LAPORAN PEDAHULUAN Nama : Mubin Barid NIM : 105070209111001 Ruangan : 29 Departemen : Medikal DM DAN GANGGREN A. TINJAUAN PUSTAKA 1.

DIABETES MELLITUS a. Definisi Diabetes Mellitus (DM) adalah penyakit metabolik yang kebanyakan herediter, demham tanda-tanda hiperglikemia dan glukosuria, disertai dengan atau tidak adanya gejala klinik akut ataupun kronik, sebagai akibat dari kuranganya insulin efektif di dalam tubuh, gangguan primer terletak pada metabolisme karbohidrat yang biasanya disertai juga gangguan metabolisme lemak dan protein. (Askandar, 2000). Gangren adalah proses atau keadaan yang ditandai dengan adanya jaringan mati atau nekrosis, namun secara mikrobiologis adalah proses nekrosis yang disebabkan oleh infeksi. (Askandar, 2001). b. Klasifikasi 1. Diabetes Mellitus a. DM Tipe I (IDDM) Penderita sangat bergantung terhadap insulin karena terjadi proses autoimun yang menyerang insulinnya. IDDM merupakan jenis DM yang diturunkan (inherited). b. DM Tipe II (NIDDM) Jenis DM ini dipengaruhi baik oleh keturunan maupun factor lingkungan. Seseorang mempunyai risiko yang besar untuk menderita NIDDM jika orang tuanya adalah penderita DM dan menganut gaya hidup yang salah. c. DM Gestasional DM jenis ini cenderung terjadi pada wanita hamil dan dalam keluarganya terdapat anggota yang juga menderita DM. Faktor risikonya adalah kegemukan atau obesitas. d. DM Sekunder Merupakan DM yang berkaitan dengan keadaan atau sindrom lain (pancreatitis, kelainan hormonal, dan obat-obatan). 2. Status gizi

1

: Abses dalam.Didapatkan ulkus sampai gangren. Kaki Diabetik akibat Neuropati ( KDN ) Terjadi kerusakan syaraf somatik dan otonomik. c. oedem kaki. mati rasa. : Ulkus dalam menembus tendon dan tulang. Sedangkan Brand (1986) dan Ward (1987) membagi gangren kaki menjadi dua golongan : 1. 2. Kaki Diabetik akibat Iskemia ( KDI ) Disebabkan penurunan aliran darah ke tungkai akibat adanya makroangiopati ( arterosklerosis ) dari pembuluh darah besar ditungkai. Derajat I Derajat II Derajat III Derajat IV Derajat V : Ulkus superfisial terbatas pada kulit. Etiologi 2 .Pada perabaan terasa dingin. Gangren Kaki Diabetik Wagner ( 1983 ) membagi gangren kaki diabetik menjadi enam tingkatan .    BB kurang bila BB < 90% BBI BB normal bila BB 90-110% BBI BB lebih bila BB 110-120% BBI Gemuk bila BB >120% BBI 3. kulit masih utuh dengan kemungkinan disertai kelainan bentuk kaki seperti “ claw. Klinis di jumpai kaki yang kering. terutama di daerah betis.Pulsasi pembuluh darah kurang kuat. yaitu : Derajat 0 : Tidak ada lesi terbuka. . Gambaran klinis KDI : . : Gangren jari kaki atau bagian distal kaki dengan atau tanpa selulitis. . tidak ada gangguan dari sirkulasi. . kesemutan. : Gangren seluruh kaki atau sebagian tungkai. dengan pulsasi pembuluh darah kaki teraba baik. dengan atau tanpa osteomielitis.Penderita mengeluh nyeri waktu istirahat. hangat.callus “.

antara lain agen yang dapat menimbulkan infeksi. dimana berbagai lesi dapat menyebabkan insufisiensi insulin. diet dimana pemasukan karbohidrat dan gula yang diproses secara berlebihan. 3. Kelainan sel beta pankreas. GANGGREN Faktor-faktor yang berpengaruh atas terjadinya gangren diabetik dibagi menjadi endogen dan faktor eksogen. Obat Ada dua teori utama mengenai terjadinya komplikasi kronik DM akibat hiperglikemia. berkisar dari hilangnya sel beta sampai kegagalan sel beta melepas insulin.sel penyekresi insulin. Faktor endogen : a. Teori Sorbitol Hiperglikemia akan menyebabkan penumpukan kadar glukosa pada sel dan jaringan tertentu dan dapat mentransport glukosa tanpa insulin. Kelainan insulin. Genetik. 4. kemudian peningkatan kepekaan sel beta oleh virus. 1. Faktor lain yang dianggap sebagai kemungkinan etiologi DM yaitu : 1. Trauma b. tetapi determinan genetik biasanya memegang peranan penting pada mayoritas DM. Gangguan sistem imunitas. 2. yaitu teori sorbitol dan teori glikosilasi. Glukosa yang berlebihan ini tidak akan termetabolisasi habis secara normal melalui 3 .DM mempunyai etiologi yang heterogen. Sistem ini dapat dilakukan oleh autoimunitas yang disertai pembentukan sel-sel antibodi antipankreatik dan mengakibatkan kerusakan sel . Angiopati diabetik c. metabolik b. Pada pasien obesitas. Patofisiologi Terlampir 2. terjadi gangguan kepekaan jaringan terhadap insulin akibat kurangnya reseptor insulin yang terdapat pada membran sel yang responsir terhadap insulin. d. Neuropati diabetik Faktor eksogen : a. Faktor-faktor lingkungan yang mengubah fungsi sel beta. obesitas dan kehamilan. Infeksi c.

Pemeriksaan Diagnostik • • • • • • Glukosa darah meningkat Asam lemak bebas meningkat Osmolalitas serum meningkat Gas darah arteri : PH menurun. Terjadinya proses glikosilasi pada protein membran basal dapat menjelaskan semua komplikasi baik makro maupun mikro vaskular. Pemeriksaan Penunjang 1.glikolisis. Adanya angiopati tersebut akan menyebabkan terjadinya penurunan asupan nutrisi. Faktor utama yang berperan timbulnya KD adalah angiopati. sehingga faktor angiopati dan infeksi berpengaruh terhdap penyembuhan atau pengobatan dari KD. Infeksi sering merupakan komplikasi yang menyertai KD akibat berkurangnya aliran darah atau neuropati. Sorbitol akan tertumpuk dalam sel / jaringan tersebut dan menyebabkan kerusakan dan perubahan fungsi. nyeri kaki di malam hari. Manifestasi gangguan pembuluh darah yang lain dapat berupa : ujung kaki terasa dingin. Terjadinya Kaki Diabetik (KD) sendiri disebabkan oleh faktor – faktor disebutkan dalam etiologi. Apabila sumbatan darah terjadi pada pembuluh darah yang lebih besar maka penderita akan merasa sakit tungkainya sesudah ia berjalan pada jarak tertentu.1993). tetapi sebagian dengan perantaraan enzim aldose reduktase akan diubah menjadi sorbitol. neuropati dan infeksi. terutama yang mengandung senyawa lisin. sehingga merubah titik tumpu yang menyebabkan ulsetrasi pada kaki pasien. Adanya neuropati perifer akan menyebabkan terjadinya gangguan sensorik maupun motorik. sehingga akan mengalami trauma tanpa terasa yang mengakibatkan terjadinya ulkus pada kaki gangguan motorik juga akan mengakibatkan terjadinya atrofi otot kaki. HCO3 menurun Ureum/kreatinin meningkat/normal Urine : gula + aseton positip 4 . Angiopati akan menyebabkan terganggunya aliran darah ke kaki. Teori Glikosilasi Akibat hiperglikemia akan menyebabkan terjadinya glikosilasi pada semua protein. denyut arteri hilang. Gangguan sensorik akan menyebabkan hilang atau menurunnya sensasi nyeri pada kaki. e. Neuropati merupakan faktor penting untuk terjadinya KD. oksigen ( zat asam ) serta antibiotika sehingga menyebabkan luka sulit sembuh ( Levin. 2. kaki menjadi pucat bila dinaikkan.

9 <140/90 Sedang 110-139 160-199 200-239 130-159 100-129 35-45 200-149 150-199 23-25 25-27 140-160/ 90-95 Buruk ≥140 ≥200 >240 >160 >130 <35 >250 >200 >25/<18. Diet Penatalaksanaan nutrisi pada penderita DM diarahkan untuk mencapai tujuan berikut: a.9 20-24. fosfor 2. Ktiteria Pengendalian DM Baik 80-109 110-159 <200 <130 <100 >45 <200 <150 18. Chronic Heart Disease Sedangkan komplikasi akibat gangrene yakni: 1. Penatalaksanaan 1. K. Komplikasi Komplikasi yang bias timbul oleh DM antara lain: 1. Nephrophaty 5.5-22. 5 >27/<20 >160/95 GD Puasa (mg/dL) GD 2 jam PP (mg/dL) Koleseterol Total (mg/dL) Kolesterol LDL (mg/dL) non PJK Dengan PJK Kolesterol HDL (mg/dL) Trigliserida (mg/dL) tanpa PJK Dengan PJK BMI: Wanita Pria Tekanan Darah (mmHg) f. Osteomyelitis 2. Sepsis 3. Mencukupi semua unsure makanan essensial (misalnya vitamin dan mineral) 5 .• Elektrolit : Na. Gangren Kaki Diabetik 2. Retinophaty 4. kematian g. Neurophaty 3.

Penghitungan BMI=BB (kg)/(TB (m))2 BMI normal wanita = 18.b. Mencegah fluktuasi kadar glukosa darah setiap harinya dengan mengupayakan kadar glukosa darah mendekati normal melalui caracara yang aman dan praktis e. Memenuhi kebutuhan energy d.5 – 22. Mencapai dan mempertahankan berat badan (BMI) yang sesuai.9 kg/m2 BMI normal pria = 20 – 24. tidak dianjurkan untuk melakukan latihan fisik yang terlalu berat 3.9 kg/m2 c. Pengobatan untuk gangren Kering o Istirahat di tempat tidur o Kontrol gula darah dengan diet. tapi dengan indikasi yang sangat jelas 6 . maka sebaiknya makan camilan dahulu Rekomendasi latihan bagi penderita dengan komplikasi disesuaikan dengan kondisinya Latihan dilakukan 2 jam setelah makan Pada klien dengan gangrene kaki diabetic. Oalahraga Olahraga atau latihan fisik dilakukan sebagai berikut: 5 – 10’ pemanasan 20 – 30’ latihan aerobic (75 – 80% denyut jantung maksimal) 15 – 20’ pendinginan Namun sebaiknya dalam berolahraga juga memperhatikan hal-hal sebagai berikut Jangan lakukan latihan fisik jika glukosa darah >250 mg/dL Jika glukosa darah <100 mg/dLsebelum latihan. insulin atau obat antidiabetik o Tindakan amputasi untuk mencegah meluasnya gangrene. Menurunkan kadar lemak darah jika kadar ini meningkat 2.

Obat a. dengan indikasi: Ketoasidosis. Macam . operasi berat. PZI (Novo dan Organon) dan ada juga campuran IR : PZI = 30 : 70. bentuk ini lebih 7 . dan asidosis laktat DM dengan berat badan menurun secara cepat DM yang mengalami stress berat (infeksi sistemik. koma hiperosmolar. dan c. dll) DM gestasional DM tipe I Kegagalan pemakaian OHD anti platelet agregasi (aspirin. jangan dengan air panas atau dingin o Beri “topical antibiotic” o Beri antibiotic yang sesuai kultur atau dengan antibiotic spectrum luas o Untuk neuropati berikan pyridoxine (vit B6) atau neurotropik lain o Memperbaiki sirkulasi guna mengatasi angiopati dengan obatobat anti platelet agregasi (aspirin. Obat Hipoglikemik Oral (OHD) b. b. NPH (Novo). mengandung komponen a.o Memperbaiki sirkulasi guna mengatasi angiopati dengan obatobat Basah o Istirahat di tempat tidur o Kontrol gula darah dengan diet. misalnya: IR = insulin regular (Novo dan Organon). atau pentoxyvilin) Pembedahan o Amputasi segera o Debridement dan drainase. diprydamol. setelah tenang maka tindakan yang dapat diambil adalah amputasi atau skin/arterial graft 4.macam insulin  Insulin konvensional. atau pentoxyvilin) - c. diprydamol. Insulin. insulin atau obat antidiabetik o Debridement o Kompres dengan air hangat.

dan mempunyai efek yang agak lama  Long-acting insulin: Membutuhkan beberapa jam untuk bekerja. Insulin MC mempunyai efek alergik danimunologik yang minimal bila dibandingkan dengan insulin konvensional. Dikatakan.  Insulin analogues: ada dua macam:  Rapid-acting insulin analogues lis pro (R/humalog). Insulin ini disebut juga BHI( biosynthetic human insulin) dan mempunyai susunan kimiawi sama dengan insulinmanusia. misalnya actrapid ( short action.imunologenik dan alergia. semua dari Novo industries Ada juga insulatard (identik dengan NPH) dan mixtard (campuran short dan long acting  Insulin dengan perbandingan 30:70). keduanya beredar dalam bentuk novolet @300 unit. glulisin (R/apidra). namun hanya memberi efek untuk waktu terbatas  Intermediate-acting insulin: Insulin kerja intermediet . danaspar (R/aspart)  Long-acting paekless insulin analogues: insulin glargine (R/lantus).  Insulin monokomponen = insulin MC ( insulin mono-component = highly purified insulin) = hanya mengandung komponen c (insulin murni). tetapi juga ada dari Eli Lily dengan preparat yang sejenis (humulin-R. insulin HM ini mempunyai efek alergik dan imunologik yangminimal dibandingkan dengan kedua insulin sebelumnya. coli(rekombinan DNA). Klasifikasi insulin berdasarkan waktu pemberian :  Short acting insulin: Insulin yang kerjanya cepat.humulin-N. sebetulnya yang mempunyai efek biologis adalah komponen c saja.  Insulin manusia = human insulin (HM =human monocomponent ). dan humulin-30/70). bekerja sesaat lebih lambat dari sort-acting insulin. insulindetemir. Insulin inikebanyakan dibuat dari E. namun durasi aksi puncaknya lebih baik dari insulin bentuk lain 8 . identik dengan insulin regular).

• • • • • Sirkulasi Ada riwayat hipertensi. 6. stupor/koma. IMA. Kebas & kesemutan pada extrimitas. • Peka terhadap rangsangan. • Parestesia. diaforesis Menurunnya kekuatan/rentang gerak. bola mata cekung. tergantung orang lain. Demam. Neurosensori • Pusing/pening. Kebas pada kaki. 2. • Kulit kering/bersisik. kebas kelemahan pada otot. tonus otot menurun. • • • 9 . Aktifitas/Istirahat • Lemah. gatal. palpitasi.B. • Kram otot. 3. nokturia • Rasa nyeri/terbakar. 8. koma. Takikardia/nadi yang menurun/tak ada. ulkus kulit. haus. 7. kesemutan. letih. 5. kesulitan berkemih (infeksi) • Nyeri tekan abdomen • Diare. Nyeri/kenyamanan • Abdomen tegang/nyeri • Wajah meringis. ASUHAN KEPERAWATAN a. bising usus lemah/menurun. • Distensi abdomen. sulit bergerak/berjalan. mual/muntah. • Disorentasi : mengantuk. letargia. Makanan/cairan • Hilang nafsu makan. • BB menurun. kering & kemerahan. Pengkajian Data bergantung pada berat dan lamanya ketidakseimbangan metabolik dan pengaruh pada fungsi organ : 1. gangguan tidur dan istirahat. Pernapasan • Batuk. Eliminasi • Poliuria. sakit kepala. • Disorentasi. 9. 4. Integritas ego • Stress. • Gangguan penglihatan. turgor jelek. Kulit panas. bernapas bau keton Keamanan Kulit kering.

Gangguan perfusi berhubungan dengan melemahnya/menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. Kurangnya pengetahuan tentang proses penyakit.Warna kulit sekitar luka tidak pucat/sianosis .C. diet. perawatan dan pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi. 5. Potensial terjadinya penyebaran infeksi ( sepsis ) berhubungan dengan tingginya kadar gula darah. 6.Kulit sekitar luka teraba hangat. 10. Ganguan pola tidur berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Gangguan gambaran diri berhubungan dengan perubahan bentuk salah satu anggota tubuh. Intervensi 1. .Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler . 4. D.Sensorik dan motorik membaik No. Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka. Tindakan Ajarkan pasien untuk melakukan mobilisasi Rasional Mobilisasi meningkatkan sirkulasi darah 10 . Gangguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan melemahnya / menurunnya aliran darah ke daerah gangren akibat adanya obstruksi pembuluh darah. Tujuan: Kriteria Hasil: Mempertahankan sirkulasi perifer tetap normal. 3. Gangguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. 1. .Oedema tidak terjadi dan luka tidak bertambah parah. 9. 2. 8. . 7. Gangguan pemenuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang kurang. Diagnosa keperawatan 1. Cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang penyakitnya.

Adanya jaringan granulasi.Kolestrol tinggi dapat mempercepat terjadinya arterosklerosis. waktu istirahat ). hindari balutan ketat. menyebabkan pembuluh merokok terjadinya darah. 4. diperbaiki. Tujuan: Kriteria hasil : Tercapainya proses penyembuhan luka. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain Pemberian dalam pemberian pemeriksaan gula darah secara rutin sehingga dan terapi oksigen ( HBO ). hindari penggunaan bantal. Ganguan integritas jaringan berhubungan dengan adanya gangren pada ekstrimitas. faktor resiko berupa: Hindari diet menghentikan kebiasaan relaksasi. Bau khas gangren berkurang. Pus dan jaringan nekrosis berkurang 3. modifikasi teknik faktor.Berkurangnya oedema sekitar luka. Tindakan Kaji luas dan keadaan luka serta proses penyembuhan Rasional Pengkajian yang tepat terhadap luka dan proses penyembuhan akan membantu dalam menentukan tindakan 11 . oksigenasi 2. No.2. melancarkan sehingga tidak aliran terjadi 3. dapat merokok. 1. hindari penyilangkan kaki. gula mengetahui keadaan memperbaiki ulkus/gangren vasodilator. di belakang lutut dan sebagainya Ajarkan tentang tinggi kolestrol. Ajarkan tentang faktor-faktor yang Meningkatkan dapat meningkatkan aliran darah: darah dari jantung ( posisi elevasi pada balik Tinggikan kaki sedikit lebih rendah oedema. relaksasi untuk mengurangi efek dari vasodilator perfusi jaringan rutin HBO akan dapat dapat dan untuk daerah stress. 2. 1. meningkatkan dilatasi pembuluh darah sedangkan secara pemeriksaan darah perkembangan pasien. vasokontriksi dan penggunaan obat vasokontriksi 4.

No. Ganguan rasa nyaman ( nyeri ) berhubungan dengan iskemik jaringan. 1.(S: 36 – 37. dokter pemeriksaan darah. tanda vital dalam batas normal.Penderita berkurang/hilang . 2.50 C.pemahaman pasien tentang penyebab sebab timbulnya nyeri nyeri yang terjadi akan mengurangi ketegangan pasien dan memudahkan pasien untuk diajak bekerjasama dalam 3. T : 100 – 130 mmHg. jaringan yang mati Kolaborasi dengan pemberian kultur pus insulin. angkat larutan sisa yang balutan selanjutnya merawat luka dengan teknik aseptik.2. N: 60 – 80 x /menit. frekuensi. 3. Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi nyeri Teknik distraksi dan relaksasi dapat 12 . Tujuan: Rasa nyeri hilang/berkurang secara verbal mengatakan nyeri Kriteria hasil : 1. pemeriksaan gula darah mengetahui jenis kuman dan anti biotik pemeriksaan kadar gula darahuntuk mengetahui perkembangan penyakit pemberian anti biotic 3. Rawat luka dengan baik dan benar : menggunakan iritatif. RR : 18 – 20 x /menit). Pergerakan penderita bertambah luas. sisa jaringan menghambat proses granulasi untuk Insulin akan menurunkan kadar gula menempel pada luka dan nekrotomi balutan 3. 2. 4. Ciptakan lingkungan yang tenang melakukan tindakan Rangasangan yang berlebihan dari lingkungan akan memperberat rasa 4. yang iritatif akan nekrosis merusak dapat membersihkan luka secara abseptik dapat menjaga kontaminasi luka dan tidak larutan yang jaringan granulasi tyang timbul. Tindakan Rasional Kaji tingkat. Tidak ada keringat dingin. dan reaksi Untuk mengetahui berapa berat nyeri nyeri yang dialami pasien yang dialami pasien Jelaskan pada pasien tentang sebab. Penderita dapat melakukan metode atau tindakan untuk mengatasi atau mengurangi nyeri . pemeriksaan kultur pus untuk yang tepat untuk pengobatan.

harus diberikan bantuan Kerja sama dengan tim kesehatan Analgesik dapat membantu mengurangi 13 . Pergerakan paien bertambah luas 2. pasien Atur posisi pasien senyaman mungkin Posisi yang nyaman akan membantu sesuai keinginan pasien 6. 4. 2. berdiri. Kolaborasi dengan dokter yang dapat memberikan rasa nyaman untuk Obat –obat analgesik dapat membantu mengurangi nyeri pasien pemberian analgesic 4. Pasien dapat memenuhi kebutuhan sendiri secara bertahap sesuai dengan kemampuan. Pasien dapat melaksanakan aktivitas sesuai dengan kemampuan (duduk. pasien untuk Untuk melatih otot – otot kaki sehingg berfungsi dengan baik menggerakkan/mengangkat 4. berjalan). Keterbatasan mobilitas fisik berhubungan dengan rasa nyeri pada luka di kaki. Lakukan massage dan kompres luka dengan BWC saat rawat luka memberikan kesempatan pada otot untuk relaksasi seoptimal mungkin Massage dapat meningkatkan vaskulerisasi dan pengeluaran pus sedangkan BWC sebagai desinfektan 7. 3. No. Rasa nyeri berkurang. Kriteria Hasil: 1. Tindakan Rasional Kaji dan identifikasi tingkat kekuatan Untuk mengetahui derajat otot pada kaki pasien Beri penjelasan tentang pentingnya Pasien dapat mencapai tingkat kemampuan aktivitas yang kekuatan otot-otot kaki pasien Pasien mengerti pentingnya aktivitas dapat kooperatif dalam melakukan aktivitas untuk menjaga sehingga normal Anjurkan kadar gula darah dalam keadaan tindakan keperawatan 3. ekstrimitas bawah sesui kemampuan Bantu pasien dalam memenuhi Keterbatasan mobilitas fisik cenderung kebutuhannya membuat memnuhi klien kesulitan dalam sehingga kebutuhannya 5. Tujuan: optimal. 1.mengurangi rasa nyeri yang dirasakan 5.

fisioterapi untuk melatih pasien melakukan aktivitas secara bertahap dan benar E. Ed. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan.J.. L. 2 Jakarta: EGC 14 . Daftar Pustaka Carpenito. 1999.lain: dokter ( pemberian analgesik ) dan tenaga fisioterapi rasa nyeri.

et all. Jakarta: EGC Mansjoer. I. Price.. Anderson Sylvia. Jakarta: EGC Doengoes. Jakarata: EGC 15 . Arif. 1997. 1999. 1999.Diagnosa Keperawatan. Perencanaan Asuhan Keperawatan. Kapita Selekta Kedokteran. 8. Fakultas Kedokteran UI: Media Aescullapius. Ed. Patofisiologi. Ed.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful