Pengertian Pers Istilah pers berasal dari bahasa Belanda, yang berarti dalam bahasa Inggris berarti press

. Secara harfiah pers berarti cetak, dan secara maknafiah berarti penyiaran secara tercetak atau publikasi secara dicetak (Effendy,1994). Pers adalah lembaga sosial (social institution) atau lembaga kemasyarakatan yang merupakan subsistem dari sistem pemerintahan di negara dimana ia beropreasi, bersama-sama dengan subsistem lainnya. Pengertian Pers yaitu, suatu lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang menjalankan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar serta data grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik dan segala jenis saluran yang tersedia. Dimana pers saat ini tidak hanya terbatas pada media cetak maupun media elektronik tetapi juga telah merambah ke berbagai medium infromasi seperti internet. Pers juga merupakan suatu lembaga kemasyarakatan yang kegiatannya melayani dan mengatur kebutuhan hati nurani manusia selaku makhluk sosial dalam kehidupannya sehari-hari sehingga dalam organisasinya pers akan menyangkut segi isi dan akibat dari proses komunikasi yang melibatkannya. Ditinjau dari sistem, pers merupakan sistem terbuka yang probabilistik. Terbuka artinya bahwa pers tidak bebas dari pengaruh lingkungan; tetapi dilain pihak pers juga mempengaruhi lingkungan probabilistik berarti hasilnya tidak dapat diduga secara pasti. Situasi seperti itu berbeda dengan sistem tertutup yang deterministik. Dalam buku "Four Theories of the Press" dengan penulis; Fres S. Siebert, Theodore Peterson dan Wilbur Schramm. bahwa Pers dapat dikategorikan menjadi; 1. authoritarian press (pers otoritarian) 2. libertarian press (pers libertarian) 3. soviet communist press atau pers komunis soviet 4. social responsibility press atau pers tanggung jawab sosial. Dalam perkembangannya pers mempunyai dua pengertian, yakni pers dalam pengertian luas dan pers dalam pengertian sempit. Pers dalam pengertian luas meliputi segala penerbitan, bahkan termasuk pers elektrolit, radio siaran, dan televisi siaran. Sedangkan pers dalam arti sempit hanya terbatas pada pers cetak, yakni surat kabar, majalah, dan buletein kantor berita. Pengertian Pers - arti sempit: media massa cetak seperti surat kabar, majalah tabloid, dan sebagainya - arti luas: media massa cetak elektronik, antara lain radio siaran dan televisi siaran, sebagai media yg menyiarkan karya jurnalistik.

terutama apabila hiburan itu mengandung unsur-unsur terlarang seperti pornografi dan sebagainya seharusnya dihindari. mempunyai tanggung jawab menyebarluaskan informasi tentang kemajuan dan keberhasilan pembangunan kepada masyarakat pembacanya. 3. diharapkan para pembaca pers akan tergugah dalam kemajuan dan keberhasilan itu. Hiburan yang diberikan pers semestinya tidak keluar dari koridor-koridor yang boleh dan tidak boleh dilampaui. Informasi yang disajikan pers merupakan berita-berita yang telah diseleksi dari berbagai berita yang masuk ke meja redaksi. pers harus menyeimbangkan arus informasi. 40 Tahun 1999 pasal 3 ayat 1disebutkan bahwa salah satu fungsi pers adalah sebagai hiburan. Hiburan yang diberikan pers kepada masyarakat yang dapat mendatangkan dampak negatif. menyampaikan fakta di lapangan secara objektif dan selektif. peningkatan kehidupan spiritual dan kehidupan material benar-benar dapat terwujud. Untuk memberikan informasi yang mendidik itu. 2. Objektif artinya fakta disampaikan apa adanya tanpa dirubah sedikit pun oleh wartawan dan selektif maksudnya hanya berita yang layak dan pantas saja yang disampaikan. pers mengemban fungsi positif dalam mendukung mendukung kemajuan masyarakat. keadaan yang tidak pada tempatnya dan yang menyalahi aturan. Ada hal-hal yang tidak layak diekspose ke masyarakat luas. 4. Pers sebagai Media Informasi Media informasi merupakan bagian dari fungsi pers dari dimensi idealisme. Pers sebagai Media Entertainment Dalam UU No.Fungsi pers 1. dari berbagai sumber yang dikumpulkan oleh para reporter di lapangan. 5. Dengan demikian. Makanya. merangsang prakarsa sehingga pelaksanaan demokrasi Pancasila. Pers sebagai Media Kontrol Sosial Maksudnya pers sebagai alat kontrol sosial adalah pers memaparkan peristiwa yang buruk. Pers sebagai Lembaga Ekonomi . hak asasi seseorang. Menurut Pembinaan Idiil Pers. Pers sebagai Media Pendidikan Dalam Pembinaan Idiil Pers disebutkan bahwa pers harus dapat membantu pembinaan swadaya. atau peraturan tidak diperbolehkan. Hiburan yang sifatnya mendidik atau netral jelas diperbolehkan tetapi yang melanggar nilai-nilai agama. supaya peristiwa itu tidak terulang lagi dan kesadaran berbuat baik serta mentaati peraturan semakin tinggi. pers sebagai alat kontrol sosial bisa disebut “penyampai berita buruk”. moralitas.

Pemerintah pada saat itu harus melakukan pemulihan di segala aspek. bukan melindungi insan pers dan masyarakat. Awal tahun 1960 penekanan kebebasan pers diawali dengan peringatan Menteri Muda Maladi bahwa “langkah-langkah tegas akan dilakukan terhadap surat kabar. antara lain aspek ekonomi. kepentingan bangsa. Sehingga banyak media massa yang memberontak melalui tulisan-tulisan yang mengkritik pemerintah. Indonesia dijanjikan akan keterbukaan serta kebebasan dalam berpendapat. Meskipun orde baru telah menjanjikan keterbukaan dan kebebasan di awal pemerintahannya. social. Lalu apa fungsi dari dewan pers pada saat itu? Ternyata dewan pers hanyalah dibuat pemerintah untuk melindungi kepentingan pemerintah saja. menyatakan pendapat. Hal ini tercermin dari pidato Menteri Muda Penerangan Maladi dalam menyambut HUT Proklamasi Kemerdckaan RI ke-14. Namun majalah Tempo adalah satu-satunya yang berjuang dan terus melawan pemerintah orde baru melalui tulisan-tulisannya hingga sampai akhirnya bisa kembali terbit setelah jatuhnya Orde baru. Perlakuan ini menjadikan keuntungan materi sebagai tujuan akhir pers. Itulah sebabnya pada tahun 1994 banyak media yang dibredel. moral dan kepribadian Indonesia. Dewan Pers seakan kehilangan fungsinya dan hanya formalitas belaka. yaitu pembredelan terhadap kantor berita PIA dan surat kabar Republik. Pemerintah memang memegang kendali dalam semua aspek pada saat. 1.Latar belakang pers Beberapa pendapat mengatakan bahwa sebagian besar surat kabar dan majalah di Indonesia memperlakukan pembacanya sebagai pangsa pasar dan menjadikan berita sebagai komoditas untuk menarik pangsa pasar itu.C. bahkan banyak pula yang membeberkan keburukan pemerintah. Hak berpikir. namun pada kenyataannya dunia pers malah terbelenggu dan mendapat tekanan dari segala aspek. Pers pun tidak mau hanya diam dan terus mengikuti permainan politik Orde baru. tindakan tekanan pers terus berlangsung. majalah-majalah. dan psikologis rakyat. bahkan perkembangan ekonomi pun semakin . budaya. deTIK. Berita Indonesia. Tahun 1964 kondisi kebebasan pers makin buruk: digambarkan oleh E. dan kantorkantor berita yang tidak menaati peraturan yang diperlukan dalam usaha menerbitkan pers nasional”. karena sensor tetap ketat dan dilakukan secara sepihak. serta tanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Esa”. Masyarakat saat itu bersuka-cita menyambut pemerintahan Soeharto yang diharapkan akan mengubah keterpurukan pemerintahan orde lama. pers senantiasa berusaha menyajikan berita yang disenangi pembaca. Konsekuensinya. dan Monitor. Pedoman. antara lain: “Hak kebebasan individu disesuaikan dengan hak kolektif seluruh bangsa dalam melaksanakan kedaulatan rakyat. terutama dalam dunia pers. seperti Tempo. Perubahan ada hampir tidak lebih sekedar perubahan sumber wewenang. dan Sin Po dilakukan oleh penguasa perang Jakarta. Perkembangan Pers Pada Masa Orde Baru Pada awal kekuasaan orde baru. Smith dengan mengutip dari Army Handbook bahwa Kementerian Penerangan dan badan-badannya mengontrol semua kegiatan pers. Masih tahun 1960 penguasa perang mulai mengenakan sanksi-sanksi perizinan terhadap pers. Makna pers pada masa orba pers dalam masa orde baru seakan-akan kehilangan jati dirinya sebagai media yang bebas berpendapat dan menyampaikan informasi. politik. dan memperoleh penghasilan sebagaimana dijamin UUD 1945 harus ada batasnya: keamanan negara. Lebih kurang 10 hari setelah Dekrit Presiden RI menyatakan kembali ke UUD 1945. Indonesia mulai bangkit sedikit demi sedikit.

Dan perlawanan itu ternyata belum berakhir. bahkan yang ada malah pembredelan. bagi dunia pers di Indonesia. deTIK. Pembredelan itu diumumkan langsung oleh Harmoko selaku menteri penerangan pada saat itu. Pers seakan-akan dijadikan alat pemerintah untuk mempertahankan kekuasaannya. (Tebba. Tempo misalnya. beberapa media massa seperti Tempo. berusaha bangkit setelah pembredelan bersama para pendukungnya yang antu rezim Soeharto. Pada masa orde baru. Tidak ada kebebasan dalam menerbitkan berita-berita miring seputar pemerintah. maka media massa tersebut harus memberitakan hal-hal yang baik tentang pemerintahan orde baru. Cirinya adalah bebas dan bertanggungjawab”. Namun sangat tragis. sehingga pers tidak menjalankan fungsi yang sesungguhnya yaitu sebagai pendukung dan pembela masyarakat. segala penerbitan di media massa berada dalam pengawasan pemerintah yaitu melalui departemen penerangan. Namun pada kenyataannya tidak ada kebebasan sama sekali. . Pers mendapat berbagai tekanan dari pemerintah. Tanggal 21 Juni 1994. 2005 : 22). “Pada masa orde baru pers Indonesia disebut sebagai pers pancasila. dan editor dicabut surat izin penerbitannya atau dengan kata lain dibredel setelah mereka mengeluarkan laporan investigasi tentang berbagai masalah penyelewengan oleh pejabat-pejabat Negara. Dunia pers yang seharusnya bersuka cita menyambut kebebasan pada masa orde baru. Bila ingin tetap hidup.pesat. malah sebaliknya. namun ternyata banyak media massa yang menentang politik serta kebijakan-kebijakan pemerintah. Bila ada maka media massa tersebut akan mendapatkan peringatan keras dari pemerintah yang tentunya akan mengancam penerbitannya. Meskipun pada saat itu pers benar-benar diawasi secara ketat oleh pemerintah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful