P. 1
Protap Obstetri-2 Unhas Revisi

Protap Obstetri-2 Unhas Revisi

|Views: 554|Likes:
Published by wiwie_afw

More info:

Published by: wiwie_afw on Apr 01, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/29/2013

pdf

text

original

Sections

  • 1. HIPEREMESIS GRAVIDARUM
  • 2. ABORTUS
  • 3. KEHAMILAN EKTOPIK
  • 4. MOLAHIDATIDOSA
  • 5. ASFIKSIA INTRAUTERIN
  • 6. PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT
  • 7. KEMATIAN JANIN DALAM RAHIM
  • 8. PERDARAHAN ANTEPARTUM
  • 9. PREEKLAMPSIA & EKLAMPSIA
  • 10.1. DIABETES MELITUS GESTASIONAL
  • 10.2. PENYAKIT JANTUNG DALAM KEHAMILAN
  • 10.3. MALARIA DALAM KEHAMILAN
  • 10.4. TUBERKULOSIS PARU DALAM KEHAMILAN
  • 10.5. ASMA BRONHIALE DALAM KEHAMILAN
  • 11.1. LETAK SUNGSANG DAN PENATALAKSANAANNYA
  • 11.2. LETAK LINTANG
  • 11.4. POSISI OKSIPUT POSTERIOR PERSISTEN
  • 11.5. PRESENTASI MUKA
  • 12. KETUBAN PECAH DINI
  • 13. PANGGUL SEMPIT
  • 14. KELAINAN HIS
  • 15. RUPTURA UTERI
  • 16. PERSALINAN PREMATUR
  • 17. KEHAMILAN LEWAT WAKTU
  • 18. KEHAMILAN DAN PERSALINAN KEMBAR DUA (GEMELI)
  • 20. PARTUS KASEP
  • 21. PERDARAHAN PASCA SALIN
  • 22. INFEKSI PUERPERALIS
  • 23. SYOK SEPTIK

115

KHUSUS
1. HIPEREMESIS GRAVIDARUM dr. H.B. Hafied, dr. H.M.M. Palisuri, SpOG BATASAN : Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan, sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidarasi, terdapat aseton dalam urin, bukan karena penyakit seperti apendisitis, pielitits dsb.(1) ETIOLOGI : Tidak jelas(2) KLASIFIKASI : (2,3,4) Secara klinis dibedakan atas 3 tingkat 1. Tingkat I : muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir dan sedikit empedu kemudian hanya lendir, cairan empedu dan terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 x/menit dan tekanan darah sistole menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang, urine masih normal. 2. Tingkat II : Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan , haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih 100 - 140 x/menit, tekanan darah sistole lebih rendah 80 mm Hg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus (+), aseton (+), bilirubin (+), berar badan turun cepat. 3. Tingkat III : Gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, ikterus (+), sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin (+), proteinuria.

116 DIAGNOSIS : (2,3) 1. Amenorea yang disertai muntah hebat (segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan), pekerjaan sehari-hari terganggu, haus hebat. 2. Fungsi vital : nadi meningkat 100 x/menit, tekanan darah turun pada keadaan berat subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma), 3. Fisis : dehidrasi, keadaan berat, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan turun. VT porsio lunak, uterus besar sesuai besarnya kehamilan. 4. Laboratorium : kenaikan relatif Hb dan Hm, shift to the left, benda keton (+) dan proteinuria. PENATALAKSANAAN : (2,3) 1. Rawat di Rumah Sakit, batasi pengunjung. 2. Stop per oral 24 - 48 jam 3. Infus glukosa 10 % atau 5 % : RL = 2 : 1, 40 tetes per /menit 4. • • • • • Vitamin B1, B2, B6 masing-masing 50 - 100 mg per/hari/infus Vitamin B12 200 mcg/hari/infus, vit. C 200mg/hari/infus. Phenobarbital 30 mg im 2 - 3 x/hari ATAU Chlorpromasime 25 - 50 mg/hari im ATAU Diazepam 5 mg 2 - 3 x/hari im. Antiemetik : Prometazine (Avopreg) 2-3 x 25 mg/hari p.o, ATAU Prochlorperazine (Stimetil) 3x3 mg/hari p.o, ATAU Mediamer B6 3x1/hari p.o. Antasida : Acidrine 3x1 tab/hari p.o ATAU Mylanta 3x1 tab/hari p.o ATAU Magnam 3x1 tab/hari p.o 5. Diet : a. Diet Hiperemsis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat-zat gizi, kecuali vitamin c, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. b. Diet Hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang, Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.

117 c. Diet Hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium.

2. ABORTUS dr. Rudianto HP, dr. Retno B. Farid, SpOG BATASAN: Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. (1,2,3,4) Abortus komplit adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang 20 minggu. Abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri. Abortus insipiens adalah abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri. Abortus membakat adalah abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. “Missed abortion” adalah abortus dimana embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih Abortus habitualis adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.1 Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia . Abortus septik adalah abortus infeksiosa berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum.(2) KLASIFIKASI : I. Menurut terjadinya dibedakan atas : (1,5,6) 1. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja.

Missed abortion Disamping itu dikenal pula abortus habitualis. ETIOLOGI : (2. leukosit. Abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. DIAGNOSIS : (1. Abortus provokatus (induksi abortus) hanya dibolehkan bila bertujuan menjaga kesehatan fisik.5.6) 1. Rasa sakit atau keram perut pada daerah atas simfisis. Toksoplasmosis. abortus infeksiosa dan abortus septik. tetapi dapat pula bersifat medisinalis kriminalis tergantung dari pelaku abortusnya yang dibedakan antara : a. PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1) 1. hemoglobin. Perdarahan pervaginam. dan kadar fibrinogen pada “missed abortion ”. II. waktu bekuan. . Kelainan telur (ovum yang patologik ) 2. Kelainan traktus genitalis 5.(7) Abortus yang disengaja ini dapat bersifat murni medisinalis. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi 3. Abortus insipiens 3. Adanya amenore pada masa reproduksi dengan hasil tes kehamilan positif/pernah positif 2. b. pemeriksaan lain yang diperlukan untuk melacak abortus habiatualis seperti HSG. waktu perdarahan.3.118 2. Abortus komplit 5. Abortus provokatus medisinalis ( terapeutik ) yaitu abortus yang dilakukan atas indikasi medis.2) 1. Pemeriksaan USG 2. Penyakit ibu. mental serta kehidupan ibu hamil. trombosit. Pemeriksaan laboratorium : tes kehamilan. Kelainan pada plasenta 4.4.2. GDS. Abortus inkomplit 4. hormonal. Menurut gambaran klinis. dibedakan atas : (1. Abortus membakat 2. mungkin disertai jaringan hasil konsepsi 3.6) 1.4.

transfusi darah • Dilatasi serviks • Bila kehamilan ≤ 12 minggu lakukan kuret • Bila kehamilan > 12 minggu diberikan tetesan Oksitosin 20 -30u dalam 500cc Dextrose 5% mulai 20 tetes/menit bila tidak timbul . Inkomplit • Perbaiki keadaan umum • Kosongkan uterus dengan kuret • Amoxycillin 3X500mg/oral / hari 5 .bila inkomplit di terapi sesuai ab.inkomplit.7 hari/oral • Metyhl ergometrin 3X1/oral /hari 5 hari • Hematinik • Methyl ergometrin 3X1/hari • Hematinik 3. ”Missed abortion” • Perdarahan • Keluhan kehamilan hilang • Tinggi fundus uteri menetap. Abortus membakat • • • • • • Gejala klinis Amenore Tanda -tanda hamil muda Perdarahan pervaginam sedikit Nyeri/mules Ostium uteri internum tertutup USG : kantung gestasi utuh Penatalaksanaan • Tirah baring minimal 2X24 jam • Fenobarbital 3X30 mg/hari kalau perlu 2.119 PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan abortus tergantung dari jenis abortusnya : Diagnosis 1. bahkan mengecil • Tes kehamilan ( . bila inkomplit diterapi sesuai ab.sisa hasil konsepsi 4. kadang disertai syok Ostium uteri terbuka USG : kantung gestasi tidak utuh .Hb dan leukosit normal. Abortus komplit • • • • Perdarahan pervaginam sedikit Hasil konsepsi sudah keluar Uterus kecil Ostium uteri tertutup 5. Trombosit. Abortus inkomplit • • • • Perdarahan pervaginam banyak Nyeri.) • Kadang disertai fluor warna coklat • USG : janin mati • Periksa CT. Abortus insipiens • Perdarahan pervaginam • Nyeri/mules lebih sering/kuat • Ostium uteri terbuka. Fibrinogen. ketuban menonjol • Hasil konsepsi masih utuh dalam uterus • Kehamilan ≥ 12 minggu bila diterapi sesuai abortus komplit. • Kehamilan < 12 minggu bila komplit diterapi sesuai abortus komplit.BT.

100 mg/kgBB/hari. tensi lebih rendah bahkan sampai syok • Periksa biakan darah dan tes kepekaan • Procaine PenicillineG 10 juta unit/6 jam im • Streptomycin 0. (7) 6. segera kuret • Bila tidak berdarah.infus RL.5 gr/12jam IM pervaginam yang berbau. dosis dinaikkan 10 u tiap 30 menit tanpa mengubah kecepatan tetesan sampai timbul kontraksi uterus dan ini dipertahankan. nyeri tekan dan kemudian leukositosis • Bila syok/perdarahan (N>120X/menit). dosis tertinggi 140 u • Bila dengan dosis tersebut tidak berhasil. uterus • Bila tidak syok.(2) • Toksoplasmosis diterapi dgn Spiramisin 50 . Abortus septik . kemudian 3 X 0.5 gr/oral/hari ( 5 hari ) • Bila perdarahan terus. Abortus habitualis • Abortus yang terjadi 3 kali berturut-turut atau lebih • Pada inkompetensi serviks dapat dilakukan operasi menurut Shirodkar atau Mac Donald.5 gr/12jam IM • Metronidazol 0. peritonitis. perdarahan • Streptomycin 0.120 kontraksi uterus. transfusi darah dilanjutkan kuret • Bila ada tanda-tanda resistensi PP.diulangi lagi setelah istirahat 24 . demam lebih tinggi.dilakukan biakan darah dan tes kepekaan • Gejala seperti abortus infeksiosa hanya lebih berat.48 jam. Abortus infeksiosa • Diabetes melitus ( lihat penatalaksanaan DM dalam kehamilan) • Adanya tanda-tanda infeksi • Procaine PenicillineG 1 juta genitalia seperti panas.5gr/infus dilanjutkan 1 gr/oral. unit /6 jam im takikardia.kuret 6 jam setelah pemberian obat • Dilakukan histerektomi total bila 8. (8) 7. nadi lebih cepat.kuret 24 jam besar lunak.tiroid bila kekurangan hormon ini.(2) • Terapi dengan hormon progesteron.

kecuali bila ada komplikasi. SpOG BATASAN : Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana ovum yang telah dibuahi tidak berinplantasi ditempat yang biasa. Perforasi : Untuk mencegahnya: pemberian uterotonik. kuretase secara sistimatis dan “lege artis” 4.2. (9) Abortus septik dengan syok lihat penatalaksanaan septik syok. Infeksi :Kasus abortus yang datang dalam keadaan infeksi harus mendapat perlindungan antibiotik dulu sebelum dikuret 3. Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. dr. Helida Abbas. tetapi berinplantasi diluar endometrium kavum uteri (1) . Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menanda tangani surat persetujuan tindakan. Welchii. (1) 3.(1) PENYULIT : (1.121 gagal kuret.6) 1. Syok LAMA PERAWATAN : Setelah kuretase pasien tidak perlu dirawat. sondase uterus.tanda perforasi uterus.diatasi dengan transfusi darah bila Hb < 8 gr% 2. ada tanda. IMS. Murah Manoe.5 cc IM (10) Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang kerumah. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi. KEHAMILAN EKTOPIK dr. kerusakan alat abdomen. infeksi oleh Cl. Anemia:Biasanya anemia post hemoragi. Bila Kehamilan Ektopik tersebut berakhir dengan abortus atau ruptur disebut Kehamilan Ektopik Terganggu (2) ETIOLOGI : (3) .

98% dari seluruh Kehamilan ektopik). takikardi.4). mungkin ringan atau berat bahkan mungkin ditemukan nyeri bahu menunjukkan bahwa perdarahan peritonium telah mengiritasi diafragma (1. 2. hipotensi.2) • • • • • DIAGNOSIS : Kehamilan tuba (95% . • • • • Didapatkan rahim yang juga membesar. Tes kehamilan positif (+) membantu diagnosis. Anamnesis dan gejala klinis. Pemeriksaan ginekologis . Adanya tanda-tanda abdomen akut yaitu perut tegang bagian bawah. Nyeri bisa dirasakan bilateral atau unilateral atau hanya perut bagian bawah. pucat dan ekstremitas dingin.122 Kerusakan tuba dapat disebabkan : • • • LOKASI : (1. Berat ringannya nyeri tergantung pada jumlah darah yang terkumpul dalam peritonium. adanya tumor didaerah adneksa Adanya tanda-tanda syok hipovolemik yaitu. nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen. Ditemukan nyeri ketok. 2. Trias klasik Kehamilan ektopik yaitu : • • • Terlambat haid (amenore) Nyeri perut suprapubik Perdarahan pervaginam berupa bercak. Kehamilan ovarium Kehamilan intraligamenter Kehamilan abdominal Kehamilan ektopik pada uterus Inflamasi Infeksi Pembedahan 1. Pemeriksaan fisis .

• Hasil laparoskopi. Pemeriksaan penunjang • • Labotratorium : Hb. PENATA LAKSANAAN : (1. Laparoskopi diagnosis.Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri . DIAGNOSIS BANDING : ( 1.123 Pemeriksaan dengan spekulum : ada fluksus sedikit.Adanya kantung kehamilan diluar kavum uteri. bila (+)  laparoskopi . dilakukan observasi dan USG.3) • • • Perbaiki keadaan umum Kehamilan ektopik dengan gejala klinis jelas + pemeriksaan penunjang (+) siapkan laparotomi Curiga Keamilan ektopik. nyeri tekan (+). . .4) Radang panggul Kista ovarium pecah dan mengalami perdarahan Torsi kista ovarium Abortus iminens Endometriosis Apendisitis Konsultasi  bila perlu ke bagian bedah.Adanya massa komplek dirongga panggul • • • • • • • • Kuldosentesis  untuk mengetahui adanya daerah dalam kavum douglas. 3. bukan hamil ektopik  konservatif.2. Pemeriksaan dalam : − Serviks teraba lunak − Nyeri goyang serviks (+) − Kanan/kiri uterus : Nyeri pada perabaan dan dapat teraba massa tumor − Kavum douglasi bisa menonjol.2. leukosit dan ß HCG USG : .

bila anak cukup histerektomi total. Kehamilan serviks. . lakukan ovarial kistektomi Kehamilan abdominal. keluarkan anak saja dan plasenta di tinggalkan. lakukan salpingektomi Kehamilan ovarium. tampon atau ligasi arteri hipogastrika. lakukan kuret.124 • • Bila laparoskopi Kehamilan ektopik  laparotomi/tindakan sesuai tempat kejadian Laparotomi bila . • • • • Kehamilan tuba.

Hb.125 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN EKTOPIK CURIGA KEHAMILAN EKTOPIK Gejala Klinis Amenore Nyeri abdomen suprapubik Perdarahan bercak Lab.gol darah Tes kehamilan USG Laparoskopi Tidak jelas Gejala klinis Observasi GK & USG Laparotomi tindakan Sesuai tempat kejadian Kehamilan Kehamilanektopik ektopik Laparoskopi Bukan hamil ektopik TUBA OVARIUM ABDOMINAL/ Hamil lanjut Hamil muda Konservatif SERVIKS Interstisial kornu Tuba kontra lateral Lekat dengan tuba Tidak lekat dengan tuba Tidak baik Baik Tuba kontra lateral Keluarkan anak saja tinggalkan plasenta Reseksi baji ooforektomi Anak cukup tidak mau anak mau anak Anak cukup tidak mau anak Anak tidak ada Salpingektomi dg ovarial kistektomi Histerekto mi Reseksi kornu histerektomi Masih mau anak Anak tidak ada mau anak tidak mau anak Tubektom i Kuret+tampon ligasi A hipogastrika Slpingektomi Bilateral Slpingektomi Unilateral Tuba dibiarkan Salpingostomi Slpingektomi parsial Salpingostomi Slpingektomi Unilateral . Leuko. Hm.

3) .126 4.A. MOLAHIDATIDOSA dr.2. dimana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan ke dalam vili sehingga timbul gelembung. GEJALA KLINIK : (1. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematia mudigah3. Pertama teori missed abortion : Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion).2. balotemen negatif kecuali pada mola parsial PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1.Efendi Lukas. Perdarahan ini bisa intermitten. dr. Karena perdarahan ini maka umumnya penderita mola hidatidosa masuk rumah sakit dalam keadaan anemia.2). SpOG BATASAN : Molahidatidosa adalah penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kistik villi dan perubahan hidropik(1. yang mempunyai fungsi abnormal pula.Arifuddin Djuanna.3) • Adanya tanda-tanda kehamilan disertai dengan perdarahan. Kedua teori neoplasma dari Park yang mengatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas. sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian. karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari vili dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung. • • • • • • Hiperemesis gravidarum Tanda-tanda preeklampsia pada trimester I Tanda-tanda tirotoksikosis Kista lutein unilateral/bilateral Umumnya uterus lebih besar dari usia kehamilan Tidak dirasakan tanda-tanda adanya gerakan anak.H. PATOFISIOLOGI : Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblas.

5) • • • • Koreksi dehidrasi Transfusi darah bila ada anemia (Hb ≤ 8 gr%) Bila ada gejala preeklampsia dan hiperemesis gravidarum diobati sesuai dengan protokol penanganan di Bagian OBSGIN FK.UNHAS Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis dikonsulkan ke Bagian Penyakit Dalam 2.2. Sonde masuk tanpa tahanan dan dapat diputar 360 ° dengan deviasi sonde kurang dari 10° • T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis PENANGANAN : Terapi mola hidatidosa terdiri dari 3 tahap yaitu : 1.127 • • • • Foto toraks Pemeriksaan hCG urin atau serum Ultrasonografi Uji sonde menurut Hanifa.5) • • • • • Dilakukan setelah pemeriksaan persiapan selesai (pemeriksaan darah rutin. Histerektomi (1.6) . kadar βhCG serta foto toraks) kecuali bila jaringan mola sudah keluar spontan Bila kanalis servikalis belum terbuka.u siapkan darah 500 cc dan pasang infus dengan tetesan Oxytocin’S 10 IU dalam 500 cc Dextrose 5% Kuretase dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval minimal 1 minggu Seluruh jaringan hasil kerokan dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi B. Kuretase (3. Pengeluaran jaringan mola Dengan cara : A. Perbaikan keadaan umum(4. maka dilakukan pemasangan laminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian Sebelum kuretase terlebih dahu.

dan foto toraks setelah satu tahun semuanya normal) maka penderita tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi dan hamil lagi • Bila selama masa observasi kadar β-hCG tetap atau bahkan meningkat dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi atau pada pemeriksaan klinis.128 • • 3. foto toraks ditemukan adanya metastasis maka penderita harus KOMPLIKASI : (1. pil kombinasi atau diafragma dan pemeriksaan fisik dilakukan setiap kali pada saat penderita datang kontrol • • • Pemeriksaan kadar β-hCG dilakukan setiap minggu sampai ditemukan kadar β-hCG normal 3 kali berturut-turut Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan setiap bulan sampai kadar β-hCG normal selama 6 kali berturut-turut Bila telah terjadi remisi spontan (kadar β-hCG. pemeriksaan fisk.3) • • Lama pengawasan berkisar satu sampai dua tahun Selama pengawasan penderita dianjurkan memakai kontrasepsi kondom.2) • • • • • • Perdarahan hebat Anemia Syok Infeksi Perforasi uterus Keganasan (PTG) LAMA PERAWATAN : Bila tidak ada komplikasi yang berat maka lama perawatan kurang lebih 7 hari . Umur ≥ 35 tahun Anak hidup ≥ 3 orang Pemeriksaan tindak lanjut(1.

foto toraks . KONDOM TUBEKTOMI PERIKSA KADAR β-hCG TIAP MINGGU REMISI SPONTAN BILA : KADAR β-hCG NORMAL 3 x BERTURUT-TURUT KADAR β-hCG MENETAP/MENINGGI EVALUASI METASTASIS & TERAPI SEBAGAI PTG Keterangan : * sebelum kuret periksa .darah rutin * kecuali bila terjadi perdarahan maka pemeriksaan foto toraks dan kadar β-hcg dilakukan setelah kuret .kadar β-hcg .129 SKEMA PENATALAKSANAAN MOLA HIDATIDOSA MOLA HIDATIDOSA PERBAIKI KEADAAN UMUM PENGELUARAN JARINGAN MOLA PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT HISTEREKTOMI BILA : UMUR ≥ 35 THN ANAK HIDUP ≥ 3 * KURET I & II PAKAI KB PIL.

130 5. Setia Budi.(1. dr. IMS. Menurunnya oksigenasi ibu 3. Menurunnya aliran darah umbilikus KLASIFIKASI(1) Akut : Klinis : ETIOLOGI (2) Akut : Ibu : • • • • • • • • • Hipotensi (misalnya “Supine hypotensive syndrome”) Hipoksia atau hiperkarbia (misalnya “maternal aspiration syndrome”) Gangguan pernafasan (shock-lung. bronchospasm”) Hipertensi pada kehamilan Syok (”hemorrhagic. Ny. Menurunnya aliran darah uteroplasenter 2. Murah M. septic”) “Sickle cell crisis” Berupa episode hipoksemia sementara yang tidak disertai asidosis Uterus : Hipertonik atau “polysystole” Pemberian oksitosin yang berlebih Ruptur uteri Plasenta . cardiac. SpOG BATASAN : Asfiksia intrauterina adalah keadaan kekurangan oksigen dan adanya penimbunan karbon-dioksida yang menyebabkan asidosis intrauterina akibat gangguan pertukaran gas melalui plasenta dan jika beban tersebut lama. berat dan nyata sehingga terjadi kegagalan mekanisme kompensasi.. maka gejala asfiksia tampak jelas. ASFIKSIA INTRAUTERIN dr.2) Asfiksia atau hipoksia biasanya ditimbulkan oleh 3 mekanisme : (2) 1.

131 • • • • • • • Fetus : • • • • Payah jantung (“hydrops fetalis. tachyarrhythmia. myocarditis”) Kelainan kongenital Perdarahan “Iso immunozation” Solusio plasenta plasenta previa “Premature placental aging” Tali pusat : Prolaps Ruptur vasa previa Terjepit atau tali pusat pendek Tali pusat tersimpul Kronis : Ibu : • Spasme pembuluh darah : • • • • Hipertensi kronis Hipertensi pada kehamilan DM Sirkulasi sistemik yang tidak adekuat : • • Penyakit jantung yang berat Anemia berat • Oksigenasi yang tidak cukup didalam darah : • • • Penyakit jantung sianotik “longeterm pulmonary shunting” Tinggal didaerah tinggi Plasenta : • “Prematur placental aging” • DM .

5) • • • • • • FHM (Fetal Heart Monitoring) memperlihatkan adanya kelainan Profil biofisik janin (gerak janin.4.2.3.3.6) Oligohidramnion Pertumbuhan janin terhambat Pewarnaan mekoneum pada cairan ketuban PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1. NST.2.4. tonus janin) berkurang atau menghilang Perubahan PH janin Kronis : (1.132 Fetus : • • • • • • “Postmaturity syndrome” Kehamilan multiple “Twin-to-twin transfusion” Kelainan kongenital “Erythroblastosis fetalis” “Maternal-fetal transfusion” KRITERIA DIAGNOSIS : Akut : (1.5) • • • • Kardiotokografi (KTG). OCT USG Fetal blood sampling (pengambilan contoh darah janin) Amnioskopi PENANGANAN : (1) • • Resusitasi intra uterin (lihat Bab resusitasi intra uterin) Terminasi kehamilan tergantung keadaan asfiksia dan keadaan janin .4.

133 .

SpOG BATASAN : Pertumbuhan janin terrhambat keadaan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.134 6. karena itu akan mempengaruhi jumlah sel pada seluruh tubuh janin. sehingga beberapa parameter janin berada dibawah 10 persentil dari umur kehamilan yang seharusnya. (1) PATOFISIOLOGI : Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian pertumbuhan janin terhambat (PJT) dapat dibedakan atas : (1) • Faktor ibu : • • • • • • • • Faktor plasenta : • Faktor janin : • • • • Penyakit hipertensi Malnutrisi Anemi berat Penyakit paru kronis Penyakir jantung sianotik Perokok Insufisiensi plasenta Cacat bawaan Trisomi Kehamilan kembar Infeksi intrauterin : ~ AIDS ~ TORCH Ada 3 tipe pertumbuhan janin terhambat : 1. Suzanna SP.(1) . Tipe I (simetrik) : Terjadi pada saat dini dari suatu kehamilan dimana terjadi pengecilan semua ukuran baik berat maupun panjang janin.(2) 2..Terjadi pada saat hiperplasia selluler.. Tipe kombinasi. yang disebabkan oleh kombinasi faktor ibu dan faktor janin. Aphrodite pandin. (2) 3. PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT dr. dr. Tipe II (asimetrik) : Biasanya terjadi pada trimester III dari suatu kehamilan juga dapat terjadi pada periode postterm dari suatu kehamilan. Meskipun demikian selama trimester II hiperplasia selluler dan hipertrofi selluler dapat terjadi dan gambaran yang tidak simetrik.

4) Kecurigaan PJT ditegakkan apabila tidak ditemukan penambahan berat badan ibu pada 2 kali pemeriksaan dengan selang 1 atau 2 minggu. USG berkala untuk menentukan : (1. (1) Penambahan berat badan ibu kurang dari 7 kg pada saat aterm atau berat badan ibu kurang dari 45 kg. Anamnesis : Ada riwayat / faktor risiko : (1. (1.3) • • • • • • • • • • • BPD Panjang femur Lingkaran kepala Lingkaran perut Volume air ketuban Cacat bawaan Taksiran berat badan janin Kondisi biofisik janin Kematangan plasenta 4.3) • • • • • • • Hipertensi Anemia kronis Penyakit jantung sianotik Pemakaian obat-obatan Merokok Infeksi Riwayat PJT sebelumnya 2.3. Pemeriksaan klinik : pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) dan linkaran perut (LP). (3) 3. Kecurigaan PJT ditegakkan apabila TFU menetap pada 2 kali pemeriksaan dengan selang waktu 1-2 minggu atau menurun dibawah garis 10 persentil.3) Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi .135 DIAGNOSIS : 1. Pemeriksaan Kardiotokografi : (1.

3) • • • • • • • Istirahat baring (tidur miring) Minum lebih dari 2000 ml/hari Makan lebih dari 2100 kal/hari Secara khusus : Hipertensi (preeklampsia) : sesuai penatalaksanaan preeklampsia. Secara umum setiap kasus PJT dikelola sebagai berikut : (1. lakukan terminasi. (1. terminasi dilakukan pada kehamilan 37 minggu. penyakit ginjal. TERAPI : Terapi kausal terhadap penyebab atau penyakit yang mendasarinya.136 Secara berkala tiap 7 hari. bila perlu dilakukan setiap hari pada pasien DM. penyakit jantung sianotik. Penyakit paru kronik. Bila pertumbuhan janin berdasar USG masih berlangsung. Malnutrisi : konsultasi/kerjasama bagian gizi. Bila pertumbuhan janin tidak ada. maturitas paru cukup (biasanya pada kehamilan 35 minggu).3) . AIDS : kerja sama dengan Bagian Penyakit Dalam Anemi : Koreksi anemi dengan pemberian tablet besi Terminasi kehamilan : sesuai penatalaksanaan terminasi kehamilan / induksi persalinan.

137 SKEMA PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT Faktor Faktorrisiko risikoPJT PJT Konfirmasi penyakit Konfirmasi penyakityang yangendasari endasari Pemeriksaan PemeriksaanTinggi Tinggifundus fundusuteri uteri dan danberat beratbadan badanibu ibu Ulangi 2 minggu Kecurigaan KecurigaanPJT PJT USG Serial (normal) PJT Tidak simetris Tidak cacat Umur kehamilan simetris Cacat ringan Cacat berat ≥ 37 minggu 37 minggu Pertimbangkan terminasi kehamilan Terminasi kehamilan Evaluasi kesejahteraan janin USG + Doppler Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi Evaluasi kembali tiap minggu spi aterm Gawat janin Tidak gawat janin Akhiri kehamilan (Bila memungkinkan. berikan dulu Betametason 12mg/hari selama 2 hari .

belum ada pembukaan serviks. KEMATIAN JANIN DALAM RAHIM dr. SpOG BATASAN : Kematian janin dalam rahim adalah kematian janin dalam uterus yang beratnya 500 gr atau lebih. DIAGNOSIS : Diagnosis didasarkan atas ditemukannya gejala dan tanda-tanda dibawah ini (2) : • Anamnesis : berwarna coklat.E. H.R. usia kehamilan telah mencapai 20 minggu atau lebih (1). • Palpasi : diatas kehamilan 20 minggu • • Auskultasi : Riwayat amenore. “Deformed or collapsed head”. Rahmat Landahur. Dapat ditemukan gambaran “Double line of the fetal head”. dr. dan sekitar 6-7 minggu dengan USG transabdominal dan tidak tampak gerakan janin pada kehamilan 10 minggu (3) . serviks kaku. tidak dirasakan gerakan anak. DIAGNOSIS BANDING : • • Mioma uteri (1. gerakan janin tidak ada Tidak terdengar bunyi jantung janin Pemeriksaan dalam vagina : Ditemukan uterus lebih kecil atau sesuai umur kehamilan. Moeljono.138 7. “Overlapping the skull bones” (4) .2) Molahidatidosa (1. kadang ditemukan fluksus pervaginam yang Biasanya tinggi fundus uteri lebih kecil atau sesuai umur kehamilan. USG: Tidak ditemukan pulsasi ajntung embrio mulai kehamilan 6 minggu dengan USG transvaginal.2) PEMERIKSAAN PENUNJANG : a.

posisi janin abnormal (1. Perforasi INFORMED CONSENT : (1) Sebelum tindakan dan dengan persetujuan tertulis 8.139 b. trombosit fibrinogen tiap minggu b.2) a. Penyakit gangguan pembekuan darah 2. dianjurkan pada kehamilan 16 minggu.2. Bila segera tindaki 2. Konservatif/pasif : • • • • • Rawat jalan Menunggu persalinan spontan 2-3 minggu Pemeriksaan kadar hematokrit. c. Halo Sign (bayangan radiolusen yang melebar antara kulit kepala dan tulang kepala fetus). Tanda yang ditemukan. PERDARAHAN ANTEPARTUM . Robert Sign (ditemukan gas dalam tubuh fetus). Penyulit Infeksi berat PENYULIT : (1.3).2) 1. Bila ada gangguan pembekuan darah 3. spalding sign (overlapping dari tulang-tulang kepala). Aktif : Dilatasi dengan batang laminaria. tulang belakang melengkung. LAB (2) : • • • • Waktu perdarahan Waktu pembekuan Hitung thrombosit Fibrinogen PENANGANAN : (1. prostaglandin tablet vagina PERAWATAN RUMAH SAKIT : (1. Foto polos abdomen bila diperlukan. balon kateter Induksi : oksitosin.2) 1.

140
dr. Neni Moerniaeni, dr. John Rambulangi, SpOG

BATASAN : Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu (1). Klasifikasi perdarahan antepartum yaitu : (2) 1. Plasenta pervia 2. Solusio plasenta 3. yang tidak jelas sumbernya (idiopatik) Pada penatalaksaan ini dibahas mengenai plasenta previa, solusio plasenta dan vasa previa. Tabel : Perbedaan klinis antara plasenta previa dan solusio plasenta (2)
KLINIS PLASENTA PREVIA tidak Ya merah segar sesuai darah yang keluar perlahan-lahan sewaktu hamil biasanya tidak ada Biasa Ada jaringan plasenta tidak masuk PAP mungkin abnormal Ya tidak merah coklat tidak sesuai Tiba-tiba sewaktu hamil dan inpartu Ada Tegang biasa tidak ada ketuban tegang dapat terjadi tidak ada hubungan SOLUSIO PLASENTA

1. Perdarahan dengan nyeri 2. Perdarahan berulang 3. Warna merah 4. Anemia / renjatan 5. Timbulnya 6. Terjadinya 7. His 8. Palpasi 9. denyut jantung janin 10. 11. 12.
Periksa dalam vagina Penurunan Presentasi

141 PLASENTA PREVIA BATASAN : Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal, yakni pada segmen bawah rahim (SBR), sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ositium uteri internum).
(2)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu yakni : (2) 1. Plasenta previa totalis 2. Plasenta previa lateralis : bila seluruh pembukaan tertutup oleh plasenta : bila hanya sebagian dari pembukaan tertutup oleh plasenta.

3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan. 4. Plasenta letak rendah : bila plasenta berada 3 - 4 cm di atas pinggir pembukaan. ETIOLOGI : Tidak jelas. (2)

DIAGNOSIS : (2) 1. Anamnesis, adanya perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 20 minggu, berlangsung tanpa sebab. 2. Pemeriksaan luar sering didapati kelainan letak, bila letak kepala maka kepala belum masuk PAP. 3. Inspekulo, adanya darah dari otsium uteri eksternum. 4. USG untuk menentukan letak plasenta. 5. Penentuan letak plasenta secara langsung dengan meraba langsung melalui kanalis servikalis, tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak, karena itu cara ini hanya dilakukan diatas meja operasi. PENATALAKSANAAN : (2) 1. Konservatif bila : a. Kehamilan < 37 minggu b. Perdarahan tidak ada / tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).

142 c. Tempat tinggal penderita dekat dengan rumah sakit (dapat ditempuh dalam waktu 15 menit). Pada perawatan konservatif dilakukan : • Istirahat, atasi anemia beri hematinik, spasmolitik, antibiotik bila ada indikasi., periksa USG, periksa Hb dan hematokrit. Bila selama 3 hari tidak berdarah dilakukan mobilisasi bertahap dan bila tidak berdarah penderita dipulangkan. Bila timbul perdarahan segera ke rumah sakit dan tidak boleh bersanggama. 2. Penanganan aktif bila : a. Perdarahan banyak, tanpa memandang usia kehamilan. b. Umur kehamilan ≥ 37 minggu c. Anak mati Penanganan aktif dapat berupa persalinan pervaginam atau perabdominal. Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double 33set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : a. Plasenta previa marginalis b. Plasenta letak rendah. c. Plasenta previa lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk PAP dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit, maka dilakukan amniotomi diikuti dengan drip Oxitocin’s untuk partus pervaginam bila gagal drips (sesuai dengan bab terminasi kehamilan), bila perdarahan banyak dilakukan seksio sesar. Sedang indikasi melakukan seksio sesar bila : • • • • • • Plasenta previa totalis Perdarahan banyak tanpa henti Presentasi abnormal Panggul sempit Keadaan serviks tidak menguntungkan (belum matang) Gawat janin

Pada keadaan dimana tidak memungkinkan untuk dilakukan seksio sesar maka dilakukan pemasangan Cunam Willet atau Versi Braxton - Hicks.

SOLUSIO PLASENTA

kemudian penentuan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. pelepasan plasenta kurang dari 1/6 bagian permukaan. pemberian sedatif. 3. Pada solusio plasenta ringan dilakukan istirahat. belum ada tanda renjatan. terdapat tanda pre renjatan. gawat janin atau janin telah mati. Ringan : Perdarahan kurang dari 100 . (2) Klasifikasi berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1. Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb. uterus tidak tegang. PENATALAKSANAAN : (2) Tergantung dari berat ringannya kasus. kadar fibrinogen plasma lebih dari 120 mg %. janin mati pelepasan plasenta bisa terjadi lebih dari 2/3 bagian atau keseluruhan. janin hidup.200 cc. pelepasan plasenta ¼ sampai 2/3 bagian permukaan. Sedang : Perdarahan lebih dari 200 cc.143 BATASAN : Solusio plasenta adalah pelepasan plasenta sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir. terdapat tanda renjatan. Bila proses berhenti secara berangsur penderita dimobilisasi. Pemberian transfusi darah . Pada solusio plasenta sedang dan berat maka penanganan bertujuan untuk mengatasi renjatan. ETIOLOGI : Tidak jelas(2) DIAGNOSIS : (2) Pada solusio plasenta ringan kadang sulit menentukan diagnosis karena tidak semua gejala klinis nampak nyata . Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik. memperbaiki anemia. Penatalaksanaannya meliputi : a. menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. uterus tegang. haematokrit dan trombosit. fibrinogen. karena itu kadang diperlukan pemeriksaan penunjang yaitu USG. 2. dengan USG juga dimaksudkan untuk menyingkirkan plasenta previa.

berarti perdarahan yang terjadi sekurang-kurangnya sebanyak 1000 cc. c. Kalau perlu dilakukan seksio sesar Bila diagnosis solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan. Dengan demikian transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc. Pemecahan ketuban (amniotomi) c. f. Pemberian infus Oxytocin’s d. Panggul sempit. b. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam. d. Perdarahan banyak.144 b. Sedang seksio sesar dilakukan bila: a. Letak lintang. e. Preeklampsia berat. VASA PREVIA BATASAN : . Pembukaan tidak ada atau < 4 cm. g. Ketuban segera dipecahkan dengan maksud untuk mengurangi regangan dinding uterus dan untuk mempercepat persalinan diberikan infus Oxytocin’s 5 UI dalam 500 cc Dextrose 5 %. Pelvik score < 5.

Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Ujung Pandang 1997. deselerasi atau bradikardi khususnya bila perdarahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. . Moerniaeni N. ukuran janin. maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan kardiotokografi. tentukan lebih dahulu umur kehamilan. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNHAS. Gasong MS.145 Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi vilamentosa yakni pada selaput ketuban.13. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera. Hartono E. KEPUSTAKAAN : 1. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. Rambulangi J.Betke serta hapusan darah tepi. Jakarta 1991 : 9 . pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Namun bila janin sudah meninggal atau imatur dilakukan persalinan pervaginam. Perdarahan antepartum. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti djj yang tidak beraturan. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin. Penatalaksanaan perdarahan antepartum. (2) ETIOLOGI : Tidak jelas (2) DIAGNOSIS : (2) Pada pemeriksaan dalam vagina dirabanya pembuluh darah pada selaput ketuban. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer . 2. PENATALAKSANAAN : (2) Sangat bergantung pada status janin.

Lab USG Vassa previa Sedang atau berat Kehamilan ≥ 37 minggu Penilaian maturitas janin Janin mati atau imatur Janin hidup (prematur atau aterm) Plasebta previa Solusio plasenta Ringan Kehamilan < 37 minggu Kehamilan ≥ 37 minggu Kehamilan < 37 minggu Perdarahan (-) Perdarahan >> Anak mati Istirahat R/ Hematinik Antibiotik k/p Spasmolitik Periksa USG Periksa Hb. Totalis/lateralis Perdarahan >> Presentasi abnormal Panggul sempit Gawat janin Serviks belum masuk panggul 6 jam belum partus Serviks belum matang Perdarahan >> Pembukaan <4 cm atau (-) Panggul sempit Letak lintang Toksemia gravidaru Pelvic Score <5 Berhasil Pervaginam Gagal atau Perdarahan >> Seksio sesar *) Dianjurkan untuk tidak kerja keras dan tidak boleh bersanggama. Fibrinogen Gejala Progresif Persalinan pervaginam PDMO (Double set up) Darah (-) Nyeri (-) Uterus tidak tegang Pulang Resusitasi cairan Transfusi darah Amniotomi Infus Oxytocin’s 3 hari darah (-) mobilitas bertahap. . p. kepala masuk panggul dan perdarahan < Pulang * Amniotomi Infus Oxitocin’s P. marginalis. Hm Istirahat Sedatif Observasi Periksa HB. Fisik Pem. serviks sudah matang. rendah.146 SKEMA PENATALAKSANAAN PERDARAHAN ANTEPARTUM Perdarahan antepartum Diagnosis Anamnesis Pem. jarak tempat tinggal penderita dengan rumah sakit harus dapat ditempuh dalam 15 menit. bila tetap darah (-) P. bila berdarah segera ke rumah sakit.ltk.

Kenaikan tekanan darah (≥ 140/90 mmHg) dengan pemeriksaan 2 x selang 6 jam dalam keadaan istirahat.3) Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. Penyakit ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” dengan akibat suatu vasospasme general dengan segala akibat-akibatnya. (untuk pemeriksaan pertama dilakukan 2 x setelah istirahat 10 menit). 4. PATOFISIOLOGI : (4) Penyebabnya sampai sekarang belum jelas benar. PREEKLAMPSIA & EKLAMPSIA dr.2. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : 1. Kehamilan > 20 minggu 2. Ong Tjandra. atau sistol ≥ 140 mmHg (< 160 mmHg) diastol ≥ 90 mmHg (< 110 mmHg). Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu pada penyakit tropoblas. GEJALA KLINIS : (4) 1. John Rambulangi. dinding perut. Lumbosakral. Edema pada Pretibia.3 gr/lt/24 jam Kwalitatif (+ +) PENATALAKSANAAN : (2) (4) . lumbosakral. 3. 2. SpOG PREEKLAMPSIA RINGAN BATASAN : (1. wajah/tangan. wajah/tangan. Kenaikan tekanan darah sistol ≥ 30 mmHg atau diastol ≥ 15 mmHg (dari tekanan darah sebelum hamil) pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Proteinuri : > 0. dr. dinding perut. Edema : edema tekan pada : Tungkai (pretibial). Proteinuri : gr/lt dalam 24 jamatau secara kwalitatif (+ +) 3.147 9.

Rawat jalan. Persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan 3. Pada kehamilan aterm (≥ 37 minggu) a. rendah karbohidrat. Kenaikan berat badan ibu : ≥ 1 kg/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu) 3. maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. b. Rawat tinggal (1) (1) Kriteria preeklampsia ringan untuk dirawat di rumah Sakit : 1. Bila desakan darah turun. Perawatan Obstetrik : 1. Pada kehamilan preterm (< 37 minggu) a. asam uart darah. fungsi ginjal B. tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan. maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan ≥ 37 minggu 2. maka preeklampsia ringan dianggap sebagai preeklampsia berat. fungsi hati. Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan. Timbul salah satu atau lebih gejala/tanda-tanda preeklampsia berat . Perawatan kemudian disesuaikan dengan perawatan rawat jalan. hematokrit. 2. • Bila dalam perawatan di Rumah Sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm.148 A. • Banyak istirahat (berbaring tidur/miring) • Diet : cukup protein. lemak dan garam • Sedativa ringan : Tablet Phenobarbital 3 x 30 mg atau Diazepam 3 x 2 mg peroral selama 7 hari • Roborantia • Kunjungan ulang tiap 1 minggu • Pemeriksaan laboratorium : Hb. selama perawatan : persalinan ditunggu sampai aterm. urine lengkap. • Bila setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan. Bila desakan darah mencapai normotensif. Cara persalinan . tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejalagejala preeklampsia. trombosit.

Aktif : kehamilan segera diakhiri/diterminasi bersamaan dengan pemberian medisinal B. Konservatif : kehamilan tetap dipertahankan bersamaan memberi pengobatan medisinal. A. Ibu • Kehamilan ≥ 37 minggu • Adanya tanda-tanda/gejala impending eklampsia.149 a. maka perawatan dibagi menjadi : A. kegagalan terapi pada perawatan konservatif yaitu : dalam waktu setelah 6 jam sejak dimulainya pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan 2. Persalinan dapat dilakukan secara spontan. (3. PENATALAKSANAAN : (1) Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat selama perawatan. pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila didapatkan satu atau lebih keadaan gawat dibawah ini : 1. Perawatan aktif Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada tiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG) a. bila perlu memperpendek kala II PREEKLAMPSIA BERAT BATASAN : (4) Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi ≥ 160/110 mmHg disertai proteinuri dan atau edema.4. Laboratorik darah atau setelah 24 jam sejak dimulainya perawatan medisinal. gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan).5) . Janin • Hasil fetal assesment jelek (NST & USG) • Adanya tanda-tanda IUGR 3.

Pengobatan Medisinal 1. Segera masuk rumah sakit. Tirah baring miring kesatu sisi Tanda vital diperiksa tiap 30 menit. Ada tanda-tanda keracunan. Dosis ulangan Diberikan 4 gram im 40 % setelah 6 jam pemberian dosis awal. Harus tersedia antidotum MgSO4. Selanjutnya dosis ulangan diberikan 4 gram im tiap 6 jam. Kelemahan otot 125 . Untuk mengurangi nyeri dapat ditambah 1cc Xylocain 2 % yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan im. 1 gram (10 % dalam 10 cc) diberikan IV dalam 3 menit. Magnesium Sulfat dihentikan bila : (7) 1. 21 panjang 3. dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari. Refleksi petella (+) kuat 3. Syarat-syarat pemberian MGSO4 : (4. d. Infus Dextrose 5 % yang tiap satu liternya diselingi dengan infus Ringer Laktat (60cc /jam) 500 cc 4. Pembagian obat anti kejang : Magnesium Sulfat Cara pemberian: a. Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0. Diet cukup protein. b. 2. Diikuti segera 4 gram di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no.7 cm. (6).5 cc/ kg BB/jam). yaitu calsium glukonas 10%. refleks patella setiap jam. Peningkatan fungsi hepar dan trombositopenia) b. Antasida 5. yaitu : a. (3) c. rendah karbohidrat. 2. Dosis awal : 4 gram MgSO4 intravena (20% dalam 20cc) selama 1 gram/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit).7) 1. lemak dan garam 6. Frekuensi pernafasan > 16 x / menit 4.150 • Adanya “HELLP Syndrome” (Sindroma : Hemolisis. (3) 3.

Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat (dikutip oleh 7) a. . Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinu). payah jantung kongestif atau edema anasarka. Kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot -otot pernafasan. 1997. Hentikan pemberian magnesium sulfat b. Berikan calsium glukonase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit.7). 2. komunikasi pribadi).Desakan darah sistolis > 180mmHg. Hipotensi c.9) Dosis dari obat-obat antihipertensi ini sama dengan dosis pada hipertensi pada umumnya. Bersama dengan awal pemberian sublingual. Antihipertensi diberikan bila : . 8. Depresi susunan saraf pusat f. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan (normotensif). Diberikan Furosemid injeksi 40 mg/IM. Kadar 12-15 mEq terjadi kelumpuhan otot-otot pernafasan dan > 15 mEq/liter terjadi henti jantung (3. Refleks fisiologis menurun d. catapres injeksi dosis yang biasa dipakai adalah 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam. c. Kadar serum ion Magnesium pada dosis edequat adalah 4-7 mEq/liter. Fungsi jantung terganggu e. diastolis > 110mmHg atau “MAP” > 125mmHg. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis < 105 mmHg (jangan < 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta. maksimal 4-5kali. maka obat yang sama mulai diberikan secara oral (Syakib Bakri. 3. (4). Lakukan pernafasan buatan. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada : ederma paru. (8. 7. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter.151 b. Berikan Oxigen d.

c. selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir). Belum inpartu : • Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai bishop ≥ 5 dan dengan fetal heart monitoring. 10. dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja. Pengobatan Obstetrik Cara terminasi kehamilan. (4) • Seksio sesaria bila : • Fetal assesment jelek • Syarat tetesan oxytosin tidak dipenuhi (nilai Bishop < 5) atau adanya kontra indikasi tetesan oksitosin . • Antibitik diberikan atas indikasi (4) o . • Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Diberikan Ampicillin 1 gram /6 jam/IV/hari. 5 C. • 12 jam sejak dimulainya tetesan oksitosin belummasuk fase aktif. Lain-lain • Konsul bagian penyakit dalam /jantung. mata • Obat-obat anti piretik diberikan bila suhu rektal diatas 38. Diberikan digitalisasi cepat dengan cedilanid D. Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesar (1. Kardiotonika Indikasi memberikan kardiotonika bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung.2) Sudah Inpartu : Kala I : (1.152 9. dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau Xylomidon 2cc im.2) Fase latent : 6 jam tidak fase aktif dilakukan seksio sesar Fase aktif : .

2. Penderita kembali ke gejala-gejala/tanda-tanda Preeklampsia ringan dan tetap dirawat selama 3 hari. Pada kehamilan ≤ 37 minggu. (bila perlu dilakukan tetesan oksitosin ) Kala II : Pada persalinan pervaginam. Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian pengobatan medisinal. . Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak ada terminasi. maka kala II diselesaikan dengan partus buatan . Pemantangan paru-paru janin. b. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan harus diterminasi 4.2) a. Perawatan Konservatif (1. Penderita dipulangkan bila : 1. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan : maka diberi lebih dahulu MgSO4 20% 2 gram IV. hanya “loading dose” MgSO4 tidak diberikan IV cukup im saja. dilakukan seksio sesar. yaitu 4 gram bokong kiri dan 4 gram bokong kanan c. Pengobatan obstetrik 1. Indikasi : Bila kehamilan preterm < 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik Pengobatan medisinal : sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan aktif. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda preeklampsia ringan.153 • Amniotomi saja • Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap. bila keadaan memungkinkan terminasi ditunda 2 x 24 jam untuk memberikan kortikosteroid (lihat bab pematangan paru) 1. selambatlambatnya dalam waktu 24 jam 3. d.

Kehamilan > 20 minggu. Kadang-kadang disertai dengan gangguan fungsi organ-organ PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : (4) 1. paru dan jantung. hepar.154 2. GEJALA KLINIS : (4) 1. edema dan proteinuri) 3. Tanda-tanda preeklampsia (hipertensi. yakni terjadinya nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut. dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia. ginjal. atau persalinan atau masa nifas 2. Berdasarkan gejala klinis diatas 2.2) Tujuan pengobatan : • • Untuk menghentikan dan mencegah kejang Mencegah dan mengatasi penyulit khususnya hipertensi krinis .2) Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil. otak. ginjal. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan Preeklampsia ringan : penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai preeklampsia ringan. jantung fungsi hematologi/hemostasis PENATALAKSANAAN : (1. (Kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neurologik). Pemeriksaan laboratorium • • • adanya protein dalam urin fungsi organ. EKLAMPSIA BATASAN : (1. dalam persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. PATOFISIOLOGI : (4) Sama dengan preeklampsia. (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu). Kejang-kejang dan atau koma 4. dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati.

penyakit dalam/jantung. • Perawatan pada serangan kejang : • • • Perawatan di kamar isolasi cukup terang/ICU Pengobatan obstetrik : (1. . Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital/thiopental 3-5mg/kgBB/IV pelan-pelan. Perawatan bersama Konsul bagian syaraf. Bilamana diakhiri. maka persalinan tindakan dengan trauma yang minimal. syarat-syarat untuk mengakhiri persalinan pervaginam dipenuhi.2) Sikap dasar : semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Stabilisasi ibu dicapai dalam 4-8 jam setelah salah satu atau lebih keadaan di bawah ini : • • • • Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir Penderita mulai sadar (responsive dan orientasi) Terminasi kehamilan (4) • Apabila pada pemeriksaan. bagian mata. Pengobatan medisinal : Sama seperti pengobatan preeklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram iv selama 2 menit sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir. sikap dasar : kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) hemodinamik dan metabolisme ibu. Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan satu kali saja. anastesi dan anak.155 • • Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin Mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin untuk ibu.

. bila ada kemacetan dilakukan seksio sesar.156 • • Apabila penderita sudah inpartu pada fase aktif langsung dilakukan amnitomi selanjutnya diikuti dengan partograf. Tindakan seksio sesar dilakukan pada keadaan : • • • • Penderita belum inpartu Fase laten Gawat janin Tindakan seksio sesaria dikerjakan dengan mempertimbangkan keadaan kondisi ibu.

157 PREEKLAMPSIA RINGAN BERAT RAWAT JALAN Kunjungan ulang 1 minggu Dua minggu menetap Umur kehamilan Tanda-tanda vital Laboratorium Fetal Assesment Membaik RAWAT RS 1 Minggu Tidak membaik KONSERVATIF Kehamilan < 37 minggu Janin Baik Setelah 24 Jam Perbaikan menjadi Preeklampsia Ringan Rawat selama 3 hari Tidak ada Perbaikan AKTIF Kehamilan ≥ 37 minggu Tanda-tanda impending 6 jam Terapi TD Meningkat Fetal Assesment jelek IUGR Sindroma HELLP TERMINASI KEHAMILAN BELUM INPARTU INPARTU Bishop skor < 5 Kontra Indikasi Drip oksitosin Fetal Assesment Jelek Bishop skor ≥ 5 Fetal Assesment Baik Drip Oksitosin FASE LATENT FASE AKTIF Amniotomi Bila perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk Kala II KALA II PARTUS BUATAN Setelah 12 jam Tidak masuk Fase Aktif Setelah 6 jam Tidak masuk Fase Aktif SEKSIO SESARIA .

yaitu setelah : Terapi Obat Kejang terakhir Kejang terkahir Terapi obat Hipertensi Terakhir OS mulai sadar Kehamilan Diakhiri Tanpa Memandang usia Kehamilan dan Keadaan janin INPARTU BELUM INPARTU FASE LATENT FASE AKTIF Ada Janin Gawat Tidak ada Amniotomi Kalau perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk kala II Masuk Kala II PARTUS BUATAN SEKSIO SESARIA .BELUM INPARTU INPARTU 158 EKLAMPSIA Waktu Diakhiri Stabilisasi hemodinamika dan Metabolisme.

2. Riwayat kebidanan (1. Faktor Plasenta • Human plasental lactogen bersifat diabetogenik dan meningkatkan proses lipolisis trigliserida. Josephine LT. Sehingga asam lemak meningkat yang menyebabkan meningkatnya resistensi jaringan terhadap insulin.2) . FAKTOR RISIKO : 1. dr. DIABETES MELITUS GESTASIONAL dr.2) • • • • • • Beberapa kali abortus Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas Riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan Pernah melahirkan bayi ≥ 4000 gram Pernah preeklampsia Polihidramnion 2. ringan maupun berat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. (1) PATOFISIOLOGI : Faktor -faktor yang dapat mengganggu keseimbangan karbohidrat pada kehamilan dapat berasal dari : (2) 1. • Adanya enzim yang bekerja seperti enzim insulinase yang dapat merusak insulin dalam plasma. PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHAMILAN 10.1.159 10. Ny. Riwayat Ibu (1. Faktor ibu Pada wanita hamil kadar kortisol meningkat 3 X dari keadaan sebelum hamil. SpOG BATASAN : Diabetes melitus gestasional adalah suatu intoleransi karbohidrat. Haryanto Kasy.

Contoh darah berikutnya diperiksa dua jam setelah beban glukosa. c.199 Adalah cara satu tahap yaitu wanita hamil dalam keadaan puasa pada pagi hari diambil contoh Dianjurkan pada semua ibu hamil pada pertemuan pertama dengan petugas kesehatan. Cara Penapisan (1. Materi Penapisan. Penapisan Diabetes Melitus Gestasional (DMG) sebaiknya harus dilakukan pada semua wanita hamil Waktu penapisan. kemudian diberi beban glukosa 75 gram dalam 200 ml air. (1) a.160 • • • • Umur ibu hamil > 30 tahun Riwayat diabetes melitus dalam keluarga Riwayat diabetes melitus gestasi pada kehamilan sebelumnya Infeksi saluran kemih berulang selama hamil CARA PENAPISAN DAN KRITERIA DIAGNOSIS : 1. b.139 140 . pemeriksaan diulang pada minggu gestasi ke 24 -26. Kriteria diagnosis menurut WHO Glukosa plasma vena ( mg/dl ) Puasa jam < 100 < 140 ≥ 140 ≥ 200 100 . 2.4) darah. (1) mereka yang hasilnya negatif. Untuk Normal Diabetes Melitus Toleransi glukosa terganggu PENATALAKSANAAN : . (1) Tabel 1. Kriteria diagnosis Kriteria diagnosis Diabetes Melitus pada wanita hamil sama seperti pada penapisan bukan wanita hamil.

Keterangan : Berat Badan ideal = (tinggi badan-100) 10% (kg) b. Penatalaksanaan obstetri. Pengendalian kadar glukosa darah dilakukan oleh ahli penyakit dalam dan ahli gizi. (1. (1. 1.4) 1.5) Meliputi : • pemantauan glukosa meter.5) a. (5) Memantau diabetes terkendali.1. Penatalaksanaan medis ibu DMG.4.4. (1.5) Jumlah kalori yang dibutuhkan : 35 kal/kg BB ideal menurut cara Broca.161 Penatalaksanaan kehamilan dengan diabetes melitus selayaknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam. 2/3 diberikan pada pagi hari dan 1/3 pada sore hari. Sasaran : Keadaan normoglikemia selama kehamilan sampai persalinan. Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan perencanaan makan. Perencanaan makan yang sesuai kebutuhan.5 unit/kg BB. ahli gizi dan spesialis anak. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl dan dua jam sesudah makan adalah 120 mg/dl. (1.5) Dosis Insulin : 0. spesialis obstetri ginekologi. (1) Pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan : • • • • Pengukuran tinggi fundus uteri Mendengarkan denyut jantung janin Pemeriksaan khusus : USG dan karditokografi (KTG) Penilaian menyeluruh janin dengan menggunakan nilai Fungsi Dinamik Janin Plasenta (FDJP) darah sendiri dirumah dengan reflectance .5 . • pemeriksaan secara berkala HbAlc setiap 6-8 minggu. (1.4) Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan : (1.

Makrosomia Amniosentensi s paru belum matang steroid 40 minggu paru matang partus biasa Terminasi .162 Skema pengelolaan ibu DMG. (1) DMG terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Pemantauan setiap minggu USG + KTG tidak terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Rawat Pemantauan setiap minggu USG + KTG Janin sehat PJT. gawat janin.

Peningkatan volume darah dan isi sekuncup memperberat kerusakan katup jantung bahkan sampai kegagalan jantung. Bising jantung nyaring. terutama bila disertai thrill 4. SpOG BATASAN Penyakit jantung dalam kehamilan adalah penyakit dengan kumpulan gejala : nyeri dada.6 : Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV : Tanpa gejala : Gejala timbul bila aktifitas lebih dari normal : Gejala timbul pada aktifitas normal : Gejala timbul saat tirah baring Pengaruh kehamilan pada penyakit jantung 5 Perubahan sirkulasi darah mempunyai dampak pada wanita hamil dengan penyakit jantung.2.Ny.3. dr. Johnsen Mailoa. satu diantaranya sudah cukup untuk membuat diagnosis penyakit jantung dalam kehamilan 1: 1. presistolik atau bising jantung terus menerus 2. edema. palpitasi. Bising diastolik. pingsan dan kesulitan bernafas1. DIAGNOSIS Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria.Margaretha J. Pembesaran jantung yang jelas 3. sesak nafas.4. hemoptisis. Resiko tergantung dari kerusakan dan kemampuan kapasitas jantung untuk kompensasi.163 10. Wewengkang. Aritmia yang berat Pemeriksaan laboratorium 6: Menurut Ueland dkk (1972). PENYAKIT JANTUNG DALAM KEHAMILAN dr.6 Menurut klasifikasi New York Heart Association 3. lesu. Pengaruh penyakit jantung pada kehamilan 5 Perubahan hemodinamik dalam kehamilan tidak berpengaruh pada kehamilan dengan kecil masa kehamilan.5. penderita penyakit jantung dalam kehamilan cenderung melahirkan bayi prematur .2.

kemudian setiap minggu masuk rumah sakit ± 1 minggu sebelum taksiran partus.3 : kehamilan aterm. dan tidak hilang setelah menarik nafas dalam 2–3 kali. Penderita harus tirah baring.6. disproporsi sefalo-pelvik. Kala persalinan 1: • tidak berbahaya • nyeri persalinan dikurangi . merupakan gejala awal gagal jantung. obati dengan digitalis. Seksio sesarea hanya atas indikasi obstetri (plasenta previa .2. panggul sempit). pengawasan spesialis penyakit jantung atau penyakit dalam Menurut Mackenzie 1 bila terdengar ronki menetap di dasar paru. segera rawat dan digolongkan satu kelas lebih tinggi. Bila timbul gejala dekompensasi kordis. tinggi protein batasi aktifitas berat ( usia kehamilan 28 – 32 minggu) pemeriksaan antenatal setiap 2 minggu sampai kehamilan 36 minggu. dapat melahirkan pervaginam observasi ketat selama kehamilan.7: • • • Elektrokardiografi Ekokardiografi (Doppler) Kardiotokografi (usia kehamilan > 20 minggu) PENATALAKSANAAN Kelas I dan kelas II • • • • • • • • • 1. persalinan dan nifas cegah timbulnya dekompensasi kordis tidur malam cukup ( 8-10 jam) setiap kali makan istirahat baring ½ jam diit rendah garam.164 • • darah dan urine rutin apusan tenggorok Pemeriksaan penunjang 5.

Morfin (10-15mg). dengan dosis awal 0. Pemberian oksigen. awasi ketat tanda gagal jantung atau edema paru. dan Furosemid • bila kala II > 20 menit atau ibu tidak kuat meneran. • pada kala II. • setelah kala II.2 mg sampai 1. bila nadi >100x/menit dan pernapasan >28x/menit (disertai sesak napas) obati digitalis (delanosid /cedilanid 1.v. persalinan diakhiri dengan forseps atau ekstraksi vakum • sediaan Ergometrin merupakan indikasi kontra • masa nifas dapat terjadi kolaps setelah anak lahir. • laktasi dilarang Prognosis tergantung beratnya penyakit . partus segera diakhiri dengan cunam atau ekstraksi vakum.6 mg i. infeksi nifas dan tromboemboli • istirahat dan mobilisasi bertahap • dianjurkan tubektomi • laktasi dibolehkan jika sanggup secara fisik Kelas III dan IV 1 : • tidak boleh hamil • bila hamil<12 minggu→ abortus terapeutik dipertimbangkan • bila hamil > 12 minggu cegah dekompensasi kordis → tirah baring selama kehamilan dan nifas.8 mg). dapat diulangi 1-2 kali. setelah 1-2 jam.165 • obat sedasi dan analgesia derivat morfin dapat diberikan • partus posisi setengah duduk Awasi terjadinya dekompensasi kordis 1: • periksa nadi setiap 10 – 15 menit. perdarahan postpartum. • gurita kantung pasir untuk mencegah perubahan mendadak sirkulasi darah • oksitoksin intravena atau intramuskulus bila perdarahan.

Plesmodium vivax. sering sembuh spontan tanpa pengobatan. memiliki kemampuan resisten dengan pengobatan 3. Periode berkeringat . ETIOLOGI (2) : Disebabkan oleh Plasmodium.166 10. yaitu demam periodik. Adapun gejala klasik. memberikan infeksi yang paling ringan. menyebabkan malaria quartana/malariae : jarang. merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana / vivax. Plasmodium falsiparum. yaitu : 1. MALARIA DALAM KEHAMILAN dr. memberikan banyak komplikasi.(1) Penyakit ini mempunyai gambaran karakteristik. dr. Periode dingin sampai menggigil b. 4. 2. Plasmodium Malariae. yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara beruntun yakni : (2) a. Adjardiana Idrus. Syahrir Muhammad. anemia & splenomegali. Dalam kehamilan. GEJALA : Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi. Periode panas c. SpOG BATASAN : Malaria dalam kehamilan adalah penyakit protozoa yang dipindahkan pada manusia melalui gigitan nyamuk anopheles (1) yang ditemukan pada wanita hamil. kekebalan ibu terhadap penyakit malaria berkurang terutama pada trimester terakhir. Plasmodium ovale.3.

