LAPORAN PENDAHULUAN CVA / STROKE INFARK PENDAHULUAN.

CVA atau Cerebro Vaskuler Accident biasa di kenal oleh masyarakat dengan istilah Stroke.Istilah ini lebih populer di banding CVA.Kelainan ini terjadi pada organ otak.Lebih tepatnya adalah Gangguan Pembuluh Darah Otak.Berupa penurunan kualitas pembuluh darah otak.Stroke besar dialami menyebabkan oleh kaum angka lai-laki kematian yang tinggi. Kejadian atas 55 tahun. PENYEBAB dan KLASIFIKASI. Pecahnya diakibatkan otak.Sehingga pembuluh dengan darah otak sebagian pembuluh darah yang besar darah tinggi oleh rendahnya adanya kualitas tekanan sebagian daripada wanita (selisih 19 % lebih tinggi)dan usia umumnya di

pembuluh darah mudah pecah. Faktor resiko terjadinya stroke ada 2 : 1.Faktor resiko yang dapat diobati / dicegah :  Perokok.  Penyakit jantung ( Fibrilasi Jantung )  Tekanan darah tinggi.  Peningkatan jumlah sel darah merah ( Policitemia).  Transient Ischemic Attack ( TIAs) 2.Faktor resiko yang tak dapat di rubah :  Usia di atas 65.  Peningkatan  DM.  Keturunan ( Keluarga ada stroke). tekanan karotis ( indikasi terjadinya artheriosklerosis yang meningkatkan resiko serangan stroke).

 Pernah terserang stroke.  Race ( Kulit hitam lebih tinggi )  Sex ( laki-laki lebih 30 % daripada wanita ).

Secara patologik suatu infark dapat di bagi dalam : 1. Trombosis pembuluh darah ( trombosis serebri ). 2. Emboli a.l dari jantung (emboli serebri ). 3. Arteritis sebagai akibat lues / arteritis temporalis. KLASIFIKASI : Secara klinis stroke di bagi menjadi : 1. Serangan Ischemia Sepintas ( Transient Ischemia Attack / TIA ). 2. Stroke Ischemia ( Stroke non Hemoragik ). 3. Stroke Hemoragik. 4. Gangguan Pembuluh Darah Otak Lain. Sumber : 2000, Harsono ED, Kapita Selekta Mada UP, hal : 84. Menurut Satyanegara (1998), gangguan peredaran darah otak atau stroke dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu : a. Non Haemorrhagi/Iskemik/Infark 1). Transient Ischemic Attack (TIA)/Serangan Iskemi Sepintas TIA merupakan tampilan peristiwa berupa episode-episode serangan sesaat dari suatu disfungsi serebral fokal akibat gangguan vaskuler, dengan lama serangan sekitar 2 -15 menit sampai paling lama 24 jam. 2) Defisit Neurologis Iskemik Sepintas/Reversible Ischemic Neurologi Defisit (RIND) Neurologi, Gajah

gangguan gangguan arteri yang menimbulkan perdarahan otak spontan dibedakan lagi berdasarkan ukuran dan lokasi regional otak.Stroke Trombosis Pembuluh Besar. yang terjadi karena penyakit pembuluh halus hipertensif dan menyebabkan sindrom stroke yang biasanya muncul dalam beberapa jam atau kadang-kadang lebih lama. yang terjadi berkaitan dengan lesi arterisklerotik yang menyebabkan penyempitan atau stenosis biasanya di arteria karotis interna. 4) Stroke Komplit (Completed Stroke / Permanent Stroke ) Gejala gangguan neurologis dengan lesi -lesi yang stabil selama periode waktu 18-24 jam. Selanjutnya. Stroke Lakunar. yakni di rongga subararakhnoid atau di dalam parenkhim otak (intraserebral).Stroke ini mempunyai awitan yang bertahap bahkan berkembang .Stroke Iskemik Stroke yang terjadi akibat obstruksi atau bekuan di satu atau lebih arteri besar pada sirkulasi serebrum. Price.yaitu a. b. Terdapat empat subtype dasar pada stroke iskemik berdasarkan penyebab. Menurut Sylvia A. Ada juga perdarahan yang terjadi bersamaan pada kedua tempat di atas seperti: perdarahan subarakhnoid yang bocor ke dalam otak atau sebaliknya.Stroke dibagi menjadi dua dengan subsub nya: 1. tanpa adanya progesifitas lanjut.Gejala dan tanda gangguan neurologis yang berlangsung lebih lama dari 24 jam dan kemudian pulih kembali (dalam jangka waktu kurang dari tiga minggu). Stroke Haemorrhagi Perdarahan intrakranial dibedakan berdasarkan tempat perdarahannya. 3) In Evolutional atau Progressing Stroke Gejala gangguan neurologis yang progresif dalam waktu enam jam atau lebih. b.

dalam beberapa hari yang menyebabkan timbulnya istilah Stroke in evolusion.Perdarahan Subarachnoid yaitu perdarahan yang mempunyai dua kausa utama: rupture suatu aneurisma vaskuler dan trauma kepala. c. perdarahan dan spasme vaskuler) atau oleh karena . PATOFISIOLOGI & POHON MASALAH Infark serbral adalah berkurangnya suplai darah ke area tertentu di otak.Stroke Kriptogenik yaitu. terjadi akibat sumbatan mendadak pembuluh intrakranium besar tetapi tanpa penyebab yang jelas 2. Perdarahan Intraserebrum (parenkimatosa) Hipertensif yaitu perdarahan ke dalam jaringan otak (parenkim) paling sering terjadi akibat cedera vaskuler yang dipicu oleh hipertensi dan rupture salah satu dari banyak arteri kecil yang menembus jauh ke dalam jaringan otak b. c. Stroke Embolik yaitu terjadi karena embolus yang biasanya terjadi saat beraktifitas d. Perdarahan dapat masiv dan ekstravasasi darah ke dalam ruang sub arachnoid dapat berlangsung cepat sehingga angka kematian cukup tinggi. emboli. Suplai darah ke otak dapat berubah (makin lmbat atau cepat) pada gangguan lokal (thrombus. Perdarahan subdural dan epidural yaitu perdarahan yang terjadi karena adanya trauma. Luasnya infark bergantung pada faktor-faktor seperti lokasi dan besarnya pembuluh darah dan adekuatnya sirkulasi kolateral terhadap area yang disuplai oleh pembuluh darah yang tersumbat.Stroke Haemoragic a.Stroke ini sebagian besar terjadi saat dinamika sirkulasi menurun misalnya saat tidur.

dapat berkembang anoksia cerebral. Edema dan kongesti disekitar area. thrombus dapat berasal dari flak arterosklerotik . 2. Karena thrombosis biasanya tidak fatal. Thrombus dapat pecah dari dinding pembuluh darah terbawa sebagai emboli dalam aliran darah. Hal iniakan me yebabkan perdarahan cerebral. Jika terjadi septik infeksi akan meluas pada dinding pembukluh darah maka akan terjadi abses atau ensefalitis .gangguan umum (hipoksia karena gangguan paru dan jantung). Perubahan disebabkan oleh anoksia serebral dapat reversibel untuk jangka waktu 4-6 menit. cerebro Perdarahanintraserebral yang sangat luas akan menyebabkan dibandingkan keseluruhan vaskuler.. atau darah dapat beku pada area yang stenosis. jika tidak terjadi perdarahan masif. Oklusi pada pembuluh darah serebral oleh embolus menyebabkan edema dan nekrosis diikuti thrombosis. Iskemia jaringan otak yang disuplai oleh pembuluh darah yang bersangkutan. Perdarahan pada otak lebih disebabkan oleh ruptur arteriosklerotik kematian dan hipertensi dari pembuluh penyakit darah. jika aneurisma pecah atau ruptur. Dengan berkurangnya edema pasien mulai menunjukan perbaikan. Edema dapat berkurang dalam beberapa jam atau kadang-kadang sesudah beberapa hari. Thrombus mengakibatkan . Atherosklerotik sering/cenderung sebagai faktor penting terhadap ortak. Jika sirkulasi serebral terhambat. 1. atau jika sisa infeksi berada pada pembuluh darah yang tersumbat menyebabkan dilatasi aneurisma pembuluh darah. Perubahan irreversibel bila anoksia lebih dari 10 menit.CVA. dimana aliran darah akan lambat atau terjadi turbulensi. Anoksia serebral dapat terjadi oleh karena gangguan yang bervariasi salah satunya cardiac arrest . Area edema ini menyebabkan disfungsi yang lebih besar daripada area infark itu sendiri.

Kecemasan ancaman kematian. Penurunan kesadaran dan Dysphagia 14.Intoleransi aktifitas (ADL ) Kematian sell otak 9. Arteritis sebagai akibat lues / arteritis temporalis. Ischemia dan hipoksia jaringan otak 7.Resiko injury 3. 12.l dari jantung (emboli serebri ). ( DEFICIT NEUROLOGIS ) 11.Jalan nafas tak efektif. 10. 13. Penurunan Blood Flow ke otak 6.POHON MASALAH Faktor penyebab : Kualitas pembuluh darah tidak baik Trombosis pembuluh darah ( trombosis serebri ). Emboli a. . kebutuhan tubuh ). 2. 8.Resiko peningkatan TIK. Kerusakan sistem motorik dan sensorik 5.Kurang pengetahuan prognosis dan EDEMA JARINGAN OTAK Infark otak 1.Gangguan nutrisi (kurang dari 4.Inkontinensia alfi.Kerusakan komunikasi  Kelemahan / paralyse verbal.Defisit perawatan diri.Kerusakan mobilitas fisik.Inefektif bersihan jalan nafas.Inkoninensia uri.Resiko kerusakan integritas  Kelumpuhan / hemiplegi kulit.

3. 5. .Penurunan penglihatan. 1.Deficit kognitif dan bahasa ( komunikasi ). 4.Unilateral tanda dari perdarahan cerebral.Pelo / disartria.  Hitung darah lengkap. Jika terjadi peningkatan TIK maka dijumpai tanda dan gejala :  Perubahan tingkat kesadaran : penurunan orientasi dan respons terhadap stimulus. nafas irreguler.   Keluhan kepala pusing. hal. PENATALAKSANAAN MEDIK. 6. 2.Kerusakan Nervus Kranialis. 1998.LABORATORIUM. 1. 7. : Susan C. A.B SOUNDERS COMPANY. peningkatan suhu tubuh. Muntah projectile ( tanpa adanya rangsangan ).dewit. tekanan nadi melebar.(Sumber dan 363).350 TANDA DAN GEJALA.  Perubahan tanda vital : nadi rendah.  Perubahan ukuran pupil : bilateral atau unilateral dilatasi. ESSENTIALS OF MEDICAL SURGICAL NURSING.Kelumpuhan dan kelemahan.PEMERIKSAAN PENUNJANG.Inkontinensia alvi dan uri.  Perubahan kemampuan gerak ekstrimitas : kelemahan sampai paralysis. W.

2.  Vasodilator perifer.  Anti tukak misal cimetidine.  Antikoagulan.Mencegah peningkatan TIK. a. X ray tengkorak 2. b.  Diazepam bila kejang. SCAN KEPALA Angiografi serebral. MRI.  Deuritika. Urinalisis. hiperglikemi dan stress ulcer/perdarahan lambung.DIAGNOSTIK.  Antihipertensi.Operatif.  Manitol : mengurangi edema otak.       B.PENGOBATAN.   Kimia klinik.  Kortikosteroid : pada kasus ini tidak ada manfaatnya karena klien akan mudah terkena infeksi. 1.Pemenuhan cairan dan elektrolit dengan pemasangan infus. EEG. Pungsi lumbal. Apabila upaya menurunkan TIK tidak berhasil maka perlu dipertimbangkan evakuasi hematom karena hipertensi . Masa protombin.Konservatif.

Latihan fisik teratur. Cegah obesitas.       Aspirasi. Mencegah penyakit jantung dapat mengurangi resiko stroke. Hidrochepalus.      Mempertahankan kadar gula normal. Diabetus insipidus. Terapi fisik.intrakranial yang menetap akan membahayakan kehidupan klien. Atrial fibrilasi. Paralitic illeus.Pada fase sub akut / pemulihan ( > 10 hari ) perlu :    Terapi wicara. Mencegah minum alkohol. PENCEGAHAN :    Kontrol teratur tekanan darah. Menghentikanmerokok. Peningkatan TIK. 3. . Stoking anti embolisme KOMPLIKASI DAN PENCEGAHAN STROKE. Menurunkan konsumsi kholesterol dan kontrol rutin. cholesterol ASUHAN KEPERAWATAN.

Kelainan Jantung.A. Pernah TIAs. Jenis CVA Bleeding memberikan gejala yang cepat memburuk.Ras : kulit hitam lebih tinggi angka kejadiannya. Kronologis peristiwa CVA Bleeding sering setelah melakukan aktifitas tiba-tiba terjadi keluhan neurologis misal : sakit kepala hebat. penurunan kesadaran sampai koma. Biasanya klien datang ke rumah sakit dalam kondisi : penurunan kesadaran atau koma serta disertai kelumpuhan dan keluhan sakit kepala hebat bila masih sadar. UPAYA YANG TELAH DILAKUKAN. Perlu di kaji adanya riwayat DM. RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG.Oleh karena itu klien biasanya langsung di bawa ke Rumah Sakit. . Hipertensi.Jenis kelamin : laki-laki lebih tinggi 30% di banding wanita. KELUHAN UTAMA. RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA. Perlu di kaji mungkin ada anggota keluarga sedarah yang pernah mengalami stroke. RIWAYAT PENYAKIT DAHULU. Policitemia karena hal ini berhubungan dengan penurunan kualitas pembuluh darah otak menjadi menurun.PENGKAJIAN BIODATA Pengkajian biodata di fokuskan pada : Umur : karena usia di atas 55 tahun merupakan resiko tinggi terjadinya serangan stroke.

 Adakah tanda-tanda lidah jatuh ke belakang. Deteksi adanya : tanda-tanda peningkatan TIK yaitu peningkatan Tekanan Darah disertai dengan pelebaran nadi dan penurunan jumlah nadi.PEMENUHAN KEBUTUHAN SEHARI-HARI. Otak ) Kaji adanya keluhan sakit kepala hebat. B3 ( Brain / Persyarafan.Meliputi :       mandi makan/minum bab / bak berpakaian berhias aktifitas mobilisasi klien membutuhkan bantuan dalam memenuhi sehari-hari dari bantuan sebagaian sampai PEMERIKSAAN FISIK DAN OBSERVASI. Perlu di kaji adanya :  Sumbatan jalan nafas karena penumpukan sputum dan kehilangan refleks batuk. Tanda-tanda inkontinensia uri. Apabila telah mengalami kelumpuhan sampai terjadinya koma maka perlu kebutuhan total. pupil .  Catat jumlah dan rama nafas B2 ( Blood / sirkulasi ). BI ( Bright / pernafasan).  Auskultasi suara nafas mungkin ada tanda stridor. Observasi tingkat kesadaran .Periksa adanya unilateral. B4 ( Bladder / Perkemihan ).

Biasanya di jumpai tanda kecemasan karena ancaman kematian diekspresikan dengan menangis. Resiko peningkatan TIK berhubungan dengan isi otak sekunder terhadap perdarahan otak . Resiko injury berhubungan (kurang dengan dari kelemahan dan ) kelumpuhan.B5 ( Bowel : Pencernaan ) Tanda-tanda inkontinensia alfi.DIAGNOSA YANG MUNCUL. 5. 2. salah interpretasi. klien dan keluarga sering bertanya tentang pengobatan dan kesembuhannya. Kecemasan kurang (ancaman kematian) berhubungan dengan informasi prognosis dan terapi. penurunan kesadaran. Inkoninensia uri berhubungan dengan defisit neurologis. 6. B6 ( Bone : Tulang dan Integumen ). Kaji adanya kelumpuhan atau kelemahan. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan dan kelumpuhan.Tanda-tanda decubitus karena tirah baring lama. 9.Kurang pengetahuan penambahan prognosis dan terapi berhubungan dengan kurang informasi. kerusakan mobilitas .kelumpuhan. B. Intoleransi aktifitas (ADL) berhubungan dengan kehilangan kesadaran. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan kelumpuhan. 1. 7. 8. SOSIAL INTERAKSI. Gangguan nutrisi kebutuhan tubuh berhubungan dengankesulitan menelan(disfagia). hemiparese dan hemiplegi. 3. 4. Inkontinensia alfi berhubungan dengan dan kerusakan neurologis.Kekuatan otot.

Pneumonia dengan penekanan pada saraf sensori. INTERVENSI KEPERAWATAN. EDEMA OTAK. parise dan paralise. Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan mobilitas.  Pernafasan cheyne stokes  Muntah projectile. INTERVENSI Pantau tanda dan gejala peningkatan TIK  tekanan darah  nadi  GCS  Respirasi  Keluhan sakit kepala hebat  Muntah projectile RASIONAL Deteksi dini peningkatan TIK untuk melakukan tindakan lebih lanjut.  Nadi melebar. . NO 1. 11. Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan klien tidak mengalami peningkatan tekanan intra kranial . ketidakmampuan bicara verbal atau tidak mampu komunikasi. 12. ortostatik sekunder kehilangan kesadaran. 13. Kriteria hasil : Tidak terdapat tanda peningkatan tekanan intra kranial :  Peningkatan tekanan darah.  Pencegahan TIK meningkat di laksanakan. Rencana keperawatan dari diagnosa keperawatan diatas adalah : 1. Intervensi. RESIKO PENINGKATAN TIK BERHUBUNGAN DENGAN PENAMBAHAN ISI OTAK SEKUNDER TERHADAP HIPOKSIA.10. Gangguan persepsi sensori : perabaan yang berhubungan Resiko terjadinya : kekeringan kornea. C.  Sakit kepala hebat.

tenang.2. 6. 4. sesuai dengan . Aktifitas ini menimbulkan manuver valsalva yang merusak aliran balik vena dengan kontriksi vena jugularis dan peningkatan TIK. Rangsangan anal dengan jari(boleh tapi dengan hati-hati ) hindari mengedan. Fleksi atau rotasi ekstrem leher mengganggu cairan cerebrospinal dan drainage vena dari rongga intra kranial.Hindari mengubah posisi dengan cepat. 5. sunyi Meninggikan kepala dapat membantu drainage vena untuk mengurangi kongesti vena. Mencegah konstipasi dan mengedan yang menimbulkan manuver valsalva. Berikan obat-obatan pesanan:  Anti hipertensi. Konsul dokter untuk mendapatkan pelunak feces jika di perlukan.  Anti koagulan.  Pupil unilateral Tinggikan kepala tempat tidur 15-30 derajat kecuali ada kontra indikasi. Meningkatkan istirahat dan menurunkan rangsangan membantu menurunkan TIK.   Menurunkan tekanan darah. Masase carotid memperlambat frekuensi jantung dan mengurangi sirkulasi sistemik yang diikuti peningkatan sirkulasi secara tiba-tiba. Hindari hal-hal berikut : Masase karotid 3. Fleksi leher atau rotasi > 45 derajat. fleksi ekstrem panggul dan lutut. Mencegah terjadinya trombus. Pertahankan lingkungan dan pencahayaan redup.

Analgetika. . Mencegah stres ulcer.       Terapi intra vena pengganti cairan dan elektrolit. Meningkatkan daya tahan tubuh.   Mencegah cairan.  Roborantia.  Anti tukak. Memperbaiki sirkulasi darah otak.  Vasodilator perifer. defisit Mencegah obstipasi. Pelunak feces. Mengurangi nyeri.

Tinggikan kepala dan tangan 6. Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas Intervensi. Tidak terjadi kontraktur sendi Bertambahnya kekuatan otot 2. PERSEPSI SENSORI : PERABAAN PADA YANG SARAF BERHUBUNGAN DENGAN PENEKANAN . Berikan papan kaki pada ekstrimitas dalam posisi fungsionalnya 5. Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien RASIONAL Menurunkan resiko terjadinnya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek pada daerah yang tertekan Gerakan aktif memberikan massa. GANGGUAN MOBILITAS FISIK BERHUBUNGAN DENGAN HEMIPARESE / HEMIPLEGIA Tujuan : Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya Kriteria hasil 1. GANGGUAN SENSORI. Lakukan gerak pasif pada ekstrimitas yang sakit 4. tonus dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi jantung dan pernapasan Otot volunter akan kehilangan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih untuk digerakkan 3.2. INTERVENSI 1. Ubah posisi klien tiap 2  jam  2. Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstrimitas  yang tidak sakit 3.

4. . Melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan intepretasi diri. 5. seperti membedakan panas/dingin. rasa persendian Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan. seperti memberikan klien suatu benda untuk menyentuh. tajam/tumpul. meningkatkan resiko terjadinya trauma. 4. 3.Tujuan : Meningkatnya persepsi sensorik : perabaan secara optimal. 3. kaji adanya lindungan yang berbahaya. Membantu klien untuk mengorientasikan bagian dirinya dan kekuatan dari daerah yang terpengaruh. Meningkatkan keamanan klien dan menurunkan resiko terjadinya trauma. sebagai penetapan rencana tindakan Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan perasaan kinetik berpengaruh terhadap keseimbangan/posisi dan kesesuaian dari gerakan yang mengganggu ambulasi. latihan yang membawa area yang sakit RASIONAL Untuk mengetahui tipe dan lokasi yang mengalami gangguan. Biarkan klien menyentuh dinding atau batas-batas lainnya. 2. Buatlah klien sadar akan semua bagian tubuh yang terabaikan seperti stimulasi sensorik pada daerah yang sakit. meraba. Kriteria hasil :  Klien dapat mempertahankan tingakat kesadaran dan fungsi persepsi  Klien mengakui perubahan dalam kemampuan untuk meraba dan merasa  Klien dapat menunjukkan perilaku untuk mengkompensasi terhadap perubahan sensori INTERVENSI Tentukan kondisi patologis klien Kaji kesadaran sensori. 5. 1. 2. Lindungi klien dari suhu yang berlebihan. posisi bagian tubuh/otot. 1. Anjurkan pada klien dan keluarga untuk melakukan pemeriksaan terhadap suhu air dengan tangan yang normal Anjurkan klien untuk mengamati kaki dan tangannya bila perlu dan menyadari posisi bagian tubuh yang sakit. Penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu dalan mengintegrasikan sisi yang sakit.

Lakukan validasi terhadap 7. Membantu klien untuk persepsi klien mengidentifikasi ketidakkonsistenan dari persepsi dan integrasi stimulus. ingatkan 6. berlebihan/kebingungan yang 6. .melewati garis tengah. Hilangkan kebisingan/stimulasi berhubungan dengan sensori eksternal yang berlebihan berlebih. 7. Menurunkan ansietas dan respon individu untuk merawata sisi emosi yang yang sakit.

pemenuhan kebutuhan secara individual 2. bermanfaat dalam mencegah frustasi. Meningkatkan perasaan makna dilakukannya atau diri dan kemandirian serta keberhasilannya mendorong klien untuk 5. Klien mungkin menjadi sangat 3. KURANGNYA PERAWATAN DIRI BERHUBUNGAN DENGAN HEMIPARESE/HEMIPLEGI DAN KEHILANGAN KESADARAN. Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi dan mengidentifikasi . Kolaborasi dengan ahli berusaha secara kontinyu fisioterapi/okupasi 5.4. Membantu dalam tingkat kekurangan dalam mengantisipasi/merencanakan melakukan perawatan diri. tetapi berikan bantuan yang diberikan bantuan sesuai kebutuhan. Hindari melakukan sesuatu ketakutan dan sangat untuk klien yang dapat dilakukan tergantung dan meskipun klien sendiri. adalah penting bagi klien untuk melakukan sebanyak mungkin untuk dirisendiri untuk mempertahankan harga diri dan meningkatkan 4. Beri motivasi kepada klien untuk 2. Meningkatkan harga diri dan tetap melakukan aktivitas dan semangat untuk berusaha beri bantuan dengan sikap terus-menerus sungguh 3. Tentukan kemampuan dan 1. Tujuan Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi Kriteria hasil  Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan kemampuan klien  Klien dapat mengidentifikasi sumber pribadi/komunitas untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan INTERVENSI RASIONAL 1. Berikan umpan balik yang positif pemulihan untuk setiap usaha yang 4.

kebutuhan khusus alat penyokong .

Makan lunak/cairan kental mudah untuk mengendalikannya didalam mulut. menelan dan reflek batuk 2. makan lunak ketika klien dapat menelan air 7. Dapat meningkatkan pelepasan endorfin dalam otak yang meningkatkan nafsu makan 9. Tentukan kemampuan klien dalam mengunyah. Stimulasi bibir untuk menutup dan membuka mulut secara manual dengan menekan ringan diatas bibir/dibawah dagu jika dibutuhkan 4. Untuk menetapkan jenis makanan yang akan diberikan pada klien 2. Memberikan stimulasi sensori (termasuk rasa kecap) yang dapat mencetuskan usaha untuk menelan dan meningkatkan masukan 5. Anjurkan klien untuk berpartisipasidalam program latihan/kegiatan. Tujuan Tidak terjadi gangguan nutrisi Kriteria hasil MENELAN KURANG DARI SEKUNDER KEBUTUHAN OTOT KEHILANGAN DENGAN KELEMAHAN  Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan  Hb dan albumin dalam batas normal INTERVENSI 1. 9. Berikan makan dengan berlahan pada lingkungan yang tenang 6. Letakkan posisi kepala lebih tinggi pada waktu. Membantu dalam melatih kembali sensori dan meningkatkan kontrol muskuler 4. Mungkin diperlukan untuk memberikan cairan pengganti . Letakkan makanan pada daerah mulut yang tidak terganggu 5. Klien dapat berkonsentrasi pada mekanisme makan tanpa adanya distraksi/gangguan dari luar 6. Menguatkan otot fasial dan dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya tersedak 8. menurunkan terjadinya aspirasi 7. RESIKO GANGGUAN NUTRISI TUBUH BERHUBUNGAN DAN MENGUNYAH KESADARAN. Untuk klien lebih mudah untuk menelan karena gaya gravitasi 3. Kolaborasi dengan tim dokter untuk memberikan ciran melalui iv atau makanan melalui selang RASIONAL 1.6. selama dan sesudah makan 3. Mulailah untuk memberikan makan peroral setengah cair. Anjurkan klien menggunakan sedotan meminum cairan 8.

dan juga makanan jika klien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut .

Rencana Tindakan : INTERVENSI 1. lebih luas.dalam paru mempermudah lahan. pernapasan. Lakukan pernapasan diafragma. Tahan napas selama 3 . R/ Pernapasan diafragma menurunkan frek. Lakukan napas ke dua . tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat. Tujuan : Kebersihan jalan napas efektif. menyebabkan frustasi. 4. 6.5 detik R/ Meningkatkan volume udara kemudian secara perlahan.7. Napas dalam dan perlahan saat R/ Memungkinkan ekspansi paru duduk setegak mungkin. 5. 2. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar. Auskultasi paru sebelum dan R/ Pengkajian ini membantu . Menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi. Ajarkan klien tentang metode R/ Batuk yang tidak terkontrol yang tepat pengontrolan batuk. adalah melelahkan dan tidak efektif. 3.   Mendemontrasikan batuk efektif. RASIONAL R/ Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik. mungkin melalui mulut. BERSIHAN JALAN NAPAS TAK EFEKTIF BERHUBUNGAN DENGAN KETIDAKMAMPUAN KESADARAN. Kriteria hasil :  BATUK AKTIF SEKUNDER GANGGUAN Mencari posisi yang nyaman yang memudahkan peningkatan pertukaran udara. keluarkan sebanyak pengeluaran sekresi sekret. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal.

yang mengarah pada atelektasis. EVALUASI Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan. R/ Expextorant untuk memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan parunya. meningkatkan masukan cairan 1000 sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi. mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien. (Lismidar. Dorong atau berikan perawatan R/ Hiegene mulut yang baik mulut yang baik setelah batuk. Dalam hal ini diperlukan pengetahuan tentang kesehatan. 7. dan anggota tim kesehatan lainnya. Konsul photo toraks. Tujuan evaluasi adalah untuk menilai apakah tujuan dalam rencana keperawatan tercapai atau tidak dan untuk melakukan pengkajian ulang. meningkatkan rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut. dan strategi evaluasi.sesudah klien batuk. Pelaksanaan fisioterapi dada / postural drainase Pemberian expectoran. 8. perawat. . patofisiologi. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain : Dengan dokter. Evaluasi adalah kegiatan yang di sengaja dan terus-menerus dengan melibatkan klien. 1990). R/ Sekresi kental sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus. radiologi dan fisioterapi. Pemberian antibiotika. 9. Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi : mempertahankan hidrasi yang adekuat.

com/journal/item/11/Askep_CVA http://varyaskep.wordpress.com/home/diit-pada-penderita-cva-stroke/ http://jovandc.html http://radit11.wordpress.blogspot.com/2009/01/21/askep-pada-kliendengan-cva/ .DAFTAR PUSTAKA http://kapukpkusolo.com/2009/04/14/4/ http://radioharmonifm.multiply.com/2010/02/cva-stroke.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful