P. 1
OBAT

OBAT

|Views: 125|Likes:
Published by Tia Marina

More info:

Published by: Tia Marina on Apr 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/26/2015

pdf

text

original

ANTI INFLAMASI NON STEROID Indikasi Nyeri. Dismenore (gangguan nyeri saat haid).

Anti-piretik (demam pada anak karena infeksi) Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian  Untuk nyeri : Dosis awal 500mg, dilanjutkan dengan dosis 250mg setiap 6 jam jika diperlukan. Penggunaan sebaiknya tidak lebih dari 1 minggu.  Untuk Dismenore : Penggunaan saat terjadi haid, dan penggunaan sebaiknya tidak lebih dari 2-3 hari Farmakologi Kerja  menghambat sintesa prostaglandin dengan menghambat kerja enzim cyclooxygenase/PGHS (COX-1 & COX-2). Efek anti inflamasi, analgetik & antipiretik merupakan dipercaya dari kerja menghambat COX-2. Efek anti inflamasi mungkin juga dihasilkan dari kerja menghambat biosintesis dari mukopolisakarida. Efek antipiretik diduga akibat hambatan sintesa prostaglandin di CNS. Stabilitas Penyimpanan dalam wadah tertutup rapat, suhu antara 15-30°C Kontraindikasi riwayat hipersensitif berupa gatal-gatal, angioedem, bronchospasm, rhinitis berat, atau syok oleh Aspirin atau golongan AINS lain. Pasien dengan riwayat gangguan saluran cerna. Pasien hamil trimester ke-3. Pasien menyusui (atau hentikan menyusui). Efek Samping  Gangguan lambung : tidak nafsu makan, sakit abdomen, sembelit, diare, dispepsi, kembung, rasa terbakar, mual, tukak lambung, muntah, mulut kering hingga pendarahan lambung.  darah : penurunan hematokrit (pemakaian jangka lama), anemia, memperpanjang waktu pendarahan, eusinopili, epstaxis, leucopenia, thrombo, cytopenia, trombositopenia, menghambat agregasi platelet.  sistem syaraf : pusing, sakit kepala, ketakutan, bingung, depresi, bermimpi, sulit tidur, cemas, gemetaran, berputar, halusinasi.  mata/pendengaran : tinitus, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, sembab mata.  ginjal : abnormalitas fungsi ginjal, disuria, hematouria, hiperkalemia, cystitis, nephrotic sindrom, oligouria/poliuria, proteinuria - gagal ginjal.  hati : peningkatan hasil test fungsi hati (SGOT, SGPT) sekitar >3 kali nilai normal. Hepatitis, jaundice, kerusakan hati, kolik.  ESO lain : gatal, bentol, kemerahan, fotosensitif, reaksi anafilaksis, SJS, bengkak, CHF, hipertensi, takikardi, aritmia, hypotensi, miocardial infark, demam, infeksi, sepsis, perubahan berat badan, asma, hipergikemi, pankreatitis, pneumonia, depresi pernafasan. Interaksi - Dengan Obat Lain : Obat yg terikat pada protein plasma : Menggeser ikatan dengan protein plasma, sehingga dapat meningkatkan efek samping (contoh : hidantoin, sulfonylurea). Obat antikoagulan & antitrombosis : Sedikit memperpanjang waktu prothrombin & Waktu thromboplastin parsial. Jika Pasien menggunakan antikoagulan (warfarin) atau zat thrombolitik (streptokinase), waktu prothrombin harus dimonitor. Lithium : Meningkatkan toksisitas Lithium dengan menurunkan eliminasi lithium di ginjal. Obat lain yang juga memiliki efek samping pada lambung : Kemungkinan dapat meningkatkan efek samping terhadap lambung. - Dengan Makanan : Makanan mengurangi kecepatan absorpsi tetapi tidak mengurangi jumlah yang diabsorpsi Pengaruh - Terhadap Kehamilan : Tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh wanita hamil. Terutama pada akhir masa kehamilan atau saat melahirkan karena efeknya pada sistem kardiovaskular fetus (penutupan prematur duktus arteriosus) & kontraksi uterus. - Terhadap Ibu Menyusui : Didistribusikan melalui air susu ibu, sehingga tidak direkomendasikan untuk digunakan oleh ibu yg sedang menyusui. - Terhadap Anak-anak : Belum ada studi ttg keamanan & efikasi penggunaan asam mefenamat pada pasien anak

ASAM MEFENAMAT

dibawah 14 thn. Belum ada studi tentang keamanan untuk anak - Terhadap Hasil Laboratorium : Dapat menyebabkan reaksi false-positif tes urin menggunakan tes tablet diazo. Bentuk Sediaan Kapsul 250 mg, Kaplet 500 mg Peringatan Hati-hati Pasien Lansia. Pasien dengan kondisi terjadinya retensi cairan. Pasien anak di bawah usia 14 tahun. Sebaiknya tidak digunakan secara rutin sebagai obat antipiretik.

CALCIUM ANTAGONIST

AMLODIPIN

Farmakologi Amlodipine merupakan antagonis kalsium golongan dihidropiridin (antagonis ion kalsium) yang menghambat influks (masuknya) ion kalsium melalui membran ke dalam otot polos vaskular dan otot jantung sehingga mempengaruhi kontraksi otot polos vaskular dan otot jantung. Amlodipine menghambat influks ion kalsium secara selektif, di mana sebagian besar mempunyai efek pada sel otot polos vaskular dibandingkan sel otot jantung. Efek antihipertensi amlodipine adalah dengan bekerja langsung sebagai vasodilator arteri perifer yang dapat menyebabkan penurunan resistensi vaskular serta penurunan tekanan darah. Dosis satu kali sehari akan menghasilkan penurunan tekanan darah yang berlangsung selama 24 jam. Onset kerja amlodipine adalah perlahan-lahan, sehingga tidak menyebabkan terjadinya hipotensi akut. Efek antiangina amlodipine adalah melalui dilatasi arteriol perifer sehingga dapat menurunkan resistensi perifer total (afterload). Karena amlodipine tidak mempengaruhi frekuensi denyut jantung, pengurangan beban jantung akan menyebabkan penurunan kebutuhan oksigen miokardial serta kebutuhan energi. Amlodipine menyebabkan dilatasi arteri dan arteriol koroner baik pada keadaan oksigenisasi normal maupun keadaan iskemia. Pada pasien angina, dosis amlodipine satu kali sehari dapat meningkatkan waktu latihan, waktu timbulnya angina, waktu timbulnya depresi segmen ST dan menurunkan frekuensi serangan angina serta penggunaan tablet nitrogliserin. Amlodipine tidak menimbulkan perubahan kadar lemak plasma dan dapat digunakan pada pasien asma, diabetes serta gout. Indikasi : Amlodipine digunakan untuk pengobatan hipertensi, angina stabil kronik, angina vasospastik (angina prinzmetal atau variant angina). Amlodipine dapat diberikan sebagai terapi tunggal ataupun dikombinasikan dengan obat antihipertensi dan antiangina lain. Kontra Indikasi : Amlodipine tidak boleh diberikan pada pasien yang hipersensitif terhadap amlodipine dan golongan dihidropiridin lainnya. Dosis :  Penggunaan dosis diberikan secara individual, bergantung pada toleransi dan respon pasien.  Dosis awal : 5 mg satu kali sehari, dengan dosis maks 10 mg satu kali sehari. Untuk melakukan titrasi dosis, diperlukan waktu 7-14 hari.  Pada ps usia lanjut atau dengan kelainan fungsi hati, dosis awal terapi 2,5 mg satu kali sehari. Bila amlodipine diberikan dalam kombinasi dengan antihipertensi lain, dosis awal : 2,5 mg.  Dosis yang direkomendasikan untuk angina stabil kronik ataupun angina vasospastik adalah 5-10 mg, dengan penyesuaian dosis pada pasien usia lanjut dan kelainan fungsi hati.  Amlodipine dapat diberikan dalam pemberian bersama obatobat golongan tiazida, ACE inhibitor, β-bloker, nitrat dan nitrogliserin sublingual. Efek Samping :

phenytoin. peningkatan atau penurunan berat badan. warfarin dan indomethacin.  Amlodipine tidak mempunyai efek terhadap ikatan protein dari obat-obat : digoxin. nitrogliserin sublingual. serta obat hipoglikemik oral. sakit kepala. Efek samping uji klinik antara lain : edema. β-bloker. Interaksi Obat :  Amlodipine dapat diberikan bersama dengan penggunaan diuretik golongan tiazida. nyeri.  Pemberian bersama simetidin atau antasida tidak mengubah farmakokinetik amlodipine. α-bloker. nitrat.  Amlodipine 5 mg tablet  Amlodipine 10 mg tablet . antibiotika.  Pemberian bersama digoxin tidak mengubah kadar digoxin serum ataupun bersihan ginjal digoxin pada pasien normal.  Secara umum : fatigue. ACE inhibitor. antiinflamasi non-steroid.

selama 7 hari. dan lamanya pengobatan yang dianjurkan.5 9. . Dosis :. muntah. tetapi pada beberapa infeksi awal pengobatan dapat diperpanjang. erisipelas. termasuk herpes genital awal dan kambuhan.  Hati-hati pemberian pada wanita yang sedang menyusui.  Dapat memberikan hasil positif semu pada reaksi Coomb’s. sedikit peningkatan urea dan kreatinin darah. Interaksi Obat : Probenecid meningkatkan t ½ obat dan AUC plasma.ACYCLOVIR ANTIVIRALS CEFADROXIL ANTIBIOTIK Farmakologi : Acyclovir adalah zat antivirus yang sangat aktif secara in vitro melawan virus herpes simpleks (HSV) tipe I dan II. Setelah masuk ke dalam sel terinfeksi.  Faringitis. artritis sepsis. 5 kali sehari dengan interval 4 jam. Berat Badan Total Cefadroxil 125 mg / 5 mL (kg) per hari 4. Pada beberapa pasien immuno-compromised (misal : setelah transplantasi sumsum) atau pasien gangguan absorpsi usus. Acyclovir 200 mg tablet Acyclovir 400 mg tablet Indikasi : Cefadroxil terutama digunakan untuk infeksi berat yang disebabkan oleh organisme gram positif yaitu :  Infeksi saluran kemih : Pielonefritis. pencegahan infeksi herpes simpleks pada pasien immuno-compromised. Biasanya 2 gram perhari dalam dosis terbagi. endometritis. Dewasa : dosis awal 1. dan nyeri abdominal.  Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan bayi prematur karena keamanannya belum diketahui pasti. 5 kali sehari dengan interval 4 jam.  Peningkatan sementara enzim-enzim yang berhubungan dengan bilirubin dan hati. terlindung dari cahaya. Dewasa :  Infeksi saluran kemih : 1 . Pemberian obat harus diberikan sesegera mungkin setelah terjadinya infeksi. Penyimpanan: Simpan di tempat kering pada suhu 15 o – 30o C.  Infeksi ringan : 1 gram / hari dalam dosis terbagi dua (2 x 500 mg)  Infeksi sedang sampai berat : 1 .  Infeksi lain : Osteomielitis. sinusitis. Pasien yang hipersensitif terhadap Acyclovir.  hati-hati pada penderita yang alergi terhadap derivat penisilin karena kemungkinan dapat terjadi alergi silang. sakit kepala. laringitis. pemeriksaan glukosa urin cara Benedict dan Fehling. frekuensi penggunaan. reaksi neurologis dan fatigue. Dosis : Dewasa  Pengobatan infeksi herpes simpleks : 200 mg.1 13. selulitis. mastitis.  Infeksi saluran pernafasan : Tonsilitis. termasuk : mual. peritonitis septikemia Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap cephalosporin atau penicillin.  Jangan diberikan melebihi dosis.  Infeksi kulit dan jaringan lunak : Limfadenitis.3 1 sendok takar 2 sendok takar 3 sendok takar 4 sendok takar 5 sendok takar 6 sendok takar Pasien gangguan ginjal : Dosis diatur sesuai bersihan kreatinin untuk mencegah terjadinya akumulasi obat. uretritis.  Pencegahan herpes simpleks : 200 mg. Peringatan dan Perhatian :. Tahap awal proses tergantung pada enzim viralcoded thymidine kinase. otitis media. faringitis. tonsillitis yang disebabkan oleh Streptococcus βhaemolyticus : 1 gram / hari dalam 2 dosis terbagi diberikan selama 10 hari. abses paru. dosis dapat ditingkatkan menjadi 400 mg. pneumonia.7 27. dosis dapat ditingkatkan menjadi 400 mg. Acyclovir trifosfate berperan sebagai inhibitor dan sebagai substrat palsu untuk herpes-specified DNA polymerase yang mencegah sintesis DNA virus tanpa mempengaruhi proses sel normal. Pada pasien immuno-compromised (misal : setelah transplantasi sumsum) atau pasien dengan gangguan absorpsi usus.  Gatal-gatal / ruam kulit  Gangguan gastrointestinal.2 22. bronkhopneumonia. furunkulosis. Anak-anak  Anak-anak usia lebih dari 2 tahun : sama dengan dosis dewasa  Anak-anak usia kurang dari 2 tahun : diberikan setengah dosis dewasa untuk pengobatan herpes simpleks dan profilaksis herpes simpleks. Acyclovir terfosforilasi membentuk senyawa aktif Acyclovir trifosfate. abses.2 gram / hari dalam dosis terbagi 2 (500 mg – 1 gram tiap 12 jam). bronkitis. 4 kali sehari dengan interval 6 jam. Pengobatan infeksi herpes zoster. selama 5 hari. gak jelas artinya)  Pengobatan herpes zoster : 800 mg.  Acyclovir pada wanita hamil hanya diberikan apabila pertimbangan manfaat lebih besar daripada risiko yang mungkin timbul. Efek Samping :. Indikasi : Pengobatan infeksi yang disebabkan oleh herpes simpleks pada kulit dan membran mukosa. serta virus varisela zoster. (lama pemberian disesuaikan dengan periode resiko dihapus saja.000 mg dan dosis pemeliharaan 500 mg setiap hari dengan interval waktu sebagai berikut : Bersihan kreatinin (mL / menit) 0 – 10 10 – 25 25 – 50 Interval dosis (Jam) 36 24 12 Peringatan dan Perhatian :. Anak-anak : 30 mg / kg BB / hari dalam dosis terbagi tiap 12 jam. sistitis. diare. adneksitis.2 gram / hari dalam dosis tunggal atau terbagi.6 18.  Infeksi kulit dan jaringan lunak : 1 gram / hari atau 500 mg / 12 jam. Kontra Indikasi :.

BISOPROLOL BETA BLOKER Farmakologi : Bisoprolol merupakan bloker reseptor β-1 adrenergik utama (bersifat kardioselektif) tanpa aktivitas stimulasi reseptor β-2 dan waktu paruh eliminasi plasma sekitar 10-12 jam sehingga memungkinkan dosis sekali sehari. Hipertensi postural atau hipertensi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan elektrolit tidak termasuk indikasi Bisoprolol.  Gagal jantung akut atau selama episode dekomposisi gagal jantung yang memerlukan terapi intravena inotropik.  Obat anastesi : melemahkan refleks takikardia dan meningkatkan risiko hipotensi. Bisoprolol 5 mg sehari sudah mencukupi. infeksi virus. pneumonia hipotensi. antara lain :  Bradikardia : diberikan Atropin IV. Bisoprolol dapat meningkatkan sensitivitas terhadap alergen dan keparahan reaksi anafilaksis.  Syok kardiogenik  Blok AV derajat 2 atau 3 (tanpa peacemaker)  Sindrom sinus  Blokade sinoatrial  Bradikardia yang kurang dari 60 denyut / menit sebelum memulai pengobatan  Hipotensi (tekanan darah sistolik kurang dari 100 mmHg)  Asma bronkial parah atau penyakit paru obstruktif kronis yang parah  Tahap akhir penyakit oklusif arteri periferal dan sindroma Raynaud  Faeokromositoma yang tidak diobati  Asidosis metabolik  Hipersensitif terhadap Bisoprolol Dosis :. Bisoprolol lebih sedikit efek konstriksinya pada pembuluh darah perifer dan bronkiol daripada golongan β-bloker yang nonselektif. sebelum atau sesudah sarapan. Efek Samping : Dispnoea. pusing. yang dapat menyebabkan kambuhnya gejala. obat simpatomimetik ß2 dan atau Aminofilin.  Gagal jantung akut yang memburuk: diberikan diuretik IV. Pada pasien dengan angina pektoris. Pada penderita pheokromositoma. Untuk pasien gagal ginjal tahap terakhir atau gangguan fungsi hati yang parah. Bila sedang terapi dengan Bisoprolol. Bisoprolol mengurangi tekanan darah pada pasien hipertensi pada posisi berdiri maupun berbaring. pengobatan menggunakan Bisoprolol sebaiknya dihentikan. Tindakan suportif yang secara umum dilakukan pada kasus-kasus tertentu. sebaiknya juga diberikan bersamaan dengan bronkodilator. Penggunaan Bisoprolol pada wanita hamil dan menyusui sebaiknya dipertimbangkan juga manfaat dan risikonya. Pada dosis terapi. adanya gejala tirotoksikosis bisa menjadi tersamar.  Insulin dan obat anti diabetes : mengintensifkan efek menurunnya kadar gula darah. Anestesiolog harus mendapatkan informasi bila pasien tersebut sedang menggunakan Bisoprolol. Blokade reseptor-ß yang terus-menerus dapat mengurangi risiko terjadi aritmia selama induksi dan intubasi. Kombinasi obat yang tidak dianjurkan adalah :  Antagonis kalsium : pengaruh negatif pada kontraktilitas.  Derivat ergotamin : memperburuk gangguan pada sirkulasi perifer.  Bronkospasme : diberikan bronkodilator seperti Isoprenalin. Over Dosis :. penyakit saluran nafas obstruktif)  Bersamaan dengan anastesi inhalasi  Diabetes melitus dengan fluktuasi kadar gula darah yang cukup besar (dapat menyamarkan gejala hipoglikemia)  Puasa ketat  Terapi desentisasi  Blok AV tahap awal  Angina Prinzmetal  Penyakit oklusif arterial perifer (terutama di awal terapi) Tidak ada pengalaman terapeutik Bisoprolol pada pasien gagal jantung yang disertai kondisi : Gagal jantung NYHA fase II Diabetes melitus (type I) Gagal ginjal yang sudah tidak bisa diperbaiki (kreatinin serum ≥300 micromol/L) Gagal hati yang sudah tidak bisa diperbaiki Pasein usia lebih dari 80 tahun Kardiomiopati restriktif Penyakit jantung konginental Penyakit valvular organik hemodinamik signifikan Infark miokardial yang sudah berlangsung selama 3 bulan Pada pasien asma bronkial atau penyakit paru obstruktif kronik lainnya.  Hipotensi : diberikan cairan vasopresor IV. bradikardia. Bisoprolol sebaiknya tidak diberikan setelah terjadi blokade α. Glukagon IV mungkin berguna. maka dosis dosis stimulan ß2 juga sebaiknya dinaikkan. Pada kasus ringan. Terapi menggunakan adrenalin. Kontra Indikasi :. hanya beberapa kasus diperlukan dosis 20 mg sehari. Seperti sifat ß-bloker lainnya. Penggunaan Bisoprolol dianjurkan berhati-hati pada :  Bronkospasme (asma bronkial. Indikasi : Hipertensi dan penyakit jantung koroner (angina pektoris). kelelahan.              Interaksi Obat :. Tidak disarankan menghentikan obat secara mendadak. meningkatkan waktu konduksi artrio-ventrikular  Obat yang menghambat sintetase prostaglandin : mengurangi efek Bisoprolol. kardiomiopati. Bisoprolol dapat mengurangi serangan dan meningkatkan kapasitas kerja fisik sehari-hari. penggunaan pacemaker transvena mungkin diperlukan.  Penghambat MAO (Mono Amino Oksidase) kecuali penghambat MAO-B : meningkatkan efek hipotensi dari ßbloker tetapi juga risiko krisis hipertensinya. Pasien psoriasis atau ada sejarah mengidap psoriasis sebaiknya diberikan ß-bloker (misal Bisoprolol) setelah dengan hati-hati mempertimbangkan manfaat dan risikonya. Bila terjadi overdosis. Kebanyakan pasien dikontrol dengan 10 mg sehari. 5 mg sehari pada pagi hari. atau bahan lain seperti Isoprenaline yang merupakan zat aktif kronotropik positif yang pemberiannya harus dilakukan secara hati-hati. tidak selalu memberikan efek terapeutik yang diharapkan. Pada beberapa kondisi khusus. zat inotropik. atau zat vasodilator. Di saat meningkatnya resistensi pernafasan yang dapat terjadi pada pasien asma. maksimal dosis adalah 10 mg sehari. Blokade adrenoreseptor-ß bisa menutupi gejala hipoglikemia. Peringatan dan Perhatian : .  Blok AV (derajat 2 atau 3) : pasien harus hati-hati dimonitor dan diberikan Isoprenalin infus atau penggunaan pacemaker transvena. Awal terapi dengan Bisoprolol diperlukan monitoring rutin. Kombinasi yang harus digunakan dengan berhati-hati :  Obat antiaritmia kelas 1 (misal disopiramid. kuinolon) : efek pada masa konduksi atrial dan kemungkinan dapat meningkatnya efek inotropik negatif.  Hipoglikemia : diberikan glukosa IV. takikardia.  Digitalis : mengurangi denyut jantung. Dengan ciri tersebut Bisoprolol sebagai dapat β-bloker dapat mengobati hipertensi dan angina pektoris. konduksi atrio-ventrikular dan tekanan darah  Klonidin : meningkatkan risiko rebound hypertension seperti mengurangi berlebihan denyut jantung dan konduksi kardiak.  Obat antiaritmia kelas 3 (misal amiodaron) : efek pada masa konduksi atrial  Obat parasimpatomimetik (termasuk Tacrine) : masa atrioventikular kemungkinan dapat meningkat  ß-bloker lainnya termasuk tetes mata dapat menimbulkan efek aditif.

fenotiasin seperti antihipertensi lainnya dapan meningkatkan efek penurunan tekanan darahnya. hal ini dikarenakan induksi enzim metabolisme di hati. Epinefrin dosis tinggi mungkin diperlukan untuk pengobatan dari reaksi alergi.  Antidepresan trisiklik. Sediaan Bisoprolol 5 mg tablet .  Rifampisin : dapat mengurangi waktu paruh Bisoprolol. barbiturat. Biasanya tidak perlu penyesuaian dosis. Obat simpatomimetik : kombinasi dengan Bisoprolol dapat mengurangi efek kedua obat.

Kumulatif toksisitas ginjal dapat terjadi parah.Renal: Gagal ginjal akut.  Kanker ovarium metastatik : 75-100 mg/m² setiap 3-4 minggu. riwayat insufisiensi ginjal.ANTINEOPLASTIK.  Hepatik: Peningkatan level enzim. recovery: 21-39 hari. palcitaksel) harus diberikan sebelum pemberian cisplatin (turunan platinum lainnyacarboplatin).  Intraperitonial ovarium ritonial: Cisplatin pernah diberikan secara interperitonial dengan natrium tiosulfat sistemik untuk kanker ovarium. Serum magnesium. tentukan dosis dengan hati-hati dan monitoring sedetail mungkin.  GI: Mual dan muntah (76%-100%)  Hematologi: Myelosupresi (25%-30%. Penyesuaian dosis pada perbaikan ginjal. Onset: 10 hari. manifestasi ditunjukkan dengan seringnya frekuensi hilangnya pendengaran. Nadir: 14-23 hari. Kontraindikasi Hipersensitifitas dengan cisplatin . harus dimonitor sebelum dan sesudah selama 48 jam setelah terapi cisplatin.  dosis dinaikkan sampai 90-270 mg/m² pernah diberikan dan dipertahankan selama 4 jam sebelum pembilasan (draining). Dosis >100 mg/m2 sekali setiap 3-4 minggu jarang digunakan dan harus diverifikasi sesuai prosedur.  Pada stadium kronis untuk meningkatkan rehabilitasi anggota gerak atas dan bawah pada hemiplegia akibat apopleksi serebral. larutan jangan disimpan beku karena dapat menyebabkan terjadinya endapan. Anak-anak (unlabeled use). Platelet: Ringan.  Transfusi sum-sum tulang sel darah: Infus berkelanjutan: dosis tinggi: 55 mg/m²/hari untuk 72 jam.  Ginjal: Nefrotoksik (gagal ginjal akut dan insufisiensi ginjal)  Otis: Ototoksisitas (10%-30%. azotemia. Ikatan protein: >90%  Metabolisme: Nonenzimatik. Verifikasi beberapa dosis cisplatin melebihi 100 mg/m per terapi. Farmakologi  Distribusi : setelah pemberian I. studi observasi mengindikasikan adanya potensi toksisitas ketika derivat platinum (karboplatin. atau komponen lain dari sediaan (anafilaktik pernah dilaporkan). konsentrasi tinggi pada ginjal.  Miscelleeous: pasien tumor transien. Cara Pemberian dan Lama Pemberian  Berdasarkan protokol individu. Kontra Indikasi :.Dengan Obat Lain : Efek peningkatan/toksisitas: Cisplatin dan asam etekrinat pernah menghasilkan ototoksisitas pada hewan.  Kekambuhan tumor otak : 60 mg/m² sekali sehari untuk 2 hari berturut-turut setiap 3-4 minggu. dong quai Pengaruh Terhadap Kehamilan : Faktor risiko : D Terhadap Ibu Menyusui : Cisplatin didistribusi ke dalam air susu. Toksisitas tergantung dosis termasuk myelosupresi. ovarium. Semua pasien harus menerima cukup hidrasi. gangguan pendengaran dan kehamilan Efek Samping > 10%  SSP: Neurotoksisitas. Ketika diberikan sebagai infus berikutnya. t½ yang kedua : 44-73 jam  Ekskresi: Urin (>90%). hipomagnesemia. mulut kering. 15°-25°C.Endokrin dan metabolik: Hipokalemia. Hipersensitif terhadap citicholine Dosis :.  Pada stadium akut.Pada pemberian infus berturutturut.  Pada stadium akut untuk gangguan kesadaran akibat cedera kepala.  Sarkoma osteogenetik atau neuroblastoma: 60-100 mg/m² pada hari 1 setiap 3-4 minggu. ototoksisitas.  Jadwal dosis intermiten: 37-75 mg/m² sekali sehari setiap 2-3 minggu atau 50-100 mg/m² selama 4-6 jam sekali setiap 2128 hari. periferal neuropati pada dosis dan tegantung durasi. turunan taksan (doksetaksel.  GI: Hetogenik tinggi. ototoksisitas biasanya tejadi pada anak-anak <1% (terbatas pada reaksi mengancam jiwa): CISPLATIN  reaksi anafilaksis. testis dan ovarium. cisplatin) diberikan sebelum turunan taksan (docetaksel. pandangan kabur. aritmia.V.  Kanker testis : 10-20 mg/m²/hari untuk 5 hari diulang setiap 3-4 minggu.hindari cahaya matahari langsung. anemia hemolitik. dosis lazim adalah 100-300 mg. Dosis. IMUNOSUPRESAN DAN OBAT UTNUK TERAPI PALIATIF Indikasi Pengobatan kanker saluran urin. optik neuritis. myelosupresi. papiledema  SSP: Periperal dan automatik neuropati. telah digunakan secara klinik untuk menurunkan toksisitas sistemik pada pemberian cisplatin. . peningkatan serum kreatinin. paklitasel). uterus.dikontrindikasikan untuk ibu menyusui. kelainan tumor autoimun Interaksi . ikatan kovalen dengan glutation dan tiosulfat. feses (10%) Stabilitas Penyimpanan Simpan vial pada suhu kamar. alopesia ringan. seperti halnya elektrolit lain.Dengan Makanan : Hindari cohosh hitam. gejala ringan sampai sedang pada dosis tinggi)  Sel darah putih: Ringan. Peripheral Vasodilators & Cerebral Activators CITICHOLINE Indikasi :.  Kanker leher dan kepala (unlabeled use): 100-200 mg/m² setiap 3-4 minggu. dengan atau tanpa diuretik sebelum diberikan dan selama 24 jam setelah pemberian cisplatin. kebutaan serebral.hati. dosis total = 165 mg/m² Dewasa:  Kanker saluran urin tahap lanjut: 50-70 mg/m² setiap 3-4 minggu. dan infark serebral stadium akut. Bentuk Sediaan Vial 50 ml Vial 10 mg/10 ml Peringatan Zat berbahaya – gunakan dengan peringatan untuk penanganan dan disposal. komponen lain yang mengandung platinum-. gejala ringan pada dosis sedang.Ototoksisitas terutama pada anak-anak dengan manifestasi tinnitus atau kehilangan frekuensi pendengaran dan ketulian. dan paru.  Dermatologi: Alopesia ringan. beta: 60 menit. 1-2 kali sehari dengan cara injeksi IV atau IM. bradikardi. bedah otak. Pasien lanjut usia mungkin sensitif dengan nefrotoksisitas. terminal: ~24 jam.  T½ eliminasi: Jarak: 20-30 menit. 1-2 kali sehari dengan cara drip IV atau injeksi IV. Penundaan eliminasi bleomisin dengan laju peningkatan filtrasi glomerular. mual dan muntah. Efek penurunan: Natrium tiosulfat dan amifostin secara teori dapat menginaktivasi obat secara sistemik. peningkatan enzim hati. .  Malignan pleural mesotelioma dalam kombinasi dengan pemetrexed (unlabeled use): 75 mg/m² pada hari pertama setiap siklus 21 hari.  Pada stadium kronis. inaktif (pada sel darah maupun aliran darah) dengan kelompok sulfahidrill. cisplatin didistribusikan secara cepat ke jaringan. dosis lazim adalah 250-500 mg.  Jadwal dosis harian: 15-20 mg/m²/hari untuk 5 hari setiap 3-4 minggu.

Dosis.atau i. Efek Samping :. cemas dan gatal.  Dewasa 0. Anti Infeksi Indikasi Infeksi : Gram negatif (Pseudomonas. atau i.5 mg/kg BB setiap 8 jam secara i. kram. reaksi ekstrapiramidal distonik. perubahan tekanan darah yang mendadak.  Anak-anak (sehubungan kemoterapi kanker dan radioterapi) : 0.v. dengan interval waktu 4–8 jam. tardive diskinesia (pada pasien dewasa dan usia lanjut) dan dapat diatasi dengan obat antiparkinson.  Pemberian obat anti kolinergik muskarinik dan analgetik opioid secara bersamaan dapat mengantagonisir efek domperidone. dan menambah tekanan pada sfingter esofagus bagian bawah pada orang sehat.  Dewasa . Interaksi Obat :.0.  prolaktinoma tumor hipofise yang mengeluarkan prolaktin. Pengobatan jangan melebihi 12 minggu.  Untuk gangguan kesadaran akibat infark serebri akut.  mual dan muntah yang disebabkan oleh pemberian levodopa dan bromokriptin lebih dari 12 minggu. abdomen.35 /kg BB.m.  Efek bioavailabilitas dapat bertambah dari 13% menjadi 23% bila diminum 1½ jam setelah makan.5 jam. m. Lama penggunaan : Sesuai dengan aturan pada pemberian dosis Farmakologi  Didistribusikan melalui plesenta  Volume distribusi meningkat pada odem.  Pasien dengan gangguan ginjal 36-70 jam  Kadar puncak serum : i.v. Dosis Dispepsia fungsional : Dewasa dan usia lanjut : 10-20 mg.m 30-90 menit. 30 menit setelah pemberian dengan infus  Ekskresi : Urin Kontraindikasi Hipersensitif terhadap Gentamisin dan Aminoglikosida lain Efek Samping > 10% GENTAMISIN . penggunaan topical.4. Efek Samping  Jarang dilaporkan : sedasi. sekali sebelum tidur malam tergantung respon klinik. Kemasan  Domperidone 10 mg tablet  Domperidone 5 mg / 5 mL syrup. infeksi saluran nafas.  Syok  Hipersensitivitas dengan gejala ruam-ruam  Psikoneurologik : jarang terjadi : umumnya insomnia.  Obat diminum 15–30 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam. L-Dopa → kekakuan otot GIT Regulator & Antiflatulents. Dosis dapat pasien. Indikasi :. i.6 per kg BB. 3 kali sehari dan jika perlu 10–20 mg.2-0. infeksi tulang. Interaksi Obat  Domperidone mengurangi efek hipoprolaktinemia dari bromokriptin. meningkatkan pengosongan lambung dalam bentuk cairan dan setengah padat pada orang sehat. Cara pemberian : • Injeksi i.  Untuk pengobatan gejala dispepsia fungsional  Untuk mual dan muntah akut.5-3 jam. ditingkatkan disesuaikan dengan kondisi  Mulut kering.  Pemberian IM hanya bila terpaksa. ruam kulit.2–0. Anak > 5 tahun : 2 . Cara Pemberian dan Lama Pemberian • Dosis umum : Bayi dan anak < 5 tahun : 2. asites dan menurun pada dehidrasi. infeksi saluran urin.  Neonatus : 0.  Tidak dianjurkan penggunaan jangka panjang. rasa haus. dengan interval waktu 4–8 jam. • Tetes mata c. atau i. Serratia) dan Gram positif (Staphylococcus).4 mg/Kg BB sehari.  Pemberian antasida secara bersamaan dapat menurunkan bioavailabilitas domperidone. citicholine sebaiknya mulai diberikan dalam waktu 2 minggu pasca stroke. Efek antiemetik dapat disebabkan oleh kombinasi efek periferal (gastroprokinetik) dengan antagonis terhadap reseptor dopamin di kemoreseptor “trigger zone” yang terletak diluar saluran darah otak di area postrema.5 jam. Antiinflammatories DOMPERIDONE Farmakologi : Domperidone merupakan antagonis dopamin yang mempunyai kerja anti emetik. • Pemberian IV: IV pelan.m.v. serta bentuk padat pada penderita yang pengosongan lambungnya terhambat.  Peningkatan prolaktin serum sehingga menyebabkan galaktorrhoea dan ginekomastia. dan profilaksis untuk bakteri endokarditis dan tindakan bedah. Mual dan muntah (termasuk yang disebabkan oleh levodopa dan bromokriptin) :  Dewasa (termasuk usia lanjut) : 10–20 mg. Peringatan dan Perhatian  Hati-hati penggunaan pada wanita hamil dan menyusui. infeksi kulit dan jaringan lunak. atau malaise. parkinson.  Untuk gangguan kesadaran akibat cedera kepala dan bedah otak. Proteus.3 /kg BB  Protein binding : < 30 %  Waktu paruh eliminasi :  Infant : umur < 1 minggu 3-11.3 -0.2.  Anak 0. pusing.v. Pemberian oral domperidone menambah lamanya kontraksi antral dan duodenum.  Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi hati dan ginjal. 1. Kontra Indikasi  Penderita hipersensitif terhadap domperidone. sakit kepala. sakit kepala. 1 minggu -6 bulan 33. citicholine sebaiknya diberikan bersama dengan obat hemostatik.  Gastrointestinal : jarang terjadi : umumnya mual atau anoreksia  Hati : jarang terjadi : umumnya menunjukkan gejala fungsi hati abnormal  Mata : jarang terjadi : diplopia  Lain-lain : jarang terjadi : umumnya merasa panas. diare. endokarditis dan septikemia .5 mg/kg BB setiap 8 jam secara i. Peringatan dan Perhatian :. Note : Usual dose yang lebih tinggi dan/atau frekuensi yang lebih tinggi (setiap 6 jam) yang diberikan pada kondisi klinik secara selektif ( cystic fibrosis) data serum level yang dibutuhkan b.

reaksi hipersensitivitas. sertraline. jumlah urin yang keluar BUN. Pada suatu penelitian mengenai profil keamanan flukonazol pada 577 anak-anak umur 1 hingga 17 tahun dengan dosis berkisar antara 1 hingga 15 mg/kg/hari selama 1 hingga 1616 hari. 30 g)  Infus. peritonitis. Cairan Injeksi Peringatan Kerusakan ginjal. menyusui. metsuksimid. kehamilan.10 ml) Vial  Larutan Injeksi. rosiglitazone. syndrom StevenJohnson (pada pasien AIDS pernah dilaporkan reaksi kulit yang hebat). gangguan pengecapan. pemberian tidak boleh lebih dari 200 mg/jam bila pemberian obat melalui IV infusi. venlafaxine. esophageal. serum: pemberian oral : 1-2 jam  Ekskresi : Urin (80% dalam bentuk obat yang tidak berubah) Kontraindikasi Hipersensitivitas thd flukonazol. mata . miastenia gravis. cisapride. Sefalosporin.  Ikatan protein plasma : 11% hingga 12%  Bioavailabilitas : Oral : > 90%  T½ eliminasi pada fungsi ginjal normal ~ 30 jam  Waktu untuk mencapai kadar puncak. gatal. Menurunkan efek: rifampin menurunkan konsentrasi flukonazol Pengaruh . Cara Pemberian dan Lama Pemberian maksimal dosis 400 mg sehari Pemberian Flukonazol secara parenteral (IV infus) diberikan dalam 1 . atau beberapa komponen yang terdapat dalam sediaan. ataxia) .3% (5 ml. Efikasi flukonazol belum terbukti pada bayi umur kurang dari 6 bulan.Ginjal : Nefrotoksik ( meningkatkan klirens kreatinin) 1% – 10% .1 % (15 g.Cardiovaskuler : Edeme. sakit kapala. ALT. Pediatrik sbg Sulfat 10 mg/ml (2 ml) (Metabisulfit)  Lar Injeksi. phenytoin.  Wanita hamil Dosis Pemakaian Glimepiride disesuaikan dengan kadar gula darah pasien dengan dosis minimal untuk memperoleh kadar gula .5 g))  Saleb Kulit Sebagai Sulfat 0. 100 ml). siklosporin. alopecia. turunan ergot. anafilaksis.Kulit : rash.  Difusi relatif dari darah ke dalam cairan serebrospinal : adekuat dengan atau tanpa inflamasi. toxic epidermal necrolysis.. glimepirid. dispepsia jarang terjadi. diazepam. pruritus.Susunan syaraf pusat : Neurotosisitas (vertigo. profiaksis antijamur pada transplantasi sumsum tulang. Topical Sebagai Sulfat 0. Dosis. mirtazapine. trombositopenia dan hipokalemia. .2 jam. efek potensiasi dengan neuromuscular blocking agent Parameter Monitoring Analisis urin. Farmakologi  Distribusi : terdistribusi secara luas dalam tubuh dengan penetrasi yang baik ke dalam cairan serebrospinal. hipokalsemia. mual (2 %) dan diare (2 %). hati. alkaline phaophatase ).  CSF : blood level ratio : normal meninges : 70% hingga 80% .1% (15 g. benzodiazepin tertentu. atau pada pasien koma karena diabetes. Pediatrik Sebagai Sulfat (Preservative Free) : 10 mg/ml (2 ml)  Saleb Mata Sebagai Sulfat 0. kondisi dengan depresi neuromuskuler transmitens Aminoglikosoda secara parenteral dapat menimbulkan nefrotoksisitas dan ototoksisitas dapat secara langsung secara proporsional dengan jumlah obat yang diberikan dan durasi pengobatan. 8 ml. 20 ml) (Metabisulfit)  Lar Injeksi.Agranulositosis. Ototoksisitas (vestibular) . .flukonazol (2 hingga 3 mg/kg/hari) memperlihatkan efek klinik dan kecepatan respon mycological yg lebih tinggi daripada nistatin oral 400. infeksi saluran urin ). cairan peritoneal.120 mg (100 ml)  Larutan Injeksi.3% (3 mg/g (3. nefazodone. pioglitazone. tinnitus atau vertigo adalah indikasi dari vestibular injuri dan mengancam hilangnya pendengaran. 60 mg (50 ml. leucopenia. atau sulfonamid. dan infeksi systemic) . nyeri perut (3 %). kalium Bentuk Sediaan Kapsul. tacrolimus. perpanjangan interval QT FLUKONAZOL Indikasi Pengobatan candidiasis (vaginal. sputum. 15 ml) Mengandung Benzalkonium Klorida Peringatan Jangan digunakan pada pengobatan yang lama karena dapat berisiko toksik pemberian yang lama yaitu penurunan fungsi ginjal. gangguan ANTI INFEKSI GLIMEPIRIDE Antidiabetic Indikasi Glimepiride diindikasikan untuk menurunkan kadar gula darah pada pasien diabetes melitus type 2. warfarin dan substrate CYP2C8/9. kulit dan urin. HMG-CoA reductase inhibitor. sildenafil (dan PDE-5 inhibitor yang lain). Efek samping yang sering terjadi adalah muntah (5 %). diare. 2C19dan 3A4 yang lain.Otic : Ototoksisitas (auditory). Sebagai Sulfat (Premixed in NS) 40 mg (50 ml). rash ( pengobatan tidak dilanjutkan atau monitor dengan ketat pada infeksi invasive atau sistemik). tes fungsi ginjal. inflamasi meninges : > 70% hingga 80%. azol yang lain . Parameter Monitoring Tes fungsi hati (AST. diabetes ketoasidosis. kejang. neteglinide. oropharyngeal. rasa tidak enak pada perut. bloker saluran kalsium.Dengan Obat Lain : Efek sitokrom P450: Menghambat CYP1A2 (lemah) . citalopram. Tablet. Flukonazol dapat meningkatkan kadar/efek amiodarone. 2C8/9 (kuat). serum kreatinin Bentuk Sediaan  Krem. 2C19 (kuat). 30 g)  Tetes Mata sbg Sulfat 0. glipizid. flatulence. Pada suatu penelitian efikasi Flukonazol untuk menekan meningitis cryptococcal telah terbukti berhasil pada 4 dari 5 anak-anak.Terhadap Kehamilan : Faktor risiko : C.000 IU 4 kali sehari. Meningkatkan efek/toksisitas : Penggunaan bersamaan dengan cisapride dikontraindikasikan disebabkan karena potensial terjadi aritmia malignant. pusing. pneumonia. Interaksi . penggunaan bersamaan dengan cisapride Efek Samping Mual. kemerahan < 1% . sbg Sulfat 40 mg/ml (2 ml. hiperlipidemia. propranolol. . Amfoterisin B. muntah.  Hipersensitif terhadap glimepiride atau golongan sulfonil urea. monitor fungsi hati – pengobatan tidak diteruskan jika muncul gejala dan tanda gangguan pada hati ( resiko hepatic necrosis). Dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau dikombinasi dengan metformin atau insulin.Terhadap Anak-anak : Pada pasien anak immunocompromised usia 6 bln hingga 13 thn dengan candidiasis oropharyngeal. 3 A4 (moderate). meningitis cryptococcal. sbg Sulfat 10 mg/ml (6 ml.Neuromuskuler dan skeletal : Gait instability . fluoksetin. Diuretik dapat meningkatkan efek nefrotoksik. Kontra Indikasi  Tidak cocok diberikan pada pasien diabetes type 1 (insulin dependent). . Reaksi alergi Dyspnea Granulocytopenia Fotosensitif Pseudomotor Cerebral Trombositopeni Interaksi Dengan Obat Lain : Penisilin.

disarankan secara rutin cek gula darah puasa dan kadar Hb glikosilat (biasanya setiap 3 sampai paling lama adalah 6 bulan sekali). nutrisi harus cukup baik. kulit menjadi kering. kemungkinan dapat terjadi hipoglikemia dengan gejala : bertambahnya frekuensi berkemih.darah stabil yang diinginkan. Segera kontak dokter agar dilakukan penyesuaian dosis. Kesalahan yang terjadi misal melewati waktu minum obat atau melewati waktu makan. Peringatan dan Perhatian Pada minggu awal penggunaan Glimepiride. Dosis awal 1 mg 1 kali sehari saat makan pagi. Dosis dapat ditingkatkan setelah ada evaluasi kadar gula darah dan bertahap dalam 1-2 minggu. dengan pengawasan dokter. tidak melewatkan jadwal makan. meminimalisir konsumsi alkohol. gangguan fungsi ginjal dan hati. Dan selama penggunaan Glimepiride. seimbang antara olahraga dan takaran karbohidrat yang dimakan. dan diminum pada saat dan dosis yang tepat sesuai petunjuk dokter. Bentuk Sediaan  Glimepiride 1 mg  Glimepiride 2 mg  Glimepiride 3 mg  Glimepiride 4 mg Rute Oral (tablet) tablet tablet tablet tablet . mudah haus. harus didiskusikan dengan dokter.

Dosis Oleskan tipis-tipis Hydrocortisone cream pada daerah lesi 3 sampai 4 kali sehari.sehingga dapat menurunkan tekanan darah pada kasus hipertensi. glikoprotein dan glikosaminoglikan. Gangguan elektrolit (hipokalemia. Peningkatan hipotensi dan/atau efek samping pada ginjal dari inhibitor ACE akan menghasilkan diuresis berat pada pasien/ Beta bloker meningkatkan efek hiperglikemia dari tiazida pada diabetes mellitus tipe 2. anoreksia. Secara biokimia. Toksisitas lithium dapat jika tiazida meningkatkan ekskresi ginjal litium. dan paru (ekskresi melalui air susu masih belum diketahui). amonia.Terhadap Anak-anak : . anemia hemolitik. dermatitis eksfoliatif.  Pada penderita yang mempunyai alergi terhadap seafood. Farmakologi Glukosamin adalah amino monosakarida yang ditemukan pada kitin. hipotensi. Onset kerja : diuresis:~2. inflamasi pada kulit. Sesuai dengan hipotesa. Tidak mengalami metabolisme. hipokalemia. Glukosamin efektif untuk pemulihan tulang rawan sendi dan memperbaiki kerusakan sendi. menurunkan efek diuretik dan antihipertensi. juga menyebabkan vosodilatasi pembuluh darah arteriol. miokarditis. Toksisitas digoksin dapat meningkat jika tiazida menginduksi hipokalemia atau hipomagnesemia. < 1% : agranulositosis.Hyperuricemia & Gout Preparations GLUCOSAMINE Bentuk Sediaan Hydrocortisone cream 1%. sebaiknya menggunakan sediaan ini dengan hati-hati. kalsium. Hydrocortisone cream 2. Penurunan absorpsi oleh kolestiramin dan kolestipol. Cepat terserap pada saluran cerna. varisela. Efek puncak : 4-6 jam. vaksinia. tube 5 gr . magnesium dan kalium. eritema multiforma. yang meningkatkan ekskresi natrium. tekanan darah.Terhadap Hasil Laboratorium : Meningkatkan kreatinin fosfokinase. Antiinflamasi non steroid dapat mengurangi efikasi tiazida. Siklosporin dan tiazida akan meningkatkan risiko gout atau toksisitas ginjal. Umumnya efek tampak setelah satu jam. dan dalam 3-6 jam dieksresikan melalui ginjal. Gunakan dengan perhatian pada pasien dengan gangguan hati: ensefalopati . tekanan pada pernapasan. Interaksi . merupakan bentuk dasar pada matriks ekstraseluler dari jaringan penyambung. tetapi pada penderita osteoartritis produksinya berkurang. sehari  Berat badan > 55 kg : 3 x 2 tablet. Parameter Monitoring Periksa cairan tubuh. Glukosamin secara alami diproduksi oleh tubuh. tetapi pada sebagian menyebabkan gangguan saluran cerna ringan. amilase. Glikoprotein. gunakan dengan perhatian . penurunan klorida. klorida. Peningkatan konsentrasi glukosamin dalam plasma darah dapat meningkatkan kadar glukosamin pada cairan sinovial. Bentuk sediaan Glucosamine 250 mg tablet HYDROCORTISONE Topical Corticosteroids Indikasi : Pengobatan eksema. klorida dan sejumlah air.8 jam. Kegunaan : Glucosamine memelihara kesehatan persendian Dosis  Berat badan < 55 kg : 3 x 1 tablet. dan kemungkinan hipersensitivitas thd golongan obat ini. Bentuk Sediaan Tablet 25 mg Peringatan Hindari penggunaan hidroklorotiazida pada penyakit ginjal parah. persendian memiliki afinitas yang besar terhadap glukosamin dan memiliki kemampuan untuk menyimpan glukosamin lebih baik daripada jaringan yang bukan persendian. Hidroklorotiazida selain berefek sebagai diuretik. Cepat terakumulasi di hati dan sendi. orang dapat Farmakologi Hidroklorotiazida adalah diuretik tiazida.5%. tekanan pada epigastrik. T½ eliminasi : 5. Efek hipoglikemia dapat diturunkan. Bioavailabilitas : 50%-80%. Tiazida dapat memperpanjang durasi pada penggunaan bloking neuromuskular. glukosamin merupakan hasil metabolisme glikoprotein. anemia aplastik.8 L/kg. dikenal sebagai proteoglikan yang merupakan bentuk dasar matriks ekstraseluler dari jaringan penyambung. Eksresi : melalui urin sebagai obat tidak berubah. dan penyakit kulit lainnya yang disebabkan oleh virus atau jamur. peningkatan asam. Obat ini bekerja senergistik dengan obat anti-hipertensi lainnya. kolesterol. elektrolit serum.  Ibu hamil dan menyusui tidak dianjurkan menggunakan sediaan ini. Glikoprotein. Distribusi 3.Terhadap Ibu Menyusui : Hidroklorotiazida didistribusikan ke air susu.Dengan Obat Lain : Peningkatan efek hidroklorotiazida dengan furosemida dan diuretik loop. diketahui sebagai proteoglikan. Efek Samping Hipotensi ortostatik.6-14. reaksi alergi (reaksi anafilaktik yang membahayakan hidup). DIURETIK HCT Peringatan dan Perhatian  Penggunaan pada penderita diabetes sebaiknya dilakukan pemeriksaan kadar gula darah secara rutin karena Glucosamine dapat meningkatkan resistensi insulin. Di metabolisme di hati dan diekskresikan melalui urin. alopsia. sindrom Stevens-Johnson. fotosensitivitas. hiponatremia) dapat terjadi. pneumonitis eosinofilik. Durasi 6-18 jam.8-7. dan dermatitis karena alergi Kontra Indikasi Hydrocortisone cream sebaiknya tidak digunakan bila ada tuberkulosis kulit. blood urea nitrogen dan kreatinin. Glukosamin efektif untuk memperbaiki kerusakan sendi sehingga dapat mengurangi rasa nyeri. gangguan fungsi hati. trombositopenia dan nekrolisis epidermal toksik. Ikatan protein : 68%. Pengaruh .Terhadap Kehamilan : Faktor resiko : B . glukosa. Obat ini dapat diabsorpsi dengan baik melalui saluran cerna. tube 5gr. sehari Efek Samping Sangat jarang. alkalosis hipokloremik. Stabilitas Penyimpanan : Disimpan ditempat yang kedap udara Kontraindikasi Diabetus mellitus. feses.

Hati-hati pada pasien diabetes.hati dapat terjadi akibat gangguan elektrolit. sulfonilurea. dapat mengalami perubahan pada kontrol glukosa. Penggunaan pada pasien alergi terhadap sulfonamid dikontraindikasikan. Dapat terjadi reaksi hipersensitifitas. hindari jika pernah terjadi reaksi alergi sebelumnya .gagal jantung kronik. Gunakan dengan perhatian pada pasien dengan konsentrasi kolesterol menengah sampai tinggi. Ada kemiripan sifat kimia antara sulfonamid. Fotosensitivitas dapat terjadi. Gout dapat terjadi pada pasien dengan riwayat gout. Hilangkan hipokalemia sebelum memulai terapi. Dapat memperparah lupus eritematosus atau mencetuskannya. inhibitor karbonik anhidrase. tiazida dan diuretik loop (kecuali asam etakrinat).

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->