P. 1
Laporan Count Down

Laporan Count Down

|Views: 1,175|Likes:
laporan
laporan

More info:

Published by: Habibah Zahra Faluqi on Apr 02, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/11/2013

pdf

text

original

Elektronika Digital CountDown Timer Circuit

I. Tujuan

1. Dapat menerapkan logika dasar dari suatu perangkat digital 2. Dapat merancang suatu sistem dengan menggunakan IC TTL 3. Mengetahui prinsip kerja Count Down berbasis rangkaian IC TTL. 4. Dapat mengaplikasikan dan mengkombinasikan cara kerja IC timer, IC counter, IC Decoder dan Display (Seven Segment).

II.

Deskripsi (Gambaran Sistem) Rangkaian CountDown Timer ini merupakan rangkaian penghitung mundur, misal mulai dari 99 - 00. Aplikasi rangkaian ini biasanya digunakan pada Rangkaian di Traffic Light (Lampu Lalu Lintas). Rangkain CountDown Timer ini terdiri dari IC Timer (IC Timer NE555), IC Counter (74LS192), IC Decoder (74LS47) dan yang terakhir Display (Seven Segment). Pada rangkaian ini memiliki dua display yaitu digit pertama merupakan puluhan dan digit kedua merupakan satuan. Untuk mengatur kecepatan clock (frekuensi) pada blok berikutnya diatur pada IC Timer. Untuk mengatur kecepatan clocking tersebut dengan mengatur nilai capasitor dan resistor pada blok IC Timer. Output dari IC Timer akan menjadi input bagi IC Counter.Dimana IC Counter ini akan menghitung clock yang diterima dari IC Timer. Pada IC Counter dapat di atur inputannya dengan mengatur input (D0,D1,D2,D3) pada IC tersebut dengan diberi switch (dapat dipilih input tersebut diberi logika 1 atau 0). Output dari IC Counter merupakan bilangan biner, kemudian akan diterjemahkan kedalam bilangan desimal oleh rangkaian decoder dan output dari decoder akan menjadi input pada seven segment (display). Gambar Rangkaian
Decoder

TIMER NE555

Counter 74LS192

Counter Display 7-Segment

Banyak sekali aplikasi dari rangkaian CountDown Timer, antara lain skenario pewaktuan yang digunakan mengacu pada sistem penyalaan lampu lalu lintas yang akan direncanakan, contoh pengaturan :

Lampu Merah Kuning Hijau

Durasi 99 detik 59 detik 45 detik

Selang Waktu 99-00 59-00 45-00

Sebelumnya telah diketahui bahwa untuk memindah nyala lampu adalah dengan mengubah kondisi persamaan pada flip-flop (toggle). Dan untuk mengubahnya, diperlukan sinyal clock sebesar 1 gelombang. Dari teori dasar ini dapat dikembangkan lebih lanjut untuk dapat mengontrol sistem flip-flop tersebut menggunakan sistem pencacah yang diset pada waktu yang telah ditentukan di atas.

MERAH 99,98,97,96….00 9 - 8 -7 -6 …. 0

KUNING 59,69,49,39….00 5 - 4 -4 -3 …. 0

HIJAU 45,35,25,15….00 4 - 3 -2 -1 …. 0

dengan menyambung output pencacah ke input clock flip-flop secara langsung. Untuk itu dibuat suatu gerbang logika yang hanya akan memberikan nilai 1 pada saat-saat yang diperlukan dengan berdasar pada proyek ini, yaitu pada detik ke 99 , 59, dan 45. Sistemnya pencacahannya seperti pada tabel di bawah . Detik Puluhan 99 59 45 1010 0101 0010 Biner Satuan 1010 1010 0101

Pada setiap perpindahan inilah clock pada flip flop diberi sinyal sebesar 1 gelombang Untuk mengontrol flip flopinput sesuai waktu yang ditentukan, tidak mungkin dilakukan diskret, sehingga terjadi pula perpindahan nyala lampu ke giliran berikutnya.

Prinsip kerja : Traffic light digital merupakan pengembangan sederhana dari rangkaian jam digital, dengan sistem kontrol pencacah. Artinya perpindahan nyala lampu lalu lintas dikontrol oleh rangkaian pencacah dengan dijembatani oleh rangkaian gate logika dan switching. Gambar (A) merupakan diagram blok sederhana suatu sistem traffic light. Rangkaian traffic dijalankan dengan 2 sumber tegangan. Vcc 5 volt untuk memberi daya pada rangkaian digital, dan sebuah baterai 9 volt untuk memberi daya 4 lampu LED sekaligus. Pada diagram blok di atas telah digambarkan hubungan antar sistem dan antar subsistemnya. Mulai dari pewaktu memberi sinyal pulsa yang telah diperhitungkan sebesar ±1Hz dengan persamaan yang tercantum dalam datasheet IC NE555. Kemudian sinyal yang dihasilkan dari output pewaktu ini digunakan sebagai input dalam rangkaian pencacah. Pulsa 1 per detik dimasukkan ke pencacah naik yang mencacah naik dari 00 sampai 99 dan reset 00, akan tetapi angka yang dihitung mundur dapat diubah-ubah sesuai yang kita inginkan. Kemudian pencacah detik didekode dan ditayangkan pada 7-segment. Pada gambar di atas, rangkaian counter tidak hanya mencacah bilangan BCD untuk ditayangkan pada display 7-segment, namun juga dipergunakan untuk membangkitkan sinyal pemicu (trigger) rangkaian switch yang menggunakan IC flip-flop, sehingga flipflop akan berpindah keadaan(toggle) dari keadaan semula. Lalu output dari IC flip flop akan menyalakan display LED dengan bantuan transistor yang mengalirkan arus dari sumber tegangan baterai 9 volt ke LED. Jadi LED tidak diberi daya dari Vcc, melainkan dari baterai 9 volt.

III. a.

Blok Diagram Penjelasan per blok

1. Block I (Rangkaian Timer) Rangkaian timer berfungsi untuk membangkitkan sinyal diskret (pulsa) secara konstan untuk kemudian digunakan sebagai sinyal clock pada rangkaian counter. Rangkaian pewaktu (timer) menggunakan IC NE555 dalam mode operasi astabil, pengaturan frekuensi yang dihasilkan dapat dilakukan dengan mengganti resistor dan kapasitor yang terpasang dalam sistem ini. Pada rangkaian ini, IC NE55 digunakan dalam mode operasi astable, dengan adanya penambahan resistor 6.2KΩ di antara kaki threshold (6) dan kaki trigger(2). Alasan pemasangan resistor dan kapasitor pada nilai yang tertera

adalah untuk menghasilkan frekuensi output yang diperlukan, yaitu sebesar ±1 Hz. Sedangkan Vcc dipasang sebesar 5V, sesuai rentang kerja yang tertera pada datasheet IC NE555 yaitu antara 4,5V – 16V.

R3
1.0K

R5
10K

8

U3
Q DC 3 7

R1
2200 5

R

VCC

4

D1
LED-GREEN

D3
1N4001

CV

2

GND

TR

TH

6

R4
NE555 1.0K

R2
6200

C3
100u

1

D2
LED-GREEN

C2
100u

Gambar. Contoh rangkaian pada IC NE555

Keterangan tentang IC NE555  Contoh perhitungan untuk menentukan frekuensi : Hitung besar nilai frekuensi pada IC Timer NE555, yaitu : RB/2 = 6200Ω C = 100 ( ( ) )

Diketahui : RA/1 = 2200Ω

( (

) )

 Atau bisa menggunakan cara : ( ( ) ( ))

2. Blok II Counter (Pencacah) Counter ( rangkaian logika sekuensial yang di bentuk dari flip-flop ). Pencacah (counter) adalah suatu rangkaian yang mengubah sinyal input yang berupa diskret menjadi biner BCD. Mencacah dapat diartikan menghitung, hampir semua sistem logika menerapkan pencacah. Komputer digit menerapkan pencacah guna mengemudikan urutan dan pelaksanaan langkah – langkah dalam program. Fungsi dasar pencacah adalah untuk “mengingat” berapa banyak pulsa detak yang telah dimasukkan kepada masukkan. Sehingga pengertian paling dasar pencacah adalah system memori. Fungsi Counter adalah menghitung banyaknya detak pulsa dalam satu periode waktu, membagi frekuensi, pengurutan alamat. Dalam rangkaian ini menggunakan jenis pencacah decade. Pencacah ini menghasilkan kode bilangan dalam bit biner, dan akan menghitung sampai dengan batas yang ditentukan. Salah satunya adalah pencacah 74LS190 BCD counter, pencacah ini akan menghasilkan bilangan decimal 0 – 9. dengan demikian pencacah ini bisa digunakan untuk menghitung maju dari 0000 – 1001, lalu kembali lagi maupun menghitung mundur. Dalam rangkaian ini menggunakan down counter dengan IC 74LS192 UP/DOWN COUNTER BCD DECADE (8421). Dimana IC 74LS192 merupakan IC yang bisa digunakan dalam Up maupun down counter (pencacah 10 (8421)) yang berfungsi mengubah dari sinyal biner menjadi sinyal desimal..Dan merupakan pencacah jenis asinkron. Dalam IC 74LS192 terdapat empat JK Flip- Flop. Counter ini bisa diatur outputannya dengan menambahkan OR Gate yang berfungsi untuk mengatur input dari decoder yang kemudian menuju seven segment supaya bisa di atur sesuai dengan keinginan kita maksimal angka yang diinginkan. Selain menambah OR Gate untuk mengatur outputan diperlukan switch.

Gambar Logic Diagram IC 74LS192

Gambar Diagram Ring Counter IC 74LS192

U7 U8
OR

U6
OR

OR

SW1
SW-SPDT

SW2

SW-SPDT

RW
1.0K

SW3

U12
SW-SPDT SW4 15 1 10 9 5 4 11 14 D0 D1 D2 D3 UP DN PL MR 74LS192 Q0 Q1 Q2 Q3 TCU TCD 3 2 6 7 12 13

D1
LED-GREEN

SW-SPDT

RR
1.0K

Gambar pada Proteus Rangkain pada Block II (CountDown Timer)

3. Blok III Decoder Decoder adalah rangkaian logika yang menerima input-input biner dan mengaktifkan salah satu output-nya sesuai dengan urutan biner input-nya. Rangkaian dekoder mempunyai sifat yang berkebalikan dengan enkoder yaitu merubah kode biner menjadi sinyal diskrit.
COMMON ANODE a W a b X BCD Y c d 7 Segment Decoder g e f Z g e c f b

d common

Gambar Rangkaian Dekoder

Pemilihan decoder yang akan digunakan tergantung dari 7 segment yang kita gunakan, untuk praktikum kali ini kelompok kami menggunakan 7 segment dengan tipe common-anode sehingga kami memilih decoder (IC) 74LS47. Dekoder memiliki 7 keluaran yang masing-masing keluaran memiliki fungsi tertentu. Kita dapat mendapatkan 7 buah fungsi Boolean a, b, c, d, e, f, dan g dengan membuat peta Karnaugh atau menggunakan data sheet IC yang kita gunakan. Berikut tabel kebenaran IC 74LS47 :

Tabel Kebenaran IC 74LS47

Dari tabel kebenaran diatas dapat disusun sebuah gerbang logika yang kemudian gerbang logika tersebut akan digunakan sebagai decoder BCD to 7-segmet.

Gerbang Logika IC 74LS47

Gambar IC 74LS47 Bila dilihat dari gambar diatas IC 7447 diatas, inputan dari IC memiliki 3 masukan ekstra yaitu masukan lamp test, blanking input/ripple blanking input dan ripple blanking input. a. LT‟, lamp test berfungsi sebagai mengeset display bila diberi logika „0‟ maka semua keluaran dari IC ini akan berlogika 0. Sehingga seven segment akan menunjukka angka delapan (8). b. BI‟/RBO‟, blanking input/row blanking output berfungsi sebagai untuk mematikan keluaran dari IC. Bila diberi logika „0‟ maka semua keluaran dari IC akan berlogika „1‟ dan seven segment akan mati.

c.

RBI‟, row blanking input berfungsi untuk mematikan keluaran dari IC jika semua input berlogika „0‟. Bila diberi logika „0‟, diberi logika „1‟ dan diberi logika „0‟ maka semua keluaran IC akan berlogika „1‟dan seven segment akan mati.

Hubungan antara kode-kode biner A,B,C dan D dengan bilangan decimal adalah A sebagai LSB dan D sebagai MSB. Jadi boleh dituliskan D C B A. Nilai bilangan decimal (BCD) pada input D C B dan A akan diperagakan pada 7 segment sesuai dengan pola angka-angka decimal (dari 0-9).  1. Perhitungan resistor outputan dari IC menuju 7 segment Hitung besar resistor yang diletakkan pada outputan IC, yaitu: ( ( ) )

Penggunanaan Resistor 270 ohm digunakan untuk menyesuiakan tegangan dari IC ke 7 segment.

Gambar dari Proteus untuk Blok III (Decoder)

4. Blok IV Display (Seven Segment) Seven segment display adalah sebuah rangkaian yang dapat menampilkan angkaangka desimal maupun heksadesimal. Seven segment display biasa tersusun atas 7 bagian

yang setiap bagiannya merupakan LED (Light Emitting Diode) yang dapat menyala. Jika 7 bagian diode ini dinyalakan dengan aturan yang sedemikian rupa, maka ketujuh bagian tersebut dapat menampilkan sebuah angka heksadesimal. Seven-segment display membutuhkan 7 sinyal input untuk mengendalikan setiap diode di dalamnya. Setiap diode dapat membutuhkan input HIGH atau LOW untuk mengaktifkannya, tergantung dari jenis seven-segmen display tersebut. Ada dua tipe 7 segment yaitu : 1. Tipe common anoda

Untuk 7 segment bertipe common-anode, maka dibutuhkan sinyal HIGH untuk mengaktifkan setiap diodenya. 2. Tipe common katoda

Untuk 7 segment bertipe common-chatode, maka dibutuhkan sinyal LOW untuk mengaktifkan setiap diodenya.

Gambar 7 Segment

7 segment yang digunakan pada praktikum ini adalah yang bertipe common-anode. Untuk mengetahui kaki bagian mana dari 7 segment tersebut yang mewakili a, b,c ,d, e, f, dan g adalah dengan menggunakan multimeter. Probe (+) diletakkan pada sisi tengan kaki 7 segment (atas maupun bawah) dan sisi lainnya di sembarang kaki 7 segment yang lain. Lalu lihat bagian mana dari 7 segment tersebut yang menyala, maka kaki tersebut mewakili begian dari 7 segment yang menyala. Salah satu cara untuk menghasilkan sinyal-sinyal pengendali dari suatu seven segment display yaitu dengan menggunakan sebuah sevent-segment decoder. Sevensegment decoder membutuhkan 4 input sebagai angka berbasis heksadesimal yang dinyatakan dalam bahasa mesin (bilangan berbasis biner) kemudian sinyal-sinyal masukan tersebut akan “diterjemahkan” decoder ke dalam sinyal-sinyal pengendali seven-segment display. Sinyal-sinyal pengendali berisi 7 sinyal yang setiap sinyalnya mengatur aktiftidaknya setiap LED.

U2
7 1 2 6 4 5 3 A B C D BI/RBO RBI LT 7447 QA QB QC QD QE QF QG

270 13 12 R1 11 R2 270 10 R3 270 9 R4 270 15 R5 14 R6 270

R7

270 270

Gambar Blok IV (Display 7 Segment)

b. Korelasi antar blok (input-output) Korelasi antar blok dimulai dari rangkaian timer, dimana rangkaian timer sebagai sinyal diskret (pulsa) secara konstan untuk kemudian digunakan sebagai sinyal clock pada rangkaian counter. Rangkian timer menggunakan resistor 2200 Ω dan 6200 Ω, capasitor sebesar 100 micro farad. Dengan rumus yang terdapat pada datasheet maka nilai frekuensi yang keluar dari rangkaian timer sebesar 1 Hz. Keluaran dari rangkaian timer akan menuju k rangkaian down counter (pencacah turun). Clocking tersebut berpengaruh terhadap perubahan kecepatan yang merupakan keluaran dari rangkaian counter tersebut. Rangkaian counter pada percobaan ini mengubah sinyal biner

menjadi sinyal decimal yang akan menjadi input bagi decoder. Decoder yang digunakan pada rankaian ini merupakan pengubah sinyal biner menjadi sinyal decimal , yang mana sebagai input seven segment (display).

IV.

Desain Rangkaian a. Desain dari Blok per Blok Blok I (Rangkaian Timer) :

RW
1.0K

8

U3
Q DC 3 7

RQ
2200 5

R

VCC

4

D1
LED-GREEN

D3
1N4001

CV

2

GND

TR

TH

6

RR
NE555 1.0K

RE
6200

C3
100u

1

D2
LED-GREEN

C2
100u

Blok II (Rangkaian CountDown Timer)
U7 U8
OR

U6
OR

OR

SW1
SW-SPDT

SW2

SW-SPDT

SW3

U12
SW-SPDT SW4 15 1 10 9 5 4 11 14 D0 D1 D2 D3 UP DN PL MR 74LS192 Q0 Q1 Q2 Q3 TCU TCD 3 2 6 7 12 13

SW-SPDT

SW5
SW-SPDT 15 1 10 9 5 4 11 14

U1
D0 D1 D2 D3 UP DN PL MR 74LS192 Q0 Q1 Q2 Q3 TCU TCD 3 2 6 7 12 13

SW6

SW-SPDT

SW7

SW-SPDT SW8

SW-SPDT

U10 U13 U11 U9 OR
OR OR OR

Rangkaian ini memperoleh input dari IC Timer yang berupa tegangan untuk mentriger clock pada IC Counter. Fungsi IC Counter ini adalah untuk mencacah biner sehingga menjadi naik atau turun dengan mendapat outputan dari IC Timer yang menjadi inputnya.

Blok III (Rangkaian Decoder)

Blok IV (Rangkaian (Display) 7 Segment)

b. Uji Rangkaian secara keseluruhan Untuk maksimal angka 99:

Untuk maksimal angka 59 :

Untuk maksimal angka 45 :

b. Alat dan Bahan a. IC NE555 timer b. IC 74192 (4 bit-ripple counter) c. IC 7447 (BCD to 7-Segment Decoder/Driver) d. 7-Segment Display Common Anoda e. Resistor 2200 Ω f. Resistor 6200 Ω g. Resistor 1k Ω h. Resistor 10k Ω i. Resistor 270 Ω j. Kapasitor 100µF k. Dioda IN4001 l. LED hijau m. Power Supply 1 2 2 2 1 1 1 1 4 2 4 2 1

V.

Pembahasan rangkaian (Analisa) a. Dalam IC Timer 555 diperlukan kapasitor dan resistor yang berfungsi sebagai pengatur kecepatan clock untuk mentrigger IC counter ( IC74LS192). Semakin besar nilai resistor atau kapasitor maka kecepatan clock akan semakin lambat begitu juga sebaliknya. b. Nilai resistor yang dibutuhkan untuk menghubungkan rangkaian dekoder ke display seven segmen harus sesuai dengan perhitungan yaitu 270 Ω. Apabila nilai resistansinya terlalu kecil dapat menyebabkan seven segment panas dan cepat rusak karena tegangan yang masuk pada seven segmen terlalu besar, namun apabila nilai resistansinya terlalu besar maka tampilan seven segmen akan redup karena tegangan yang masuk dalam seven segmen terlalu kecil. c. Untuk mengeset angka yang muncul pada 7 segmen display sesuai dengan yang dikehendaki dapat diatur dengan cara menambahkan switch (SPDT) pada input IC Counter. d. Dibutuhkan OR Gate, untuk menstabilkan kondisi IC counter. Karena pada kondisi output tertentu Qa sampai Qd tidak mempengaruhi pentriggeran pada counter dan sebaliknya. Jika input pada OR gate berupa logika 1 dan 0, maka outputannya adalah logika 1 dan logika tersebut bisa mentrigger IC Counter. e. Pada saat count down pada posisi nol, output dari counter Qa sampai Qd berada pada kondisi Low secara bersamaan dan kondisi reset terjadi pada keadaan tersebut. Sehingga memunculkan trigger awal untuk semua output sehingga count down dari angka 0 kembali ke angka 9.

VI.

Kesimpulan a. Untuk mengatur kecepatan clock (frekuensi), dapat diatur dengan cara mengatur nilai kapasitor dan resistor yang dipasang pada IC Timer NE555. b. Untuk mengatur nilai maksimal yang dikehendaki pada 7 segmen display, kita dapat mengatur pada sisi input IC counter (D0,D1,D2,D3). c. Pada sisi output IC Counter (puluhan) ditambahkan OR gate yang berfungsi untuk membalik logika input pada IC Counter (satuan). d. Output dari IC Counter adalah angka biner sehingga diperlukan IC decoder 74LS47 untuk mengubah bilangan biner menjadi bilangan desimal agar dapat muncul pada display 7 segmen.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->