ANALISIS BIOREAKSI KARBOHIDRAT DAN PROTEIN PADA PROSES PERKECAMBAHAN BIJI KEDELAI

Oleh : Miranti Puspitasari Lia Afrianti Antin Martasari (091810301002) (091810301008) (091810301012)

JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS JEMBER 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Kedelai ( Glycine max (L). Merril ) merupakan salah satu sumber energi protein nabati yang penting bagi kehidupan manusia karena kandungan protein. Oleh karena itu kedelai sangat baik sebagai bahan makanan sumber protein. Selain kandungan proteinnya yang tinggi, kedelai juga mengandung karbohidrat. Kacang kedelai mengandung sekitar 9% air, 40 gr/100 gr protein, 18 gr/100 gr lemak, 3,5 gr/100 gr serat, 7 gr/100 gr gula. Kecambah adalah tumbuhan kecil yang baru tumbuh dari biji kacangkacangan yang disemaikan. Sedangkan perkecambahan adalah serangkaian peristiwa penting yang terjadi sejak biji dorman sampai menjadi bibit yang sedang tumbuh (Copeland, 1976). Perkecambahan secara umum dapat meningkatkan karakteristik fungsional dan nilai nutrisi dari kacang-kacangan (Vanderstoep, 1981). Kandungan zat gizi pada biji sebelum dikecambahkan berada dalam bentuk tidak aktif (terikat), setelah perkecambahan bentuk tersebut diaktifkan sehingga meningkatkan daya cerna bagi manusia. Germinasi atau perkecambahan meningkatkan daya cerna karena berkecambah merupakan proses katabolis yang menyediakan zat gizi penting untuk pertumbuhan tanaman melalui reaksi hidrolisis dari zat gizi cadangan yang terdapat di dalam biji. Pada proses perkecambahan kandungan karbohidrat dan protein akan berkurang. Hal ini dikarenakan adanya bioreaksi pada proses perkecambahan tersebut. Bioreaksi yang terjadi adalah metabolisme dari protein dan karbohidrat. Guna untuk mempelajari proses katabolisme karbohidrat dan protein pada proses perkecambahan biji kedelai, maka akan dilakukan percobaan (praktikum) tentang analisis bioreaksi karbohidrat dan protein dalam proses perkecambahan biji kacang kedelai.

2. amilum. 3. air dan protein akan berubah atau tidak selama proses perkecambahan kedelai. gula reduksi. gula reduksi.2 Rumusan Masalah 1. Mengetahui .1. Mengetahui kadar amilum. 1.3 Tujuan metabolisme karbohidrat dan protein pada proses perkecambahan kedelai. dan protein akan berubah selama proses perkecambahan kedelai? 3. Bagaimana perbandingan kadar protein dan ksrbohidrat pada biji kedelai selama proses perkecambahan? 1. Apakah kadar air. Mengetahui perbandingan kadar protein dan karbohidrat pada biji kedelai selama proses perkecambahan. Bagaimana metabolisme karbohidrat dan protein pada proses perkecambahan kedelai? 2.

atau Soya max atau s. treonin. Biji kedelai tidak dapat dimakan langsung karena mengandung tripsine inhibitor.1. lisin. Hispida (Pitojo. Apabila biji kedelai sudah direbus pengaruh tripsin inhibitor dapat dinetralkan. kecuali metionin dan fenilalanin. soja. fenilalanin. Merril) dikenal dengan berbagai nama daerah. bohne. Sinonim dengan G. kacang bulu.1.2003). kacang jepim. kedele. antara lain : sojaboom. metionin. dan valin yang rata-rata tinggi. leusin. Kandungan asam amino metionin dan sistein agak rendah jika dibandingkan protein hewani. vitamin A dan B yang berguna bagi pertumbuhan manusia. Kedelai dapat digunakan untuk berbagai macam keperluan. Dalam sistematik tumbuh-tumbuhan (taksonomi) kedelai di klasifikasikan sebagi berikut: Kingdom Divisi Sub divisi Kelas Ordo Famili Sub famili Genus Spesies : Plantae : Spermathopyta : Angiospermae : Dicothyledonae : Polypetaes : Leguminosae : Papilionoidae : Glycine : (Glycine max (L). soya (L) Sieb dan Zucc.1 Klasifikasi Kedelai (Glycine max (L).1 Kedelai 2. triptopan. besi. 2. dele dan lain-lain. Merril). di samping itu. yaitu isoleusin. kacang gimbol. apabila ditinjau dari segi harga merupakan sumber protein yang termurah sehingga sebagian besar kebutuhan protein nabati dapat dipenuhi dari hasil olahan kedelai. antara . kedelai mengandung kalsium.2 Kandungan Kedelai Kedelai merupakan sumber protein yang penting bagi manusia. fosfor.BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2. Kandungan asam amino penting yang terdapat dalam kedelai.

treonin. Komposisi kimia biji kedelai kering dan kecambah kedelai per 100 gram Komponen Biji kedelai Kecambah kedelai . Dibandingkan dengan beras. penambah imunitas tubuh. Kedelai dalam bentuk kering yang dikecambahkan mengalami peningkatan kadar protein (Cahyadi. jagung. glisi. perbaikan jaringan yang rusak. leusin. Tabel 1. 2007). makanan ternak. Tabel 2. bahkan pada varietas unggul kadar proteinnya dapat mencapai 40-43%. ikan segar. Kandungan asam ammo esensial biji kedelai per 100 gram tersaji pada Tabel 1. Pada produk pangan yang terbuat dari kedelai. arginin. dan telur ayam. isoleusin. Kandungan komposisi kimia biji kedelai kering dan kecambah tersaji pada Tabel. dan untuk bahan industri (Cahyadi. kedelai mempunyai kandungan protein yang lebih tinggi. triptofa. Protein yang terdapat dalam kedelai sangat berguna untuk pertumbuhan . 2007). misalnya susu kedelai tersusun oleh sejumlah asam amino. seperti lesitin. Asam amino ini sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh serta perkembangan . daging. dan lain-lain. dan fenilalanin. terutama lesitin. kacang hijau. lisin.lain untuk makanan manusia. Kandungan asam amino esensial biji kedelai per 100 gram Asam Amino Isoleusin Leusin Lisin Fenilalanin Tirosin Sistin Treonin Triptofan Valin Metionin Jumlah(mg/gN) 340 480 400 310 200 110 250 90 330 80 Kedelai mengandung protein 35%. niasin. tepung singkong. hampir menyamai kadar protein susu skim kering. 2.

5 312. adalah sebagai awal dari pertumbuhan suatu biji atau organ perbanyakan vegetatif. Sedangkan menurut Kamil (1997). daun dan batang). perkecambahan adalah aktivitas pertumbuhan yang sangat singkat suatu embrio di dalam perkecambahan dari biji menjadi tanaman muda. perkecambahan merupakan pengaktifan kembali embrionik axis dalam biji yang terhenti untuk kemudian membentuk bibit (Seedling). 1995). Setelah menjalani masa dorman yang dapat disebabkan oleh beberapa factor internal seperti embrio masih berbentuk rudimen atau belum masak. Menurut Copeleland dalam (Abidin. lipid) berperan sebagai penyediaan energi yang akan digunakan dalam proses morfologi (pemunculan organ-organ tanaman seperti akar.2. metabolisme perkecambahan biji . Perkecambahan dapat terjadi apabila substrat (karbohidrat. Tipe pertumbuhan awal kecambah kedelai adalah Epigeal (epygeour) di mana munculnya radikel diikuti dengan memanjangnya hipokotil secara keseluruhan dan membawa serta koltiledon dan plumula ke atas permukaan tanah (Hidayat.0 34. dalam hal ini biji tersebut akan berkecambah. 2.1 34. kulit biji yang impermiabel atau adanya penghambat tumbuh Hidayat (1995).2 Perkecambahan 331.20 2. 2007).49 24.1 Pengertian Perkecambahan Perkecambahan menurut Sastro-Utomo (1990). Menurut Kamil (1997).99 10. 1987).09 40. Perkecambahan adalah pertumbuhan embrio yang dimulai kembali setelah penyerapan air atau ambibisi. Dengan demikian kandungan zat kimia dalam biji merupakan faktor dalam perkecambahan biji (Ashari.30 40. protein.8 7. 1995).Kalori (Kkal) Protein (gram) Lemak (gram) Karbohidrat (gram) Air (gram) (Cayadi.9 18.

