115

KHUSUS
1. HIPEREMESIS GRAVIDARUM dr. H.B. Hafied, dr. H.M.M. Palisuri, SpOG BATASAN : Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan, sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidarasi, terdapat aseton dalam urin, bukan karena penyakit seperti apendisitis, pielitits dsb.(1) ETIOLOGI : Tidak jelas(2) KLASIFIKASI : (2,3,4) Secara klinis dibedakan atas 3 tingkat 1. Tingkat I : muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir dan sedikit empedu kemudian hanya lendir, cairan empedu dan terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 x/menit dan tekanan darah sistole menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang, urine masih normal. 2. Tingkat II : Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan , haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih 100 - 140 x/menit, tekanan darah sistole lebih rendah 80 mm Hg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus (+), aseton (+), bilirubin (+), berar badan turun cepat. 3. Tingkat III : Gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, ikterus (+), sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin (+), proteinuria.

116 DIAGNOSIS : (2,3) 1. Amenorea yang disertai muntah hebat (segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan), pekerjaan sehari-hari terganggu, haus hebat. 2. Fungsi vital : nadi meningkat 100 x/menit, tekanan darah turun pada keadaan berat subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma), 3. Fisis : dehidrasi, keadaan berat, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan turun. VT porsio lunak, uterus besar sesuai besarnya kehamilan. 4. Laboratorium : kenaikan relatif Hb dan Hm, shift to the left, benda keton (+) dan proteinuria. PENATALAKSANAAN : (2,3) 1. Rawat di Rumah Sakit, batasi pengunjung. 2. Stop per oral 24 - 48 jam 3. Infus glukosa 10 % atau 5 % : RL = 2 : 1, 40 tetes per /menit 4. • • • • • Vitamin B1, B2, B6 masing-masing 50 - 100 mg per/hari/infus Vitamin B12 200 mcg/hari/infus, vit. C 200mg/hari/infus. Phenobarbital 30 mg im 2 - 3 x/hari ATAU Chlorpromasime 25 - 50 mg/hari im ATAU Diazepam 5 mg 2 - 3 x/hari im. Antiemetik : Prometazine (Avopreg) 2-3 x 25 mg/hari p.o, ATAU Prochlorperazine (Stimetil) 3x3 mg/hari p.o, ATAU Mediamer B6 3x1/hari p.o. Antasida : Acidrine 3x1 tab/hari p.o ATAU Mylanta 3x1 tab/hari p.o ATAU Magnam 3x1 tab/hari p.o 5. Diet : a. Diet Hiperemsis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat-zat gizi, kecuali vitamin c, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. b. Diet Hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang, Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.

117 c. Diet Hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium.

2. ABORTUS dr. Rudianto HP, dr. Retno B. Farid, SpOG BATASAN: Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. (1,2,3,4) Abortus komplit adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang 20 minggu. Abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri. Abortus insipiens adalah abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri. Abortus membakat adalah abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. “Missed abortion” adalah abortus dimana embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih Abortus habitualis adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.1 Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia . Abortus septik adalah abortus infeksiosa berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum.(2) KLASIFIKASI : I. Menurut terjadinya dibedakan atas : (1,5,6) 1. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja.

Kelainan pada plasenta 4. Abortus inkomplit 4. Abortus insipiens 3.4.(7) Abortus yang disengaja ini dapat bersifat murni medisinalis. Abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. Kelainan traktus genitalis 5. Pemeriksaan USG 2. b. Toksoplasmosis. II. dibedakan atas : (1. abortus infeksiosa dan abortus septik. Adanya amenore pada masa reproduksi dengan hasil tes kehamilan positif/pernah positif 2.4. pemeriksaan lain yang diperlukan untuk melacak abortus habiatualis seperti HSG. Perdarahan pervaginam. Penyakit ibu. hormonal. PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1) 1. Missed abortion Disamping itu dikenal pula abortus habitualis. leukosit. DIAGNOSIS : (1. ETIOLOGI : (2. GDS. trombosit. Abortus membakat 2.3.2) 1.2. hemoglobin. Abortus provokatus (induksi abortus) hanya dibolehkan bila bertujuan menjaga kesehatan fisik.6) 1. dan kadar fibrinogen pada “missed abortion ”. tetapi dapat pula bersifat medisinalis kriminalis tergantung dari pelaku abortusnya yang dibedakan antara : a. Menurut gambaran klinis. Kelainan telur (ovum yang patologik ) 2. waktu perdarahan. mental serta kehidupan ibu hamil. Pemeriksaan laboratorium : tes kehamilan.118 2. . mungkin disertai jaringan hasil konsepsi 3.6) 1. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi 3.5. Abortus komplit 5. waktu bekuan. Abortus provokatus medisinalis ( terapeutik ) yaitu abortus yang dilakukan atas indikasi medis. Rasa sakit atau keram perut pada daerah atas simfisis.

kadang disertai syok Ostium uteri terbuka USG : kantung gestasi tidak utuh . Fibrinogen. ”Missed abortion” • Perdarahan • Keluhan kehamilan hilang • Tinggi fundus uteri menetap. Abortus inkomplit • • • • Perdarahan pervaginam banyak Nyeri. Abortus membakat • • • • • • Gejala klinis Amenore Tanda -tanda hamil muda Perdarahan pervaginam sedikit Nyeri/mules Ostium uteri internum tertutup USG : kantung gestasi utuh Penatalaksanaan • Tirah baring minimal 2X24 jam • Fenobarbital 3X30 mg/hari kalau perlu 2.Hb dan leukosit normal. transfusi darah • Dilatasi serviks • Bila kehamilan ≤ 12 minggu lakukan kuret • Bila kehamilan > 12 minggu diberikan tetesan Oksitosin 20 -30u dalam 500cc Dextrose 5% mulai 20 tetes/menit bila tidak timbul . • Kehamilan < 12 minggu bila komplit diterapi sesuai abortus komplit.) • Kadang disertai fluor warna coklat • USG : janin mati • Periksa CT.119 PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan abortus tergantung dari jenis abortusnya : Diagnosis 1. Trombosit. Abortus insipiens • Perdarahan pervaginam • Nyeri/mules lebih sering/kuat • Ostium uteri terbuka. ketuban menonjol • Hasil konsepsi masih utuh dalam uterus • Kehamilan ≥ 12 minggu bila diterapi sesuai abortus komplit.7 hari/oral • Metyhl ergometrin 3X1/oral /hari 5 hari • Hematinik • Methyl ergometrin 3X1/hari • Hematinik 3. bila inkomplit diterapi sesuai ab.sisa hasil konsepsi 4.BT.bila inkomplit di terapi sesuai ab. Inkomplit • Perbaiki keadaan umum • Kosongkan uterus dengan kuret • Amoxycillin 3X500mg/oral / hari 5 . Abortus komplit • • • • Perdarahan pervaginam sedikit Hasil konsepsi sudah keluar Uterus kecil Ostium uteri tertutup 5. bahkan mengecil • Tes kehamilan ( .inkomplit.

120 kontraksi uterus.tiroid bila kekurangan hormon ini. tensi lebih rendah bahkan sampai syok • Periksa biakan darah dan tes kepekaan • Procaine PenicillineG 10 juta unit/6 jam im • Streptomycin 0. kemudian 3 X 0.infus RL. (8) 7.100 mg/kgBB/hari. Abortus habitualis • Abortus yang terjadi 3 kali berturut-turut atau lebih • Pada inkompetensi serviks dapat dilakukan operasi menurut Shirodkar atau Mac Donald. nyeri tekan dan kemudian leukositosis • Bila syok/perdarahan (N>120X/menit).(2) • Terapi dengan hormon progesteron. Abortus septik .dilakukan biakan darah dan tes kepekaan • Gejala seperti abortus infeksiosa hanya lebih berat. perdarahan • Streptomycin 0. Abortus infeksiosa • Diabetes melitus ( lihat penatalaksanaan DM dalam kehamilan) • Adanya tanda-tanda infeksi • Procaine PenicillineG 1 juta genitalia seperti panas.5 gr/12jam IM pervaginam yang berbau.kuret 6 jam setelah pemberian obat • Dilakukan histerektomi total bila 8. dosis tertinggi 140 u • Bila dengan dosis tersebut tidak berhasil. peritonitis.5 gr/12jam IM • Metronidazol 0.(2) • Toksoplasmosis diterapi dgn Spiramisin 50 . segera kuret • Bila tidak berdarah.48 jam. uterus • Bila tidak syok.5gr/infus dilanjutkan 1 gr/oral.kuret 24 jam besar lunak. demam lebih tinggi. unit /6 jam im takikardia.diulangi lagi setelah istirahat 24 .5 gr/oral/hari ( 5 hari ) • Bila perdarahan terus. (7) 6. dosis dinaikkan 10 u tiap 30 menit tanpa mengubah kecepatan tetesan sampai timbul kontraksi uterus dan ini dipertahankan. transfusi darah dilanjutkan kuret • Bila ada tanda-tanda resistensi PP. nadi lebih cepat.

Murah Manoe. (9) Abortus septik dengan syok lihat penatalaksanaan septik syok. tetapi berinplantasi diluar endometrium kavum uteri (1) . Perforasi : Untuk mencegahnya: pemberian uterotonik. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0. Syok LAMA PERAWATAN : Setelah kuretase pasien tidak perlu dirawat. dr. kerusakan alat abdomen. Anemia:Biasanya anemia post hemoragi. Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi.5 cc IM (10) Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang kerumah. ada tanda.2. Infeksi :Kasus abortus yang datang dalam keadaan infeksi harus mendapat perlindungan antibiotik dulu sebelum dikuret 3. Helida Abbas.(1) PENYULIT : (1. Welchii. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi. Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menanda tangani surat persetujuan tindakan.121 gagal kuret. SpOG BATASAN : Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana ovum yang telah dibuahi tidak berinplantasi ditempat yang biasa. Bila Kehamilan Ektopik tersebut berakhir dengan abortus atau ruptur disebut Kehamilan Ektopik Terganggu (2) ETIOLOGI : (3) . kecuali bila ada komplikasi. sondase uterus.6) 1. kuretase secara sistimatis dan “lege artis” 4.tanda perforasi uterus. KEHAMILAN EKTOPIK dr. infeksi oleh Cl.diatasi dengan transfusi darah bila Hb < 8 gr% 2. (1) 3. IMS.

mungkin ringan atau berat bahkan mungkin ditemukan nyeri bahu menunjukkan bahwa perdarahan peritonium telah mengiritasi diafragma (1. Pemeriksaan fisis . pucat dan ekstremitas dingin.4). Nyeri bisa dirasakan bilateral atau unilateral atau hanya perut bagian bawah. Adanya tanda-tanda abdomen akut yaitu perut tegang bagian bawah. 2. Tes kehamilan positif (+) membantu diagnosis. hipotensi. Ditemukan nyeri ketok.122 Kerusakan tuba dapat disebabkan : • • • LOKASI : (1. Kehamilan ovarium Kehamilan intraligamenter Kehamilan abdominal Kehamilan ektopik pada uterus Inflamasi Infeksi Pembedahan 1. Pemeriksaan ginekologis . Berat ringannya nyeri tergantung pada jumlah darah yang terkumpul dalam peritonium.2) • • • • • DIAGNOSIS : Kehamilan tuba (95% . takikardi. nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen. Trias klasik Kehamilan ektopik yaitu : • • • Terlambat haid (amenore) Nyeri perut suprapubik Perdarahan pervaginam berupa bercak.98% dari seluruh Kehamilan ektopik). • • • • Didapatkan rahim yang juga membesar. 2. adanya tumor didaerah adneksa Adanya tanda-tanda syok hipovolemik yaitu. Anamnesis dan gejala klinis.

bukan hamil ektopik  konservatif.Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri . Pemeriksaan penunjang • • Labotratorium : Hb. DIAGNOSIS BANDING : ( 1.4) Radang panggul Kista ovarium pecah dan mengalami perdarahan Torsi kista ovarium Abortus iminens Endometriosis Apendisitis Konsultasi  bila perlu ke bagian bedah. .2.Adanya massa komplek dirongga panggul • • • • • • • • Kuldosentesis  untuk mengetahui adanya daerah dalam kavum douglas. dilakukan observasi dan USG. Laparoskopi diagnosis. PENATA LAKSANAAN : (1. 3. Pemeriksaan dalam : − Serviks teraba lunak − Nyeri goyang serviks (+) − Kanan/kiri uterus : Nyeri pada perabaan dan dapat teraba massa tumor − Kavum douglasi bisa menonjol.3) • • • Perbaiki keadaan umum Kehamilan ektopik dengan gejala klinis jelas + pemeriksaan penunjang (+) siapkan laparotomi Curiga Keamilan ektopik.123 Pemeriksaan dengan spekulum : ada fluksus sedikit. bila (+)  laparoskopi . .2. • Hasil laparoskopi. leukosit dan ß HCG USG : .Adanya kantung kehamilan diluar kavum uteri. nyeri tekan (+).

bila anak cukup histerektomi total. keluarkan anak saja dan plasenta di tinggalkan. lakukan ovarial kistektomi Kehamilan abdominal.124 • • Bila laparoskopi Kehamilan ektopik  laparotomi/tindakan sesuai tempat kejadian Laparotomi bila . Kehamilan serviks. . lakukan kuret. lakukan salpingektomi Kehamilan ovarium. • • • • Kehamilan tuba. tampon atau ligasi arteri hipogastrika.

Leuko.125 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN EKTOPIK CURIGA KEHAMILAN EKTOPIK Gejala Klinis Amenore Nyeri abdomen suprapubik Perdarahan bercak Lab. Hb.gol darah Tes kehamilan USG Laparoskopi Tidak jelas Gejala klinis Observasi GK & USG Laparotomi tindakan Sesuai tempat kejadian Kehamilan Kehamilanektopik ektopik Laparoskopi Bukan hamil ektopik TUBA OVARIUM ABDOMINAL/ Hamil lanjut Hamil muda Konservatif SERVIKS Interstisial kornu Tuba kontra lateral Lekat dengan tuba Tidak lekat dengan tuba Tidak baik Baik Tuba kontra lateral Keluarkan anak saja tinggalkan plasenta Reseksi baji ooforektomi Anak cukup tidak mau anak mau anak Anak cukup tidak mau anak Anak tidak ada Salpingektomi dg ovarial kistektomi Histerekto mi Reseksi kornu histerektomi Masih mau anak Anak tidak ada mau anak tidak mau anak Tubektom i Kuret+tampon ligasi A hipogastrika Slpingektomi Bilateral Slpingektomi Unilateral Tuba dibiarkan Salpingostomi Slpingektomi parsial Salpingostomi Slpingektomi Unilateral . Hm.

dr. karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari vili dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung. SpOG BATASAN : Molahidatidosa adalah penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kistik villi dan perubahan hidropik(1.2. Karena perdarahan ini maka umumnya penderita mola hidatidosa masuk rumah sakit dalam keadaan anemia.126 4.Efendi Lukas.A.2. GEJALA KLINIK : (1. Kedua teori neoplasma dari Park yang mengatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas.3) • Adanya tanda-tanda kehamilan disertai dengan perdarahan.2). Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematia mudigah3. dimana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan ke dalam vili sehingga timbul gelembung. sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian. balotemen negatif kecuali pada mola parsial PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1. yang mempunyai fungsi abnormal pula. MOLAHIDATIDOSA dr.H. PATOFISIOLOGI : Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblas.Arifuddin Djuanna.3) . Perdarahan ini bisa intermitten. • • • • • • Hiperemesis gravidarum Tanda-tanda preeklampsia pada trimester I Tanda-tanda tirotoksikosis Kista lutein unilateral/bilateral Umumnya uterus lebih besar dari usia kehamilan Tidak dirasakan tanda-tanda adanya gerakan anak. Pertama teori missed abortion : Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion).

5) • • • • Koreksi dehidrasi Transfusi darah bila ada anemia (Hb ≤ 8 gr%) Bila ada gejala preeklampsia dan hiperemesis gravidarum diobati sesuai dengan protokol penanganan di Bagian OBSGIN FK.2. Perbaikan keadaan umum(4. Kuretase (3. maka dilakukan pemasangan laminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian Sebelum kuretase terlebih dahu.u siapkan darah 500 cc dan pasang infus dengan tetesan Oxytocin’S 10 IU dalam 500 cc Dextrose 5% Kuretase dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval minimal 1 minggu Seluruh jaringan hasil kerokan dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi B. kadar βhCG serta foto toraks) kecuali bila jaringan mola sudah keluar spontan Bila kanalis servikalis belum terbuka. Pengeluaran jaringan mola Dengan cara : A.UNHAS Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis dikonsulkan ke Bagian Penyakit Dalam 2.5) • • • • • Dilakukan setelah pemeriksaan persiapan selesai (pemeriksaan darah rutin. Histerektomi (1. Sonde masuk tanpa tahanan dan dapat diputar 360 ° dengan deviasi sonde kurang dari 10° • T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis PENANGANAN : Terapi mola hidatidosa terdiri dari 3 tahap yaitu : 1.127 • • • • Foto toraks Pemeriksaan hCG urin atau serum Ultrasonografi Uji sonde menurut Hanifa.6) .

3) • • Lama pengawasan berkisar satu sampai dua tahun Selama pengawasan penderita dianjurkan memakai kontrasepsi kondom. pemeriksaan fisk. dan foto toraks setelah satu tahun semuanya normal) maka penderita tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi dan hamil lagi • Bila selama masa observasi kadar β-hCG tetap atau bahkan meningkat dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi atau pada pemeriksaan klinis.2) • • • • • • Perdarahan hebat Anemia Syok Infeksi Perforasi uterus Keganasan (PTG) LAMA PERAWATAN : Bila tidak ada komplikasi yang berat maka lama perawatan kurang lebih 7 hari . Umur ≥ 35 tahun Anak hidup ≥ 3 orang Pemeriksaan tindak lanjut(1.128 • • 3. pil kombinasi atau diafragma dan pemeriksaan fisik dilakukan setiap kali pada saat penderita datang kontrol • • • Pemeriksaan kadar β-hCG dilakukan setiap minggu sampai ditemukan kadar β-hCG normal 3 kali berturut-turut Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan setiap bulan sampai kadar β-hCG normal selama 6 kali berturut-turut Bila telah terjadi remisi spontan (kadar β-hCG. foto toraks ditemukan adanya metastasis maka penderita harus KOMPLIKASI : (1.

foto toraks .129 SKEMA PENATALAKSANAAN MOLA HIDATIDOSA MOLA HIDATIDOSA PERBAIKI KEADAAN UMUM PENGELUARAN JARINGAN MOLA PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT HISTEREKTOMI BILA : UMUR ≥ 35 THN ANAK HIDUP ≥ 3 * KURET I & II PAKAI KB PIL.kadar β-hcg .darah rutin * kecuali bila terjadi perdarahan maka pemeriksaan foto toraks dan kadar β-hcg dilakukan setelah kuret . KONDOM TUBEKTOMI PERIKSA KADAR β-hCG TIAP MINGGU REMISI SPONTAN BILA : KADAR β-hCG NORMAL 3 x BERTURUT-TURUT KADAR β-hCG MENETAP/MENINGGI EVALUASI METASTASIS & TERAPI SEBAGAI PTG Keterangan : * sebelum kuret periksa .

Setia Budi. bronchospasm”) Hipertensi pada kehamilan Syok (”hemorrhagic. IMS. Ny. dr.(1.2) Asfiksia atau hipoksia biasanya ditimbulkan oleh 3 mekanisme : (2) 1.. berat dan nyata sehingga terjadi kegagalan mekanisme kompensasi. septic”) “Sickle cell crisis” Berupa episode hipoksemia sementara yang tidak disertai asidosis Uterus : Hipertonik atau “polysystole” Pemberian oksitosin yang berlebih Ruptur uteri Plasenta . Menurunnya aliran darah uteroplasenter 2. Menurunnya aliran darah umbilikus KLASIFIKASI(1) Akut : Klinis : ETIOLOGI (2) Akut : Ibu : • • • • • • • • • Hipotensi (misalnya “Supine hypotensive syndrome”) Hipoksia atau hiperkarbia (misalnya “maternal aspiration syndrome”) Gangguan pernafasan (shock-lung. SpOG BATASAN : Asfiksia intrauterina adalah keadaan kekurangan oksigen dan adanya penimbunan karbon-dioksida yang menyebabkan asidosis intrauterina akibat gangguan pertukaran gas melalui plasenta dan jika beban tersebut lama. Menurunnya oksigenasi ibu 3. cardiac. Murah M.130 5. ASFIKSIA INTRAUTERIN dr. maka gejala asfiksia tampak jelas.

myocarditis”) Kelainan kongenital Perdarahan “Iso immunozation” Solusio plasenta plasenta previa “Premature placental aging” Tali pusat : Prolaps Ruptur vasa previa Terjepit atau tali pusat pendek Tali pusat tersimpul Kronis : Ibu : • Spasme pembuluh darah : • • • • Hipertensi kronis Hipertensi pada kehamilan DM Sirkulasi sistemik yang tidak adekuat : • • Penyakit jantung yang berat Anemia berat • Oksigenasi yang tidak cukup didalam darah : • • • Penyakit jantung sianotik “longeterm pulmonary shunting” Tinggal didaerah tinggi Plasenta : • “Prematur placental aging” • DM . tachyarrhythmia.131 • • • • • • • Fetus : • • • • Payah jantung (“hydrops fetalis.

5) • • • • Kardiotokografi (KTG).4.5) • • • • • • FHM (Fetal Heart Monitoring) memperlihatkan adanya kelainan Profil biofisik janin (gerak janin.132 Fetus : • • • • • • “Postmaturity syndrome” Kehamilan multiple “Twin-to-twin transfusion” Kelainan kongenital “Erythroblastosis fetalis” “Maternal-fetal transfusion” KRITERIA DIAGNOSIS : Akut : (1.2. tonus janin) berkurang atau menghilang Perubahan PH janin Kronis : (1.6) Oligohidramnion Pertumbuhan janin terhambat Pewarnaan mekoneum pada cairan ketuban PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1. OCT USG Fetal blood sampling (pengambilan contoh darah janin) Amnioskopi PENANGANAN : (1) • • Resusitasi intra uterin (lihat Bab resusitasi intra uterin) Terminasi kehamilan tergantung keadaan asfiksia dan keadaan janin .4. NST.4.2.3.3.

133 .

PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT dr..Terjadi pada saat hiperplasia selluler. Tipe II (asimetrik) : Biasanya terjadi pada trimester III dari suatu kehamilan juga dapat terjadi pada periode postterm dari suatu kehamilan. dr.(2) 2. Meskipun demikian selama trimester II hiperplasia selluler dan hipertrofi selluler dapat terjadi dan gambaran yang tidak simetrik. (1) PATOFISIOLOGI : Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian pertumbuhan janin terhambat (PJT) dapat dibedakan atas : (1) • Faktor ibu : • • • • • • • • Faktor plasenta : • Faktor janin : • • • • Penyakit hipertensi Malnutrisi Anemi berat Penyakit paru kronis Penyakir jantung sianotik Perokok Insufisiensi plasenta Cacat bawaan Trisomi Kehamilan kembar Infeksi intrauterin : ~ AIDS ~ TORCH Ada 3 tipe pertumbuhan janin terhambat : 1. Tipe I (simetrik) : Terjadi pada saat dini dari suatu kehamilan dimana terjadi pengecilan semua ukuran baik berat maupun panjang janin. Tipe kombinasi. yang disebabkan oleh kombinasi faktor ibu dan faktor janin. sehingga beberapa parameter janin berada dibawah 10 persentil dari umur kehamilan yang seharusnya. (2) 3. karena itu akan mempengaruhi jumlah sel pada seluruh tubuh janin.134 6. Aphrodite pandin.(1) . Suzanna SP. SpOG BATASAN : Pertumbuhan janin terrhambat keadaan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim..

4) Kecurigaan PJT ditegakkan apabila tidak ditemukan penambahan berat badan ibu pada 2 kali pemeriksaan dengan selang 1 atau 2 minggu. Pemeriksaan klinik : pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) dan linkaran perut (LP).135 DIAGNOSIS : 1. (1) Penambahan berat badan ibu kurang dari 7 kg pada saat aterm atau berat badan ibu kurang dari 45 kg. USG berkala untuk menentukan : (1.3) Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi . (1.3. Anamnesis : Ada riwayat / faktor risiko : (1.3) • • • • • • • • • • • BPD Panjang femur Lingkaran kepala Lingkaran perut Volume air ketuban Cacat bawaan Taksiran berat badan janin Kondisi biofisik janin Kematangan plasenta 4. (3) 3. Kecurigaan PJT ditegakkan apabila TFU menetap pada 2 kali pemeriksaan dengan selang waktu 1-2 minggu atau menurun dibawah garis 10 persentil. Pemeriksaan Kardiotokografi : (1.3) • • • • • • • Hipertensi Anemia kronis Penyakit jantung sianotik Pemakaian obat-obatan Merokok Infeksi Riwayat PJT sebelumnya 2.

maturitas paru cukup (biasanya pada kehamilan 35 minggu). AIDS : kerja sama dengan Bagian Penyakit Dalam Anemi : Koreksi anemi dengan pemberian tablet besi Terminasi kehamilan : sesuai penatalaksanaan terminasi kehamilan / induksi persalinan.3) • • • • • • • Istirahat baring (tidur miring) Minum lebih dari 2000 ml/hari Makan lebih dari 2100 kal/hari Secara khusus : Hipertensi (preeklampsia) : sesuai penatalaksanaan preeklampsia. Secara umum setiap kasus PJT dikelola sebagai berikut : (1. bila perlu dilakukan setiap hari pada pasien DM. Penyakit paru kronik. TERAPI : Terapi kausal terhadap penyebab atau penyakit yang mendasarinya.136 Secara berkala tiap 7 hari. Bila pertumbuhan janin tidak ada. Bila pertumbuhan janin berdasar USG masih berlangsung.3) . penyakit jantung sianotik. penyakit ginjal. (1. terminasi dilakukan pada kehamilan 37 minggu. lakukan terminasi. Malnutrisi : konsultasi/kerjasama bagian gizi.

137 SKEMA PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT Faktor Faktorrisiko risikoPJT PJT Konfirmasi penyakit Konfirmasi penyakityang yangendasari endasari Pemeriksaan PemeriksaanTinggi Tinggifundus fundusuteri uteri dan danberat beratbadan badanibu ibu Ulangi 2 minggu Kecurigaan KecurigaanPJT PJT USG Serial (normal) PJT Tidak simetris Tidak cacat Umur kehamilan simetris Cacat ringan Cacat berat ≥ 37 minggu 37 minggu Pertimbangkan terminasi kehamilan Terminasi kehamilan Evaluasi kesejahteraan janin USG + Doppler Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi Evaluasi kembali tiap minggu spi aterm Gawat janin Tidak gawat janin Akhiri kehamilan (Bila memungkinkan. berikan dulu Betametason 12mg/hari selama 2 hari .

belum ada pembukaan serviks. serviks kaku. dan sekitar 6-7 minggu dengan USG transabdominal dan tidak tampak gerakan janin pada kehamilan 10 minggu (3) . KEMATIAN JANIN DALAM RAHIM dr. “Overlapping the skull bones” (4) . DIAGNOSIS BANDING : • • Mioma uteri (1. dr. Rahmat Landahur. H. DIAGNOSIS : Diagnosis didasarkan atas ditemukannya gejala dan tanda-tanda dibawah ini (2) : • Anamnesis : berwarna coklat.R. usia kehamilan telah mencapai 20 minggu atau lebih (1). SpOG BATASAN : Kematian janin dalam rahim adalah kematian janin dalam uterus yang beratnya 500 gr atau lebih. tidak dirasakan gerakan anak.2) PEMERIKSAAN PENUNJANG : a.138 7. “Deformed or collapsed head”. gerakan janin tidak ada Tidak terdengar bunyi jantung janin Pemeriksaan dalam vagina : Ditemukan uterus lebih kecil atau sesuai umur kehamilan. • Palpasi : diatas kehamilan 20 minggu • • Auskultasi : Riwayat amenore.2) Molahidatidosa (1. Dapat ditemukan gambaran “Double line of the fetal head”. Moeljono.E. USG: Tidak ditemukan pulsasi ajntung embrio mulai kehamilan 6 minggu dengan USG transvaginal. kadang ditemukan fluksus pervaginam yang Biasanya tinggi fundus uteri lebih kecil atau sesuai umur kehamilan.

Bila segera tindaki 2. Konservatif/pasif : • • • • • Rawat jalan Menunggu persalinan spontan 2-3 minggu Pemeriksaan kadar hematokrit. tulang belakang melengkung. LAB (2) : • • • • Waktu perdarahan Waktu pembekuan Hitung thrombosit Fibrinogen PENANGANAN : (1. Perforasi INFORMED CONSENT : (1) Sebelum tindakan dan dengan persetujuan tertulis 8. Robert Sign (ditemukan gas dalam tubuh fetus). dianjurkan pada kehamilan 16 minggu.2. balon kateter Induksi : oksitosin. Tanda yang ditemukan. Penyakit gangguan pembekuan darah 2. c. Bila ada gangguan pembekuan darah 3.139 b. prostaglandin tablet vagina PERAWATAN RUMAH SAKIT : (1. Halo Sign (bayangan radiolusen yang melebar antara kulit kepala dan tulang kepala fetus). trombosit fibrinogen tiap minggu b.2) a.3). Foto polos abdomen bila diperlukan. Aktif : Dilatasi dengan batang laminaria. PERDARAHAN ANTEPARTUM .2) 1. Penyulit Infeksi berat PENYULIT : (1. posisi janin abnormal (1. spalding sign (overlapping dari tulang-tulang kepala).2) 1.

140
dr. Neni Moerniaeni, dr. John Rambulangi, SpOG

BATASAN : Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu (1). Klasifikasi perdarahan antepartum yaitu : (2) 1. Plasenta pervia 2. Solusio plasenta 3. yang tidak jelas sumbernya (idiopatik) Pada penatalaksaan ini dibahas mengenai plasenta previa, solusio plasenta dan vasa previa. Tabel : Perbedaan klinis antara plasenta previa dan solusio plasenta (2)
KLINIS PLASENTA PREVIA tidak Ya merah segar sesuai darah yang keluar perlahan-lahan sewaktu hamil biasanya tidak ada Biasa Ada jaringan plasenta tidak masuk PAP mungkin abnormal Ya tidak merah coklat tidak sesuai Tiba-tiba sewaktu hamil dan inpartu Ada Tegang biasa tidak ada ketuban tegang dapat terjadi tidak ada hubungan SOLUSIO PLASENTA

1. Perdarahan dengan nyeri 2. Perdarahan berulang 3. Warna merah 4. Anemia / renjatan 5. Timbulnya 6. Terjadinya 7. His 8. Palpasi 9. denyut jantung janin 10. 11. 12.
Periksa dalam vagina Penurunan Presentasi

141 PLASENTA PREVIA BATASAN : Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal, yakni pada segmen bawah rahim (SBR), sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ositium uteri internum).
(2)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu yakni : (2) 1. Plasenta previa totalis 2. Plasenta previa lateralis : bila seluruh pembukaan tertutup oleh plasenta : bila hanya sebagian dari pembukaan tertutup oleh plasenta.

3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan. 4. Plasenta letak rendah : bila plasenta berada 3 - 4 cm di atas pinggir pembukaan. ETIOLOGI : Tidak jelas. (2)

DIAGNOSIS : (2) 1. Anamnesis, adanya perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 20 minggu, berlangsung tanpa sebab. 2. Pemeriksaan luar sering didapati kelainan letak, bila letak kepala maka kepala belum masuk PAP. 3. Inspekulo, adanya darah dari otsium uteri eksternum. 4. USG untuk menentukan letak plasenta. 5. Penentuan letak plasenta secara langsung dengan meraba langsung melalui kanalis servikalis, tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak, karena itu cara ini hanya dilakukan diatas meja operasi. PENATALAKSANAAN : (2) 1. Konservatif bila : a. Kehamilan < 37 minggu b. Perdarahan tidak ada / tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).

142 c. Tempat tinggal penderita dekat dengan rumah sakit (dapat ditempuh dalam waktu 15 menit). Pada perawatan konservatif dilakukan : • Istirahat, atasi anemia beri hematinik, spasmolitik, antibiotik bila ada indikasi., periksa USG, periksa Hb dan hematokrit. Bila selama 3 hari tidak berdarah dilakukan mobilisasi bertahap dan bila tidak berdarah penderita dipulangkan. Bila timbul perdarahan segera ke rumah sakit dan tidak boleh bersanggama. 2. Penanganan aktif bila : a. Perdarahan banyak, tanpa memandang usia kehamilan. b. Umur kehamilan ≥ 37 minggu c. Anak mati Penanganan aktif dapat berupa persalinan pervaginam atau perabdominal. Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double 33set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : a. Plasenta previa marginalis b. Plasenta letak rendah. c. Plasenta previa lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk PAP dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit, maka dilakukan amniotomi diikuti dengan drip Oxitocin’s untuk partus pervaginam bila gagal drips (sesuai dengan bab terminasi kehamilan), bila perdarahan banyak dilakukan seksio sesar. Sedang indikasi melakukan seksio sesar bila : • • • • • • Plasenta previa totalis Perdarahan banyak tanpa henti Presentasi abnormal Panggul sempit Keadaan serviks tidak menguntungkan (belum matang) Gawat janin

Pada keadaan dimana tidak memungkinkan untuk dilakukan seksio sesar maka dilakukan pemasangan Cunam Willet atau Versi Braxton - Hicks.

SOLUSIO PLASENTA

kemudian penentuan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. belum ada tanda renjatan. pelepasan plasenta ¼ sampai 2/3 bagian permukaan. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik.200 cc. dengan USG juga dimaksudkan untuk menyingkirkan plasenta previa. Penatalaksanaannya meliputi : a. Ringan : Perdarahan kurang dari 100 . Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb. menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. Pada solusio plasenta ringan dilakukan istirahat. Pada solusio plasenta sedang dan berat maka penanganan bertujuan untuk mengatasi renjatan. Sedang : Perdarahan lebih dari 200 cc. pemberian sedatif. janin hidup. uterus tidak tegang. kadar fibrinogen plasma lebih dari 120 mg %. memperbaiki anemia. uterus tegang. gawat janin atau janin telah mati. 2. terdapat tanda renjatan. PENATALAKSANAAN : (2) Tergantung dari berat ringannya kasus. haematokrit dan trombosit. 3. (2) Klasifikasi berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1. Pemberian transfusi darah . kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. pelepasan plasenta kurang dari 1/6 bagian permukaan.143 BATASAN : Solusio plasenta adalah pelepasan plasenta sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir. fibrinogen. janin mati pelepasan plasenta bisa terjadi lebih dari 2/3 bagian atau keseluruhan. karena itu kadang diperlukan pemeriksaan penunjang yaitu USG. ETIOLOGI : Tidak jelas(2) DIAGNOSIS : (2) Pada solusio plasenta ringan kadang sulit menentukan diagnosis karena tidak semua gejala klinis nampak nyata . terdapat tanda pre renjatan. Bila proses berhenti secara berangsur penderita dimobilisasi.

Pembukaan tidak ada atau < 4 cm. Dengan demikian transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc. Perdarahan banyak. e. Sedang seksio sesar dilakukan bila: a. Panggul sempit.144 b. Pemberian infus Oxytocin’s d. c. VASA PREVIA BATASAN : . Kalau perlu dilakukan seksio sesar Bila diagnosis solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan. Letak lintang. d. Preeklampsia berat. g. Ketuban segera dipecahkan dengan maksud untuk mengurangi regangan dinding uterus dan untuk mempercepat persalinan diberikan infus Oxytocin’s 5 UI dalam 500 cc Dextrose 5 %. b. Pelvik score < 5. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam. Pemecahan ketuban (amniotomi) c. berarti perdarahan yang terjadi sekurang-kurangnya sebanyak 1000 cc. f.

Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti djj yang tidak beraturan. Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Rambulangi J. deselerasi atau bradikardi khususnya bila perdarahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer . Gasong MS. (2) ETIOLOGI : Tidak jelas (2) DIAGNOSIS : (2) Pada pemeriksaan dalam vagina dirabanya pembuluh darah pada selaput ketuban. pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. . Penatalaksanaan perdarahan antepartum. Hartono E. ukuran janin. Moerniaeni N. maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan kardiotokografi. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I.13. Namun bila janin sudah meninggal atau imatur dilakukan persalinan pervaginam.145 Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Perdarahan antepartum. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin. Jakarta 1991 : 9 . tentukan lebih dahulu umur kehamilan. KEPUSTAKAAN : 1. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera. 2.Betke serta hapusan darah tepi. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNHAS. Ujung Pandang 1997. PENATALAKSANAAN : (2) Sangat bergantung pada status janin.

. serviks sudah matang.146 SKEMA PENATALAKSANAAN PERDARAHAN ANTEPARTUM Perdarahan antepartum Diagnosis Anamnesis Pem. jarak tempat tinggal penderita dengan rumah sakit harus dapat ditempuh dalam 15 menit. Fibrinogen Gejala Progresif Persalinan pervaginam PDMO (Double set up) Darah (-) Nyeri (-) Uterus tidak tegang Pulang Resusitasi cairan Transfusi darah Amniotomi Infus Oxytocin’s 3 hari darah (-) mobilitas bertahap.ltk. marginalis. Lab USG Vassa previa Sedang atau berat Kehamilan ≥ 37 minggu Penilaian maturitas janin Janin mati atau imatur Janin hidup (prematur atau aterm) Plasebta previa Solusio plasenta Ringan Kehamilan < 37 minggu Kehamilan ≥ 37 minggu Kehamilan < 37 minggu Perdarahan (-) Perdarahan >> Anak mati Istirahat R/ Hematinik Antibiotik k/p Spasmolitik Periksa USG Periksa Hb. Hm Istirahat Sedatif Observasi Periksa HB. bila berdarah segera ke rumah sakit. rendah. p. kepala masuk panggul dan perdarahan < Pulang * Amniotomi Infus Oxitocin’s P. bila tetap darah (-) P. Totalis/lateralis Perdarahan >> Presentasi abnormal Panggul sempit Gawat janin Serviks belum masuk panggul 6 jam belum partus Serviks belum matang Perdarahan >> Pembukaan <4 cm atau (-) Panggul sempit Letak lintang Toksemia gravidaru Pelvic Score <5 Berhasil Pervaginam Gagal atau Perdarahan >> Seksio sesar *) Dianjurkan untuk tidak kerja keras dan tidak boleh bersanggama. Fisik Pem.

Edema : edema tekan pada : Tungkai (pretibial). Ong Tjandra.2. Penyakit ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” dengan akibat suatu vasospasme general dengan segala akibat-akibatnya. atau sistol ≥ 140 mmHg (< 160 mmHg) diastol ≥ 90 mmHg (< 110 mmHg). PREEKLAMPSIA & EKLAMPSIA dr. Edema pada Pretibia. 2. wajah/tangan. Lumbosakral. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu pada penyakit tropoblas. lumbosakral. PATOFISIOLOGI : (4) Penyebabnya sampai sekarang belum jelas benar. (untuk pemeriksaan pertama dilakukan 2 x setelah istirahat 10 menit). PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : 1. GEJALA KLINIS : (4) 1. dinding perut.3 gr/lt/24 jam Kwalitatif (+ +) PENATALAKSANAAN : (2) (4) . Proteinuri : gr/lt dalam 24 jamatau secara kwalitatif (+ +) 3. dinding perut. wajah/tangan. John Rambulangi.3) Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. SpOG PREEKLAMPSIA RINGAN BATASAN : (1. dr. Kehamilan > 20 minggu 2. Kenaikan tekanan darah (≥ 140/90 mmHg) dengan pemeriksaan 2 x selang 6 jam dalam keadaan istirahat. 4.147 9. 3. Proteinuri : > 0. Kenaikan tekanan darah sistol ≥ 30 mmHg atau diastol ≥ 15 mmHg (dari tekanan darah sebelum hamil) pada kehamilan 20 minggu atau lebih.

Cara persalinan . lemak dan garam • Sedativa ringan : Tablet Phenobarbital 3 x 30 mg atau Diazepam 3 x 2 mg peroral selama 7 hari • Roborantia • Kunjungan ulang tiap 1 minggu • Pemeriksaan laboratorium : Hb. selama perawatan : persalinan ditunggu sampai aterm. Timbul salah satu atau lebih gejala/tanda-tanda preeklampsia berat . • Banyak istirahat (berbaring tidur/miring) • Diet : cukup protein. Bila desakan darah turun. maka preeklampsia ringan dianggap sebagai preeklampsia berat. b. 2. trombosit. tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan. Kenaikan berat badan ibu : ≥ 1 kg/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu) 3. Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan. urine lengkap. Rawat tinggal (1) (1) Kriteria preeklampsia ringan untuk dirawat di rumah Sakit : 1. • Bila setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan. Pada kehamilan aterm (≥ 37 minggu) a. maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan.148 A. • Bila dalam perawatan di Rumah Sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm. maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan ≥ 37 minggu 2. hematokrit. Perawatan Obstetrik : 1. Persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan 3. Pada kehamilan preterm (< 37 minggu) a. fungsi ginjal B. Bila desakan darah mencapai normotensif. Perawatan kemudian disesuaikan dengan perawatan rawat jalan. asam uart darah. rendah karbohidrat. tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejalagejala preeklampsia. fungsi hati. Rawat jalan.

Janin • Hasil fetal assesment jelek (NST & USG) • Adanya tanda-tanda IUGR 3. pada kehamilan 20 minggu atau lebih. gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan). A. Konservatif : kehamilan tetap dipertahankan bersamaan memberi pengobatan medisinal. Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila didapatkan satu atau lebih keadaan gawat dibawah ini : 1. maka perawatan dibagi menjadi : A. PENATALAKSANAAN : (1) Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat selama perawatan. Perawatan aktif Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada tiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG) a.4.149 a.5) . Persalinan dapat dilakukan secara spontan. kegagalan terapi pada perawatan konservatif yaitu : dalam waktu setelah 6 jam sejak dimulainya pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan 2. Aktif : kehamilan segera diakhiri/diterminasi bersamaan dengan pemberian medisinal B. bila perlu memperpendek kala II PREEKLAMPSIA BERAT BATASAN : (4) Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi ≥ 160/110 mmHg disertai proteinuri dan atau edema. (3. Laboratorik darah atau setelah 24 jam sejak dimulainya perawatan medisinal. Ibu • Kehamilan ≥ 37 minggu • Adanya tanda-tanda/gejala impending eklampsia.

Diikuti segera 4 gram di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no.150 • Adanya “HELLP Syndrome” (Sindroma : Hemolisis. Frekuensi pernafasan > 16 x / menit 4. Dosis awal : 4 gram MgSO4 intravena (20% dalam 20cc) selama 1 gram/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Selanjutnya dosis ulangan diberikan 4 gram im tiap 6 jam. Untuk mengurangi nyeri dapat ditambah 1cc Xylocain 2 % yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan im. Magnesium Sulfat dihentikan bila : (7) 1. Diet cukup protein. Harus tersedia antidotum MgSO4. 2. 21 panjang 3.7 cm. Antasida 5. Syarat-syarat pemberian MGSO4 : (4. Pengobatan Medisinal 1. Kelemahan otot 125 . (3) c. (3) 3. d. rendah karbohidrat. Infus Dextrose 5 % yang tiap satu liternya diselingi dengan infus Ringer Laktat (60cc /jam) 500 cc 4. (6).7) 1. Pembagian obat anti kejang : Magnesium Sulfat Cara pemberian: a.5 cc/ kg BB/jam). 2. b. refleks patella setiap jam. yaitu : a. dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari. yaitu calsium glukonas 10%. lemak dan garam 6. Ada tanda-tanda keracunan. Tirah baring miring kesatu sisi Tanda vital diperiksa tiap 30 menit. Peningkatan fungsi hepar dan trombositopenia) b. Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0. 1 gram (10 % dalam 10 cc) diberikan IV dalam 3 menit. Dosis ulangan Diberikan 4 gram im 40 % setelah 6 jam pemberian dosis awal. Segera masuk rumah sakit. Refleksi petella (+) kuat 3.

Kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot -otot pernafasan. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan (normotensif). 1997. 8. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinu). Berikan Oxigen d. catapres injeksi dosis yang biasa dipakai adalah 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam.Desakan darah sistolis > 180mmHg. Diberikan Furosemid injeksi 40 mg/IM. (4). 7. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada : ederma paru. Kadar 12-15 mEq terjadi kelumpuhan otot-otot pernafasan dan > 15 mEq/liter terjadi henti jantung (3. payah jantung kongestif atau edema anasarka. Refleks fisiologis menurun d. Depresi susunan saraf pusat f. komunikasi pribadi).151 b. Fungsi jantung terganggu e. c. Hipotensi c. 3. .7). Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. maksimal 4-5kali. Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat (dikutip oleh 7) a. Lakukan pernafasan buatan. Kadar serum ion Magnesium pada dosis edequat adalah 4-7 mEq/liter. diastolis > 110mmHg atau “MAP” > 125mmHg. 2. Antihipertensi diberikan bila : . Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis < 105 mmHg (jangan < 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta. (8. Bersama dengan awal pemberian sublingual. Hentikan pemberian magnesium sulfat b.9) Dosis dari obat-obat antihipertensi ini sama dengan dosis pada hipertensi pada umumnya. Berikan calsium glukonase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit. maka obat yang sama mulai diberikan secara oral (Syakib Bakri.

10. (4) • Seksio sesaria bila : • Fetal assesment jelek • Syarat tetesan oxytosin tidak dipenuhi (nilai Bishop < 5) atau adanya kontra indikasi tetesan oksitosin .2) Fase latent : 6 jam tidak fase aktif dilakukan seksio sesar Fase aktif : .152 9. 5 C. • Antibitik diberikan atas indikasi (4) o . dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau Xylomidon 2cc im. • 12 jam sejak dimulainya tetesan oksitosin belummasuk fase aktif. Lain-lain • Konsul bagian penyakit dalam /jantung. Pengobatan Obstetrik Cara terminasi kehamilan.2) Sudah Inpartu : Kala I : (1. c. mata • Obat-obat anti piretik diberikan bila suhu rektal diatas 38. • Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesar (1. Diberikan Ampicillin 1 gram /6 jam/IV/hari. dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja. Diberikan digitalisasi cepat dengan cedilanid D. Kardiotonika Indikasi memberikan kardiotonika bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung. selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir). Belum inpartu : • Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai bishop ≥ 5 dan dengan fetal heart monitoring.

2. Perawatan Konservatif (1. Penderita kembali ke gejala-gejala/tanda-tanda Preeklampsia ringan dan tetap dirawat selama 3 hari. b. bila keadaan memungkinkan terminasi ditunda 2 x 24 jam untuk memberikan kortikosteroid (lihat bab pematangan paru) 1. Penderita dipulangkan bila : 1. maka kala II diselesaikan dengan partus buatan . Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian pengobatan medisinal. yaitu 4 gram bokong kiri dan 4 gram bokong kanan c. selambatlambatnya dalam waktu 24 jam 3.2) a. hanya “loading dose” MgSO4 tidak diberikan IV cukup im saja. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan harus diterminasi 4. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan : maka diberi lebih dahulu MgSO4 20% 2 gram IV. Pada kehamilan ≤ 37 minggu. (bila perlu dilakukan tetesan oksitosin ) Kala II : Pada persalinan pervaginam. Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak ada terminasi. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda preeklampsia ringan. Pengobatan obstetrik 1.153 • Amniotomi saja • Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap. Indikasi : Bila kehamilan preterm < 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik Pengobatan medisinal : sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan aktif. d. Pemantangan paru-paru janin. . dilakukan seksio sesar.

hepar. (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu). Berdasarkan gejala klinis diatas 2. Kehamilan > 20 minggu. (Kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neurologik). PATOFISIOLOGI : (4) Sama dengan preeklampsia. EKLAMPSIA BATASAN : (1. ginjal.2) Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil. Tanda-tanda preeklampsia (hipertensi. otak. atau persalinan atau masa nifas 2.2) Tujuan pengobatan : • • Untuk menghentikan dan mencegah kejang Mencegah dan mengatasi penyulit khususnya hipertensi krinis . Pemeriksaan laboratorium • • • adanya protein dalam urin fungsi organ. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan Preeklampsia ringan : penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai preeklampsia ringan. dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati. GEJALA KLINIS : (4) 1. dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia. yakni terjadinya nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut. jantung fungsi hematologi/hemostasis PENATALAKSANAAN : (1. ginjal. paru dan jantung. Kejang-kejang dan atau koma 4. edema dan proteinuri) 3. dalam persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Kadang-kadang disertai dengan gangguan fungsi organ-organ PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : (4) 1.154 2.

maka persalinan tindakan dengan trauma yang minimal.155 • • Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin Mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin untuk ibu. sikap dasar : kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) hemodinamik dan metabolisme ibu. Stabilisasi ibu dicapai dalam 4-8 jam setelah salah satu atau lebih keadaan di bawah ini : • • • • Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir Penderita mulai sadar (responsive dan orientasi) Terminasi kehamilan (4) • Apabila pada pemeriksaan. Bilamana diakhiri. Pengobatan medisinal : Sama seperti pengobatan preeklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram iv selama 2 menit sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir. • Perawatan pada serangan kejang : • • • Perawatan di kamar isolasi cukup terang/ICU Pengobatan obstetrik : (1. Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan satu kali saja. syarat-syarat untuk mengakhiri persalinan pervaginam dipenuhi. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital/thiopental 3-5mg/kgBB/IV pelan-pelan. Perawatan bersama Konsul bagian syaraf. anastesi dan anak.2) Sikap dasar : semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. bagian mata. . penyakit dalam/jantung.

Tindakan seksio sesar dilakukan pada keadaan : • • • • Penderita belum inpartu Fase laten Gawat janin Tindakan seksio sesaria dikerjakan dengan mempertimbangkan keadaan kondisi ibu.156 • • Apabila penderita sudah inpartu pada fase aktif langsung dilakukan amnitomi selanjutnya diikuti dengan partograf. bila ada kemacetan dilakukan seksio sesar. .

157 PREEKLAMPSIA RINGAN BERAT RAWAT JALAN Kunjungan ulang 1 minggu Dua minggu menetap Umur kehamilan Tanda-tanda vital Laboratorium Fetal Assesment Membaik RAWAT RS 1 Minggu Tidak membaik KONSERVATIF Kehamilan < 37 minggu Janin Baik Setelah 24 Jam Perbaikan menjadi Preeklampsia Ringan Rawat selama 3 hari Tidak ada Perbaikan AKTIF Kehamilan ≥ 37 minggu Tanda-tanda impending 6 jam Terapi TD Meningkat Fetal Assesment jelek IUGR Sindroma HELLP TERMINASI KEHAMILAN BELUM INPARTU INPARTU Bishop skor < 5 Kontra Indikasi Drip oksitosin Fetal Assesment Jelek Bishop skor ≥ 5 Fetal Assesment Baik Drip Oksitosin FASE LATENT FASE AKTIF Amniotomi Bila perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk Kala II KALA II PARTUS BUATAN Setelah 12 jam Tidak masuk Fase Aktif Setelah 6 jam Tidak masuk Fase Aktif SEKSIO SESARIA .

BELUM INPARTU INPARTU 158 EKLAMPSIA Waktu Diakhiri Stabilisasi hemodinamika dan Metabolisme. yaitu setelah : Terapi Obat Kejang terakhir Kejang terkahir Terapi obat Hipertensi Terakhir OS mulai sadar Kehamilan Diakhiri Tanpa Memandang usia Kehamilan dan Keadaan janin INPARTU BELUM INPARTU FASE LATENT FASE AKTIF Ada Janin Gawat Tidak ada Amniotomi Kalau perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk kala II Masuk Kala II PARTUS BUATAN SEKSIO SESARIA .

DIABETES MELITUS GESTASIONAL dr. Faktor ibu Pada wanita hamil kadar kortisol meningkat 3 X dari keadaan sebelum hamil. Josephine LT. • Adanya enzim yang bekerja seperti enzim insulinase yang dapat merusak insulin dalam plasma. Riwayat Ibu (1. Riwayat kebidanan (1. (1) PATOFISIOLOGI : Faktor -faktor yang dapat mengganggu keseimbangan karbohidrat pada kehamilan dapat berasal dari : (2) 1. SpOG BATASAN : Diabetes melitus gestasional adalah suatu intoleransi karbohidrat. Haryanto Kasy.1.2) .159 10. dr.2) • • • • • • Beberapa kali abortus Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas Riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan Pernah melahirkan bayi ≥ 4000 gram Pernah preeklampsia Polihidramnion 2. Sehingga asam lemak meningkat yang menyebabkan meningkatnya resistensi jaringan terhadap insulin. Ny. ringan maupun berat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. FAKTOR RISIKO : 1. Faktor Plasenta • Human plasental lactogen bersifat diabetogenik dan meningkatkan proses lipolisis trigliserida. 2. PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHAMILAN 10.

kemudian diberi beban glukosa 75 gram dalam 200 ml air. (1) a.4) darah. Untuk Normal Diabetes Melitus Toleransi glukosa terganggu PENATALAKSANAAN : .199 Adalah cara satu tahap yaitu wanita hamil dalam keadaan puasa pada pagi hari diambil contoh Dianjurkan pada semua ibu hamil pada pertemuan pertama dengan petugas kesehatan.160 • • • • Umur ibu hamil > 30 tahun Riwayat diabetes melitus dalam keluarga Riwayat diabetes melitus gestasi pada kehamilan sebelumnya Infeksi saluran kemih berulang selama hamil CARA PENAPISAN DAN KRITERIA DIAGNOSIS : 1. 2. Materi Penapisan. Kriteria diagnosis menurut WHO Glukosa plasma vena ( mg/dl ) Puasa jam < 100 < 140 ≥ 140 ≥ 200 100 . Cara Penapisan (1. Penapisan Diabetes Melitus Gestasional (DMG) sebaiknya harus dilakukan pada semua wanita hamil Waktu penapisan. (1) mereka yang hasilnya negatif. Contoh darah berikutnya diperiksa dua jam setelah beban glukosa. b. (1) Tabel 1.139 140 . c. Kriteria diagnosis Kriteria diagnosis Diabetes Melitus pada wanita hamil sama seperti pada penapisan bukan wanita hamil. pemeriksaan diulang pada minggu gestasi ke 24 -26.

spesialis obstetri ginekologi.4) 1. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl dan dua jam sesudah makan adalah 120 mg/dl.5) Jumlah kalori yang dibutuhkan : 35 kal/kg BB ideal menurut cara Broca.1. Pengendalian kadar glukosa darah dilakukan oleh ahli penyakit dalam dan ahli gizi.5 unit/kg BB. (1. Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan perencanaan makan.4.5 . (1. (1) Pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan : • • • • Pengukuran tinggi fundus uteri Mendengarkan denyut jantung janin Pemeriksaan khusus : USG dan karditokografi (KTG) Penilaian menyeluruh janin dengan menggunakan nilai Fungsi Dinamik Janin Plasenta (FDJP) darah sendiri dirumah dengan reflectance . (1.5) Meliputi : • pemantauan glukosa meter. • pemeriksaan secara berkala HbAlc setiap 6-8 minggu.4) Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan : (1.5) a. Sasaran : Keadaan normoglikemia selama kehamilan sampai persalinan. (1.5) Dosis Insulin : 0. Penatalaksanaan medis ibu DMG. Keterangan : Berat Badan ideal = (tinggi badan-100) 10% (kg) b. 1.4. (5) Memantau diabetes terkendali. ahli gizi dan spesialis anak. Penatalaksanaan obstetri. (1.161 Penatalaksanaan kehamilan dengan diabetes melitus selayaknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam. Perencanaan makan yang sesuai kebutuhan. 2/3 diberikan pada pagi hari dan 1/3 pada sore hari.

gawat janin.162 Skema pengelolaan ibu DMG. (1) DMG terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Pemantauan setiap minggu USG + KTG tidak terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Rawat Pemantauan setiap minggu USG + KTG Janin sehat PJT. Makrosomia Amniosentensi s paru belum matang steroid 40 minggu paru matang partus biasa Terminasi .

presistolik atau bising jantung terus menerus 2. edema. Johnsen Mailoa.3. satu diantaranya sudah cukup untuk membuat diagnosis penyakit jantung dalam kehamilan 1: 1. Bising jantung nyaring. hemoptisis.6 Menurut klasifikasi New York Heart Association 3. pingsan dan kesulitan bernafas1.Margaretha J.6 : Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV : Tanpa gejala : Gejala timbul bila aktifitas lebih dari normal : Gejala timbul pada aktifitas normal : Gejala timbul saat tirah baring Pengaruh kehamilan pada penyakit jantung 5 Perubahan sirkulasi darah mempunyai dampak pada wanita hamil dengan penyakit jantung.Ny.5.163 10. Resiko tergantung dari kerusakan dan kemampuan kapasitas jantung untuk kompensasi. Aritmia yang berat Pemeriksaan laboratorium 6: Menurut Ueland dkk (1972). Wewengkang. lesu. SpOG BATASAN Penyakit jantung dalam kehamilan adalah penyakit dengan kumpulan gejala : nyeri dada. Pembesaran jantung yang jelas 3. terutama bila disertai thrill 4. PENYAKIT JANTUNG DALAM KEHAMILAN dr.4. penderita penyakit jantung dalam kehamilan cenderung melahirkan bayi prematur . dr. DIAGNOSIS Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria.2.2. Pengaruh penyakit jantung pada kehamilan 5 Perubahan hemodinamik dalam kehamilan tidak berpengaruh pada kehamilan dengan kecil masa kehamilan. Peningkatan volume darah dan isi sekuncup memperberat kerusakan katup jantung bahkan sampai kegagalan jantung. sesak nafas. palpitasi. Bising diastolik.

3 : kehamilan aterm.2. tinggi protein batasi aktifitas berat ( usia kehamilan 28 – 32 minggu) pemeriksaan antenatal setiap 2 minggu sampai kehamilan 36 minggu.6.7: • • • Elektrokardiografi Ekokardiografi (Doppler) Kardiotokografi (usia kehamilan > 20 minggu) PENATALAKSANAAN Kelas I dan kelas II • • • • • • • • • 1. kemudian setiap minggu masuk rumah sakit ± 1 minggu sebelum taksiran partus. panggul sempit). Penderita harus tirah baring. persalinan dan nifas cegah timbulnya dekompensasi kordis tidur malam cukup ( 8-10 jam) setiap kali makan istirahat baring ½ jam diit rendah garam. Kala persalinan 1: • tidak berbahaya • nyeri persalinan dikurangi . Bila timbul gejala dekompensasi kordis. Seksio sesarea hanya atas indikasi obstetri (plasenta previa . obati dengan digitalis. pengawasan spesialis penyakit jantung atau penyakit dalam Menurut Mackenzie 1 bila terdengar ronki menetap di dasar paru. segera rawat dan digolongkan satu kelas lebih tinggi. dan tidak hilang setelah menarik nafas dalam 2–3 kali. merupakan gejala awal gagal jantung.164 • • darah dan urine rutin apusan tenggorok Pemeriksaan penunjang 5. disproporsi sefalo-pelvik. dapat melahirkan pervaginam observasi ketat selama kehamilan.

165 • obat sedasi dan analgesia derivat morfin dapat diberikan • partus posisi setengah duduk Awasi terjadinya dekompensasi kordis 1: • periksa nadi setiap 10 – 15 menit. persalinan diakhiri dengan forseps atau ekstraksi vakum • sediaan Ergometrin merupakan indikasi kontra • masa nifas dapat terjadi kolaps setelah anak lahir.v. • setelah kala II. • gurita kantung pasir untuk mencegah perubahan mendadak sirkulasi darah • oksitoksin intravena atau intramuskulus bila perdarahan. infeksi nifas dan tromboemboli • istirahat dan mobilisasi bertahap • dianjurkan tubektomi • laktasi dibolehkan jika sanggup secara fisik Kelas III dan IV 1 : • tidak boleh hamil • bila hamil<12 minggu→ abortus terapeutik dipertimbangkan • bila hamil > 12 minggu cegah dekompensasi kordis → tirah baring selama kehamilan dan nifas. dapat diulangi 1-2 kali. dan Furosemid • bila kala II > 20 menit atau ibu tidak kuat meneran. bila nadi >100x/menit dan pernapasan >28x/menit (disertai sesak napas) obati digitalis (delanosid /cedilanid 1. Morfin (10-15mg). setelah 1-2 jam.2 mg sampai 1. • pada kala II.8 mg). awasi ketat tanda gagal jantung atau edema paru. perdarahan postpartum. partus segera diakhiri dengan cunam atau ekstraksi vakum. dengan dosis awal 0. Pemberian oksigen.6 mg i. • laktasi dilarang Prognosis tergantung beratnya penyakit .

Adapun gejala klasik. dr. Plasmodium Malariae. memiliki kemampuan resisten dengan pengobatan 3. kekebalan ibu terhadap penyakit malaria berkurang terutama pada trimester terakhir.166 10. MALARIA DALAM KEHAMILAN dr.(1) Penyakit ini mempunyai gambaran karakteristik. Plasmodium falsiparum. yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara beruntun yakni : (2) a. SpOG BATASAN : Malaria dalam kehamilan adalah penyakit protozoa yang dipindahkan pada manusia melalui gigitan nyamuk anopheles (1) yang ditemukan pada wanita hamil. Periode panas c.3. memberikan infeksi yang paling ringan. 2. Plasmodium ovale. yaitu demam periodik. merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana / vivax. Plesmodium vivax. Periode berkeringat . sering sembuh spontan tanpa pengobatan. GEJALA : Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi. Dalam kehamilan. Periode dingin sampai menggigil b. Adjardiana Idrus. anemia & splenomegali. menyebabkan malaria quartana/malariae : jarang. 4. memberikan banyak komplikasi. ETIOLOGI (2) : Disebabkan oleh Plasmodium. Syahrir Muhammad. yaitu : 1.

dapat terjadi atonia (6) 5. bila dengan preparat darah tebal sulit dilakukan Pemeriksaan satu kali dengan hasil negatif tidak menyampingkan diagnosis malaria. PENANGANAN : Pengobatan Pengobatan malaria pada wanita hamil seperti biasa.7) Hari I Hari II Hari III • Chloroquine 600 mg Chloroquine 600 mg Chloroquine 300 mg Pada serangan tiba-tiba. cara yang paling aman ialah suntikan intramuskulus. Setelah itu. Dapat diluang 10 jam kemudian. PEMERIKSAAN PENUNJANG (2) Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosis. Kematian intra uterin 3. Tetesan darah tipis Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium. Gawat janin selama persalinan sering dijumpai pada wanita yang mengalami anemia akibat infeksi malaria yang berat.2. yaitu : (6. Pemberian obat anti malaria kinin Hcl 20 mg/kgBB dalam 100-200 cc cairan dextrose 5 % selama 4 jam. dismaturitas. Abortus. Dapat pula terjadi anemia pada nifas 4.5) 1. tetapi tanpa pemberian primaquin. Adapaun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui : a. pengobatan dilanjutkan per Oral.3.167 KOMPLIKASI : (1. Tetetsan preparat darah tebal Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria sekaligus identifikasi jenis plasmodium b. biasanya diberikan 300 mg chioroquine dan Mepacrine. Segera dilanjutkan dengan 10 mg/kgBB dilarutkan dalam 200 cc . partus prematur 2.(3) • Penanganan Malaria berat adalah : (6) 1.4. Karena ibu lemah. Pemeriksaan pada saat penderita demam dapat meningkatkan kemungkinan ditemukan parasit.

Bila sudah sadar kinin diberikan peroral dengan dosis 3 x 400-600 mg selama 7 hari 2. (4) Untuk wanita hamil dengan malaria falciparum yang resisten terhadap choroquine dapat diberikan preparat kina peroral. kemudian diikuti dengan dosis 10 mg/kgBB/8 jam sampai penderita dapat minum peroral. . Preparat ini bisa diberikan intravena pada infeksi yang berat. Pemberian cairan nutrisi 4.168 Dextrose 5 % diberikan dalam waktu 4 jam. (5) PENCEGAHAN : (5) Pencegahan dengan chioroquine 300 mg/oral. Penanganan terhadap gangguan fungsi organ yang mengalami komplikasi • • Bila terdapat anemi yang berat (Hb ≤ 6 gr %) harus dilakukan transfusi dengan packed red cells atau whole blood. Selanjutnya diberikan dengan dosis yang sama tiap 8 jam. sekali seminggu sampai 4 minggu setelah kembali ke daerah non endemik. Kinin dapat diberikan intramuskuler bila melaui infus tidak memungkinkan. Dosis 20 mg/kgBB/im terbagi pada 2 tempat suntikan. Tranfusi 3.

169 SKEMA PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN MALARIA DLM KEHAMILAN Etiologi : Plasmodium Gejala : Trias Malaria Pem. Penunjang : Laboratorium . prematur KJDR Anemia Atonia/Intesia Uteri Gawat janin Penanganan Pencegahan Chioroquine 300 mg/minggu (1 x)/oral (mulai sebelum masuk wilayah andemik sampai 4 minggu setelah kembali kedaerah non endemik) Malaria Berat Pengobatan Malaria Ringan Hari I Chloroquine 600 mg Tidak sadar Kinin Hcl 20 mg/kgBB/100-200 cc Dextrose 5 % infus selama 4 jam dilanjutkan Kinin Hcl 10 mg/kgBB/200 cc Dextrose 5 %/infus selama 4 jam. dismatur. dilanjutkan Kinin Hcl dengan Dosis yang sama tiap 8 jam Atau Kinin 20 mg/kgBB/im dilanjutkan dengan Kinin 10 mg/kgBB/8 jam Sadar Kinin 3 x 400-600 mg selma 7 hari Hari II Chloroquine 600 mg Hari III Chloroquine 300 mg Bila resisten Kina per oral atau intra vena .Pem. bila sulit . Tetesan darah tipis Koplikasi : Abortus.Pem. tetesan darah tebal.

dr. Biakan / kultur : biakan dilaksanakan dengan metode yang baik seklaigus resistensi tes.(3) Perkusi dada yang redup. keluar keringat malam. Haryanto Kasy . Pemeriksaan fisik.1 cc tuberkulin PPD “Purified protein derivative” . Pernah batuk dahaknya bercampur bercak darah. H. pada auskultasi suara napas yang bronkial serta didapatkan ronki basah kasar dan nyaring. d.(2) • • • • • Batuk terus menerus berdahak 3 minggu atau lebih. Badan kurang enak “ malaise”.(1) KRITERIA DIAGNOSIS : 1. kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun.A. Sesak nafas atau rasa nyeri dada. SpOG BATASAN : Penyakit tuberkulosis paru yang disebabkan oleh mycobakterium tuberkulosis yang dijumpai dalam masa kehamilan. TUBERKULOSIS PARU DALAM KEHAMILAN dr. Anamnesis. Pemeriksaan radiologis : foto toraks posteroanterior dan lateral. c. Pemeriksaan sputum. 2.(2) • • • Hitung jenis. LED (laju endapan darah) mungkin tinggi.170 10. Biasanya dipakai cara Mantoux dengan menyuntikkan 0. 3. Lemah badan. Pemeriksaan penunjang.4. Arifuddin Djuanna. Laboratorium darah rutin.3) b. a.(2. biasanya didominasi limfosit. Tes tuberkulin.(2) • • BTA (basil tahan asam) : pewarnaan sputum dilakukan dengan metode Ziehl Nielson 3 kali berturut-turut dengan menggunakan mikroskop binokuler. Tes fungsi hati.

(3) Hasil tes : indurasi 10-15 mm = Mantaoux positif(3) . kemudian dilanjutkan rifampisin. Tes tuberkulin yang positif tidak selalu diikuti dengan penyakit. hasil yang negatif tidak selalu menyngkirkan penyakit. Etambutol diberikan intensif kali dalam seminggu selama 5-8 bulan.(4) 2. a. Masa kehamilan Perawatan kehamilan dapat dilakukan seperti biasa. Rawat bersama dengan Subbagian Pulmonologi Bagian Penyakit Dalam. diet tinggi kalori tinggi protein.(5) Artinya : Rifampisin. c.5-8R2H2.50 kg > 50 kg 3. INH periodik 2 < 33 kg 33 .(2) PENGELOLAAN : 1. Masa persalinan.(1) Persalinan kala I maupun kala II diusahakan seringan-ringannya. diberi masker untuk menutup mulut dan hidung. Dosis obat anti tuberkulosis. istirahat Selama persalinan penderita TBC paru aktif ditempatkan dikamar tertentu / kamar isolasi. cukup. Pengobatan medikamentosa. (1) Kegiatan fisik dikurangi.171 Intrakutan. bila persalinan berjalan lancar tidak dilakuka sesuatu dan diusahakan agar persalinan dapat berlangsung dengan . b. Bila TBC paru (BTA +) : 1R7H7E7 . INH. Penanganan obstetri a. R H 300 mg 500 mg 450 mg 600 mg 600 mg 600 mg setiap hari selama 1 bulan. Bila tes tuberkulin positif tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinik diberikan : INH selama 1 tahun. b.(2) Keterangan : R = Rifampisin H = INH E = Etambutol Berat badan Jenis obat fase intensif R 300 mg 450 mg 600 mg H 200 mg 300 mg 400 mg E 800 mg 800 mg 1200 mg Jenis obat fase lanjutan/periodik.

(5) Namun apabila kala II melelahkan sebaiknya dipercepat dengan bantuan ekstraksi foeceps. Masa nifas Setelah penderita melahirkan. vakum atau ekstraksi kaki.(5) c.(5) Tindakan seksio sesar hanya dilakukan atas indikasi obstetri dan tidak atas indikasi tuberkulosis paru. Diberi obat uterotonika dan obat TBC paru diteruskan.8 jam. kemudian penderita dapat dipulangkan langsung.172 spontan.(5) . harus dirawat diruang isolasi.(1) Penderita yang tidak mungkin dipulangkan. penderita dirawat diruang observasi 6 . serta nasihat perawatan masa nifas yang harus mereka lakukan.(1) Dalam keadaan ideal bayi setelah lahir segera dipisahkan dari ibunya sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif.(1) PROGNOSIS : Kecepatan diagnosis dan tatalaksana berperan dalam prognosis.

173 TBC PARU DALAM KEHAMILAN Penderita kemungkinan tuberkulosis Ada riwayat kontak Faktor risiko : Sosial ekonomi Perumahan padat Gejala mencurigakan : Batuk darah Nyeri dada Keringat malam berat badan menurun demam Pemeriksaan fisik paru. Rifampisin. Etambutol. Pengobatan medikamentosa : INH selama 1 tahun Perawatan kehamilan Penanganan persalinan atas indikasi obstetri . Tes tuberkulin Laboratorium Bila perlu foto toraks TBC paru aktif Hanya tes tuberkulin + (tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinis) Pengobatan medikamentosa : INH.

Dorphiana Litaay. ekspirasi memanjang. penggunaan otot bantu pernapasan. (1. ortonea.5) INDIKASI MASUK RUMAH SAKIT : (1. reaksi imunologi (alergi) dimana lg E meninggi B. dr.3) • • • • • • • • • Asma akut dengan bronkodilator tidak membaik Takikardi persisten Dispnea Hipertensi Pulsus Paradoksus Sianosis Hipoksemia (PO2 < 70 mmHg) Hiperkarbia (PCO2 < 38 mmHg) Emfisema subkutan . dada terasa berat. SpOG BATASAN : Asma dalam kehamilan (ADK) adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast. (1) ETIOLOGI : A. batuk yang ditemukan pada wanita hamil. ASMA BRONHIALE DALAM KEHAMILAN dr. pulsus paradoksus. takikardi persisten. takipnea. wheezing.174 10. faktor genetik Gabungan A dan B KRITERIA DIAGNOSTIK : Batuk. hiperventilasi. kesukaran bicara. H.5. eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa mengi. dispnea. sesak napas.2. Eddy R. sianosis. sesak. Moeljono.

Sedapat mungkin memakai obat oral sesedikit mungkin.3) Prinsip pengobatan asma dalam kehamilan pada dasarnya tidak berbeda dengan asma lain. obat yang terpilih yaitu golongan bronkodilator seperti agonis beta-2 inhalar dengan atau tanpa steroid. • • • Aminofilin bolus IV 5-6 mg per kg berat badan. Persalinan biasanya dapat berlangsung akan tetapi bila penderita masih dalam serangan dapat diberi pertolongan tindakan berupa ekstraksi vakum atau forceps.5-5. parenteral. feneterol 2. Kortikosteroid sistemik Asma kronik Desenitasi alergen : Teofilin 800-1200 mg per hari (oral) : Terbutalin 2.5 mg .25 mg atau Salbutamol 0.175 PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Uji faal paru KONSUL BAGIAN PENYAKIT DALAM INFORM KONSET (PERLU) PENATALAKSANAAN : (1. subcutan.25mg dalam dekstrosa 5 % pelan-pelan. Asma akut : • • O2 4-6 liter Beta-2 agonis : salbutamol 5 ml .2.0 mg oral : Prednison 30-60 mg per hari : Betametrion inhalar 100 mg. Bila sudah menggunakan aminofilin kurang dari 12 jam berikan setengah dosis saja. Tindakan seksio sesaria atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. Terbutalin 0. terbutalin 10 mg dengan inhalasi nebolisasi dapat diulang setiap 20 menit dalam 1 jam .(4) . intravena.

yakni disamping bokong teraba kaki. ETIOLOGI : (1. Palpasi :Leopold I meraba adanya kepala pada fundus uteri Leopold II teraba punggung disatu sisi. 2.2) Letak sungsang adalah letak janin yang memanjang dengan kepala terletak pada fundus uetri dan bokong menempati bagian bawah kavum uteri.176 11. Leopold III bokong teraba dibagian bawah rahim Leopold IV menentukan bokong sudah masuk atau belum kedalam pintu atas panggul. 3. Mardiah Tahir. Letak lutut 4. Tergantung dari bagian janin yang terendah. Letak bokong kaki : Complete Breech. LETAK SUNGSANG DAN PENATALAKSANAANNYA dr. KELAINAN LETAK. SpOG BATASAN : (1. adanya perasaan berat didaerah epigastrium. sering merasakan adanya benda keras yang menekan tulang iga. dapat dibedakan : 1. POSISI DAN PRESENTASI JANIN 11. atau hanya teraba satu kaki atau lutut. dr. Letak bokong murni : Frank Breech. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan fisik : 1. A. Letak kaki Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut. bagian-bagian kecil disisi lain. . disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna (Incomplete Breech = Footing Breech). Syahrir Muhammad.2) Diagnosis letak sungsang biasanya tidak sulit.1. Anamnesis akan didapatkan gerakan anak dirasakan terutama dibagian bawah rahim. Disebut letak bokong kaki sempurna bila disamping bokong teraba kedua kaki dan letak bokong kaki tidak sempurna bila disamping bokong teraba satu kaki saja. yakni bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus keatas.

bila tidak ada komplikasi pada janin. Dalam kehamilan (1) Dalam kehamilan sedapat mungkin dilakukan versi luar menjadi letak kepala. dilakukan pemeriksaan radiologi. Pada nullipara versi luar dilakukan pada umur kehamilan 34-36 minggu. letak janin. menentukan kemungkinan adanya kelainan bawaan anak ( hidrosefalus / anensefalus ).3) Beberapa kriteria yang dipakai dalam mempertimbangkan persalinan pervaginam adalah : Umur kehamilan aterm. kehamilan ganda. taksiran berat badan janin. sedangkan pada multipara dilakukan pada umur kehamilan 36-38 minggu. mendatar dan dilatasi lebih dari 3 cm. Dalam persalinan (1. menentukan kemungkinan adanya cacat bawaan. menentukan letak plasenta. Apabila ada dugaan hiperekstensi kepala janin yang tidak jelas dilihat dengan ultrasonografi serta dugaan disproporsi fetopelvik. lokasi plasenta. menaksir berat badan janin. lilitan tali pusat dan kedudukan kepala apakah hiperektensi atau tidak . 3. konfirmasi menentukan secara akurat ukuran dan bentuk panggul. Bila syarat-syarat versi luar dipenuhi dan tidak ada indikasi kontra versi luar. volume cairan amnion. Bila versi luar gagal. Versi luar dilakukan dengan hati-hati tanpa anestesi. Radiologi (bila perlu) : Menentukan posisi tungkai bawah. . serviks lunak. usia kehamilan dan lain-lain. Periksa dalam vagina : pada pasien inpartu terutama bila ketuban sudah pecah dapat teraba bagian terendah janin yaitu bokong. 5. dapat dilakukan versi luar 1-2 minggu kemudian. USG : Diperlukan untuk konfirmasi letak janin apabila pemeriksaan fisik tidak jelas. bentuk pelvik ginekoid atau antropoid dan pernah melahirkan bayi letak sungsang dengan berat badan lebih dari 3175 gram atau letak kepala dengan berat badan lebih dari 3630 gram. ada tidaknya cacat bawaan janin. PENATALAKSANAAN : A. Auskultasi : Bunyi jantung janin umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pusat. kaki atau lutut 4. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menilai ukuran biparietal. B. stasi -1 atau lebih rendah. prakiraan berat badan 2500-3175 gram. Setelah versi luar dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan Fetal Heart Monitoring.177 2.

5 cm. indeks Zatuchni Andros 0-3 dan prolapsus funikuli disertai gawat janin. bokong belum masuk panggul pada akhir kehamilan pada nullipara. mulai dari lahirnya bokong sampai pusar (skapula depan). mulai lahirnya mulut sampai kepala lahir. sehingga kepala harus dilahirkan secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra kranial (adanya ruptura tentorium serebelli). riwayat persalinan yang buruk. yang bila ada kelainan dapat dipertimbangkan melakukan persalinan perabdominam dengan segera. ketuban pecah lebih dari 12 jam. Pada dasarnya Oxytocin drips pada letak sungsang tidak dianjurkan. 3. prematur (< 37 minggu). kepala hiperekstensi. bila tidak berhasil digunakan cunam Piper. preeklampsia berat dan eklampsia. Tahap II : Fase cepat. bokong belum masuk panggul pada inpartu multipara.178 Selama persalinan dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan Fetal Heart Monitoring (FHM). Selama turunnya janin tidak terganggu dan tidak ada tanda-tanda janin dalam bahaya. prolapsus funnikulidan ibu dengan penyakit jantung atau paru yang tidak memungkinkan ibu mengedan. Dalam persalinan pervaginam sedapat mungkin dilakukan dengan cara Bracht. mulai lahirnya pusar sampai lahirnya mulut. ketuban). Disebut fase lambat karena hanya untuk melahirkan bokong yaitu bagian janin yang tidak berbahaya. yang bila tidak berhasil dipakai cara Lovset. Pada perkiraan anak besar dan primigravida dapat dipertimbangkan ekstraksi parsial terutama dengan cara Klasik atau Muller. diameter biparietal > 9. plasenta previa. adanya disprorsi. 2. Tahap I : Fase lambat. oleh karena itu fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat harus dilonggarkan. Disebut fase lambat karena kepala akan keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang bertekanan rendah. oleh karena deteksi kemungkinan adanya CPD/FPD sulit. Dikenal ada 3 tahp dalam menolong persalinan letak sungsang yaitu : 1. Pada partus lama kala II. Menolong kelahiran janin dalam letak sungsang memerlukan kesabaran. Sedang indikasi melakukan persalinan perabdominal adalah : primigravida tua. Untuk melahirkan kepala dipakai cara Mauriceau. Tahap III : Fase lambat. tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. presentasi kaki. dilakukan ekstraksi total. CARA-CARA PERSALINAN PADA LETAK SUNGSANG : . nilai sosial janin yang tinggi atau infertilitas. prakiraan berat badan janin lebih dari 3500 gram atau kurang dari 2000 gram. Disebut fase cepat karena fase ini kepala janin sudah masuk PAP sehingga kemungkinan tali pusat terjepit.

b. bila gagal  pakai cunam Piper Ekstraksi total. jaringan lunak.2) Bila dibandingkan dengan letak kepala. . Kerusakan pada otot. kelainan kongenital dan trauma persalinan. Morbiditas ibu meningkat disertai sedikit peningkatan mortalitas oleh karena tindakan persalinan operatif. Penyebab utama kematian perinatal adalah persalinan prematur. Perabdominam : bila ada indikasi  lihat skema penatalaksanaan letak sungsang. terdiri dari : Ekstraksi bokong & Ekstraksi kaki.179 a. organ visera serta kerusakan pada pleksus brachialis dan trauma pada medulla spinalis servikalis dapat terjadi baik pada persalinan pervaginam maupun perabdominal. Prognosis untuk janin letak sungsang lebih buruk dibandingkan dengan letak kepala. terdiri dari : Klasik (Deventer) & Muller Lovset (bila melhirkan bahu secara ekstraksi parsial gagal) Mauriceau (melahirkan kepala). letak sungsang memberikan resiko yang lebih tinggi bagi ibu maupun anak. Pervaginam : • • • • • Bracht Ekstraksi parsial (melahirkan bahu). termasuk seksio sesar pada letak sungsang yang menetap. PROGNOSIS : (1.

PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG PADA KEHAMILAN TUNGGAL

199

DALAM KEHAMILAN VL

DALAM PERSALINAN DITENTUKAN UMUR KEHAMILAN PREMATUR ATERM

Hasil pemeriksaan USG
BERHASIL Versi dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI TIMBU KOMPLIKASI TIDAK BERHASIL Versi tidak dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI HIPEREKSTENSI KEPALA FLEKSI KEPALA Dilahirkan pervaginal bila : panggul normal kemajuan persalinan baik pernah melahirkan bayi let su dengan BB>3175 gr atau let kep > 3630 gr BAYI BESAR >.3500 gr) BAYI KECIL <2000 GR) BERAT NORMAL 2000-3500 gr

DJA tetap baik pada 3 kali pemeriksaan dgn interval 5’ PARTUS LETAK KEPALA

sulusio plasenta ketuban pecah gawat janin (DJA > 160/m’, tidak teratur VL DICOBA SEKALI LAGI

Seksio sesar bila : FPD persalinan terhenti gawat janin Ketuban pecah 12 jam

MRS UNTUK OBSERVASI

SEKSIO SESAR Solusio plasenta tetap gawat janin ketuban pecah lebih 12 jam pada kehamilan aterm

KEHAMILAN DIPERTAHANKAN DJA anak bertambah baik ketuban pecah pada prematur dirawat sebagai ketuban pecah dini

SEKSIO SESAR Tindakan seksio sesar primer dilakukan pada kasus : nulipara tua riwayat infertilitas riwayat persalinan yang buruk (anak mati/sakkit akibat proses persalinan Stasi bokong tinggi atau belum masuk panggul pada impartu plasenta previa prolapsus funikuli dengan gawat janin

PERSALINAN PERVAGINAL KLASIK MULLER

CARA BRACHT prakiraan anak kecil CARA LOVSET Cara klasik & muller gagal

EKSTRAKSI PARSIAL

EKSTRAKSI TOTAL - partus lama kala II - preeklampsia/eklampsia - prolapsus funikuli - ibu dengan penyakit jantung/paru-paru

nulipara cara Bracht gagal VL tidak berhasil

Catatan/alat yang disiapkan : Sebaiknya semua kasus dilakukan Fetal Heart Monitoring Cunam Piper, alat resusitusi dan tabung oksigen harus disiapkan. Episiotomi dilakukan pada waktu bokong membuka vulva, dan kerjakan secara rutin Pada kepala menyusul dan anak sudah mati, dilakukan embriotomi bila tidak dapat dilahirkan dengan cara Maureceau

CARA MAURICEAU EKSTRAKSI CUNAM (CUNAM PIPER) - Cara Mauriceau gagal

EKSTRAKSI BOKONG (EXVAKUM) - Letak bokong kani - letak bokong murni

EKSTRAKSI KAKI - Letak kaki

11.2. LETAK LINTANG dr. Nursanty AP., dr. H.M.Maramis Palisuri, SpOG BATASAN : Letak lintang adalah suatu keadaan dimana sumbu memanjang tubuh anak tegak lurus dengan sumbu memanjang tubuh ibu. Janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu dan bokong pada sisi yang lain. (l,2,3,4,5) Posisi kepala menunjukkan kiri atau kanan sedangkan punggung janin terletak didepan (dorso anterior), dibelakang (dorso posterior), diatas (dorso superior) atau dibawah (dorso inferior). (l,4) ETIOLOGI : Penyebab utama letak lintang adalah : (l,2,3,4,5,6) 1. Multiparitas akibat dari relaksasi berlebihan dinding abdomen . 2. Prematur. 3. Hidramnion. 4. Plasenta previa 5. Uterus abnormal. 6. Panggul sempit. 7. Kehamilan kembar. DIAGNOSIS : Ditegakkan berdasarkan : Pemeriksaan fisis. Inspeksi : Abdomen melebar kesamping dan fundus uteri membentang sedikit diatas umbilikus. (3,4,5) Palpasi : Fundus uteri kosong, kepala janin berada disamping, dan diatas simpisis kosong, kecuali bahu sudah turun kedalam panggul, denyut jantung janin ditemukan disekitar umbilikus.
(3,4)

Pada pembukaan lengkap

ketuban sudah pecah, apabila bahu sudah masuk kedalam panggul, pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahu dan tulang-tulang iga. Punggung dapat ditentukan dengan terabanya skapula kadang-kadang dapat diraba

201 tali pusat yang menumbung.(3,4,5) Dapat pula teraba tangan, bila teraba tangan hendaknya ditentukan tangan kanan atau kiri, untuk menentukan posisi janin dalam uterus. Tangan kanan cocok untuk berjabatan dengan jari pemeriksa. (5,6) Pemeriksaan penunjang : Dengan pemeriksaan radiologis dan ultrasonografi. (6) PENANGANAN : Pada kehamilan : Sebaiknya mengubah menjadi presentasi kepala atau menjadi presentasi bokong dengan cara versi luar. Pada persalinan : ⇒ Pervaginam : • Konduplikasio korpore atau dengan evolusio spontan bila janin kecil, sudah mati, dan menjadi lembek (3,4) • Versi ekstraksi : pada kehamilan kembar setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua dalam letak lintang. • Embriotomi : pada janin mati. ⇒ Seksio sesarea : pada janin hidup . (l,2,3,4) KOMPLIKASI : • Ruptur uteri spontan • Ruptur traumatik . (2,3,5) PROGNOSIS : Janin letak lintang berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Kebanyakan kematian pada bayi dan ibu akibat komplikasi.(3)
(2,3,4,5)

Presentasi bokong dengan tangan atau lengan yang menumbung. SpOG BATASAN : Letak majemul adalah satu ekstremitas menumbung (prolapsus) disamping bagian terendah dan turun dalam rongga panggul bersama-sama.202 8. Cornelia ST.3) ETIOLOGI : (1. Semua kombinasi diatas dapat disertai komplikasi tali pusat yang menumbung dan ini merupakan masalah yang penting dalam hal prognosis.. c. Telly Tessy.3.4) Presentasi letak janin meliputi semua keadaan menghalangi pengisian dan penutupan pintu atas panggul sepenuhnya oleh bagian terendah janin. dr. serta menghalangi putaran paksi dalam. tungkai bawah. Bila teraba bokong maka yang didapatkan yaitu tangan atau lengan. Pada letak majemuk dapat juga disertai penumbungan tali pusat. DIAGNOSIS : Pada pemeriksaan dalam vagina teraba kepala dengan satu ekstremitas (tungkai atas.3. Penyulit : Kemungkinan terhambatnya kemajuan persalinan lebih besar. (1) Klasifikasi. b. 2. atau kedua lengan dan kaki bersamaan). Presentasi kepala dengan bagian yang menumbung berupa : a.(1) 1. Tungkai atas (lengan-tangan) salah satu atau kedua-duanya.(1.(1) Presentasi bokong kaki dan presentasi bahu tidak dimasukkan kedalam golongan ini. . Lengan dan kaki bersama-sama.2. Tungkai bawah (tungkai-kaki) salah satu atau kedua-duanya. LETAK MEJEMUK dr.

Sedangkan pada tangan yang menumbung. Jadi selama persalinan maju tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa(1). Kalau kepala sudah jauh masuk kedalam rongga panggul. Penumbungan tali pusat adalah keadaan tali pusat ada disamping atau dibawah bagian terbawah janin(1). B. Kaki yang menumbung disamping kepala baiknya direposisi(3).(3) Kalau reposisi tidak berhasil dan kepala tidak mau turun dilakukan seksio sesarea(3). Selanjutnya penanganan letak majemuk tanpa komplikasi dibagi berdasarkan klasifikasinya yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 1). tetapi lengan yang menumbung baiknya direposisi kalau pembukaan sudah lengkap. karena dapat menghalangi turunnya kepala(3). Pada kebanyakan kasus setelah pembukaan menjadi lengkap dan bagian terbawah turun. Ini kemudian menjadi masalah yang besar dan penting sehingga penanganannya ditujukan terutama pada tali pusat yang menumbung(1). Tanpa komplikasi. lengan dan kaki yang menumbung naik keluar dari panggul sehingga memungkinkan persalinan berjalan normal. reposisi tidak mungkin lagi. KOMPLIKASI : . Penanganan paling baik untuk letak majemuk (tanpa komplikasi seperti tali pusat menumbung) adalah menunggu dengan penuh perhatian(1). Dengan komplikasi penumbungan tali pusat. Pada 13 sampai 23 persen kasus presentasi majemuk ada komplikasi tali pusat menumbung.203 PENATALAKSANAAN : A. tidak menghalangi persalinan spontan jadi baiknya dibiarkan. Selanjutnya penanganan letak majemuk dengan komplikasi penumbungan tali pusat dibagi berdasarkan klasifikasi yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 2). maka persalinan diselesaikan dengan forceps. kalau terjadi gangguan putaran paksi dapat diselesaikan dengan ekstraksi forceps dengan memasang sendok forceps antara tangan yang menumbung dan kepala anak (3). Penekanan tali pusat antara bagian terbawah janin dengan panggul ibu mengurangi atau menghentikan aliran darah kejanin dan bila tidak dikoreksi akan menyebabkan kematian janin(1).

.204 Penumbungan tali pusat(1). PROGNOSIS : Dengan penanganan konservatif hasilnya tidak harus lebih jelek dibanding dengan presentasi-presentasi lainnya(1).

205 SKEMA PENALAKSANAAN LETAK MAJEMUK LETAK MAJEMUK PRESENTASI KEPALA Observasi kemajuan persalinan PRESENTASI BOKONG Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Reposisi penumbangan Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan DJA (+) DJA (-) Ekstraksi total Seksio sesarea BERHASIL TIDAK BERHASIL Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea DJA (+) DJA (-) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) Ekstraksi vakum PARTUS PERVAGINUM Ekstraksi forsipal Seksio sesarea Ekstraksi vakum Ekstraksi forsipal Seksio sesarea PARTUS PERVAGINUM .

206 LETAK MAJEMUK DJA (+) DJA (-) Presentasi Kepala Reposisi tali pusat posisi Trendelenburg Presentasi Bokong Observasi kemajuan persalinan Presentasi Kepala Presentasi Bokong Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ekstraksi vakum Ekstraksi Forsipal Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea Ekstraksi total Seksio sesarea Seksio sesarea Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Seksio sesarea PARTUS PERVAGINAM Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) .

dr.2. POSISI OKSIPUT POSTERIOR PERSISTEN dr. Maggie Wewengkang. PENATALAKSANAAN : (1.3) • Pemeriksaan dalam vagina : Putaran paksi terhalang atau tidak terjadi pada saat penurunan kepala berada pada Hodge III/Hodge IV.4.207 11. Angka kejadian adalah 10 % dari seluruh posisi oksiput posterior.2) ETIOLOGI : (1. Benyamin Rapa.4) • Panggul anthropoid • Panggul android • Kesempatan panggul tengah • Ketuban pecah sebelum waktunya • Fleksi kepala kurang • Inersia uteri • Arkus pubis sangat luas DIAGNOSIS : (1. Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara. Partus pervaginam berupa : • • • • • • Persalinan spontan Persalinan dengan forseps Rotasi forseps Rotasi manual Ekstraksi vakum Tindakan episiotomi (bila perlu) . (1.3) a.2. SpOG BATASAN : Posisi oksiput posterior persisten adalah : suatu keadaan letak belakang kepala dengan posisi oksiput posterior dimana tidak terjadi putaran paksi.2.3.

Mac Donald PC. Baltimore U.D Abnormal lies. Distosia karena kelainan presentase. posisi atau perkembangan janin. 1982 : 262-64. Dalam : Sinopsis obstetri. Obstetri patologi. 1994 : 160-69 3.208 b. Mochtar R.S.A. Bandung. 4. Cunningham F. posisi atau kelainan janin. Sastrawinata S. Penerbit buku kedokteran EGC. Seksio sesar : bila gagal partus pervaginam KEPUSTAKAAN : 1. Jakarta. 1990 : 378-91. Waverly Press. 403-21 2. Elstar Offset. Dalam : Rohardi Dh. Dalam : Obstetri patologi UNPAD. Distosia karena kelainan pada presentase. Ronald M. presentation and position in : Principles of obstetrics. . Jakarta. Caplan M. Gant NF. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Obstetri Williams. Edisi 18 (Bahasa Indonesia). Distosia karena kelainan janin.

A. dls) Prematuritas Disproporsi Sefalopelvik Usia Tumor pelvik Polihidramnion Kehamilan ganda Plasenta previa Makrosomia DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan : . masingmasing melaporkan 0.2.000 kelahiran bayi tunggal di RS Parkland dalam tahun 19831986.209 11. H.3) • • • • • • • • • • Grandemultipara Anomali kongenital (anensefalus. hidrosefalus. Mardiah Tahir. (1) INSIDEN : • • • • Cruikshank & white (1973) melaporkan 1 : 600 kelahiran atau 0. SpOG BATASAN : Presentasi muka adalah kepala janin terdapat dalam keadaan defleksi maksimal sehingga aksiput tertekan pada punggung dan muka menghadap kebawah. 41 kelahiran atau 1 : 1200 adalah kelahiran dengan presentasi muka (2)+ ETIOLOGI : (1.5. tumor pada leher depan.L.2 % (2. PRESENTASI MUKA dr.3) Dari hampir 50. Habar Garu.17 % (2) Sarwono Prawirodihardjo 1948) di RSCM melaporkan 0.1 % Lembaga Statistik Obstetri & Pernoll M. dr.

Hati-hati karena dapat keliru membedakan dengan letak bokong (1.3) • Pemeriksaan penunjang : Radiologi. muka dapat diidentifikasi dengan meraba mulut. • Pemeriksaan dalam v agina.5 . disamping itu muka tidak dapat melakukakan dilatasi serviks dengan sempurna • • Prognosis letak mento posterior kurang baik bila dibandingkan dengan letak mento anterior karena sulit lahir pervaginam Angka kematian janin adalah 2. bagian kepala menonjol yakni belakang kepala terdapat disebelah yang bertentangan dengan letak dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas (1. partus macet/lama. hidung.3) PENATALAKSANAAN • Persalinan pervaginam : bila tidak ada penyempitan panggul persalinan spontan dapat diharapkan bila dagu berada didepan dengan syarat kepala belum jauh masuk kedalam panggul dan masih mudah didorong ke atas (1) Persalinan pervaginam juga dapat berlangsung spontan bila anak kecil dan tidak ada disproporsi sefalopelvik (1) • Persalinan perabdominam (seksio sesar) bila ada kesempitan panggul.210 • Pemeriksaan Fisi (Leopaold). Kepala bayi dalam posisi hiperekstensi & tulang muka berada pada atau sudah dibawah pintu atas panggul merupakan gambaran yang cukup khas (2.5 % . pada kasus panggul sempit dan anak besar daapat menimbulkan kesulitas. dan posisi mento posterior yang tidak dapat lagi dikoreksi (1) PROGNOSIS : (1) • Pada umumnya persalinan berjalan tanpa kesulitan. tulang pipi dan sebagian tulang orbita.3).

1995. “ Complications of labor & Delivery”. Pernoll ML. PC Mac Donal. A Lange Medical Book. 493-501 SKEMA PENATALAKSANAAN PRESENTASI MUKA PRESETASI MUKA MENTO ARTERIOR MENTO POSTERIOR BERHASI L VERSI TIDAK BERHASIL PERABDOMINAM Bila : CPD/FPD Panggul sempit Anak bernilai sosial tinggi Partus macet/lama PERVAGINAM PERABDOMINAM PERVAGINAM Bila : Bila : Panggul normal Panggul sempit Bila : Anak CPD/FPD Anak kecil diperkirakan Anak bernilai Multipara dapat lahir sosial tinggi Panggul pervaginam Partus normal Multipara macet/lama . Obstetri Williams. Ed. NF Gant. Sarwono Prawirodihardjo. 18. 1991. 1981.211 KEPUSTAKAAN : 1. In : Current Obstetric Gynecologic Diagnosis & Threatment. FG Cunningham. Herrera E. 548-53 2. 7th Ed. Hal. Ilmu Kebidanan. Hal. 412-5 3. Ed. cetakan I (Edisi Bahasa Indonesia). II.

1.(4) .2.2. H. pada ujung yang satu diraba ubun .E.(1. Pada dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas.R Moeljono. tumor . yang menimbulkan kecuriga an adanya presentasi dahi.perut gantung. SpOG BATASAN : Presentasi dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga bagian kepala bayi diantara lengkungan orbita dan fontanel anterior.1 ETIOLOGI : • • Dari ibu: Multipara. plasenta previa.ubun besar dan pada ujung yang lain teraba pangkal hidung dan lengkungan orbita.panggul sempit. • Pemeriksaan dalam vagina dapat diraba sutura frontalis yang bila diikuti. polihidramnion Dari janin : Janin besar.tumor dileher bagian depan. berada diatas pintu atas panggul.(1. PRESENTASI DAHI dr.3.212 8.4 DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan: • Pemeriksaan fisis (Leopold).4 ) Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara dan sebagian besar akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala. dr. anensefali.6.4) • Ultrasonografi : untuk menemukan etiologi dari janin.2. sama seperti presentasi muka tetapi bagian belakang kepala tidak seberapa menonjol dan terdapat disebelah yang berlawanan dengan dada. Rudianto HP. Angka kejadian letak dahi kurang lebih satu diantara 400 persalinan.

(2. kecuali bayi kecil dan panggul yang luas. (1. Janin dan ukuran panggul normal Akhir kala I kepala belum masuk PAP Kala II tidak mengalami kemajuan walaupun kepala sudah masuk rongga panggul.213 PENATALAKSANAAN : Persalinan pervaginam bila : • • Janin kecil dan panggul yang luas Presentasi berubah menjadi presentasi muka (lihat penatalaksanaan presentasi muka) atau belakang Seksio sesar bila : • • • kepala.3) PROGNOSIS : Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal tidak dapat lahir pervaginam.2) .

Saifuddin AB. Philadelphia. 415 -16 2. Cunningham FG. Kaufman SA. Jakarta. Fields DH. In : Barber HK. Mac Donald PC. 1995.Gyn Procedure. Penerbit Buku Kedokteran EGC. . 1990. Sixth Edition.B. Edisi 3 . Cruikshank DP. Lippincot Company. 578 -79. 1991.139 4. Spellacy WN. 1990. Abadi A. Brow presentation. In: Scott JR. Lippincott Company. Disaia PJ.214 KEPUSTAKAAN : 1. Philadelphia. Jakarta.B. Third Edition. Yayasan Bina Pustaka. J. Dalam : Wiknyosastro H. Martohoesoedo. Gant NF. 602-06 3. Brow presentation. Presentasi dahi . Presentasi dahi. J. Hammond CB. Edisi 18 ( Bahasa Indonesia ). Danforth’s Obstetrics and Gynecology. Dalam : Ronardy Dh. Fields DH. Ilmu Kebidanan. Obstetri Williams. Rachimhadi T. Quick Reference To Ob .

(1.5. Pemeriksaan laboratorium. USG.9) DIAGNOSIS : 1.5) c. (1.4. Telly Tessy.5.5.8. contoh : kehamilan ganda dan hydramnion.2.4. bila fundus uteri ditekan atau digerakkan pemeriksaan mikroskopis. (1.9) b. (6.8. Infeksi. (7.5. Adanya perubahan kertas lakmus merah ( nitrazim merah ) jadi biru.6. Inkompeten serviks.2. ST. contoh : korioamnionitis (1. dr. dll.9) e.7) d.9) 4.9) 3. SpOG BATASAN : Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban pada setiap saat sebelum permulaan persalinan tanpa memandang apakah pecahnya selaput ketuban terjadi pada kehamilan 24 minggu atau 44 minggu.9) 2. Contoh : TORCH. (4.2.7.9) 2.7.2.8. (1) ETIOLOGI : Belum diketahui dengan pasti (1. Pemantauan kesejahteraan janin.7.8.8.3. Inspekulo keluar cairan dari OUE.4.9) 3.6. (8. (6.215 12.9) 4. Pemeriksaan Penunjang. Kelainan letak atau presentasi janin.5.5° C) untuk menilai adanya infeksi (leukositosis). KETUBAN PECAH DINI dr. Cornelia.3. (5.(2. (1.9) PENATALAKSANAAN : (9) . Trauma.5. Leukosit dan suhu badan (37. Keluarnya cairan jernih dari vagina. contoh : amniosentesis. pemeriksaan panggul atau koitus. PDV : ketuban negatif. Peningkatan tekanan intrauterina. 1.9) Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya KPD adalah : a.

Kematian janin. kecuali bila sudah ada tanda-tanda persalinan. h. g. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. 2. Seksiosesaria dilakukan bila gagal induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan masing-masing dari letak janin yaitu letak kepala.7. dan ditemukan tanda-tanda inpartu. Aktif : Bila didapatkan infeksi berat diberikan antibiotik dosis tinggi. Induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan induksi dan masingmasing letak janin). e. . sepsis dan kematian.7. letak sungsang. b. (3. Rawat dirumah sakit. f.216 1. Bila dalam tiga kali 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada konstraksi uterus maka dilakukan mobilisasi bertahap.9) • • • • Kelahiran prematur Infeksi janin Deformitas janin. c. gawat janin maka dilakukan terminasi kehamilan . d. KOMPLIKASI : 1. letak lintang dan lain-lain). Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin. Janin (3. tirah baring. Antibiotik profilaksis adalah Amoxycillin 3x500 mg (5 hari). b. Bila ada tanda-tanda infeksi. infeksi dan gawat janin dilakukan terminasi kehamilan : a. lihat penatalaksanaan persalinan prematur. c. bila pelepasan air berlangsung terus dilakukan terminasi kehamilan. Jangan melakukan PDV. Ibu : Infeksi. Pemberian tokolitik (bila ada konstraksi uterus) dan pemberian kortikosteroid (pematangan fungsi paru janin).9) 2. Konservatif : a. Seksio histerektomi bila ditemukan tanda-tanda infeksi uterus yang berat.

217 .

3. 39-40 Tessy T dan Garu H. 1990 . Obstetrical decision making.15 5. Management of common problems in obstetrics and gynecology. Spellacy WN. Fields DH. 1986 . Gant NF. 2nd ed. In: Mishell DR. Hakimi). 5 : 62-4 Garite TJ. eds. Quick reference to OB-GYN procedures. Majalah Dokter Keluarga. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. 1994 . Premature rupture of membranes. Disaia PJ. Borten M. Medica. Yayasan Essentia 8. 119-32 6. Pengelolaan ketuban pecah dini. . 170-1 7. 108 . Sachs BP. Penatalaksanaan ketuban pecah dini. 1991 : 880-3 2. eds. Premature rupture of the membranes. Philadelphia : JB Lippincott Company. 1990 . 1990 .63 6th ed. Laboratorium Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.Ujung Pandang (masih dalam proses penyelesaian) 9. Saifuddin AB. Pritchard JA. Sura N. Danforth’s obstetrics and gynecology. Brenner PF. In. 1987 .Hariadi. Utama H. Oxorn H. Fields DH. eds. Surabaya : Airlangga University Press. Obstetri Williams (terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh R.Forte WR. Boston : Blackwell Scientific Publications. 592-602 Ilmu kebidanan : patologi dan fisiologi persalinan (terjemahan dalam bahasa Indonesia dan editor ahli M. 3rd ed. Soedarto). MacDonald PC. 3rd ed. 4. Philadelphia : BC Decker Inc. 1991 . Abnormalities of fetal growth and development concerning both antepartum and intrapartum care. R Prajitno P.218 KEPUSTAKAAN : 1. In: Barber HRK. 353 . Friedman EA. Bagian I. eds. Edisi 17. Artal R. eds. Muhammad S dan Manuputty J. eds. Philadelphia : JB Lippincott Company. Kaufman SA. Hammond CB . Acker DB. Jakarta : Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. In: Scott JR. Premature rupture of membranes.

219 KPD Kehamilan ≥ 37 minggu AKTIF DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab. Leukosit LETAK KEPALA MASA LATEN > 6 JAM INDUKSI/ AKSELERASI LETAK LINTANG LETAK SUNGSANG GAWAT JANIN BERHASIL GAGAL PARTUS PERVAGINAM GAGAL EKSTRAKSI VAKUM EKSTRAKSI FORSIPAL SEKSI SESAREA .

Leukosit INPARTU INFEKSI GAWAT JANIN Bila selama observasi ditemukan tandatanda ini AKTIF TIDAK INPARTU TIDAK INFEKSI TIDAK GAWAT JANIN KONSERVATIF Cairan ketuban keluar terus (Pemeriksaan USG) Cairan ketuban tidak keluar lagi Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Mobilisasi/ berobat jalan Bila cairan ketuban tidak keluar lagi diobservasi Bila cairan ketuban keluar lagi dikonservatif Kehamilan ≥ 37 mgg .220 KPD Kehamilan 20 .< 37 mgg DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab.

5 cm (biasanya 10.(1. (1. dr. Yusuf Manga.221 13. Maramis Palisuri. Kesempitan pada panggul tengah : bila jumlah diameter interspinalis ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah kurang dari 13.(1) DIAGNOSIS : Pelvimetri : pemeriksaan dalam dengan tangan. Kesempitan panggul menyeluruh : kesempitan meliputi semua bagian jalan lahir Kesempitan panggul yang jarang : pelvis kifosis. atau jika diameter transversal kurang dari 12 cm.(3) PEMERIKSAAN PENUNJANG : Tes Muller. kifoskoliosis dan pelvis kifosskoliorakitis. kiforakitis. H.(1) Ultrasonografi : mengukur diameter biparietal janin.2) KLASIFIKASI : Panggul sempit dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1. sehingga dapat menyebabkan distosia pada persalinan. SpOG BATASAN : Panggul sempit adalah setiap kelainan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul.5 cm). Kesempitan pada pintu bawah panggul : berkurangnya diameter intertuberosum menjadi 8 cm atau kurang dari 10 cm. PANGGUL SEMPIT dr.2) Kesempitan pada pintu atas panggul : apabila diameter antero-posterior kurang dari 10 cm (conjugata diagonalis kurang dari 11. atau diameter interspinalis kurang dari 10 cm.5 + 5 cm).3) .

dilakukan setelah diameter biparietal janin telah melalui penyempitan panggul. Edisi Ke-3. 1993: 370-1 3. perubahan pada kulit kepala janin dan tulang kepala.(3) KEPUSTAKAAN : 1. infeksi intrapartum.2) : Ekstraksi vakum. Rachimhadhi T. Connecticut. Ilmu kebidanan. Dystocia due to pelvic contaction. Distosia karena kelainan panggul. Wiknjosastro H. 1997: 461-72 2. prolapsus funikuli.2) : Episiotomi mediolateralis yang luas. (4) : Kraniotomi dan kranioklasik. In: Basic Gynecology and Obstetrics. 20th ed. fistula. (4) Kesempitan pada pintu bawah panggul Pada bayi yang sudah mati KOMPLIKASI : Pada ibu Pada bayi : Ruptur uteri.2) : Infeksi intrapartum. Cunningham F. Gant NF. Gant NF. Dalam Wiknjosastro H. (1. 19th ed. Ed. Dystocia due to pelvic contaction. In: Williams Obstetric. Gant NF. Dystocia due to Pelvic Contaction. Saifuddin AB. 1991: 637-48 4. 1989: 377-83 . Cunningham F. 18th ed. MacDonald PC. Connecticut. Appleton & Lange.222 PENANGANAN : Kesempitan pada pintu atas panggul Kesempitan panggul tengah : Seksio sesar. In: William Obstetric. Mac Donald PC. (1. (1. Appleton & Lange. Cunnigham F. Connecticut. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Appleton and Lange.

turgor berkurang. tapi tidak adekuat 2. Inersia dapat menyebabkan kematian atau jejas kelahiran 2. gemeli. . penggunaan analgesi terlalu cepat.60 detik. yaitu : (3) • • Klinis : 3 kali kontraksi/10 menit. KLASIFIKASI : (3. PENYULIT : (3) 1. Frits Rumintjap dr. dengan tekanan intrauterin 40 . kelainan letak kepala.60 mmHg. lamanya 40-60 detik. SpOG BATASAN : • Kelainan His adalah suatu (1.2) keadaan dimana his tidak normal baik dalam kekuatan maupun dalam sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. Inersia uteri hipertoni : pemberian oksitosin berlebihan. Intersia uteri hipotoni (disfungsi uteri hipotoni) : kontraksi uterus terkordinasi. • His normal/adekuat : his persalinan yang menyebabkan kemajuan persalinan.4) 1.. KELAINAN HIS dr. yang juga menyebabkan kematian anak meninggi 3. meteorismus dan asetonuri. kuat tapi tidak adekuat. KTG : 3 kali kontraksi/10 menit. sifatnya kuat. pernafasan cepat . 2. Kemungkinan infeksi bertambah. Intersia uteri hipertoni (disfungsi uteri hipertonik/disfungsi uteri inkordinasi) : kontraksi uterus tidak terkordinasi.4) 1.223 14. Josephine LT. salah pimpinan persalinan. hidramnion. perasaan takut dari ibu. dengan tanda-tanda : nadi & suhu meningkat.3. lamanya 40 . ETIOLOGI : (1. Kelelahan ibu dan dehidrasi. Inersia uteri hipotoni : panggul sempit.2.

Distosia karena his (Power). Inersia uteri hipotoni : jika ketuban masih ada. Mochtar R.224 PEMERIKSAAN PENUNJANG : (3. 2. 1997 : 415-32. In : Williams obstetrics 20 th edition. Bagian pertama (obstetri). USA. Dalam : Ilmu kebidanan. . Pedoman diagnosis dan terapi obstetri dan ginekologi RSUP Dr. Patologi persalinan dan penanganannya. Yayasan Bina pustaka.4) 1.4) 1. Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. Martohoesodo S.3. 3.G PENATALAKSANAAN : (1. Edisi 4. 1996 : 107-09. Kelainan dalam persalinan. Penerbit buku kedokteran EGC. Prentice-hall international inc.G 2. Jakarta. 1989 : 347-51 2.S. Bandung. Jakarta. Obstetri fisiologi. K. Dalam : Sinopsis obstetri. Dystocia Abnormalities of the expulsive forceps. Inersia uteri hipertoni : (lihat bab resusitasi intra-uterin).2. Distosia karena kelainan tenaga. Hasan Sadikin. dilakukan amniotomi dan tetesan oksitosin (kecuali pada panggul sempit : seksio-sesar). KEPUSTAKAAN : 1. cetakan pertama. Cunningham F G et al. edisi kedua. Obstetri patologi. untuk mencegah timbulnya gejala-gejala/penyulit diatas.T. Pemberian infus pada persalinan lebih lama dari 18 jam. I . 4. U.. Abnormal labour. 1994 : 537-44 3.

Presentasi abnormal d. Bekas parut bukan seksio sesar • • • • • • Miomektomi Histerorafi Reseksi kornu Akibat tindakan kuretase Plasenta perketa/akreta Metroplasti . dr. Ruptura uteri imminens (mengancam) b. O. (1) a. yang dapat terjadi antepartum atau intrapartum. e. Tjandra. Multiparitas b. 2. Menurut gejala klinik : (3) a. Ruptura uteri komplit : semua lapisan dinding rahim robek b. IMS. Ruptura uteri komplit : kalau peritoneum masih utuh 2.4. SpOG BATASAN : Ruptura uteri ialah robeknya dinding uterus.5) 1. Anomali janin (hidrosefalus). Ruptura bekas parut a. Disproporsi c. Murah Manoe. Penggunaan oksitosin yang tidak tepat. Ruptura uteri FAKTOR PREDISPOSISI DAN ETIOLOGI : (3. RUPTURA UTERI dr. Menurut robek tidaknya peritoneum.225 15. Ruptura spontan uterus normal a.(1) KLASIFIKASI : 1. Bekas parut seksio sesar b.

Perasaan mau sering kencing dan katetirasi ada hematuria k.226 • Penyakit trofoblastik invasif DIAGNOSIS : (2. Terdapat tanda-tanda dari obstruksi (edema jalan lahir) dan kaput janin yang besar. B. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya e. Anamnesis dan inspeksi a. Palpasi a. Pada suatu his yang kuat sekali. Penderita gelisah. Kontraksi uterus biasanya c. Ruptur uteri 1. Mengerang kesakitan pada setiap his d. Ligamentum rotundum teraba keras dan tegang h. Segmen bawah rahim tipis dan nyeri tekan i.6) 1. Defance muskuler sampai meteorismus d. Anamnesa adanya faktor predisposisi / etiologi b. Nampak lingkaran bandl dan bertambah tinggi j. Ruptura uteri imminens a. Nadi kecil dan cepat b. Kadang nyeri menjalar di tungkai bawah dan bahu e. His makin lama makin kuat dan sering g. ketakutan disertai perasaan nyeri di perut c. keringat dingin dan tak sadarkan diri b. Denyut jantung janin ireguler l. penderita kesakitan luas biasa. Dapat terjadi krepitasi bila ada emfisema subkutan . Perdarahan pervaginam 2. Anemis f. Pernafasan cepat dan dangkal c. Muntah-muntah d. Tanda-tanda dehidrasi f.

3. penyebab ruptur. a. dapat dipilih antara memperbaiki kerusakan uterus atau histerektomi. 5. Auskultasi a. Kalau rongga rahim sudah kosong. adanya parut uterus.5. Resusitasi a. DJJ sulit atau tidak terdengar lagi 4. Laparotomi.227 e. B. Hematuri DIAGNOSIS DIFERENSIAL : (7) Akut abdomen pada kehamilan abdomen lanjut PEMERIKSAAN PENUNJANG : (7) Hb dan hematokrit darah PENANGANAN : (2. Pemeriksaan dalam a. luasnya robekan. Histerektomi baik total ataupun subtotal Dilakukan pada keadaan umum memungkinkan dan bila ada kolporeksis. Uterus dapat teraba sebagai bola keras disamping bagian janin bila keluar dari kavum uteri 3. Paralisis usus b. sifat robekan. .8) A. Kepala janin mudah didorong disertai banyak perdarahan pervaginam b.6. Memperbaiki keadaan syok. anemia dan infeksi b. Kepala janin bila belum turun menjadi mudah dilepaskan dari pintu atas panggul f. Kateterisasi a. segera setelah diagnosis ditegakkan. Pada keadaan tertentu kompresi aorta dan pemberian oksitosin bisa membantu mengurangi perdarahan. Keputusan berdasarkan tempat ruptur. jari tangan dapat meraba usus atau bagian melalui robekan dinding uterus. kondisi umum pasien dan keinginan untuk mengandung di kemudian hari.

Histerorafia dengan ligasi tuba. Histerorafia Dilakukan bila pinggir luka harus rata. Syok irreversible . dilakukan pada luka bersih ruptura bekas parut dengan anak cukup. Luka yang meluas ke kandung kencing dan vagina c. beraturan.228 b. PENYULIT : (7) a. Hematoma pada daerah parametrium d. c. tidak terlalu rapuh dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Sepsis b.

1973 2. 8. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Obstetri Williams. Hartono A. 1983 : 436-42 6. Saifuddin AB. Istilah obstetri dan Ginekologi. 1991 : 46-7. 1994 : 450-4 4. Alih bahasa : Hakimi M. Balai Penerbit FKUI. Calcuta . Martohoesodo S. Jakarta . Perlukaan dan persitiwa lain pada persalinan. Rachimhadhi T. {enerbit Buku Kedkteran EGC. 1990 : 469-75 5.229 KEPSUTAKAAN : 1. Ilmu kebidanan : patologi & fisiologi persalinan. MacDonald PC. Bagian I. Yayasan Essentia Medica. Jakarta . Bagian I. 1992 : 664-74 7. Alih bahasa : Supriyadi T. Cunningham FG. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Gunawan J. Jakarta . Marsinto. Taber B. Oxorn H. Mochtar R. Sinopsis obstetri. Panitia Ilmiah POGI. 1995 : 467-77 . Text book of obstetrics. Utama H. Saifuddin AB. Dutta DC. 1990 : 323-33 3. Jakarta . Kedaruratan obstetri dan ginekologi. Alih bahasa : Suyono J. Gant NF. New Central Book Agency. Kapita selekta . Saifuddin AB. Dalam : Wiknjosastro H. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Ilmu kebidanan. Jilid I. eds. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Wibowo B. Jakarta .

Penyakit yang disertai demam 2. Annas Budi. Perdarahan per vaginam setelah kehamilan 12 minggu 3. Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu 6. atau antara 140 dan 259 hari. Serviks terbuka lebih dari 1 ccm pada kehamilan 32 minggu 5. Ny. Iritabilitas uterus . Minor : 1. Riwayat abortus Trimester I lebih dari 2 kali Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai : 1 atau lebih faktor risiko mayor . Riwayat persalinan prematur sebelumnya 8. Faktor risiko : (1). Merokok lebih dari 10 batang / hari 5. dihitung dari hari pertama haid terakhir (1). Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap. SpOG BATASAN : Persalinan prematur adalah persalinan pada usia kehamilan antar 20 dan 37 minggu penuh. Riwayat abortus Trimester II 6. Mayor : 1. Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali 7. dr. Pakasi. Kehamilan multipel 2. Riwayat pielonefritis 4. Dibagi atas kriteria mayor dan minor untuk meramalkan terjadinya persalinan spontan. Riwayat operasi konisai 10. Kriteria diagnosis : 1. Operasi abdominal pada kehamilan prematur 9. atau keduanya. Anomali uterus 4. PERSALINAN PREMATUR dr.230 16. Suzanna S. atau 2 atau lebih faktor risiko minor . atau 140 dan 259 hari (1). Hidramnion 3.

Mengeluarkan lendir per vaginam.231 2. kematangan paru). nyeri bagian belakang (1). besar janin. cacat bawaan. jumlah janin. 1. . Merasakan gejala seperti : rasa kaku diperut menyerupai kaku menstruasi . 3. risiko ibu janin bila persalinan dilanjutkan. dan diagnosis persalinan prematur sudah dibuat. frekuensidan kekuatan kontraksi. Pemeriksaan gas da pH darah janin. 2. selpaut ketuban seringkali telah pecah (1). 3. Pemeriksaan penunjang (1). untung dan adalah ruginya. Adanya pendataran dan dilatasi serviks secara progersif atau dilatasi serviks minimal 2 cm sejak penderita masuk rumah sakit setelah diobservasi selama 3060 menit (2). rasa tekanan intra pelvik . 6. letak dan maturasi plasenta. Untuk menjawab pertanyaan dipertimbangkan memperhitungkan kematangan janin (misalnya : berat janin. Kontraksi uterus yang reguler dengan interval kurang dari 10 menit dan lamanya kontraksi minimal 30 detik (2). kelainan uterus. Pemeriksaan bakteri vagina 6. Ultrasonografi : usia kehamilan. mungkin bercampur darah. Kardiotokografi : kesejahteraan janin. Pemeriksaan surfaktan (amniosnetesis). 5. fase persalinan. apakah dengan kelangsungan proses itu perlu dihentikan atau sama sekali tidak. maka pilihan tersebut adalah sebagai berikut (3). volume cairan amnion. Menghambat persalinan untuk memperpanjang kehamilan dan menunda persalinan mencapai atau menjelang aterm. 4. penentuan kondisi janin inutero. aktivitas biofisik. 5. Pemeriksaan kultur urine 7. 4. Bilamana keadaan penderita sudah dinilai. PENATALAKSANAAN : Masalah utama ini dalam menghadapi perlu persalinan prematur. dan tentu saja risiko pengobatan itu sendiri (3). 1. Pemeriksaan vaginal berkala untuk mengetahui dilatasi / pemendekan serviks.

Janin presentasi kepala : per vaginam dengan episiotomi lobar 2. INDIKASI KONTRA PENUNDAAN PERSALINAN : (1) Gawat janin.72 jam dan mencoba mempercepat kematangan paru janin agar risiko sindrom gawat nafas dapat dikurangi. dan kematian janin CARA PERSALINAN : (1) 1. Indikasi seksio sesar : a. dsb) KEPUSTAKAAN : (4) . Infeksi intraprtum.232 2. Gawat janin. plasenta previa. Istirahat baring 2. atau karena ada indikasikontra terhadap obat tokolisis. Taksiran berat janin kurang dari 1500 g (masih kontra versi) c. perdarahan antepartum yang banyak. Menghambat persalinan selama 48 . Janin sungsang b. Kontraindikasi per vaginam lainnya (letak lintang. Pematangan paru). gestosis. Terutama pada kasus dengan indikasi terminasi kepentingan ibu bab. pertumbuhan janin terhambat. diabetes melitus (beta-mimetik). Deteksi dan penanganan terhadap faktor risiko persalinan prematur 3. Membiarkan persalinan berlangsung dengan anggapan bahwa terapi tokolisis tidak berguna bagi ibu dan janin yang akan lahir. (lihat . Pemberian sedai dan hidrasi 4. tokolitik) Pemberian obat pematangan paru patut diberikan pada persalinan prematur 28-35 minggu. Pemberian obat tokolitik : (lihat bab. korioamnionitis. Terapi penundaan persalinan prematur : (1) 1. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi d. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi e. 3. kelainan kongenital. pembukaan serviks lebih dari 4 cm.

In : Fadel HE. London : Addison-Weslay Publishing Company. Wiknjosastro GH. 647 3. Diagnosis and management of Obstetric emergencies. Maj Obstetri Ginekologi Indonesia 1993 . Manajemen persalinan preterm. Fadel HE. 19 : 24-6 4. Saifuddin AB. Muchsin LH. 59-61 2. Preterm labor. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta.233 1. Pengurus besar POGI. Wiknjosastro GH. Bagian I. Perbandingan tokolisis dengan salbutamol dan magnesium sulfat dalam pencegahan persalinan preterm. Standar pelayanan medik Obstetri dan Ginekologi. 1982 . ed. . 1991 . Jakarta : Balai Penerbit FKUI.

PERVAGINAM (LL.234 SKEMA PENATALAKSANAAN PERSALINAN PREMATUR KRITERIA DIAGNOSIS PERSALINAN PREMATUR PEMERIKSAAN PENUNJANG MENGHAMBAT PERSALINAN MEMBIARKAN PERSALINAN BERLANGSUNG Pada terapi tokolis tidak berguna Indikasi kontra Memperpanjang Kehamian & menunda persalinan. mencapai atau menjelang aterm Selama 48-72 jam & mencoba mempercepat kematangan paru Istirahat Deteksi & penanganan terhadap faktor resiko Terapi sedasi & hidrasi Tokolitik CARA PERSALINAN PERVAGINAM PRESENTASE KEPALA + EPISIOTOMI LEBAR SEKSIO JANIN SUNGSANG TBJ < 1500 GR GAWAT JANIN INFEKSI INTRA PARTUM K.I. PLAS PREVIA) .

20 % dari bayi persalinan kehamilan lewat waktu. Rahmy Djamil.30 %) janin juga dapat terus bertumbuh dan melebihi 4000 gram. (2) PATOFISIOLOGI : • Perubahan plasenta menunjukkan penurunan diameter dan panjang vilikorialis. KEHAMILAN LEWAT WAKTU dr. Terdengarnya denyut jantung janin pada kehamilan 17 .80% pada plasenta.M. . maka janin mungkin kekurangan nutrisi / oksigen akbiat dari penurunan fungsi plasenta.(3) • Apabila kehamilan berlangsung melampaui masa fungsi plasenta.S. (5) Gawat janin dapat terjadi akibat penekanan tali pusat yang dihubungkan dengan oligohidramnion. nekrosis fibrinoid dan terjadinya arterosis pembuluh darah desidua dan korion. sebagian (25 . Perubahan ini disertai dengan terjadinya gambaran infark hemoragik yang merupakan tempat penimbunan kalsium dan pembentukan infark. (4) Sindroma postmaturitas dapat terjadi hanya 10 .(1) ETIOLOGI : Sampai sekarang belum jelas dipahami seluruhnya.235 17. Pada kehamilan lewat waktu infark ditemukan 60. (1) Walaupun dapat bertumbuh menjadi postmaturitas. I.(6) DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN : 1. Murah Manoe SpOG BATASAN : Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berumur 42 minggu atau lebih. dr. Konfirmasi umur kehamilan dengan : (1) a. Henrie Usmany. dr. Pemeriksaan umur kehamilan • • Umur kehamilan dihitung dengan rumus Naegele berdasarkan anamnesis tanggal hari pertama haid terakhir. keadaan ini berkaitan dengan adanya defisiensi sulfatase plasenta dan kehamilan ekstra uteri.20 minggu.

Oxytocin chalenge test (OCT)(4) Seksio sesar dilakukan bila OCT positif. (2) Penentuan fungsi plasenta / keadaan janin.(3) Pemantuan detak jantung janin : b.30 minggu. PENATALAKSANAAN : 1. c. Penanganan antepartum : Pemanatauan kesejahteraan janin : • • Pemeriksaan NST atau CST Pemantauan profil biofisik. penatalaksanaan kehamilan lewat waktu adalah : Penanganan kehamilan dengan pemantauan dan pengakhiran kehamilan. c. Cara pengakhiran kehamilang tergantung : • • • 3. Amnioskopi : untuk melihat warna serta kejernihan cairan ketuban. Pematangan serviks. b. Non stress test (NST) (4) b.2.3. 2. a. Pemeriksaan USG sebelum umur kehamilan 26 minggu. Tidak adanya gangguan fungsi plasenta. PEMERIKSAAN DALAM : Untuk menilai kematangan serviks (digunakan nilai Bishop).236 b. Profil biofisik : Manning menganjurkan pemeriksaan ini 2 kali seminggu dan persalinan janin tersebut bila ada oligohidramnion. • Keadaan janin.1. Tinggi fundus uteri antara 18 . Pada dasarnya. 2. • • • • NST Gerak napas janin Gerak janin Tonus otot janin .

(6) • Seksio sesar dilakukan pada : • • • Suspek makrosomia.(8) Induksi persalinan dengan menggunakan Oksitosin S 5 U / 500 cc Ringer Laktat. (3) • Induksi persalinan. Penanganan intrapartum • • Amnioinfusion dilakukan pada amnion yang kental. maksimum 60 tetes / menit.6) . • • Makrosomia (perkiraan berat janin  4500 gram).(6) Pada keadaan distosia bahu diperlukan bantuan dokter anestesi dan dokter anak serta seorang ahli kebidanan yang sudah berpengalaman dalam melahirkan distosia bahu dengan berbagai maneuver.(6) 4.(1.(6) Aspirasi trakheal pada neonatus. (1. Induksi persalinan dilakukan pada nilai Bishop  6. Pematangan serviks dapat dilakukan dengan Prostaglandin (Prostaglandin gel E2 3. dimulai dengan 6 tetes mikro / menit dan dinaikkan tiap 30 menit 6 tetes / menit.0mg intravaginal dan 0.5 intraservikal)(6) atau balon kateter kateter Foley no 18 F(7) atau 26F.(1.6) Deselerasi lambat persisten disertai variabilitas atau peningkatan denyut jantung.6) Dilakukan pada janin dengan yang selama persalinan menunjukan nonreaktif dan positif.237 • • Cairan amnion Pematangan serviks Dilakukan pada serviks yang belum matang (nilai Bishop < 6).(8) • Seksio sesar.

Kehamilan Preterm dan Postterm. Post term . Obstetrics normal and problem pregnancies . Porto M.Saunders Company. 1991: 945 -55 7. Resnik R . Induction of labor in the posdate fetus. 1994 : 521 . Gilstap III LC. Clin Obstet Gynecol. Laboratorium/UPF Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan . Clark SL. 20 th ed. Niebyl JR. Gant NF. 2nd. Alih Bahasa: Sutoyo J.B. 1997 : 827 . In: Williams obstetrics. The unfavorable cervix: methods of cervical priming. Post-term pregnancy. 1993 : . 32 : 2 : 262 . Cunningham FG.1988 : 76 -8 5. W. churcill Livingstone. Editor: Ronardy DH. MacDonald PC. Resnik R. Hartono A. Hankins GDV. Stamford. Jakarta. Cunninghham FG.1 guide to high-risk pregnancy and delivery . New York. Maternal-fetal medicine. Philadelphia. 8.6 Freeman RK. Clin Obstet Gynecol. Dalam: Obstetri Williams. 6.238 KEPUSTAKAAN : 1. In: Creasy RK. Arias F. Post Datism. In: Gabbe SG. Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Lagrew DC. 1989. Prolonged pregnancy. Appleton & Lange. Simpson JL. 3 nd ed . 1995:903 -10 3.61 4. Leveno KJ. Pedoman Diagnostik dan terapi . Jakarta. Gant NF. Penerbit Buku Kedokteran EGC.3rd ed. MacDonald PC. Sint Louis. Mosby Year Book. 1989.37 2. Hankins DV. 32: 2: 270 . In: Practical 150 .7 Satin JQ. Prolonged pregnancy.

Oesman.3. (Heterolog biovuler) ETIOLOGI : Tidak jelas. Pemeriksaan ini merupakan cara diagnosis yang mudah. Kehamilan kembar monozigot : yang terjadi dari ovum dan satu sperma.3. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG).5) 1. SpOG BATASAN : Kehamilan kembar dua adalah kehamilan dengan dua janin. dr.3.2.5) 1. tidak membahayakan ibu dan anak. adanya riwayat persalinan kembar dalam keluarga.4) . teraba 3 bagian besar janin. Kehamilan kembar dizigotik : yang terjadi dari dua ovum dan dua sperma. DIAGNOSIS : (1. (Homolog uniovuler) 2. Telly Tessy. cepat. adanya penambahan berat badan yang menonjol yang tidsak disebabkan oleh edema dan obesitas. teraba banyak bagian-bagian kecil anak.2.239 18. Anamnesis : ibu merasa perutnya lebih besar dari kehamilan sebelumnya. PENATALAKSANAAN : • Dalam kehamilan : (1. Pemeriksaan fisik : perut tampak lebih besar dari kehamilan biasa. gerakan anak lebih sering.4. KEHAMILAN DAN PERSALINAN KEMBAR DUA (GEMELI) dr. KLASIFIKASI : (1. Terdengarnya bunyi jantung anak pada dua tempat yang berbeda dan sama jelasnya serta ada perbedaan frekwensi sekurang-kurangnya 10 kali dihitung pada saat yang sama. 2. Armyn A. teraba 2 balotemen . dengan pemeriksaan ini kehamilan kembar sudah dapat diketahui pada kehamilan 6-7 minggu.4. 3. fundus uteri lebih tinggi dari kehamilan biasa.

mineral. protein. Persiapan resusitasi oleh bagian neonatologi. 3. tidak melakukan perjalanan jauh dan tidak melakukan koitus setelah kehamilan 28 minggu.240 Komplikasi utama yang sering terjadi pada kehamilan kembar yaitu partus prematur dan preeklampsia. (3.4. sehubungan dengan peningkatan kebutuhan terhadap kalori. Pimpinan pada kala I :seperti pada partus biasa. maka dilakukan : (1. 1. Terminasi persalinan tergantung pada indikasi.2. Tindakan yang paling baik pada locked twins dan conjoined twins ialah seksio sesarea.4) Seseudah anak pertama lahir. vitamin dan asam folat selama kehamilan. Pemeriksaan antenatal yang lebih sering dan teratur. Dalam hal ini pemeriksaan USG dapat juga dilakukan lebih sering atas indikasi. sehingga perlu diadakan pencegahan untuk kepentingan ibu dan anak. Memperbaiki kesehatan umum dan mengusahakan pertambahan berat badan yang cukup. 2. Kebutuhan makanan harus diperhatikan . 4.5) . • Dalam persalinan : Pimpinan persalinan Pimpinan persalinan kembar dua tergantung pada umur kehamilan atau perkiraan berat badan lahir anak. Padasetiap perpanjangan waktu persalinan pada kala I dan kala II. Untuk tiap persalinan kemar dua dapat dilakukan tindakan sebagai berikut : Persiapan : persiapan untuk persalinan biasa dan operasi. Bila ternyata anak pertama letak lintang. istirahat cukup. harus dipikirkan kemungkinan terjadinya “locked twins” atau adanya “conjoined twins”. 5. Pimpinan pada kala II : Persalinan anak pertama ditolong seperti biasa bila letak anak membujur. maka harus dilakukan seksio sesarea. Kerja ringan. secara rutin diberikan sufas ferrosus 1 x 100 mg dan diperiksa Hb sekali dalam 3 bulan. Untuk mencegah anemia.3.

Bila letak kedua anak kedua melintang dan ketuban negatif. Untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK.241 1. dilakukan versi dan ekstraksi atau seksio sesarea. diusahakan untuk menghentikan persalinan bila mungkin dengan tokolitik. KEPUSTAKAAN : 1. 1981. Interval persalinan anak pertama dan kedua : (1. Terdapat tanda-tanda foetal distress atau ancaman foetal distress anak kedua Ketuban negatif sesudah anak pertama lahir. maka ketuban segera dipecahkan kemudian ditunggu sampai partus spontan sambil fiksasi presentasi anak kerongga panggul dengan melakukan penekanan seperlunya pada fundus uteri. Bila letak anak kedua melintang. presentase anak kedua. Kembar dua di Rumah Sakit Umum Ujung Pandang. presentase ganda dan lain-lain Bila ternyata letak anak kedua memanjang (kepala atau bokong) dan keadaannya baik. Pemeriksaan dalam untuk mengetahui letak.3. maka dilakukan versi luar. UNHAS. Semua persiapan untuk tindakan obstetrik sudah harus dilakukan setelah anak lahir.2.4. Ujung Pandang. Pengawasan komplikasi postpartum dilakukan dan dirawat seperti biasa. keadaan janin masih baik. apakah ada prolapsus tali pusat. kedaan anak baik. Jika tidak berhasil. maka tindakan pencegahan mutlak diperlukan. Tinggogoy J. segera dilakukan versi dan ekstraksi bila masih memungkinkan atau seksio sesarea. Bila perlu his dapat diperkuat dengan pitosin drips. . ketuban positif. ketuban positif. Pemeriksaan obstetric luar untuk mengetahui letak. presentase dan keadaan anak kedua (denyut jantung) 2.5) Anak kedua diusahakan harus sudah lahir dalam waktu kurang dari 30 menit sesudah anak pertama lahir. Skripsi. Pada stadium awal dari partus imaturus dan prematurus yaitu pada pembukaan serviks 4 cm atau kurang. Persalinan anak kedua harus dipercepat menurut cara yang sesuai bilamana : • • • Di temukan presentasi atau prolapsus tali pusat.

Kehamilan Ganda.36 3. Ilmu Kebidanan. Kehamilan Ganda. Manuaba IBG. Edisi III. Bandung : Elstar Offset. 3rd ed.60 . Dlama : Melfiawati S. eds .78 5. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. 1994 : 154 . Brenner PF.242 2. Dalam : Wiknjosastro H.97 4. Rachimhadi T. Kovacs BW. Saifuddin AB. Obstetri Patologi. 1993 : 134 . Penuntun kepaniteraan klinik Obstetri dan Ginekologi. Multiple gestations. Cetakan I. ed. Wibowo B. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Management of common problems in obstetrics and gynecology. Boston : Blackwell Scientific Publications. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. 1992 : 386 . Hanafiah MJ. Eds. In : Mishell JR.1982 : 68 .

243 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN KEMBAR DUA (GEMELI) (1.2) Diagnosis gemeli Hamil < 30 minggu Hamil 30-36 minggu Rawat di RS rutin/selektif ** Hamil aterm Partus di RS Komplikasi (-) Komplikasi (+) Rawat jalan atau RS * Periksa hamil intensif Inpartu *** Komplikasi *** Masuk RS R/Tocolotik bila pembukaan 4cm (rawat=prematur) Persalinan pervaginam Atonia/hipotonia Prolong labor Induksi persalinan Memecahkan ketuban Persalinan pervaginam Spontan Vakum/forceps/ekstr aksi kaki Seksio sesarea : Anak I lintang atau sungsang Gawat janin Indikasi obstetri .

244 KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA BEKAS SEKSIO SESAR dr. Hindar Jaya. (1) 1. SpOG BATASAN : Kehamilan dan Persalinan bekas seksio sesar adalah kehamilan dan persalinan yang terjadi pada rahim yang pernah diseksio sesar. perkiraan berat badan janin dan letak plasenta (1. Kehamilan pada bekas seksio sesar a. Seksio Sesar bila (2) : • Seksio sesar dulu seksio sesar klasik/korporal . Pemeriksaan Penunjang • Ro pelvimetri pada panggul suspek sempit (1) • USG untuk menentukan usia kehamilan. dr. tinggi badan penderita b) Mengetahui riwayat kehamilan yang lalu c) Mengetahui riwayat persalinan yang lalu d) Mengetahui indikasi seksio yang lalu b.32 minggu tiap 2 minggu c) Dari umur 32 .2) 2. Melakukan pemeriksaan antenatal (PA) yang teratur yaitu (1) : a) Sebelum mencapai umur kehamilan 28 minggu PA dilakukan tiap 4 minggu b) Pada umur 28 .38 minggu pemeriksaan dianjurkan tiap minggu d) Mulai umur > 38 minggu atau 2 minggu sebelum taksiran persalinan ibu sudah harus rawat apabila (2) : e) Tingkat pendidikan rendah f) Transportasi sulit g) Tempat tinggal jauh c. Persalinan pada bekas seksio sesar a. Anamnesis (1) : a) Mempunyai data umur. Maggie Wewengkang.

245 • • • Penyembuhan luka operasi buruk Sudah dua kali atau lebih seksio sesar Kehamilan ini disertai dengan penyulit seperti : a) Kelainan letak b) Kelainan presentasi c) Plasenta previa d) Disproporsi sefalo pelvik (D.P) e) Distosia b.5 cm) d) Posisi letak kepala fisiologis (ubun-ubun kecil depan) e) Tidak ada tumor jalan lahir f) Kehamilan bekas seksio sesar transperitoneal profunda murni dan hanya satu kali seksio sesar g) Pernah melahirkan bayi pervaginam yang berat badan lebih besar dari perkiraan berat badan janin kehamilan ini • Dengan observasi ketat (1) : a) Tanda vital b) His c) Denyut jantung janin (DJJ) d) Kemajuan persalinan .S. Partus pervaginam dapat dilakukan (1) : • Bila anamnesis dan pemeriksaan fisis obstetri seperti : a) Umur kehamilan pertama < 35 tahun b) Umur kehamilan sekarang > 28 minggu c) Ukuran panggul luar dan dalam normal (conyungata vera > 11.

Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. Wewengkang MJ. Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Jakarta. POGI. 1989: 1-26 2. Djasmadi N. 1991: 72-3 . Bekas Seksio Sesarea. Penatalaksanaan persalinan bekas seksio sesar di Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UH.246 KEPUSTAKAAN : 1.

Dehidrasi pada ibu. Faktor panggul 2.S.247 20. b. Dehidrasi : nadi cepat dan lemah. His yang melemah atau hilang 4. c. Tanda-tanda kelelahan dan intake yang kurang : (2) 1. e. meliputi : (1. PARTUS KASEP dr.Murah Manoe SpOG BATASAN : Partus kasep adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi pada ibu maupun anak. Kelelahan pada ibu. Faktor anak 3. multipara 1 jam). multipara 1. I. Meteorismus 3. Oligouri . dr. multipara 14 jam). fase aktif (nulipara 1.4) Partus lama yang telah disertai penyulit (partus kasep). Penekanan jalan lahir dengan akibat edema dan perlukaan jalan lahir.M. Gawat janin atau kematian janin GEJALA KLINIS : 1. Henrie Usmany. Infeksi intrauterin d.3.2) a. serta febris 2.2) Kemungkinan terjadi partus kasep bila terjadi (sesuai Friedman) perpanjangan fase laten ( nulipara 20 jam. Faktor penolong Persalinan normal rata-rata berlansung tidak lebih dari 24 jam dihitung awal pembukaan sampai lahirnya anak.(1) PATOFISIOLOGI : Penyebab kemacetan dapat karena : (2) 1.5 cm per jam) atau kala pengeluaran yang memanjang (nulipara 2 jam.(2. Faktor tenaga 4.(1.2 cm per jam.

248 2. Meteorismus. 3.(2) 6. 4.(5) 4. 2. Keadaan umum ibu : (2) 1.5 0 C 3. 2. Oligouri. Tanda-tanda ruptura uteri membakat : a. Air ketuban bercampur mekonium Denyut jantung janin takhikardi (160 x menit) / bradikardi ( 120x/ menit ) / tidak teratur Gerakan anak melemah berkurang atau hiperaktif (gerakan yang konvulsif) DIAGNOSIS : A.(2. Palpasi : (2) . Regangan berlebihan dengan nyeri pada segmen bawah rahim. Syok (nadi kecil dan cepat). Tanda-tanda gawat janin : (2) 1. Peningkatan aktifitas kontraksi. Pelepasan air ketuban yang keruh kehijauan dan berbau 2.5) 5.5) 3. (6) d. 4. 5.5) 2. Perdarahan melalui ostium uteri eksternum (2. Febris. Tanda-tanda ruptura uteri : 1. Dehidrasi. Robekan dapat meluas sampai ke serviks dan vagina. His hilang. B. (5) 3.(5. Bagian anak mudah diraba.(2. 3. Syok. Berhentinya denyut jantung janin atau pergerakan atau keduanya.(5. Suhu rektal > 37.6 ) b. (5) 4. Periksa dalam: bagian terendah janin mudah didorong ke atas (2) 5. Tanda-tanda infeksi :(2) 1. Gejala rangsangan peritoneal.6) c. Cincin Bandl mendekati pusat atau melewati pusat. Kegelisahan ibu yang akan bersalin.

Anak : • • • (2) Gawat janin sampai meninggal Cacat otak yang menetap akibat asfiksia berat Trauma karena persalinan . Ibu : • • Infeksi sampai sepsis. Pelepasan air ketuban yang keruh.2) • Robekan jalan lahir. (1. penurunan kepala. (2) 2. Tidak teratur. kegagalan fungsi organ-organ. (2) B. (2) • Dehidrasi. Bagian janin mudah diraba.2) • Fistula buli-buli. C. pembukaan serviks. Menghilang (bila sudah mati) D. uterus dan rektum. berbau dan bercampur mekonium.posisi kepala dan keadaan panggul ) DIAGNOSIS BANDING : (2) Kehamilan / persalinan dengan infeksi genetalia eksterna KOMPLIKASI : A.2) Gangguan elektrolit. Gerak janin tidak ada.249 1. (1. 2. Kelainan letak (pada yang kelainan letak) (Pada pemeriksaan dalam vagina dinilai seviks. (2) 3. (1. Bagian terendah anak sukar digerakkan bila belum terjadi ruptur. 3. His lemah atau hilang. Periksa dalam vagina : 1. syok. Auskultasi : (2) Denyut jantung janin lemah atau menghilang • • • Takhikardi / bradikardi. dan mudah digerakan bila sudah terjadi ruptur. vagina.

Akhiri persalinan Sesuai dengan penyebab dan keadaan . Cedera jalan lahir. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. Rumah Sakit umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya. Pemakaian partograf untuk keselamatan ibu dan bayi dalam persalinan. In : Gabbe SG. CunninghamFG. Pemberian antibiotik :(2) • • Ampicillin 1gram / 8 jam IM selama 2 hari. Inc.. B. selama 5 hari. Simpson JL. 2 ..Niebyl RJ. Hariadi R. (2) Pemberian cairan yang memadai. • Kompres basah (dingin). 3.. Mac Donal PC. Cefalo RC. Pedoman diagnostik dan terapi . 1992 : 2: 290-300 2. Memperbaiki keadaan umum penderita 1. Churchill Livingstone - . New York. Dalam: Obstetri Disoder Labor.8 3.250 PENANGANAN : A. Gant NF.. Rehidarsi. 1994: 55 . (Vakum / forsep atau perforasi kranioklast) • Seksio sesar bila syarat pervaginam tidak terpenuhi dan belum lengkap.80 mg. Dextrose 5% (500cc) dan NaCl (500cc) dalam 1 -2 jam pertama . dilanjutkan 4 x 500 mg / hari peroral selama 3 hari dan Gentamycin 60 . dengan memantau produksi urin (pasang kateter) 2. O'Brien WF.Obstetrics normal & problem pregnancies. 1991 : 435 -46 4..3 kali sehari selama 5 hari. Penurunan panas :(2) • Antipiretika per oral (paracetamol 3 x 500 mg) atau parenteral xyllomidon 2 cc IM (bila tidak bisa peroral). atau Sephalosporin 1 gr / 12 jam / IV selama 5 hari Dapat dikombinasi dengan • Metronidasole 500 mg suppositoria/ 8 jam. • Pervaginam bila pembukaaan lengkap serta memenuhi syarat pervaginam. KEPUSTAKAAN : 1.

1971:197 .77 5.1 6.8. Goelam SA. . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta . cetakan 1988: 30 . editor Ronaldy DH. 1995 : 469 . Alih Bahasa Joko Suyono. Edisi18. Ruptura uteri . Heller L. Dharma A. Jakarta. Hartonao A.251 Wiliams. Perdarahan waktu persalinan. Alih bahasa: Matroprawiro HM. Dalam : Ilmu kebidanan. Cetakan kelima. Dalam : Gawat darurat ginekologi dan obstetri. Balai Pustaka . Jakarta. EGC.

(1) Perdarahan pasca persalinan dibagi atas : (2) 1. PERDARAHAN PASCA SALIN dr. Habar Garu. FAKTOR-FAKTOR PREDISPOSISI(3) • Trauma jalan lahir • Multipara/grandimultipara • Plasenta previa • Preeklampsia/eklampsia • Partus lama • Solusio plasenta • Tindakan operasi yang menggunakan anestesi Eter/Halotan • Induksi Persalinan • Penanganan Kala II dan Kala III yang salah • Riwayat perdarahan pada pasca persalinan sebelumnya . 2. 1. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN PRIMER a. Abd. dr. Muin. Perdarahan pasca persalinan primer yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi lahir.252 21. Perdarahan pasca persalinan sekunder yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. ETIOLOGI(3) • Atoni uteri • Laserasi jalan lahir • Retensi plasenta atau sebagian plasenta • Gangguan pembekuan darah b. SpOG BATASAN : Perdarahan pasca salin adalah perdarahan 500 cc atau lebih sesudah kelahiran bayi.

vagina dan serviks • Pemeriksaan dalam : Eksplorasi vagina. Pada keadaan akut.253 • Kelainan pada uterus c. • Palpasi : Untuk mengetahui adanya atoni uteri serta fundus uteri • Pemeriksaan plasenta dan selaput ketuban. masa pembekuan darah (1) e. serviks uteri. denyut nadi lemah dan cepat. pusing. keadaan penderita selama kehamilan. penderita pucat dan dingin. • Keadaan umum lemah. minimal 500 ml untuk menggantikan darah yang hilang. perdarahan dapat terjadi internal atau eksternal. serta kemungkinan plasenta suksenturiata. DIAGNOSIS (3) Diagnosis perdarahan pasca persalinan ditegakkan berdasarkan : • Anamnesis : faktor-faktor predeposisi. PENATALAKSANAAN (3) Penderita dengan kecenderungan perdarahan pasca persalinan. Haenatokrit. GEJALA KLINIS (3) Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang mengalir deras atau merembes. • Pemeriksaan Lab : Hb. gelisah sampai koma d. tekanan darah menurun. diberikan dengan cepat. sebaiknya pada awal persalinan sudah diberikan infus larutan Ringerlaktat atau Glukosa 5% dan persiapan transfusi darah. untuk mengetahui kemungkin tertinggalnya jaringan plasenta atau selaput ketuban • Inspekulo : Untuk mengetahui adanya robekan pada perineum. • Pemberian plasma ekspander (Larutan Dextran L) . masa perdarahan. tindakan penting adalah : • Transfusi darah. serviks dan kavum uteri untuk mencari robekan pada vagina.

persiapan kamar operasi. .2 mg intravena. dicoba dengan tindakan manuil plasenta. Bila selama observasi perdarahan bertambah atau tetap berlangsung dilakukan Histerektomi atau ligasi (a.254 • Drips Oksitosin 20 IU dalam 500 ml larutan Rengarlaktat atau NaCl 0. Jika tindakan manuil plasenta tidak memungkinkan. uterina atau a. jaringan plasenta dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta Bila plasenta tidak terlepas. uterina atau a. kemungkinan plasenta akreta. • Plasenta dilahirkan dengan Brandt Andrews. Jika plasenta tidak lepas. hipogastrika) (4) Jika perdarahan berkurang.9% • Vaksin serap tetanus 1/2 cc a) Atoni Uteri (3) (1) Drips oksitosin 20 UI dalam 50 ml larutan Ringerlaktat atau NacCL 0. konsultasi keluarga penderita untuk tindakan Histerektomi atau ligasi (a.9% sampai uterus berkontraksi. uterus berkontraksi. drips dilanjutkan 28 tetes permenit.5 mg diulang tiap 6 jam (3) Bila perdarahan berhenti.9% disertai masase uterus (2) Bila uterus belum berkontraksi. lakukan tamponade utero vaginal kemudian observasi perdarahan. hipogastrika) b) Retensi plasenta atau sebagian plasenta (3) • Drips oksitosin 20 UI dalam 500 ml larutan Ringerlaktat atau NaCl 0. atau prostaglandin (PG): Sulproston (Nalador) 0. lakukan pengeluaran plasenta dengan digital atau kuretase. Jika hanya sisa plasenta. jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus. berikan methergin 0. Jika perdarahan tetap berlangsung. histerektomi dapat dipertimbangkan.

tindakan histerektomi merupakan pilihan. transfusi darah segar dilanjutkan selain itu diberikan uteretonika oksitosin 20 UI mempertahankan kontraksi uterus (4) Konsul kebagin penyakit dalam 2. perdarahan dapat terjadi internal dalam rongga perut sehingga tidak nampak adanya perdarahan pervaginam. minimal 1 liter (2) Bila perdarahan masih berlangsung. Bila ditemukan ruptura uteri tindakan defenitif adalah laporotomi. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN SEKUNDER a. vagina dan serviks (1) Robekan perineum. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan dalam eksplorasi kavum uteri. tindakan defenitif adalah histerektomi (3) Bila perdarahan berkurang. Antibiotika diberikan Ampicilin 4 x 500 mg. bila luka robekan kecil dapat dilakukan histerografi. ETIOLOGI (3) • Subinvolusi uteri • Tertinggalnya sisa plasenta • Tumor / Mioma uteri perinfus untuk . dan bila keadaan penderita memungkinkan. selama 5 hari. jahitan teratas ditempatkan sedikit di atas puncak robekan. serviks dan vagina (5) Jahit luka robekan dengan jahitan terputus. d) Gangguan faktor pembekuan (3) (1) Transfusi darah segar. (2) Ruptur uteri(3) Ruptur uteri kadang sulit diketahui dengan pemeriksaan inspekulo.255 c) Robekan jalan lahir (3) Robekan jalan lahir dapat diketahui dengan pemeriksaan inspekulo pada perineum. Bila tidak memungkinkan perdarahan tetap berlangsung.

hasil pemeriksaan laboratorium tidak ada tanda-tanda infeksi. dan pemeriksaan laboratorium (1) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan gambaran sisa jaringan plasenta. (Oksitosin) 20 IU dalam larutan infus dilanjutkan injeksi methergin 0. Pemeriksaan laboratorium ditemukan Leuksitosis pada infeksi. DIAGNOSIS : (3) Diagnosis ditegakkan dengan adanya perdarahan pervaginam. GEJALA KLINIS Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang bervariasi sedikit sampai banyak • Demam dan menggigil bila terdapat infeksi jalan lahir • Pemeriksaan palpasi ditemukan uterus membesar. PENATALAKSANAAN : (3) • Perdarahan segera diatasi dengan transfusi darah.256 • Kelainan perdarahan • Hematoma jalan lahir b. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menyingkirkan sisa plasenta. sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG. pemberian cairan intravena RingerLaktat atau NaCl 0. c. pengobatan dilanjutkan dengan uetrotonika. lunak dan nyeri bila ada infeksi. d. nyeri dan demam bila ada infeksi. pembesaran uterus.2 IM .9% • Drips oksitosin 10 IU dalam larutan infus • Preparat besi • Vaksin serap tetanus 1/2 cc • Diagnosis dengan pemeriksaan fisis dan laboratorium a) Subinvolusi Uterus (3) Setelah keadaan umum diperbaiki.

dilakukan bila perdarahan tidak dapat diatasi. pengobatan dilanjutkan pemberian Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari. dan inspekulo untuk mengetahui letak sumber perdarahan jika ditemukan hematoma vulvoginal sebaiknya tidak dilakukan manipulasi. Tindakan kuretase dilakukan kalau perdarahan terjadi terus dalam jumlah banyak atau terjadi kembali setelah dilakukan tindakan . methergin 3 x 0. 3-4 hari kemudian kuretase. (3) Bila perdarahan berkurang atau teratasi pengobatan dilanjutkan dengan uterotonika oral.125 mg/hari selama 5 hari.125 mg selama 5 hari. metilergometrin atau prostaglandin. methergin 3 x 0. (4) (7) Kalau uterus harus dipertahankan untuk kemungkinan mempunyai anak lagi maka sebaiknya diberikan dulu obat secara intravena oksitosin. b) Uterus Involusi (5) Pada pemeriksaan phisis ditemukan uterus involusi baik perdarahan dapat berasal dari hematomi pada jalan lahir. pengobatan dilanjutkan dengan antibiotika perenteral Procain penicillin G 2 juta IU tiap 6 jam. (1) Pemeriksaan phisis. pengobatan dengan konservatif. (4) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan sisa jaringan. hipostrika). tidak ada tanda infeksi. bila tidak berhasil laporotomi untuk dilakukan ligasi arteri uterina atau arteri hipogastrika atau histerektomi (5) . transfusi . tapi bila perdarahan banyak segera kuretase walaupun ada demam.257 (2) Profilaksis diberikan antibiotika Ampicilin 4 x 500 mg sehari selma 5 hari. sisa jaringan dikeluarkan dengan kuretase. tandatanda infeksi positif. Bila perdarahan mereda observasi saja dan bila perdarahan berhenti bisa dipulangkan. (6) Bila ada sisa jaringan disertai infeksi berikan dulu antibiotika sampai suhu turun. Pasca kuret. atau Ampicillin 4 x 500 mg selama 5 hari (5) Bila ditemukan sisa jaringan. uterina atau a. Histerektomi atau ligasi (a.

Profilaksis diberikan antibiotika Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari (2) Bila perdarahan bertambah besar dipertimbangkan tindakan evakuasi hematoma (insisi hematoma). Bila dicurigai perdarahan retroperitoneal. rongga hematoma dijahit dengan jahitan matrax. tindakan defenitif adalah laporotomi. oleh karena bekuan darah dalam hematom menyebabkan gangguan pembekuan.258 darah segar. .

1991: 48 . Gant NF. Obstetric emergency. Post partum emergencies. Obstetrics Williams. Cavaragh D. 3rd ed. Ratologi Kala III dan IV.. In: Cavaragh D. Philadelphia Harper & Row Publishers. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. 1995: 556-63 . 1981.259 KEPUSTAKAAN : 1. 231-7 5. Texas. Gaya Baru. eds. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS 1993 4. Dalam: Obstetri Patologi Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Padjajaran Bandung. Kalipel RA. Oktavianus J. O’Connor TCF. MacDonald PC. POGI. Djasuardi N. O’Connor TCF. Pritchard JA. 1982: 292 3. Kaput JA. Sulaiman SR. mansyur A. Cetakan ke-1 Jakarta. Penatalaksanaan perdarahan pasca persalinan. Woods RE.52 2.

SpOG BATASAN : Infeksi puerperalis adalah infeksi alat genital dalam masa nifas yang ditandai dengan meningkatnya suhu ≥ 38°C yang terjadi selama 2 hari berturut-turut dalam waktu 10 hari pertama pasca salin. dr. DIAGNOSIS : Klinis : (1. Maggie Wewengkang.(1.3) I.2.260 22. Kecualis 24 jam pertama pasca salin. Periode intrapartum Partus lama Periksa dalam yang sering Ketuban pecah dini Monitor janin yang intensif Periode Postpartum .2. INFEKSI PUERPERALIS dr. Periode Antepartum • • • • • • • • • III. Hindar Jaya.menggigil Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi Nyeri perut bagian bawah Nadi cepat Kadang-kadang nyeri bila kencing Kekurangan gizi-anemia Penyakit menahun (DM dan keganasan) Ketuban pecah dini dan partus prematurus Hygene ibu yang jelek Infeksi traktur genetalia II.4) • • • • • Febris ----------.3) FAKTOR PREDISPOSISI : (2.3.

261 •

Subinvolusi rahim

Inspikulo : Lokhia berbau Persiksa dalam vagina : Uterus dan paramterium nyeri pada perabaan PEMERIKSAAN PENUNJANG : (2,3) • • • • Laboratorium rutin lengkap Kultur dan uji sensitifitas USG bila perlu BNO bila perlu

TERAPI : (2,3,4) • • • Antiobiotik spektrum luas yang sesuai untuk penderita. Bila resistensi tergantung hasil kultur Bila ada abses harus dilakukan insisi dan drainase. Jika ada abses pada Cavum Douglasi dilakukan kolpotomi posterior disertai pemasangan drain. Jika terjadi peritonitis dilakukan laparotimi. • Jika terjadi syok septik : Rawat di ICU

262 KEPUSTAKAAN : 1. Cunningham FG. Mac Donal PC. Gants NF. Infeksi puerperalis. Dalam : Ronardy DH. Ed. Alih Bahasa : Suyono J, Hartono A. Obstetri Williams. Edisi 18. Jakarta ; Penerbit Buku Kedokteran ECG, 1995 : 535-52 2. Wiknjosastro H. Infeksi nifas. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, eds Ilmu kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta ; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1991 : 689-99 3. Beydoun SN. Serious postpartum infeksios. In : Fedel HE, ed. Diagnosis and Management of Obstetri Emergencies. London ; Addison-Wesley Publishing Company, 1982 : 233-45 4. Duff P, Gibbs RS. Maternal sepsis. In : Berkowitz RL, ed. Critical Care of the Obstetric Patient. Ist ed. New York ; Churchill Livingstone, 1983 : 189-213.

263 23. SYOK SEPTIK
dr.Efendi Lukas, dr.H.Eddy Moeljono, Sp.OG

BATASAN : Syok septik adalah sindroma Klinik yang dicetuskan oleh masuknya dan menyebarnya produk mikroba ke dalam vaskuler sehingga menyebabkan kegagalan pada mikrosirkulasi, penurunan perfusi jaringan, dan abnormalnya metabolisme seluler (1). PATOFISIOLOGI : 1. Pembebasan endotoksin dari mikroba yang sudah mati diduga menjadi pencetus utama terjadinya syok septik. Endotoksin merupakan kompleks protein lipopolisakarida yang dilepaskan dari membran sel bakteri yang mati dan merupakan stimulan antigen yang kuat, kemudian berikatan dengan antibodi (Ig G dan Ig M) membentuk kompleks endotoksin - antibodi (2). 2. Selanjutnya terjadi pelepasan zat vasoaktif (histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin, SRSA sehingga menyebabkan vasodilatasi arteriol, venokonstriksi dan peninggian permeabilitas membran kapiler, maka terjadi penumpukan (pooling darah) yang menyebabkan (1,2,3). • • • • tekanan hidrostatik dalam kapiler meningkat kerusakan pada dinding kapiler perembesan cairan dalam ruangan vaskuler ke ekstra vaskuler hipovolemik hebat sehingga manifestasi syok menjadi lebih jelas

GEJALA KLINIK : Syok septik dalam bidang Obstetri dan Ginekologi sering terjadi akibat komplikasi post abortus, endometritis post partum, korioamnionitis dan pielonefritis dalam kehamilan. Secara klinis syok septik terdiri dari 2 fase yaitu (2): 1. Syok reversible (syok septik primer) : a. Syok dini (warm hypotensive = stadium hipotensi hangat)

Syok yang irreversibel .120 x/menit) .Pemeriksaan kadar asam laktat dalam darah .kadar asam laktat dalam darah meningkat ( > 15 mg%) .3).Pemeriksaan darah lengkap .koma .anuria . kreatinin .hipotensi .tahanan vaskuler perifer meningkat .takikardi (100 .tahanan vaskuler sistemik meningkat (CVP meningkat) 2. ureum. .asidosis metabolik .Pemeriksaan kimia darah : elektrolit serum. BUN.Urinalisis .Kultur darah dan tes sensitivitas .kulit menjadi hangat dan kemerahan .demam dengan suhu > 39 °C b.suhu tubuh dingin (hipotermia) . Syok lanjut “cold hypotensive” = stadium hipotensi dingin) .Analisa gas darah .oliguria sampai anuria .curah jantung menurun .distres pernafasan dan distres jantung PEMERIKSAAN PENUNJANG : Laboratorium (2.264 .

Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah. gula darah. Hm. lekosit. atau emboli paru akibat tromboflebitis. elektrolit.Hemodinamik : dengan melakukan pemasangan kateter CVP .4) .Produksi urine . 2. • Transfusi darah . .Gagal ginjal .Foto toraks : untuk melihat apakah ada tanda-tanda bronkopneumoni sekunder. denyut nadi. ureum. pernafasan dan suhu tiap 30 menit . fungsi hemostatis.4) .3) : .Laboratorium : Hb. Oksigenasi : Berikan oksigen konsentrasi tinggi Tujuannya untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki (2. sindroma syok paru.4).Sindroma distres pernafasan akut “shock lung” PENANGANAN : Penderita syok septik harus dirawat di ICU dengan monitoring ketat dan dilakukan penanganan multidisipliner (rawat bersama dengan Bagian Anestesiologi dan Bagian Interna) Selama perawatan perlu dilakukan monitoring : (2.Foto tegak abdomen : untuk melihat tanda-tanda perforasi (Ada udara bebas) EKG : bisa tampak depresi segmen ST dan gelombang T terbalik2 USG : untuk melihat adanya cairan bebas sebagai tanda perforasi uterus KOMPLIKASI : (2. Terapi cairan : Untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki.265 Radiologi (2.DIC . trombosit. analisa gas darah Prinsip penanganan terdiri dari : 1. kreatinin.

Penanganan operatif Penanganan operatif meliputi drainase pus. 3. Pemberian kortikosteroid • Deksametason dengan loading dose 20 mg/IV kemudian dilanjutkan 3 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam selama 1-2 hari 6. Tindakan ini dilakukan setelah sistim kardiovaskuler dan pernafasan distabilkan. gangguan asam basa dan elektrolit sudah dikoreksi. Pemberian obat-obat inotropik seperti : Dopamin dan Isoproterenol dilakukan setelah konsultasi dengan Bagian Interna.45 menit atau 20 ml/menit sambil memperhatikan responsnya.266 • Infus Ringer laktat atau Dextrose 5% atau NaCl fisiologis: 1-2 liter dalam waktu 20 . eksisi jaringan nekrotik. 5. 4. LAMA PERAWATAN : Sangat tergantung pada keadaan umum pasien serta ada tidaknya komplikasi . Pemberian antibiotika • Diberikan antibiotik berspektrum luas sebelum ada hasil kultur dan tes kepekaan • Diberikan kombinasi golongan cefalosporin 1gr per12 jam-24 jam (tergantung jenisnya) + Metronidazole 500 mg/12 jam dengan cara pemberian intravena • Atau Ampicillin 1 gr/IV tiap 4 jam dan Gentamycin 80 mg/IV tiap 8 jam + Metronidazole 500 mg/12 jam/IV • Bila hasil kultur dan tes kepekaan sudah ada maka antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil tes kepekaan. kuret atau pengeluaran benda asing. histerektomi.

1982 : 302-19. ed. Bacterial infection. Ferris TF.267 KEPUSTAKAAN : 1. Masalah syok dan penanganannya. 2. Tanra AH. 1985 : 167-80. In : Burrow GN. 4. MKI vol 35. nomor 3. . 3. Major problems in obstetrics and gynecology. Philadelphia.ID. WB Saunders Company. Cavanagh D. Taruli RA. 1976. Vol. eds. Sjattar M. Septic shock in obstetrics and gynecology. Medical complications during pregnancy. 1986 : 345-54. Penggunaan kortikosteroid pada syok septik. Andriole VT. WB Saunders Company. MKI vol 36. In : Friedman EA.11. nomor 7. Comas MR. 2nd ed. Philadelphia. Rao PITON S.

268 SKEMA PENANGANAN SYOK SEPTIK Gejala Gejalaklinik klinik Syok reversibel Syok dini hipotensi kulit hangat dan kemerahan Takhikardi (100-120 x/menit) demam dengan suhu > 39o C Syok lanjut curah jantung menurun tahanan vaskuler perifer meningkat oligura sampai anuria hipotermia CVP meningkat Syok irreversible asidos metabolik kadar asam laktat meningkat (>15mg%) koma anuria distres pernafasan dan distres jantung Pemeriksaan Pemeriksaanpenunjang penunjang Pemeriksaan Laboratorium darah lengkap analisis gas darah kimia darah kadar asam laktat dalam darah kultur darah dan tes sensitivitas urinalis Radiologi : Foto toraks Foto tegak abdomen USG EKG DIAGNOSTIK DIAGNOSTIK SYOK SYOKSEPTIK SEPTIK oksigen terapi cairan obat-obat inotrapik anti biotik keortikosteroid RAWAT DI ICU (kerja sama dengan Bagian Interna dan Anestesi) sistem kardiovaskuler dan pernafasan stabil Gangguan asam basa dan elektrolit dikoreksi drainage pus eksisi jaringan nekrotik histerektomi kuret pengeluaran benda asing PENANGANAN PENANGANAN OPERATIF OPERATIF .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful