Perbedaan Sistem Hukum Pidana Antara Indonesia Dengan Filipina Dan, Karakteristiknya

Makalah ini di sususn untuk memenuhu tugas perbandingan hukum pidana Dengan dosen pengampu AHMAD BAHIEJ, SH., M.Hum. Di susun oleh: Nama : ERIC TANJUNG NIM: 09340013 SMTR: VII Prodi ilmu hukum universitas islam negeri sunan kalijaga Yogyakarta

diperlukan terlebih dahulu adanya perencanaan hukum (legal planning) yang dapat menampung segala kebutuhan dalam suasana perubahan-perubahan sosial atau dinamika masyarakat.W. Jika masyarakat berkembang. Akibatnya. maka konsepsi-konsepsi hukum akan menjadi lebih sempurna dan kepentingan yang dilindungi akan berubah. Dengan perbandingan hukum akan memperluas cakrawala berpikir serta memberi kesadaran kepada perencana/pelaksana pembangunan hukum itu bahwa bagi setiap masalah hukum terbuka lebih dari hanya satu cara untuk mengatasinya. Paton tersebut adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi.. tidak ada alasan bagi kita untuk berusaha tidak menjawab berbagai permasalahan tersebut. berbagai sarana dan pranata-pranata yang telah ada seperti peraturan perundang-undangan menjadi ketinggalan dan tidak sesuai lagi dengan dinamika masyarakat dan pembangunan zaman. Latar Belakang Paton mengatakan bahwa semua masyarakat yang telah mencapai tingkat perkembangan tertentu harus menciptakan suatu sistem hukum untuk melindungi kepentingan-kepentingan tertentu. Harus terlebih dahulu kita mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam tentang sistem hukum asing. Apalagi dalam perkembangan kehidupan masyarakat modern sekarang ini. budaya. Akibat kemajuan teknologi.BAB I PENDAHULUAN A. Dalam rangka pembangunan hukum itu. Kemajuan-kemajuan dalam bidang sosial. maka setiap negara akan cenderung memperbandingkan dirinya dengan negara lain.2 Di sinilah letak perlunya Perbandingan Hukum (Comparative Law). hubungan komunikasi semakin cepat. dan teknologi bergerak begitu cepat. dengan maksud untuk memelihara keseimbangan dan harmonisasi antar negara sehingga tujuan nasional masing-masing dapat tercapai. “Legal Planning” itu bukan pekerjaan yang mudah.1 Statement yang dikemukakan G. . Namun sebagaimana dikatakan Sunaryati Hartono. jarak-jarak antar negara semakin rapat. Menurut Paton selanjutnya.

Dengan perbandingan hukum disadari bahwa ada cara-cara lain yang mungkin memecahkan persoalan yang dihadapi. Identifikasi Masalah Dalam makalah ini. khususnya perbandingan hukum pidana Indonesia dan Filipina pada dasarnya menunjukkan suatu rangkaian kegiatan membanding-bandingkan sistem hukum yang satu dengan sistem hukum yang lain. dengan perkataan lain membanding-bandingkan lembaga hukum (legal institution) dari suatu sistem (stelsel) hukum dengan lembaga hukum dari sistem hukum yang lain. Tujuan Penulisan Perbandingan hukum (Rechtsvergelijking). kita akan dapat menemukan unsur-unsur persamaan (similaritas) dan juga unsur-unsur yang berbeda (divergensi) dari kedua lembaga ataupun sistem hukum itu Dari segi pendidikan hukum. Peranan dan manfaat perbandingan hukum pidana kedua negara bagi pembaharuan hukum pidana nasional. .B. terdapat beberapa masalah yang diidentifikasi sebagai berikut 1. memperbandingkan sistem hukum kedua negara. Dengan melakukan perbandingan itu. perbandingan hukum antara sistem hukum Indonesia dengan Filipina juga bermanfaat secara praxis baik untuk jurisprudensi. Sehubungan dengan hal itu. Selanjutnya mengenai manfaat perbandingan hukum khususnya hukum pidana penulis uraikan dalam bab tersendiri. Di samping manfaat secara ilmiah di atas. Perbedaan sistem hukum pidana antara Indonesia yang menganut sistem hukum eropa kontinental dengan Filipina yang menganut sistem hukum anglo saxon dan karakteristiknya masing-masing. 2. C. dan harmonisasi hubungan internasional. penulis mencoba merumuskan batasan masalah. legislasi. maka rechts vergelijking akan sangat bermanfaat untuk membuka cakrawala berpikir yang lebih luas bagi para mahasiswa sehingga tidak menjadi picik dan sempit. agar masalah yang akan dibahas dapat terarah.

Ketika negara-negara Eropa Kontinental ini melakukan penjajahan ke berbagai bagian bumi baik di Asia. Walaupun pada akhirnya kita dapat melihat suatu kecenderungan (tendency) bahwa ciri-ciri khas masing-masing sistem hukum pidana tersebut semakin tidak tegas lagi. Sistem Hukum Pidana Indonesia Sistem hukum pidana Indonesia adalah sistem hukum pidana yang menganut sistem hukum pidana eropa kontinental. yaitu sistem hukum pidana eropa kontinental yang dianut oleh Indonesia dan sistem hukum pidana anglo saxon yang dianut oleh Filipina. Dalam Ilmu Hukum Pidana dewasa ini lazim dikenal adanya 2 (dua) sistem hukum pidana yang paling menonjol dan mengemuka yang masing-masing mempunyai ciriciri khas ataupun karakteristik sendiri pula. Spanyol. Afrika. Karakteristiknya Di dunia sebenarnya terdapat berbagai sistem hukum dengan karakteristiknya maupun dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ada beberapa ciri khas ataupun karakteristik dari sistem hukum pidana Indonesia yang menganut sistem hukum pidana eropa kontinental. Pada awalnya sistem hukum pidana Eropa Kontinental ini berasal dari hukum Romawi kuno yang selanjutnya diresepsi dalam kode Napoleon. Dari sinilah kemudian menyebatr ke berbagai daratan Eropa seperti Jerman. maka mereka turut menerapkan sistem hukum pidana seperti yang dipakai di negara asal mereka di negara-negara yang mereka jajah. dan lain-lain. lazim dipergunakan di negara-negara Eropa daratan. antara lain dalam hal: Pengkodifikasiannya . dan lain sebagainya. Perbedaan Sistem Hukum Pidana Antara Indonesia Dengan Filipina Dan Masing-Masing. Dalam bab ini penulis mencoba megemukakan tentang dua sistem hukum pidana yang. 1.BAB II PEMBAHASAN A. yang pada umumnya sistem hukum pidana tersebut berlanjut sampai sekarang. Hal ini baik karena pertimbang-pertimbangan teknis maupun karena adanya kebutuhan hukum yang semakin kompleks. selama berpuluh tahun bahkan beratus tahun. Belanda.

Di Indonesia dianut sistem di mana Hakim atau Majelis Hakim yang mengadili perkara pidana. . seperti: Undang-undang No. dapat dikatakan bahwa dalam sistem Eropa Continental yang dianut oleh Indonesia. Dengan telah tertulisnya semua ketentuan tentang hukum pidana. Hal ini menunjukkan bahwa sumber hukum pidana yang utama dalam negara-negara yang menganut sistem Eropa Kontinental adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidananya. semakin lama semakin banyak dan menumpuk juga. Selanjutnya sistem hukum pidana Indonesia mempergunakan sistem peradilan yang berbeda dengan sistem hukum pidana Filipina. Di Indonesia misalnya dapat dikatakan bahwa materi hukum pidana di luar KUHP (hukum pidana khusus) justru lebih banyak dan terus bertambah. Berbagai ketentuan hukum pidana dalam rangka kodifikasi ini dimuat dan diatur dalam suatu Kitab Hukum Pidana yang dikenal dengan istilah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).1 Tahun 1961. namun pada umumnya dapat dikatakan bahwa sistem hukum pidana Eropa Kontinental adalah terkodifikasi. dengan kata lain hakim atau majelis hakimlah yang menentukan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa dan sekaligus menjatuhkan putusannya baik berupa pemidanaan ataupun pembebasan. Hal yang sama juga terdapat di Indonesia yang memang diresepsi dari hukum pidana Belanda dahulu. UU No. karena diundangkan sekaligus dalam satu kitab. Dalam perkembangannya sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya.9 Tahun 1976 tentang Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika. lebih terjamin adanya kepastian hukum. Undang-Undang No.3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sebagai contoh dapat disebutkan adalah Hukum Pidana Belanda (yang semula berasal dari Code Penal Perancis) terdapat dalam satu kitab yang terdiri dari tiga buku. Walaupun kepastian hukum yang terkandung dalam sistem ini adalah kepastian hukum yang bersifat formal yang dalam hal-hal tertentu selalu tertinggal oleh perkembangan peradaban dan kesadaran hukum masyarakat.Kendatipun dalam perkembangannya sukar untuk menentukan sistem hukum pidana mana yang lebih terkodifikasi. ternyata perundang-undangan Hukum Pidana atau perundang-undangan yang di dalamnya terdapat materi hukum pidana. Undang-Undang No. Karena itulah di negara-negara Eropa Kontinental sudah semakin berkembang kepastian hukum yang bersifat materil.7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian.8 Darurat 1955 tentang Tindak Pidana Imigrasi dan diubah menjadi UU No.

dan Amerika yang dalam sejarahnya pernah mengalami penjajahan dari negaranegara Anglo Saxon tersebut yang sampai saat ini masih menganut dan menerapkan sistem hukum pidana Anglo Saxon tersebut. Sistem Hukum Pidana Filipina Sistem hukum pidana Filipina adalah suatu sistem hukum pidana yang berasal dari negara-negara Anglo Saxon yaitu Amerika Serikat dan Inggris. Filipina. Temasuk ke dalam sistem ini adalah negara-negara lain baik itu di Asia. seperti: Undang-undang tentang kejahatan terhadap orang (Offences against the person act). dan lain-lain. Sebagaimana sistem Eropa Kontinental maka sistem hukum pidana Anglo Saxon mempunyai ciri-ciri yang khas pula. Jika Juri menentukan bersalah barulah Hakim (biasanya tunggal) . Undang-Undang tentang Pencurian (Theft Act). sehingga untuk memperlajarinya harus mengumpulkan terlebih dahulu berbagai yurisprudensi dan perundang-undangan yang bersangkutan. Hal ini nampaknya sejalan dengan ajaran Paul Van Schalten tentang “Het Open Sistem vanm Het Recht” yang pada dasarnya mengakui kesadaran hukum yang berkembang baik di kalangan penegak hukum dan masyarakat. Yurisprudensi maupun perundang-undangan lain (delegated Legislation). Inggris. Usaha untuk mengkofikasikannya baru bagian demi bagian yang sudah tercapai. Australia. dan negara-negara ex-dominionnya seperti Malaysia. Namun usaha untuk mengkofikasikan keseluruhannya dan mengunifikasikannya belum berhasil sepenuhnya. Di negara-negara Anglo Saxon seperti Amerika Serikat. Sumber-sumber ini berkembang terus dan bertambah tahun demi tahun. dan lain-lain sumber utama hukum pidananya bukan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang telah terkodifikasi tetapi adalah hukum umum (Common Law) baik berupa undangundang (Statue act). Oleh karena sumber hukum pidana yang utama adalah Common Law. kepastian hukum yang bersifat material yang dalam prakteknya senantiasa dapat mengikuti perkembangan kesadaran hukum dalam masyarakat. Undang-Undang tentang Kejahatan Seksual (Sexual Act). Kepastian hukum yang bersifat material ini lebih dihargai lagi bila kita lihat dari sistem pelaksanaan peradilan di negara Filipina yaitu sistem Juri. Afrika. Menurut sistem ini dalam suatu persidangan perkara pidana para Juri-lah yang menentukan apakah terdakwa atau tertuduh itu bersalah (guilty) atau tidak bersalah (not guilty) setelah pemeriksaan selesai.2.

Hal ini tentulah akan memperluas cakrawala ataupun wawasan berpikir kita sekaligus menghindarkan diri dari kepicikan dan mempunyai anggapan yang baik berupa anggapan bahwa hukum kitalah yang terbaik (chauvinistis) dan menilai orang baik tidak baik atau menganggapbahwa sistem kita tidak baik dibandingkan dengan sistem hukum negara lain (rasa rendah diri). Di samping itu dapat juga dilihat bahwa walaupun masyarakat dan kebudayaannya berbeda-beda tetapi dapat menyelesaikan persoalan yang sama dengan cara yang sama pula. Peranan dan Manfaat Perbandingan Sistem Hukum Pidana Indonesia dan Filipina Bagi Pembaharuan Hukum Pidana Nasional 1. maka hal itu adalah karena didorong adanya kebutuhan-kebutuhan akan manfaatnya bagi kita. Manfaat perbandingan hukum pidana secara ilmiah. Para sarjana hukum akan mempunyai legalr reasoning tentang suatu lembaga hukum yang ada. sedang suatu masyarakat yang mempunyai budaya yang sama mungkin dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan cara yang berbeda. B. Selanjutnya dengan perbandingan hukum dapat ditingkatkan kualitas pendidikan hukum.berperan menentukan berat ringannya pidana atau jenis pidananya. Dengan membanding-bandingkan berbagai sistem hukum pidana dari berbagai negara maka pengetahuan kita tentang hukum dan pranata-pranatanya akan semakin dalam dan luas. Manfaat Ilmiah dan Praktis Apabila kita melakukan perbandingan hukum pidana pada umumnya dan perbandingan hukum pidana antara Indonesia yang menganut sistem eropa continental dengan Filipina yang menganut sistem hukum anglo saxon. Bila Juri menentukan tidak bersalah maka Hakim membebaskan terdakwa (tertuduh). Hal ini karena kita dapat melihat bahwa terhadap suatu problem atau kebuthan yang sama dapat dicapai suatupenyelesaian atau problem solving yang berbeda-beda. di samping itu juga degan perbandingan hukum ini akan menimbulkan banyak inspirasi atas berbagai hal yang sekaligus merupakan usaha dan sumbangan yang berharga bagi perkembangan ilmu hukum pidana yang nantinya dapat berguna dalam praktek . di mana manfaat-manfaat tersebut secara garis besarnya dapat dibedakan dalam : a.

Pada mulanya ini akan berpengaruh sekali dalam bidang perdagangan dan politik. Apalagi hukum pidana suatu negara modern harus mencerminkan “several world view”. Oleh karena itulah kita sambut baik usaha pemerintah. dan diganti. Pembentukan Hukum Pidana Nasional yang Bermutu dan Up to Date Indonesia sampai sekarang mewarisi KUHP yang berasal dari masa penjajahan Belanda. yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini dan saat yang akan datang. perbandingan hukum sangat berguna bagi Pembuat Undang-Undang (Legislator) dalam badan legislatif. tetapi terjadi suatu tindak pidana yang menimbulkan adanya titiktaut dalam hukum pidana maa terasalah perlunya harmoniasi hukum pidana antar negara itu. diubah. KUHP tersebut dahulu disusun sesuai dengan ideologi penjajah dan sudah pasti sebagian ketentuannya telah ketinggalan zaman (out to date). Hal ini dikarenakan kita dapat mengambil bahan-bahan yang berguna bagi kita di Indonesia. Perbandinganhukum dapat memberi pengetahuan yang lebih baik untuk mentafsirkan suatu aturan perundang-undangan yang selanjutnya dapat melahirkan yurisprudensi-yuriusprudensi baru yang bermutu dan up to date. Termasuk juga. Dalam usaha untuk membentuk KUHP Nasional yang baru dan bermutu itulah kita suka atau tidak suka membutuhkan pengetahuan tentang berbagai sistem hukum pidana asing maupun juga dalam konteks ini Hukum Pidana Adat. Manfaat Perbandingan Hukum Pidana bagi Kegiatan Praktis Sebagaimana disebutkan di atas bahwa hukum asing banyak memberi bantuan dalam memecahkan persoalan-persoalan ang akan digunakan untuk pengembangan hukum sendiri. para Hakim bisa mendapat pandangan yang lebih baik mengnai arti ari aturan itu sendiri. Namun bagaimanapun juga. studi Perbandingan Hukum akan banyak manfaatnya. Sebagai contohnya dapat disebutkan adalah masalah-masalah kejahatan yang dapat diekstradisi. walaupun memang di sana-sini banyak yang sudah ditambah. Oleh karena iutu. mempelajari hukum pidana adat Indonesia oleh karena KUHP yang baru nanti sudah tentu harus mencerminkan keperibadian Indonesia. 2. dalam hal ini Kementerian Kehakiman.b. . yang sedang berusaha mempersiapkan Rancangan KUH Pidana Nasional yang baru. Dengan makin eratnya hubungan antara negara yang satu dengan negara yang lain (adanya interdependensi antar negara) maka akan timbul kebutuhan yang sangat akan adanya persesuaian (harmonisasi hukum pidana yang satu dengan yang lain). Bagi para Hakim. sebagaimana disebutkan di atas. Oleh karena dengan membandingkan aturan [erundang-undangan sendiri degan aturan perundang-undangan asing mengenai hal yang sama.

Selanjutnya hal-hal seperti kejahatan yang dilakukan oleh korporasio atau badan hukum. bermutu. Untuk itulah hukum pidana negara lain yang telah puluhan tahun lebih maju kehidupannya perlu dipelajari. KUHP Nasional yang baru harus mempunyai jangkauan puluhan tahun ke depan agar tidak berubah-ubah tiap sebentar. dan up to date.Dengan demikian para perencana undang-undang dan pembuat undang-undang pidana baik DPR maupun pihak pemerintahan dapat menarik manfaat dari studi perbandingan hukum pidana. Ada beberapa ketentuan dalam KUHP Indonesia sekarang yang harus didekriminalisasi dan ada pula halhal yang terjadi dalam masyarakat yang perlu didekriminalisasi dengan segera untuk mengantisipasi perkembangan zaman. penjualan alat-alat untuk menegah kehamilan yang dilarang dalam KUHP perlu ditinjau kembali. studi perbandingan hukum pidana adalah untuk memenuhi perintah Pasal 32 UUD 1945 dan penjelasannya yang berbunyi: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Penjelasan Pasal 32 UUD 1945: Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia. Sebagai contoh oleh Prof. Masalah yang berhubungan dengan Keluarga Berencana. serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab. Selanjutnya. Kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. kejahgatan dalam kegiatan bursa saham perlu mendapat perhatian pula untuk dimasukkan ke dalam ketentuan undang-undang pidana. Dalam hal ganti rugi kepada victim ini kita dapat mengambil pengalaman dari penerapan Bab V KUHP Philipina tentang Pertanggungjawaban Perdata yang antara lain menyatakan: “Bahwa setiap orang yang dipertanggungjawabkan pidana karena suatu kejahatan juga dipertanggungjawabkan karena kejahatan tersebut.H.” Dengan demikian dapatlah kita melihat bahwa perbandingan hukum pidana sangat perlu terutama dalam menyusun KUHP Nasional yang baru. . Dalam peraturan-peraturan modern mengenai kompensasi ataupun restitusi kepada “victim” tersebut ketentuan adat dapat berkembang ke dalamnya. Oemar Seno Adji. dikemukakan bahwa dalam rancangan KUHP yang baru di buku I dicantumkan adanya suatu sanksi adat pidana sebagai memenuhi kewajiban adat dan pembayaran ganti kerugian khususnya kepada korban pelanggaran. serta dapat mengantisipasi permasalahanpermasalahan hukum yang timbul di masa sekarang dan di masa depan. S.

dan lain sebagainya. Perbandingan hukum pidana sangat dibutuhkan dalam rangka penyusunan KUHP Nasional yang baru dan bermutu. 2. yaitu dengan menggali puncak-punak kebudayaan daerah berupa hukum pidana adat yang mempunyai nilai tinggi dan universal dan dengan memilih dan mengambil unsur-unsur hukum pidana negara lain yang lebih maju dan berguna. hukum publik dengan hukum privat.BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. . hukum yang sifatnya deskriptive dengan yang bersifat applied (praxis). 4. 3. Perbandingan hukum pidana (Comparative Criminal Law) mempunyai banyak manfaat baik secara ilmiah untuk meningkatkan kualitas pendidikan hukum dan pengembangan ilmu hukum pidana maupun secara praktis dalam bidang legislatif. Perbandingan hukum (rechtvergelijking) adalah suatu kegiatan membanding-bandingkan sistem hukum yang satu dengan sistem hukum yang lain ataupun membanding-bandingkan lembaga hukum (legal institution) dari suatu sistem hukum dengan lembaga hukum dari sistem hukum yang lain. hukum tertulis dengan hukum yang tidak tertulis (hukum adat). Kesimpulan Setelah melalui pembahasan pada bab-bab terdahulu maka penulis sampai kepada suatu kesimpulan yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut: 1. Studi Perbandingan Hukum pada hakekatnya adalah merupakan pelaksanaan dari Pasal 32 UUD 1945 beserta penjelasanya yaitu untuk memajukan kebudayaan nasional. judikatif (untuk pengembangan yurisprudensi) serta untuk meningkatkan hubungan internasional dengan danya harmoninasi hukum antar negara. Perbandingan hukum itu dapat dilakukan antara: hukum tertentu pada masa lampau dengan hukum yang sama dengan hukum yang sedang berlaku pada masa sekarang.

anggota DPR maupun para Staf Pengajar di Perguruan-Perguruan Tinggi khususnya di Jurusan Hukum Pidana Fakultas-Fakultas Hukum. jaksa. Pengambilan nilai-nilai budyaa asing dalam bidang hukum hendaklah dilakukan secara selektif dan tidak mengorbankan nilai-nilai kepribadian bangsa. lokakarya. dan lain-lain tentang perbandingan hukum (pidana) bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti para hakim. sebagai berikut: 1. Saran-Saran Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas penulis mencoba memberikan beberapa saran yang kiranya dapat berguna.B. 4. . 2. Diharapkan agar kitanya lembaga-lembaga pendidikan khususnya fakultas-fakultas hukum menjadikan mata kuliah perbandingan hukum pidana (Comparative Criminal Law) sebagai mata kuliah wajib dan termasuk dalam kurikulum minimal di Fakultas \fakultas hukum tersebut. Studi perbandingan hukum sebaiknya tidak hanya mempelahjari hukum pidana negara-negara lain tetapi juga mempelajari hukum pidana adat Indonesia yang cukup beraneka-ragam. Sebaiknya dapat dintensifkan kegiatan-kegiatan seperti up grading. 3.

.. terjemahan G. 1987. Soedarsono. 1992. 1987. BA. S. Paton George. 1983.H. Capita Selecta Perbandingan Hukum. Dr. 1985. Jakarta Hartono.H. SH. Bandung Sianturi. Oemar. 1998. Komentar Atas Seri Terjemahan KUHP Negara-Negara Asing. Prof. Penerbit Alumni AHM PT HM. Galia Indonesia. KUHP Republik Phlipina sebagai Perbandingan. dkk. Andi. Seno Adji. Andi. Alumni. Jakarta Hamzah. KUHP Republik Korea Sebagai Perbandingan. DR. R. Ghalia Indonesia. A Teks Book of Jurisprudentie. Jogyakarta .DAFTAR PUSTAKA Hamzah.. Hukum Pidana Perbandingan. Sunaryati. SH. Jakarta. S. Penerbit : Yayasan GP Gadjah Mada. Dr.. Ghalia Indonesia Whitecross.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful