Referat Bedah : Trauma Tumpul Abdomen

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Seorang pria berusia 19 tahun masuk IGD RSU diantar oleh mobil ambulan. Pasien merupakan korban kecelakaan bis. Bis yang ditumpangi masuk jurang dan terguling. Hasil anamnesis memberi gambaran bahwa tangan kanan, perut, dan bagian bawah tubuh pasien terjepit. Pasien mengeluh pusing, mual, dan muntah. Tangan kanan terasa lemas serta kedua kaki sangat sulit digerakkan. Pasien tidak pingsan dan tidak didapatkan amnesia retrograde (AR) maupun amnesia anterograde (AA). Pemeriksaan fisik menunjukkan kondisi umum pasien nampak kesakitan dengan kesadaran compos mentis. Tekanan darah menunjukkan nilai 110/60 mmHg dengan denyut nadi 126 kali/menit, respiration rate 40 kali/menit, dan suhu tubuh 35,8OC per axilla. Glasgow Coma Scale (GCS) dengan skor E 4 V 5 M 6. Pemeriksaan kepala didapatkan bentuk yang mesochepal dan tidak ditemukan hematom. Kedua conjunctiva palpebra tidak pucat, tidak ditemukan sclera icteric, serta pupil isokhor. Bentuk hidung simetris, tidak didapatkan deformitas, epistaksis, maupun secret. Bibir tidak nampak sianosis dengan mukosa bibir lembab. Telinga tidak didapatkan deformitas serta sekret. Leher tidak didapatkan Jugular Veins Pressure (JVP), pembesaran limfonodi, maupun hematom. Pemeriksaan fisik thorak didapatkan hasil bentuk dinding thorak simetris statis-dinamis, dengan palpasi fremitus suara paru kanan sama dengan paru kiri, serta tidak ditemukan ketinggalan gerak dari kedua paru. Perkusi menunjukkan hasil sonor dengan auskultasi suara vesikuler murni pada kedua lapang paru. Abdomen menunjukkan adanya jejas pada seluruh lapang abdomen serta terdapat bekas tekanan pada region ingunalis kanan. Auskultasi didapatkan peristaltik usus positif (+) dengan perkusi yang timpani dan tidak didapatkan pekak alih. Palpasi menunjukkan nyeri tekan yang positif dan tidak ditemukan massa. Pemeriksaan pada keempat ekstremitas tidak ditemukan akral dingin dan sianosis. Skor kekuatan otot bernilai 2 untuk kedua kaki, 4 untuk tangan kanan, dan 5 untuk tangan kiri. Status lokalis pada regio abdomen menunjukkan adanya jejas dengan darah kering dan vulnus excoriation (VE). Peristaltik usus yang positif (+) ditunjukkan dengan pemeriksaan auskultasi. Didapatkan nyeri tekan pada region inguinalis kanan dan kiri. Perkusi memberikan hasil timpani tanpa pekak alih. Pada pemeriksaan kedua kaki didapatkan bahwa kedua kaki sangat sulit digerakkan. Pasien sudah dipasang kateter urin dan ditemukan hematuria pada urine bag. Pada pemeriksaan laboratorium dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan serial Hb. Pemeriksaan darah lengkap yang dilakukan bersama serial Hb pertama menunjukkan angka Haemoglobin sebesar 14.5 g/dL, hematokrit sebesar 45%, angka leukosit 27.9 x 103/uL, angka eritrosit 4.94 x 106/uL, angka trombosit 281 x 103/uL, MCV sebesar 81.7 IL, MCH 26.9 pg, MCHC 32,9g/dL. Hitung jenis leukosit menunjukkan hasil limfosit 15.9%, MXD 4.4% dan neutrofil 79.7%. Laju endap darah (LED) 1 jam menunjukkan angka 5 mm dan LED 2 jam menunjukkan angka 10mm. Pada serial Hb kedua didapatkan hasil kadar haemoglobin sebesar 15,6 g/dL dan hematokrit sebesar 24,6 %. Serial Hb ketiga menunjukkan hasil Hb sebesar 16,4 g/dL dan hematokrit sebesar 28,2%. Pemeriksaan serial Hb keempat didapatkan kadar hemoglobin sebesar 16,9 g/dL dan hematokrit sebesar 22,1%. Pemeriksaan foto polos pelvis AP view tidak didapatkan lesi litik ataupun sklerotik, tak tampak tandatanda fraktur/dislokasi, tak tampak kelainan pada sistem tulang yang tervisualisasi, serta joint space tak melebar/menyempit. Pada pemeriksaan ultrasonography (USG) tidak didapatkan cairan bebas pada hepatorenal, splenorenal, serta retrovesika urinaria. Pada gambaran hepar menunjukkan ukuran, bentuk dan echostructure parenchym normal, homogen, tepi licin, capsula intact, tak tampak pelebaran sistema bilier, et vascular intra hepatal, tak tampak nodul/cyst. Pada gambaran vesica fellea didapatkan ukuran

Tikaman dengan energi kinetik yang tinggi dipakai dengan maksud terang-terangan membunuh. dua diantaranya berjalan horizontal mengelilingi badan (yang atas setinggi tulang rawan iga kesembilan. dinding licin. dan dua lainnya vertikal di kiri dan kanan tubuh yaitu dari tulang rawan iga kedelapan hingga ke pertengahan ligamentun inguinale (Dorland. BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Adapun organ yang terletak retroperitoneal seperti ginjal. B. Pada tikaman dengan energi kinetik yang rendah. tak tampak limpadenopati paraaortisi. 2010). dan echostructure parenchyma normal. bentuk. 2002). 2009). Trauma Trauma adalah sebuah mekanisme yang disengaja ataupun tidak disengaja sehingga menyebabkan luka (Amro. Luka kecepatan rendah yang biasa terjadi ialah pada penikaman dengan senjata tajam. Berdasarkan letaknya. Dinding abdomen dibatasi oleh selubung fascia dan peritoneum parietale (Snell. tak tampak massa. bagian atas oleh muskulus psoas mayor. yaitu tikaman dengan energi kinetik rendah dan energi kinetik tinggi. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan referat ini untuk mengetahui manifestasi klinik. tak tampak nodul. Gambaran vesika urinaria nampak terisi cairan. 2006). Dengan demikian. kapsula intak. kolon. Di bagian posterior. dan organ-organ saluran pencernaan yang lain. Luka-luka tersebut menembus dalam dan sering . Pada bagian superior. dan ilia (Dorland. dinding licin. B. dinding tak menebal. regular. hilus tak prominen. 2009). . dan aponeurosis origo muskulus transverses abdominis. Organ-organ intraperitoneal diantaranya lambung. yaitu organ intraperitoneal dan retroperioneal. duodenum. bentuknya lonjong dan meluas dari diafragma hingga pelvis (Agung. Pada trauma tembus perbedaan antara benda-benda berkecepatan tinggi dan rendah mempunyai arti penting. kolumna vertebralis. aorta. Gambaran ginjal kanan dan kiri menunjukkan ukuran dan echostructure parenchyma normal. Anatomi Abdomen Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. dan venakava inferior (Srivathsan. tak tampak batu/massa. Proses penikaman dapat dibedakan menjadi dua macam berdasarkan energinya. tak tampak massa/nodul. Gambaran prostat memberikan hasil ukuran dan ekostruktur parenkim normal. Pada bagian inferior. korban sering dapat melihat datangnya dan mengelak pada saat tikaman tersebut terjadi. diagnostik. SPC tak melebar.normal. Gambaran lien menunjukkan ukuran. komplikasi dan prognosis trauma tumpul abdomen. Rongga ini berisi visera dan dibungkus dinding (abdominal wall) dari otot-otot. pankreas. hepar. 2006). yang bawah setinggi bagian atas krista iliaka). muskulus kuadratus lumborum. tak tampak massa. kavitas abdominalis melanjutkan diri menjadi kavitas pelvis melalui apertura pelvis superior. organ dalam abdomen terbagi menjadi dua. dinding abdomen dibentuk oleh diafragma yang memisahkan kavitas abdominalis dari kavitas thorakalis. penetrasi rongga perut yang dalam jarang terjadi. 2002). dinding abdomen di garis tengah dibentuk oleh kelima vertebra lumbales dan diskus intervertebralisnya. terpasang balon vesika urinaria. penatalaksanaan. yaitu trauma tumpul dan trauma tembus (Srivathsan. batas kortek dan medulla tegas. bagian lateral dibentuk oleh 12 kosta. Abdomen terbagi menjadi sembilan daerah yang dibatasi oleh empat garis bayangan pada dinding anterior. Trauma pada abdomen terbagi berdasarkan kejadian.

Kehilangan darah i. 1992). Hal ini dapat merusak organ-organ padat visera seperti hepar. kompresi. C. serta kekuatan akselerasi dan deselerasi yang bekerja terhadap organ dalam abdomen (Rahmawati. Himpitan meninggalkan jejas dan menyebabkan tangan kanan serta kaki penderita terasa lemah untuk digerakkan. Patofisiologi Menurut Anonim (2008).kompleks. yang pertama adalah ketika tenaga deselerasi hantaman menyebabkan pergerakan yang berbeda arah dari struktur tubuh yang permanen. yaitu trauma tumpul yang berat. Limpa dan hati memiliki banyak suplai dan simpanan darah sehingga terjadi kehilangan darah dengan cepat. yaitu tenaga kompresi (hantaman) dan tenaga deselerasi. Hal yang sering terjadi hantaman menyebabkan sobek dan hematom subkapsular pada organ padat visera.2011). pukulan. Mekanisme Trauma yang didapat dari kecelakaan menjadi penyebab terbanyak dari trauma abdomen. Salomone & Salomone (2011) menyatakan bahwa trauma tumpul akibat hantaman secara umum dibagi ke dalam 3 mekanisme. Trauma intra abdomen karena hantaman sering dikaitkan dengan faktor tumbukan antara orang yang cedera dan kondisi di luar tubuh individu tersebut. Cidera deselerasi klasik termasuk hepatic tear sepanjang ligamentum teres dan cidera intima pada arteri renalis (Salomone & Salomone. Pada penderita ini terjadinya jejas pada abdomen disebabkan karena terhimpitnya pasien saat terjadi kecelakaan. Cedera struktur intraabdomen dapat diklasifikasikan ke dalam 2 mekanisme utama. Kecelakaan mobil dengan mobil dan antara mobil dengan pejalan kaki menduduki 50-75% dari keseluruhan kasus trauma tumpul abdomen (Udeani & Steinberg. Tenaga deselerasi menyebabkan regangan dan sobekan linier organ-organ yang terfiksasi. Akibatnya. Dapat juga terjadi counter coup. . Trauma tumpul meliputi benturan langsung. dan deselerasi (cedera perlambatan). limpa dan ginjal. patofisiologi dari trauma tumpul abdomen terdiri dari : a. Hal tersebut menyebabkan terjadinya himpitan pada organ intra abdomen antara dinding depan abdomen dan kolumna vertebralis. 2006).2011). Bagian tubuh penderita yang terhimpit adalah bagian perut hingga kaki serta tangan kanan. Peluru berkecepatan tinggi dari pistol atau pecahan-pecahan granat yang meledak dapat menembus dalam dan mengikuti jalan yang aneh. terutama yang berada di daerah hantaman. tapi ada jejas organ di visera akibat desakan luka atau organ viscera. tidak ada luka di luar. Hantaman juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen pada organ berongga dan menyebabkan ruptur (Salomone & Salomone.2011). Ketiga adalah kekuatan kompresi eksternal yang mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdomen secara mendadak dan mencapai puncaknya ketika terjadi ruptur organ. kekuatan hantaman menyebabkan organ viseral yang padat serta vaskularisasi abdomen menjadi ruptur. Trauma Tumpul Abdomen 1. Yang kedua adalah ketika isi dari intra abdomen terhimpit antara dinding depan abdomen dan kolumna vertebralis atau posterior kavum thorak. 2. Tenaga kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa hantaman langsung atau kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi. Pada penderita ini mengalami trauma dalam kecelakaan bis dikarenakan benturan langsung dan proses kompresi akibat himpitan kursi. secara luas merusak segala sesuatu atau apa saja di sekitar lintasannya (Dudley.

survei sekunder yang komprehensif dapat ditunda sampai kondisi pasien stabil. v. Pemeriksaan awal : i. Perlu diperhatikan . perlu digali apakah ada riwayat gangguan koagulasi atau penggunaan obat-obat anti platelet (seperti pada defek jantung congenital) karena dapat meningkatkan resiko perdarahan pada cidera intra abdomen (Wegner et al. Inspeksi : i. Nyeri. Anamnesis Secara umum. iii. Nyeri tekan dan defans muscular disebabkan karena pergerakan yang tiba-tiba dan iritasi membrane peritoneal hingga ke dinding abdomen. Pemeriksaan abdomen untuk menentukan tanda-tanda eksternal dari cedera.. Pemeriksaan Fisik Evaluasi pasien dengan trauma tumpul abdomen harus dilakukan dengan semua cidera merupakan prioritas. Pada akhir pemeriksaan awal dilihat kembali luka-luka ringan pada penderita. ii. Last meal or other intake. Events leading to presentation (Salomone & Salomone. Banyak cedera yang samar dan baru termanifestasikan kemudian.. Udeani & Steinberg. Nyeri i. Apakah pasien dalam pengaruh obat atau alkohol g. Proses kecelakaan dan kerusakan kendaraan b. atau sistem kardiovaskular diluar cidera abdomen (Salomone & Salomone. jangan menanyakan riwayat lengkap hingga cidera yang mengancam nyawa teridentifikasi dan mendapatkan penatalaksanaan yang sesuai. Udeani & Seinberg (2011) menyatakan bahwa faktor penting yang berhubungan dengan pasien trauma tumpul abdomen. Apakah pasien terlempar dari kendaraan e.2006).ii. yaitu Allergies. AMPLE sering digunakan untuk mengingat kunci dari anamnesis. Past medical history. D. sistem respirasi. ataupun polisi dan paramedis. Pemeriksaan yang diperlukan adalah : a. Setelah survey primer dan resusitasi dilakukan. Pemeriksaan 1. Apakah pasien meninggal d. 2. ii.2011) . saksi. Waktu pembebasan (evakuasi) yang dibutuhkan c. baik itu dari pasien. Cidera duodenum dan pankreas menyebabkan perdarahan dan berefek mengaktifkan enzim di sekitar jaringan sehingga memicu peritonitis kimiawi area retroperitoneal. Apakah ada masalah psikiatri Pada pasien anak. Hal-hal tersebut mencakup: a. 2011). iv. khususnya yang berhubungan dengan kecelakaan kendaraan bermotor perlu digali lebih lanjut. Iritasi disebabkan adanya darah atau isi lambung pada kavum peritoneal. Perlu digali apakah ada cidera kepala. Bagaimana fungsi peralatan keselamatan seperti sabuk pengaman dan airbags f. fokus dilakukan pada survey sekunder abdomen. Apakah ada cidera kepala atau tulang belakang h. Untuk cidera yang mengancam jiwa yang membutuhkan pembedahan segera. 2011 . tegang pada abdomen merupakan tanda klasik patologi intraabdomen. iii. Konsistensi jaringan hati dan lien menyebabkan jaringan sulit melakukan proses homeostasis.Medications. Tanda dan gejalan cidera pankreas dan duodenum adalah :  Nyeri tekan abdomen yang difus  penjalaran nyeri pada area epigastrium sampai ke punggung. keluarga. b. kekakuan. Perdarahan pada kavum retroperitoneal sulit untuk dievaluasi dan di diagnosis. b. iii.

atau ileus yang diakibatkan iritasi peritoneal. Suara usus pada rongga thoraks menandakan adanya cedera diafragmatika. Selanjutnya kateter foley juga dipasang untuk mengetahui produksi urin dan pengambilan sample urinalisis untuk pemeriksaan hematuri mikroskopis. Jika cedera urethra atau vesika urinaria diduga karena fraktur pelvis. v. Pipa nasogastrik seharusnya dipasang (jika tidak ada kontraindikasi seperti fraktur basal kranii) untuk menurunkan tekanan lambung dan menilai apakah ada perdarahan. ii. e. maka perlu dilakukan retrograde urethrogram terlebih dahulu sebelum pemasangan kateter. Distensi abdomen dapat merupakan hasil dari dilatasi gastrik sekunder karena bantuan ventilasi atau terlalu banyak udara. iv. hantaman dengan papan kemudi-yang membentuk contusio). Ketidakstabilan pelvis merupakan tanda potensial untuk cedera traktus urinarius bagian bawah. lebih baik dipasang pipa orogastrik. viii. Feces semestinya juga diperiksa untuk menilai adakah perdarahan berat atau tersamar. dan deformitas. c. Pemeriksaan rektal dan bimanual vagina dilakukan untuk menilai perdarahan dan cedera. ii. perdarahan. iii. yang kemungkinan berhubungan dengan pneumoperitoneum. Konsistensi yang lunak dan terasa penuh dapat mengindikasikan perdarahan intraabdomen. Cullen sign (ekimosis periumbilikal) menandakan adanya perdarahan peritoneal. nyeri tekan. Memar dan edema panggul meningkatkan kecurigaan adanya cedera retroperitoneal. Fraktur pelvis terbuka berhubungan tingkat kematian sebesar 50%. namun gejala ini biasanya muncul dalam beberapa jam sampai hari. Palpasi seluruh dinding abdomen dengan hati-hati sembari menilai respon pasien. Observasi pola pernafasan karena pernafasan perut dapat mengindikasikan cedera medulla spinalis.adanya area yang abrasi dan atau ekimosis. Perhatikan massa abnormal. v. Palpasi : i. Auskultasi : i. Tanda peritonitits (seperti tahanan perut yang involunter. vi. Karena luasnya spektrum cidera pada trauma tumpul abdomen. iv. vii. maka frekuensi evaluasi ulang menjadi komponen penting dari menejemen pasien . ii. Bradikardi mengindikasikan adanya darah bebas di intra peritoneal pada pasien dengan cedera trauma tumpul abdomen. tanda (bekas) sabuk pengaman dapat dihubungkan dengan ruptur usus halus dan peningkatan insidensi cidera intra abdomen. Catat pola cedera yang potensial untuk trauma intra abdomen (seperti abrasi karena sabuk pengaman. Perkusi : i. Cedera medulla spinalis bisa berhubungan dengan penurunan atau bahkan tidak adanya persepsi nyeri abdomen pada pasien. Bising pada abdomen menandakan adanya penyakit vaskular atau fistula arteriovenosa traumatik. kekakuan) segera setelah cedera menandakan adanya kebocoran isi usus. iii. Perhatikan distensi abdomen. Krepitasi atau ketidakstabilan kavum thoraks bagian bawah dapat menjadi tanda potensial untuk cidera limpa atau hati yang berhubungan dengan cedera tulang rusuk. Inspeksi genital dan perineum dilakukan untuk melihat cedera jaringan lunak. d. seperti hematom pelvis dan retroperitoneal. vi. dan hematom. iii. Nyeri pada perkusi merupakan tanda peritoneal ii. palpasi perlahan dinding abdomen dan perhatikan reaksinya. Nyeri pada perkusi membutuhkan evaluasi lebih lanjut dan kemungkinan besar konsultasi pembedahan. ix. Jika pasien mengalami cidera maxillofacial. Tonus rectal juga dinilai untuk mengetahui status neurologis dari pasien. dilatasi gastrik. Selama auskultasi. Pada banyak penelitian. Pemeriksaan sensori pada thorak dan abdomen dilakukan untuk evaluasi adanya cedera medulla spinalis.

golongan darah. Pemberian transfusi trombosit pada pasien dengan trombositopenia berat (jumlah trombosit<50. Pasien sudah dipasang kateter urin dan ditemukan hematuria pada urine bag.dengan trauma tumpul abdomen. angka eritrosit 4. ethanol darah. survey tersier pada trauma dapat mendeteksi 56% cidera yang terlewatkan selama penilaian awal dalam 24 jam pertama. Tes fungsi hati Tes fungsi hati pada pasien dengan trauma tumpul abdomen penting dilakukan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa kadar aspartate aminotransferase (AST) atau alanine aminotransferase (ALT) meningkat lebih dari 130 U pada koresponden dengan cedera hepar yang signifikan.1%. Peningkatan sel darah putih tidak spesifik dan tidak dapat menunjukkan adanya cidera organ berongga. Serial Hb ketiga menunjukkan hasil Hb sebesar 16. Kadar Lactate Dehydrogenase (LDH) dan bilirubin tidak spesifik menjadi indikator trauma hepar. Pengukuran Amilase .9 g/dL dan hematokrit sebesar 22.6 %. Pasien pendarahan mengeluarkan darah lengkap. Laju endap darah (LED) 1 jam menunjukkan angka 5 mm dan LED 2 jam menunjukkan angka 10mm. arterial blood gas (ABG). pemeriksaan laboratorium yang direkomendasikan untuk korban trauma biasanya termasuk glukosa serum. antidiuretic hormone [ADH]) dan muncul pengisian ulang transkapiler. kimia serum. Pada serial Hb kedua didapatkan hasil kadar haemoglobin sebesar 15. cidera berat (seperti fraktur pelvis terbuka).2%. Peristaltik usus yang positif (+) ditunjukkan dengan pemeriksaan auskultasi. Jangan menahan pemberian transfusi pada pasien dengan kadar hematokrit yang relatif normal (>30%) tapi memiliki bukti klinis syok.5 g/dL.000/mL) dan terjadi perdarahan. b.4 g/dL dan hematokrit sebesar 28.6 g/dL dan hematokrit sebesar 24. c. a. darah lengkap. 3. Pemeriksaan Laboratorium Menurut Salomone & Salomone (2011). Pada sebuah penelitian.94 x 106/uL. Hingga volume darah tergantikan dengan cairan kristaloid atau efek hormonal (seperti adrenocorticotropic hormone [ACTH]. Jika pengukuran gas darah tidak dilakukan. hematokrit sebesar 45%. namun temuan peningkatan hasil bisa dipengaruhi oleh beberapa alasan (contohnya penggunaan alkohol). Beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara rendahnya kadar hematokrit (<30%) dengan cidera berat. MCHC 32. aldosteron. Pemeriksaan cepat glukosa darah dengan menggunakan alat stik pengukur penting pada pasien dengan perubahan status mental.9%. angka leukosit 27. pengganti potassium).9 x 103/uL.9 pg. Hasil pemeriksaan fisik abdomen pada penderita ini didapatkan jejas di seluruh region abdomen dengan vulnus excoriation (VE) serta darah kering di region inguinalis dekstra dan sinistra. MXD 4. MCH 26. angka trombosit 281 x 103/uL. pembekuan darah. urinalisis.7%. d. Pemeriksaan serial Hb keempat didapatkan kadar hemoglobin sebesar 16. Kimia serum Banyak korban trauma kecelakaan lebih muda dari 40 tahun dan jarang menggunakan obat-obatan yang mempengaruhi elektrolit (seperti diuretik.4% dan neutrofil 79. Hasil palpasi tidak didapatkan massa serta adanya undulasi. amylase serum. Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan darah lengkap dan serial Hb. MCV sebesar 81. Survei tersier merupakan pengulangan survei primer dan sekunder serta revisi semua hasil laboratorium dan radiografi. Pemeriksaan darah lengkap yang dilakukan bersama serial Hb pertama menunjukkan angka Haemoglobin sebesar 14.7 IL. Pemeriksaan darah lengkap Hasil yang normal untuk kadar hemoglobin dan hematokrit tidak bisa dijadikan acuan bahwa tidak terjadi perdarahan. anemia masih dapat meningkat.9g/dL. kimia serum dapat digunakan untuk mengukur serum glukosa dan level karbon dioksida. Didapatkan nyeri tekan pada region inguinalis kanan dan kiri. Perkusi memberikan hasil timpani tanpa pekak alih. atau kehilangan darah yang signifikan. dan tes kehamilan (untuk wanita usia produktif). Pada pemeriksaan kedua kaki didapatkan bahwa kedua kaki sulit digerakkan. Hitung jenis leukosit menunjukkan hasil limfosit 15.

2001).. Akurasi diagnostik FAST secara umum sama dengan diagnostic peritoneal lavage (DPL). Usaha untuk meningkatkan pengantaran oksigen sistemik dengan memastikan SaO2 yang adekuat (>90%) dan pemberian volume cairan resusitasi dengan cairan kristaloid. peningkatan abnormal kadar amylase 3-6 jam setelah trauma memiliki keakuratan yang cukup besar. Foto polos Udeani & Steinberg (2011) menyatakan bahwa : i. Pada pasien dengan trauma tumpul abdomen dan cidera multisystem. Penelitian di Amerika dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan FAST sebagai pendekatan noninvasif untuk evaluasi cepat hemoperitoneum (Feldman. 4. tak tampak tanda-tanda fraktur/dislokasi. e. Meskipun beberapa cedera pankreas dapat terlewat dengan pemeriksaan CT scan segera setelah trauma. Radiografi dada dan pelvis dapat digunakan untuk menilai fraktur vertebra torakolumbar iv. ultrasonografi portabel dengan operator yang berpengalaman dapat dengan cepat mengidentifikasi cairan bebas di intraperitoneal. Skrining obat dan alkohol Pemeriksaan skrining obat dan alkohol pada pasien trauma dengan perubahan tingkat kesadaran. mikroskopik hematuria dengan hipotensi. Nafas dan tes darah dapat mengindentifikasi tingkat penggunaan alkohol. SaO2) dan ventilasi (PCO2) dapat digunakan untuk menilai pasien dengan kecurigaan asidosis metabolic hasil dari asidosis laktat yang menyertai syok. serta joint space tak melebar/menyempit. Hal ini dapat dapat dilakukan dengan DPL (Diagnostic Peritoneal Lavage) atau FAST (Focused Abdominal Sonogram for Trauma) scan. a. g. dengan darah. Informasi penting sekitar oksigenasi (PO2. . Radiografi dada bisa digunakan untuk diagnosis cedera abdomen seperti ruptur hemidiafragmatika atau pneumoperitoneum. Penilaian gas darah arteri (ABG) Kadar ABG dapat menjadi informasi penting pada pasien dengan trauma mayor. Gross hematuri merupakan indikasi untuk dilakukannya cystografi dan IVP atau CT scan abdomen dengan kontras. b. 2006). tak tampak kelainan pada sistem tulang yang tervisualisasi. f. Pada pasien dengan hemodinamik yang tidak stabil. dan jika diindikasikan. Pada foto polos pelvis AP view tidak didapatkan lesi litik ataupun sklerotik. iii. Pemeriksaan Gambar Penilaian awal paling penting pada pasien dengan trauma tumpul abdomen adalah penilaian stabilitas hemodinamik. gross hematuria. evaluasi cepat harus dibuat untuk melihat adanya hemoperitoneum. sedangkan untuk abdomen 3 posisi belum dilakukan. Meskipun secara keseluruhan evaluasi pasien trauma tumpul abdomen dengan rontgen polos terbatas. Pemeriksaan radiografi abdomen perlu dilakukan pada pasien yang stabil ketika pemeriksaan fisik kurang meyakinkan (Hoff et al.Penentuan amylase awal pada beberapa penelitian menunjukkan tidak sensitif dan tidak spesifik untuk cidera pankreas. ii. Namun. semua dapat teridentifikasi jika scan diulang 36-48 jam. Defisit kadar basa sedang (>-5 mEq) merupakan indikasi untuk resusitasi dan penentuan etiologi. Ultrasonografi Ultrasonografi dengan focused abdominal sonogram for trauma (FAST) sudah digunakan untuk mengevaluasi pasien trauma lebih dari 10 tahun di Eropa. Peningkatan amylase atau lipase dapat terjadi akibat iskemik pancreas akibat hipotensi sistemik yang menyertai syok. dan mekanisme deselerasi yang signifikan. Udara bebas intraperitoneal atau udara yang terjebak pada retroperitoneal dari perforasi usus kemungkinan bisa terlihat. Urinalisis Indikasi untuk urinalisis termasuk trauma signifikan pada abdomen dan atau panggul. Pada penderita ini dilakukan pemeriksaan foto polos pervis. namun foto polos dapat digunakan untuk menemukan beberapa hal.

Cairan bebas pada pasien yang tidak stabil mengindikasikan perlu dilakukan laparotomi emergensi. serta retrovesika urinaria. batas kortek dan medulla tegas. dinding licin. dinding tak menebal. Evaluasi FAST abdomen terdiri visualisasi perikardium (dari lapang pandang subxiphoid). splenorenal. Computed Tomography (CT) Scan Meskipun mahal dan membutuhkan banyak waktu. Cairan bebas pada umumnya diasumsikan sebagai darah pada trauma abdomen. tak tampak limpadenopati paraaortisi. 200l).2011). kapsula intak. Pada gambaran vesica fellea didapatkan ukuran normal. Pada gambaran hepar menunjukkan ukuran. DPL juga berguna untuk pasien dimana pemeriksaan abdomen lebih lanjut tidak dapat dilakukan (Feldman. homogen. Kontraindikasi absolute untuk DPL adalah kebutuhan untuk laparotomi yang nyata. 2006). terlebih jika etiologinya adalah cairan (Jehangir et al. Diagnostic Peritoneal Lavage (DPL) Diagnostic peritoneal lavage (DPL) digunakan sebagai metode cepat untuk menentukan adanya perdarahan intraabdomen. tak tampak massa. capsula intact. Pasien intoksikasi dimana ada kecenderungan cedera abdomen e. rongga splenorenal dan hepatorenal. yaitu metode terbuka. pemeriksaan ultrasonography (USG) tidak didapatkan cairan bebas pada hepatorenal.. tak tampak nodul. namun CT scan banyak mendukung gambaran detail patologi trauma dan memberi penunjuk dalam intervensi operatif. bentuk dan echostructure parenchym normal. Gambaran lien menunjukkan ukuran. SPC tak melebar.Cidera organ berongga jarang teridentifikasi. Keuntungan utama CT scan adalah tingginya spesifitas dan penggunaan sebagai petunjuk manajemen nonoperatif pada cidera organ padat (Feldman. et vascular intra hepatal.2011). endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP) dapat ditambahan bersama CT scan untuk mendukung cedera duktus (Hoff et al. Gambaran prostat memberikan hasil ukuran dan ekostruktur parenkim normal. DPL terutama berguna jika riwayat dan pemeriksaan abdomen menunjukkan ketidakstabilan dan cidera multisistem atau tidak jelas. Pasien dengan resiko cedera intra abdomen dimana dibutuhkan anestesi yang lebih panjang untuk prosedur yang lain. tapi secara umum dapat ditemukan pada pemeriksaan follow up yang dilakukan pada pasien resiko tinggi. tak tampak massa. regular. Cidera pankreas dapat terlewatkan dengan pemeriksaan awal CT scan. 5. terpasang balon vesika urinaria. semi . khususnya jika CT scan dilakukan segera setelah trauma. namun cairan bebas bisa tervisualisasi pada beberapa kasus (Salomone & Salomone. hilus tak prominen. Gambaran ginjal kanan dan kiri menunjukkan ukuran dan echostructure parenchyma normal. serta kavum douglas pada pelvis.2011). dinding licin. riwayat pembedahan abdomen multipel. tak tampak pelebaran sistema bilier. tak tampak massa/nodul. 2002). Variasi metode kateterisasi ke dalam rongga peritoneal telah dijelaskan. Pasien dengan cedera abdomen d. Gambaran vesika urinaria nampak terisi cairan. Kontraindikasi relatif termasuk obesitas morbid. Untuk beberapa pasien.. tak tampak nodul/cyst. 2006). Cedera multipel dan syok yang tidak bisa dijelaskan c. bentuk. Pasien dengan cedera medulla spinalis b. 2006). c. Cidera diafragma dan perforasi saluran pencernaan masih dapat terlewat dengan pemeriksaan CT scan. Tidak seperti FAST ataupun DPL (Diagnostic Peritoneal Lavage). tepi licin. dan kehamilan. tak tampak batu/massa. (Udeani&Steinberg. Indikasi dilakukannya DPL pada trauma tumpul dimana : a. Tampilan pada kantong Morrison lebih sensitive. akan tetapi jika pasien stabil dapat dievaluasi dengan CT scan (Feldman. Pada penderita ini. dan echostructure parenchyma normal. CT scan dapat menentukan sumber perdarahan (Salomone&Salomone.

Udeani & Steinberg. Tatalaksana inisiasi (Salomone&Salomone. Perhatikan tanda-tanda kurangnya perfusi sistemik. E.00 sel darah merah/mL. Tatalaksana bedah Resusitasi thorakotomi pada UGD hanya bersifat menyelamatkan jiwa. kontrol perdarahan dengan tekanan langsung. Inisiasi resusitasi cairan dengan cairan kristaloid. atau urin. usus halus. Pada trauma tumpul abdomen.2002). Perdarahan eksternal jarang dihubungkan dengan trauma tumpul abdomen. atau bakteri pada pemeriksaan bakteri (King&Bewes. penurunan secara klinis selama observasi. 3. serat makanan. atau cidera organ-organ lain intra abdomen dapat muncul dan mengakibatkan hasil positif palsu.2011). Angiografi digunakan untuk melihat perdarahan secara non operatif. DPL bernilai postitif pada pasien trauma tumpul jika 10mL darah segar teraspirasi sebelum infus cairan cuci atau jika pipa cairan cuci (contohnya 1 L NaCl diinfuskan ke kavitas peritoneal melalui kateter dan dibiarkan tercampur. kecuali peritoneum tidak dibukan dan kateter dilewatkan perkutaneus melewati peritoneum ke dalam kavum peritoneal. atau ekstermitas dengan tanda-tanda kehidupan (Dudley. dan kontusio pulmonal. dan metode tertutup. Hanya diperlukan kira-kira 30 mL darah pada peritoneum untuk menghasilkan hasil DPL positif secara mikroskopis (Feldman. infeksi (luka peritoneal). Komplikasi DPL termasuk perdarahan dari insisi dan tempat masuk kateter.2002). Teknik tertutup dan semi terbuka pada infra umbilical lebih banyak dilakukan pada bagian tengah (Udeani&Steinberg. jaringan subkutan. perdarahan atau syok yang tidak terkontrol. peritonitis dari tempat kateter.2011) : Fokus penatalaksanaan sebelum di rumah sakit pada penilaian dan penangangan masalah yang mengancam nyawa. uterus). serat makanan. bakteri. 2011 . Penggunaan intubasi endotrakeal untuk membebaskan jalan nafas pada pasien yang tidak mampu mempertahankan jalan nafas atau yang berpotensial terjadinya gangguan pada jalan nafas. 2006 . Faktor mekanis lain yang berhubungan dengan ventilasi termasuk hemotorak. termasuk inisiasi resusitasi dan transport ke rumah sakit terdekat. Angiografi merupakan modalitas manajamen non operatif pada trauma tumpul pada organ padat dewasa. dan peritoneum. dada. Pasien dengan trauma tumpul torakoabdominal dengan pulseless electrical activity (PEA) merupakan pertanda buruk untuk dilakukan resusitasi torakotomi. Metode semi terbuka serupa. laserasi pada vesika urinaria. Taknik tertutup membutukan kateter uang dimasukkan secara buta melalui kulit. lebih dari 500 sel darah putih/mL. dimana akan dialirkan oleh gravitasi) terdapat lebih dari 100. 2. dan cidera pada struktur intra abdomen (seperti vesika urinaria. Tatalaksana non operatif (Udeani&Steinberg. Infeksi pada insisi. termasuk cedera organ padat yang parah. empedu. Jika ada. Hasil positif palsu dapat memicu laparotomi yang tidak diperlukan (King&Bewes.2011). pilihan manajemen non operatif menjadi perawatan standar. 2006). Peritoneum dibuka dan kateter dimasukkan dibawah visualisasi secara langsung. linea alba. Pada pasien dengan hemoperitoneum dari . Survival dengan penyembuhan neurologis lebih diharapkan pada pasien dengan trauma tajam dibandingkan trauma tumpul. Indikasi dilakukan laparotomi diantaranya tanda peritonitis.2011) : Manajemen non operatif berdasarkan diagnosis CT scan dan stabilitas hemodinamik pasien. 1992). peningkatan kadar amilase. Penatalaksanaan 1. Torakotomi dapat berperan pada beberapa pasien dengan trauma tajam pada leher. ditemukannya hemoperitoneum setelah pemeriksaan FAST atau DPL (Feldman.terbuka. Diagnosis tension pneumothoraks diobati dengan kompresi jarum diikuti dengan penempatan pipa torakostomi. Metode terbuka membutuhkan insisi kulit infraumbilikal yang luas dan melalui linea alba. Hasil lain dari DPL yang menjadi indikasi dilakukan eksplorasi termasuk adanya empedu atau kadar amylase tinggi yang abnormal (indikasi perforasi usus). Salomone & Salomone.

pemeriksaan laboratorium. terlambat dalam diagnosis. Salomone&Salomone. Angka kematian untuk pasien rawat inap berkisar antara 5-10% (Udeani&Steinberg. bentuknya lonjong dan meluas dari diafragma hingga pelvis (Agung.trauma tumpul torakoabdominal. dan jumlah pasien total dengan trauma tumpul abdomen.2011). Komplikasi Komplikasi yang dapat muncul dari trauma tumpul abdomen adalah cedera yang terlewatkan. Indikasi dilakukan laparotomi diantaranya tanda peritonitis. perdarahan atau syok yang tidak terkontrol. Kecelakaan mobil dengan mobil dan antara mobil dengan pejalan kaki menduduki 50-75% dari keseluruhan kasus trauma tumpul abdomen (Udeani & Steinberg. G. kontrol perdarahan dilakukan dengan mengeluarkan darah dan bekuan darah. antibiotik spektrum luas diberikan. Jangan pernah melakukan eksplorasi pada hematom pelvis. Ketika abdomen dibuka. Hantaman juga dapat menyebabkan peningkatan tekanan intralumen pada organ berongga dan menyebabkan rupture (Salomone & Salomone. resusitasi yang tidak adekuat. mengalihkan darah ke koroner dan pembuluh darah otak selama resusitasi. kemudian stabilisasi pasien dengan cairan merupakan hal penting (Udeani&Steinberg. intra abdomen sepsis dan abses.2011). yaitu tenaga kompresi (hantaman) dan tenaga deselerasi.2011). Trauma yang didapat dari kecelakaan menjadi penyebab terbanyak dari trauma abdomen. tujuan resusitasi torakotomi pada IGD adalah (1) klem aorta. Penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan refer ke rumah sakit dengan tipe yang lebih tinggi untuk mencari penyebab hematuria dikarenakan keterbatasan peralatan. atau CT scan. dan mengeklem struktur vaskuler. Setelah sumber perdarahan dihentikan. Setelah intra abdomen diperbaiki dan perdarahan dikontrol. gambaran spesifik prognosis untuk pasien trauma intra abdomen sulit. 2010). Selain itu. F. pemeriksaan fisik. Insisi pada garis tengah biasanya lebih disukai.2011).2011).(3)mengontrol perdarahan thoraks secara langsung. dan (4)membuka dada untuk pijat jantung (Udeani&Steinberg. retroperitoneum dan pelvis harus diperhatikan.2011). 2002 . FAST. Tenaga kompresi (compression or concussive forces) dapat berupa hantaman langsung atau kompresi eksternal terhadap objek yang terfiksasi. BAB III KESIMPULAN Abdomen adalah rongga terbesar dalam tubuh. .2011). Penegakan diagnosis pada trauma tumpul abdomen dapat dilakukan dengan melakukan anamnesis. Prognosis Prognosis untuk pasien dengan trauma tumpul abdomen bervariasi. cedera iatrogenic. DPL terutama berguna jika riwayat dan pemeriksaan abdomen menunjukkan ketidakstabilan dan cedera multisistem atau tidak jelas (Feldman. ditemukannya hemoperitoneum setelah pemeriksaan FAST atau DPL. dapat pula dilakukan DPL. Hantaman merupakan hal yang paling menyebabkan sobek dan hematom subkapsular pada organ padat visera. ultrasonografi yang terdiri dari foto polos.2006). rupture spleen yang muncul kemudian (King et al. Setelah cedera intraperitoneal terkontrol. Cidera struktur intraabdomen dapat diklasifikasikan ke dalam 2 mekanisme utama. Gunakan fiksasi eksterna pada fraktur pelvis untuk menurunkan atau menghentikan perdarahan. Ketika sudah ada indikasi untuk dilakukan laparotomi. Tanpa data statistik yang menggambarkan jumlah kematian di luar rumah sakit.eksplorasi abdomen dilakukan untuk mengevaluasi seluruh lapangan abdomen(Udeani&Steinberg. (2)evakuasi tamponade pericardial. penurunan secara klinis selama observasi.

perdarahan atau syok yang tidak terkontrol.ac. A . Jakarta : EGC. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://emedicine. Nazir.pdf Dorland. Anonim. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://hsc.unm.. P. R. 2009 Abdominal Trauma. Srivathsan. 2006 Akut Abdomen. 2001 PRACTICE MANAGEMENT GUIDELINES FOR THE EVALUATION.scribd.. 2006 Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran. J. Jehangir B. Wegner. Catatan Radiograf.scribd. Feldman. Wie. G. Jakarta : EGC. Bhat A. P. . Young . 2002 Bedah Primer Trauma.. W. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://www. Pediatric clinics. WebMD. Bewes P. G. Didapatkan nyeri tekan pada region inguinalis kanan dan kiri. F.medscape. Jakarta : EGC. Hasil lab tidak menunjukkan adanya gangguan yang menandakan adanya perdarahan.com/docs/30321684/Blunt-Abdominal-Trauma-Evaluation. Salomone.id/wp-content/uploads/2009/10/kegawatdaruratan. M. Snell. 2010 Anatomi Abdomen. Diakses pada 8 Februari 2011 dari http://pustaka. Diakses pada tanggal 11 Februari 2011 dari http://www.blogspot. 2002 Kamus Kedokteran Dorland Ed.. Peristaltik usus yang positif (+) ditunjukkan dengan pemeriksaan auskultasi. USG abdomen belum menunjukkan adanya cidera organ yang berarti akibat trauma pada kecelakaan yang diderita. J E. J. WebMD.docstoc.. Patterson L. Pada pemeriksaan kedua kaki didapatkan bahwa kedua kaki sulit digerakkan. Dudley. Coatesville : Eastern Association for the Surgery of Trauma. D V. Holevar M. Amro. Salomone A. Scribd.. Udeani. DAFTAR PUSTAKA Agung. H. Diakses pada 12 Februari 2011 dari http://catatanradiograf. N. 1992 Hamilton Bailey's Emergency Surgery..medscape..html. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://www. A. Yogyakarta : UGM Press. 2006 Pediatric Blunt Abdominal Trauma..Emedicine... Pasien sudah dipasang kateter urin dan ditemukan hematuria pada urine bag. Colleti.unpad. JKpractitioner.29. A.edu/emermed/ped/physicians/residents/articles/Pediatric %20Blunt%20Abdominal%20Trauma.. Valenziano C. Perkusi memberikan hasil timpani tanpa pekak alih.2011). P. Scribd.com/2010/08/anatomi-abdomen. H. Hasil palpasi tidak didapatkan massa serta adanya undulasi.Penatalaksanaan pada pasien trauma tumpul abdomen dilakukan secara konservatif dan bedah.J S.com/article/821995-print . ditemukannya hemoperitoneum setelah pemeriksaan FAST atau DPL (Udeani&Seinberg.. Arrillaga A.com/article/433404-print . R S. Scribd.com/doc/15565439/Abdominal-Trauma. Hoff. 2006 Blunt Abdominal Trauma : Evaluation. penurunan secara klinis selama observasi. Indikasi dilakukan laparotomi diantaranya tanda peritonitis. 2002 The Role of Ultrasonography in Blunt Abdominal Trauma. Steinberg S. Najarian M.. I. 2011 Trauma Medicine: Blunt Abdominal Trauma. Diakses pada 11 Februari 2011 dari http://emedicine. W S.com/doc/25945432/Abdominal-Trauma. Hasil pemeriksaan fisik abdomen pada penderita ini didapatkan jejas di seluruh region abdomen dengan vulnus excoriation (VE) serta darah kering di region inguinalis dekstra dan sinistra.pdf. K. Pada foto polos pelvis yang dilakukan tidak didapatkan adanya kelainan maupun tanda-tanda adanya fraktur. N. J. King M. 2008 Kegawatdaruratan Sistem Pencernaan pada Trauma Abdomen. S. Penatalaksanaan pada pasien ini dilakukan refer ke rumah sakit dengan tipe yang lebih tinggi untuk mencari penyebab hematuria dikarenakan keterbatasan peralatan. Nagy K. 2011 Emergency Medicine: Abdominal Blunt Trauma..Emedicine.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.