Fase Laten Memanjang Friedman mengembangkan konsep tiga tahap fungsional pada persalinan untuk menjelaskan tujuan-tujuan

fisiologis persalinan. Walaupun pada tahap persiapan (preaptory division) hanya terjadi sedikit pembukaan serviks,cukup banyak perubahan yang terjadi pada komponen jaringan ikat serviks. Tahap pembukaan/dilatasi (dilatational division) adalah saat pembukaan paling cepat berlangsung. Tahap panggul (pelvic division) berawal dari fase deselerasi pembukaan serviks. Mekanisme klasik persalinan yang melibatkan gerakangerakan dasr janin pada presentasi kepala seperti masuknya janin ke panggul, fleksi, putaran paksi dalam, ekstensi dan putaran paksi luar terutama berlangsung dalam fase panggul. Namun dalam praktik, awitan tahap panggul jarang diketahui dengan jelas.

Pola pembukaan serviks selama tahap persiapan dan pembukaan persalinan normal adlah kurva sigmoid. Dua fase pembukaan serviksa adalah fase laten yang sesuai dengan tahap persiapan dan fase aktif yang sesuai dengan tahap pembukaan. Friedman membagi lagi fase aktif menjadi fase akselerasi, fase lereng (kecuraman) maksimum, dan fase deselerasi. Awitan persalinan laten didefinisikan sebagai saat ketika ibu mulai merasakan kontraksi yang teratur.Selama fase ini, orientsi kontraksi uterus berlangsung bersama pendataran dan pelunakan serviks. Kriteria minimum Friedman untuk fase laten ke dalam fase aktif adalah kecepatan pembukaan serviks 1,2 jam bagi nulipara dan 1,5 cm untuk ibu multipara. Kecepatan pembukaan serviks ini tidak dimulai pada pembukaan tertentu. Friedman dan Sachtleben mendefinisikan fase laten berkepanjangan sebagai apabila lama fase ini lebih dari 20 jam pada nulipara dan 14 jam pada multipara.

Karena adanya kemungkinan persalinan palsu tersebut. Friedman mengklaim bahwa istirahat atau stimulasi oksitosin sama efektif ndan amannya dalam dalam memperbaiki fase laten berkepanjangan. Istirahat lebih disarankan karena persalinan palsu sering tidak disadari. tidak mengalami pendataran atau tidak membuka) dan persalinan palsu. . amniotomi tidak dianjurkan.Faktor-faktor yang mempengaruhi durasi fase laten antara lain adalah anestesia regional atau sedasi yang berlebihan. keadaan serviks yang buruk (misal: tebal.

Fase Aktif Memanjang .

Secara spesifik.Kemajuan peralinan pada ibu nulipara memiliki makna khusus karena kurva-kurva memperlihatkan perubahan cepat dalam kecuraman pembukaan serviks antara 3-4 cm. Sementar itu. Sedangkn disproporsi sefalopelfik terdiagnosa pada 45% ibu dengan persalinan macet. ia mendefinisikan arrest sebagai berhentinya secara total pembukaan atau penurunan. Penurunan dimulai pada saat tahap akhir dilatasi aktif. Friedman menganjurkan pemeriksaan fetopelvik untuk mendiagnosis disproporsi sefalopelvik. Terapi yang dianjurkan untuk persalinan yang berke3panjangan adalah . dapat secara meyakinkan digunakan sebagai batas awal persalinan aktif. dan keduanya berlangsung bersamaan. maka kecepatan normal minimum adalh 1. Ketertkaitan atau faktor lain yang berperan dalam persalinan yang berkepanjangan dan macet adalah sedasi berlebihan.5 cm/jam. Pada persalinan yang berkepanjang dan macet. diserati kontraksi uterus. Kecepatan pembukaan yang dianggap normal untuk persalinan pada nulipara adalah 1. tak maju). Pengamatan ini mungkin bermanfaat. Friedman membagi lagi masalah fase aktif menjadi gangguan protraction (berkepanjangan/berlarut-larut) dan arest (macet. ibu nulipara yang masuk ke fase aktif dengan pembukaan 3 – 4 cm dapat diharapkan mencapai pembukaan 8 sampai 10 cm dalam 3 sampai 4 jam. Demikian pula kurva-kurva ini memungkinkan para dokter mengajukan pertanyaan. dan kemacetan penurunan sebagai tidak adanya penurunan janin dalam 1 jam. Ia mendefinisikan protraksi sebagai kecepatran pembukaan atau penurunan yang lambat. fase aktif persalinan dari segi kecepatan pembukaan serviks tertinggi. yang untuk nulipara. Memahami analasisi Friedman mengenai fase aktif bahwa kecepatan penurunan janin diperhitungkan selain kecepatan pembukaan serviks. Secara konsistensi berawal dari saat pembukaan serviks 3-4 cm atau lebih. Dalam hal ini. protraksi didefinisikan sebagai kecepatan pembukaan kurang dari 1. Kemacetan pembukaan didefinisikan sebagai tidak adanya perbahan serviks dalam 2 jam. Sokol dan rekan melaporkan bahwa 25% persalinan nulipara dipersulit kelainan fase aktif. dimana disproporsi sepalopelvik terdiagnosa pada 30% dari ibu dengan kelainan protraksi. anestesi regional dan malposisi janin.2 cm/jam atau penurunan kurang dari 1 cm per jam. adalah kecepatan pembukaan kurang dari 1.5 cm per jam atau penurunan kurang dari 2 cm per jam. berapa lama fase aktif harus berlangsung. Prognosis kelainan berkepanjangan dan macet ini cukup berbeda. karena awal persalinan dapat secara meyakinkan didiagnosis secara pasti.2cm/jam. sedangkan pada multigravida angkanya adalah 15%. dimulai pada pembukaan sekitar 7-8 cm. Untuk multipara.

.penatalaksanaan menunggu. Sementara itu. Dimana berdasarkan partograf ini. Untuk multipara 1 jam diperpanjang menjadi 2 jam pada penggunaan anestesia regional. American College of Obstetrician and Gynecologists memiliki kriteria diagnosa yang berbeda. partus lama dapat didagnosa bila pembukaan serviks kurang dari 1cm/ jam selama minimal 4 jam. Pada ibu dengan paritas tinggi yang vagina dan perineumnya sudah melebar. dua atau tiga kali usaha mengejan setelah pembukaan lengkap mungkin cukup untuk mengeluarkan janin sebaliknya pada seorang ibu. Kriteria diagnosa tersebut ditampilkan pada tabel dibawah ini. sedangkan oksitosin dianjurkan untuk persalinan yang macet tanpa disproporsi sefalopelvik. maka kala dua dapat memanjang. . dengan panggul sempit atau janin besar. WHO mengajukan penggunaan partograf dalam tatalksana persalinan. Median durasinya adalah 50 menit unutk nulipara dan 20 menit untuk multipara. Kala II pada persalinann nulipara dibatasi 2 jam dan diperpanjang sampai 3 jam apabila menggunakan anestesi regional. Untuk membantu mempermudah diagnosa kedua kelainan ini. Kriteria diagnostik kelainan persalinan Kala Dua Memanjang Tahap ini berawal saat pembukaan serviks telah lengkap dan berakhir dengan keluarnya janin. atau denan kelainan gaya ekspulsif akibat anestesia regional atau sedasi yang berat.