BAB II LANDASAN TEORI

A. KONSEP DASAR MEDIS 1. Definisi a. COPD atau yang lebih dikenal dengan PPOM merupakan suatu kumpulan penyakit paru yang menyebabkan obstruksi jalan napas, termasuk bronchitis, empisema, bronkietaksis dan asma. Bronkhitis kronis dan bronkietasis ditandai dengan pembentukan mucus bronchial yang berlebihan dan batuk yang disebabkan oleh

inflamasi kronis bronkiolus dan hipertropi serta hyperplasia kelenjar mukosa, pada empisema, obstruksi jalan napas disebabkan oleh hperinflasi alveoli, kehilangan elastisitas jaringan paru dan penyempitan jalan napas kecil. Asma ditandai oleh penyempitan jalan napas bronchial. PPOM paling sering diakibatkan dari iritasi oleh iritan kimia (industri dan

tembakau), polusi udara, atau infeksi saluran pernapasan kambuh ( Carpernito, 1999. hal 110 ). b. COPD atau PPOM merupakan suatu kelompok paru yang mengakibatkan obstruksi yang menahun dan persisten dari jalan napas di dalam paru. Termasuk dalam kelompok ini yaitu : bronkiektasis , bronkhitis menahun, emfisema paru, beberapa batuk dari asma, dan lain-lain. Walaupun masing-masing mempunyai karakteristik tersendiri tetapi sering secara klinis, radiologik, dan fisiologik terdapat ³Overlopping³ satu sama lain sehingga penegakan diagnosis pasti dari pada salah satu penyakit sukar di tetapkan. Secara fungsional semuanya akan mengakibatkan peningkataan tahanan saluran napas. (³airways resistance´). ( Kapita selekta, 1982. hal 218 ). c. Penyakit obstruksi menahun (COPD) merupakan penyakit paru yang jelas secara anatomi memberikan tanda kesulitan pernapasan yang mirip yaitu

keterbatasan jalan udara yang kronis, terutama beartambahnya resistensi terhadap jalan udara saat ekspirasi. ( Robbins, 1995. hal. 137 ).

2. Anatomi Fisiologi a. Anatomi saluran pernapasan 1) Rongga hidung Merupakan saluran udara yang pertama, mampunyai dua lubang (kavum nasi), dan dipisahkan oleh sekat hidung (septum nasi). Didalamnya terdapat bulu-bulu yang berguna untuk menyaring udara, debu dan kotoran yang masuk kedalam lubang hidung, fungsi hidung adalah bekerja sebagai saluran udara pernapasan sebagai penyaring udara pernapasan yang dilakukan oleh bulu-bulu hidung dapat menghangatkan udara pernapasan oleh mukosa, membunuh kumankuman yang masuk bersama-sama udara pernapasan leukosit yang terdapat di dalam mukosa hidung. 2) Faring. Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan, terdapat dibawah dasar tengkorak, dibelakang rongga hidung dan mulut sebelah depan ruas tulang leher, keatas berhubungan dengan rongga hidung disebut nasofaring, kedepan berhubungan denga rongga mulut disebut orofaring, kebawah mempunyai dua lubang bagian depan disebut laringofaring, bagian belakang adalah esofagus sebagai saluran pencernaan. Pada lengkungan faring terdapat dua buah tonsil atau amandel yang bersimpulkan kelenjar limfe yang banyak mengandung lymfosit dan juga epiglotis yang berfungsi menutupi laring pada saat menelan makanan. 3) Laring. Merupakan struktur epitel kartilago berbentuk rangkaian cincin yang meghubungkan faring dengan trakea. Fungsi laring adalah

2

Jika dibentang luas permukaan kurang lebih 90 m2. Pada bronkioli terdapat gelambung paru dan gelembunag hawa atau alveoli. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel sama. Alveoli terdiri dari sel-sel epitel dan endotel. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih besar dari pada bronkus kiri. Paru-paru ini dibagi menjadi dua yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari 3 lobus dan paru-paru kiri mempunyai 2 lobus. terdiri dari 6-8 cincin. Merupakan lanjutan dari trakea ada dua buah yang terdapat pada ketinggian vertebral torakalis ke IV dan V. Bronkusbronkus ini berjalan kebawah dan kesamping tumpukan paru-paru.000 buah (paru-paru kiri dan kanan). Bagian ini memiliki banyak saraf dan dapat menyebabkan bronkospasme dan batuk yang kuat jika di rangsang. Letak paru- 3 . 5) Bronkus. terditi dari 9-12 cincin mempunyai 2 cabang. Paru-paru merupakan salah satu alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari gelembung-gelembung (alveoli). bronkus yang bercabang-cabang yang lebih kecil disebut bronkeolus (bronkioli). 6) Paru-paru. Laring juga melindungi jalan pernapasan bawah dari obstruksi benda asing dan memudahkan batuk.memungkinkan terjadinya vokalisasi. Trakea diliputi oleh selaput lendir yang memiliki silia. Banyaknya gelembung paruparu ini kurang lebih 700.000. Karina merupakan tempat percabangan trakea menjadi bronkus utama kiri dan kanan. pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara. 4) Trakea. berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama dengan udara pernapasan. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih kecail atau ramping. O2 masuk kedalam darah dan CO2 dikeluarkan dari dalam darah. mempunyai tiga cabang. Trakea disokong oleh cincin tulang rawan yang berbentuk sepatu kuda dan panjangnya kurang lebih 5 inch.

b. udara dihirup masuk melintasi traktus respiratorius sampai alveoli. pernapasan bisa bertambah cepat atau sebaliknya. hal 106 ). ( Sumber : Syaifuddin. paru-paru akan terlindungi dinding dada. 600 CM3 atau 2 ½ M jumlah pernapasan. Dalam keadaan tertentu keadaan tersebut akan berubah. berungsi untuk melucinkan permukaan selaput fleura agar dapat bergerak akibat inspirsi dan ekspirasi. anak-anak : 24 x/menit. Dalam keadaan normal orang dewasa 16-18 x/ menit. 1996. Kapasitas paru-paru dapat dibedakan menjadi dua kapasitas yaitu kapasitas total yang mengandung arti jumlah udara dapat mengisi paru-paru pada inspirasi sedalam-dalamnya. 4 . Fisiologi Pernapasan Bernapas atau respirasi adalah peristiwa menghirup udara luar atau atmosfer kedalam tubuh atau menghembuskan udara yang banyak mengandung karbondioksida sebagani sisa dari oksidasi. kemudian dialirkan keseluruh tubuh. Paru-paru dibungkus oleh dua selaput halus yang disebut fleura visceral. Pada waktu kita bernapas biasa udarayang masuk kedalam paru-paru 2. Sedangkan kapasitas vital adalah jumalah udara dapat dikeluarkan setelah ekspirasi maksimal. Waktu ekspirasi di dalam paru-paru dapat masih tertinnggal kurang lebih 3 liter udara. sedangkan selaput yang berhubungan langsung denga rongga dada sebelah dalam adalah selaput fleur parietal. dan bayi : 30 x/menit. didalam pubuh terjadi proses oksidasi atau pembakaran. Diantara pleura ini terdapat sedikit cairan. Dalam keadaan noumal kedua paru-paru dapat menampung udara sebanyak kurang lebih5 liter. misalnya akibat dari suatu penyakit. Sebagai terjadinya proses atmosfir karbondioksida dikeluarkan melalui kapiler-kapiler alveoli dibawa ke atrium sinistra vena purmonalis Yang kemudian diteruskan di vertikel sinestrayang di pomp[a di aorta.paru adalah pada rongga dada tepatnya pada cavum mediastinum.

Juga dapat menyebabkan bronkokonstriksi akut. Ekserbasi bronchitis koronis disangka paling sering diawali dengan infeksi virus. tetapi belum diketahui dengan jelad apakah factor-faktor tersebut berperann atau tidak. serta menyebabkan kerusakan paru bertambah. yang kemudaian menyebabkan infeksi sekunder oleh bakteri. Karbondioksida dikangkat oleh sirkulasidarah vena masuk ke atrium dekstra ke vertikel dekstra dan di pompa ke paru-paru melintasi arteri pulmonalis.ampas dari sisa pembakaran tubuh adalah karbondioksida. a. Etiologi Ada tiga factor yang mempengaruhi timbulnya COPD yaitu rokok. ( Syarifuddin. Rokok Menurut buku report of the WHO expert comitte on smoking control. 107 ). Infeksi Infeksi saluran pernapasan bagian atas pada seorang penderita bronchitis koronis hamper selalu menyebabkan infeksi paru bagian bawah. alergi. 5 . infeksi dan polusi. umur serta predisposisi genetic. Didalam sel paru-paru terjadi lagi proses oksidasi. b. hal. 1996. rokok adalah penyebab utama timbulnya COPD. Secara pisiologis rokok berhubungan langsung dengan hiperflasia kelenjar mukaos bronkusdan metaplasia skuamulus epitel saluran pernapasan. selain itu pula berhubungan dengan factor keturunan. makrofage alveolar dan surfaktan. karbon dioksida dikeluarkan melalui ekspirasi sedangkan sisa lainnya dikeluarkan melalui traktus urogenital dalam bentuk air senidan kulit dalam bentuk keringat. Menurut Crofton & Doouglas merokok menimbulkan pula inhibisi aktivitas sel rambut getar. 3.

Pengurangan difusi gas melalui membrane pernapasan. zat-zat pengoksidasi seperti N2O.c. akibatnya : Kontraksi otot-otot polos bronkus dan bronkiolus seperti pada asma. sebagian bronkus tertutup oleh secret ang berlebihan. Intramular Dinding bronkus menebal. Berkurangnya transportasi oksigen dari paru-paru ke jaringan. Ekstramular. Ventilasi yang tidak memadai di alveoli karena adanya kelainan yang menambah kerja ventilasi yaitu dengan penambahan tahanan jalan udara. a. Destruksi dari jaringan paru mengakibatkan hilangnya kontraksi radial dinding bronkus ditambah dengan hiperinflamasi jeringan paru menyebabkan penyempitan saluran napas. Kelainan terjadi di luar saluran pernapsan. 1982. yaitu karena : a. hal. hal. sering terdapat pada bronkhitis dan asma. 6 . Ventilasi yang tidak memadai di alveoli. ( Sumber :Ilmu penyakit dalam. 218 ). aldehid dan ozon. Pada umumnya COPD menimbulkan kelainan yang sama. Intraluminer Akibat infeksi dan iritasi yan menahun pada lumen bronkus. Hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mukus. c. c. 1996. ( Sumber : Kapita Selekta. Edema dan inflamasi (peradangan). Pada dasarnya ada tiga kelainan fisiologis yang dapat menimbulkan insufiensi atau ketidakcukupan pernapasan. b. Mekanisme terjadinya obstruksi. hydrocarbon. 755 ). Polusi Polusi zat-zat kimia yang dapat juga menyebabkan brokhitis adalah zat pereduksi seperti O2. b.

).4. E. akibatnya otototot polos pada bronkus dan bronkielus berkontraksi. Pada penderita COPD saluran saluran pernapasan tersebut akan lebih cepat dan lebih banyak yang tertutup. akan menyebabkan ventilasi dan perfusi yang tidak seimbang. Bila sudah timbul gejala sesak. Tergantung dari kerusakannya dapat terjadi alveoli dengan ventilasi kurang/tidak ada. Pada orang noirmal sewaktu terjadi ekspirasi maksimal. 1996. Akibat cepatnya saluran pernapasan menutup serta dinding alveoli yang rusak. Pathofisiologi Walaupun COPD terdiri dari berbagai penyakit tetapi seringkali memberikan kelainan fisiologis yang sama. Akibat infeksi dan iritasi yang menahun pada lumen bronkus. 7 . biasanya sudah dapat dibuktikan adanya tanda-tanda obstruksi. sehingga penyebaran pernapasan udara maupun aliran darah ke alveoli. tetapi perfusi baik. S. sehingga menyebabkan hipertrofi dari kelenjar-kelenjar mucus dan akhirnya terjadi edema dan inflamasi. Timbul hipoksia dan sesak napas. tekanan yang menarik jaringan paru akan berkurang. sehingga saluran-saluran pernapasan bagian bawah paru akan tertutup. sebagian bronkus tertutup oleh secret yang berlebihan. hal ini menimbulkan dinding bronkus menebal. ( Soemardi. Gangguan ventilasi yang berhubungan dengan obstruksi jalan napas mengakibatkan hiperventilasi (napas lambat dan dangkal) sehingga terjadai retensi CO2 (CO2 tertahan) dan menyebabkan hiperkapnia (CO2 di dalam darah/cairan tubuh lainnya meningkat). antara alveoli dan perfusi di alveoli (V/Q rasio yang tidak sama). Penyempitan saluran pernapasan terutama disebabkan elastisitas paru-paru yang berkurang. lebih jauh lagi hipoksia alveoli menyebabkan vasokonstriksi pembuluh darah paru dan polisitemia.

1999. hal. tidur Infeksi pada lumen bronkus Jalan napas menyempit Bronkus tertutup oleh sekret Dinding bronkus menebal Terjadi infeksi Penurunan kerja silia Penempitan saluran napas Proses pembersihan yang dilakukan silia Kerusakan pertukaran gas Hipertropi pada kelenjar Edema dan inlamasi Obstruksi Elastisitas paru menurun Ventilasi terganggu Sekresi lender meningkat Penumpukan dijalan napas Gangguan rasa nyaman : nyeri dada Dispnea/sesak Air way tak bersih Hipoventilasi ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. 756 ).Patoplodiagram Asap tembakau polusi udara Gg pembersihan paru-paru Gangguan istirahat. 8 .

. Sering berulangulang mendapat infeksi saluran pernapasan bagian atas sehingga sering kali tidak dapat berkerja. Penyebab utama abstruksi bermacam-macam. 9 . Umur 55-65 tahun sudah ada kor pulmonal yang dapat menyebabkan kegagalan pernapasan dan meinggal dunia. misalnya . b. 1996. bertahun tahun. Umur 45-55 tahun timbul sesak napas. hiposemia dan perubahannya pada pemeriksaan spirometri. hal 152 ). Manifestasi Klinis COPD merupakan penyakit obstruksi saluran napas.5. Pemeriksaan penunjang dalam COPD adalah sebagai berikut : a. 1999. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam.biasanya dimulai pada seorang penderita perokok berumur 15-25 tahun produktivitasnya menurun dan timbul perubahan pada saluran pernapasan kecil dan fungsi paru mulai pula berubah. Pemeriksaan faal paru Pada pemeriksaan fungsi paru FVC (kapasitas vital kuat) dan fev folume ekspirasi kuat mengalami penurunan menjadi kurang ari 20 %. hal. Pemeriksaan Diagnostik. terjadai sedikit demi sedikit. Analisis gas darah. 756 ) Semua penyakit pernapasan dikaraktaristikan oleh obstruksi koronis pada aliran udara. Inlamasi jalan napas Pelengketan mukosa Penyempitan lumen jalan napas Kerusakan jalan napas Takipnea Ortopnea ( Sumber : Doenges. c. Umur 35-45 tahun timbul batuk produktif. Pemeriksaan radiologis Pemeriksaan radiologist sangat membantu dalam menegakan atau menyokong diagnosis dan menyingkirkan penyakit-penyakit lain. 6.

serta pO2 75-100 mmHg.45 dan PaCO2 35-45 mmHg. Ekspektoran.35-7. memperbaiki serta mempertahankan fungsi paru dan usaha pencegahan harus dilakukan seperti penghentian merokok. Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada penderita COPD prinsifnya ialah untuk meringankan keluhan simtomatik. 2) Agonis B2 Sebaiknya diberikan scara aerosol atau nebulizer. 7. Mengurangi retraksi usus Usaha untuk mengeluarkan dn mengurangi mukus. 757 ). Pemberian kortikosteroid Pada beberapa penderita pemberian kortikosteroid akan mengurangi obstruksi saluran pernapasan.Pada pemeriksaan gas darah arteri PH < 7. b. sedangkan yang normal PH 7.35. d.Paco2> 45 mmHg. ( Sumber : Ilmu Penyakit Dalam. sehingga diharapkan mempunyai efek bronkodilator lebih kuat. Pemberian bronkodilator 1) Teoillin Golongan teofilin biasanya diberikan dengan dosis 10-15 mg/kg berat badan per oral. hal. 1996. menghindari polusi udara. merupakan pengobatan yang utama dan penting pada pengelalaan COPD. Adapun penatalaksanaan yang dapat dilakukan adalah : a. c. Dapat juga diberikan kombinasi obat secara aerosol maupun oral. Untuk itu dapat dilakukan : Minum air putih yang cukup agar tuidak dehidrasi. 10 . Pemeriksaaan EKG (elektrokardiogram).

kalium yodida dan ammonium klorida Nebulizasi dan humidifikasi dengan uap air menurunkan viskositas dan mengencer sputum. yaitu : a. implementasi dan evaluasi. Fisioterafi dan rehabilitasi. Mengeluarkan mukus dari saluran pernapasan Memperbaiki efisiensi ventilasi Memperbaiki dan meningkatkan kekiatan fisis. Hematologik : polisitemia e. 11 . 8. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving atau pemecahan masalah. Berguna untuk . Kegagalan respirasi yang ditandai dengan sesak napas dengan manifestasi asidosis respirasi. Menurunnya saturasi O2 d. 1996. Pada bagian ini penulis akan menguraikan tentang konsep dasar asuhan keperawatan klien dengan COPD. yang memerlukan ilmu teknik dan ketrampilan intrapersonal ditujukan untuk memenuki kebutuan klien. komplikasi yang sering terjadi dengan berlanjutnya penyakit. Mukolitik. b. B. Komplikasi. Retensi co2 c. intervensi keperawatan. KONSEP DASAR KEPERAWATAN Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. hal. Ukkus peptikum.Yang sering digunakan gliserilquaiakolat. dimana asukhan keperawatan ini mengguakan pendekatan proses diagnosa keperawatan. terjadinya sukar diketahui. Dapat digunakan asetil sistein atau bromheksin. ( nursalam dikutip dari dr iyer. 1). d. 1996. hal. (Nursalam. 1 ).

Adapun hal yang perlu dikaji dalam kasus ini antara lain . apa upaya dan dimana kliwen mendapat pertolongan kesehatan. jenis kelamin. ukur juga intake dan output setiap sift. kesulitan/masalah defekasi dan juga pemakaian alat bantu/intervensi dalam Bab.1. karakteristik. karakteristik. ukur tinggi badan. umur. a. kaji adanya mual muntah ataupun adanyaterapi intravena. timbang juga berat badan. Tanyakan kepada klien tentang jenis. Identitas klien Nama. Pola nutris metabolik. bahasa yang digunakan. penanggung jawap meliputi : nama. Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal yang sangat menentukan keberhasilan dari proses keperawatan tersebut. Pola eliminasi. lalu apa saja yang membuat status kesehatan klien menurun. kaji status riwayat kesehatan yang pernah dialami klien. 2) Eliminasi proses. c. Pengkajian harus dilakukan secara teliti sehingga didapatkan informasi yang tepat. d. dan jumlah klien makan dan minnum klien dalam sehari. 12 . alamat. tempat tanggal lahir. lingkaran lengan atas serta hitung berat badan ideal klien untuk memperoleh gambaran status nutrisi. Kaji selera makan berlebihan atau berkurang. Pola aktivitas dan latihan Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti tongkat. hubungan dengan klien. warga Negara. e. agama/suku. penggunaan selang enteric. b. Pola persepsi kesehatan-pemeliharaan kesehatan. kursi roda dan lain-lain. kaji terhadap prekuensi. kesulitan/masalah dan juga pemakaian alat bantu seperti folly kateter. frekuensi. 1) Kaji terhadap rekuensi.

sesak dan lain-lain. Adakah gangguan persepsi sensori seperti pengelihatan kabur. Kaji tingkat orientasi terhadap tempat waktu dan orang. apakah klien pernah mengalami putus asa/frustasi/stress dan bagaimana menurut klien mengenai dirinya. Pola persepsi dan konsep diri Kaji tingkah laku mengenai dirinya. bagaimana hubungan klien di masyarakat dan keluarga dn teman sekerja.Tanyakan kepada klien tentang penggunaan waktu senggang. pendengaran terganggu. tempat klien bertukar pendapat dan mekanisme koping yang digunakan 13 . Kaji faktor yang membuat klien marah dan tidak dapat mengontrol diri. jumlah jam tidur. Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stress. Berapa jumlah anak klien dan status pernikahan klien. Kaji apakah ada gangguan komunikasi verbal dan gangguan dalam interaksi dengan anggota keluarga dan orang lain. badan lemah. bagaimana klien mengatasi tak nyaman : nyeri. Pola peran hubungan dengan sesame Apakah peran klien dimasyarakat dan keluarga. Pola tidur dan istirahat Tanyakan kepada klien kebiasan tidur sehari-hari. menonton televise. Bagaimana suasana tidur klien apaka terang atau gelap. j. g. tidur siang. menulis. Adakah klien kesulitan mengingat sesuatu. f. nyeri dada. minum susu. memdengarkan musik. Pola persepsi kogniti Tanyakan kepada klien apakah menggunakan alat bantu pengelihatan. Sering bangun saat tidur dikarenakan oleh nyeri. i. gatal. h. Adakah keluhanpada pernapasan. pendengaran. jantung seperti berdebar. k. Pola produksi seksual Tanyakan kepada klien tentang penggunaan kontrasepsi dan permasalahan yang timbul. berkemih. Apakah klien memerlukan penghantar tidur seperti mambaca.

Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. penyangkalan/penolakan terhadap diri sendiri. Tahap dalam perencanaan meliputi penentuan prioritas masalah. 14 . klien menganut agama apa?. Kaji apakah ada nilai-nilai tentang agama yang klien anut bertentangan dengan kesehatan. 2001. ( Nursalam. tebal dan kental. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. c. menentukan rencana dan tindakan pelimpahan (medis dan tim kesehatan lainnya). l. Diagnosa Keperawatan Memberikan dasar-dasar memilih intervensi untuk mencapai hasil menjadi tanggung jawab dan tanggung gugat paerawat. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. Pola system kepercayaan Kaji apakah klien dsering beribadah. spasme bronkus). d. tujuan. 2. dan mengurangi. criteria hasil. hal 156 ). ( Doenges. Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan keperawatan yang meliputi pengemabangan strategi desain untuk mencegah.selama ini. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. b. 1999. 3. Kaji keadaan klien saat ini terhadap penyesuaian diri. hal 51 ). (obstruksi jalan napas oleh secret. ugkapan. Perencanaan Keperawatan. sekresi tertahan. dan program perintah medis. Adapun diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan COPD adalah sebagai berikut : a.

krokels dan ronki. harga diri dan aktualisasi diri. rasa aman. Pernapasan dapat melambat dan inspirasi.. catat adanya bunyi napas misalnya : mengi. 1) Kaji/pantau frekuensi pernapasan. Tujuan : Ventilasi/oksigenisasi adekuat untuk individu. meletakan kebutuhan fisiologis sebagai kebutuhan paling dasar. tebal dan kental. Kriteria hasil : Mempertahankan jalan napas paten dan bunyi napas bersih/jelas. Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan gangguan peningkatan produksi secret. frekuensi ekspirasi memanjang disbanding kebutuhan 15 . 3) Auskultasi bunyi napas. Namun pasien dengan distress berat akan mencari posisi yang lebih mudah untuk bernapas. Intervensi. duduk dan sandaran tempat tidur. Sokongan tangan/kaki dengan meja. Respon : Takipnea biasanya ada beberapa derajat dan dapat ditemukan pada penerimaan atau selama stress/adanya proses infeksi akut. Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah pernapasan dan menggunakan gravitasi. misalnya peninggian kepala tempat tidur. Berdasarkan diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan COPD adalah sebagai berikut : a. sekresi tertahan. 2) Kaji pasien untuk posisi yang nyaman.Pada dasarnya membuatan prioritas masalah dibuat berdasarkan kebutuhan dasar manusia. Menurut Abraham moslow. mencintai dan dicintai. bantal dan lain-lain membantu menurunkan kelemahan otot dan dapat sebagai alat ekspansi dada. catat rasio inspirasi/ekspirasi.

7) Tingkatkan masukan cairan sampai 3000 ml/hari sesuai toleransi jantung. batuk pendek. gelisah. atau kelemahan. Batuk paling efektif pada posisi duduk paling tinggi atau kepala dibawah setelah perkusi dada. khususnya bila pasien lansia. misalnya : keluhan ³lapar udara´. misalnya : penyebaran. misalnya infeksi dan reaksi alergi. distress pernapasan. Cairan selama makan dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. bantu tindakan untuk memperbaiki keefektifan jalan napas. Rasional : Hidrasi membantu menurunkan kekentalan secret. Rasional : Disfungsi pernapasan adalah variable yang tergantung pada tahap proses kronis selain proses akut yang menimbulkan perawatan di rumah sakit. Rasional : Batuk dapat menetap tetapi tidak efektif. sakit akut. 5) Dorong/bantu latihan napas abdomen atau bibir. atau tidak adanya bunyi napas (asma berat). ansietas. 4) Catat adanya /derajat disepnea. Rasional : Memberikan pasien beberapa cara untuk mengatasi dan mengontrol dispnea dan menurunkan jebakan udara. mempermudah pengeluaran. 6) Observasi karakteristik batuk. 16 . misalnya : menetap. basah. dan penggunaan obat bantu. bunyi napas redup dengan ekspirasi mengi (emfisema). Penggunaan air hangat dapat menurunkan spasme bronkus.Rasional : Beberapa derajat spasme bronkus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat/tidak dimanifestasikan dengan adanya bunyi napas adventisius. krekels basah (bronchitis).

catat pengguanaan otot aksesorius.8) Bronkodilator. hal 156 ). Keabu-abuan dan dianosis sentral mengindikasikan beratnya hipoksemia. dapat meningkatkan distensi gaster dan tekanan pada diafragma. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen berkurang. Obat-obatan mungkin per oral. b. ketidakmampuan bicara/berbincang. misalnya. ventolin). spasme bronkus). efinefrin (adrenalin. kedalaman pernapasan. Intervensi : 1) Kaji frekuensi. vavonefrin). Rasional : Sianosis mungkin perifer (terlihat pada kuku) atau sentral (terlihat sekitar bibir atau danun telinga). Respon : Berguna dalam evaluasi derajat distress pernapasan dan kronisnya proses penyakit. brethaire). isoeetrain (brokosol. terbutalin (brethine. mengi dan produksi mukosa. Tanda-tanda vital dalam batas normal Tidak ada tanda-tanda sianosis. injeksi atau inhalasi. napas bibir. menurunkan spasme jalan napas. Kriteria hasil : Tanpa terapi oksigen. bronkometer). ( Doenges. 1999. (obstruksi jalan napas oleh sekret. SaO2 95 % dank lien tidan mengalami sesak napas. 17 . Tujuan : Mempertahankan tingkat oksigen yang adekuat untuk keperluan tubuh. Rasional : Merilekskan otot halus dan menurunkan kongesti local. ȕ-agonis. 2) Kaji/awasi secara rutin kulit dan warna membrane mukosa. albuterol (proventil.

Rasional : Pengiriman oksigen dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan laithan napas untuk menurunkan kolaps jalan napas. ( Doenges. 4) Dorong mengeluarkan sputum. 5) Auskultasi bunyi napas. catat area penurunan aliran udara dan/atau bunyi tambahan. 7) Berikan oksigen tambahan yang sesuai dengan indikasi hasil GDA dan toleransi pasien. emfisema koronis. Dorong napas dalam perlahan atau napas bibir sesuai dengan kebutuhan/toleransi individu. disiretmia dan perubahan tekanan darah dapat menunjuak efek hipoksemia sistemik pada fungsi jantung. Krekles basah menyebar menunjukan cairan pada interstisial/dekompensasi jantung. mengatur pernapasan pasien ditentikan oleh kadar CO2 dan mungkin dikkeluarkan dengan peningkatan PaO2 berlebihan. dan pengisapan dibuthkan bila batuk tak efektif. 1999. 6) Awasi tanda-tanda vital dan irama jantung. Adanya mengi mengindikasikan spasme bronkus/tertahannya sekret. pengisapan bila diindikasikan. Rasional : Takikardi. bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernapas. Catatan . hal 158 ). Rasional : Dapat memperbaiki/mencegah memburuknya hipoksia. dispnea dan kerja napas. Rasional : Kental tebal dan banyak sekresi adalah sumber utama gangguan pertukaran gas pada jalan napas kecil.3) Tinggikan kepala tempat tidur. 18 . Rasional : Bunyi napas mingkin redup karena penurrunan aliran udara atau area konsolidasi.

2. Berikan tindakan nyaman. Respon : Nyeri dada biasanya ada dalam beberapa derajat pneumonia. juga dapat timbul komplikasi seperti perikarditis dan endokarditis. selidiki perubahan karakter/intensitasnyeri/lokasi. Anjurkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk. 4.c. Tawarkan pembersihan mulut dengan sering. Tentukan karakteristik nyeri. Intervensi : 1. konsisten. Ekspresi wajah rileks. relaksasi/latihan napas. Pantau tanda-tanda vital. Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada selaput paru-paru. Rasional : Pernapasan mulut dan terapi oksigen dapat mengiritasi dan mengeringkan memberan mukosa. misalnya . pijatan punggung. perubahan posisi. potensial ketidaknyamanan umum. 5. Kriteria hasil : Klien mengatakan rasa nyeri berkurang/hilang. khususnya bila alasan lain untuk perubahan tandatanda vital. Rasional : Perubahan frekuensi jantung atau TD menunjukan bahwa pasien mengalami nyeri. 19 . Rasional : Tindakan non-analgetik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek terapi analgesic. 3. di tusuk. tajam. Tujuan : Rasa nyeri berkurang sampai hilang. musik tenang/perbincangan. miaalnya .

Mengidentifikasi gejala yang menerlukan evaluasi intervensi. d.Rasional : Alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkatkan keefektifan upaya batuk. 6. Kriteria hasil : Klien memahami proses penyakit dan kebutuhan pengobatan. dan 20 . Respon : Menurunkan ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan. perawatan dan program pengobatannya. Jelaskan/kuatkan penjelasan proses penyakit individu. Tujuan : Klien mengerti tentang penyakit. Melakukan perilaku/perubahan pada hidup untuk memperbaiki kesehatan umum dan menurunkan resiko pengaktifan ulang COPD. Intervensi. Dorong pasien/orang terdekat untuk menanyakan pertanyaan. Instruksikan/kuatkan rasional untuk latihan napas. batuk efektif. Kurang pengetahuan mengenai proses dan prognosis penyakit berhubungan dengan kurang informasi. Rasional : Napas bibir dan napas abdominalis/diafragmatik menguatkan otot pernapasan. meningkatkan kenyamanan/istirahat umum. Rasional : Obat ini dapat digunakan atau untuk menekan mukosa batuk non produktif/proksimal menurunkan berlebihan. 1999. Berikan analgesic dan antitusif sesuai indikasi. hal 171 ). ( Doenges. membantu meinimalkan kolaps jalan napas kecil. dan latihan kondisi umum.

Latihan kondisi umum meningkatkan toleransi aktivitas. serbuk. Diskusikan faktor individu yang menigkatkan kondisi. Rasional : Penghentian merokok dapat memperlambat/menghambat kemajuan COPD. Rasional : Faktor lingkungan ini dapat menimbulkan/meningkatkan iritasi bronchial menimbulkan peningkatan produksi sekret dan menjadi hambatan jalan napas. polusi udara. seprai aerosol. Kaji efek bahaya merokok dan nasehatkan menghentikan merokok pada pasien dan/atau orang terdekat. lingkungan dan suhu ekstrem. asap tembakau. misalnya . foto dada periodik. 21 . Namun meskipun pasien ingin menghentikan merokok. Diskusikan obat pernapasan. efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan/ Rasional : Pasien sering mendapatkan obat pernapasan banyak sekaligus yang mempunyai efek samping hamper sama dan potensial interaksi obat. diperlukan kelompok pendukung dan pengawas medis.memberikan indivisu arti untuk mengontrol dispnea. angina. Penting bagi pasien memahami perbedaan antara efek samping menganggu (obat dilanjutkan) dan efek samping merugikan (obat mungkin dihentikan/diganti). udara terlalu kering. Dorong pasien/orang terdekat untuk mencari cara mengontrol faktor ini dan sekitar rumah. kekuatan otot. dan rasa sehat. Catatan : penelitian menunjukan bahwa rokok ³ side-streams ³ atau ³second hand¶ dapat terganggu seperti halnya merokok nyata. dan culture sputum. Diskusikan tentang pentingnya mengikuti perawatan medik.

( Doenges. Secara bertahap dalam beraktivitas dan gaya hidup sehari-hari yang harus direncanakan untuk mencegah kekambuhan.Rasional : Pengawasan proses penyakit untuk membuat program tetapi untuk memenuhi perubahan kebutuhan dan dapat membantu mencegah komplikasi. hal 162 ). 1999. anjurkan klien untuk : a. Untuk meningkatkan efisiensi pernapasan secara maksimal. d. Mampu mengendalikan stress dan emosional sebagai faktor pencetus terjadinya sesak c. e. Mentaati aturan terapi pengobatan dan selalu control ulang. Meningkatkan nutrisi yang adekuat. 4. Perencanaan pulang. Memenuhi kebutuhan istirahat yang cukup dan mematuhi terapi. 22 . b.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful