P. 1
Perbedaan Sistem Hukum Pidana Antara Indonesia Dengan Filipina Dan

Perbedaan Sistem Hukum Pidana Antara Indonesia Dengan Filipina Dan

|Views: 1,076|Likes:
Published by Hobbygabus

More info:

Published by: Hobbygabus on Apr 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/23/2014

pdf

text

original

Perbedaan Sistem Hukum Pidana Antara Indonesia Dengan Filipina Dan, Karakteristiknya

Makalah ini di sususn untuk memenuhu tugas perbandingan hukum pidana Dengan dosen pengampu AHMAD BAHIEJ, SH., M.Hum. Di susun oleh: Nama : ERIC TANJUNG NIM: 09340013 SMTR: VII Prodi ilmu hukum universitas islam negeri sunan kalijaga Yogyakarta

.BAB I PENDAHULUAN A. Menurut Paton selanjutnya. Latar Belakang Paton mengatakan bahwa semua masyarakat yang telah mencapai tingkat perkembangan tertentu harus menciptakan suatu sistem hukum untuk melindungi kepentingan-kepentingan tertentu. Paton tersebut adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri lagi. Akibatnya.1 Statement yang dikemukakan G. . Kemajuan-kemajuan dalam bidang sosial. Dengan perbandingan hukum akan memperluas cakrawala berpikir serta memberi kesadaran kepada perencana/pelaksana pembangunan hukum itu bahwa bagi setiap masalah hukum terbuka lebih dari hanya satu cara untuk mengatasinya. Dalam rangka pembangunan hukum itu. berbagai sarana dan pranata-pranata yang telah ada seperti peraturan perundang-undangan menjadi ketinggalan dan tidak sesuai lagi dengan dinamika masyarakat dan pembangunan zaman. diperlukan terlebih dahulu adanya perencanaan hukum (legal planning) yang dapat menampung segala kebutuhan dalam suasana perubahan-perubahan sosial atau dinamika masyarakat.W. Harus terlebih dahulu kita mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam tentang sistem hukum asing. Apalagi dalam perkembangan kehidupan masyarakat modern sekarang ini. jarak-jarak antar negara semakin rapat. Akibat kemajuan teknologi. maka setiap negara akan cenderung memperbandingkan dirinya dengan negara lain. “Legal Planning” itu bukan pekerjaan yang mudah. Jika masyarakat berkembang. dengan maksud untuk memelihara keseimbangan dan harmonisasi antar negara sehingga tujuan nasional masing-masing dapat tercapai. tidak ada alasan bagi kita untuk berusaha tidak menjawab berbagai permasalahan tersebut. budaya.2 Di sinilah letak perlunya Perbandingan Hukum (Comparative Law). dan teknologi bergerak begitu cepat. maka konsepsi-konsepsi hukum akan menjadi lebih sempurna dan kepentingan yang dilindungi akan berubah. hubungan komunikasi semakin cepat. Namun sebagaimana dikatakan Sunaryati Hartono.

Selanjutnya mengenai manfaat perbandingan hukum khususnya hukum pidana penulis uraikan dalam bab tersendiri. Tujuan Penulisan Perbandingan hukum (Rechtsvergelijking). legislasi. perbandingan hukum antara sistem hukum Indonesia dengan Filipina juga bermanfaat secara praxis baik untuk jurisprudensi. penulis mencoba merumuskan batasan masalah.B. . memperbandingkan sistem hukum kedua negara. 2. C. dan harmonisasi hubungan internasional. Peranan dan manfaat perbandingan hukum pidana kedua negara bagi pembaharuan hukum pidana nasional. agar masalah yang akan dibahas dapat terarah. terdapat beberapa masalah yang diidentifikasi sebagai berikut 1. Sehubungan dengan hal itu. Di samping manfaat secara ilmiah di atas. khususnya perbandingan hukum pidana Indonesia dan Filipina pada dasarnya menunjukkan suatu rangkaian kegiatan membanding-bandingkan sistem hukum yang satu dengan sistem hukum yang lain. dengan perkataan lain membanding-bandingkan lembaga hukum (legal institution) dari suatu sistem (stelsel) hukum dengan lembaga hukum dari sistem hukum yang lain. maka rechts vergelijking akan sangat bermanfaat untuk membuka cakrawala berpikir yang lebih luas bagi para mahasiswa sehingga tidak menjadi picik dan sempit. Dengan melakukan perbandingan itu. Identifikasi Masalah Dalam makalah ini. kita akan dapat menemukan unsur-unsur persamaan (similaritas) dan juga unsur-unsur yang berbeda (divergensi) dari kedua lembaga ataupun sistem hukum itu Dari segi pendidikan hukum. Perbedaan sistem hukum pidana antara Indonesia yang menganut sistem hukum eropa kontinental dengan Filipina yang menganut sistem hukum anglo saxon dan karakteristiknya masing-masing. Dengan perbandingan hukum disadari bahwa ada cara-cara lain yang mungkin memecahkan persoalan yang dihadapi.

yang pada umumnya sistem hukum pidana tersebut berlanjut sampai sekarang. Perbedaan Sistem Hukum Pidana Antara Indonesia Dengan Filipina Dan Masing-Masing. dan lain sebagainya. dan lain-lain. Pada awalnya sistem hukum pidana Eropa Kontinental ini berasal dari hukum Romawi kuno yang selanjutnya diresepsi dalam kode Napoleon.BAB II PEMBAHASAN A. Sistem Hukum Pidana Indonesia Sistem hukum pidana Indonesia adalah sistem hukum pidana yang menganut sistem hukum pidana eropa kontinental. Dari sinilah kemudian menyebatr ke berbagai daratan Eropa seperti Jerman. Ketika negara-negara Eropa Kontinental ini melakukan penjajahan ke berbagai bagian bumi baik di Asia. Ada beberapa ciri khas ataupun karakteristik dari sistem hukum pidana Indonesia yang menganut sistem hukum pidana eropa kontinental. antara lain dalam hal: Pengkodifikasiannya . Belanda. Karakteristiknya Di dunia sebenarnya terdapat berbagai sistem hukum dengan karakteristiknya maupun dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing. Afrika. Spanyol. selama berpuluh tahun bahkan beratus tahun. 1. Hal ini baik karena pertimbang-pertimbangan teknis maupun karena adanya kebutuhan hukum yang semakin kompleks. maka mereka turut menerapkan sistem hukum pidana seperti yang dipakai di negara asal mereka di negara-negara yang mereka jajah. Dalam Ilmu Hukum Pidana dewasa ini lazim dikenal adanya 2 (dua) sistem hukum pidana yang paling menonjol dan mengemuka yang masing-masing mempunyai ciriciri khas ataupun karakteristik sendiri pula. lazim dipergunakan di negara-negara Eropa daratan. Dalam bab ini penulis mencoba megemukakan tentang dua sistem hukum pidana yang. Walaupun pada akhirnya kita dapat melihat suatu kecenderungan (tendency) bahwa ciri-ciri khas masing-masing sistem hukum pidana tersebut semakin tidak tegas lagi. yaitu sistem hukum pidana eropa kontinental yang dianut oleh Indonesia dan sistem hukum pidana anglo saxon yang dianut oleh Filipina.

Dengan telah tertulisnya semua ketentuan tentang hukum pidana.9 Tahun 1976 tentang Tindak Pidana Penyalahgunaan Narkotika. . Selanjutnya sistem hukum pidana Indonesia mempergunakan sistem peradilan yang berbeda dengan sistem hukum pidana Filipina.Kendatipun dalam perkembangannya sukar untuk menentukan sistem hukum pidana mana yang lebih terkodifikasi. lebih terjamin adanya kepastian hukum. Berbagai ketentuan hukum pidana dalam rangka kodifikasi ini dimuat dan diatur dalam suatu Kitab Hukum Pidana yang dikenal dengan istilah Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). namun pada umumnya dapat dikatakan bahwa sistem hukum pidana Eropa Kontinental adalah terkodifikasi. Dalam perkembangannya sebagaimana telah dikemukakan sebelumnya. Karena itulah di negara-negara Eropa Kontinental sudah semakin berkembang kepastian hukum yang bersifat materil.7 Tahun 1974 tentang Penertiban Perjudian.3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Di Indonesia dianut sistem di mana Hakim atau Majelis Hakim yang mengadili perkara pidana. Di Indonesia misalnya dapat dikatakan bahwa materi hukum pidana di luar KUHP (hukum pidana khusus) justru lebih banyak dan terus bertambah. ternyata perundang-undangan Hukum Pidana atau perundang-undangan yang di dalamnya terdapat materi hukum pidana. seperti: Undang-undang No. semakin lama semakin banyak dan menumpuk juga.1 Tahun 1961. dapat dikatakan bahwa dalam sistem Eropa Continental yang dianut oleh Indonesia.8 Darurat 1955 tentang Tindak Pidana Imigrasi dan diubah menjadi UU No. UU No. Sebagai contoh dapat disebutkan adalah Hukum Pidana Belanda (yang semula berasal dari Code Penal Perancis) terdapat dalam satu kitab yang terdiri dari tiga buku. Hal ini menunjukkan bahwa sumber hukum pidana yang utama dalam negara-negara yang menganut sistem Eropa Kontinental adalah Kitab Undang-Undang Hukum Pidananya. dengan kata lain hakim atau majelis hakimlah yang menentukan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa dan sekaligus menjatuhkan putusannya baik berupa pemidanaan ataupun pembebasan. Undang-Undang No. Walaupun kepastian hukum yang terkandung dalam sistem ini adalah kepastian hukum yang bersifat formal yang dalam hal-hal tertentu selalu tertinggal oleh perkembangan peradaban dan kesadaran hukum masyarakat. Undang-Undang No. Hal yang sama juga terdapat di Indonesia yang memang diresepsi dari hukum pidana Belanda dahulu. karena diundangkan sekaligus dalam satu kitab.

seperti: Undang-undang tentang kejahatan terhadap orang (Offences against the person act). Sumber-sumber ini berkembang terus dan bertambah tahun demi tahun. Usaha untuk mengkofikasikannya baru bagian demi bagian yang sudah tercapai.2. sehingga untuk memperlajarinya harus mengumpulkan terlebih dahulu berbagai yurisprudensi dan perundang-undangan yang bersangkutan. dan Amerika yang dalam sejarahnya pernah mengalami penjajahan dari negaranegara Anglo Saxon tersebut yang sampai saat ini masih menganut dan menerapkan sistem hukum pidana Anglo Saxon tersebut. Oleh karena sumber hukum pidana yang utama adalah Common Law. dan negara-negara ex-dominionnya seperti Malaysia. Di negara-negara Anglo Saxon seperti Amerika Serikat. Australia. Hal ini nampaknya sejalan dengan ajaran Paul Van Schalten tentang “Het Open Sistem vanm Het Recht” yang pada dasarnya mengakui kesadaran hukum yang berkembang baik di kalangan penegak hukum dan masyarakat. Afrika. Sistem Hukum Pidana Filipina Sistem hukum pidana Filipina adalah suatu sistem hukum pidana yang berasal dari negara-negara Anglo Saxon yaitu Amerika Serikat dan Inggris. kepastian hukum yang bersifat material yang dalam prakteknya senantiasa dapat mengikuti perkembangan kesadaran hukum dalam masyarakat. Jika Juri menentukan bersalah barulah Hakim (biasanya tunggal) . Yurisprudensi maupun perundang-undangan lain (delegated Legislation). Temasuk ke dalam sistem ini adalah negara-negara lain baik itu di Asia. Menurut sistem ini dalam suatu persidangan perkara pidana para Juri-lah yang menentukan apakah terdakwa atau tertuduh itu bersalah (guilty) atau tidak bersalah (not guilty) setelah pemeriksaan selesai. Undang-Undang tentang Kejahatan Seksual (Sexual Act). dan lain-lain sumber utama hukum pidananya bukan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana yang telah terkodifikasi tetapi adalah hukum umum (Common Law) baik berupa undangundang (Statue act). dan lain-lain. Namun usaha untuk mengkofikasikan keseluruhannya dan mengunifikasikannya belum berhasil sepenuhnya. Sebagaimana sistem Eropa Kontinental maka sistem hukum pidana Anglo Saxon mempunyai ciri-ciri yang khas pula. Undang-Undang tentang Pencurian (Theft Act). Kepastian hukum yang bersifat material ini lebih dihargai lagi bila kita lihat dari sistem pelaksanaan peradilan di negara Filipina yaitu sistem Juri. Inggris. Filipina.

Bila Juri menentukan tidak bersalah maka Hakim membebaskan terdakwa (tertuduh). maka hal itu adalah karena didorong adanya kebutuhan-kebutuhan akan manfaatnya bagi kita.berperan menentukan berat ringannya pidana atau jenis pidananya. Para sarjana hukum akan mempunyai legalr reasoning tentang suatu lembaga hukum yang ada. sedang suatu masyarakat yang mempunyai budaya yang sama mungkin dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan cara yang berbeda. Dengan membanding-bandingkan berbagai sistem hukum pidana dari berbagai negara maka pengetahuan kita tentang hukum dan pranata-pranatanya akan semakin dalam dan luas. Selanjutnya dengan perbandingan hukum dapat ditingkatkan kualitas pendidikan hukum. Manfaat perbandingan hukum pidana secara ilmiah. Di samping itu dapat juga dilihat bahwa walaupun masyarakat dan kebudayaannya berbeda-beda tetapi dapat menyelesaikan persoalan yang sama dengan cara yang sama pula. Peranan dan Manfaat Perbandingan Sistem Hukum Pidana Indonesia dan Filipina Bagi Pembaharuan Hukum Pidana Nasional 1. di mana manfaat-manfaat tersebut secara garis besarnya dapat dibedakan dalam : a. B. Hal ini karena kita dapat melihat bahwa terhadap suatu problem atau kebuthan yang sama dapat dicapai suatupenyelesaian atau problem solving yang berbeda-beda. di samping itu juga degan perbandingan hukum ini akan menimbulkan banyak inspirasi atas berbagai hal yang sekaligus merupakan usaha dan sumbangan yang berharga bagi perkembangan ilmu hukum pidana yang nantinya dapat berguna dalam praktek . Manfaat Ilmiah dan Praktis Apabila kita melakukan perbandingan hukum pidana pada umumnya dan perbandingan hukum pidana antara Indonesia yang menganut sistem eropa continental dengan Filipina yang menganut sistem hukum anglo saxon. Hal ini tentulah akan memperluas cakrawala ataupun wawasan berpikir kita sekaligus menghindarkan diri dari kepicikan dan mempunyai anggapan yang baik berupa anggapan bahwa hukum kitalah yang terbaik (chauvinistis) dan menilai orang baik tidak baik atau menganggapbahwa sistem kita tidak baik dibandingkan dengan sistem hukum negara lain (rasa rendah diri).

Oleh karena itulah kita sambut baik usaha pemerintah. Termasuk juga. KUHP tersebut dahulu disusun sesuai dengan ideologi penjajah dan sudah pasti sebagian ketentuannya telah ketinggalan zaman (out to date). Manfaat Perbandingan Hukum Pidana bagi Kegiatan Praktis Sebagaimana disebutkan di atas bahwa hukum asing banyak memberi bantuan dalam memecahkan persoalan-persoalan ang akan digunakan untuk pengembangan hukum sendiri. studi Perbandingan Hukum akan banyak manfaatnya. perbandingan hukum sangat berguna bagi Pembuat Undang-Undang (Legislator) dalam badan legislatif. yang sedang berusaha mempersiapkan Rancangan KUH Pidana Nasional yang baru. Namun bagaimanapun juga.b. sebagaimana disebutkan di atas. para Hakim bisa mendapat pandangan yang lebih baik mengnai arti ari aturan itu sendiri. tetapi terjadi suatu tindak pidana yang menimbulkan adanya titiktaut dalam hukum pidana maa terasalah perlunya harmoniasi hukum pidana antar negara itu. dalam hal ini Kementerian Kehakiman. Oleh karena iutu. Dengan makin eratnya hubungan antara negara yang satu dengan negara yang lain (adanya interdependensi antar negara) maka akan timbul kebutuhan yang sangat akan adanya persesuaian (harmonisasi hukum pidana yang satu dengan yang lain). Pembentukan Hukum Pidana Nasional yang Bermutu dan Up to Date Indonesia sampai sekarang mewarisi KUHP yang berasal dari masa penjajahan Belanda. Hal ini dikarenakan kita dapat mengambil bahan-bahan yang berguna bagi kita di Indonesia. yang lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia saat ini dan saat yang akan datang. mempelajari hukum pidana adat Indonesia oleh karena KUHP yang baru nanti sudah tentu harus mencerminkan keperibadian Indonesia. Pada mulanya ini akan berpengaruh sekali dalam bidang perdagangan dan politik. Perbandinganhukum dapat memberi pengetahuan yang lebih baik untuk mentafsirkan suatu aturan perundang-undangan yang selanjutnya dapat melahirkan yurisprudensi-yuriusprudensi baru yang bermutu dan up to date. Bagi para Hakim. Dalam usaha untuk membentuk KUHP Nasional yang baru dan bermutu itulah kita suka atau tidak suka membutuhkan pengetahuan tentang berbagai sistem hukum pidana asing maupun juga dalam konteks ini Hukum Pidana Adat. . diubah. Sebagai contohnya dapat disebutkan adalah masalah-masalah kejahatan yang dapat diekstradisi. Apalagi hukum pidana suatu negara modern harus mencerminkan “several world view”. Oleh karena dengan membandingkan aturan [erundang-undangan sendiri degan aturan perundang-undangan asing mengenai hal yang sama. dan diganti. 2. walaupun memang di sana-sini banyak yang sudah ditambah.

Untuk itulah hukum pidana negara lain yang telah puluhan tahun lebih maju kehidupannya perlu dipelajari. Selanjutnya. studi perbandingan hukum pidana adalah untuk memenuhi perintah Pasal 32 UUD 1945 dan penjelasannya yang berbunyi: Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Kebudayaan di daerah-daerah di seluruh Indonesia terhitung sebagai kebudayaan bangsa. Dalam peraturan-peraturan modern mengenai kompensasi ataupun restitusi kepada “victim” tersebut ketentuan adat dapat berkembang ke dalamnya. bermutu. serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. budaya dan persatuan dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri. Dalam hal ganti rugi kepada victim ini kita dapat mengambil pengalaman dari penerapan Bab V KUHP Philipina tentang Pertanggungjawaban Perdata yang antara lain menyatakan: “Bahwa setiap orang yang dipertanggungjawabkan pidana karena suatu kejahatan juga dipertanggungjawabkan karena kejahatan tersebut.” Dengan demikian dapatlah kita melihat bahwa perbandingan hukum pidana sangat perlu terutama dalam menyusun KUHP Nasional yang baru. penjualan alat-alat untuk menegah kehamilan yang dilarang dalam KUHP perlu ditinjau kembali. . Sebagai contoh oleh Prof. dikemukakan bahwa dalam rancangan KUHP yang baru di buku I dicantumkan adanya suatu sanksi adat pidana sebagai memenuhi kewajiban adat dan pembayaran ganti kerugian khususnya kepada korban pelanggaran. Masalah yang berhubungan dengan Keluarga Berencana. KUHP Nasional yang baru harus mempunyai jangkauan puluhan tahun ke depan agar tidak berubah-ubah tiap sebentar. Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab. S. Selanjutnya hal-hal seperti kejahatan yang dilakukan oleh korporasio atau badan hukum. Ada beberapa ketentuan dalam KUHP Indonesia sekarang yang harus didekriminalisasi dan ada pula halhal yang terjadi dalam masyarakat yang perlu didekriminalisasi dengan segera untuk mengantisipasi perkembangan zaman. kejahgatan dalam kegiatan bursa saham perlu mendapat perhatian pula untuk dimasukkan ke dalam ketentuan undang-undang pidana. Oemar Seno Adji. dan up to date.H. Penjelasan Pasal 32 UUD 1945: Kebudayaan bangsa ialah kebudayaan yang timbul sebagai buah usaha budinya rakyat Indonesia. serta dapat mengantisipasi permasalahanpermasalahan hukum yang timbul di masa sekarang dan di masa depan.Dengan demikian para perencana undang-undang dan pembuat undang-undang pidana baik DPR maupun pihak pemerintahan dapat menarik manfaat dari studi perbandingan hukum pidana.

Perbandingan hukum pidana sangat dibutuhkan dalam rangka penyusunan KUHP Nasional yang baru dan bermutu. hukum tertulis dengan hukum yang tidak tertulis (hukum adat). 2. hukum publik dengan hukum privat. . 3. yaitu dengan menggali puncak-punak kebudayaan daerah berupa hukum pidana adat yang mempunyai nilai tinggi dan universal dan dengan memilih dan mengambil unsur-unsur hukum pidana negara lain yang lebih maju dan berguna. Perbandingan hukum itu dapat dilakukan antara: hukum tertentu pada masa lampau dengan hukum yang sama dengan hukum yang sedang berlaku pada masa sekarang. Kesimpulan Setelah melalui pembahasan pada bab-bab terdahulu maka penulis sampai kepada suatu kesimpulan yang pada pokoknya menyatakan sebagai berikut: 1. Perbandingan hukum pidana (Comparative Criminal Law) mempunyai banyak manfaat baik secara ilmiah untuk meningkatkan kualitas pendidikan hukum dan pengembangan ilmu hukum pidana maupun secara praktis dalam bidang legislatif.BAB III KESIMPULAN DAN SARAN A. Studi Perbandingan Hukum pada hakekatnya adalah merupakan pelaksanaan dari Pasal 32 UUD 1945 beserta penjelasanya yaitu untuk memajukan kebudayaan nasional. 4. hukum yang sifatnya deskriptive dengan yang bersifat applied (praxis). judikatif (untuk pengembangan yurisprudensi) serta untuk meningkatkan hubungan internasional dengan danya harmoninasi hukum antar negara. Perbandingan hukum (rechtvergelijking) adalah suatu kegiatan membanding-bandingkan sistem hukum yang satu dengan sistem hukum yang lain ataupun membanding-bandingkan lembaga hukum (legal institution) dari suatu sistem hukum dengan lembaga hukum dari sistem hukum yang lain. dan lain sebagainya.

Pengambilan nilai-nilai budyaa asing dalam bidang hukum hendaklah dilakukan secara selektif dan tidak mengorbankan nilai-nilai kepribadian bangsa. Saran-Saran Berdasarkan hal-hal yang telah diuraikan di atas penulis mencoba memberikan beberapa saran yang kiranya dapat berguna. jaksa. 4.B. 2. . 3. Diharapkan agar kitanya lembaga-lembaga pendidikan khususnya fakultas-fakultas hukum menjadikan mata kuliah perbandingan hukum pidana (Comparative Criminal Law) sebagai mata kuliah wajib dan termasuk dalam kurikulum minimal di Fakultas \fakultas hukum tersebut. dan lain-lain tentang perbandingan hukum (pidana) bagi pihak-pihak yang berkepentingan seperti para hakim. sebagai berikut: 1. lokakarya. Studi perbandingan hukum sebaiknya tidak hanya mempelahjari hukum pidana negara-negara lain tetapi juga mempelajari hukum pidana adat Indonesia yang cukup beraneka-ragam. Sebaiknya dapat dintensifkan kegiatan-kegiatan seperti up grading. anggota DPR maupun para Staf Pengajar di Perguruan-Perguruan Tinggi khususnya di Jurusan Hukum Pidana Fakultas-Fakultas Hukum.

R. KUHP Republik Korea Sebagai Perbandingan. 1998.. Sunaryati. S. Dr. Penerbit : Yayasan GP Gadjah Mada. Ghalia Indonesia. Capita Selecta Perbandingan Hukum. Paton George. 1983.H. DR. SH... Bandung Sianturi. 1987.DAFTAR PUSTAKA Hamzah. KUHP Republik Phlipina sebagai Perbandingan. BA. Seno Adji. A Teks Book of Jurisprudentie. SH. Oemar. Komentar Atas Seri Terjemahan KUHP Negara-Negara Asing. Galia Indonesia. terjemahan G.. Jogyakarta .H. Ghalia Indonesia Whitecross. dkk. Jakarta. Jakarta Hartono. Hukum Pidana Perbandingan. Penerbit Alumni AHM PT HM. Dr. Jakarta Hamzah. Soedarsono. 1992. Andi. Prof. Alumni. Andi. 1987. 1985. S.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->