LAPORAN PERAMALAN HAMA DAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TANAMAN

LAPORAN PERAMALAN HAMA DAN EPIDEMIOLOGI PENYAKIT TANAMAN
Oleh: NAMA NIM KELOMPOK ASSISTEN :MUHAMAD KINDI :105040200111063 :RABU, 07.30 :ANUGERAH FIRMANSYAH

PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2011
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Permalan mempunyai peranan penting dalam pengambilan keputusan, untuk perlunya dilakukan tindakan atau tidak, karena peramalan adalah prakiraan atau memprediksi peristiwa dimasa depan, sebab efektif atau tidaknya suatu keputusan umumnya tergantung pada beberapa faktor yang tidak dapat kita lihat pada waktu keputusan itu diambil.

Peramalan merupakan komponem penting dalam strategi pengelolaan hama dan penyakit tanaman sebab dengan adanya peramalan dapat memberikan peringatan dini mengenai tingkat dan luasnya serangan. Dalam peramalan juga di butuhkan data untuk membuat suatu model peramalan, untuk mendapatkan data tersebut maka di perlukan adanya pengamatan terlebih dahulu, data pengamatan yang baik dapat digunakan untuk mengetahui hama dan penyakit utama di suatu daerah, dan yang lebih penting dapat digunakan untuk merevisi program pengendalian yang telah ada. Makin lengkap data yang tersedia mengenai hubungan antara intensitas penyakit dengan bermacam-macam faktor, cara prakiraan akan semakin tepat. Prakiraan penyakit tanaman memungkinkan untuk memprediksi peluang terjadinya peledakan ( out-break) atau peningkatan intensitas penyakit dan kemudian bagi kita untuk menentukan apa, kapan dan dimana tindakan pengendalian akan dilakukan. Itu semua akan bermanfaat sekali karena dalam pengelolaan penyakit tumbuhan, faktanya dilapangan petani harus selalu menghitung resiko, biaya dan keuntungan pada setiap keputusan yang di ambil. Pengamatan yang dilakukan oleh kelompok praktikum kami dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya, di Ngijo, Karangploso pada tanggal 16 november 2011.

1.2 Tujuan 1.2.1 1.2.2 1.2.3 1.2.4 1.2.5 1.2.6 1.2.7 1.2.8 1.2.9 Pengertian Pengamatan dan Ambang Ekonomi Peranan pengamatan dalam Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu Macam-macam pengamatan Pengamatan dan penilaian serangga hama dan penyakit Bentuk-bentuk penyebaran daan ciri-cirinya Tehnik pengambilan contoh Macam-macam perangkap Hama dan Penyakit penting pada tanaman Jagung Faktor yang mempengaruhi penyebaran Hama dan Epidomologi Penyakit

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian Pengamatan dan Ambang Ekonomi o Pengamatan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk mendapatkan data atau leterangan dengan jalan mengamati, melakukan perhitungan atau pengukuran terhadap obyek yang di teliti. o Ambang Ekonomi adalah suatu tingkat kepadatan populasi hama atau tingkat intensitas kerusakan tanaman yang mulai mengakibatkan terjadinya kerugian ekonomik. (Tim Dosen, 2011) 2.2 Peran Pengamatan dalam Pengendalian Hama dan Penyakit Terpadu Dengan melakukan pengamatan kita dapat mengetahui tingkat kepadatan populasi hama maupun tingkat kerusakan tanaman sebagai akibat serangan hama, yaitu apakah masih ada di bawah ambang ekonomi yang berarti usaha pengendalian masih perlu dilakukan, atau sudah mendekati atau bahkan sudah melewati ambang ekonomi yang berarti usaha pengendalian harus di lakukan untuk dapat menekan kepadatan populasi hama agar kembali berada pada posisi di bawah ambang ekonomi. (Tim Dosen, 2011) 2.3 Macam – macam Pengamatan 2.3.1 Berdasarkan Sifatnya a. Pengamatan kualitatif Kegiatan pengamatan yang bermaksud untuk mengetahui macam hama atau penyakit, lokasinya dan bagaimana keadaannya. b. Pengamatan kuantitatif Kegiatan pengamatan yang bermaksud untuk mengetahui lebih rinci tentang hama atau penyakiut , yaitu berapa luas serangan dan intensitasnya. (Tim Dosen, 2011) 2.3.2 Berdasarkan Kekerapan Frekuensinya a. Pengamatan tetap / Pengamatan kontinyu / Pengamatan reguler

baik berdasarkan tingkat kepadatan populasi hama maupun tingkat intensitas kerusakannya. Pengamatan keliling ini bertujuan untuk menutupi kekurangan yang terdapat pada pengamatan tetap. serta ketelitiannya pun lebih intens. Data atau informasi yang di peroleh biasanya masih sangat kasar atau masih kurang teliti. atau adanya informasi dari sumber yang dapat di percaya. Pengamata ini minimal 10% dari luasan lahan. b. Dasar dilakukannya pengamata ini adalah bila secara visual tanaman atau bagian tanaman menunjukan gejala yang patut di curigai . Pengamatan ini lebih dari 10% dari luas lahan .4 Pengamatan dan Penilaian Serangan Hama Seringkali diperlukan penilaian terhadap tingkat serangan hama. perlu dilakukan penambahan jumlah sampel yang diamati untuk meningkatkan ketelitian dari data atau informasi yang di peroleh. karena pada pengamatan tetap jumlah petak contoh sangat terbatas.Pengamatan ini dilakukan secara terus menerus secara berkala atau dengan skala (interval) waktu tertentu pada suatu wilayah pengamatan tertentu. (Tim Dosen. Pengamatan tetap menghasilkan data keadaan hama dan penyakit dari waktu ke waktu sehingga dapat memberi gambaran tentang dinamika penyakit dan populasi hama di wilayah pengamatan tersebut. Pengamatan keliling / insidental Pengamatan ini dilakukan sekali-sekali bila keadaan memerlukan.3. Biasanya pertanaman berdasarakan penilaian tersebut dikategorikan menjadi : . Pengamatan halus Merupakan kelanjutan dari kegiatan pengamatan global yaitu apabila pengamatan global di peroleh data atau informasi yang menunjukan adanya penyakit atau serangan hama yang cukup menghawatirkan. tetapi dengan jumlah sampel yang relatif sedikit. Pengamatan global Pengamatan yang cukup dilakukan pada skala wilayah pengamatan yang cukup luas. Pada prinsipnya pengamatan keliling adalah pengamatan untuk mengetahui terjadinya serangam hama atau timbulnya penyakit pada tempat-tempat tertentu yang dapat menjadi ssumber hama atau penyakit. (Tim Dosen. 2011) 2.3 Berdasarkan Jumlah Sampel Yang di Amati a. b. 2011) 2.

dan jangan terlalu banyak karena membingungkan pengamat untuk memasukkan kelas tertentu. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa bagian tersebut secara otomatis tidak mampu melakukan fungsi fisiologis (fotosintesis). yakni : 1. yaitu memberikan uraian verbal dan angka tentang kelas-kelas serangan yang berbeda. Pertanaman dengan serangan / kerusakan berat Pertanaman dikatakan serangan / kerusakan berat . Untuk menentukan tingkat serangan umumnya ditekankan pada berapa persen bagian jaringan tanaman yang rusak akibat penyakit. bila pertanaman mengalami kerusakan sama dengan atau lebih besar dari 85%. b. Oleh karena itu. maka dibuat grading dalam bentuk kategori atau klas grading. Ada beberapa cara untuk menentukan grading. d. 2011) 2. . c. Pertanaman sehat Pertanaman dikatakan sehat bila pertanaman mengalami serangan hama mulai tidak ada sama sekali sampai batas ambang ekonomi.5 Pengamatan Penilaian Serangan Penyakit Tingkat kerusakan tanaman yang disebabkan oleh penyakit tanaman disebut intensitas penyakit. Skala penyakit. Pertanaman dengan serangan / kerusakan puso Pertanaman dikatakan serangan / kerusakan puso. hendaknya dilakukan dengan cermat. (Tim Dosen. Pertanaman dengan serangan / kerusakan ringan Pertanaman dikatakan serangan / kerusakan ringan.a. merupakan penjelasan secara rinci dari masing-masing kelas serangan dalam bentuk gambar. bila pertanaman mengalami serangan hama mulai batas 50% sampai di bawah 85%. bila pertanaman mengalami serangan hama mulai batas ambang ekonomi sampai di bawah kerusakan 25%. sering pula disebut skala penyakit bergambar. Berbeda pada hama tanaman gejala kerusakan merupakan satu-satunya sarana yang dapat dipergunakan untuk menentukan intensitas penyakit. Diagram standart. Secara normal agar memudahkan dalam mendapatkan cara pengukuran. Jumleh kelas jangan terlalu kecil karena bisa tak ada perbedaan kapasitasnya. 2.

sebagai berikut : P = ∑ n. bebas tidak terpengaruh oleh individu serangga hama yang lain.6 Bentuk-bentuk Penyebaran dan Ciri-ciri nya Secara garis besar penyebaran serangga hama dalam ruang dibedakan menjadi tiga bentuk penyebaran yaitu : 1. sehingga satu individu yang lain kedudukannya akan terpisah antara satu dengan yang lain. Z x 100 % P = tingkat serangan n = jumlah tanaman/ bagian tanaman dari tiap kategori serangan v = nilai skala tiap kategori serangan N = jumlah tanaman/ bagian tanaman yang diamati Z = harga numerik dari kategori serangan (Sastrahidayat. untuk mendapatkan besarnya tingkat serangan. maka perlu dimasukkan dalam rumus umum. Dengan perkataan lain kedudukan individu serangga hama dalam satu titik di dalam ruang. Bentuk penyebaran populasi demikian jarang dijumpai terjadi pada serangga yang mempunyai sifat kanibal. Setelah didapat hasil grading. 1997) 2.3. v / N. Penyebaran Acak Pada bentuk ini kedudukan suatu individu serangga hama pada suatu titik di dalam ruang tidak dipengaruhi ataupun mempengaruhi kedudukan individu serangga hama lain yang ada pada titik yang lain. Kunci lapang. Penyebaran Teratur Pada bentuk penyebaran teratur ini kepadatan populasi serangga hama hampir merata. . Oleh sebab itu hasil pengamatan kepadatan populasi pada setiap unit sampel relatif akan sama. 2. digunakan untuk mengamati bagian daun yang sakit secara cepat pada seluruh tanaman di lapangan.

stratified random sampling. .7 Teknik Pengambilan Contoh Secara umum. Pemilihan sampel secara acak bisa dilakukan melalui sistem undian jika elemen populasinya tidak begitu banyak. dimana kedudukan suatu individu serangga hama pada suatu titik di dalam ruang akan dipengaruhi oleh atau pun mempengaruhi kedudukan individu serangga hama lain yang ada pada titik yang lain.Bentuk penyebaran teratur secara matematik akan dicirikan dengan besarnya nilai keragaman akan lebih kecil daripada rata-ratanya. Dengan perkataan lain kedudukan individu serangga hama yang lain akan saling mempengaruhi. dan sampel tidak acak atau nonrandom samping/nonprobability sampling. Dari sekian elemen populasi. Pada sampel acak (random sampling) dikenal dengan istilah simple random sampling. dan area sampling. a. systematic sampling. elemen mana saja yang bisa dipilih menjadi sampel? Alat yang umumnya digunakan adalah Tabel Angka Random. 3. Hal ini disebabkan kepadatan populasi yang relatif homogen tersebut. cara undian bisa mengganggu konsep “acak” atau “random” itu sendiri. Penyebaran Mengelompok Bentuk penyebaran ini seakan-akan merupakan kebalikan dari bentuk penyebaran acak. Tetapi jika sudah ratusan. Yang dimaksud dengan kerangka sampling adalah daftar yang berisikan setiap elemen populasi yang bisa diambil sebagai sampel. Tehnik Sampling secara Acak Yang dimaksud dengan random sampling adalah cara pengambilan sampel yang memberikan kesempatan yang sama untuk diambil kepada setiap elemen populasi. Simple Random Sampling atau Sampel Acak Sederhana Dosen. 1. kalkulator. atau undian. ada dua jenis teknik pengambilan sampel yaitu. peneliti juga harus mempunyai alat yang bisa dijadikan penentu sampel. cluster sampling. sampel acak atau random sampling / probability sampling. (Tim 2011) 2. Syarat pertama yang harus dilakukan untuk mengambil sampel secara acak adalah memperoleh atau membuat kerangka sampel atau dikenal dengan nama “sampling frame”. Di samping sampling frame.

Cluster Sampling atau Sampel Gugus Teknik ini biasa juga diterjemahkan dengan cara pengambilan sampel berdasarkan gugus. peneliti tidak mempunyai pertimbangan lain kecuali berdasarkan kemudahan saja. di mana setiap unsur dalam satu stratum memiliki karakteristik yang homogen. snowball sampling. purposive sampling. maka dalam sampel gugus. 2000) b. quota sampling. yaitu unsur populasi yang bisa dijadikan sampel adalah yang “keberapa”. Dalam memilih sampel. 3. Berbeda dengan teknik pengambilan sampel acak yang distratifikasikan. setiap gugus boleh mengandung unsur yang karakteristiknya berbeda-beda atau heterogen. Stratified Random Sampling atau Sampel Acak Distratifikasikan Karena unsur populasi berkarakteristik heterogen. Area Sampling atau Sampel Wilayah Teknik ini dipakai ketika peneliti dihadapkan pada situasi bahwa populasi penelitiannya tersebar di berbagai wilayah. Cara ini menuntut kepada peneliti untuk memilih unsur populasi secara sistematis. Oleh karena itu ada beberapa penulis menggunakan istilah accidental sampling . Convenience Sampling atau sampel yang dipilih dengan pertimbangan kemudahan. setiap elemen populasi tidak mempunyai kemungkinan yang sama untuk dijadikan sampel. (Mustofa. 1. Systematic Sampling atau Sampel Sistematis Jika peneliti dihadapkan pada ukuran populasi yang banyak dan tidak memiliki alat pengambil data secara random. Perbedaan karakter yang mungkin ada pada setiap unsur atau elemen populasi tidak merupakan hal yang penting bagi rencana analisisnya.Cara atau teknik ini dapat dilakukan jika analisis penelitiannya cenderung deskriptif dan bersifat umum. cara pengambilan sampel sistematis dapat digunakan. Dengan demikian setiap unsur populasi harus mempunyai kesempatan sama untuk bisa dipilih menjadi sampel 2. Teknik Sampling Terpilih Yang dimaksud dengan nonrandom sampling atau nonprobability sampling. 4. Dari setiap stratum tersebut dipilih sampel secara acak. 5. dan heterogenitas tersebut mempunyai arti yang signifikan pada pencapaian tujuan penelitian. Pada nonprobability sampling dikenal beberapa teknik. antara lain adalah convenience sampling. maka peneliti dapat mengambil sampel dengan cara ini.

Dua jenis sampel ini dikenal dengan nama judgement dan quota sampling. Alat sampling yang digunakan antara lain berupa spear untuk bahan simpan dalam kemasan/karung. .– tidak disengaja – atau juga captive sample (man-on-the-street) Jenis sampel ini sangat baik jika dimanfaatkan untuk penelitian penjajagan. pneumatic sampler untuk bahan simpan curahan dan pelican sampler untuk bahan simpan curahan yang sedang bergerak. Selain itu. yaitu pendugaan kepadatan absolut dan pendugaan kepadatan relatif. 3. Judgment Sampling Sampel dipilih berdasarkan penilaian peneliti bahwa dia adalah pihak yang paling baik untuk dijadikan sampel penelitiannya. namun tidak dipilih secara acak melainkan secara kebetulan saja. Jadi. 2. Seseorang atau sesuatu diambil sebagai sampel karena peneliti menganggap bahwa sesuatu tersebut memiliki informasi yang diperlukan bagi penelitiannya. Beberapa kasus penelitian yang menggunakan jenis sampel ini. 4. a. judment sampling umumnya memilih sesuatu atau seseorang menjadi sampel karena mereka mempunyai “information rich”. (Mustofa. sampel diambil dengan maksud atau tujuan tertentu. Quota Sampling Teknik sampel ini adalah bentuk dari sampel distratifikasikan secara proposional. hasilnya ternyata kurang obyektif. 2000) 2. Pendugaan Kepadatan Absolut Pendugaan kepadatan absolut berdasar pada jumlah absolut serangga yang ikut tertangkap dalam contoh bahan simpan yang diambil. yang kemudian diikuti oleh penelitian lanjutan yang sampelnya diambil secara acak (random). Purposive Sampling Sesuai dengan namanya. kepadatan populasi juga dapat diduga dengan mengukur tingkat kerusakannya.8 Bentuk Penafsiran Tingkat Populasi Hama Secara garis besar terdapat dua teknik pendugaan kepadatan populasi serangga di penyimpanan.

luas area sampling dsb. data yang diperoleh tidak berarti apaDengan melepaskan sejumlah tertentu serangga yang telah ditandai. Banyaknya biji yang terserang.Pendugaan kepadatan absolut juga dapat dilakukan secara tidak langsung dengan teknik penangkapan kembali serangga yang ditandai secara radioaktif atau fluoresen. menurut rumus: Dengan Q melambangkan kepadatan populasi. Pendugaan Kepadatan Relatif Berbeda dengan pendugaan kepadatan populasi absolut. kepadatan populasi serangga juga dapat diperkirakan dari tingkat kerusakan yang dapat diamati pada bahan simpan. Pendugaan berdasar Tingkat Kerusakan yang Teramati Selain pendugaan kepadatan populasi absolut dan relatif. Pendugaan ini lebih tergantung pada keefektifan alat. namun data hasil pendugaan kepadatan relatif harus dapat dikonversi menjadi data kepadatan absolut dengan pendekatan regresi yang tepat. Teknik lain menggunakan alat ayakan/saringan dan corong Berlese. apa bagi pengendalian. c. Perangkap berumpan akan berbeda hasilnya dengan perangkap berferomon. Perangkap sebenarnya adalah alat yang efektif untuk deteksi dan monitoring serangga pascapanen. n adalah jumlah total serangga yang tertangkap dan r adalah jumlah serangga ditandai yang ikut tertangkap. b. tapi tanpa adanya korelasi dengan data kepadatan absolut. Dalam kondisi seperti ini. jejak serangga pada tepung simpanan. Adakalanya universe suatu sampling sangat besar sehingga diperlukan waktu yang lama dan biaya tinggi. dan keberadaan sutera yang dihasilkan larva ngengat dapat digunakan untuk mengukur tingkat kepadatan populasi serangga pascapanen yang menyebabkannya. pekerjaan sampling menjadi tidak praktis sehingga Pendugaan kepadatan relatif memang lebih mudah dilakukan. misalnya data dari perangkap berperekat tidak bisa dibandingkan dengan pitfall trap. m adalah jumlah serangga ditandai yang dilepaskan. kepadatan populasi dapat dihitung . pendugaan kepadatan relatif menggunakan perangkap yang tidak bisa memberikan data jumlah serangga per satuan berat bahan simpan.

klotalaria dan kacang-kacangan. Sejumlah teknik alternatif itu diantaranya adalah: Sampling berjenjang (Hierachial sampling). serangga datang untuk berlindung Pitfall trap.9 Macam-macam Perangkap Penggunaan perangkap dapat mempermudah deteksi secara visual. Ada beragam jenis perangkap. unit contoh dibagi menjadi sub-sub unit contoh dan satu sub unit contoh dipilih untuk mewakili setiap unit contoh. serangga jatuh ke dalamnya. Efisiensi perangkap dapat ditingkatkan dengan penggunaan umpan berupa makanan maupun zat atraktan. sampling dilakukan lebih intensif bila hasilnya (misalnya rata-rata jumlah serangga) mendekati nilai kritis. Terdapat 105 jenis tanaman yang dapat menjadi inangnya antara lain tembakau. (Pracaya. ubi jalar. 1999) 2. dilakukan sampling pendahuluan sebelum dilakukan sampling yang sebenarnya. Refuge trap. (Tjahjadi. serangan hebat umumnya terjadi pada musim kemarau Gejala: . serangga tertarik dan terbang ke arahnya. dewasa berwarna kuning sampai coklat kehitaman. Thrips menyerang tanaman cabai sepanjang tahun. Perangkap seperti ini dapat digunakan memonitor populasi hama bahkan dalam tingkat kepadatan rendah. Sampling dengan intensitas berubah-ubah (Variable-intensity sampling). secara umum terbagi menjadi: • • • Flight trap. Nama : Thrips (Thrips parvispinus) Warna tubuh nimfa kuning pucat. kopi.diperlukan • • • teknik sampling alternatif yang lebih ekonomis namun masih dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. 1991) 2. Sampling berganda (Double sampling).10 Hama Penting Tanaman Cabe 1.

rambutan. daun yang terserang keriput. Lamanya daur hidup : 7-10hari. Ulat G rayak ( Spodoptera lituraF) Gejala Serangan: larva yang masih kecil merusak daun dan menyerang secara serentak berkelompok. pisang susu dan pisang raja sere. transparan dantinggal tulang-tulang daun saja. Intensitas serangan dapat mencapai 87%. kutu daun ini mengisap cairan tanaman. Gejala Serangan: Gejala serangan pada buah yang terinfestasi lalat buah ditandai dengan adanya noda-noda kecil bekas tusukan ovipositornya. kirakira sepanjang tubuhnya. (AnonymousA. dengan meninggalkan sisa-sisa epidermis bagian atas. Rata-rata tingkat serangan lalat buah pada cabai berkisar antara 2025%. mangga.umumnya terjadi pada musim kemarau. jeruk. jambu. Lalat Buah (Bactrocera dorsalis) Tanaman yang seringkali diserang oleh larva lalat buah diantaranya adalah belimbing. pada berbunga. berwarna kekuningan. terpuntir dan pertumbuhan tanaman terhambat (kerdil). cabai. mesural sesuai dosis anjuran. Lalat buah yang tertangkap kemudian dimusnahkan. nangka. Nama : Kutu Daun (Myzus persicae) Hama ini memiliki warna tubuh kuning kehijauan dan memiliki antena yang relatif panjang. Memasang perangkap kuning di pertanaman cabai sebanyak 40 buah/ha 2. Pengendalian: Pemantauan dilakukan pada 10-20 tanaman cabai secara berkala (5 hari sekali) Bila ditemukan populasi 5-10 Thrips/daun muda perlu dikendalikan dengan pestisida seperti pegasus. dan semangka. 2011) 4. Akibatnya. Gejala serangan : Secara langsung. sehingga saat tanaman .Permukaan bawah daun yang terserang berwarna keperak-perakan dan daun mengeriting atau berkerut. melon. Pengendalian: Memasang perangkap methil eugenol (ME) sebanyak 50-100 buah/ha. (BBPPTP) 3. Biasanya larva berada di permukaan bawah daun.

Pengendalian : Gunakan Curacron 500 EC dengan konsentrasi 2 ml/l air atau Pegasus 500 SC dengan konsentrasi 1. Gejala:  Dari jauh hamparan pertanaman cabai berubah dari warna hijau menjadi menguning. tomat.5 ml/l air. 2011) 5. Konsentrasi yang dianjurkan adalah 0. Tungau bersifat parasit dimana dia merusak daun.  Pengamatan lapang menunjukkan pertanaman cabai merah menghasilkan buah sama sekali. berkulit lunak dengan kerangka chitin. Tungau berukuran sangat kecil dengan panjang badan sekitar 0. Dalam klasifikasi tungau termasuk dalam Ordo Acarina. Kelas Arachnidae bukan termasuk golongan serangga. bentuk daun menjadi menggulung ke bawah dan akibatnya pucuk bisa mengering yang akhirnya menyebabkan daun rontok. 2011) 2. Tungau (Mite) Hama mite selain menyerang jeruk. Penyakit virus kuning Penyebab: virus gemini yang juga banyak menyerang tanaman tembakau. (AnonymousB.25 – 0.  Variasi gejala yang mungkin timbul pada cabai adalah sbb: yang 100% terserang tidak . (AnonymousB. hama ini juga berpotensi sebagai pembawa virus. Warna kuning hampir mirip penyakit bulai pada jagung sehingga sebagian petani menyebutnya penyakit ”Bulai Amerika”.tanaman menjadi layu dan mati.5 ml/L.11 Penyakit Penting Tanaman Cabe a. Pengendalian hama mite secara kimia dapat kita lakukan penyemprotan menggunakan akarisida Samite 135EC. batang maupun buah yang mengakibatkan perubahan warna dan bentuk. dan apel menyerang tanaman cabe juga. Keduanya digunakan secara bergantian.5 mm. Gejala Serangan: Dengan menghisap cairan daun sehingga warna daun terutama pada bagioan bawah menjadi berwarna kuning kemerahan . Seperti halnya thrips.

b. Urea 100-150 kg. gejala berlanjut menjadi belang kuning. pertumbuhan terhambat. tanaman muda yang terserang tidak dimusnahkan.  Tipe-4.  Tipe-2.bentuk daun berkerut dan cekung dengan ukuran lebih kecil. gejala berlanjut pada hampir seluruh daun menjadi bulai. sedangkan bentuk daun tidak banyak berubah. Penyakit Antraknosa (Colletotrichum sp) Penyebab: Penyebab penyakit ini adalah cendawan Colletotrichum capsici atau Colletotrichum gloeoporioides. tetapi dibuang bagian daun yang menunjukkan gejala kuning keriting dan kemudian disemprotkan pupuk daun. Gejala diawali dengan pucuk mengkerut cekung berwarna mosaik hijau pucat. Pengendalian: • Mengolah lahan dengan baik serta memberikan pupuk berimbang untuk cabai yaitu pupuk kandang 20-30 ton /ha. serta pemakaian plastik mulsa putih perak. 300-400 kg ZA. Gejala awal daun muda/pucuk cekung dan mengkerut dengan warna mosaik ringan. daun mengkerut dan menebal disertai tonjolan berwarna hijau tua. Gejala diawali dengan mosaik kuning pada pucuk dan daun muda. Gejala: . Dan membuat rak pembibitan setinggi lebih kurang 1 m • Untuk daerah yang baru terkena serangan penyakit virus kuning tanaman muda (sampai 30 hari) yang terserang segera dimusnahkan. 150-200 kg TSP dan KCl 150-200 kg/ha.  Tipe-3. • Pada daerah-daerah yang telah terserang berat. • Pembibitan dengan cara penyungkupan tempat semaian dengan kain kasa atau plastik yang telah dilubangi. serta pertumbuhan terhambat. gejala berlanjut dengan seluruh daun berwarna kuning cerah. dan disulam/diganti dengan tanaman yang sehat. Tipe -1. Gejala awal urat daun pucuk atau daun muda berwarna pucat atau kuning sehingga tampak seperti jala.

Gejala: • Pada daun terdapat bercak-bercak kecil berbentuk bulat. Bercak ini dapat meluas hingga mencapai garis tengah lebih dari 0. . Pengendalian: Dilakukan dengan penyemprotan fungisida Difenoconazole dengan konsentrasi 0. Pengendalian: • Pemantauan dilakukan secara berkala • Bila terdapat daun/buah tanaman sakit. • Gejala awal adalah bercak kecil seperti tersiram air. Penyebab: penyakit ini adalah cendawan Cercospora capsici. Interval penyemprotan 7 hari. Perluasan bercak yang maksimal membentuk lekukan dengan warna merah tua coklat muda. Serangan pada tangkai buah dapat meluas ke bagian buah dan menyebabkan gugur buah. • Pada bagian tengah bercak pada buah terdapat kumpulan titik hitam yang merupakan kelompok spora. Layu bakteri Penyebab: Penyebab gejala : layu bakteri ini adalah Pseudomonas solanacearum. d. • Pertanaman disemprot dengan fungisida seperti Antrakol dengan dosis sesuai anjuran. juga tangkai buah.5 ml/l. Selain menyerang daun. Penyakit dapat menginfeksi buah matang maupun buah muda. luka ini berkembang dengan cepat sampai ada yang bergaris tengah 3-4 cm.• Gejala pada buah membuat buah busuk.5 cm. bagian tanaman yang sakit dimusnahkan. • • Pada serangan berat. Penyakit bercak daun/ penyakit mata katak atau totol. daun-daun menjadi gugur. bercak juga sering ditemukan pada batang. c. Pusat bercak berwarna pucat sampai putih. dengan tepi berwarna lebih tua. dengan berbagai bentuk konsentrik dari jaringan stromatik cendawan yang berwarna gelap.

Gejala: • • Infeksi pertama terjadi pada titik tumbuh. bibit. sisa-sisa tanaman . • Secara kimiawi. • Melakukan rotasi tanaman dengan tanaman yang tidak sefamili bisa mengurangi resiko serangan penyakit tersebut. • Batang yang terserang menjadi busuk kering. Pengendalian: • Menyingkirkan tanaman yang terserang. akhirnya tanaman mati. Apabila bakteri maka akan ditandai dengan keluarnya cairan berwarna coklat susu berlendir semacam asap yang keluar pembuluh batangnya di dalam air. Tanaman yang sehat tiba –tiba saja layu yang dalam waktu tidak sampai 3 hari besoknya langsung mati. • Busuk ini merata menuju ke bagian bawah tanaman dan menyerang kuncup bunga yang lain. nematoda atau alat-alat pertanian. kemudian menyebar ke bagian bawah tanaman. Busuk Batang dan Busuk Daun Penyebab: Penyebab penyakit ini adalah cendawan Phytophthora capsici. e. benih. Untuk memastikan penyebab layu tersebut kita bisa mengambil tanaman yang terserang . dan tetap menjaga agar bedengan tanam selalu dalam kondisi kering di luar. kulitnya mudah terkelupas.• • • Bakteri ini biasanya ditularkan melalui tanah. lalu hitam dan akhirnya membusuk. bunga dan pucuk daun. Pucuk daun berubah warna dari hijau muda menjadi warna coklat. kemudian pangkal batangnya dibelah untuk direndam pada gelas yang berisi air bening. . sehingga seluruh bagian atas tanaman terkulai. pengairan. penyakit ini dapat dicegah dengan menyiram larutan Kocide 77WP konsentrasi 5 – 10 gr/liter pada lubang tanam sebanyak 200 ml/tanaman interval 10 – 14 hari dan dimulai saat tanaman mulai berbunga.

• Mengurangi kerapatan tanaman dengan cara mengatur jarak tanam. dan pemakaian fungisida kontak Klorotalonil. Dimethomorp. Faktor fisik dapat dibedakan menjadi unsur cuaca dan topografi suatu daerah merupakan faktor penghambat atau sekurang-kurangnya mempengaruhi penyebaran OPT. Kedua kelompok tersebut bekerjasama membentuk corak lingkungan hidup yang berbeda yang bersifat menekan atau merangsang perkembangan OPT. Hal ini disebabkan oleh perbedaan topografi yang menyebabkan terjadinya perbedaan faktor iklim dan secara tidak langsung menimbulkan perbedaan tumbuhan yang tumbuh. • Rotasi tanaman dengan tanaman bukan inang. • Mengatur waktu tanam yaitu dengan tidak menanam cabai • merah pada musim hujan dengan curah hujan tinggi. Propamocarb. 2008). Pengendalian: • Sanitasi lapangan dengan cara memusnahkan sisa-sisa tanaman yang terinfeksi dan gulma yang bersifat inang. Faktor dalam adalah faktor yang berada dalam tubuh orgnisme seperti organ tubuh dan keadaan fisiologisnya. . 2. biotic dan factor makanan. • Memperbaiki drainase lahan. 1971) yaitu: 1. Oxadisil. Pemberian fungisida dilakukan secara bergilir (BBPPTP.12Faktor yang Mempengaruhi Penyebaran Hama Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan OPT dalam garis besarnya dapat dibagi menjadi dua (Little. seperti dari padi-padian dan palawija Pengendalian serangga inang yang dapat menularkan dari satu tanaman ke tanaman lain. Menggunakan fungisida yang cocok untuk cendawan antara lain fungisida sistemik Acelalamine.• Dalam kondisi kelembaban tinggi terbentuk bulu-bulu berwarna hitam yang muncul dari jaringan yang terinfeksi cendawan. Faktor luar adalah faktor yang berada di luar tubuh organisme yang mempengaruhinya langsung dan tidak langsung yaitu faktor fisik. biotik dan makanan. 2. kelompok factor luar dapat dibedakan lagi menjadi factor fisik.

Dalam batas yang luas. Serangga adalah organisme yang sifatnya poikilotermal sehingga suhu badan serangga banyak dipengaruhi dan mengikuti perubahan suhu udara. Termasuk dalam faktor biotik adalah parasit. Organisme serangga dapat mengatasi keadaan yang ekstrem berupa adaptasi yang berhubungan dengan faktor genetis atau penyesuain yang sifatnya fisiologis. Kelimpahan serangga berhubungan erat dengan perbandingan antara kelahiran dan kematian pada suatu waktu tertentu. Suhu Pengaruh suhu terhadap kehidupan serangga banyak dipelajari di negara beriklim dingin/sedang. predator. Faktor cuaca mempunyai peranan penting dalam siklus kehidupan serangga. kelembaban. Kepadatan dapat mengakibatkan emigrasi yang dapat berarti sebagai kurangnya individu di suatu lokasi yang dianggap suatu kematian. 1. Serangga sesuai dengan sifatnya mempunyai kemampuan meyesuaikan diri dengan lingkungan tetapi karena serangga juga mempunyai sayap. kelimpahanya. dan ciri-ciri biologis lainnya baik langsung maupun tidak langsung. dan sebagai salah satu faktor utama penyebab timbulnya serangan hama. Perbedaan suhu yang nyata adalah karena ketinggian.Faktor makanan adalah unsur utama yang menentukan perkembangan OPT. khususnya serangga mempunyai daya menahan pengaruh faktor lingkungan fisik sehingga menjadi kebal. kompetisi dan resistensi tanaman. perilaku. Di negara tropika seperti Indonesia keadaanya berbeda. . dimana suhu selalu berubah menurut musim. cahaya dan pergerakan udara/angin. Kematian terutama dipengaruhi oleh cuaca dan musuh alami. Organisme. serangga dapat pindah menghindari tempat yang ekstrim mencari tempat yang lebih sesuai. makanan dan taraf kepadatannya. secara tidak langsung cuaca mempengaruhi hama melalui pengaruhnya terhadap kelimpahan organisme lain termasuk musuh alaminya. Kelahiran dipengaruhi antara lain oleh cuaca. Cuaca berpengaruh langsung terhadap tingkat kelahiran dan kematian. tersedianya inang(tanaman dan hewan) yang menjadi sumber makanan merupakan factor pembatas dalam menentukan taraf kejenuhan populasi (carryng Capacity) lingkungan atas OPT. cuaca mempengaruhi penyebarannya. iklimnya hampir sama sehingga variasi suhu relatif kecil.Faktor biotik adalah semua faktor yang pada dasarnya bersifat hidup dan berperan dalam keseimbangan populasi OPT. Faktor cuaca dapat mempengaruhi segala sesuatu dalam sistem komunitas serangga anatara lain fisiologi. Faktor cuaca dapat dipisahkan menjadi unsur-unsur cuaca: suhu.

Pada suhu rendah kematian serangga terjadi karena terbentukknya kristal es dalam sel. Suhu yang sangat tinggi mempunyai pengaruh langsung terhadap denaturasi/ merusak sifat protein yang mengakibatkan serangga mati. Beberapa serangga harus dilingkungan udara yang jenuh dengan uap air sedang yang lainnya mampu menyesuaikan diri pada keadaan kering bahkan mampu menahan lapar untuk beberapa hari. Berdasarkan hasl di atas serangga dapat digolongkan menjadi : . Pada serangga berkulit tubuh tebal kandungan airnya lebih rendah. Kematian serangga dalam hubungannya dengan suhu terutama berkaitan dengan pengaruh batas-batas ekstrim dan kisaran yang masih dapat ditahanserangga (suhu cardinal). Cahaya mempengaruhi aktifitas serangga. cahaya membantu untuk mendapatkan makanan. Berkurangnya kandungan air tersebut berakibat kerdilnya pertumbuhan dan rendahnya laju metabolisme. Hal tersebut berdasarkan asumsi bahwa terdapat hubungan antara perkembangan serangga dengan jumlah thermal constant biasanya dinyatakan dengan hari derajat (day degree accumulation). kemampuan bertelur dan pertumbuhan serangga.Beberapa aktifitas serangga dipengaruhi oleh suhu dan kisaran suhu optimal bagi serangga bervariasi menurut spesiesnya. 3. Kelembaban Serangga seperti juga hewan yang lain harus memperhatikan kandungan air dalam tubuhnya. Mengukur kecepatan pertumbuhan serangga dalam hubungannya dengan suhu dapat dilakukan sengan thermal constant. Cahaya Cahaya mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan. perkembangannya dan tahan kehidupannya serangga baik secara langsung maupun tidak langsung. Agar dapat mempertahankan hidupnya serangga harus selaluu berusaha agar terdapat keseimbangan air yang tepat. akan mati bila kandungan airnya turun melewati batas toleransinya. Setiap jenis serangga membutuhkan intensitas cahaya yang berbeda untuk aktifitasnya. tempat yang lebih sesuai. pada umumnya berkisar antara 50-90% dari berat tubuhnya. Secara garis besar suhu berpengaruh pada kesuburan/produksi telur. Walaupun kurang tepat namun sering digunakan untuk perkiraan perkembangan serangga. laju pertumbuhan dan migrasi atau penyebarannya. 2. Kandungan air dalam tubuh serangga bervariasi dengan jenis serangga. Kelembaban juga mempengaruhi sifat-sifat.

Hal ini disebabkan oleh perbedaan topografi yang menyebabkan terjadinya perbedaan faktor iklim dan secara tidak langsung menimbulkan perbedaan tumbuhan yang tumbuh. Jamur penyebab penyakit tumbuhan kebanyakan disebarkan dengan beberapa macam bentuk spora. (Semangun. yang untuk sementara waktu tumbuh pada permukaan tumbuhan. jamur dan cendawan memegang peranan paling penting. Spora dan pembuluh kecambah ini sangat peka terhadap perubahan . Virus dan mikoplasma disebarkan oleh serangga. atau dengan potongan-potongan benang jamur. dan faktor luar sesuai. penyakit fisiogenis atau penyakit abiotis. Spora jamur jika jatuh pada jaringan tumbuhan yang peka. 4. Alat-alat penular ini disebarkan oleh angin. bakteri. dan manusia maupun oleh kontak antara bagian tanaman yang sehat dengan yang sakit. suhu yang tidak sesuai disebut penyakit fisiologis. oleh manusia sendiri maupun terbawa oleh bahan tanaman. dan dapat juga terbawa bahan tanaman seperti biji dan umbi. Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh jamur dan bakteri disebut penyakit parasiter. Faktor fisik dapat dibedakan menjadi unsur cuaca dan topografi suatu daerah merupakan faktor penghambat atau sekurang-kurangnya mempengaruhi penyebaran OPT. pergerakan udara Pergerakan udara merupakan salah satu faktor yang penting dalam penyebaran kehidupan serangga. dan yang disebabkan oleh faktor lingkungan yang tidak cocok.13 Faktor yang Mempengaruhi Epidemiologi Tumbuhan Penyakit tumbuhan adalah kerusakan-kerusakan yang disebabkan oleh jamur. Penyakit yang disebabkan oleh faktor luar seperti kekurangan hara.o Serangga diurnal yaitu serangga yang membutuhkan intensitas cahaya tinggi aktif pada siang hari o Serangga krepskular adala serangga yang membutuhkan intensitas cahaya sedang aktif pada senja hari. hewan. Sebagai penyebab penyakit. Penyebaran arah serangga kadang mengikuti arah angin. mikoplasma. akan berkecambah dengan membentuk pembuluh kecambah. 1979) 2. virus. o Serangga nokturnal adalah serangga yang membutuhkan intensitas cahaya rendah aktif pada malam hari. air.

faktor manusia sangat menentukan bagi terjadinya penyakit. Mengingat penyebab-penyebab penyakit sangat halus. (Maheswari. Dengan demikian maka pada penyakit pertanaman terdapat “segiempat penyakit” (“disease square”) (Robinson. agar terjadi sesuatu penyakit harus ada tiga komponen. dan tumbuhan atau hospos (“host”). Di alam. 1970) . faktor luar.faktor luar. Disamping itu juga peka terhadap lapisan pestisida yang mungkin ada dipermukaan badan tanaman. maka faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap terjadinya penyakit. yaitu : pathogen. faktor lingkungan maupun tanamannya. Komponen ini membentuk “segitiga penyakit” (“disease triangle”). Untuk pertanaman (crop). 1976). Manusia mempengaruhi pathogen.

BAB III METODOLOGI 3. Cetok 4. Kayu 2. untuk menangkap serangga di tanah : Untuk penyimpanan semantara serangga : Untuk tempat perangkap : Untuk menghomogenkan larutkan : Untuk menggali tanah 1. Selotip • Yellow trap. Gelas air mineral 3.1 Tempat dan Waktu Pengamatan o Tempat : Lahan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya – Ngijo o Waktu : 16 November 2011 3. Petridish 3. untuk menangkap spora dan penyakit di udara : Sebagai tempat untuk menyimpan spora di lab : Sebagai alat untuk membungkus petridish : Sebagai alat untuk menempelkan objek glass ke tanaman 1. Plastik Wraping 4. untuk menangkap serangga terbang : Sebagai alat untuk meletakkan yellow trap : Sebagai alat untuk melingkarkan yellow trap 1. Plastik 2. Objek Glass : Sebagai media tempat meletakan minyak twin 2. Botol air mineral • Pit fall. Pengaduk o Bahan .2 Alat Bahan dan Fungsi o Alat • Spore trap.

pada 3 bagian yaitu: bagian atas (daun bagian atas). Air 3. dan bagian bawah (batang bagian bawah) Biarkan selam 24 jam Setelah 24 jam gelas preparat diambil. Yellow trap Menyiapkan alat dan bahan . ditaruh dalam petridish dan di wrapping Diamati dalam mikroskop (hitung jumlah dan dokumentasikan spora) b. bagian tengah (daun bagian tengah).3 Cara Kerja a.• Spore trap 1. Minyak twin : Bahan supaya spora bisa melekat • Yellow trap : Untuk menangkap serangga 1. Detergen 2. Kertas + feromon • Pit fall 1. Spore trap : Untuk menarik serangga agar masuk ke perangkap : Sebagai pelarut detergen Siapkan 3 buah gelas preparat Gelas preparat diolesi minyak twin secara merata pada satu sisi nya Satu sisi lagi di tempeli double tip/ selotip Tempelkan pada tanaman cabai.

sampai ujung gelas rata dengan permukaan tanah Letakan 10 gelas air mineral tersebut di setiap sudut dan secara acak sisanya Diamkan selama 24 jam . Pit fall Siapkan 10 gelas air mineral Larutan detergen ( isi gelas aqua dengan larutan sabun sebanyak kurang lebih dengan tebal 2 cm) Lubang untuk meletakkan pit fall. yang ada feromon di luar Lekatkan kedua ujung nya dengan menggunakan double tip atau secara langsung antar ujung yellow trap Masukkan botol kedalam kayu yang sudah ditempelkan kedalam lahan pengamatan dengan tinggi tidak melebihi tinggi tanaman. Ambl yellow trap setelah satu hari Masukkan dalam kantong plastik Amati dan identifikasi hewan/serangga yang tertangkap (dokumentasikan) c. letak disesuaikan dengan keadaan lahan dan metode penggambilan sempel Benamkan gelas air mineral tadi ke dalam tanah.Lingkarkan yellow trap pada botol air mineral.

untuk penancapannya jangan terlalu tinggi . selanjutnya tancapkan di lahan. Dibiarkan selama 1x 24 jam. Yellow trap digunakan untuk menarik hama yang tertarik akan warna kuning.Ambil Serangga hama yang terkumpul masukkan dalam kantong plastic setelah 1 hari pitfall dipasang Melakukan identifikasi terhadap serangga hama Hasil 3. tancapkan pada bambu/kayu botol air mineral tadi. Oblek glass diletakkan pada tiga bagian ajir. yang pertama adalah melingkarkan kertas yellow trap pada botol air mineral dan bagian yang ada feromon nya di luar. dengan menyiapkan gelas aqua yang diisi air sabun atau detergen. Untuk perlakuan kedua yaitu pemasangan yellow trap. maksudnya agar serangga yang ada di permukaan tanah dapat tertarik dengan bau nya. Ambil dan lakukan pengamatan pada laboratorium dengan memindahkan ke petri dish terlebuh dahulu lalu diamati dengan menggunakan mikroskop. Lalu ambil dan masukkan serangga yang tertangkap dalam plastik. Untuk perlakuan ketiga yaitu pemasangan pitfall. tengah dan bawah. jangan lebih tinggi dari tanaman yang ada di lahan tersebut. setelah selesai di lingkarkan pada botol air mineral. hal pertama yang harus di lakukan adalah objek glass/gelas preparat di lumuri dengan minyak twin. hal ini bertujuan agar serangga nya dapat tertangkap. minimal harus sama agar serangga – serangga yang ada di lahan tersebut dapat tertangkap dengan optimum. tujuan nya agar spora menempel pada objek glass. yaitu bagian atas. Spore trap ini digunakan untuk menjebak spora dan penyakit yang terbawa angin dan berterbangan di udara. . Pit fall digunakan untuk menjebak hama / serangga yang hidupnya di permukaan tanah.4 Fungsi Perlakuan Untuk perlakuan pertama yaitu pemasangan spore trap. untuk airnya jangan terlalu penuh agar serangga yang telah terjebak masuk tidak dapat kembali keluar dari gelas air mineral. Biarkan selama 1 x 24 jam.

walaupun agak kurang jelas.BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4. karena selain jauh dari buah dan juga spora yang mendarat ditanah tidak akan aktif dan persebaran spora adalah melalui angin jadi peluang spora mendarat lebih besar pada bagian atas dan tengah. pemasangan perangkap yang dekat dengan buah yaitu bagian tengah dan atas ada spora yang tertangkap. Hal itu karena spora itu mudah tertiup angin maka sebaranya lebih banyak d bagian atas tanaman. yaitu pada objek glass yang di letakan di bagian atas tanaman di temukan 1 spora . Sedangkan untuk yang paling bawah tidak ada spora. namun dari ketiga objek glass tadi setelah diamati dengan seksama ternyata terlihat. spora yang diamati kurang dapat terlihat jelas. Jumlah Spora Jumlah spora berdasarkan peletakan posisi objek glass pada tanaman Bagian Atas Tanaman 1 Spora Bagian Tengah Tanaman 1 Spora Bagian Bawah Tanaman 0 Spora c. Gambar Gambar Spora c.2 Pit Fall Gambar arthropoda pada pitfall . Selain itu spora juga terdapat pada buah cabai yang terkena antraknosa dimana salah satu ciri terkena antraknosa itu pada bagian tengahnya terdapat bercak hitam itu nerupakan sekumpulan dari spora. di bagian tengah 1 spora dan pada objek glass yang di letakan di bagian bawah tanaman di temukan 0 spora. 4. Analisa Hasil Pengamatan Dari spore trap yang telah di letakan di lahan kemudian di lakukan pengamatan dengan menggunakan mikroskop di laboratorium .1 Penangkapan Spora a.

hingga akhirnya dapat terjadi kerontokan. Analisa Hasil Pengamatan Dari hasil pengamatan di laboratorium di dapat hewan-hewan yang terperangkap pada pit fall ialah laba-laba ada 16 ekor. karena lahan cabe yang diamati berdekatan dengan sawah . Musuh Alami Jumlah 4 1 12 Jumlah 1 2 Jumlah 16 1 c. kutu daun 1 ekor. yang mana kedua hewan tersebut berperan sebagai musuh alami karena memakan serangga hama yang ada di lahan cabai . hewan-hewan tersebut berperan sebagai hama pada lahan cabai yang diamati. serangan nya berakiat pada daun-daun yang di hisap nya melengkung ke atas . kemudian ada jangkrik yang jumlah nya ada 4 ekor. serta kumbang (meloidae) dan kumbang (palacridae) yang jumlah nya masing-masing ada 12 dan 1 ekor.a. Hama Nama Arthropoda Jangkrik Kutu Daun (chrysomitidae) Kumbang (meloidae) Nama Kumbang (palacridae) Kepiting Nama Arthropoda Laba-laba Semut b. jangkrik serta semut ada 1 ekor. Sedangkan di dapat pula dalam pitfaal hewan lain yaitu kepiting 2 ekor. Kutu daun sendiri merupakan serangga hama yang juga andil merusak tanaman cabe. Hewan Lain d. kepiting ini sebenarnya merupakan predator laut. keriting dan belang-belang.

Analisa Hasil Pengamatan Jumlah 68 Dalam pengamatan di laboratorium di dapatkan dari yellow trap yang telah di pasang di lahan selama 24 jam yaitu lalat berjumlah 5 ekor.3 Yellow Trap Gambar arthropoda pada yellow trap a. Predator . 4 Mydidae) Lebah 2 (Dip. namun karena lahan yang di amati sangat dekat dengan sawah jadi nyamuk yang ada di lahan dan tertangkap oleh pitfall itu merupakan nyamuk sawah. 4. mentas menjadi larva kemudian merusak buah cabe dari dalam. Hama. nyamuk 15 ekor dan lalat hijau 2 ekor. . Lalat di katakan hama karena pada buah cabe yang menunggu panen bisa habis dalam sekejap karen lalat dan menjadi santapannya. yang mana merupakan habitat hidup kepiting sehingga kepitingpun ikut terperangkap pada pit fall yang di tanam di lahan cabe. yang mana menyerap sari-sari makanan lewat batang tanaman dengan menusukan jarum suntik di mulutnya. bisa saja nyamuk itu di katakan sebagai serangga lain. 5 Conopidae) b. ke tiga ekor hewan tersebut berperan sebagai hama dalam lahan cabe. tentu saja hal ini sangat merugikan sekali. Kemudian ada nyamuk. Serangga Arthropoda 1 Lalat 2 Nyamuk 3 Lalat Hijau Lebah 1 (Dip. dengan cara menusuk pada buah dan meletakkan sel telur nya.dan selokan . buah yang rusak tentu tidak akan laku bila di jual . Hewan Lain No Nama Jumlah 5 15 2 1 1 Hama Peran Predator Serangga/Polinator Nama Hewan Malam c. jika keadaan nya seperti demikian maka dikatakan sebagai hama karena sifatnya yang merugikan tanaman.

lebah disini berperan sebagai serangga cabe . cukup banyak hewan malam yang tertangkap oleh yellow trap .Kemudian dalam yelow trap juga di temukan lebah yang jumlah ini nya ada 2. . sehingga tidak heran jika banyak hewan malam yang terperangkap dalam yellow trap. penyerbuk atau yang lebih di kenal dengan nama polinator. yaitu dimulai dari sore ke malam kemudian sampai ke sore lagi. karena saat pemasangan yellow trap di lakukan pada sore hari kemudian di biarkan selama 24 jam. hewan membantu penyerbukan tanaman Di temukan juga 68 ekor.

hal ini karena lahan cabe yang berbatasan langsung dengan hewan lain tersebut dan waktu pemasangan perangkap yang melewati masa hidup hewan lain yang tertangkap 5.BAB V PENUTUP 5. sehingga serangga yang berada di permukaan tanah dapat masuk ke dalam pitfall. kemudian di masukan ke dalam gelas air mineral dan di benamkan rata dengan permukaan tanah. • Yellow trap Yellow trap di pasang dengan cara menggunbakan kertas yang telah di lumuri feromon . Di dapat dari perangkap yang telah di pasang adalah lalat 5 ekor. pitfall dan yellow trap. kutu daun 1. agar serangga tertarik dan kertas ini juga berwarna kuning agar dapat menarik serangga yang tertarik dengan warna kuning. kumbang 13 ekor. • Pit fall di pasang dengan cara menggunakan larutan detergen yang berfungsi untuk menarik serangga.2 Saran Dalam praktikum peramalan hama dan epidomolgi telah berjalan dengan cukup lancar. • Dari perangkap yang dipasang juga di temukan hewan lain yang tertangkap. spore trap ini efektif untuk menangkap spora dan penyakit yang berterbangan di udara. semut 1 ekor. dapat disimpulkan dari hasil praktikum yaitu : • Spore trap Spore trap di pasang dengan cara memasang minyak twin pada objek glass yang di tempelkan pada ketiga bagian tanaman. Dari praktikum di lahan di temukan 1 spora pada objek glass yang di pasang di bagian atas tanaman. 1 spora yang di pasang di bagian tengah tanaman. lebah 2 ekor. dan 0 spora pada bagian bawah spora. Di dapat dari pitfall yang di pasang adalah laba-laba 16 ekor . selain itu juga yellow trap ini dapat menangkap / memerangkap serangga yang terbang di atas lahan. nyamuk 15 ekor. hanya saja saya pribadi sebagai praktikan yang telah melaksanakan praktikum phep belum paham . lalat hijau 2 ekor. jangkrik 4 ekor.1 Kesimpulan Dalam praltikum yang telah di laksanakan digunakan tiga perangkap yaitu. spore trap.

.mengenai cara penggunaan data yang telah di pakai kemudian dibuat menjadi suatu model peramalan. dan juga dilakukan praktikum untuk membaca atau memahami suatu model peramalan.

AnonymousA. Hama Penting Tanaman Cabai.A. Pracaya. Yogyakarta. http://buletinagraris. Teknologi Budidaya Cabai.. Tim Dosen jurusan Hama Penyakit Tumbuhan. Springer-Verlag. Malang. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.html AnonymousB. 1992. HUBUNGANNYA DENGAN IKLIM DAN CUACA. Plant Pathosystems. Modul Praktikum Peramalan Hama dan Epidomologi Penyakit Tumbuhan. 2011. 1991.blogspot. PENYAKIT TUMBUHAN. Maheswari. Yogyakarta. Pengendalian Hama Terpadu dan Implementasinya di Indonesia. Dalam: Plant Disease Problems. Niaga Swadaya.html . Malang. Jakarta.. Hama Penting Tanaman Cabai. 184 p.com/2011/12/laporan-peramalan-hama-dan-epidemiologi.go. Yogyakarta.litbang. Kanisius. Berlin. Oka. 1976. Direktorat Perlindungan Hortikultura. http://muhamadkindi. UGM Press. Lampung lampung. Proceedings of the First International Symposium on Plant Pathology. Universitas Brawijaya.2011. http://buletinagraris.pdf Daryanto./teknologibudidayacabai. Fakultas Pertanian. G.R. 1997. Sastrahidayat. Hama Penyakit Tanaman. I. Jakarta. Hama dan Penyakit Tanaman. Indian Phytopathological Society 1966/1967 : 824-829. Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan.com/2007/12/thripsparvisipinus-hrips-parvisipinus. Gadjah Mada University Press.html BBPPTP.N. H. The physiology of penetration and infection by urediospores of rust fungi. Fakultas Pertanian.com/2007/12/thripsparvisipinus-hrips-parvisipinus. 1970.DAFTAR PUSTAKA Agrios. 2008. 2005.deptan. R.blogspot. R. TEKNIK SAMPLING. Semangun. Mustafa. H. Universitas Brawijaya. Robinson. I. 2000.id/ind/. Jakarta. 1979. UGM Press.N.blogspot. Penebar Swadaya. 1998. Pedoman Pengenalan dan Pengendalian OPT pada Tanaman Tomat. Tjahjadi N. 1996. Fitopatometri Suatu Cara Menghitung Besarnya Tingkat Kerusakan Oleh Penyakit Tanaman. Badan Penelitian dan Pengembangan. Ilmu Penyakit Tumbuhan (Terjemahan Munzir Busnia)..

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful