Referat Bedah : Trauma Tumpul Abdomen

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seorang pria berusia 19 tahun masuk IGD RSU diantar oleh mobil ambulan. Pasien merupakan korban kecelakaan bis. Bis yang ditumpangi masuk jurang dan terguling. Hasil anamnesis memberi gambaran bahwa tangan kanan, perut, dan bagian bawah tubuh pasien terjepit. Pasien mengeluh pusing, mual, dan muntah. Tangan kanan terasa lemas serta kedua kaki sangat sulit digerakkan. Pasien tidak pingsan dan tidak didapatkan amnesia retrograde (AR) maupun amnesia anterograde (AA). Pemeriksaan fisik menunjukkan kondisi umum pasien nampak kesakitan dengan kesadaran compos mentis. Tekanan darah menunjukkan nilai 110/60 mmHg dengan denyut nadi 126 kali/menit, respiration rate 40 kali/menit, dan suhu tubuh 35,8OC per axilla. Glasgow Coma Scale (GCS) dengan skor E 4 V 5 M 6. Pemeriksaan kepala didapatkan bentuk yang mesochepal dan tidak ditemukan hematom. Kedua conjunctiva palpebra tidak pucat, tidak ditemukan sclera icteric, serta pupil isokhor. Bentuk hidung simetris, tidak didapatkan deformitas, epistaksis, maupun secret. Bibir tidak nampak sianosis dengan mukosa bibir lembab. Telinga tidak didapatkan deformitas serta sekret. Leher tidak didapatkan Jugular Veins Pressure (JVP), pembesaran limfonodi, maupun hematom. Pemeriksaan fisik thorak didapatkan hasil bentuk dinding thorak simetris statis-dinamis, dengan palpasi fremitus suara paru kanan sama dengan paru kiri, serta tidak ditemukan ketinggalan gerak dari kedua paru. Perkusi menunjukkan hasil sonor dengan auskultasi suara vesikuler murni pada kedua lapang paru. Abdomen menunjukkan adanya jejas pada seluruh lapang abdomen serta terdapat bekas tekanan pada region ingunalis kanan. Auskultasi didapatkan peristaltik usus positif (+) dengan perkusi yang timpani dan tidak didapatkan pekak alih. Palpasi menunjukkan nyeri tekan yang positif dan tidak ditemukan massa. Pemeriksaan pada keempat ekstremitas tidak ditemukan akral dingin dan sianosis. Skor kekuatan otot bernilai 2 untuk kedua kaki, 4 untuk tangan kanan, dan 5 untuk tangan kiri. Status lokalis pada regio abdomen menunjukkan adanya jejas dengan darah kering dan vulnus excoriation (VE). Peristaltik usus yang positif (+) ditunjukkan dengan pemeriksaan auskultasi. Didapatkan nyeri tekan pada region inguinalis kanan dan kiri. Perkusi memberikan hasil timpani tanpa pekak alih. Pada pemeriksaan kedua kaki didapatkan bahwa kedua kaki sangat sulit digerakkan. Pasien sudah dipasang kateter urin dan ditemukan hematuria pada urine bag. Pada pemeriksaan laboratorium dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan serial Hb. Pemeriksaan darah lengkap yang dilakukan bersama serial Hb pertama menunjukkan angka Haemoglobin sebesar 14.5 g/dL, hematokrit sebesar 45%, angka leukosit 27.9 x 103/uL, angka eritrosit 4.94 x 106/uL, angka trombosit 281 x 103/uL, MCV sebesar 81.7 IL, MCH 26.9 pg, MCHC 32,9g/dL. Hitung jenis leukosit menunjukkan hasil limfosit 15.9%, MXD 4.4% dan neutrofil 79.7%. Laju endap darah (LED) 1 jam menunjukkan angka 5 mm dan LED 2 jam menunjukkan angka 10mm. Pada serial Hb kedua didapatkan hasil kadar haemoglobin sebesar 15,6 g/dL dan hematokrit sebesar 24,6 %. Serial Hb ketiga menunjukkan hasil Hb sebesar 16,4 g/dL dan hematokrit sebesar 28,2%. Pemeriksaan serial Hb keempat didapatkan kadar hemoglobin sebesar 16,9 g/dL dan hematokrit sebesar 22,1%. Pemeriksaan foto polos pelvis AP view tidak didapatkan lesi litik ataupun sklerotik, tak tampak tandatanda fraktur/dislokasi, tak tampak kelainan pada sistem tulang yang tervisualisasi, serta joint space tak melebar/menyempit. Pada pemeriksaan ultrasonography (USG) tidak didapatkan cairan bebas pada hepatorenal, splenorenal, serta retrovesika urinaria. Pada gambaran hepar menunjukkan ukuran, bentuk dan echostructure parenchym normal, homogen, tepi licin, capsula intact, tak tampak pelebaran sistema bilier, et vascular intra hepatal, tak tampak nodul/cyst. Pada gambaran vesica fellea didapatkan ukuran

Gambaran vesika urinaria nampak terisi cairan. penetrasi rongga perut yang dalam jarang terjadi. . Trauma pada abdomen terbagi berdasarkan kejadian. dua diantaranya berjalan horizontal mengelilingi badan (yang atas setinggi tulang rawan iga kesembilan. B. Pada trauma tembus perbedaan antara benda-benda berkecepatan tinggi dan rendah mempunyai arti penting. batas kortek dan medulla tegas. kolumna vertebralis. bagian lateral dibentuk oleh 12 kosta. 2002). dan dua lainnya vertikal di kiri dan kanan tubuh yaitu dari tulang rawan iga kedelapan hingga ke pertengahan ligamentun inguinale (Dorland. bentuk. 2002). dan ilia (Dorland. 2009). regular. 2006). dan aponeurosis origo muskulus transverses abdominis. dinding abdomen dibentuk oleh diafragma yang memisahkan kavitas abdominalis dari kavitas thorakalis. bagian atas oleh muskulus psoas mayor.normal. dinding abdomen di garis tengah dibentuk oleh kelima vertebra lumbales dan diskus intervertebralisnya. tak tampak batu/massa. Proses penikaman dapat dibedakan menjadi dua macam berdasarkan energinya. hilus tak prominen. dinding tak menebal. Trauma Trauma adalah sebuah mekanisme yang disengaja ataupun tidak disengaja sehingga menyebabkan luka (Amro. dan venakava inferior (Srivathsan. SPC tak melebar. Berdasarkan letaknya. dan echostructure parenchyma normal. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Tikaman dengan energi kinetik yang tinggi dipakai dengan maksud terang-terangan membunuh. muskulus kuadratus lumborum. yaitu trauma tumpul dan trauma tembus (Srivathsan. Anatomi Abdomen Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. Organ-organ intraperitoneal diantaranya lambung. 2009). kavitas abdominalis melanjutkan diri menjadi kavitas pelvis melalui apertura pelvis superior. B. tak tampak nodul. Pada bagian superior. penatalaksanaan. dinding licin. Rongga ini berisi visera dan dibungkus dinding (abdominal wall) dari otot-otot. hepar. Pada tikaman dengan energi kinetik yang rendah. korban sering dapat melihat datangnya dan mengelak pada saat tikaman tersebut terjadi. diagnostik. kapsula intak. Luka kecepatan rendah yang biasa terjadi ialah pada penikaman dengan senjata tajam. yang bawah setinggi bagian atas krista iliaka). kolon. Luka-luka tersebut menembus dalam dan sering . Tujuan Penulisan Tujuan penulisan referat ini untuk mengetahui manifestasi klinik. Gambaran prostat memberikan hasil ukuran dan ekostruktur parenkim normal. pankreas. tak tampak massa/nodul. Abdomen terbagi menjadi sembilan daerah yang dibatasi oleh empat garis bayangan pada dinding anterior. Gambaran ginjal kanan dan kiri menunjukkan ukuran dan echostructure parenchyma normal. organ dalam abdomen terbagi menjadi dua. komplikasi dan prognosis trauma tumpul abdomen. aorta. Pada bagian inferior. yaitu organ intraperitoneal dan retroperioneal. tak tampak massa. Dinding abdomen dibatasi oleh selubung fascia dan peritoneum parietale (Snell. Dengan demikian. dan organ-organ saluran pencernaan yang lain. yaitu tikaman dengan energi kinetik rendah dan energi kinetik tinggi. duodenum. 2006). terpasang balon vesika urinaria. Adapun organ yang terletak retroperitoneal seperti ginjal. tak tampak massa. Gambaran lien menunjukkan ukuran. 2010). Di bagian posterior. tak tampak limpadenopati paraaortisi. dinding licin. bentuknya lonjong dan meluas dari diafragma hingga pelvis (Agung.

Dapat juga terjadi counter coup. Hal ini dapat merusak organ-organ padat visera seperti hepar. Ketiga adalah kekuatan kompresi eksternal yang mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdomen secara mendadak dan mencapai puncaknya ketika terjadi ruptur organ. Himpitan meninggalkan jejas dan menyebabkan tangan kanan serta kaki penderita terasa lemah untuk digerakkan. patofisiologi dari trauma tumpul abdomen terdiri dari : a. Yang kedua adalah ketika isi dari intra abdomen terhimpit antara dinding depan abdomen dan kolumna vertebralis atau posterior kavum thorak. Trauma tumpul meliputi benturan langsung. Hantaman juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen pada organ berongga dan menyebabkan ruptur (Salomone & Salomone. Kecelakaan mobil dengan mobil dan antara mobil dengan pejalan kaki menduduki 50-75% dari keseluruhan kasus trauma tumpul abdomen (Udeani & Steinberg. Hal yang sering terjadi hantaman menyebabkan sobek dan hematom subkapsular pada organ padat visera. 2006). Patofisiologi Menurut Anonim (2008). terutama yang berada di daerah hantaman. Peluru berkecepatan tinggi dari pistol atau pecahan-pecahan granat yang meledak dapat menembus dalam dan mengikuti jalan yang aneh. Pada penderita ini terjadinya jejas pada abdomen disebabkan karena terhimpitnya pasien saat terjadi kecelakaan. dan deselerasi (cedera perlambatan). Cidera deselerasi klasik termasuk hepatic tear sepanjang ligamentum teres dan cidera intima pada arteri renalis (Salomone & Salomone. yaitu tenaga kompresi (hantaman) dan tenaga deselerasi.kompleks.2011). Akibatnya. Hal tersebut menyebabkan terjadinya himpitan pada organ intra abdomen antara dinding depan abdomen dan kolumna vertebralis. Trauma intra abdomen karena hantaman sering dikaitkan dengan faktor tumbukan antara orang yang cedera dan kondisi di luar tubuh individu tersebut. secara luas merusak segala sesuatu atau apa saja di sekitar lintasannya (Dudley. Pada penderita ini mengalami trauma dalam kecelakaan bis dikarenakan benturan langsung dan proses kompresi akibat himpitan kursi. Bagian tubuh penderita yang terhimpit adalah bagian perut hingga kaki serta tangan kanan. Kehilangan darah i.2011). limpa dan ginjal. C. Tenaga deselerasi menyebabkan regangan dan sobekan linier organ-organ yang terfiksasi. tidak ada luka di luar. serta kekuatan akselerasi dan deselerasi yang bekerja terhadap organ dalam abdomen (Rahmawati. Cedera struktur intraabdomen dapat diklasifikasikan ke dalam 2 mekanisme utama. yang pertama adalah ketika tenaga deselerasi hantaman menyebabkan pergerakan yang berbeda arah dari struktur tubuh yang permanen. Limpa dan hati memiliki banyak suplai dan simpanan darah sehingga terjadi kehilangan darah dengan cepat. Salomone & Salomone (2011) menyatakan bahwa trauma tumpul akibat hantaman secara umum dibagi ke dalam 3 mekanisme. kekuatan hantaman menyebabkan organ viseral yang padat serta vaskularisasi abdomen menjadi ruptur. kompresi. Mekanisme Trauma yang didapat dari kecelakaan menjadi penyebab terbanyak dari trauma abdomen. tapi ada jejas organ di visera akibat desakan luka atau organ viscera. pukulan. 1992). . Tenaga kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa hantaman langsung atau kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi. Trauma Tumpul Abdomen 1. yaitu trauma tumpul yang berat. 2.2011).