fisiologi dan biokimia. Proses perkecambahan yang mencakup aspek kimiawi meliputi beberapa tahapan yang runtut antara lain: imbibisi. 2. hidrolisis cadangan makanan terutama karbohidrat dan protein dari bentuk tidak terlarut (komplek) menjadi bentuk terlarut /sederhana Ashari (1995). (3) Perombakan cadangan makanan seperti karbohidrat. biji yang berkecambah biasanya ditandai dengan terlihatnya akar daun yang menonjol keluar biji. terjadi proses berurutan selama perkembangan biji yaitu: (1) Perkecambahan biji dimulai dengan proses penyerapan air oleh biji (imbibisi). terjadi proses selama perkecambahan biji yaitu: 1) Perkecambahan biji dimulai penyerapan air oleh biji (ambibisi) melunakkan kulit biji dari protoplasma 2) Pengaktifan enzim dan hormon karena terjadinya perkecambahan dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih.2. (5) Proses pernafasan yaitu proses perombakan sebagian makanan cadangan menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti CO2 dan H2O. dan (6) Proses pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan.3 Perkecambahan Kedelai Menurut Kamil (1997). (2) Pengaktifan enzim dan hormon yaitu terjadinya proses pencernaan dengan kegiatan-kegiatan sel dan enzim-enzim serta naiknya tingkat respirasi benih. pembesaran dan pembagian sel-sel pada titik tumbuh. (4) Asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah meristematik untuk menghasilkan energi bagi kegiatan pembentukan komponen dan penbentukan sel-sel baru. sekresi hormon dan hormon. 2. lemak. Secara fisiologi.merupakan suatu rangkain komplek dari morfologi. Secara fisiologis. Sebenarnya proses perkecambahan sudah mulai dan berlangsung sebelum penampakan ini. Pada .2 Reaksi Perkecambahan Menurut Kamil (1997).2. fisiologi dan biokimia. metabolisme perkecambahan biji merupakan suatu rangkaian komplek dari perubahan-perubahan morfologi. melunakkan kulit biji dan hidrasi dari protoplasma. dan protein menjadi bentuk-bentuk yang melarut dan ditranslokasikan ke titik-titik tumbuh.

Rumus molekul karbohidrat secara umum yaitu Cx(H2O)y. setelah kira-kira 12-18 jam perkecambahan untuk mencerna amilase dan amilopektin. yaitu monosakarida. tetrosa. yaitu ketosa dan aldosa. Didalam scutellum glukosa dirombak menjadi sukrosa dan fruktosa Kamil (1997). dan O. Karbohidrat diklasifikasikan menjadi 4 jenis berdasarkan banyaknya unit glukosa pada rantai karbohidrat tersebut. Monosakarida dibagi menjadi 2 jenis berdasarkan lokasi gugus C=O. dan 7 atom karbon yang berturut-turut dan dinamakan triosa. 4. yaitu atom C. suatu ketosa b. Misalnya D-Fruktosa. H. Ketosa yaitu monosakarida yang gugus karbonilnya berada tidak pada ujung rantai karbon. pentosa. dan polisakarida. Hal serupa juga terjadi pada proses pemecahan pati. Ketosa yaitu monosakarida yang memiliki gugus C=O berada pada ujung rantai karbon. Semua jenis karbohidrat memiliki gugus fungsi C=O dan –OH (Fessenden dan Fessenden.3 Karbohidrat Karbohidrat merupakan senyawa yang tersusun dari 3 jenis atom. dan heptosa. D-Glukosa. 1990). Karbohidrat merupakan polihidroksi aldehida atau keton atau senyawa yang menghasilkan senyawa-senyawa aldehida atau keton bila dihidrolisa. suatu aldosa b. suatu aldoheksosa. disakarida. D-Fruktosa. dimana 12-18 jam perkecambahan pati dirombak menjadi glukosa pada daerah endosperm dan masuk scutellum. suatu ketoheksosa. a. asam giberalik keluar dari embrionik axis lalu masuk ke dalam Scutellum (cotyledon) dan aleuron. Akhiran –osa adalah tata nama yang digunakan dalam penggolongan monosakarida. Nama karbohidrat diambil dari kata karbon dan hidrat. 6. Misalnya D-Glukosa. 5. 2.waktu permulaan perkecambahan. Monosakarida Monosakarida adalah satu unit gula sederhana yang mengandung 3. a. heksosa. Disakarida .

selulosa. Monomer pada amilosa membentuk polimer dengan ikatan α(1→4) Dglukosa. Jumlah kedua poliskarida ini tergantung dari jenis pati. c. 1990). Contoh polisakarida antara lain glikogen. Amilopektin adalah suatu polisakarida yang mempunyai BM jauh lebih besar dari amilosa. 1989). Ikatan glikosida terbentuk antara atom C1 suatu monosakarida dengan atom O dari gugus OH monosakarida lain. yang dihubungkan oleh ikatan glikosida. yaitu homopolisakarida dan heteropolisakarida. Polisakarida Polisakarida merupakan polimer unit monosakarida. Monomer pada amilopektin membentuk polimer dengan ikatan α(1→4) D-glukosa dan pada atom C nomor 6 terdapat ikatan cabang α(1→6) D- . mengandung 1000 satuan glukosa atau lebih di tiap molekulnya. dan O dengan rumus kimia (C 6H10O5)n dan terdiri dari 2 komponen yaitu amilosa dan amilopektin (Fessenden dan Fessenden. kitin. dan amilosa. Pati yang ada dalam kentang. jagung dan tumbuhan lain mengandung amilopektin sekitar 75 – 80% dan amilum sekitar 2025% (Winarno. H. Amilosa memiliki struktur yang tidak bercabang (rantai lurus) dan larut dalam air. Amilum (pati) adalah homopolimer dari monosakarida yang tersusun dari unsur C. amilopektin.Disakarida adalah karbohidrat yang tersusun dari 2 molekul monosakarida. Unit monomer tersebut dibagi menjadi 2 jenis.

Hal ini dikarenakan molekul protein memiliki kandungan oksigen. menjadi fragmen peptida yang lebih pendek untuk dipisahkan lebih lanjut dengan bantuan kertas kromatografik. dan lebih lanjut memicumutasi genetik. Frederick penggunaan beberapa Sangermerupakan ilmuwan yang berjasa dengan temuan metode penentuan enzimprotease yang mengiris ikatan antara asam amino tertentu. dengan peptida (amida). hydrogen. . Vernon Ingram menemukan bahwa translokasi asam amino akan mengubah fungsi protein. berupa pilinan rantai asamasam amino berbentuk seperti spiral. "puntiran-alfa"). dan biji-bijian (Dwidjoseputro. Berbagai bentuk struktur sekunder misalnya ialah sebagai berikut: 1. sekunder (tingkat dua). 2. Urutan asam amino menentukan fungsi protein. Amilum banyak terdapat pada bagian tanaman. dan kuartener (tingkat empat):  struktur primer protein merupakan urutan asam amino penyusun protein yang deret dihubungkan asam amino pada melalui ikatan protein. nitrogen. 2007). Istilah protein berasal dari bahasa Yunani “protos” yang memiliki arti “yang paling utama”.  struktur sekunder protein adalah struktur tiga dimensi lokal dari berbagai rangkaian asam amino pada protein yang distabilkan oleh ikatan hidrogen. 1994). pada tahun 1957. sehingga banyak digunakan sebagai bentuk simpanan karbohidrat/simpanan energi pada tanaman. umbi. tersier (tingkat tiga). Protein memiliki peran yang sangat penting pada fungsi dan struktur seluruh sel makhluk hidup. terutama di tempat-tempat penyimpanan cadangan makanan seperti di dalam akar. Amilopektin tidak larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organik seperti butanol (Sahlan. Struktur protein yaitu berupa struktur primer (tingkat satu). Amilum tidak larut dalam air. karbon. Alpha helix (α-helix. Sebagian protein juga menagndung fosfor.glukosa.4 Protein Protein merupakan senyawa polimer organik yang berasal dari monomer asam amino yang mempunyai ikatan peptida. dan sulfur.

sehingga Iod terlepas dari kumparan pati.5. biasanya air dan yang lainnya pelarut organik. Sedangkan ekstraksi pelarut digunakan untuk memisahkan dua jenis campuran yang berbentuk cairan dan tidak saling melarutkan. 2. 3. misalnya air dengan minyak (Day dan Underwood. (γ-turn. 4.2. 1986:16) . dan Gamma-turn. "lekukan-gamma"). berupa lembaran-lembaran lebar yang tersusun dari sejumlah rantai asam amino yang saling terikat melalui ikatan hidrogen atau ikatan tiol (S-H). struktur tersier yang merupakan gabungan dari aneka ragam dari struktur sekunder.5 Metode Percobaan 2. karena Iod masuk ke dalam kumparan molekul pati. Amilosa akan memberikan warna yang lebih biru bila dibandingkan dengan amilopektin (Bintang. Ekstraksi dibedakan menjadi 2 macam yaitu ekstraksi sederhana dan ekstraksi pelarut. Cara ini dimanfaatkan untuk memperoleh zat-zat yang ada dalam tumbuhan. Ekstraksi sederhana dilakukan dengan merendam bahan dalam pelarut dimana zat yang diinginkan dapat melarut kemudian setelah beberapa waktu larutan dipisahkan dari ampasnya. atau kuartomer) dan membentuk struktur kuartener.  contoh struktur kuartener yang terkenal adalah enzim Rubisco dan insulin. "lempeng-beta").  Beta-turn. Beberapa molekul protein dapat berinteraksi secara fisik tanpa ikatan kovalen membentuk oligomer yang stabil (misalnya dimer. Senyawa ini hanya stabil dalam larutan dingin.5. "lekukan-beta"). (β-turn. 2007). 2. Struktur tersier biasanya berupa gumpalan. Pemanasan menyebabkan warna biru menghilang karena molekul pati meregang. Campuran ini dapat dipisahkan dengan corong pisah. trimer.2 Ekstraksi Ekstraksi adalah proses pemisahan suatu zat berdasarkan perbedaan kelarutannya terhadap dua cairan tidak saling larut yang berbeda.1 Uji Iod Larutan pati akan bereaksi dengan Iod mmembentuk warna biru. Beta-sheet (β-sheet. tetapi akan kembali menjadi biru bila didinginkan.

.2. 2. Prinsip dasar dari proses sentrifugasi yaitu partikel-partikel yang berat jenisnya lebih besar dari berat jenis sekelilingnya akan mengendap.5. sedangkan spektrofotometri merupakan aplikasi . Percepatan yang tercapai melalui sentrifugasi dinyatakan sebagai kelipatan percepatan gaya tarik bumi (g = 9.5. atau proses lainnya (Siswoyo dan Asnawati.5. 2. Kupro yang terbentuk selanjutnya dilarutkan dengan arsenomolibdat menjadi molybdenum berwarna biru yang menunjukkan ukuran konsentrasi gula dengan membandingkannya dengan larutan standar sehingga konsentrasi gula dalam sampel dapat ditentukan. Kecepatan reaksi pengendapan partikel selama sentrifugasi tergantung pada kecepatan sudut dari rotor. Gelombang cahaya (foton) dimanfaatkan sebagai entitas perantara untuk analisis kualitatif dan kuantitatif ketika berinteraksi dengan spesies analit yang dapat melalui proses absorpsi. fluoresensi. jari-jari efektif rotor (jaraknya ke titik putaran) dan sifat-sifat partikel (Day dan Underwood. 1986:73). Kupri mula-mula direduksi menjadi bentuk kupro dengan pemanasan larutan gula.3 Metode Nelson-Somogyi Metode Nelson-Somogyi dapat digunakan untuk mengukur kadar gula reduksi dengan menggunakan pereaksi tembaga arsenomolibdat. Sentrifuge yang mempunyai kemampuan tinggi tersedia dua jenis rotor. 1984). rotor dengan sudut tetap/tak bergerak dan rotor yang dapat berayun. Spektroskopi adalah cabang ilmu yang mempelajari interaksi antara radiasi elektromagnetik dengan materi. 2007). emisi.5 Spektrometer UV-Vis Analisis spektrofotometri adalah salah satu metode analisis dalam ilmu kimia yang didasarkan pada identifikasi dan kuantifikasi spesies analit berdasarkan sifat optisnya. Reaksi warna yang terbentuk dapat menentukan konsentrasi gula dalam sampel dengan mengukur absorbansinya (Sudarmadji.4 Sentrifugasi Sentrifugasi merupakan proses pemisahan organel berdasarkan ukuran dan densitasnya.81 ms-2).

Gambar Serapan cahaya oleh sampel Keterangan : Io = sinar yang datang Ia = sinar yang diserap It = sinar yang diteruskan Menurut Lambert (Bouger) hubungan antara ketebalan medium penyerap dengan besarnya penyerapan energi cahaya adalah sebagai berikut : Log Io It = k1 b Beer menemukan hubungan antara konsentrasi materi dengan besarnya penyerapan yaitu : . 2007). yaitu tereksitasi. Penelaahan frekwensi spesies yang terabsorbsi merupakan cara untuk mengidentifikasi dan analisis sampel. Energi elektromagnetik ditransfer ke atom atau molekul dalam sampel yang menyebabkan partikel dipromosikan dari tingkat energi yang lebih rendah ke tingkat yang lebih tinggi. Hubungan besarnya energi cahaya yang diserap oleh suatu medium dirumuskan oleh Lambert (Bouguer) dan Beer sehingga sering disebut sebagai hukum Beer-Lambert. (Siswoyo dan Asnawati. 2007). Suatu berkas radiasi bila dilewatkan melalui sampel kimia sebagian akan terabsorbsi. khususnya dalam interaksi gelombang cahaya (foton) dengan materi. lingkungan spesies pengabsorbsi dan faktor-faktor lain (Siswoyo dan Asnawati. yaitu spektra absorbsi yang berupa hubungan antara absorbsi dan panjang gelombang.spektroskopi dalam bidang pengukuran. Spektra ini dapat disebabkan absorbsi atom atau molekul. Absorbsi tergantung pada keadaan fisik.

Sehingga harga K tergantung dari satuan b dan yang digunakan apabila c dinyatakan g/L. Besaran transmitant ini sering diukur sebagai persen Transmitant sehingga %T = It/Io x 100%. A = log (I/T) . dimana T = It/Io. c = konsentrasi materi Gabungan kedua hukum ini akan menghasilkan : Log Io It = Kbc Istilah log (Io/It) dikenal sebagai absorbans dan sering disimbolkan sebagai A. b = tebal medium.Log Io It = k2c k1 dan k2 = tetapan. 2007). 2007). Gelombang cahaya yang diserap atau yang ditransmisikan oleh suatu media diukur dengan alat yang dapat berupa kolorimeter yang sederhana atau dengan suatu spektrofotometer (Siswoyo dan Asnawati. (Siswoyo dan Asnawati. Pengukuran cahaya secara langsung cukup sulit. kemudian c menyatakan konsentrasi solut yang menyerap cahaya dan dinyatakan dalam mol/L atau g/L. sedangkan jika c dinyatakan mol/L. 2007). sedangkan b adalah panjang jalan (tebal) medium penyerap yang dilalui cahaya dan dapat dinyatakan dalam centimeter. maka tetapan tersebut biasa disebut absortivitas molar dengan simbol ε (Siswoyo dan Asnawati. maka tetapan K disebut sebagai absortivitas dengan simbol a. Hubungan antara Tranmsitant dengan Absorbans dapat diketahui : A = log (Io/It) T = It/Io maka. sehingga cahaya yang diserap dapat diukur berdasarkan cahaya yang diteruskan oleh sampel dan dinyatakan sebagai Transmitant (T).

Biji kedelai 2. Alkohol 98% 4. NaCl 10% 16.1 Alat Dan Bahan 3. Larutan Nelson 9. Larutan standart glukosa 8. Na-oksalat 5% 7. K-oksalat . Kapas 3. Etanol absolute:air (80:20) 6. Arsenomolibdat 10. Petroleum eter 13. Larutan iod 2% 14.BAB III METODOLOGI 3. Kertas saring 11.1 Bahan 1.1. Aquades 17. Pb-asetat 10% 5. Ammonium sulfat 15. Etanol 12.

Indicator pp 19. Labu ukur 10 mL . Mortar 4. Penangas air 10. Spatula 6. Sentrifuse otomatis 16. NaOH 0. Pipet tetes 12.1. Ball pipet 13.1 N 20.2 Alat 1. Gelas piala 100 mL 8. Tabung sentrifuse 15. Pisau 2. Gelas piala 50 mL 7. Pipet Mohr 14. Neraca Analitik 3. Tabung reaksi 11. Pastle 5. Gelas piala 150 mL 9.18. Formaldehid 40% 3.

Spektrofotometer UV-Vis 24. Kuvet 30. Labu ukur 100 mL 19. Labu ukur 25 mL 18. Desikator 32. Kain kasa . Corong kaca 20. Buret 29. Oven 27. Hot plate 28.17. Aluminium Foil 23. Rak tabung reaksi 26. Termometer 21. Botol Kecil + tutup 22. Kuvet 25. Cawan porselen 31.

Uji kadar gula reduksi 5.3.Uji kadar air 4.2 Diagram Alir Sampel 1: Biji kedelai direndam Sampel 2: Biji Kedelai (rendaman) Inkubas Sampel 3: kedelai bertunas Residu Inkubas Sampel 4: Kecambah kedelai 2. Uji kadar protein . Kadar serat Filtrat/Ekstrak sampel Analisis 3. Uji kadar amilum Dihaluskan/direndam Sampel halus Filtrasi dehidrasi 1.

4) Tempatkan biji kedelai secukupnya di atas media tanam. dan timbang beratnya. Pembuatan sampel 4 (kecambah kedelai) 1) Biji kedelai dicuci bersih.3. 5) Dibiarkan dalam tempat lembab sampai bertunas. 3. 2) Disiapkan media tanam seperti baskom atau gelas bekas air mineral yang didalamnya diisi media kapas. Preparasi sampel kedelai dan kecambah kedelai 1) 10 gr biji kedelai yang sudah dicuci bersih dihaluskan dengan mortar ditambah serbuk kaca atau dengan blender. dinginkan dalam eksikator. 3. 6) Kecambah dibiarkan tumbuh sesuai waktu yang ditentukan.3 Prosedur Kerja 3.1 Preparasi Sampel a. keringkan dengan oven. dan 4.3. 6) Dianalisis c. 2) Disiapkan media tanam seperti baskom atau gelas bekas air mineral yang didalamnya diisi media kapas. 3) Media tanam diberi air bersih secukupnya.3. 2) Biji direndam selama 24 jam 3) Dianalisis b. 4) Tempatkan biji kedelai secukupnya di atas media tanam. Bersihkan cawan porselen.2 Uji Kadar Air 1. . Pembuatan sampel 3 (Kedelai Bertunas) 1) Biji kedelai dicuci bersih. 5) Dibiarkan dalam tempat lembab sampai menjadi kecambah. Pembuatan sampel 2 (Biji Kedelai Rendaman) 1) Biji kedelai dicuci bersih. d. 3) Media tanam diberi air bersih secukupnya. 2) Dilakukan perlakuan yang sama untuk sampel 2.

Residu yang sudah kering ditimbang. 6. 6. Perlakuan ini diulangi sampai tercapai berat konstan (selisih penimbangan berturut-turut kurang dari 0. Pengurangan berat merupakan banyaknya air dalam bahan. kemudian timbang. b) Penentuan kadar amilum • Isolasi dan ekstraksi amilum 1) Filtrat pada langkah sebelumnya (a) ditambah alkohol 98% sebanyak 10 mL.2 mg). 2) Selanjutnya dipindahkan ke dalam beaker gelas dan tambah etanol sampai 25 ml. Ditentukan kadar seratnya. 3. 3. dinginkan sampel tadi dalam deksikator.2 jam tergantung sampelnya. 7.2. 3. Masukkan cawan porselen yang berisi sampel ke dalam oven bersuhu 100 – 105°C selama 1 . dinginkan dalam eksikator dan timbang. Sampel halus (hasil blender) diperas dan disaring dengan kain kasa.3 Penentuan kadar karbohidrat a) Penentuan kadar serat 1. Keringkan kembali residunya ke dalam oven. 4. 5. 5. Residu sisa hasil penyaringan dikeringkan dalam oven. Setelah 1-2 jam. Timbang sampel yang sudah dihaluskan sebanyak 1 – 2 gram dalam cawan porselen. 4. Residu yang sudah kering ditambahkan pelarut non-polar (Petrolium Eter) lalu diperas dan disaring kembali dengan kain kasa.3. . 2. Masukkan lagi sampel dan cawannya tersebut dalam oven selama 30 menit.

13) Pindahkan endapan ke dalam botol sampel. 11) Hasil pencucian dikeringkan dalam oven selama 2 jam 12) Timbang dan hitung berat sampel amilum kering. 8) Pelet amilum dipisahkan.3) Dipanaskan dalam penangas dengan suhu 70 derajat selama 10 menit 4) Kemudian sampel dimasukkan ke dalam tabung sentrifus dengan kecepatan minimum 2000 rpm selama 10 menit 5) Hasil sentrifus ada tiga bagian yaitu bagian mengendap. 7) Endapan atau pelet berisi amilum sedangkan cairan berisi protein dan gula reduksi. 14) Supernatannya digabung dengan supernatan yang didapat sebelumnya 15) Bagian yang cair ditambahkan larutan Pb-asetat 10% sebanyak 2 ml. 3) Warna biru menunjukkan hasil positif adanya amilum. 16) Disentrifus lagi dan dipisahkan supernatannya 17) Gabungan supernatan diuapkan dengan penangas air sampai volume 10 ml.1 mg) amilum sampel dalam tabung reaksi. 9) Endapan yang didapat ditambah 20 ml campuran etanol absolute : air (80:20) dan disentrifus 10) Endapan dicuci sampai 3 kali dengan etanol. 18) Kelebihan Pb-asetat dihilangkan dengan menambahkan Na-oksalat 5% sampai tidak terjadi endapan 19) Larutan dimasukkan kedalam labu takar 25 ml lalu ditambahkan etanol absolut : air (80:20) sampai tanda batas 20) Dikocok sampai homogen dan disaring 21) Siap dianalisis dengan metoda Nelson (untuk penentuan kadar gula reduksi) • Analisa kualitatif amilum 1) Dimasukkan sedikit (±0. bagian cair dan bagian yang terapung 6) Bagian yang terapung di buang. 2) Ditambahkan 2 tetes larutan iod 2%. .

Sisa supernatan hasil sentrifugasi pada isolasi amilum ditambahkan amonium sulfat sebanyak 25% (w/w) lalu diaduk.4 Penentuan kadar protein terlarut a) Isolasi dan ekstraksi protein 1.c) Penentuan kadar gula reduksi • Pembuatan kurva standar 1) Siapkan larutan standar glukosa ( 1 mg glukosa anhidrat/ml).. 3) Pipetlah 2 ml larut sampel yang jernih tersebut ke dalam tabung reaksi. 3) Siapkan 6 tabung reaksi yang bersih. 6. 3. 4. di ukur intensitas cahaya serapnya dengan di ukur intensitas cahaya serapnya dengan .3. 2) Larutan sampel harus jernih. 5 tabung diisi dengan 2 ml larut standar tersebut dan satu tabung reaksi yang diisi dengan 2 ml aquades sebagai blangko. bila keruh atau berwarna dapat dijernihkan dengan Pb asetat atau bubur aluminum hidroksida. 4) Masing-masing larutan standar ditambahkan larutan Nelson 1 mL dan panaskan 7 menit 5) Didinginkan sampai suhu larutan mencapai suhu kamar 6) Masing-masing larutan standar ditambah 1 mL arsenomolibdat 7) Masing-masing spektrofotometer • Penentuan kadar gula reduksi dalam sampel 1) Siapkan larutan sampel yang dihasilkan dari supernatan pemisahan amilum. 8 dan 10 mg/100 ml. 2) Encerkan larutan standar dalam labu ukur 100 ml sehingga diperoleh larutan standar dengan kadar glukosa 2. 4) Ditambahkan larutan Nelson 1 mL dan panaskan 7 menit 5) Didinginkan sampai suhu larutan mencapai suhu kamar 6) Masing-masing larutan standar ditambah 1 mL arsenomolibdat 7) Masing-masing spektrofotometer.

dimasukkan pelet dalam botol pelet protein . . Disimpan pelet dalam lemari pendingin. Untuk mengetahui % protein. Ambil 10 ml larutan sampel (larutan protein) dan masukkan ke dalam erlenmeyer. Dimasukkan pelet dalam labu ukurr 10 mL. b) Analisis kadar protein terlarut dengan metode titrasi formol 1. Dibuat titrasi blanko yang terdiri dari 20 ml aquades + 0. 11. Tambahkan 20 ml aquades. 7. Dikocok. Catat banyaknya larutan NaOH 0.1 N sampai berwarna merah jambu (pink). 5.1 N yang digunakan untuk titrasi (titrasi kedua). 3. 9. 5. 7. Titrasilah dengan larutan NaOH 0. 3. 0. 4. Setelah warna tercapai. 8.1 N yang digunakan untuk titrasi (titrasi pertama). Larutan terkoreksi adalah titrasi kedua dikurangi titrasi blanko merupakan titrasi formol. 10. Didiamkan pada suhu 0-4oC.4 ml larutan Koksalat jenuh + 1 ml indikator pp 1 % + 2 ml larutan formaldehid 40 %. 6. lalu diamkan 2 menit. Diencerkan sampai 10 mL.4 ml larutan K-oksalat jenuh dan 1 ml indikator pp 1 %. 2. Dipisahkan supernatan dan peletnya dengan teknik dekantasi. Catat banyaknya larutan NaOH 0. 8. Pelet dicuci dengan sedikit NaCl 10% (± 2 mL).2. 6.1 N sampai berwarna merah jambu (pink) lagi. 4. harus dibuat percobaan serupa dengan menggunakan larutan yang telah diketahui kadar proteinnya. Disentrifugasi 8000 rpm selama 30 menit. tambahkan 2 ml larutan formaldehid 40 % dan titrasilah kembali dengan larutan NaOH 0. Titrasi larutan sampel tersebut dengan larutan NaOH 0.1 N sampai berwarna merah jambu (pink).

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful