4–1

BAB IV PNEUMATIK DAN ELEKTRO-PNEUMATIK
4.1 Pneumatik

4.1.1 Pendahuluan
Udara merupakan sumber daya alam dan sangat mudah didapatkan sehingga pada realisasi dan aplikasi teknik sekarang ini udara banyak digunakan sebagai penggerak untuk mengontrol peralatan dan komponen-komponennya yang kita kenal sekarang ini dengan PNEUMATIK. Pneumatik berasal dari kata Yunani: pneuma = udara. Jadi pneumatik adalah ilmu yang berkaitan dengan gerakan maupun kondisi yang berkaitan dengan udara. Perangkat pneumatik bekerja dengan memanfaatkan udara yang dimampatkan (compressed air). Dalam hal ini udara yang dimampatkan akan didistribusikan kepada sistem yang ada sehingga kapasitas sistem terpenuhi. Untuk memenuhi kebutuhan udara yang dimampatkan kita memerlukan Compressor (pembangkit udara bertekanan). Debit yang diukur adalah m3/menit. Tekanan udara yang dibutuhkan pada alat pengontrol pneumatik seperti silinder, katup serta peralatan lainnya adalah 6 bar, supaya efektif dan efisien dalam penggunaannya (range alat 3–10 bar). Dan untuk memelihara keawetan peralatan haruslah diperoleh udara kering, yaitu agar tidak terjadi korosi pada pipa saluran udara, pelumasan yang ada tidak terbawa uap air, tidak terjadi kontaminasi bila udara mampat langsung kontak dengan produk yang sensitif seperti cat dan makanan. Pneumatik dewasa ini memegang peranan penting dalam pengembangan dan teknologi otomatisasi, di samping hidraulik dan elektronik/elektrik. Sebelum 1950, pneumatik banyak dipakai sebagai media kerja dalam bentuk energi tersimpan. Tapi setelah 1950 dipakai dan dikembangkan sebagai elemen kerja.

4–2

4.1.1.1 Katup (valve)
1. Katup pengarah (Directional Control Valve), terdiri dari 2 jenis katup: a. Katup poppet, yang bekerja dengan cara melepas dan menempelkan bola/piringan terhadap dudukannya yang terpasang ‘seal’ yang bersifat elastis namun kuat. Gaya untuk menggerakkan katup poppet relatif besar karena harus melawan gaya pegas pada saat posisi kerja. b. Katup geser (slide valve), yang bekerja dengan menggeser silinder atau piringan. 2. Katup searah (Non return valve), yang jenisnya antara lain: a. Check valves: hanya mempunyai 1 inlet dan 1 outlet, dapat menutup aliran pada satu arah aliran. Pada arah lainnya katup ini dengan bebas dapat mengalirkan aliran udara dengan tekanan rendah. b. Two pressure valve: mempunyai 2 inlet dan 1 outlet. Udara mampat mengalir melalui katup ini bila sinyal udara terdapat pada kedua sambungan inlet. (= Logic AND function) c. Shuttle valve: (= Logic OR function) Udara mampat dapat mengalir dari salah satu atau kedua saluran inlet menuju outlet. d. Quick exhaust valve: berfungsi sebagai penambah kecepatan silinder. Dengan ini memungkinkan waktu yang diperlukan untuk langkah kerja silinder terutama untuk single act cylinder lebih singkat lagi. 3. Katup pengatur aliran (Flow control valve), berfungsi mengatur aliran udara secara volumetrik. a. Bi-directional flow control valve, mengatur udara ke dua arah. b. One way flow control valve, mengalirkan udara ke satu arah untuk mengatur kecepatan aktuator. 4. Katup pengatur tekanan (pressure valve), fungsinya mengatur besarnya tekanan udara yang diperlukan.

Pressure limiting valve. Impulse generator: multi vibrator cycles f. Time delay valve b. Output biasanya digunakan untuk mengidentifikasi suatu sistem kontrol ataupun aktuator. Air operated 8 ways valve: terdiri dari 2 katup 4/2 e. Pressure regulating valve. Tekanan input harus lebih besar dibandingkan dengan output. Command memory module: untuk start-up dengan signal input conditions. Pada pneumatik.1. h. Air control valve c. Vacuum generator with ejector g. Aktuator gerakan linier: Single acting cylinder (silinder aksi tunggal) . jenis aktuator ada bermacam-macam. 5/4 way valve: yang terdiri dari empat katup 2/2 d. Jenisnya antara lain: a. berfungsi mengatur tekanan udara konstan yang dibutuhkan. 4. Katup berangkai (sequence valve). c.2 Actuator dan Output Actuator adalah bagian terakhir dari output suatu sistem kontrol pneumatik. biasanya dipakai sebagai katup pengamanan: untuk menjaga tekanan maksimum yang diinginkan tidak akan terlewati. Bila tekanan maksimum pada inlet sudah tercapai maka outlet akan membuka dan tekanan udara yang berlebihan akan dikeluarkan ke udara bebas. fungsinya juga untuk membatasi tekanan. Steppler modules: untuk sequential control teste. Beberapa katup yang fungsinya berbeda dapat digabungkan menjadi satu badan dan disebut katup kombinasi. Biasanya dipakai pada kontrol pneumatik bila tekanan udara yang spesifik dibutuhkan untuk menjalankan operasi/sistem.1.4–3 a. b. 5. diantaranya: a. Combinational valve.

3 Indicator Indicator optik secara visual bisa mewakili status dari sistim pneumatik dan membantu diagnosa. Ada 4 jenis motor pneumatik. turbin.4–4 Double acting cylinder (silinder aksi ganda) b. Di bawah ini tabel arti dari warna-warna indicator optik. 4. Motor pneumatik adalah suatu peralatan pneumatik yang menghasilkan gerakan putar yang sudut putarnya tidak terbatas bila terhadap peralatan ini dialiri udara yang dimampatkan. sliding vane motors. yaitu piston motors.1. Tidak boleh masuk. Aktuator yang berputar/gerakan putar. Aktuator gerakan berputar: Motor yang digerakkan oleh udara. gear motors. Pengertian atau minta perhatian Operasi normal membutuh Kuning Hijau Biru Putih/Bening Perhatian Aman Info khusus Info umum . Warna Merah Arti Bahaya Catatan Status mesin dalam situasi pertolongan/bantuan dengan segera. Beberapa semboyan secara visual: indicator optik dengan warna tunggal ataupun majemuk indicator optik dengan pena.1. indicator optik mewakili fungsi pada jaringan kerjanya. untuk display dan sensor sentuh counter penunjukkan resistansi timer Dengan menggunakan warna.

mesin pembentuk . putar Penggunaan silinder dan elemen pneumatik yang lain dapat sbb: .2 Aplikasi Pneumatik Dan Karakteristik Elemen Pneumatik Sejalan dengan pengenalan terhadap sistem keseluruhan pada pneumatik.pengendali Pengembangan produk dalam pneumatik bisa dibagi dalam: aktuator.mesin milling . Contohnya silinder pneumatik memegang peranan penting sebagai elemen kerja. dimana silinder ini murah harganya.02 – 1 m/s lurus.pengekleman . Adapun silinder pneumatik ini mempunyai karakteristik sbb: Diameter Panjang langkah Gaya Kecepatan piston Gerak 6 – 320 mm 1 – 2000 mm 2 – 50. .000 N 0. prosesor.mesin gergaji .mesin bor . sensor. melingkar.pengukur . mudah pemasangannya.quality control .mesin bubut . sistem kontrol dan perlengkapan.pengepak .1.penepat . manufaktur dan proses disain.4–5 4. secara individu elemen pneumatik pun mengalami perkembangan pesat. misalnya dalam pemilihan bahan/material.pemutar. dsb Pada permesinan dapat dipakai sebagai pengoperasian pada: . sederhana dan kuat konstruksinya serta tersedia dalam berbagai ukuran dan panjang langkah.pengangkat .pengatur gerakan .pencari orientasi .

4–6 4. Apabila katup penentu arah dipergunakan untuk mengontrol gerakan sebuah silinder maka ENERGY SUPPLY Source katup ini berfungsi sebagai pengontrol aktuator. Apabila dipakai mengolah sinyal maka katup ini berfungsi sebagai prosesor.3 Struktur Dan Komponen Sistem Pneumatik Di bawah ini diperlihatkan jaringan kontrol untuk sinyal aliran yang dipakai sebagai output ke sistem kerja. Bagitu pula bila dipakai sebagai peraba sebuah gerakan maka berfungsi sebagai sensor. prosesor atau aktuator. Simbol-simbol itu bisa dikombinasikan/dirangkai untuk PROCESSING ELEMENTS processor signals menghasilkan solusi pada diagram jaringan kerja. INPUT ELEMENTS Input signals Katup penentu arah dapat mempunyai fungsi sebagai pengontrol sensor. ACTUATING DEVICES outputs Final control element Elemen-elemen tersebut pada penggunaan dalam pneumatik biasanya mempergunakan simbol yang menunjukkan fungsinya. Diagram kerja harus digambarkan susunannya seperti struktur di bawah ini. ACTUATORS ACTUATING DEVICES Outputs Pneumatic cylinders Rotary actuators Indicators ACTUATING DEVICES Control signals CONTROL ELEMENTS Directional control valves PROCESSING ELEMENTS Processor signals PROCESSOR Directional control valves Logic elements Pressure control valves SENSORS INPUT ELEMENTS Input signals Directional control valves Limit switches Pushbuttons Proximity sensors ENERGY SUPPLY ENERGY SUPPLY Source Compressor Receiver Pressure regulator Air service equipment .1.

