PROPOSAL SKRIPSI PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN JAMPERSAL TERHADAP PENGETAHUAN IBU TENTANG PROGRAM JAMPERSAL DI LINGKUNGAN KERJA PUSKESMAS

SEDAYU 1 KABUPATEN BANTUL

OLEH : VIDI ADITYA PAMORI WIBOWO PUTRA (G0010192)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2013

4

PERSETUJUAN Proposal Penelitian/Skripsi dengan judul : PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN JAMPERSAL TERHADAP PENGETAHUAN IBU TENTANG PROGRAM JAMPERSAL DI LINGKUNGAN KERJA PUSKESMAS SEDAYU 1 KABUPATEN BANTUL

OLEH : Nama : Vidi Aditya Pamori Wibowo Putra, NIM (G0010192), Tahun 2013

Telah disetujui untuk diuji di hadapan Tim Validasi Proposal Penelitian/Tim Ujian Skripsi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret Surakarta

Pada Hari

,

2013

Pembimbing Utama,

Penguji Utama,

H. Rifai Hartanto, dr, M. Kes NIP. 19530621 198601 1 001 Pembibing Pendamping,

H. Endang Sutisna Sulaiman, dr, M. Kes NIP. 19751221 200501 2 001 Penguji Pendamping

Sumardiyono, SKM, M.Kes NIP. 19650706 198803 1 002

4

PERNYATAAN

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Surakarta,

Vidi Aditya Pamori Wibowo Putra NIM. (G0010192)

4

000 kelahiran hidup. Jawa Tengah merupakan provinsi penyumbang kematian ibu terbesar setelah Jawa Barat ( Mediakom. menyatakan bahwa AKB di Indonesia mencakup angka 228 per 100. 1 . Bidang Ilmu : Ilmu Kesehatan Masyarakat IV. Data dari Survey Demografi Kesehatan Indonesia ( SDKI ) pada tahun 2007. 2011 ). 2010 ). salah satu diantaranya adalah AKI dan AKB. Pemerintah Republik Indonesia dalam rangka untuk mengurangi AKI dan AKB. dimana permasalahan tersebut diprioritaskan sebagai salah satu target tujuan Millenium Development Goals ( MDG’s ) ( BAPPENAS. Nama Peneliti/NIM Semester : Vidi Aditya Pamori Wibowo Putra /G0010192 : VI (enam) II. pada tahun 2011 mencanangkan suatu program yang merupakan perluasan dari Program Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas). Judul Skripsi : Pengaruh Penyuluhan Kesehatan JAMPERSAL Terhadap Pengetahuan Ibu Tentang Program JAMPERSAL Di Lingkungan Kerja Puskesmas Sedayu 1 Kabupaten Bantul III. Angka Kematian Bayi Baru Lahir ( AKN ) 19 per 1000 kelahiran hidup. yaitu Jaminan Persalinan (Jampersal) (Kementerian Kesehatan. 2011 ). Indonesia yang merupakan negara berkembang masih memiliki beberapa masalah kesehatan yang serius.PROPOSAL SKRIPSI I. 2011). Latar Belakang Indonesia masih memiliki Angka Kematian Bayi ( AKB ) dan Angka Kematian Ibu ( AKI ) yang masih cukup tinggi dibandingkan dengan negara ASEAN yang lain ( JUKNIS Jampersal. AKB 34 per 1000 kelahiran hidup.

Menurut Peraturan Menteri Nomor 2526/Menkes/PER/XII/2011 tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan (Juknis Jampersal). Upaya penurunan AKI harus difokuskan pada penyebab langsung kematian ibu. namun penyuluhan 4 . yang terjadi 90% pada saat persalinan dan sesaat setelah persalinan yaitu perdarahan (28%). Kematian Ibu juga disebabkan beberapa faktor resiko keterlambatan ( tiga terlambat ). dan lain-lain (11%).( Bertom P. diantaranya terlambat dalam pemeriksaan kehamilan. dan terlambat sampai di fasilitas kesehatan pada saat terjadi keadaan gawat darurat (JUKNIS Jampersal. abortus (5%). disebutkan : Jampersal adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. Masih mudanya program Jampersal. Pada setiap program. contohnya iklan layanan masyarakat mengenai kesehatan KB. tujuan utama dari program Jampersal adalah untuk meningkatkan akses terhadap pelayanan persalinan yang dilakukan oleh dokter atau bidan ( JUKNIS Jampersal. pertolongan persalinan. emboli (3%). eklamsia (24%). Sekarang ini sudah terlihat iklan-iklan layanan masyarakat yang ditujukan kepada masyarakat sebagai salah satu usaha memasyarakatkan gagasan-gagasan sosial. trauma obstetric (5%). komplikasi puerperium (8%). mengakibatkan kebanyakan dari masyarakat terutama masyarakat di daerah terpencil yang masih belum mengetahui tentang program Jampersal ( Pratiwi Y. infeksi (11%). 2011). yang isi pesannya berasal dari golongan atau instansi tertentu ( pemerintah maupun kelompok ).Latar belakang lahirnya program Jampersal tidak lepas dari kewajiban pemerintah melalui UU No 40 Tahun 2004 yang mengharuskan pemerintah menjamin kesehatan semua masyarakatnya termasuk rakyat tidak mampu dan miskin dalam mengurangi AKI dan AKB. pasti memiliki suatu tujuan. 2011 ). pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir. partus macet (5%).I.C. Salah satu faktor penyebab utama kematian ibu adalah kondisi finansial ibu hamil yang kurang mampu. iklan anti narkoba ataupun iklan tentang pajak dan sebagainya. 2011 ). terlambat dalam memperoleh pelayanan persalinan dari tenaga kesehatan. 2011 ).

000 kelahiran hidup pada tahun 2011.000 kelahiran hidup jika dibandingkan dengan tahun 2010. melalui penilitian dengan judul 4 . dimana angka kematian ibu melahirkan hanya sebesar 82.1 per 100. Hal ini menarik.kesehatan tentang Jampersal masih jarang ditemukan ( Wardani. dengan Kecamatan Dlingo merupakan kecamatan yang paling luas ( 55.1 per 100. Dalam perkembangan AKI. 2011 ) Secara geografis Kabupaten Bantul merupakan salah satu wilayah yang berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik di Daerah Istimewa Yogyakarta. program Jampersal sudah mulai dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia. terdapat angka kematian bayi 8. Banten dan Jawa Barat ( mediakom. akan tetapi AKI di kecamatan Sedayu terjadi peningkatan.263 jiwa penduduk dan kecamatan Sedayu memiliki kepadatan penduduk sebesar 1304 jiwa/km2. Pemanfaatan adalah aktivitas menggunakan proses dan sumber belajar ( Hartono. penulis tertarik untuk meniliti apakah terdapat pengaruh antara penyuluhan tentang program Jampersal dengan pengetahuan masyarakat terhadap program Jampersal. yaitu lima provinsi di Indonesia yang menjadi penyumbang terbanyak AKI pada tahun 2010 adalah sebagai berikut Jawa Barat. Status kesehatan Kabupaten Bantul.36 km2 dan terdiri dari 4 desa. Kabupaten Bantul memiliki 921. Angka kematian ibu di Kabupaten Bantul mengalami peningkatan sebesar 29. ditemukan fakta. menurut catatan dinas kesehatan Bantul. Kabupaten Bantul memiliki 17 kecamatan. Berdasar pada masalah tersebut. maka sosialisasi kepada masyarakat perlu dilakukan agar tujuan dari jampersal dapat terpenuhi.5 per 1000 kelahiran hidup dan angka kematian ibu melahirkan adalah 111.000 kelahiran hidup ( BPS Bantul. Berdasar dari permasalahan tentang kurangnya sosialisasi kepada masyarakat tentang pelayan jampersal. 2010 ).2 per 100. karena pada 1 januari 2011. Jawa Tengah.87 km2 ). Iklaniklan kesehatan tentang Jampersal diperlukan agar masyarakat mempunyai wawasan dan pemanfaatan Jampersal dapat optimal. Kecamatan Sedayu merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Bantul dengan luas wilayah 34. 2010 ). 2010 ). Nusa Tenggara Timur.

Tujuan Penelitian A. B. Perumusan Masalah Bagaimana pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan Jampersal Ibu di lingkungan kerja Puskesmas Sedayu 1 Kabupaten Bantul? VI. 2. Tujuan Umum Penelitian ini diselenggarakan dengan tujuan secara umum untuk mengetahui pengaruh penyuluhan terhadap pengetahuan Jampersal ibu di lingkungan kerja Puskesmas Sedayu 1 Kabupaten Bantul. Untuk mengetahui pengetahuan dasar ibu tentang Jampersal sebelum penyuluhan. IBU KERJA TENTANG PROGRAM SEDAYU JAMPERSAL 1 DI PUSKESMAS KABUPATEN V. VII. Untuk mengetahui pengetahuan ibu tentang Jampersal setelah dilakukan penyuluhan. Manfaat Aplikatif Penilitian ini diharapkan dapat menjadi suatu langkah awal untuk menyampaikan informasi tentang program Jampersal kepada 4 . Manfaat Teoritis Orientasi penelitian ini adalah dapat menjelaskan pengaruh penyuluhan terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang program Jampersal. 2.PENGARUH PENYULUHAN KESEHATAN JAMPERSAL TERHADAP PENGETAHUAN LINGKUNGAN BANTUL. Manfaat Penelitian 1. Tujuan Khusus 1.

masyarakat. VIII. mengatakan ada 4 tingkat pencegahan penyakit dalam perspektif kesehatan masyarakat. dapat menjalankan kegiatan sehari-hari. kesehatan individu. tidak ada keluhan. misalnya kesehatan manusia. dan sebagainya.36 Tahun 2009. sosial dan ekonomi. Pengertian Promosi kesehatan dalam ilmu kesehatan masyarakat mempunyai dua pengertian. Pengertian promosi kesahatan yang pertama adalah sebagai bagian dari pencegahan penyakit. sehingga tujuan utama dari program Jampersal dapat tercapai. serta produktif secara ekonomi dan sosial” ( Notoatmodjo. Keempat dimensi kesehatan tersebut saling mempengaruhi dalam mewujudkan tingkat kesehatan pada seseorang. kesehatan mencakup 4 aspek. yakni : fisik (badan). sehat atau kesehatan telah dirumuskan dalam Undang-Undang Kesehatan No. 2) Promosi Kesehatan a. Tinjauan Pustaka A. mental dan sosial dan tidak hanya bebas dari penyakit dan cacat. Health promotion (peningkatan/promosi kesehatan). Itulah sebabnya. kesehatan masyarakat. 2010 ). yakni : 1. kelompok atau masyarakat. Secara awam sehat diartikan sebagai keadaan seseorang yang dalam kondisi tidak sakit. ibu sehat. maka kesehatan bersifat holistik atau menyeluruh yang mengandung keempat aspek ( Hartono. Sehat dalam pengertian secara kondisional mempunyai batasan yang berbeda-beda. Specific protection (perlindungan khusus melalui imunisasi). orang sehat.36 Tahun 2009 sebagai berikut : “Keadaan sempurna baik fisik. 4 . dan sebagainya. Sehat menjelaskan kondisi atau keadaan dari subjek. 2010 ). 2. Tinjauan Pustaka 1) Kesehatan Dalam bahasa inggris kata health mempunyai 2 pengertian dalam bahasa Indonesia. Sedangkan kesehatan menjelaskan tentang sifat dari subjek. Pada Undang-Undang Kesehatan No. Menurut batasan ilmiah. Level dan Clark. misalnya anak sehat. mental (jiwa). dan sebagainya. yaitu “sehat” atau “kesehatan”. kesehatan binatang.

Berdasarkan rumusan WHO (1994). 4. agar orang lain tersebut membantu atau mendukung terhadap apa yang diinginkan. Dalam konteks promosi kesehatan. menyebarluaskan. Sedangkan pengertian yang kedua. promosi kesehatan diartikan sebagai upaya memasarkan. 2010 ). dan di berbagai tingkat. Advokasi ( Advocacy ) Advokasi adalah kegiatan untuk meyakinkan orang lain. Tujuan utama kegiatan ini adalah agar para tokoh masyarakat. Cara ini sering disebut “strategi”. Dukungan Sosial ( Social Support ) Strategi dukungan sosial ini adalah suatu kegiatan untuk mencari dukungan sosial melalui tokoh-tokoh masyarakat ( toma ). yakni teknik atau cara bagaimana mencapai atau mewujudkan visi dan misi promosi kesehatan tersebut secara berhasil guna dan berdaya guna. 4 . diperlukan cara dan pendekatan yang strategis. 2. baik tokoh masyarakat formal maupun informal. 5. strategi promosi kesehatan secara global ini terdiri dari 3 hal. advokasi adalah pendekatan kepada para pembuat keputusan atau penentu kebijakan di berbagai sektor. b. Disability limitation (membatasi atau mengurangi terjadinya kecacatan). sehingga para pejabat tersebut mau mendukung program kesehatan yang kita inginkan. Strategi Promosi Kesehatan Guna mewujudkan atau mencapai visi dan misi tersebut secara efektif dan efisien. sebagai jembatan antar sektor kesehatan sebagai (pelaksana program kesehatan) dengan masyarakat ( penerima program ). Oleh sebab itu. yaitu : 1. promosi kesehatan dalam konteks ini adalah peningkatan kesehatan. dan mengenalkan kesehatan ( Hartono.3. Rehabilitation (pemulihan). Early diagnosis and prompt treatment (diagnosis dini dan pengobatan segera).

3) Penyuluhan a. tahu dan mengerti. Penyuluhan yang berasal dari kata dasar “suluh” atau obor. teknologi dan seni yang dihasilkan oleh perguruan tinggi ke dalam praktek atau kegiatan praktis. sekaligus sebagai terjemahan dari kata voorlichting dapat diartikan sebagai kegiatan 4 . Bentuk kegiatan pemberdayaan ini dapat diwujudkan dengan berbagai kegiatan. pelatihan-pelatihan untuk kemampuan peningkatan pendapatan keluarga ( Notoatmodjo. Pemberdayaan Masyarakat ( empowerment ) Pemberdayaan adalah strategi promosi kesehatan yang di tujukan kepada masyarakat langsung. penyuluhan dapat diartikan sebagai proses penyebarluasan informasi tentang ilmu pengetahuan. secara perseorangan maupun secara kelompok dan meminta pertolongan. tetapi juga mau dan bisa melakukan suatu anjuran yang ada hubungannya dengan kesehatan (Creasoft 2008). 2) Penyuluhan sebagai proses penerangan dan pemberi penjelasan. Tujuan utama pemberdayaan adalah mewujudkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri ( visi promosi kesehatan ). keluarga.3. kelompok atau masyarakat secara keseluruhan ingin hidup sehat. Pengertian penyuluhan Pengertian dari penyuluhan kesehatan adalah kegiatan pendidikan yang dilakukan dengan cara menyebarkan pesan. dimana individu. sehingga masyarakat tidak saja sadar. menanamkan keyakinan. Penyuluhan dapat diartikan dalam beberapa pengertian diantaranya ( Notoamodjo : 2007) : 1) Penyuluhan sebagai penyebarluasan informasi Sebagai terjemahan dari kata extension. Penyuluhan kesehatan adalah gabungan berbagai kegiatan dan kesempatan yang berlandaskan prinsip-prinsip belajar untuk mencapai suatu keadaan. pengorganisasian dan pengembangan masyarakat dalam bentuk misalnya : koperasi. antara lain : penyuluhan kesehatan. tahu bagaimana caranya dan melakukan apa yang bisa dilakukan. 2010 ).

Penyuluhan yang dilakukan oleh penyuluh tidak boleh hanya bersifat “searah” melainkan harus diupayakan berlangsungnya komunikasi “timbalbalik” yang memusat sehingga penyuluh dapat memahami aspirasi masyarakat. tetapi merupakan proses yang dilakukan secara terus-menerus. baik secara langsung berupa ucapan. Sehingga. penyuluhan adalah proses aktif yang memerlukan interaksi antara penyuluh dan yang disuluh agar terbangun proses perubahan “perilaku” (behaviour) yang merupakan perwujudan dari pengetahuan. sikap. 2010 ) . manakala mereka menolak atau belum siap menerima informasi yang diberikan. tindakan. kegiatan penyuluhan tidak berhenti pada penyebarluasan informasi dan memberikan penerangan. yang bersifat searah (one way) dan pasif. 3) Penyuluhan sebagai proses perubahan perilaku Pengertian tentang penyuluhan tidak hanya diartikan sebagai kegiatan penerangan. Sebagai proses penerangan. agar penyuluhan yang dilakukan tidak bersifat “pemaksaan kehendak” melainkan tetap menjamin hubungan yang harmonis antara penyuluh dan kliennya secara berkelanjutan ( Hartono. kegiatan penyuluhan tidak saja terbatas pada memberikan penerangan. maupun tidak langsung melalui kinerja dan atau hasil kerjanya. penyuluhan juga sering diartikan sebagai kegiatan penerangan. bahasa tubuh.penerangan atau memberikan keterangan bagi yang belum mengerti terhadap suatu hal. memakan waktu dan melelahkan. sekuat-tenaga dan pikiran. Tetapi. hal ini penting. Dengan kata lain. 4) Penyuluhan sebagai proses belajar Penyuluhan sebagai proses pendidikan atau proses belajar diartikan 4 . tetapi juga menjelaskan mengenai segala informasi yang ingin disampaikan kepada kelompok sasaran yang akan menerima manfaat penyuluhan. dan keterampilan seseorang yang dapat diamati oleh orang atau pihak lain. sampai terjadinya perubahan perilaku yang ditunjukkan oleh penerima manfaat penyuluhan (beneficiaries) yang menjadi klien penyuluhan. sehingga mereka benar-benar memahami seperti yang dimaksudkan oleh penyuluh atau juru penerangnya.

2. Tujuan Penyuluhan 1. serta berperan aktif dalam upaya mewujudkan derajat kesehatan yang optimal. 2012 ). kegiatan penyebarluasan informasi dan penjelasan yang diberikan dapat merangsang terjadinya proses perubahan perilaku yang dilakukan melalui proses pendidikan atau kegiatan belajar. Hal ini penting untuk dipahami. Tercapainya perubahan perilaku individu. 2) Tingkat Sosial Ekonomi Semakin tinggi tingkat sosial ekonomi seseorang. pemberian hadiah. semakin mudah pula dalam menerima informasi baru. Pendidikan dapat mempengaruhi cara pandang seseorang terhadap informasi baru yang diterimanya. Artinya. semakin mudah seseorang menerima informasi yang didapatnya ( Liawati. Maka dapat dikatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikannya. 1. seperti pembujukan. keluarga dan masyarakat dalam membina dan memelihara perilaku hidup sehat dan lingkungan sehat. kelompok dan masyarakat yang sesuai dengan konsep hidup sehat baik fisik. 4 . keluarga. 3. Tingkat Pendidikan. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan terhadap sasaran dalam keberhasilan penyuluhan kesehatan. Menurut WHO tujuan penyuluhan kesehatan adalah untuk merubah perilaku perseorangan dan atau masyarakat dalam bidang kesehatan. c. atau bahkan melalui kegiatan-kegiatan pemaksaan baik melalui penciptaan kondisi lingkungan fisik maupun sosial ekonomi. perubahan perilaku yang terjadi dan dilakukan oleh sasaran tersebut berlangsung melalui proses belajar. b.bahwa. karena perubahan perilaku dapat dilakukan melalui beragam cara. maupun pemaksaan melalui aturan dan ancaman-ancaman. Terbentuknya perilaku sehat pada individu. mental dan sosial sehingga dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian.

pengertian atau pesan secara lisan kepada sekelompok sasaran sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan. 3) Metode Curah pendapat Metode curah pendapat adalah suatu bentuk pemecahan masalah di mana setiap anggota mengusulkan semua kemungkinan pemecahan masalah yang terpikirkan oleh masing-masing peserta. dan evaluasi atas pendapatpendapat tadi dilakukan kemudian. 4) Metode Panel Metode panel adalah pembicaraan yang telah direncanakan di depan 4 . 4) Kepercayaan Masyarakat Masyarakat lebih memperhatikan informasi yang disampaikan oleh orang – orang yang sudah mereka kenal. 5) Ketersediaan Waktu di Masyarakat Waktu penyampaian informasi harus memperhatikan tingkat kehadiran masyarakat aktifitas masyarakat dalam penyuluhan. 2) Metode Diskusi kelompok Metode diskusi kelompok adalah pembicaraan yang direncanakan dan telah dipersiapkan tentang suatu topik pembicaraan diantara 5 – 20 peserta (sasaran) dengan seorang pemimpin diskusi yang telah ditunjuk. Metode yang dapat digunakan dalam melakukan penyuluhan ( Notoatmodjo : 2005) : 1) Metode Ceramah Metode ceramah adalah suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan suatu ide.3) Adat Istiadat Pengaruh dari adat istiadat dalam menerima informasi baru merupakan hal yang tidak dapat diabaikan. karena masyarakat kita masih sangat menghargai dan menganggap adat istiadat sebagai sesuatu yang tidak boleh diabaikan. karena sudah timbul kepercayaan masyarakat dengan penyampai informasi. untuk menjamin tingkat d.

b. Promosi kesehatan adalah 4 . 8) Metode Seminar Metode seminar adalah suatu cara di mana sekelompok orang berkumpul untuk membahas suatu masalah dibawah bimbingan seorang ahli yang menguasai bidangnya. 4. televisi radio. 7) Metode Simposium Metode simposium adalah serangkaian ceramah yang diberikan oleh 2 sampai 5 orang dengan topik yang berlebihan tetapi saling berhubungan erat. adegan dengan menggunakan alat peraga. Pengertian pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu. dilakukan oleh dua orang atau lebih untuk dipakai sebagai bahan pemikiran oleh kelompok. Metode ini digunakan terhadap kelompok yang tidak terlalu besar jumlahnya.pengunjung atau peserta tentang sebuah topik. Sumber Pengetahuan Sumber pengetahuan biasanya diperoleh dari buku bacaan. ide dan prosedur tentang sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan. 6) Metode Demonstrasi Metode demonstrasi adalah suatu cara untuk menunjukkan pengertian. 2005 : 3). media seperti koran. diperlukan 3 orang atau lebih panelis dengan seorang pemimpin. tetapi sebagian besar memilih suatu proses yaitu proses belajar dan membutuhkan suatu bantuan misalnya bantuan seseorang yang lebih menguasai suatu hal. Pengetahuan a. bantuan alat misalnya buku dan sebagainya (Notoatmodjo. yang terjadi setelah orang melakukan penginderaan melalui kelima inderanya. 5) Metode Bermain peran Metode bermain peran adalah memerankan sebuah situasi dalam kehidupan manusia dengan tanpa diadakan latihan. promosi kesehatan.

c. Cara coba-coba ini dilakukan dengan menggunakan kemungkinan dalam memecahkan masalah dan apabila kemungkinan tersebut tidak berhasil maka dicoba kemungkinan yang lain. 1997). Apabila kemungkinan kedua gagal pula maka dicoba kembali dengan kemungkinan yang ketiga. Itulah sebabnya maka cara ini disebut metode Trial (coba) and Error (gagal atau salah) atau metode coba salah atau coba coba. Contoh refleks dari metode ini yaitu ditemukannya kina sebagai obat malaria secara coba coba oleh seorang penderita malaria. 1986). b) Cara Kekuasaan atau Otoritas Pada kehidupan manusia sehari-hari banyak sekali kebiasaan 4 .upaya yang dilakukan terhadap masyarakat sehingga mereka mau dan mampu untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri (Piagam Ottawa Charter. Cara Memperoleh Pengetahuan Terdapat dua cara untuk memperoleh kebenaran tentang suatu pengetahuan. Cara cara penemuan pengetahuan pada periode ini antara lain: a) Cara coba salah Cara yang paling tradisional yang pernah digunakan oleh manusia dalam memperoleh pengetahuan yaitu dengan menggunakan cara coba coba atau yang lebih dikenal dengan kata Trial and Error. sampai masalah tersebut dapat terpecahkan. Australia. dan apabila kemungkinan ketika gagal dicoba kemungkinan keempat dan seterusnya. Batasan promosi kesehatan adalah bukan hanya perubahan perilaku tetapi juga perubahan lingkungannya. sehingga menekankan bahwa promosi kesehatan adalah suatu program perubahan perilaku masyarakat yang menyeluruh dalam konteks masyarakatnya (Victorian Health Fondation. yang dapat dibagi menjadi : (Notoatmojo.2007) 1) Cara Tradisional atau Non Ilmiah Cara kuno atau cara tradisional untuk memperoleh pengetahuan ini dipakai orang untuk mendapatkan kebenaran pengetahuan sebelum ditemukannya metode ilmiah atau metode penemuan secara sistematik dan logis.

Kebiasaan-kebiasaan ini biasanya diwariskan turun temurun dari generasi ke generasi misalnya mengapa harus ada acara selapanan dan turun tanah pada bayi? Mengapa ibu yang sedang menyusui harus minum jamu? Mengapa anak tidak boleh makan telur?. Hal ini dilakukan dengan cara mengenang kembali pengalaman yang diperoleh dalam rangka memecahkan permasalahan yang dihadapai pada masa lalu apabila dengan cara yang digunakan tersebut orang dapat memecahkan masalah yang dihadapi. dalam memperoleh kebenaran. Sejalan dengan perkembangan kebudayaan umat manusia maka cara berpikir manusiapun berkembang. b) Melalui jalan pikiran. a) Berdasarkan Pengalaman Pribadi Pengalaman adalah sumber pengetahuan atau merupakan suatu cara untuk memperoleh kebenaran pengetahuan oleh sebab itu pengalaman pribadi pun dapat digunakan sebagai upaya memperoleh pengetahuan. tetapi bila gagal menggunakan cara tersebut ia tidak akan mengulangi cara itu dan berusaha mencari cara yang lain sehingga dapat berhasil memecahkannya. Demikian pula pendapat yang dikeluarkan oleh tokoh tokoh ilmu pengetahuan atau filsafat yang selalu digunakan sebagai referensi dalam memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi. Pendapat itu diterima oleh masyarakat pada waktu itu sampai jangka waktu yang lama tanpa melalui pembuktian empiris. maka untuk memecahkan masalah lain yang sama orang dapat pula menggunakan cara tersebut. Pada bidang kesehatan otoritas pengetahuan tersebut bukan saja berasal dari ahli-ahli kesehatan atau kedokteran tetapi juga berasal dari para dukun.kebiasaan dan tradisi yang dilakukan oleh orang tanpa melalui penalaran apakah yang dilakukannya tersebut baik atau tidak. Induksi pada dasarnya adalah cara melahirkan pemikiran secara tidak langsung melalui pernyataanpernyataan yang dikemukakan kemudian dicari hubungannya sehingga dapat 4 . dari sini manusia telah mampu menggunakan penalarannya dalam memperoleh pengetahuannya dengan kata lain. pengetahuan manusia telah menggunakan jalan pikirannya baik melalui induksi maupun deduksi.

kemudian metode berpikir induktif yang dikembangkan oleh Bacon ini dilanjutkan oleh Deobold Van Dallen. Cara ini disebut “Metode Penelitian Ilmiah” atau lebih populer disebut Metodologi Penelitian atau Research Metodology. e. Tingkat pengetahuan Menurut Notoatmodjo. Apabila proses pembuatan kesimpulan itu melalui pernyataan pernyataan khusus kepada yang umum dinamakan induksi sedangkan deduksi adalah pembuatan kesimpulan dari pernyataan pernyataan umum kepada yang khusus. 2) Memahami (Comprehension) Memahami merupakan kemampuan untuk menjelaskan secara benar 4 . beliau mengatakan bahwa dalam memperoleh kesimpulan dapat dilakukan dengan cara mengadakan observasi langsung dan membuat pencatatanpencatatan terhadap semua fakta yang berhubungan dengan obyek yang diamatinya. yaitu : 1) Tahu/mengenal (Know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. 2) Cara Modern atau Cara Ilmiah Cara modern dalam memperoleh pengetahuan ialah cara baru dalam memperoleh pengetahuan yang lebih sistematis. Cara ini pertama kali dikembangkan oleh Francis Bacon (1561-1626). Beliau adalah seorang tokoh yang mengembangkan metode berpikir induktif. awalnya ia mengadakan pengamatan langsung terhadap gejala-gejala alam atau kemasyarakatan yang kemudian hasil pengamatannya tersebut dikumpulkan dan diklasifikasikan yang akhirnya diambil kesimpulan umum. Oleh sebab itu tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah.dirumuskan suatu kesimpulan. termasuk kedalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali terhadap sesuatu yang spesifik dan seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. logis dan ilmiah. 2007 : 3 tingkat pengetahuan memiliki enam tingkatan diantaranya.

menyusun dan merencanakan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi perilaku (non 4 . meramalkan. Kedalaman pengetahuan yang ingin kita ketahui atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan domain di atas (Notoatmojo. Beberapa teori telah dicoba untuk mengungkapkan determinan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku. Contoh menyimpulkan terhadap obyek yang telah dipelajarinya. f. antara lain teori dari Lawrence Green dalam buku yang dikarang oleh Notoatmojo (2003) yang mencoba menganalisa perilaku manusia dari tingkat kesehatan. 4) Analisis (Analysis) Analisis merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau obyek kedalam komponen-komponen akan tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Penilaian ini berdasarkan pada suatu kriteria yang ada. 5) Sintesis (Syntesis) Sintesis merupakan suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk yang baru dan formasi yang ada. 3) Aplikasi (Aplication) Aplikasi adalah kemampuan menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi nyata dan dapat menerapkan dalam kehidupan sehari hari. 6) Evaluasi (Evaluation) Evaluasi adalah kemampuan untuk melakukan judifikasi atau penelitian terhadap materi atau obyek. Misalnya merumuskan. Pengukuran Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menyatakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau responden. khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan. Orang yang telah memahami obyek atau materi harus dapat menjelaskan.tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan materi tersebut secara benar. menyebutkan.2003).

dan nilai-nilai. sikap. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan (Juknis Jampersal. pertolongan persalinan. tersedia atau tidaknya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan. nifas. 3) Faktor-faktor penguat (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku kesehatan. persalinan. Manfaat yang diterima oleh penerima manfaat jaminan persalinan terbatas pada pelayanan kehamilan. yaitu : 1) Faktor-faktor pengaruh (predisposing factor) yang terwujud dalam pengetahuan. 1) Tujuan umum Meningkatkan akses terhadap pelayanan kehamilan. pelayanan nifas termasuk pelayanan KB pasca persalinan dan pelayanan bayi baru lahir yang dilakukan oleh tenaga kesehatan di fasilitas kesehatan (Juknis jampersal. Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau dibentuk dari 3 faktor. 5. persalinan. b. dan pelayanan nifas ibu oleh tenaga kesehatan yang kompeten. 2011). 2011).behaviour causes). Jaminan Persalinan a. nifas. pertolongan persalinan. keyakinan. bayi baru lahir dan KB pasca persalinan yang dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang di fasilitas kesehatan dalam rangka menurunkan AKI dan AKB. 2) Tujuan Khusus a) Meningkatkan cakupan pemeriksaan kehamilan. Pengertian Jaminan Persalinan Jaminan persalinan (jampersal) adalah jaminan pembiayaan pelayanan persalinan yang meliputi pemeriksaan kehamilan. 4 . 2) Faktor-faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam lingkungan fisik. Tujuan Jampersal Pada dasaranya jampersal adalah perluasan kepesertaan dari Jaminan Kesahatan dan tidak hanya mencakup masyarakat miskin saja.

Sasaran yang dijamin oleh Jampersal adalah : 1) ibu hamil. d. 3) penanganan komplikasi ibu hamil. maka sasaran jampersal dikaitkan dengan pencapaian tujuan tersebut. Sasaran yang dimaksud diatas adalah kelompok sasaran yang berhak mendapat pelayanan yang berkaitan langsung dengan kehamilan dan persalinan baik normal maupun dengan komplikasi atau resiko tinggi untuk mencegah AKI dan AKB dari suatu proses persalinan. transparan. pemeriksaan fisik dan penyuluhan kesehatan. pelayanan transportasi rujukan termasuk persiapan rujukan dan pelayanan spesialistik. c. 3) ibu nifas (sampai 42 hari pasca melahirkan). Ruang Lingkup Jampersal Ruang lingkup pelayanan kesehatan Program Jamkesmas di puskesmas dan jaringannya meliputi upaya pelayanan kesehatan perorangan (promotif. kuratif dan rehabilitatif) yang berupa rawat jalan dan rawat inap bagi peserta Program Jamkesmas. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan program Jamkesmas mencakup semua jenis pelayanan kesehatan dasar yang tersedia di puskesmas dan jaringannya. dan akuntabel. nifas. Ruang lingkup Program Jamkesmas di puskesmas dan jaringannya meliputi: 1) Pelayanan Kesehatan Dasar a) Pelayanan Kesehatan Rawat Jalan Tingkat Pertama Pelayanan rawat jalan tingkat pertama yang dimaksud adalah pelayanan kesehatan yang diberikan oleh puskesmas dan jaringannya yang meliputi: 1) konsultasi medis. c) Terselenggaranya pengelolaan keuangan yang efisien. Sasaran Jampersal Sesuai dengan tujuan jampersal yakni untuk menurunkan AKI dan AKB. pelayanan jaminan persalinan peserta Jamkesmas di PPK Jampersal.b) Meningkatkan cakupan pelayanan : 1) bayi baru lahir. 2) ibu bersalin. 2) keluarga berencana pasca persalinan. efektif. dengan standar. pedoman SOP yang sama bagi setiap masyarakat sesuai indikasi medis. preventif. bersalin. 4) bayi baru lahir (sampai dengan usia 28 hari). 2) laboratorium 4 . KB pasca persalinan oleh tenaga kesehatan yang kompeten. dan bayi baru lahir.

termasuk cabut atau tambal. dimana selama hamil. 2) 1 kali pada triwulan kedua. persalinan dan nifas. Keluarga Berencana (KB). 9) observasi penderita dalam rangka diagnostik. 6) pemeriksaan laboratorium dan penunjang medis lainnya. abortus inkompletus dan missed abortion. urin. 2) Pelayanan Kesehatan Rawat Inap Tingkat Pertama Pada kondisi pasien memerlukan perawatan maka harus dilakukan perawatan lanjutan di puskesmas perawatan jenis pelayanan rawat inap tingkat pertama pada puskesmas perawatan meliputi: 1) penanganan gawat darurat. 7) pemberian obat Tempat pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama adalah di puskesmas dan jaringannya baik berupa kegiatan pelayanan kesehatan di dalam gedung maupun kegiatan pelayanan kesehatan di luar gedung. 8) pertolongan sementara persiapan rujukan. dan anjuran senam hamil. 5) pemberian obat. 2) penatalaksanaan hiperemesis gravidarum. 4) pemeriksaan dan pengobatan gigi. Dalam pelaksanaan ANC juga dilaksanakan konseling yang meliputi pengetahuan komplikasi kehamilan. b) Penatalaksanaan komplikasi kehamilan antara lain :1) penatalaksanaan abortus imminen. ASI eksklusif. termasuk penanganan efek samping dan komplikasi. 3) tindakan medis kecil. ibu hamil diperiksa sebanyak 4 kali dengan frekuensi: 1) kali pada triwulan pertama. 3) perawatan pasien rawat inap (termasuk akomodasi dan makan pasien) termasuk perawatan gizi buruk dan gizi kurang. Pemeriksaan kehamilan yang jumlahnya melebihi frekuensi diatas pada tiap-tiap triwulan tidak dibiayai oleh program ini.sederhana (darah. 3) 2 kali pada triwulan ketiga. 7) pelayanan rujukan. persiapan persalinan. 3) stabilisasi dan persiapan rujukan pada kasus : 4 . 3) Pelayanan Jaminan Persalinan a) Pemeriksaan kehamilan Antenatal Care (ANC) sesuai standar yang dibiayai oleh program ini mengacu pada buku Pedoman Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). perawatan bayi baru lahir. 5) pemeriksaan ibu hamil/nifas/menyusui. deteksi dini dan antisipasi oleh keluarga. Inisiasi Menyusui Dini (IMD). bayi dan balita. 6) pelayanan Keluarga Berencana (alat kontrasepsi disediakan BKKBN). 5) tindakan medis yang diperlukan. 2) perawatan persalinan dan pasca persalinan. dan feses rutin). 4) perawatan satu hari (one day care).

3) persalinan per vaginam dengan kondisi bayi kembar. pengelolaan dana dilakukan dengan tetap memperhatikan dan merujuk pada ketentuan pengelolaan keuangan yang berlaku. 4) penyulit pada persalinan. 2) Pengelola keuangan di Kabupaten/Kota harus memiliki buku catatan ( buku kas umum ) dan dilengkapi dengan buku kas pembantu untuk mencatat setiap uang masuk dan keluar dari kas yang terpisah dengan sumber pembiayaan yang lain. dan akuntabel. Pengelolaan Dana Agar penyelengggaraan Jampersal terlaksana dengan baik. lancar. yang mengusulkan besaran tarif pelayanan untuk ditetapkan oleh Bupati/Walikota (2) Pelayanan persalinan (baik untuk peserta Jamkesmas dan maupun 4 . 5) Infeksi. Apabila tidak ada Perda tarif yang berlaku di daerah tersebut maka dapat Kepala Dinas Kesehatan Kabupaen/Kota. 3) retensio plasenta. ekstraksi vacum/ekstraksi forcep). c) Penatalaksanaan persalinan: Persalinan per vaginam : 1) persalinan per vaginam normal.Hipertensi dalam kehamilan dan perdarahan pada masa kehamilan. dan pembukuan terbuka bagi pengawas ekstern setelah memperoleh klaim dengan langkah berikut : 3) Tim pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota melakukan pembayaran atas klaim dengan langkah sebagai berikut : a) Puskesmas melakukan pengajuan klaim atas : (1) Pelayanan kesehatan dasar yang dilakukan oleh puskesmas dan jaringan berdasarkan kepada Perda tarif yang berlaku di daerah tersebut. Langkah-langkah pengelolaan dilaksanakan sebagai berikut : 1) Kepala Dinas Kesehatan menunjuk seorang staf di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai pengelola keuangan Jamkesmas pelayanan dasar dan Jaminan Persalinan. transparan. E. 2) hipertensi dalam persalinan. d) Penatalaksanaan komplikasi persalinan: 1) perdarahan. 2) persalinan per vaginam dengan tindakan (sungsang.

disimpan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai dokumen yang dipersiapkan apabila dilakukan audit oleh aparat pengawas funsional. d) Tim pengelola Jampersal kabupaten/kota melakukan verifikasi atas klaim mencakup (1) Kesesuaian realisasi pelayanan dan besaran tarif disertai bukti pendukungnya. 6). b) Klaim pelayanan Jampersal yang diajukan fasilitas/tenaga kesehatan swasta (bidan praktik mandiri. b) Bukti-bukti pendukung klaim sebagaimana dipersyaratkan. Tim pengelola Jampersal kabupaten/kota membuat dan mengirimkan pertanggungjawaban berupa laporan rekapitulasi realisasi penggunaan dana dan pemanfaatan pelayanan Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar 4 verifikasi yang dilakukan tim pengelola . klinik bersalin. (3) Melakukan kunjungan ke lapangan untuk pegecekan kesesuaian dengan kondisi sebenarnya bila diperlukan. yakni : a) Dokumen pengeluaran dana dan dokumen atas klaim Jamkesmas dan Jampersal di pelayanan dasar oleh Puskesmas dan fasilitas kesehatan swasta serta. (2) Pengecekan klaim dari fasilitas/tenaga kesehatan swasta yang memberikan pelayanan Jampersal beserta bukti pendukungnya. 5) Seluruh berkas rincian bukti-bukti. (4) Memberikan rekomendasi dan laporan pertanggungjawaban atas klaim-klaim tersebut kepada Kepala Dinas Kesehatan setiap bulan yang akan dijadikan laporan pertanggungjawaban keuangan pusat. dan sebagainya) c) Pembayaran atas klaim-klaim sebagaimana dimaksud pada huruf a danb dilakukan berdasarkan kabupaten/kota.penerima manfaat Jampersal non peserta Jamkesmas) mengacu pada tarif pelayanan Jampersal yang ditetapkan Menteri Kesehatan. 4) Sesuai dengan ketentuan pengelolaan keuangan negara. jasa giro/bunga bank harus disetorkan oleh Tim Pengelola Jamkesmas Kabupaten/Kota ke kas negara.

tim pengelola kabupaten/kota mengirimkan rekapitulasi pemanfaatan program melalui format yang ditentukan berbasis web kepada tim pengelola Jamkesmas dan Jampersal pusat. Bagi mereka yang tidak memiliki jaminan pembiayaan persalinan dapat memanfaatkan program Jampersal. 7) Untuk mempercepat penyampaian informasi mengenai pemanfaatan pelayanan Jamkesmas dan Jampersal serta penyerapan dana. klini bersalin. Juga di fasilitas kesehatan swasta yang memiliki perjanjian kerja sama dengan tim pengelola yang meliputi dokter praktik swasta. dapat diajukan sepanjang memenuhi ketentuan yang diatur dalam Permenkes No 631 Tahun 2011 tentang Juknis Jampersal. klinik swasta. Jampersal mulai berlaku sejak januari 2011. Program jampersal dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia yang terdiri dari 33 provinsi dengan jumlah kabupaten/kota sebanyak 497. Pelayanan Jampersal ini terdapat di fasilitas kesehatan pemerintah seperti Puskesmas dan jaringannya termasuk Poskesdes/Polindes dan rumah sakit. yang meliputi :     Dokumen klaim lengkap Pelayanan diberikan di fasilitas kesehatan yang telah ditentukan Klien tidak dijamin oleh pihak/asuransi lain Telah diverifikasi oleh Tim Pengelola Kabupaten/Kota. 2011 ). Sedangkan untuk klaim. bidan praktik swasta.yang telah dibayarkan ke Puskesmas dan fasilitas kesehatan swasta ke tim pengelola pusat. Mereka hanya membutuhkan kartu identitas diri untuk mendapatkan pelayanan Jampersal yang dijamin oleh pemerintah ( Buku Saku Jampersal. atau rumah sakit swasta. 4 .

Tingkat Pendidikan 3. Hipotesis 4 .IX.Tingkat Ekonomi 4. Kerangka Pemikiran Penyuluhan Program Jampersal Pendidik Alat Bantu Metode 1.Tingkat sosial 2.Pengalaman Subyek Sasaran Peningkatan pengetahuan program Jampersal Pada tahap know (tahu) Diteliti Tidak diteliti : : X.Ketersediaan waktu 5.

peneliti memberikan perlakuan ( intervensi ) terhadap kelompok eksperimen. Metodologi Penelitian A. Kriteria inklusi: a) bersedia menjadi sampel penelitian b) hadir dalam penyuluhan c) pendidikan formal minimal Sekolah Menengah Pertama ( SMP ) d) umur antara 20-25 tahun e) ibu yang belum mengikuti program Jampersal 2. Anggota populasi yang menjadi subjek penilitian adalah ibu dengan kriteria 1. Jenis Penilitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental kuasi : ( Pretest posttest with control group ) karena dalam pemberian penyuluhan tidak dilakukan randomisasi dan kontrol terhadap variabel-variabel yang berpengaruh terhadap eksperimen tidak dilakukan ( arief. Subjek Penelitian Populasi dalam penilitian ini adalah ibu di ruang lingkup kerja puskesmas Sedayu 1 Kabupaten Bantul. XI. kriteria eksklusi: a) tidak bersedia menjadi sampel penilitian b) tidak hadir dalam penyuluhan 4 . Lokasi penelitian Penilitian ini dilakukan di Puskesmas Sedayu 1 Kabupaten Bantul. dan hasil perlakuan diamati.Hipotesis penelitian ini adalah penyuluhan meningkatkan pengetahuan ibu tentang program Jampersal. C. B. yaitu penyuluhan tentang program Jampersal. dan dianalisis. diukur. Dalam penilitian ini. 2004 ).

E. Variabel bebas 2. dan tingkat ekonomi.c) pendidikan formal di bawah SMP d) umur kurang dari 20 tahun dan lebih dari 25 tahun e) Ibu yang sudah mengikuti program Jampersal D. F. Variabel terikat 3. dimana setiap penelitian yang datanya akan dianalisis secara statistik dengan analisis bivariat membtuhkan sampel minimal 30 subjek. Variabel luar a) Dapat dikendalikan : usia dan tingkat pendidikan formal : paparan penyuluhan : tingkat pengetahuan b) Tidak dapat dikendalikan : pendidikan non-formal. Variabel Bebas a) Definisi Proses belajar non-formal kepada sekolompok individu atau masyarakat yang di pimpin oleh seorang pembicara dan di tunjang oleh beberapa alat penunjang tertentu. fasilitas. dimana sampel tersebut merupakan hasil restriksi ( dengan kriteria inklusieksklusi ). dalam bahasa inggris disebut Rule Of Thumb. tingkat sosial. Variabel Penelitian 1. Definisi Operasional Variabel 1. Teknik Sampling Analisis bivariat adalah analisis yang melibatkan sebuah variabel dependen dan sebuah variabel independen. b) Metode penyuluhan : ceramah 4 : paparan penyuluhan . Menurut patokan umum. Dari pernyataan tersebut peniliti mengambil 30 sampel untuk masingmasing kelompok baik kelompok eksperimen atau kontrol yang sudah masuk ke dalam kriteria inklusi.

melainkan berselang waktu kira-kira 15-30 hari dengan alasan 1) Untuk menghindari faktor retensi yang mempengaruhi validasi rancangan penelitian pada penelitian prepostest. yaitu menghindarkan subjek yang masih mengingat / pernah 4 . dalam penelitian ini tingkat pengetahuan diukur sebelum penyuluhan ( pretes ) dan sesudah penyuluhan ( postest ). print out materi.c) Media penyuluhan slide ( power point ). Pretest dan Postest idealnya tidak dilaksanakan dalam hari yang sama. Variabel Terikat a) Definisi : tingkat pengetahuan : jenjang atau perihal yang diketahui : kategorikal-nominal : satu kali paparan penyuluhan dalam satu : terpapar ( hadir ) dicatat dalam lembar seseorang terhadap sesuatu b) Pengetahuan yang diukur 1) Mengetahui definisi dan ruang lingkup pelayanan Jampersal 2) Mengetahui tata cara mengikuti program Jampersal 3) Mengetahui siapa saja yang berhak mengikuti program Jampersal 4) Mengetahui tempat dan instansi yang menyediakan layanan Jampersal c) Teknis Pengukuran Tingkat Pengetahuan : Tingkat pengetahuan dapat diukur melalui kuesioner. dan alat tulis d) Materi penyuluhan 1) Definisi dan ruang lingkup pelayanan Jampersal 2) Tata cara mengikuti program Jampersal 3) Siapa saja yang berhak atas Jampersal 4) Tempat atau instansi yang menyediakan layanan Jampersal e) Alat ukur presensi f) Skala pengukuran g) Satuan periode penelitian 2.

serta mengacak pilihan jawaban.melakukan hal yang sama pada saat pretest. Akan tetapi. sehingga soal postest akan tampak berbeda dari soal pretest namun masih memiliki inti yang sama. 2) Bila terlalu lama kurun waktu antara uji awal dengan uji akhir maka hasilya kurang bagus. namun untuk meminimalisir faktor retensi. saat dilakukan penelitian 2) Alat ukur : lembar isian data 3) Skala pengukuran : kategorikal 4 . mengacak nomor. d) Alat Ukur e) Satuan : kuesioner : f) Skala pengukuran : numerik – rasio 3. makin besar terjadinya pengaruh faktor retensi. pretest dan postest pada penelitian ini dilakukan dalam hari yang sama dikarenakan keterbatasan waktu dan kemampuan peneliti. karena mungkin sudah terjadi perubahan pada diri responden dalam hal variabel yang hendak diukur. Makin pendek jarak waktu antara uji awal dan uji akhir. peniliti akan mengubah kalimat yang ada pada soal postest. Variabel Luar Terkendali a) Usia 1) Definisi : jumlah tahun yang dihitung sejak tahun kelahiran sampai ulang tahun terakhir saat dilakukan penelitian 2) Alat Ukur : lembar isian data 3) Skala pengukuran : numerik-rasio b) Tingkat pendidikan formal terakhir 1) Definisi : jenjang pendidikan terakhir sesuai kurikulum yang dijalani oleh individu.

2) Skala Pengukuran : kategorikal-nominal b) Tingkat Sosial 1) Definisi : merupakan keadaan sosial yang ada pada diri sampel yang ditentukan oleh pekerjaan individu yang diteliti 2) Skala Pengukuran : kategorikal-nominal c) Tingkat Ekonomi 1) Definisi : merupakan keadaan ekonomi dari individu yang ditentukan oleh jumlah pendapatan dan pekerjaan individu 2) Skala Pengukuran : kategorikal-nominal d) Adat Istiadat 1) Definisi : merupakan suatu kebiasaan hidup yang berlaku dalam masyarakat yang sudah dianut dan dilestarikan dalam kehidupan sehari-hari. Rancangan Penelitian KE : O1 KK : O3 4 (X) (-) O2 O4 . 2) Skala Pengukuran : kategorikal-nominal G. Variabel Luar Tak Terkendali a) Pendidikan non formal 1) Definisi : pendidikan yang tidak dilakukan oleh pendidik formal dan tidak masuk ke dalam kurikulum. 2) Skala Pengukuran : kategorikal-nominal e) Fasilitas 1) Definisi : merupakan ketersediaan sarana dan prasarana dirumah subjek penelitian yang ditentukan oleh jumlah pendapatan dan pekerjaan subjek penelitian. seperti : pendidikan dari kader-kader puskesmas atau penyuluhan tentang Jampersal sebelumnya.4.

6) kuesioner. I. 2) kursi. 3. Skema Rancangan Penilitian Keterangan : KE : kelompok eksperimen O1 : hasil pengukuran kelompok eksperimen sebelum perlakuan ( pretest ) ( X ): pemberian perlakuan penyuluhan O2 : hasil pengukuran efek perlakuan ( postest ) pada kelompok perlakuan KK : kelompok kontrol O3 : hasil pengukuran kelompok kontrol sebelum perlakuan ( pretest ) O4 : hasil pengukuran efek perlakuan ( postest ) pada kelompok kontrol ( . Alur Penelitian 1. 5) slide penyuluhan. 6. abik kelompok sampel penelitian maupun kelomok sampel kontrol diminta untuk mengisi kuesioner kembali ( posttest ) untuk mengetahui perkembangan tingkat pengetahuan sampel terhadap program Jampersal. Penghitungan skor pretest dan posttest. 3) LCD proyektor. Penyuluhan diberikan kepada kelompok sampel eksperimen sebanyak satu kali dalam penelitian ini.Gambar 1. Sampel penelitian dikumpulkan di ruang penyuluhan yang berbeda. Kelompok sampel eksperimen dan kelompok sampel kontrol tersebut diminta untuk mengisi kuesioner ( pretes ) sebagai pengukuran tingkat pengetahuan dasar sampel penelitian terhadap program Jampersal.) : tidak diberikan perlakuan penyuluhan H. 4) laptop. Instrumen Penelitian Alat dan bahan yang digunakan dalam penilitian ini adalah : 1) ruangan penyuluhan. Sampel penelitian. 7. Analisis data. 5. Survei lokasi penelitian 2. 4. 4 .

Jika memenuhi syarat ( data berdistribusi normal ). 5. maka dipilih uji T tidak berpasangan. 4.J. Uji Analisis Uji analisis yang digunakan adalah uji bivariat dengan menggunakan Uji T tidak berpasangan. 2012 ). Data harus berdistribusi normal ( wajib ) 2. Varians data boleh sama. yaitu : 1. Jika variabel baru hasil transformasi berdistribusi normal maka digunakan uji T tidak berpasangan 6. apabila data yang didapat nantinya memenuhi syarat untuk Uji T tidak berpasangan. boleh juga tidak sama 3. Jika tidak memenuhi syarat ( data tidak berdistribusi normal ). Jika variabel baru hasil transformasi tidak berdistribusi normal maka digunakan uji Mann-Whitney ( Dahlan. maka dilakukan terlebih dahulu transformasi data. 4 .

pp:43-51. Faktor-faktor yang mempengaruhi pemanfaatan jaminan persalinan (Jampersal) di Kota Bitung. Jakarta : Salemba Medika. Promosi Kesehatan Di Puskesmas Dan Rumah Sakit. 2 (1) : 2-5 4 . Kepuasan Bidan Terhadap Sistem Pembayaran Jampersal Di Kabupaten Sumbawa Provinsi NTB.go.bps. Private Practice midwives Motivation in Signing delivery assurance of Memorandum of Understanding in Semarang City. pp : 6-26. Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Bertom Pajung C (2012).php/2013-01-05-15-13-09/2013-01-0515-13-46/statistik-daerah-bantul/book/4-bantul-dalam-angka2011/7-statistik-daerah-bantul. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Sarip (2012). Hartono. Thesis S2 Dahlan. Y. (2012). M. Universitas Gajah Mada Yogyakarta. Jurnal Kesehatan masyarakat Universitas Diponegoro. Jakarta : Rineka Cipta. Thesis sarjana S-2 http://bantulkab. ( 2010 ).. pp: 113-125. (2012). S. B. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Diakses pada Maret 2013. M.XII. Pengantar Metodologi Penelitian untuk Ilmu Kesehatan. Surakarta: CSGF (The Community of Self Help Group Frum). Ika Pratiwi.id/index. Daftar Pustaka Arief. Hidayat. Thesis Sarjana S-2 Jannati rahmah M (2013). Pelayanan Kesehatan Ibu Melalui Program Jaminan Kesehatan Studi Kasus Di Kabupaten Gunung Kidul. 2004.

.. Liawati.Kemenkes. ( 2012 ). (2006) Desain Dan Ukuran Sampel Untuk Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Di Bidang Kesehatan. Muindi. E. Ettarh. Jakarta.. Profil kesehatan indonesia. C.Yogyakarta : Gadjah Mada Press. (2003). Kimani. Kemenkes RI.K. K. 2 (1) : 1-9 Murti. Bhisma. BMC health services research.Kyobutungi.com/doc/97656793/Bab-i-amp-IIJampersal-Diakses Maret 2013 Mandasari.http://id. E. (2011).p. (2012). Jurnal Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro.. Jakarta. 12(1).66. J. (2010). pp: 135-138 4 .Mberu. Hubungan Tingkat Pendidikan Dengan Pengetahuan Ibu Hamil Tentang Jampersal Di RSUD Kota Bandung tahun 2012. Determinants for participiant in a public health insurance program among resident of urbant slums in Nairobi. Peraturan menteri kesehatan republik Indonesia nomor 2562/MENKES/XII/2011 tentang petunjuk teknis jaminan persalinan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/BAPPENAS. Peta jalannya percepatan pencapaian tujuan pembangunan milenium di Indonesia. Kenya: results from a cross-sectional survey. (2012) Analisis Perbandingan Pelaksanaan Jaminan Persalinan ( Jampersal Pada Bidan Praktek Swasta (BPS) Di Wilayah Puskesmas Kota Semarang dengan Petunjuk Teknis Juknis) Jampersal Tahun 2012. Penelitian.scribd. B. R.

Jakarta : Rineka Cipta. Jakarta : Rineka Cipta. Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat.. Jakarta : Rineka Cipta. Persepsi Masyarakat Tentang Jampersal Di Kabupaten Jember. Ristrini. (2010). W. Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Jakarta : Rineka Cipta. Acces in Health Services Research : The Battle of The Frameworks. ____________. pp:75-90. (2005). Thesis sarjana S-2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. 25-32. (2005). ( 2005). XXI (01). 53. T. (2010).& Goldsmith. pp:50-64. Promosi Kesehatan & Perilaku. (2012). Nursing Outlook. N. Metodologi Penelitian Kesehatan. pp: 45-49. & Budiarto. Shoima. (2004) Wardani.C. 274-280. pp:148-150. Skripsi.Notoatmodjo. (2007). F. Pengaruh Penyuluhan Terhadap Tingkat Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Remaja Perempuan SMP Muhammadiyah 7 Surakarta. Utilisasi Pelayanan Maternal oleh Masyarakat Miskin di Pedesaan Dalam Rangka Kehamilan Aman. Ricketts. L. Rachma (2010). 4 . Universitas Negeri Surakarta. Promosi Kesehatan Teori & Aplikasi. Promosi Kesehatan Teori & Aplikasi edisi revisi 2010. pp: 49-53. pp: 24-27. ____________. ____________. pp: 32-37.S. J.

Tingkat Pengetahuan Ibu Rumah Tangga di Surabaya Tentang Iklan Layanan Masyarakat “Jampersal” di televisi.Wulan Febrianti. Ayu. Universitas Pembangunan Nasional 4 . (2012). Surabaya.

4 .

1 .