P. 1
Habibi Ainun

Habibi Ainun

|Views: 54|Likes:
seorang yang super jenius namun masih memiliki sisi romantisme yang cukup mengharukan dan patut dijadikan contoh yang baik dalam sebuah cara menjalin kasih sayang yang dilandasi kesetiaan.
seorang yang super jenius namun masih memiliki sisi romantisme yang cukup mengharukan dan patut dijadikan contoh yang baik dalam sebuah cara menjalin kasih sayang yang dilandasi kesetiaan.

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: ÌKå Ädyä MèÇcà on Apr 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2013

pdf

text

original

Indahnya Menikah FULL Barokah Habibie & Ainun : Kesetiaan Laki-laki terlihat dari Kecerdasannya Sejak awal diberitakan

bahwa film Habibie-Ainun akan di-film-kan, banyak orang yang nggak sabar untuk segera menyaksikan filmnya, termasuk saya. Dan kemarin, beruntung saya berkesempatan untuk menyaksikan film tersebut. Di Atrium Senen, film ini diputar dua theater sekaligus. Bagi saya film ini nggak hanya mengisahkan kisah cinta inspiratif semata, tapi juga membahas tentang sejarah reformasi di tahun 1998 dimana saya belum paham betul akan kasus PT.DI dan fitnah yang menghampiri Pak Habibie. Kalimat pertama yang saya katakan, memang sama seperti mereka yang sudah lebih dulu menyaksikan film ini: Reza itu kloningannya Pak Habibie banget. Keren deh aktingnya. Walau jadinya, ucapan dia bagi saya agak kurang jelas, karena memang berlogat Jerman banget. Pada awal cerita, scene berganti cukup cepat antara di sekolahan, di Jerman, serta di rumah Habibie dan Ainun. Cukup meringkas cerita dan tidak bertele-tele. Di awal cerita, sosok Ainun lah yang lebih ditunjukkan. Betapa cerdasnya Ainun remaja yang bisa memberikan jawaban yang tepat ketika Pak Guru bertanya. Pak Guru yang berdiri diantara Habibie dan Ainun, mengatakan, “Jawaban kalian sama. Berarti kalian jodoh!” Ya, mungkin semua ini berawal dari doa Pak Guru mereka ya. Setting langsung berganti ke Jerman dimana Habibie sedang kuliah dan menggarap proyek bersama native Jerman. Pada scene ini penonton dibuat terkejut karena ketika sedang presentasi gambar di hadapan dua native, tiba-tiba saja Habibie terjatuh. Saya baru tau kalau Pak Habibie ternyata sakit TBC. Dan saya baru tau juga kalau penyakit TBC itu ada yang tidak ditandai dengan batuk-batuk. Scene langsung berganti lagi ke rumah Habibie. Di sini Ibunya meminta Habibie untuk menemani Fanny, adik lelakinya, untuk mengantarkan makanan ke rumah Ainun. Di dalam mobil, Habibie mengatakan bahwa dia nggak akan masuk ke dalam rumah Ainun, karena dulu sewaktu di SMA, dia pernah menghina Ainun, “Ainun jelek, item, kayak gula jawa.” Kata „gula jawa‟ ini yang membuat penonton ngakak. Ya, pada scene awal, memang dialogdialognya membuat penonton ngakak. Biar penonton lebih segar, mengingat masih banyak durasi yang akan dinikmati. Namun akhirnya Habibie masuk juga ke dalam rumah Ainun. Gaya jalan dan celingakcelinguknya Reza benar-benar sama dengan Pak Habibie. Di balik tirai, Habibie mendengar suara mesin jahit yang ternyata sedang digunakan Ainun. “Ainun cantik, tidak seperti gula jawa. Sekarang seperti gula pasir.” Kalimat Habibie yang kembali membuat penonton ngakak. Ainun hanya tersenyum ketika mendengar ucapan Habibie. Tidak ada rasa marah karena dulu pernah dihina „item dan kayak gula jawa‟. Ciri-ciri perempuan cerdas nomor 1: Nggak dendam kalau pernah dihina.

Sepertinya kedekatan mereka sudah diatur kedua orang-tua, walau memang mereka sebelumnya sudah berteman. Keesokan harinya, ketika Lebaran tiba, banyak lelaki yang bersilaturahmi ke rumah Ainun. Namun ketika Habibie datang (hanya) naik becak, Bapak Ainun langsung mengizinkan Ainun untuk jalan-jalan dengan Habibie. Scene Habibie naik becak kembali membuat penonton tertawa dengan pertanyaan seseorang, “Kok naik becak? Yang lain pada naik mobil!” “Kalau naik becak memangnya kenapa?” Balas Habibie dengan gaya sewot yang sangat lucu. Begitu Habibie masuk, orang ini langsung mencibir, “Miskin!” Namun, orang ini serta seluruh lelaki yang sedang „silaturahmi‟ pada keluarga Ainun dibuat tercengang. Ainun lebih memilih nge-date dengan naik becak. Ciri-ciri perempuan cerdas nomor 2: Nggak naksir cowok dari kendaraannya! Pada akhirnya, Habibie melamar Ainun di atas becak. Sebuah kalimat yang memang sebenarnya umum, namun cukup membuat terharu juga ketika diucapkan oleh Habibie, “Saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, namun saya akan menjadi suami yang baik bagi Ainun.” Dan Ainun pun membalas dengan kalimat yang sama, “Aku akan menjadi istri yang baik untuk kamu.” Ciri-ciri lelaki cerdas nomor 1: Nggak perlu pusing mau ngelamar cewek dimana. Nggak perlu di café atau di tempat yang romantis. Di atas becak pun, dia bisa melamar dan yakin, perempuan itu pasti mau menerima lamarannya. Dan ya, tanpa cincin pula. Kenapa Ainun mau, balik lagi ke ciri-ciri perempuan cerdas nomor 2. Sebuah kalimat yang bagi saya „laki-laki‟ sekali seorang Habibie ini, “Nanti kita akan hidup di Jerman. Hanya kita berdua, tanpa campur tangan keluarga besar.” Tidak ada kegalauan, kalau aku ngontrak rumah berdua nanti gajiku habis, mengingat sebelum menikah Habibie sudah menyewa flat. Jadi nggak perlu gamang, andai sesudah nikah lalu harus mengontrak rumah. Pernikahan dengan adat Jawa pun dilaksanakan. Para tamu disuguhi sirup markisah yang merupakan sponsor bagi pernikahan mereka, hehe. Setelah menjadi istri Habibie, Ainun pun meninggalkan profesi dokternya dan memilih ikut suami ke Jerman. Sebuah janji romantis yang Habibie ucapkan pada Ainun di dalam pesawat, “Akan saya buatkan pesawat yang paling nyaman buat kamu.” Ciri-ciri lelaki cerdas nomor 2: Janjinya sesuai skill nya. Bila ada lelaki yang bilang, “Akan aku ambilkan bulan di langit untukmu!” Jangan percaya kecuali dia astronot atau superman. Pada scene selanjutnya, dialog masih dibuat melucu, “Nanti kalau anak kita lahir, ranjangnya diletakkan dimana ya. Flat ini sudah cukup sempit.” “Kamu itu kejutan, makanya semuanya jadi sempit.” Baru setelah itu, scene mulai mengharu biru ketika Habibie mengatakan, “Aku memang belum sanggup menyewa flat yang lebih besar.” “Kalau begitu aku harus mencari pekerjaan, biar kita mendapat uang lebih.”

Ciri-ciri perempuan cerdas nomor 3: Ikhlas bantu suami cari nafkah. Bukan berprinsip, duit elu ya duit keluarga. Duit gue ya duit gue, jangan harap gue akan berbagi. Dimulai ketika Habibie sepulang kerja, melihat tiket kereta dan ternyata uang di dompetnya nggak cukup. Berjalan pulang dengan jarak yang cukup jauh, musim salju pula, begitu berat perjuangan beliau di awal pernikahan. Saya jadi membayangkan bagaimana perasaan Ibu Ainun ketika melihat kaki suaminya yang lecet parah, karena sepatunya jebol akibat perjalanan jauh. Kejadian yang mengharukan ini berganti dengan tawa ketika Habibie mengatakan, “Kamu masak apa aja pasti saya makan. Kamu rebus stetoskop juga pasti aku makan.” Adegan selanjutnya kembali haru ketika Ainun mengatakan bahwa dia ingin pulang saja ke Indonesia. Betapa bijaknya Habibie menjelaskan, “Kamu kuat, Ainun. Saat ini kita seperti berada dalam terowongan yang gelap. Tapi setiap terowongan pasti ada akhirnya, yaitu cahaya. Saya janji, akan bawa Ainun menuju cahaya itu.” Selanjutnya Ainun semakin menikmati hidup di Jerman dengan dua anak. Habibie kariernya makin melesat setelah proyeknya berhasil. Kurang asem sekaligus bikin ngakak juga sih waktu native Jerman bilang, “Apa mungkin dia bisa buat kereta, sedangkan kereta di negaranya aja di-import dari kita.” Ah, ternyata nggak di Indonesia nggak di Jerman, orang sirik memang banyak ya. Sebelumnya Habibie juga diragukan karena usianya yang masih muda. Ciri-ciri orang sirik nomor 1: Meragukan talenta orang yang lebih muda! “Aku ingin buat truk terbang untuk bangsaku,” ucap Habibie setelah berhasil lulus S3. Hingga akhirnya beliau mengirim surat untuk Indonesia, namun pihak Indonesia belum bersedia menerima gagasannya. Ainun pula yang membesarkan hati Habibie ketika menghadapi kekecewaan ini. Hampir di semua pekerjaan, proyek, dan mimpi-mimpinya, Habibie selalu curhat pada Ainun. Ciri-ciri perempuan cerdas nomor 4: Nyambung dengan pekerjaan suami, walau memang nggak mengerti sepenuhnya, kecuali kalau memiliki skill yang sama. Hingga akhirnya suami pun selalu curhat tentang pekerjaan dan kehidupannya. Ketika karier dan rumah-tangganya sangat stabil di Jerman, dan Ainun pun akhirnya menjadi dokter anak di Jerman (dokter di Jerman? Saya yakin native sana banyak yang jadi dokter. Namun Ainun bisa setara dengan mereka. Betapa hebatnya Ibu Ainun). Undangan dari Indonesia pun datang. Habibie diminta untuk membuat pesawat. Sebuah ungkapan yang sangat lucu, “Kenapa anda malah memajukan negara lain?” Ow ow, sejauh mana negeri ini menghargai kecerdasan beliau… Namun, jiwa nasionalisnya yang membuat beliau kembali ke Indonesia, meninggalkan istri dan dua anak di negeri orang. “Tapi aku nggak bisa membantumu mengurus anak?” Ucapnya pada Ainun. Kembali Ainun meyakinkan bahwa semua kan baik-baik saja. Ketika Ainun menelepon dari Jerman, mengabarkan bahwa anak kedua mereka dirawat, Habibie mengatakan, “Maafkan saya yang nggak bisa membantumu mengurus anak.” Ciriciri lelaki cerdas nomor 3: Tidak berprinsip, “Urusan anak ya urusan istri. Tugas gue cuma cari nafkah!”

„Budaya Indonesia‟ jelas sekali ditunjukkan pada scene ketika pesawat mulai dirancang. Mulai dari kedatangan parcel yang membuat Ibu Ainun nggak suka. Ditambah lagi dengan di dalam parcel tersebut ada sepasang jam tangan mahal. Ibu Ainun segera meminta jam tersebut dikembalikan. Ciri-ciri perempuan cerdas nomor 5: Perempuan cerdas itu hati-hati dalam menerima hadiah. Tawaran terus berdatangan, mulai dari sodoran uang segepok hingga perempuan seksi tak tau diri. Ngakak habis-habisan ketika perempuan ini diusir keluar kantor. Sepulang ke rumah, Ainun segera meledek suaminya, “Katanya tadi ada perempuan cantik ya.” Ciri-ciri perempuan cerdas nomor 6: nggak langsung cemburu, apalagi sama perempuan nggak jelas. Cerdas dan beragama, itulah yang membuat beliau tidak ingin melakukan penyimpangan proyek dalam pembuatan pesawat. “Saya pulang bukan karena uang. Royalti saya di sana cukup untuk saya makan.” Ciri-ciri lelaki cerdas nomor 4: Ogah melakukan korupsi! Hingga akhirnya si pengusaha gadungan ini mengancam akan mencari masalah selanjutnya, Habibie tetap nggak bergeming. Beliau begitu kuat akan agamanya. Ya, Ainun pula terus mengingatkan suaminya untuk hati-hati dan terus berada di jalan yang benar. Ciri-ciri perempuan cerdas nomor 7: Tak pernah lupa untuk menasehati suami. Cibiran terus berlanjut dari beberapa orang sirik di negeri ini, termasuk wartawan, “Pesawat Indonesia, nggak perlu ditembak juga bakalan jatuh sendiri, hahaha.” Ciri-ciri orang sirik nomor 2: Selalu menghina karena nggak mampu berkarya. Hingga akhirnya saat launching pesawat Gatotkoco, Pak Harto yang sempat dikabarkan nggak akan hadir (maaf saya kurang paham dengan sejarah pesawat ini, tapi kalau dilihat dari filmnya, kok sepertinya ada konspirasi dengan si pengusaha gadungan ini ya. Kalau bukan, saya mohon maaf pada Pak Harto karena udah buruk sangka, hehe. Dan saya juga nggak tahu, pengusaha ini sebenarnya siapa?) Maklum, tahun 1998 saya masih eSeMPe. Akhirnya Pak Harto pun datang dan launching pesawat berjalan lancar. Habibie berhasil membuktikan janjinya, akan membuat pesawat, yang tak hanya untuk istrinya, tapi juga untuk bangsa ini. Walau harus tertunda 32 tahun lamanya. Ciri-ciri lelaki cerdas nomor 5: Berusaha sekuat tenaga untuk menunaikan janjinya. “Akhirnya kamu bisa membuat truk terbang untuk bangsa ini.” Tak dapat terbayangkan betapa bangga Ainun pada suaminya. Ibu Ainun terlihat nggak suka ketika suaminya mulai terjun ke panggung politik. Mulai dari menjadi menteri, wakil presiden, hingga presiden pengganti. Alasan yang paling sederhana adalah: suaminya jadi kurang istirahat dan kurang waktu bersama keluarga. Berbanding terbalik dimana banyak perempuan lain yang begitu mendukung suaminya untuk jadi pejabat. Kepedihan menjadi first lady makin terasa ketika suaminya tertuduh korupsi. Pengusaha gadungan ini berkoar-koar di tivi dan meminta agar Habibie diturunkan. Betapa beliau seorang suami dan ayah yang bijak ketika menyampaikan pada anak-istrinya, “Papa tidak akan lagi menjadi Presiden.” Ya, inilah yang diharapkan Ibu Ainun. Lepas dari pekerjaan, mereka kembali mengadakan liburan ke Jerman. “Kamu terlihat lebih tenang, sekarang.” Ucap Ibu Ainun.

Saya begitu kagum ketika pasangan ini melewati sebuah restoran, seseorang dari dalam resto keluar menghampiri Pak Habibie, “Habibie, senang melihat anda kembali. Mau berkunjung ke dalam?” Yah, berbanding terbalik dengan negeri ini dimana pesawat yang beliau rancang akhirnya terpaksa digudangkan. Pesan tersirat muncul ketika tangan Habibie bersandar pada sisi pesawat, lalu telapak tangan beliau penuh debu. “Banyak yang aku korbankan dalam membuat pesawat ini. Hidupku, kamu, dan anak-anak.” Scene dilanjutkan dengan kondisi kanker ovarium Ibu Ainun yang semakin parah. Operasi dilakukan berulang kali karena virus sudah menyebar ke seluruh tubuh. Rangkaian kalimat indah diucapkan pada saat ulang-tahun pernikahan mereka, di saat Ibu Ainun koma. Puncak keharuan adalah di saat Ibu Ainun akhirnya wafat dan Bapak Habibie (beneran) dimunculkan dalam setting di pemakaman. Kesimpulan dari film ini, bagi saya : Kesetiaan hanya milik lelaki cerdas. Ketika kita tidak bisa menilai sejauh mana kecerdasan lelaki yang kita pilih, maka jadilah perempuan yang cerdas. Bukankah Tuhan itu adil. Yang cerdas kan berjodoh dengan yang cerdas juga. Begitu juga sebaliknya. Seorang lelaki cerdas takkan mau membuang waktu sedetikpun untuk hidup dengan perempuan lemot. Miris ketika kecerdasan hanya dilihat dari kesarjanaan, pekerjaan yang mapan dan uang yang banyak. Padahal cerdas itu ya berwawasan luas, termasuk memahami konsep ketuhanan juga, walau dia nggak sarjana dan hidupnya pas-pasan. Karena kecerdasannya, manusia akan makin beriman, hidupnya berkah, dan pastinya setia. Perempuan, mari kita terus belajar, mari kita terus berkarya. Untuk perempuan yang masih percaya dengan kalimat, “Jadi cewek jangan sekolah dan berkarier tinggi-tinggi, nanti lelaki takut mendekat!”

... CATATAN SEDIH SEORANG B.J HABIBIE ... Bismillahir-Rahmaanir-Rahim ... Pada usianya 74 tahun, mantan Presiden RI, BJ Habibie secara mendadak mengunjungi fasilitas Garuda Indonesia didampingi oleh putra sulung, Ilham Habibie dan kepona kannya, Adri Subono, juragan Java Musikindo. Kunjungan beliau dan rombongan disambut oleh President & CEO, Bapak Emirsyah Satar disertai seluruh Direksi dan para VP serta Area Manager yang sedang berada di Jakarta. Dalam kunjungan ini, diputar video mengenai Garuda Indonesia Experience dan presentasi perjalanan kinerja Garuda Indonesia sejak tahun 2005 hingga tahun 2015 menuju Quantum Leap. Sebagai “balasan” pak Habibie memutarkan video tentang penerbangan perdana N250 di landasan bandara Husein Sastranegara, IPTN Bandung tahun 1995 (tujuh belas tahun yang lalu!). Entah, apa pasalnya dengan memutar video ini? Video N250 bernama Gatotkaca terlihat roll-out kemudian tinggal landas secara mulus di-escort oleh satu pesawat latih dan sebuah pesawat N235. Pesawat N250 jenis Turboprop dan teknologi glass cockpit dengan kapasitas 50 penumpang terus mengudara di angkasa Bandung. Dalam video tsb, tampak hadirin yang menyaksikan di pelataran parkir, antara lain Presiden RI Bapak Soeharto dan ibu, Wapres RI bapak Soedarmono, para Menteri dan para pejabat teras Indonesia serta para teknisi IPTN. Semua bertepuk tangan dan mengumbar senyum kebanggaan atas keberhasilan kinerja N250. Bapak Presiden kemudian berbincang melalui radio komunikasi dengan pilot N250 yang di udara, terlihat pak Habibie mencoba mendekatkan telinganya di headset yang dipergunakan oleh Presiden Soeharto karena ingin ikut mendengar dengan pilot N250. N250 sang Gatotkaca kembali pangkalan setelah melakukan pendaratan mulus di landasan……………… Di hadapan kami, BJ Habibie yang berusia 74 tahun menyampaikan cerita yang lebih kurang sbb: “Dik, anda tahu…………..saya ini lulus SMA tahun 1954!” beliau membuka pembicaraan dengan gayanya yang khas penuh semangat dan memanggil semua hadirin dengan kata “Dik” kemudian secara lancar beliau melanjutkan…………….. “Presiden Soekarno, Bapak Proklamator RI, orator paling unggul, …….itu sebenarnya memiliki visi yang luar biasa cemerlang! Ia adalah Penyambung Lidah Rakyat! Ia tahu persis sebagai Insinyur………Indonesia dengan geografis ribuan pulau, memerlukan penguasaan Teknologi yang berwawasan nasional yakni Teknologi Maritim dan Teknologi Dirgantara.

Kala itu, tak ada ITB dan tak ada UI. Para pelajar SMA unggulan berbondong-bondong disekolahkan oleh Presiden Soekarno ke luar negeri untuk menimba ilmu teknologi Maritim dan teknologi dirgantara. Saya adalah rombongan kedua diantara ratusan pelajar SMA yang secara khusus dikirim ke berbagai negara. Pendidikan kami di luar negeri itu bukan pendidikan kursus kilat tapi sekolah bertahun-tahun sambil bekerja praktek. Sejak awal saya hanya tertarik dengan ‘how to build commercial aircraft’ bagi Indonesia. Jadi sebenarnya Pak Soeharto, Presiden RI kedua hanya melanjutkan saja program itu, beliau juga bukan pencetus ide penerapan ‘teknologi’ berwawasan nasional di Indonesia. Lantas kita bangun perusahaan-perusahaan strategis, ada PT PAL dan salah satunya adalah IPTN”. “Sekarang Dik,…………anda semua lihat sendiri…………..N250 itu bukan pesawat asal-asalan dibikin! Pesawat itu sudah terbang tanpa mengalami ‘Dutch Roll’ (istilah penerbangan untuk pesawat yang ‘oleng’) berlebihan, tenologi pesawat itu sangat canggih dan dipersiapkan untuk 30 tahun kedepan, diperlukan waktu 5 tahun untuk melengkapi desain awal, satu-satunya pesawat turboprop di dunia yang mempergunakan teknologi ‘Fly by Wire’ bahkan sampai hari ini. Rakyat dan negara kita ini membutuhkan itu! Pesawat itu sudah terbang 900 jam (saya lupa persisnya 900 atau 1900 jam) dan selangkah lagi masuk program sertifikasi FAA. IPTN membangun khusus pabrik pesawat N250 di Amerika dan Eropa untuk pasar negara-negara itu.Namun, orang Indonesia selalu saja gemar bersikap sinis dan mengejek diri sendiri ‘apa mungkin orang Indonesia bikin pesawat terbang?” Tiba-tiba, Presiden memutuskan agar IPTN ditutup dan begitu pula dengan industri strategis lainnya. “Dik tahu…………….di dunia ini hanya 3 negara yang menutup industri strategisnya, satu Jerman karena trauma dengan Nazi, lalu Cina (?) dan Indonesia………….” “Sekarang, semua tenaga ahli teknologi Indonesia terpaksa diusir dari negeri sendiri dan mereka bertebaran di berbagai negara, khususnya pabrik pesawat di Bazil, Canada, Amerika dan Eropa…………….” “Hati siapa yang tidak sakit menyaksikan itu semua…………………?” “Saya bilang ke Presiden, kasih saya uang 500 juta Dollar dan N250 akan menjadi pesawat yang terhebat yang mengalahkan ATR, Bombardier, Dornier, Embraer dll dan kita tak perlu tergantung dengan negara manapun”. “Tapi keputusan telah diambil dan para karyawan IPTN yang berjumlah 16 ribu harus mengais rejeki di negeri orang dan gilanya lagi kita yang beli pesawat negara mereka!” Pak Habibie menghela nafas…………………..

*** Ini pandangan saya mengenai cerita pak Habibie di atas; Sekitar tahun 1995, saya ditugaskan oleh Manager Operasi (JKTOF) kala itu, Capt. Susatyawanto untuk masuk sebagai salah satu anggota tim Airline Working Group di IPTN dalam kaitan produksi pesawat jet sekelas B737 yang dikenal sebagai N2130 (kapasitas 130 penumpang). Saya bersyukur, akhirnya ditunjuk sebagai Co-Chairman Preliminary Flight Deck Design N2130 yang langsung bekerja dibawah kepala proyek N2130 adalah Ilham Habibie. Kala itu N250 sedang uji coba terus-menerus oleh penerbang test pilot (almarhum) Erwin. Saya turut mendesain rancang-bangun kokpit N2130 yang serba canggih berdasarkan pengetahuan teknis saat menerbangkan McDonnel Douglas MD11. Kokpit N2130 akan menjadi mirip MD11 dan merupakan kokpit pesawat pertama di dunia yang mempergunakan LCD pada panel instrumen (bukan CRT sebagaimana kita lihat sekarang yang ada di pesawat B737NG). Sebagian besar fungsi tampilan layar di kokpit juga mempergunakan “track ball atau touch pad” sebagaimana kita lihat di laptop. N2130 juga merupakan pesawat jet single aisle dengan head room yang sangat besar yang memungkinkan penumpang memasuki tempat duduk tanpa perlu membungkukkan badan. Selain high speed sub-sonic, N2130 juga sangat efisien bahan bakar karena mempergunakan winglet, jauh sebelum winglet dipergunakan di beberapa pesawat generasi masa kini. Saya juga pernah menguji coba simulator N250 yang masih prototipe pertama…………….. N2130 narrow body jet engine dan N250 twin turboprop, keduanya sangat handal dan canggih kala itu………bahkan hingga kini. Lamunan saya ini, berkecamuk di dalam kepala manakala pak Habibie bercerita soal N250, saya memiliki kekecewaan yang yang sama dengan beliau, seandainya N2130 benar-benar lahir………….kita tak perlu susah-susah membeli B737 atau Airbus 320. *** Pak Habibie melanjutkan pembicaraannya……………….. “Hal yang sama terjadi pada prototipe pesawat jet twin engines narrow body, itu saya tunjuk Ilham sebagai Kepala Proyek N2130. Ia bukan karena anak Habibie, tapi Ilham ini memang sekolah khusus mengenai manufakturing pesawat terbang, kalau saya sebenarnya hanya ahli dalam bidang metalurgi pesawat terbang. Kalau saja N2130 diteruskan, kita semua tak perlu tergantung dari Boeing dan Airbus untuk membangun jembatan udara di Indonesia”. “Dik, dalam industri apapun kuncinya itu hanya satu QCD,

Q itu Quality, Dik, anda harus buat segala sesuatunya berkualitas tinggi dan konsisten? C itu Cost, Dik, tekan harga serendah mungkin agar mampu bersaing dengan produsen sejenis? D itu Delivery, biasakan semua produksi dan outcome berkualitas tinggi dengan biaya paling efisien dan disampaikan tepat waktu!Itu saja!” Pak Habibie melanjutkan penjelasan tentang QCD sbb: “Kalau saya upamakan, Q itu nilainya 1, C nilainya juga 1 lantas D nilainya 1 pula, jika dijumlah maka menjadi 3. Tapi cara kerja QCD tidak begitu Dik………….organisasi itu bekerja saling sinergi sehingga yang namanya QCD itu bisa menjadi 300 atau 3000 atau bahkan 30.000 sangat tergantung bagaimana anda semua mengerjakannya, bekerjanya harus pakai hati Dik………………” Tiba-tiba, pak Habibie seperti merenung sejenak mengingat-ingat sesuatu ……………………… “Dik, ……….saya ini memulai segala sesuatunya dari bawah, sampai saya ditunjuk menjadi Wakil Dirut perusahaan terkemuka di Jerman dan akhirnya menjadi Presiden RI, itu semua bukan kejadian tibatiba. Selama 48 tahun saya tidak pernah dipisahkan dengan Ainun, ………..ibu Ainun istri saya. Ia ikuti kemana saja saya pergi dengan penuh kasih sayang dan rasa sabar. Dik, kalian barangkali sudah biasa hidup terpisah dengan istri, you pergi dinas dan istri di rumah, tapi tidak dengan saya. Gini ya…………saya mau kasih informasi……….. Saya ini baru tahu bahwa ibu Ainun mengidap kanker hanya 3 hari sebelumnya, tak pernah ada tanda-tanda dan tak pernah ada keluhan keluar dari ibu……………………” Pak Habibie menghela nafas panjang dan tampak sekali ia sangat emosional serta mengalami luka hati yang mendalam…………… seisi ruangan hening dan turut serta larut dalam emosi kepedihan pak Habibie, apalagi aku tanpa terasa air mata mulai menggenang. Dengan suara bergetar dan setengah terisak pak Habibie melanjutkan…………………… “Dik, kalian tau……………..2 minggu setelah ditinggalkan ibu…………suatu hari, saya pakai piyama tanpa alas kaki dan berjalan mondar-mandir di ruang keluarga sendirian sambil memanggil-manggil nama ibu……… Ainun……… Ainun …………….. Ainun …………..saya mencari ibu di semua sudut rumah. Para dokter yang melihat perkembangan saya sepeninggal ibu berpendapat ‘Habibie bisa mati dalam waktu 3 bulan jika terus begini…………..’ mereka bilang ‘Kita (para dokter) harus tolong Habibie’. Para Dokter dari Jerman dan Indonesia berkumpul lalu saya diberinya 3 pilihan; 1. Pertama, saya harus dirawat, diberi obat khusus sampai saya dapat mandiri meneruskan hidup. Artinya saya ini gila dan harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa! 2. Opsi kedua, para dokter akan mengunjungi saya di rumah, saya harus berkonsultasi terusmenerus dengan mereka dan saya harus mengkonsumsi obat khusus. Sama saja, artinya saya sudah

gila dan harus diawasi terus…………… 3. Opsi ketiga, saya disuruh mereka untuk menuliskan apa saja mengenai Ainun, anggaplah saya bercerita dengan Ainun seolah ibu masih hidup. Saya pilih opsi yang ketiga……………………….” Tiba-tiba, pak Habibie seperti teringat sesuatu (kita yang biasa mendengarkan beliau juga pasti maklum bahwa gaya bicara pak Habibie seperti meloncat kesana-kemari dan kadang terputus karena proses berpikir beliau sepertinya lebih cepat dibandingkan kecepatan berbicara dalam menyampaikan sesuatu) …………………. ia melanjutkan pembicaraannya; “Dik, hari ini persis 600 hari saya ditinggal Ainun…………..dan hari ini persis 597 hari Garuda Indonesia menjemput dan memulangkan ibu Ainun dari Jerman ke tanah air Indonesia……. Saya tidak mau menyampaikan ucapan terima kasih melalui surat…………. saya menunggu hari baik, berminggu-minggu dan berbulan-bulan untuk mencari momen yang tepat guna menyampaikan isi hati saya. Hari ini didampingi anak saya Ilham dan keponakan saya, Adri maka saya, Habibie atas nama seluruh keluarga besar Habibie mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya, kalian, Garuda Indonesia telah mengirimkan sebuah Boeing B747-400 untuk menjemput kami di Jerman dan memulangkan ibu Ainun ke tanah air bahkan memakamkannya di Taman Makam Pahlawan. Sungguh suatu kehormatan besar bagi kami sekeluarga. Sekali lagi, saya mengucapkan terima kasih atas bantuan Garuda Indonesia” Seluruh hadirin terhenyak dan saya tak kuasa lagi membendung air mata………………………… Setelah jeda beberapa waktu, pak Habibie melanjutkan pembicaraannya; “Dik, sebegitu banyak ungkapan isi hati kepada Ainun, lalu beberapa kerabat menyarankan agar semua tulisan saya dibukukan saja, dan saya menyetujui………………… Buku itu sebenarnya bercerita tentang jalinan kasih antara dua anak manusia. Tak ada unsur kesukuan, agama, atau ras tertentu. Isi buku ini sangat universal, dengan muatan budaya nasional Indonesia. Sekarang buku ini atas permintaan banyak orang telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain Inggris, Arab, Jepang….. (saya lupa persisnya, namun pak Habibie menyebut 4 atau 5 bahasa asing). Sayangnya buku ini hanya dijual di satu toko buku (pak Habibie menyebut nama satu toko buku besar), sudah dicetak 75.000 eksemplar dan langsung habis. Banyak orang yang ingin membaca buku ini tapi tak tahu dimana belinya. Beberapa orang di daerah di luar kota besar di Indonesia juga mengeluhkan dimana bisa beli buku ini di kota mereka. Dik, asal you tahu…………semua uang hasil penjualan buku ini tak satu rupiahpun untuk memperkaya Habibie atau keluarga Habibie. Semua uang hasil penjualan buku ini dimasukkan ke rekening Yayasan yang dibentuk oleh saya dan ibu Ainun untuk menyantuni orang cacat, salah satunya adalah para

penyandang tuna netra. Kasihan mereka ini sesungguhnya bisa bekerja dengan nyaman jika bisa melihat. Saya berikan diskon 30% bagi pembeli buku yang jumlah besar bahkan saya tambahkan lagi diskon 10% bagi mereka karena saya tahu, mereka membeli banyak buku pasti untuk dijual kembali ke yang lain. Sekali lagi, buku ini kisah kasih universal anak manusia dari sejak tidak punya apa-apa sampai menjadi Presiden Republik Indonesia dan Ibu Negara. Isinya sangat inspiratif……………….” *** Saya menuliskan kembali pertemuan pak BJ Habibie dengan jajaran Garuda Indonesia karena banyak kisah inspiratif dari obrolan tersebut yang barangkali berguna bagi siapapun yang tidak sempat menghadiri pertemuan tsb. Sekaligus mohon maaf jika ada kekurangan penulisan disana-sini karena tulisan ini disusun berdasarkan ingatan tanpa catatan maupun rekaman apapun. Jakarta, 12 Januari 2012 Salam, Capt. Novianto Herupratomo *** Cerita itu saya kutip dari notes facebook disini, sebuah renungan yang seharusnya menjadi perhatian bagi kita. Betapa menyedihkan sebuah bangsa yang tak pernah menghargai orang berilmu! Tak pernah memberi kesempatan kepada anak bangsa untuk menjadikan bangsanya mandiri! Entah ada apa dengan negara ini…! Entah dimana mata dan telinga para penguasa diletakkan! Saya seorang peneliti, yang tahu betul bagaimana kami dilatih untuk bertindak. Bahwa kami harus melakukan segala macam upaya agar output yang dihasilkan adalah output yang QCD! Tak sekali dua kali proposal yang sudah kami susun berhari-hari bahkan berminggu-minggu mengalami pernyempurnaan di segala sisi? Tak sekali dua kali para evaluator selalu menjadi pendamping kami dalam melaksanakan serangkaian percobaan. Tak sedikit pikiran dan tenaga kami habis untuk bagaimana selalu menyempurnakan metode hingga output tercapai. Kami juga kadang tak berontak saat kerja bertahun-tahun tapi gaji yang kami dapat hanya setara dengan goyangan ngebor Inul satu jam! dan yang lebih menyedihkan, karya kami hanya mendapat cibiran, jika tidak akhirnya dipinggirkan! Entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini! sepertinya posisi orang berilmu memang sudah tak lagi mendapat tempat, jadi siapa yang salah jika akhirnya mereka mencari tempat lain? Dan saya perempuan, dan seorang muslimah. Maka apapun profesi saya, saya tetaplah muslimah dan perempuan. Seseorang yang mendapat kehormatan dan kemuliaan menjadi seorang Ummu warobatul bait, Istri sekaligus Ibu dan pengatur rumah tangga.

Maka jika aktivitas dan profesi yang kutekuni menjadikanku abai terhadap peranku, aku akan meninggalkannya dan memilih tempat yang lebih memuliakanku, yaitu menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga. Bukan seorang Ibu semu, yang hanya berperan melahirkan dan memberi makan, tanpa pernah menjadi teladan, pengajar, pendengar dan teman untuk anak-anaknya… Dan entah apa yang ada di benak para penguasa negeri ini, jika RUU Kesetaraan Gender lalu diketok palu menjadi UU!… bersiaplah menjadi orang-orang yang menggoreskan catatan sedih, dengan kebijakan negeri ini… *** .... Segala puji bagi Allah, yang dengan nikmat-Nya sempurnalah semua kebaikan ....

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->