Simbol yang digunakan untuk konversi energi dan preparasi Supply Compressor Air receiver and ‘T’ junction Service equipment Filter Water separator Lubricator Pressure regulator Separation and filtration of particles Partial water removal Metered quantities of oil passed to the air stream Relieving type – vent hole for excess upstream pressure – adjustable Fixed capacity Combined symbols Air service unit Filter. 1219 dan sudah dijadikan ISO dengan nomor yang sama.Jumlah . regulator.Penunjukkan arah jaringan Tapi simbol-simbol tidak bisa menunjukkan karakter seperti: Ukuran dari sebuah komponen Bagian Manufaktur.1.Prinsip kerja .4–7 4. 1. lubricator gauge.4 Simbol-Simbol Dan Standard Pada Pneumatik Pengembangan sistem pneumatik dibantu oleh metoda penunjukkan elemen dan jaringan kerja.Fungsi . Simbol digunakan untuk masing-masing indicator elemen yang mempunyai karakteristik sbb: .Jumlah sambungan . .Metoda aktuasi . metoda konstruksi ataupun harga Orientasi dan sambungan komponen Detail fisik Simbol-simbol pneumatik yang digunakan berdasarkan DIN (Deutche Institut fur Normung) No.

Simbol katup pengatur arah.4–8 Simplified air service unit Pressure source 2. Simbol katup penentu arah (simbol penyeimbangan) Pergantian posisi katup digambarkan dalam kotak bujursangkar (square) Jumlah kotak menunjukkan banyaknya pergantian posisi yang dimiliki katup Garis-garis menunjukkan adanya aliran. sambungan port dan posisi Jumlah ‘port’ Jumlah posisi 2(A) 2/2– Way directional control valve 1(P) 2(A) 3/2– Way directional control valve Normally closed Way directional control valve Normally open Way directional control valve 1(P) 3(R) 2(A) 3/2– 1(P) 4(A) 3(R) 2(B) 4/2– 1(P) 3(R) 4(A) 2(B) 5/2– Way directional control valve 5(R) 4(A) 1(P) 3(S) 2(B) 5/3– Way directional control valve Mid position closed 5(R) 1(P) 3(s) . panah menandakan arah aliran Posisi tertutup dijelaskan di dalam kotak dengan memberikan garis menyilang tegak lurus (seperti huruf T) Sambungan (inlet dan outlet) digambarkan oleh garis-garis di luar kotak dan digambarkan menurut posisi awal katup 3.

roller Pneumatic Direct pneumatic actuation Indirect pneumatic (piloted) Pressure release Electrical Single solenoid operation Double solenoid operation Combined Double solenoid and pilot operation with manual over-ride actuation 5. Contoh penggambaran katup penentu arah beserta sinyal/kontrolnya 2(A) 12(Z) 12(Z) 2(A) 10(Y) 1(P) 3(R) 1(P) 3(R) 4(A) 14(Z) 91(Pz) 5(R) 1(P) 2(B) 14(Z) 4(A) 2(B) 12(Y) 3(S) 5(R) 1(P) 3(S) .4–9 4. Simbol/Metoda Aktuasi Mechanical General manual operation Pushbutton Lever operated Detent lever operated Foot pedal Spring return Spring centered Roller operated Idle return.

Simbol Katup pengatur aliran Flow control valve adjustable One–way flow control valve 8. relieving type (overloads are vented) Sequence valve external source Sequence valve in-line Sequence valve combination 9.4–10 6. Simbol aktuator linier Single acting cylinder Double acting cylinder Double acting cylinder with double ended piston rod . Simbol katup searah Check valve Spring loaded check valve Shuttle valve: ‘OR’ function Two pressure function valve: ‘AND’ Quick exhaust valve 7. Simbol katup pengatur tekanan Adjustable pressure regulating valve. non-relieving type Adjustable pressure regulating valve.

fixed capacity Air motor. Simbol pembantu Exhaust port Exhaust port connection Silencer with treaded Line connection (fixed) Crossing lines (not connected) Pressure gauge Visual indicator . rotation in one direction. Simbol aktuator berputar Air motor. variable capacity both Rotary actuator. rotation in one direction. limited travel. variable capacity Air motor. rotation in directions. rotation in both directions 11.4–11 Double acting cylinder with nonadjustable cushioning in one direction Double acting cylinder with single adjustable cushioning Double acting cylinder with adjustable cushioning at both ends 10.

2 Elemen utama Elektro-pneumatik Bila energi listrik tersedia dan akan dipakai maka perlu diproses dan didistribusikan oleh komponen utama.2. 4. Sinyal masukan listrik kerjanya tergantung kepada fungsi sinyal itu.2.2. dimana prinsip kerjanya memilih energi pneumatik sebagai media kerja (tenaga penggerak) sedangkan media kontrolnya mempergunakan sinyal elektrik ataupun elektronik. sensor ataupun sakelar pembatas yang berfungsi sebagai penyambung ataupun pemutus sinyal.1 Sinyal Masukan Listrik (Electrical Signal Input) Sinyal listrik pada teknik kontrol elektro-pneumatik diperlukan dan diproses tergantung pada gerakan langkah kerja elemen kerja. Sedangkan media kerja pneumatik akan mengaktifkan atau menggerakkan elemen kerja pneumatik seperti motor-pneumatik atau silinder yang akan menjalankan sistem. misalkan sensor mekanik ataupun elektronik. kombinasi dari NO dan NC).2 Elektro-Penumatik 4. “Normally closed” (NC. Untuk mempermudah penunjukkannya maka komponen itu digambarkan dalam bentuk simbol pada diagram rangkaiannya. Ada yang disebut “Normally open” (NO. kondisi tidak aktif sambungan tersambung) dan “Change Over” (tersambung bergantian.2.1 Pendahuluan Elektropneumatik merupakan pengembangan dari pneumatik. pada kondisi tidak aktif sambungan tidak tersambung). Sinyal yang dikirimkan ke kumparan tadi akan menghasilkan medan elektromagnit dan akan mengaktifkan/mengaktuasikan katup pengatur arah sebagai elemen akhir pada rangkaian kerja pneumatik. Sinyal elektrik dialirkan ke kumparan yang terpasang pada katup pneumatik dengan mengaktifkan sakelar. Sinyal listrik ini didapatkan bisa dengan cara mengaktifkan sakelar atau bisa juga dengan mengaktikan sensor. .4–12 4. 4.

O tanda untuk mengembalikan ke posisi sebelum bekerja. Simbol yang digunakan: Sakelar tekan manual secara umum untuk kontak NO (General Push-button switch.2.1.1 Sakelar tekan.4–13 4. mengaktuasikannya dengan menekan tombol atau sakelar. Yang paling umum dipakai adalah sakelar tekan (Push-button switch). Disebut sakelar tekan karena untuk mengalirkan sinyal. Penunjukkan aktuasi: I tanda mengaktifkan. dioperasikan manual Sakelar tekan biasa Elemen sinyal masukan diperlukan untuk memungkinkan sebuah sistem kontrol dinyalakan. b). Untuk mengembalikan ke posisi semula (posisi tidak aktif) maka sakelar ini harus ditekan lagi. Penunjukkan sistem ini berdasarkan standardisasi Jerman. diatur dengan nomor DIN 43 065.2. Posisi penempatan sakelar: a). Contoh sakelar tekan mengunci: . Berjajar ke bawah: pada posisi ini tanda untuk mengkatifkan berada pada posisi atas. Adapun menguncinya sakelar ini disebabkan kerja mekanik. NO) Sakelar tekan manual. diaktifkan dengan cara ditekan untuk kontak NO Saklear tekan manual. Berjajar ke pinggir: pada posisi ini perlu diperhatikan bahwa tanda untuk mengaktifkan disimpan disebelah kanan. diaktifkan dengan cara ditekan untuk kontak NC Sakelar tekan mengunci (Latching Push-button switches) Sakelar ini diaktuasikan/diaktifkan dengan tombol yang mengunci.

Sakelar ini diaktuasikan/diaktifkan dengan magnet yang terpasang pada silinder. diaktifkan dengan cara ditekan untuk kontak NO Sakelar mengunci manual.2. pasir ataupun lembab. diaktifkan dengan cara ditarik untuk kontak NC Sakelar mengunci manual.2. Sakelar pembatas ini akan bekerja bila tuas sakelar tertekan. diaktifkan dengan cara diputar untuk kontak NO 4.4–14 Simbol-simbol yang digunakan: Sakelar mengunci manual.2 Sakelar Pembatas (Limit Switches) Mekanik Tipe Sentuh (Mechanical Limit Switches Contacting Type) Sakelar pembatas ini dipakai sebagai indikasi dalam kontrol otomasi yang menyatakan bahwa posisi ini merupakan posisi akhir baik itu untuk mesin ataupun untuk silinder. Contoh konstruksi dan simbol sakelar pembatas mekanik: Tipe Tidak Sentuh (Non-Contacting Proximity Limit Switch) Sakelar pembatas tipe ini biasanya dipakai bila sakelar pembatas mekanik tidak dapat digunakan.1. Macam sakelar pembatas tipe ini antara lain: a. misalnya karena banyaknya debu. Sakelar Pembatas (sensor) Buluh Penggunaan sakelar ini biasanya dikarenakan keadaan sekitar yang tidak memungkinkan dipasangnya sakelar mekanik. Dengan . Biasanya sistem kontak yang dipakai adalah sistem tersambung bergantian (Change over).

Sinyal masukannya berupa sinar.2. Pada awalnya relay ini digunakan pada peralatan telekomunikasi yang berfungsi sebagai penguat sinyal. misalnya dengan debu logam. c. Tapi sensor ini terpengaruhi oleh adanya perubahan-perubahan yang diakibatkan keadaan sekelilingnya. 4. pemicu tegangan dan penguat. Tapi sekarang sudah umum didapatkan pada perangkat kontrol.4–15 adanya magnet maka buluh kawat akan tersambung atau terputus bila magnet itu mendekati atau menjauhi buluh kawat tersebut. baik pada permesinan ataupun yang lainnya. Sakelar pembatas ini hanya akan beraksi atau terpakai untuk logam. Sakelar Pembatas Induktif Digunakan bila sakelar pembatas mekanik ataupun buluh tidak dapat digunakan. b.2 Pengolah Sinyal Listrik 4. antara lain: Perawatan yang minim Kemampuan menyambungkan beberapa saluran secara independent . Pemilihan relay yang sesuai kebutuhan harus memenuhi beberapa kriteria.2. metal maupun non-metal.2. Biasanya ada dua macam. pada suatu mesin atau ban berjalan. Relay ini biasanya difungsikan dengan elektromagnet yang dihasilkan dari kumparan. Sakelar Pembatas Kapasitif Sensor kapasitif ini mempunyai respons terhadap segala material. yang kebutuhan energinya relatif kecil.2. tapi keduanya mempunyai tegangan operasi antara 10–30 volts. yaitu yang dialiri arus bolak-balik dan arus searah. d. Biasa dipakai untuk sensor penghitung benda kerja yang terbuat dari logam. Sakelar pembatas atau sensor ini biasanya terdiri dari oscillator.1 Relay Relay adalah komponen untuk penyambung saluran dan pengontrol sinyal.2. Sakelar Pembatas Optik Sensor ini memberi respons pada semua benda kerja.

