115

KHUSUS
1. HIPEREMESIS GRAVIDARUM dr. H.B. Hafied, dr. H.M.M. Palisuri, SpOG BATASAN : Hiperemesis gravidarum adalah muntah yang terjadi sampai umur kehamilan 20 minggu begitu hebat dimana segala apa yang dimakan dan diminum dimuntahkan, sehingga mempengaruhi keadaan umum dan pekerjaan sehari-hari, berat badan menurun, dehidarasi, terdapat aseton dalam urin, bukan karena penyakit seperti apendisitis, pielitits dsb.(1) ETIOLOGI : Tidak jelas(2) KLASIFIKASI : (2,3,4) Secara klinis dibedakan atas 3 tingkat 1. Tingkat I : muntah yang terus menerus, timbul intoleransi terhadap makanan dan minuman, berat badan menurun, nyeri epigastrium, muntah pertama keluar makanan, lendir dan sedikit empedu kemudian hanya lendir, cairan empedu dan terakhir keluar darah. Nadi meningkat sampai 100 x/menit dan tekanan darah sistole menurun. Mata cekung dan lidah kering, turgor kulit berkurang, urine masih normal. 2. Tingkat II : Gejala lebih berat, segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan , haus hebat, subfebril, nadi cepat dan lebih 100 - 140 x/menit, tekanan darah sistole lebih rendah 80 mm Hg, apatis, kulit pucat, lidah kotor, kadang ikterus (+), aseton (+), bilirubin (+), berar badan turun cepat. 3. Tingkat III : Gangguan kesadaran (delirium-koma), muntah berkurang atau berhenti, ikterus (+), sianosis, nistagmus, gangguan jantung, bilirubin (+), proteinuria.

116 DIAGNOSIS : (2,3) 1. Amenorea yang disertai muntah hebat (segala yang dimakan dan diminum dimuntahkan), pekerjaan sehari-hari terganggu, haus hebat. 2. Fungsi vital : nadi meningkat 100 x/menit, tekanan darah turun pada keadaan berat subfebril dan gangguan kesadaran (apatis-koma), 3. Fisis : dehidrasi, keadaan berat, kulit pucat, ikterus, sianosis, berat badan turun. VT porsio lunak, uterus besar sesuai besarnya kehamilan. 4. Laboratorium : kenaikan relatif Hb dan Hm, shift to the left, benda keton (+) dan proteinuria. PENATALAKSANAAN : (2,3) 1. Rawat di Rumah Sakit, batasi pengunjung. 2. Stop per oral 24 - 48 jam 3. Infus glukosa 10 % atau 5 % : RL = 2 : 1, 40 tetes per /menit 4. • • • • • Vitamin B1, B2, B6 masing-masing 50 - 100 mg per/hari/infus Vitamin B12 200 mcg/hari/infus, vit. C 200mg/hari/infus. Phenobarbital 30 mg im 2 - 3 x/hari ATAU Chlorpromasime 25 - 50 mg/hari im ATAU Diazepam 5 mg 2 - 3 x/hari im. Antiemetik : Prometazine (Avopreg) 2-3 x 25 mg/hari p.o, ATAU Prochlorperazine (Stimetil) 3x3 mg/hari p.o, ATAU Mediamer B6 3x1/hari p.o. Antasida : Acidrine 3x1 tab/hari p.o ATAU Mylanta 3x1 tab/hari p.o ATAU Magnam 3x1 tab/hari p.o 5. Diet : a. Diet Hiperemsis I diberikan pada hiperemesis tingkat III. Makanan hanya berupa roti kering dan buah-buahan. Cairan tidak diberikan bersama makanan tetapi 1-2 jam sesudahnya. Makanan ini kurang dalam semua zat-zat gizi, kecuali vitamin c, karena itu hanya diberikan selama beberapa hari. b. Diet Hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang, Secara berangsur mulai diberikan bahan makanan yang bernilai gizi tinggi. Minuman tidak diberikan bersama makanan. Makanan ini rendah dalam semua zat-zat gizi kecuali vitamin A dan D.

117 c. Diet Hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis ringan. Menurut kesanggupan penderita minuman boleh diberikan bersama makanan. Makanan ini cukup dalam semua zat gizi kecuali kalsium.

2. ABORTUS dr. Rudianto HP, dr. Retno B. Farid, SpOG BATASAN: Abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan dan sebagai batasan digunakan kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin kurang dari 500 gram. (1,2,3,4) Abortus komplit adalah seluruh hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri pada kehamilan kurang 20 minggu. Abortus inkomplit adalah sebagian hasil konsepsi telah keluar dari kavum uteri. Abortus insipiens adalah abortus yang sedang mengancam dimana serviks telah mendatar dan ostium uteri telah membuka, akan tetapi hasil konsepsi masih dalam kavum uteri. Abortus membakat adalah abortus tingkat permulaan, dimana terjadi perdarahan pervaginam, ostium uteri masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan. “Missed abortion” adalah abortus dimana embrio atau fetus telah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu, akan tetapi hasil konsepsi seluruhnya masih tertahan dalam kandungan selama 6 minggu atau lebih Abortus habitualis adalah keadaan terjadinya abortus tiga kali berturut-turut atau lebih.1 Abortus infeksiosa adalah abortus yang disertai infeksi pada genitalia . Abortus septik adalah abortus infeksiosa berat disertai penyebaran kuman atau toksin kedalam peredaran darah atau peritoneum.(2) KLASIFIKASI : I. Menurut terjadinya dibedakan atas : (1,5,6) 1. Abortus spontan yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya tanpa disengaja.

Abortus membakat 2.2) 1. Abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis.5. Pemeriksaan USG 2. ETIOLOGI : (2.(7) Abortus yang disengaja ini dapat bersifat murni medisinalis.4. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi 3. leukosit. pemeriksaan lain yang diperlukan untuk melacak abortus habiatualis seperti HSG. Pemeriksaan laboratorium : tes kehamilan. Missed abortion Disamping itu dikenal pula abortus habitualis.4. waktu perdarahan. Rasa sakit atau keram perut pada daerah atas simfisis. Toksoplasmosis. trombosit.6) 1. . tetapi dapat pula bersifat medisinalis kriminalis tergantung dari pelaku abortusnya yang dibedakan antara : a. Penyakit ibu. mental serta kehidupan ibu hamil.3. Abortus komplit 5.118 2. II. Abortus insipiens 3. abortus infeksiosa dan abortus septik. Kelainan traktus genitalis 5. Kelainan telur (ovum yang patologik ) 2. PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1) 1. Adanya amenore pada masa reproduksi dengan hasil tes kehamilan positif/pernah positif 2. b. Menurut gambaran klinis. Abortus provokatus (induksi abortus) hanya dibolehkan bila bertujuan menjaga kesehatan fisik. hormonal.2. dan kadar fibrinogen pada “missed abortion ”. Abortus provokatus medisinalis ( terapeutik ) yaitu abortus yang dilakukan atas indikasi medis. GDS. mungkin disertai jaringan hasil konsepsi 3. waktu bekuan. dibedakan atas : (1. Kelainan pada plasenta 4. Abortus inkomplit 4. DIAGNOSIS : (1.6) 1. hemoglobin. Perdarahan pervaginam.

Abortus komplit • • • • Perdarahan pervaginam sedikit Hasil konsepsi sudah keluar Uterus kecil Ostium uteri tertutup 5.bila inkomplit di terapi sesuai ab. ”Missed abortion” • Perdarahan • Keluhan kehamilan hilang • Tinggi fundus uteri menetap. Trombosit.119 PENATALAKSANAAN : Penatalaksanaan abortus tergantung dari jenis abortusnya : Diagnosis 1.BT. ketuban menonjol • Hasil konsepsi masih utuh dalam uterus • Kehamilan ≥ 12 minggu bila diterapi sesuai abortus komplit.Hb dan leukosit normal. Inkomplit • Perbaiki keadaan umum • Kosongkan uterus dengan kuret • Amoxycillin 3X500mg/oral / hari 5 .inkomplit. kadang disertai syok Ostium uteri terbuka USG : kantung gestasi tidak utuh .7 hari/oral • Metyhl ergometrin 3X1/oral /hari 5 hari • Hematinik • Methyl ergometrin 3X1/hari • Hematinik 3. bila inkomplit diterapi sesuai ab. Abortus inkomplit • • • • Perdarahan pervaginam banyak Nyeri. transfusi darah • Dilatasi serviks • Bila kehamilan ≤ 12 minggu lakukan kuret • Bila kehamilan > 12 minggu diberikan tetesan Oksitosin 20 -30u dalam 500cc Dextrose 5% mulai 20 tetes/menit bila tidak timbul . Abortus insipiens • Perdarahan pervaginam • Nyeri/mules lebih sering/kuat • Ostium uteri terbuka. • Kehamilan < 12 minggu bila komplit diterapi sesuai abortus komplit.sisa hasil konsepsi 4. bahkan mengecil • Tes kehamilan ( . Fibrinogen. Abortus membakat • • • • • • Gejala klinis Amenore Tanda -tanda hamil muda Perdarahan pervaginam sedikit Nyeri/mules Ostium uteri internum tertutup USG : kantung gestasi utuh Penatalaksanaan • Tirah baring minimal 2X24 jam • Fenobarbital 3X30 mg/hari kalau perlu 2.) • Kadang disertai fluor warna coklat • USG : janin mati • Periksa CT.

peritonitis. tensi lebih rendah bahkan sampai syok • Periksa biakan darah dan tes kepekaan • Procaine PenicillineG 10 juta unit/6 jam im • Streptomycin 0. dosis dinaikkan 10 u tiap 30 menit tanpa mengubah kecepatan tetesan sampai timbul kontraksi uterus dan ini dipertahankan.kuret 24 jam besar lunak.kuret 6 jam setelah pemberian obat • Dilakukan histerektomi total bila 8. Abortus septik . unit /6 jam im takikardia.tiroid bila kekurangan hormon ini. demam lebih tinggi.diulangi lagi setelah istirahat 24 .(2) • Toksoplasmosis diterapi dgn Spiramisin 50 .5gr/infus dilanjutkan 1 gr/oral. Abortus infeksiosa • Diabetes melitus ( lihat penatalaksanaan DM dalam kehamilan) • Adanya tanda-tanda infeksi • Procaine PenicillineG 1 juta genitalia seperti panas.dilakukan biakan darah dan tes kepekaan • Gejala seperti abortus infeksiosa hanya lebih berat. (8) 7. nyeri tekan dan kemudian leukositosis • Bila syok/perdarahan (N>120X/menit). (7) 6.48 jam.infus RL. segera kuret • Bila tidak berdarah. transfusi darah dilanjutkan kuret • Bila ada tanda-tanda resistensi PP. dosis tertinggi 140 u • Bila dengan dosis tersebut tidak berhasil.5 gr/12jam IM • Metronidazol 0.5 gr/12jam IM pervaginam yang berbau. nadi lebih cepat. uterus • Bila tidak syok. kemudian 3 X 0.100 mg/kgBB/hari. perdarahan • Streptomycin 0.120 kontraksi uterus. Abortus habitualis • Abortus yang terjadi 3 kali berturut-turut atau lebih • Pada inkompetensi serviks dapat dilakukan operasi menurut Shirodkar atau Mac Donald.5 gr/oral/hari ( 5 hari ) • Bila perdarahan terus.(2) • Terapi dengan hormon progesteron.

kerusakan alat abdomen. Kecuali bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat atau infeksi. kuretase secara sistimatis dan “lege artis” 4.6) 1. infeksi oleh Cl.tanda perforasi uterus.(1) PENYULIT : (1. ada tanda. Sebelum dilakukan kuretase keluarga terdekat pasien menanda tangani surat persetujuan tindakan. sondase uterus. kecuali bila ada komplikasi. dr. tetapi berinplantasi diluar endometrium kavum uteri (1) .121 gagal kuret. Anemia:Biasanya anemia post hemoragi. (1) 3. (9) Abortus septik dengan syok lihat penatalaksanaan septik syok. PERAWATAN RUMAH SAKIT : Semua pasien abortus disuntik vaksin serap tetanus 0. SpOG BATASAN : Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana ovum yang telah dibuahi tidak berinplantasi ditempat yang biasa. Perforasi : Untuk mencegahnya: pemberian uterotonik. Infeksi :Kasus abortus yang datang dalam keadaan infeksi harus mendapat perlindungan antibiotik dulu sebelum dikuret 3. KEHAMILAN EKTOPIK dr.5 cc IM (10) Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang kerumah.2. Tujuan perawatan untuk mengatasi anemia dan infeksi. Welchii.diatasi dengan transfusi darah bila Hb < 8 gr% 2. Murah Manoe. Syok LAMA PERAWATAN : Setelah kuretase pasien tidak perlu dirawat. Bila Kehamilan Ektopik tersebut berakhir dengan abortus atau ruptur disebut Kehamilan Ektopik Terganggu (2) ETIOLOGI : (3) . Helida Abbas. IMS.

Berat ringannya nyeri tergantung pada jumlah darah yang terkumpul dalam peritonium.122 Kerusakan tuba dapat disebabkan : • • • LOKASI : (1.98% dari seluruh Kehamilan ektopik). Pemeriksaan ginekologis . Adanya tanda-tanda abdomen akut yaitu perut tegang bagian bawah. Trias klasik Kehamilan ektopik yaitu : • • • Terlambat haid (amenore) Nyeri perut suprapubik Perdarahan pervaginam berupa bercak. takikardi. hipotensi. 2. Pemeriksaan fisis . Kehamilan ovarium Kehamilan intraligamenter Kehamilan abdominal Kehamilan ektopik pada uterus Inflamasi Infeksi Pembedahan 1. Nyeri bisa dirasakan bilateral atau unilateral atau hanya perut bagian bawah. nyeri tekan dan nyeri lepas dinding abdomen. adanya tumor didaerah adneksa Adanya tanda-tanda syok hipovolemik yaitu. Anamnesis dan gejala klinis. 2. Tes kehamilan positif (+) membantu diagnosis. pucat dan ekstremitas dingin.4).2) • • • • • DIAGNOSIS : Kehamilan tuba (95% . mungkin ringan atau berat bahkan mungkin ditemukan nyeri bahu menunjukkan bahwa perdarahan peritonium telah mengiritasi diafragma (1. • • • • Didapatkan rahim yang juga membesar. Ditemukan nyeri ketok.

DIAGNOSIS BANDING : ( 1.Adanya kantung kehamilan diluar kavum uteri.123 Pemeriksaan dengan spekulum : ada fluksus sedikit. 3. nyeri tekan (+).2. • Hasil laparoskopi. bukan hamil ektopik  konservatif.2.3) • • • Perbaiki keadaan umum Kehamilan ektopik dengan gejala klinis jelas + pemeriksaan penunjang (+) siapkan laparotomi Curiga Keamilan ektopik. bila (+)  laparoskopi .4) Radang panggul Kista ovarium pecah dan mengalami perdarahan Torsi kista ovarium Abortus iminens Endometriosis Apendisitis Konsultasi  bila perlu ke bagian bedah. dilakukan observasi dan USG.Tidak ada kantung kehamilan dalam kavum uteri . PENATA LAKSANAAN : (1. Laparoskopi diagnosis. leukosit dan ß HCG USG : .Adanya massa komplek dirongga panggul • • • • • • • • Kuldosentesis  untuk mengetahui adanya daerah dalam kavum douglas. Pemeriksaan penunjang • • Labotratorium : Hb. Pemeriksaan dalam : − Serviks teraba lunak − Nyeri goyang serviks (+) − Kanan/kiri uterus : Nyeri pada perabaan dan dapat teraba massa tumor − Kavum douglasi bisa menonjol. . .

tampon atau ligasi arteri hipogastrika.124 • • Bila laparoskopi Kehamilan ektopik  laparotomi/tindakan sesuai tempat kejadian Laparotomi bila . lakukan salpingektomi Kehamilan ovarium. keluarkan anak saja dan plasenta di tinggalkan. lakukan ovarial kistektomi Kehamilan abdominal. . lakukan kuret. • • • • Kehamilan tuba. Kehamilan serviks. bila anak cukup histerektomi total.

125 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN EKTOPIK CURIGA KEHAMILAN EKTOPIK Gejala Klinis Amenore Nyeri abdomen suprapubik Perdarahan bercak Lab. Hb. Hm. Leuko.gol darah Tes kehamilan USG Laparoskopi Tidak jelas Gejala klinis Observasi GK & USG Laparotomi tindakan Sesuai tempat kejadian Kehamilan Kehamilanektopik ektopik Laparoskopi Bukan hamil ektopik TUBA OVARIUM ABDOMINAL/ Hamil lanjut Hamil muda Konservatif SERVIKS Interstisial kornu Tuba kontra lateral Lekat dengan tuba Tidak lekat dengan tuba Tidak baik Baik Tuba kontra lateral Keluarkan anak saja tinggalkan plasenta Reseksi baji ooforektomi Anak cukup tidak mau anak mau anak Anak cukup tidak mau anak Anak tidak ada Salpingektomi dg ovarial kistektomi Histerekto mi Reseksi kornu histerektomi Masih mau anak Anak tidak ada mau anak tidak mau anak Tubektom i Kuret+tampon ligasi A hipogastrika Slpingektomi Bilateral Slpingektomi Unilateral Tuba dibiarkan Salpingostomi Slpingektomi parsial Salpingostomi Slpingektomi Unilateral .

MOLAHIDATIDOSA dr.Arifuddin Djuanna. sedikit-sedikit atau sekaligus banyak sehingga menyebabkan syok atau kematian. karena itu terjadi gangguan peredaran darah sehingga terjadi penimbunan cairan dalam jaringan mesenkim dari vili dan akhirnya terbentuklah gelembung-gelembung. dimana terjadi resorpsi cairan yang berlebihan ke dalam vili sehingga timbul gelembung. • • • • • • Hiperemesis gravidarum Tanda-tanda preeklampsia pada trimester I Tanda-tanda tirotoksikosis Kista lutein unilateral/bilateral Umumnya uterus lebih besar dari usia kehamilan Tidak dirasakan tanda-tanda adanya gerakan anak.H.A.Efendi Lukas.126 4. balotemen negatif kecuali pada mola parsial PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1. Pertama teori missed abortion : Mudigah mati pada kehamilan 3-5 minggu (missed abortion).2. Karena perdarahan ini maka umumnya penderita mola hidatidosa masuk rumah sakit dalam keadaan anemia. Hal ini menyebabkan gangguan peredaran darah dan kematia mudigah3. Perdarahan ini bisa intermitten. yang mempunyai fungsi abnormal pula. dr. SpOG BATASAN : Molahidatidosa adalah penyakit yang berasal dari kelainan pertumbuhan trofoblas plasenta atau calon plasenta dan disertai dengan degenerasi kistik villi dan perubahan hidropik(1. Kedua teori neoplasma dari Park yang mengatakan bahwa yang abnormal adalah sel-sel trofoblas.3) • Adanya tanda-tanda kehamilan disertai dengan perdarahan.2.2). GEJALA KLINIK : (1. PATOFISIOLOGI : Ada beberapa teori yang diajukan untuk menerangkan patogenesis dari penyakit trofoblas.3) .

6) .5) • • • • • Dilakukan setelah pemeriksaan persiapan selesai (pemeriksaan darah rutin. Kuretase (3. Perbaikan keadaan umum(4.2.u siapkan darah 500 cc dan pasang infus dengan tetesan Oxytocin’S 10 IU dalam 500 cc Dextrose 5% Kuretase dilakukan sebanyak 2 kali dengan interval minimal 1 minggu Seluruh jaringan hasil kerokan dikirim ke Laboratorium Patologi Anatomi B. Pengeluaran jaringan mola Dengan cara : A.127 • • • • Foto toraks Pemeriksaan hCG urin atau serum Ultrasonografi Uji sonde menurut Hanifa.UNHAS Bila ada gejala-gejala tirotoksikosis dikonsulkan ke Bagian Penyakit Dalam 2. kadar βhCG serta foto toraks) kecuali bila jaringan mola sudah keluar spontan Bila kanalis servikalis belum terbuka. maka dilakukan pemasangan laminaria dan kuretase dilakukan 24 jam kemudian Sebelum kuretase terlebih dahu. Histerektomi (1.5) • • • • Koreksi dehidrasi Transfusi darah bila ada anemia (Hb ≤ 8 gr%) Bila ada gejala preeklampsia dan hiperemesis gravidarum diobati sesuai dengan protokol penanganan di Bagian OBSGIN FK. Sonde masuk tanpa tahanan dan dapat diputar 360 ° dengan deviasi sonde kurang dari 10° • T3 dan T4 bila ada gejala tirotoksikosis PENANGANAN : Terapi mola hidatidosa terdiri dari 3 tahap yaitu : 1.

pemeriksaan fisk.3) • • Lama pengawasan berkisar satu sampai dua tahun Selama pengawasan penderita dianjurkan memakai kontrasepsi kondom.128 • • 3. pil kombinasi atau diafragma dan pemeriksaan fisik dilakukan setiap kali pada saat penderita datang kontrol • • • Pemeriksaan kadar β-hCG dilakukan setiap minggu sampai ditemukan kadar β-hCG normal 3 kali berturut-turut Setelah itu pemeriksaan dilanjutkan setiap bulan sampai kadar β-hCG normal selama 6 kali berturut-turut Bila telah terjadi remisi spontan (kadar β-hCG. dan foto toraks setelah satu tahun semuanya normal) maka penderita tersebut dapat berhenti menggunakan kontrasepsi dan hamil lagi • Bila selama masa observasi kadar β-hCG tetap atau bahkan meningkat dievaluasi dan dimulai pemberian kemoterapi atau pada pemeriksaan klinis. Umur ≥ 35 tahun Anak hidup ≥ 3 orang Pemeriksaan tindak lanjut(1.2) • • • • • • Perdarahan hebat Anemia Syok Infeksi Perforasi uterus Keganasan (PTG) LAMA PERAWATAN : Bila tidak ada komplikasi yang berat maka lama perawatan kurang lebih 7 hari . foto toraks ditemukan adanya metastasis maka penderita harus KOMPLIKASI : (1.

kadar β-hcg .foto toraks . KONDOM TUBEKTOMI PERIKSA KADAR β-hCG TIAP MINGGU REMISI SPONTAN BILA : KADAR β-hCG NORMAL 3 x BERTURUT-TURUT KADAR β-hCG MENETAP/MENINGGI EVALUASI METASTASIS & TERAPI SEBAGAI PTG Keterangan : * sebelum kuret periksa .129 SKEMA PENATALAKSANAAN MOLA HIDATIDOSA MOLA HIDATIDOSA PERBAIKI KEADAAN UMUM PENGELUARAN JARINGAN MOLA PEMERIKSAAN TINDAK LANJUT HISTEREKTOMI BILA : UMUR ≥ 35 THN ANAK HIDUP ≥ 3 * KURET I & II PAKAI KB PIL.darah rutin * kecuali bila terjadi perdarahan maka pemeriksaan foto toraks dan kadar β-hcg dilakukan setelah kuret .

IMS. Menurunnya aliran darah umbilikus KLASIFIKASI(1) Akut : Klinis : ETIOLOGI (2) Akut : Ibu : • • • • • • • • • Hipotensi (misalnya “Supine hypotensive syndrome”) Hipoksia atau hiperkarbia (misalnya “maternal aspiration syndrome”) Gangguan pernafasan (shock-lung.2) Asfiksia atau hipoksia biasanya ditimbulkan oleh 3 mekanisme : (2) 1. berat dan nyata sehingga terjadi kegagalan mekanisme kompensasi. maka gejala asfiksia tampak jelas.130 5. Murah M. SpOG BATASAN : Asfiksia intrauterina adalah keadaan kekurangan oksigen dan adanya penimbunan karbon-dioksida yang menyebabkan asidosis intrauterina akibat gangguan pertukaran gas melalui plasenta dan jika beban tersebut lama. Menurunnya aliran darah uteroplasenter 2. cardiac. Setia Budi. dr.(1. bronchospasm”) Hipertensi pada kehamilan Syok (”hemorrhagic.. ASFIKSIA INTRAUTERIN dr. Ny. septic”) “Sickle cell crisis” Berupa episode hipoksemia sementara yang tidak disertai asidosis Uterus : Hipertonik atau “polysystole” Pemberian oksitosin yang berlebih Ruptur uteri Plasenta . Menurunnya oksigenasi ibu 3.

myocarditis”) Kelainan kongenital Perdarahan “Iso immunozation” Solusio plasenta plasenta previa “Premature placental aging” Tali pusat : Prolaps Ruptur vasa previa Terjepit atau tali pusat pendek Tali pusat tersimpul Kronis : Ibu : • Spasme pembuluh darah : • • • • Hipertensi kronis Hipertensi pada kehamilan DM Sirkulasi sistemik yang tidak adekuat : • • Penyakit jantung yang berat Anemia berat • Oksigenasi yang tidak cukup didalam darah : • • • Penyakit jantung sianotik “longeterm pulmonary shunting” Tinggal didaerah tinggi Plasenta : • “Prematur placental aging” • DM . tachyarrhythmia.131 • • • • • • • Fetus : • • • • Payah jantung (“hydrops fetalis.

4.5) • • • • • • FHM (Fetal Heart Monitoring) memperlihatkan adanya kelainan Profil biofisik janin (gerak janin.3.2.4.3.2.6) Oligohidramnion Pertumbuhan janin terhambat Pewarnaan mekoneum pada cairan ketuban PEMERIKSAAN PENUNJANG : (1. OCT USG Fetal blood sampling (pengambilan contoh darah janin) Amnioskopi PENANGANAN : (1) • • Resusitasi intra uterin (lihat Bab resusitasi intra uterin) Terminasi kehamilan tergantung keadaan asfiksia dan keadaan janin . tonus janin) berkurang atau menghilang Perubahan PH janin Kronis : (1.5) • • • • Kardiotokografi (KTG).4.132 Fetus : • • • • • • “Postmaturity syndrome” Kehamilan multiple “Twin-to-twin transfusion” Kelainan kongenital “Erythroblastosis fetalis” “Maternal-fetal transfusion” KRITERIA DIAGNOSIS : Akut : (1. NST.

133 .

Suzanna SP. Aphrodite pandin. yang disebabkan oleh kombinasi faktor ibu dan faktor janin. karena itu akan mempengaruhi jumlah sel pada seluruh tubuh janin. Tipe I (simetrik) : Terjadi pada saat dini dari suatu kehamilan dimana terjadi pengecilan semua ukuran baik berat maupun panjang janin. dr. sehingga beberapa parameter janin berada dibawah 10 persentil dari umur kehamilan yang seharusnya. Meskipun demikian selama trimester II hiperplasia selluler dan hipertrofi selluler dapat terjadi dan gambaran yang tidak simetrik. (2) 3.Terjadi pada saat hiperplasia selluler.(2) 2.. (1) PATOFISIOLOGI : Faktor risiko yang mempengaruhi kejadian pertumbuhan janin terhambat (PJT) dapat dibedakan atas : (1) • Faktor ibu : • • • • • • • • Faktor plasenta : • Faktor janin : • • • • Penyakit hipertensi Malnutrisi Anemi berat Penyakit paru kronis Penyakir jantung sianotik Perokok Insufisiensi plasenta Cacat bawaan Trisomi Kehamilan kembar Infeksi intrauterin : ~ AIDS ~ TORCH Ada 3 tipe pertumbuhan janin terhambat : 1.(1) . PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT dr. Tipe II (asimetrik) : Biasanya terjadi pada trimester III dari suatu kehamilan juga dapat terjadi pada periode postterm dari suatu kehamilan.. SpOG BATASAN : Pertumbuhan janin terrhambat keadaan yang menghambat pertumbuhan dan perkembangan janin dalam rahim.134 6. Tipe kombinasi.

3) Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi . Anamnesis : Ada riwayat / faktor risiko : (1. Kecurigaan PJT ditegakkan apabila TFU menetap pada 2 kali pemeriksaan dengan selang waktu 1-2 minggu atau menurun dibawah garis 10 persentil. Pemeriksaan Kardiotokografi : (1. (1.4) Kecurigaan PJT ditegakkan apabila tidak ditemukan penambahan berat badan ibu pada 2 kali pemeriksaan dengan selang 1 atau 2 minggu.135 DIAGNOSIS : 1. USG berkala untuk menentukan : (1.3. (1) Penambahan berat badan ibu kurang dari 7 kg pada saat aterm atau berat badan ibu kurang dari 45 kg. Pemeriksaan klinik : pengukuran tinggi fundus uteri (TFU) dan linkaran perut (LP).3) • • • • • • • Hipertensi Anemia kronis Penyakit jantung sianotik Pemakaian obat-obatan Merokok Infeksi Riwayat PJT sebelumnya 2.3) • • • • • • • • • • • BPD Panjang femur Lingkaran kepala Lingkaran perut Volume air ketuban Cacat bawaan Taksiran berat badan janin Kondisi biofisik janin Kematangan plasenta 4. (3) 3.

AIDS : kerja sama dengan Bagian Penyakit Dalam Anemi : Koreksi anemi dengan pemberian tablet besi Terminasi kehamilan : sesuai penatalaksanaan terminasi kehamilan / induksi persalinan. (1. terminasi dilakukan pada kehamilan 37 minggu. Secara umum setiap kasus PJT dikelola sebagai berikut : (1. penyakit jantung sianotik. Malnutrisi : konsultasi/kerjasama bagian gizi.136 Secara berkala tiap 7 hari. bila perlu dilakukan setiap hari pada pasien DM. penyakit ginjal. Bila pertumbuhan janin tidak ada. maturitas paru cukup (biasanya pada kehamilan 35 minggu). Bila pertumbuhan janin berdasar USG masih berlangsung.3) . TERAPI : Terapi kausal terhadap penyebab atau penyakit yang mendasarinya. Penyakit paru kronik.3) • • • • • • • Istirahat baring (tidur miring) Minum lebih dari 2000 ml/hari Makan lebih dari 2100 kal/hari Secara khusus : Hipertensi (preeklampsia) : sesuai penatalaksanaan preeklampsia. lakukan terminasi.

137 SKEMA PERTUMBUHAN JANIN TERHAMBAT Faktor Faktorrisiko risikoPJT PJT Konfirmasi penyakit Konfirmasi penyakityang yangendasari endasari Pemeriksaan PemeriksaanTinggi Tinggifundus fundusuteri uteri dan danberat beratbadan badanibu ibu Ulangi 2 minggu Kecurigaan KecurigaanPJT PJT USG Serial (normal) PJT Tidak simetris Tidak cacat Umur kehamilan simetris Cacat ringan Cacat berat ≥ 37 minggu 37 minggu Pertimbangkan terminasi kehamilan Terminasi kehamilan Evaluasi kesejahteraan janin USG + Doppler Tes tanpa kontraksi Tes dengan kontraksi Evaluasi kembali tiap minggu spi aterm Gawat janin Tidak gawat janin Akhiri kehamilan (Bila memungkinkan. berikan dulu Betametason 12mg/hari selama 2 hari .

DIAGNOSIS : Diagnosis didasarkan atas ditemukannya gejala dan tanda-tanda dibawah ini (2) : • Anamnesis : berwarna coklat. “Overlapping the skull bones” (4) . USG: Tidak ditemukan pulsasi ajntung embrio mulai kehamilan 6 minggu dengan USG transvaginal. gerakan janin tidak ada Tidak terdengar bunyi jantung janin Pemeriksaan dalam vagina : Ditemukan uterus lebih kecil atau sesuai umur kehamilan. DIAGNOSIS BANDING : • • Mioma uteri (1.2) PEMERIKSAAN PENUNJANG : a. serviks kaku. dr.138 7. KEMATIAN JANIN DALAM RAHIM dr. tidak dirasakan gerakan anak.E. Dapat ditemukan gambaran “Double line of the fetal head”. Moeljono. • Palpasi : diatas kehamilan 20 minggu • • Auskultasi : Riwayat amenore. kadang ditemukan fluksus pervaginam yang Biasanya tinggi fundus uteri lebih kecil atau sesuai umur kehamilan.R.2) Molahidatidosa (1. “Deformed or collapsed head”. Rahmat Landahur. dan sekitar 6-7 minggu dengan USG transabdominal dan tidak tampak gerakan janin pada kehamilan 10 minggu (3) . belum ada pembukaan serviks. usia kehamilan telah mencapai 20 minggu atau lebih (1). H. SpOG BATASAN : Kematian janin dalam rahim adalah kematian janin dalam uterus yang beratnya 500 gr atau lebih.

Perforasi INFORMED CONSENT : (1) Sebelum tindakan dan dengan persetujuan tertulis 8. tulang belakang melengkung. Bila ada gangguan pembekuan darah 3. Aktif : Dilatasi dengan batang laminaria. Konservatif/pasif : • • • • • Rawat jalan Menunggu persalinan spontan 2-3 minggu Pemeriksaan kadar hematokrit. posisi janin abnormal (1. LAB (2) : • • • • Waktu perdarahan Waktu pembekuan Hitung thrombosit Fibrinogen PENANGANAN : (1. Bila segera tindaki 2. Tanda yang ditemukan. Penyakit gangguan pembekuan darah 2. c. Halo Sign (bayangan radiolusen yang melebar antara kulit kepala dan tulang kepala fetus).2) 1. prostaglandin tablet vagina PERAWATAN RUMAH SAKIT : (1.2. dianjurkan pada kehamilan 16 minggu. spalding sign (overlapping dari tulang-tulang kepala).2) 1. Foto polos abdomen bila diperlukan. PERDARAHAN ANTEPARTUM . balon kateter Induksi : oksitosin.139 b.3). Penyulit Infeksi berat PENYULIT : (1. Robert Sign (ditemukan gas dalam tubuh fetus).2) a. trombosit fibrinogen tiap minggu b.

140
dr. Neni Moerniaeni, dr. John Rambulangi, SpOG

BATASAN : Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada jalan lahir setelah kehamilan 20 minggu (1). Klasifikasi perdarahan antepartum yaitu : (2) 1. Plasenta pervia 2. Solusio plasenta 3. yang tidak jelas sumbernya (idiopatik) Pada penatalaksaan ini dibahas mengenai plasenta previa, solusio plasenta dan vasa previa. Tabel : Perbedaan klinis antara plasenta previa dan solusio plasenta (2)
KLINIS PLASENTA PREVIA tidak Ya merah segar sesuai darah yang keluar perlahan-lahan sewaktu hamil biasanya tidak ada Biasa Ada jaringan plasenta tidak masuk PAP mungkin abnormal Ya tidak merah coklat tidak sesuai Tiba-tiba sewaktu hamil dan inpartu Ada Tegang biasa tidak ada ketuban tegang dapat terjadi tidak ada hubungan SOLUSIO PLASENTA

1. Perdarahan dengan nyeri 2. Perdarahan berulang 3. Warna merah 4. Anemia / renjatan 5. Timbulnya 6. Terjadinya 7. His 8. Palpasi 9. denyut jantung janin 10. 11. 12.
Periksa dalam vagina Penurunan Presentasi

141 PLASENTA PREVIA BATASAN : Plasenta previa merupakan plasenta yang letaknya abnormal, yakni pada segmen bawah rahim (SBR), sehingga menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan lahir (ositium uteri internum).
(2)

Klasifikasi plasenta previa berdasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu yakni : (2) 1. Plasenta previa totalis 2. Plasenta previa lateralis : bila seluruh pembukaan tertutup oleh plasenta : bila hanya sebagian dari pembukaan tertutup oleh plasenta.

3. Plasenta previa marginalis : bila pinggir plasenta berada tepat pada pinggir pembukaan. 4. Plasenta letak rendah : bila plasenta berada 3 - 4 cm di atas pinggir pembukaan. ETIOLOGI : Tidak jelas. (2)

DIAGNOSIS : (2) 1. Anamnesis, adanya perdarahan pervaginam pada kehamilan lebih dari 20 minggu, berlangsung tanpa sebab. 2. Pemeriksaan luar sering didapati kelainan letak, bila letak kepala maka kepala belum masuk PAP. 3. Inspekulo, adanya darah dari otsium uteri eksternum. 4. USG untuk menentukan letak plasenta. 5. Penentuan letak plasenta secara langsung dengan meraba langsung melalui kanalis servikalis, tetapi pemeriksaan ini sangat berbahaya karena dapat mengakibatkan perdarahan yang banyak, karena itu cara ini hanya dilakukan diatas meja operasi. PENATALAKSANAAN : (2) 1. Konservatif bila : a. Kehamilan < 37 minggu b. Perdarahan tidak ada / tidak banyak (Hb masih dalam batas normal).

142 c. Tempat tinggal penderita dekat dengan rumah sakit (dapat ditempuh dalam waktu 15 menit). Pada perawatan konservatif dilakukan : • Istirahat, atasi anemia beri hematinik, spasmolitik, antibiotik bila ada indikasi., periksa USG, periksa Hb dan hematokrit. Bila selama 3 hari tidak berdarah dilakukan mobilisasi bertahap dan bila tidak berdarah penderita dipulangkan. Bila timbul perdarahan segera ke rumah sakit dan tidak boleh bersanggama. 2. Penanganan aktif bila : a. Perdarahan banyak, tanpa memandang usia kehamilan. b. Umur kehamilan ≥ 37 minggu c. Anak mati Penanganan aktif dapat berupa persalinan pervaginam atau perabdominal. Penderita disiapkan untuk pemeriksaan dalam di atas meja operasi (double 33set up) yakni dalam keadaan siap operasi. Bila pada pemeriksaan dalam didapatkan : a. Plasenta previa marginalis b. Plasenta letak rendah. c. Plasenta previa lateralis atau marginalis dimana janin mati dan serviks sudah matang, kepala sudah masuk PAP dan tidak ada perdarahan atau hanya sedikit, maka dilakukan amniotomi diikuti dengan drip Oxitocin’s untuk partus pervaginam bila gagal drips (sesuai dengan bab terminasi kehamilan), bila perdarahan banyak dilakukan seksio sesar. Sedang indikasi melakukan seksio sesar bila : • • • • • • Plasenta previa totalis Perdarahan banyak tanpa henti Presentasi abnormal Panggul sempit Keadaan serviks tidak menguntungkan (belum matang) Gawat janin

Pada keadaan dimana tidak memungkinkan untuk dilakukan seksio sesar maka dilakukan pemasangan Cunam Willet atau Versi Braxton - Hicks.

SOLUSIO PLASENTA

fibrinogen.143 BATASAN : Solusio plasenta adalah pelepasan plasenta sebagian atau seluruh plasenta pada implantasi normal sebelum janin lahir.200 cc. pelepasan plasenta ¼ sampai 2/3 bagian permukaan. Pada solusio plasenta sedang dan berat maka penanganan bertujuan untuk mengatasi renjatan. pelepasan plasenta kurang dari 1/6 bagian permukaan. terdapat tanda renjatan. kadar fibrinogen plasma 120-150 mg%. Bila proses berhenti secara berangsur penderita dimobilisasi. Penatalaksanaannya meliputi : a. memperbaiki anemia. (2) Klasifikasi berdasarkan tanda klinis dan derajat pelepasan plasenta yaitu : 1. haematokrit dan trombosit. menghentikan perdarahan dan mengosongkan uterus secepat mungkin. kadar fibrinogen plasma lebih dari 120 mg %. janin mati pelepasan plasenta bisa terjadi lebih dari 2/3 bagian atau keseluruhan. 3. uterus tegang. Pemberian transfusi darah . karena itu kadang diperlukan pemeriksaan penunjang yaitu USG. PENATALAKSANAAN : (2) Tergantung dari berat ringannya kasus. uterus tidak tegang. janin hidup. belum ada tanda renjatan. pemberian sedatif. dengan USG juga dimaksudkan untuk menyingkirkan plasenta previa. ETIOLOGI : Tidak jelas(2) DIAGNOSIS : (2) Pada solusio plasenta ringan kadang sulit menentukan diagnosis karena tidak semua gejala klinis nampak nyata . gawat janin atau janin telah mati. terdapat tanda pre renjatan. kemudian penentuan apakah gejala semakin progresif atau akan berhenti. 2. Sedang : Perdarahan lebih dari 200 cc. Selama perawatan dilakukan pemeriksaan Hb. Pada solusio plasenta ringan dilakukan istirahat. Berat : Uterus tegang dan berkontraksi tetanik. Ringan : Perdarahan kurang dari 100 .

VASA PREVIA BATASAN : . Preeklampsia berat. Panggul sempit. d. Pembukaan tidak ada atau < 4 cm. Sedang seksio sesar dilakukan bila: a. Pemecahan ketuban (amniotomi) c. berarti perdarahan yang terjadi sekurang-kurangnya sebanyak 1000 cc. c. Pelvik score < 5. e. Persalinan tidak selesai atau diharapkan tidak selesai dalam 6 jam. Perdarahan banyak. b. Letak lintang. Dengan demikian transfusi darah harus diberikan minimal 1000 cc. Ketuban segera dipecahkan dengan maksud untuk mengurangi regangan dinding uterus dan untuk mempercepat persalinan diberikan infus Oxytocin’s 5 UI dalam 500 cc Dextrose 5 %. Pemberian infus Oxytocin’s d.144 b. f. g. Kalau perlu dilakukan seksio sesar Bila diagnosis solusio plasenta secara klinis sudah dapat ditegakkan.

Bagian Obstetri dan Ginekologi FK-UNHAS. 2. Rambulangi J.145 Vasa previa merupakan keadaan dimana pembuluh darah umbilikalis janin berinsersi vilamentosa yakni pada selaput ketuban. Darah ini berasal dari janin dan untuk mengetahuinya dapat dilakukan dengan tes Apt dan tes Kleihauer .Betke serta hapusan darah tepi. Moerniaeni N. PENATALAKSANAAN : (2) Sangat bergantung pada status janin. maturitas paru dan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan kardiotokografi. Jakarta 1991 : 9 . Bila janin hidup dan cukup matur dapat dilakukan seksio sesar segera. Penatalaksanaan perdarahan antepartum. tentukan lebih dahulu umur kehamilan. pemeriksaan juga dapat dilakukan dengan inspekulo atau amnioskopi. Hartono E. Bila ada keraguan tentang viabilitas janin.13. ukuran janin. Gasong MS. deselerasi atau bradikardi khususnya bila perdarahan terjadi ketika atau beberapa saat setelah selaput ketuban pecah. Ujung Pandang 1997. Bila sudah terjadi perdarahan maka akan diikuti djj yang tidak beraturan. Perdarahan antepartum. Namun bila janin sudah meninggal atau imatur dilakukan persalinan pervaginam. Pengurus Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia. . KEPUSTAKAAN : 1. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. (2) ETIOLOGI : Tidak jelas (2) DIAGNOSIS : (2) Pada pemeriksaan dalam vagina dirabanya pembuluh darah pada selaput ketuban.

Fisik Pem.ltk. p. . serviks sudah matang. jarak tempat tinggal penderita dengan rumah sakit harus dapat ditempuh dalam 15 menit. bila tetap darah (-) P. marginalis. rendah.146 SKEMA PENATALAKSANAAN PERDARAHAN ANTEPARTUM Perdarahan antepartum Diagnosis Anamnesis Pem. kepala masuk panggul dan perdarahan < Pulang * Amniotomi Infus Oxitocin’s P. Hm Istirahat Sedatif Observasi Periksa HB. Fibrinogen Gejala Progresif Persalinan pervaginam PDMO (Double set up) Darah (-) Nyeri (-) Uterus tidak tegang Pulang Resusitasi cairan Transfusi darah Amniotomi Infus Oxytocin’s 3 hari darah (-) mobilitas bertahap. Lab USG Vassa previa Sedang atau berat Kehamilan ≥ 37 minggu Penilaian maturitas janin Janin mati atau imatur Janin hidup (prematur atau aterm) Plasebta previa Solusio plasenta Ringan Kehamilan < 37 minggu Kehamilan ≥ 37 minggu Kehamilan < 37 minggu Perdarahan (-) Perdarahan >> Anak mati Istirahat R/ Hematinik Antibiotik k/p Spasmolitik Periksa USG Periksa Hb. bila berdarah segera ke rumah sakit. Totalis/lateralis Perdarahan >> Presentasi abnormal Panggul sempit Gawat janin Serviks belum masuk panggul 6 jam belum partus Serviks belum matang Perdarahan >> Pembukaan <4 cm atau (-) Panggul sempit Letak lintang Toksemia gravidaru Pelvic Score <5 Berhasil Pervaginam Gagal atau Perdarahan >> Seksio sesar *) Dianjurkan untuk tidak kerja keras dan tidak boleh bersanggama.

Edema : edema tekan pada : Tungkai (pretibial). (untuk pemeriksaan pertama dilakukan 2 x setelah istirahat 10 menit). dinding perut.2. dinding perut. SpOG PREEKLAMPSIA RINGAN BATASAN : (1. Proteinuri : > 0. Ong Tjandra.3) Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai dengan proteinuria dan atau edema setelah umur kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan. John Rambulangi. PREEKLAMPSIA & EKLAMPSIA dr. PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : 1. 2.147 9. Gejala ini dapat timbul sebelum 20 minggu pada penyakit tropoblas. 3. 4. PATOFISIOLOGI : (4) Penyebabnya sampai sekarang belum jelas benar. GEJALA KLINIS : (4) 1. Penyakit ini dianggap sebagai “maladaptation syndrome” dengan akibat suatu vasospasme general dengan segala akibat-akibatnya. Edema pada Pretibia. Lumbosakral. wajah/tangan. Kehamilan > 20 minggu 2. Proteinuri : gr/lt dalam 24 jamatau secara kwalitatif (+ +) 3. dr.3 gr/lt/24 jam Kwalitatif (+ +) PENATALAKSANAAN : (2) (4) . Kenaikan tekanan darah sistol ≥ 30 mmHg atau diastol ≥ 15 mmHg (dari tekanan darah sebelum hamil) pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Kenaikan tekanan darah (≥ 140/90 mmHg) dengan pemeriksaan 2 x selang 6 jam dalam keadaan istirahat. wajah/tangan. atau sistol ≥ 140 mmHg (< 160 mmHg) diastol ≥ 90 mmHg (< 110 mmHg). lumbosakral.

Perawatan Obstetrik : 1. 2.148 A. • Banyak istirahat (berbaring tidur/miring) • Diet : cukup protein. b. tidak menunjukkan adanya perbaikan dari gejalagejala preeklampsia. Pada kehamilan aterm (≥ 37 minggu) a. tetapi belum mencapai normotensif selama perawatan. fungsi hati. fungsi ginjal B. Timbul salah satu atau lebih gejala/tanda-tanda preeklampsia berat . Rawat tinggal (1) (1) Kriteria preeklampsia ringan untuk dirawat di rumah Sakit : 1. Rawat jalan. Kenaikan berat badan ibu : ≥ 1 kg/minggu selama 2 kali berturut-turut (2 minggu) 3. Pada kehamilan preterm (< 37 minggu) a. Perawatan kemudian disesuaikan dengan perawatan rawat jalan. rendah karbohidrat. trombosit. Persalinan ditunggu sampai terjadi onset persalinan atau dipertimbangkan untuk melakukan persalinan pada taksiran tanggal persalinan 3. hematokrit. asam uart darah. maka kehamilannya dapat diakhiri pada umur kehamilan ≥ 37 minggu 2. Bila desakan darah mencapai normotensif. selama perawatan : persalinan ditunggu sampai aterm. lemak dan garam • Sedativa ringan : Tablet Phenobarbital 3 x 30 mg atau Diazepam 3 x 2 mg peroral selama 7 hari • Roborantia • Kunjungan ulang tiap 1 minggu • Pemeriksaan laboratorium : Hb. maka preeklampsia ringan dianggap sebagai preeklampsia berat. maka penderita tetap dirawat selama 2 hari lagi baru dipulangkan. Bila desakan darah turun. Setelah 2 minggu pengobatan rawat jalan. • Bila setelah 1 minggu perawatan diatas tidak ada perbaikan. Cara persalinan . urine lengkap. • Bila dalam perawatan di Rumah Sakit sudah ada perbaikan sebelum 1 minggu dan kehamilan masih preterm.

5) . Perawatan aktif Sedapat mungkin sebelum perawatan aktif pada tiap penderita dilakukan pemeriksaan fetal assesment (NST & USG) a. PENATALAKSANAAN : (1) Ditinjau dari umur kehamilan dan perkembangan gejala-gejala preeklampsia berat selama perawatan. maka perawatan dibagi menjadi : A.149 a. gejala-gejala status quo (tidak ada perbaikan). kegagalan terapi pada perawatan konservatif yaitu : dalam waktu setelah 6 jam sejak dimulainya pengobatan meditasi terjadi kenaikan desakan 2. (3. Aktif : kehamilan segera diakhiri/diterminasi bersamaan dengan pemberian medisinal B.4. Konservatif : kehamilan tetap dipertahankan bersamaan memberi pengobatan medisinal. Janin • Hasil fetal assesment jelek (NST & USG) • Adanya tanda-tanda IUGR 3. A. bila perlu memperpendek kala II PREEKLAMPSIA BERAT BATASAN : (4) Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan timbulnya hipertensi ≥ 160/110 mmHg disertai proteinuri dan atau edema. Laboratorik darah atau setelah 24 jam sejak dimulainya perawatan medisinal. Ibu • Kehamilan ≥ 37 minggu • Adanya tanda-tanda/gejala impending eklampsia. pada kehamilan 20 minggu atau lebih. Indikasi Indikasi perawatan aktif ialah bila didapatkan satu atau lebih keadaan gawat dibawah ini : 1. Persalinan dapat dilakukan secara spontan.

lemak dan garam 6. dimana pemberian MgSO4 tidak melebihi 2-3 hari. Untuk mengurangi nyeri dapat ditambah 1cc Xylocain 2 % yang tidak mengandung adrenalin pada suntikan im. Diikuti segera 4 gram di bokong kiri dan 4 gram di bokong kanan (40% dalam 10 cc) dengan jarum no. 2. (3) c. yaitu : a. Pembagian obat anti kejang : Magnesium Sulfat Cara pemberian: a. Antasida 5. Syarat-syarat pemberian MGSO4 : (4. (3) 3. Pengobatan Medisinal 1. (6). Kelemahan otot 125 . Magnesium Sulfat dihentikan bila : (7) 1. refleks patella setiap jam. Harus tersedia antidotum MgSO4. 21 panjang 3.150 • Adanya “HELLP Syndrome” (Sindroma : Hemolisis. 2. Produksi urine > 100 cc dalam 4 jam sebelumnya (0. Dosis awal : 4 gram MgSO4 intravena (20% dalam 20cc) selama 1 gram/menit kemasan 20% dalam 25 cc larutan MgSO4 (dalam 3-5 menit). Infus Dextrose 5 % yang tiap satu liternya diselingi dengan infus Ringer Laktat (60cc /jam) 500 cc 4. Frekuensi pernafasan > 16 x / menit 4.7) 1. yaitu calsium glukonas 10%. d. 1 gram (10 % dalam 10 cc) diberikan IV dalam 3 menit. b. Ada tanda-tanda keracunan.5 cc/ kg BB/jam). Dosis ulangan Diberikan 4 gram im 40 % setelah 6 jam pemberian dosis awal. Selanjutnya dosis ulangan diberikan 4 gram im tiap 6 jam. Diet cukup protein. Peningkatan fungsi hepar dan trombositopenia) b. rendah karbohidrat. Segera masuk rumah sakit. Tirah baring miring kesatu sisi Tanda vital diperiksa tiap 30 menit.7 cm. Refleksi petella (+) kuat 3.

Refleks fisiologis menurun d. Kadar serum ion Magnesium pada dosis edequat adalah 4-7 mEq/liter. Bila dibutuhkan penurunan tekanan darah secepatnya dapat diberikan obat-obat antihipertensi parenteral (tetesan kontinu).151 b. Kadar 12-15 mEq terjadi kelumpuhan otot-otot pernafasan dan > 15 mEq/liter terjadi henti jantung (3. 1997. (8. Magnesium sulfat dihentikan juga bila setelah 4 jam pasca persalinan sudah terjadi perbaikan (normotensif). 3. maka obat yang sama mulai diberikan secara oral (Syakib Bakri. c. Lakukan pernafasan buatan. 8. Hipotensi c. Berikan Oxigen d. Diberikan Furosemid injeksi 40 mg/IM. 7. 2. payah jantung kongestif atau edema anasarka. (4). Sasaran pengobatan adalah tekanan diastolis < 105 mmHg (jangan < 90 mmHg) karena akan menurunkan perfusi plasenta. Bersama dengan awal pemberian sublingual. Kelumpuhan dan selanjutnya dapat menyebabkan kematian karena kelumpuhan otot -otot pernafasan. catapres injeksi dosis yang biasa dipakai adalah 5 ampul dalam 500 cc cairan infus atau press disesuaikan dengan tekanan darah Bila tidak tersedia antihipertensi parenteral dapat diberikan tablet antihipertensi secara sublingual diulang selang 1 jam. Hentikan pemberian magnesium sulfat b. maksimal 4-5kali. Fungsi jantung terganggu e.Desakan darah sistolis > 180mmHg. komunikasi pribadi). Refleks fisiologis menghilang pada kadar 8-10 mEq/liter.9) Dosis dari obat-obat antihipertensi ini sama dengan dosis pada hipertensi pada umumnya. Bila timbul tanda-tanda keracunan magnesium sulfat (dikutip oleh 7) a. Berikan calsium glukonase 10% 1 gram (10% dalam 10 cc) secara IV dalam waktu 3 menit. Diuretikum tidak diberikan kecuali bila ada : ederma paru. Depresi susunan saraf pusat f.7). . Antihipertensi diberikan bila : . diastolis > 110mmHg atau “MAP” > 125mmHg.

c. • Antibitik diberikan atas indikasi (4) o . Kardiotonika Indikasi memberikan kardiotonika bila ada tanda-tanda menjurus payah jantung. 5 C. 10. dapat diberikan petidin HCL 50-75 mg sekali saja. dapat dibantu dengan pemberian kompres dingin atau alkohol atau Xylomidon 2cc im. selambat-lambatnya 2 jam sebelum janin lahir). • 12 jam sejak dimulainya tetesan oksitosin belummasuk fase aktif. • Anti nyeri bila penderita kesakitan atau gelisah karena kontraksi uterus. (4) • Seksio sesaria bila : • Fetal assesment jelek • Syarat tetesan oxytosin tidak dipenuhi (nilai Bishop < 5) atau adanya kontra indikasi tetesan oksitosin . Belum inpartu : • Induksi persalinan : tetesan oksitosin dengan syarat nilai bishop ≥ 5 dan dengan fetal heart monitoring. mata • Obat-obat anti piretik diberikan bila suhu rektal diatas 38. Diberikan Ampicillin 1 gram /6 jam/IV/hari. Lain-lain • Konsul bagian penyakit dalam /jantung.152 9. Diberikan digitalisasi cepat dengan cedilanid D.2) Fase latent : 6 jam tidak fase aktif dilakukan seksio sesar Fase aktif : . Pengobatan Obstetrik Cara terminasi kehamilan. Pada primigravida lebih diarahkan untuk dilakukan terminasi dengan seksio sesar (1.2) Sudah Inpartu : Kala I : (1.

hanya “loading dose” MgSO4 tidak diberikan IV cukup im saja. Penderita dipulangkan bila : 1. 2. Bila sebelum 24 jam hendak dilakukan tindakan : maka diberi lebih dahulu MgSO4 20% 2 gram IV. Selama perawatan konservatif : observasi dan evaluasi sama seperti perawatan aktif hanya disini tidak ada terminasi. d. Amniotomi dan tetesan oksitosin dilakukan sekurang-kurangnya 3 menit setelah pemberian pengobatan medisinal. selambatlambatnya dalam waktu 24 jam 3. (bila perlu dilakukan tetesan oksitosin ) Kala II : Pada persalinan pervaginam.2) a. dilakukan seksio sesar. Pengobatan obstetrik 1. Penderita kembali ke gejala-gejala/tanda-tanda Preeklampsia ringan dan tetap dirawat selama 3 hari. Perawatan Konservatif (1. Pada kehamilan ≤ 37 minggu. bila keadaan memungkinkan terminasi ditunda 2 x 24 jam untuk memberikan kortikosteroid (lihat bab pematangan paru) 1. . maka kala II diselesaikan dengan partus buatan . b.153 • Amniotomi saja • Bila 6 jam setelah amniotomi belum terjadi pembukaan lengkap. Indikasi : Bila kehamilan preterm < 37 minggu tanpa disertai tanda-tanda impending eklampsia dengan keadaan janin baik Pengobatan medisinal : sama dengan perawatan medisinal pada pengelolaan aktif. yaitu 4 gram bokong kiri dan 4 gram bokong kanan c. Pemantangan paru-paru janin. MgSO4 dihentikan bila ibu sudah mencapai tanda-tanda preeklampsia ringan. Bila setelah 24 jam tidak ada perbaikan maka keadaan ini dianggap sebagai kegagalan pengobatan medisinal dan harus diterminasi 4.

jantung fungsi hematologi/hemostasis PENATALAKSANAAN : (1.154 2. ginjal. (Kejang-kejang timbul bukan akibat kelainan neurologik). hepar. otak. Bila selama 3 hari tetap berada dalam keadaan Preeklampsia ringan : penderita dapat dipulangkan dan dirawat sebagai preeklampsia ringan. dalam persalinan atau masa nifas ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. (diperkirakan lama perawatan 1-2 minggu). edema dan proteinuri) 3. Berdasarkan gejala klinis diatas 2. yakni terjadinya nekrosis dan perdarahan pada organ-organ tersebut.2) Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil. dengan akibat yang lebih serius pada organ-organ hati. ginjal. EKLAMPSIA BATASAN : (1.2) Tujuan pengobatan : • • Untuk menghentikan dan mencegah kejang Mencegah dan mengatasi penyulit khususnya hipertensi krinis . atau persalinan atau masa nifas 2. Kehamilan > 20 minggu. GEJALA KLINIS : (4) 1. Pemeriksaan laboratorium • • • adanya protein dalam urin fungsi organ. Tanda-tanda preeklampsia (hipertensi. PATOFISIOLOGI : (4) Sama dengan preeklampsia. dimana sebelumnya sudah menunjukkan gejala-gejala pre-eklampsia. Kejang-kejang dan atau koma 4. paru dan jantung. Kadang-kadang disertai dengan gangguan fungsi organ-organ PEMERIKSAAN DAN DIAGNOSIS : (4) 1.

syarat-syarat untuk mengakhiri persalinan pervaginam dipenuhi. Perawatan bersama Konsul bagian syaraf. Stabilisasi ibu dicapai dalam 4-8 jam setelah salah satu atau lebih keadaan di bawah ini : • • • • Setelah pemberian obat anti kejang terakhir Setelah kejang terakhir Setelah pemberian obat-obat anti hipertensi terakhir Penderita mulai sadar (responsive dan orientasi) Terminasi kehamilan (4) • Apabila pada pemeriksaan. sikap dasar : kehamilan diakhiri bila sudah terjadi stabilisasi (pemulihan) hemodinamik dan metabolisme ibu. . Pengobatan medisinal : Sama seperti pengobatan preeklampsia berat kecuali bila timbul kejang-kejang lagi maka dapat diberikan MgSO4 2 gram iv selama 2 menit sekurang-kurangnya 20 menit setelah pemberian terakhir. anastesi dan anak.2) Sikap dasar : semua kehamilan dengan eklampsia harus diakhiri dengan tanpa memandang umur kehamilan dan keadaan janin.155 • • Sebagai penunjang untuk mencapai stabilisasi keadaan ibu seoptimal mungkin Mengakhiri kehamilan dengan trauma seminimal mungkin untuk ibu. maka persalinan tindakan dengan trauma yang minimal. bagian mata. Bilamana diakhiri. • Perawatan pada serangan kejang : • • • Perawatan di kamar isolasi cukup terang/ICU Pengobatan obstetrik : (1. penyakit dalam/jantung. Dosis tambahan 2 gram hanya diberikan satu kali saja. Bila setelah diberi dosis tambahan masih tetap kejang maka diberikan amobarbital/thiopental 3-5mg/kgBB/IV pelan-pelan.

. bila ada kemacetan dilakukan seksio sesar. Tindakan seksio sesar dilakukan pada keadaan : • • • • Penderita belum inpartu Fase laten Gawat janin Tindakan seksio sesaria dikerjakan dengan mempertimbangkan keadaan kondisi ibu.156 • • Apabila penderita sudah inpartu pada fase aktif langsung dilakukan amnitomi selanjutnya diikuti dengan partograf.

157 PREEKLAMPSIA RINGAN BERAT RAWAT JALAN Kunjungan ulang 1 minggu Dua minggu menetap Umur kehamilan Tanda-tanda vital Laboratorium Fetal Assesment Membaik RAWAT RS 1 Minggu Tidak membaik KONSERVATIF Kehamilan < 37 minggu Janin Baik Setelah 24 Jam Perbaikan menjadi Preeklampsia Ringan Rawat selama 3 hari Tidak ada Perbaikan AKTIF Kehamilan ≥ 37 minggu Tanda-tanda impending 6 jam Terapi TD Meningkat Fetal Assesment jelek IUGR Sindroma HELLP TERMINASI KEHAMILAN BELUM INPARTU INPARTU Bishop skor < 5 Kontra Indikasi Drip oksitosin Fetal Assesment Jelek Bishop skor ≥ 5 Fetal Assesment Baik Drip Oksitosin FASE LATENT FASE AKTIF Amniotomi Bila perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk Kala II KALA II PARTUS BUATAN Setelah 12 jam Tidak masuk Fase Aktif Setelah 6 jam Tidak masuk Fase Aktif SEKSIO SESARIA .

BELUM INPARTU INPARTU 158 EKLAMPSIA Waktu Diakhiri Stabilisasi hemodinamika dan Metabolisme. yaitu setelah : Terapi Obat Kejang terakhir Kejang terkahir Terapi obat Hipertensi Terakhir OS mulai sadar Kehamilan Diakhiri Tanpa Memandang usia Kehamilan dan Keadaan janin INPARTU BELUM INPARTU FASE LATENT FASE AKTIF Ada Janin Gawat Tidak ada Amniotomi Kalau perlu Drip Oksitosin Setelah 6 jam Tidak masuk kala II Masuk Kala II PARTUS BUATAN SEKSIO SESARIA .

dr. 2. Faktor ibu Pada wanita hamil kadar kortisol meningkat 3 X dari keadaan sebelum hamil. ringan maupun berat yang terjadi atau diketahui pertama kali saat kehamilan berlangsung. Haryanto Kasy.1.159 10. PENYAKIT YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEHAMILAN 10. SpOG BATASAN : Diabetes melitus gestasional adalah suatu intoleransi karbohidrat. Josephine LT. • Adanya enzim yang bekerja seperti enzim insulinase yang dapat merusak insulin dalam plasma. Riwayat kebidanan (1. FAKTOR RISIKO : 1. Riwayat Ibu (1.2) • • • • • • Beberapa kali abortus Riwayat pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas Riwayat pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan Pernah melahirkan bayi ≥ 4000 gram Pernah preeklampsia Polihidramnion 2. Sehingga asam lemak meningkat yang menyebabkan meningkatnya resistensi jaringan terhadap insulin. DIABETES MELITUS GESTASIONAL dr. Faktor Plasenta • Human plasental lactogen bersifat diabetogenik dan meningkatkan proses lipolisis trigliserida.2) . (1) PATOFISIOLOGI : Faktor -faktor yang dapat mengganggu keseimbangan karbohidrat pada kehamilan dapat berasal dari : (2) 1. Ny.

139 140 . b. Penapisan Diabetes Melitus Gestasional (DMG) sebaiknya harus dilakukan pada semua wanita hamil Waktu penapisan.4) darah. 2. (1) Tabel 1. Untuk Normal Diabetes Melitus Toleransi glukosa terganggu PENATALAKSANAAN : . Contoh darah berikutnya diperiksa dua jam setelah beban glukosa. (1) a. Materi Penapisan.160 • • • • Umur ibu hamil > 30 tahun Riwayat diabetes melitus dalam keluarga Riwayat diabetes melitus gestasi pada kehamilan sebelumnya Infeksi saluran kemih berulang selama hamil CARA PENAPISAN DAN KRITERIA DIAGNOSIS : 1. (1) mereka yang hasilnya negatif. kemudian diberi beban glukosa 75 gram dalam 200 ml air. c. pemeriksaan diulang pada minggu gestasi ke 24 -26. Kriteria diagnosis menurut WHO Glukosa plasma vena ( mg/dl ) Puasa jam < 100 < 140 ≥ 140 ≥ 200 100 . Cara Penapisan (1.199 Adalah cara satu tahap yaitu wanita hamil dalam keadaan puasa pada pagi hari diambil contoh Dianjurkan pada semua ibu hamil pada pertemuan pertama dengan petugas kesehatan. Kriteria diagnosis Kriteria diagnosis Diabetes Melitus pada wanita hamil sama seperti pada penapisan bukan wanita hamil.

5 unit/kg BB. 1. Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan perencanaan makan. ahli gizi dan spesialis anak.4. Keterangan : Berat Badan ideal = (tinggi badan-100) 10% (kg) b.161 Penatalaksanaan kehamilan dengan diabetes melitus selayaknya dilaksanakan secara terpadu oleh spesialis penyakit dalam. Perencanaan makan yang sesuai kebutuhan. (1. (1) Pemantauan ibu dan janin dilakukan dengan : • • • • Pengukuran tinggi fundus uteri Mendengarkan denyut jantung janin Pemeriksaan khusus : USG dan karditokografi (KTG) Penilaian menyeluruh janin dengan menggunakan nilai Fungsi Dinamik Janin Plasenta (FDJP) darah sendiri dirumah dengan reflectance . Penatalaksanaan medis ibu DMG.5 . (5) Memantau diabetes terkendali.4) 1. yaitu kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl dan dua jam sesudah makan adalah 120 mg/dl.5) Jumlah kalori yang dibutuhkan : 35 kal/kg BB ideal menurut cara Broca.4.5) a.5) Meliputi : • pemantauan glukosa meter. (1.5) Dosis Insulin : 0.4) Untuk mencapai sasaran tersebut dapat dilakukan : (1. Penatalaksanaan obstetri. Pengendalian kadar glukosa darah dilakukan oleh ahli penyakit dalam dan ahli gizi. (1. (1. (1. Sasaran : Keadaan normoglikemia selama kehamilan sampai persalinan.1. spesialis obstetri ginekologi. • pemeriksaan secara berkala HbAlc setiap 6-8 minggu. 2/3 diberikan pada pagi hari dan 1/3 pada sore hari.

162 Skema pengelolaan ibu DMG. gawat janin. (1) DMG terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Pemantauan setiap minggu USG + KTG tidak terkendali Sejak usia kehamilan 34 minggu Rawat Pemantauan setiap minggu USG + KTG Janin sehat PJT. Makrosomia Amniosentensi s paru belum matang steroid 40 minggu paru matang partus biasa Terminasi .

hemoptisis. Bising diastolik. DIAGNOSIS Burwell dan Metcalfe mengajukan 4 kriteria. Pembesaran jantung yang jelas 3. Wewengkang. presistolik atau bising jantung terus menerus 2. Pengaruh penyakit jantung pada kehamilan 5 Perubahan hemodinamik dalam kehamilan tidak berpengaruh pada kehamilan dengan kecil masa kehamilan. SpOG BATASAN Penyakit jantung dalam kehamilan adalah penyakit dengan kumpulan gejala : nyeri dada.163 10. pingsan dan kesulitan bernafas1. sesak nafas.2. Resiko tergantung dari kerusakan dan kemampuan kapasitas jantung untuk kompensasi. Peningkatan volume darah dan isi sekuncup memperberat kerusakan katup jantung bahkan sampai kegagalan jantung.3. edema. lesu.4. Johnsen Mailoa.Ny. Bising jantung nyaring.6 : Kelas I Kelas II Kelas III Kelas IV : Tanpa gejala : Gejala timbul bila aktifitas lebih dari normal : Gejala timbul pada aktifitas normal : Gejala timbul saat tirah baring Pengaruh kehamilan pada penyakit jantung 5 Perubahan sirkulasi darah mempunyai dampak pada wanita hamil dengan penyakit jantung. terutama bila disertai thrill 4. palpitasi. dr.5.2.6 Menurut klasifikasi New York Heart Association 3.Margaretha J. satu diantaranya sudah cukup untuk membuat diagnosis penyakit jantung dalam kehamilan 1: 1. PENYAKIT JANTUNG DALAM KEHAMILAN dr. Aritmia yang berat Pemeriksaan laboratorium 6: Menurut Ueland dkk (1972). penderita penyakit jantung dalam kehamilan cenderung melahirkan bayi prematur .

dapat melahirkan pervaginam observasi ketat selama kehamilan. pengawasan spesialis penyakit jantung atau penyakit dalam Menurut Mackenzie 1 bila terdengar ronki menetap di dasar paru.2.7: • • • Elektrokardiografi Ekokardiografi (Doppler) Kardiotokografi (usia kehamilan > 20 minggu) PENATALAKSANAAN Kelas I dan kelas II • • • • • • • • • 1. Penderita harus tirah baring. tinggi protein batasi aktifitas berat ( usia kehamilan 28 – 32 minggu) pemeriksaan antenatal setiap 2 minggu sampai kehamilan 36 minggu. merupakan gejala awal gagal jantung. Kala persalinan 1: • tidak berbahaya • nyeri persalinan dikurangi . persalinan dan nifas cegah timbulnya dekompensasi kordis tidur malam cukup ( 8-10 jam) setiap kali makan istirahat baring ½ jam diit rendah garam.3 : kehamilan aterm. obati dengan digitalis. Bila timbul gejala dekompensasi kordis. Seksio sesarea hanya atas indikasi obstetri (plasenta previa . panggul sempit). disproporsi sefalo-pelvik.164 • • darah dan urine rutin apusan tenggorok Pemeriksaan penunjang 5.6. segera rawat dan digolongkan satu kelas lebih tinggi. kemudian setiap minggu masuk rumah sakit ± 1 minggu sebelum taksiran partus. dan tidak hilang setelah menarik nafas dalam 2–3 kali.

v. Morfin (10-15mg). awasi ketat tanda gagal jantung atau edema paru. dapat diulangi 1-2 kali. • laktasi dilarang Prognosis tergantung beratnya penyakit . setelah 1-2 jam. • gurita kantung pasir untuk mencegah perubahan mendadak sirkulasi darah • oksitoksin intravena atau intramuskulus bila perdarahan. infeksi nifas dan tromboemboli • istirahat dan mobilisasi bertahap • dianjurkan tubektomi • laktasi dibolehkan jika sanggup secara fisik Kelas III dan IV 1 : • tidak boleh hamil • bila hamil<12 minggu→ abortus terapeutik dipertimbangkan • bila hamil > 12 minggu cegah dekompensasi kordis → tirah baring selama kehamilan dan nifas. perdarahan postpartum.8 mg).6 mg i. dengan dosis awal 0. • setelah kala II.165 • obat sedasi dan analgesia derivat morfin dapat diberikan • partus posisi setengah duduk Awasi terjadinya dekompensasi kordis 1: • periksa nadi setiap 10 – 15 menit. Pemberian oksigen. partus segera diakhiri dengan cunam atau ekstraksi vakum. dan Furosemid • bila kala II > 20 menit atau ibu tidak kuat meneran. bila nadi >100x/menit dan pernapasan >28x/menit (disertai sesak napas) obati digitalis (delanosid /cedilanid 1. • pada kala II. persalinan diakhiri dengan forseps atau ekstraksi vakum • sediaan Ergometrin merupakan indikasi kontra • masa nifas dapat terjadi kolaps setelah anak lahir.2 mg sampai 1.

memberikan banyak komplikasi. dr. ETIOLOGI (2) : Disebabkan oleh Plasmodium. sering sembuh spontan tanpa pengobatan. yaitu terjadinya “Trias Malaria” secara beruntun yakni : (2) a. memiliki kemampuan resisten dengan pengobatan 3. Plesmodium vivax. yaitu demam periodik. Plasmodium falsiparum.(1) Penyakit ini mempunyai gambaran karakteristik. menyebabkan malaria quartana/malariae : jarang.166 10. SpOG BATASAN : Malaria dalam kehamilan adalah penyakit protozoa yang dipindahkan pada manusia melalui gigitan nyamuk anopheles (1) yang ditemukan pada wanita hamil. Adjardiana Idrus. Plasmodium Malariae. Periode dingin sampai menggigil b. Adapun gejala klasik. Periode panas c. Periode berkeringat . 4. Plasmodium ovale. 2. MALARIA DALAM KEHAMILAN dr. kekebalan ibu terhadap penyakit malaria berkurang terutama pada trimester terakhir. anemia & splenomegali. Syahrir Muhammad. memberikan infeksi yang paling ringan. Dalam kehamilan.3. merupakan infeksi yang paling sering dan menyebabkan malaria tertiana / vivax. GEJALA : Berat ringannya manifestasi malaria tergantung jenis plasmodium yang menyebabkan infeksi. yaitu : 1.

Pemeriksaan pada saat penderita demam dapat meningkatkan kemungkinan ditemukan parasit. Dapat diluang 10 jam kemudian. Gawat janin selama persalinan sering dijumpai pada wanita yang mengalami anemia akibat infeksi malaria yang berat.5) 1. Pemberian obat anti malaria kinin Hcl 20 mg/kgBB dalam 100-200 cc cairan dextrose 5 % selama 4 jam. cara yang paling aman ialah suntikan intramuskulus. Tetesan darah tipis Digunakan untuk identifikasi jenis plasmodium. dapat terjadi atonia (6) 5. Abortus. tetapi tanpa pemberian primaquin. Segera dilanjutkan dengan 10 mg/kgBB dilarutkan dalam 200 cc . Tetetsan preparat darah tebal Merupakan cara terbaik untuk menemukan parasit malaria sekaligus identifikasi jenis plasmodium b. Dapat pula terjadi anemia pada nifas 4. yaitu : (6. Karena ibu lemah. Adapaun pemeriksaan darah tepi dapat dilakukan melalui : a. biasanya diberikan 300 mg chioroquine dan Mepacrine.3.(3) • Penanganan Malaria berat adalah : (6) 1. partus prematur 2. bila dengan preparat darah tebal sulit dilakukan Pemeriksaan satu kali dengan hasil negatif tidak menyampingkan diagnosis malaria. Setelah itu. PEMERIKSAAN PENUNJANG (2) Pemeriksaan mikroskopik darah tepi untuk menemukan adanya parasit malaria sangat penting untuk menegakkan diagnosis.167 KOMPLIKASI : (1. dismaturitas. Kematian intra uterin 3. PENANGANAN : Pengobatan Pengobatan malaria pada wanita hamil seperti biasa.2.4.7) Hari I Hari II Hari III • Chloroquine 600 mg Chloroquine 600 mg Chloroquine 300 mg Pada serangan tiba-tiba. pengobatan dilanjutkan per Oral.

Kinin dapat diberikan intramuskuler bila melaui infus tidak memungkinkan. (5) PENCEGAHAN : (5) Pencegahan dengan chioroquine 300 mg/oral. Selanjutnya diberikan dengan dosis yang sama tiap 8 jam. kemudian diikuti dengan dosis 10 mg/kgBB/8 jam sampai penderita dapat minum peroral. sekali seminggu sampai 4 minggu setelah kembali ke daerah non endemik. Preparat ini bisa diberikan intravena pada infeksi yang berat.168 Dextrose 5 % diberikan dalam waktu 4 jam. Bila sudah sadar kinin diberikan peroral dengan dosis 3 x 400-600 mg selama 7 hari 2. Pemberian cairan nutrisi 4. . Tranfusi 3. Dosis 20 mg/kgBB/im terbagi pada 2 tempat suntikan. (4) Untuk wanita hamil dengan malaria falciparum yang resisten terhadap choroquine dapat diberikan preparat kina peroral. Penanganan terhadap gangguan fungsi organ yang mengalami komplikasi • • Bila terdapat anemi yang berat (Hb ≤ 6 gr %) harus dilakukan transfusi dengan packed red cells atau whole blood.

prematur KJDR Anemia Atonia/Intesia Uteri Gawat janin Penanganan Pencegahan Chioroquine 300 mg/minggu (1 x)/oral (mulai sebelum masuk wilayah andemik sampai 4 minggu setelah kembali kedaerah non endemik) Malaria Berat Pengobatan Malaria Ringan Hari I Chloroquine 600 mg Tidak sadar Kinin Hcl 20 mg/kgBB/100-200 cc Dextrose 5 % infus selama 4 jam dilanjutkan Kinin Hcl 10 mg/kgBB/200 cc Dextrose 5 %/infus selama 4 jam. bila sulit . tetesan darah tebal.Pem. Tetesan darah tipis Koplikasi : Abortus.169 SKEMA PENATALAKSANAAN MALARIA DALAM KEHAMILAN MALARIA DLM KEHAMILAN Etiologi : Plasmodium Gejala : Trias Malaria Pem. dismatur.Pem. dilanjutkan Kinin Hcl dengan Dosis yang sama tiap 8 jam Atau Kinin 20 mg/kgBB/im dilanjutkan dengan Kinin 10 mg/kgBB/8 jam Sadar Kinin 3 x 400-600 mg selma 7 hari Hari II Chloroquine 600 mg Hari III Chloroquine 300 mg Bila resisten Kina per oral atau intra vena . Penunjang : Laboratorium .

(2.4. SpOG BATASAN : Penyakit tuberkulosis paru yang disebabkan oleh mycobakterium tuberkulosis yang dijumpai dalam masa kehamilan. Laboratorium darah rutin. Biasanya dipakai cara Mantoux dengan menyuntikkan 0.(2) • • • • • Batuk terus menerus berdahak 3 minggu atau lebih. Biakan / kultur : biakan dilaksanakan dengan metode yang baik seklaigus resistensi tes. Lemah badan. Pemeriksaan penunjang. H. Pemeriksaan radiologis : foto toraks posteroanterior dan lateral.(3) Perkusi dada yang redup. Haryanto Kasy . Tes tuberkulin. d. 2. Badan kurang enak “ malaise”.1 cc tuberkulin PPD “Purified protein derivative” . pada auskultasi suara napas yang bronkial serta didapatkan ronki basah kasar dan nyaring. keluar keringat malam. Sesak nafas atau rasa nyeri dada. 3.170 10. dr.(2) • • • Hitung jenis. LED (laju endapan darah) mungkin tinggi. a. Pernah batuk dahaknya bercampur bercak darah. Tes fungsi hati. kehilangan nafsu makan dan berat badan menurun. Anamnesis.3) b.(1) KRITERIA DIAGNOSIS : 1. biasanya didominasi limfosit. Pemeriksaan fisik.(2) • • BTA (basil tahan asam) : pewarnaan sputum dilakukan dengan metode Ziehl Nielson 3 kali berturut-turut dengan menggunakan mikroskop binokuler.A. Pemeriksaan sputum. TUBERKULOSIS PARU DALAM KEHAMILAN dr. Arifuddin Djuanna. c.

Masa persalinan.(5) Artinya : Rifampisin. diet tinggi kalori tinggi protein.(1) Persalinan kala I maupun kala II diusahakan seringan-ringannya. Penanganan obstetri a. c. cukup.(4) 2.(2) Keterangan : R = Rifampisin H = INH E = Etambutol Berat badan Jenis obat fase intensif R 300 mg 450 mg 600 mg H 200 mg 300 mg 400 mg E 800 mg 800 mg 1200 mg Jenis obat fase lanjutan/periodik. Etambutol diberikan intensif kali dalam seminggu selama 5-8 bulan. (1) Kegiatan fisik dikurangi.5-8R2H2. Bila TBC paru (BTA +) : 1R7H7E7 . diberi masker untuk menutup mulut dan hidung. Pengobatan medikamentosa.(2) PENGELOLAAN : 1. b. Tes tuberkulin yang positif tidak selalu diikuti dengan penyakit. Dosis obat anti tuberkulosis. bila persalinan berjalan lancar tidak dilakuka sesuatu dan diusahakan agar persalinan dapat berlangsung dengan . kemudian dilanjutkan rifampisin.(3) Hasil tes : indurasi 10-15 mm = Mantaoux positif(3) . a. Masa kehamilan Perawatan kehamilan dapat dilakukan seperti biasa. INH periodik 2 < 33 kg 33 .171 Intrakutan. INH. istirahat Selama persalinan penderita TBC paru aktif ditempatkan dikamar tertentu / kamar isolasi. b. R H 300 mg 500 mg 450 mg 600 mg 600 mg 600 mg setiap hari selama 1 bulan. hasil yang negatif tidak selalu menyngkirkan penyakit. Bila tes tuberkulin positif tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinik diberikan : INH selama 1 tahun. Rawat bersama dengan Subbagian Pulmonologi Bagian Penyakit Dalam.50 kg > 50 kg 3.

(1) Penderita yang tidak mungkin dipulangkan. kemudian penderita dapat dipulangkan langsung.(5) c. vakum atau ekstraksi kaki.(5) Namun apabila kala II melelahkan sebaiknya dipercepat dengan bantuan ekstraksi foeceps. Masa nifas Setelah penderita melahirkan. harus dirawat diruang isolasi.8 jam. serta nasihat perawatan masa nifas yang harus mereka lakukan. Diberi obat uterotonika dan obat TBC paru diteruskan.(1) PROGNOSIS : Kecepatan diagnosis dan tatalaksana berperan dalam prognosis.(5) Tindakan seksio sesar hanya dilakukan atas indikasi obstetri dan tidak atas indikasi tuberkulosis paru. penderita dirawat diruang observasi 6 .(1) Dalam keadaan ideal bayi setelah lahir segera dipisahkan dari ibunya sampai ibunya tidak memperlihatkan tanda-tanda proses aktif lagi setelah dibuktikan dengan pemeriksaan sputum sebanyak 3 kali yang selalu memperlihatkan hasil negatif.172 spontan.(5) .

173 TBC PARU DALAM KEHAMILAN Penderita kemungkinan tuberkulosis Ada riwayat kontak Faktor risiko : Sosial ekonomi Perumahan padat Gejala mencurigakan : Batuk darah Nyeri dada Keringat malam berat badan menurun demam Pemeriksaan fisik paru. Pengobatan medikamentosa : INH selama 1 tahun Perawatan kehamilan Penanganan persalinan atas indikasi obstetri . Etambutol. Tes tuberkulin Laboratorium Bila perlu foto toraks TBC paru aktif Hanya tes tuberkulin + (tanpa kelainan radiologis ataupun gejala klinis) Pengobatan medikamentosa : INH. Rifampisin.

5. reaksi imunologi (alergi) dimana lg E meninggi B. sesak napas.5) INDIKASI MASUK RUMAH SAKIT : (1. hiperventilasi. ekspirasi memanjang. Moeljono. pulsus paradoksus. kesukaran bicara. sianosis. dispnea. Dorphiana Litaay. faktor genetik Gabungan A dan B KRITERIA DIAGNOSTIK : Batuk. ortonea. batuk yang ditemukan pada wanita hamil.3) • • • • • • • • • Asma akut dengan bronkodilator tidak membaik Takikardi persisten Dispnea Hipertensi Pulsus Paradoksus Sianosis Hipoksemia (PO2 < 70 mmHg) Hiperkarbia (PCO2 < 38 mmHg) Emfisema subkutan . dr. Eddy R. (1. dada terasa berat. wheezing. sesak. takipnea. H. eosinofil sehingga menimbulkan gejala periodik berupa mengi. ASMA BRONHIALE DALAM KEHAMILAN dr. SpOG BATASAN : Asma dalam kehamilan (ADK) adalah gangguan inflamasi kronik jalan napas terutama sel mast. penggunaan otot bantu pernapasan.174 10. takikardi persisten. (1) ETIOLOGI : A.2.

Persalinan biasanya dapat berlangsung akan tetapi bila penderita masih dalam serangan dapat diberi pertolongan tindakan berupa ekstraksi vakum atau forceps.175 PEMERIKSAAN PENUNJANG : • Uji faal paru KONSUL BAGIAN PENYAKIT DALAM INFORM KONSET (PERLU) PENATALAKSANAAN : (1. Terbutalin 0.25 mg atau Salbutamol 0. Tindakan seksio sesaria atas indikasi asma jarang atau tak pernah dilakukan. • • • Aminofilin bolus IV 5-6 mg per kg berat badan. terbutalin 10 mg dengan inhalasi nebolisasi dapat diulang setiap 20 menit dalam 1 jam .0 mg oral : Prednison 30-60 mg per hari : Betametrion inhalar 100 mg. Sedapat mungkin memakai obat oral sesedikit mungkin. Asma akut : • • O2 4-6 liter Beta-2 agonis : salbutamol 5 ml . Kortikosteroid sistemik Asma kronik Desenitasi alergen : Teofilin 800-1200 mg per hari (oral) : Terbutalin 2. subcutan. feneterol 2. obat yang terpilih yaitu golongan bronkodilator seperti agonis beta-2 inhalar dengan atau tanpa steroid. parenteral. Bila sudah menggunakan aminofilin kurang dari 12 jam berikan setengah dosis saja.5-5.2. intravena.(4) .3) Prinsip pengobatan asma dalam kehamilan pada dasarnya tidak berbeda dengan asma lain.25mg dalam dekstrosa 5 % pelan-pelan.5 mg .

ETIOLOGI : (1. Letak kaki Tergantung pada terabanya kedua kaki atau lutut. Letak lutut 4. 3. A. Syahrir Muhammad. disebut letak kaki atau lutut sempurna dan letak kaki atau lutut tidak sempurna (Incomplete Breech = Footing Breech). bagian-bagian kecil disisi lain. dapat dibedakan : 1. atau hanya teraba satu kaki atau lutut. yakni bokong saja yang menjadi bagian depan sedangkan kedua tungkai lurus keatas. LETAK SUNGSANG DAN PENATALAKSANAANNYA dr. yakni disamping bokong teraba kaki.2) Diagnosis letak sungsang biasanya tidak sulit. Letak bokong kaki : Complete Breech.1. . 2. KELAINAN LETAK. SpOG BATASAN : (1. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan fisik : 1. Palpasi :Leopold I meraba adanya kepala pada fundus uteri Leopold II teraba punggung disatu sisi. Mardiah Tahir. Anamnesis akan didapatkan gerakan anak dirasakan terutama dibagian bawah rahim. sering merasakan adanya benda keras yang menekan tulang iga.2) Letak sungsang adalah letak janin yang memanjang dengan kepala terletak pada fundus uetri dan bokong menempati bagian bawah kavum uteri.176 11. POSISI DAN PRESENTASI JANIN 11. Leopold III bokong teraba dibagian bawah rahim Leopold IV menentukan bokong sudah masuk atau belum kedalam pintu atas panggul. Letak bokong murni : Frank Breech. adanya perasaan berat didaerah epigastrium. Tergantung dari bagian janin yang terendah. dr. Disebut letak bokong kaki sempurna bila disamping bokong teraba kedua kaki dan letak bokong kaki tidak sempurna bila disamping bokong teraba satu kaki saja.

taksiran berat badan janin. prakiraan berat badan 2500-3175 gram. Auskultasi : Bunyi jantung janin umumnya ditemukan setinggi atau sedikit lebih tinggi dari pusat. menentukan letak plasenta. konfirmasi menentukan secara akurat ukuran dan bentuk panggul. . bila tidak ada komplikasi pada janin. Bila syarat-syarat versi luar dipenuhi dan tidak ada indikasi kontra versi luar. usia kehamilan dan lain-lain. menentukan kemungkinan adanya cacat bawaan. mendatar dan dilatasi lebih dari 3 cm. dilakukan pemeriksaan radiologi. kaki atau lutut 4. Apabila ada dugaan hiperekstensi kepala janin yang tidak jelas dilihat dengan ultrasonografi serta dugaan disproporsi fetopelvik. Dalam persalinan (1. lilitan tali pusat dan kedudukan kepala apakah hiperektensi atau tidak . Pemeriksaan ultrasonografi dilakukan untuk menilai ukuran biparietal. sedangkan pada multipara dilakukan pada umur kehamilan 36-38 minggu. PENATALAKSANAAN : A. Radiologi (bila perlu) : Menentukan posisi tungkai bawah. stasi -1 atau lebih rendah. Pada nullipara versi luar dilakukan pada umur kehamilan 34-36 minggu. volume cairan amnion. dapat dilakukan versi luar 1-2 minggu kemudian. 3.177 2. Dalam kehamilan (1) Dalam kehamilan sedapat mungkin dilakukan versi luar menjadi letak kepala. B. letak janin. menentukan kemungkinan adanya kelainan bawaan anak ( hidrosefalus / anensefalus ). Setelah versi luar dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan ultrasonografi dan Fetal Heart Monitoring. Bila versi luar gagal. Versi luar dilakukan dengan hati-hati tanpa anestesi. Periksa dalam vagina : pada pasien inpartu terutama bila ketuban sudah pecah dapat teraba bagian terendah janin yaitu bokong. ada tidaknya cacat bawaan janin. bentuk pelvik ginekoid atau antropoid dan pernah melahirkan bayi letak sungsang dengan berat badan lebih dari 3175 gram atau letak kepala dengan berat badan lebih dari 3630 gram. menaksir berat badan janin.3) Beberapa kriteria yang dipakai dalam mempertimbangkan persalinan pervaginam adalah : Umur kehamilan aterm. USG : Diperlukan untuk konfirmasi letak janin apabila pemeriksaan fisik tidak jelas. kehamilan ganda. lokasi plasenta. serviks lunak. 5.

presentasi kaki. ketuban). oleh karena itu fase ini harus segera diselesaikan dan tali pusat harus dilonggarkan. ketuban pecah lebih dari 12 jam. Disebut fase cepat karena fase ini kepala janin sudah masuk PAP sehingga kemungkinan tali pusat terjepit. CARA-CARA PERSALINAN PADA LETAK SUNGSANG : . Disebut fase lambat karena kepala akan keluar dari ruangan yang bertekanan tinggi (uterus) ke dunia luar yang bertekanan rendah.5 cm. mulai dari lahirnya bokong sampai pusar (skapula depan). plasenta previa. tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa. Tahap I : Fase lambat. Pada dasarnya Oxytocin drips pada letak sungsang tidak dianjurkan. Pada partus lama kala II. diameter biparietal > 9. nilai sosial janin yang tinggi atau infertilitas. oleh karena deteksi kemungkinan adanya CPD/FPD sulit. Menolong kelahiran janin dalam letak sungsang memerlukan kesabaran. yang bila ada kelainan dapat dipertimbangkan melakukan persalinan perabdominam dengan segera. sehingga kepala harus dilahirkan secara perlahan-lahan untuk menghindari terjadinya perdarahan intra kranial (adanya ruptura tentorium serebelli). preeklampsia berat dan eklampsia. Dalam persalinan pervaginam sedapat mungkin dilakukan dengan cara Bracht. dilakukan ekstraksi total. Disebut fase lambat karena hanya untuk melahirkan bokong yaitu bagian janin yang tidak berbahaya. 3. Tahap III : Fase lambat. yang bila tidak berhasil dipakai cara Lovset. 2. riwayat persalinan yang buruk. prematur (< 37 minggu).178 Selama persalinan dilakukan pemantauan kesejahteraan janin dengan Fetal Heart Monitoring (FHM). Sedang indikasi melakukan persalinan perabdominal adalah : primigravida tua. Pada perkiraan anak besar dan primigravida dapat dipertimbangkan ekstraksi parsial terutama dengan cara Klasik atau Muller. mulai lahirnya pusar sampai lahirnya mulut. Dikenal ada 3 tahp dalam menolong persalinan letak sungsang yaitu : 1. Selama turunnya janin tidak terganggu dan tidak ada tanda-tanda janin dalam bahaya. adanya disprorsi. bila tidak berhasil digunakan cunam Piper. kepala hiperekstensi. mulai lahirnya mulut sampai kepala lahir. Tahap II : Fase cepat. bokong belum masuk panggul pada inpartu multipara. prakiraan berat badan janin lebih dari 3500 gram atau kurang dari 2000 gram. indeks Zatuchni Andros 0-3 dan prolapsus funikuli disertai gawat janin. prolapsus funnikulidan ibu dengan penyakit jantung atau paru yang tidak memungkinkan ibu mengedan. bokong belum masuk panggul pada akhir kehamilan pada nullipara. Untuk melahirkan kepala dipakai cara Mauriceau.

Pervaginam : • • • • • Bracht Ekstraksi parsial (melahirkan bahu). Penyebab utama kematian perinatal adalah persalinan prematur. jaringan lunak.2) Bila dibandingkan dengan letak kepala. terdiri dari : Klasik (Deventer) & Muller Lovset (bila melhirkan bahu secara ekstraksi parsial gagal) Mauriceau (melahirkan kepala). bila gagal  pakai cunam Piper Ekstraksi total. letak sungsang memberikan resiko yang lebih tinggi bagi ibu maupun anak. Kerusakan pada otot. organ visera serta kerusakan pada pleksus brachialis dan trauma pada medulla spinalis servikalis dapat terjadi baik pada persalinan pervaginam maupun perabdominal. b. Perabdominam : bila ada indikasi  lihat skema penatalaksanaan letak sungsang. Morbiditas ibu meningkat disertai sedikit peningkatan mortalitas oleh karena tindakan persalinan operatif. kelainan kongenital dan trauma persalinan. terdiri dari : Ekstraksi bokong & Ekstraksi kaki. Prognosis untuk janin letak sungsang lebih buruk dibandingkan dengan letak kepala. termasuk seksio sesar pada letak sungsang yang menetap.179 a. PROGNOSIS : (1. .

PENATALAKSANAAN LETAK SUNGSANG PADA KEHAMILAN TUNGGAL

199

DALAM KEHAMILAN VL

DALAM PERSALINAN DITENTUKAN UMUR KEHAMILAN PREMATUR ATERM

Hasil pemeriksaan USG
BERHASIL Versi dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI TIMBU KOMPLIKASI TIDAK BERHASIL Versi tidak dapat dilakukan TIDAK TIMBUL KOMPLIKASI HIPEREKSTENSI KEPALA FLEKSI KEPALA Dilahirkan pervaginal bila : panggul normal kemajuan persalinan baik pernah melahirkan bayi let su dengan BB>3175 gr atau let kep > 3630 gr BAYI BESAR >.3500 gr) BAYI KECIL <2000 GR) BERAT NORMAL 2000-3500 gr

DJA tetap baik pada 3 kali pemeriksaan dgn interval 5’ PARTUS LETAK KEPALA

sulusio plasenta ketuban pecah gawat janin (DJA > 160/m’, tidak teratur VL DICOBA SEKALI LAGI

Seksio sesar bila : FPD persalinan terhenti gawat janin Ketuban pecah 12 jam

MRS UNTUK OBSERVASI

SEKSIO SESAR Solusio plasenta tetap gawat janin ketuban pecah lebih 12 jam pada kehamilan aterm

KEHAMILAN DIPERTAHANKAN DJA anak bertambah baik ketuban pecah pada prematur dirawat sebagai ketuban pecah dini

SEKSIO SESAR Tindakan seksio sesar primer dilakukan pada kasus : nulipara tua riwayat infertilitas riwayat persalinan yang buruk (anak mati/sakkit akibat proses persalinan Stasi bokong tinggi atau belum masuk panggul pada impartu plasenta previa prolapsus funikuli dengan gawat janin

PERSALINAN PERVAGINAL KLASIK MULLER

CARA BRACHT prakiraan anak kecil CARA LOVSET Cara klasik & muller gagal

EKSTRAKSI PARSIAL

EKSTRAKSI TOTAL - partus lama kala II - preeklampsia/eklampsia - prolapsus funikuli - ibu dengan penyakit jantung/paru-paru

nulipara cara Bracht gagal VL tidak berhasil

Catatan/alat yang disiapkan : Sebaiknya semua kasus dilakukan Fetal Heart Monitoring Cunam Piper, alat resusitusi dan tabung oksigen harus disiapkan. Episiotomi dilakukan pada waktu bokong membuka vulva, dan kerjakan secara rutin Pada kepala menyusul dan anak sudah mati, dilakukan embriotomi bila tidak dapat dilahirkan dengan cara Maureceau

CARA MAURICEAU EKSTRAKSI CUNAM (CUNAM PIPER) - Cara Mauriceau gagal

EKSTRAKSI BOKONG (EXVAKUM) - Letak bokong kani - letak bokong murni

EKSTRAKSI KAKI - Letak kaki

11.2. LETAK LINTANG dr. Nursanty AP., dr. H.M.Maramis Palisuri, SpOG BATASAN : Letak lintang adalah suatu keadaan dimana sumbu memanjang tubuh anak tegak lurus dengan sumbu memanjang tubuh ibu. Janin melintang didalam uterus dengan kepala pada sisi yang satu dan bokong pada sisi yang lain. (l,2,3,4,5) Posisi kepala menunjukkan kiri atau kanan sedangkan punggung janin terletak didepan (dorso anterior), dibelakang (dorso posterior), diatas (dorso superior) atau dibawah (dorso inferior). (l,4) ETIOLOGI : Penyebab utama letak lintang adalah : (l,2,3,4,5,6) 1. Multiparitas akibat dari relaksasi berlebihan dinding abdomen . 2. Prematur. 3. Hidramnion. 4. Plasenta previa 5. Uterus abnormal. 6. Panggul sempit. 7. Kehamilan kembar. DIAGNOSIS : Ditegakkan berdasarkan : Pemeriksaan fisis. Inspeksi : Abdomen melebar kesamping dan fundus uteri membentang sedikit diatas umbilikus. (3,4,5) Palpasi : Fundus uteri kosong, kepala janin berada disamping, dan diatas simpisis kosong, kecuali bahu sudah turun kedalam panggul, denyut jantung janin ditemukan disekitar umbilikus.
(3,4)

Pada pembukaan lengkap

ketuban sudah pecah, apabila bahu sudah masuk kedalam panggul, pada pemeriksaan dalam dapat diraba bahu dan tulang-tulang iga. Punggung dapat ditentukan dengan terabanya skapula kadang-kadang dapat diraba

201 tali pusat yang menumbung.(3,4,5) Dapat pula teraba tangan, bila teraba tangan hendaknya ditentukan tangan kanan atau kiri, untuk menentukan posisi janin dalam uterus. Tangan kanan cocok untuk berjabatan dengan jari pemeriksa. (5,6) Pemeriksaan penunjang : Dengan pemeriksaan radiologis dan ultrasonografi. (6) PENANGANAN : Pada kehamilan : Sebaiknya mengubah menjadi presentasi kepala atau menjadi presentasi bokong dengan cara versi luar. Pada persalinan : ⇒ Pervaginam : • Konduplikasio korpore atau dengan evolusio spontan bila janin kecil, sudah mati, dan menjadi lembek (3,4) • Versi ekstraksi : pada kehamilan kembar setelah bayi pertama lahir, ditemukan bayi kedua dalam letak lintang. • Embriotomi : pada janin mati. ⇒ Seksio sesarea : pada janin hidup . (l,2,3,4) KOMPLIKASI : • Ruptur uteri spontan • Ruptur traumatik . (2,3,5) PROGNOSIS : Janin letak lintang berbahaya, baik bagi ibu maupun janin. Kebanyakan kematian pada bayi dan ibu akibat komplikasi.(3)
(2,3,4,5)

3.4) Presentasi letak janin meliputi semua keadaan menghalangi pengisian dan penutupan pintu atas panggul sepenuhnya oleh bagian terendah janin. serta menghalangi putaran paksi dalam. Tungkai bawah (tungkai-kaki) salah satu atau kedua-duanya.(1) Presentasi bokong kaki dan presentasi bahu tidak dimasukkan kedalam golongan ini. Presentasi bokong dengan tangan atau lengan yang menumbung. atau kedua lengan dan kaki bersamaan)..3) ETIOLOGI : (1.(1. . c. Lengan dan kaki bersama-sama. tungkai bawah. (1) Klasifikasi. Telly Tessy.(1) 1. 2. dr.202 8. Cornelia ST. Bila teraba bokong maka yang didapatkan yaitu tangan atau lengan. Tungkai atas (lengan-tangan) salah satu atau kedua-duanya.3. Semua kombinasi diatas dapat disertai komplikasi tali pusat yang menumbung dan ini merupakan masalah yang penting dalam hal prognosis. Pada letak majemuk dapat juga disertai penumbungan tali pusat. Penyulit : Kemungkinan terhambatnya kemajuan persalinan lebih besar.2. b. LETAK MEJEMUK dr. Presentasi kepala dengan bagian yang menumbung berupa : a. DIAGNOSIS : Pada pemeriksaan dalam vagina teraba kepala dengan satu ekstremitas (tungkai atas. SpOG BATASAN : Letak majemul adalah satu ekstremitas menumbung (prolapsus) disamping bagian terendah dan turun dalam rongga panggul bersama-sama.

203 PENATALAKSANAAN : A. B. tidak menghalangi persalinan spontan jadi baiknya dibiarkan. maka persalinan diselesaikan dengan forceps. Penumbungan tali pusat adalah keadaan tali pusat ada disamping atau dibawah bagian terbawah janin(1). Kaki yang menumbung disamping kepala baiknya direposisi(3). Pada 13 sampai 23 persen kasus presentasi majemuk ada komplikasi tali pusat menumbung. reposisi tidak mungkin lagi. Ini kemudian menjadi masalah yang besar dan penting sehingga penanganannya ditujukan terutama pada tali pusat yang menumbung(1). kalau terjadi gangguan putaran paksi dapat diselesaikan dengan ekstraksi forceps dengan memasang sendok forceps antara tangan yang menumbung dan kepala anak (3). Penanganan paling baik untuk letak majemuk (tanpa komplikasi seperti tali pusat menumbung) adalah menunggu dengan penuh perhatian(1). Kalau kepala sudah jauh masuk kedalam rongga panggul. Selanjutnya penanganan letak majemuk tanpa komplikasi dibagi berdasarkan klasifikasinya yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 1). KOMPLIKASI : . Sedangkan pada tangan yang menumbung. karena dapat menghalangi turunnya kepala(3). Selanjutnya penanganan letak majemuk dengan komplikasi penumbungan tali pusat dibagi berdasarkan klasifikasi yaitu presentasi kepala dan presentasi bokong (lihat lampiran 2). tetapi lengan yang menumbung baiknya direposisi kalau pembukaan sudah lengkap.(3) Kalau reposisi tidak berhasil dan kepala tidak mau turun dilakukan seksio sesarea(3). Pada kebanyakan kasus setelah pembukaan menjadi lengkap dan bagian terbawah turun. Dengan komplikasi penumbungan tali pusat. Penekanan tali pusat antara bagian terbawah janin dengan panggul ibu mengurangi atau menghentikan aliran darah kejanin dan bila tidak dikoreksi akan menyebabkan kematian janin(1). lengan dan kaki yang menumbung naik keluar dari panggul sehingga memungkinkan persalinan berjalan normal. Jadi selama persalinan maju tidak perlu dilakukan tindakan apa-apa(1). Tanpa komplikasi.

. PROGNOSIS : Dengan penanganan konservatif hasilnya tidak harus lebih jelek dibanding dengan presentasi-presentasi lainnya(1).204 Penumbungan tali pusat(1).

205 SKEMA PENALAKSANAAN LETAK MAJEMUK LETAK MAJEMUK PRESENTASI KEPALA Observasi kemajuan persalinan PRESENTASI BOKONG Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Reposisi penumbangan Observasi kemajuan persalinan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan DJA (+) DJA (-) Ekstraksi total Seksio sesarea BERHASIL TIDAK BERHASIL Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea DJA (+) DJA (-) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) Ekstraksi vakum PARTUS PERVAGINUM Ekstraksi forsipal Seksio sesarea Ekstraksi vakum Ekstraksi forsipal Seksio sesarea PARTUS PERVAGINUM .

206 LETAK MAJEMUK DJA (+) DJA (-) Presentasi Kepala Reposisi tali pusat posisi Trendelenburg Presentasi Bokong Observasi kemajuan persalinan Presentasi Kepala Presentasi Bokong Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ada kemajuan Tidak ada kemajuan Ekstraksi vakum Ekstraksi Forsipal Embriotomi Ekstraksi total Embriotomi Seksio sesarea Ekstraksi total Seksio sesarea Seksio sesarea Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) Seksio sesarea PARTUS PERVAGINAM Partus pervaginam (lihat penatalaksanaan bokong) HISTEREKTOMI (Kepala pengiring gagal embriotomi) .

4) • Panggul anthropoid • Panggul android • Kesempatan panggul tengah • Ketuban pecah sebelum waktunya • Fleksi kepala kurang • Inersia uteri • Arkus pubis sangat luas DIAGNOSIS : (1.2. Partus pervaginam berupa : • • • • • • Persalinan spontan Persalinan dengan forseps Rotasi forseps Rotasi manual Ekstraksi vakum Tindakan episiotomi (bila perlu) .3. (1. PENATALAKSANAAN : (1. POSISI OKSIPUT POSTERIOR PERSISTEN dr.2) ETIOLOGI : (1. Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara.2. Maggie Wewengkang. Benyamin Rapa. dr.3) • Pemeriksaan dalam vagina : Putaran paksi terhalang atau tidak terjadi pada saat penurunan kepala berada pada Hodge III/Hodge IV.4.2. SpOG BATASAN : Posisi oksiput posterior persisten adalah : suatu keadaan letak belakang kepala dengan posisi oksiput posterior dimana tidak terjadi putaran paksi.207 11. Angka kejadian adalah 10 % dari seluruh posisi oksiput posterior.3) a.

1994 : 160-69 3. Bandung.208 b. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 403-21 2. Elstar Offset. Gant NF. Dalam : Sinopsis obstetri. Penerbit buku kedokteran EGC. Obstetri Williams. 1990 : 378-91. . Seksio sesar : bila gagal partus pervaginam KEPUSTAKAAN : 1. Edisi 18 (Bahasa Indonesia). 1982 : 262-64. Dalam : Obstetri patologi UNPAD. Distosia karena kelainan janin. Jakarta. Baltimore U. posisi atau perkembangan janin. posisi atau kelainan janin. Caplan M. Cunningham F. Distosia karena kelainan pada presentase. Jakarta. Obstetri patologi. 4.D Abnormal lies. Mac Donald PC. Distosia karena kelainan presentase. Mochtar R.S. presentation and position in : Principles of obstetrics. Sastrawinata S. Dalam : Rohardi Dh. Waverly Press. Ronald M.A.

tumor pada leher depan. H.209 11. dls) Prematuritas Disproporsi Sefalopelvik Usia Tumor pelvik Polihidramnion Kehamilan ganda Plasenta previa Makrosomia DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan : . masingmasing melaporkan 0.17 % (2) Sarwono Prawirodihardjo 1948) di RSCM melaporkan 0.2 % (2.L.1 % Lembaga Statistik Obstetri & Pernoll M. A. SpOG BATASAN : Presentasi muka adalah kepala janin terdapat dalam keadaan defleksi maksimal sehingga aksiput tertekan pada punggung dan muka menghadap kebawah.000 kelahiran bayi tunggal di RS Parkland dalam tahun 19831986. Mardiah Tahir.2. PRESENTASI MUKA dr. 41 kelahiran atau 1 : 1200 adalah kelahiran dengan presentasi muka (2)+ ETIOLOGI : (1. Habar Garu.3) Dari hampir 50.5. hidrosefalus. (1) INSIDEN : • • • • Cruikshank & white (1973) melaporkan 1 : 600 kelahiran atau 0. dr.3) • • • • • • • • • • Grandemultipara Anomali kongenital (anensefalus.

5 . Hati-hati karena dapat keliru membedakan dengan letak bokong (1. bagian kepala menonjol yakni belakang kepala terdapat disebelah yang bertentangan dengan letak dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas (1.5 % . Kepala bayi dalam posisi hiperekstensi & tulang muka berada pada atau sudah dibawah pintu atas panggul merupakan gambaran yang cukup khas (2. hidung.3). partus macet/lama. pada kasus panggul sempit dan anak besar daapat menimbulkan kesulitas. dan posisi mento posterior yang tidak dapat lagi dikoreksi (1) PROGNOSIS : (1) • Pada umumnya persalinan berjalan tanpa kesulitan.210 • Pemeriksaan Fisi (Leopaold). tulang pipi dan sebagian tulang orbita. muka dapat diidentifikasi dengan meraba mulut. disamping itu muka tidak dapat melakukakan dilatasi serviks dengan sempurna • • Prognosis letak mento posterior kurang baik bila dibandingkan dengan letak mento anterior karena sulit lahir pervaginam Angka kematian janin adalah 2. • Pemeriksaan dalam v agina.3) PENATALAKSANAAN • Persalinan pervaginam : bila tidak ada penyempitan panggul persalinan spontan dapat diharapkan bila dagu berada didepan dengan syarat kepala belum jauh masuk kedalam panggul dan masih mudah didorong ke atas (1) Persalinan pervaginam juga dapat berlangsung spontan bila anak kecil dan tidak ada disproporsi sefalopelvik (1) • Persalinan perabdominam (seksio sesar) bila ada kesempitan panggul.3) • Pemeriksaan penunjang : Radiologi.

FG Cunningham. NF Gant. Herrera E. 412-5 3. Hal. 1981. In : Current Obstetric Gynecologic Diagnosis & Threatment. 7th Ed. II. A Lange Medical Book. 493-501 SKEMA PENATALAKSANAAN PRESENTASI MUKA PRESETASI MUKA MENTO ARTERIOR MENTO POSTERIOR BERHASI L VERSI TIDAK BERHASIL PERABDOMINAM Bila : CPD/FPD Panggul sempit Anak bernilai sosial tinggi Partus macet/lama PERVAGINAM PERABDOMINAM PERVAGINAM Bila : Bila : Panggul normal Panggul sempit Bila : Anak CPD/FPD Anak kecil diperkirakan Anak bernilai Multipara dapat lahir sosial tinggi Panggul pervaginam Partus normal Multipara macet/lama . Ed.211 KEPUSTAKAAN : 1. Sarwono Prawirodihardjo. “ Complications of labor & Delivery”. Ed. cetakan I (Edisi Bahasa Indonesia). 18. 1991. Ilmu Kebidanan. 1995. Pernoll ML. Obstetri Williams. Hal. 548-53 2. PC Mac Donal.

E. PRESENTASI DAHI dr.212 8.R Moeljono.tumor dileher bagian depan. Angka kejadian letak dahi kurang lebih satu diantara 400 persalinan.ubun besar dan pada ujung yang lain teraba pangkal hidung dan lengkungan orbita.(1. plasenta previa.1 ETIOLOGI : • • Dari ibu: Multipara.1. berada diatas pintu atas panggul. polihidramnion Dari janin : Janin besar. yang menimbulkan kecuriga an adanya presentasi dahi.4 ) Pada umumnya presentasi ini merupakan kedudukan yang bersifat sementara dan sebagian besar akan berubah menjadi letak muka atau letak belakang kepala. tumor .panggul sempit.2.6.2.4 DIAGNOSIS : Diagnosis ditegakkan dengan: • Pemeriksaan fisis (Leopold). sama seperti presentasi muka tetapi bagian belakang kepala tidak seberapa menonjol dan terdapat disebelah yang berlawanan dengan dada. • Pemeriksaan dalam vagina dapat diraba sutura frontalis yang bila diikuti.3.4) • Ultrasonografi : untuk menemukan etiologi dari janin.(4) . dr. Rudianto HP.(1.2. H. anensefali.perut gantung. SpOG BATASAN : Presentasi dahi adalah keadaan dimana kedudukan kepala berada diantara fleksi maksimal dan defleksi maksimal sehingga bagian kepala bayi diantara lengkungan orbita dan fontanel anterior. pada ujung yang satu diraba ubun . Pada dada dapat teraba bagian kecil janin dan denyut jantung janin dapat terdengar jelas.

(1.2) .(2.213 PENATALAKSANAAN : Persalinan pervaginam bila : • • Janin kecil dan panggul yang luas Presentasi berubah menjadi presentasi muka (lihat penatalaksanaan presentasi muka) atau belakang Seksio sesar bila : • • • kepala.3) PROGNOSIS : Presentasi dahi dengan ukuran panggul dan janin yang normal tidak dapat lahir pervaginam. kecuali bayi kecil dan panggul yang luas. Janin dan ukuran panggul normal Akhir kala I kepala belum masuk PAP Kala II tidak mengalami kemajuan walaupun kepala sudah masuk rongga panggul.

Cruikshank DP. Lippincott Company. Sixth Edition. Presentasi dahi. 1995. Gant NF.B. Philadelphia. 1990. Dalam : Ronardy Dh. J. In : Barber HK. Saifuddin AB. Rachimhadi T. 1991. 602-06 3.214 KEPUSTAKAAN : 1. Hammond CB. Kaufman SA. Brow presentation. Dalam : Wiknyosastro H. Spellacy WN. In: Scott JR. Abadi A. 415 -16 2. Presentasi dahi . Danforth’s Obstetrics and Gynecology. . Obstetri Williams.B. Ilmu Kebidanan. Lippincot Company. 1990. Brow presentation. Third Edition. Martohoesoedo. Disaia PJ. Mac Donald PC. Fields DH. Cunningham FG. Edisi 18 ( Bahasa Indonesia ). Jakarta. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.Gyn Procedure. Yayasan Bina Pustaka. Edisi 3 . Fields DH. Quick Reference To Ob . J. Philadelphia. 578 -79.139 4.

pemeriksaan panggul atau koitus. contoh : amniosentesis. Pemantauan kesejahteraan janin. 1. (1.9) b. Peningkatan tekanan intrauterina. Pemeriksaan Penunjang. Telly Tessy. Keluarnya cairan jernih dari vagina.5. ST. Trauma.5) c.5.6.215 12.4. contoh : korioamnionitis (1.8.9) PENATALAKSANAAN : (9) .4.4.8. Kelainan letak atau presentasi janin.3.8.7. KETUBAN PECAH DINI dr.5. (8. PDV : ketuban negatif.9) 3. (1. (1.5. Leukosit dan suhu badan (37.9) 3.2. (6.7.8.9) e. Cornelia.9) 2.3.9) 4. Infeksi.9) DIAGNOSIS : 1. (6.9) 2. Contoh : TORCH.8.5. (1. (7.2.(2.7) d.2.5° C) untuk menilai adanya infeksi (leukositosis). dr.9) 4. Inspekulo keluar cairan dari OUE.6.9) Beberapa faktor yang mempermudah terjadinya KPD adalah : a. USG. Pemeriksaan laboratorium. (5. Adanya perubahan kertas lakmus merah ( nitrazim merah ) jadi biru. SpOG BATASAN : Ketuban pecah dini adalah pecahnya selaput ketuban pada setiap saat sebelum permulaan persalinan tanpa memandang apakah pecahnya selaput ketuban terjadi pada kehamilan 24 minggu atau 44 minggu. Inkompeten serviks.5. contoh : kehamilan ganda dan hydramnion.2. bila fundus uteri ditekan atau digerakkan pemeriksaan mikroskopis. (4.7. (1) ETIOLOGI : Belum diketahui dengan pasti (1. dll.

Janin (3. (3.9) 2. lihat penatalaksanaan persalinan prematur. f.216 1. d. letak sungsang. letak lintang dan lain-lain). b. g. c. Antibiotik profilaksis adalah Amoxycillin 3x500 mg (5 hari). kecuali bila sudah ada tanda-tanda persalinan. b. sepsis dan kematian. 2. tirah baring. bila pelepasan air berlangsung terus dilakukan terminasi kehamilan. Seksio histerektomi bila ditemukan tanda-tanda infeksi uterus yang berat. h. Rawat dirumah sakit. Konservatif : a. infeksi dan gawat janin dilakukan terminasi kehamilan : a. gawat janin maka dilakukan terminasi kehamilan . KOMPLIKASI : 1.7. Tidak ada tanda-tanda infeksi dan gawat janin. dan ditemukan tanda-tanda inpartu. Bila dalam tiga kali 24 jam tidak ada pelepasan air dan tidak ada konstraksi uterus maka dilakukan mobilisasi bertahap. Ibu : Infeksi. Seksiosesaria dilakukan bila gagal induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan masing-masing dari letak janin yaitu letak kepala. Jangan melakukan PDV. Kematian janin. . Aktif : Bila didapatkan infeksi berat diberikan antibiotik dosis tinggi. e. Umur kehamilan kurang dari 37 minggu. c. Bila ada tanda-tanda infeksi.9) • • • • Kelahiran prematur Infeksi janin Deformitas janin. Induksi/akselerasi persalinan (lihat penatalaksanaan induksi dan masingmasing letak janin). Pemberian tokolitik (bila ada konstraksi uterus) dan pemberian kortikosteroid (pematangan fungsi paru janin).7.

217 .

1991 . Premature rupture of membranes. Hammond CB . 3rd ed. In: Scott JR. Oxorn H.Hariadi. 2nd ed. Jakarta : Balai penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Friedman EA. 592-602 Ilmu kebidanan : patologi dan fisiologi persalinan (terjemahan dalam bahasa Indonesia dan editor ahli M. 1987 . 353 .63 6th ed. Pritchard JA. Saifuddin AB. Boston : Blackwell Scientific Publications. 1991 : 880-3 2. Majalah Dokter Keluarga. Abnormalities of fetal growth and development concerning both antepartum and intrapartum care. Obstetrical decision making. Management of common problems in obstetrics and gynecology. Sachs BP.Ujung Pandang (masih dalam proses penyelesaian) 9. eds. Philadelphia : BC Decker Inc. Premature rupture of membranes. 4. Philadelphia : JB Lippincott Company. Gant NF. In: Mishell DR. eds. Muhammad S dan Manuputty J. 170-1 7. 3rd ed. Quick reference to OB-GYN procedures. 119-32 6. Medica. eds. In: Barber HRK. 5 : 62-4 Garite TJ.Forte WR. Bagian I. Premature rupture of the membranes. 108 . Sura N. Philadelphia : JB Lippincott Company. eds. Fields DH. Utama H. Soedarto). Acker DB. Borten M. Artal R. . eds. 1994 . Danforth’s obstetrics and gynecology. In. 1990 . Edisi 17. 1990 . Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Disaia PJ. Hakimi). Spellacy WN. R Prajitno P.218 KEPUSTAKAAN : 1. Pengelolaan ketuban pecah dini. eds. 39-40 Tessy T dan Garu H. Fields DH. Brenner PF. Penatalaksanaan ketuban pecah dini. Kaufman SA. Obstetri Williams (terjemahan dalam bahasa Indonesia oleh R. Laboratorium Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin. 1990 . 1986 . MacDonald PC. Yayasan Essentia 8.15 5. 3. Surabaya : Airlangga University Press.

Leukosit LETAK KEPALA MASA LATEN > 6 JAM INDUKSI/ AKSELERASI LETAK LINTANG LETAK SUNGSANG GAWAT JANIN BERHASIL GAGAL PARTUS PERVAGINAM GAGAL EKSTRAKSI VAKUM EKSTRAKSI FORSIPAL SEKSI SESAREA .219 KPD Kehamilan ≥ 37 minggu AKTIF DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab.

< 37 mgg DIAGNOSIS : Anamnesis Pemeriksaan inspekulo Pemeriksaan pH Pemeriksaan USG Lab.220 KPD Kehamilan 20 . Leukosit INPARTU INFEKSI GAWAT JANIN Bila selama observasi ditemukan tandatanda ini AKTIF TIDAK INPARTU TIDAK INFEKSI TIDAK GAWAT JANIN KONSERVATIF Cairan ketuban keluar terus (Pemeriksaan USG) Cairan ketuban tidak keluar lagi Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Terminasi kehamilan Lihat persalinan prematur Mobilisasi/ berobat jalan Bila cairan ketuban tidak keluar lagi diobservasi Bila cairan ketuban keluar lagi dikonservatif Kehamilan ≥ 37 mgg .

(1.5 cm (biasanya 10.2) Kesempitan pada pintu atas panggul : apabila diameter antero-posterior kurang dari 10 cm (conjugata diagonalis kurang dari 11.5 cm).(1.2) KLASIFIKASI : Panggul sempit dapat diklasifikasikan sebagai berikut : (1. SpOG BATASAN : Panggul sempit adalah setiap kelainan pada diameter panggul yang mengurangi kapasitas panggul. atau jika diameter transversal kurang dari 12 cm.(3) PEMERIKSAAN PENUNJANG : Tes Muller. Kesempitan pada panggul tengah : bila jumlah diameter interspinalis ditambah diameter sagitalis posterior panggul tengah kurang dari 13. Kesempitan panggul menyeluruh : kesempitan meliputi semua bagian jalan lahir Kesempitan panggul yang jarang : pelvis kifosis. dr.3) .(1) Ultrasonografi : mengukur diameter biparietal janin. atau diameter interspinalis kurang dari 10 cm.5 + 5 cm).221 13. Maramis Palisuri.(1) DIAGNOSIS : Pelvimetri : pemeriksaan dalam dengan tangan. kiforakitis. Kesempitan pada pintu bawah panggul : berkurangnya diameter intertuberosum menjadi 8 cm atau kurang dari 10 cm. H. sehingga dapat menyebabkan distosia pada persalinan. kifoskoliosis dan pelvis kifosskoliorakitis. Yusuf Manga. PANGGUL SEMPIT dr.

Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono. Cunningham F. Mac Donald PC. (1. MacDonald PC. (4) : Kraniotomi dan kranioklasik.2) : Episiotomi mediolateralis yang luas. perubahan pada kulit kepala janin dan tulang kepala. Cunnigham F. Cunningham F. Rachimhadhi T. Appleton & Lange. Wiknjosastro H. 20th ed. Ed. Appleton and Lange. Dystocia due to pelvic contaction. Distosia karena kelainan panggul. 1991: 637-48 4. Dystocia due to Pelvic Contaction. In: Basic Gynecology and Obstetrics. Dystocia due to pelvic contaction. 19th ed. (1. 1997: 461-72 2.222 PENANGANAN : Kesempitan pada pintu atas panggul Kesempitan panggul tengah : Seksio sesar. prolapsus funikuli. Saifuddin AB. 1989: 377-83 . Appleton & Lange. Gant NF. In: Williams Obstetric. Connecticut.2) : Infeksi intrapartum. Dalam Wiknjosastro H. fistula. Gant NF.2) : Ekstraksi vakum. 1993: 370-1 3. (1. Connecticut. Connecticut.(3) KEPUSTAKAAN : 1. Edisi Ke-3. (4) Kesempitan pada pintu bawah panggul Pada bayi yang sudah mati KOMPLIKASI : Pada ibu Pada bayi : Ruptur uteri. dilakukan setelah diameter biparietal janin telah melalui penyempitan panggul. In: William Obstetric. Ilmu kebidanan. 18th ed. infeksi intrapartum. Gant NF.

meteorismus dan asetonuri. turgor berkurang. tapi tidak adekuat 2. Josephine LT.4) 1. yang juga menyebabkan kematian anak meninggi 3. SpOG BATASAN : • Kelainan His adalah suatu (1. Inersia uteri hipertoni : pemberian oksitosin berlebihan. • His normal/adekuat : his persalinan yang menyebabkan kemajuan persalinan. lamanya 40-60 detik. Frits Rumintjap dr.223 14. Inersia uteri hipotoni : panggul sempit.2. KTG : 3 kali kontraksi/10 menit. kelainan letak kepala. Kemungkinan infeksi bertambah.4) 1. kuat tapi tidak adekuat. pernafasan cepat . penggunaan analgesi terlalu cepat.60 detik. ETIOLOGI : (1. dengan tanda-tanda : nadi & suhu meningkat. Kelelahan ibu dan dehidrasi. PENYULIT : (3) 1. KELAINAN HIS dr. dengan tekanan intrauterin 40 . perasaan takut dari ibu. salah pimpinan persalinan. Intersia uteri hipertoni (disfungsi uteri hipertonik/disfungsi uteri inkordinasi) : kontraksi uterus tidak terkordinasi.60 mmHg. Intersia uteri hipotoni (disfungsi uteri hipotoni) : kontraksi uterus terkordinasi. yaitu : (3) • • Klinis : 3 kali kontraksi/10 menit.. . lamanya 40 . sifatnya kuat. gemeli. Inersia dapat menyebabkan kematian atau jejas kelahiran 2.2) keadaan dimana his tidak normal baik dalam kekuatan maupun dalam sifatnya sehingga menghambat kelancaran persalinan. KLASIFIKASI : (3. 2.3. hidramnion.

Obstetri patologi. edisi kedua. Jakarta. Bagian pertama (obstetri). 3. 1997 : 415-32. Obstetri fisiologi. Jakarta.2. Mochtar R. Abnormal labour. Dalam : Sinopsis obstetri. . Distosia karena his (Power). Inersia uteri hipertoni : (lihat bab resusitasi intra-uterin).3.4) 1. Yayasan Bina pustaka. Pemberian infus pada persalinan lebih lama dari 18 jam. Martohoesodo S. 1996 : 107-09. 2. I . Pedoman diagnosis dan terapi obstetri dan ginekologi RSUP Dr.4) 1. dilakukan amniotomi dan tetesan oksitosin (kecuali pada panggul sempit : seksio-sesar). Patologi persalinan dan penanganannya. KEPUSTAKAAN : 1. Kelainan dalam persalinan. Cunningham F G et al. Dalam : Ilmu kebidanan. Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi FK-UNPAD. 1994 : 537-44 3. U..T. 4.S. Dystocia Abnormalities of the expulsive forceps.224 PEMERIKSAAN PENUNJANG : (3. Inersia uteri hipotoni : jika ketuban masih ada.G 2.G PENATALAKSANAAN : (1. Hasan Sadikin. Bandung. cetakan pertama. K. In : Williams obstetrics 20 th edition. USA. Prentice-hall international inc. Edisi 4. 1989 : 347-51 2. untuk mencegah timbulnya gejala-gejala/penyulit diatas. Distosia karena kelainan tenaga. Penerbit buku kedokteran EGC.

Ruptura uteri imminens (mengancam) b. e. IMS.5) 1. Multiparitas b.(1) KLASIFIKASI : 1. Menurut gejala klinik : (3) a. Ruptura uteri komplit : semua lapisan dinding rahim robek b. RUPTURA UTERI dr. 2. Ruptura spontan uterus normal a. (1) a. Ruptura uteri komplit : kalau peritoneum masih utuh 2. SpOG BATASAN : Ruptura uteri ialah robeknya dinding uterus.225 15. Anomali janin (hidrosefalus). yang dapat terjadi antepartum atau intrapartum. Bekas parut bukan seksio sesar • • • • • • Miomektomi Histerorafi Reseksi kornu Akibat tindakan kuretase Plasenta perketa/akreta Metroplasti . Ruptura bekas parut a. O. Presentasi abnormal d. Penggunaan oksitosin yang tidak tepat.4. Tjandra. Murah Manoe. Bekas parut seksio sesar b. Ruptura uteri FAKTOR PREDISPOSISI DAN ETIOLOGI : (3. dr. Disproporsi c. Menurut robek tidaknya peritoneum.

Ruptura uteri imminens a. keringat dingin dan tak sadarkan diri b. ketakutan disertai perasaan nyeri di perut c. Kadang nyeri menjalar di tungkai bawah dan bahu e. Penderita gelisah. Mengerang kesakitan pada setiap his d. Palpasi a. Ruptur uteri 1. Pernafasan dan denyut nadi lebih cepat dari biasanya e. Tanda-tanda dehidrasi f. Kontraksi uterus biasanya c. Pada suatu his yang kuat sekali. Terdapat tanda-tanda dari obstruksi (edema jalan lahir) dan kaput janin yang besar. Denyut jantung janin ireguler l. Anemis f. Muntah-muntah d. Defance muskuler sampai meteorismus d. Segmen bawah rahim tipis dan nyeri tekan i. Anamnesis dan inspeksi a. Perdarahan pervaginam 2.6) 1.226 • Penyakit trofoblastik invasif DIAGNOSIS : (2. Dapat terjadi krepitasi bila ada emfisema subkutan . His makin lama makin kuat dan sering g. Anamnesa adanya faktor predisposisi / etiologi b. B. Perasaan mau sering kencing dan katetirasi ada hematuria k. penderita kesakitan luas biasa. Nadi kecil dan cepat b. Ligamentum rotundum teraba keras dan tegang h. Pernafasan cepat dan dangkal c. Nampak lingkaran bandl dan bertambah tinggi j.

5. anemia dan infeksi b. Pemeriksaan dalam a. Keputusan berdasarkan tempat ruptur. Hematuri DIAGNOSIS DIFERENSIAL : (7) Akut abdomen pada kehamilan abdomen lanjut PEMERIKSAAN PENUNJANG : (7) Hb dan hematokrit darah PENANGANAN : (2. luasnya robekan. kondisi umum pasien dan keinginan untuk mengandung di kemudian hari. adanya parut uterus.227 e. DJJ sulit atau tidak terdengar lagi 4. Paralisis usus b.6. Pada keadaan tertentu kompresi aorta dan pemberian oksitosin bisa membantu mengurangi perdarahan. Uterus dapat teraba sebagai bola keras disamping bagian janin bila keluar dari kavum uteri 3. sifat robekan. Kepala janin mudah didorong disertai banyak perdarahan pervaginam b. a. .3. 5. B. segera setelah diagnosis ditegakkan. Auskultasi a. jari tangan dapat meraba usus atau bagian melalui robekan dinding uterus. dapat dipilih antara memperbaiki kerusakan uterus atau histerektomi. Kateterisasi a. Histerektomi baik total ataupun subtotal Dilakukan pada keadaan umum memungkinkan dan bila ada kolporeksis. Kalau rongga rahim sudah kosong. Laparotomi. Memperbaiki keadaan syok. Kepala janin bila belum turun menjadi mudah dilepaskan dari pintu atas panggul f.8) A. Resusitasi a. penyebab ruptur.

dilakukan pada luka bersih ruptura bekas parut dengan anak cukup. Luka yang meluas ke kandung kencing dan vagina c. tidak terlalu rapuh dan tidak ada tanda-tanda infeksi. Histerorafia Dilakukan bila pinggir luka harus rata. Sepsis b.228 b. Histerorafia dengan ligasi tuba. c. beraturan. Syok irreversible . PENYULIT : (7) a. Hematoma pada daerah parametrium d.

Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. Martohoesodo S.229 KEPSUTAKAAN : 1. Rachimhadhi T. New Central Book Agency. Cunningham FG. Calcuta . Gunawan J. 1973 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Saifuddin AB. Istilah obstetri dan Ginekologi. Dutta DC. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 1994 : 450-4 4. Balai Penerbit FKUI. 1983 : 436-42 6. Mochtar R. Saifuddin AB. Ilmu kebidanan. 1995 : 467-77 . Taber B. 8. Oxorn H. Alih bahasa : Suyono J. Obstetri Williams. Utama H. Gant NF. Dalam : Wiknjosastro H. Text book of obstetrics. Jakarta . MacDonald PC. Yayasan Essentia Medica. Sinopsis obstetri. Wibowo B. Hartono A. Perlukaan dan persitiwa lain pada persalinan. Jakarta . Kedaruratan obstetri dan ginekologi. eds. Jakarta . 1990 : 323-33 3. Jilid I. Marsinto. Jakarta. 1990 : 469-75 5. {enerbit Buku Kedkteran EGC. Bagian I. Alih bahasa : Hakimi M. Saifuddin AB. Kapita selekta . Panitia Ilmiah POGI. Alih bahasa : Supriyadi T. 1992 : 664-74 7. Ilmu kebidanan : patologi & fisiologi persalinan. 1991 : 46-7. Bagian I. Jakarta . Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta .

Riwayat persalinan prematur sebelumnya 8. Riwayat abortus Trimester I lebih dari 2 kali Pasien tergolong risiko tinggi bila dijumpai : 1 atau lebih faktor risiko mayor . Pakasi. atau 2 atau lebih faktor risiko minor .230 16. Mayor : 1. Annas Budi. dihitung dari hari pertama haid terakhir (1). Riwayat abortus Trimester II 6. Serviks mendatar/memendek kurang dari 1 cm pada kehamilan 32 minggu 6. Faktor risiko : (1). Merokok lebih dari 10 batang / hari 5. Dibagi atas kriteria mayor dan minor untuk meramalkan terjadinya persalinan spontan. Riwayat pielonefritis 4. atau keduanya. Riwayat operasi konisai 10. Kehamilan multipel 2. Iritabilitas uterus . PERSALINAN PREMATUR dr. Minor : 1. Kriteria diagnosis : 1. Serviks terbuka lebih dari 1 ccm pada kehamilan 32 minggu 5. dr. Penyakit yang disertai demam 2. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu lengkap. SpOG BATASAN : Persalinan prematur adalah persalinan pada usia kehamilan antar 20 dan 37 minggu penuh. Anomali uterus 4. Operasi abdominal pada kehamilan prematur 9. atau 140 dan 259 hari (1). Perdarahan per vaginam setelah kehamilan 12 minggu 3. Ny. Riwayat abortus pada trimester II lebih dari 1 kali 7. atau antara 140 dan 259 hari. Hidramnion 3. Suzanna S.

Untuk menjawab pertanyaan dipertimbangkan memperhitungkan kematangan janin (misalnya : berat janin. Pemeriksaan kultur urine 7. risiko ibu janin bila persalinan dilanjutkan. Merasakan gejala seperti : rasa kaku diperut menyerupai kaku menstruasi . Ultrasonografi : usia kehamilan. letak dan maturasi plasenta. Kontraksi uterus yang reguler dengan interval kurang dari 10 menit dan lamanya kontraksi minimal 30 detik (2). apakah dengan kelangsungan proses itu perlu dihentikan atau sama sekali tidak. 6. volume cairan amnion. 5. 1. 3. Kardiotokografi : kesejahteraan janin. 1. fase persalinan. PENATALAKSANAAN : Masalah utama ini dalam menghadapi perlu persalinan prematur. Mengeluarkan lendir per vaginam. 5. Bilamana keadaan penderita sudah dinilai. 3. . untung dan adalah ruginya. jumlah janin. rasa tekanan intra pelvik . 4. Menghambat persalinan untuk memperpanjang kehamilan dan menunda persalinan mencapai atau menjelang aterm. Pemeriksaan vaginal berkala untuk mengetahui dilatasi / pemendekan serviks. Pemeriksaan penunjang (1). kematangan paru). dan tentu saja risiko pengobatan itu sendiri (3). Pemeriksaan bakteri vagina 6. selpaut ketuban seringkali telah pecah (1).231 2. 4. penentuan kondisi janin inutero. 2. nyeri bagian belakang (1). Pemeriksaan surfaktan (amniosnetesis). mungkin bercampur darah. Adanya pendataran dan dilatasi serviks secara progersif atau dilatasi serviks minimal 2 cm sejak penderita masuk rumah sakit setelah diobservasi selama 3060 menit (2). frekuensidan kekuatan kontraksi. besar janin. cacat bawaan. maka pilihan tersebut adalah sebagai berikut (3). dan diagnosis persalinan prematur sudah dibuat. kelainan uterus. aktivitas biofisik. Pemeriksaan gas da pH darah janin.

pertumbuhan janin terhambat. diabetes melitus (beta-mimetik). korioamnionitis. atau karena ada indikasikontra terhadap obat tokolisis. Istirahat baring 2. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi e. Terutama pada kasus dengan indikasi terminasi kepentingan ibu bab. plasenta previa. kelainan kongenital.72 jam dan mencoba mempercepat kematangan paru janin agar risiko sindrom gawat nafas dapat dikurangi. Membiarkan persalinan berlangsung dengan anggapan bahwa terapi tokolisis tidak berguna bagi ibu dan janin yang akan lahir. Pematangan paru).232 2. gestosis. Taksiran berat janin kurang dari 1500 g (masih kontra versi) c. Deteksi dan penanganan terhadap faktor risiko persalinan prematur 3. Janin sungsang b. Pemberian obat tokolitik : (lihat bab. Indikasi seksio sesar : a. perdarahan antepartum yang banyak. Menghambat persalinan selama 48 . Kontraindikasi per vaginam lainnya (letak lintang. (lihat . INDIKASI KONTRA PENUNDAAN PERSALINAN : (1) Gawat janin. Gawat janin. dsb) KEPUSTAKAAN : (4) . Terapi penundaan persalinan prematur : (1) 1. 3. tokolitik) Pemberian obat pematangan paru patut diberikan pada persalinan prematur 28-35 minggu. dan kematian janin CARA PERSALINAN : (1) 1. bila syarat per vaginam tidak terpenuhi d. Pemberian sedai dan hidrasi 4. Infeksi intraprtum. Janin presentasi kepala : per vaginam dengan episiotomi lobar 2. pembukaan serviks lebih dari 4 cm.

Saifuddin AB. Bagian I. Preterm labor. 1991 . Jakarta : Balai Penerbit FKUI. Wiknjosastro GH. Diagnosis and management of Obstetric emergencies. . Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. In : Fadel HE. 19 : 24-6 4. Wiknjosastro GH. Standar pelayanan medik Obstetri dan Ginekologi. Perbandingan tokolisis dengan salbutamol dan magnesium sulfat dalam pencegahan persalinan preterm. 647 3. Maj Obstetri Ginekologi Indonesia 1993 .233 1. Pengurus besar POGI. London : Addison-Weslay Publishing Company. Muchsin LH. ed. Manajemen persalinan preterm. Fadel HE. 1982 . 59-61 2.

mencapai atau menjelang aterm Selama 48-72 jam & mencoba mempercepat kematangan paru Istirahat Deteksi & penanganan terhadap faktor resiko Terapi sedasi & hidrasi Tokolitik CARA PERSALINAN PERVAGINAM PRESENTASE KEPALA + EPISIOTOMI LEBAR SEKSIO JANIN SUNGSANG TBJ < 1500 GR GAWAT JANIN INFEKSI INTRA PARTUM K. PLAS PREVIA) .I.234 SKEMA PENATALAKSANAAN PERSALINAN PREMATUR KRITERIA DIAGNOSIS PERSALINAN PREMATUR PEMERIKSAAN PENUNJANG MENGHAMBAT PERSALINAN MEMBIARKAN PERSALINAN BERLANGSUNG Pada terapi tokolis tidak berguna Indikasi kontra Memperpanjang Kehamian & menunda persalinan. PERVAGINAM (LL.

M. (2) PATOFISIOLOGI : • Perubahan plasenta menunjukkan penurunan diameter dan panjang vilikorialis. sebagian (25 .S. Perubahan ini disertai dengan terjadinya gambaran infark hemoragik yang merupakan tempat penimbunan kalsium dan pembentukan infark. keadaan ini berkaitan dengan adanya defisiensi sulfatase plasenta dan kehamilan ekstra uteri.30 %) janin juga dapat terus bertumbuh dan melebihi 4000 gram. dr. maka janin mungkin kekurangan nutrisi / oksigen akbiat dari penurunan fungsi plasenta. (5) Gawat janin dapat terjadi akibat penekanan tali pusat yang dihubungkan dengan oligohidramnion. Terdengarnya denyut jantung janin pada kehamilan 17 . Murah Manoe SpOG BATASAN : Kehamilan lewat waktu adalah kehamilan yang berumur 42 minggu atau lebih. Rahmy Djamil. Konfirmasi umur kehamilan dengan : (1) a. Pemeriksaan umur kehamilan • • Umur kehamilan dihitung dengan rumus Naegele berdasarkan anamnesis tanggal hari pertama haid terakhir. KEHAMILAN LEWAT WAKTU dr. .(6) DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN : 1.20 minggu. I. nekrosis fibrinoid dan terjadinya arterosis pembuluh darah desidua dan korion.80% pada plasenta.235 17. (4) Sindroma postmaturitas dapat terjadi hanya 10 . (1) Walaupun dapat bertumbuh menjadi postmaturitas.(1) ETIOLOGI : Sampai sekarang belum jelas dipahami seluruhnya. Henrie Usmany. Pada kehamilan lewat waktu infark ditemukan 60. dr.(3) • Apabila kehamilan berlangsung melampaui masa fungsi plasenta.20 % dari bayi persalinan kehamilan lewat waktu.

Tidak adanya gangguan fungsi plasenta. c. Amnioskopi : untuk melihat warna serta kejernihan cairan ketuban. Pada dasarnya. Penanganan antepartum : Pemanatauan kesejahteraan janin : • • Pemeriksaan NST atau CST Pemantauan profil biofisik. (2) Penentuan fungsi plasenta / keadaan janin.1. 2. Non stress test (NST) (4) b. Cara pengakhiran kehamilang tergantung : • • • 3. Pematangan serviks. • • • • NST Gerak napas janin Gerak janin Tonus otot janin . Oxytocin chalenge test (OCT)(4) Seksio sesar dilakukan bila OCT positif. Tinggi fundus uteri antara 18 .3. PEMERIKSAAN DALAM : Untuk menilai kematangan serviks (digunakan nilai Bishop). • Keadaan janin. Profil biofisik : Manning menganjurkan pemeriksaan ini 2 kali seminggu dan persalinan janin tersebut bila ada oligohidramnion.(3) Pemantuan detak jantung janin : b. PENATALAKSANAAN : 1.2. a.30 minggu. b. 2.236 b. c. penatalaksanaan kehamilan lewat waktu adalah : Penanganan kehamilan dengan pemantauan dan pengakhiran kehamilan. Pemeriksaan USG sebelum umur kehamilan 26 minggu.

6) Deselerasi lambat persisten disertai variabilitas atau peningkatan denyut jantung. • • Makrosomia (perkiraan berat janin  4500 gram).(6) 4.237 • • Cairan amnion Pematangan serviks Dilakukan pada serviks yang belum matang (nilai Bishop < 6).(1.5 intraservikal)(6) atau balon kateter kateter Foley no 18 F(7) atau 26F.6) Dilakukan pada janin dengan yang selama persalinan menunjukan nonreaktif dan positif.(1.(6) Aspirasi trakheal pada neonatus.6) .(6) Pada keadaan distosia bahu diperlukan bantuan dokter anestesi dan dokter anak serta seorang ahli kebidanan yang sudah berpengalaman dalam melahirkan distosia bahu dengan berbagai maneuver.(8) Induksi persalinan dengan menggunakan Oksitosin S 5 U / 500 cc Ringer Laktat. dimulai dengan 6 tetes mikro / menit dan dinaikkan tiap 30 menit 6 tetes / menit.(6) • Seksio sesar dilakukan pada : • • • Suspek makrosomia.(8) • Seksio sesar. Induksi persalinan dilakukan pada nilai Bishop  6. Penanganan intrapartum • • Amnioinfusion dilakukan pada amnion yang kental.0mg intravaginal dan 0. maksimum 60 tetes / menit. (3) • Induksi persalinan. (1. Pematangan serviks dapat dilakukan dengan Prostaglandin (Prostaglandin gel E2 3.

Clin Obstet Gynecol. Gilstap III LC. 8. Niebyl JR.6 Freeman RK.1 guide to high-risk pregnancy and delivery . Alih Bahasa: Sutoyo J.1988 : 76 -8 5.61 4. In: Practical 150 . In: Williams obstetrics. Appleton & Lange. Jakarta. Post-term pregnancy. 32 : 2 : 262 . Philadelphia. 3 nd ed . Arias F. Leveno KJ. 2nd. W. Fakultas kedokteran Universitas Airlangga. Simpson JL. Clin Obstet Gynecol. 1989. Cunningham FG. Resnik R. 20 th ed. Cunninghham FG. Jakarta. Dalam: Obstetri Williams. MacDonald PC.B.3rd ed. Hankins GDV. The unfavorable cervix: methods of cervical priming. Editor: Ronardy DH. Lagrew DC. Laboratorium/UPF Ilmu Kebidanan Dan Penyakit Kandungan . In: Gabbe SG. MacDonald PC. churcill Livingstone. Prolonged pregnancy.37 2. Gant NF. In: Creasy RK. 1997 : 827 . 1991: 945 -55 7.7 Satin JQ. Stamford.Saunders Company. Prolonged pregnancy. 32: 2: 270 . Induction of labor in the posdate fetus. Obstetrics normal and problem pregnancies .238 KEPUSTAKAAN : 1. Post term . Maternal-fetal medicine. Porto M. 6. Sint Louis. 1993 : . Gant NF. Clark SL. Kehamilan Preterm dan Postterm. Resnik R . 1989. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Post Datism. Hartono A. 1994 : 521 . New York. Hankins DV. Pedoman Diagnostik dan terapi . 1995:903 -10 3. Mosby Year Book.

teraba banyak bagian-bagian kecil anak. adanya penambahan berat badan yang menonjol yang tidsak disebabkan oleh edema dan obesitas.2. Telly Tessy. dr. (Heterolog biovuler) ETIOLOGI : Tidak jelas.2. PENATALAKSANAAN : • Dalam kehamilan : (1. KEHAMILAN DAN PERSALINAN KEMBAR DUA (GEMELI) dr. fundus uteri lebih tinggi dari kehamilan biasa. Pemeriksaan Ultrasonografi (USG).3. Pemeriksaan fisik : perut tampak lebih besar dari kehamilan biasa.4. 2. Oesman. Pemeriksaan ini merupakan cara diagnosis yang mudah. gerakan anak lebih sering.5) 1.4. adanya riwayat persalinan kembar dalam keluarga.4) .5) 1.239 18. Armyn A. Anamnesis : ibu merasa perutnya lebih besar dari kehamilan sebelumnya.3. teraba 2 balotemen . Kehamilan kembar dizigotik : yang terjadi dari dua ovum dan dua sperma. 3. cepat. teraba 3 bagian besar janin. dengan pemeriksaan ini kehamilan kembar sudah dapat diketahui pada kehamilan 6-7 minggu. (Homolog uniovuler) 2. Terdengarnya bunyi jantung anak pada dua tempat yang berbeda dan sama jelasnya serta ada perbedaan frekwensi sekurang-kurangnya 10 kali dihitung pada saat yang sama. DIAGNOSIS : (1. Kehamilan kembar monozigot : yang terjadi dari ovum dan satu sperma. KLASIFIKASI : (1. SpOG BATASAN : Kehamilan kembar dua adalah kehamilan dengan dua janin.3. tidak membahayakan ibu dan anak.

4) Seseudah anak pertama lahir. secara rutin diberikan sufas ferrosus 1 x 100 mg dan diperiksa Hb sekali dalam 3 bulan. Terminasi persalinan tergantung pada indikasi. Untuk mencegah anemia.2.4. Dalam hal ini pemeriksaan USG dapat juga dilakukan lebih sering atas indikasi. • Dalam persalinan : Pimpinan persalinan Pimpinan persalinan kembar dua tergantung pada umur kehamilan atau perkiraan berat badan lahir anak.240 Komplikasi utama yang sering terjadi pada kehamilan kembar yaitu partus prematur dan preeklampsia. 1. 4. sehubungan dengan peningkatan kebutuhan terhadap kalori. maka harus dilakukan seksio sesarea. Untuk tiap persalinan kemar dua dapat dilakukan tindakan sebagai berikut : Persiapan : persiapan untuk persalinan biasa dan operasi. mineral. Pemeriksaan antenatal yang lebih sering dan teratur. maka dilakukan : (1. protein. 3.3. Tindakan yang paling baik pada locked twins dan conjoined twins ialah seksio sesarea. Pimpinan pada kala II : Persalinan anak pertama ditolong seperti biasa bila letak anak membujur. Padasetiap perpanjangan waktu persalinan pada kala I dan kala II. istirahat cukup. sehingga perlu diadakan pencegahan untuk kepentingan ibu dan anak. (3. vitamin dan asam folat selama kehamilan. 2. Kebutuhan makanan harus diperhatikan . Memperbaiki kesehatan umum dan mengusahakan pertambahan berat badan yang cukup. tidak melakukan perjalanan jauh dan tidak melakukan koitus setelah kehamilan 28 minggu.5) . Kerja ringan. harus dipikirkan kemungkinan terjadinya “locked twins” atau adanya “conjoined twins”. 5. Persiapan resusitasi oleh bagian neonatologi. Pimpinan pada kala I :seperti pada partus biasa. Bila ternyata anak pertama letak lintang.

2. keadaan janin masih baik.5) Anak kedua diusahakan harus sudah lahir dalam waktu kurang dari 30 menit sesudah anak pertama lahir. Skripsi.3. Pemeriksaan obstetric luar untuk mengetahui letak. segera dilakukan versi dan ekstraksi bila masih memungkinkan atau seksio sesarea. Persalinan anak kedua harus dipercepat menurut cara yang sesuai bilamana : • • • Di temukan presentasi atau prolapsus tali pusat. Tinggogoy J. 1981. presentase anak kedua. presentase dan keadaan anak kedua (denyut jantung) 2. . presentase ganda dan lain-lain Bila ternyata letak anak kedua memanjang (kepala atau bokong) dan keadaannya baik. maka ketuban segera dipecahkan kemudian ditunggu sampai partus spontan sambil fiksasi presentasi anak kerongga panggul dengan melakukan penekanan seperlunya pada fundus uteri. Pada stadium awal dari partus imaturus dan prematurus yaitu pada pembukaan serviks 4 cm atau kurang. Semua persiapan untuk tindakan obstetrik sudah harus dilakukan setelah anak lahir. Pemeriksaan dalam untuk mengetahui letak. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK. kedaan anak baik. Jika tidak berhasil. Interval persalinan anak pertama dan kedua : (1. dilakukan versi dan ekstraksi atau seksio sesarea. maka tindakan pencegahan mutlak diperlukan. apakah ada prolapsus tali pusat. Bila perlu his dapat diperkuat dengan pitosin drips. Bila letak anak kedua melintang. KEPUSTAKAAN : 1. Kembar dua di Rumah Sakit Umum Ujung Pandang. Bila letak kedua anak kedua melintang dan ketuban negatif. Untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum. Pengawasan komplikasi postpartum dilakukan dan dirawat seperti biasa. ketuban positif. diusahakan untuk menghentikan persalinan bila mungkin dengan tokolitik.241 1. UNHAS. maka dilakukan versi luar. ketuban positif. Ujung Pandang. Terdapat tanda-tanda foetal distress atau ancaman foetal distress anak kedua Ketuban negatif sesudah anak pertama lahir.4.

78 5. ed. 1992 : 386 . Saifuddin AB. Hanafiah MJ. Manuaba IBG. In : Mishell JR. Edisi III. Penuntun kepaniteraan klinik Obstetri dan Ginekologi. Dalam : Wiknjosastro H. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC. Dlama : Melfiawati S.60 . Brenner PF. Boston : Blackwell Scientific Publications. Bandung : Elstar Offset. Wibowo B. Ilmu Kebidanan. 3rd ed. 1994 : 154 . Kovacs BW. Kehamilan Ganda. eds .242 2. Kehamilan Ganda.1982 : 68 .36 3. Eds. Cetakan I.97 4. Management of common problems in obstetrics and gynecology. Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka. Obstetri Patologi. 1993 : 134 . Multiple gestations. Rachimhadi T.

2) Diagnosis gemeli Hamil < 30 minggu Hamil 30-36 minggu Rawat di RS rutin/selektif ** Hamil aterm Partus di RS Komplikasi (-) Komplikasi (+) Rawat jalan atau RS * Periksa hamil intensif Inpartu *** Komplikasi *** Masuk RS R/Tocolotik bila pembukaan 4cm (rawat=prematur) Persalinan pervaginam Atonia/hipotonia Prolong labor Induksi persalinan Memecahkan ketuban Persalinan pervaginam Spontan Vakum/forceps/ekstr aksi kaki Seksio sesarea : Anak I lintang atau sungsang Gawat janin Indikasi obstetri .243 SKEMA PENATALAKSANAAN KEHAMILAN KEMBAR DUA (GEMELI) (1.

Pemeriksaan Penunjang • Ro pelvimetri pada panggul suspek sempit (1) • USG untuk menentukan usia kehamilan. perkiraan berat badan janin dan letak plasenta (1.32 minggu tiap 2 minggu c) Dari umur 32 .38 minggu pemeriksaan dianjurkan tiap minggu d) Mulai umur > 38 minggu atau 2 minggu sebelum taksiran persalinan ibu sudah harus rawat apabila (2) : e) Tingkat pendidikan rendah f) Transportasi sulit g) Tempat tinggal jauh c.2) 2. Persalinan pada bekas seksio sesar a.244 KEHAMILAN DAN PERSALINAN PADA BEKAS SEKSIO SESAR dr. (1) 1. dr. Kehamilan pada bekas seksio sesar a. Melakukan pemeriksaan antenatal (PA) yang teratur yaitu (1) : a) Sebelum mencapai umur kehamilan 28 minggu PA dilakukan tiap 4 minggu b) Pada umur 28 . tinggi badan penderita b) Mengetahui riwayat kehamilan yang lalu c) Mengetahui riwayat persalinan yang lalu d) Mengetahui indikasi seksio yang lalu b. Anamnesis (1) : a) Mempunyai data umur. Seksio Sesar bila (2) : • Seksio sesar dulu seksio sesar klasik/korporal . SpOG BATASAN : Kehamilan dan Persalinan bekas seksio sesar adalah kehamilan dan persalinan yang terjadi pada rahim yang pernah diseksio sesar. Maggie Wewengkang. Hindar Jaya.

S. Partus pervaginam dapat dilakukan (1) : • Bila anamnesis dan pemeriksaan fisis obstetri seperti : a) Umur kehamilan pertama < 35 tahun b) Umur kehamilan sekarang > 28 minggu c) Ukuran panggul luar dan dalam normal (conyungata vera > 11.245 • • • Penyembuhan luka operasi buruk Sudah dua kali atau lebih seksio sesar Kehamilan ini disertai dengan penyulit seperti : a) Kelainan letak b) Kelainan presentasi c) Plasenta previa d) Disproporsi sefalo pelvik (D.5 cm) d) Posisi letak kepala fisiologis (ubun-ubun kecil depan) e) Tidak ada tumor jalan lahir f) Kehamilan bekas seksio sesar transperitoneal profunda murni dan hanya satu kali seksio sesar g) Pernah melahirkan bayi pervaginam yang berat badan lebih besar dari perkiraan berat badan janin kehamilan ini • Dengan observasi ketat (1) : a) Tanda vital b) His c) Denyut jantung janin (DJJ) d) Kemajuan persalinan .P) e) Distosia b.

1991: 72-3 . Djasmadi N.246 KEPUSTAKAAN : 1. Penatalaksanaan persalinan bekas seksio sesar di Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UH. Standar Pelayanan Medik Obstetri dan Ginekologi Bagian I. Wewengkang MJ. Pengurus Besar Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Jakarta. POGI. 1989: 1-26 2. Bekas Seksio Sesarea.

3. His yang melemah atau hilang 4.247 20.S. Penekanan jalan lahir dengan akibat edema dan perlukaan jalan lahir. multipara 14 jam).4) Partus lama yang telah disertai penyulit (partus kasep). Faktor anak 3. multipara 1 jam). c. PARTUS KASEP dr. Faktor tenaga 4. Gawat janin atau kematian janin GEJALA KLINIS : 1.(1.(2. b. Tanda-tanda kelelahan dan intake yang kurang : (2) 1. Dehidrasi pada ibu. e. Meteorismus 3. multipara 1.M.2) Kemungkinan terjadi partus kasep bila terjadi (sesuai Friedman) perpanjangan fase laten ( nulipara 20 jam. Henrie Usmany. serta febris 2. dr. Dehidrasi : nadi cepat dan lemah.Murah Manoe SpOG BATASAN : Partus kasep adalah suatu keadaan dari suatu persalinan yang mengalami kemacetan dan berlangsung lama sehingga timbul komplikasi pada ibu maupun anak. I. Kelelahan pada ibu. Faktor penolong Persalinan normal rata-rata berlansung tidak lebih dari 24 jam dihitung awal pembukaan sampai lahirnya anak. meliputi : (1.(1) PATOFISIOLOGI : Penyebab kemacetan dapat karena : (2) 1. Faktor panggul 2.5 cm per jam) atau kala pengeluaran yang memanjang (nulipara 2 jam.2) a. Oligouri . Infeksi intrauterin d. fase aktif (nulipara 1.2 cm per jam.

Meteorismus. 4. Air ketuban bercampur mekonium Denyut jantung janin takhikardi (160 x menit) / bradikardi ( 120x/ menit ) / tidak teratur Gerakan anak melemah berkurang atau hiperaktif (gerakan yang konvulsif) DIAGNOSIS : A. Tanda-tanda infeksi :(2) 1. (6) d.5 0 C 3.(2. (5) 4. Palpasi : (2) . Robekan dapat meluas sampai ke serviks dan vagina. 5. B. Suhu rektal > 37. Tanda-tanda gawat janin : (2) 1.6 ) b. Keadaan umum ibu : (2) 1. 2. Febris.5) 2. Cincin Bandl mendekati pusat atau melewati pusat. Tanda-tanda ruptura uteri : 1. Kegelisahan ibu yang akan bersalin. Dehidrasi. Berhentinya denyut jantung janin atau pergerakan atau keduanya. 2. Perdarahan melalui ostium uteri eksternum (2. His hilang. (5) 3. Bagian anak mudah diraba. Peningkatan aktifitas kontraksi. 4.(5. Periksa dalam: bagian terendah janin mudah didorong ke atas (2) 5.(2) 6. Syok. Regangan berlebihan dengan nyeri pada segmen bawah rahim.(5. Gejala rangsangan peritoneal.5) 3. Tanda-tanda ruptura uteri membakat : a.(2.5) 5. 3. 3.6) c.248 2.(5) 4. Pelepasan air ketuban yang keruh kehijauan dan berbau 2. Syok (nadi kecil dan cepat). Oligouri.

249 1. Kelainan letak (pada yang kelainan letak) (Pada pemeriksaan dalam vagina dinilai seviks. Gerak janin tidak ada. uterus dan rektum. Anak : • • • (2) Gawat janin sampai meninggal Cacat otak yang menetap akibat asfiksia berat Trauma karena persalinan . syok. (2) 3. 3. Pelepasan air ketuban yang keruh. berbau dan bercampur mekonium. His lemah atau hilang. (1. C. Ibu : • • Infeksi sampai sepsis.2) Gangguan elektrolit.2) • Fistula buli-buli.2) • Robekan jalan lahir. 2. (2) B. penurunan kepala. Bagian janin mudah diraba. Periksa dalam vagina : 1. (1. Menghilang (bila sudah mati) D. Tidak teratur. vagina. dan mudah digerakan bila sudah terjadi ruptur. (2) 2. (1. (2) • Dehidrasi.posisi kepala dan keadaan panggul ) DIAGNOSIS BANDING : (2) Kehamilan / persalinan dengan infeksi genetalia eksterna KOMPLIKASI : A. Auskultasi : (2) Denyut jantung janin lemah atau menghilang • • • Takhikardi / bradikardi. Bagian terendah anak sukar digerakkan bila belum terjadi ruptur. pembukaan serviks. kegagalan fungsi organ-organ.

Memperbaiki keadaan umum penderita 1. 1992 : 2: 290-300 2. selama 5 hari.250 PENANGANAN : A.. Cefalo RC. CunninghamFG. Churchill Livingstone - . B. New York. Mac Donal PC.. • Kompres basah (dingin). Penurunan panas :(2) • Antipiretika per oral (paracetamol 3 x 500 mg) atau parenteral xyllomidon 2 cc IM (bila tidak bisa peroral). Rehidarsi. 1991 : 435 -46 4. Dextrose 5% (500cc) dan NaCl (500cc) dalam 1 -2 jam pertama . Inc. Pedoman diagnostik dan terapi . Simpson JL. atau Sephalosporin 1 gr / 12 jam / IV selama 5 hari Dapat dikombinasi dengan • Metronidasole 500 mg suppositoria/ 8 jam..Niebyl RJ. 1994: 55 .. Pemberian antibiotik :(2) • • Ampicillin 1gram / 8 jam IM selama 2 hari. Hariadi R.Obstetrics normal & problem pregnancies. KEPUSTAKAAN : 1. (Vakum / forsep atau perforasi kranioklast) • Seksio sesar bila syarat pervaginam tidak terpenuhi dan belum lengkap. Pemakaian partograf untuk keselamatan ibu dan bayi dalam persalinan.80 mg. 3. Akhiri persalinan Sesuai dengan penyebab dan keadaan . • Pervaginam bila pembukaaan lengkap serta memenuhi syarat pervaginam. In : Gabbe SG. Dalam: Obstetri Disoder Labor. dilanjutkan 4 x 500 mg / hari peroral selama 3 hari dan Gentamycin 60 .3 kali sehari selama 5 hari. dengan memantau produksi urin (pasang kateter) 2. Rumah Sakit umum Daerah Dokter Soetomo Surabaya. 2 .. O'Brien WF. Cedera jalan lahir. Gant NF.8 3. Majalah Obstetri dan Ginekologi Indonesia. (2) Pemberian cairan yang memadai.

251 Wiliams. Jakarta. Cetakan kelima. Heller L. Hartonao A. Jakarta . Dalam : Gawat darurat ginekologi dan obstetri. 1995 : 469 . editor Ronaldy DH. Ruptura uteri . .1971:197 . Dalam : Ilmu kebidanan. Dharma A. Alih Bahasa Joko Suyono.1 6. Balai Pustaka . Goelam SA. Penerbit Buku Kedokteran EGC. EGC. cetakan 1988: 30 .8. Perdarahan waktu persalinan. Jakarta. Edisi18. Alih bahasa: Matroprawiro HM.77 5.

PERDARAHAN PASCA PERSALINAN PRIMER a. PERDARAHAN PASCA SALIN dr. dr. 2. Abd. Habar Garu. (1) Perdarahan pasca persalinan dibagi atas : (2) 1. FAKTOR-FAKTOR PREDISPOSISI(3) • Trauma jalan lahir • Multipara/grandimultipara • Plasenta previa • Preeklampsia/eklampsia • Partus lama • Solusio plasenta • Tindakan operasi yang menggunakan anestesi Eter/Halotan • Induksi Persalinan • Penanganan Kala II dan Kala III yang salah • Riwayat perdarahan pada pasca persalinan sebelumnya .252 21. 1. Muin. SpOG BATASAN : Perdarahan pasca salin adalah perdarahan 500 cc atau lebih sesudah kelahiran bayi. Perdarahan pasca persalinan sekunder yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama. ETIOLOGI(3) • Atoni uteri • Laserasi jalan lahir • Retensi plasenta atau sebagian plasenta • Gangguan pembekuan darah b. Perdarahan pasca persalinan primer yaitu perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama sesudah bayi lahir.

• Pemeriksaan Lab : Hb. pusing. penderita pucat dan dingin. gelisah sampai koma d. untuk mengetahui kemungkin tertinggalnya jaringan plasenta atau selaput ketuban • Inspekulo : Untuk mengetahui adanya robekan pada perineum. • Keadaan umum lemah. masa perdarahan. masa pembekuan darah (1) e. • Palpasi : Untuk mengetahui adanya atoni uteri serta fundus uteri • Pemeriksaan plasenta dan selaput ketuban. serta kemungkinan plasenta suksenturiata. tindakan penting adalah : • Transfusi darah. Haenatokrit. DIAGNOSIS (3) Diagnosis perdarahan pasca persalinan ditegakkan berdasarkan : • Anamnesis : faktor-faktor predeposisi. Pada keadaan akut. minimal 500 ml untuk menggantikan darah yang hilang. keadaan penderita selama kehamilan. tekanan darah menurun. sebaiknya pada awal persalinan sudah diberikan infus larutan Ringerlaktat atau Glukosa 5% dan persiapan transfusi darah. diberikan dengan cepat. • Pemberian plasma ekspander (Larutan Dextran L) . serviks uteri.253 • Kelainan pada uterus c. serviks dan kavum uteri untuk mencari robekan pada vagina. vagina dan serviks • Pemeriksaan dalam : Eksplorasi vagina. GEJALA KLINIS (3) Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang mengalir deras atau merembes. denyut nadi lemah dan cepat. perdarahan dapat terjadi internal atau eksternal. PENATALAKSANAAN (3) Penderita dengan kecenderungan perdarahan pasca persalinan.

drips dilanjutkan 28 tetes permenit.2 mg intravena. jika berhasil lanjutkan dengan drips oksitosin untuk mempertahankan uterus. berikan methergin 0. persiapan kamar operasi.9% sampai uterus berkontraksi. Jika hanya sisa plasenta. Jika plasenta tidak lepas. uterus berkontraksi. • Plasenta dilahirkan dengan Brandt Andrews. lakukan tamponade utero vaginal kemudian observasi perdarahan. dicoba dengan tindakan manuil plasenta. . histerektomi dapat dipertimbangkan.9% disertai masase uterus (2) Bila uterus belum berkontraksi. hipogastrika) b) Retensi plasenta atau sebagian plasenta (3) • Drips oksitosin 20 UI dalam 500 ml larutan Ringerlaktat atau NaCl 0. Bila selama observasi perdarahan bertambah atau tetap berlangsung dilakukan Histerektomi atau ligasi (a. Jika perdarahan tetap berlangsung. uterina atau a. atau prostaglandin (PG): Sulproston (Nalador) 0.254 • Drips Oksitosin 20 IU dalam 500 ml larutan Rengarlaktat atau NaCl 0. konsultasi keluarga penderita untuk tindakan Histerektomi atau ligasi (a. uterina atau a.9% • Vaksin serap tetanus 1/2 cc a) Atoni Uteri (3) (1) Drips oksitosin 20 UI dalam 50 ml larutan Ringerlaktat atau NacCL 0. lakukan pengeluaran plasenta dengan digital atau kuretase. jaringan plasenta dapat dikeluarkan dengan tang (cunam) abortus dilanjutkan kuret sisa plasenta Bila plasenta tidak terlepas. hipogastrika) (4) Jika perdarahan berkurang.5 mg diulang tiap 6 jam (3) Bila perdarahan berhenti. kemungkinan plasenta akreta. Jika tindakan manuil plasenta tidak memungkinkan.

selama 5 hari. Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan dalam eksplorasi kavum uteri. PERDARAHAN PASCA PERSALINAN SEKUNDER a. (2) Ruptur uteri(3) Ruptur uteri kadang sulit diketahui dengan pemeriksaan inspekulo. tindakan histerektomi merupakan pilihan. jahitan teratas ditempatkan sedikit di atas puncak robekan. bila luka robekan kecil dapat dilakukan histerografi. perdarahan dapat terjadi internal dalam rongga perut sehingga tidak nampak adanya perdarahan pervaginam. dan bila keadaan penderita memungkinkan. Bila tidak memungkinkan perdarahan tetap berlangsung. d) Gangguan faktor pembekuan (3) (1) Transfusi darah segar. Bila ditemukan ruptura uteri tindakan defenitif adalah laporotomi. ETIOLOGI (3) • Subinvolusi uteri • Tertinggalnya sisa plasenta • Tumor / Mioma uteri perinfus untuk . vagina dan serviks (1) Robekan perineum.255 c) Robekan jalan lahir (3) Robekan jalan lahir dapat diketahui dengan pemeriksaan inspekulo pada perineum. minimal 1 liter (2) Bila perdarahan masih berlangsung. Antibiotika diberikan Ampicilin 4 x 500 mg. tindakan defenitif adalah histerektomi (3) Bila perdarahan berkurang. transfusi darah segar dilanjutkan selain itu diberikan uteretonika oksitosin 20 UI mempertahankan kontraksi uterus (4) Konsul kebagin penyakit dalam 2. serviks dan vagina (5) Jahit luka robekan dengan jahitan terputus.

sebaiknya dilakukan pemeriksaan USG. GEJALA KLINIS Gejala klinis ditandai dengan : • Perdarahan pervaginam yang bervariasi sedikit sampai banyak • Demam dan menggigil bila terdapat infeksi jalan lahir • Pemeriksaan palpasi ditemukan uterus membesar. DIAGNOSIS : (3) Diagnosis ditegakkan dengan adanya perdarahan pervaginam. PENATALAKSANAAN : (3) • Perdarahan segera diatasi dengan transfusi darah. c. d. Pemeriksaan laboratorium ditemukan Leuksitosis pada infeksi. lunak dan nyeri bila ada infeksi.2 IM . pemberian cairan intravena RingerLaktat atau NaCl 0. dan pemeriksaan laboratorium (1) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan gambaran sisa jaringan plasenta. Pemeriksaan ultrasonografi untuk menyingkirkan sisa plasenta.9% • Drips oksitosin 10 IU dalam larutan infus • Preparat besi • Vaksin serap tetanus 1/2 cc • Diagnosis dengan pemeriksaan fisis dan laboratorium a) Subinvolusi Uterus (3) Setelah keadaan umum diperbaiki. (Oksitosin) 20 IU dalam larutan infus dilanjutkan injeksi methergin 0. hasil pemeriksaan laboratorium tidak ada tanda-tanda infeksi.256 • Kelainan perdarahan • Hematoma jalan lahir b. nyeri dan demam bila ada infeksi. pengobatan dilanjutkan dengan uetrotonika. pembesaran uterus.

3-4 hari kemudian kuretase. (6) Bila ada sisa jaringan disertai infeksi berikan dulu antibiotika sampai suhu turun. methergin 3 x 0. tandatanda infeksi positif. uterina atau a. pengobatan dengan konservatif. bila tidak berhasil laporotomi untuk dilakukan ligasi arteri uterina atau arteri hipogastrika atau histerektomi (5) . Bila perdarahan mereda observasi saja dan bila perdarahan berhenti bisa dipulangkan. atau Ampicillin 4 x 500 mg selama 5 hari (5) Bila ditemukan sisa jaringan. Pasca kuret.125 mg/hari selama 5 hari.257 (2) Profilaksis diberikan antibiotika Ampicilin 4 x 500 mg sehari selma 5 hari.125 mg selama 5 hari. b) Uterus Involusi (5) Pada pemeriksaan phisis ditemukan uterus involusi baik perdarahan dapat berasal dari hematomi pada jalan lahir. (4) (7) Kalau uterus harus dipertahankan untuk kemungkinan mempunyai anak lagi maka sebaiknya diberikan dulu obat secara intravena oksitosin. methergin 3 x 0. transfusi . (4) Bila hasil pemeriksaan USG tidak ditemukan sisa jaringan. dilakukan bila perdarahan tidak dapat diatasi. metilergometrin atau prostaglandin. tidak ada tanda infeksi. Tindakan kuretase dilakukan kalau perdarahan terjadi terus dalam jumlah banyak atau terjadi kembali setelah dilakukan tindakan . hipostrika). tapi bila perdarahan banyak segera kuretase walaupun ada demam. pengobatan dilanjutkan pemberian Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari. (1) Pemeriksaan phisis. Histerektomi atau ligasi (a. (3) Bila perdarahan berkurang atau teratasi pengobatan dilanjutkan dengan uterotonika oral. sisa jaringan dikeluarkan dengan kuretase. pengobatan dilanjutkan dengan antibiotika perenteral Procain penicillin G 2 juta IU tiap 6 jam. dan inspekulo untuk mengetahui letak sumber perdarahan jika ditemukan hematoma vulvoginal sebaiknya tidak dilakukan manipulasi.

Bila dicurigai perdarahan retroperitoneal. rongga hematoma dijahit dengan jahitan matrax. . tindakan defenitif adalah laporotomi.258 darah segar. Profilaksis diberikan antibiotika Ampicillin 4 x 500 mg/hari selama 5 hari (2) Bila perdarahan bertambah besar dipertimbangkan tindakan evakuasi hematoma (insisi hematoma). oleh karena bekuan darah dalam hematom menyebabkan gangguan pembekuan.

Kaput JA. Post partum emergencies. Obstetric emergency. Dalam: Obstetri Patologi Bagian Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Padjajaran Bandung.52 2. O’Connor TCF. MacDonald PC. Sulaiman SR. O’Connor TCF. 1995: 556-63 .259 KEPUSTAKAAN : 1. 1982: 292 3. Woods RE. Standar pelayanan medik obstetri dan ginekologi. 3rd ed. 1981. 231-7 5. eds. Cavaragh D. Gant NF. Cetakan ke-1 Jakarta. Ratologi Kala III dan IV. Pritchard JA. Kalipel RA. In: Cavaragh D. mansyur A. Philadelphia Harper & Row Publishers. Gaya Baru. 1991: 48 . Djasuardi N. POGI. Texas.. Penatalaksanaan perdarahan pasca persalinan. Bagian Obstetri dan Ginekologi FK UNHAS 1993 4. Oktavianus J. Obstetrics Williams.

Hindar Jaya.3) FAKTOR PREDISPOSISI : (2.(1. Periode Antepartum • • • • • • • • • III. dr. Periode intrapartum Partus lama Periksa dalam yang sering Ketuban pecah dini Monitor janin yang intensif Periode Postpartum . Maggie Wewengkang. Kecualis 24 jam pertama pasca salin.260 22.2.4) • • • • • Febris ----------.3) I. INFEKSI PUERPERALIS dr. DIAGNOSIS : Klinis : (1.2.menggigil Rasa nyeri dan panas pada tempat infeksi Nyeri perut bagian bawah Nadi cepat Kadang-kadang nyeri bila kencing Kekurangan gizi-anemia Penyakit menahun (DM dan keganasan) Ketuban pecah dini dan partus prematurus Hygene ibu yang jelek Infeksi traktur genetalia II.3. SpOG BATASAN : Infeksi puerperalis adalah infeksi alat genital dalam masa nifas yang ditandai dengan meningkatnya suhu ≥ 38°C yang terjadi selama 2 hari berturut-turut dalam waktu 10 hari pertama pasca salin.

261 •

Subinvolusi rahim

Inspikulo : Lokhia berbau Persiksa dalam vagina : Uterus dan paramterium nyeri pada perabaan PEMERIKSAAN PENUNJANG : (2,3) • • • • Laboratorium rutin lengkap Kultur dan uji sensitifitas USG bila perlu BNO bila perlu

TERAPI : (2,3,4) • • • Antiobiotik spektrum luas yang sesuai untuk penderita. Bila resistensi tergantung hasil kultur Bila ada abses harus dilakukan insisi dan drainase. Jika ada abses pada Cavum Douglasi dilakukan kolpotomi posterior disertai pemasangan drain. Jika terjadi peritonitis dilakukan laparotimi. • Jika terjadi syok septik : Rawat di ICU

262 KEPUSTAKAAN : 1. Cunningham FG. Mac Donal PC. Gants NF. Infeksi puerperalis. Dalam : Ronardy DH. Ed. Alih Bahasa : Suyono J, Hartono A. Obstetri Williams. Edisi 18. Jakarta ; Penerbit Buku Kedokteran ECG, 1995 : 535-52 2. Wiknjosastro H. Infeksi nifas. Dalam : Wiknjosastro H, Saifuddin AB, Rachimhadhi T, eds Ilmu kebidanan. Edisi ketiga. Jakarta ; Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo, 1991 : 689-99 3. Beydoun SN. Serious postpartum infeksios. In : Fedel HE, ed. Diagnosis and Management of Obstetri Emergencies. London ; Addison-Wesley Publishing Company, 1982 : 233-45 4. Duff P, Gibbs RS. Maternal sepsis. In : Berkowitz RL, ed. Critical Care of the Obstetric Patient. Ist ed. New York ; Churchill Livingstone, 1983 : 189-213.

263 23. SYOK SEPTIK
dr.Efendi Lukas, dr.H.Eddy Moeljono, Sp.OG

BATASAN : Syok septik adalah sindroma Klinik yang dicetuskan oleh masuknya dan menyebarnya produk mikroba ke dalam vaskuler sehingga menyebabkan kegagalan pada mikrosirkulasi, penurunan perfusi jaringan, dan abnormalnya metabolisme seluler (1). PATOFISIOLOGI : 1. Pembebasan endotoksin dari mikroba yang sudah mati diduga menjadi pencetus utama terjadinya syok septik. Endotoksin merupakan kompleks protein lipopolisakarida yang dilepaskan dari membran sel bakteri yang mati dan merupakan stimulan antigen yang kuat, kemudian berikatan dengan antibodi (Ig G dan Ig M) membentuk kompleks endotoksin - antibodi (2). 2. Selanjutnya terjadi pelepasan zat vasoaktif (histamin, serotonin, bradikinin, prostaglandin, SRSA sehingga menyebabkan vasodilatasi arteriol, venokonstriksi dan peninggian permeabilitas membran kapiler, maka terjadi penumpukan (pooling darah) yang menyebabkan (1,2,3). • • • • tekanan hidrostatik dalam kapiler meningkat kerusakan pada dinding kapiler perembesan cairan dalam ruangan vaskuler ke ekstra vaskuler hipovolemik hebat sehingga manifestasi syok menjadi lebih jelas

GEJALA KLINIK : Syok septik dalam bidang Obstetri dan Ginekologi sering terjadi akibat komplikasi post abortus, endometritis post partum, korioamnionitis dan pielonefritis dalam kehamilan. Secara klinis syok septik terdiri dari 2 fase yaitu (2): 1. Syok reversible (syok septik primer) : a. Syok dini (warm hypotensive = stadium hipotensi hangat)

takikardi (100 .Pemeriksaan kadar asam laktat dalam darah .oliguria sampai anuria .Urinalisis .Kultur darah dan tes sensitivitas .asidosis metabolik .tahanan vaskuler perifer meningkat .Pemeriksaan kimia darah : elektrolit serum.koma . BUN. .hipotensi .anuria .kulit menjadi hangat dan kemerahan .tahanan vaskuler sistemik meningkat (CVP meningkat) 2.kadar asam laktat dalam darah meningkat ( > 15 mg%) .Pemeriksaan darah lengkap .264 .curah jantung menurun .suhu tubuh dingin (hipotermia) . ureum.Analisa gas darah . Syok lanjut “cold hypotensive” = stadium hipotensi dingin) .distres pernafasan dan distres jantung PEMERIKSAAN PENUNJANG : Laboratorium (2. kreatinin .demam dengan suhu > 39 °C b.120 x/menit) . Syok yang irreversibel .3).

2.Foto toraks : untuk melihat apakah ada tanda-tanda bronkopneumoni sekunder. Hm. gula darah. pernafasan dan suhu tiap 30 menit .Laboratorium : Hb. .265 Radiologi (2. lekosit. sindroma syok paru.Sindroma distres pernafasan akut “shock lung” PENANGANAN : Penderita syok septik harus dirawat di ICU dengan monitoring ketat dan dilakukan penanganan multidisipliner (rawat bersama dengan Bagian Anestesiologi dan Bagian Interna) Selama perawatan perlu dilakukan monitoring : (2.3) : .DIC . Terapi cairan : Untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki. denyut nadi.4) .Produksi urine . ureum. atau emboli paru akibat tromboflebitis. Oksigenasi : Berikan oksigen konsentrasi tinggi Tujuannya untuk mempertahankan sirkulasi yang adekuat sehingga perfusi jaringan diperbaiki (2.4). kreatinin. fungsi hemostatis.4) .Gagal ginjal .Tanda-tanda vital meliputi tekanan darah.Foto tegak abdomen : untuk melihat tanda-tanda perforasi (Ada udara bebas) EKG : bisa tampak depresi segmen ST dan gelombang T terbalik2 USG : untuk melihat adanya cairan bebas sebagai tanda perforasi uterus KOMPLIKASI : (2. trombosit. analisa gas darah Prinsip penanganan terdiri dari : 1.Hemodinamik : dengan melakukan pemasangan kateter CVP . • Transfusi darah . elektrolit.

Pemberian antibiotika • Diberikan antibiotik berspektrum luas sebelum ada hasil kultur dan tes kepekaan • Diberikan kombinasi golongan cefalosporin 1gr per12 jam-24 jam (tergantung jenisnya) + Metronidazole 500 mg/12 jam dengan cara pemberian intravena • Atau Ampicillin 1 gr/IV tiap 4 jam dan Gentamycin 80 mg/IV tiap 8 jam + Metronidazole 500 mg/12 jam/IV • Bila hasil kultur dan tes kepekaan sudah ada maka antibiotik yang diberikan sesuai dengan hasil tes kepekaan. 5. 3. gangguan asam basa dan elektrolit sudah dikoreksi. kuret atau pengeluaran benda asing. LAMA PERAWATAN : Sangat tergantung pada keadaan umum pasien serta ada tidaknya komplikasi .266 • Infus Ringer laktat atau Dextrose 5% atau NaCl fisiologis: 1-2 liter dalam waktu 20 . Pemberian kortikosteroid • Deksametason dengan loading dose 20 mg/IV kemudian dilanjutkan 3 mg/kgBB/hari tiap 4-6 jam selama 1-2 hari 6. histerektomi. 4. Penanganan operatif Penanganan operatif meliputi drainase pus. Pemberian obat-obat inotropik seperti : Dopamin dan Isoproterenol dilakukan setelah konsultasi dengan Bagian Interna.45 menit atau 20 ml/menit sambil memperhatikan responsnya. eksisi jaringan nekrotik. Tindakan ini dilakukan setelah sistim kardiovaskuler dan pernafasan distabilkan.

1986 : 345-54. Andriole VT. Major problems in obstetrics and gynecology. ed. Septic shock in obstetrics and gynecology. 4. Rao PITON S. MKI vol 35. Philadelphia.11. Taruli RA. 2nd ed. nomor 7. 2. Masalah syok dan penanganannya. Ferris TF. 1982 : 302-19. 1985 : 167-80. Tanra AH. Comas MR. In : Burrow GN. Penggunaan kortikosteroid pada syok septik. In : Friedman EA. WB Saunders Company. eds. nomor 3. Medical complications during pregnancy. 1976. 3.ID. Bacterial infection. Philadelphia. Sjattar M. WB Saunders Company. Cavanagh D.267 KEPUSTAKAAN : 1. Vol. . MKI vol 36.

268 SKEMA PENANGANAN SYOK SEPTIK Gejala Gejalaklinik klinik Syok reversibel Syok dini hipotensi kulit hangat dan kemerahan Takhikardi (100-120 x/menit) demam dengan suhu > 39o C Syok lanjut curah jantung menurun tahanan vaskuler perifer meningkat oligura sampai anuria hipotermia CVP meningkat Syok irreversible asidos metabolik kadar asam laktat meningkat (>15mg%) koma anuria distres pernafasan dan distres jantung Pemeriksaan Pemeriksaanpenunjang penunjang Pemeriksaan Laboratorium darah lengkap analisis gas darah kimia darah kadar asam laktat dalam darah kultur darah dan tes sensitivitas urinalis Radiologi : Foto toraks Foto tegak abdomen USG EKG DIAGNOSTIK DIAGNOSTIK SYOK SYOKSEPTIK SEPTIK oksigen terapi cairan obat-obat inotrapik anti biotik keortikosteroid RAWAT DI ICU (kerja sama dengan Bagian Interna dan Anestesi) sistem kardiovaskuler dan pernafasan stabil Gangguan asam basa dan elektrolit dikoreksi drainage pus eksisi jaringan nekrotik histerektomi kuret pengeluaran benda asing PENANGANAN PENANGANAN OPERATIF OPERATIF .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful