P. 1
Contoh Talibun

Contoh Talibun

|Views: 2,149|Likes:

More info:

Published by: Pedrozha Qoutez Nggili on Apr 03, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/09/2014

pdf

text

original

Contoh Talibun - Talibun adalah tulisan yang berbentuk puisi lama seperti pantun yang mempunyai sampiran dan

isi, tetapi lebih dari 4 baris. Adapun talibun dapat terdiri dari 6 hingga 20 baris dan memiliki irama abc-abc, abcde-abcde, dan seterusnya. Umumnya talibun akan bercerita tentang tema kebesaran atau kehebatan suatu tempat, keajaiban sesuatu benda atau peristiwa, kecantikan atau kehebatan seseorang, terkadang talibun juga bercerita tentang kelakuan dan sikap manusia, serta pengisahan tentang sesuatu perlakuan dimasa yang lalu. Pada tulisan ini akan dipublikasikan kepada Anda mengenai contoh talibun 6 baris atau yang disebut pula dengan contoh talibun enam berikat. Untuk melihat secara lengkap tentang contoh talibun tersebut maka berikut akan dipublikasikan selengkapnya dibawah ini:

Contoh Talibun 6 Baris
Kepada istri cinta utama Merasa jenuh berlalu gampang Kerja lembur berhari - hari Tiada hari tanpa merana Adinda jauh selalu terbayang Jika tidur termimpi - mimpi Agenda Minggu padat semua Pelana kuda berjarum tulang Kuda pedati ada di Bangka Adinda menunggu sangat merana Karena Kanda belum pulang Kanda kembali dinda bahagia Mencari ikan di dalam lubuk Ikan gabus banyak dinanti Lubuk dalam tanah tertimbun Setiap hari bermain facebook Bosan rasanya status berganti Perkenankan hambe lantunkan talibun Punai hinggap di kayu rapuh Batang dipenuhi dedaunan coklat Lama tak dikecup sinar mentari Selagi melarat munajat bersimpuh Ketika lapang lupakan shalat Sajadah dikunci dalam lemari Selasih di rimba Jambi Rotan ditarik orang pauh Putus akarnya di jerami Kasih pun baru dimulai Tuan bawa berjalan jauh

Itu menghina hati kami. Kalau anak pergi ke pekan Yu beli belanak beli Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanakpun cari Induk semang cari dahulu Demikianlah beberapa contoh talibun yang bisa dipublikasikan pada tulisan ini kepada Anda yang sudah membaca tulisan ini. Jangan lupa baca juga tulisan lainnya di blog Berita Terhangat, yaitu tentang Contoh Hikayat yang beberapa waktu yang lalu sudah dipublikasikan untuk Anda baca.

Contoh Talibun

Talibun adalah sejenis puisi lama, sama seperti pantun talibun memiliki sampiran dan isi, tetapi lebih dari 4 baris ( mulai dari 6 baris hingga 20 baris). Berirama abc-abc, abcd-abcd, abcde-abcde, dstnya.

Contoh talibun : Mencari ikan di dalam lubuk Ikan gabus banyak dinanti Lubuk dalam tanah tertimbun Setiap hari bermain facebook Bosan rasanya status berganti Perkenankan hambe lantunkan talibun

Selasih di rimba Jambi Rotan ditarik orang pauh Putus akarnya di jerami Kasih pun baru dimulai Tuan bawa berjalan jauh

Itu menghina hati kami

Kalau anak pergi ke pekan Yu beli belanak beli Ikan panjang beli dahulu Kalau anak pergi berjalan Ibu cari sanakpun cari Induk semang cari dahulu

Di kala katak tersepak pelita Menarilah kuda di batu akik Dikejar teledu terkena pahat Jika hendak anak sempurna Carilah di guru cerdik Mengajar ilmu dunia akhirat Pulau Todak lingkup merata Sandarlah jati beri peniti Karamkan benua alunan lubuk Kalau hendak hidup sempurna Hindarilah diri dari judi Haramkan semua minuman mabuk Kepada istri cinta utama Merasa jenuh berlalu gampang Kerja lembur berhari - hari Tiada hari tanpa merana Adinda jauh selalu terbayang Jika tidur termimpi - mimpi

Agenda Minggu padat semua Pelana kuda berjarum tulang Kuda pedati ada di Bangka Adinda menunggu sangat merana Karena Kanda belum pulang Kanda kembali dinda bahagia

Rumah gadang di Minangkabau nan berukuir sembilan orang nan bertebat di kebun bunga cincin emas tinggalah engkau batu permata biarlah hilang sekarang intan sudah kupunya Berkeris si katin muna patah sudah bersimpai belum tak sebuah jadi tuah jika dilihat pusaka lama dibangkit batang nan terendam tlah banyak lagi yang berubah Telah penat hamba mendaki mendaki batu berjenjang bulan tak juga terang-terangnya Telah penat hamba menanti telah putih mata memandang tuan tak kunjun datang juga Sutan Palembang orang Pariaman duduk menyurat menulisi duduk melukis gambar bulan Sepantun jenang dalam pinggan lekat tak hendak pupus lagi begitu sayang kepada tuan Sejak semula hamba letakkan tidak diletak di dalam padi batang pepaya diampaikan sejak semula hamba katakan tidak diletak di dalam hati kami juga merasakan Telakang crana kaca nan sama orang gantangkan Renggang karena bahasa bercerai karena budi itu sama orang pantangkan Sehabis dahan dengan ranting

dikupas di kulit batang teras pengubar barulah nyata setinggi-tinggi melanting membumbung ke awang-awang baliknya ke tanah jawa Telah masak jarang padi orang Singkarak masaknya bertangkai-tangkai setangkai jarang yang muda ikat selilit simpul sintak ikat sulit untuk ungkai oleh yang punya mudah saja Orang Padang memintal benang disusun baru dilipat dilipat baru dipertiga kalau direntang malah panjang elok dipintal agar singkat begitu pula kasih kita Lagu laga bunyi pedati pedati hendak pergi ke Padang genta kerbau berbunyi juga walau sepiring dapat pagi atau sepiring dapat petang kampung halaman teringat juga Lada dengan apa akan digiling garam nan jauh di Pariaman awak berladang tepi rimba mata dengan apa akan di dinding di dinding dengan telapak tangan di ruang jari tampak jua Anak orang di Padang Gadut hendak ke Bandar hari sabtu singgah dahulu di pendakian menangis diri dalam selimut mana mungkin tuan akan tahu ke bantal saja saya bisikkan Anak orang di Padag Tarap

pergi berjalan ke kebun bunga hendak ke pekan hari tlah senja Di sana sirih kami kerekap meskipun daunnya serupa namun rasanya berlain jua Orang Solok ke Batang Kapas hendak menjelang ke Pasar Kemang terus ke pekan di Indrapura meskipun daunnya serupa namun rasanya berlain jua Jika tuan pergi ke ladang usah lupa mengambil sayur bawalah pulang bawa ujungnya jika tuan benar-benar sayang biarkan hati hamba berbaur berbaur luluh bersama kasihnya Melati letakkan di jamban wangi setangkai tidak berbuah bunga suntingan untuk puteri Kini rasakanlah di badan hati dan mata punya ulah kini tanggungkanlah di diri Malang nasib pelita redup pelita nyala hari tlah siang hidup menyala diatas peti rintang menghitung duka hidup lelap selayang hari siang dipeluk bantal ditangisi Anak mandi bapak menyauk hendak mandi berbasah-basah mandi disumur orang Kota Tua anak mati bapak mengamuk hendak sama berkalang tanah hendak sekubur badan berdua Di atas tuba orang pecah di bawah tikam tlah mati

di tengah jala bertega bila rasaku tlah patah patah karena sakit hati mati obatnya kan bikin lega Ke hilir ke Kuarataji ke pekan menjual pandan pergi ke pekan berdua-dua Kalau adik ingkar janji sudah menjadi sumpah badan mati sekubur kita berdua Jika mandi kanda di hulu air nan susah kanda sauk disauk usah dikeruhi Jika mati hamba dahulu mati tak usah kanda jenguk dijenguk usah ditangisi Anak orang Kubang Putih pergi ke pasar hari akan senja memakai baju gunting Cina Ulah rayu si daun sirih bercerai pinang dengan tampuknya apakan daya si cemara Penakik pisau siraut ambil galah batang lintabung selodang ambilan nyiru setitik jadikan laut sekepal jadikan gunung alam terkembang jadikan guru Bukan pohon kenari saja ke rimba mengambil rotan terbawa rotan muda bukan hamba kemari saja kemari membawa esan ialah pesan si Umbut Muda

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->