FUNGSI LEGISLASI DPRD DALAM KERANGKA OTONOMI (Studi Kasus DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten Muaro

Jambi) Oleh: Meri Yarni, S.H., M.H.*) Staf Pengajar Fakultas Hukum Universitas Jambi

ABSTRAK Adanya reposisi dan refungsionalisasi DPRD telah menempatkan DPRD pada posisi yang sejajar dengan Pemerintah Daerah, dan dikembalikan ke fungsi yang seharusnya sebagai badan legislative daerah. Dan seharusnya DPRD dapat memainkan peranannya dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah, diantaranya dalam pembentukan Perda yang merupakan fungsi legislasi diwujudkan melalui pelaksanan hak mengajukan Raperda dan hak mengadakan perubahan atas Raperda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengetahui dan mengevaluasi pelaksanaan fungsi legislasi oleh DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten Muaro Jambi dan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi legislasi serta bagaimana langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencari solusinya Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan pendekatan yuridis – normative, yuridis sosiologis, yuridis histories dan komparatif. Data diambil dari kepustakaan dan data lapangan dan dianalisa dalam bentuk deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa DPRD Kota Jambi dalam menjalankan fungsinya kurang berperan, karena hanya 2,50% dari Perda tersebut yang rancangan berasal dari DPRD begitu juga dengan DPRD Kabupaten Muaro Jambi, sedangkan dalam pelaksanaan hak mengadakan perubahan atas Raperda sudah boleh dikatakan meningkat, karena terlihat lebih baik dari sebelum adanya perubahan berdasarkan asas-asas pembentukan perundang-undangan. Adapun factor yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi DPRD adalah: factor sumber daya manusia, peraturan tata tertib DPRD dan sarana dan prasarana.

I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Pasal 19 ayat (2) menyatakan: Penyelenggara Pemerintahan Daerah adalah Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD). .. anggotanya dipilih oleh rakyat melalui pemilihan umum (Pemilu). maka DPRD dilengkapi dengan tugas. DPRD mempunyai fungsi sebagaimana tercantum dalam Penjelasan Umum Undang-Undang No 32 Tahun 2004 Pasal 41 menyebutkan bahwa : DPRD memiliki fungsi antara lain: (a) fungsi legislasi. Berdasarkan penelitian pendahuluan yang dilakukan. Dengan maksud asas desentralisasi yang diberikan secara penuh dapat diterapkan pada Daerah Kabupaten dan Kota. Berdasarkan Bab V Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang penyelenggaraan Pemerintahan. Peraturan Daerah yang telah disetujui oleh DPRD Kota Jambi pada tahun 2003 sebanyak 13 buah. Salah satu fungsi DPRD yang sangat penting dalam rangka mendukung pelaksanaan otonomi luas di Daerah adalah fungsi legislasi. Oleh karena itu. Untuk melaksanakan fungsi legislasi DPRD diberi bermacam-macam hak yang salah satunya ialah “hak mengajukan rancangan peraturan daerah dan hak mengadakan perubahan atas Raperda” atau implementasi dari fungsi legislasi harus ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah (Perda). 32 Tahun 2004). DPRD diberi hak-hak yang cukup luas dan diarahkan untuk menyerap serta menyalurkan aspirasi masyarakat dalam pembuatan suatu kebijakan daerah dan pengawasan pelaksanaan kebijakan. 2002) Pada hakikatnya hak otonomi yang diberikan kepada daerah –daerah adalah untuk mencapai tujuan negara. 32 Tahun 2004). wewenang.(Bagir Manan. tahun 2004 sebanyak 11 buah. Untuk melaksanakan fungsi tersebut. Di sisi lain Undang-Undang Pemerintah Daerah di samping mengatur satuan daerah otonom juga mengatur satuan pemerintahan administratif. Sebagai Legislatif Daerah. 32 Tahun 2004. maka setiap daerah diberi hak otonomi. dan (c) fungsi anggaran. kewajiban dan hak. sedangkan Daerah Propinsi diterapkan secara terbatas (penjelasan umum UU No. (b) fungsi pengawasan. Dari 40 buah Peraturan Daerah tersebut hanya 1 (satu) Peraturan Daerah yang berasal dari Hak Prakarsa DPRD Kota Jambi pada tahun 2003 .Esensi dari Undang-Undang yang mengatur Pemerintah Daerah pada dasarnya adalah untuk membangun Pemerintah Daerah dalam mengisi pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan. otonomi yang diberikan secara luas berada pada Daerah Kabupaten/Kota. serta pelayanan masyarakat yang ada di daerah. DPRD sebagai badan legislatif. Untuk melaksanakan Pemerintahan secara efektif dan efisien. (Pasal 42 UU No. Dalam penjelasan umum Undang-Undang No. dan tahun 2005 sebanyak 16 buah. 32 Tahun 2004 dapat diambil suatu makna pemisahan Pemerintahan Daerah (Eksekutif) dengan DPRD (Legislatif) adalh untuk memberdayakan DPRD dan meningkatkan pertanggungjawaban pemerintahan kepada rakyat. Menurut UU No.

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa. III. HASIL DAN PEMBAHASAN . Sedangkan manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah Secara teoritis diharapkan dapat mengembangkan ilmu Hukum Tata Negara khususnya Hukum Pemerintahan Daerah yang berkaitan dengan fungsi legislasi DPRD dan secara praktis diharapkan memberikan sumbangan pemikiran. anggota DPRD Kota Jambi dalam melaksanakan haknya sebagai implementasi dari fungsi legislasinya sangat kurang bahkan hampir tidak terlaksana sama sekali. gistoris. khususnya kepada DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten Muaro Jambi dan Pemerintah Daerah dalam rangka penyelenggaraan fungsi legislasi DPRD. Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi permasalahan dalam hal ini adalah: seberapa jauh kontribusi DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten Muaro Jambi dalam melaksanakan fungsi legislasi dan faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi legislasi serta langkah-langkah apa yang dapat dilakukan untuk mencari solusinya. sosiologis dan komparatif. II METODOLOGI PENELITIAN Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis dengan pendekatan yuridis – normative. 1.2 Tujuan dan Manfaat Penelitian Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengevaluasi pelaksanaan fungsi legislasi oleh DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten Muaro Jambi dan mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi legislasi serta bagaimana langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk mencari solusinya. Adapun sumber data terdiri dari bahan hukum primer dan sekunder dan tertier dengan teknik pengumpulan data berdasarkan data kepustakaan dan data lapangan dengan analisis data menggunakan metode deskriptif kualitatif dan disajikan dalam bentuk deskriptif.

4 2.0 24. 22 Tahun 1999 tang diganti dengan UU No.4 4.3. 10. 11.1 3.3 31. PDIP dan PKS masing-masing 15.4 2. 5.0 15. kemudian partai PAN 24. 6.7 7.2 15.2 %.4 2. PBR 6.1 3.3 2. 3. 7.1%. 2. Dari 13 partai politik didominasi oleh partai PDI-P sebesar 31.0 3.2 6.1. Berdasarkan hasil penelitian jumlah seluruh anggota DPRD Kota Jambi pada masingmasing periode berjumlah 40 orang dengan rincian komposisi DPRD periode 1999-2004 terdiri dari 12 partai dan 4 orang (4. 12 Golkar PDI-P PPP PAN PBN PKS PKP PKB PSII PP PBB PBBTNI/Polri 12 10 13 3 3 1 1 1 1 1 1 1 4 40 24.8%) anggotaa TNI/Polri yang diangkat.4 %. yaitu periode 1999-2004 dan periode 2004-2009.8 100 Golkar PDI-P PPP PAN PBR PKS PBB PKPB PDS 8 9 5 1 8 2 5 1 1 1 27. Sedangkan DPRD periode 2004-2009 didominasi oleh partai Golkar 27. 8.0 3. Semenjak itu telah terbentuk dua periode anggota DPRD.3 % dan partai lainnya masing-masing 2. 4. 9. Gambaran Umum DPRD Kota Jambi Adanya reposisi dan refungsionalisasi DPRD.4 2. No Periode 1999-2004 Jumlah % Periode 2004-2009 Jumlah % 1.0% dan partai lainnya masingmasing 3.2 %.4 2. Komposisinya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 1 : Komposisi DPRD Kota Jambi Periode 1999-2004 dan Periode 20042009. 32 Tahun 2004.3 7.0 33 100 . ditandai dengan lahirnya UU No. PPP dan PAN masing-masing 7.3 %.4 2.0%.7 % kemudian partai Golkar 24.

50 % dan pada periode 2004-2009 sebesar 57. Sedangkan DPRD Kabupaten Muaro Jambi memiliki 5 fraksi yaitu. DEMOKRAT dan P.PBB. No Fraksi Periode 1999-2004 1 2. Golkar. Fraksi ini merupakan gabungan atau pengelompokan anggota berdasarkan partai politik yang memperoleh kursi dalam pemilihan umum. Pada periode 19992004 yang berpendidika S1 dan S2 sebesar 42. Pada periode 2004-2009 tidak ada lagi dewan yang berpendidikan SLTP dan SD seperti periode 1999-2004. PBN PPP. Sedangkan untuk periode 2004-2009. Peduli Bangsa dan Kerakyatan yang berasal dari Partai Polotik yaitu: Golkar. Nama-nama fraksi tersebut diatas dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 2. Golkar PDI-P PAN PPP Kesatuan Golkar PDI-P PAN. PAN. Hal ini disebabkan oleh ketentuan undang-undang pemilu yang baru. MERDEKA.Sumber: Sekretariat DPRD Kota Jambi Dengan komposisi fraksi periode 1999-2004. 6 fraksi dan periode 2004-2009. yang memperketat persyaratan pendidikan bagi anggota DPRD adalah minimal SLTA. 5 fraksi.POLRI dalam komposisi anggota DPRD sudah dihapuskan. Untuk periode 1999-2004 di samping partai politik juga ditambah dengan anggota TNI/POLRI yang diangkat. PDIP. PKPB. PPP.PBR Asal Parpol Adapun tingkat pendidikan anggota DPRD sebelum menjadi anggota DPRD pada umumnya pendidikan pada kedua periode tersebut adalah sarjana. PDIP. 3. PSI. Sarjana 10 orang. PKB. PP PKS. PDS PBB.57%.PKB. PAN. Diploma 1 orang dan sisanya 19 orang . Sedangkan kalau dilihat latar belakang pendidikan anggota DPRD Kabupaten Muaro Jambi. Nama-nama Fraksi DPRD Kota Jambi Periode 1999-2004 dan Periode 2004-2009. 6 TNI/Polri 6 fraksi Sumber: Sekretariat DPRD Kota Jambi TNI/Polri 5 fraksi PDI-P PAN Demokrat BPI Asal Parpol Fraksi Periode 2004-2009 Golkar Golkar PDI-P PAN PKS. 4 5. keberadaan TNI.

4. dagang 5%. Pada peride 1999-2004.03%. Dengan pengalaman pekerjaan tersebut. S2 S1 Diploma SLTA SLTP SD(sederajat) Jumlah 17 19 4 40 Sumber : Sekretariat DPRD Kota Jambi 42. tentunya mempengaruhi kinerja sebagai anggota DPRD.06 36.5%. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 4: Jenis Pekerjaan Anggota DPRD sebelum menjadi Anggota DPRD .42 6. 42%.15 42. wiraswasta.berpendidikan SLTA.06% sedangkan pengusaha sebesar 3. pensiunan PNS sebesar 15. maka dianggap DPRD akan mampu dalam menjalankan fungsinya terutama fungsi legislasi. Dengan tingkat pendidikan demikian. Sedangkan jenis pekerjaan anggota DPRD Kabupaten Muaro Jambi yaitu. yang berkaitan dengan hak yang dimiliki untuk mengusulkan Raperda dan untuk mengadakan perubahan atas Raperda. ibu rumah tangga dan pengacara masing-masing 6. Wiraswasta 3 orang . 3. Kepala Desa 2 orang dan pekerjaan lain (tidak pekerjaan yang tetap) sebelum menjadi anggota DPRD sebanyak 10 orang.mahasiswa sebesar 21. ex.36 100 Sedangkan latar belakang pekerjaan anggota DPRD Kota Jambi sangat bervariasi jenis pekerjaannya. 5. Sedangkan pada periode 20042009. Mahasiswa dan pengusaha sebesar 2.15%. sedangkan Ex.5%. Pensiunan PNS 5 orang. Karyawan swasta berjumlah 6 orang. jumlah pensiunan PNS 10 %. 6. No Periode 1999-2004 Pendidikan 1.50 10. 2.21%. TNI. wiraswasta 47. Mengenai tingkat pendidikan dapat diihat pada tabel berikut: Tabel 3.Polri 10%.50 47. Tingkat Pendidikan Anggota DPRD Kota Jambi peride 1999-2004 dan Periode 2004-2009. TNI/POLRI 4 orang. dagang. kontraktor dan pengacara masing-masing 7.00 100 % Periode 2004-2009 Pendidikan S2 S1 Diploma SLTA SLTP SD(sederajat) Jumlah 5 14 2 12 33 % 15.5%.

50 7.50 7. Adapun Perda yang telah dihasilkan oleh DPRD bersama Pemerintah Daerah Kota Jambi setelah adanya reposisi dan refungsionalisasi DPRD dapat dilihat bahwa sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 DPRD Kota Jambi telah menghasilkan 40 Perda.21 3.50 5.15 Sumber : Sekretariat DPRD Kota Jambi 3.50 2.06 100 42.Periode 1999-2004 dan Periode 2004-2009. Pekerjaan Anggota DPRD Sebelum Menjadi Anggota DPRD Periode 1999-2004 1 Pensiunan PNS 2 TNI/Polri 3 Wiraswasta 4 Kontraktor 5 Pengacara 6 Ex.06 21. pembahasan. peranan eksekutif dalam pembentukan perda tersebut terdapat pada setiap tahap dalam proses pembentukan Perda. 10 Tahun 2004 yang kemudian diatur dalam UU No. Sedangkan DPRD Kabupaten Muaro Jambi ssejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2005 telah menghasilkan 60 Perda dan yang merupakan inisiatif dari DPRD berjumlah 2 (dua) Perda. dan hanya 1 Perda yang merupakan inisiatif DPRD.Mahasiswa 7 Pengusaha 8 Ibu Rumah Tangga 9 Dagang Jumlah Jumlah 4 4 19 3 3 1 1 3 2 40 % 10.06 6.0 10.03 6.2. Pelaksanaan Fungsi Legislasi DPRD Dalam pelaksanakan fungsi legislasi DPRD dapat dilihat dari terlaksananya hak yang dimiliki.0 47. 32 tahun 2004. Hak yang berhubungan lansung dengan fungsi legislasi adalah hak inisiatif DPRD dan hak mengadakan perubahan terhadap Raperda.50 2. baik pada tahap persiapan. Adapun Perda yang diusulkan DPRD . sedangkan 39 Perda lainnya berasal dari Pemerintah Daerah.5 7. Menurut UU No. penetapan maupun pengundangan.2005 hanya 1 dari Perda tersebut yang rancangannya berasal dari inisiatif DPRD. Mahasiswa Pengusaha Ibu Rumah Tangga Dagang Jumlah 5 14 2 7 1 2 2 33 6.42 % 15.00 100 Periode 2004-2009 Pensiunan PNS Wiraswasta Pengacara Ex. Dalam pelaksananaan hak mengajukan Raperda atau hak inisiatif yang dimiliki DPRD dari 40 Perda yang dihasilkan oleh DPRD Kota Jambi dari Tahun 2003.

dan apakah sesuai dengan kondisi objektif di daerah. dapat diketahui bahwa yang menjadi pertimbangan bagi dewan dalam pembahasan terhadap Raperda ini. 1 Tahun 2005 tentang Kedudukan keuangan pimpinan dan anggota DPRD Kota Jambi. Sementara itu pengambilan keputusan dilakukan secara musyawarah. yang diusulkan DPRD pada tahun 2005 berjumlah 2 Perda. Adanya inisiatif DPRD tersebut di atas. . 60 % dari responden berpendapat sama yaitu apakah tidak bertentangan dengan peraturan perundangundangan yang lebih tinggi. Kalau dibandingkan dengan DPRD Kabupaten Muaro Jambi. tidak terlalu memberatkan kepada masyarakat.Muaro Jambi Hasil wawancara dengan responden . Hal ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 5: Perda yang dihasilkan DPRD Kota Jambi dan DPRD Kabupaten Muaro Jambi Tahun 2003-2005. 30 % responden lainnya menambahkan yaitu mempertimbangkan anggaran yang ada. dapat dilakukan dalam proses pembahasan Raperda oleh DPRD bersama Kepala Daerah. serta sarana pendukung pelaksanaan Perda dan 10 % lainnya menambahkan yaitu tidak merugikan kepada pemerintah daerah. . Dari jumlah 60 Perda yang tebentuk selama tahun 2003-2005. Ini menunjukan adanya pemahaman responden terhadap norma-norma yang berlaku dalam pembentukan Perda. sehingga kebenaran yang dihasilkan berdasarkan jumlah anggota yang menyatakan persetujuan. walaupun dalam kapasitas yang sangat minim. yang dilakukan dalam empat tahap pembicaraan. Proses pembahasan Raperda ini telah diatur dalam Peraturan Tata Tertib DPRD Kota Jambi. Sedangkan dalam mengadakan perubahan terhadap Raperda. maka keputusan diambil berdasarkan atas suara terbanyak. DPRD Kota Jambi Tahun Raper da 2003 2004 2005 13 11 16 Inisiatif Pemda 13 11 15 0 0 1 Inisiatif DPR Jumlah Perda 13 11 16 38 14 16 DPRD Kab. apabila tidak diperoleh kesepakatan. hal ini menunjukan adanya tanggung jawab moral yang dimiliki oleh anggota DPRD. Muaro Jambi Raper da 38 14 14 Inisiatif Pemda 0 0 2 Inisiatif DPRD Jum lah 38 12 10 Sumber: Sekretariat DPRD Kota Jambi dan DPRD Kab. Selain ketiga hal tersebut.yaitu Perda No..

sehingga dapat memudahkan anggota DPRD untuk mengajukan Raperda.3. tugas dan wewenang serta hak dan kewajiban harus memenuhi syarat yang telah ditentukan. 40 % dari responden menyatakan mendapatkan pelatihan hanya awal dilantik menjadi anggota DPRD.. tiga orang dari responden menyatakan kurangnya inisiatif untuk mengajukan Raperda juga disebabkan oleh ketentuan yang diatur dalam Peraturan tata Tertib DPRD. Sarana dan Prasarana . 3. Hasil wawancara yang dilakukan dengan responden. shehubungan dengan bidang kerja komisi yang diwakili. Peraturan Tata Tertib DPRD yang merupakan acuan bagi Dewan untuk menjalankan fungsinya. Sedangkan 60% responden lainnya telah beberapa kali mengikuti pelatihan. sejalan dengan UU No.4. Selanjutnya dengan diperbaharui peraturan tata tertib DPRD periode 2004-2009. menangkap dan menyerap aspirasi masyarakat dan merumuskan dalam bentuk kebijakan publik.. 32 Tahun 2004 yang tela memberikan kekuasaan untuk membentuk Perda pada DPRD. maka kedepan diharapkan semakin banyak jumlah Perda yang diusulkan Dewan. akan menyulitkan anggota DPRD dalam menuangkan pikiran serta menganalisa suatu permasalahan guna menuangkannya dalam pembentukan Perda. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pelaksanaan Fungsi Legislasi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Adapun factor-faktor yang mempengaruhi pelaksanaan fungsi legislasi DPRD adalah sumber daya manusia atau kualitas anggota DPRD sangat menentukan agar mampu memainkan peranan dalam arti mampu menngunakan hak-hak secara tepat. yang meniadakan persyaratan tentang jumlah fraksi untuk dapat mengusulkan Raperda.Dengan demikian menunjukan bahwa pelatihan yang diperoleh anggota DPRD belum merata terhadap semua anggota DPRD. bahwa hak inisiatif merupakan hak anggota DPRD bukan hak DPRD (lembaga). Kurangnya pengetahuan dan pengalamn yang dimiliki sehubungan dengan bidang tugasnya. apalagi dengan penegasan.3. melalui orientasi yang diberikan kepada semua anggota DPRD. Untuk itu anggota DPRD harus didukung dengan tingkat pendidikan dan pengalaman di bidang organisasi kemasyarakatan dan pemerintahan. Jelaslah bahwa kualitas anggota yaitu tingkat pendidikan dan latar belakang keilmuan yang terkaitserta pengalaman dalam bidang pemerintahan sangat mempengaruhi kemampuan dan ketrampilan teknis yang berkaitan dengan bidang tugasnya DPRD seperti menyusun Raperda. diantaranya suatu usul tentang Raperda tersebut harus diajukan oleh sekurang-kurangnya 5 orang anggota Dewan yang terdiri dari lebih satu fraksi. Dari hasil wawancara dengan sepuluh orang responden.. melaksanakan tugas dan kewajiban secara efektif dan menempatkan kedudukannya secara proposional.

Sedangkan alokasi anggaran untuk merancang suatu Perda oleh DPRD ternyata tidak ada. dilihat dari kualitas anggota DPRD. keberadaan tenaga ahli ini diperlukan untuk memberikan masukan dari segi muatan suatu Raperda yang dibahas untuk dapat mempertinggi bobot kerja DPRD dalam pembentukan Perda. sehubungan dengan pelaksanaan hak inisiatifnya dapat dikatakan masih kurang apabila dibandingkan dengan hak inisiatif DPRD Kabupaten Muaro Jambi . a. Kurangnya peranan DPRD dalam menggunakan hak inisiatifnya. Hal ini karena dari 40 Perda yang telah dihasilkan mulai tahun 2003-2005. hanya 1 Perda (2. Faktor-faktor yang mempengaruhi DPRD dalam pelaksanaan fungsinya adalah factor (a) Sumber Daya Manusia. seperti biaya operasional pansus. Sedangkan dalam pelaksanaan hak mengadakan perubahan terhadap Raperda . Kesimpulan a. diketahui bahwa dana yang ada untuk menunjang kinerja Dewan adalah dana untuk membahas suatu Raperda. juga dapat dikatakan sebagai langkah maju karena sudah mulai memainkan perannya sebagaimana yang diatur dalam peraturan peraturan perundang-undangan. sehingga DPRD kurang memiliki keterampilan teknis yang berkaitan dengan bidang tugasnya seperti menyusun Raperda. Berkaitan dengan ini tidak kalah pentinya adanya dana yang tersedia agar DPRD dapat menjalankan fungsinya. (b) Peraturan Tata Tertib DPRD. .1.5%) dari Perda tersebut yang berasal dari inisiatif DPRD. Kemudian dilihat dari sarana dan prasarana . dari 60 Perda yang dihasilkan selama tahun 2003-2005 hanya 2 Perda (3. Bahwa pelaksanaan fungsi DPRD Kota Jambi. berdasarkan hasil wawancara dengan responden maupun informan yang diperoleh dari bagian persidangan DPRD Kota Jambi. sangat sedikit anggota DPRD yang memiliki pengetahuan dan pengalaman yang menunjang kemampuan guna menyusun suatu Raperda dan ditambah lagi kurangnya pelatihan-pelatihan yang diperoleh untuk meningkatkan kualitas anggota maupun kurangnya kesempatan yang diberikan untuk mengikuti seminar-seminar yang berkualitas. (c) Sarana dan Prasarana.Peranan DPRD dalam melaksanakan fungsinya juga dipengaruhi sarana dan prasarana yang diperlukan guna menunjang berperannya DPRD dalam melaksanakan fungsinya. IV.33%) yang merupakan inisiatif DPRD. Untuk itu diperlukan adanya fasilitas dan tenaga ahli DPRD guna membantu DPRD dalam menjalankan fungsinya. guna menunjang kualitas sumber daya manusia anggota DPRD. KESIMPULAN DAN SARAN 4.Berdasarkan hasil wawancara dengan responden mengungkapkan bahwa dalam pembentukan Perda. Begitu juga dengan DPRD Kabupaten Muaro Jambi.

Perlu menyediakan anggaran untuk penyusunan Raperda inisiatif DPRD. Dan perlu kirannya disediakan tenaga ahli dari berbagai disiplin ilmu yang menunjang fungsi DPRD. tetapi juga lebih dari itu. d. 4. baik dari segi pendidikan. DAFTAR PUSTAKA Buku . sehingga dapat lebih mempermudah anggota DPRD mendapat informasi dalam menjalankan fungsinya. yang merupakan salah satu fasilitasi bagi DPRD dalam menyusun Raperda. seperti perpustakaan dan minimnya buku-buku serta bahan-bahan lainnya belum sepenuhnya menunjang kelancaran tugas Dewan. 2. Agar sekretariat DPRD berperan aktif menunjang kinerja DPRD. pengalaman dan juga pelatihan-pelatihan yang berhubungan dengan tugas serta fungsi yang dimiliki DPRD. c. seperti melengkapi perpustakaan dengan literature penunjang maupun sarana informasi lainnya seperti internet. Perlu diperluass tugas dari tenaga ahli yang tidak hanya bertugas paruh waktu. Perlu dilakukan peningkatan kualitas anggota DPRD.yang ada. Saran a. b. bukan saja memberikan masukan .

Lubis. Menyonsong Fajar Otonomi Daerah. 1990. Mandasr Maju. {PSHP UNJA. Raja Grafindo. Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji dalam Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat. 1999. Jakarta.) Rozali Abdullah. 1995. 1989. Jambi.Saragih. 2000) . Raja Grafindo. Fungsi Legislatif Dalam Sistem Politik Indonesia.Bagir Manan.T. Gaya Josef R. Rajawali Pers. (PSHP UNJA. Kaho. Sistem dan Teknik Pembuatan Peraturan Daerah. . Bandung. 2002 Bintan R. Prospek Otonomi Daerah di Negara Republik Yogyakarta. Miriam Budiardjo dan Ibrahim Ambong. Indonesia. Solly M. Jakarta. Jambi. Landasan dan Teknik Perundang-undangan . Lembaga Perwakilan dan Pemilihan Umum di Indonesia. Pusat Studi Hukum (PSH) Fakultas Hukum UII Yogyakarta. Media Pratama. P. Fauzi Syam. Jakarta. Produk Hukum Daerah. 1988. 1997.

III/MPR/2000 UU No. 5 Tahun 1974 UU No. 44 Tahun 1999 Tatip DPRD Kota Jambi Tatip DPRD Kabupaten Muaro Jambi . 32 Tahun 2004 Kepres No.Peraturan Perundang-undangan UUD 1945 Tap MPR RI No. 22 Tahun 1999 UU No.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful