115

KHUSUS
1. HIPEREMESIS GRAVIDARUM dr. H.B. Hafied, dr. H.M.M. Palisuri, SpOG BATASAN : Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan, sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidarasi, terdapat aseton dalam urin, bukan karena penyakit seperti apendisitis, pielitits dsb.(1) ETIOLOGI : Tidak jelas(2) KLASIFIKASI : (2,3,4) Secara klinis dibedakan atas 3 tingkat 1. Tingkat I : muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir dan sedikit empedu kemudian hanya lendir, cairan empedu dan terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 x/menit dan tekanan darah sistole menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang, urine masih normal. 2. Tingkat II : Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan , haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih 100 - 140 x/menit, tekanan darah sistole lebih rendah 80 mm Hg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus (+), aseton (+), bilirubin (+), berar badan turun cepat. 3. Tingkat III : Gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, ikterus (+), sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin (+), proteinuria.

116 DIAGNOSIS : (2,3) 1. Amenorea yang disertai muntah hebat (segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan), pekerjaan sehari-hari terganggu, haus hebat. 2. Fungsi vital : nadi meningkat 100 x/menit, tekanan darah turun pada keadaan berat subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma), 3. Fisis : dehidrasi, keadaan berat, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan turun. VT porsio lunak, uterus besar sesuai besarnya kehamilan. 4. Laboratorium : kenaikan relatif Hb dan Hm, shift to the left, benda keton (+) dan proteinuria. PENATALAKSANAAN : (2,3) 1. Rawat di Rumah Sakit, batasi pengunjung. 2. Stop per oral 24 - 48 jam 3. Infus glukosa 10 % atau 5 % : RL = 2 : 1, 40 tetes per /menit 4. • • • • • Vitamin B1, B2, B6 masing-masing 50 - 100 mg per/hari/infus Vitamin B12 200 mcg/hari/infus, vit. C 200mg/hari/infus. Phenobarbital 30 mg im 2 - 3 x/hari ATAU Chlorpromasime 25 - 50 mg/hari im ATAU Diazepam 5 mg 2 - 3 x/hari im. Antiemetik : Prometazine (Avopreg) 2-3 x 25 mg/hari p.o, ATAU Prochlorperazine (Stimetil) 3x3 mg/hari p.o, ATAU Mediamer B6 3x1/hari p.o. Antasida : Acidrine 3x1 tab/hari p.o ATAU Mylanta 3x1 tab/hari p.o ATAU Magnam 3x1 tab/hari p.o 5. Diet : a. Diet Hiperemsis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat-zat gizi, kecuali vitamin c, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. b. Diet Hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang, Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.

117 c. Diet Hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium.

2. ABORTUS dr. Rudianto HP, dr. Retno B. Farid, SpOG BATASAN: Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. (1,2,3,4) Abortus komplit adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang 20 minggu. Abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri. Abortus insipiens adalah abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri. Abortus membakat adalah abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. “Missed abortion” adalah abortus dimana embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih Abortus habitualis adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.1 Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia . Abortus septik adalah abortus infeksiosa berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum.(2) KLASIFIKASI : I. Menurut terjadinya dibedakan atas : (1,5,6) 1. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja.

Abortus membakat 2.6) 1. b. DIAGNOSIS : (1. abortus infeksiosa dan abortus septik.6) 1.2. mungkin disertai jaringan hasil konsepsi 3. Kelainan traktus genitalis 5. PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1) 1.3. ETIOLOGI : (2.4.4. GDS. dibedakan atas : (1. Adanya amenore pada masa reproduksi dengan hasil tes kehamilan positif/pernah positif 2.2) 1. . waktu perdarahan. Kelainan telur (ovum yang patologik ) 2. Penyakit ibu. Missed abortion Disamping itu dikenal pula abortus habitualis. Abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. waktu bekuan. mental serta kehidupan ibu hamil. leukosit. Pemeriksaan laboratorium : tes kehamilan. II. Abortus provokatus medisinalis ( terapeutik ) yaitu abortus yang dilakukan atas indikasi medis. Abortus komplit 5. dan kadar fibrinogen pada “missed abortion ”. pemeriksaan lain yang diperlukan untuk melacak abortus habiatualis seperti HSG. Pemeriksaan USG 2. Abortus provokatus (induksi abortus) hanya dibolehkan bila bertujuan menjaga kesehatan fisik. Abortus inkomplit 4. Abortus insipiens 3. Kelainan pada plasenta 4.118 2. Perdarahan pervaginam.(7) Abortus yang disengaja ini dapat bersifat murni medisinalis. Rasa sakit atau keram perut pada daerah atas simfisis. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi 3. hemoglobin.5. trombosit. tetapi dapat pula bersifat medisinalis kriminalis tergantung dari pelaku abortusnya yang dibedakan antara : a. hormonal. Toksoplasmosis. Menurut gambaran klinis.

”Missed abortion” • Perdarahan • Keluhan kehamilan hilang • Tinggi fundus uteri menetap. bila inkomplit diterapi sesuai ab.BT. Abortus membakat • • • • • • Gejala klinis Amenore Tanda -tanda hamil muda Perdarahan pervaginam sedikit Nyeri/mules Ostium uteri internum tertutup USG : kantung gestasi utuh Penatalaksanaan • Tirah baring minimal 2X24 jam • Fenobarbital 3X30 mg/hari kalau perlu 2. Abortus insipiens • Perdarahan pervaginam • Nyeri/mules lebih sering/kuat • Ostium uteri terbuka.bila inkomplit di terapi sesuai ab.inkomplit. Abortus komplit • • • • Perdarahan pervaginam sedikit Hasil konsepsi sudah keluar Uterus kecil Ostium uteri tertutup 5.) • Kadang disertai fluor warna coklat • USG : janin mati • Periksa CT. Fibrinogen. bahkan mengecil • Tes kehamilan ( .7 hari/oral • Metyhl ergometrin 3X1/oral /hari 5 hari • Hematinik • Methyl ergometrin 3X1/hari • Hematinik 3. kadang disertai syok Ostium uteri terbuka USG : kantung gestasi tidak utuh . Abortus inkomplit • • • • Perdarahan pervaginam banyak Nyeri. Inkomplit • Perbaiki keadaan umum • Kosongkan uterus dengan kuret • Amoxycillin 3X500mg/oral / hari 5 .Hb dan leukosit normal.119 PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan abortus tergantung dari jenis abortusnya : Diagnosis 1.sisa hasil konsepsi 4. Trombosit. • Kehamilan < 12 minggu bila komplit diterapi sesuai abortus komplit. ketuban menonjol • Hasil konsepsi masih utuh dalam uterus • Kehamilan ≥ 12 minggu bila diterapi sesuai abortus komplit. transfusi darah • Dilatasi serviks • Bila kehamilan ≤ 12 minggu lakukan kuret • Bila kehamilan > 12 minggu diberikan tetesan Oksitosin 20 -30u dalam 500cc Dextrose 5% mulai 20 tetes/menit bila tidak timbul .

5 gr/oral/hari ( 5 hari ) • Bila perdarahan terus. peritonitis. kemudian 3 X 0. transfusi darah dilanjutkan kuret • Bila ada tanda-tanda resistensi PP.120 kontraksi uterus. unit /6 jam im takikardia. segera kuret • Bila tidak berdarah. Abortus habitualis • Abortus yang terjadi 3 kali berturut-turut atau lebih • Pada inkompetensi serviks dapat dilakukan operasi menurut Shirodkar atau Mac Donald.5 gr/12jam IM • Metronidazol 0. nadi lebih cepat.infus RL. dosis dinaikkan 10 u tiap 30 menit tanpa mengubah kecepatan tetesan sampai timbul kontraksi uterus dan ini dipertahankan.5 gr/12jam IM pervaginam yang berbau.5gr/infus dilanjutkan 1 gr/oral. dosis tertinggi 140 u • Bila dengan dosis tersebut tidak berhasil.(2) • Terapi dengan hormon progesteron. nyeri tekan dan kemudian leukositosis • Bila syok/perdarahan (N>120X/menit). (8) 7. Abortus infeksiosa • Diabetes melitus ( lihat penatalaksanaan DM dalam kehamilan) • Adanya tanda-tanda infeksi • Procaine PenicillineG 1 juta genitalia seperti panas.dilakukan biakan darah dan tes kepekaan • Gejala seperti abortus infeksiosa hanya lebih berat. (7) 6. uterus • Bila tidak syok.100 mg/kgBB/hari.(2) • Toksoplasmosis diterapi dgn Spiramisin 50 . demam lebih tinggi.48 jam.kuret 6 jam setelah pemberian obat • Dilakukan histerektomi total bila 8. Abortus septik .kuret 24 jam besar lunak. perdarahan • Streptomycin 0. tensi lebih rendah bahkan sampai syok • Periksa biakan darah dan tes kepekaan • Procaine PenicillineG 10 juta unit/6 jam im • Streptomycin 0.tiroid bila kekurangan hormon ini.diulangi lagi setelah istirahat 24 .

Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menanda tangani surat persetujuan tindakan. IMS. kecuali bila ada komplikasi. (9) Abortus septik dengan syok lihat penatalaksanaan septik syok. Perforasi : Untuk mencegahnya: pemberian uterotonik. SpOG BATASAN : Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana ovum yang telah dibuahi tidak berinplantasi ditempat yang biasa. dr. KEHAMILAN EKTOPIK dr.(1) PENYULIT : (1.121 gagal kuret. Infeksi :Kasus abortus yang datang dalam keadaan infeksi harus mendapat perlindungan antibiotik dulu sebelum dikuret 3. (1) 3.2. Murah Manoe. Syok LAMA PERAWATAN : Setelah kuretase pasien tidak perlu dirawat. Welchii. Anemia:Biasanya anemia post hemoragi. infeksi oleh Cl. kerusakan alat abdomen. tetapi berinplantasi diluar endometrium kavum uteri (1) .6) 1. Bila Kehamilan Ektopik tersebut berakhir dengan abortus atau ruptur disebut Kehamilan Ektopik Terganggu (2) ETIOLOGI : (3) .diatasi dengan transfusi darah bila Hb < 8 gr% 2.tanda perforasi uterus. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi. kuretase secara sistimatis dan “lege artis” 4. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0. Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. Helida Abbas.5 cc IM (10) Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang kerumah. ada tanda. sondase uterus.

2. Tes kehamilan positif (+) membantu diagnosis.98% dari seluruh Kehamilan ektopik). Kehamilan ovarium Kehamilan intraligamenter Kehamilan abdominal Kehamilan ektopik pada uterus Inflamasi Infeksi Pembedahan 1. adanya tumor didaerah adneksa Adanya tanda-tanda syok hipovolemik yaitu. Trias klasik Kehamilan ektopik yaitu : • • • Terlambat haid (amenore) Nyeri perut suprapubik Perdarahan pervaginam berupa bercak. • • • • Didapatkan rahim yang juga membesar.4). Ditemukan nyeri ketok. hipotensi.122 Kerusakan tuba dapat disebabkan : • • • LOKASI : (1. mungkin ringan atau berat bahkan mungkin ditemukan nyeri bahu menunjukkan bahwa perdarahan peritonium telah mengiritasi diafragma (1. pucat dan ekstremitas dingin. Nyeri bisa dirasakan bilateral atau unilateral atau hanya perut bagian bawah. Berat ringannya nyeri tergantung pada jumlah darah yang terkumpul dalam peritonium. takikardi. 2. Anamnesis dan gejala klinis.2) • • • • • DIAGNOSIS : Kehamilan tuba (95% . nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen. Pemeriksaan ginekologis . Pemeriksaan fisis . Adanya tanda-tanda abdomen akut yaitu perut tegang bagian bawah.

3. bukan hamil ektopik  konservatif.2.Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri .4) Radang panggul Kista ovarium pecah dan mengalami perdarahan Torsi kista ovarium Abortus iminens Endometriosis Apendisitis Konsultasi  bila perlu ke bagian bedah. . Laparoskopi diagnosis. nyeri tekan (+). dilakukan observasi dan USG.Adanya kantung kehamilan diluar kavum uteri. Pemeriksaan dalam : − Serviks teraba lunak − Nyeri goyang serviks (+) − Kanan/kiri uterus : Nyeri pada perabaan dan dapat teraba massa tumor − Kavum douglasi bisa menonjol.123 Pemeriksaan dengan spekulum : ada fluksus sedikit. . leukosit dan ß HCG USG : .3) • • • Perbaiki keadaan umum Kehamilan ektopik dengan gejala klinis jelas + pemeriksaan penunjang (+) siapkan laparotomi Curiga Keamilan ektopik. DIAGNOSIS BANDING : ( 1. PENATA LAKSANAAN : (1. bila (+)  laparoskopi . • Hasil laparoskopi. Pemeriksaan penunjang • • Labotratorium : Hb.Adanya massa komplek dirongga panggul • • • • • • • • Kuldosentesis  untuk mengetahui adanya daerah dalam kavum douglas.2.

Kehamilan serviks. keluarkan anak saja dan plasenta di tinggalkan. tampon atau ligasi arteri hipogastrika. lakukan kuret. lakukan salpingektomi Kehamilan ovarium.124 • • Bila laparoskopi Kehamilan ektopik  laparotomi/tindakan sesuai tempat kejadian Laparotomi bila . . lakukan ovarial kistektomi Kehamilan abdominal. • • • • Kehamilan tuba. bila anak cukup histerektomi total.

gol darah Tes kehamilan USG Laparoskopi Tidak jelas Gejala klinis Observasi GK & USG Laparotomi tindakan Sesuai tempat kejadian Kehamilan Kehamilanektopik ektopik Laparoskopi Bukan hamil ektopik TUBA OVARIUM ABDOMINAL/ Hamil lanjut Hamil muda Konservatif SERVIKS Interstisial kornu Tuba kontra lateral Lekat dengan tuba Tidak lekat dengan tuba Tidak baik Baik Tuba kontra lateral Keluarkan anak saja tinggalkan plasenta Reseksi baji ooforektomi Anak cukup tidak mau anak mau anak Anak cukup tidak mau anak Anak tidak ada Salpingektomi dg ovarial kistektomi Histerekto mi Reseksi kornu histerektomi Masih mau anak Anak tidak ada mau anak tidak mau anak Tubektom i Kuret+tampon ligasi A hipogastrika Slpingektomi Bilateral Slpingektomi Unilateral Tuba dibiarkan Salpingostomi Slpingektomi parsial Salpingostomi Slpingektomi Unilateral . Hb. Hm. Leuko.125 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN EKTOPIK CURIGA KEHAMILAN EKTOPIK Gejala Klinis Amenore Nyeri abdomen suprapubik Perdarahan bercak Lab.

2). sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian.2.H. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematia mudigah3. MOLAHIDATIDOSA dr. • • • • • • Hiperemesis gravidarum Tanda-tanda preeklampsia pada trimester I Tanda-tanda tirotoksikosis Kista lutein unilateral/bilateral Umumnya uterus lebih besar dari usia kehamilan Tidak dirasakan tanda-tanda adanya gerakan anak. GEJALA KLINIK : (1. dimana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan ke dalam vili sehingga timbul gelembung.126 4. Perdarahan ini bisa intermitten.A. Karena perdarahan ini maka umumnya penderita mola hidatidosa masuk rumah sakit dalam keadaan anemia. dr.2. yang mempunyai fungsi abnormal pula. PATOFISIOLOGI : Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblas. balotemen negatif kecuali pada mola parsial PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1. Pertama teori missed abortion : Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion). karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari vili dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung.3) .Arifuddin Djuanna. Kedua teori neoplasma dari Park yang mengatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas.Efendi Lukas.3) • Adanya tanda-tanda kehamilan disertai dengan perdarahan. SpOG BATASAN : Molahidatidosa adalah penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kistik villi dan perubahan hidropik(1.

127 • • • • Foto toraks Pemeriksaan hCG urin atau serum Ultrasonografi Uji sonde menurut Hanifa. Sonde masuk tanpa tahanan dan dapat diputar 360 ° dengan deviasi sonde kurang dari 10° • T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis PENANGANAN : Terapi mola hidatidosa terdiri dari 3 tahap yaitu : 1. Perbaikan keadaan umum(4.6) .5) • • • • • Dilakukan setelah pemeriksaan persiapan selesai (pemeriksaan darah rutin. Histerektomi (1. kadar βhCG serta foto toraks) kecuali bila jaringan mola sudah keluar spontan Bila kanalis servikalis belum terbuka.UNHAS Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis dikonsulkan ke Bagian Penyakit Dalam 2. maka dilakukan pemasangan laminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian Sebelum kuretase terlebih dahu. Kuretase (3.u siapkan darah 500 cc dan pasang infus dengan tetesan Oxytocin’S 10 IU dalam 500 cc Dextrose 5% Kuretase dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval minimal 1 minggu Seluruh jaringan hasil kerokan dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi B. Pengeluaran jaringan mola Dengan cara : A.5) • • • • Koreksi dehidrasi Transfusi darah bila ada anemia (Hb ≤ 8 gr%) Bila ada gejala preeklampsia dan hiperemesis gravidarum diobati sesuai dengan protokol penanganan di Bagian OBSGIN FK.2.

foto toraks ditemukan adanya metastasis maka penderita harus KOMPLIKASI : (1. dan foto toraks setelah satu tahun semuanya normal) maka penderita tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi dan hamil lagi • Bila selama masa observasi kadar β-hCG tetap atau bahkan meningkat dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi atau pada pemeriksaan klinis.3) • • Lama pengawasan berkisar satu sampai dua tahun Selama pengawasan penderita dianjurkan memakai kontrasepsi kondom. pemeriksaan fisk. Umur ≥ 35 tahun Anak hidup ≥ 3 orang Pemeriksaan tindak lanjut(1.2) • • • • • • Perdarahan hebat Anemia Syok Infeksi Perforasi uterus Keganasan (PTG) LAMA PERAWATAN : Bila tidak ada komplikasi yang berat maka lama perawatan kurang lebih 7 hari . pil kombinasi atau diafragma dan pemeriksaan fisik dilakukan setiap kali pada saat penderita datang kontrol • • • Pemeriksaan kadar β-hCG dilakukan setiap minggu sampai ditemukan kadar β-hCG normal 3 kali berturut-turut Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan setiap bulan sampai kadar β-hCG normal selama 6 kali berturut-turut Bila telah terjadi remisi spontan (kadar β-hCG.128 • • 3.

kadar β-hcg .darah rutin * kecuali bila terjadi perdarahan maka pemeriksaan foto toraks dan kadar β-hcg dilakukan setelah kuret . KONDOM TUBEKTOMI PERIKSA KADAR β-hCG TIAP MINGGU REMISI SPONTAN BILA : KADAR β-hCG NORMAL 3 x BERTURUT-TURUT KADAR β-hCG MENETAP/MENINGGI EVALUASI METASTASIS & TERAPI SEBAGAI PTG Keterangan : * sebelum kuret periksa .129 SKEMA PENATALAKSANAAN MOLA HIDATIDOSA MOLA HIDATIDOSA PERBAIKI KEADAAN UMUM PENGELUARAN JARINGAN MOLA PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT HISTEREKTOMI BILA : UMUR ≥ 35 THN ANAK HIDUP ≥ 3 * KURET I & II PAKAI KB PIL.foto toraks .

Menurunnya aliran darah umbilikus KLASIFIKASI(1) Akut : Klinis : ETIOLOGI (2) Akut : Ibu : • • • • • • • • • Hipotensi (misalnya “Supine hypotensive syndrome”) Hipoksia atau hiperkarbia (misalnya “maternal aspiration syndrome”) Gangguan pernafasan (shock-lung..2) Asfiksia atau hipoksia biasanya ditimbulkan oleh 3 mekanisme : (2) 1. Menurunnya aliran darah uteroplasenter 2. bronchospasm”) Hipertensi pada kehamilan Syok (”hemorrhagic.(1.130 5. IMS. dr. berat dan nyata sehingga terjadi kegagalan mekanisme kompensasi. ASFIKSIA INTRAUTERIN dr. maka gejala asfiksia tampak jelas. cardiac. Menurunnya oksigenasi ibu 3. Ny. Murah M. septic”) “Sickle cell crisis” Berupa episode hipoksemia sementara yang tidak disertai asidosis Uterus : Hipertonik atau “polysystole” Pemberian oksitosin yang berlebih Ruptur uteri Plasenta . Setia Budi. SpOG BATASAN : Asfiksia intrauterina adalah keadaan kekurangan oksigen dan adanya penimbunan karbon-dioksida yang menyebabkan asidosis intrauterina akibat gangguan pertukaran gas melalui plasenta dan jika beban tersebut lama.

myocarditis”) Kelainan kongenital Perdarahan “Iso immunozation” Solusio plasenta plasenta previa “Premature placental aging” Tali pusat : Prolaps Ruptur vasa previa Terjepit atau tali pusat pendek Tali pusat tersimpul Kronis : Ibu : • Spasme pembuluh darah : • • • • Hipertensi kronis Hipertensi pada kehamilan DM Sirkulasi sistemik yang tidak adekuat : • • Penyakit jantung yang berat Anemia berat • Oksigenasi yang tidak cukup didalam darah : • • • Penyakit jantung sianotik “longeterm pulmonary shunting” Tinggal didaerah tinggi Plasenta : • “Prematur placental aging” • DM .131 • • • • • • • Fetus : • • • • Payah jantung (“hydrops fetalis. tachyarrhythmia.

6) Oligohidramnion Pertumbuhan janin terhambat Pewarnaan mekoneum pada cairan ketuban PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1.2. NST.132 Fetus : • • • • • • “Postmaturity syndrome” Kehamilan multiple “Twin-to-twin transfusion” Kelainan kongenital “Erythroblastosis fetalis” “Maternal-fetal transfusion” KRITERIA DIAGNOSIS : Akut : (1. OCT USG Fetal blood sampling (pengambilan contoh darah janin) Amnioskopi PENANGANAN : (1) • • Resusitasi intra uterin (lihat Bab resusitasi intra uterin) Terminasi kehamilan tergantung keadaan asfiksia dan keadaan janin .4.2.3.4. tonus janin) berkurang atau menghilang Perubahan PH janin Kronis : (1.4.3.5) • • • • Kardiotokografi (KTG).5) • • • • • • FHM (Fetal Heart Monitoring) memperlihatkan adanya kelainan Profil biofisik janin (gerak janin.

133 .

yang disebabkan oleh kombinasi faktor ibu dan faktor janin. Tipe I (simetrik) : Terjadi pada saat dini dari suatu kehamilan dimana terjadi pengecilan semua ukuran baik berat maupun panjang janin. SpOG BATASAN : Pertumbuhan janin terrhambat keadaan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim. sehingga beberapa parameter janin berada dibawah 10 persentil dari umur kehamilan yang seharusnya. Suzanna SP. Tipe II (asimetrik) : Biasanya terjadi pada trimester III dari suatu kehamilan juga dapat terjadi pada periode postterm dari suatu kehamilan.(1) . (1) PATOFISIOLOGI : Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian pertumbuhan janin terhambat (PJT) dapat dibedakan atas : (1) • Faktor ibu : • • • • • • • • Faktor plasenta : • Faktor janin : • • • • Penyakit hipertensi Malnutrisi Anemi berat Penyakit paru kronis Penyakir jantung sianotik Perokok Insufisiensi plasenta Cacat bawaan Trisomi Kehamilan kembar Infeksi intrauterin : ~ AIDS ~ TORCH Ada 3 tipe pertumbuhan janin terhambat : 1. PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT dr. Aphrodite pandin.134 6.(2) 2. (2) 3.. karena itu akan mempengaruhi jumlah sel pada seluruh tubuh janin. Tipe kombinasi.. Meskipun demikian selama trimester II hiperplasia selluler dan hipertrofi selluler dapat terjadi dan gambaran yang tidak simetrik. dr.Terjadi pada saat hiperplasia selluler.

Pemeriksaan klinik : pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) dan linkaran perut (LP).3) Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi .135 DIAGNOSIS : 1. Pemeriksaan Kardiotokografi : (1. Kecurigaan PJT ditegakkan apabila TFU menetap pada 2 kali pemeriksaan dengan selang waktu 1-2 minggu atau menurun dibawah garis 10 persentil. Anamnesis : Ada riwayat / faktor risiko : (1.3) • • • • • • • • • • • BPD Panjang femur Lingkaran kepala Lingkaran perut Volume air ketuban Cacat bawaan Taksiran berat badan janin Kondisi biofisik janin Kematangan plasenta 4. (1. (3) 3.3) • • • • • • • Hipertensi Anemia kronis Penyakit jantung sianotik Pemakaian obat-obatan Merokok Infeksi Riwayat PJT sebelumnya 2. (1) Penambahan berat badan ibu kurang dari 7 kg pada saat aterm atau berat badan ibu kurang dari 45 kg.3. USG berkala untuk menentukan : (1.4) Kecurigaan PJT ditegakkan apabila tidak ditemukan penambahan berat badan ibu pada 2 kali pemeriksaan dengan selang 1 atau 2 minggu.

penyakit ginjal. bila perlu dilakukan setiap hari pada pasien DM. Bila pertumbuhan janin tidak ada. Malnutrisi : konsultasi/kerjasama bagian gizi. AIDS : kerja sama dengan Bagian Penyakit Dalam Anemi : Koreksi anemi dengan pemberian tablet besi Terminasi kehamilan : sesuai penatalaksanaan terminasi kehamilan / induksi persalinan.3) • • • • • • • Istirahat baring (tidur miring) Minum lebih dari 2000 ml/hari Makan lebih dari 2100 kal/hari Secara khusus : Hipertensi (preeklampsia) : sesuai penatalaksanaan preeklampsia. Penyakit paru kronik. (1. TERAPI : Terapi kausal terhadap penyebab atau penyakit yang mendasarinya. maturitas paru cukup (biasanya pada kehamilan 35 minggu). Secara umum setiap kasus PJT dikelola sebagai berikut : (1. terminasi dilakukan pada kehamilan 37 minggu. lakukan terminasi. penyakit jantung sianotik. Bila pertumbuhan janin berdasar USG masih berlangsung.3) .136 Secara berkala tiap 7 hari.

137 SKEMA PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT Faktor Faktorrisiko risikoPJT PJT Konfirmasi penyakit Konfirmasi penyakityang yangendasari endasari Pemeriksaan PemeriksaanTinggi Tinggifundus fundusuteri uteri dan danberat beratbadan badanibu ibu Ulangi 2 minggu Kecurigaan KecurigaanPJT PJT USG Serial (normal) PJT Tidak simetris Tidak cacat Umur kehamilan simetris Cacat ringan Cacat berat ≥ 37 minggu 37 minggu Pertimbangkan terminasi kehamilan Terminasi kehamilan Evaluasi kesejahteraan janin USG + Doppler Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi Evaluasi kembali tiap minggu spi aterm Gawat janin Tidak gawat janin Akhiri kehamilan (Bila memungkinkan. berikan dulu Betametason 12mg/hari selama 2 hari .

• Palpasi : diatas kehamilan 20 minggu • • Auskultasi : Riwayat amenore. SpOG BATASAN : Kematian janin dalam rahim adalah kematian janin dalam uterus yang beratnya 500 gr atau lebih. USG: Tidak ditemukan pulsasi ajntung embrio mulai kehamilan 6 minggu dengan USG transvaginal. “Deformed or collapsed head”. dr. kadang ditemukan fluksus pervaginam yang Biasanya tinggi fundus uteri lebih kecil atau sesuai umur kehamilan.2) Molahidatidosa (1. tidak dirasakan gerakan anak.138 7. DIAGNOSIS : Diagnosis didasarkan atas ditemukannya gejala dan tanda-tanda dibawah ini (2) : • Anamnesis : berwarna coklat. dan sekitar 6-7 minggu dengan USG transabdominal dan tidak tampak gerakan janin pada kehamilan 10 minggu (3) . DIAGNOSIS BANDING : • • Mioma uteri (1. Moeljono.R.E.2) PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. KEMATIAN JANIN DALAM RAHIM dr. serviks kaku. Rahmat Landahur. H. gerakan janin tidak ada Tidak terdengar bunyi jantung janin Pemeriksaan dalam vagina : Ditemukan uterus lebih kecil atau sesuai umur kehamilan. usia kehamilan telah mencapai 20 minggu atau lebih (1). Dapat ditemukan gambaran “Double line of the fetal head”. belum ada pembukaan serviks. “Overlapping the skull bones” (4) .

Perforasi INFORMED CONSENT : (1) Sebelum tindakan dan dengan persetujuan tertulis 8. balon kateter Induksi : oksitosin. trombosit fibrinogen tiap minggu b. c.2) a. LAB (2) : • • • • Waktu perdarahan Waktu pembekuan Hitung thrombosit Fibrinogen PENANGANAN : (1. Bila ada gangguan pembekuan darah 3. Bila segera tindaki 2. spalding sign (overlapping dari tulang-tulang kepala). tulang belakang melengkung.2) 1. prostaglandin tablet vagina PERAWATAN RUMAH SAKIT : (1. Robert Sign (ditemukan gas dalam tubuh fetus). Penyulit Infeksi berat PENYULIT : (1. Halo Sign (bayangan radiolusen yang melebar antara kulit kepala dan tulang kepala fetus). dianjurkan pada kehamilan 16 minggu. Aktif : Dilatasi dengan batang laminaria.2. Foto polos abdomen bila diperlukan.2) 1. posisi janin abnormal (1. Tanda yang ditemukan. Penyakit gangguan pembekuan darah 2.139 b. Konservatif/pasif : • • • • • Rawat jalan Menunggu persalinan spontan 2-3 minggu Pemeriksaan kadar hematokrit. PERDARAHAN ANTEPARTUM .3).

140
dr. Neni Moerniaeni, dr. John Rambulangi, SpOG

BATASAN : Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu (1). Klasifikasi perdarahan antepartum yaitu : (2) 1. Plasenta pervia 2. Solusio plasenta 3. yang tidak jelas sumbernya (idiopatik) Pada penatalaksaan ini dibahas mengenai plasenta previa, solusio plasenta dan vasa previa. Tabel : Perbedaan klinis antara plasenta previa dan solusio plasenta (2)
KLINIS PLASENTA PREVIA tidak Ya merah segar sesuai darah yang keluar perlahan-lahan sewaktu hamil biasanya tidak ada Biasa Ada jaringan plasenta tidak masuk PAP mungkin abnormal Ya tidak merah coklat tidak sesuai Tiba-tiba sewaktu hamil dan inpartu Ada Tegang biasa tidak ada ketuban tegang dapat terjadi tidak ada hubungan SOLUSIO PLASENTA

1. Perdarahan dengan nyeri 2. Perdarahan berulang 3. Warna merah 4. Anemia / renjatan 5. Timbulnya 6. Terjadinya 7. His 8. Palpasi 9. denyut jantung janin 10. 11. 12.
Periksa dalam vagina Penurunan Presentasi

141 PLASENTA PREVIA BATASAN : Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal, yakni pada segmen bawah rahim (SBR), sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ositium uteri internum).
(2)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu yakni : (2) 1. Plasenta previa totalis 2. Plasenta previa lateralis : bila seluruh pembukaan tertutup oleh plasenta : bila hanya sebagian dari pembukaan tertutup oleh plasenta.

3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan. 4. Plasenta letak rendah : bila plasenta berada 3 - 4 cm di atas pinggir pembukaan. ETIOLOGI : Tidak jelas. (2)

DIAGNOSIS : (2) 1. Anamnesis, adanya perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 20 minggu, berlangsung tanpa sebab. 2. Pemeriksaan luar sering didapati kelainan letak, bila letak kepala maka kepala belum masuk PAP. 3. Inspekulo, adanya darah dari otsium uteri eksternum. 4. USG untuk menentukan letak plasenta. 5. Penentuan letak plasenta secara langsung dengan meraba langsung melalui kanalis servikalis, tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak, karena itu cara ini hanya dilakukan diatas meja operasi. PENATALAKSANAAN : (2) 1. Konservatif bila : a. Kehamilan < 37 minggu b. Perdarahan tidak ada / tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).

142 c. Tempat tinggal penderita dekat dengan rumah sakit (dapat ditempuh dalam waktu 15 menit). Pada perawatan konservatif dilakukan : • Istirahat, atasi anemia beri hematinik, spasmolitik, antibiotik bila ada indikasi., periksa USG, periksa Hb dan hematokrit. Bila selama 3 hari tidak berdarah dilakukan mobilisasi bertahap dan bila tidak berdarah penderita dipulangkan. Bila timbul perdarahan segera ke rumah sakit dan tidak boleh bersanggama. 2. Penanganan aktif bila : a. Perdarahan banyak, tanpa memandang usia kehamilan. b. Umur kehamilan ≥ 37 minggu c. Anak mati Penanganan aktif dapat berupa persalinan pervaginam atau perabdominal. Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double 33set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : a. Plasenta previa marginalis b. Plasenta letak rendah. c. Plasenta previa lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk PAP dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit, maka dilakukan amniotomi diikuti dengan drip Oxitocin’s untuk partus pervaginam bila gagal drips (sesuai dengan bab terminasi kehamilan), bila perdarahan banyak dilakukan seksio sesar. Sedang indikasi melakukan seksio sesar bila : • • • • • • Plasenta previa totalis Perdarahan banyak tanpa henti Presentasi abnormal Panggul sempit Keadaan serviks tidak menguntungkan (belum matang) Gawat janin

Pada keadaan dimana tidak memungkinkan untuk dilakukan seksio sesar maka dilakukan pemasangan Cunam Willet atau Versi Braxton - Hicks.

SOLUSIO PLASENTA

haematokrit dan trombosit. pelepasan plasenta kurang dari 1/6 bagian permukaan. Penatalaksanaannya meliputi : a. kemudian penentuan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. Pemberian transfusi darah . terdapat tanda pre renjatan. fibrinogen. kadar fibrinogen plasma lebih dari 120 mg %. Ringan : Perdarahan kurang dari 100 . karena itu kadang diperlukan pemeriksaan penunjang yaitu USG. uterus tidak tegang. janin mati pelepasan plasenta bisa terjadi lebih dari 2/3 bagian atau keseluruhan. Sedang : Perdarahan lebih dari 200 cc. terdapat tanda renjatan. janin hidup. PENATALAKSANAAN : (2) Tergantung dari berat ringannya kasus. Bila proses berhenti secara berangsur penderita dimobilisasi. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik. memperbaiki anemia. (2) Klasifikasi berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1. menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. dengan USG juga dimaksudkan untuk menyingkirkan plasenta previa. pemberian sedatif. 3.143 BATASAN : Solusio plasenta adalah pelepasan plasenta sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir. belum ada tanda renjatan. Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb. Pada solusio plasenta sedang dan berat maka penanganan bertujuan untuk mengatasi renjatan. Pada solusio plasenta ringan dilakukan istirahat. uterus tegang.200 cc. pelepasan plasenta ¼ sampai 2/3 bagian permukaan. 2. gawat janin atau janin telah mati. kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. ETIOLOGI : Tidak jelas(2) DIAGNOSIS : (2) Pada solusio plasenta ringan kadang sulit menentukan diagnosis karena tidak semua gejala klinis nampak nyata .

Pemecahan ketuban (amniotomi) c. Pemberian infus Oxytocin’s d. f. Dengan demikian transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc. d. e. Preeklampsia berat. c. berarti perdarahan yang terjadi sekurang-kurangnya sebanyak 1000 cc. Ketuban segera dipecahkan dengan maksud untuk mengurangi regangan dinding uterus dan untuk mempercepat persalinan diberikan infus Oxytocin’s 5 UI dalam 500 cc Dextrose 5 %. g. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam. Sedang seksio sesar dilakukan bila: a. Pelvik score < 5.144 b. b. Perdarahan banyak. Panggul sempit. Letak lintang. VASA PREVIA BATASAN : . Pembukaan tidak ada atau < 4 cm. Kalau perlu dilakukan seksio sesar Bila diagnosis solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan.

Jakarta 1991 : 9 . Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNHAS. ukuran janin. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti djj yang tidak beraturan. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. PENATALAKSANAAN : (2) Sangat bergantung pada status janin. Gasong MS. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin. Rambulangi J. Perdarahan antepartum. .Betke serta hapusan darah tepi. (2) ETIOLOGI : Tidak jelas (2) DIAGNOSIS : (2) Pada pemeriksaan dalam vagina dirabanya pembuluh darah pada selaput ketuban. Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Namun bila janin sudah meninggal atau imatur dilakukan persalinan pervaginam. 2. Penatalaksanaan perdarahan antepartum.145 Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera.13. KEPUSTAKAAN : 1. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer . Ujung Pandang 1997. maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan kardiotokografi. deselerasi atau bradikardi khususnya bila perdarahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. tentukan lebih dahulu umur kehamilan. Hartono E. Moerniaeni N.

kepala masuk panggul dan perdarahan < Pulang * Amniotomi Infus Oxitocin’s P. bila tetap darah (-) P. Fisik Pem. jarak tempat tinggal penderita dengan rumah sakit harus dapat ditempuh dalam 15 menit.146 SKEMA PENATALAKSANAAN PERDARAHAN ANTEPARTUM Perdarahan antepartum Diagnosis Anamnesis Pem.ltk. rendah. bila berdarah segera ke rumah sakit. Lab USG Vassa previa Sedang atau berat Kehamilan ≥ 37 minggu Penilaian maturitas janin Janin mati atau imatur Janin hidup (prematur atau aterm) Plasebta previa Solusio plasenta Ringan Kehamilan < 37 minggu Kehamilan ≥ 37 minggu Kehamilan < 37 minggu Perdarahan (-) Perdarahan >> Anak mati Istirahat R/ Hematinik Antibiotik k/p Spasmolitik Periksa USG Periksa Hb. p. Fibrinogen Gejala Progresif Persalinan pervaginam PDMO (Double set up) Darah (-) Nyeri (-) Uterus tidak tegang Pulang Resusitasi cairan Transfusi darah Amniotomi Infus Oxytocin’s 3 hari darah (-) mobilitas bertahap. serviks sudah matang. . marginalis. Hm Istirahat Sedatif Observasi Periksa HB. Totalis/lateralis Perdarahan >> Presentasi abnormal Panggul sempit Gawat janin Serviks belum masuk panggul 6 jam belum partus Serviks belum matang Perdarahan >> Pembukaan <4 cm atau (-) Panggul sempit Letak lintang Toksemia gravidaru Pelvic Score <5 Berhasil Pervaginam Gagal atau Perdarahan >> Seksio sesar *) Dianjurkan untuk tidak kerja keras dan tidak boleh bersanggama.

4. dinding perut. Ong Tjandra. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : 1. atau sistol ≥ 140 mmHg (< 160 mmHg) diastol ≥ 90 mmHg (< 110 mmHg). Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu pada penyakit tropoblas. SpOG PREEKLAMPSIA RINGAN BATASAN : (1. Proteinuri : > 0. PATOFISIOLOGI : (4) Penyebabnya sampai sekarang belum jelas benar. GEJALA KLINIS : (4) 1. Kenaikan tekanan darah sistol ≥ 30 mmHg atau diastol ≥ 15 mmHg (dari tekanan darah sebelum hamil) pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Edema pada Pretibia. John Rambulangi. 3. wajah/tangan. Proteinuri : gr/lt dalam 24 jamatau secara kwalitatif (+ +) 3. Kenaikan tekanan darah (≥ 140/90 mmHg) dengan pemeriksaan 2 x selang 6 jam dalam keadaan istirahat. wajah/tangan. Penyakit ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” dengan akibat suatu vasospasme general dengan segala akibat-akibatnya.147 9. (untuk pemeriksaan pertama dilakukan 2 x setelah istirahat 10 menit).3) Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. lumbosakral. PREEKLAMPSIA & EKLAMPSIA dr. 2. Kehamilan > 20 minggu 2. dr. Lumbosakral. dinding perut. Edema : edema tekan pada : Tungkai (pretibial).2.3 gr/lt/24 jam Kwalitatif (+ +) PENATALAKSANAAN : (2) (4) .

asam uart darah. Rawat jalan. Kenaikan berat badan ibu : ≥ 1 kg/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu) 3. rendah karbohidrat. hematokrit. 2. trombosit. maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan ≥ 37 minggu 2. Perawatan kemudian disesuaikan dengan perawatan rawat jalan. maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. • Banyak istirahat (berbaring tidur/miring) • Diet : cukup protein. Rawat tinggal (1) (1) Kriteria preeklampsia ringan untuk dirawat di rumah Sakit : 1. Pada kehamilan aterm (≥ 37 minggu) a. Persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan 3. Timbul salah satu atau lebih gejala/tanda-tanda preeklampsia berat . tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan.148 A. Perawatan Obstetrik : 1. • Bila dalam perawatan di Rumah Sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm. tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejalagejala preeklampsia. Pada kehamilan preterm (< 37 minggu) a. fungsi ginjal B. Bila desakan darah mencapai normotensif. Bila desakan darah turun. maka preeklampsia ringan dianggap sebagai preeklampsia berat. • Bila setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan. Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan. b. lemak dan garam • Sedativa ringan : Tablet Phenobarbital 3 x 30 mg atau Diazepam 3 x 2 mg peroral selama 7 hari • Roborantia • Kunjungan ulang tiap 1 minggu • Pemeriksaan laboratorium : Hb. selama perawatan : persalinan ditunggu sampai aterm. Cara persalinan . fungsi hati. urine lengkap.

A.149 a. Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila didapatkan satu atau lebih keadaan gawat dibawah ini : 1. PENATALAKSANAAN : (1) Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat selama perawatan.4. Laboratorik darah atau setelah 24 jam sejak dimulainya perawatan medisinal.5) . Aktif : kehamilan segera diakhiri/diterminasi bersamaan dengan pemberian medisinal B. Persalinan dapat dilakukan secara spontan. gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan). kegagalan terapi pada perawatan konservatif yaitu : dalam waktu setelah 6 jam sejak dimulainya pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan 2. (3. Konservatif : kehamilan tetap dipertahankan bersamaan memberi pengobatan medisinal. Janin • Hasil fetal assesment jelek (NST & USG) • Adanya tanda-tanda IUGR 3. Perawatan aktif Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada tiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG) a. maka perawatan dibagi menjadi : A. Ibu • Kehamilan ≥ 37 minggu • Adanya tanda-tanda/gejala impending eklampsia. bila perlu memperpendek kala II PREEKLAMPSIA BERAT BATASAN : (4) Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi ≥ 160/110 mmHg disertai proteinuri dan atau edema. pada kehamilan 20 minggu atau lebih.

d.7) 1. 2. Pengobatan Medisinal 1. Untuk mengurangi nyeri dapat ditambah 1cc Xylocain 2 % yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan im. yaitu : a. Diet cukup protein. rendah karbohidrat. (3) 3. Peningkatan fungsi hepar dan trombositopenia) b. Kelemahan otot 125 . Syarat-syarat pemberian MGSO4 : (4. Pembagian obat anti kejang : Magnesium Sulfat Cara pemberian: a. Ada tanda-tanda keracunan. Magnesium Sulfat dihentikan bila : (7) 1. Tirah baring miring kesatu sisi Tanda vital diperiksa tiap 30 menit.150 • Adanya “HELLP Syndrome” (Sindroma : Hemolisis. Dosis awal : 4 gram MgSO4 intravena (20% dalam 20cc) selama 1 gram/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Infus Dextrose 5 % yang tiap satu liternya diselingi dengan infus Ringer Laktat (60cc /jam) 500 cc 4. Dosis ulangan Diberikan 4 gram im 40 % setelah 6 jam pemberian dosis awal. (3) c. Antasida 5. 2. yaitu calsium glukonas 10%. (6). Refleksi petella (+) kuat 3. dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari.7 cm. Segera masuk rumah sakit. Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0. lemak dan garam 6. 21 panjang 3. Diikuti segera 4 gram di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no.5 cc/ kg BB/jam). b. 1 gram (10 % dalam 10 cc) diberikan IV dalam 3 menit. refleks patella setiap jam. Selanjutnya dosis ulangan diberikan 4 gram im tiap 6 jam. Frekuensi pernafasan > 16 x / menit 4. Harus tersedia antidotum MgSO4.

151 b. 7. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinu). Fungsi jantung terganggu e. catapres injeksi dosis yang biasa dipakai adalah 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam. Lakukan pernafasan buatan. . 8. Kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot -otot pernafasan. Bersama dengan awal pemberian sublingual. Kadar serum ion Magnesium pada dosis edequat adalah 4-7 mEq/liter. diastolis > 110mmHg atau “MAP” > 125mmHg.9) Dosis dari obat-obat antihipertensi ini sama dengan dosis pada hipertensi pada umumnya. Antihipertensi diberikan bila : .7). 2.Desakan darah sistolis > 180mmHg. Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat (dikutip oleh 7) a. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada : ederma paru. maka obat yang sama mulai diberikan secara oral (Syakib Bakri. c. komunikasi pribadi). (4). Diberikan Furosemid injeksi 40 mg/IM. Kadar 12-15 mEq terjadi kelumpuhan otot-otot pernafasan dan > 15 mEq/liter terjadi henti jantung (3. Refleks fisiologis menurun d. Berikan calsium glukonase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit. payah jantung kongestif atau edema anasarka. Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter. Depresi susunan saraf pusat f. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan (normotensif). Hipotensi c. Berikan Oxigen d. Hentikan pemberian magnesium sulfat b. Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis < 105 mmHg (jangan < 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta. 3. maksimal 4-5kali. 1997. (8.

dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja.2) Sudah Inpartu : Kala I : (1. • Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. • 12 jam sejak dimulainya tetesan oksitosin belummasuk fase aktif. Kardiotonika Indikasi memberikan kardiotonika bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung. 10. selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir). Pengobatan Obstetrik Cara terminasi kehamilan. Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesar (1. c. (4) • Seksio sesaria bila : • Fetal assesment jelek • Syarat tetesan oxytosin tidak dipenuhi (nilai Bishop < 5) atau adanya kontra indikasi tetesan oksitosin . dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau Xylomidon 2cc im. Diberikan digitalisasi cepat dengan cedilanid D.2) Fase latent : 6 jam tidak fase aktif dilakukan seksio sesar Fase aktif : . Belum inpartu : • Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai bishop ≥ 5 dan dengan fetal heart monitoring. mata • Obat-obat anti piretik diberikan bila suhu rektal diatas 38. 5 C. Diberikan Ampicillin 1 gram /6 jam/IV/hari.152 9. • Antibitik diberikan atas indikasi (4) o . Lain-lain • Konsul bagian penyakit dalam /jantung.

2. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan harus diterminasi 4. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan : maka diberi lebih dahulu MgSO4 20% 2 gram IV.153 • Amniotomi saja • Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap. Pengobatan obstetrik 1. Penderita kembali ke gejala-gejala/tanda-tanda Preeklampsia ringan dan tetap dirawat selama 3 hari. yaitu 4 gram bokong kiri dan 4 gram bokong kanan c. Pada kehamilan ≤ 37 minggu. Penderita dipulangkan bila : 1. maka kala II diselesaikan dengan partus buatan . Indikasi : Bila kehamilan preterm < 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik Pengobatan medisinal : sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan aktif. hanya “loading dose” MgSO4 tidak diberikan IV cukup im saja. bila keadaan memungkinkan terminasi ditunda 2 x 24 jam untuk memberikan kortikosteroid (lihat bab pematangan paru) 1.2) a. (bila perlu dilakukan tetesan oksitosin ) Kala II : Pada persalinan pervaginam. dilakukan seksio sesar. . selambatlambatnya dalam waktu 24 jam 3. Perawatan Konservatif (1. Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian pengobatan medisinal. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda preeklampsia ringan. Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak ada terminasi. b. d. Pemantangan paru-paru janin.

Berdasarkan gejala klinis diatas 2. Tanda-tanda preeklampsia (hipertensi. (Kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neurologik). PATOFISIOLOGI : (4) Sama dengan preeklampsia.154 2. ginjal. edema dan proteinuri) 3. GEJALA KLINIS : (4) 1. EKLAMPSIA BATASAN : (1. yakni terjadinya nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut. ginjal. otak. dalam persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Kejang-kejang dan atau koma 4. paru dan jantung. (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu). hepar. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan Preeklampsia ringan : penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai preeklampsia ringan. dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia. jantung fungsi hematologi/hemostasis PENATALAKSANAAN : (1. Kadang-kadang disertai dengan gangguan fungsi organ-organ PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : (4) 1. Pemeriksaan laboratorium • • • adanya protein dalam urin fungsi organ.2) Tujuan pengobatan : • • Untuk menghentikan dan mencegah kejang Mencegah dan mengatasi penyulit khususnya hipertensi krinis . atau persalinan atau masa nifas 2. Kehamilan > 20 minggu.2) Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil. dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati.

. Pengobatan medisinal : Sama seperti pengobatan preeklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram iv selama 2 menit sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir. Stabilisasi ibu dicapai dalam 4-8 jam setelah salah satu atau lebih keadaan di bawah ini : • • • • Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir Penderita mulai sadar (responsive dan orientasi) Terminasi kehamilan (4) • Apabila pada pemeriksaan. • Perawatan pada serangan kejang : • • • Perawatan di kamar isolasi cukup terang/ICU Pengobatan obstetrik : (1. penyakit dalam/jantung. maka persalinan tindakan dengan trauma yang minimal. Bilamana diakhiri. syarat-syarat untuk mengakhiri persalinan pervaginam dipenuhi. anastesi dan anak. bagian mata.2) Sikap dasar : semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin. Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan satu kali saja. sikap dasar : kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) hemodinamik dan metabolisme ibu. Perawatan bersama Konsul bagian syaraf. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital/thiopental 3-5mg/kgBB/IV pelan-pelan.155 • • Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin Mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin untuk ibu.

.156 • • Apabila penderita sudah inpartu pada fase aktif langsung dilakukan amnitomi selanjutnya diikuti dengan partograf. Tindakan seksio sesar dilakukan pada keadaan : • • • • Penderita belum inpartu Fase laten Gawat janin Tindakan seksio sesaria dikerjakan dengan mempertimbangkan keadaan kondisi ibu. bila ada kemacetan dilakukan seksio sesar.

157 PREEKLAMPSIA RINGAN BERAT RAWAT JALAN Kunjungan ulang 1 minggu Dua minggu menetap Umur kehamilan Tanda-tanda vital Laboratorium Fetal Assesment Membaik RAWAT RS 1 Minggu Tidak membaik KONSERVATIF Kehamilan < 37 minggu Janin Baik Setelah 24 Jam Perbaikan menjadi Preeklampsia Ringan Rawat selama 3 hari Tidak ada Perbaikan AKTIF Kehamilan ≥ 37 minggu Tanda-tanda impending 6 jam Terapi TD Meningkat Fetal Assesment jelek IUGR Sindroma HELLP TERMINASI KEHAMILAN BELUM INPARTU INPARTU Bishop skor < 5 Kontra Indikasi Drip oksitosin Fetal Assesment Jelek Bishop skor ≥ 5 Fetal Assesment Baik Drip Oksitosin FASE LATENT FASE AKTIF Amniotomi Bila perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk Kala II KALA II PARTUS BUATAN Setelah 12 jam Tidak masuk Fase Aktif Setelah 6 jam Tidak masuk Fase Aktif SEKSIO SESARIA .

yaitu setelah : Terapi Obat Kejang terakhir Kejang terkahir Terapi obat Hipertensi Terakhir OS mulai sadar Kehamilan Diakhiri Tanpa Memandang usia Kehamilan dan Keadaan janin INPARTU BELUM INPARTU FASE LATENT FASE AKTIF Ada Janin Gawat Tidak ada Amniotomi Kalau perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk kala II Masuk Kala II PARTUS BUATAN SEKSIO SESARIA .BELUM INPARTU INPARTU 158 EKLAMPSIA Waktu Diakhiri Stabilisasi hemodinamika dan Metabolisme.

SpOG BATASAN : Diabetes melitus gestasional adalah suatu intoleransi karbohidrat. Riwayat kebidanan (1.159 10. ringan maupun berat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Faktor ibu Pada wanita hamil kadar kortisol meningkat 3 X dari keadaan sebelum hamil. 2. Ny. • Adanya enzim yang bekerja seperti enzim insulinase yang dapat merusak insulin dalam plasma. PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHAMILAN 10. Riwayat Ibu (1. dr.2) • • • • • • Beberapa kali abortus Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas Riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan Pernah melahirkan bayi ≥ 4000 gram Pernah preeklampsia Polihidramnion 2. (1) PATOFISIOLOGI : Faktor -faktor yang dapat mengganggu keseimbangan karbohidrat pada kehamilan dapat berasal dari : (2) 1. Josephine LT. FAKTOR RISIKO : 1. Faktor Plasenta • Human plasental lactogen bersifat diabetogenik dan meningkatkan proses lipolisis trigliserida. Sehingga asam lemak meningkat yang menyebabkan meningkatnya resistensi jaringan terhadap insulin. Haryanto Kasy.2) .1. DIABETES MELITUS GESTASIONAL dr.

b. pemeriksaan diulang pada minggu gestasi ke 24 -26. Kriteria diagnosis Kriteria diagnosis Diabetes Melitus pada wanita hamil sama seperti pada penapisan bukan wanita hamil. Kriteria diagnosis menurut WHO Glukosa plasma vena ( mg/dl ) Puasa jam < 100 < 140 ≥ 140 ≥ 200 100 .4) darah. (1) mereka yang hasilnya negatif. Contoh darah berikutnya diperiksa dua jam setelah beban glukosa.160 • • • • Umur ibu hamil > 30 tahun Riwayat diabetes melitus dalam keluarga Riwayat diabetes melitus gestasi pada kehamilan sebelumnya Infeksi saluran kemih berulang selama hamil CARA PENAPISAN DAN KRITERIA DIAGNOSIS : 1. (1) a. Materi Penapisan. 2. (1) Tabel 1. Penapisan Diabetes Melitus Gestasional (DMG) sebaiknya harus dilakukan pada semua wanita hamil Waktu penapisan. Untuk Normal Diabetes Melitus Toleransi glukosa terganggu PENATALAKSANAAN : . Cara Penapisan (1. c.199 Adalah cara satu tahap yaitu wanita hamil dalam keadaan puasa pada pagi hari diambil contoh Dianjurkan pada semua ibu hamil pada pertemuan pertama dengan petugas kesehatan.139 140 . kemudian diberi beban glukosa 75 gram dalam 200 ml air.

• pemeriksaan secara berkala HbAlc setiap 6-8 minggu.4) Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan : (1.4.5 . (1. (5) Memantau diabetes terkendali. 2/3 diberikan pada pagi hari dan 1/3 pada sore hari. Sasaran : Keadaan normoglikemia selama kehamilan sampai persalinan. Penatalaksanaan medis ibu DMG. Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan perencanaan makan.4) 1.161 Penatalaksanaan kehamilan dengan diabetes melitus selayaknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam. Keterangan : Berat Badan ideal = (tinggi badan-100) 10% (kg) b.5) Meliputi : • pemantauan glukosa meter.5 unit/kg BB. (1) Pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan : • • • • Pengukuran tinggi fundus uteri Mendengarkan denyut jantung janin Pemeriksaan khusus : USG dan karditokografi (KTG) Penilaian menyeluruh janin dengan menggunakan nilai Fungsi Dinamik Janin Plasenta (FDJP) darah sendiri dirumah dengan reflectance .5) Dosis Insulin : 0. (1. spesialis obstetri ginekologi. (1. (1. Perencanaan makan yang sesuai kebutuhan.4. Pengendalian kadar glukosa darah dilakukan oleh ahli penyakit dalam dan ahli gizi.1.5) a. Penatalaksanaan obstetri. 1. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl dan dua jam sesudah makan adalah 120 mg/dl.5) Jumlah kalori yang dibutuhkan : 35 kal/kg BB ideal menurut cara Broca. ahli gizi dan spesialis anak. (1.

gawat janin. (1) DMG terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Pemantauan setiap minggu USG + KTG tidak terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Rawat Pemantauan setiap minggu USG + KTG Janin sehat PJT. Makrosomia Amniosentensi s paru belum matang steroid 40 minggu paru matang partus biasa Terminasi .162 Skema pengelolaan ibu DMG.

pingsan dan kesulitan bernafas1. SpOG BATASAN Penyakit jantung dalam kehamilan adalah penyakit dengan kumpulan gejala : nyeri dada.6 Menurut klasifikasi New York Heart Association 3. sesak nafas.Ny.3. DIAGNOSIS Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria.Margaretha J.2.163 10. lesu. dr. Pembesaran jantung yang jelas 3.4.6 : Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV : Tanpa gejala : Gejala timbul bila aktifitas lebih dari normal : Gejala timbul pada aktifitas normal : Gejala timbul saat tirah baring Pengaruh kehamilan pada penyakit jantung 5 Perubahan sirkulasi darah mempunyai dampak pada wanita hamil dengan penyakit jantung.2. Bising diastolik. PENYAKIT JANTUNG DALAM KEHAMILAN dr.5. Pengaruh penyakit jantung pada kehamilan 5 Perubahan hemodinamik dalam kehamilan tidak berpengaruh pada kehamilan dengan kecil masa kehamilan. Peningkatan volume darah dan isi sekuncup memperberat kerusakan katup jantung bahkan sampai kegagalan jantung. terutama bila disertai thrill 4. edema. penderita penyakit jantung dalam kehamilan cenderung melahirkan bayi prematur . satu diantaranya sudah cukup untuk membuat diagnosis penyakit jantung dalam kehamilan 1: 1. Resiko tergantung dari kerusakan dan kemampuan kapasitas jantung untuk kompensasi. Wewengkang. palpitasi. Bising jantung nyaring. presistolik atau bising jantung terus menerus 2. Aritmia yang berat Pemeriksaan laboratorium 6: Menurut Ueland dkk (1972). hemoptisis. Johnsen Mailoa.

dan tidak hilang setelah menarik nafas dalam 2–3 kali.7: • • • Elektrokardiografi Ekokardiografi (Doppler) Kardiotokografi (usia kehamilan > 20 minggu) PENATALAKSANAAN Kelas I dan kelas II • • • • • • • • • 1. pengawasan spesialis penyakit jantung atau penyakit dalam Menurut Mackenzie 1 bila terdengar ronki menetap di dasar paru. disproporsi sefalo-pelvik.2.6. persalinan dan nifas cegah timbulnya dekompensasi kordis tidur malam cukup ( 8-10 jam) setiap kali makan istirahat baring ½ jam diit rendah garam.3 : kehamilan aterm. Bila timbul gejala dekompensasi kordis. segera rawat dan digolongkan satu kelas lebih tinggi.164 • • darah dan urine rutin apusan tenggorok Pemeriksaan penunjang 5. panggul sempit). Seksio sesarea hanya atas indikasi obstetri (plasenta previa . merupakan gejala awal gagal jantung. obati dengan digitalis. Penderita harus tirah baring. tinggi protein batasi aktifitas berat ( usia kehamilan 28 – 32 minggu) pemeriksaan antenatal setiap 2 minggu sampai kehamilan 36 minggu. kemudian setiap minggu masuk rumah sakit ± 1 minggu sebelum taksiran partus. dapat melahirkan pervaginam observasi ketat selama kehamilan. Kala persalinan 1: • tidak berbahaya • nyeri persalinan dikurangi .

6 mg i.165 • obat sedasi dan analgesia derivat morfin dapat diberikan • partus posisi setengah duduk Awasi terjadinya dekompensasi kordis 1: • periksa nadi setiap 10 – 15 menit. dan Furosemid • bila kala II > 20 menit atau ibu tidak kuat meneran.2 mg sampai 1. Pemberian oksigen. infeksi nifas dan tromboemboli • istirahat dan mobilisasi bertahap • dianjurkan tubektomi • laktasi dibolehkan jika sanggup secara fisik Kelas III dan IV 1 : • tidak boleh hamil • bila hamil<12 minggu→ abortus terapeutik dipertimbangkan • bila hamil > 12 minggu cegah dekompensasi kordis → tirah baring selama kehamilan dan nifas. • gurita kantung pasir untuk mencegah perubahan mendadak sirkulasi darah • oksitoksin intravena atau intramuskulus bila perdarahan. dapat diulangi 1-2 kali. • pada kala II.8 mg). perdarahan postpartum. awasi ketat tanda gagal jantung atau edema paru. dengan dosis awal 0. • laktasi dilarang Prognosis tergantung beratnya penyakit . • setelah kala II. bila nadi >100x/menit dan pernapasan >28x/menit (disertai sesak napas) obati digitalis (delanosid /cedilanid 1. setelah 1-2 jam. Morfin (10-15mg). persalinan diakhiri dengan forseps atau ekstraksi vakum • sediaan Ergometrin merupakan indikasi kontra • masa nifas dapat terjadi kolaps setelah anak lahir.v. partus segera diakhiri dengan cunam atau ekstraksi vakum.

Periode panas c.166 10. memberikan infeksi yang paling ringan. sering sembuh spontan tanpa pengobatan. merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana / vivax. 2.(1) Penyakit ini mempunyai gambaran karakteristik. Syahrir Muhammad. Plesmodium vivax. anemia & splenomegali. GEJALA : Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi. SpOG BATASAN : Malaria dalam kehamilan adalah penyakit protozoa yang dipindahkan pada manusia melalui gigitan nyamuk anopheles (1) yang ditemukan pada wanita hamil. Plasmodium falsiparum. ETIOLOGI (2) : Disebabkan oleh Plasmodium. MALARIA DALAM KEHAMILAN dr. Plasmodium ovale. memberikan banyak komplikasi. kekebalan ibu terhadap penyakit malaria berkurang terutama pada trimester terakhir. yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara beruntun yakni : (2) a.3. Adapun gejala klasik. Adjardiana Idrus. dr. menyebabkan malaria quartana/malariae : jarang. Dalam kehamilan. Periode berkeringat . Plasmodium Malariae. yaitu demam periodik. yaitu : 1. memiliki kemampuan resisten dengan pengobatan 3. 4. Periode dingin sampai menggigil b.

5) 1. Tetetsan preparat darah tebal Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria sekaligus identifikasi jenis plasmodium b.(3) • Penanganan Malaria berat adalah : (6) 1. PEMERIKSAAN PENUNJANG (2) Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosis.3.2. biasanya diberikan 300 mg chioroquine dan Mepacrine. Karena ibu lemah. Dapat pula terjadi anemia pada nifas 4.167 KOMPLIKASI : (1. Setelah itu. partus prematur 2. dapat terjadi atonia (6) 5. Gawat janin selama persalinan sering dijumpai pada wanita yang mengalami anemia akibat infeksi malaria yang berat. Pemberian obat anti malaria kinin Hcl 20 mg/kgBB dalam 100-200 cc cairan dextrose 5 % selama 4 jam. cara yang paling aman ialah suntikan intramuskulus. PENANGANAN : Pengobatan Pengobatan malaria pada wanita hamil seperti biasa. Segera dilanjutkan dengan 10 mg/kgBB dilarutkan dalam 200 cc . bila dengan preparat darah tebal sulit dilakukan Pemeriksaan satu kali dengan hasil negatif tidak menyampingkan diagnosis malaria.7) Hari I Hari II Hari III • Chloroquine 600 mg Chloroquine 600 mg Chloroquine 300 mg Pada serangan tiba-tiba. pengobatan dilanjutkan per Oral. Adapaun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui : a. Pemeriksaan pada saat penderita demam dapat meningkatkan kemungkinan ditemukan parasit. yaitu : (6. Tetesan darah tipis Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium. Dapat diluang 10 jam kemudian.4. Abortus. Kematian intra uterin 3. dismaturitas. tetapi tanpa pemberian primaquin.

sekali seminggu sampai 4 minggu setelah kembali ke daerah non endemik. (4) Untuk wanita hamil dengan malaria falciparum yang resisten terhadap choroquine dapat diberikan preparat kina peroral. (5) PENCEGAHAN : (5) Pencegahan dengan chioroquine 300 mg/oral. . kemudian diikuti dengan dosis 10 mg/kgBB/8 jam sampai penderita dapat minum peroral. Bila sudah sadar kinin diberikan peroral dengan dosis 3 x 400-600 mg selama 7 hari 2. Selanjutnya diberikan dengan dosis yang sama tiap 8 jam. Dosis 20 mg/kgBB/im terbagi pada 2 tempat suntikan. Preparat ini bisa diberikan intravena pada infeksi yang berat. Pemberian cairan nutrisi 4. Kinin dapat diberikan intramuskuler bila melaui infus tidak memungkinkan.168 Dextrose 5 % diberikan dalam waktu 4 jam. Tranfusi 3. Penanganan terhadap gangguan fungsi organ yang mengalami komplikasi • • Bila terdapat anemi yang berat (Hb ≤ 6 gr %) harus dilakukan transfusi dengan packed red cells atau whole blood.

Tetesan darah tipis Koplikasi : Abortus. prematur KJDR Anemia Atonia/Intesia Uteri Gawat janin Penanganan Pencegahan Chioroquine 300 mg/minggu (1 x)/oral (mulai sebelum masuk wilayah andemik sampai 4 minggu setelah kembali kedaerah non endemik) Malaria Berat Pengobatan Malaria Ringan Hari I Chloroquine 600 mg Tidak sadar Kinin Hcl 20 mg/kgBB/100-200 cc Dextrose 5 % infus selama 4 jam dilanjutkan Kinin Hcl 10 mg/kgBB/200 cc Dextrose 5 %/infus selama 4 jam.Pem. bila sulit .169 SKEMA PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN MALARIA DLM KEHAMILAN Etiologi : Plasmodium Gejala : Trias Malaria Pem. dilanjutkan Kinin Hcl dengan Dosis yang sama tiap 8 jam Atau Kinin 20 mg/kgBB/im dilanjutkan dengan Kinin 10 mg/kgBB/8 jam Sadar Kinin 3 x 400-600 mg selma 7 hari Hari II Chloroquine 600 mg Hari III Chloroquine 300 mg Bila resisten Kina per oral atau intra vena . dismatur. tetesan darah tebal.Pem. Penunjang : Laboratorium .

LED (laju endapan darah) mungkin tinggi. c. Pemeriksaan fisik. a. d. Arifuddin Djuanna. Biasanya dipakai cara Mantoux dengan menyuntikkan 0.(2. Pemeriksaan radiologis : foto toraks posteroanterior dan lateral.(1) KRITERIA DIAGNOSIS : 1.(2) • • • Hitung jenis. Lemah badan. Pemeriksaan penunjang. dr. Tes tuberkulin. Pernah batuk dahaknya bercampur bercak darah.(2) • • • • • Batuk terus menerus berdahak 3 minggu atau lebih. SpOG BATASAN : Penyakit tuberkulosis paru yang disebabkan oleh mycobakterium tuberkulosis yang dijumpai dalam masa kehamilan.4. TUBERKULOSIS PARU DALAM KEHAMILAN dr. Laboratorium darah rutin. pada auskultasi suara napas yang bronkial serta didapatkan ronki basah kasar dan nyaring. kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun. biasanya didominasi limfosit.(3) Perkusi dada yang redup. H. Badan kurang enak “ malaise”. Sesak nafas atau rasa nyeri dada. 2.3) b. Biakan / kultur : biakan dilaksanakan dengan metode yang baik seklaigus resistensi tes. Tes fungsi hati.1 cc tuberkulin PPD “Purified protein derivative” . Pemeriksaan sputum.(2) • • BTA (basil tahan asam) : pewarnaan sputum dilakukan dengan metode Ziehl Nielson 3 kali berturut-turut dengan menggunakan mikroskop binokuler.170 10. Anamnesis. Haryanto Kasy . 3. keluar keringat malam.A.

(3) Hasil tes : indurasi 10-15 mm = Mantaoux positif(3) . c. Pengobatan medikamentosa.171 Intrakutan. b. INH. Penanganan obstetri a.50 kg > 50 kg 3. kemudian dilanjutkan rifampisin. diet tinggi kalori tinggi protein. Rawat bersama dengan Subbagian Pulmonologi Bagian Penyakit Dalam. cukup. a. hasil yang negatif tidak selalu menyngkirkan penyakit. R H 300 mg 500 mg 450 mg 600 mg 600 mg 600 mg setiap hari selama 1 bulan.(1) Persalinan kala I maupun kala II diusahakan seringan-ringannya.(4) 2. Tes tuberkulin yang positif tidak selalu diikuti dengan penyakit. istirahat Selama persalinan penderita TBC paru aktif ditempatkan dikamar tertentu / kamar isolasi. Bila tes tuberkulin positif tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinik diberikan : INH selama 1 tahun.5-8R2H2. Etambutol diberikan intensif kali dalam seminggu selama 5-8 bulan. (1) Kegiatan fisik dikurangi. Bila TBC paru (BTA +) : 1R7H7E7 .(2) PENGELOLAAN : 1. b. diberi masker untuk menutup mulut dan hidung. Masa kehamilan Perawatan kehamilan dapat dilakukan seperti biasa. bila persalinan berjalan lancar tidak dilakuka sesuatu dan diusahakan agar persalinan dapat berlangsung dengan .(5) Artinya : Rifampisin. Dosis obat anti tuberkulosis. Masa persalinan. INH periodik 2 < 33 kg 33 .(2) Keterangan : R = Rifampisin H = INH E = Etambutol Berat badan Jenis obat fase intensif R 300 mg 450 mg 600 mg H 200 mg 300 mg 400 mg E 800 mg 800 mg 1200 mg Jenis obat fase lanjutan/periodik.

8 jam.172 spontan.(1) Penderita yang tidak mungkin dipulangkan.(5) Namun apabila kala II melelahkan sebaiknya dipercepat dengan bantuan ekstraksi foeceps.(5) c. kemudian penderita dapat dipulangkan langsung.(5) . vakum atau ekstraksi kaki. harus dirawat diruang isolasi. Masa nifas Setelah penderita melahirkan.(1) Dalam keadaan ideal bayi setelah lahir segera dipisahkan dari ibunya sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif.(1) PROGNOSIS : Kecepatan diagnosis dan tatalaksana berperan dalam prognosis. penderita dirawat diruang observasi 6 . serta nasihat perawatan masa nifas yang harus mereka lakukan. Diberi obat uterotonika dan obat TBC paru diteruskan.(5) Tindakan seksio sesar hanya dilakukan atas indikasi obstetri dan tidak atas indikasi tuberkulosis paru.

Rifampisin. Etambutol. Tes tuberkulin Laboratorium Bila perlu foto toraks TBC paru aktif Hanya tes tuberkulin + (tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinis) Pengobatan medikamentosa : INH.173 TBC PARU DALAM KEHAMILAN Penderita kemungkinan tuberkulosis Ada riwayat kontak Faktor risiko : Sosial ekonomi Perumahan padat Gejala mencurigakan : Batuk darah Nyeri dada Keringat malam berat badan menurun demam Pemeriksaan fisik paru. Pengobatan medikamentosa : INH selama 1 tahun Perawatan kehamilan Penanganan persalinan atas indikasi obstetri .

Eddy R. Dorphiana Litaay. sianosis. ekspirasi memanjang.3) • • • • • • • • • Asma akut dengan bronkodilator tidak membaik Takikardi persisten Dispnea Hipertensi Pulsus Paradoksus Sianosis Hipoksemia (PO2 < 70 mmHg) Hiperkarbia (PCO2 < 38 mmHg) Emfisema subkutan . sesak napas. (1.174 10. takipnea. ASMA BRONHIALE DALAM KEHAMILAN dr. reaksi imunologi (alergi) dimana lg E meninggi B. penggunaan otot bantu pernapasan. dr. takikardi persisten. SpOG BATASAN : Asma dalam kehamilan (ADK) adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast. batuk yang ditemukan pada wanita hamil. wheezing. Moeljono. dispnea.5. (1) ETIOLOGI : A. faktor genetik Gabungan A dan B KRITERIA DIAGNOSTIK : Batuk. H. pulsus paradoksus. dada terasa berat. eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa mengi. ortonea.5) INDIKASI MASUK RUMAH SAKIT : (1. sesak. hiperventilasi.2. kesukaran bicara.

intravena. Persalinan biasanya dapat berlangsung akan tetapi bila penderita masih dalam serangan dapat diberi pertolongan tindakan berupa ekstraksi vakum atau forceps. Bila sudah menggunakan aminofilin kurang dari 12 jam berikan setengah dosis saja.175 PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Uji faal paru KONSUL BAGIAN PENYAKIT DALAM INFORM KONSET (PERLU) PENATALAKSANAAN : (1. subcutan.3) Prinsip pengobatan asma dalam kehamilan pada dasarnya tidak berbeda dengan asma lain.0 mg oral : Prednison 30-60 mg per hari : Betametrion inhalar 100 mg.2. • • • Aminofilin bolus IV 5-6 mg per kg berat badan. obat yang terpilih yaitu golongan bronkodilator seperti agonis beta-2 inhalar dengan atau tanpa steroid. terbutalin 10 mg dengan inhalasi nebolisasi dapat diulang setiap 20 menit dalam 1 jam . Sedapat mungkin memakai obat oral sesedikit mungkin. feneterol 2. parenteral. Kortikosteroid sistemik Asma kronik Desenitasi alergen : Teofilin 800-1200 mg per hari (oral) : Terbutalin 2.25 mg atau Salbutamol 0.5-5. Asma akut : • • O2 4-6 liter Beta-2 agonis : salbutamol 5 ml .5 mg . Tindakan seksio sesaria atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. Terbutalin 0.(4) .25mg dalam dekstrosa 5 % pelan-pelan.

. SpOG BATASAN : (1. Tergantung dari bagian janin yang terendah. adanya perasaan berat didaerah epigastrium.1. Letak lutut 4. Palpasi :Leopold I meraba adanya kepala pada fundus uteri Leopold II teraba punggung disatu sisi. Leopold III bokong teraba dibagian bawah rahim Leopold IV menentukan bokong sudah masuk atau belum kedalam pintu atas panggul.2) Diagnosis letak sungsang biasanya tidak sulit. LETAK SUNGSANG DAN PENATALAKSANAANNYA dr. Disebut letak bokong kaki sempurna bila disamping bokong teraba kedua kaki dan letak bokong kaki tidak sempurna bila disamping bokong teraba satu kaki saja. A.176 11. 2. atau hanya teraba satu kaki atau lutut. yakni bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus keatas. dr. sering merasakan adanya benda keras yang menekan tulang iga. Syahrir Muhammad. KELAINAN LETAK. POSISI DAN PRESENTASI JANIN 11. disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna (Incomplete Breech = Footing Breech). Letak kaki Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut. Letak bokong kaki : Complete Breech. Anamnesis akan didapatkan gerakan anak dirasakan terutama dibagian bawah rahim. Mardiah Tahir. dapat dibedakan : 1. bagian-bagian kecil disisi lain. Letak bokong murni : Frank Breech. 3. ETIOLOGI : (1. yakni disamping bokong teraba kaki.2) Letak sungsang adalah letak janin yang memanjang dengan kepala terletak pada fundus uetri dan bokong menempati bagian bawah kavum uteri. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan fisik : 1.

lokasi plasenta. Versi luar dilakukan dengan hati-hati tanpa anestesi. Apabila ada dugaan hiperekstensi kepala janin yang tidak jelas dilihat dengan ultrasonografi serta dugaan disproporsi fetopelvik. dilakukan pemeriksaan radiologi.177 2. Bila syarat-syarat versi luar dipenuhi dan tidak ada indikasi kontra versi luar. ada tidaknya cacat bawaan janin. 5. menentukan letak plasenta. menaksir berat badan janin. serviks lunak. letak janin. menentukan kemungkinan adanya kelainan bawaan anak ( hidrosefalus / anensefalus ). Periksa dalam vagina : pada pasien inpartu terutama bila ketuban sudah pecah dapat teraba bagian terendah janin yaitu bokong. B. sedangkan pada multipara dilakukan pada umur kehamilan 36-38 minggu. 3. stasi -1 atau lebih rendah. bentuk pelvik ginekoid atau antropoid dan pernah melahirkan bayi letak sungsang dengan berat badan lebih dari 3175 gram atau letak kepala dengan berat badan lebih dari 3630 gram. PENATALAKSANAAN : A. Auskultasi : Bunyi jantung janin umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pusat. kehamilan ganda. bila tidak ada komplikasi pada janin. Dalam kehamilan (1) Dalam kehamilan sedapat mungkin dilakukan versi luar menjadi letak kepala. Radiologi (bila perlu) : Menentukan posisi tungkai bawah. . lilitan tali pusat dan kedudukan kepala apakah hiperektensi atau tidak . volume cairan amnion. usia kehamilan dan lain-lain. Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menilai ukuran biparietal. Dalam persalinan (1.3) Beberapa kriteria yang dipakai dalam mempertimbangkan persalinan pervaginam adalah : Umur kehamilan aterm. menentukan kemungkinan adanya cacat bawaan. Pada nullipara versi luar dilakukan pada umur kehamilan 34-36 minggu. kaki atau lutut 4. taksiran berat badan janin. mendatar dan dilatasi lebih dari 3 cm. dapat dilakukan versi luar 1-2 minggu kemudian. konfirmasi menentukan secara akurat ukuran dan bentuk panggul. prakiraan berat badan 2500-3175 gram. Bila versi luar gagal. USG : Diperlukan untuk konfirmasi letak janin apabila pemeriksaan fisik tidak jelas. Setelah versi luar dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan Fetal Heart Monitoring.

tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa.178 Selama persalinan dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan Fetal Heart Monitoring (FHM). prolapsus funnikulidan ibu dengan penyakit jantung atau paru yang tidak memungkinkan ibu mengedan. presentasi kaki. yang bila tidak berhasil dipakai cara Lovset. oleh karena deteksi kemungkinan adanya CPD/FPD sulit. indeks Zatuchni Andros 0-3 dan prolapsus funikuli disertai gawat janin. Disebut fase lambat karena hanya untuk melahirkan bokong yaitu bagian janin yang tidak berbahaya. kepala hiperekstensi. Untuk melahirkan kepala dipakai cara Mauriceau. sehingga kepala harus dilahirkan secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra kranial (adanya ruptura tentorium serebelli). Tahap II : Fase cepat. adanya disprorsi. prakiraan berat badan janin lebih dari 3500 gram atau kurang dari 2000 gram. Pada partus lama kala II. diameter biparietal > 9. CARA-CARA PERSALINAN PADA LETAK SUNGSANG : . prematur (< 37 minggu). Disebut fase cepat karena fase ini kepala janin sudah masuk PAP sehingga kemungkinan tali pusat terjepit. bokong belum masuk panggul pada akhir kehamilan pada nullipara. Selama turunnya janin tidak terganggu dan tidak ada tanda-tanda janin dalam bahaya. Pada perkiraan anak besar dan primigravida dapat dipertimbangkan ekstraksi parsial terutama dengan cara Klasik atau Muller. Dikenal ada 3 tahp dalam menolong persalinan letak sungsang yaitu : 1. yang bila ada kelainan dapat dipertimbangkan melakukan persalinan perabdominam dengan segera. Tahap I : Fase lambat. oleh karena itu fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat harus dilonggarkan. dilakukan ekstraksi total. preeklampsia berat dan eklampsia. mulai lahirnya pusar sampai lahirnya mulut.5 cm. plasenta previa. Sedang indikasi melakukan persalinan perabdominal adalah : primigravida tua. Pada dasarnya Oxytocin drips pada letak sungsang tidak dianjurkan. Tahap III : Fase lambat. Dalam persalinan pervaginam sedapat mungkin dilakukan dengan cara Bracht. 3. riwayat persalinan yang buruk. ketuban). bokong belum masuk panggul pada inpartu multipara. 2. Disebut fase lambat karena kepala akan keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang bertekanan rendah. ketuban pecah lebih dari 12 jam. Menolong kelahiran janin dalam letak sungsang memerlukan kesabaran. bila tidak berhasil digunakan cunam Piper. nilai sosial janin yang tinggi atau infertilitas. mulai dari lahirnya bokong sampai pusar (skapula depan). mulai lahirnya mulut sampai kepala lahir.

. Kerusakan pada otot. Morbiditas ibu meningkat disertai sedikit peningkatan mortalitas oleh karena tindakan persalinan operatif. terdiri dari : Ekstraksi bokong & Ekstraksi kaki. Perabdominam : bila ada indikasi  lihat skema penatalaksanaan letak sungsang.179 a. letak sungsang memberikan resiko yang lebih tinggi bagi ibu maupun anak. jaringan lunak. Penyebab utama kematian perinatal adalah persalinan prematur. PROGNOSIS : (1. Prognosis untuk janin letak sungsang lebih buruk dibandingkan dengan letak kepala. organ visera serta kerusakan pada pleksus brachialis dan trauma pada medulla spinalis servikalis dapat terjadi baik pada persalinan pervaginam maupun perabdominal. b. kelainan kongenital dan trauma persalinan. termasuk seksio sesar pada letak sungsang yang menetap.2) Bila dibandingkan dengan letak kepala. Pervaginam : • • • • • Bracht Ekstraksi parsial (melahirkan bahu). terdiri dari : Klasik (Deventer) & Muller Lovset (bila melhirkan bahu secara ekstraksi parsial gagal) Mauriceau (melahirkan kepala). bila gagal  pakai cunam Piper Ekstraksi total.

PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG PADA KEHAMILAN TUNGGAL

199

DALAM KEHAMILAN VL

DALAM PERSALINAN DITENTUKAN UMUR KEHAMILAN PREMATUR ATERM

Hasil pemeriksaan USG
BERHASIL Versi dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI TIMBU KOMPLIKASI TIDAK BERHASIL Versi tidak dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI HIPEREKSTENSI KEPALA FLEKSI KEPALA Dilahirkan pervaginal bila : panggul normal kemajuan persalinan baik pernah melahirkan bayi let su dengan BB>3175 gr atau let kep > 3630 gr BAYI BESAR >.3500 gr) BAYI KECIL <2000 GR) BERAT NORMAL 2000-3500 gr

DJA tetap baik pada 3 kali pemeriksaan dgn interval 5’ PARTUS LETAK KEPALA

sulusio plasenta ketuban pecah gawat janin (DJA > 160/m’, tidak teratur VL DICOBA SEKALI LAGI

Seksio sesar bila : FPD persalinan terhenti gawat janin Ketuban pecah 12 jam

MRS UNTUK OBSERVASI

SEKSIO SESAR Solusio plasenta tetap gawat janin ketuban pecah lebih 12 jam pada kehamilan aterm

KEHAMILAN DIPERTAHANKAN DJA anak bertambah baik ketuban pecah pada prematur dirawat sebagai ketuban pecah dini

SEKSIO SESAR Tindakan seksio sesar primer dilakukan pada kasus : nulipara tua riwayat infertilitas riwayat persalinan yang buruk (anak mati/sakkit akibat proses persalinan Stasi bokong tinggi atau belum masuk panggul pada impartu plasenta previa prolapsus funikuli dengan gawat janin

PERSALINAN PERVAGINAL KLASIK MULLER

CARA BRACHT prakiraan anak kecil CARA LOVSET Cara klasik & muller gagal

EKSTRAKSI PARSIAL

EKSTRAKSI TOTAL - partus lama kala II - preeklampsia/eklampsia - prolapsus funikuli - ibu dengan penyakit jantung/paru-paru

nulipara cara Bracht gagal VL tidak berhasil

Catatan/alat yang disiapkan : Sebaiknya semua kasus dilakukan Fetal Heart Monitoring Cunam Piper, alat resusitusi dan tabung oksigen harus disiapkan. Episiotomi dilakukan pada waktu bokong membuka vulva, dan kerjakan secara rutin Pada kepala menyusul dan anak sudah mati, dilakukan embriotomi bila tidak dapat dilahirkan dengan cara Maureceau

CARA MAURICEAU EKSTRAKSI CUNAM (CUNAM PIPER) - Cara Mauriceau gagal

EKSTRAKSI BOKONG (EXVAKUM) - Letak bokong kani - letak bokong murni

EKSTRAKSI KAKI - Letak kaki

11.2. LETAK LINTANG dr. Nursanty AP., dr. H.M.Maramis Palisuri, SpOG BATASAN : Letak lintang adalah suatu keadaan dimana sumbu memanjang tubuh anak tegak lurus dengan sumbu memanjang tubuh ibu. Janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu dan bokong pada sisi yang lain. (l,2,3,4,5) Posisi kepala menunjukkan kiri atau kanan sedangkan punggung janin terletak didepan (dorso anterior), dibelakang (dorso posterior), diatas (dorso superior) atau dibawah (dorso inferior). (l,4) ETIOLOGI : Penyebab utama letak lintang adalah : (l,2,3,4,5,6) 1. Multiparitas akibat dari relaksasi berlebihan dinding abdomen . 2. Prematur. 3. Hidramnion. 4. Plasenta previa 5. Uterus abnormal. 6. Panggul sempit. 7. Kehamilan kembar. DIAGNOSIS : Ditegakkan berdasarkan : Pemeriksaan fisis. Inspeksi : Abdomen melebar kesamping dan fundus uteri membentang sedikit diatas umbilikus. (3,4,5) Palpasi : Fundus uteri kosong, kepala janin berada disamping, dan diatas simpisis kosong, kecuali bahu sudah turun kedalam panggul, denyut jantung janin ditemukan disekitar umbilikus.
(3,4)

Pada pembukaan lengkap

ketuban sudah pecah, apabila bahu sudah masuk kedalam panggul, pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahu dan tulang-tulang iga. Punggung dapat ditentukan dengan terabanya skapula kadang-kadang dapat diraba

201 tali pusat yang menumbung.(3,4,5) Dapat pula teraba tangan, bila teraba tangan hendaknya ditentukan tangan kanan atau kiri, untuk menentukan posisi janin dalam uterus. Tangan kanan cocok untuk berjabatan dengan jari pemeriksa. (5,6) Pemeriksaan penunjang : Dengan pemeriksaan radiologis dan ultrasonografi. (6) PENANGANAN : Pada kehamilan : Sebaiknya mengubah menjadi presentasi kepala atau menjadi presentasi bokong dengan cara versi luar. Pada persalinan : ⇒ Pervaginam : • Konduplikasio korpore atau dengan evolusio spontan bila janin kecil, sudah mati, dan menjadi lembek (3,4) • Versi ekstraksi : pada kehamilan kembar setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua dalam letak lintang. • Embriotomi : pada janin mati. ⇒ Seksio sesarea : pada janin hidup . (l,2,3,4) KOMPLIKASI : • Ruptur uteri spontan • Ruptur traumatik . (2,3,5) PROGNOSIS : Janin letak lintang berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Kebanyakan kematian pada bayi dan ibu akibat komplikasi.(3)
(2,3,4,5)

.(1) Presentasi bokong kaki dan presentasi bahu tidak dimasukkan kedalam golongan ini. Tungkai bawah (tungkai-kaki) salah satu atau kedua-duanya. LETAK MEJEMUK dr. Telly Tessy. Presentasi bokong dengan tangan atau lengan yang menumbung. c.(1) 1. Bila teraba bokong maka yang didapatkan yaitu tangan atau lengan. SpOG BATASAN : Letak majemul adalah satu ekstremitas menumbung (prolapsus) disamping bagian terendah dan turun dalam rongga panggul bersama-sama.(1. dr. Tungkai atas (lengan-tangan) salah satu atau kedua-duanya. Lengan dan kaki bersama-sama.3. (1) Klasifikasi. tungkai bawah. atau kedua lengan dan kaki bersamaan). Pada letak majemuk dapat juga disertai penumbungan tali pusat. Cornelia ST. .3. 2.3) ETIOLOGI : (1. DIAGNOSIS : Pada pemeriksaan dalam vagina teraba kepala dengan satu ekstremitas (tungkai atas.4) Presentasi letak janin meliputi semua keadaan menghalangi pengisian dan penutupan pintu atas panggul sepenuhnya oleh bagian terendah janin. Semua kombinasi diatas dapat disertai komplikasi tali pusat yang menumbung dan ini merupakan masalah yang penting dalam hal prognosis. Penyulit : Kemungkinan terhambatnya kemajuan persalinan lebih besar. serta menghalangi putaran paksi dalam. b.2. Presentasi kepala dengan bagian yang menumbung berupa : a.202 8.

(3) Kalau reposisi tidak berhasil dan kepala tidak mau turun dilakukan seksio sesarea(3). Kalau kepala sudah jauh masuk kedalam rongga panggul. kalau terjadi gangguan putaran paksi dapat diselesaikan dengan ekstraksi forceps dengan memasang sendok forceps antara tangan yang menumbung dan kepala anak (3). Sedangkan pada tangan yang menumbung. Penekanan tali pusat antara bagian terbawah janin dengan panggul ibu mengurangi atau menghentikan aliran darah kejanin dan bila tidak dikoreksi akan menyebabkan kematian janin(1). tidak menghalangi persalinan spontan jadi baiknya dibiarkan. B. Selanjutnya penanganan letak majemuk tanpa komplikasi dibagi berdasarkan klasifikasinya yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 1). tetapi lengan yang menumbung baiknya direposisi kalau pembukaan sudah lengkap. KOMPLIKASI : . Pada 13 sampai 23 persen kasus presentasi majemuk ada komplikasi tali pusat menumbung. Ini kemudian menjadi masalah yang besar dan penting sehingga penanganannya ditujukan terutama pada tali pusat yang menumbung(1). Jadi selama persalinan maju tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa(1). Dengan komplikasi penumbungan tali pusat. Selanjutnya penanganan letak majemuk dengan komplikasi penumbungan tali pusat dibagi berdasarkan klasifikasi yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 2). Tanpa komplikasi. reposisi tidak mungkin lagi. maka persalinan diselesaikan dengan forceps.203 PENATALAKSANAAN : A. Penanganan paling baik untuk letak majemuk (tanpa komplikasi seperti tali pusat menumbung) adalah menunggu dengan penuh perhatian(1). Pada kebanyakan kasus setelah pembukaan menjadi lengkap dan bagian terbawah turun. lengan dan kaki yang menumbung naik keluar dari panggul sehingga memungkinkan persalinan berjalan normal. karena dapat menghalangi turunnya kepala(3). Kaki yang menumbung disamping kepala baiknya direposisi(3). Penumbungan tali pusat adalah keadaan tali pusat ada disamping atau dibawah bagian terbawah janin(1).

204 Penumbungan tali pusat(1). PROGNOSIS : Dengan penanganan konservatif hasilnya tidak harus lebih jelek dibanding dengan presentasi-presentasi lainnya(1). .

205 SKEMA PENALAKSANAAN LETAK MAJEMUK LETAK MAJEMUK PRESENTASI KEPALA Observasi kemajuan persalinan PRESENTASI BOKONG Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Reposisi penumbangan Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan DJA (+) DJA (-) Ekstraksi total Seksio sesarea BERHASIL TIDAK BERHASIL Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea DJA (+) DJA (-) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) Ekstraksi vakum PARTUS PERVAGINUM Ekstraksi forsipal Seksio sesarea Ekstraksi vakum Ekstraksi forsipal Seksio sesarea PARTUS PERVAGINUM .

206 LETAK MAJEMUK DJA (+) DJA (-) Presentasi Kepala Reposisi tali pusat posisi Trendelenburg Presentasi Bokong Observasi kemajuan persalinan Presentasi Kepala Presentasi Bokong Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ekstraksi vakum Ekstraksi Forsipal Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea Ekstraksi total Seksio sesarea Seksio sesarea Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Seksio sesarea PARTUS PERVAGINAM Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) .

Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara. POSISI OKSIPUT POSTERIOR PERSISTEN dr. Benyamin Rapa. (1. SpOG BATASAN : Posisi oksiput posterior persisten adalah : suatu keadaan letak belakang kepala dengan posisi oksiput posterior dimana tidak terjadi putaran paksi. Angka kejadian adalah 10 % dari seluruh posisi oksiput posterior.4. PENATALAKSANAAN : (1. Maggie Wewengkang. Partus pervaginam berupa : • • • • • • Persalinan spontan Persalinan dengan forseps Rotasi forseps Rotasi manual Ekstraksi vakum Tindakan episiotomi (bila perlu) .2.2.2) ETIOLOGI : (1.3.3) a.4) • Panggul anthropoid • Panggul android • Kesempatan panggul tengah • Ketuban pecah sebelum waktunya • Fleksi kepala kurang • Inersia uteri • Arkus pubis sangat luas DIAGNOSIS : (1.2. dr.3) • Pemeriksaan dalam vagina : Putaran paksi terhalang atau tidak terjadi pada saat penurunan kepala berada pada Hodge III/Hodge IV.207 11.

presentation and position in : Principles of obstetrics. Cunningham F. 1990 : 378-91. Mochtar R. Sastrawinata S. 403-21 2. 1982 : 262-64. 1994 : 160-69 3.208 b. Obstetri patologi. Penerbit Buku Kedokteran EGC. posisi atau perkembangan janin. Jakarta. . Mac Donald PC.S. Gant NF. Ronald M. Jakarta. Obstetri Williams.D Abnormal lies. Dalam : Obstetri patologi UNPAD. Baltimore U. Penerbit buku kedokteran EGC. Waverly Press. Caplan M. Seksio sesar : bila gagal partus pervaginam KEPUSTAKAAN : 1. Elstar Offset. Distosia karena kelainan pada presentase. Dalam : Rohardi Dh. Distosia karena kelainan presentase. Dalam : Sinopsis obstetri. Edisi 18 (Bahasa Indonesia). 4. Bandung. posisi atau kelainan janin. Distosia karena kelainan janin.A.

209 11. dls) Prematuritas Disproporsi Sefalopelvik Usia Tumor pelvik Polihidramnion Kehamilan ganda Plasenta previa Makrosomia DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan : . SpOG BATASAN : Presentasi muka adalah kepala janin terdapat dalam keadaan defleksi maksimal sehingga aksiput tertekan pada punggung dan muka menghadap kebawah. H.2 % (2.1 % Lembaga Statistik Obstetri & Pernoll M.5. masingmasing melaporkan 0. hidrosefalus.3) Dari hampir 50.L. tumor pada leher depan. (1) INSIDEN : • • • • Cruikshank & white (1973) melaporkan 1 : 600 kelahiran atau 0. PRESENTASI MUKA dr. Mardiah Tahir.3) • • • • • • • • • • Grandemultipara Anomali kongenital (anensefalus. 41 kelahiran atau 1 : 1200 adalah kelahiran dengan presentasi muka (2)+ ETIOLOGI : (1. A. dr. Habar Garu.2.000 kelahiran bayi tunggal di RS Parkland dalam tahun 19831986.17 % (2) Sarwono Prawirodihardjo 1948) di RSCM melaporkan 0.

5 . pada kasus panggul sempit dan anak besar daapat menimbulkan kesulitas. bagian kepala menonjol yakni belakang kepala terdapat disebelah yang bertentangan dengan letak dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas (1. tulang pipi dan sebagian tulang orbita.3). • Pemeriksaan dalam v agina. Hati-hati karena dapat keliru membedakan dengan letak bokong (1. Kepala bayi dalam posisi hiperekstensi & tulang muka berada pada atau sudah dibawah pintu atas panggul merupakan gambaran yang cukup khas (2.210 • Pemeriksaan Fisi (Leopaold). partus macet/lama. muka dapat diidentifikasi dengan meraba mulut. hidung.3) • Pemeriksaan penunjang : Radiologi. disamping itu muka tidak dapat melakukakan dilatasi serviks dengan sempurna • • Prognosis letak mento posterior kurang baik bila dibandingkan dengan letak mento anterior karena sulit lahir pervaginam Angka kematian janin adalah 2.3) PENATALAKSANAAN • Persalinan pervaginam : bila tidak ada penyempitan panggul persalinan spontan dapat diharapkan bila dagu berada didepan dengan syarat kepala belum jauh masuk kedalam panggul dan masih mudah didorong ke atas (1) Persalinan pervaginam juga dapat berlangsung spontan bila anak kecil dan tidak ada disproporsi sefalopelvik (1) • Persalinan perabdominam (seksio sesar) bila ada kesempitan panggul.5 % . dan posisi mento posterior yang tidak dapat lagi dikoreksi (1) PROGNOSIS : (1) • Pada umumnya persalinan berjalan tanpa kesulitan.

493-501 SKEMA PENATALAKSANAAN PRESENTASI MUKA PRESETASI MUKA MENTO ARTERIOR MENTO POSTERIOR BERHASI L VERSI TIDAK BERHASIL PERABDOMINAM Bila : CPD/FPD Panggul sempit Anak bernilai sosial tinggi Partus macet/lama PERVAGINAM PERABDOMINAM PERVAGINAM Bila : Bila : Panggul normal Panggul sempit Bila : Anak CPD/FPD Anak kecil diperkirakan Anak bernilai Multipara dapat lahir sosial tinggi Panggul pervaginam Partus normal Multipara macet/lama . 1995. A Lange Medical Book. Sarwono Prawirodihardjo. 18.211 KEPUSTAKAAN : 1. FG Cunningham. 1991. 548-53 2. Obstetri Williams. II. In : Current Obstetric Gynecologic Diagnosis & Threatment. Ed. PC Mac Donal. 412-5 3. 1981. Pernoll ML. 7th Ed. NF Gant. Hal. Hal. Herrera E. “ Complications of labor & Delivery”. Ed. Ilmu Kebidanan. cetakan I (Edisi Bahasa Indonesia).

panggul sempit. tumor .6.2. sama seperti presentasi muka tetapi bagian belakang kepala tidak seberapa menonjol dan terdapat disebelah yang berlawanan dengan dada.E.3.tumor dileher bagian depan. anensefali. PRESENTASI DAHI dr. yang menimbulkan kecuriga an adanya presentasi dahi.(1. • Pemeriksaan dalam vagina dapat diraba sutura frontalis yang bila diikuti. plasenta previa. Angka kejadian letak dahi kurang lebih satu diantara 400 persalinan. pada ujung yang satu diraba ubun . Rudianto HP. SpOG BATASAN : Presentasi dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga bagian kepala bayi diantara lengkungan orbita dan fontanel anterior.4 DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan: • Pemeriksaan fisis (Leopold).212 8.R Moeljono.perut gantung.1. berada diatas pintu atas panggul.(1.4 ) Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara dan sebagian besar akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala.4) • Ultrasonografi : untuk menemukan etiologi dari janin.2.1 ETIOLOGI : • • Dari ibu: Multipara.2. H. dr.ubun besar dan pada ujung yang lain teraba pangkal hidung dan lengkungan orbita.(4) . Pada dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas. polihidramnion Dari janin : Janin besar.

3) PROGNOSIS : Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal tidak dapat lahir pervaginam.(2. kecuali bayi kecil dan panggul yang luas. Janin dan ukuran panggul normal Akhir kala I kepala belum masuk PAP Kala II tidak mengalami kemajuan walaupun kepala sudah masuk rongga panggul.2) .213 PENATALAKSANAAN : Persalinan pervaginam bila : • • Janin kecil dan panggul yang luas Presentasi berubah menjadi presentasi muka (lihat penatalaksanaan presentasi muka) atau belakang Seksio sesar bila : • • • kepala. (1.

Gant NF. Jakarta. Sixth Edition. 415 -16 2. Danforth’s Obstetrics and Gynecology. . Fields DH. Abadi A. Philadelphia. Jakarta. Brow presentation. Philadelphia. 1990. Brow presentation. Mac Donald PC.214 KEPUSTAKAAN : 1. Presentasi dahi .B. Hammond CB. Dalam : Wiknyosastro H.Gyn Procedure. Kaufman SA. Edisi 18 ( Bahasa Indonesia ). Presentasi dahi. In: Scott JR. Penerbit Buku Kedokteran EGC.B. 1991. Saifuddin AB. Martohoesoedo. Cunningham FG. 578 -79. Edisi 3 . Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka. 602-06 3. J. Lippincott Company. J. Obstetri Williams. Cruikshank DP. Rachimhadi T. Disaia PJ. Spellacy WN. 1990. Lippincot Company. Third Edition. 1995. In : Barber HK.139 4. Quick Reference To Ob . Fields DH. Dalam : Ronardy Dh.

9) 3. (8. (6. 1. SpOG BATASAN : Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban pada setiap saat sebelum permulaan persalinan tanpa memandang apakah pecahnya selaput ketuban terjadi pada kehamilan 24 minggu atau 44 minggu.3.5.4. Pemantauan kesejahteraan janin.9) Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya KPD adalah : a.3.5. Inspekulo keluar cairan dari OUE. PDV : ketuban negatif. (7. pemeriksaan panggul atau koitus.5° C) untuk menilai adanya infeksi (leukositosis).6. contoh : korioamnionitis (1.5.7. Trauma.9) 2. Cornelia.4.7) d. contoh : amniosentesis.8.5.2. (6. dr. Keluarnya cairan jernih dari vagina.8.9) DIAGNOSIS : 1.6.9) 3. Pemeriksaan laboratorium.5) c.2.9) 4. bila fundus uteri ditekan atau digerakkan pemeriksaan mikroskopis. dll.5. Inkompeten serviks. Peningkatan tekanan intrauterina.4. (1.9) b.8. Adanya perubahan kertas lakmus merah ( nitrazim merah ) jadi biru. KETUBAN PECAH DINI dr.5.2.9) 4.9) e.9) 2. Kelainan letak atau presentasi janin.(2.215 12. Contoh : TORCH. Infeksi.9) PENATALAKSANAAN : (9) .7. contoh : kehamilan ganda dan hydramnion. (1.2.8. USG. Pemeriksaan Penunjang. ST. (1. (5.8. Telly Tessy. (4. (1) ETIOLOGI : Belum diketahui dengan pasti (1. Leukosit dan suhu badan (37. (1.7.

Bila dalam tiga kali 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada konstraksi uterus maka dilakukan mobilisasi bertahap. b. Jangan melakukan PDV. Antibiotik profilaksis adalah Amoxycillin 3x500 mg (5 hari). kecuali bila sudah ada tanda-tanda persalinan. h. Seksio histerektomi bila ditemukan tanda-tanda infeksi uterus yang berat. dan ditemukan tanda-tanda inpartu. Bila ada tanda-tanda infeksi. Induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan induksi dan masingmasing letak janin). Konservatif : a. . Janin (3. 2. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu.7. Rawat dirumah sakit. (3. b. f. letak sungsang.7.9) • • • • Kelahiran prematur Infeksi janin Deformitas janin. KOMPLIKASI : 1. lihat penatalaksanaan persalinan prematur. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin. e. sepsis dan kematian.216 1. Pemberian tokolitik (bila ada konstraksi uterus) dan pemberian kortikosteroid (pematangan fungsi paru janin). Aktif : Bila didapatkan infeksi berat diberikan antibiotik dosis tinggi. Ibu : Infeksi. Seksiosesaria dilakukan bila gagal induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan masing-masing dari letak janin yaitu letak kepala. tirah baring. gawat janin maka dilakukan terminasi kehamilan . infeksi dan gawat janin dilakukan terminasi kehamilan : a. g. bila pelepasan air berlangsung terus dilakukan terminasi kehamilan. c. Kematian janin.9) 2. d. c. letak lintang dan lain-lain).

217 .

Hakimi). Bagian I. 1986 . Obstetri Williams (terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh R.63 6th ed. 1990 . Sachs BP. 592-602 Ilmu kebidanan : patologi dan fisiologi persalinan (terjemahan dalam bahasa Indonesia dan editor ahli M. Majalah Dokter Keluarga. In: Scott JR. Edisi 17. Philadelphia : BC Decker Inc. 1990 . eds. Fields DH. 170-1 7. Medica. 353 . Spellacy WN. 39-40 Tessy T dan Garu H. Saifuddin AB. eds. In. Abnormalities of fetal growth and development concerning both antepartum and intrapartum care. eds. Penatalaksanaan ketuban pecah dini. 3rd ed.Ujung Pandang (masih dalam proses penyelesaian) 9. 1990 . eds. Jakarta : Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Brenner PF. 4. Laboratorium Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. Yayasan Essentia 8. Disaia PJ. Premature rupture of the membranes. Quick reference to OB-GYN procedures. Artal R. 1991 . Pritchard JA. . 1987 . Boston : Blackwell Scientific Publications. In: Mishell DR. Sura N. Utama H. Premature rupture of membranes. Management of common problems in obstetrics and gynecology. Obstetrical decision making.15 5. MacDonald PC. Pengelolaan ketuban pecah dini.Hariadi. 2nd ed. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. 119-32 6. Gant NF. 1991 : 880-3 2. 1994 . Acker DB. Fields DH. 5 : 62-4 Garite TJ. R Prajitno P.218 KEPUSTAKAAN : 1. eds. 3. Surabaya : Airlangga University Press. Premature rupture of membranes. Kaufman SA. Muhammad S dan Manuputty J. In: Barber HRK. Philadelphia : JB Lippincott Company. 3rd ed. Borten M. Oxorn H. Soedarto).Forte WR. Philadelphia : JB Lippincott Company. 108 . Danforth’s obstetrics and gynecology. eds. Hammond CB . Friedman EA.

Leukosit LETAK KEPALA MASA LATEN > 6 JAM INDUKSI/ AKSELERASI LETAK LINTANG LETAK SUNGSANG GAWAT JANIN BERHASIL GAGAL PARTUS PERVAGINAM GAGAL EKSTRAKSI VAKUM EKSTRAKSI FORSIPAL SEKSI SESAREA .219 KPD Kehamilan ≥ 37 minggu AKTIF DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab.

Leukosit INPARTU INFEKSI GAWAT JANIN Bila selama observasi ditemukan tandatanda ini AKTIF TIDAK INPARTU TIDAK INFEKSI TIDAK GAWAT JANIN KONSERVATIF Cairan ketuban keluar terus (Pemeriksaan USG) Cairan ketuban tidak keluar lagi Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Mobilisasi/ berobat jalan Bila cairan ketuban tidak keluar lagi diobservasi Bila cairan ketuban keluar lagi dikonservatif Kehamilan ≥ 37 mgg .220 KPD Kehamilan 20 .< 37 mgg DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab.

5 cm (biasanya 10.5 cm).2) Kesempitan pada pintu atas panggul : apabila diameter antero-posterior kurang dari 10 cm (conjugata diagonalis kurang dari 11. PANGGUL SEMPIT dr. Yusuf Manga. kifoskoliosis dan pelvis kifosskoliorakitis.3) . Kesempitan panggul menyeluruh : kesempitan meliputi semua bagian jalan lahir Kesempitan panggul yang jarang : pelvis kifosis. sehingga dapat menyebabkan distosia pada persalinan.221 13. H.(3) PEMERIKSAAN PENUNJANG : Tes Muller. atau diameter interspinalis kurang dari 10 cm. kiforakitis. Kesempitan pada pintu bawah panggul : berkurangnya diameter intertuberosum menjadi 8 cm atau kurang dari 10 cm.(1) DIAGNOSIS : Pelvimetri : pemeriksaan dalam dengan tangan. (1. atau jika diameter transversal kurang dari 12 cm.(1.5 + 5 cm). Maramis Palisuri. SpOG BATASAN : Panggul sempit adalah setiap kelainan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul. Kesempitan pada panggul tengah : bila jumlah diameter interspinalis ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah kurang dari 13.2) KLASIFIKASI : Panggul sempit dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1.(1) Ultrasonografi : mengukur diameter biparietal janin. dr.

Wiknjosastro H. Cunningham F. Mac Donald PC. Appleton and Lange. Distosia karena kelainan panggul. In: William Obstetric. prolapsus funikuli. 18th ed. Connecticut. 20th ed. Connecticut. In: Basic Gynecology and Obstetrics. Connecticut. fistula. Gant NF. infeksi intrapartum. Cunnigham F. Ed. Edisi Ke-3. dilakukan setelah diameter biparietal janin telah melalui penyempitan panggul. (1. (1. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono. MacDonald PC. In: Williams Obstetric. Saifuddin AB. Cunningham F. Dalam Wiknjosastro H. 19th ed. Gant NF. 1991: 637-48 4. Dystocia due to pelvic contaction. 1997: 461-72 2. 1993: 370-1 3. Dystocia due to Pelvic Contaction.(3) KEPUSTAKAAN : 1.222 PENANGANAN : Kesempitan pada pintu atas panggul Kesempitan panggul tengah : Seksio sesar. (1.2) : Infeksi intrapartum. Gant NF.2) : Ekstraksi vakum. (4) : Kraniotomi dan kranioklasik. Dystocia due to pelvic contaction. Appleton & Lange. perubahan pada kulit kepala janin dan tulang kepala. 1989: 377-83 . (4) Kesempitan pada pintu bawah panggul Pada bayi yang sudah mati KOMPLIKASI : Pada ibu Pada bayi : Ruptur uteri. Appleton & Lange. Rachimhadhi T. Ilmu kebidanan.2) : Episiotomi mediolateralis yang luas.

salah pimpinan persalinan. PENYULIT : (3) 1. SpOG BATASAN : • Kelainan His adalah suatu (1. penggunaan analgesi terlalu cepat. hidramnion. KELAINAN HIS dr. Intersia uteri hipotoni (disfungsi uteri hipotoni) : kontraksi uterus terkordinasi.2) keadaan dimana his tidak normal baik dalam kekuatan maupun dalam sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. lamanya 40 . Inersia uteri hipotoni : panggul sempit. • His normal/adekuat : his persalinan yang menyebabkan kemajuan persalinan. Josephine LT.. 2.4) 1. .223 14. Kemungkinan infeksi bertambah. Kelelahan ibu dan dehidrasi. lamanya 40-60 detik. gemeli. meteorismus dan asetonuri. dengan tekanan intrauterin 40 . ETIOLOGI : (1. KTG : 3 kali kontraksi/10 menit.2. KLASIFIKASI : (3. pernafasan cepat . dengan tanda-tanda : nadi & suhu meningkat. sifatnya kuat. Intersia uteri hipertoni (disfungsi uteri hipertonik/disfungsi uteri inkordinasi) : kontraksi uterus tidak terkordinasi. yaitu : (3) • • Klinis : 3 kali kontraksi/10 menit. kelainan letak kepala.3. tapi tidak adekuat 2. perasaan takut dari ibu.60 mmHg. kuat tapi tidak adekuat. turgor berkurang. Inersia dapat menyebabkan kematian atau jejas kelahiran 2. Frits Rumintjap dr. yang juga menyebabkan kematian anak meninggi 3.4) 1.60 detik. Inersia uteri hipertoni : pemberian oksitosin berlebihan.

KEPUSTAKAAN : 1. 1989 : 347-51 2. Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. Patologi persalinan dan penanganannya. Dalam : Sinopsis obstetri.T. Kelainan dalam persalinan. Dalam : Ilmu kebidanan. Mochtar R. 2.G PENATALAKSANAAN : (1.224 PEMERIKSAAN PENUNJANG : (3. Pedoman diagnosis dan terapi obstetri dan ginekologi RSUP Dr. Yayasan Bina pustaka. Martohoesodo S.4) 1.S.. untuk mencegah timbulnya gejala-gejala/penyulit diatas.G 2. 1994 : 537-44 3. Pemberian infus pada persalinan lebih lama dari 18 jam. Distosia karena kelainan tenaga. Jakarta. Inersia uteri hipertoni : (lihat bab resusitasi intra-uterin). Cunningham F G et al.4) 1. 3. cetakan pertama. U. Inersia uteri hipotoni : jika ketuban masih ada. Dystocia Abnormalities of the expulsive forceps. In : Williams obstetrics 20 th edition. Distosia karena his (Power). edisi kedua. Prentice-hall international inc. Bagian pertama (obstetri).2. Penerbit buku kedokteran EGC. Obstetri fisiologi. dilakukan amniotomi dan tetesan oksitosin (kecuali pada panggul sempit : seksio-sesar). K. Jakarta. 1997 : 415-32. Obstetri patologi. Edisi 4. Abnormal labour. 4. . Bandung. I . Hasan Sadikin.3. 1996 : 107-09. USA.

Ruptura bekas parut a. e. Tjandra. Ruptura uteri komplit : kalau peritoneum masih utuh 2. 2. Ruptura uteri FAKTOR PREDISPOSISI DAN ETIOLOGI : (3. dr. Menurut robek tidaknya peritoneum. O. Ruptura uteri imminens (mengancam) b.5) 1. Murah Manoe. Ruptura uteri komplit : semua lapisan dinding rahim robek b. Bekas parut bukan seksio sesar • • • • • • Miomektomi Histerorafi Reseksi kornu Akibat tindakan kuretase Plasenta perketa/akreta Metroplasti . IMS. Penggunaan oksitosin yang tidak tepat. yang dapat terjadi antepartum atau intrapartum.(1) KLASIFIKASI : 1. Menurut gejala klinik : (3) a. SpOG BATASAN : Ruptura uteri ialah robeknya dinding uterus. Presentasi abnormal d. Ruptura spontan uterus normal a. Anomali janin (hidrosefalus). Multiparitas b.225 15.4. Disproporsi c. Bekas parut seksio sesar b. (1) a. RUPTURA UTERI dr.

Defance muskuler sampai meteorismus d. His makin lama makin kuat dan sering g. Perdarahan pervaginam 2. Penderita gelisah. Anemis f. ketakutan disertai perasaan nyeri di perut c. Mengerang kesakitan pada setiap his d. Kadang nyeri menjalar di tungkai bawah dan bahu e. Segmen bawah rahim tipis dan nyeri tekan i.6) 1. Ligamentum rotundum teraba keras dan tegang h. Pada suatu his yang kuat sekali. Pernafasan cepat dan dangkal c. Perasaan mau sering kencing dan katetirasi ada hematuria k. B. keringat dingin dan tak sadarkan diri b. Ruptur uteri 1. Kontraksi uterus biasanya c. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya e. Palpasi a. Ruptura uteri imminens a. Muntah-muntah d. Nadi kecil dan cepat b. Nampak lingkaran bandl dan bertambah tinggi j. Tanda-tanda dehidrasi f. Anamnesa adanya faktor predisposisi / etiologi b. penderita kesakitan luas biasa.226 • Penyakit trofoblastik invasif DIAGNOSIS : (2. Terdapat tanda-tanda dari obstruksi (edema jalan lahir) dan kaput janin yang besar. Anamnesis dan inspeksi a. Denyut jantung janin ireguler l. Dapat terjadi krepitasi bila ada emfisema subkutan .

Laparotomi. DJJ sulit atau tidak terdengar lagi 4. Pada keadaan tertentu kompresi aorta dan pemberian oksitosin bisa membantu mengurangi perdarahan. penyebab ruptur. .5. Pemeriksaan dalam a. Auskultasi a. Uterus dapat teraba sebagai bola keras disamping bagian janin bila keluar dari kavum uteri 3.8) A. segera setelah diagnosis ditegakkan. Resusitasi a. Histerektomi baik total ataupun subtotal Dilakukan pada keadaan umum memungkinkan dan bila ada kolporeksis. 5. a. Paralisis usus b.227 e. anemia dan infeksi b. dapat dipilih antara memperbaiki kerusakan uterus atau histerektomi. Hematuri DIAGNOSIS DIFERENSIAL : (7) Akut abdomen pada kehamilan abdomen lanjut PEMERIKSAAN PENUNJANG : (7) Hb dan hematokrit darah PENANGANAN : (2. adanya parut uterus. Kepala janin mudah didorong disertai banyak perdarahan pervaginam b.6. Keputusan berdasarkan tempat ruptur. Kalau rongga rahim sudah kosong. luasnya robekan.3. jari tangan dapat meraba usus atau bagian melalui robekan dinding uterus. sifat robekan. Memperbaiki keadaan syok. B. Kateterisasi a. Kepala janin bila belum turun menjadi mudah dilepaskan dari pintu atas panggul f. kondisi umum pasien dan keinginan untuk mengandung di kemudian hari.

Hematoma pada daerah parametrium d. PENYULIT : (7) a. c. tidak terlalu rapuh dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Histerorafia dengan ligasi tuba. dilakukan pada luka bersih ruptura bekas parut dengan anak cukup. beraturan. Sepsis b. Histerorafia Dilakukan bila pinggir luka harus rata. Luka yang meluas ke kandung kencing dan vagina c.228 b. Syok irreversible .

Oxorn H. Wibowo B. Saifuddin AB. Mochtar R. New Central Book Agency. Hartono A. 1991 : 46-7. Kapita selekta . Text book of obstetrics. Kedaruratan obstetri dan ginekologi. Cunningham FG. Bagian I. 1995 : 467-77 . Penerbit Buku Kedokteran EGC. MacDonald PC. Taber B. Martohoesodo S. Saifuddin AB. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Jakarta . Rachimhadhi T. Utama H. {enerbit Buku Kedkteran EGC. Ilmu kebidanan. Balai Penerbit FKUI. Gunawan J. 8. 1994 : 450-4 4. Calcuta . Jakarta . Yayasan Essentia Medica. eds. Istilah obstetri dan Ginekologi. Panitia Ilmiah POGI. Jakarta . Jakarta. 1983 : 436-42 6. 1990 : 469-75 5. Dalam : Wiknjosastro H. Jilid I. Jakarta . Saifuddin AB. Marsinto. Alih bahasa : Suyono J. Bagian I. 1992 : 664-74 7. 1990 : 323-33 3. Sinopsis obstetri. Alih bahasa : Hakimi M. Perlukaan dan persitiwa lain pada persalinan.229 KEPSUTAKAAN : 1. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dutta DC. Jakarta . Ilmu kebidanan : patologi & fisiologi persalinan. 1973 2. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Gant NF. Obstetri Williams. Alih bahasa : Supriyadi T.

Mayor : 1. Dibagi atas kriteria mayor dan minor untuk meramalkan terjadinya persalinan spontan. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap. Suzanna S. Annas Budi. atau keduanya. atau 140 dan 259 hari (1). SpOG BATASAN : Persalinan prematur adalah persalinan pada usia kehamilan antar 20 dan 37 minggu penuh. Kehamilan multipel 2. Merokok lebih dari 10 batang / hari 5. Ny. atau 2 atau lebih faktor risiko minor . atau antara 140 dan 259 hari. Anomali uterus 4. Hidramnion 3. Penyakit yang disertai demam 2. PERSALINAN PREMATUR dr. Riwayat pielonefritis 4. Riwayat abortus Trimester I lebih dari 2 kali Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai : 1 atau lebih faktor risiko mayor . Minor : 1. Kriteria diagnosis : 1. Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali 7. Riwayat operasi konisai 10. dihitung dari hari pertama haid terakhir (1). Riwayat persalinan prematur sebelumnya 8. dr.230 16. Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu 6. Perdarahan per vaginam setelah kehamilan 12 minggu 3. Pakasi. Faktor risiko : (1). Operasi abdominal pada kehamilan prematur 9. Iritabilitas uterus . Riwayat abortus Trimester II 6. Serviks terbuka lebih dari 1 ccm pada kehamilan 32 minggu 5.

6. letak dan maturasi plasenta. 4. Kontraksi uterus yang reguler dengan interval kurang dari 10 menit dan lamanya kontraksi minimal 30 detik (2). jumlah janin. PENATALAKSANAAN : Masalah utama ini dalam menghadapi perlu persalinan prematur. dan tentu saja risiko pengobatan itu sendiri (3). Pemeriksaan kultur urine 7. Pemeriksaan vaginal berkala untuk mengetahui dilatasi / pemendekan serviks. Pemeriksaan gas da pH darah janin. maka pilihan tersebut adalah sebagai berikut (3).231 2. 2. Menghambat persalinan untuk memperpanjang kehamilan dan menunda persalinan mencapai atau menjelang aterm. 1. 4. frekuensidan kekuatan kontraksi. . rasa tekanan intra pelvik . selpaut ketuban seringkali telah pecah (1). Mengeluarkan lendir per vaginam. risiko ibu janin bila persalinan dilanjutkan. kematangan paru). nyeri bagian belakang (1). aktivitas biofisik. 5. 3. mungkin bercampur darah. dan diagnosis persalinan prematur sudah dibuat. fase persalinan. Pemeriksaan surfaktan (amniosnetesis). 1. apakah dengan kelangsungan proses itu perlu dihentikan atau sama sekali tidak. besar janin. 3. penentuan kondisi janin inutero. Ultrasonografi : usia kehamilan. untung dan adalah ruginya. volume cairan amnion. Pemeriksaan bakteri vagina 6. Adanya pendataran dan dilatasi serviks secara progersif atau dilatasi serviks minimal 2 cm sejak penderita masuk rumah sakit setelah diobservasi selama 3060 menit (2). cacat bawaan. Bilamana keadaan penderita sudah dinilai. Kardiotokografi : kesejahteraan janin. Untuk menjawab pertanyaan dipertimbangkan memperhitungkan kematangan janin (misalnya : berat janin. Merasakan gejala seperti : rasa kaku diperut menyerupai kaku menstruasi . kelainan uterus. 5. Pemeriksaan penunjang (1).

232 2. Pemberian sedai dan hidrasi 4. dsb) KEPUSTAKAAN : (4) . Kontraindikasi per vaginam lainnya (letak lintang. Pematangan paru). Pemberian obat tokolitik : (lihat bab. Membiarkan persalinan berlangsung dengan anggapan bahwa terapi tokolisis tidak berguna bagi ibu dan janin yang akan lahir. Infeksi intraprtum. kelainan kongenital. dan kematian janin CARA PERSALINAN : (1) 1. plasenta previa. Janin sungsang b. Deteksi dan penanganan terhadap faktor risiko persalinan prematur 3. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi e. (lihat . atau karena ada indikasikontra terhadap obat tokolisis.72 jam dan mencoba mempercepat kematangan paru janin agar risiko sindrom gawat nafas dapat dikurangi. Indikasi seksio sesar : a. perdarahan antepartum yang banyak. Gawat janin. korioamnionitis. Taksiran berat janin kurang dari 1500 g (masih kontra versi) c. Menghambat persalinan selama 48 . pertumbuhan janin terhambat. Terapi penundaan persalinan prematur : (1) 1. tokolitik) Pemberian obat pematangan paru patut diberikan pada persalinan prematur 28-35 minggu. Janin presentasi kepala : per vaginam dengan episiotomi lobar 2. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi d. diabetes melitus (beta-mimetik). INDIKASI KONTRA PENUNDAAN PERSALINAN : (1) Gawat janin. gestosis. Istirahat baring 2. Terutama pada kasus dengan indikasi terminasi kepentingan ibu bab. 3. pembukaan serviks lebih dari 4 cm.

Manajemen persalinan preterm. Diagnosis and management of Obstetric emergencies. 1991 . . 647 3. Fadel HE. Bagian I. 1982 . Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 59-61 2. Standar pelayanan medik Obstetri dan Ginekologi. ed. Wiknjosastro GH. Preterm labor. London : Addison-Weslay Publishing Company. Pengurus besar POGI. In : Fadel HE. Maj Obstetri Ginekologi Indonesia 1993 . 19 : 24-6 4. Wiknjosastro GH. Saifuddin AB. Perbandingan tokolisis dengan salbutamol dan magnesium sulfat dalam pencegahan persalinan preterm.233 1. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Muchsin LH.

mencapai atau menjelang aterm Selama 48-72 jam & mencoba mempercepat kematangan paru Istirahat Deteksi & penanganan terhadap faktor resiko Terapi sedasi & hidrasi Tokolitik CARA PERSALINAN PERVAGINAM PRESENTASE KEPALA + EPISIOTOMI LEBAR SEKSIO JANIN SUNGSANG TBJ < 1500 GR GAWAT JANIN INFEKSI INTRA PARTUM K.I.234 SKEMA PENATALAKSANAAN PERSALINAN PREMATUR KRITERIA DIAGNOSIS PERSALINAN PREMATUR PEMERIKSAAN PENUNJANG MENGHAMBAT PERSALINAN MEMBIARKAN PERSALINAN BERLANGSUNG Pada terapi tokolis tidak berguna Indikasi kontra Memperpanjang Kehamian & menunda persalinan. PLAS PREVIA) . PERVAGINAM (LL.

(6) DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN : 1. keadaan ini berkaitan dengan adanya defisiensi sulfatase plasenta dan kehamilan ekstra uteri. Konfirmasi umur kehamilan dengan : (1) a.80% pada plasenta.S. dr. I. (5) Gawat janin dapat terjadi akibat penekanan tali pusat yang dihubungkan dengan oligohidramnion.20 % dari bayi persalinan kehamilan lewat waktu. Pada kehamilan lewat waktu infark ditemukan 60. sebagian (25 . maka janin mungkin kekurangan nutrisi / oksigen akbiat dari penurunan fungsi plasenta. dr. Henrie Usmany. Perubahan ini disertai dengan terjadinya gambaran infark hemoragik yang merupakan tempat penimbunan kalsium dan pembentukan infark.(3) • Apabila kehamilan berlangsung melampaui masa fungsi plasenta. (1) Walaupun dapat bertumbuh menjadi postmaturitas.20 minggu.M. Murah Manoe SpOG BATASAN : Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berumur 42 minggu atau lebih. nekrosis fibrinoid dan terjadinya arterosis pembuluh darah desidua dan korion.30 %) janin juga dapat terus bertumbuh dan melebihi 4000 gram. Rahmy Djamil. .(1) ETIOLOGI : Sampai sekarang belum jelas dipahami seluruhnya. Terdengarnya denyut jantung janin pada kehamilan 17 . KEHAMILAN LEWAT WAKTU dr.235 17. Pemeriksaan umur kehamilan • • Umur kehamilan dihitung dengan rumus Naegele berdasarkan anamnesis tanggal hari pertama haid terakhir. (2) PATOFISIOLOGI : • Perubahan plasenta menunjukkan penurunan diameter dan panjang vilikorialis. (4) Sindroma postmaturitas dapat terjadi hanya 10 .

Cara pengakhiran kehamilang tergantung : • • • 3. b.(3) Pemantuan detak jantung janin : b.2. Penanganan antepartum : Pemanatauan kesejahteraan janin : • • Pemeriksaan NST atau CST Pemantauan profil biofisik. 2.236 b. Pada dasarnya. (2) Penentuan fungsi plasenta / keadaan janin. penatalaksanaan kehamilan lewat waktu adalah : Penanganan kehamilan dengan pemantauan dan pengakhiran kehamilan.30 minggu. Pematangan serviks. Non stress test (NST) (4) b. PEMERIKSAAN DALAM : Untuk menilai kematangan serviks (digunakan nilai Bishop). Profil biofisik : Manning menganjurkan pemeriksaan ini 2 kali seminggu dan persalinan janin tersebut bila ada oligohidramnion. c. a.3. PENATALAKSANAAN : 1. • Keadaan janin. Tinggi fundus uteri antara 18 .1. Oxytocin chalenge test (OCT)(4) Seksio sesar dilakukan bila OCT positif. Tidak adanya gangguan fungsi plasenta. Pemeriksaan USG sebelum umur kehamilan 26 minggu. 2. • • • • NST Gerak napas janin Gerak janin Tonus otot janin . Amnioskopi : untuk melihat warna serta kejernihan cairan ketuban. c.

(6) Aspirasi trakheal pada neonatus.(1. maksimum 60 tetes / menit.237 • • Cairan amnion Pematangan serviks Dilakukan pada serviks yang belum matang (nilai Bishop < 6). Induksi persalinan dilakukan pada nilai Bishop  6.6) . (3) • Induksi persalinan. Penanganan intrapartum • • Amnioinfusion dilakukan pada amnion yang kental.5 intraservikal)(6) atau balon kateter kateter Foley no 18 F(7) atau 26F. Pematangan serviks dapat dilakukan dengan Prostaglandin (Prostaglandin gel E2 3. • • Makrosomia (perkiraan berat janin  4500 gram).(8) Induksi persalinan dengan menggunakan Oksitosin S 5 U / 500 cc Ringer Laktat. dimulai dengan 6 tetes mikro / menit dan dinaikkan tiap 30 menit 6 tetes / menit.0mg intravaginal dan 0.(6) Pada keadaan distosia bahu diperlukan bantuan dokter anestesi dan dokter anak serta seorang ahli kebidanan yang sudah berpengalaman dalam melahirkan distosia bahu dengan berbagai maneuver. (1.(6) • Seksio sesar dilakukan pada : • • • Suspek makrosomia.(6) 4.(1.(8) • Seksio sesar.6) Deselerasi lambat persisten disertai variabilitas atau peningkatan denyut jantung.6) Dilakukan pada janin dengan yang selama persalinan menunjukan nonreaktif dan positif.

Cunninghham FG. Induction of labor in the posdate fetus. Hankins DV. 8. MacDonald PC. The unfavorable cervix: methods of cervical priming. Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Niebyl JR. Maternal-fetal medicine. Post term .6 Freeman RK. Appleton & Lange. MacDonald PC. 1991: 945 -55 7.1 guide to high-risk pregnancy and delivery . Porto M. New York. Simpson JL.7 Satin JQ. 32: 2: 270 . Hartono A. In: Williams obstetrics. In: Practical 150 .B. Gant NF. Prolonged pregnancy. Resnik R. 32 : 2 : 262 . Sint Louis. 1989. Clin Obstet Gynecol.3rd ed. In: Gabbe SG. Kehamilan Preterm dan Postterm. Obstetrics normal and problem pregnancies . 1994 : 521 . Mosby Year Book. Jakarta.1988 : 76 -8 5. Post-term pregnancy.37 2. Gant NF. Gilstap III LC. Jakarta. Stamford. Post Datism. Laboratorium/UPF Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan . 20 th ed. In: Creasy RK. W. 1997 : 827 . Leveno KJ. Philadelphia. 2nd.61 4. 1995:903 -10 3. Alih Bahasa: Sutoyo J. Pedoman Diagnostik dan terapi . Arias F. Hankins GDV. churcill Livingstone.Saunders Company. Resnik R . Clark SL. 3 nd ed . Lagrew DC. 1993 : . 1989. Cunningham FG. Dalam: Obstetri Williams. 6. Editor: Ronardy DH.238 KEPUSTAKAAN : 1. Prolonged pregnancy. Clin Obstet Gynecol.

cepat. adanya penambahan berat badan yang menonjol yang tidsak disebabkan oleh edema dan obesitas. fundus uteri lebih tinggi dari kehamilan biasa.5) 1. teraba 2 balotemen . Oesman. (Heterolog biovuler) ETIOLOGI : Tidak jelas. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG). 2. KLASIFIKASI : (1. Pemeriksaan ini merupakan cara diagnosis yang mudah. Terdengarnya bunyi jantung anak pada dua tempat yang berbeda dan sama jelasnya serta ada perbedaan frekwensi sekurang-kurangnya 10 kali dihitung pada saat yang sama. SpOG BATASAN : Kehamilan kembar dua adalah kehamilan dengan dua janin. Telly Tessy. adanya riwayat persalinan kembar dalam keluarga. DIAGNOSIS : (1.3. Armyn A.5) 1. teraba banyak bagian-bagian kecil anak.2.3.3. gerakan anak lebih sering.4. Anamnesis : ibu merasa perutnya lebih besar dari kehamilan sebelumnya.4.239 18. teraba 3 bagian besar janin. Kehamilan kembar monozigot : yang terjadi dari ovum dan satu sperma. tidak membahayakan ibu dan anak. KEHAMILAN DAN PERSALINAN KEMBAR DUA (GEMELI) dr. (Homolog uniovuler) 2. 3. Kehamilan kembar dizigotik : yang terjadi dari dua ovum dan dua sperma. dr. PENATALAKSANAAN : • Dalam kehamilan : (1.2.4) . dengan pemeriksaan ini kehamilan kembar sudah dapat diketahui pada kehamilan 6-7 minggu. Pemeriksaan fisik : perut tampak lebih besar dari kehamilan biasa.

Persiapan resusitasi oleh bagian neonatologi. (3.3. 1. maka harus dilakukan seksio sesarea. Pimpinan pada kala II : Persalinan anak pertama ditolong seperti biasa bila letak anak membujur. protein. sehubungan dengan peningkatan kebutuhan terhadap kalori. Pemeriksaan antenatal yang lebih sering dan teratur. Kebutuhan makanan harus diperhatikan . 4. Untuk mencegah anemia. Memperbaiki kesehatan umum dan mengusahakan pertambahan berat badan yang cukup. sehingga perlu diadakan pencegahan untuk kepentingan ibu dan anak. mineral. Tindakan yang paling baik pada locked twins dan conjoined twins ialah seksio sesarea. 5. Padasetiap perpanjangan waktu persalinan pada kala I dan kala II.5) .4. vitamin dan asam folat selama kehamilan. tidak melakukan perjalanan jauh dan tidak melakukan koitus setelah kehamilan 28 minggu. • Dalam persalinan : Pimpinan persalinan Pimpinan persalinan kembar dua tergantung pada umur kehamilan atau perkiraan berat badan lahir anak. Kerja ringan. istirahat cukup. Terminasi persalinan tergantung pada indikasi. 2. harus dipikirkan kemungkinan terjadinya “locked twins” atau adanya “conjoined twins”. Dalam hal ini pemeriksaan USG dapat juga dilakukan lebih sering atas indikasi.2. secara rutin diberikan sufas ferrosus 1 x 100 mg dan diperiksa Hb sekali dalam 3 bulan.4) Seseudah anak pertama lahir. Bila ternyata anak pertama letak lintang. 3. Pimpinan pada kala I :seperti pada partus biasa. Untuk tiap persalinan kemar dua dapat dilakukan tindakan sebagai berikut : Persiapan : persiapan untuk persalinan biasa dan operasi.240 Komplikasi utama yang sering terjadi pada kehamilan kembar yaitu partus prematur dan preeklampsia. maka dilakukan : (1.

Pengawasan komplikasi postpartum dilakukan dan dirawat seperti biasa. Jika tidak berhasil. 1981. presentase dan keadaan anak kedua (denyut jantung) 2. ketuban positif. Bila letak kedua anak kedua melintang dan ketuban negatif. keadaan janin masih baik.5) Anak kedua diusahakan harus sudah lahir dalam waktu kurang dari 30 menit sesudah anak pertama lahir.4. presentase ganda dan lain-lain Bila ternyata letak anak kedua memanjang (kepala atau bokong) dan keadaannya baik. dilakukan versi dan ekstraksi atau seksio sesarea. Untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum. presentase anak kedua. Bila perlu his dapat diperkuat dengan pitosin drips. segera dilakukan versi dan ekstraksi bila masih memungkinkan atau seksio sesarea. diusahakan untuk menghentikan persalinan bila mungkin dengan tokolitik. ketuban positif. maka dilakukan versi luar. Pemeriksaan dalam untuk mengetahui letak.3. Pemeriksaan obstetric luar untuk mengetahui letak. apakah ada prolapsus tali pusat. Bila letak anak kedua melintang.2. . KEPUSTAKAAN : 1. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK. Semua persiapan untuk tindakan obstetrik sudah harus dilakukan setelah anak lahir. Persalinan anak kedua harus dipercepat menurut cara yang sesuai bilamana : • • • Di temukan presentasi atau prolapsus tali pusat. Ujung Pandang. Tinggogoy J. UNHAS. Interval persalinan anak pertama dan kedua : (1.241 1. kedaan anak baik. maka ketuban segera dipecahkan kemudian ditunggu sampai partus spontan sambil fiksasi presentasi anak kerongga panggul dengan melakukan penekanan seperlunya pada fundus uteri. maka tindakan pencegahan mutlak diperlukan. Kembar dua di Rumah Sakit Umum Ujung Pandang. Skripsi. Terdapat tanda-tanda foetal distress atau ancaman foetal distress anak kedua Ketuban negatif sesudah anak pertama lahir. Pada stadium awal dari partus imaturus dan prematurus yaitu pada pembukaan serviks 4 cm atau kurang.

Manuaba IBG. Edisi III. 1992 : 386 . Rachimhadi T. 1993 : 134 .60 . Saifuddin AB. Obstetri Patologi. Wibowo B. Multiple gestations.97 4. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Penuntun kepaniteraan klinik Obstetri dan Ginekologi. eds .36 3. Boston : Blackwell Scientific Publications. Brenner PF. Hanafiah MJ. Eds. Ilmu Kebidanan. In : Mishell JR. 3rd ed.242 2.1982 : 68 . Bandung : Elstar Offset. Dlama : Melfiawati S. Dalam : Wiknjosastro H. Kovacs BW. ed. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Management of common problems in obstetrics and gynecology. Cetakan I. Kehamilan Ganda. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka.78 5. 1994 : 154 . Kehamilan Ganda.

2) Diagnosis gemeli Hamil < 30 minggu Hamil 30-36 minggu Rawat di RS rutin/selektif ** Hamil aterm Partus di RS Komplikasi (-) Komplikasi (+) Rawat jalan atau RS * Periksa hamil intensif Inpartu *** Komplikasi *** Masuk RS R/Tocolotik bila pembukaan 4cm (rawat=prematur) Persalinan pervaginam Atonia/hipotonia Prolong labor Induksi persalinan Memecahkan ketuban Persalinan pervaginam Spontan Vakum/forceps/ekstr aksi kaki Seksio sesarea : Anak I lintang atau sungsang Gawat janin Indikasi obstetri .243 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN KEMBAR DUA (GEMELI) (1.

Maggie Wewengkang. Hindar Jaya. dr.32 minggu tiap 2 minggu c) Dari umur 32 . SpOG BATASAN : Kehamilan dan Persalinan bekas seksio sesar adalah kehamilan dan persalinan yang terjadi pada rahim yang pernah diseksio sesar. Melakukan pemeriksaan antenatal (PA) yang teratur yaitu (1) : a) Sebelum mencapai umur kehamilan 28 minggu PA dilakukan tiap 4 minggu b) Pada umur 28 . (1) 1. Pemeriksaan Penunjang • Ro pelvimetri pada panggul suspek sempit (1) • USG untuk menentukan usia kehamilan. tinggi badan penderita b) Mengetahui riwayat kehamilan yang lalu c) Mengetahui riwayat persalinan yang lalu d) Mengetahui indikasi seksio yang lalu b. Persalinan pada bekas seksio sesar a.2) 2. Seksio Sesar bila (2) : • Seksio sesar dulu seksio sesar klasik/korporal . Anamnesis (1) : a) Mempunyai data umur. Kehamilan pada bekas seksio sesar a. perkiraan berat badan janin dan letak plasenta (1.244 KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA BEKAS SEKSIO SESAR dr.38 minggu pemeriksaan dianjurkan tiap minggu d) Mulai umur > 38 minggu atau 2 minggu sebelum taksiran persalinan ibu sudah harus rawat apabila (2) : e) Tingkat pendidikan rendah f) Transportasi sulit g) Tempat tinggal jauh c.

Partus pervaginam dapat dilakukan (1) : • Bila anamnesis dan pemeriksaan fisis obstetri seperti : a) Umur kehamilan pertama < 35 tahun b) Umur kehamilan sekarang > 28 minggu c) Ukuran panggul luar dan dalam normal (conyungata vera > 11.P) e) Distosia b.5 cm) d) Posisi letak kepala fisiologis (ubun-ubun kecil depan) e) Tidak ada tumor jalan lahir f) Kehamilan bekas seksio sesar transperitoneal profunda murni dan hanya satu kali seksio sesar g) Pernah melahirkan bayi pervaginam yang berat badan lebih besar dari perkiraan berat badan janin kehamilan ini • Dengan observasi ketat (1) : a) Tanda vital b) His c) Denyut jantung janin (DJJ) d) Kemajuan persalinan .S.245 • • • Penyembuhan luka operasi buruk Sudah dua kali atau lebih seksio sesar Kehamilan ini disertai dengan penyulit seperti : a) Kelainan letak b) Kelainan presentasi c) Plasenta previa d) Disproporsi sefalo pelvik (D.

POGI. Penatalaksanaan persalinan bekas seksio sesar di Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UH. Wewengkang MJ. Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Jakarta. Djasmadi N. 1991: 72-3 . 1989: 1-26 2. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I.246 KEPUSTAKAAN : 1. Bekas Seksio Sesarea.

Dehidrasi pada ibu. Meteorismus 3. multipara 1 jam). Dehidrasi : nadi cepat dan lemah. serta febris 2. Gawat janin atau kematian janin GEJALA KLINIS : 1.2 cm per jam. e. Oligouri . Kelelahan pada ibu. b.4) Partus lama yang telah disertai penyulit (partus kasep).2) Kemungkinan terjadi partus kasep bila terjadi (sesuai Friedman) perpanjangan fase laten ( nulipara 20 jam.S. c. dr. His yang melemah atau hilang 4.5 cm per jam) atau kala pengeluaran yang memanjang (nulipara 2 jam. Faktor tenaga 4.247 20.(1) PATOFISIOLOGI : Penyebab kemacetan dapat karena : (2) 1. multipara 1.2) a. Faktor penolong Persalinan normal rata-rata berlansung tidak lebih dari 24 jam dihitung awal pembukaan sampai lahirnya anak. Tanda-tanda kelelahan dan intake yang kurang : (2) 1. meliputi : (1.(1. Henrie Usmany. Infeksi intrauterin d. fase aktif (nulipara 1.M. Faktor anak 3. PARTUS KASEP dr. Penekanan jalan lahir dengan akibat edema dan perlukaan jalan lahir. multipara 14 jam).Murah Manoe SpOG BATASAN : Partus kasep adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi pada ibu maupun anak.3.(2. I. Faktor panggul 2.

(5) 4.(2) 6.248 2.(2. Keadaan umum ibu : (2) 1. Suhu rektal > 37.5) 2. 4. 2. Gejala rangsangan peritoneal. His hilang. Pelepasan air ketuban yang keruh kehijauan dan berbau 2.(5. B.5) 5.6) c. (6) d.6 ) b. Regangan berlebihan dengan nyeri pada segmen bawah rahim.5 0 C 3. Kegelisahan ibu yang akan bersalin. 4.(5.(2. 3. Peningkatan aktifitas kontraksi. Berhentinya denyut jantung janin atau pergerakan atau keduanya. Cincin Bandl mendekati pusat atau melewati pusat. Dehidrasi. (5) 3. Periksa dalam: bagian terendah janin mudah didorong ke atas (2) 5. Tanda-tanda ruptura uteri membakat : a. Tanda-tanda gawat janin : (2) 1. Febris. Tanda-tanda ruptura uteri : 1. Perdarahan melalui ostium uteri eksternum (2. Robekan dapat meluas sampai ke serviks dan vagina.5) 3. Tanda-tanda infeksi :(2) 1. 3. 2. Meteorismus. Air ketuban bercampur mekonium Denyut jantung janin takhikardi (160 x menit) / bradikardi ( 120x/ menit ) / tidak teratur Gerakan anak melemah berkurang atau hiperaktif (gerakan yang konvulsif) DIAGNOSIS : A. Syok (nadi kecil dan cepat). Syok. Oligouri. 5. Bagian anak mudah diraba. (5) 4. Palpasi : (2) .

syok. penurunan kepala. pembukaan serviks. dan mudah digerakan bila sudah terjadi ruptur. Anak : • • • (2) Gawat janin sampai meninggal Cacat otak yang menetap akibat asfiksia berat Trauma karena persalinan .2) • Fistula buli-buli. (2) 2. Bagian terendah anak sukar digerakkan bila belum terjadi ruptur. Bagian janin mudah diraba. (1. Kelainan letak (pada yang kelainan letak) (Pada pemeriksaan dalam vagina dinilai seviks.249 1. Periksa dalam vagina : 1. C. Ibu : • • Infeksi sampai sepsis. Auskultasi : (2) Denyut jantung janin lemah atau menghilang • • • Takhikardi / bradikardi. kegagalan fungsi organ-organ. 3. uterus dan rektum. (2) • Dehidrasi. Pelepasan air ketuban yang keruh. (2) 3. vagina. Menghilang (bila sudah mati) D. His lemah atau hilang. berbau dan bercampur mekonium.posisi kepala dan keadaan panggul ) DIAGNOSIS BANDING : (2) Kehamilan / persalinan dengan infeksi genetalia eksterna KOMPLIKASI : A.2) • Robekan jalan lahir. Tidak teratur.2) Gangguan elektrolit. (1. (1. (2) B. 2. Gerak janin tidak ada.

1994: 55 . (2) Pemberian cairan yang memadai.Niebyl RJ. selama 5 hari. dilanjutkan 4 x 500 mg / hari peroral selama 3 hari dan Gentamycin 60 .3 kali sehari selama 5 hari. 1991 : 435 -46 4. In : Gabbe SG. Dalam: Obstetri Disoder Labor. Gant NF. (Vakum / forsep atau perforasi kranioklast) • Seksio sesar bila syarat pervaginam tidak terpenuhi dan belum lengkap.8 3. Pemakaian partograf untuk keselamatan ibu dan bayi dalam persalinan. O'Brien WF. Rehidarsi. Churchill Livingstone - . dengan memantau produksi urin (pasang kateter) 2.80 mg. 1992 : 2: 290-300 2. Pemberian antibiotik :(2) • • Ampicillin 1gram / 8 jam IM selama 2 hari. atau Sephalosporin 1 gr / 12 jam / IV selama 5 hari Dapat dikombinasi dengan • Metronidasole 500 mg suppositoria/ 8 jam. KEPUSTAKAAN : 1. 2 . Dextrose 5% (500cc) dan NaCl (500cc) dalam 1 -2 jam pertama . Mac Donal PC. • Kompres basah (dingin). • Pervaginam bila pembukaaan lengkap serta memenuhi syarat pervaginam.250 PENANGANAN : A. Akhiri persalinan Sesuai dengan penyebab dan keadaan . Inc. Cefalo RC. Simpson JL. CunninghamFG.Obstetrics normal & problem pregnancies. Cedera jalan lahir. Penurunan panas :(2) • Antipiretika per oral (paracetamol 3 x 500 mg) atau parenteral xyllomidon 2 cc IM (bila tidak bisa peroral). Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia.. Memperbaiki keadaan umum penderita 1. Hariadi R... Rumah Sakit umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya. New York... B. Pedoman diagnostik dan terapi . 3.

1971:197 . Jakarta . Cetakan kelima. Balai Pustaka . Penerbit Buku Kedokteran EGC. Edisi18. EGC.8. Dalam : Ilmu kebidanan. Dharma A. Alih Bahasa Joko Suyono. Dalam : Gawat darurat ginekologi dan obstetri. . Alih bahasa: Matroprawiro HM. editor Ronaldy DH.251 Wiliams. 1995 : 469 . Jakarta. Heller L. Jakarta. Ruptura uteri . cetakan 1988: 30 .77 5. Goelam SA. Perdarahan waktu persalinan. Hartonao A.1 6.

1. Habar Garu. SpOG BATASAN : Perdarahan pasca salin adalah perdarahan 500 cc atau lebih sesudah kelahiran bayi.252 21. 2. PERDARAHAN PASCA SALIN dr. Muin. Perdarahan pasca persalinan primer yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi lahir. (1) Perdarahan pasca persalinan dibagi atas : (2) 1. ETIOLOGI(3) • Atoni uteri • Laserasi jalan lahir • Retensi plasenta atau sebagian plasenta • Gangguan pembekuan darah b. Abd. FAKTOR-FAKTOR PREDISPOSISI(3) • Trauma jalan lahir • Multipara/grandimultipara • Plasenta previa • Preeklampsia/eklampsia • Partus lama • Solusio plasenta • Tindakan operasi yang menggunakan anestesi Eter/Halotan • Induksi Persalinan • Penanganan Kala II dan Kala III yang salah • Riwayat perdarahan pada pasca persalinan sebelumnya . dr. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN PRIMER a. Perdarahan pasca persalinan sekunder yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama.

vagina dan serviks • Pemeriksaan dalam : Eksplorasi vagina. diberikan dengan cepat. untuk mengetahui kemungkin tertinggalnya jaringan plasenta atau selaput ketuban • Inspekulo : Untuk mengetahui adanya robekan pada perineum. tindakan penting adalah : • Transfusi darah. keadaan penderita selama kehamilan. tekanan darah menurun. masa pembekuan darah (1) e. penderita pucat dan dingin. Pada keadaan akut. pusing. • Keadaan umum lemah. serta kemungkinan plasenta suksenturiata. denyut nadi lemah dan cepat. minimal 500 ml untuk menggantikan darah yang hilang. Haenatokrit. • Palpasi : Untuk mengetahui adanya atoni uteri serta fundus uteri • Pemeriksaan plasenta dan selaput ketuban. serviks dan kavum uteri untuk mencari robekan pada vagina. perdarahan dapat terjadi internal atau eksternal. masa perdarahan. • Pemeriksaan Lab : Hb. gelisah sampai koma d. sebaiknya pada awal persalinan sudah diberikan infus larutan Ringerlaktat atau Glukosa 5% dan persiapan transfusi darah.253 • Kelainan pada uterus c. serviks uteri. DIAGNOSIS (3) Diagnosis perdarahan pasca persalinan ditegakkan berdasarkan : • Anamnesis : faktor-faktor predeposisi. GEJALA KLINIS (3) Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang mengalir deras atau merembes. • Pemberian plasma ekspander (Larutan Dextran L) . PENATALAKSANAAN (3) Penderita dengan kecenderungan perdarahan pasca persalinan.

9% disertai masase uterus (2) Bila uterus belum berkontraksi. hipogastrika) b) Retensi plasenta atau sebagian plasenta (3) • Drips oksitosin 20 UI dalam 500 ml larutan Ringerlaktat atau NaCl 0. persiapan kamar operasi. Jika hanya sisa plasenta.9% sampai uterus berkontraksi. konsultasi keluarga penderita untuk tindakan Histerektomi atau ligasi (a. dicoba dengan tindakan manuil plasenta. atau prostaglandin (PG): Sulproston (Nalador) 0. lakukan tamponade utero vaginal kemudian observasi perdarahan.5 mg diulang tiap 6 jam (3) Bila perdarahan berhenti.9% • Vaksin serap tetanus 1/2 cc a) Atoni Uteri (3) (1) Drips oksitosin 20 UI dalam 50 ml larutan Ringerlaktat atau NacCL 0. Jika plasenta tidak lepas. Bila selama observasi perdarahan bertambah atau tetap berlangsung dilakukan Histerektomi atau ligasi (a. berikan methergin 0. jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus. • Plasenta dilahirkan dengan Brandt Andrews. hipogastrika) (4) Jika perdarahan berkurang. . jaringan plasenta dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta Bila plasenta tidak terlepas. drips dilanjutkan 28 tetes permenit. uterina atau a. kemungkinan plasenta akreta.2 mg intravena. histerektomi dapat dipertimbangkan. Jika perdarahan tetap berlangsung. lakukan pengeluaran plasenta dengan digital atau kuretase. uterus berkontraksi.254 • Drips Oksitosin 20 IU dalam 500 ml larutan Rengarlaktat atau NaCl 0. uterina atau a. Jika tindakan manuil plasenta tidak memungkinkan.

Bila ditemukan ruptura uteri tindakan defenitif adalah laporotomi. d) Gangguan faktor pembekuan (3) (1) Transfusi darah segar. Bila tidak memungkinkan perdarahan tetap berlangsung. serviks dan vagina (5) Jahit luka robekan dengan jahitan terputus. Antibiotika diberikan Ampicilin 4 x 500 mg. selama 5 hari. tindakan histerektomi merupakan pilihan. transfusi darah segar dilanjutkan selain itu diberikan uteretonika oksitosin 20 UI mempertahankan kontraksi uterus (4) Konsul kebagin penyakit dalam 2. ETIOLOGI (3) • Subinvolusi uteri • Tertinggalnya sisa plasenta • Tumor / Mioma uteri perinfus untuk . tindakan defenitif adalah histerektomi (3) Bila perdarahan berkurang. (2) Ruptur uteri(3) Ruptur uteri kadang sulit diketahui dengan pemeriksaan inspekulo.255 c) Robekan jalan lahir (3) Robekan jalan lahir dapat diketahui dengan pemeriksaan inspekulo pada perineum. perdarahan dapat terjadi internal dalam rongga perut sehingga tidak nampak adanya perdarahan pervaginam. minimal 1 liter (2) Bila perdarahan masih berlangsung. dan bila keadaan penderita memungkinkan. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN SEKUNDER a. vagina dan serviks (1) Robekan perineum. jahitan teratas ditempatkan sedikit di atas puncak robekan. bila luka robekan kecil dapat dilakukan histerografi. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan dalam eksplorasi kavum uteri.

GEJALA KLINIS Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang bervariasi sedikit sampai banyak • Demam dan menggigil bila terdapat infeksi jalan lahir • Pemeriksaan palpasi ditemukan uterus membesar. sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG. d. pembesaran uterus. DIAGNOSIS : (3) Diagnosis ditegakkan dengan adanya perdarahan pervaginam. (Oksitosin) 20 IU dalam larutan infus dilanjutkan injeksi methergin 0.9% • Drips oksitosin 10 IU dalam larutan infus • Preparat besi • Vaksin serap tetanus 1/2 cc • Diagnosis dengan pemeriksaan fisis dan laboratorium a) Subinvolusi Uterus (3) Setelah keadaan umum diperbaiki. PENATALAKSANAAN : (3) • Perdarahan segera diatasi dengan transfusi darah.256 • Kelainan perdarahan • Hematoma jalan lahir b. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menyingkirkan sisa plasenta.2 IM . Pemeriksaan laboratorium ditemukan Leuksitosis pada infeksi. c. hasil pemeriksaan laboratorium tidak ada tanda-tanda infeksi. pengobatan dilanjutkan dengan uetrotonika. lunak dan nyeri bila ada infeksi. pemberian cairan intravena RingerLaktat atau NaCl 0. dan pemeriksaan laboratorium (1) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan gambaran sisa jaringan plasenta. nyeri dan demam bila ada infeksi.

Bila perdarahan mereda observasi saja dan bila perdarahan berhenti bisa dipulangkan. uterina atau a.257 (2) Profilaksis diberikan antibiotika Ampicilin 4 x 500 mg sehari selma 5 hari. methergin 3 x 0. pengobatan dilanjutkan dengan antibiotika perenteral Procain penicillin G 2 juta IU tiap 6 jam. Pasca kuret. hipostrika). (4) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan sisa jaringan. (6) Bila ada sisa jaringan disertai infeksi berikan dulu antibiotika sampai suhu turun. sisa jaringan dikeluarkan dengan kuretase. 3-4 hari kemudian kuretase. Tindakan kuretase dilakukan kalau perdarahan terjadi terus dalam jumlah banyak atau terjadi kembali setelah dilakukan tindakan . methergin 3 x 0. tidak ada tanda infeksi. pengobatan dengan konservatif. (4) (7) Kalau uterus harus dipertahankan untuk kemungkinan mempunyai anak lagi maka sebaiknya diberikan dulu obat secara intravena oksitosin. Histerektomi atau ligasi (a. atau Ampicillin 4 x 500 mg selama 5 hari (5) Bila ditemukan sisa jaringan. tandatanda infeksi positif.125 mg selama 5 hari. tapi bila perdarahan banyak segera kuretase walaupun ada demam. bila tidak berhasil laporotomi untuk dilakukan ligasi arteri uterina atau arteri hipogastrika atau histerektomi (5) . transfusi . (3) Bila perdarahan berkurang atau teratasi pengobatan dilanjutkan dengan uterotonika oral. pengobatan dilanjutkan pemberian Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari. metilergometrin atau prostaglandin.125 mg/hari selama 5 hari. dilakukan bila perdarahan tidak dapat diatasi. dan inspekulo untuk mengetahui letak sumber perdarahan jika ditemukan hematoma vulvoginal sebaiknya tidak dilakukan manipulasi. b) Uterus Involusi (5) Pada pemeriksaan phisis ditemukan uterus involusi baik perdarahan dapat berasal dari hematomi pada jalan lahir. (1) Pemeriksaan phisis.

oleh karena bekuan darah dalam hematom menyebabkan gangguan pembekuan. rongga hematoma dijahit dengan jahitan matrax.258 darah segar. Profilaksis diberikan antibiotika Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari (2) Bila perdarahan bertambah besar dipertimbangkan tindakan evakuasi hematoma (insisi hematoma). tindakan defenitif adalah laporotomi. Bila dicurigai perdarahan retroperitoneal. .

Oktavianus J. Sulaiman SR. O’Connor TCF. 231-7 5. Pritchard JA. Post partum emergencies. Dalam: Obstetri Patologi Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Padjajaran Bandung. Obstetrics Williams. Cetakan ke-1 Jakarta. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. 1981. 3rd ed. Woods RE.. Djasuardi N. Texas. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS 1993 4. 1995: 556-63 . mansyur A. In: Cavaragh D.52 2.259 KEPUSTAKAAN : 1. O’Connor TCF. 1991: 48 . Kaput JA. Philadelphia Harper & Row Publishers. Penatalaksanaan perdarahan pasca persalinan. Ratologi Kala III dan IV. 1982: 292 3. POGI. Gaya Baru. Obstetric emergency. Cavaragh D. MacDonald PC. Kalipel RA. Gant NF. eds.

260 22. Maggie Wewengkang. Hindar Jaya. dr.3) FAKTOR PREDISPOSISI : (2. Periode intrapartum Partus lama Periksa dalam yang sering Ketuban pecah dini Monitor janin yang intensif Periode Postpartum .2.4) • • • • • Febris ----------. Periode Antepartum • • • • • • • • • III.2.(1. DIAGNOSIS : Klinis : (1.menggigil Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi Nyeri perut bagian bawah Nadi cepat Kadang-kadang nyeri bila kencing Kekurangan gizi-anemia Penyakit menahun (DM dan keganasan) Ketuban pecah dini dan partus prematurus Hygene ibu yang jelek Infeksi traktur genetalia II.3. Kecualis 24 jam pertama pasca salin.3) I. INFEKSI PUERPERALIS dr. SpOG BATASAN : Infeksi puerperalis adalah infeksi alat genital dalam masa nifas yang ditandai dengan meningkatnya suhu ≥ 38°C yang terjadi selama 2 hari berturut-turut dalam waktu 10 hari pertama pasca salin.

261 •

Subinvolusi rahim

Inspikulo : Lokhia berbau Persiksa dalam vagina : Uterus dan paramterium nyeri pada perabaan PEMERIKSAAN PENUNJANG : (2,3) • • • • Laboratorium rutin lengkap Kultur dan uji sensitifitas USG bila perlu BNO bila perlu

TERAPI : (2,3,4) • • • Antiobiotik spektrum luas yang sesuai untuk penderita. Bila resistensi tergantung hasil kultur Bila ada abses harus dilakukan insisi dan drainase. Jika ada abses pada Cavum Douglasi dilakukan kolpotomi posterior disertai pemasangan drain. Jika terjadi peritonitis dilakukan laparotimi. • Jika terjadi syok septik : Rawat di ICU

262 KEPUSTAKAAN : 1. Cunningham FG. Mac Donal PC. Gants NF. Infeksi puerperalis. Dalam : Ronardy DH. Ed. Alih Bahasa : Suyono J, Hartono A. Obstetri Williams. Edisi 18. Jakarta ; Penerbit Buku Kedokteran ECG, 1995 : 535-52 2. Wiknjosastro H. Infeksi nifas. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, eds Ilmu kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta ; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1991 : 689-99 3. Beydoun SN. Serious postpartum infeksios. In : Fedel HE, ed. Diagnosis and Management of Obstetri Emergencies. London ; Addison-Wesley Publishing Company, 1982 : 233-45 4. Duff P, Gibbs RS. Maternal sepsis. In : Berkowitz RL, ed. Critical Care of the Obstetric Patient. Ist ed. New York ; Churchill Livingstone, 1983 : 189-213.

263 23. SYOK SEPTIK
dr.Efendi Lukas, dr.H.Eddy Moeljono, Sp.OG

BATASAN : Syok septik adalah sindroma Klinik yang dicetuskan oleh masuknya dan menyebarnya produk mikroba ke dalam vaskuler sehingga menyebabkan kegagalan pada mikrosirkulasi, penurunan perfusi jaringan, dan abnormalnya metabolisme seluler (1). PATOFISIOLOGI : 1. Pembebasan endotoksin dari mikroba yang sudah mati diduga menjadi pencetus utama terjadinya syok septik. Endotoksin merupakan kompleks protein lipopolisakarida yang dilepaskan dari membran sel bakteri yang mati dan merupakan stimulan antigen yang kuat, kemudian berikatan dengan antibodi (Ig G dan Ig M) membentuk kompleks endotoksin - antibodi (2). 2. Selanjutnya terjadi pelepasan zat vasoaktif (histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin, SRSA sehingga menyebabkan vasodilatasi arteriol, venokonstriksi dan peninggian permeabilitas membran kapiler, maka terjadi penumpukan (pooling darah) yang menyebabkan (1,2,3). • • • • tekanan hidrostatik dalam kapiler meningkat kerusakan pada dinding kapiler perembesan cairan dalam ruangan vaskuler ke ekstra vaskuler hipovolemik hebat sehingga manifestasi syok menjadi lebih jelas

GEJALA KLINIK : Syok septik dalam bidang Obstetri dan Ginekologi sering terjadi akibat komplikasi post abortus, endometritis post partum, korioamnionitis dan pielonefritis dalam kehamilan. Secara klinis syok septik terdiri dari 2 fase yaitu (2): 1. Syok reversible (syok septik primer) : a. Syok dini (warm hypotensive = stadium hipotensi hangat)

takikardi (100 .Pemeriksaan darah lengkap .tahanan vaskuler perifer meningkat .Pemeriksaan kadar asam laktat dalam darah .asidosis metabolik . Syok lanjut “cold hypotensive” = stadium hipotensi dingin) .demam dengan suhu > 39 °C b.koma .anuria . kreatinin . .distres pernafasan dan distres jantung PEMERIKSAAN PENUNJANG : Laboratorium (2.Kultur darah dan tes sensitivitas . BUN.Analisa gas darah .3).oliguria sampai anuria .Urinalisis . ureum.suhu tubuh dingin (hipotermia) .curah jantung menurun .kadar asam laktat dalam darah meningkat ( > 15 mg%) .Pemeriksaan kimia darah : elektrolit serum.264 .tahanan vaskuler sistemik meningkat (CVP meningkat) 2.hipotensi . Syok yang irreversibel .120 x/menit) .kulit menjadi hangat dan kemerahan .

elektrolit. trombosit. lekosit.Sindroma distres pernafasan akut “shock lung” PENANGANAN : Penderita syok septik harus dirawat di ICU dengan monitoring ketat dan dilakukan penanganan multidisipliner (rawat bersama dengan Bagian Anestesiologi dan Bagian Interna) Selama perawatan perlu dilakukan monitoring : (2.Foto toraks : untuk melihat apakah ada tanda-tanda bronkopneumoni sekunder.265 Radiologi (2.Laboratorium : Hb.DIC . kreatinin.Produksi urine . Hm.Foto tegak abdomen : untuk melihat tanda-tanda perforasi (Ada udara bebas) EKG : bisa tampak depresi segmen ST dan gelombang T terbalik2 USG : untuk melihat adanya cairan bebas sebagai tanda perforasi uterus KOMPLIKASI : (2. denyut nadi.Gagal ginjal . gula darah.3) : . pernafasan dan suhu tiap 30 menit . • Transfusi darah .Hemodinamik : dengan melakukan pemasangan kateter CVP .4). 2.Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah.4) . sindroma syok paru. atau emboli paru akibat tromboflebitis. fungsi hemostatis. analisa gas darah Prinsip penanganan terdiri dari : 1. Terapi cairan : Untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki.4) . ureum. . Oksigenasi : Berikan oksigen konsentrasi tinggi Tujuannya untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki (2.

gangguan asam basa dan elektrolit sudah dikoreksi. LAMA PERAWATAN : Sangat tergantung pada keadaan umum pasien serta ada tidaknya komplikasi .266 • Infus Ringer laktat atau Dextrose 5% atau NaCl fisiologis: 1-2 liter dalam waktu 20 . Penanganan operatif Penanganan operatif meliputi drainase pus. kuret atau pengeluaran benda asing.45 menit atau 20 ml/menit sambil memperhatikan responsnya. Pemberian kortikosteroid • Deksametason dengan loading dose 20 mg/IV kemudian dilanjutkan 3 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam selama 1-2 hari 6. Tindakan ini dilakukan setelah sistim kardiovaskuler dan pernafasan distabilkan. histerektomi. eksisi jaringan nekrotik. 4. Pemberian antibiotika • Diberikan antibiotik berspektrum luas sebelum ada hasil kultur dan tes kepekaan • Diberikan kombinasi golongan cefalosporin 1gr per12 jam-24 jam (tergantung jenisnya) + Metronidazole 500 mg/12 jam dengan cara pemberian intravena • Atau Ampicillin 1 gr/IV tiap 4 jam dan Gentamycin 80 mg/IV tiap 8 jam + Metronidazole 500 mg/12 jam/IV • Bila hasil kultur dan tes kepekaan sudah ada maka antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil tes kepekaan. Pemberian obat-obat inotropik seperti : Dopamin dan Isoproterenol dilakukan setelah konsultasi dengan Bagian Interna. 5. 3.

4. Philadelphia. Taruli RA. Tanra AH. Andriole VT. 2nd ed. 1986 : 345-54.267 KEPUSTAKAAN : 1. Philadelphia. Septic shock in obstetrics and gynecology. Rao PITON S. 2.ID. ed. Cavanagh D. 1985 : 167-80. Comas MR. In : Friedman EA. In : Burrow GN. WB Saunders Company. Sjattar M. MKI vol 36.11. WB Saunders Company. Ferris TF. eds. Masalah syok dan penanganannya. Bacterial infection. 3. Vol. 1982 : 302-19. 1976. Penggunaan kortikosteroid pada syok septik. Major problems in obstetrics and gynecology. nomor 3. MKI vol 35. Medical complications during pregnancy. nomor 7. .

268 SKEMA PENANGANAN SYOK SEPTIK Gejala Gejalaklinik klinik Syok reversibel Syok dini hipotensi kulit hangat dan kemerahan Takhikardi (100-120 x/menit) demam dengan suhu > 39o C Syok lanjut curah jantung menurun tahanan vaskuler perifer meningkat oligura sampai anuria hipotermia CVP meningkat Syok irreversible asidos metabolik kadar asam laktat meningkat (>15mg%) koma anuria distres pernafasan dan distres jantung Pemeriksaan Pemeriksaanpenunjang penunjang Pemeriksaan Laboratorium darah lengkap analisis gas darah kimia darah kadar asam laktat dalam darah kultur darah dan tes sensitivitas urinalis Radiologi : Foto toraks Foto tegak abdomen USG EKG DIAGNOSTIK DIAGNOSTIK SYOK SYOKSEPTIK SEPTIK oksigen terapi cairan obat-obat inotrapik anti biotik keortikosteroid RAWAT DI ICU (kerja sama dengan Bagian Interna dan Anestesi) sistem kardiovaskuler dan pernafasan stabil Gangguan asam basa dan elektrolit dikoreksi drainage pus eksisi jaringan nekrotik histerektomi kuret pengeluaran benda asing PENANGANAN PENANGANAN OPERATIF OPERATIF .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful