Pada reaksi redoks terdapat reduktor dan oksidator dimana reduktor adalah zat yang dalam reaksi mengalami

oksidasi, zat yang mampu mereduksi zat lain dan zat yang dapat memberikan electron kepada zat lain sedangkan oksidator adalah zat yang dalam reaksi mengalami penurunan bilangan oksidasi, zat yang mampu mengoksidasi zat lain, zat yang menangkap elaktron dari zat lain (Keenan, 1986). Reduksi–oksidasi adalah proses perpindahan elektron dari suatu oksidator ke reduktor. Reaksi reduksi adalah reaksi penangkapan elektron atau reaksi terjadinya penurunan bilangan oksidasi. Sedangkan reaksi oksidasi adalah pelepasan elektron atau reaksi terjadinya kenaikan bilangan oksidasi. Jadi, reaksi redoks adalah reaksi penerimaan elektron dan pelepasan elektron atau reaksi penurunan dan kenaikan bilangan oksidasi. Reaksi redoks secara umum dapat dituliskan sebagai berikut : Ared + Boks  Aoks + Bred Jika suatu logam dimasukkan ke dalam larutan yang mengandung ion logam lain, ada kemungkinan terjadi reaksi redoks, misalnya: Ni(s) + Cu2+(l)  Ni2+ + Cu(s) Artinya logam Ni dioksidasi menjadi Ni2+ dan Cu2+ di reduksi menjadi logam Cu. Demikian pula peristiwa redoks tersebut terjadi pada logam lain seperti besi. Sepotong besi yang tertutup lapisan air yang mengandung oksigen akan mengalami korosi (Arsyad, 2001). Titrasi redoks merupakan analisis titrimetri yang didasarkan pada reaksi redoks. Pada titrasi redoks, sampel yang dianalisis dititrasi dengan suatu indikator yang bersifat sebagai reduktor atau oksidator, tergantung sifat dari analit sampel dan reaksi yang diharapkan terjadi dalam analisis. Titik ekuivalen pada titrasi redoks tercapai saat jumlah ekuivalen dari oksidator telah setara dengan jumlah ekuivalen dari reduktor. Bebrapa contoh dari titrasi redoks antara lain adalah titrasi permanganometri dan titrasi iodometri/iodimetri. Titrasi iodometri menggunakan larutan iodium (I2) yang merupakan suatu oksidator sebagai larutan standar. Larutan iodium dengan konsentrasi tertentu dan jumlah berlebih ditambahkan ke dalam sampel, sehingga terjadi reaksi antara sampel dengan iodium. Selanjutnya sisa iodium yang berlebih dihiung dengan cara mentitrasinya dengan larutan standar yang berfungsi sebagai reduktor (Karyadi, 1994). Titrasi redoks dapat dibedakan menjadi beberapa cara berdasarkan pemakainnya: 1. 2. Na2S2O3 sebagai titran dikenal sebagai iodimetri tak langsung. I2 sebagai titran, dikenal sebagai iodimetri langsung dan kadang–kadang dinamakan iodometri.

kemudian semua besi direduksi menjadi Fe2+. Permanganometri adalah titrasi redoks yang menggunakan KMnO4 (oksidator kuat) sebagai titran. Dikenal berbagai macam titrasi redoks yaitu permanganometri. Untuk pembakuan tersebut digunakan zat baku yang disebut larutan baku primer.kalsium diendapkan sebagai kalsium oksalat kemudian endapan dilarutkan dan oksalatnya dititrasi dengan permanganat. mudah terurai. serimetri. Dalam suatu titrasi. maka larutan KMnO4 harus distandarisasi. Larutan natrium tiosulfat merupakan standar sekunder dan dapat distandarisasi dengan kalium dikromat atau kalium iodidat. Kalium dikromat merupakan standar primer. Titrasi dengan iodium ada dua macam yaitu iodimetri (secara langsung). Permanganometri dapat digunakan untuk penentuan kadar besi. mula-mula . pembakuan juga bisa dilakukan dengan menggunakan larutan baku sekunder. K2CrO7 c. Dalam iodometri digunakan larutan tiosulfat untuk mentitrasi iodium yang dibebaskan. yaitu larutan yang konsentrasinya dapat diketahui dengan cara penimbangan zat secara seksama yang digunakan untuk standarisasi suatu larutan karena zatnya relatif stabil. 1990). sedangkan dalam iodometri ion iodida digunakan sebagai reduktor. yaitu larutan yang konsentrasinya dapat diketahui dengan cara dibakukan oleh larutan baku primer. dikromatrometri. Pada penentuan besi. Senyawa dikromat merupakan oksidator kuat. Dikromatometri adalah titrasi redoks yang menggunakan senyawa dikromat sebagai oksidator. Selain itu. dan iodometri (cara tidak langsung). perlu dilakukan pembakuan. Dalam permanganometri tidak dipeerlukan indikator . Suatu oksidator kuat sebagai titran. tetapi lebih lemah dari permanganat. kalsium dan hidrogen peroksida. pada bijih besi mula-mula dilarutkan dalam asam klorida.3. antara lain dengan arsen(III) oksida (As2O3) dan Natrium oksalat (Na2C2O4). Reduktor kuat sebagai titran (Harjadi. karena titran bertindak sebagai indikator (auto indikator). bila larutan titran dibuat dari zat yang kemurniannya tidak pasti. Kalium permanganat bukan larutan baku primer. dan higroskopis (Khopkar. iodo-iodimetri dan bromatometri. Penggunaan utama dikromatometri adalah untuk penentuan besi(II) dalam asam klorida. karena sifatnya yang labil. Sedangkan pada penetapan kalsium. diantaranya paling sering dipakai ialah: a. Dalam iodimetri iodin digunakan sebagai oksidator. KMnO4 b. Baik dalam iodometri ataupun iodimetri penentuan titik akhir titrasi didasarkan adanya I2 yang bebas. . Ce (IV) d. baru dititrasi secara permanganometri. 1993).

Suatu kelebihan ion iodida di tambahkan kepada perekasi oksidasi yang ditentukan dengan larutan natrium tiosulfat. Arus listrik dapat menghasilkan reaksi redoks. Persamaan elektrokimia yang berguna dalam perhitungan potensial sel adalah persamaan Nernst. Hubungan reaksi redoks dan perubahan energi adalah sebagai berikut: Reaksi redoks melibatkan perpindahan elektron. Reaksi redoks dapat digunakan dalam analisis volumetri bila memenuhi syarat. contoh sel elektrolisis. tetapi harus distandarisasi dengan standar primer. Titrasi redoks adalah titrasi suatu larutan standar oksidator dengan suatu reduktor atau sebaliknya. dan ada banyak prose penggunaan iodimetrik. yang kemudian dititrasi dengan natrium tiosulfat (Underwood. 2002 ) PRINSIP TITRASI REDOKS Reaksi oksidasi reduksi atau reaksi redoks adalah reaksi yang melibatkan penangkapan dan pelepasan elektron. larutan tidak boleh distandarisasi dengan penimbangan secara langsung. 1999). Iodimetri adalah suatu proses analitik tak langsung yang memlibatkan iod. Ada dua cara untuk menyetarakan persamaan reaksi redoks yaitu metode bilangan oksidasi dan metode setengah reaksi (metode ion elektron).Dalam proses analitis iod diguankan sebagai zat pengoksid (iodimetri ). Tembaga murni dapat digunakan sebagi standar primer untuk natrium tiosulfat ( Day & Underwood. dan ion iodida digunakan sebagai zat pereduksi (iodimetri). Reaksi redoks dapat menghasilkan arus listrik. Daftar Pustaka . Relatif beberapa zat merupakan pereaksi reduksi yang cukup kuat untuk dititrasi secara langsung dengan iodium. Dalam setiap reaksi redoks. Akan tetapi banyak pereaksi oksidasi yang cukup kuat untuk bereaksi sempurna dengan ion iodida. larutan natrium tiosulfat tidak stabil untuk waktu yang lama. Sel galvani dan sel elektrolisis adalah sel elektrokimia. Ion iodida berlebih ditambahkan pada suatu zat pengoksid sehingga membebaskan iod. jumlah elektron yang dilepaskan oleh reduktor harus sama dengan jumlah elektron yang ditangkap oleh oksidator. Garam ini biasanya berbentuk sabagai pentahidrat Na2S2O3. contoh: sel galvani. dasarnya adalah reaksi oksidasi-reduksi antara analit dengan titran.5H2O. Maka jumlah penentuan iodimetrik adalah sedikit. Arus listrik adalah perpindahan elektron. Larutan standar yang digunakan dalam kebanyakan proses iodometri adalah natrium tiosulfat.

. Konsep Dasar Kimia Analitik. Keenan. Gramedia Pustaka Utama. (2002). Karyadi. 1993. Penerbit Erlangga. Gramedia Pustaka Utama. 1989. Jakarta. R. Benny.M. Jakarta. Edisi. 1990. W. Day. 1994. 2001. Erlangga. UI-Press. L.Arsyad. A. Khopkar. Ilmu Kimia Analitik Dasar. S. C. Kimia Untuk Universitas. and A. Kimia 2. M Natsir. Jakarta . . Harjadi. Jakarta. Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah. Underwood. Keenam. Jakarta. Jakarta. Analisis Kimia Kuantitatif. Balai Pustaka.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful