusuteri uteri dan danberat beratbadan badanibu ibu Ulangi 2 minggu Kecurigaan KecurigaanPJT PJT USG Serial (normal) PJT Tidak simetris Tidak cacat Umur kehamilan simetris Cacat ringan Cacat berat ≥ 37 minggu 37 minggu Pertimbangkan terminasi kehamilan Terminasi kehamilan Evaluasi kesejahteraan janin USG + Doppler Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi Evaluasi kembali tiap minggu spi aterm Gawat janin Tidak gawat janin Akhiri kehamilan (Bila memungkinkan.

dan sekitar 6-7 minggu dengan USG transabdominal dan tidak tampak gerakan janin pada kehamilan 10 minggu (3) .138 7. H.2) PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. • Palpasi : diatas kehamilan 20 minggu • • Auskultasi : Riwayat amenore. gerakan janin tidak ada Tidak terdengar bunyi jantung janin Pemeriksaan dalam vagina : Ditemukan uterus lebih kecil atau sesuai umur kehamilan. “Deformed or collapsed head”. serviks kaku. DIAGNOSIS BANDING : • • Mioma uteri (1. KEMATIAN JANIN DALAM RAHIM dr. usia kehamilan telah mencapai 20 minggu atau lebih (1). Dapat ditemukan gambaran “Double line of the fetal head”. tidak dirasakan gerakan anak. Moeljono. Rahmat Landahur.E. DIAGNOSIS : Diagnosis didasarkan atas ditemukannya gejala dan tanda-tanda dibawah ini (2) : • Anamnesis : berwarna coklat. kadang ditemukan fluksus pervaginam yang Biasanya tinggi fundus uteri lebih kecil atau sesuai umur kehamilan. dr.R.2) Molahidatidosa (1. belum ada pembukaan serviks. “Overlapping the skull bones” (4) . USG: Tidak ditemukan pulsasi ajntung embrio mulai kehamilan 6 minggu dengan USG transvaginal. SpOG BATASAN : Kematian janin dalam rahim adalah kematian janin dalam uterus yang beratnya 500 gr atau lebih.

Foto polos abdomen bila diperlukan. PERDARAHAN ANTEPARTUM .2) 1. dianjurkan pada kehamilan 16 minggu. Perforasi INFORMED CONSENT : (1) Sebelum tindakan dan dengan persetujuan tertulis 8.3). Penyulit Infeksi berat PENYULIT : (1. spalding sign (overlapping dari tulang-tulang kepala).2) 1. Bila segera tindaki 2. Bila ada gangguan pembekuan darah 3. Konservatif/pasif : • • • • • Rawat jalan Menunggu persalinan spontan 2-3 minggu Pemeriksaan kadar hematokrit. posisi janin abnormal (1. trombosit fibrinogen tiap minggu b.2) a. Aktif : Dilatasi dengan batang laminaria. tulang belakang melengkung. Penyakit gangguan pembekuan darah 2. c. LAB (2) : • • • • Waktu perdarahan Waktu pembekuan Hitung thrombosit Fibrinogen PENANGANAN : (1. Tanda yang ditemukan. Robert Sign (ditemukan gas dalam tubuh fetus).139 b. prostaglandin tablet vagina PERAWATAN RUMAH SAKIT : (1. balon kateter Induksi : oksitosin. Halo Sign (bayangan radiolusen yang melebar antara kulit kepala dan tulang kepala fetus).2.

140
dr. Neni Moerniaeni, dr. John Rambulangi, SpOG

BATASAN : Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu (1). Klasifikasi perdarahan antepartum yaitu : (2) 1. Plasenta pervia 2. Solusio plasenta 3. yang tidak jelas sumbernya (idiopatik) Pada penatalaksaan ini dibahas mengenai plasenta previa, solusio plasenta dan vasa previa. Tabel : Perbedaan klinis antara plasenta previa dan solusio plasenta (2)
KLINIS PLASENTA PREVIA tidak Ya merah segar sesuai darah yang keluar perlahan-lahan sewaktu hamil biasanya tidak ada Biasa Ada jaringan plasenta tidak masuk PAP mungkin abnormal Ya tidak merah coklat tidak sesuai Tiba-tiba sewaktu hamil dan inpartu Ada Tegang biasa tidak ada ketuban tegang dapat terjadi tidak ada hubungan SOLUSIO PLASENTA

1. Perdarahan dengan nyeri 2. Perdarahan berulang 3. Warna merah 4. Anemia / renjatan 5. Timbulnya 6. Terjadinya 7. His 8. Palpasi 9. denyut jantung janin 10. 11. 12.
Periksa dalam vagina Penurunan Presentasi

141 PLASENTA PREVIA BATASAN : Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal, yakni pada segmen bawah rahim (SBR), sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ositium uteri internum).
(2)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu yakni : (2) 1. Plasenta previa totalis 2. Plasenta previa lateralis : bila seluruh pembukaan tertutup oleh plasenta : bila hanya sebagian dari pembukaan tertutup oleh plasenta.

3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan. 4. Plasenta letak rendah : bila plasenta berada 3 - 4 cm di atas pinggir pembukaan. ETIOLOGI : Tidak jelas. (2)

DIAGNOSIS : (2) 1. Anamnesis, adanya perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 20 minggu, berlangsung tanpa sebab. 2. Pemeriksaan luar sering didapati kelainan letak, bila letak kepala maka kepala belum masuk PAP. 3. Inspekulo, adanya darah dari otsium uteri eksternum. 4. USG untuk menentukan letak plasenta. 5. Penentuan letak plasenta secara langsung dengan meraba langsung melalui kanalis servikalis, tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak, karena itu cara ini hanya dilakukan diatas meja operasi. PENATALAKSANAAN : (2) 1. Konservatif bila : a. Kehamilan < 37 minggu b. Perdarahan tidak ada / tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).

142 c. Tempat tinggal penderita dekat dengan rumah sakit (dapat ditempuh dalam waktu 15 menit). Pada perawatan konservatif dilakukan : • Istirahat, atasi anemia beri hematinik, spasmolitik, antibiotik bila ada indikasi., periksa USG, periksa Hb dan hematokrit. Bila selama 3 hari tidak berdarah dilakukan mobilisasi bertahap dan bila tidak berdarah penderita dipulangkan. Bila timbul perdarahan segera ke rumah sakit dan tidak boleh bersanggama. 2. Penanganan aktif bila : a. Perdarahan banyak, tanpa memandang usia kehamilan. b. Umur kehamilan ≥ 37 minggu c. Anak mati Penanganan aktif dapat berupa persalinan pervaginam atau perabdominal. Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double 33set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : a. Plasenta previa marginalis b. Plasenta letak rendah. c. Plasenta previa lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk PAP dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit, maka dilakukan amniotomi diikuti dengan drip Oxitocin’s untuk partus pervaginam bila gagal drips (sesuai dengan bab terminasi kehamilan), bila perdarahan banyak dilakukan seksio sesar. Sedang indikasi melakukan seksio sesar bila : • • • • • • Plasenta previa totalis Perdarahan banyak tanpa henti Presentasi abnormal Panggul sempit Keadaan serviks tidak menguntungkan (belum matang) Gawat janin

Pada keadaan dimana tidak memungkinkan untuk dilakukan seksio sesar maka dilakukan pemasangan Cunam Willet atau Versi Braxton - Hicks.

SOLUSIO PLASENTA

Sedang : Perdarahan lebih dari 200 cc. menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. kemudian penentuan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. Pada solusio plasenta ringan dilakukan istirahat. janin mati pelepasan plasenta bisa terjadi lebih dari 2/3 bagian atau keseluruhan. memperbaiki anemia. Ringan : Perdarahan kurang dari 100 . uterus tegang. pelepasan plasenta kurang dari 1/6 bagian permukaan. (2) Klasifikasi berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1. uterus tidak tegang. terdapat tanda renjatan. belum ada tanda renjatan. fibrinogen. Penatalaksanaannya meliputi : a.200 cc. 2. Pemberian transfusi darah . Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb. gawat janin atau janin telah mati. pelepasan plasenta ¼ sampai 2/3 bagian permukaan. karena itu kadang diperlukan pemeriksaan penunjang yaitu USG. janin hidup. 3. kadar fibrinogen plasma lebih dari 120 mg %. Pada solusio plasenta sedang dan berat maka penanganan bertujuan untuk mengatasi renjatan.143 BATASAN : Solusio plasenta adalah pelepasan plasenta sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir. ETIOLOGI : Tidak jelas(2) DIAGNOSIS : (2) Pada solusio plasenta ringan kadang sulit menentukan diagnosis karena tidak semua gejala klinis nampak nyata . Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik. kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. Bila proses berhenti secara berangsur penderita dimobilisasi. haematokrit dan trombosit. dengan USG juga dimaksudkan untuk menyingkirkan plasenta previa. pemberian sedatif. terdapat tanda pre renjatan. PENATALAKSANAAN : (2) Tergantung dari berat ringannya kasus.

b. VASA PREVIA BATASAN : . d. Pemecahan ketuban (amniotomi) c. Letak lintang. f.144 b. Pelvik score < 5. Dengan demikian transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc. c. berarti perdarahan yang terjadi sekurang-kurangnya sebanyak 1000 cc. Pemberian infus Oxytocin’s d. Sedang seksio sesar dilakukan bila: a. Perdarahan banyak. Pembukaan tidak ada atau < 4 cm. Ketuban segera dipecahkan dengan maksud untuk mengurangi regangan dinding uterus dan untuk mempercepat persalinan diberikan infus Oxytocin’s 5 UI dalam 500 cc Dextrose 5 %. g. Preeklampsia berat. Kalau perlu dilakukan seksio sesar Bila diagnosis solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan. Panggul sempit. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam. e.

Namun bila janin sudah meninggal atau imatur dilakukan persalinan pervaginam. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti djj yang tidak beraturan. KEPUSTAKAAN : 1. 2. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. (2) ETIOLOGI : Tidak jelas (2) DIAGNOSIS : (2) Pada pemeriksaan dalam vagina dirabanya pembuluh darah pada selaput ketuban. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin. maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan kardiotokografi.145 Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Hartono E. Penatalaksanaan perdarahan antepartum. . Ujung Pandang 1997. Rambulangi J. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer . deselerasi atau bradikardi khususnya bila perdarahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah.Betke serta hapusan darah tepi.13. PENATALAKSANAAN : (2) Sangat bergantung pada status janin. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNHAS. Jakarta 1991 : 9 . Moerniaeni N. Perdarahan antepartum. Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera. tentukan lebih dahulu umur kehamilan. ukuran janin. Gasong MS. pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi.

ltk. Fisik Pem. bila tetap darah (-) P. Lab USG Vassa previa Sedang atau berat Kehamilan ≥ 37 minggu Penilaian maturitas janin Janin mati atau imatur Janin hidup (prematur atau aterm) Plasebta previa Solusio plasenta Ringan Kehamilan < 37 minggu Kehamilan ≥ 37 minggu Kehamilan < 37 minggu Perdarahan (-) Perdarahan >> Anak mati Istirahat R/ Hematinik Antibiotik k/p Spasmolitik Periksa USG Periksa Hb. serviks sudah matang. . bila berdarah segera ke rumah sakit. Fibrinogen Gejala Progresif Persalinan pervaginam PDMO (Double set up) Darah (-) Nyeri (-) Uterus tidak tegang Pulang Resusitasi cairan Transfusi darah Amniotomi Infus Oxytocin’s 3 hari darah (-) mobilitas bertahap.146 SKEMA PENATALAKSANAAN PERDARAHAN ANTEPARTUM Perdarahan antepartum Diagnosis Anamnesis Pem. kepala masuk panggul dan perdarahan < Pulang * Amniotomi Infus Oxitocin’s P. jarak tempat tinggal penderita dengan rumah sakit harus dapat ditempuh dalam 15 menit. marginalis. Hm Istirahat Sedatif Observasi Periksa HB. rendah. Totalis/lateralis Perdarahan >> Presentasi abnormal Panggul sempit Gawat janin Serviks belum masuk panggul 6 jam belum partus Serviks belum matang Perdarahan >> Pembukaan <4 cm atau (-) Panggul sempit Letak lintang Toksemia gravidaru Pelvic Score <5 Berhasil Pervaginam Gagal atau Perdarahan >> Seksio sesar *) Dianjurkan untuk tidak kerja keras dan tidak boleh bersanggama. p.

Ong Tjandra. 3. John Rambulangi.147 9. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : 1. Proteinuri : gr/lt dalam 24 jamatau secara kwalitatif (+ +) 3. SpOG PREEKLAMPSIA RINGAN BATASAN : (1. dinding perut.3) Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. atau sistol ≥ 140 mmHg (< 160 mmHg) diastol ≥ 90 mmHg (< 110 mmHg). lumbosakral. 2. Edema : edema tekan pada : Tungkai (pretibial). Edema pada Pretibia.3 gr/lt/24 jam Kwalitatif (+ +) PENATALAKSANAAN : (2) (4) . Proteinuri : > 0. Lumbosakral. GEJALA KLINIS : (4) 1. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu pada penyakit tropoblas. Kenaikan tekanan darah sistol ≥ 30 mmHg atau diastol ≥ 15 mmHg (dari tekanan darah sebelum hamil) pada kehamilan 20 minggu atau lebih. wajah/tangan. Penyakit ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” dengan akibat suatu vasospasme general dengan segala akibat-akibatnya. Kehamilan > 20 minggu 2. dr. (untuk pemeriksaan pertama dilakukan 2 x setelah istirahat 10 menit). dinding perut. 4. PATOFISIOLOGI : (4) Penyebabnya sampai sekarang belum jelas benar.2. PREEKLAMPSIA & EKLAMPSIA dr. Kenaikan tekanan darah (≥ 140/90 mmHg) dengan pemeriksaan 2 x selang 6 jam dalam keadaan istirahat. wajah/tangan.

fungsi ginjal B. Perawatan Obstetrik : 1. tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan.148 A. asam uart darah. selama perawatan : persalinan ditunggu sampai aterm. Rawat tinggal (1) (1) Kriteria preeklampsia ringan untuk dirawat di rumah Sakit : 1. Rawat jalan. Persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan 3. maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. Cara persalinan . Timbul salah satu atau lebih gejala/tanda-tanda preeklampsia berat . Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan. Pada kehamilan preterm (< 37 minggu) a. 2. fungsi hati. Kenaikan berat badan ibu : ≥ 1 kg/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu) 3. Bila desakan darah turun. • Bila setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan. hematokrit. lemak dan garam • Sedativa ringan : Tablet Phenobarbital 3 x 30 mg atau Diazepam 3 x 2 mg peroral selama 7 hari • Roborantia • Kunjungan ulang tiap 1 minggu • Pemeriksaan laboratorium : Hb. maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan ≥ 37 minggu 2. Perawatan kemudian disesuaikan dengan perawatan rawat jalan. urine lengkap. • Banyak istirahat (berbaring tidur/miring) • Diet : cukup protein. trombosit. tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejalagejala preeklampsia. rendah karbohidrat. Bila desakan darah mencapai normotensif. • Bila dalam perawatan di Rumah Sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm. Pada kehamilan aterm (≥ 37 minggu) a. b. maka preeklampsia ringan dianggap sebagai preeklampsia berat.

kegagalan terapi pada perawatan konservatif yaitu : dalam waktu setelah 6 jam sejak dimulainya pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan 2. gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan). Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila didapatkan satu atau lebih keadaan gawat dibawah ini : 1. Ibu • Kehamilan ≥ 37 minggu • Adanya tanda-tanda/gejala impending eklampsia. pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Janin • Hasil fetal assesment jelek (NST & USG) • Adanya tanda-tanda IUGR 3. Persalinan dapat dilakukan secara spontan. A. PENATALAKSANAAN : (1) Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat selama perawatan.5) .149 a. Laboratorik darah atau setelah 24 jam sejak dimulainya perawatan medisinal. bila perlu memperpendek kala II PREEKLAMPSIA BERAT BATASAN : (4) Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi ≥ 160/110 mmHg disertai proteinuri dan atau edema. Aktif : kehamilan segera diakhiri/diterminasi bersamaan dengan pemberian medisinal B.4. maka perawatan dibagi menjadi : A. Konservatif : kehamilan tetap dipertahankan bersamaan memberi pengobatan medisinal. Perawatan aktif Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada tiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG) a. (3.

Selanjutnya dosis ulangan diberikan 4 gram im tiap 6 jam. 2. Diikuti segera 4 gram di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no. 21 panjang 3. 2. (6). Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0. Diet cukup protein. Refleksi petella (+) kuat 3. (3) c. Frekuensi pernafasan > 16 x / menit 4. Harus tersedia antidotum MgSO4. 1 gram (10 % dalam 10 cc) diberikan IV dalam 3 menit.5 cc/ kg BB/jam). Pengobatan Medisinal 1. refleks patella setiap jam. lemak dan garam 6. Ada tanda-tanda keracunan.7) 1. d. Segera masuk rumah sakit. Antasida 5. Infus Dextrose 5 % yang tiap satu liternya diselingi dengan infus Ringer Laktat (60cc /jam) 500 cc 4. Tirah baring miring kesatu sisi Tanda vital diperiksa tiap 30 menit. Syarat-syarat pemberian MGSO4 : (4. yaitu : a. Untuk mengurangi nyeri dapat ditambah 1cc Xylocain 2 % yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan im. dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari. Dosis ulangan Diberikan 4 gram im 40 % setelah 6 jam pemberian dosis awal. Peningkatan fungsi hepar dan trombositopenia) b. (3) 3. Dosis awal : 4 gram MgSO4 intravena (20% dalam 20cc) selama 1 gram/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Magnesium Sulfat dihentikan bila : (7) 1. Pembagian obat anti kejang : Magnesium Sulfat Cara pemberian: a. Kelemahan otot 125 . b.150 • Adanya “HELLP Syndrome” (Sindroma : Hemolisis. rendah karbohidrat. yaitu calsium glukonas 10%.7 cm.

Hipotensi c. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis < 105 mmHg (jangan < 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta. (4). Antihipertensi diberikan bila : . 8. 1997. Bersama dengan awal pemberian sublingual.Desakan darah sistolis > 180mmHg. Fungsi jantung terganggu e.151 b. maka obat yang sama mulai diberikan secara oral (Syakib Bakri. . Kadar 12-15 mEq terjadi kelumpuhan otot-otot pernafasan dan > 15 mEq/liter terjadi henti jantung (3. catapres injeksi dosis yang biasa dipakai adalah 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam. Kadar serum ion Magnesium pada dosis edequat adalah 4-7 mEq/liter. Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat (dikutip oleh 7) a. (8. 3.7). diastolis > 110mmHg atau “MAP” > 125mmHg. Kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot -otot pernafasan. 2. Berikan calsium glukonase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit. Hentikan pemberian magnesium sulfat b. payah jantung kongestif atau edema anasarka. c. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan (normotensif). Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada : ederma paru. Refleks fisiologis menurun d. Diberikan Furosemid injeksi 40 mg/IM. maksimal 4-5kali. Berikan Oxigen d.9) Dosis dari obat-obat antihipertensi ini sama dengan dosis pada hipertensi pada umumnya. Lakukan pernafasan buatan. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinu). 7. Depresi susunan saraf pusat f. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. komunikasi pribadi).

mata • Obat-obat anti piretik diberikan bila suhu rektal diatas 38. selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir). 10. Belum inpartu : • Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai bishop ≥ 5 dan dengan fetal heart monitoring. Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesar (1.152 9. • Antibitik diberikan atas indikasi (4) o . • 12 jam sejak dimulainya tetesan oksitosin belummasuk fase aktif. • Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus.2) Sudah Inpartu : Kala I : (1. Diberikan Ampicillin 1 gram /6 jam/IV/hari. 5 C. dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau Xylomidon 2cc im. Pengobatan Obstetrik Cara terminasi kehamilan. dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja. Kardiotonika Indikasi memberikan kardiotonika bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung. Lain-lain • Konsul bagian penyakit dalam /jantung.2) Fase latent : 6 jam tidak fase aktif dilakukan seksio sesar Fase aktif : . (4) • Seksio sesaria bila : • Fetal assesment jelek • Syarat tetesan oxytosin tidak dipenuhi (nilai Bishop < 5) atau adanya kontra indikasi tetesan oksitosin . c. Diberikan digitalisasi cepat dengan cedilanid D.

b. Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian pengobatan medisinal. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan : maka diberi lebih dahulu MgSO4 20% 2 gram IV. Indikasi : Bila kehamilan preterm < 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik Pengobatan medisinal : sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan aktif. Penderita dipulangkan bila : 1.153 • Amniotomi saja • Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap. yaitu 4 gram bokong kiri dan 4 gram bokong kanan c. selambatlambatnya dalam waktu 24 jam 3. Pengobatan obstetrik 1. Pemantangan paru-paru janin. (bila perlu dilakukan tetesan oksitosin ) Kala II : Pada persalinan pervaginam.2) a. bila keadaan memungkinkan terminasi ditunda 2 x 24 jam untuk memberikan kortikosteroid (lihat bab pematangan paru) 1. Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak ada terminasi. . dilakukan seksio sesar. hanya “loading dose” MgSO4 tidak diberikan IV cukup im saja. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda preeklampsia ringan. Pada kehamilan ≤ 37 minggu. maka kala II diselesaikan dengan partus buatan . Penderita kembali ke gejala-gejala/tanda-tanda Preeklampsia ringan dan tetap dirawat selama 3 hari. Perawatan Konservatif (1. 2. d. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan harus diterminasi 4.

otak. paru dan jantung. dalam persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. ginjal. atau persalinan atau masa nifas 2. EKLAMPSIA BATASAN : (1. Pemeriksaan laboratorium • • • adanya protein dalam urin fungsi organ.154 2. hepar. dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia. (Kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neurologik). Kejang-kejang dan atau koma 4.2) Tujuan pengobatan : • • Untuk menghentikan dan mencegah kejang Mencegah dan mengatasi penyulit khususnya hipertensi krinis . PATOFISIOLOGI : (4) Sama dengan preeklampsia. (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu). Kehamilan > 20 minggu. Berdasarkan gejala klinis diatas 2.2) Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil. GEJALA KLINIS : (4) 1. edema dan proteinuri) 3. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan Preeklampsia ringan : penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai preeklampsia ringan. yakni terjadinya nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut. ginjal. Kadang-kadang disertai dengan gangguan fungsi organ-organ PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : (4) 1. Tanda-tanda preeklampsia (hipertensi. jantung fungsi hematologi/hemostasis PENATALAKSANAAN : (1. dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati.

Pengobatan medisinal : Sama seperti pengobatan preeklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram iv selama 2 menit sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir. sikap dasar : kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) hemodinamik dan metabolisme ibu. maka persalinan tindakan dengan trauma yang minimal. • Perawatan pada serangan kejang : • • • Perawatan di kamar isolasi cukup terang/ICU Pengobatan obstetrik : (1. Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan satu kali saja. Bilamana diakhiri. Perawatan bersama Konsul bagian syaraf. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital/thiopental 3-5mg/kgBB/IV pelan-pelan. bagian mata. anastesi dan anak. penyakit dalam/jantung. . syarat-syarat untuk mengakhiri persalinan pervaginam dipenuhi. Stabilisasi ibu dicapai dalam 4-8 jam setelah salah satu atau lebih keadaan di bawah ini : • • • • Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir Penderita mulai sadar (responsive dan orientasi) Terminasi kehamilan (4) • Apabila pada pemeriksaan.155 • • Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin Mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin untuk ibu.2) Sikap dasar : semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin.

Tindakan seksio sesar dilakukan pada keadaan : • • • • Penderita belum inpartu Fase laten Gawat janin Tindakan seksio sesaria dikerjakan dengan mempertimbangkan keadaan kondisi ibu. .156 • • Apabila penderita sudah inpartu pada fase aktif langsung dilakukan amnitomi selanjutnya diikuti dengan partograf. bila ada kemacetan dilakukan seksio sesar.

157 PREEKLAMPSIA RINGAN BERAT RAWAT JALAN Kunjungan ulang 1 minggu Dua minggu menetap Umur kehamilan Tanda-tanda vital Laboratorium Fetal Assesment Membaik RAWAT RS 1 Minggu Tidak membaik KONSERVATIF Kehamilan < 37 minggu Janin Baik Setelah 24 Jam Perbaikan menjadi Preeklampsia Ringan Rawat selama 3 hari Tidak ada Perbaikan AKTIF Kehamilan ≥ 37 minggu Tanda-tanda impending 6 jam Terapi TD Meningkat Fetal Assesment jelek IUGR Sindroma HELLP TERMINASI KEHAMILAN BELUM INPARTU INPARTU Bishop skor < 5 Kontra Indikasi Drip oksitosin Fetal Assesment Jelek Bishop skor ≥ 5 Fetal Assesment Baik Drip Oksitosin FASE LATENT FASE AKTIF Amniotomi Bila perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk Kala II KALA II PARTUS BUATAN Setelah 12 jam Tidak masuk Fase Aktif Setelah 6 jam Tidak masuk Fase Aktif SEKSIO SESARIA .

yaitu setelah : Terapi Obat Kejang terakhir Kejang terkahir Terapi obat Hipertensi Terakhir OS mulai sadar Kehamilan Diakhiri Tanpa Memandang usia Kehamilan dan Keadaan janin INPARTU BELUM INPARTU FASE LATENT FASE AKTIF Ada Janin Gawat Tidak ada Amniotomi Kalau perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk kala II Masuk Kala II PARTUS BUATAN SEKSIO SESARIA .BELUM INPARTU INPARTU 158 EKLAMPSIA Waktu Diakhiri Stabilisasi hemodinamika dan Metabolisme.

DIABETES MELITUS GESTASIONAL dr.2) • • • • • • Beberapa kali abortus Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas Riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan Pernah melahirkan bayi ≥ 4000 gram Pernah preeklampsia Polihidramnion 2. ringan maupun berat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. (1) PATOFISIOLOGI : Faktor -faktor yang dapat mengganggu keseimbangan karbohidrat pada kehamilan dapat berasal dari : (2) 1. SpOG BATASAN : Diabetes melitus gestasional adalah suatu intoleransi karbohidrat. FAKTOR RISIKO : 1. Faktor ibu Pada wanita hamil kadar kortisol meningkat 3 X dari keadaan sebelum hamil. dr. Faktor Plasenta • Human plasental lactogen bersifat diabetogenik dan meningkatkan proses lipolisis trigliserida. Josephine LT. Riwayat Ibu (1. 2.1. Haryanto Kasy. Sehingga asam lemak meningkat yang menyebabkan meningkatnya resistensi jaringan terhadap insulin. Ny.2) . Riwayat kebidanan (1.159 10. • Adanya enzim yang bekerja seperti enzim insulinase yang dapat merusak insulin dalam plasma. PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHAMILAN 10.

199 Adalah cara satu tahap yaitu wanita hamil dalam keadaan puasa pada pagi hari diambil contoh Dianjurkan pada semua ibu hamil pada pertemuan pertama dengan petugas kesehatan. Materi Penapisan. Cara Penapisan (1. 2. Contoh darah berikutnya diperiksa dua jam setelah beban glukosa. Kriteria diagnosis Kriteria diagnosis Diabetes Melitus pada wanita hamil sama seperti pada penapisan bukan wanita hamil. (1) a.4) darah.139 140 . c. b. pemeriksaan diulang pada minggu gestasi ke 24 -26.160 • • • • Umur ibu hamil > 30 tahun Riwayat diabetes melitus dalam keluarga Riwayat diabetes melitus gestasi pada kehamilan sebelumnya Infeksi saluran kemih berulang selama hamil CARA PENAPISAN DAN KRITERIA DIAGNOSIS : 1. kemudian diberi beban glukosa 75 gram dalam 200 ml air. (1) mereka yang hasilnya negatif. (1) Tabel 1. Untuk Normal Diabetes Melitus Toleransi glukosa terganggu PENATALAKSANAAN : . Penapisan Diabetes Melitus Gestasional (DMG) sebaiknya harus dilakukan pada semua wanita hamil Waktu penapisan. Kriteria diagnosis menurut WHO Glukosa plasma vena ( mg/dl ) Puasa jam < 100 < 140 ≥ 140 ≥ 200 100 .

5 . (1. Penatalaksanaan obstetri.5) Dosis Insulin : 0. (1.161 Penatalaksanaan kehamilan dengan diabetes melitus selayaknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam.4.4) 1. Keterangan : Berat Badan ideal = (tinggi badan-100) 10% (kg) b. • pemeriksaan secara berkala HbAlc setiap 6-8 minggu. Penatalaksanaan medis ibu DMG. (1. (1) Pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan : • • • • Pengukuran tinggi fundus uteri Mendengarkan denyut jantung janin Pemeriksaan khusus : USG dan karditokografi (KTG) Penilaian menyeluruh janin dengan menggunakan nilai Fungsi Dinamik Janin Plasenta (FDJP) darah sendiri dirumah dengan reflectance .5) Meliputi : • pemantauan glukosa meter. (1.5) Jumlah kalori yang dibutuhkan : 35 kal/kg BB ideal menurut cara Broca. ahli gizi dan spesialis anak.5 unit/kg BB. Pengendalian kadar glukosa darah dilakukan oleh ahli penyakit dalam dan ahli gizi. spesialis obstetri ginekologi. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl dan dua jam sesudah makan adalah 120 mg/dl. Sasaran : Keadaan normoglikemia selama kehamilan sampai persalinan. 1. Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan perencanaan makan.4. (1. 2/3 diberikan pada pagi hari dan 1/3 pada sore hari.1. Perencanaan makan yang sesuai kebutuhan.5) a. (5) Memantau diabetes terkendali.4) Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan : (1.

gawat janin. (1) DMG terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Pemantauan setiap minggu USG + KTG tidak terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Rawat Pemantauan setiap minggu USG + KTG Janin sehat PJT. Makrosomia Amniosentensi s paru belum matang steroid 40 minggu paru matang partus biasa Terminasi .162 Skema pengelolaan ibu DMG.

4. sesak nafas. satu diantaranya sudah cukup untuk membuat diagnosis penyakit jantung dalam kehamilan 1: 1. Pembesaran jantung yang jelas 3. PENYAKIT JANTUNG DALAM KEHAMILAN dr. DIAGNOSIS Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. hemoptisis.6 : Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV : Tanpa gejala : Gejala timbul bila aktifitas lebih dari normal : Gejala timbul pada aktifitas normal : Gejala timbul saat tirah baring Pengaruh kehamilan pada penyakit jantung 5 Perubahan sirkulasi darah mempunyai dampak pada wanita hamil dengan penyakit jantung. Bising diastolik.2. lesu.6 Menurut klasifikasi New York Heart Association 3. Bising jantung nyaring. SpOG BATASAN Penyakit jantung dalam kehamilan adalah penyakit dengan kumpulan gejala : nyeri dada.2. Pengaruh penyakit jantung pada kehamilan 5 Perubahan hemodinamik dalam kehamilan tidak berpengaruh pada kehamilan dengan kecil masa kehamilan. Peningkatan volume darah dan isi sekuncup memperberat kerusakan katup jantung bahkan sampai kegagalan jantung. presistolik atau bising jantung terus menerus 2.163 10.Ny.3. terutama bila disertai thrill 4. palpitasi. Aritmia yang berat Pemeriksaan laboratorium 6: Menurut Ueland dkk (1972).5. Wewengkang. Johnsen Mailoa. pingsan dan kesulitan bernafas1.Margaretha J. dr. penderita penyakit jantung dalam kehamilan cenderung melahirkan bayi prematur . Resiko tergantung dari kerusakan dan kemampuan kapasitas jantung untuk kompensasi. edema.

Seksio sesarea hanya atas indikasi obstetri (plasenta previa .3 : kehamilan aterm.6. obati dengan digitalis. pengawasan spesialis penyakit jantung atau penyakit dalam Menurut Mackenzie 1 bila terdengar ronki menetap di dasar paru. segera rawat dan digolongkan satu kelas lebih tinggi. Kala persalinan 1: • tidak berbahaya • nyeri persalinan dikurangi .2. tinggi protein batasi aktifitas berat ( usia kehamilan 28 – 32 minggu) pemeriksaan antenatal setiap 2 minggu sampai kehamilan 36 minggu. merupakan gejala awal gagal jantung. Penderita harus tirah baring. dan tidak hilang setelah menarik nafas dalam 2–3 kali. persalinan dan nifas cegah timbulnya dekompensasi kordis tidur malam cukup ( 8-10 jam) setiap kali makan istirahat baring ½ jam diit rendah garam. panggul sempit). kemudian setiap minggu masuk rumah sakit ± 1 minggu sebelum taksiran partus.7: • • • Elektrokardiografi Ekokardiografi (Doppler) Kardiotokografi (usia kehamilan > 20 minggu) PENATALAKSANAAN Kelas I dan kelas II • • • • • • • • • 1. Bila timbul gejala dekompensasi kordis. dapat melahirkan pervaginam observasi ketat selama kehamilan.164 • • darah dan urine rutin apusan tenggorok Pemeriksaan penunjang 5. disproporsi sefalo-pelvik.

• gurita kantung pasir untuk mencegah perubahan mendadak sirkulasi darah • oksitoksin intravena atau intramuskulus bila perdarahan.8 mg). • laktasi dilarang Prognosis tergantung beratnya penyakit . Morfin (10-15mg).2 mg sampai 1. setelah 1-2 jam.165 • obat sedasi dan analgesia derivat morfin dapat diberikan • partus posisi setengah duduk Awasi terjadinya dekompensasi kordis 1: • periksa nadi setiap 10 – 15 menit. dan Furosemid • bila kala II > 20 menit atau ibu tidak kuat meneran. dengan dosis awal 0. • setelah kala II.6 mg i. partus segera diakhiri dengan cunam atau ekstraksi vakum. dapat diulangi 1-2 kali. • pada kala II. persalinan diakhiri dengan forseps atau ekstraksi vakum • sediaan Ergometrin merupakan indikasi kontra • masa nifas dapat terjadi kolaps setelah anak lahir. infeksi nifas dan tromboemboli • istirahat dan mobilisasi bertahap • dianjurkan tubektomi • laktasi dibolehkan jika sanggup secara fisik Kelas III dan IV 1 : • tidak boleh hamil • bila hamil<12 minggu→ abortus terapeutik dipertimbangkan • bila hamil > 12 minggu cegah dekompensasi kordis → tirah baring selama kehamilan dan nifas. perdarahan postpartum. awasi ketat tanda gagal jantung atau edema paru. bila nadi >100x/menit dan pernapasan >28x/menit (disertai sesak napas) obati digitalis (delanosid /cedilanid 1.v. Pemberian oksigen.

kekebalan ibu terhadap penyakit malaria berkurang terutama pada trimester terakhir. merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana / vivax. 2. yaitu : 1. sering sembuh spontan tanpa pengobatan. 4. SpOG BATASAN : Malaria dalam kehamilan adalah penyakit protozoa yang dipindahkan pada manusia melalui gigitan nyamuk anopheles (1) yang ditemukan pada wanita hamil. yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara beruntun yakni : (2) a.166 10. Adjardiana Idrus. Periode berkeringat . Plasmodium falsiparum. Plesmodium vivax. menyebabkan malaria quartana/malariae : jarang. MALARIA DALAM KEHAMILAN dr. memberikan infeksi yang paling ringan. ETIOLOGI (2) : Disebabkan oleh Plasmodium. Syahrir Muhammad. Periode dingin sampai menggigil b. memiliki kemampuan resisten dengan pengobatan 3. memberikan banyak komplikasi. anemia & splenomegali. Plasmodium Malariae. dr. Plasmodium ovale.(1) Penyakit ini mempunyai gambaran karakteristik. yaitu demam periodik. GEJALA : Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi. Dalam kehamilan.3. Adapun gejala klasik. Periode panas c.

Karena ibu lemah.167 KOMPLIKASI : (1. Segera dilanjutkan dengan 10 mg/kgBB dilarutkan dalam 200 cc . Kematian intra uterin 3. cara yang paling aman ialah suntikan intramuskulus. biasanya diberikan 300 mg chioroquine dan Mepacrine. dapat terjadi atonia (6) 5. tetapi tanpa pemberian primaquin. partus prematur 2. Dapat diluang 10 jam kemudian. Setelah itu.2. yaitu : (6. Dapat pula terjadi anemia pada nifas 4.5) 1. bila dengan preparat darah tebal sulit dilakukan Pemeriksaan satu kali dengan hasil negatif tidak menyampingkan diagnosis malaria. Pemeriksaan pada saat penderita demam dapat meningkatkan kemungkinan ditemukan parasit. Tetetsan preparat darah tebal Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria sekaligus identifikasi jenis plasmodium b. Pemberian obat anti malaria kinin Hcl 20 mg/kgBB dalam 100-200 cc cairan dextrose 5 % selama 4 jam.(3) • Penanganan Malaria berat adalah : (6) 1.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG (2) Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosis. PENANGANAN : Pengobatan Pengobatan malaria pada wanita hamil seperti biasa. Tetesan darah tipis Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium.4. Abortus. dismaturitas.7) Hari I Hari II Hari III • Chloroquine 600 mg Chloroquine 600 mg Chloroquine 300 mg Pada serangan tiba-tiba. Gawat janin selama persalinan sering dijumpai pada wanita yang mengalami anemia akibat infeksi malaria yang berat. pengobatan dilanjutkan per Oral. Adapaun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui : a.

Bila sudah sadar kinin diberikan peroral dengan dosis 3 x 400-600 mg selama 7 hari 2. (4) Untuk wanita hamil dengan malaria falciparum yang resisten terhadap choroquine dapat diberikan preparat kina peroral. . sekali seminggu sampai 4 minggu setelah kembali ke daerah non endemik. Pemberian cairan nutrisi 4. Tranfusi 3. Kinin dapat diberikan intramuskuler bila melaui infus tidak memungkinkan. kemudian diikuti dengan dosis 10 mg/kgBB/8 jam sampai penderita dapat minum peroral. Preparat ini bisa diberikan intravena pada infeksi yang berat.168 Dextrose 5 % diberikan dalam waktu 4 jam. Selanjutnya diberikan dengan dosis yang sama tiap 8 jam. Penanganan terhadap gangguan fungsi organ yang mengalami komplikasi • • Bila terdapat anemi yang berat (Hb ≤ 6 gr %) harus dilakukan transfusi dengan packed red cells atau whole blood. (5) PENCEGAHAN : (5) Pencegahan dengan chioroquine 300 mg/oral. Dosis 20 mg/kgBB/im terbagi pada 2 tempat suntikan.

169 SKEMA PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN MALARIA DLM KEHAMILAN Etiologi : Plasmodium Gejala : Trias Malaria Pem. bila sulit . prematur KJDR Anemia Atonia/Intesia Uteri Gawat janin Penanganan Pencegahan Chioroquine 300 mg/minggu (1 x)/oral (mulai sebelum masuk wilayah andemik sampai 4 minggu setelah kembali kedaerah non endemik) Malaria Berat Pengobatan Malaria Ringan Hari I Chloroquine 600 mg Tidak sadar Kinin Hcl 20 mg/kgBB/100-200 cc Dextrose 5 % infus selama 4 jam dilanjutkan Kinin Hcl 10 mg/kgBB/200 cc Dextrose 5 %/infus selama 4 jam. dismatur. dilanjutkan Kinin Hcl dengan Dosis yang sama tiap 8 jam Atau Kinin 20 mg/kgBB/im dilanjutkan dengan Kinin 10 mg/kgBB/8 jam Sadar Kinin 3 x 400-600 mg selma 7 hari Hari II Chloroquine 600 mg Hari III Chloroquine 300 mg Bila resisten Kina per oral atau intra vena . Penunjang : Laboratorium .Pem. tetesan darah tebal. Tetesan darah tipis Koplikasi : Abortus.Pem.

Pernah batuk dahaknya bercampur bercak darah. Haryanto Kasy .(1) KRITERIA DIAGNOSIS : 1. Lemah badan. d.(3) Perkusi dada yang redup. 2. dr. Tes fungsi hati. Pemeriksaan penunjang. 3. TUBERKULOSIS PARU DALAM KEHAMILAN dr. kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun. Arifuddin Djuanna. Tes tuberkulin. pada auskultasi suara napas yang bronkial serta didapatkan ronki basah kasar dan nyaring. keluar keringat malam. Biasanya dipakai cara Mantoux dengan menyuntikkan 0. Anamnesis. SpOG BATASAN : Penyakit tuberkulosis paru yang disebabkan oleh mycobakterium tuberkulosis yang dijumpai dalam masa kehamilan. Pemeriksaan fisik. Laboratorium darah rutin.(2) • • BTA (basil tahan asam) : pewarnaan sputum dilakukan dengan metode Ziehl Nielson 3 kali berturut-turut dengan menggunakan mikroskop binokuler. H.4.(2) • • • Hitung jenis. Biakan / kultur : biakan dilaksanakan dengan metode yang baik seklaigus resistensi tes. Pemeriksaan sputum. a. c.(2) • • • • • Batuk terus menerus berdahak 3 minggu atau lebih. Badan kurang enak “ malaise”. Sesak nafas atau rasa nyeri dada. biasanya didominasi limfosit.170 10.A.(2.3) b. Pemeriksaan radiologis : foto toraks posteroanterior dan lateral.1 cc tuberkulin PPD “Purified protein derivative” . LED (laju endapan darah) mungkin tinggi.

INH periodik 2 < 33 kg 33 .50 kg > 50 kg 3.(2) Keterangan : R = Rifampisin H = INH E = Etambutol Berat badan Jenis obat fase intensif R 300 mg 450 mg 600 mg H 200 mg 300 mg 400 mg E 800 mg 800 mg 1200 mg Jenis obat fase lanjutan/periodik.(3) Hasil tes : indurasi 10-15 mm = Mantaoux positif(3) .(2) PENGELOLAAN : 1. diberi masker untuk menutup mulut dan hidung. b. Bila tes tuberkulin positif tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinik diberikan : INH selama 1 tahun. Masa persalinan. bila persalinan berjalan lancar tidak dilakuka sesuatu dan diusahakan agar persalinan dapat berlangsung dengan . Bila TBC paru (BTA +) : 1R7H7E7 .5-8R2H2. (1) Kegiatan fisik dikurangi. b. Dosis obat anti tuberkulosis.171 Intrakutan. Penanganan obstetri a. Etambutol diberikan intensif kali dalam seminggu selama 5-8 bulan. hasil yang negatif tidak selalu menyngkirkan penyakit. Tes tuberkulin yang positif tidak selalu diikuti dengan penyakit. R H 300 mg 500 mg 450 mg 600 mg 600 mg 600 mg setiap hari selama 1 bulan. INH. cukup. istirahat Selama persalinan penderita TBC paru aktif ditempatkan dikamar tertentu / kamar isolasi. diet tinggi kalori tinggi protein.(5) Artinya : Rifampisin. Masa kehamilan Perawatan kehamilan dapat dilakukan seperti biasa. a. c. kemudian dilanjutkan rifampisin. Pengobatan medikamentosa. Rawat bersama dengan Subbagian Pulmonologi Bagian Penyakit Dalam.(4) 2.(1) Persalinan kala I maupun kala II diusahakan seringan-ringannya.

harus dirawat diruang isolasi. serta nasihat perawatan masa nifas yang harus mereka lakukan. kemudian penderita dapat dipulangkan langsung.172 spontan. Masa nifas Setelah penderita melahirkan.(5) Tindakan seksio sesar hanya dilakukan atas indikasi obstetri dan tidak atas indikasi tuberkulosis paru. vakum atau ekstraksi kaki. Diberi obat uterotonika dan obat TBC paru diteruskan.8 jam.(1) PROGNOSIS : Kecepatan diagnosis dan tatalaksana berperan dalam prognosis.(5) . penderita dirawat diruang observasi 6 .(5) c.(1) Dalam keadaan ideal bayi setelah lahir segera dipisahkan dari ibunya sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif.(1) Penderita yang tidak mungkin dipulangkan.(5) Namun apabila kala II melelahkan sebaiknya dipercepat dengan bantuan ekstraksi foeceps.

Tes tuberkulin Laboratorium Bila perlu foto toraks TBC paru aktif Hanya tes tuberkulin + (tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinis) Pengobatan medikamentosa : INH. Rifampisin. Etambutol.173 TBC PARU DALAM KEHAMILAN Penderita kemungkinan tuberkulosis Ada riwayat kontak Faktor risiko : Sosial ekonomi Perumahan padat Gejala mencurigakan : Batuk darah Nyeri dada Keringat malam berat badan menurun demam Pemeriksaan fisik paru. Pengobatan medikamentosa : INH selama 1 tahun Perawatan kehamilan Penanganan persalinan atas indikasi obstetri .

sianosis. ASMA BRONHIALE DALAM KEHAMILAN dr. Eddy R. sesak napas. (1) ETIOLOGI : A. Moeljono. dada terasa berat.3) • • • • • • • • • Asma akut dengan bronkodilator tidak membaik Takikardi persisten Dispnea Hipertensi Pulsus Paradoksus Sianosis Hipoksemia (PO2 < 70 mmHg) Hiperkarbia (PCO2 < 38 mmHg) Emfisema subkutan . ekspirasi memanjang. SpOG BATASAN : Asma dalam kehamilan (ADK) adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast. dr.174 10.5. wheezing. dispnea. kesukaran bicara. hiperventilasi. faktor genetik Gabungan A dan B KRITERIA DIAGNOSTIK : Batuk. pulsus paradoksus. ortonea. (1. takipnea. sesak.2. H. takikardi persisten. eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa mengi. batuk yang ditemukan pada wanita hamil. reaksi imunologi (alergi) dimana lg E meninggi B. penggunaan otot bantu pernapasan. Dorphiana Litaay.5) INDIKASI MASUK RUMAH SAKIT : (1.

Asma akut : • • O2 4-6 liter Beta-2 agonis : salbutamol 5 ml . obat yang terpilih yaitu golongan bronkodilator seperti agonis beta-2 inhalar dengan atau tanpa steroid.5 mg . intravena.5-5. Bila sudah menggunakan aminofilin kurang dari 12 jam berikan setengah dosis saja. Sedapat mungkin memakai obat oral sesedikit mungkin. feneterol 2.0 mg oral : Prednison 30-60 mg per hari : Betametrion inhalar 100 mg. Tindakan seksio sesaria atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan.175 PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Uji faal paru KONSUL BAGIAN PENYAKIT DALAM INFORM KONSET (PERLU) PENATALAKSANAAN : (1.(4) .3) Prinsip pengobatan asma dalam kehamilan pada dasarnya tidak berbeda dengan asma lain. Persalinan biasanya dapat berlangsung akan tetapi bila penderita masih dalam serangan dapat diberi pertolongan tindakan berupa ekstraksi vakum atau forceps.25mg dalam dekstrosa 5 % pelan-pelan. parenteral. Terbutalin 0. terbutalin 10 mg dengan inhalasi nebolisasi dapat diulang setiap 20 menit dalam 1 jam . • • • Aminofilin bolus IV 5-6 mg per kg berat badan.25 mg atau Salbutamol 0.2. subcutan. Kortikosteroid sistemik Asma kronik Desenitasi alergen : Teofilin 800-1200 mg per hari (oral) : Terbutalin 2.

. Tergantung dari bagian janin yang terendah. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan fisik : 1. POSISI DAN PRESENTASI JANIN 11. Letak bokong murni : Frank Breech. Mardiah Tahir. SpOG BATASAN : (1. dapat dibedakan : 1. Syahrir Muhammad. Anamnesis akan didapatkan gerakan anak dirasakan terutama dibagian bawah rahim. Leopold III bokong teraba dibagian bawah rahim Leopold IV menentukan bokong sudah masuk atau belum kedalam pintu atas panggul. sering merasakan adanya benda keras yang menekan tulang iga. dr. 2. A. disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna (Incomplete Breech = Footing Breech). Letak kaki Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut.1.2) Letak sungsang adalah letak janin yang memanjang dengan kepala terletak pada fundus uetri dan bokong menempati bagian bawah kavum uteri. Palpasi :Leopold I meraba adanya kepala pada fundus uteri Leopold II teraba punggung disatu sisi. KELAINAN LETAK. atau hanya teraba satu kaki atau lutut. Letak lutut 4. Letak bokong kaki : Complete Breech.2) Diagnosis letak sungsang biasanya tidak sulit. Disebut letak bokong kaki sempurna bila disamping bokong teraba kedua kaki dan letak bokong kaki tidak sempurna bila disamping bokong teraba satu kaki saja.176 11. yakni bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus keatas. yakni disamping bokong teraba kaki. bagian-bagian kecil disisi lain. adanya perasaan berat didaerah epigastrium. LETAK SUNGSANG DAN PENATALAKSANAANNYA dr. ETIOLOGI : (1. 3.

Auskultasi : Bunyi jantung janin umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pusat. . menentukan kemungkinan adanya kelainan bawaan anak ( hidrosefalus / anensefalus ). bentuk pelvik ginekoid atau antropoid dan pernah melahirkan bayi letak sungsang dengan berat badan lebih dari 3175 gram atau letak kepala dengan berat badan lebih dari 3630 gram. Bila versi luar gagal. volume cairan amnion. usia kehamilan dan lain-lain. Dalam persalinan (1. menentukan letak plasenta. Pada nullipara versi luar dilakukan pada umur kehamilan 34-36 minggu. Apabila ada dugaan hiperekstensi kepala janin yang tidak jelas dilihat dengan ultrasonografi serta dugaan disproporsi fetopelvik. dilakukan pemeriksaan radiologi. lilitan tali pusat dan kedudukan kepala apakah hiperektensi atau tidak . sedangkan pada multipara dilakukan pada umur kehamilan 36-38 minggu. Bila syarat-syarat versi luar dipenuhi dan tidak ada indikasi kontra versi luar. PENATALAKSANAAN : A. mendatar dan dilatasi lebih dari 3 cm. lokasi plasenta. konfirmasi menentukan secara akurat ukuran dan bentuk panggul.177 2. dapat dilakukan versi luar 1-2 minggu kemudian. bila tidak ada komplikasi pada janin. kehamilan ganda. serviks lunak. prakiraan berat badan 2500-3175 gram. Radiologi (bila perlu) : Menentukan posisi tungkai bawah. ada tidaknya cacat bawaan janin. Versi luar dilakukan dengan hati-hati tanpa anestesi. Setelah versi luar dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan Fetal Heart Monitoring. Periksa dalam vagina : pada pasien inpartu terutama bila ketuban sudah pecah dapat teraba bagian terendah janin yaitu bokong. USG : Diperlukan untuk konfirmasi letak janin apabila pemeriksaan fisik tidak jelas. B. Dalam kehamilan (1) Dalam kehamilan sedapat mungkin dilakukan versi luar menjadi letak kepala. letak janin. 5. kaki atau lutut 4. menentukan kemungkinan adanya cacat bawaan. menaksir berat badan janin.3) Beberapa kriteria yang dipakai dalam mempertimbangkan persalinan pervaginam adalah : Umur kehamilan aterm. 3. taksiran berat badan janin. stasi -1 atau lebih rendah. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menilai ukuran biparietal.

CARA-CARA PERSALINAN PADA LETAK SUNGSANG : . oleh karena itu fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat harus dilonggarkan. Disebut fase lambat karena hanya untuk melahirkan bokong yaitu bagian janin yang tidak berbahaya.5 cm. tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. Disebut fase lambat karena kepala akan keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang bertekanan rendah. Selama turunnya janin tidak terganggu dan tidak ada tanda-tanda janin dalam bahaya. prematur (< 37 minggu). mulai lahirnya pusar sampai lahirnya mulut. mulai lahirnya mulut sampai kepala lahir. adanya disprorsi. Dalam persalinan pervaginam sedapat mungkin dilakukan dengan cara Bracht. Tahap III : Fase lambat. Pada dasarnya Oxytocin drips pada letak sungsang tidak dianjurkan. Pada perkiraan anak besar dan primigravida dapat dipertimbangkan ekstraksi parsial terutama dengan cara Klasik atau Muller. prakiraan berat badan janin lebih dari 3500 gram atau kurang dari 2000 gram. ketuban). presentasi kaki. 2. bokong belum masuk panggul pada akhir kehamilan pada nullipara. sehingga kepala harus dilahirkan secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra kranial (adanya ruptura tentorium serebelli). dilakukan ekstraksi total.178 Selama persalinan dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan Fetal Heart Monitoring (FHM). oleh karena deteksi kemungkinan adanya CPD/FPD sulit. prolapsus funnikulidan ibu dengan penyakit jantung atau paru yang tidak memungkinkan ibu mengedan. 3. Pada partus lama kala II. Untuk melahirkan kepala dipakai cara Mauriceau. yang bila ada kelainan dapat dipertimbangkan melakukan persalinan perabdominam dengan segera. Dikenal ada 3 tahp dalam menolong persalinan letak sungsang yaitu : 1. Sedang indikasi melakukan persalinan perabdominal adalah : primigravida tua. Disebut fase cepat karena fase ini kepala janin sudah masuk PAP sehingga kemungkinan tali pusat terjepit. mulai dari lahirnya bokong sampai pusar (skapula depan). kepala hiperekstensi. Tahap II : Fase cepat. preeklampsia berat dan eklampsia. ketuban pecah lebih dari 12 jam. yang bila tidak berhasil dipakai cara Lovset. Menolong kelahiran janin dalam letak sungsang memerlukan kesabaran. bokong belum masuk panggul pada inpartu multipara. indeks Zatuchni Andros 0-3 dan prolapsus funikuli disertai gawat janin. nilai sosial janin yang tinggi atau infertilitas. riwayat persalinan yang buruk. diameter biparietal > 9. plasenta previa. bila tidak berhasil digunakan cunam Piper. Tahap I : Fase lambat.

b. letak sungsang memberikan resiko yang lebih tinggi bagi ibu maupun anak. terdiri dari : Ekstraksi bokong & Ekstraksi kaki. kelainan kongenital dan trauma persalinan. termasuk seksio sesar pada letak sungsang yang menetap. bila gagal  pakai cunam Piper Ekstraksi total. Penyebab utama kematian perinatal adalah persalinan prematur.2) Bila dibandingkan dengan letak kepala. Perabdominam : bila ada indikasi  lihat skema penatalaksanaan letak sungsang. organ visera serta kerusakan pada pleksus brachialis dan trauma pada medulla spinalis servikalis dapat terjadi baik pada persalinan pervaginam maupun perabdominal. . Prognosis untuk janin letak sungsang lebih buruk dibandingkan dengan letak kepala. Pervaginam : • • • • • Bracht Ekstraksi parsial (melahirkan bahu).179 a. Morbiditas ibu meningkat disertai sedikit peningkatan mortalitas oleh karena tindakan persalinan operatif. Kerusakan pada otot. jaringan lunak. terdiri dari : Klasik (Deventer) & Muller Lovset (bila melhirkan bahu secara ekstraksi parsial gagal) Mauriceau (melahirkan kepala). PROGNOSIS : (1.

PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG PADA KEHAMILAN TUNGGAL

199

DALAM KEHAMILAN VL

DALAM PERSALINAN DITENTUKAN UMUR KEHAMILAN PREMATUR ATERM

Hasil pemeriksaan USG
BERHASIL Versi dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI TIMBU KOMPLIKASI TIDAK BERHASIL Versi tidak dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI HIPEREKSTENSI KEPALA FLEKSI KEPALA Dilahirkan pervaginal bila : panggul normal kemajuan persalinan baik pernah melahirkan bayi let su dengan BB>3175 gr atau let kep > 3630 gr BAYI BESAR >.3500 gr) BAYI KECIL <2000 GR) BERAT NORMAL 2000-3500 gr

DJA tetap baik pada 3 kali pemeriksaan dgn interval 5’ PARTUS LETAK KEPALA

sulusio plasenta ketuban pecah gawat janin (DJA > 160/m’, tidak teratur VL DICOBA SEKALI LAGI

Seksio sesar bila : FPD persalinan terhenti gawat janin Ketuban pecah 12 jam

MRS UNTUK OBSERVASI

SEKSIO SESAR Solusio plasenta tetap gawat janin ketuban pecah lebih 12 jam pada kehamilan aterm

KEHAMILAN DIPERTAHANKAN DJA anak bertambah baik ketuban pecah pada prematur dirawat sebagai ketuban pecah dini

SEKSIO SESAR Tindakan seksio sesar primer dilakukan pada kasus : nulipara tua riwayat infertilitas riwayat persalinan yang buruk (anak mati/sakkit akibat proses persalinan Stasi bokong tinggi atau belum masuk panggul pada impartu plasenta previa prolapsus funikuli dengan gawat janin

PERSALINAN PERVAGINAL KLASIK MULLER

CARA BRACHT prakiraan anak kecil CARA LOVSET Cara klasik & muller gagal

EKSTRAKSI PARSIAL

EKSTRAKSI TOTAL - partus lama kala II - preeklampsia/eklampsia - prolapsus funikuli - ibu dengan penyakit jantung/paru-paru

nulipara cara Bracht gagal VL tidak berhasil

Catatan/alat yang disiapkan : Sebaiknya semua kasus dilakukan Fetal Heart Monitoring Cunam Piper, alat resusitusi dan tabung oksigen harus disiapkan. Episiotomi dilakukan pada waktu bokong membuka vulva, dan kerjakan secara rutin Pada kepala menyusul dan anak sudah mati, dilakukan embriotomi bila tidak dapat dilahirkan dengan cara Maureceau

CARA MAURICEAU EKSTRAKSI CUNAM (CUNAM PIPER) - Cara Mauriceau gagal

EKSTRAKSI BOKONG (EXVAKUM) - Letak bokong kani - letak bokong murni

EKSTRAKSI KAKI - Letak kaki

11.2. LETAK LINTANG dr. Nursanty AP., dr. H.M.Maramis Palisuri, SpOG BATASAN : Letak lintang adalah suatu keadaan dimana sumbu memanjang tubuh anak tegak lurus dengan sumbu memanjang tubuh ibu. Janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu dan bokong pada sisi yang lain. (l,2,3,4,5) Posisi kepala menunjukkan kiri atau kanan sedangkan punggung janin terletak didepan (dorso anterior), dibelakang (dorso posterior), diatas (dorso superior) atau dibawah (dorso inferior). (l,4) ETIOLOGI : Penyebab utama letak lintang adalah : (l,2,3,4,5,6) 1. Multiparitas akibat dari relaksasi berlebihan dinding abdomen . 2. Prematur. 3. Hidramnion. 4. Plasenta previa 5. Uterus abnormal. 6. Panggul sempit. 7. Kehamilan kembar. DIAGNOSIS : Ditegakkan berdasarkan : Pemeriksaan fisis. Inspeksi : Abdomen melebar kesamping dan fundus uteri membentang sedikit diatas umbilikus. (3,4,5) Palpasi : Fundus uteri kosong, kepala janin berada disamping, dan diatas simpisis kosong, kecuali bahu sudah turun kedalam panggul, denyut jantung janin ditemukan disekitar umbilikus.
(3,4)

Pada pembukaan lengkap

ketuban sudah pecah, apabila bahu sudah masuk kedalam panggul, pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahu dan tulang-tulang iga. Punggung dapat ditentukan dengan terabanya skapula kadang-kadang dapat diraba

201 tali pusat yang menumbung.(3,4,5) Dapat pula teraba tangan, bila teraba tangan hendaknya ditentukan tangan kanan atau kiri, untuk menentukan posisi janin dalam uterus. Tangan kanan cocok untuk berjabatan dengan jari pemeriksa. (5,6) Pemeriksaan penunjang : Dengan pemeriksaan radiologis dan ultrasonografi. (6) PENANGANAN : Pada kehamilan : Sebaiknya mengubah menjadi presentasi kepala atau menjadi presentasi bokong dengan cara versi luar. Pada persalinan : ⇒ Pervaginam : • Konduplikasio korpore atau dengan evolusio spontan bila janin kecil, sudah mati, dan menjadi lembek (3,4) • Versi ekstraksi : pada kehamilan kembar setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua dalam letak lintang. • Embriotomi : pada janin mati. ⇒ Seksio sesarea : pada janin hidup . (l,2,3,4) KOMPLIKASI : • Ruptur uteri spontan • Ruptur traumatik . (2,3,5) PROGNOSIS : Janin letak lintang berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Kebanyakan kematian pada bayi dan ibu akibat komplikasi.(3)
(2,3,4,5)

Cornelia ST. SpOG BATASAN : Letak majemul adalah satu ekstremitas menumbung (prolapsus) disamping bagian terendah dan turun dalam rongga panggul bersama-sama. Bila teraba bokong maka yang didapatkan yaitu tangan atau lengan.202 8. 2.(1) Presentasi bokong kaki dan presentasi bahu tidak dimasukkan kedalam golongan ini.3. Tungkai bawah (tungkai-kaki) salah satu atau kedua-duanya. Semua kombinasi diatas dapat disertai komplikasi tali pusat yang menumbung dan ini merupakan masalah yang penting dalam hal prognosis.4) Presentasi letak janin meliputi semua keadaan menghalangi pengisian dan penutupan pintu atas panggul sepenuhnya oleh bagian terendah janin.3. b.(1) 1. Presentasi kepala dengan bagian yang menumbung berupa : a. .3) ETIOLOGI : (1. Presentasi bokong dengan tangan atau lengan yang menumbung. (1) Klasifikasi. DIAGNOSIS : Pada pemeriksaan dalam vagina teraba kepala dengan satu ekstremitas (tungkai atas. serta menghalangi putaran paksi dalam. Pada letak majemuk dapat juga disertai penumbungan tali pusat.(1. Telly Tessy. atau kedua lengan dan kaki bersamaan). c. Penyulit : Kemungkinan terhambatnya kemajuan persalinan lebih besar. tungkai bawah.. Tungkai atas (lengan-tangan) salah satu atau kedua-duanya. LETAK MEJEMUK dr.2. Lengan dan kaki bersama-sama. dr.

Selanjutnya penanganan letak majemuk dengan komplikasi penumbungan tali pusat dibagi berdasarkan klasifikasi yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 2). KOMPLIKASI : . Kalau kepala sudah jauh masuk kedalam rongga panggul. Dengan komplikasi penumbungan tali pusat. Tanpa komplikasi. maka persalinan diselesaikan dengan forceps. Penumbungan tali pusat adalah keadaan tali pusat ada disamping atau dibawah bagian terbawah janin(1). Selanjutnya penanganan letak majemuk tanpa komplikasi dibagi berdasarkan klasifikasinya yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 1).203 PENATALAKSANAAN : A. tetapi lengan yang menumbung baiknya direposisi kalau pembukaan sudah lengkap. B. Sedangkan pada tangan yang menumbung. kalau terjadi gangguan putaran paksi dapat diselesaikan dengan ekstraksi forceps dengan memasang sendok forceps antara tangan yang menumbung dan kepala anak (3). Pada 13 sampai 23 persen kasus presentasi majemuk ada komplikasi tali pusat menumbung. Pada kebanyakan kasus setelah pembukaan menjadi lengkap dan bagian terbawah turun. Jadi selama persalinan maju tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa(1). lengan dan kaki yang menumbung naik keluar dari panggul sehingga memungkinkan persalinan berjalan normal. Kaki yang menumbung disamping kepala baiknya direposisi(3). Ini kemudian menjadi masalah yang besar dan penting sehingga penanganannya ditujukan terutama pada tali pusat yang menumbung(1).(3) Kalau reposisi tidak berhasil dan kepala tidak mau turun dilakukan seksio sesarea(3). reposisi tidak mungkin lagi. karena dapat menghalangi turunnya kepala(3). Penekanan tali pusat antara bagian terbawah janin dengan panggul ibu mengurangi atau menghentikan aliran darah kejanin dan bila tidak dikoreksi akan menyebabkan kematian janin(1). tidak menghalangi persalinan spontan jadi baiknya dibiarkan. Penanganan paling baik untuk letak majemuk (tanpa komplikasi seperti tali pusat menumbung) adalah menunggu dengan penuh perhatian(1).

PROGNOSIS : Dengan penanganan konservatif hasilnya tidak harus lebih jelek dibanding dengan presentasi-presentasi lainnya(1). .204 Penumbungan tali pusat(1).

205 SKEMA PENALAKSANAAN LETAK MAJEMUK LETAK MAJEMUK PRESENTASI KEPALA Observasi kemajuan persalinan PRESENTASI BOKONG Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Reposisi penumbangan Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan DJA (+) DJA (-) Ekstraksi total Seksio sesarea BERHASIL TIDAK BERHASIL Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea DJA (+) DJA (-) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) Ekstraksi vakum PARTUS PERVAGINUM Ekstraksi forsipal Seksio sesarea Ekstraksi vakum Ekstraksi forsipal Seksio sesarea PARTUS PERVAGINUM .

206 LETAK MAJEMUK DJA (+) DJA (-) Presentasi Kepala Reposisi tali pusat posisi Trendelenburg Presentasi Bokong Observasi kemajuan persalinan Presentasi Kepala Presentasi Bokong Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ekstraksi vakum Ekstraksi Forsipal Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea Ekstraksi total Seksio sesarea Seksio sesarea Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Seksio sesarea PARTUS PERVAGINAM Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) .

3) a.207 11. Partus pervaginam berupa : • • • • • • Persalinan spontan Persalinan dengan forseps Rotasi forseps Rotasi manual Ekstraksi vakum Tindakan episiotomi (bila perlu) .2. Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara. (1. Benyamin Rapa.2) ETIOLOGI : (1.3) • Pemeriksaan dalam vagina : Putaran paksi terhalang atau tidak terjadi pada saat penurunan kepala berada pada Hodge III/Hodge IV.2. Angka kejadian adalah 10 % dari seluruh posisi oksiput posterior. Maggie Wewengkang.3. POSISI OKSIPUT POSTERIOR PERSISTEN dr. PENATALAKSANAAN : (1.2.4) • Panggul anthropoid • Panggul android • Kesempatan panggul tengah • Ketuban pecah sebelum waktunya • Fleksi kepala kurang • Inersia uteri • Arkus pubis sangat luas DIAGNOSIS : (1.4. SpOG BATASAN : Posisi oksiput posterior persisten adalah : suatu keadaan letak belakang kepala dengan posisi oksiput posterior dimana tidak terjadi putaran paksi. dr.

Waverly Press. 1990 : 378-91. Distosia karena kelainan janin. Distosia karena kelainan pada presentase. Distosia karena kelainan presentase. 403-21 2. 4. Obstetri patologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Elstar Offset. Jakarta. presentation and position in : Principles of obstetrics. posisi atau kelainan janin. Gant NF.A. Ronald M. Penerbit buku kedokteran EGC. posisi atau perkembangan janin. Seksio sesar : bila gagal partus pervaginam KEPUSTAKAAN : 1.208 b. Mac Donald PC. 1994 : 160-69 3. Jakarta.S. 1982 : 262-64. Edisi 18 (Bahasa Indonesia). Dalam : Rohardi Dh. Dalam : Obstetri patologi UNPAD. . Sastrawinata S. Cunningham F. Bandung.D Abnormal lies. Caplan M. Dalam : Sinopsis obstetri. Baltimore U. Mochtar R. Obstetri Williams.

L. tumor pada leher depan. A.000 kelahiran bayi tunggal di RS Parkland dalam tahun 19831986.2 % (2. masingmasing melaporkan 0. hidrosefalus.209 11.2. SpOG BATASAN : Presentasi muka adalah kepala janin terdapat dalam keadaan defleksi maksimal sehingga aksiput tertekan pada punggung dan muka menghadap kebawah.5. H.3) • • • • • • • • • • Grandemultipara Anomali kongenital (anensefalus.17 % (2) Sarwono Prawirodihardjo 1948) di RSCM melaporkan 0. 41 kelahiran atau 1 : 1200 adalah kelahiran dengan presentasi muka (2)+ ETIOLOGI : (1.3) Dari hampir 50. (1) INSIDEN : • • • • Cruikshank & white (1973) melaporkan 1 : 600 kelahiran atau 0. dr. PRESENTASI MUKA dr. dls) Prematuritas Disproporsi Sefalopelvik Usia Tumor pelvik Polihidramnion Kehamilan ganda Plasenta previa Makrosomia DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan : .1 % Lembaga Statistik Obstetri & Pernoll M. Mardiah Tahir. Habar Garu.

hidung. bagian kepala menonjol yakni belakang kepala terdapat disebelah yang bertentangan dengan letak dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas (1. Kepala bayi dalam posisi hiperekstensi & tulang muka berada pada atau sudah dibawah pintu atas panggul merupakan gambaran yang cukup khas (2. disamping itu muka tidak dapat melakukakan dilatasi serviks dengan sempurna • • Prognosis letak mento posterior kurang baik bila dibandingkan dengan letak mento anterior karena sulit lahir pervaginam Angka kematian janin adalah 2.3). pada kasus panggul sempit dan anak besar daapat menimbulkan kesulitas. tulang pipi dan sebagian tulang orbita.3) • Pemeriksaan penunjang : Radiologi. partus macet/lama. Hati-hati karena dapat keliru membedakan dengan letak bokong (1. • Pemeriksaan dalam v agina.5 .210 • Pemeriksaan Fisi (Leopaold).5 % . muka dapat diidentifikasi dengan meraba mulut.3) PENATALAKSANAAN • Persalinan pervaginam : bila tidak ada penyempitan panggul persalinan spontan dapat diharapkan bila dagu berada didepan dengan syarat kepala belum jauh masuk kedalam panggul dan masih mudah didorong ke atas (1) Persalinan pervaginam juga dapat berlangsung spontan bila anak kecil dan tidak ada disproporsi sefalopelvik (1) • Persalinan perabdominam (seksio sesar) bila ada kesempitan panggul. dan posisi mento posterior yang tidak dapat lagi dikoreksi (1) PROGNOSIS : (1) • Pada umumnya persalinan berjalan tanpa kesulitan.

NF Gant. II. Sarwono Prawirodihardjo. Pernoll ML. 18. FG Cunningham. 1991. 1995. Ilmu Kebidanan. Ed. cetakan I (Edisi Bahasa Indonesia). Herrera E. Hal. 1981. 548-53 2.211 KEPUSTAKAAN : 1. “ Complications of labor & Delivery”. 493-501 SKEMA PENATALAKSANAAN PRESENTASI MUKA PRESETASI MUKA MENTO ARTERIOR MENTO POSTERIOR BERHASI L VERSI TIDAK BERHASIL PERABDOMINAM Bila : CPD/FPD Panggul sempit Anak bernilai sosial tinggi Partus macet/lama PERVAGINAM PERABDOMINAM PERVAGINAM Bila : Bila : Panggul normal Panggul sempit Bila : Anak CPD/FPD Anak kecil diperkirakan Anak bernilai Multipara dapat lahir sosial tinggi Panggul pervaginam Partus normal Multipara macet/lama . 7th Ed. Hal. PC Mac Donal. In : Current Obstetric Gynecologic Diagnosis & Threatment. 412-5 3. A Lange Medical Book. Ed. Obstetri Williams.

212 8.E.1.panggul sempit. dr.2.(4) . H. Pada dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas.1 ETIOLOGI : • • Dari ibu: Multipara.4 DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan: • Pemeriksaan fisis (Leopold).tumor dileher bagian depan.3. pada ujung yang satu diraba ubun .6.(1.2. sama seperti presentasi muka tetapi bagian belakang kepala tidak seberapa menonjol dan terdapat disebelah yang berlawanan dengan dada.perut gantung. Rudianto HP. tumor . berada diatas pintu atas panggul. • Pemeriksaan dalam vagina dapat diraba sutura frontalis yang bila diikuti. plasenta previa.4) • Ultrasonografi : untuk menemukan etiologi dari janin.R Moeljono.4 ) Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara dan sebagian besar akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala. SpOG BATASAN : Presentasi dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga bagian kepala bayi diantara lengkungan orbita dan fontanel anterior.(1. Angka kejadian letak dahi kurang lebih satu diantara 400 persalinan. yang menimbulkan kecuriga an adanya presentasi dahi.ubun besar dan pada ujung yang lain teraba pangkal hidung dan lengkungan orbita. anensefali. PRESENTASI DAHI dr. polihidramnion Dari janin : Janin besar.2.

kecuali bayi kecil dan panggul yang luas.213 PENATALAKSANAAN : Persalinan pervaginam bila : • • Janin kecil dan panggul yang luas Presentasi berubah menjadi presentasi muka (lihat penatalaksanaan presentasi muka) atau belakang Seksio sesar bila : • • • kepala.(2.3) PROGNOSIS : Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal tidak dapat lahir pervaginam. Janin dan ukuran panggul normal Akhir kala I kepala belum masuk PAP Kala II tidak mengalami kemajuan walaupun kepala sudah masuk rongga panggul. (1.2) .

Danforth’s Obstetrics and Gynecology. Lippincot Company. 1990. Yayasan Bina Pustaka. Brow presentation. Sixth Edition.214 KEPUSTAKAAN : 1. In: Scott JR. Spellacy WN. 415 -16 2. Obstetri Williams. Mac Donald PC. Edisi 3 . Penerbit Buku Kedokteran EGC.B. J. 1995. Brow presentation. Lippincott Company. J. .B. Dalam : Ronardy Dh. Philadelphia. Fields DH. Fields DH. Gant NF. Cunningham FG. 602-06 3. Third Edition. In : Barber HK. Cruikshank DP. Edisi 18 ( Bahasa Indonesia ). Hammond CB. Philadelphia.Gyn Procedure. Disaia PJ. Kaufman SA. Jakarta. Rachimhadi T.139 4. Martohoesoedo. 1991. 1990. Abadi A. Quick Reference To Ob . Presentasi dahi . Ilmu Kebidanan. Dalam : Wiknyosastro H. Presentasi dahi. 578 -79. Saifuddin AB. Jakarta.

contoh : amniosentesis. bila fundus uteri ditekan atau digerakkan pemeriksaan mikroskopis. (1. (1. (4. Cornelia.2.3. USG.8.5.3. KETUBAN PECAH DINI dr.4.9) 2.7. Inspekulo keluar cairan dari OUE. Peningkatan tekanan intrauterina. Telly Tessy.8. 1. (1) ETIOLOGI : Belum diketahui dengan pasti (1. Keluarnya cairan jernih dari vagina. Contoh : TORCH.9) 4. Kelainan letak atau presentasi janin. contoh : korioamnionitis (1.9) Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya KPD adalah : a.215 12.2.6.9) e. Leukosit dan suhu badan (37.8. (1.5.9) b.8.6. Pemeriksaan Penunjang. Pemeriksaan laboratorium. ST. contoh : kehamilan ganda dan hydramnion.9) 4.9) DIAGNOSIS : 1.7. dll.5° C) untuk menilai adanya infeksi (leukositosis).8.9) 3.7.4.4.9) 2. (6. dr.2. PDV : ketuban negatif.5. Inkompeten serviks. (8. Adanya perubahan kertas lakmus merah ( nitrazim merah ) jadi biru.9) 3. SpOG BATASAN : Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban pada setiap saat sebelum permulaan persalinan tanpa memandang apakah pecahnya selaput ketuban terjadi pada kehamilan 24 minggu atau 44 minggu. Pemantauan kesejahteraan janin.7) d. pemeriksaan panggul atau koitus.5.(2.9) PENATALAKSANAAN : (9) .5) c.5. Infeksi.5. (6. (5.2. (7. (1. Trauma.

f.9) • • • • Kelahiran prematur Infeksi janin Deformitas janin. letak lintang dan lain-lain). Induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan induksi dan masingmasing letak janin). kecuali bila sudah ada tanda-tanda persalinan. g. lihat penatalaksanaan persalinan prematur. Jangan melakukan PDV. d. (3. bila pelepasan air berlangsung terus dilakukan terminasi kehamilan. Konservatif : a. Rawat dirumah sakit. h. Janin (3. Pemberian tokolitik (bila ada konstraksi uterus) dan pemberian kortikosteroid (pematangan fungsi paru janin). sepsis dan kematian.7. tirah baring. letak sungsang. KOMPLIKASI : 1. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin. b. 2. .216 1. Seksio histerektomi bila ditemukan tanda-tanda infeksi uterus yang berat. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. Kematian janin. Bila ada tanda-tanda infeksi. dan ditemukan tanda-tanda inpartu. Aktif : Bila didapatkan infeksi berat diberikan antibiotik dosis tinggi. Seksiosesaria dilakukan bila gagal induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan masing-masing dari letak janin yaitu letak kepala. c. gawat janin maka dilakukan terminasi kehamilan . b. c. Bila dalam tiga kali 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada konstraksi uterus maka dilakukan mobilisasi bertahap.7.9) 2. infeksi dan gawat janin dilakukan terminasi kehamilan : a. e. Antibiotik profilaksis adalah Amoxycillin 3x500 mg (5 hari). Ibu : Infeksi.

217 .

1990 . Premature rupture of membranes. eds. eds. 1994 . 2nd ed. 1990 . Brenner PF. Surabaya : Airlangga University Press. 1986 . Bagian I. 170-1 7. Philadelphia : JB Lippincott Company. Fields DH. Management of common problems in obstetrics and gynecology. 4. Disaia PJ. 353 .63 6th ed. Spellacy WN. Friedman EA. Jakarta : Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Edisi 17. Penatalaksanaan ketuban pecah dini. In: Barber HRK. Philadelphia : JB Lippincott Company. Premature rupture of the membranes. . eds. In: Mishell DR. Premature rupture of membranes. Medica. MacDonald PC. 108 . eds. 592-602 Ilmu kebidanan : patologi dan fisiologi persalinan (terjemahan dalam bahasa Indonesia dan editor ahli M. Kaufman SA. 1987 . Muhammad S dan Manuputty J. Philadelphia : BC Decker Inc. Danforth’s obstetrics and gynecology. Yayasan Essentia 8. Boston : Blackwell Scientific Publications. Sachs BP. In. Hakimi). Abnormalities of fetal growth and development concerning both antepartum and intrapartum care. Fields DH. 3rd ed. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. eds. 39-40 Tessy T dan Garu H. In: Scott JR. Oxorn H.Ujung Pandang (masih dalam proses penyelesaian) 9.Forte WR. Pengelolaan ketuban pecah dini. Acker DB. eds. Gant NF. 119-32 6.218 KEPUSTAKAAN : 1. Hammond CB . 5 : 62-4 Garite TJ. Borten M. Utama H. Pritchard JA. R Prajitno P. 3rd ed.Hariadi. Artal R. 3. Obstetrical decision making. Sura N. 1991 . 1990 . Soedarto).15 5. Saifuddin AB. Quick reference to OB-GYN procedures. Majalah Dokter Keluarga. Obstetri Williams (terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh R. 1991 : 880-3 2. Laboratorium Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.

Leukosit LETAK KEPALA MASA LATEN > 6 JAM INDUKSI/ AKSELERASI LETAK LINTANG LETAK SUNGSANG GAWAT JANIN BERHASIL GAGAL PARTUS PERVAGINAM GAGAL EKSTRAKSI VAKUM EKSTRAKSI FORSIPAL SEKSI SESAREA .219 KPD Kehamilan ≥ 37 minggu AKTIF DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab.

220 KPD Kehamilan 20 .< 37 mgg DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab. Leukosit INPARTU INFEKSI GAWAT JANIN Bila selama observasi ditemukan tandatanda ini AKTIF TIDAK INPARTU TIDAK INFEKSI TIDAK GAWAT JANIN KONSERVATIF Cairan ketuban keluar terus (Pemeriksaan USG) Cairan ketuban tidak keluar lagi Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Mobilisasi/ berobat jalan Bila cairan ketuban tidak keluar lagi diobservasi Bila cairan ketuban keluar lagi dikonservatif Kehamilan ≥ 37 mgg .

Kesempitan panggul menyeluruh : kesempitan meliputi semua bagian jalan lahir Kesempitan panggul yang jarang : pelvis kifosis.5 cm (biasanya 10.2) KLASIFIKASI : Panggul sempit dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1. PANGGUL SEMPIT dr.(1) Ultrasonografi : mengukur diameter biparietal janin. atau diameter interspinalis kurang dari 10 cm. Yusuf Manga.(1. Kesempitan pada panggul tengah : bila jumlah diameter interspinalis ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah kurang dari 13.(3) PEMERIKSAAN PENUNJANG : Tes Muller.2) Kesempitan pada pintu atas panggul : apabila diameter antero-posterior kurang dari 10 cm (conjugata diagonalis kurang dari 11.221 13. Maramis Palisuri.5 cm).3) . kiforakitis. (1.5 + 5 cm).(1) DIAGNOSIS : Pelvimetri : pemeriksaan dalam dengan tangan. dr. sehingga dapat menyebabkan distosia pada persalinan. H. kifoskoliosis dan pelvis kifosskoliorakitis. atau jika diameter transversal kurang dari 12 cm. Kesempitan pada pintu bawah panggul : berkurangnya diameter intertuberosum menjadi 8 cm atau kurang dari 10 cm. SpOG BATASAN : Panggul sempit adalah setiap kelainan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul.

2) : Episiotomi mediolateralis yang luas. Connecticut. Gant NF. Appleton & Lange. In: Basic Gynecology and Obstetrics. dilakukan setelah diameter biparietal janin telah melalui penyempitan panggul.222 PENANGANAN : Kesempitan pada pintu atas panggul Kesempitan panggul tengah : Seksio sesar. (4) : Kraniotomi dan kranioklasik. Dystocia due to pelvic contaction. In: William Obstetric. 20th ed. (1. Appleton & Lange. Cunningham F. perubahan pada kulit kepala janin dan tulang kepala. Ed. MacDonald PC. Distosia karena kelainan panggul.(3) KEPUSTAKAAN : 1. 18th ed. Mac Donald PC. 1997: 461-72 2. Cunningham F. Edisi Ke-3. (1. Ilmu kebidanan. Connecticut. 1993: 370-1 3. Wiknjosastro H. Appleton and Lange. Gant NF. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Dystocia due to Pelvic Contaction. (4) Kesempitan pada pintu bawah panggul Pada bayi yang sudah mati KOMPLIKASI : Pada ibu Pada bayi : Ruptur uteri. Dystocia due to pelvic contaction. prolapsus funikuli. Cunnigham F. 1991: 637-48 4.2) : Infeksi intrapartum. 19th ed. Gant NF. (1. fistula. infeksi intrapartum.2) : Ekstraksi vakum. Dalam Wiknjosastro H. 1989: 377-83 . Connecticut. Saifuddin AB. In: Williams Obstetric. Rachimhadhi T.

4) 1. yang juga menyebabkan kematian anak meninggi 3. tapi tidak adekuat 2. salah pimpinan persalinan. 2. ETIOLOGI : (1. dengan tanda-tanda : nadi & suhu meningkat.. Intersia uteri hipertoni (disfungsi uteri hipertonik/disfungsi uteri inkordinasi) : kontraksi uterus tidak terkordinasi. kuat tapi tidak adekuat. KTG : 3 kali kontraksi/10 menit. Inersia dapat menyebabkan kematian atau jejas kelahiran 2. gemeli. KELAINAN HIS dr. SpOG BATASAN : • Kelainan His adalah suatu (1. Kelelahan ibu dan dehidrasi. Inersia uteri hipotoni : panggul sempit. PENYULIT : (3) 1.2. turgor berkurang.60 mmHg.4) 1. yaitu : (3) • • Klinis : 3 kali kontraksi/10 menit. Josephine LT. Intersia uteri hipotoni (disfungsi uteri hipotoni) : kontraksi uterus terkordinasi. lamanya 40 . .60 detik. sifatnya kuat. dengan tekanan intrauterin 40 . hidramnion. perasaan takut dari ibu. penggunaan analgesi terlalu cepat. kelainan letak kepala. Frits Rumintjap dr.2) keadaan dimana his tidak normal baik dalam kekuatan maupun dalam sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. Inersia uteri hipertoni : pemberian oksitosin berlebihan.3. Kemungkinan infeksi bertambah. • His normal/adekuat : his persalinan yang menyebabkan kemajuan persalinan. lamanya 40-60 detik. pernafasan cepat . meteorismus dan asetonuri. KLASIFIKASI : (3.223 14.

.G PENATALAKSANAAN : (1.4) 1. Prentice-hall international inc. Inersia uteri hipotoni : jika ketuban masih ada. Distosia karena kelainan tenaga. untuk mencegah timbulnya gejala-gejala/penyulit diatas.T.S. Pedoman diagnosis dan terapi obstetri dan ginekologi RSUP Dr. Jakarta. Jakarta. .4) 1. 4. Martohoesodo S. Obstetri patologi. Inersia uteri hipertoni : (lihat bab resusitasi intra-uterin).2.3. Yayasan Bina pustaka. Kelainan dalam persalinan. 1997 : 415-32. 1996 : 107-09. 1989 : 347-51 2. I . 2. K. Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. KEPUSTAKAAN : 1. U. Dalam : Ilmu kebidanan. USA. Bandung. Abnormal labour.G 2. Mochtar R. dilakukan amniotomi dan tetesan oksitosin (kecuali pada panggul sempit : seksio-sesar). Hasan Sadikin.224 PEMERIKSAAN PENUNJANG : (3. 1994 : 537-44 3. cetakan pertama. Bagian pertama (obstetri). Cunningham F G et al. Patologi persalinan dan penanganannya. Edisi 4. In : Williams obstetrics 20 th edition. Distosia karena his (Power). Penerbit buku kedokteran EGC. Dystocia Abnormalities of the expulsive forceps. edisi kedua. Dalam : Sinopsis obstetri. Obstetri fisiologi. Pemberian infus pada persalinan lebih lama dari 18 jam. 3.

Menurut robek tidaknya peritoneum. Bekas parut seksio sesar b. Ruptura bekas parut a. Ruptura spontan uterus normal a. (1) a. Disproporsi c. 2. Anomali janin (hidrosefalus).5) 1. Ruptura uteri komplit : semua lapisan dinding rahim robek b.225 15. Ruptura uteri komplit : kalau peritoneum masih utuh 2. RUPTURA UTERI dr. Murah Manoe. IMS.(1) KLASIFIKASI : 1. yang dapat terjadi antepartum atau intrapartum. Ruptura uteri imminens (mengancam) b. Bekas parut bukan seksio sesar • • • • • • Miomektomi Histerorafi Reseksi kornu Akibat tindakan kuretase Plasenta perketa/akreta Metroplasti . e. Menurut gejala klinik : (3) a. Ruptura uteri FAKTOR PREDISPOSISI DAN ETIOLOGI : (3.4. Presentasi abnormal d. O. Penggunaan oksitosin yang tidak tepat. dr. Multiparitas b. Tjandra. SpOG BATASAN : Ruptura uteri ialah robeknya dinding uterus.

Perdarahan pervaginam 2. Pada suatu his yang kuat sekali. Denyut jantung janin ireguler l. Ruptura uteri imminens a. Kadang nyeri menjalar di tungkai bawah dan bahu e. Dapat terjadi krepitasi bila ada emfisema subkutan . Ligamentum rotundum teraba keras dan tegang h. Mengerang kesakitan pada setiap his d. Penderita gelisah. Muntah-muntah d. penderita kesakitan luas biasa. Palpasi a. Defance muskuler sampai meteorismus d. Pernafasan cepat dan dangkal c. Anemis f.226 • Penyakit trofoblastik invasif DIAGNOSIS : (2. keringat dingin dan tak sadarkan diri b. Tanda-tanda dehidrasi f. Nadi kecil dan cepat b. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya e. Ruptur uteri 1. ketakutan disertai perasaan nyeri di perut c. Anamnesa adanya faktor predisposisi / etiologi b. Nampak lingkaran bandl dan bertambah tinggi j. B.6) 1. Terdapat tanda-tanda dari obstruksi (edema jalan lahir) dan kaput janin yang besar. His makin lama makin kuat dan sering g. Perasaan mau sering kencing dan katetirasi ada hematuria k. Kontraksi uterus biasanya c. Segmen bawah rahim tipis dan nyeri tekan i. Anamnesis dan inspeksi a.

6.8) A. Auskultasi a. anemia dan infeksi b.227 e. Histerektomi baik total ataupun subtotal Dilakukan pada keadaan umum memungkinkan dan bila ada kolporeksis. Laparotomi. adanya parut uterus. Pemeriksaan dalam a.5. jari tangan dapat meraba usus atau bagian melalui robekan dinding uterus. Resusitasi a. Hematuri DIAGNOSIS DIFERENSIAL : (7) Akut abdomen pada kehamilan abdomen lanjut PEMERIKSAAN PENUNJANG : (7) Hb dan hematokrit darah PENANGANAN : (2. penyebab ruptur. Keputusan berdasarkan tempat ruptur. a. Kateterisasi a. Kalau rongga rahim sudah kosong. dapat dipilih antara memperbaiki kerusakan uterus atau histerektomi.3. Pada keadaan tertentu kompresi aorta dan pemberian oksitosin bisa membantu mengurangi perdarahan. luasnya robekan. 5. Kepala janin bila belum turun menjadi mudah dilepaskan dari pintu atas panggul f. Memperbaiki keadaan syok. . DJJ sulit atau tidak terdengar lagi 4. Uterus dapat teraba sebagai bola keras disamping bagian janin bila keluar dari kavum uteri 3. Kepala janin mudah didorong disertai banyak perdarahan pervaginam b. B. sifat robekan. Paralisis usus b. kondisi umum pasien dan keinginan untuk mengandung di kemudian hari. segera setelah diagnosis ditegakkan.

Histerorafia Dilakukan bila pinggir luka harus rata. Sepsis b. dilakukan pada luka bersih ruptura bekas parut dengan anak cukup.228 b. Syok irreversible . Histerorafia dengan ligasi tuba. Luka yang meluas ke kandung kencing dan vagina c. c. beraturan. tidak terlalu rapuh dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Hematoma pada daerah parametrium d. PENYULIT : (7) a.

Hartono A. 1983 : 436-42 6. Gant NF. Obstetri Williams. 1990 : 469-75 5. Jakarta . Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Text book of obstetrics. 1995 : 467-77 . Panitia Ilmiah POGI. Wibowo B. 1991 : 46-7. Saifuddin AB. Cunningham FG. Kapita selekta . Dalam : Wiknjosastro H. Saifuddin AB. Balai Penerbit FKUI. Oxorn H. Jakarta . New Central Book Agency.229 KEPSUTAKAAN : 1. {enerbit Buku Kedkteran EGC. Alih bahasa : Suyono J. Jakarta . Istilah obstetri dan Ginekologi. Yayasan Essentia Medica. Ilmu kebidanan : patologi & fisiologi persalinan. Ilmu kebidanan. 1973 2. Saifuddin AB. 1994 : 450-4 4. Rachimhadhi T. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Kedaruratan obstetri dan ginekologi. Mochtar R. Marsinto. Jakarta . Gunawan J. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 8. Martohoesodo S. Bagian I. Sinopsis obstetri. eds. Jilid I. MacDonald PC. Utama H. Bagian I. Jakarta . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Alih bahasa : Supriyadi T. Dutta DC. Calcuta . 1992 : 664-74 7. Taber B. Alih bahasa : Hakimi M. 1990 : 323-33 3. Perlukaan dan persitiwa lain pada persalinan.

Riwayat operasi konisai 10. Riwayat pielonefritis 4. Annas Budi. dr. Merokok lebih dari 10 batang / hari 5. atau antara 140 dan 259 hari. Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu 6. Kehamilan multipel 2. PERSALINAN PREMATUR dr. Riwayat abortus Trimester II 6. Iritabilitas uterus . Ny. atau keduanya. Perdarahan per vaginam setelah kehamilan 12 minggu 3. Serviks terbuka lebih dari 1 ccm pada kehamilan 32 minggu 5. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap. Anomali uterus 4. Mayor : 1. SpOG BATASAN : Persalinan prematur adalah persalinan pada usia kehamilan antar 20 dan 37 minggu penuh. Riwayat abortus Trimester I lebih dari 2 kali Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai : 1 atau lebih faktor risiko mayor . Penyakit yang disertai demam 2. atau 140 dan 259 hari (1). atau 2 atau lebih faktor risiko minor . Dibagi atas kriteria mayor dan minor untuk meramalkan terjadinya persalinan spontan. Riwayat persalinan prematur sebelumnya 8. Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali 7. Hidramnion 3. Kriteria diagnosis : 1. Faktor risiko : (1). Operasi abdominal pada kehamilan prematur 9. dihitung dari hari pertama haid terakhir (1).230 16. Suzanna S. Minor : 1. Pakasi.

6. 4. Kontraksi uterus yang reguler dengan interval kurang dari 10 menit dan lamanya kontraksi minimal 30 detik (2). untung dan adalah ruginya. Pemeriksaan gas da pH darah janin. letak dan maturasi plasenta. maka pilihan tersebut adalah sebagai berikut (3). 1. Kardiotokografi : kesejahteraan janin. 3. Ultrasonografi : usia kehamilan. kelainan uterus. jumlah janin. fase persalinan. . 5. frekuensidan kekuatan kontraksi. aktivitas biofisik. PENATALAKSANAAN : Masalah utama ini dalam menghadapi perlu persalinan prematur. Pemeriksaan surfaktan (amniosnetesis). 3. 5. nyeri bagian belakang (1). penentuan kondisi janin inutero. apakah dengan kelangsungan proses itu perlu dihentikan atau sama sekali tidak. Mengeluarkan lendir per vaginam. Adanya pendataran dan dilatasi serviks secara progersif atau dilatasi serviks minimal 2 cm sejak penderita masuk rumah sakit setelah diobservasi selama 3060 menit (2). besar janin. Merasakan gejala seperti : rasa kaku diperut menyerupai kaku menstruasi . 4. dan tentu saja risiko pengobatan itu sendiri (3). Pemeriksaan bakteri vagina 6. Pemeriksaan vaginal berkala untuk mengetahui dilatasi / pemendekan serviks. Bilamana keadaan penderita sudah dinilai. risiko ibu janin bila persalinan dilanjutkan. rasa tekanan intra pelvik . Untuk menjawab pertanyaan dipertimbangkan memperhitungkan kematangan janin (misalnya : berat janin. 2. cacat bawaan. Pemeriksaan kultur urine 7. volume cairan amnion. Menghambat persalinan untuk memperpanjang kehamilan dan menunda persalinan mencapai atau menjelang aterm. 1. dan diagnosis persalinan prematur sudah dibuat. selpaut ketuban seringkali telah pecah (1). Pemeriksaan penunjang (1). kematangan paru).231 2. mungkin bercampur darah.

72 jam dan mencoba mempercepat kematangan paru janin agar risiko sindrom gawat nafas dapat dikurangi. Janin presentasi kepala : per vaginam dengan episiotomi lobar 2. Pemberian sedai dan hidrasi 4. plasenta previa. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi d. Terapi penundaan persalinan prematur : (1) 1. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi e. INDIKASI KONTRA PENUNDAAN PERSALINAN : (1) Gawat janin. Membiarkan persalinan berlangsung dengan anggapan bahwa terapi tokolisis tidak berguna bagi ibu dan janin yang akan lahir. tokolitik) Pemberian obat pematangan paru patut diberikan pada persalinan prematur 28-35 minggu. dan kematian janin CARA PERSALINAN : (1) 1. Terutama pada kasus dengan indikasi terminasi kepentingan ibu bab. gestosis. pembukaan serviks lebih dari 4 cm. Menghambat persalinan selama 48 . Infeksi intraprtum. korioamnionitis. Deteksi dan penanganan terhadap faktor risiko persalinan prematur 3. pertumbuhan janin terhambat. Istirahat baring 2. 3.232 2. atau karena ada indikasikontra terhadap obat tokolisis. Pemberian obat tokolitik : (lihat bab. Pematangan paru). Janin sungsang b. diabetes melitus (beta-mimetik). Gawat janin. Indikasi seksio sesar : a. (lihat . Kontraindikasi per vaginam lainnya (letak lintang. dsb) KEPUSTAKAAN : (4) . Taksiran berat janin kurang dari 1500 g (masih kontra versi) c. perdarahan antepartum yang banyak. kelainan kongenital.

ed. 59-61 2. Muchsin LH. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Wiknjosastro GH. Preterm labor. Pengurus besar POGI. 19 : 24-6 4. Saifuddin AB. Bagian I. Maj Obstetri Ginekologi Indonesia 1993 . London : Addison-Weslay Publishing Company. In : Fadel HE. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Perbandingan tokolisis dengan salbutamol dan magnesium sulfat dalam pencegahan persalinan preterm. Diagnosis and management of Obstetric emergencies. Fadel HE. 647 3. Wiknjosastro GH. 1982 . Standar pelayanan medik Obstetri dan Ginekologi.233 1. 1991 . . Manajemen persalinan preterm.

PLAS PREVIA) .I.234 SKEMA PENATALAKSANAAN PERSALINAN PREMATUR KRITERIA DIAGNOSIS PERSALINAN PREMATUR PEMERIKSAAN PENUNJANG MENGHAMBAT PERSALINAN MEMBIARKAN PERSALINAN BERLANGSUNG Pada terapi tokolis tidak berguna Indikasi kontra Memperpanjang Kehamian & menunda persalinan. mencapai atau menjelang aterm Selama 48-72 jam & mencoba mempercepat kematangan paru Istirahat Deteksi & penanganan terhadap faktor resiko Terapi sedasi & hidrasi Tokolitik CARA PERSALINAN PERVAGINAM PRESENTASE KEPALA + EPISIOTOMI LEBAR SEKSIO JANIN SUNGSANG TBJ < 1500 GR GAWAT JANIN INFEKSI INTRA PARTUM K. PERVAGINAM (LL.

Pemeriksaan umur kehamilan • • Umur kehamilan dihitung dengan rumus Naegele berdasarkan anamnesis tanggal hari pertama haid terakhir.235 17.S.(1) ETIOLOGI : Sampai sekarang belum jelas dipahami seluruhnya. Henrie Usmany. sebagian (25 . maka janin mungkin kekurangan nutrisi / oksigen akbiat dari penurunan fungsi plasenta. I. (1) Walaupun dapat bertumbuh menjadi postmaturitas. Perubahan ini disertai dengan terjadinya gambaran infark hemoragik yang merupakan tempat penimbunan kalsium dan pembentukan infark. dr. (5) Gawat janin dapat terjadi akibat penekanan tali pusat yang dihubungkan dengan oligohidramnion. Terdengarnya denyut jantung janin pada kehamilan 17 . (2) PATOFISIOLOGI : • Perubahan plasenta menunjukkan penurunan diameter dan panjang vilikorialis. KEHAMILAN LEWAT WAKTU dr.(3) • Apabila kehamilan berlangsung melampaui masa fungsi plasenta.80% pada plasenta. .20 % dari bayi persalinan kehamilan lewat waktu. dr.(6) DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN : 1. Pada kehamilan lewat waktu infark ditemukan 60. Konfirmasi umur kehamilan dengan : (1) a. keadaan ini berkaitan dengan adanya defisiensi sulfatase plasenta dan kehamilan ekstra uteri.M.20 minggu. nekrosis fibrinoid dan terjadinya arterosis pembuluh darah desidua dan korion.30 %) janin juga dapat terus bertumbuh dan melebihi 4000 gram. Murah Manoe SpOG BATASAN : Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berumur 42 minggu atau lebih. (4) Sindroma postmaturitas dapat terjadi hanya 10 . Rahmy Djamil.

PEMERIKSAAN DALAM : Untuk menilai kematangan serviks (digunakan nilai Bishop). Cara pengakhiran kehamilang tergantung : • • • 3. a. Amnioskopi : untuk melihat warna serta kejernihan cairan ketuban. 2. Profil biofisik : Manning menganjurkan pemeriksaan ini 2 kali seminggu dan persalinan janin tersebut bila ada oligohidramnion. Non stress test (NST) (4) b. Tinggi fundus uteri antara 18 . b. Pada dasarnya. • • • • NST Gerak napas janin Gerak janin Tonus otot janin .2.(3) Pemantuan detak jantung janin : b. (2) Penentuan fungsi plasenta / keadaan janin.236 b.30 minggu. Penanganan antepartum : Pemanatauan kesejahteraan janin : • • Pemeriksaan NST atau CST Pemantauan profil biofisik.3. Pematangan serviks. c. Tidak adanya gangguan fungsi plasenta. 2. Pemeriksaan USG sebelum umur kehamilan 26 minggu. c. Oxytocin chalenge test (OCT)(4) Seksio sesar dilakukan bila OCT positif. penatalaksanaan kehamilan lewat waktu adalah : Penanganan kehamilan dengan pemantauan dan pengakhiran kehamilan. • Keadaan janin.1. PENATALAKSANAAN : 1.

dimulai dengan 6 tetes mikro / menit dan dinaikkan tiap 30 menit 6 tetes / menit.6) .5 intraservikal)(6) atau balon kateter kateter Foley no 18 F(7) atau 26F.6) Dilakukan pada janin dengan yang selama persalinan menunjukan nonreaktif dan positif.(8) Induksi persalinan dengan menggunakan Oksitosin S 5 U / 500 cc Ringer Laktat.(6) 4.(1.(8) • Seksio sesar.237 • • Cairan amnion Pematangan serviks Dilakukan pada serviks yang belum matang (nilai Bishop < 6). (1.(6) Pada keadaan distosia bahu diperlukan bantuan dokter anestesi dan dokter anak serta seorang ahli kebidanan yang sudah berpengalaman dalam melahirkan distosia bahu dengan berbagai maneuver.(6) Aspirasi trakheal pada neonatus. Pematangan serviks dapat dilakukan dengan Prostaglandin (Prostaglandin gel E2 3.6) Deselerasi lambat persisten disertai variabilitas atau peningkatan denyut jantung. Penanganan intrapartum • • Amnioinfusion dilakukan pada amnion yang kental. (3) • Induksi persalinan. Induksi persalinan dilakukan pada nilai Bishop  6. maksimum 60 tetes / menit.0mg intravaginal dan 0.(6) • Seksio sesar dilakukan pada : • • • Suspek makrosomia.(1. • • Makrosomia (perkiraan berat janin  4500 gram).

Prolonged pregnancy.1988 : 76 -8 5. Post Datism. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 32: 2: 270 . Jakarta. 1989. Resnik R . In: Williams obstetrics. 1994 : 521 . Clin Obstet Gynecol. Clin Obstet Gynecol.Saunders Company. Mosby Year Book. Niebyl JR. Clark SL. Gant NF. Kehamilan Preterm dan Postterm. New York.61 4. Editor: Ronardy DH. In: Gabbe SG. Sint Louis. Jakarta. 1993 : .37 2. Resnik R. Arias F. Cunningham FG. churcill Livingstone. MacDonald PC. Appleton & Lange. In: Creasy RK. 2nd. Gilstap III LC. MacDonald PC. Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Hankins GDV. In: Practical 150 . W. Maternal-fetal medicine. 32 : 2 : 262 . 1995:903 -10 3. Stamford.3rd ed. Hartono A. Laboratorium/UPF Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan . Lagrew DC. 8. Induction of labor in the posdate fetus. Hankins DV. 6. 20 th ed. 1989.1 guide to high-risk pregnancy and delivery . Dalam: Obstetri Williams. Cunninghham FG.6 Freeman RK. Gant NF. Simpson JL.7 Satin JQ. Alih Bahasa: Sutoyo J. Pedoman Diagnostik dan terapi . Obstetrics normal and problem pregnancies . Post-term pregnancy. Philadelphia. Post term .B. 1991: 945 -55 7. The unfavorable cervix: methods of cervical priming. Prolonged pregnancy. Leveno KJ. 3 nd ed . 1997 : 827 . Porto M.238 KEPUSTAKAAN : 1.

4. Kehamilan kembar monozigot : yang terjadi dari ovum dan satu sperma. teraba banyak bagian-bagian kecil anak. (Homolog uniovuler) 2. adanya penambahan berat badan yang menonjol yang tidsak disebabkan oleh edema dan obesitas.239 18. teraba 3 bagian besar janin.5) 1.3. 3. dengan pemeriksaan ini kehamilan kembar sudah dapat diketahui pada kehamilan 6-7 minggu. KEHAMILAN DAN PERSALINAN KEMBAR DUA (GEMELI) dr.2. 2. fundus uteri lebih tinggi dari kehamilan biasa. cepat. Telly Tessy. teraba 2 balotemen .3. Kehamilan kembar dizigotik : yang terjadi dari dua ovum dan dua sperma. SpOG BATASAN : Kehamilan kembar dua adalah kehamilan dengan dua janin. (Heterolog biovuler) ETIOLOGI : Tidak jelas.4. Pemeriksaan ini merupakan cara diagnosis yang mudah. Oesman. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG).3. KLASIFIKASI : (1. Pemeriksaan fisik : perut tampak lebih besar dari kehamilan biasa. Armyn A.4) . DIAGNOSIS : (1. dr. PENATALAKSANAAN : • Dalam kehamilan : (1.5) 1. gerakan anak lebih sering. Anamnesis : ibu merasa perutnya lebih besar dari kehamilan sebelumnya. tidak membahayakan ibu dan anak. Terdengarnya bunyi jantung anak pada dua tempat yang berbeda dan sama jelasnya serta ada perbedaan frekwensi sekurang-kurangnya 10 kali dihitung pada saat yang sama.2. adanya riwayat persalinan kembar dalam keluarga.

maka dilakukan : (1. maka harus dilakukan seksio sesarea. 3. 5. mineral. Padasetiap perpanjangan waktu persalinan pada kala I dan kala II.3. Dalam hal ini pemeriksaan USG dapat juga dilakukan lebih sering atas indikasi. 4. Persiapan resusitasi oleh bagian neonatologi. sehubungan dengan peningkatan kebutuhan terhadap kalori. Untuk mencegah anemia. harus dipikirkan kemungkinan terjadinya “locked twins” atau adanya “conjoined twins”.4. Tindakan yang paling baik pada locked twins dan conjoined twins ialah seksio sesarea. (3. 2. Memperbaiki kesehatan umum dan mengusahakan pertambahan berat badan yang cukup. Pemeriksaan antenatal yang lebih sering dan teratur. sehingga perlu diadakan pencegahan untuk kepentingan ibu dan anak.2. istirahat cukup. • Dalam persalinan : Pimpinan persalinan Pimpinan persalinan kembar dua tergantung pada umur kehamilan atau perkiraan berat badan lahir anak. Pimpinan pada kala II : Persalinan anak pertama ditolong seperti biasa bila letak anak membujur. Untuk tiap persalinan kemar dua dapat dilakukan tindakan sebagai berikut : Persiapan : persiapan untuk persalinan biasa dan operasi. tidak melakukan perjalanan jauh dan tidak melakukan koitus setelah kehamilan 28 minggu. Kerja ringan. Bila ternyata anak pertama letak lintang. protein. secara rutin diberikan sufas ferrosus 1 x 100 mg dan diperiksa Hb sekali dalam 3 bulan.4) Seseudah anak pertama lahir. Pimpinan pada kala I :seperti pada partus biasa. Kebutuhan makanan harus diperhatikan . 1. vitamin dan asam folat selama kehamilan.240 Komplikasi utama yang sering terjadi pada kehamilan kembar yaitu partus prematur dan preeklampsia. Terminasi persalinan tergantung pada indikasi.5) .

Ujung Pandang.241 1. 1981. presentase ganda dan lain-lain Bila ternyata letak anak kedua memanjang (kepala atau bokong) dan keadaannya baik. Bila letak anak kedua melintang. Kembar dua di Rumah Sakit Umum Ujung Pandang. maka dilakukan versi luar. apakah ada prolapsus tali pusat. Semua persiapan untuk tindakan obstetrik sudah harus dilakukan setelah anak lahir. kedaan anak baik. Terdapat tanda-tanda foetal distress atau ancaman foetal distress anak kedua Ketuban negatif sesudah anak pertama lahir. Pemeriksaan dalam untuk mengetahui letak. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK. dilakukan versi dan ekstraksi atau seksio sesarea. Pengawasan komplikasi postpartum dilakukan dan dirawat seperti biasa. Pada stadium awal dari partus imaturus dan prematurus yaitu pada pembukaan serviks 4 cm atau kurang. maka ketuban segera dipecahkan kemudian ditunggu sampai partus spontan sambil fiksasi presentasi anak kerongga panggul dengan melakukan penekanan seperlunya pada fundus uteri. Persalinan anak kedua harus dipercepat menurut cara yang sesuai bilamana : • • • Di temukan presentasi atau prolapsus tali pusat. Pemeriksaan obstetric luar untuk mengetahui letak. keadaan janin masih baik. Interval persalinan anak pertama dan kedua : (1. Untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum.4. .5) Anak kedua diusahakan harus sudah lahir dalam waktu kurang dari 30 menit sesudah anak pertama lahir. KEPUSTAKAAN : 1. Skripsi. UNHAS. diusahakan untuk menghentikan persalinan bila mungkin dengan tokolitik.2. ketuban positif. ketuban positif. Jika tidak berhasil. maka tindakan pencegahan mutlak diperlukan.3. Bila letak kedua anak kedua melintang dan ketuban negatif. Bila perlu his dapat diperkuat dengan pitosin drips. presentase anak kedua. segera dilakukan versi dan ekstraksi bila masih memungkinkan atau seksio sesarea. presentase dan keadaan anak kedua (denyut jantung) 2. Tinggogoy J.

3rd ed. Kovacs BW. Rachimhadi T. 1993 : 134 . Kehamilan Ganda. eds . Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Eds. Obstetri Patologi. Manuaba IBG. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hanafiah MJ.36 3.60 . 1994 : 154 . Boston : Blackwell Scientific Publications. 1992 : 386 . Cetakan I. Kehamilan Ganda. Wibowo B. Dalam : Wiknjosastro H.242 2. ed. Penuntun kepaniteraan klinik Obstetri dan Ginekologi. Saifuddin AB. Management of common problems in obstetrics and gynecology. Edisi III. Brenner PF. Multiple gestations. Bandung : Elstar Offset. In : Mishell JR. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Dlama : Melfiawati S.1982 : 68 .97 4.78 5.

243 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN KEMBAR DUA (GEMELI) (1.2) Diagnosis gemeli Hamil < 30 minggu Hamil 30-36 minggu Rawat di RS rutin/selektif ** Hamil aterm Partus di RS Komplikasi (-) Komplikasi (+) Rawat jalan atau RS * Periksa hamil intensif Inpartu *** Komplikasi *** Masuk RS R/Tocolotik bila pembukaan 4cm (rawat=prematur) Persalinan pervaginam Atonia/hipotonia Prolong labor Induksi persalinan Memecahkan ketuban Persalinan pervaginam Spontan Vakum/forceps/ekstr aksi kaki Seksio sesarea : Anak I lintang atau sungsang Gawat janin Indikasi obstetri .

tinggi badan penderita b) Mengetahui riwayat kehamilan yang lalu c) Mengetahui riwayat persalinan yang lalu d) Mengetahui indikasi seksio yang lalu b. Hindar Jaya. Anamnesis (1) : a) Mempunyai data umur. Seksio Sesar bila (2) : • Seksio sesar dulu seksio sesar klasik/korporal . Pemeriksaan Penunjang • Ro pelvimetri pada panggul suspek sempit (1) • USG untuk menentukan usia kehamilan.38 minggu pemeriksaan dianjurkan tiap minggu d) Mulai umur > 38 minggu atau 2 minggu sebelum taksiran persalinan ibu sudah harus rawat apabila (2) : e) Tingkat pendidikan rendah f) Transportasi sulit g) Tempat tinggal jauh c. perkiraan berat badan janin dan letak plasenta (1. (1) 1. Melakukan pemeriksaan antenatal (PA) yang teratur yaitu (1) : a) Sebelum mencapai umur kehamilan 28 minggu PA dilakukan tiap 4 minggu b) Pada umur 28 .2) 2. Maggie Wewengkang. dr.32 minggu tiap 2 minggu c) Dari umur 32 .244 KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA BEKAS SEKSIO SESAR dr. SpOG BATASAN : Kehamilan dan Persalinan bekas seksio sesar adalah kehamilan dan persalinan yang terjadi pada rahim yang pernah diseksio sesar. Persalinan pada bekas seksio sesar a. Kehamilan pada bekas seksio sesar a.

5 cm) d) Posisi letak kepala fisiologis (ubun-ubun kecil depan) e) Tidak ada tumor jalan lahir f) Kehamilan bekas seksio sesar transperitoneal profunda murni dan hanya satu kali seksio sesar g) Pernah melahirkan bayi pervaginam yang berat badan lebih besar dari perkiraan berat badan janin kehamilan ini • Dengan observasi ketat (1) : a) Tanda vital b) His c) Denyut jantung janin (DJJ) d) Kemajuan persalinan .P) e) Distosia b. Partus pervaginam dapat dilakukan (1) : • Bila anamnesis dan pemeriksaan fisis obstetri seperti : a) Umur kehamilan pertama < 35 tahun b) Umur kehamilan sekarang > 28 minggu c) Ukuran panggul luar dan dalam normal (conyungata vera > 11.245 • • • Penyembuhan luka operasi buruk Sudah dua kali atau lebih seksio sesar Kehamilan ini disertai dengan penyulit seperti : a) Kelainan letak b) Kelainan presentasi c) Plasenta previa d) Disproporsi sefalo pelvik (D.S.

246 KEPUSTAKAAN : 1. Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Jakarta. Penatalaksanaan persalinan bekas seksio sesar di Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UH. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. POGI. 1991: 72-3 . Djasmadi N. Wewengkang MJ. 1989: 1-26 2. Bekas Seksio Sesarea.

Faktor panggul 2. c. Meteorismus 3. meliputi : (1. Gawat janin atau kematian janin GEJALA KLINIS : 1. Kelelahan pada ibu. Tanda-tanda kelelahan dan intake yang kurang : (2) 1. Dehidrasi : nadi cepat dan lemah.M.S.2 cm per jam. dr. multipara 14 jam). Faktor tenaga 4.Murah Manoe SpOG BATASAN : Partus kasep adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi pada ibu maupun anak.(1) PATOFISIOLOGI : Penyebab kemacetan dapat karena : (2) 1.5 cm per jam) atau kala pengeluaran yang memanjang (nulipara 2 jam. His yang melemah atau hilang 4. Henrie Usmany.4) Partus lama yang telah disertai penyulit (partus kasep). PARTUS KASEP dr. serta febris 2.247 20. b.3.(2. Oligouri . Penekanan jalan lahir dengan akibat edema dan perlukaan jalan lahir. multipara 1 jam).2) Kemungkinan terjadi partus kasep bila terjadi (sesuai Friedman) perpanjangan fase laten ( nulipara 20 jam. I.2) a. Faktor penolong Persalinan normal rata-rata berlansung tidak lebih dari 24 jam dihitung awal pembukaan sampai lahirnya anak. e.(1. multipara 1. Dehidrasi pada ibu. Faktor anak 3. fase aktif (nulipara 1. Infeksi intrauterin d.

5) 3.(2.(2. His hilang. B. Bagian anak mudah diraba. Febris. 2. (6) d.6) c. Syok (nadi kecil dan cepat). Pelepasan air ketuban yang keruh kehijauan dan berbau 2. 5. Tanda-tanda ruptura uteri membakat : a. (5) 4. Air ketuban bercampur mekonium Denyut jantung janin takhikardi (160 x menit) / bradikardi ( 120x/ menit ) / tidak teratur Gerakan anak melemah berkurang atau hiperaktif (gerakan yang konvulsif) DIAGNOSIS : A. Syok. 4. Meteorismus. Oligouri.6 ) b. Cincin Bandl mendekati pusat atau melewati pusat.5 0 C 3. Palpasi : (2) . Gejala rangsangan peritoneal. Suhu rektal > 37. Tanda-tanda ruptura uteri : 1. Tanda-tanda infeksi :(2) 1. 3.(5) 4. 3.5) 2.(5. Perdarahan melalui ostium uteri eksternum (2. Robekan dapat meluas sampai ke serviks dan vagina. Regangan berlebihan dengan nyeri pada segmen bawah rahim.5) 5.(5. Dehidrasi. Periksa dalam: bagian terendah janin mudah didorong ke atas (2) 5.248 2. Kegelisahan ibu yang akan bersalin. 4.(2) 6. 2. Berhentinya denyut jantung janin atau pergerakan atau keduanya. (5) 3. Keadaan umum ibu : (2) 1. Tanda-tanda gawat janin : (2) 1. Peningkatan aktifitas kontraksi.

Tidak teratur. Ibu : • • Infeksi sampai sepsis.2) • Robekan jalan lahir. Bagian janin mudah diraba.posisi kepala dan keadaan panggul ) DIAGNOSIS BANDING : (2) Kehamilan / persalinan dengan infeksi genetalia eksterna KOMPLIKASI : A. kegagalan fungsi organ-organ. (2) B. dan mudah digerakan bila sudah terjadi ruptur.2) Gangguan elektrolit. uterus dan rektum. 2. syok. Kelainan letak (pada yang kelainan letak) (Pada pemeriksaan dalam vagina dinilai seviks. vagina. Menghilang (bila sudah mati) D. pembukaan serviks.2) • Fistula buli-buli. (1. Periksa dalam vagina : 1. His lemah atau hilang. (2) • Dehidrasi.249 1. (2) 3. C. penurunan kepala. Gerak janin tidak ada. Anak : • • • (2) Gawat janin sampai meninggal Cacat otak yang menetap akibat asfiksia berat Trauma karena persalinan . (2) 2. (1. berbau dan bercampur mekonium. (1. 3. Pelepasan air ketuban yang keruh. Bagian terendah anak sukar digerakkan bila belum terjadi ruptur. Auskultasi : (2) Denyut jantung janin lemah atau menghilang • • • Takhikardi / bradikardi.

8 3. Hariadi R. Pemakaian partograf untuk keselamatan ibu dan bayi dalam persalinan. dengan memantau produksi urin (pasang kateter) 2.3 kali sehari selama 5 hari.Niebyl RJ. Rehidarsi. atau Sephalosporin 1 gr / 12 jam / IV selama 5 hari Dapat dikombinasi dengan • Metronidasole 500 mg suppositoria/ 8 jam. • Kompres basah (dingin)..80 mg. 1992 : 2: 290-300 2.. (Vakum / forsep atau perforasi kranioklast) • Seksio sesar bila syarat pervaginam tidak terpenuhi dan belum lengkap. Cefalo RC.. In : Gabbe SG. Simpson JL. Inc. Churchill Livingstone - . CunninghamFG. selama 5 hari. (2) Pemberian cairan yang memadai. • Pervaginam bila pembukaaan lengkap serta memenuhi syarat pervaginam. Pemberian antibiotik :(2) • • Ampicillin 1gram / 8 jam IM selama 2 hari.. Akhiri persalinan Sesuai dengan penyebab dan keadaan . Rumah Sakit umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya. Pedoman diagnostik dan terapi . dilanjutkan 4 x 500 mg / hari peroral selama 3 hari dan Gentamycin 60 .250 PENANGANAN : A. Gant NF. KEPUSTAKAAN : 1.Obstetrics normal & problem pregnancies. 3. Cedera jalan lahir. New York. B. 1991 : 435 -46 4. Memperbaiki keadaan umum penderita 1. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. O'Brien WF. Mac Donal PC. Dextrose 5% (500cc) dan NaCl (500cc) dalam 1 -2 jam pertama . 2 . Penurunan panas :(2) • Antipiretika per oral (paracetamol 3 x 500 mg) atau parenteral xyllomidon 2 cc IM (bila tidak bisa peroral). Dalam: Obstetri Disoder Labor. 1994: 55 ..

1995 : 469 . cetakan 1988: 30 .1 6. editor Ronaldy DH. Heller L. Cetakan kelima. Dharma A. EGC. Alih Bahasa Joko Suyono. Alih bahasa: Matroprawiro HM. Goelam SA. Ruptura uteri . Edisi18. Hartonao A. .8. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.1971:197 . Perdarahan waktu persalinan. Dalam : Gawat darurat ginekologi dan obstetri.77 5. Jakarta. Balai Pustaka . Dalam : Ilmu kebidanan.251 Wiliams. Jakarta .

FAKTOR-FAKTOR PREDISPOSISI(3) • Trauma jalan lahir • Multipara/grandimultipara • Plasenta previa • Preeklampsia/eklampsia • Partus lama • Solusio plasenta • Tindakan operasi yang menggunakan anestesi Eter/Halotan • Induksi Persalinan • Penanganan Kala II dan Kala III yang salah • Riwayat perdarahan pada pasca persalinan sebelumnya . dr. 2.252 21. Perdarahan pasca persalinan primer yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi lahir. PERDARAHAN PASCA SALIN dr. Perdarahan pasca persalinan sekunder yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. 1. (1) Perdarahan pasca persalinan dibagi atas : (2) 1. Habar Garu. Abd. ETIOLOGI(3) • Atoni uteri • Laserasi jalan lahir • Retensi plasenta atau sebagian plasenta • Gangguan pembekuan darah b. SpOG BATASAN : Perdarahan pasca salin adalah perdarahan 500 cc atau lebih sesudah kelahiran bayi. Muin. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN PRIMER a.

PENATALAKSANAAN (3) Penderita dengan kecenderungan perdarahan pasca persalinan. masa perdarahan. vagina dan serviks • Pemeriksaan dalam : Eksplorasi vagina. • Keadaan umum lemah. GEJALA KLINIS (3) Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang mengalir deras atau merembes. serviks uteri. Haenatokrit. tindakan penting adalah : • Transfusi darah. masa pembekuan darah (1) e. penderita pucat dan dingin. DIAGNOSIS (3) Diagnosis perdarahan pasca persalinan ditegakkan berdasarkan : • Anamnesis : faktor-faktor predeposisi. denyut nadi lemah dan cepat. minimal 500 ml untuk menggantikan darah yang hilang. • Pemberian plasma ekspander (Larutan Dextran L) . untuk mengetahui kemungkin tertinggalnya jaringan plasenta atau selaput ketuban • Inspekulo : Untuk mengetahui adanya robekan pada perineum. • Pemeriksaan Lab : Hb.253 • Kelainan pada uterus c. sebaiknya pada awal persalinan sudah diberikan infus larutan Ringerlaktat atau Glukosa 5% dan persiapan transfusi darah. keadaan penderita selama kehamilan. Pada keadaan akut. gelisah sampai koma d. diberikan dengan cepat. tekanan darah menurun. • Palpasi : Untuk mengetahui adanya atoni uteri serta fundus uteri • Pemeriksaan plasenta dan selaput ketuban. serviks dan kavum uteri untuk mencari robekan pada vagina. serta kemungkinan plasenta suksenturiata. pusing. perdarahan dapat terjadi internal atau eksternal.

lakukan pengeluaran plasenta dengan digital atau kuretase. konsultasi keluarga penderita untuk tindakan Histerektomi atau ligasi (a. uterina atau a.254 • Drips Oksitosin 20 IU dalam 500 ml larutan Rengarlaktat atau NaCl 0. . Jika plasenta tidak lepas. uterina atau a.9% sampai uterus berkontraksi. Jika perdarahan tetap berlangsung. hipogastrika) (4) Jika perdarahan berkurang. atau prostaglandin (PG): Sulproston (Nalador) 0. drips dilanjutkan 28 tetes permenit. lakukan tamponade utero vaginal kemudian observasi perdarahan. persiapan kamar operasi. dicoba dengan tindakan manuil plasenta. hipogastrika) b) Retensi plasenta atau sebagian plasenta (3) • Drips oksitosin 20 UI dalam 500 ml larutan Ringerlaktat atau NaCl 0.9% disertai masase uterus (2) Bila uterus belum berkontraksi. Bila selama observasi perdarahan bertambah atau tetap berlangsung dilakukan Histerektomi atau ligasi (a. jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus. Jika tindakan manuil plasenta tidak memungkinkan. histerektomi dapat dipertimbangkan. uterus berkontraksi. Jika hanya sisa plasenta.9% • Vaksin serap tetanus 1/2 cc a) Atoni Uteri (3) (1) Drips oksitosin 20 UI dalam 50 ml larutan Ringerlaktat atau NacCL 0.2 mg intravena. jaringan plasenta dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta Bila plasenta tidak terlepas. kemungkinan plasenta akreta. berikan methergin 0.5 mg diulang tiap 6 jam (3) Bila perdarahan berhenti. • Plasenta dilahirkan dengan Brandt Andrews.

vagina dan serviks (1) Robekan perineum. jahitan teratas ditempatkan sedikit di atas puncak robekan. d) Gangguan faktor pembekuan (3) (1) Transfusi darah segar. serviks dan vagina (5) Jahit luka robekan dengan jahitan terputus. transfusi darah segar dilanjutkan selain itu diberikan uteretonika oksitosin 20 UI mempertahankan kontraksi uterus (4) Konsul kebagin penyakit dalam 2. ETIOLOGI (3) • Subinvolusi uteri • Tertinggalnya sisa plasenta • Tumor / Mioma uteri perinfus untuk . perdarahan dapat terjadi internal dalam rongga perut sehingga tidak nampak adanya perdarahan pervaginam. dan bila keadaan penderita memungkinkan. selama 5 hari. minimal 1 liter (2) Bila perdarahan masih berlangsung. Bila tidak memungkinkan perdarahan tetap berlangsung. tindakan defenitif adalah histerektomi (3) Bila perdarahan berkurang. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan dalam eksplorasi kavum uteri. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN SEKUNDER a.255 c) Robekan jalan lahir (3) Robekan jalan lahir dapat diketahui dengan pemeriksaan inspekulo pada perineum. (2) Ruptur uteri(3) Ruptur uteri kadang sulit diketahui dengan pemeriksaan inspekulo. tindakan histerektomi merupakan pilihan. bila luka robekan kecil dapat dilakukan histerografi. Bila ditemukan ruptura uteri tindakan defenitif adalah laporotomi. Antibiotika diberikan Ampicilin 4 x 500 mg.

pembesaran uterus. GEJALA KLINIS Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang bervariasi sedikit sampai banyak • Demam dan menggigil bila terdapat infeksi jalan lahir • Pemeriksaan palpasi ditemukan uterus membesar. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menyingkirkan sisa plasenta. sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG.9% • Drips oksitosin 10 IU dalam larutan infus • Preparat besi • Vaksin serap tetanus 1/2 cc • Diagnosis dengan pemeriksaan fisis dan laboratorium a) Subinvolusi Uterus (3) Setelah keadaan umum diperbaiki. c. Pemeriksaan laboratorium ditemukan Leuksitosis pada infeksi.2 IM . DIAGNOSIS : (3) Diagnosis ditegakkan dengan adanya perdarahan pervaginam. PENATALAKSANAAN : (3) • Perdarahan segera diatasi dengan transfusi darah.256 • Kelainan perdarahan • Hematoma jalan lahir b. pengobatan dilanjutkan dengan uetrotonika. dan pemeriksaan laboratorium (1) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan gambaran sisa jaringan plasenta. pemberian cairan intravena RingerLaktat atau NaCl 0. (Oksitosin) 20 IU dalam larutan infus dilanjutkan injeksi methergin 0. lunak dan nyeri bila ada infeksi. hasil pemeriksaan laboratorium tidak ada tanda-tanda infeksi. d. nyeri dan demam bila ada infeksi.

dan inspekulo untuk mengetahui letak sumber perdarahan jika ditemukan hematoma vulvoginal sebaiknya tidak dilakukan manipulasi.125 mg selama 5 hari. atau Ampicillin 4 x 500 mg selama 5 hari (5) Bila ditemukan sisa jaringan. hipostrika). methergin 3 x 0. pengobatan dengan konservatif.257 (2) Profilaksis diberikan antibiotika Ampicilin 4 x 500 mg sehari selma 5 hari. tidak ada tanda infeksi. Bila perdarahan mereda observasi saja dan bila perdarahan berhenti bisa dipulangkan. b) Uterus Involusi (5) Pada pemeriksaan phisis ditemukan uterus involusi baik perdarahan dapat berasal dari hematomi pada jalan lahir. uterina atau a. 3-4 hari kemudian kuretase. sisa jaringan dikeluarkan dengan kuretase. dilakukan bila perdarahan tidak dapat diatasi. transfusi . Histerektomi atau ligasi (a. (3) Bila perdarahan berkurang atau teratasi pengobatan dilanjutkan dengan uterotonika oral. Pasca kuret. (1) Pemeriksaan phisis.125 mg/hari selama 5 hari. pengobatan dilanjutkan pemberian Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari. methergin 3 x 0. Tindakan kuretase dilakukan kalau perdarahan terjadi terus dalam jumlah banyak atau terjadi kembali setelah dilakukan tindakan . (4) (7) Kalau uterus harus dipertahankan untuk kemungkinan mempunyai anak lagi maka sebaiknya diberikan dulu obat secara intravena oksitosin. metilergometrin atau prostaglandin. (6) Bila ada sisa jaringan disertai infeksi berikan dulu antibiotika sampai suhu turun. tapi bila perdarahan banyak segera kuretase walaupun ada demam. bila tidak berhasil laporotomi untuk dilakukan ligasi arteri uterina atau arteri hipogastrika atau histerektomi (5) . tandatanda infeksi positif. pengobatan dilanjutkan dengan antibiotika perenteral Procain penicillin G 2 juta IU tiap 6 jam. (4) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan sisa jaringan.

rongga hematoma dijahit dengan jahitan matrax. Bila dicurigai perdarahan retroperitoneal. Profilaksis diberikan antibiotika Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari (2) Bila perdarahan bertambah besar dipertimbangkan tindakan evakuasi hematoma (insisi hematoma).258 darah segar. oleh karena bekuan darah dalam hematom menyebabkan gangguan pembekuan. tindakan defenitif adalah laporotomi. .

1995: 556-63 . Oktavianus J. Obstetrics Williams. Gant NF. Woods RE. 1981. Post partum emergencies. eds. Texas. Pritchard JA. 3rd ed. Ratologi Kala III dan IV.. Sulaiman SR. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS 1993 4. Kaput JA. 1982: 292 3. In: Cavaragh D. Cavaragh D. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Philadelphia Harper & Row Publishers. Kalipel RA. Gaya Baru. 231-7 5. Obstetric emergency. POGI. 1991: 48 . mansyur A. Dalam: Obstetri Patologi Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Padjajaran Bandung. O’Connor TCF. Djasuardi N.259 KEPUSTAKAAN : 1. Penatalaksanaan perdarahan pasca persalinan. O’Connor TCF. Cetakan ke-1 Jakarta.52 2. MacDonald PC.

menggigil Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi Nyeri perut bagian bawah Nadi cepat Kadang-kadang nyeri bila kencing Kekurangan gizi-anemia Penyakit menahun (DM dan keganasan) Ketuban pecah dini dan partus prematurus Hygene ibu yang jelek Infeksi traktur genetalia II.3) I. INFEKSI PUERPERALIS dr.3) FAKTOR PREDISPOSISI : (2. Hindar Jaya. SpOG BATASAN : Infeksi puerperalis adalah infeksi alat genital dalam masa nifas yang ditandai dengan meningkatnya suhu ≥ 38°C yang terjadi selama 2 hari berturut-turut dalam waktu 10 hari pertama pasca salin.2. Maggie Wewengkang.3. DIAGNOSIS : Klinis : (1. Periode Antepartum • • • • • • • • • III.260 22. Periode intrapartum Partus lama Periksa dalam yang sering Ketuban pecah dini Monitor janin yang intensif Periode Postpartum .2.4) • • • • • Febris ----------. Kecualis 24 jam pertama pasca salin.(1. dr.

261 •

Subinvolusi rahim

Inspikulo : Lokhia berbau Persiksa dalam vagina : Uterus dan paramterium nyeri pada perabaan PEMERIKSAAN PENUNJANG : (2,3) • • • • Laboratorium rutin lengkap Kultur dan uji sensitifitas USG bila perlu BNO bila perlu

TERAPI : (2,3,4) • • • Antiobiotik spektrum luas yang sesuai untuk penderita. Bila resistensi tergantung hasil kultur Bila ada abses harus dilakukan insisi dan drainase. Jika ada abses pada Cavum Douglasi dilakukan kolpotomi posterior disertai pemasangan drain. Jika terjadi peritonitis dilakukan laparotimi. • Jika terjadi syok septik : Rawat di ICU

262 KEPUSTAKAAN : 1. Cunningham FG. Mac Donal PC. Gants NF. Infeksi puerperalis. Dalam : Ronardy DH. Ed. Alih Bahasa : Suyono J, Hartono A. Obstetri Williams. Edisi 18. Jakarta ; Penerbit Buku Kedokteran ECG, 1995 : 535-52 2. Wiknjosastro H. Infeksi nifas. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, eds Ilmu kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta ; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1991 : 689-99 3. Beydoun SN. Serious postpartum infeksios. In : Fedel HE, ed. Diagnosis and Management of Obstetri Emergencies. London ; Addison-Wesley Publishing Company, 1982 : 233-45 4. Duff P, Gibbs RS. Maternal sepsis. In : Berkowitz RL, ed. Critical Care of the Obstetric Patient. Ist ed. New York ; Churchill Livingstone, 1983 : 189-213.

263 23. SYOK SEPTIK
dr.Efendi Lukas, dr.H.Eddy Moeljono, Sp.OG

BATASAN : Syok septik adalah sindroma Klinik yang dicetuskan oleh masuknya dan menyebarnya produk mikroba ke dalam vaskuler sehingga menyebabkan kegagalan pada mikrosirkulasi, penurunan perfusi jaringan, dan abnormalnya metabolisme seluler (1). PATOFISIOLOGI : 1. Pembebasan endotoksin dari mikroba yang sudah mati diduga menjadi pencetus utama terjadinya syok septik. Endotoksin merupakan kompleks protein lipopolisakarida yang dilepaskan dari membran sel bakteri yang mati dan merupakan stimulan antigen yang kuat, kemudian berikatan dengan antibodi (Ig G dan Ig M) membentuk kompleks endotoksin - antibodi (2). 2. Selanjutnya terjadi pelepasan zat vasoaktif (histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin, SRSA sehingga menyebabkan vasodilatasi arteriol, venokonstriksi dan peninggian permeabilitas membran kapiler, maka terjadi penumpukan (pooling darah) yang menyebabkan (1,2,3). • • • • tekanan hidrostatik dalam kapiler meningkat kerusakan pada dinding kapiler perembesan cairan dalam ruangan vaskuler ke ekstra vaskuler hipovolemik hebat sehingga manifestasi syok menjadi lebih jelas

GEJALA KLINIK : Syok septik dalam bidang Obstetri dan Ginekologi sering terjadi akibat komplikasi post abortus, endometritis post partum, korioamnionitis dan pielonefritis dalam kehamilan. Secara klinis syok septik terdiri dari 2 fase yaitu (2): 1. Syok reversible (syok septik primer) : a. Syok dini (warm hypotensive = stadium hipotensi hangat)

Syok yang irreversibel .264 .koma .Analisa gas darah . Syok lanjut “cold hypotensive” = stadium hipotensi dingin) .120 x/menit) .kadar asam laktat dalam darah meningkat ( > 15 mg%) .asidosis metabolik .Pemeriksaan kadar asam laktat dalam darah .demam dengan suhu > 39 °C b.kulit menjadi hangat dan kemerahan .Pemeriksaan darah lengkap .3). kreatinin .tahanan vaskuler perifer meningkat .hipotensi . ureum.Pemeriksaan kimia darah : elektrolit serum.curah jantung menurun .oliguria sampai anuria . BUN.Urinalisis . .anuria .suhu tubuh dingin (hipotermia) .Kultur darah dan tes sensitivitas .takikardi (100 .tahanan vaskuler sistemik meningkat (CVP meningkat) 2.distres pernafasan dan distres jantung PEMERIKSAAN PENUNJANG : Laboratorium (2.

ureum.DIC . . Oksigenasi : Berikan oksigen konsentrasi tinggi Tujuannya untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki (2. lekosit. 2.Foto tegak abdomen : untuk melihat tanda-tanda perforasi (Ada udara bebas) EKG : bisa tampak depresi segmen ST dan gelombang T terbalik2 USG : untuk melihat adanya cairan bebas sebagai tanda perforasi uterus KOMPLIKASI : (2. analisa gas darah Prinsip penanganan terdiri dari : 1. denyut nadi.265 Radiologi (2.4) . pernafasan dan suhu tiap 30 menit .3) : . trombosit.Laboratorium : Hb. elektrolit. kreatinin. sindroma syok paru.4) .Hemodinamik : dengan melakukan pemasangan kateter CVP .Foto toraks : untuk melihat apakah ada tanda-tanda bronkopneumoni sekunder.4). fungsi hemostatis.Produksi urine . Terapi cairan : Untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki. Hm.Gagal ginjal . • Transfusi darah . atau emboli paru akibat tromboflebitis.Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah. gula darah.Sindroma distres pernafasan akut “shock lung” PENANGANAN : Penderita syok septik harus dirawat di ICU dengan monitoring ketat dan dilakukan penanganan multidisipliner (rawat bersama dengan Bagian Anestesiologi dan Bagian Interna) Selama perawatan perlu dilakukan monitoring : (2.

Penanganan operatif Penanganan operatif meliputi drainase pus. eksisi jaringan nekrotik. LAMA PERAWATAN : Sangat tergantung pada keadaan umum pasien serta ada tidaknya komplikasi . Tindakan ini dilakukan setelah sistim kardiovaskuler dan pernafasan distabilkan. 3. gangguan asam basa dan elektrolit sudah dikoreksi. 5. Pemberian antibiotika • Diberikan antibiotik berspektrum luas sebelum ada hasil kultur dan tes kepekaan • Diberikan kombinasi golongan cefalosporin 1gr per12 jam-24 jam (tergantung jenisnya) + Metronidazole 500 mg/12 jam dengan cara pemberian intravena • Atau Ampicillin 1 gr/IV tiap 4 jam dan Gentamycin 80 mg/IV tiap 8 jam + Metronidazole 500 mg/12 jam/IV • Bila hasil kultur dan tes kepekaan sudah ada maka antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil tes kepekaan. 4. Pemberian obat-obat inotropik seperti : Dopamin dan Isoproterenol dilakukan setelah konsultasi dengan Bagian Interna.45 menit atau 20 ml/menit sambil memperhatikan responsnya.266 • Infus Ringer laktat atau Dextrose 5% atau NaCl fisiologis: 1-2 liter dalam waktu 20 . kuret atau pengeluaran benda asing. histerektomi. Pemberian kortikosteroid • Deksametason dengan loading dose 20 mg/IV kemudian dilanjutkan 3 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam selama 1-2 hari 6.

ID. Bacterial infection. Cavanagh D. nomor 7. 4. Tanra AH. ed. 1976. Andriole VT. In : Friedman EA. nomor 3. Ferris TF. Masalah syok dan penanganannya. Vol. Philadelphia. Penggunaan kortikosteroid pada syok septik.267 KEPUSTAKAAN : 1. 1986 : 345-54. 2nd ed. Major problems in obstetrics and gynecology. Rao PITON S. 1985 : 167-80. Comas MR. MKI vol 35. WB Saunders Company. In : Burrow GN. Septic shock in obstetrics and gynecology. Medical complications during pregnancy. MKI vol 36. Taruli RA. 2. . eds.11. Philadelphia. WB Saunders Company. Sjattar M. 3. 1982 : 302-19.

268 SKEMA PENANGANAN SYOK SEPTIK Gejala Gejalaklinik klinik Syok reversibel Syok dini hipotensi kulit hangat dan kemerahan Takhikardi (100-120 x/menit) demam dengan suhu > 39o C Syok lanjut curah jantung menurun tahanan vaskuler perifer meningkat oligura sampai anuria hipotermia CVP meningkat Syok irreversible asidos metabolik kadar asam laktat meningkat (>15mg%) koma anuria distres pernafasan dan distres jantung Pemeriksaan Pemeriksaanpenunjang penunjang Pemeriksaan Laboratorium darah lengkap analisis gas darah kimia darah kadar asam laktat dalam darah kultur darah dan tes sensitivitas urinalis Radiologi : Foto toraks Foto tegak abdomen USG EKG DIAGNOSTIK DIAGNOSTIK SYOK SYOKSEPTIK SEPTIK oksigen terapi cairan obat-obat inotrapik anti biotik keortikosteroid RAWAT DI ICU (kerja sama dengan Bagian Interna dan Anestesi) sistem kardiovaskuler dan pernafasan stabil Gangguan asam basa dan elektrolit dikoreksi drainage pus eksisi jaringan nekrotik histerektomi kuret pengeluaran benda asing PENANGANAN PENANGANAN OPERATIF OPERATIF .