Gawat janin selama persalinan sering dijumpai pada wanita yang mengalami anemia akibat infeksi malaria yang berat. Segera dilanjutkan dengan 10 mg/kgBB dilarutkan dalam 200 cc . Adapaun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui : a.7) Hari I Hari II Hari III • Chloroquine 600 mg Chloroquine 600 mg Chloroquine 300 mg Pada serangan tiba-tiba.4. PENANGANAN : Pengobatan Pengobatan malaria pada wanita hamil seperti biasa. PEMERIKSAAN PENUNJANG (2) Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosis. Setelah itu. biasanya diberikan 300 mg chioroquine dan Mepacrine. Abortus.3.167 KOMPLIKASI : (1.2. Kematian intra uterin 3. Tetetsan preparat darah tebal Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria sekaligus identifikasi jenis plasmodium b. Karena ibu lemah. bila dengan preparat darah tebal sulit dilakukan Pemeriksaan satu kali dengan hasil negatif tidak menyampingkan diagnosis malaria. Pemberian obat anti malaria kinin Hcl 20 mg/kgBB dalam 100-200 cc cairan dextrose 5 % selama 4 jam. cara yang paling aman ialah suntikan intramuskulus. Dapat diluang 10 jam kemudian. yaitu : (6. Dapat pula terjadi anemia pada nifas 4. tetapi tanpa pemberian primaquin. Tetesan darah tipis Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium. partus prematur 2. dismaturitas. dapat terjadi atonia (6) 5. Pemeriksaan pada saat penderita demam dapat meningkatkan kemungkinan ditemukan parasit. pengobatan dilanjutkan per Oral.5) 1.(3) • Penanganan Malaria berat adalah : (6) 1.

kemudian diikuti dengan dosis 10 mg/kgBB/8 jam sampai penderita dapat minum peroral. Pemberian cairan nutrisi 4. (5) PENCEGAHAN : (5) Pencegahan dengan chioroquine 300 mg/oral. sekali seminggu sampai 4 minggu setelah kembali ke daerah non endemik. Bila sudah sadar kinin diberikan peroral dengan dosis 3 x 400-600 mg selama 7 hari 2.168 Dextrose 5 % diberikan dalam waktu 4 jam. Selanjutnya diberikan dengan dosis yang sama tiap 8 jam. . Dosis 20 mg/kgBB/im terbagi pada 2 tempat suntikan. Penanganan terhadap gangguan fungsi organ yang mengalami komplikasi • • Bila terdapat anemi yang berat (Hb ≤ 6 gr %) harus dilakukan transfusi dengan packed red cells atau whole blood. Preparat ini bisa diberikan intravena pada infeksi yang berat. Kinin dapat diberikan intramuskuler bila melaui infus tidak memungkinkan. (4) Untuk wanita hamil dengan malaria falciparum yang resisten terhadap choroquine dapat diberikan preparat kina peroral. Tranfusi 3.

tetesan darah tebal.Pem. prematur KJDR Anemia Atonia/Intesia Uteri Gawat janin Penanganan Pencegahan Chioroquine 300 mg/minggu (1 x)/oral (mulai sebelum masuk wilayah andemik sampai 4 minggu setelah kembali kedaerah non endemik) Malaria Berat Pengobatan Malaria Ringan Hari I Chloroquine 600 mg Tidak sadar Kinin Hcl 20 mg/kgBB/100-200 cc Dextrose 5 % infus selama 4 jam dilanjutkan Kinin Hcl 10 mg/kgBB/200 cc Dextrose 5 %/infus selama 4 jam. Tetesan darah tipis Koplikasi : Abortus.169 SKEMA PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN MALARIA DLM KEHAMILAN Etiologi : Plasmodium Gejala : Trias Malaria Pem. dismatur. Penunjang : Laboratorium . bila sulit .Pem. dilanjutkan Kinin Hcl dengan Dosis yang sama tiap 8 jam Atau Kinin 20 mg/kgBB/im dilanjutkan dengan Kinin 10 mg/kgBB/8 jam Sadar Kinin 3 x 400-600 mg selma 7 hari Hari II Chloroquine 600 mg Hari III Chloroquine 300 mg Bila resisten Kina per oral atau intra vena .

H.(1) KRITERIA DIAGNOSIS : 1.A. kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun. Tes fungsi hati.(3) Perkusi dada yang redup. 2.170 10. Pemeriksaan sputum.(2) • • BTA (basil tahan asam) : pewarnaan sputum dilakukan dengan metode Ziehl Nielson 3 kali berturut-turut dengan menggunakan mikroskop binokuler. Pernah batuk dahaknya bercampur bercak darah. 3. biasanya didominasi limfosit. Pemeriksaan penunjang. c. Arifuddin Djuanna. Anamnesis. dr. Tes tuberkulin. Biakan / kultur : biakan dilaksanakan dengan metode yang baik seklaigus resistensi tes.4. Biasanya dipakai cara Mantoux dengan menyuntikkan 0. Pemeriksaan radiologis : foto toraks posteroanterior dan lateral. Badan kurang enak “ malaise”. Haryanto Kasy .(2) • • • • • Batuk terus menerus berdahak 3 minggu atau lebih. Laboratorium darah rutin. LED (laju endapan darah) mungkin tinggi. a. Lemah badan.(2) • • • Hitung jenis. TUBERKULOSIS PARU DALAM KEHAMILAN dr.1 cc tuberkulin PPD “Purified protein derivative” . pada auskultasi suara napas yang bronkial serta didapatkan ronki basah kasar dan nyaring. SpOG BATASAN : Penyakit tuberkulosis paru yang disebabkan oleh mycobakterium tuberkulosis yang dijumpai dalam masa kehamilan. Sesak nafas atau rasa nyeri dada. keluar keringat malam. Pemeriksaan fisik.(2.3) b. d.

R H 300 mg 500 mg 450 mg 600 mg 600 mg 600 mg setiap hari selama 1 bulan. INH periodik 2 < 33 kg 33 . diet tinggi kalori tinggi protein. a.(4) 2. (1) Kegiatan fisik dikurangi. Bila TBC paru (BTA +) : 1R7H7E7 . b.5-8R2H2. INH. Masa kehamilan Perawatan kehamilan dapat dilakukan seperti biasa. Tes tuberkulin yang positif tidak selalu diikuti dengan penyakit. Dosis obat anti tuberkulosis.(2) Keterangan : R = Rifampisin H = INH E = Etambutol Berat badan Jenis obat fase intensif R 300 mg 450 mg 600 mg H 200 mg 300 mg 400 mg E 800 mg 800 mg 1200 mg Jenis obat fase lanjutan/periodik.50 kg > 50 kg 3. Pengobatan medikamentosa. Bila tes tuberkulin positif tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinik diberikan : INH selama 1 tahun.(5) Artinya : Rifampisin. Penanganan obstetri a.(2) PENGELOLAAN : 1.(3) Hasil tes : indurasi 10-15 mm = Mantaoux positif(3) . bila persalinan berjalan lancar tidak dilakuka sesuatu dan diusahakan agar persalinan dapat berlangsung dengan . cukup. Etambutol diberikan intensif kali dalam seminggu selama 5-8 bulan. b. c. kemudian dilanjutkan rifampisin. istirahat Selama persalinan penderita TBC paru aktif ditempatkan dikamar tertentu / kamar isolasi. Masa persalinan. diberi masker untuk menutup mulut dan hidung. hasil yang negatif tidak selalu menyngkirkan penyakit. Rawat bersama dengan Subbagian Pulmonologi Bagian Penyakit Dalam.171 Intrakutan.(1) Persalinan kala I maupun kala II diusahakan seringan-ringannya.

(1) PROGNOSIS : Kecepatan diagnosis dan tatalaksana berperan dalam prognosis. penderita dirawat diruang observasi 6 .(5) . harus dirawat diruang isolasi.8 jam.(5) Namun apabila kala II melelahkan sebaiknya dipercepat dengan bantuan ekstraksi foeceps. Masa nifas Setelah penderita melahirkan.(5) Tindakan seksio sesar hanya dilakukan atas indikasi obstetri dan tidak atas indikasi tuberkulosis paru.(5) c.172 spontan.(1) Dalam keadaan ideal bayi setelah lahir segera dipisahkan dari ibunya sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif.(1) Penderita yang tidak mungkin dipulangkan. Diberi obat uterotonika dan obat TBC paru diteruskan. serta nasihat perawatan masa nifas yang harus mereka lakukan. kemudian penderita dapat dipulangkan langsung. vakum atau ekstraksi kaki.

Etambutol. Tes tuberkulin Laboratorium Bila perlu foto toraks TBC paru aktif Hanya tes tuberkulin + (tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinis) Pengobatan medikamentosa : INH.173 TBC PARU DALAM KEHAMILAN Penderita kemungkinan tuberkulosis Ada riwayat kontak Faktor risiko : Sosial ekonomi Perumahan padat Gejala mencurigakan : Batuk darah Nyeri dada Keringat malam berat badan menurun demam Pemeriksaan fisik paru. Pengobatan medikamentosa : INH selama 1 tahun Perawatan kehamilan Penanganan persalinan atas indikasi obstetri . Rifampisin.

kesukaran bicara. reaksi imunologi (alergi) dimana lg E meninggi B. ortonea. H. sesak napas. batuk yang ditemukan pada wanita hamil. dispnea. pulsus paradoksus.3) • • • • • • • • • Asma akut dengan bronkodilator tidak membaik Takikardi persisten Dispnea Hipertensi Pulsus Paradoksus Sianosis Hipoksemia (PO2 < 70 mmHg) Hiperkarbia (PCO2 < 38 mmHg) Emfisema subkutan .5) INDIKASI MASUK RUMAH SAKIT : (1. takikardi persisten. Eddy R. (1) ETIOLOGI : A. wheezing. dada terasa berat. takipnea. Dorphiana Litaay. ASMA BRONHIALE DALAM KEHAMILAN dr. eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa mengi. (1. faktor genetik Gabungan A dan B KRITERIA DIAGNOSTIK : Batuk.174 10. dr. sianosis. SpOG BATASAN : Asma dalam kehamilan (ADK) adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast.5. penggunaan otot bantu pernapasan. hiperventilasi.2. sesak. Moeljono. ekspirasi memanjang.

Terbutalin 0. Bila sudah menggunakan aminofilin kurang dari 12 jam berikan setengah dosis saja. feneterol 2. parenteral.2.25 mg atau Salbutamol 0. subcutan. terbutalin 10 mg dengan inhalasi nebolisasi dapat diulang setiap 20 menit dalam 1 jam .(4) .0 mg oral : Prednison 30-60 mg per hari : Betametrion inhalar 100 mg. Tindakan seksio sesaria atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan.25mg dalam dekstrosa 5 % pelan-pelan. Sedapat mungkin memakai obat oral sesedikit mungkin.5 mg . Asma akut : • • O2 4-6 liter Beta-2 agonis : salbutamol 5 ml .5-5. Persalinan biasanya dapat berlangsung akan tetapi bila penderita masih dalam serangan dapat diberi pertolongan tindakan berupa ekstraksi vakum atau forceps.3) Prinsip pengobatan asma dalam kehamilan pada dasarnya tidak berbeda dengan asma lain. • • • Aminofilin bolus IV 5-6 mg per kg berat badan. Kortikosteroid sistemik Asma kronik Desenitasi alergen : Teofilin 800-1200 mg per hari (oral) : Terbutalin 2. obat yang terpilih yaitu golongan bronkodilator seperti agonis beta-2 inhalar dengan atau tanpa steroid.175 PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Uji faal paru KONSUL BAGIAN PENYAKIT DALAM INFORM KONSET (PERLU) PENATALAKSANAAN : (1. intravena.

Tergantung dari bagian janin yang terendah. yakni bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus keatas. Anamnesis akan didapatkan gerakan anak dirasakan terutama dibagian bawah rahim. Leopold III bokong teraba dibagian bawah rahim Leopold IV menentukan bokong sudah masuk atau belum kedalam pintu atas panggul. LETAK SUNGSANG DAN PENATALAKSANAANNYA dr. ETIOLOGI : (1. Mardiah Tahir. Palpasi :Leopold I meraba adanya kepala pada fundus uteri Leopold II teraba punggung disatu sisi. Letak lutut 4. Letak kaki Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut. POSISI DAN PRESENTASI JANIN 11. yakni disamping bokong teraba kaki.2) Letak sungsang adalah letak janin yang memanjang dengan kepala terletak pada fundus uetri dan bokong menempati bagian bawah kavum uteri. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan fisik : 1. KELAINAN LETAK. . Syahrir Muhammad. dapat dibedakan : 1. Letak bokong murni : Frank Breech. disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna (Incomplete Breech = Footing Breech).2) Diagnosis letak sungsang biasanya tidak sulit. sering merasakan adanya benda keras yang menekan tulang iga.176 11. atau hanya teraba satu kaki atau lutut. A. 2. Letak bokong kaki : Complete Breech. SpOG BATASAN : (1. 3. bagian-bagian kecil disisi lain.1. adanya perasaan berat didaerah epigastrium. dr. Disebut letak bokong kaki sempurna bila disamping bokong teraba kedua kaki dan letak bokong kaki tidak sempurna bila disamping bokong teraba satu kaki saja.

Versi luar dilakukan dengan hati-hati tanpa anestesi. serviks lunak. volume cairan amnion. lokasi plasenta. menaksir berat badan janin. Periksa dalam vagina : pada pasien inpartu terutama bila ketuban sudah pecah dapat teraba bagian terendah janin yaitu bokong. dilakukan pemeriksaan radiologi. menentukan kemungkinan adanya cacat bawaan. Setelah versi luar dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan Fetal Heart Monitoring. prakiraan berat badan 2500-3175 gram.177 2. sedangkan pada multipara dilakukan pada umur kehamilan 36-38 minggu. 5. Dalam kehamilan (1) Dalam kehamilan sedapat mungkin dilakukan versi luar menjadi letak kepala. letak janin. kaki atau lutut 4. taksiran berat badan janin. menentukan kemungkinan adanya kelainan bawaan anak ( hidrosefalus / anensefalus ). kehamilan ganda. Radiologi (bila perlu) : Menentukan posisi tungkai bawah. menentukan letak plasenta. PENATALAKSANAAN : A. mendatar dan dilatasi lebih dari 3 cm. bentuk pelvik ginekoid atau antropoid dan pernah melahirkan bayi letak sungsang dengan berat badan lebih dari 3175 gram atau letak kepala dengan berat badan lebih dari 3630 gram. stasi -1 atau lebih rendah. Auskultasi : Bunyi jantung janin umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pusat. Bila versi luar gagal. lilitan tali pusat dan kedudukan kepala apakah hiperektensi atau tidak . . Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menilai ukuran biparietal. ada tidaknya cacat bawaan janin. Dalam persalinan (1.3) Beberapa kriteria yang dipakai dalam mempertimbangkan persalinan pervaginam adalah : Umur kehamilan aterm. usia kehamilan dan lain-lain. dapat dilakukan versi luar 1-2 minggu kemudian. Bila syarat-syarat versi luar dipenuhi dan tidak ada indikasi kontra versi luar. B. bila tidak ada komplikasi pada janin. Pada nullipara versi luar dilakukan pada umur kehamilan 34-36 minggu. USG : Diperlukan untuk konfirmasi letak janin apabila pemeriksaan fisik tidak jelas. 3. konfirmasi menentukan secara akurat ukuran dan bentuk panggul. Apabila ada dugaan hiperekstensi kepala janin yang tidak jelas dilihat dengan ultrasonografi serta dugaan disproporsi fetopelvik.

178 Selama persalinan dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan Fetal Heart Monitoring (FHM). Selama turunnya janin tidak terganggu dan tidak ada tanda-tanda janin dalam bahaya. dilakukan ekstraksi total. tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. prakiraan berat badan janin lebih dari 3500 gram atau kurang dari 2000 gram. bokong belum masuk panggul pada inpartu multipara. Tahap I : Fase lambat. kepala hiperekstensi. prolapsus funnikulidan ibu dengan penyakit jantung atau paru yang tidak memungkinkan ibu mengedan. Dalam persalinan pervaginam sedapat mungkin dilakukan dengan cara Bracht. Disebut fase lambat karena hanya untuk melahirkan bokong yaitu bagian janin yang tidak berbahaya. Disebut fase cepat karena fase ini kepala janin sudah masuk PAP sehingga kemungkinan tali pusat terjepit. presentasi kaki. yang bila tidak berhasil dipakai cara Lovset. adanya disprorsi. Tahap II : Fase cepat. prematur (< 37 minggu). 2. Disebut fase lambat karena kepala akan keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang bertekanan rendah. plasenta previa. Dikenal ada 3 tahp dalam menolong persalinan letak sungsang yaitu : 1. bila tidak berhasil digunakan cunam Piper. riwayat persalinan yang buruk. Untuk melahirkan kepala dipakai cara Mauriceau. Menolong kelahiran janin dalam letak sungsang memerlukan kesabaran. mulai lahirnya mulut sampai kepala lahir. Sedang indikasi melakukan persalinan perabdominal adalah : primigravida tua. oleh karena itu fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat harus dilonggarkan. CARA-CARA PERSALINAN PADA LETAK SUNGSANG : . Pada perkiraan anak besar dan primigravida dapat dipertimbangkan ekstraksi parsial terutama dengan cara Klasik atau Muller. ketuban pecah lebih dari 12 jam. mulai dari lahirnya bokong sampai pusar (skapula depan). oleh karena deteksi kemungkinan adanya CPD/FPD sulit.5 cm. ketuban). diameter biparietal > 9. sehingga kepala harus dilahirkan secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra kranial (adanya ruptura tentorium serebelli). 3. indeks Zatuchni Andros 0-3 dan prolapsus funikuli disertai gawat janin. Pada dasarnya Oxytocin drips pada letak sungsang tidak dianjurkan. bokong belum masuk panggul pada akhir kehamilan pada nullipara. Pada partus lama kala II. Tahap III : Fase lambat. preeklampsia berat dan eklampsia. nilai sosial janin yang tinggi atau infertilitas. yang bila ada kelainan dapat dipertimbangkan melakukan persalinan perabdominam dengan segera. mulai lahirnya pusar sampai lahirnya mulut.

letak sungsang memberikan resiko yang lebih tinggi bagi ibu maupun anak. Kerusakan pada otot. Morbiditas ibu meningkat disertai sedikit peningkatan mortalitas oleh karena tindakan persalinan operatif. Perabdominam : bila ada indikasi  lihat skema penatalaksanaan letak sungsang. terdiri dari : Ekstraksi bokong & Ekstraksi kaki. . Pervaginam : • • • • • Bracht Ekstraksi parsial (melahirkan bahu). terdiri dari : Klasik (Deventer) & Muller Lovset (bila melhirkan bahu secara ekstraksi parsial gagal) Mauriceau (melahirkan kepala).2) Bila dibandingkan dengan letak kepala. bila gagal  pakai cunam Piper Ekstraksi total. b. PROGNOSIS : (1. Penyebab utama kematian perinatal adalah persalinan prematur. kelainan kongenital dan trauma persalinan. organ visera serta kerusakan pada pleksus brachialis dan trauma pada medulla spinalis servikalis dapat terjadi baik pada persalinan pervaginam maupun perabdominal. termasuk seksio sesar pada letak sungsang yang menetap.179 a. jaringan lunak. Prognosis untuk janin letak sungsang lebih buruk dibandingkan dengan letak kepala.

PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG PADA KEHAMILAN TUNGGAL

199

DALAM KEHAMILAN VL

DALAM PERSALINAN DITENTUKAN UMUR KEHAMILAN PREMATUR ATERM

Hasil pemeriksaan USG
BERHASIL Versi dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI TIMBU KOMPLIKASI TIDAK BERHASIL Versi tidak dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI HIPEREKSTENSI KEPALA FLEKSI KEPALA Dilahirkan pervaginal bila : panggul normal kemajuan persalinan baik pernah melahirkan bayi let su dengan BB>3175 gr atau let kep > 3630 gr BAYI BESAR >.3500 gr) BAYI KECIL <2000 GR) BERAT NORMAL 2000-3500 gr

DJA tetap baik pada 3 kali pemeriksaan dgn interval 5’ PARTUS LETAK KEPALA

sulusio plasenta ketuban pecah gawat janin (DJA > 160/m’, tidak teratur VL DICOBA SEKALI LAGI

Seksio sesar bila : FPD persalinan terhenti gawat janin Ketuban pecah 12 jam

MRS UNTUK OBSERVASI

SEKSIO SESAR Solusio plasenta tetap gawat janin ketuban pecah lebih 12 jam pada kehamilan aterm

KEHAMILAN DIPERTAHANKAN DJA anak bertambah baik ketuban pecah pada prematur dirawat sebagai ketuban pecah dini

SEKSIO SESAR Tindakan seksio sesar primer dilakukan pada kasus : nulipara tua riwayat infertilitas riwayat persalinan yang buruk (anak mati/sakkit akibat proses persalinan Stasi bokong tinggi atau belum masuk panggul pada impartu plasenta previa prolapsus funikuli dengan gawat janin

PERSALINAN PERVAGINAL KLASIK MULLER

CARA BRACHT prakiraan anak kecil CARA LOVSET Cara klasik & muller gagal

EKSTRAKSI PARSIAL

EKSTRAKSI TOTAL - partus lama kala II - preeklampsia/eklampsia - prolapsus funikuli - ibu dengan penyakit jantung/paru-paru

nulipara cara Bracht gagal VL tidak berhasil

Catatan/alat yang disiapkan : Sebaiknya semua kasus dilakukan Fetal Heart Monitoring Cunam Piper, alat resusitusi dan tabung oksigen harus disiapkan. Episiotomi dilakukan pada waktu bokong membuka vulva, dan kerjakan secara rutin Pada kepala menyusul dan anak sudah mati, dilakukan embriotomi bila tidak dapat dilahirkan dengan cara Maureceau

CARA MAURICEAU EKSTRAKSI CUNAM (CUNAM PIPER) - Cara Mauriceau gagal

EKSTRAKSI BOKONG (EXVAKUM) - Letak bokong kani - letak bokong murni

EKSTRAKSI KAKI - Letak kaki

11.2. LETAK LINTANG dr. Nursanty AP., dr. H.M.Maramis Palisuri, SpOG BATASAN : Letak lintang adalah suatu keadaan dimana sumbu memanjang tubuh anak tegak lurus dengan sumbu memanjang tubuh ibu. Janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu dan bokong pada sisi yang lain. (l,2,3,4,5) Posisi kepala menunjukkan kiri atau kanan sedangkan punggung janin terletak didepan (dorso anterior), dibelakang (dorso posterior), diatas (dorso superior) atau dibawah (dorso inferior). (l,4) ETIOLOGI : Penyebab utama letak lintang adalah : (l,2,3,4,5,6) 1. Multiparitas akibat dari relaksasi berlebihan dinding abdomen . 2. Prematur. 3. Hidramnion. 4. Plasenta previa 5. Uterus abnormal. 6. Panggul sempit. 7. Kehamilan kembar. DIAGNOSIS : Ditegakkan berdasarkan : Pemeriksaan fisis. Inspeksi : Abdomen melebar kesamping dan fundus uteri membentang sedikit diatas umbilikus. (3,4,5) Palpasi : Fundus uteri kosong, kepala janin berada disamping, dan diatas simpisis kosong, kecuali bahu sudah turun kedalam panggul, denyut jantung janin ditemukan disekitar umbilikus.
(3,4)

Pada pembukaan lengkap

ketuban sudah pecah, apabila bahu sudah masuk kedalam panggul, pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahu dan tulang-tulang iga. Punggung dapat ditentukan dengan terabanya skapula kadang-kadang dapat diraba

201 tali pusat yang menumbung.(3,4,5) Dapat pula teraba tangan, bila teraba tangan hendaknya ditentukan tangan kanan atau kiri, untuk menentukan posisi janin dalam uterus. Tangan kanan cocok untuk berjabatan dengan jari pemeriksa. (5,6) Pemeriksaan penunjang : Dengan pemeriksaan radiologis dan ultrasonografi. (6) PENANGANAN : Pada kehamilan : Sebaiknya mengubah menjadi presentasi kepala atau menjadi presentasi bokong dengan cara versi luar. Pada persalinan : ⇒ Pervaginam : • Konduplikasio korpore atau dengan evolusio spontan bila janin kecil, sudah mati, dan menjadi lembek (3,4) • Versi ekstraksi : pada kehamilan kembar setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua dalam letak lintang. • Embriotomi : pada janin mati. ⇒ Seksio sesarea : pada janin hidup . (l,2,3,4) KOMPLIKASI : • Ruptur uteri spontan • Ruptur traumatik . (2,3,5) PROGNOSIS : Janin letak lintang berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Kebanyakan kematian pada bayi dan ibu akibat komplikasi.(3)
(2,3,4,5)

Tungkai atas (lengan-tangan) salah satu atau kedua-duanya. Presentasi kepala dengan bagian yang menumbung berupa : a.(1. . Bila teraba bokong maka yang didapatkan yaitu tangan atau lengan. c.3. Cornelia ST.202 8.2.3.. DIAGNOSIS : Pada pemeriksaan dalam vagina teraba kepala dengan satu ekstremitas (tungkai atas.3) ETIOLOGI : (1. b. dr.4) Presentasi letak janin meliputi semua keadaan menghalangi pengisian dan penutupan pintu atas panggul sepenuhnya oleh bagian terendah janin. Semua kombinasi diatas dapat disertai komplikasi tali pusat yang menumbung dan ini merupakan masalah yang penting dalam hal prognosis. tungkai bawah. Penyulit : Kemungkinan terhambatnya kemajuan persalinan lebih besar. LETAK MEJEMUK dr. Pada letak majemuk dapat juga disertai penumbungan tali pusat. atau kedua lengan dan kaki bersamaan). 2. Tungkai bawah (tungkai-kaki) salah satu atau kedua-duanya. SpOG BATASAN : Letak majemul adalah satu ekstremitas menumbung (prolapsus) disamping bagian terendah dan turun dalam rongga panggul bersama-sama. Presentasi bokong dengan tangan atau lengan yang menumbung.(1) 1. Lengan dan kaki bersama-sama. serta menghalangi putaran paksi dalam.(1) Presentasi bokong kaki dan presentasi bahu tidak dimasukkan kedalam golongan ini. Telly Tessy. (1) Klasifikasi.

KOMPLIKASI : . Penanganan paling baik untuk letak majemuk (tanpa komplikasi seperti tali pusat menumbung) adalah menunggu dengan penuh perhatian(1). lengan dan kaki yang menumbung naik keluar dari panggul sehingga memungkinkan persalinan berjalan normal. reposisi tidak mungkin lagi. Ini kemudian menjadi masalah yang besar dan penting sehingga penanganannya ditujukan terutama pada tali pusat yang menumbung(1). maka persalinan diselesaikan dengan forceps. tetapi lengan yang menumbung baiknya direposisi kalau pembukaan sudah lengkap. Kalau kepala sudah jauh masuk kedalam rongga panggul. Selanjutnya penanganan letak majemuk tanpa komplikasi dibagi berdasarkan klasifikasinya yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 1). kalau terjadi gangguan putaran paksi dapat diselesaikan dengan ekstraksi forceps dengan memasang sendok forceps antara tangan yang menumbung dan kepala anak (3). Kaki yang menumbung disamping kepala baiknya direposisi(3). Sedangkan pada tangan yang menumbung. Penumbungan tali pusat adalah keadaan tali pusat ada disamping atau dibawah bagian terbawah janin(1). Penekanan tali pusat antara bagian terbawah janin dengan panggul ibu mengurangi atau menghentikan aliran darah kejanin dan bila tidak dikoreksi akan menyebabkan kematian janin(1). karena dapat menghalangi turunnya kepala(3). Selanjutnya penanganan letak majemuk dengan komplikasi penumbungan tali pusat dibagi berdasarkan klasifikasi yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 2).203 PENATALAKSANAAN : A. Tanpa komplikasi. tidak menghalangi persalinan spontan jadi baiknya dibiarkan.(3) Kalau reposisi tidak berhasil dan kepala tidak mau turun dilakukan seksio sesarea(3). Pada 13 sampai 23 persen kasus presentasi majemuk ada komplikasi tali pusat menumbung. Dengan komplikasi penumbungan tali pusat. B. Pada kebanyakan kasus setelah pembukaan menjadi lengkap dan bagian terbawah turun. Jadi selama persalinan maju tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa(1).

PROGNOSIS : Dengan penanganan konservatif hasilnya tidak harus lebih jelek dibanding dengan presentasi-presentasi lainnya(1).204 Penumbungan tali pusat(1). .

205 SKEMA PENALAKSANAAN LETAK MAJEMUK LETAK MAJEMUK PRESENTASI KEPALA Observasi kemajuan persalinan PRESENTASI BOKONG Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Reposisi penumbangan Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan DJA (+) DJA (-) Ekstraksi total Seksio sesarea BERHASIL TIDAK BERHASIL Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea DJA (+) DJA (-) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) Ekstraksi vakum PARTUS PERVAGINUM Ekstraksi forsipal Seksio sesarea Ekstraksi vakum Ekstraksi forsipal Seksio sesarea PARTUS PERVAGINUM .

206 LETAK MAJEMUK DJA (+) DJA (-) Presentasi Kepala Reposisi tali pusat posisi Trendelenburg Presentasi Bokong Observasi kemajuan persalinan Presentasi Kepala Presentasi Bokong Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ekstraksi vakum Ekstraksi Forsipal Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea Ekstraksi total Seksio sesarea Seksio sesarea Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Seksio sesarea PARTUS PERVAGINAM Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) .

2. Maggie Wewengkang.4. SpOG BATASAN : Posisi oksiput posterior persisten adalah : suatu keadaan letak belakang kepala dengan posisi oksiput posterior dimana tidak terjadi putaran paksi.2.2. Benyamin Rapa. (1.3) • Pemeriksaan dalam vagina : Putaran paksi terhalang atau tidak terjadi pada saat penurunan kepala berada pada Hodge III/Hodge IV. dr. POSISI OKSIPUT POSTERIOR PERSISTEN dr. PENATALAKSANAAN : (1.2) ETIOLOGI : (1.4) • Panggul anthropoid • Panggul android • Kesempatan panggul tengah • Ketuban pecah sebelum waktunya • Fleksi kepala kurang • Inersia uteri • Arkus pubis sangat luas DIAGNOSIS : (1. Partus pervaginam berupa : • • • • • • Persalinan spontan Persalinan dengan forseps Rotasi forseps Rotasi manual Ekstraksi vakum Tindakan episiotomi (bila perlu) .3.3) a. Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara.207 11. Angka kejadian adalah 10 % dari seluruh posisi oksiput posterior.

Dalam : Sinopsis obstetri. Seksio sesar : bila gagal partus pervaginam KEPUSTAKAAN : 1. Dalam : Obstetri patologi UNPAD. 1994 : 160-69 3. Gant NF. Distosia karena kelainan janin. Mochtar R.A. Waverly Press. 403-21 2. Jakarta. posisi atau perkembangan janin. posisi atau kelainan janin. 1990 : 378-91. Edisi 18 (Bahasa Indonesia). Bandung.208 b. Dalam : Rohardi Dh. Caplan M. Elstar Offset. Baltimore U. . Penerbit buku kedokteran EGC. Cunningham F. Mac Donald PC. Jakarta.S. presentation and position in : Principles of obstetrics. 1982 : 262-64. Distosia karena kelainan presentase.D Abnormal lies. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Obstetri Williams. Ronald M. Sastrawinata S. 4. Obstetri patologi. Distosia karena kelainan pada presentase.

tumor pada leher depan. hidrosefalus.209 11. SpOG BATASAN : Presentasi muka adalah kepala janin terdapat dalam keadaan defleksi maksimal sehingga aksiput tertekan pada punggung dan muka menghadap kebawah. (1) INSIDEN : • • • • Cruikshank & white (1973) melaporkan 1 : 600 kelahiran atau 0.17 % (2) Sarwono Prawirodihardjo 1948) di RSCM melaporkan 0. masingmasing melaporkan 0. dls) Prematuritas Disproporsi Sefalopelvik Usia Tumor pelvik Polihidramnion Kehamilan ganda Plasenta previa Makrosomia DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan : .1 % Lembaga Statistik Obstetri & Pernoll M.L. Mardiah Tahir. PRESENTASI MUKA dr. Habar Garu.3) • • • • • • • • • • Grandemultipara Anomali kongenital (anensefalus. dr.2. A.000 kelahiran bayi tunggal di RS Parkland dalam tahun 19831986.2 % (2.3) Dari hampir 50. 41 kelahiran atau 1 : 1200 adalah kelahiran dengan presentasi muka (2)+ ETIOLOGI : (1. H.5.

muka dapat diidentifikasi dengan meraba mulut. Kepala bayi dalam posisi hiperekstensi & tulang muka berada pada atau sudah dibawah pintu atas panggul merupakan gambaran yang cukup khas (2.3) PENATALAKSANAAN • Persalinan pervaginam : bila tidak ada penyempitan panggul persalinan spontan dapat diharapkan bila dagu berada didepan dengan syarat kepala belum jauh masuk kedalam panggul dan masih mudah didorong ke atas (1) Persalinan pervaginam juga dapat berlangsung spontan bila anak kecil dan tidak ada disproporsi sefalopelvik (1) • Persalinan perabdominam (seksio sesar) bila ada kesempitan panggul.210 • Pemeriksaan Fisi (Leopaold). bagian kepala menonjol yakni belakang kepala terdapat disebelah yang bertentangan dengan letak dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas (1. tulang pipi dan sebagian tulang orbita. hidung.5 .3) • Pemeriksaan penunjang : Radiologi. dan posisi mento posterior yang tidak dapat lagi dikoreksi (1) PROGNOSIS : (1) • Pada umumnya persalinan berjalan tanpa kesulitan. disamping itu muka tidak dapat melakukakan dilatasi serviks dengan sempurna • • Prognosis letak mento posterior kurang baik bila dibandingkan dengan letak mento anterior karena sulit lahir pervaginam Angka kematian janin adalah 2. Hati-hati karena dapat keliru membedakan dengan letak bokong (1. pada kasus panggul sempit dan anak besar daapat menimbulkan kesulitas. • Pemeriksaan dalam v agina.5 % .3). partus macet/lama.

In : Current Obstetric Gynecologic Diagnosis & Threatment. 548-53 2. Pernoll ML. Herrera E. Ed. “ Complications of labor & Delivery”.211 KEPUSTAKAAN : 1. 1995. Ed. 412-5 3. Ilmu Kebidanan. Hal. A Lange Medical Book. NF Gant. 493-501 SKEMA PENATALAKSANAAN PRESENTASI MUKA PRESETASI MUKA MENTO ARTERIOR MENTO POSTERIOR BERHASI L VERSI TIDAK BERHASIL PERABDOMINAM Bila : CPD/FPD Panggul sempit Anak bernilai sosial tinggi Partus macet/lama PERVAGINAM PERABDOMINAM PERVAGINAM Bila : Bila : Panggul normal Panggul sempit Bila : Anak CPD/FPD Anak kecil diperkirakan Anak bernilai Multipara dapat lahir sosial tinggi Panggul pervaginam Partus normal Multipara macet/lama . II. Obstetri Williams. cetakan I (Edisi Bahasa Indonesia). 18. Sarwono Prawirodihardjo. 1991. PC Mac Donal. 1981. 7th Ed. Hal. FG Cunningham.

3. anensefali.panggul sempit. H.1 ETIOLOGI : • • Dari ibu: Multipara.4) • Ultrasonografi : untuk menemukan etiologi dari janin.6.perut gantung.R Moeljono. SpOG BATASAN : Presentasi dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga bagian kepala bayi diantara lengkungan orbita dan fontanel anterior.212 8. dr.(1.(4) . yang menimbulkan kecuriga an adanya presentasi dahi.tumor dileher bagian depan.2. polihidramnion Dari janin : Janin besar.4 DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan: • Pemeriksaan fisis (Leopold). • Pemeriksaan dalam vagina dapat diraba sutura frontalis yang bila diikuti. PRESENTASI DAHI dr. sama seperti presentasi muka tetapi bagian belakang kepala tidak seberapa menonjol dan terdapat disebelah yang berlawanan dengan dada. Angka kejadian letak dahi kurang lebih satu diantara 400 persalinan. plasenta previa. berada diatas pintu atas panggul.1.2.2.ubun besar dan pada ujung yang lain teraba pangkal hidung dan lengkungan orbita. pada ujung yang satu diraba ubun .E. Rudianto HP. tumor . Pada dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas.(1.4 ) Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara dan sebagian besar akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala.

Janin dan ukuran panggul normal Akhir kala I kepala belum masuk PAP Kala II tidak mengalami kemajuan walaupun kepala sudah masuk rongga panggul.213 PENATALAKSANAAN : Persalinan pervaginam bila : • • Janin kecil dan panggul yang luas Presentasi berubah menjadi presentasi muka (lihat penatalaksanaan presentasi muka) atau belakang Seksio sesar bila : • • • kepala.2) .3) PROGNOSIS : Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal tidak dapat lahir pervaginam.(2. kecuali bayi kecil dan panggul yang luas. (1.

Gant NF. Cunningham FG. Kaufman SA. Jakarta. 1991.214 KEPUSTAKAAN : 1. Jakarta. Edisi 3 .Gyn Procedure. Third Edition. Presentasi dahi . Ilmu Kebidanan. Abadi A. In : Barber HK. Philadelphia. Disaia PJ. Philadelphia. Edisi 18 ( Bahasa Indonesia ). Yayasan Bina Pustaka. 602-06 3. Rachimhadi T. Brow presentation. Fields DH. Dalam : Wiknyosastro H. Sixth Edition. 415 -16 2. In: Scott JR. Penerbit Buku Kedokteran EGC. J. Brow presentation. Lippincot Company. 1995. Mac Donald PC. Martohoesoedo. Lippincott Company. Fields DH. Danforth’s Obstetrics and Gynecology. Saifuddin AB. 1990. Quick Reference To Ob .139 4. Dalam : Ronardy Dh.B. 1990. Presentasi dahi. Cruikshank DP. 578 -79. J. Hammond CB.B. . Spellacy WN. Obstetri Williams.

8. Inspekulo keluar cairan dari OUE. dr. dll. bila fundus uteri ditekan atau digerakkan pemeriksaan mikroskopis. Keluarnya cairan jernih dari vagina.9) 4. (1. Contoh : TORCH. (7.9) 3. Trauma. Pemeriksaan laboratorium.9) PENATALAKSANAAN : (9) .9) 3. 1.2.6.3.8.7) d.5.2. ST.5. (8.9) 2. PDV : ketuban negatif. USG. (6.4. (1) ETIOLOGI : Belum diketahui dengan pasti (1.5.9) DIAGNOSIS : 1. contoh : amniosentesis.8.8. Telly Tessy. Infeksi.2. Kelainan letak atau presentasi janin.9) Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya KPD adalah : a. (1. KETUBAN PECAH DINI dr.2.5. pemeriksaan panggul atau koitus.9) b.4.5) c.7. (6.8. (4. Pemeriksaan Penunjang. Pemantauan kesejahteraan janin.5.215 12.9) 4.6.9) 2. Peningkatan tekanan intrauterina. (5. Inkompeten serviks.9) e. (1. Leukosit dan suhu badan (37. Adanya perubahan kertas lakmus merah ( nitrazim merah ) jadi biru. contoh : kehamilan ganda dan hydramnion.(2. SpOG BATASAN : Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban pada setiap saat sebelum permulaan persalinan tanpa memandang apakah pecahnya selaput ketuban terjadi pada kehamilan 24 minggu atau 44 minggu.4.5° C) untuk menilai adanya infeksi (leukositosis). contoh : korioamnionitis (1. (1.3.7. Cornelia.5.7.

bila pelepasan air berlangsung terus dilakukan terminasi kehamilan. b. Aktif : Bila didapatkan infeksi berat diberikan antibiotik dosis tinggi. KOMPLIKASI : 1.9) • • • • Kelahiran prematur Infeksi janin Deformitas janin.7.7. h. Antibiotik profilaksis adalah Amoxycillin 3x500 mg (5 hari). gawat janin maka dilakukan terminasi kehamilan . Seksiosesaria dilakukan bila gagal induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan masing-masing dari letak janin yaitu letak kepala. Seksio histerektomi bila ditemukan tanda-tanda infeksi uterus yang berat. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin. Kematian janin. letak sungsang. dan ditemukan tanda-tanda inpartu. 2. Rawat dirumah sakit. tirah baring. e.216 1. Ibu : Infeksi. letak lintang dan lain-lain). Pemberian tokolitik (bila ada konstraksi uterus) dan pemberian kortikosteroid (pematangan fungsi paru janin). Jangan melakukan PDV. c. Bila dalam tiga kali 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada konstraksi uterus maka dilakukan mobilisasi bertahap. Janin (3. g. . (3. kecuali bila sudah ada tanda-tanda persalinan. b. sepsis dan kematian. infeksi dan gawat janin dilakukan terminasi kehamilan : a. Bila ada tanda-tanda infeksi. f. d.9) 2. Konservatif : a. Induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan induksi dan masingmasing letak janin). lihat penatalaksanaan persalinan prematur. c. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.

217 .

Disaia PJ. Yayasan Essentia 8. 3rd ed. 3. eds. Abnormalities of fetal growth and development concerning both antepartum and intrapartum care. 119-32 6. Muhammad S dan Manuputty J. Sura N. 1986 . Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. 1987 . Obstetri Williams (terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh R.63 6th ed. Kaufman SA. eds. Oxorn H. Premature rupture of membranes. In: Mishell DR.Hariadi. 39-40 Tessy T dan Garu H. Boston : Blackwell Scientific Publications.Ujung Pandang (masih dalam proses penyelesaian) 9. Fields DH. Borten M. Premature rupture of membranes. Medica. Soedarto). Sachs BP. 1990 . Pritchard JA. Fields DH. Premature rupture of the membranes. 3rd ed. Gant NF. In. In: Barber HRK. 108 . Spellacy WN. eds. . Utama H. 2nd ed. Majalah Dokter Keluarga. eds. 592-602 Ilmu kebidanan : patologi dan fisiologi persalinan (terjemahan dalam bahasa Indonesia dan editor ahli M. 1991 .15 5. Quick reference to OB-GYN procedures. Philadelphia : JB Lippincott Company. eds. Obstetrical decision making. 1990 . 1991 : 880-3 2. Philadelphia : JB Lippincott Company. 353 . Management of common problems in obstetrics and gynecology. Danforth’s obstetrics and gynecology. Artal R. Hammond CB . Philadelphia : BC Decker Inc. Brenner PF. In: Scott JR. eds. 5 : 62-4 Garite TJ. 1990 . 1994 . 170-1 7. Jakarta : Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. R Prajitno P. Surabaya : Airlangga University Press. Hakimi). Acker DB. Bagian I. Pengelolaan ketuban pecah dini. Saifuddin AB.218 KEPUSTAKAAN : 1. Friedman EA. 4.Forte WR. Edisi 17. Laboratorium Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Penatalaksanaan ketuban pecah dini. MacDonald PC.

219 KPD Kehamilan ≥ 37 minggu AKTIF DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab. Leukosit LETAK KEPALA MASA LATEN > 6 JAM INDUKSI/ AKSELERASI LETAK LINTANG LETAK SUNGSANG GAWAT JANIN BERHASIL GAGAL PARTUS PERVAGINAM GAGAL EKSTRAKSI VAKUM EKSTRAKSI FORSIPAL SEKSI SESAREA .

< 37 mgg DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab.220 KPD Kehamilan 20 . Leukosit INPARTU INFEKSI GAWAT JANIN Bila selama observasi ditemukan tandatanda ini AKTIF TIDAK INPARTU TIDAK INFEKSI TIDAK GAWAT JANIN KONSERVATIF Cairan ketuban keluar terus (Pemeriksaan USG) Cairan ketuban tidak keluar lagi Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Mobilisasi/ berobat jalan Bila cairan ketuban tidak keluar lagi diobservasi Bila cairan ketuban keluar lagi dikonservatif Kehamilan ≥ 37 mgg .

dr. atau jika diameter transversal kurang dari 12 cm. atau diameter interspinalis kurang dari 10 cm.(1) Ultrasonografi : mengukur diameter biparietal janin. Kesempitan pada pintu bawah panggul : berkurangnya diameter intertuberosum menjadi 8 cm atau kurang dari 10 cm.5 + 5 cm).221 13. Maramis Palisuri. Kesempitan panggul menyeluruh : kesempitan meliputi semua bagian jalan lahir Kesempitan panggul yang jarang : pelvis kifosis.5 cm (biasanya 10.3) . SpOG BATASAN : Panggul sempit adalah setiap kelainan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul. H.2) KLASIFIKASI : Panggul sempit dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1.(3) PEMERIKSAAN PENUNJANG : Tes Muller.2) Kesempitan pada pintu atas panggul : apabila diameter antero-posterior kurang dari 10 cm (conjugata diagonalis kurang dari 11. PANGGUL SEMPIT dr. kifoskoliosis dan pelvis kifosskoliorakitis. sehingga dapat menyebabkan distosia pada persalinan. Yusuf Manga.(1. kiforakitis.(1) DIAGNOSIS : Pelvimetri : pemeriksaan dalam dengan tangan.5 cm). Kesempitan pada panggul tengah : bila jumlah diameter interspinalis ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah kurang dari 13. (1.

infeksi intrapartum. (1. Distosia karena kelainan panggul. Cunningham F. Gant NF.2) : Episiotomi mediolateralis yang luas. Dystocia due to Pelvic Contaction. Cunningham F. 18th ed. Connecticut.2) : Ekstraksi vakum. MacDonald PC. (4) Kesempitan pada pintu bawah panggul Pada bayi yang sudah mati KOMPLIKASI : Pada ibu Pada bayi : Ruptur uteri. 19th ed. Dystocia due to pelvic contaction. Edisi Ke-3. (4) : Kraniotomi dan kranioklasik. 1997: 461-72 2. In: Basic Gynecology and Obstetrics. (1. 1989: 377-83 . Ilmu kebidanan. Dalam Wiknjosastro H. In: William Obstetric. Dystocia due to pelvic contaction. Appleton & Lange. In: Williams Obstetric. Connecticut. fistula. Appleton and Lange. Appleton & Lange. 1991: 637-48 4. prolapsus funikuli. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono.(3) KEPUSTAKAAN : 1. Connecticut. Rachimhadhi T. Gant NF. Saifuddin AB. Gant NF.2) : Infeksi intrapartum. Mac Donald PC. perubahan pada kulit kepala janin dan tulang kepala. Ed. dilakukan setelah diameter biparietal janin telah melalui penyempitan panggul. Wiknjosastro H. Cunnigham F. 20th ed. 1993: 370-1 3.222 PENANGANAN : Kesempitan pada pintu atas panggul Kesempitan panggul tengah : Seksio sesar. (1.

lamanya 40-60 detik. Inersia dapat menyebabkan kematian atau jejas kelahiran 2. perasaan takut dari ibu.. KTG : 3 kali kontraksi/10 menit. yang juga menyebabkan kematian anak meninggi 3. yaitu : (3) • • Klinis : 3 kali kontraksi/10 menit. Frits Rumintjap dr. kuat tapi tidak adekuat. Intersia uteri hipertoni (disfungsi uteri hipertonik/disfungsi uteri inkordinasi) : kontraksi uterus tidak terkordinasi. Kemungkinan infeksi bertambah. • His normal/adekuat : his persalinan yang menyebabkan kemajuan persalinan. Josephine LT. dengan tekanan intrauterin 40 . Inersia uteri hipotoni : panggul sempit. turgor berkurang. ETIOLOGI : (1. kelainan letak kepala. . dengan tanda-tanda : nadi & suhu meningkat. KLASIFIKASI : (3. Kelelahan ibu dan dehidrasi. Inersia uteri hipertoni : pemberian oksitosin berlebihan.2. salah pimpinan persalinan.223 14.2) keadaan dimana his tidak normal baik dalam kekuatan maupun dalam sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. tapi tidak adekuat 2. penggunaan analgesi terlalu cepat.4) 1.4) 1. KELAINAN HIS dr. lamanya 40 . gemeli.3. sifatnya kuat.60 mmHg. PENYULIT : (3) 1. meteorismus dan asetonuri. 2. hidramnion. pernafasan cepat . Intersia uteri hipotoni (disfungsi uteri hipotoni) : kontraksi uterus terkordinasi.60 detik. SpOG BATASAN : • Kelainan His adalah suatu (1.

Jakarta.S. Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. In : Williams obstetrics 20 th edition.T. Pedoman diagnosis dan terapi obstetri dan ginekologi RSUP Dr. U. Patologi persalinan dan penanganannya. KEPUSTAKAAN : 1. 1996 : 107-09. Bandung. Pemberian infus pada persalinan lebih lama dari 18 jam. Jakarta. Dalam : Ilmu kebidanan. Abnormal labour. 3.224 PEMERIKSAAN PENUNJANG : (3. Martohoesodo S. 4. Inersia uteri hipotoni : jika ketuban masih ada. Inersia uteri hipertoni : (lihat bab resusitasi intra-uterin). Penerbit buku kedokteran EGC. Cunningham F G et al. Obstetri patologi.4) 1.2.. K. I . Edisi 4. USA. Yayasan Bina pustaka. Kelainan dalam persalinan.G 2. 1989 : 347-51 2. dilakukan amniotomi dan tetesan oksitosin (kecuali pada panggul sempit : seksio-sesar). Dalam : Sinopsis obstetri. Distosia karena kelainan tenaga. 1997 : 415-32. Mochtar R.G PENATALAKSANAAN : (1. 2. Bagian pertama (obstetri). cetakan pertama. . Dystocia Abnormalities of the expulsive forceps. Distosia karena his (Power). edisi kedua. 1994 : 537-44 3. Hasan Sadikin. untuk mencegah timbulnya gejala-gejala/penyulit diatas. Obstetri fisiologi. Prentice-hall international inc.4) 1.3.

Anomali janin (hidrosefalus). SpOG BATASAN : Ruptura uteri ialah robeknya dinding uterus. RUPTURA UTERI dr. Ruptura uteri FAKTOR PREDISPOSISI DAN ETIOLOGI : (3. (1) a. Tjandra. Murah Manoe. O. 2. IMS. dr. yang dapat terjadi antepartum atau intrapartum. Disproporsi c. Ruptura uteri komplit : semua lapisan dinding rahim robek b.5) 1.4. Ruptura spontan uterus normal a. Bekas parut bukan seksio sesar • • • • • • Miomektomi Histerorafi Reseksi kornu Akibat tindakan kuretase Plasenta perketa/akreta Metroplasti . Bekas parut seksio sesar b. Multiparitas b. Menurut gejala klinik : (3) a. Ruptura bekas parut a. Ruptura uteri komplit : kalau peritoneum masih utuh 2.(1) KLASIFIKASI : 1. Menurut robek tidaknya peritoneum.225 15. Presentasi abnormal d. Penggunaan oksitosin yang tidak tepat. e. Ruptura uteri imminens (mengancam) b.

Anemis f. Nadi kecil dan cepat b. Ruptur uteri 1. Nampak lingkaran bandl dan bertambah tinggi j. Kontraksi uterus biasanya c. Pada suatu his yang kuat sekali. Perdarahan pervaginam 2. Denyut jantung janin ireguler l. His makin lama makin kuat dan sering g. Terdapat tanda-tanda dari obstruksi (edema jalan lahir) dan kaput janin yang besar. Defance muskuler sampai meteorismus d. Kadang nyeri menjalar di tungkai bawah dan bahu e. Pernafasan cepat dan dangkal c. ketakutan disertai perasaan nyeri di perut c. keringat dingin dan tak sadarkan diri b. Penderita gelisah. penderita kesakitan luas biasa. Ruptura uteri imminens a. Anamnesa adanya faktor predisposisi / etiologi b. Ligamentum rotundum teraba keras dan tegang h. Mengerang kesakitan pada setiap his d.6) 1. Segmen bawah rahim tipis dan nyeri tekan i.226 • Penyakit trofoblastik invasif DIAGNOSIS : (2. B. Palpasi a. Perasaan mau sering kencing dan katetirasi ada hematuria k. Anamnesis dan inspeksi a. Muntah-muntah d. Tanda-tanda dehidrasi f. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya e. Dapat terjadi krepitasi bila ada emfisema subkutan .

5. B.6. kondisi umum pasien dan keinginan untuk mengandung di kemudian hari. Auskultasi a. segera setelah diagnosis ditegakkan. Hematuri DIAGNOSIS DIFERENSIAL : (7) Akut abdomen pada kehamilan abdomen lanjut PEMERIKSAAN PENUNJANG : (7) Hb dan hematokrit darah PENANGANAN : (2.3. . luasnya robekan. dapat dipilih antara memperbaiki kerusakan uterus atau histerektomi. Uterus dapat teraba sebagai bola keras disamping bagian janin bila keluar dari kavum uteri 3. Pemeriksaan dalam a. Memperbaiki keadaan syok. a. anemia dan infeksi b. Histerektomi baik total ataupun subtotal Dilakukan pada keadaan umum memungkinkan dan bila ada kolporeksis. penyebab ruptur. adanya parut uterus. sifat robekan. DJJ sulit atau tidak terdengar lagi 4. Kepala janin mudah didorong disertai banyak perdarahan pervaginam b.227 e. 5.8) A. Kateterisasi a. jari tangan dapat meraba usus atau bagian melalui robekan dinding uterus. Resusitasi a. Kalau rongga rahim sudah kosong. Kepala janin bila belum turun menjadi mudah dilepaskan dari pintu atas panggul f. Keputusan berdasarkan tempat ruptur. Laparotomi. Paralisis usus b. Pada keadaan tertentu kompresi aorta dan pemberian oksitosin bisa membantu mengurangi perdarahan.

Luka yang meluas ke kandung kencing dan vagina c. beraturan. c. Syok irreversible . PENYULIT : (7) a. Hematoma pada daerah parametrium d. Histerorafia Dilakukan bila pinggir luka harus rata. Histerorafia dengan ligasi tuba.228 b. Sepsis b. tidak terlalu rapuh dan tidak ada tanda-tanda infeksi. dilakukan pada luka bersih ruptura bekas parut dengan anak cukup.

Jakarta . Gant NF. Cunningham FG. Saifuddin AB. Alih bahasa : Supriyadi T. Calcuta . 8. 1994 : 450-4 4. Dalam : Wiknjosastro H. 1973 2. Saifuddin AB. 1990 : 469-75 5. Panitia Ilmiah POGI. Hartono A. eds. Yayasan Essentia Medica. Rachimhadhi T. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Kedaruratan obstetri dan ginekologi. Alih bahasa : Hakimi M. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Martohoesodo S. {enerbit Buku Kedkteran EGC. 1983 : 436-42 6. Jilid I. New Central Book Agency. Kapita selekta . Gunawan J. Sinopsis obstetri. Jakarta . 1990 : 323-33 3. Obstetri Williams. Ilmu kebidanan : patologi & fisiologi persalinan.229 KEPSUTAKAAN : 1. Utama H. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. 1995 : 467-77 . Istilah obstetri dan Ginekologi. Jakarta . Alih bahasa : Suyono J. Mochtar R. 1991 : 46-7. Jakarta. Wibowo B. Ilmu kebidanan. Dutta DC. Taber B. Balai Penerbit FKUI. Saifuddin AB. MacDonald PC. Bagian I. Marsinto. Oxorn H. Jakarta . Jakarta . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Perlukaan dan persitiwa lain pada persalinan. 1992 : 664-74 7. Text book of obstetrics. Bagian I.

Pakasi. Kriteria diagnosis : 1. Riwayat pielonefritis 4. PERSALINAN PREMATUR dr. Merokok lebih dari 10 batang / hari 5. Iritabilitas uterus . Minor : 1. Riwayat persalinan prematur sebelumnya 8. SpOG BATASAN : Persalinan prematur adalah persalinan pada usia kehamilan antar 20 dan 37 minggu penuh. dihitung dari hari pertama haid terakhir (1). Serviks terbuka lebih dari 1 ccm pada kehamilan 32 minggu 5. Operasi abdominal pada kehamilan prematur 9. Penyakit yang disertai demam 2. Suzanna S. atau keduanya. Ny. Anomali uterus 4. Mayor : 1. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap. atau antara 140 dan 259 hari. Riwayat operasi konisai 10. Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali 7. Annas Budi. Perdarahan per vaginam setelah kehamilan 12 minggu 3. dr. Faktor risiko : (1). Riwayat abortus Trimester II 6. Hidramnion 3. atau 140 dan 259 hari (1). Riwayat abortus Trimester I lebih dari 2 kali Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai : 1 atau lebih faktor risiko mayor . Kehamilan multipel 2. Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu 6. atau 2 atau lebih faktor risiko minor . Dibagi atas kriteria mayor dan minor untuk meramalkan terjadinya persalinan spontan.230 16.

Bilamana keadaan penderita sudah dinilai. . Pemeriksaan surfaktan (amniosnetesis). untung dan adalah ruginya. dan tentu saja risiko pengobatan itu sendiri (3). nyeri bagian belakang (1). 3. 5. apakah dengan kelangsungan proses itu perlu dihentikan atau sama sekali tidak. Ultrasonografi : usia kehamilan. Untuk menjawab pertanyaan dipertimbangkan memperhitungkan kematangan janin (misalnya : berat janin. 6. Pemeriksaan bakteri vagina 6. kelainan uterus. besar janin. Pemeriksaan vaginal berkala untuk mengetahui dilatasi / pemendekan serviks. frekuensidan kekuatan kontraksi. Mengeluarkan lendir per vaginam. letak dan maturasi plasenta. PENATALAKSANAAN : Masalah utama ini dalam menghadapi perlu persalinan prematur. Adanya pendataran dan dilatasi serviks secara progersif atau dilatasi serviks minimal 2 cm sejak penderita masuk rumah sakit setelah diobservasi selama 3060 menit (2). 4. volume cairan amnion. risiko ibu janin bila persalinan dilanjutkan. penentuan kondisi janin inutero. 5. dan diagnosis persalinan prematur sudah dibuat. Merasakan gejala seperti : rasa kaku diperut menyerupai kaku menstruasi . Pemeriksaan kultur urine 7. 1. cacat bawaan. fase persalinan. kematangan paru). maka pilihan tersebut adalah sebagai berikut (3). mungkin bercampur darah. 1. 4. rasa tekanan intra pelvik . Menghambat persalinan untuk memperpanjang kehamilan dan menunda persalinan mencapai atau menjelang aterm. aktivitas biofisik. Pemeriksaan gas da pH darah janin. 2. Kardiotokografi : kesejahteraan janin. selpaut ketuban seringkali telah pecah (1). jumlah janin. 3. Kontraksi uterus yang reguler dengan interval kurang dari 10 menit dan lamanya kontraksi minimal 30 detik (2). Pemeriksaan penunjang (1).231 2.

232 2. gestosis. plasenta previa.72 jam dan mencoba mempercepat kematangan paru janin agar risiko sindrom gawat nafas dapat dikurangi. (lihat . Janin presentasi kepala : per vaginam dengan episiotomi lobar 2. Pematangan paru). INDIKASI KONTRA PENUNDAAN PERSALINAN : (1) Gawat janin. Terapi penundaan persalinan prematur : (1) 1. atau karena ada indikasikontra terhadap obat tokolisis. Terutama pada kasus dengan indikasi terminasi kepentingan ibu bab. kelainan kongenital. dsb) KEPUSTAKAAN : (4) . diabetes melitus (beta-mimetik). bila syarat per vaginam tidak terpenuhi e. Istirahat baring 2. Deteksi dan penanganan terhadap faktor risiko persalinan prematur 3. pembukaan serviks lebih dari 4 cm. Kontraindikasi per vaginam lainnya (letak lintang. 3. dan kematian janin CARA PERSALINAN : (1) 1. Pemberian sedai dan hidrasi 4. Indikasi seksio sesar : a. Membiarkan persalinan berlangsung dengan anggapan bahwa terapi tokolisis tidak berguna bagi ibu dan janin yang akan lahir. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi d. Janin sungsang b. Infeksi intraprtum. Gawat janin. korioamnionitis. Taksiran berat janin kurang dari 1500 g (masih kontra versi) c. Menghambat persalinan selama 48 . tokolitik) Pemberian obat pematangan paru patut diberikan pada persalinan prematur 28-35 minggu. pertumbuhan janin terhambat. Pemberian obat tokolitik : (lihat bab. perdarahan antepartum yang banyak.

647 3. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Fadel HE. Perbandingan tokolisis dengan salbutamol dan magnesium sulfat dalam pencegahan persalinan preterm.233 1. Bagian I. Saifuddin AB. London : Addison-Weslay Publishing Company. 19 : 24-6 4. Wiknjosastro GH. Preterm labor. In : Fadel HE. Manajemen persalinan preterm. Diagnosis and management of Obstetric emergencies. 1991 . . Muchsin LH. Maj Obstetri Ginekologi Indonesia 1993 . 1982 . 59-61 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. ed. Wiknjosastro GH. Pengurus besar POGI. Standar pelayanan medik Obstetri dan Ginekologi.

I. PLAS PREVIA) .234 SKEMA PENATALAKSANAAN PERSALINAN PREMATUR KRITERIA DIAGNOSIS PERSALINAN PREMATUR PEMERIKSAAN PENUNJANG MENGHAMBAT PERSALINAN MEMBIARKAN PERSALINAN BERLANGSUNG Pada terapi tokolis tidak berguna Indikasi kontra Memperpanjang Kehamian & menunda persalinan. PERVAGINAM (LL. mencapai atau menjelang aterm Selama 48-72 jam & mencoba mempercepat kematangan paru Istirahat Deteksi & penanganan terhadap faktor resiko Terapi sedasi & hidrasi Tokolitik CARA PERSALINAN PERVAGINAM PRESENTASE KEPALA + EPISIOTOMI LEBAR SEKSIO JANIN SUNGSANG TBJ < 1500 GR GAWAT JANIN INFEKSI INTRA PARTUM K.

(1) ETIOLOGI : Sampai sekarang belum jelas dipahami seluruhnya. Perubahan ini disertai dengan terjadinya gambaran infark hemoragik yang merupakan tempat penimbunan kalsium dan pembentukan infark.30 %) janin juga dapat terus bertumbuh dan melebihi 4000 gram. Konfirmasi umur kehamilan dengan : (1) a.(3) • Apabila kehamilan berlangsung melampaui masa fungsi plasenta.(6) DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN : 1. dr. (2) PATOFISIOLOGI : • Perubahan plasenta menunjukkan penurunan diameter dan panjang vilikorialis.S. Murah Manoe SpOG BATASAN : Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berumur 42 minggu atau lebih. Rahmy Djamil.80% pada plasenta. dr. nekrosis fibrinoid dan terjadinya arterosis pembuluh darah desidua dan korion. (5) Gawat janin dapat terjadi akibat penekanan tali pusat yang dihubungkan dengan oligohidramnion. (1) Walaupun dapat bertumbuh menjadi postmaturitas.M. Terdengarnya denyut jantung janin pada kehamilan 17 . sebagian (25 . KEHAMILAN LEWAT WAKTU dr. (4) Sindroma postmaturitas dapat terjadi hanya 10 . I. .235 17. Henrie Usmany. Pemeriksaan umur kehamilan • • Umur kehamilan dihitung dengan rumus Naegele berdasarkan anamnesis tanggal hari pertama haid terakhir.20 % dari bayi persalinan kehamilan lewat waktu. maka janin mungkin kekurangan nutrisi / oksigen akbiat dari penurunan fungsi plasenta.20 minggu. Pada kehamilan lewat waktu infark ditemukan 60. keadaan ini berkaitan dengan adanya defisiensi sulfatase plasenta dan kehamilan ekstra uteri.

236 b. b.(3) Pemantuan detak jantung janin : b. • Keadaan janin.2. • • • • NST Gerak napas janin Gerak janin Tonus otot janin . Pada dasarnya. Non stress test (NST) (4) b. Penanganan antepartum : Pemanatauan kesejahteraan janin : • • Pemeriksaan NST atau CST Pemantauan profil biofisik. Pematangan serviks. 2. PENATALAKSANAAN : 1. Profil biofisik : Manning menganjurkan pemeriksaan ini 2 kali seminggu dan persalinan janin tersebut bila ada oligohidramnion. Cara pengakhiran kehamilang tergantung : • • • 3. a. Oxytocin chalenge test (OCT)(4) Seksio sesar dilakukan bila OCT positif. Amnioskopi : untuk melihat warna serta kejernihan cairan ketuban. c. Pemeriksaan USG sebelum umur kehamilan 26 minggu. c.1. penatalaksanaan kehamilan lewat waktu adalah : Penanganan kehamilan dengan pemantauan dan pengakhiran kehamilan. (2) Penentuan fungsi plasenta / keadaan janin. Tidak adanya gangguan fungsi plasenta.3.30 minggu. PEMERIKSAAN DALAM : Untuk menilai kematangan serviks (digunakan nilai Bishop). Tinggi fundus uteri antara 18 . 2.

6) Deselerasi lambat persisten disertai variabilitas atau peningkatan denyut jantung.6) Dilakukan pada janin dengan yang selama persalinan menunjukan nonreaktif dan positif.(8) • Seksio sesar. (1. dimulai dengan 6 tetes mikro / menit dan dinaikkan tiap 30 menit 6 tetes / menit.(1.(1.(6) • Seksio sesar dilakukan pada : • • • Suspek makrosomia. Penanganan intrapartum • • Amnioinfusion dilakukan pada amnion yang kental. • • Makrosomia (perkiraan berat janin  4500 gram).237 • • Cairan amnion Pematangan serviks Dilakukan pada serviks yang belum matang (nilai Bishop < 6). (3) • Induksi persalinan.(6) Aspirasi trakheal pada neonatus.(6) 4.0mg intravaginal dan 0.5 intraservikal)(6) atau balon kateter kateter Foley no 18 F(7) atau 26F.(6) Pada keadaan distosia bahu diperlukan bantuan dokter anestesi dan dokter anak serta seorang ahli kebidanan yang sudah berpengalaman dalam melahirkan distosia bahu dengan berbagai maneuver. maksimum 60 tetes / menit. Pematangan serviks dapat dilakukan dengan Prostaglandin (Prostaglandin gel E2 3. Induksi persalinan dilakukan pada nilai Bishop  6.(8) Induksi persalinan dengan menggunakan Oksitosin S 5 U / 500 cc Ringer Laktat.6) .

6. Gant NF. Cunningham FG. Penerbit Buku Kedokteran EGC. In: Williams obstetrics. Jakarta. 1993 : . Resnik R . Porto M. Hartono A. Obstetrics normal and problem pregnancies . Pedoman Diagnostik dan terapi . 32 : 2 : 262 . Prolonged pregnancy. 32: 2: 270 . Alih Bahasa: Sutoyo J. Appleton & Lange. MacDonald PC.1 guide to high-risk pregnancy and delivery . 1995:903 -10 3. Prolonged pregnancy. 20 th ed. Laboratorium/UPF Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan .238 KEPUSTAKAAN : 1.6 Freeman RK. Clin Obstet Gynecol. 1997 : 827 . Mosby Year Book. Kehamilan Preterm dan Postterm. Cunninghham FG. Gant NF. Arias F. In: Creasy RK. 3 nd ed . 1989. In: Gabbe SG.37 2. Lagrew DC. New York. Maternal-fetal medicine. 1991: 945 -55 7. In: Practical 150 . 1994 : 521 . Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. W. Induction of labor in the posdate fetus. 1989. Hankins GDV.61 4. Clark SL. Post Datism.1988 : 76 -8 5. 8. churcill Livingstone. Sint Louis. Niebyl JR. Gilstap III LC. Philadelphia. The unfavorable cervix: methods of cervical priming.7 Satin JQ. Hankins DV. Clin Obstet Gynecol. Dalam: Obstetri Williams. Simpson JL.Saunders Company. MacDonald PC. Leveno KJ. Post-term pregnancy. Stamford. Resnik R. Editor: Ronardy DH. Jakarta. 2nd.B.3rd ed. Post term .

DIAGNOSIS : (1.4) . Pemeriksaan Ultrasonografi (USG). teraba banyak bagian-bagian kecil anak. fundus uteri lebih tinggi dari kehamilan biasa.2.239 18. (Heterolog biovuler) ETIOLOGI : Tidak jelas. Terdengarnya bunyi jantung anak pada dua tempat yang berbeda dan sama jelasnya serta ada perbedaan frekwensi sekurang-kurangnya 10 kali dihitung pada saat yang sama. Oesman. KLASIFIKASI : (1. SpOG BATASAN : Kehamilan kembar dua adalah kehamilan dengan dua janin. adanya penambahan berat badan yang menonjol yang tidsak disebabkan oleh edema dan obesitas.5) 1.4. (Homolog uniovuler) 2. Anamnesis : ibu merasa perutnya lebih besar dari kehamilan sebelumnya.3. adanya riwayat persalinan kembar dalam keluarga. cepat. Telly Tessy. dengan pemeriksaan ini kehamilan kembar sudah dapat diketahui pada kehamilan 6-7 minggu.2. teraba 2 balotemen . Kehamilan kembar dizigotik : yang terjadi dari dua ovum dan dua sperma. Armyn A.3. dr. tidak membahayakan ibu dan anak. Kehamilan kembar monozigot : yang terjadi dari ovum dan satu sperma. teraba 3 bagian besar janin. PENATALAKSANAAN : • Dalam kehamilan : (1.4. 2. Pemeriksaan fisik : perut tampak lebih besar dari kehamilan biasa. 3. KEHAMILAN DAN PERSALINAN KEMBAR DUA (GEMELI) dr. Pemeriksaan ini merupakan cara diagnosis yang mudah.3.5) 1. gerakan anak lebih sering.

2. Pimpinan pada kala II : Persalinan anak pertama ditolong seperti biasa bila letak anak membujur. harus dipikirkan kemungkinan terjadinya “locked twins” atau adanya “conjoined twins”. Persiapan resusitasi oleh bagian neonatologi. tidak melakukan perjalanan jauh dan tidak melakukan koitus setelah kehamilan 28 minggu.5) . sehubungan dengan peningkatan kebutuhan terhadap kalori. maka dilakukan : (1. secara rutin diberikan sufas ferrosus 1 x 100 mg dan diperiksa Hb sekali dalam 3 bulan. Untuk mencegah anemia. mineral. Kebutuhan makanan harus diperhatikan . Memperbaiki kesehatan umum dan mengusahakan pertambahan berat badan yang cukup. Pemeriksaan antenatal yang lebih sering dan teratur. Padasetiap perpanjangan waktu persalinan pada kala I dan kala II. 4. 1. protein. Dalam hal ini pemeriksaan USG dapat juga dilakukan lebih sering atas indikasi. Terminasi persalinan tergantung pada indikasi. vitamin dan asam folat selama kehamilan. Kerja ringan. 5. 2. 3.240 Komplikasi utama yang sering terjadi pada kehamilan kembar yaitu partus prematur dan preeklampsia.4. • Dalam persalinan : Pimpinan persalinan Pimpinan persalinan kembar dua tergantung pada umur kehamilan atau perkiraan berat badan lahir anak. maka harus dilakukan seksio sesarea. Tindakan yang paling baik pada locked twins dan conjoined twins ialah seksio sesarea. istirahat cukup. Untuk tiap persalinan kemar dua dapat dilakukan tindakan sebagai berikut : Persiapan : persiapan untuk persalinan biasa dan operasi.4) Seseudah anak pertama lahir. sehingga perlu diadakan pencegahan untuk kepentingan ibu dan anak.3. (3. Bila ternyata anak pertama letak lintang. Pimpinan pada kala I :seperti pada partus biasa.

KEPUSTAKAAN : 1.5) Anak kedua diusahakan harus sudah lahir dalam waktu kurang dari 30 menit sesudah anak pertama lahir. maka dilakukan versi luar. ketuban positif. kedaan anak baik.241 1. ketuban positif.3. Semua persiapan untuk tindakan obstetrik sudah harus dilakukan setelah anak lahir. Pemeriksaan obstetric luar untuk mengetahui letak. segera dilakukan versi dan ekstraksi bila masih memungkinkan atau seksio sesarea. keadaan janin masih baik. Ujung Pandang. Pengawasan komplikasi postpartum dilakukan dan dirawat seperti biasa. Bila letak anak kedua melintang. diusahakan untuk menghentikan persalinan bila mungkin dengan tokolitik. Interval persalinan anak pertama dan kedua : (1.2. apakah ada prolapsus tali pusat. . Skripsi. Bila perlu his dapat diperkuat dengan pitosin drips. dilakukan versi dan ekstraksi atau seksio sesarea. Terdapat tanda-tanda foetal distress atau ancaman foetal distress anak kedua Ketuban negatif sesudah anak pertama lahir. Tinggogoy J. Pemeriksaan dalam untuk mengetahui letak. maka ketuban segera dipecahkan kemudian ditunggu sampai partus spontan sambil fiksasi presentasi anak kerongga panggul dengan melakukan penekanan seperlunya pada fundus uteri. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK. Kembar dua di Rumah Sakit Umum Ujung Pandang. presentase ganda dan lain-lain Bila ternyata letak anak kedua memanjang (kepala atau bokong) dan keadaannya baik. presentase dan keadaan anak kedua (denyut jantung) 2. Persalinan anak kedua harus dipercepat menurut cara yang sesuai bilamana : • • • Di temukan presentasi atau prolapsus tali pusat. Bila letak kedua anak kedua melintang dan ketuban negatif. Jika tidak berhasil. maka tindakan pencegahan mutlak diperlukan. presentase anak kedua. Untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum. UNHAS.4. Pada stadium awal dari partus imaturus dan prematurus yaitu pada pembukaan serviks 4 cm atau kurang. 1981.

Multiple gestations. Management of common problems in obstetrics and gynecology. 1992 : 386 .36 3. Eds.1982 : 68 . Kovacs BW. Kehamilan Ganda. ed. In : Mishell JR.97 4. Wibowo B. Hanafiah MJ. Penuntun kepaniteraan klinik Obstetri dan Ginekologi. 3rd ed. 1994 : 154 . Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Kehamilan Ganda. Dalam : Wiknjosastro H. Rachimhadi T. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Saifuddin AB.78 5. Bandung : Elstar Offset.242 2. Boston : Blackwell Scientific Publications. eds . Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Obstetri Patologi. Dlama : Melfiawati S. Edisi III. Brenner PF. Manuaba IBG.60 . Cetakan I. 1993 : 134 .

243 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN KEMBAR DUA (GEMELI) (1.2) Diagnosis gemeli Hamil < 30 minggu Hamil 30-36 minggu Rawat di RS rutin/selektif ** Hamil aterm Partus di RS Komplikasi (-) Komplikasi (+) Rawat jalan atau RS * Periksa hamil intensif Inpartu *** Komplikasi *** Masuk RS R/Tocolotik bila pembukaan 4cm (rawat=prematur) Persalinan pervaginam Atonia/hipotonia Prolong labor Induksi persalinan Memecahkan ketuban Persalinan pervaginam Spontan Vakum/forceps/ekstr aksi kaki Seksio sesarea : Anak I lintang atau sungsang Gawat janin Indikasi obstetri .

tinggi badan penderita b) Mengetahui riwayat kehamilan yang lalu c) Mengetahui riwayat persalinan yang lalu d) Mengetahui indikasi seksio yang lalu b. SpOG BATASAN : Kehamilan dan Persalinan bekas seksio sesar adalah kehamilan dan persalinan yang terjadi pada rahim yang pernah diseksio sesar. dr. Melakukan pemeriksaan antenatal (PA) yang teratur yaitu (1) : a) Sebelum mencapai umur kehamilan 28 minggu PA dilakukan tiap 4 minggu b) Pada umur 28 . Pemeriksaan Penunjang • Ro pelvimetri pada panggul suspek sempit (1) • USG untuk menentukan usia kehamilan. Kehamilan pada bekas seksio sesar a. Seksio Sesar bila (2) : • Seksio sesar dulu seksio sesar klasik/korporal . Persalinan pada bekas seksio sesar a.244 KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA BEKAS SEKSIO SESAR dr. Anamnesis (1) : a) Mempunyai data umur.38 minggu pemeriksaan dianjurkan tiap minggu d) Mulai umur > 38 minggu atau 2 minggu sebelum taksiran persalinan ibu sudah harus rawat apabila (2) : e) Tingkat pendidikan rendah f) Transportasi sulit g) Tempat tinggal jauh c.2) 2. perkiraan berat badan janin dan letak plasenta (1. Hindar Jaya.32 minggu tiap 2 minggu c) Dari umur 32 . (1) 1. Maggie Wewengkang.

S.5 cm) d) Posisi letak kepala fisiologis (ubun-ubun kecil depan) e) Tidak ada tumor jalan lahir f) Kehamilan bekas seksio sesar transperitoneal profunda murni dan hanya satu kali seksio sesar g) Pernah melahirkan bayi pervaginam yang berat badan lebih besar dari perkiraan berat badan janin kehamilan ini • Dengan observasi ketat (1) : a) Tanda vital b) His c) Denyut jantung janin (DJJ) d) Kemajuan persalinan . Partus pervaginam dapat dilakukan (1) : • Bila anamnesis dan pemeriksaan fisis obstetri seperti : a) Umur kehamilan pertama < 35 tahun b) Umur kehamilan sekarang > 28 minggu c) Ukuran panggul luar dan dalam normal (conyungata vera > 11.P) e) Distosia b.245 • • • Penyembuhan luka operasi buruk Sudah dua kali atau lebih seksio sesar Kehamilan ini disertai dengan penyulit seperti : a) Kelainan letak b) Kelainan presentasi c) Plasenta previa d) Disproporsi sefalo pelvik (D.

Bekas Seksio Sesarea.246 KEPUSTAKAAN : 1. Wewengkang MJ. POGI. 1989: 1-26 2. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. Djasmadi N. Penatalaksanaan persalinan bekas seksio sesar di Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UH. Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Jakarta. 1991: 72-3 .

His yang melemah atau hilang 4.(2. b. Kelelahan pada ibu. Dehidrasi pada ibu. Faktor panggul 2. I.(1. serta febris 2. PARTUS KASEP dr. Oligouri .Murah Manoe SpOG BATASAN : Partus kasep adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi pada ibu maupun anak. Meteorismus 3. multipara 14 jam). Faktor anak 3. Penekanan jalan lahir dengan akibat edema dan perlukaan jalan lahir.3. Dehidrasi : nadi cepat dan lemah. Gawat janin atau kematian janin GEJALA KLINIS : 1. fase aktif (nulipara 1. Faktor tenaga 4. e.S. c.247 20. dr.2 cm per jam. Faktor penolong Persalinan normal rata-rata berlansung tidak lebih dari 24 jam dihitung awal pembukaan sampai lahirnya anak. multipara 1 jam). meliputi : (1.2) Kemungkinan terjadi partus kasep bila terjadi (sesuai Friedman) perpanjangan fase laten ( nulipara 20 jam.M.4) Partus lama yang telah disertai penyulit (partus kasep). Henrie Usmany. Tanda-tanda kelelahan dan intake yang kurang : (2) 1. Infeksi intrauterin d.(1) PATOFISIOLOGI : Penyebab kemacetan dapat karena : (2) 1.5 cm per jam) atau kala pengeluaran yang memanjang (nulipara 2 jam. multipara 1.2) a.

Robekan dapat meluas sampai ke serviks dan vagina. Suhu rektal > 37. Air ketuban bercampur mekonium Denyut jantung janin takhikardi (160 x menit) / bradikardi ( 120x/ menit ) / tidak teratur Gerakan anak melemah berkurang atau hiperaktif (gerakan yang konvulsif) DIAGNOSIS : A.(2.5 0 C 3. (5) 3. Tanda-tanda gawat janin : (2) 1. Perdarahan melalui ostium uteri eksternum (2.5) 2. 4. Kegelisahan ibu yang akan bersalin. Gejala rangsangan peritoneal. Regangan berlebihan dengan nyeri pada segmen bawah rahim. (5) 4. Syok (nadi kecil dan cepat).6) c. Oligouri. Periksa dalam: bagian terendah janin mudah didorong ke atas (2) 5. Dehidrasi.6 ) b. Pelepasan air ketuban yang keruh kehijauan dan berbau 2.(2. His hilang. 3. Tanda-tanda ruptura uteri membakat : a. Tanda-tanda ruptura uteri : 1. Keadaan umum ibu : (2) 1. Cincin Bandl mendekati pusat atau melewati pusat. 4.5) 5. Palpasi : (2) . 3. 2. 5. Tanda-tanda infeksi :(2) 1. (6) d. 2. Febris.(5) 4. Syok.5) 3. Berhentinya denyut jantung janin atau pergerakan atau keduanya.(5. Meteorismus. Peningkatan aktifitas kontraksi. Bagian anak mudah diraba.(2) 6.(5.248 2. B.

Menghilang (bila sudah mati) D. (2) B. (1. 2. (1.posisi kepala dan keadaan panggul ) DIAGNOSIS BANDING : (2) Kehamilan / persalinan dengan infeksi genetalia eksterna KOMPLIKASI : A. pembukaan serviks. His lemah atau hilang. Bagian terendah anak sukar digerakkan bila belum terjadi ruptur. (2) 3. (2) 2.2) Gangguan elektrolit. kegagalan fungsi organ-organ. Kelainan letak (pada yang kelainan letak) (Pada pemeriksaan dalam vagina dinilai seviks. Bagian janin mudah diraba.2) • Fistula buli-buli. Tidak teratur. penurunan kepala. 3. berbau dan bercampur mekonium. Pelepasan air ketuban yang keruh.2) • Robekan jalan lahir. uterus dan rektum. (2) • Dehidrasi. Anak : • • • (2) Gawat janin sampai meninggal Cacat otak yang menetap akibat asfiksia berat Trauma karena persalinan .249 1. Auskultasi : (2) Denyut jantung janin lemah atau menghilang • • • Takhikardi / bradikardi. Periksa dalam vagina : 1. Ibu : • • Infeksi sampai sepsis. vagina. Gerak janin tidak ada. syok. (1. C. dan mudah digerakan bila sudah terjadi ruptur.

Penurunan panas :(2) • Antipiretika per oral (paracetamol 3 x 500 mg) atau parenteral xyllomidon 2 cc IM (bila tidak bisa peroral).. Cedera jalan lahir.250 PENANGANAN : A. Inc.8 3. Memperbaiki keadaan umum penderita 1. Rehidarsi. dengan memantau produksi urin (pasang kateter) 2. 1994: 55 .. New York. Gant NF. Pemakaian partograf untuk keselamatan ibu dan bayi dalam persalinan.80 mg. Churchill Livingstone - . Akhiri persalinan Sesuai dengan penyebab dan keadaan . Pemberian antibiotik :(2) • • Ampicillin 1gram / 8 jam IM selama 2 hari. atau Sephalosporin 1 gr / 12 jam / IV selama 5 hari Dapat dikombinasi dengan • Metronidasole 500 mg suppositoria/ 8 jam. Rumah Sakit umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya. (Vakum / forsep atau perforasi kranioklast) • Seksio sesar bila syarat pervaginam tidak terpenuhi dan belum lengkap. 2 . Simpson JL. Dalam: Obstetri Disoder Labor.. 1991 : 435 -46 4. • Kompres basah (dingin). B. KEPUSTAKAAN : 1. O'Brien WF.Obstetrics normal & problem pregnancies.Niebyl RJ. dilanjutkan 4 x 500 mg / hari peroral selama 3 hari dan Gentamycin 60 ..3 kali sehari selama 5 hari. In : Gabbe SG. • Pervaginam bila pembukaaan lengkap serta memenuhi syarat pervaginam. selama 5 hari.. Mac Donal PC. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. 1992 : 2: 290-300 2. Dextrose 5% (500cc) dan NaCl (500cc) dalam 1 -2 jam pertama . (2) Pemberian cairan yang memadai. 3. Hariadi R. CunninghamFG. Cefalo RC. Pedoman diagnostik dan terapi .

Ruptura uteri . Cetakan kelima. cetakan 1988: 30 . Dalam : Ilmu kebidanan. Jakarta . EGC. .1 6.1971:197 . Dharma A. Jakarta. Dalam : Gawat darurat ginekologi dan obstetri. Balai Pustaka . Heller L. Jakarta. Perdarahan waktu persalinan. Hartonao A. Alih bahasa: Matroprawiro HM. Alih Bahasa Joko Suyono. 1995 : 469 . Goelam SA. Edisi18. Penerbit Buku Kedokteran EGC.251 Wiliams. editor Ronaldy DH.77 5.8.

dr. Perdarahan pasca persalinan sekunder yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. Muin. SpOG BATASAN : Perdarahan pasca salin adalah perdarahan 500 cc atau lebih sesudah kelahiran bayi. 2. Perdarahan pasca persalinan primer yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi lahir. ETIOLOGI(3) • Atoni uteri • Laserasi jalan lahir • Retensi plasenta atau sebagian plasenta • Gangguan pembekuan darah b. 1. FAKTOR-FAKTOR PREDISPOSISI(3) • Trauma jalan lahir • Multipara/grandimultipara • Plasenta previa • Preeklampsia/eklampsia • Partus lama • Solusio plasenta • Tindakan operasi yang menggunakan anestesi Eter/Halotan • Induksi Persalinan • Penanganan Kala II dan Kala III yang salah • Riwayat perdarahan pada pasca persalinan sebelumnya . Abd. PERDARAHAN PASCA SALIN dr. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN PRIMER a. (1) Perdarahan pasca persalinan dibagi atas : (2) 1.252 21. Habar Garu.

sebaiknya pada awal persalinan sudah diberikan infus larutan Ringerlaktat atau Glukosa 5% dan persiapan transfusi darah. serta kemungkinan plasenta suksenturiata. PENATALAKSANAAN (3) Penderita dengan kecenderungan perdarahan pasca persalinan. serviks dan kavum uteri untuk mencari robekan pada vagina. masa pembekuan darah (1) e. serviks uteri. tekanan darah menurun. • Pemeriksaan Lab : Hb. GEJALA KLINIS (3) Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang mengalir deras atau merembes. untuk mengetahui kemungkin tertinggalnya jaringan plasenta atau selaput ketuban • Inspekulo : Untuk mengetahui adanya robekan pada perineum. tindakan penting adalah : • Transfusi darah. minimal 500 ml untuk menggantikan darah yang hilang.253 • Kelainan pada uterus c. keadaan penderita selama kehamilan. gelisah sampai koma d. • Pemberian plasma ekspander (Larutan Dextran L) . perdarahan dapat terjadi internal atau eksternal. masa perdarahan. • Palpasi : Untuk mengetahui adanya atoni uteri serta fundus uteri • Pemeriksaan plasenta dan selaput ketuban. • Keadaan umum lemah. DIAGNOSIS (3) Diagnosis perdarahan pasca persalinan ditegakkan berdasarkan : • Anamnesis : faktor-faktor predeposisi. Haenatokrit. pusing. diberikan dengan cepat. vagina dan serviks • Pemeriksaan dalam : Eksplorasi vagina. denyut nadi lemah dan cepat. Pada keadaan akut. penderita pucat dan dingin.

hipogastrika) b) Retensi plasenta atau sebagian plasenta (3) • Drips oksitosin 20 UI dalam 500 ml larutan Ringerlaktat atau NaCl 0.9% sampai uterus berkontraksi.9% disertai masase uterus (2) Bila uterus belum berkontraksi. dicoba dengan tindakan manuil plasenta. histerektomi dapat dipertimbangkan. Bila selama observasi perdarahan bertambah atau tetap berlangsung dilakukan Histerektomi atau ligasi (a.9% • Vaksin serap tetanus 1/2 cc a) Atoni Uteri (3) (1) Drips oksitosin 20 UI dalam 50 ml larutan Ringerlaktat atau NacCL 0. persiapan kamar operasi. .5 mg diulang tiap 6 jam (3) Bila perdarahan berhenti. uterina atau a. Jika tindakan manuil plasenta tidak memungkinkan. kemungkinan plasenta akreta. lakukan pengeluaran plasenta dengan digital atau kuretase. berikan methergin 0. Jika hanya sisa plasenta. uterina atau a. lakukan tamponade utero vaginal kemudian observasi perdarahan. • Plasenta dilahirkan dengan Brandt Andrews. uterus berkontraksi.2 mg intravena. hipogastrika) (4) Jika perdarahan berkurang. jaringan plasenta dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta Bila plasenta tidak terlepas. Jika perdarahan tetap berlangsung. drips dilanjutkan 28 tetes permenit. konsultasi keluarga penderita untuk tindakan Histerektomi atau ligasi (a.254 • Drips Oksitosin 20 IU dalam 500 ml larutan Rengarlaktat atau NaCl 0. atau prostaglandin (PG): Sulproston (Nalador) 0. Jika plasenta tidak lepas. jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus.

dan bila keadaan penderita memungkinkan. (2) Ruptur uteri(3) Ruptur uteri kadang sulit diketahui dengan pemeriksaan inspekulo. Bila ditemukan ruptura uteri tindakan defenitif adalah laporotomi. vagina dan serviks (1) Robekan perineum. minimal 1 liter (2) Bila perdarahan masih berlangsung. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN SEKUNDER a. d) Gangguan faktor pembekuan (3) (1) Transfusi darah segar. perdarahan dapat terjadi internal dalam rongga perut sehingga tidak nampak adanya perdarahan pervaginam. serviks dan vagina (5) Jahit luka robekan dengan jahitan terputus. selama 5 hari. ETIOLOGI (3) • Subinvolusi uteri • Tertinggalnya sisa plasenta • Tumor / Mioma uteri perinfus untuk . jahitan teratas ditempatkan sedikit di atas puncak robekan. tindakan histerektomi merupakan pilihan. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan dalam eksplorasi kavum uteri. tindakan defenitif adalah histerektomi (3) Bila perdarahan berkurang. transfusi darah segar dilanjutkan selain itu diberikan uteretonika oksitosin 20 UI mempertahankan kontraksi uterus (4) Konsul kebagin penyakit dalam 2. Antibiotika diberikan Ampicilin 4 x 500 mg. bila luka robekan kecil dapat dilakukan histerografi.255 c) Robekan jalan lahir (3) Robekan jalan lahir dapat diketahui dengan pemeriksaan inspekulo pada perineum. Bila tidak memungkinkan perdarahan tetap berlangsung.

2 IM . PENATALAKSANAAN : (3) • Perdarahan segera diatasi dengan transfusi darah. d. (Oksitosin) 20 IU dalam larutan infus dilanjutkan injeksi methergin 0. Pemeriksaan laboratorium ditemukan Leuksitosis pada infeksi. nyeri dan demam bila ada infeksi.256 • Kelainan perdarahan • Hematoma jalan lahir b. GEJALA KLINIS Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang bervariasi sedikit sampai banyak • Demam dan menggigil bila terdapat infeksi jalan lahir • Pemeriksaan palpasi ditemukan uterus membesar. c. pembesaran uterus. hasil pemeriksaan laboratorium tidak ada tanda-tanda infeksi. lunak dan nyeri bila ada infeksi. pengobatan dilanjutkan dengan uetrotonika. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menyingkirkan sisa plasenta. pemberian cairan intravena RingerLaktat atau NaCl 0.9% • Drips oksitosin 10 IU dalam larutan infus • Preparat besi • Vaksin serap tetanus 1/2 cc • Diagnosis dengan pemeriksaan fisis dan laboratorium a) Subinvolusi Uterus (3) Setelah keadaan umum diperbaiki. dan pemeriksaan laboratorium (1) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan gambaran sisa jaringan plasenta. DIAGNOSIS : (3) Diagnosis ditegakkan dengan adanya perdarahan pervaginam. sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG.

metilergometrin atau prostaglandin. uterina atau a. pengobatan dilanjutkan pemberian Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari. sisa jaringan dikeluarkan dengan kuretase. Pasca kuret. pengobatan dengan konservatif. Tindakan kuretase dilakukan kalau perdarahan terjadi terus dalam jumlah banyak atau terjadi kembali setelah dilakukan tindakan .125 mg/hari selama 5 hari.125 mg selama 5 hari. tapi bila perdarahan banyak segera kuretase walaupun ada demam. atau Ampicillin 4 x 500 mg selama 5 hari (5) Bila ditemukan sisa jaringan. 3-4 hari kemudian kuretase. methergin 3 x 0. tandatanda infeksi positif. Bila perdarahan mereda observasi saja dan bila perdarahan berhenti bisa dipulangkan. transfusi . dilakukan bila perdarahan tidak dapat diatasi. (6) Bila ada sisa jaringan disertai infeksi berikan dulu antibiotika sampai suhu turun. (1) Pemeriksaan phisis. tidak ada tanda infeksi. methergin 3 x 0. b) Uterus Involusi (5) Pada pemeriksaan phisis ditemukan uterus involusi baik perdarahan dapat berasal dari hematomi pada jalan lahir. (4) (7) Kalau uterus harus dipertahankan untuk kemungkinan mempunyai anak lagi maka sebaiknya diberikan dulu obat secara intravena oksitosin. hipostrika). (3) Bila perdarahan berkurang atau teratasi pengobatan dilanjutkan dengan uterotonika oral. (4) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan sisa jaringan. pengobatan dilanjutkan dengan antibiotika perenteral Procain penicillin G 2 juta IU tiap 6 jam.257 (2) Profilaksis diberikan antibiotika Ampicilin 4 x 500 mg sehari selma 5 hari. Histerektomi atau ligasi (a. dan inspekulo untuk mengetahui letak sumber perdarahan jika ditemukan hematoma vulvoginal sebaiknya tidak dilakukan manipulasi. bila tidak berhasil laporotomi untuk dilakukan ligasi arteri uterina atau arteri hipogastrika atau histerektomi (5) .

Bila dicurigai perdarahan retroperitoneal. oleh karena bekuan darah dalam hematom menyebabkan gangguan pembekuan. .258 darah segar. tindakan defenitif adalah laporotomi. Profilaksis diberikan antibiotika Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari (2) Bila perdarahan bertambah besar dipertimbangkan tindakan evakuasi hematoma (insisi hematoma). rongga hematoma dijahit dengan jahitan matrax.

Obstetric emergency. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. MacDonald PC. Sulaiman SR. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS 1993 4.259 KEPUSTAKAAN : 1.52 2. In: Cavaragh D. 1991: 48 . Philadelphia Harper & Row Publishers. Pritchard JA. Gant NF. Kaput JA. Texas. 3rd ed. Cetakan ke-1 Jakarta. Kalipel RA.. Oktavianus J. mansyur A. Woods RE. 231-7 5. Dalam: Obstetri Patologi Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Padjajaran Bandung. Obstetrics Williams. O’Connor TCF. O’Connor TCF. Cavaragh D. Ratologi Kala III dan IV. Djasuardi N. 1995: 556-63 . eds. 1982: 292 3. Post partum emergencies. 1981. Gaya Baru. Penatalaksanaan perdarahan pasca persalinan. POGI.

2.260 22. Maggie Wewengkang. Hindar Jaya. Kecualis 24 jam pertama pasca salin.3. SpOG BATASAN : Infeksi puerperalis adalah infeksi alat genital dalam masa nifas yang ditandai dengan meningkatnya suhu ≥ 38°C yang terjadi selama 2 hari berturut-turut dalam waktu 10 hari pertama pasca salin. INFEKSI PUERPERALIS dr.3) I. Periode Antepartum • • • • • • • • • III.3) FAKTOR PREDISPOSISI : (2.menggigil Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi Nyeri perut bagian bawah Nadi cepat Kadang-kadang nyeri bila kencing Kekurangan gizi-anemia Penyakit menahun (DM dan keganasan) Ketuban pecah dini dan partus prematurus Hygene ibu yang jelek Infeksi traktur genetalia II. Periode intrapartum Partus lama Periksa dalam yang sering Ketuban pecah dini Monitor janin yang intensif Periode Postpartum . dr.4) • • • • • Febris ----------.(1.2. DIAGNOSIS : Klinis : (1.

261 •

Subinvolusi rahim

Inspikulo : Lokhia berbau Persiksa dalam vagina : Uterus dan paramterium nyeri pada perabaan PEMERIKSAAN PENUNJANG : (2,3) • • • • Laboratorium rutin lengkap Kultur dan uji sensitifitas USG bila perlu BNO bila perlu

TERAPI : (2,3,4) • • • Antiobiotik spektrum luas yang sesuai untuk penderita. Bila resistensi tergantung hasil kultur Bila ada abses harus dilakukan insisi dan drainase. Jika ada abses pada Cavum Douglasi dilakukan kolpotomi posterior disertai pemasangan drain. Jika terjadi peritonitis dilakukan laparotimi. • Jika terjadi syok septik : Rawat di ICU

262 KEPUSTAKAAN : 1. Cunningham FG. Mac Donal PC. Gants NF. Infeksi puerperalis. Dalam : Ronardy DH. Ed. Alih Bahasa : Suyono J, Hartono A. Obstetri Williams. Edisi 18. Jakarta ; Penerbit Buku Kedokteran ECG, 1995 : 535-52 2. Wiknjosastro H. Infeksi nifas. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, eds Ilmu kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta ; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1991 : 689-99 3. Beydoun SN. Serious postpartum infeksios. In : Fedel HE, ed. Diagnosis and Management of Obstetri Emergencies. London ; Addison-Wesley Publishing Company, 1982 : 233-45 4. Duff P, Gibbs RS. Maternal sepsis. In : Berkowitz RL, ed. Critical Care of the Obstetric Patient. Ist ed. New York ; Churchill Livingstone, 1983 : 189-213.

263 23. SYOK SEPTIK
dr.Efendi Lukas, dr.H.Eddy Moeljono, Sp.OG

BATASAN : Syok septik adalah sindroma Klinik yang dicetuskan oleh masuknya dan menyebarnya produk mikroba ke dalam vaskuler sehingga menyebabkan kegagalan pada mikrosirkulasi, penurunan perfusi jaringan, dan abnormalnya metabolisme seluler (1). PATOFISIOLOGI : 1. Pembebasan endotoksin dari mikroba yang sudah mati diduga menjadi pencetus utama terjadinya syok septik. Endotoksin merupakan kompleks protein lipopolisakarida yang dilepaskan dari membran sel bakteri yang mati dan merupakan stimulan antigen yang kuat, kemudian berikatan dengan antibodi (Ig G dan Ig M) membentuk kompleks endotoksin - antibodi (2). 2. Selanjutnya terjadi pelepasan zat vasoaktif (histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin, SRSA sehingga menyebabkan vasodilatasi arteriol, venokonstriksi dan peninggian permeabilitas membran kapiler, maka terjadi penumpukan (pooling darah) yang menyebabkan (1,2,3). • • • • tekanan hidrostatik dalam kapiler meningkat kerusakan pada dinding kapiler perembesan cairan dalam ruangan vaskuler ke ekstra vaskuler hipovolemik hebat sehingga manifestasi syok menjadi lebih jelas

GEJALA KLINIK : Syok septik dalam bidang Obstetri dan Ginekologi sering terjadi akibat komplikasi post abortus, endometritis post partum, korioamnionitis dan pielonefritis dalam kehamilan. Secara klinis syok septik terdiri dari 2 fase yaitu (2): 1. Syok reversible (syok septik primer) : a. Syok dini (warm hypotensive = stadium hipotensi hangat)

kreatinin .Analisa gas darah .asidosis metabolik .demam dengan suhu > 39 °C b.264 .Kultur darah dan tes sensitivitas .suhu tubuh dingin (hipotermia) .takikardi (100 . . Syok yang irreversibel .anuria . BUN.120 x/menit) .koma .Pemeriksaan kadar asam laktat dalam darah .Pemeriksaan darah lengkap . Syok lanjut “cold hypotensive” = stadium hipotensi dingin) .Pemeriksaan kimia darah : elektrolit serum.distres pernafasan dan distres jantung PEMERIKSAAN PENUNJANG : Laboratorium (2.curah jantung menurun .3).tahanan vaskuler sistemik meningkat (CVP meningkat) 2.hipotensi .oliguria sampai anuria .Urinalisis .kadar asam laktat dalam darah meningkat ( > 15 mg%) . ureum.kulit menjadi hangat dan kemerahan .tahanan vaskuler perifer meningkat .

elektrolit. pernafasan dan suhu tiap 30 menit .Foto tegak abdomen : untuk melihat tanda-tanda perforasi (Ada udara bebas) EKG : bisa tampak depresi segmen ST dan gelombang T terbalik2 USG : untuk melihat adanya cairan bebas sebagai tanda perforasi uterus KOMPLIKASI : (2.4) .Produksi urine . Hm. fungsi hemostatis. Terapi cairan : Untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki. atau emboli paru akibat tromboflebitis.4) .3) : . sindroma syok paru.Sindroma distres pernafasan akut “shock lung” PENANGANAN : Penderita syok septik harus dirawat di ICU dengan monitoring ketat dan dilakukan penanganan multidisipliner (rawat bersama dengan Bagian Anestesiologi dan Bagian Interna) Selama perawatan perlu dilakukan monitoring : (2.Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah. ureum. Oksigenasi : Berikan oksigen konsentrasi tinggi Tujuannya untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki (2.Hemodinamik : dengan melakukan pemasangan kateter CVP . lekosit. analisa gas darah Prinsip penanganan terdiri dari : 1. denyut nadi.265 Radiologi (2. kreatinin. trombosit.Foto toraks : untuk melihat apakah ada tanda-tanda bronkopneumoni sekunder.Laboratorium : Hb.4). • Transfusi darah . . gula darah. 2.Gagal ginjal .DIC .

Pemberian antibiotika • Diberikan antibiotik berspektrum luas sebelum ada hasil kultur dan tes kepekaan • Diberikan kombinasi golongan cefalosporin 1gr per12 jam-24 jam (tergantung jenisnya) + Metronidazole 500 mg/12 jam dengan cara pemberian intravena • Atau Ampicillin 1 gr/IV tiap 4 jam dan Gentamycin 80 mg/IV tiap 8 jam + Metronidazole 500 mg/12 jam/IV • Bila hasil kultur dan tes kepekaan sudah ada maka antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil tes kepekaan. kuret atau pengeluaran benda asing. LAMA PERAWATAN : Sangat tergantung pada keadaan umum pasien serta ada tidaknya komplikasi . histerektomi. Pemberian kortikosteroid • Deksametason dengan loading dose 20 mg/IV kemudian dilanjutkan 3 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam selama 1-2 hari 6. gangguan asam basa dan elektrolit sudah dikoreksi. Penanganan operatif Penanganan operatif meliputi drainase pus. Tindakan ini dilakukan setelah sistim kardiovaskuler dan pernafasan distabilkan.45 menit atau 20 ml/menit sambil memperhatikan responsnya. 3. Pemberian obat-obat inotropik seperti : Dopamin dan Isoproterenol dilakukan setelah konsultasi dengan Bagian Interna. 5. 4.266 • Infus Ringer laktat atau Dextrose 5% atau NaCl fisiologis: 1-2 liter dalam waktu 20 . eksisi jaringan nekrotik.

ed.11. Rao PITON S. Masalah syok dan penanganannya. Cavanagh D. Medical complications during pregnancy. Major problems in obstetrics and gynecology. Bacterial infection. Philadelphia. 3.267 KEPUSTAKAAN : 1. 1976. 2. nomor 3. Septic shock in obstetrics and gynecology. Penggunaan kortikosteroid pada syok septik. 4. 1982 : 302-19. Taruli RA. Comas MR. 2nd ed. Tanra AH. Vol. 1986 : 345-54. In : Friedman EA. WB Saunders Company. Sjattar M.ID. Ferris TF. Philadelphia. MKI vol 36. eds. WB Saunders Company. In : Burrow GN. MKI vol 35. 1985 : 167-80. Andriole VT. . nomor 7.

268 SKEMA PENANGANAN SYOK SEPTIK Gejala Gejalaklinik klinik Syok reversibel Syok dini hipotensi kulit hangat dan kemerahan Takhikardi (100-120 x/menit) demam dengan suhu > 39o C Syok lanjut curah jantung menurun tahanan vaskuler perifer meningkat oligura sampai anuria hipotermia CVP meningkat Syok irreversible asidos metabolik kadar asam laktat meningkat (>15mg%) koma anuria distres pernafasan dan distres jantung Pemeriksaan Pemeriksaanpenunjang penunjang Pemeriksaan Laboratorium darah lengkap analisis gas darah kimia darah kadar asam laktat dalam darah kultur darah dan tes sensitivitas urinalis Radiologi : Foto toraks Foto tegak abdomen USG EKG DIAGNOSTIK DIAGNOSTIK SYOK SYOKSEPTIK SEPTIK oksigen terapi cairan obat-obat inotrapik anti biotik keortikosteroid RAWAT DI ICU (kerja sama dengan Bagian Interna dan Anestesi) sistem kardiovaskuler dan pernafasan stabil Gangguan asam basa dan elektrolit dikoreksi drainage pus eksisi jaringan nekrotik histerektomi kuret pengeluaran benda asing PENANGANAN PENANGANAN OPERATIF OPERATIF .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->