Bila tidak ada arus listrik maka pelat tadi akan kembali ke posisi semula karena ditarik dengan pegas.4–16 Mudah adaptasi dengan tegangan operasi dan tegangan tinggi Kecepatan operasi tinggi. Keuntungan dan kerugian penggunaan Relay: Keuntungan: Mudah mengadaptasi bermacam-macam tegangan operasi Tidak mudah terganggu dengan adanya perubahan temperature disekitarnya. Hal ini tergantung apakah sambungannya NO atau NC. Cara kerja relay: Apabila pada lilitan dialiri arus listrik maka arus listrik tadi akan mengalir melalui lilitan kawat dan akan timbul medan magnet yang mengakibatkan pelat yang ada di dekat kumparan akan tertarik ataupun terdorong sehingga saluran dapat tersambung ataupun terputus. Simbol Relay: A1 K1 A2 14 24 21 34 31 44 41 13 23 33 43 Relay Normally Open K1 A1 A2 11 12 22 32 42 Relay Normally Closed A1 K1 A2 13 23 31 41 14 24 32 42 Kombinasi NO & NC Penunjukkan angka pada relay mempunyai arti sebagai berikut: Angka yang pertama menunjukkan contactor yang keberapa sedangkan angka yang kedua selalu bernomor ¾ untuk relay NO dan ½ untuk relay yang NC. karena relay masih bisa bekerja pada temperature 233 K (-40o C) sampai 353 K (80o C) Mempunyai tahanan yang cukup tinggi pada kondisi tidak kontak Memungkinkan untuk menyambungkan beberapa saluran secara independent . misalnya waktu yang diperlukan untuk menyambungkan saluran singkat.

Dengan demikian mempunyai bentuk yang simple dan kokoh. Sedangkan yang sering digunakan pada Electro-pneumatik adalah Solenoid DC. Bila solenoid dipasifkan (switched off) maka medan magnet yang pernah terjadi akan hilang dan dapat mengakibatkan tegangan induksi yang besarnya bisa beberapa kali lipat dibandingkan dengan tegangan yang ada pada kumparan. 4. berbunyi Kontaktor bisa terpengaruh dengan adanya debu Kecepatan menyambung atau memutus saluran terbatas. misalnya dengan memasang tahanan yang dihubungkan secara paralel dengan induktansi. Ketika arus listrik dialirkan ke dalam kumparan akan terjadi elektromagnet.2. Tegangan induksi ini dapat mengakibatkan rusaknya isolasi pada gulungan koil. Bila ada kelonggaran udara.4–17 Adanya isolasi logam antara rangkaian kontrol dan rangkaian utama Oleh karena keuntungan-keuntungan di atas maka penggunaan relay sampai saat ini masih dipertahankan. tidak akan mengakibatkan kenaikan temperature operasi. Untuk mengatasi hal ini maka harus dibuat rangkaian yang meredam percikan api. Selain itu maksudnya agar diperoleh konduktansi optimum pada medan magnet. Sehingga bila terjadi . karena temperature operasi hanya akan tergantung pada besarnya tahanan kumparan serta arus listrik yang mengalir. Bila solenoid DC diaktifkan (switched on) maka arus listrik yang mengalir meningkat secara perlahan. selanjutnya bila hal ini terjadi terus akan terjadi percikan api.2. bila akan diaktifkan timbul percikan api Memerlukan tempat yang cukup besar Bila diaktifkan. Solenoid DC secara konstruktif selalu mempunyai inti yang pejal dan terbuat dari besi lunak.2. Kerugian: Khususnya untuk NO. Selama terjadinya induksi akan menghasilkan gaya yang berlawanan dengan tegangan yang digunakan.2 Solenoid Di lapangan kita bisa menemukan solenoid dengan arus searah (DC) ataupun arus bolak balik (AC).

Selanjutnya bila arus listrik diputus maka posisi sambungan yang menyambung adalah posisi akhir setelah diaktifkan.Terjadi tegangan tinggi saat pemutusan arus . Posisi normal pada kedua sisinya Posisi sambungan yang aktif tidak tetap.2.Bagian yang kontak cepat aus 4. Bila energi listrik dialirkan maka medan magnet yang terjadi diintensifkan oleh medan magnet permanen.Waktu sambung lama .2.4–18 pemutusan arus listrik. Apabila arus listrik disalurkan maka posisi kontak . Relay ini bekerja bila arus listrik disalurkan. energi akan tersimpan dalam bentuk medan magnet dan dapat hilang lewat tahanan yang dipasang tadi.Bunyi yang dihasilkan lemah . c. Adapun energi listrik yang diperlukan yaitu sekitar 0.Perlu adaptor bila yang dipakai tegangan AC .2.1 – 0. Keuntungan Solenoid DC Kerugian Solenoid DC .5 mW. baik itu sebelum ataupun sesudah diaktifkan. Begitu pula bila arus dialirkan hanya sebentar saja maka posisi kontak akan kembali ke tempat semula begitu arus diputuskan. tergantung dari posisi terakhir disambungkan.Perlu peredam percikan api . maka sambungan kontaknya akan berpindah ke sambungan yang lainnya. diantaranya: a. Metoda operasinya ada beberapa macam.Mudah pengoperasiannya . Posisi normal ditengah Apabila relay ini tidak diaktifkan maka tidak ada satu saluran pun yang menyambung karena posisi lengan kontak ada di tengah-tengah. b.Usianya lama .3 Relay yang dipolarisasi (Polarized Relay) Pada prakteknya relay ini digunakan bila energi yang diperbolehkan untuk dipakai sangat kecil. Posisi normal tertentu Posisi sambungan relay ini akan tetap pada posisi yang sama.Tenaga untuk mengoperasikan kecil .

2. .4–19 akan ditentukan oleh arah arus yang disambungkan. seolaholah terkunci pada posisi akhir. Penggunaan relay ini biasanya untuk jaringan listrik di rumah tinggal. maksudnya adalah bila relay ini diaktifkan maka akan terjadi elektromagnet. 4.2.2. Dan bila arus diputus. posisi lengan kembali ke tengah. di mana hubungan kontaktor diputuskan ataupun disambungkan tidak langsung seketika pada saat relay diaktifkan.6 Relay Tunda Waktu Berfungsi untuk menyambung kontaktor NO atau memutus kontaktor NC.4 Relay Mengunci (Latching relays) Latching relay adalah relay yang dikontrol dengan electromagnetic. Ada dua jenis relay tunda waktu.5 Remnant Relay Relay ini disainnya khusus. Sistem pengunci biasanya dengan mempergunakan kerja mekanik. dimana relay ini akan tetap berada pada posisi setelah diaktifkan walaupun sumber energi sudah diputuskan. melainkan perlu waktu. Elektromagnet ini akan tinggal dan tetap ada walaupun sumber energinya telah dihilangkan.2.2.2. Atau dengan kata lain relay ini dikunci pada posisi akhir. Untuk menyalakan relay ini maka arus yang dipakai adalah arus positif. 4. sedangkan untuk mematikannya mempergunakan arus negatif. Waktu yang diperlukan untuk memutuskan ataupun menyambungkannya bisa diatur.2. 4.2. yaitu relay tunda waktu hidup (time delay switch on) dan relay tunda waktu mati (time delay switch off).2.

Selanjutnya bila relay K1 sudah aktif maka terminal 18 akan tersambung dengan terminal 15. Elemen tunda waktu digambarkan pada kotak yang dibatasi dengan garis strip. yang besarnya bisa diatur. S A R1 16 A1 K1 A2 15 C R2 P R 18 Proses bekerjanya tunda waktu: Bila sakelar S diaktifkan maka arus listrik akan mengalir melalui tahanan R1.4–20 Time Delay Switch On Relay S Input (S) A1 15 1 15 0 1 Output 0 t A2 16 18 16 18 Bila sakelar S diaktifkan maka relay tunda waktu mulai bekerja. Lamanya mengisi kapasitor ini tergantung pada besarnya R1. Di sini bisa kita bandngkan dengan katup tunda waktu hidup pada rangkaian pneumatik. Bila kapasitor C tidak bisa menampung arus listrik lagi (tegangan yang diijinkan telah tercapai) maka arus listrik akan mengalir ke relay K1. Sinyal output (keluaran) akan ada selama sinyal input ada. . Ketika waktu yang ditentukan tercapai maka terminal 18 akan tersambungkan. yang selanjutnya arus listrik mengalir ke kapasitor C dan menampungnya di sana. Arus ini tidak mengalir ke relay K1 melainkan akan mengalir ke terminal K1 NC.

Bila tegangan di C sudah tidak ada maka terminal 16 akan tersambung lagi dengan terminal 15. Di sini bisa kita bandingkan dengan katup tunda waktu mati pada rangkaian pneumatik. Sinyal output akan ada selama sinyal input ada. S R2 A R1 K1 P A1 K1 A2 C R Proses bekerjanya tunda waktu: Bila sakelar S diaktifkan maka arus listrik akan mengalir ke relay K1 dan relay K1 langsung bekerja. . Tapi bila sinyal input diputus maka sinyal output tidak akan langsung hilang.4–21 Time Delay Switch Off Relay A1 B1 15 1 Input (S) S 0 1 15 A2 B2 16 18 Output 0 16 18 Bila sakelar S diaktifkan maka relay tunda waktu mulai bekerja. Lamanya mengosongkan kapasitor C tergantung pada besaran R1. melainkan tetap ada sampai batas waktu yang telah ditentukan. Sebelum relay K1 diaktifkan. Dengan diaktifkannya relay K1 maka switch K1 aktif sehingga arus listrik yang tertampung di kapasitor C akan mengalir melalui R1 bila sakelar S dinon-aktifkan. Elemen tunda waktu digambarkan pada kotak yang dibatasi dengan garis strip. arus listrik mengalir ke kapasitor C melalui tahanan R2 dan menampungnya sampai kapasitor mencapai tegangan yang diijinkan.

2. Kontaktor dengan 1 A1 K1 A2 2 3 5 4 6 elektromagnet inti: c. Tipe-tipe kontaktor: Winding Armature Contacts a. Daya untuk mengontrolnya bisa rendah tapi daya beban bisa tinggi. dengan kata lain untuk mengaktuasikan elektromagnet cukup misalnya dengan tegangan rendah tapi bisa menyalurkan arus yang bertegangan lebih tinggi. Kontaktor banyak digunakan untuk keperluan yang bermacamShielded Electromagnet macam. keran. Kontaktor dengan armature sistem engsel: Simbol kontaktor pada penggambaran rangkaian: Keuntungan mempergunakan kontaktor: Beban tinggi bisa diaktifkan dengan beban rendah . U-shaped core Contacts alat pengatur temperatur ruangan. sistem pemanas.4–22 4.2. Misalnya digunakan untuk menyalakan motor. Kontaktor Rocker arm Armature yang U-shaped core elektromagnetnya dilindungi: Contacts Core electromagnet contactor Hinged-armature contactor b.2. dll.7 Kontaktor Yang dimaksudkan dengan kontaktor adalah sakelar yang diatuasikan dengan elektromagnet.

2. . 2(A) Katup 2/2 diaktuasikan dengan sinyal listrik. Dengan demikian saluran 1 (P) ataupun saluran 2 (A) kedua-duanya tertutup dan udara yang ada di saluran 2(A) tidak dapat keluar. kembali dengan pegas 1(P) Solenoid head Pada prinsipnya katup ini mempunyai dua posisi dan dua saluran. Sistem yang mengawinkan sinyal kontrol dan sinyal kerja ini biasanya terdiri dari katup yang diaktuasikan dengan solenoid.2. Bila katup ini akan diaktifkan maka arus listrik harus dialirkan ke solenoid yang terpasang pada katup tersebut. Sedangkan kembalinya bila arus listrik ditutup (dimatikan) maka katup akan kembali ke posisi semula karena katup 2(A) 1(P) terdorong pegas 2(A) yang dipasang berlawanan dengan1(P) solenoid. sedangkan yang mengatur membuka atau menutup tersebut adalah arus listrik yang dialirkan ke kumparan kawat (solenoid). Maksudnya adalah untuk menyalurkan sinyal kerja mempergunakan katup-katup pneumatik. Dengan diaktifkannya solenoid maka saluran 1(P) bila dihubungkan dengan sumber energi akan menyalurkan sinyal pneumatik ke saluran 2(A). konfigurasi katup adalah Armature NC.4–23 Terdapat isolasi logam antara rangkaian kontrol dan rangkaian utama Sedikit perawatannya Tidak terpengaruh oleh temperature Kerugiannya: Mudah aus Ukurannya besar Menimbulkan suara Kecepatan menyambung terbatas 4.3 Elemen Akhir Apabila suatu kontrol mempergunakan sinyal kontrolnya dengan sinyal listrik dan sinyal kerjanya mempergunakan pneumatik maka harus ada suatu alat yang dapat mengawinkan sinyal kontrol listrik dengan sinyal kerja pneumatik itu.

Normally Closed 3/2 Katup 3/2 NC bekerja bila arus listrik dialirkan ke solenoid sehingga terbentuk elektromagnet yang mengakibatkan bergesernya armature dan selanjutnya udara dialirkan dari saluran masuk 1(P) ke saluran keluar 2(A). Tapi bila solenoid dialiri arus 2(A) 1(P) 1(P) 1(P) 3(R) 3(R0) 2(A) 3(R) 2(A) . kembali dengan pegas a. Jadi bila arus listrik tidak ada maka saluran 1(P) mengalirkan udara ke saluran 2(A) dan saluran 3(R0) tertutup. Sedangkan sakuran 3(R) tertutup. Sebaliknya bila arus listrik diputuskan maka elektromagnet yang terbentuk pada solenoid menghilang dan berakibat saluran 1(P) tertutup sedangkan udara yang berada di saluran 2(A) akan dibuang melalui saluran buang 2(A) 3(R) 1(P) 3(R) 3(R) 2(A) 1(P) 1(P) 2(A) 3(R). Normally Open 3/2 Katup ini kebalikan dari katup 3/2 NC.4–24 Katup 3/2 diaktuasikan dengan sinyal listrik. b.

Katup 3/2 diaktuasikan sinyal listrik dan kontrol Pneumatik. Biasanya digunakan untuk mengaktuasikan silinder kerja ganda. 2(A) 4(B) 1(P) 3(R) Armature Air channel Manual override valve piston 3(R) 4(B) 1(P) 2(A) 4(B) 1(P) 3(R) 2(A) Katup 4/2 diaktuasikan sinyal listrik dan kontrol pneumatik. kembali dengan pegas Katup 4/2 pada prinsipnya terdiri dari 2 buah katup 3/2. Dengan kata lain 2(A) 1(P) 3(R) Armatur Manual auxiliar actuation 3(R) 2(A) 1(P) 1(P) Air Channel 3(R) Valve piston 2(A) arus listrik yang diperlukan tidak terlalu besar pula. saluran 1(P) tertutup dan udara dari 2(A) dialirkan langsung ke 3(R). dengan demikian gaya elektromagnet yang diperlukan untuk mengaktifkan sumbat tidak terlalu besar. Sedangkan fungsi kumparan ini hanya untuk mengaktifkan sumbat yang ada pada katup. Prinsip kerja saluran yang terdapat pada katup ini sama dengan prinsip kerja katup 3/2 yang telah dibahas di atas. kembali dengan pegas Katup ini bila diaktifkan masih mempergunakan sinyal kontrol pneumatik. berfungsi sebagai pembuka sumbat sedangkan yang mengatur katup piston adalah sinyal kontrol . Sinyal listrik digunakan seperti pada katup 3/2.4–25 listrik.

Apabila sinyal listrik diputuskan maka katup piston didorong kembali ke posisi semula sehingga saluran 1(P) tersambungkan dengan 2(B) dan saluran 4(A) dengan 3(R). yang dibutuhkan oleh bagian perawatan.2. Sistem ini biasanya digunakan pada jaringan / rangkaian listrik pada kendaraan bermotor. untuk memperbaiki dan merawat sistem kontrol listrik.2. Cara penggambarannya. Pada posisi diaktuasikan saluran 1(P) dan saluran 4(A) tersambungkan sedangkan saluran 2(B) dengan saluran 3(R).4–26 pneumatik. Ada beberapa cara untuk menampilkan/menggambarkan fungsi. serta diatur berdasarkan sambungan jalur kabel. baik itu rangkaian kontrol dan juga rangkaian utama. 4. Diagram Kabel (Wiring Diagram) Pada sistem penunjukkan ini semua peralatan ditampilkan dalam satu gambar. Contoh gambar instalasi kabel: . operasi peralatan serta instalasi rangkaian.4 Diagram Rangkaian pada Rangkaian Listrik Pada diagram rangkaian listrik digambarkan bagaimana ditempatkannya perlengkapan dan juga alat listrik ditempatkan. asalkan menyambungkan jaringan kabelnya betulbetul diperhatikan. Diagram rangkaian ini merupakan dokumen yang sangat penting. penyimpanan peralatan yang digunakan bisa dimana saja. dengan mempergunakan simbol yang telah ditetapkan/distandardisasikan. mesin perkakas yang ringkas ataupun peralatan pabrik lainnya.

4–27 L1 L2 L3 380 V 50 Hz F2 380 V 220 V L1 L2 K1 K2 T1 F1 U V M 3 W M1 S2 Anticlockwise rotation S1 Stop S3 Clockwise Rotation .

maka pada penggambaran rangkaian secara skematis ini ditampilkan berdasarkan fungsinya. Penggambaran rangkaian secara skematis biasanya menggunakan garis lurus. dimana 380 V 50 Hz L1 L1 L2 F1 L3 F2 S1 Off K1 23 24 K2 23 24 K1 S3 Anticlockwise rotation S2 Clockwise rotation K2 11 K2 12 A1 K1 A2 K2 11 K1 12 A1 A2 F1 U V W M1 arus listrik mengalir dari atas ke bawah. Pada sistem ini penggambaran untuk sambungan (NC dan NO) relay untuk keperluan latching (mengunci sambungan) ataupun memutus sambungan akan digambarkan pada rangkaian kontrol. Di bawah ini ditampilkan gambar dengan fungsi yang sama dengan penggambaran instalasi kabel. . Dengan cara menggambarkan rangkaian kontrol dan rangkaian utama dipisahkan.4–28 Diagram Rangkaian Dibandingkan dengan penggambaran instalasi kabel. dimana penggambaran rangkaian kontrol dan utamanya dijadikan satu.

penggambaran rangkaian ini tidak bisa langsung lengkap/komplit. Contoh penggambaran Diagram Rangkaian Dasar: S1 F1 K1 K2 F2 M 3 S1 K1.4–29 Diagram Rangkaian Dasar Pada tingkat tertentu. Biasanya dalam penggambaran rangkaian dasar yang digambarkan hanya rangkaian utamanya saja. Begitu pula untuk penunjukkan perlengkapannya hanya cukup dengan menunjukkan simbol huruf. F2 M3 Main switch Relays Fuses Motor . K2 F1. melainkan dibuat dahulu sketsa fungsinya (pre-desain) dengan hanya menggambarkan hal yang penting-penting saja. misalnya dalam penggambaran awal.