Inspeksi : i. Perlu digali apakah ada cidera kepala. ataupun polisi dan paramedis. Pemeriksaan 1. b. jangan menanyakan riwayat lengkap hingga cidera yang mengancam nyawa teridentifikasi dan mendapatkan penatalaksanaan yang sesuai. atau sistem kardiovaskular diluar cidera abdomen (Salomone & Salomone. Apakah ada cidera kepala atau tulang belakang h.2006).ii. tegang pada abdomen merupakan tanda klasik patologi intraabdomen. 2. keluarga. Apakah pasien dalam pengaruh obat atau alkohol g. v. Hal-hal tersebut mencakup: a. AMPLE sering digunakan untuk mengingat kunci dari anamnesis. Bagaimana fungsi peralatan keselamatan seperti sabuk pengaman dan airbags f. Pemeriksaan abdomen untuk menentukan tanda-tanda eksternal dari cedera. Pemeriksaan Fisik Evaluasi pasien dengan trauma tumpul abdomen harus dilakukan dengan semua cidera merupakan prioritas. Waktu pembebasan (evakuasi) yang dibutuhkan c. sistem respirasi. Setelah survey primer dan resusitasi dilakukan. perlu digali apakah ada riwayat gangguan koagulasi atau penggunaan obat-obat anti platelet (seperti pada defek jantung congenital) karena dapat meningkatkan resiko perdarahan pada cidera intra abdomen (Wegner et al. Udeani & Steinberg. iii. Proses kecelakaan dan kerusakan kendaraan b. 2011 .. Banyak cedera yang samar dan baru termanifestasikan kemudian. Pemeriksaan yang diperlukan adalah : a. Nyeri. Cidera duodenum dan pankreas menyebabkan perdarahan dan berefek mengaktifkan enzim di sekitar jaringan sehingga memicu peritonitis kimiawi area retroperitoneal. Events leading to presentation (Salomone & Salomone. iv. khususnya yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor perlu digali lebih lanjut.2011) . iii. Apakah pasien meninggal d. Untuk cidera yang mengancam jiwa yang membutuhkan pembedahan segera. iii. b. 2011).Medications. Nyeri i. ii.. kekakuan. Pemeriksaan awal : i. survei sekunder yang komprehensif dapat ditunda sampai kondisi pasien stabil. Apakah ada masalah psikiatri Pada pasien anak. saksi. Tanda dan gejalan cidera pankreas dan duodenum adalah :  Nyeri tekan abdomen yang difus  penjalaran nyeri pada area epigastrium sampai ke punggung. Apakah pasien terlempar dari kendaraan e. Perdarahan pada kavum retroperitoneal sulit untuk dievaluasi dan di diagnosis. Last meal or other intake. D. Konsistensi jaringan hati dan lien menyebabkan jaringan sulit melakukan proses homeostasis. Perlu diperhatikan . baik itu dari pasien. Udeani & Seinberg (2011) menyatakan bahwa faktor penting yang berhubungan dengan pasien trauma tumpul abdomen. Past medical history. ii. yaitu Allergies. Nyeri tekan dan defans muscular disebabkan karena pergerakan yang tiba-tiba dan iritasi membrane peritoneal hingga ke dinding abdomen. Pada akhir pemeriksaan awal dilihat kembali luka-luka ringan pada penderita. fokus dilakukan pada survey sekunder abdomen. Anamnesis Secara umum. Iritasi disebabkan adanya darah atau isi lambung pada kavum peritoneal.

Pemeriksaan sensori pada thorak dan abdomen dilakukan untuk evaluasi adanya cedera medulla spinalis. Auskultasi : i. iii. kekakuan) segera setelah cedera menandakan adanya kebocoran isi usus. Catat pola cedera yang potensial untuk trauma intra abdomen (seperti abrasi karena sabuk pengaman. Jika pasien mengalami cidera maxillofacial. Feces semestinya juga diperiksa untuk menilai adakah perdarahan berat atau tersamar. Nyeri pada perkusi membutuhkan evaluasi lebih lanjut dan kemungkinan besar konsultasi pembedahan. ix. e. palpasi perlahan dinding abdomen dan perhatikan reaksinya. Cullen sign (ekimosis periumbilikal) menandakan adanya perdarahan peritoneal. Nyeri pada perkusi merupakan tanda peritoneal ii. viii. Tonus rectal juga dinilai untuk mengetahui status neurologis dari pasien. yang kemungkinan berhubungan dengan pneumoperitoneum. ii. Pada banyak penelitian. d. maka frekuensi evaluasi ulang menjadi komponen penting dari menejemen pasien . Fraktur pelvis terbuka berhubungan tingkat kematian sebesar 50%. dan deformitas. Bradikardi mengindikasikan adanya darah bebas di intra peritoneal pada pasien dengan cedera trauma tumpul abdomen. Suara usus pada rongga thoraks menandakan adanya cedera diafragmatika. Memar dan edema panggul meningkatkan kecurigaan adanya cedera retroperitoneal. Tanda peritonitits (seperti tahanan perut yang involunter. Bising pada abdomen menandakan adanya penyakit vaskular atau fistula arteriovenosa traumatik. Krepitasi atau ketidakstabilan kavum thoraks bagian bawah dapat menjadi tanda potensial untuk cidera limpa atau hati yang berhubungan dengan cedera tulang rusuk. Selama auskultasi. seperti hematom pelvis dan retroperitoneal. Karena luasnya spektrum cidera pada trauma tumpul abdomen. vi. ii. Perhatikan massa abnormal. iii. c. lebih baik dipasang pipa orogastrik. iv. Distensi abdomen dapat merupakan hasil dari dilatasi gastrik sekunder karena bantuan ventilasi atau terlalu banyak udara. Konsistensi yang lunak dan terasa penuh dapat mengindikasikan perdarahan intraabdomen. v. Palpasi : i. iii. tanda (bekas) sabuk pengaman dapat dihubungkan dengan ruptur usus halus dan peningkatan insidensi cidera intra abdomen. dilatasi gastrik. dan hematom. Pemeriksaan rektal dan bimanual vagina dilakukan untuk menilai perdarahan dan cedera. maka perlu dilakukan retrograde urethrogram terlebih dahulu sebelum pemasangan kateter. vii. atau ileus yang diakibatkan iritasi peritoneal. Cedera medulla spinalis bisa berhubungan dengan penurunan atau bahkan tidak adanya persepsi nyeri abdomen pada pasien. Pipa nasogastrik seharusnya dipasang (jika tidak ada kontraindikasi seperti fraktur basal kranii) untuk menurunkan tekanan lambung dan menilai apakah ada perdarahan. Inspeksi genital dan perineum dilakukan untuk melihat cedera jaringan lunak. Ketidakstabilan pelvis merupakan tanda potensial untuk cedera traktus urinarius bagian bawah. vi. Perkusi : i. Observasi pola pernafasan karena pernafasan perut dapat mengindikasikan cedera medulla spinalis. namun gejala ini biasanya muncul dalam beberapa jam sampai hari. Jika cedera urethra atau vesika urinaria diduga karena fraktur pelvis. Perhatikan distensi abdomen. hantaman dengan papan kemudi-yang membentuk contusio). Selanjutnya kateter foley juga dipasang untuk mengetahui produksi urin dan pengambilan sample urinalisis untuk pemeriksaan hematuri mikroskopis. ii.adanya area yang abrasi dan atau ekimosis. Palpasi seluruh dinding abdomen dengan hati-hati sembari menilai respon pasien. iv. perdarahan. nyeri tekan. v.

Hasil pemeriksaan fisik abdomen pada penderita ini didapatkan jejas di seluruh region abdomen dengan vulnus excoriation (VE) serta darah kering di region inguinalis dekstra dan sinistra. Pada pemeriksaan kedua kaki didapatkan bahwa kedua kaki sulit digerakkan.6 g/dL dan hematokrit sebesar 24. pembekuan darah. Perkusi memberikan hasil timpani tanpa pekak alih.5 g/dL.7%. pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan untuk korban trauma biasanya termasuk glukosa serum. Pemberian transfusi trombosit pada pasien dengan trombositopenia berat (jumlah trombosit<50.9%.dengan trauma tumpul abdomen. dan tes kehamilan (untuk wanita usia produktif). c. MCH 26. Peristaltik usus yang positif (+) ditunjukkan dengan pemeriksaan auskultasi.2%. namun temuan peningkatan hasil bisa dipengaruhi oleh beberapa alasan (contohnya penggunaan alkohol).4% dan neutrofil 79.6 %.000/mL) dan terjadi perdarahan. anemia masih dapat meningkat. Pemeriksaan serial Hb keempat didapatkan kadar hemoglobin sebesar 16. MCV sebesar 81. kimia serum. survey tersier pada trauma dapat mendeteksi 56% cidera yang terlewatkan selama penilaian awal dalam 24 jam pertama. Peningkatan sel darah putih tidak spesifik dan tidak dapat menunjukkan adanya cidera organ berongga. b. Pemeriksaan cepat glukosa darah dengan menggunakan alat stik pengukur penting pada pasien dengan perubahan status mental. Pasien pendarahan mengeluarkan darah lengkap.94 x 106/uL.4 g/dL dan hematokrit sebesar 28. atau kehilangan darah yang signifikan. Didapatkan nyeri tekan pada region inguinalis kanan dan kiri. Pemeriksaan darah lengkap Hasil yang normal untuk kadar hemoglobin dan hematokrit tidak bisa dijadikan acuan bahwa tidak terjadi perdarahan. Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara rendahnya kadar hematokrit (<30%) dengan cidera berat. angka leukosit 27. Pasien sudah dipasang kateter urin dan ditemukan hematuria pada urine bag. 3. d. arterial blood gas (ABG). Survei tersier merupakan pengulangan survei primer dan sekunder serta revisi semua hasil laboratorium dan radiografi. angka trombosit 281 x 103/uL. Pengukuran Amilase . ethanol darah. Kimia serum Banyak korban trauma kecelakaan lebih muda dari 40 tahun dan jarang menggunakan obat-obatan yang mempengaruhi elektrolit (seperti diuretik. Pada serial Hb kedua didapatkan hasil kadar haemoglobin sebesar 15.7 IL. Tes fungsi hati Tes fungsi hati pada pasien dengan trauma tumpul abdomen penting dilakukan. cidera berat (seperti fraktur pelvis terbuka). Laju endap darah (LED) 1 jam menunjukkan angka 5 mm dan LED 2 jam menunjukkan angka 10mm. Jangan menahan pemberian transfusi pada pasien dengan kadar hematokrit yang relatif normal (>30%) tapi memiliki bukti klinis syok. hematokrit sebesar 45%. Hasil palpasi tidak didapatkan massa serta adanya undulasi. darah lengkap. antidiuretic hormone [ADH]) dan muncul pengisian ulang transkapiler. Pemeriksaan darah lengkap yang dilakukan bersama serial Hb pertama menunjukkan angka Haemoglobin sebesar 14. MCHC 32.9 g/dL dan hematokrit sebesar 22. MXD 4.1%. Jika pengukuran gas darah tidak dilakukan. Pada sebuah penelitian. Pemeriksaan Laboratorium Menurut Salomone & Salomone (2011).9 x 103/uL. Hingga volume darah tergantikan dengan cairan kristaloid atau efek hormonal (seperti adrenocorticotropic hormone [ACTH].9 pg. amylase serum. Kadar Lactate Dehydrogenase (LDH) dan bilirubin tidak spesifik menjadi indikator trauma hepar. pengganti potassium). Serial Hb ketiga menunjukkan hasil Hb sebesar 16.9g/dL. Hitung jenis leukosit menunjukkan hasil limfosit 15. a. golongan darah. aldosteron. urinalisis. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kadar aspartate aminotransferase (AST) atau alanine aminotransferase (ALT) meningkat lebih dari 130 U pada koresponden dengan cedera hepar yang signifikan. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan serial Hb. angka eritrosit 4. kimia serum dapat digunakan untuk mengukur serum glukosa dan level karbon dioksida.

Peningkatan amylase atau lipase dapat terjadi akibat iskemik pancreas akibat hipotensi sistemik yang menyertai syok. Penelitian di Amerika dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan FAST sebagai pendekatan noninvasif untuk evaluasi cepat hemoperitoneum (Feldman. serta joint space tak melebar/menyempit. Informasi penting sekitar oksigenasi (PO2. . Defisit kadar basa sedang (>-5 mEq) merupakan indikasi untuk resusitasi dan penentuan etiologi. iii. Radiografi dada bisa digunakan untuk diagnosis cedera abdomen seperti ruptur hemidiafragmatika atau pneumoperitoneum. ultrasonografi portabel dengan operator yang berpengalaman dapat dengan cepat mengidentifikasi cairan bebas di intraperitoneal.. Pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil. Gross hematuri merupakan indikasi untuk dilakukannya cystografi dan IVP atau CT scan abdomen dengan kontras. namun foto polos dapat digunakan untuk menemukan beberapa hal. peningkatan abnormal kadar amylase 3-6 jam setelah trauma memiliki keakuratan yang cukup besar. mikroskopik hematuria dengan hipotensi. 2001). Meskipun secara keseluruhan evaluasi pasien trauma tumpul abdomen dengan rontgen polos terbatas. Urinalisis Indikasi untuk urinalisis termasuk trauma signifikan pada abdomen dan atau panggul. Nafas dan tes darah dapat mengindentifikasi tingkat penggunaan alkohol.Penentuan amylase awal pada beberapa penelitian menunjukkan tidak sensitif dan tidak spesifik untuk cidera pankreas. 2006). e. Skrining obat dan alkohol Pemeriksaan skrining obat dan alkohol pada pasien trauma dengan perubahan tingkat kesadaran. dengan darah. evaluasi cepat harus dibuat untuk melihat adanya hemoperitoneum. Akurasi diagnostik FAST secara umum sama dengan diagnostic peritoneal lavage (DPL). sedangkan untuk abdomen 3 posisi belum dilakukan. Pada pasien dengan trauma tumpul abdomen dan cidera multisystem. tak tampak tanda-tanda fraktur/dislokasi. Meskipun beberapa cedera pankreas dapat terlewat dengan pemeriksaan CT scan segera setelah trauma. Hal ini dapat dapat dilakukan dengan DPL (Diagnostic Peritoneal Lavage) atau FAST (Focused Abdominal Sonogram for Trauma) scan. ii. 4. g. Pada penderita ini dilakukan pemeriksaan foto polos pervis. Penilaian gas darah arteri (ABG) Kadar ABG dapat menjadi informasi penting pada pasien dengan trauma mayor. Foto polos Udeani & Steinberg (2011) menyatakan bahwa : i. Pada foto polos pelvis AP view tidak didapatkan lesi litik ataupun sklerotik. b. Udara bebas intraperitoneal atau udara yang terjebak pada retroperitoneal dari perforasi usus kemungkinan bisa terlihat. Radiografi dada dan pelvis dapat digunakan untuk menilai fraktur vertebra torakolumbar iv. Pemeriksaan radiografi abdomen perlu dilakukan pada pasien yang stabil ketika pemeriksaan fisik kurang meyakinkan (Hoff et al. dan jika diindikasikan. Usaha untuk meningkatkan pengantaran oksigen sistemik dengan memastikan SaO2 yang adekuat (>90%) dan pemberian volume cairan resusitasi dengan cairan kristaloid. a. dan mekanisme deselerasi yang signifikan. f. Pemeriksaan Gambar Penilaian awal paling penting pada pasien dengan trauma tumpul abdomen adalah penilaian stabilitas hemodinamik. Ultrasonografi Ultrasonografi dengan focused abdominal sonogram for trauma (FAST) sudah digunakan untuk mengevaluasi pasien trauma lebih dari 10 tahun di Eropa. gross hematuria. SaO2) dan ventilasi (PCO2) dapat digunakan untuk menilai pasien dengan kecurigaan asidosis metabolic hasil dari asidosis laktat yang menyertai syok. semua dapat teridentifikasi jika scan diulang 36-48 jam. Namun. tak tampak kelainan pada sistem tulang yang tervisualisasi.

Cidera pankreas dapat terlewatkan dengan pemeriksaan awal CT scan. Pada penderita ini. Keuntungan utama CT scan adalah tingginya spesifitas dan penggunaan sebagai petunjuk manajemen nonoperatif pada cidera organ padat (Feldman. hilus tak prominen. c. Evaluasi FAST abdomen terdiri visualisasi perikardium (dari lapang pandang subxiphoid). Pasien intoksikasi dimana ada kecenderungan cedera abdomen e. bentuk dan echostructure parenchym normal.2011). DPL juga berguna untuk pasien dimana pemeriksaan abdomen lebih lanjut tidak dapat dilakukan (Feldman. rongga splenorenal dan hepatorenal. tak tampak nodul. endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) dapat ditambahan bersama CT scan untuk mendukung cedera duktus (Hoff et al.Cidera organ berongga jarang teridentifikasi. Cairan bebas pada umumnya diasumsikan sebagai darah pada trauma abdomen. DPL terutama berguna jika riwayat dan pemeriksaan abdomen menunjukkan ketidakstabilan dan cidera multisistem atau tidak jelas. Variasi metode kateterisasi ke dalam rongga peritoneal telah dijelaskan. serta kavum douglas pada pelvis. 2002). Tidak seperti FAST ataupun DPL (Diagnostic Peritoneal Lavage). pemeriksaan ultrasonography (USG) tidak didapatkan cairan bebas pada hepatorenal. regular. Kontraindikasi absolute untuk DPL adalah kebutuhan untuk laparotomi yang nyata. splenorenal. khususnya jika CT scan dilakukan segera setelah trauma. Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) Diagnostic peritoneal lavage (DPL) digunakan sebagai metode cepat untuk menentukan adanya perdarahan intraabdomen. tepi licin.2011). Tampilan pada kantong Morrison lebih sensitive. Gambaran lien menunjukkan ukuran. semi . Gambaran vesika urinaria nampak terisi cairan. 2006).. Pada gambaran hepar menunjukkan ukuran. 2006). Cidera diafragma dan perforasi saluran pencernaan masih dapat terlewat dengan pemeriksaan CT scan. dan echostructure parenchyma normal. dinding licin. dan kehamilan. dinding tak menebal. Cedera multipel dan syok yang tidak bisa dijelaskan c. (Udeani&Steinberg. et vascular intra hepatal. tak tampak massa.. SPC tak melebar. namun cairan bebas bisa tervisualisasi pada beberapa kasus (Salomone & Salomone. tak tampak batu/massa. Kontraindikasi relatif termasuk obesitas morbid.2011). Pasien dengan cedera medulla spinalis b. Untuk beberapa pasien. Pada gambaran vesica fellea didapatkan ukuran normal. riwayat pembedahan abdomen multipel. bentuk. Indikasi dilakukannya DPL pada trauma tumpul dimana : a. CT scan dapat menentukan sumber perdarahan (Salomone&Salomone. 2006). homogen. Cairan bebas pada pasien yang tidak stabil mengindikasikan perlu dilakukan laparotomi emergensi. dinding licin. tak tampak pelebaran sistema bilier. Gambaran prostat memberikan hasil ukuran dan ekostruktur parenkim normal. Gambaran ginjal kanan dan kiri menunjukkan ukuran dan echostructure parenchyma normal. terpasang balon vesika urinaria. Pasien dengan cedera abdomen d. 5. tapi secara umum dapat ditemukan pada pemeriksaan follow up yang dilakukan pada pasien resiko tinggi. kapsula intak. capsula intact. akan tetapi jika pasien stabil dapat dievaluasi dengan CT scan (Feldman. yaitu metode terbuka. Computed Tomography (CT) Scan Meskipun mahal dan membutuhkan banyak waktu. tak tampak nodul/cyst. batas kortek dan medulla tegas. tak tampak limpadenopati paraaortisi. 200l). tak tampak massa/nodul. tak tampak massa. serta retrovesika urinaria. namun CT scan banyak mendukung gambaran detail patologi trauma dan memberi penunjuk dalam intervensi operatif. Pasien dengan resiko cedera intra abdomen dimana dibutuhkan anestesi yang lebih panjang untuk prosedur yang lain. terlebih jika etiologinya adalah cairan (Jehangir et al.

dan peritoneum. kecuali peritoneum tidak dibukan dan kateter dilewatkan perkutaneus melewati peritoneum ke dalam kavum peritoneal. ditemukannya hemoperitoneum setelah pemeriksaan FAST atau DPL (Feldman. lebih dari 500 sel darah putih/mL. termasuk cedera organ padat yang parah.2011). Salomone & Salomone. uterus). Tatalaksana non operatif (Udeani&Steinberg. Metode terbuka membutuhkan insisi kulit infraumbilikal yang luas dan melalui linea alba. Teknik tertutup dan semi terbuka pada infra umbilical lebih banyak dilakukan pada bagian tengah (Udeani&Steinberg.2002). atau bakteri pada pemeriksaan bakteri (King&Bewes. infeksi (luka peritoneal). Survival dengan penyembuhan neurologis lebih diharapkan pada pasien dengan trauma tajam dibandingkan trauma tumpul. Torakotomi dapat berperan pada beberapa pasien dengan trauma tajam pada leher. Angiografi merupakan modalitas manajamen non operatif pada trauma tumpul pada organ padat dewasa. Indikasi dilakukan laparotomi diantaranya tanda peritonitis. dan metode tertutup. atau ekstermitas dengan tanda-tanda kehidupan (Dudley. Komplikasi DPL termasuk perdarahan dari insisi dan tempat masuk kateter. Taknik tertutup membutukan kateter uang dimasukkan secara buta melalui kulit. peningkatan kadar amilase.terbuka. serat makanan. Tatalaksana inisiasi (Salomone&Salomone.2011) : Manajemen non operatif berdasarkan diagnosis CT scan dan stabilitas hemodinamik pasien. E. empedu. Hasil positif palsu dapat memicu laparotomi yang tidak diperlukan (King&Bewes. peritonitis dari tempat kateter. 2. 2011 . usus halus. Penatalaksanaan 1. Tatalaksana bedah Resusitasi thorakotomi pada UGD hanya bersifat menyelamatkan jiwa. dimana akan dialirkan oleh gravitasi) terdapat lebih dari 100. Inisiasi resusitasi cairan dengan cairan kristaloid. bakteri. Metode semi terbuka serupa. DPL bernilai postitif pada pasien trauma tumpul jika 10mL darah segar teraspirasi sebelum infus cairan cuci atau jika pipa cairan cuci (contohnya 1 L NaCl diinfuskan ke kavitas peritoneal melalui kateter dan dibiarkan tercampur. Pada pasien dengan hemoperitoneum dari . dan cidera pada struktur intra abdomen (seperti vesika urinaria. Perhatikan tanda-tanda kurangnya perfusi sistemik.2002). Hasil lain dari DPL yang menjadi indikasi dilakukan eksplorasi termasuk adanya empedu atau kadar amylase tinggi yang abnormal (indikasi perforasi usus). dada. Faktor mekanis lain yang berhubungan dengan ventilasi termasuk hemotorak. linea alba. Penggunaan intubasi endotrakeal untuk membebaskan jalan nafas pada pasien yang tidak mampu mempertahankan jalan nafas atau yang berpotensial terjadinya gangguan pada jalan nafas.2011). termasuk inisiasi resusitasi dan transport ke rumah sakit terdekat. jaringan subkutan. Jika ada.00 sel darah merah/mL. perdarahan atau syok yang tidak terkontrol. Angiografi digunakan untuk melihat perdarahan secara non operatif. 2006). laserasi pada vesika urinaria. atau urin. Pasien dengan trauma tumpul torakoabdominal dengan pulseless electrical activity (PEA) merupakan pertanda buruk untuk dilakukan resusitasi torakotomi. 2006 . Hanya diperlukan kira-kira 30 mL darah pada peritoneum untuk menghasilkan hasil DPL positif secara mikroskopis (Feldman. Pada trauma tumpul abdomen. Perdarahan eksternal jarang dihubungkan dengan trauma tumpul abdomen. dan kontusio pulmonal. penurunan secara klinis selama observasi. 1992).2011) : Fokus penatalaksanaan sebelum di rumah sakit pada penilaian dan penangangan masalah yang mengancam nyawa. pilihan manajemen non operatif menjadi perawatan standar. 3. Peritoneum dibuka dan kateter dimasukkan dibawah visualisasi secara langsung. Diagnosis tension pneumothoraks diobati dengan kompresi jarum diikuti dengan penempatan pipa torakostomi. Udeani & Steinberg. serat makanan. Infeksi pada insisi. kontrol perdarahan dengan tekanan langsung. atau cidera organ-organ lain intra abdomen dapat muncul dan mengakibatkan hasil positif palsu.

Setelah sumber perdarahan dihentikan. dan (4)membuka dada untuk pijat jantung (Udeani&Steinberg.trauma tumpul torakoabdominal. antibiotik spektrum luas diberikan. BAB III KESIMPULAN Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. G. Trauma yang didapat dari kecelakaan menjadi penyebab terbanyak dari trauma abdomen. . gambaran spesifik prognosis untuk pasien trauma intra abdomen sulit.2011). kontrol perdarahan dilakukan dengan mengeluarkan darah dan bekuan darah. Setelah intra abdomen diperbaiki dan perdarahan dikontrol. Angka kematian untuk pasien rawat inap berkisar antara 5-10% (Udeani&Steinberg.2006). Ketika abdomen dibuka. rupture spleen yang muncul kemudian (King et al. terlambat dalam diagnosis. Hantaman merupakan hal yang paling menyebabkan sobek dan hematom subkapsular pada organ padat visera. Tanpa data statistik yang menggambarkan jumlah kematian di luar rumah sakit. Penegakan diagnosis pada trauma tumpul abdomen dapat dilakukan dengan melakukan anamnesis.2011). yaitu tenaga kompresi (hantaman) dan tenaga deselerasi. dan jumlah pasien total dengan trauma tumpul abdomen.2011). dapat pula dilakukan DPL. kemudian stabilisasi pasien dengan cairan merupakan hal penting (Udeani&Steinberg. Insisi pada garis tengah biasanya lebih disukai. Jangan pernah melakukan eksplorasi pada hematom pelvis.eksplorasi abdomen dilakukan untuk mengevaluasi seluruh lapangan abdomen(Udeani&Steinberg. pemeriksaan laboratorium. Salomone&Salomone. (2)evakuasi tamponade pericardial. Hantaman juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen pada organ berongga dan menyebabkan rupture (Salomone & Salomone. Komplikasi Komplikasi yang dapat muncul dari trauma tumpul abdomen adalah cedera yang terlewatkan. Ketika sudah ada indikasi untuk dilakukan laparotomi. mengalihkan darah ke koroner dan pembuluh darah otak selama resusitasi. ditemukannya hemoperitoneum setelah pemeriksaan FAST atau DPL.2011). Selain itu. 2002 . 2010). Indikasi dilakukan laparotomi diantaranya tanda peritonitis. bentuknya lonjong dan meluas dari diafragma hingga pelvis (Agung.2011). cedera iatrogenic. F. DPL terutama berguna jika riwayat dan pemeriksaan abdomen menunjukkan ketidakstabilan dan cedera multisistem atau tidak jelas (Feldman. Tenaga kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa hantaman langsung atau kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi. penurunan secara klinis selama observasi. intra abdomen sepsis dan abses. ultrasonografi yang terdiri dari foto polos. Setelah cedera intraperitoneal terkontrol.(3)mengontrol perdarahan thoraks secara langsung. perdarahan atau syok yang tidak terkontrol. Penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan refer ke rumah sakit dengan tipe yang lebih tinggi untuk mencari penyebab hematuria dikarenakan keterbatasan peralatan. Prognosis Prognosis untuk pasien dengan trauma tumpul abdomen bervariasi. FAST. dan mengeklem struktur vaskuler.2011). atau CT scan.2011). resusitasi yang tidak adekuat. Gunakan fiksasi eksterna pada fraktur pelvis untuk menurunkan atau menghentikan perdarahan. Cidera struktur intraabdomen dapat diklasifikasikan ke dalam 2 mekanisme utama. pemeriksaan fisik. tujuan resusitasi torakotomi pada IGD adalah (1) klem aorta. Kecelakaan mobil dengan mobil dan antara mobil dengan pejalan kaki menduduki 50-75% dari keseluruhan kasus trauma tumpul abdomen (Udeani & Steinberg. retroperitoneum dan pelvis harus diperhatikan.

2010 Anatomi Abdomen. 2011 Trauma Medicine: Blunt Abdominal Trauma. Yogyakarta : UGM Press.medscape. 2006 Blunt Abdominal Trauma : Evaluation. Perkusi memberikan hasil timpani tanpa pekak alih.pdf. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://www. Hasil palpasi tidak didapatkan massa serta adanya undulasi. Jehangir B. J.. penurunan secara klinis selama observasi.com/article/821995-print . Catatan Radiograf. Diakses pada 8 Februari 2011 dari http://pustaka. Pada foto polos pelvis yang dilakukan tidak didapatkan adanya kelainan maupun tanda-tanda adanya fraktur. Najarian M. A. Colleti.edu/emermed/ped/physicians/residents/articles/Pediatric %20Blunt%20Abdominal%20Trauma. Srivathsan.. Scribd... Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://hsc.com/article/433404-print . Jakarta : EGC. G.com/docs/30321684/Blunt-Abdominal-Trauma-Evaluation. J.J S. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://emedicine. Feldman.com/2010/08/anatomi-abdomen. 2002 Bedah Primer Trauma.. P. King M. Scribd. Didapatkan nyeri tekan pada region inguinalis kanan dan kiri. S. Valenziano C. Coatesville : Eastern Association for the Surgery of Trauma. Hasil pemeriksaan fisik abdomen pada penderita ini didapatkan jejas di seluruh region abdomen dengan vulnus excoriation (VE) serta darah kering di region inguinalis dekstra dan sinistra. Udeani. M. A. USG abdomen belum menunjukkan adanya cidera organ yang berarti akibat trauma pada kecelakaan yang diderita.html. ditemukannya hemoperitoneum setelah pemeriksaan FAST atau DPL (Udeani&Seinberg. 2009 Abdominal Trauma. 2002 The Role of Ultrasonography in Blunt Abdominal Trauma. .scribd.Emedicine. Diakses pada 12 Februari 2011 dari http://catatanradiograf. P. N. JKpractitioner. Salomone.. Holevar M. Snell. J E. Amro. Dudley. 2001 PRACTICE MANAGEMENT GUIDELINES FOR THE EVALUATION. Nazir. A . Hasil lab tidak menunjukkan adanya gangguan yang menandakan adanya perdarahan.unpad. 2006 Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran.2011). Pediatric clinics. Arrillaga A. H. Wegner. F. Diakses pada tanggal 11 Februari 2011 dari http://www. R S. Jakarta : EGC.ac. WebMD... Hoff. DAFTAR PUSTAKA Agung. K. Bewes P.. 2006 Pediatric Blunt Abdominal Trauma.. Bhat A. 2011 Emergency Medicine: Abdominal Blunt Trauma. Wie.docstoc. Steinberg S. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://emedicine. J. 2002 Kamus Kedokteran Dorland Ed.unm.Emedicine. WebMD. Peristaltik usus yang positif (+) ditunjukkan dengan pemeriksaan auskultasi. Pasien sudah dipasang kateter urin dan ditemukan hematuria pada urine bag. W S. Scribd. perdarahan atau syok yang tidak terkontrol.Penatalaksanaan pada pasien trauma tumpul abdomen dilakukan secara konservatif dan bedah.. H. Pada pemeriksaan kedua kaki didapatkan bahwa kedua kaki sulit digerakkan. Nagy K. I.blogspot. P. G. 1992 Hamilton Bailey's Emergency Surgery. Salomone A. Indikasi dilakukan laparotomi diantaranya tanda peritonitis.medscape. 2008 Kegawatdaruratan Sistem Pencernaan pada Trauma Abdomen. W. R. Penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan refer ke rumah sakit dengan tipe yang lebih tinggi untuk mencari penyebab hematuria dikarenakan keterbatasan peralatan.com/doc/25945432/Abdominal-Trauma. Jakarta : EGC.com/doc/15565439/Abdominal-Trauma. 2006 Akut Abdomen. D V.. Anonim. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://www..29.pdf Dorland. N. Young ...scribd.id/wp-content/uploads/2009/10/kegawatdaruratan. Patterson L.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful