MAKALAH MEMILIH MODEL DESAIN PEMBELAJARAN DALAM PENDIDIKAN PELATIHAN

Oleh Drs. WELDI BAHARI. M.Pd Widyaiswara Madya

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN PROVINSI SUMATERA BARAT TAHUN 2012

kawasan nyaman tersebut bentuk kebebasan dan dunia kerja. afeksi dan ranah psikomotorik dalam bentuk perubahan sikap dan prilaku. Sehingga setiap lembaga Pendidikan dan Pelatihan perlu dikelola oleh mereka yang memiliki kompetensi dalam mebuat desain atau pola pembelajaran. karena pembelajaran berada dalam samudera pikiran. perlu sebuah desain pembelajaran yang menantang mereka dalam belajar. sebagai sebuah pola bagaimana mencapai tujuan pembelajaran yang telah digariskan. harapan. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan adanya pemahamam yang memadai tentang bagaimana bentuk sebuah rancangan pembelajaran. juga perlu dijangkau ranah-ranah psikomotorik sebagai perujudan dari hident currikulum. jabatan ataupun pekerjaan ataupun rumah dan keluarga yang harus ditinggalkan dan siap menghadapi resiko dalam bentuk masuk dalam situasi aktivitas pendidikan dan pelatihan yang jelas berbeda dan penuh dengan aturan atau norma dan kedisiplinan. perasaan. Sehingga mengakibatkan perlunya pembuatat sebuah desain. Oleh karena hal itu desain pembelajaran tidak dapat digantikan dengan desain informasi. selanjutnya bagaimana pemahaman terhadap konsep hasil 1 .BAB I PENDAHULUAN PENDAHULUAN Kegiatan Pendidikan dan Pelatihan diselenggarakan sebagai suatu usaha sadar dan terencana sebagai suatu upaya meningkatkan kuualitas sumber daya manusia aparatur pemerintah secara umum dapat menjangkau ranah-ranah hasil pembelajaran. Satu satu hal penting yang harus diperhitungkan dalam mendesain melakukan pembelajaran. Peserta Diklat dikatakan belajar apabila mereka mempunyai kesiapan untuk keluar dari kawasan yang penuh dengan kenyamanan. Belajar memerlukan upaya dan ketekunan. selain adanya kurikulum yang sifatnya sudah terstandar. Itulah sebabnya mendesain pembelajaran merupakan sesuatu yang cukup rumit melakukannya. Myers (1999) mengungkapkan pada dasarnya pembelajaran relatif sulit untuk didefinisikan. dan anggapan. sehingga dapat dilakukan perubahan dan penyesuaian dan adanya inovasi dalam proses pembelajaran. Agar Peserta Diklat memiliki rasa ketertarikan untuk keluar dari kawasan yang penuh kenyamanan sekaligus menghadapi resiko tersebut. Interaksi sangat berkaitan dengan keberagaman Peserta Diklat. baik secara peningkatan dalam ranah kognisi. Sehingga satu metode dan interaksi pembelajaran belum tentu disukai oleh semua pesertra Diklat. sekaligus berkaitan dengan teori dan bagaimana metode yang relevan serta penentuan strategi pembelajaran. sikap. konsep interaksi merupakan sesuatu cukup dijadikan yang penting untuk diperhitungkan. pilihan. yaitu bagaimana menempatkan/memposisikan diri terhadap sudut pandang yang diyakini tentang belajar. Dalam menyusunan sebuah desain pembelajaran.Hal inilah yang menuntut designer pembelajaran untuk dapat memunculkan bermacam-macam desain-desain pembelajaran yang bervariasi.

belajar dapat dilihat dari tiga sudut pandangan tentang belajar. dan (3) belajar juga dipahami sebagai konstruksi pengetahuan. (2) belajar dipahami sebagai pemerolehan pengetahuan. pemahaman terhadap konsep belajar aktif. pemahaman terhadap tes. yaitu: (1) belajar dipahami sebagai penguatan respon. dan pemahaman terhadap prasyarat belajar. Secara umum. 2 .belajar.

Belajar Sebagai Konstruksi Pengetahuan. Pandangan ini berkembang sudah cukup lama hingga tahun 1950 dan mencapai puncaknya ketika perang dunia II. Belajar terjadi apabila Peserta Diklat terlibat secara secara aktif dalam membangun atau mengkonstruksi pengetahuan dalam memori kerja otaknya. B. Pandangan ini mulai dikembangkan pada tahun 1950 hingga 1970-an yang mendasarkan diri pada hasil penelitian yang menjadikan manusia sebagai obyek penelitian dalam bentuk situasi yang sengaja dirancang sesuai tujuan yang ingin dicapai/artificial setting . Desainer pembelajaran harus mampu pembelajaran adalah menciptakan lingkungan Pendidikan dan Pelatihan yang kondusif sehingga memberikan dukungan terciptanya situasi yang dibutuhkan. Belajar Sebagai Pencarian Pengetahuan. Dalam hal ini Widyaiswara dan semua elemet Pendidikan dan Pelatihan melakukan pengadministrasian dalam bentuk penghargaan atau hukuman. Menurut pandangan ini. tanpa mengapaikan Widyaiswara sebagai media konvensional yang perannya tak tergantikan. informasi dapat ditransmisikan secara langsung dari Widyaiswara kepada Peserta Diklat. Pembelajaran akan terjadi pada saat Peserta Diklat dapat menyimpan informasi baru dalam bentuk memori jangka panjang. belajar terjadi apabila Peserta Diklat dapat memberikan penguatan ataupun bisa berakibat memperlemah sebuah penggabungan (asosiasi) antara sebuah rangsangan/stimulus dan respon. berkaitan dengan disiplin sikap dan prilaku baik dalam kelas ataupun aktivitas diluar kelas. Widyaiswara selaku salah satu sumber menyampaikan informasi dalam bentuk tekstual melalui metode ceramah. dalam segala aktivitas pembelajaran dalam kawasan pembelajaran. Desainer Pembelajaran harus mampu berperan dalam mewujudkan sebuah lingkungan yang mendukung sehingga Peserta Pendidikan dan Pelatihan terekspos dalam bentuk sejumlah informasi. merupakan peserta yang bersifat pasif yang akan mendapatkan reward penghargaan dan akan memperoleh punishmen. . Peserta Diklat berada dalam kondisi pasif dalam menerima informasi informasi. Teori ini bertitik tolak pada hasil percobaan yang dilkukan oleh Pablov yang menjadikan dengan hewan sebagai objek penelitian. Pandangan atau teori ini mulai berkembang sejak tahun 1980 hingga 1990-an yang mendasarkan diri pada hasil 3 . C. Berdasarkan pandangan ini. yang didukung ketersediaan bahan ajar dalam berbagai bentuk sumber belajar yang didukung pembelajaran berbasis multimedia. Belajar Merupakan Penguasaan Respon. sehingga dapat mengaktivasi responrespon Peserta Pendidikan dan Pelatihan. Peserta Diklat berdasarkan pandangan ini. dalam segala aktivitasnya.BAB II PEMBAHASAN A.

Mereka hanya mampu menambah informasi dalam memori otaknya dalam membentuk pengalaman belajar. Berdasarkan tiga teori pandangan teori tentang belajar yang dikupas diatas tadi. Bentuk Hasil Belajar 1. Constructivist learning . hal-hal itu dapat dicapai meliputi percepatan proses-proses yang dilalui. Untuk efektifnya proses ini perlu dukungan metode pembelajaran dalam bentuk latihan dan praktek /drill and practice. Proses proses kognitif yang utama encoding . dan hasil belajar. Karena Peserta Diklat tidak menyediakan perhatian yang memadai terhadap informasi relevan yang diterimanya. 3. tetapi tidak bisa membenrtuk sebagai unjuk kerja dalam menerapkan informasi tersebut dalam memecahkan masalah-masalah baru yang dihadapi dalam dunia kerjanya sebagai pegawai negeri sipil.penelitian dengan manusia sebagai obyek dalam setting yang realistik. organizing (O). antara lain selecting (S). yaitu bagaimana memposisikan sekumpulan informasi dan menyimpannya untuk dapat dimanfaatkan dalam memori jangka panjang (long term memory). disini hasil belajar bersifat miskin miskin dengan pemahaman atau retensi. D. mencoba melakuka pengembangkan sikap mentah yang menghubungkannya dalam bentuk sikap prilaku dengan mengaitkan hubungan sebab akibat. 4 . Rote learning. dapat menampilkan unjuk kerja retensi dan transfer. Peserta Diklat mencoba membuat gagasan baru tentang informasi yang diterima. Widyaiswara berperan sebagai pemandu kognitif yang menyediakan dan memfasilitasi dalam bentuk bimbingan dan penyediaaan model pada tugas-tugas yang bersifat akademis yang sifatnya mendasar. Menurut pandangan ini. transfer. dapat ditarik kesiimpulan bahwa desain pembelajaran bebasis model SOI dilakukan berdasarkan pada pandangan atau teori Konstruktivisme yang menyatakan pemahamanan tentang belajar adalah sebagai sebuah proses bagaimana mengkonstruksi pengetahuan melalui informasi. Dengan dengan arti kata tidak melakukan investasi mental guna memahami dan menyerapkan informasi yang disampaikan. dan menggunakan prosesproses kognitif dalam belajar. 2. a. dalam kondisi ini seorang peserta diklat hanya mampu mengingat informasi-informasi penting dari pembelajaran. peran Peserta Diklat adalah sebagai pencipta gagasan. danintegrating (I) terhadap informasi yang diterima. Desainer perancang pembelajaran adalah bagaimana membuat kreasi lingkungan yang relevan dengan tujuan dengan harapan dimana Peserta Diklat berinterkasi secara bermakna dengan dengan materi pembelajaran yang disiapkan dalam bentuk hasil belajar secara kognitif afektif dan hasil belajar secara psikomotorik. No learning .

Peserta Diklat diminta menulis kembali semua yang diingat melalui butir masalah melengkapi pernyataan yang belum lengkap. mengevaluasi seberapa banyak materi yang dipresentasikan dapat diingat. 2.Jadi prilaku-prilaku: menulis.hanya terlihat aktif menulis dalam buku kerja atau catatannya. dan mengintegrasikan representasi representasi tersebut dengan pengetahuan yang telah tersimpan dalam kepalanya melalui proses integrating . Mayer (1993) telah menunjukkan bahwa dari dua tipe belajar aktif tersebut. E. Dalam menyelesaikan permasalah seperti itu. F. Metode-metode pembelajaran selain drill dan practice adalah memerlukan proses-proses SOI selama pembelajaan. Proses-proses kognitif yang diprioritaskan adalah meliputi penyediaan perhatian terhadap informasi-informasi yang relevan dengan pemilihan/selecting. yaitu retention dan transfer tests. Mayer (1999) mengemukakan dua macam tes. berbicara. bekerja tampak tidak berperan sebagai aktivitas utama. Dalam keadaan demikian. Peserta Diklat tidak berusaha untuk membuat gagasan tentang materi pembelajaran yang dibaca. Marzano (1993) lebih suka menyebut recitation untuk istilah etention dan construction untuk istilah transfer. tipe yang kedua merupakan belajar konstruktivistik. bahwa desain pembelajaran hendaknya dapat mendorong peserta diklat aktif secara kognitif dari pada hanya aktif prilakunya. 1. tetapi aktif secara kognitif merupakan unjuk kerja utama bagi mahasiswa tersebut.4. mengorganisasi infromasi-informasi tersebut dalam representasi yang koheren melalui proses organizing . Behaviorally active. hal ini terlihat pada saat si pebelajar dalam hal ini adalah Peserta Diklat. 5 . 1. Metode pembelajaran yang sering digunakan oleh Widyaiswara dalam memfasilitasi pembelajaran adalah dengan menyajikan permasalahan dalam bentuk melengkapi pernyataan secara linier. mencoba menjelaskan dengan caranya sendiri. Cognitively active. Retention test meliputi: (a) recall test. Bentuk Belajar Aktif Secara sederhana dikenal ada tiga macam pembelajaran aktif antara lain sebagai berikut. yaitu dengan mencoba menjelaskan dengan cara sendiri hasil interaksinya dengan materi pelajaran atau percobaan. Bentuk Tes Secara umum. Konsekuensinya. tetapi bisa saja tidak memperlihatkan aktivitas dan tidak aktif secara kognitif. Retention test. Metode yang cocok untuk ini adalah penyajian permasalahan yang bersifat ill defined. Peserta Diklat mencoba menciptakan apa yang oleh Chi et al (1989) sebut sebagai self explanation.

seperti: selecting informasi yang relevan dari pesan-pesan pembelajaran untuk pemerosesan lebih lanjut dalam memori kerja. Apabila pesan pembelajaran dikemas berbasis pembelajaran konsruktivstik. paling tidak meliputi retensi dan transfer. Tiga aktivitas mental tersebut disebut proses-proses kognitif untuk pembuatan gagasan (sense making ). 2. Will mengacu pada aspek-aspek motivasi dan sikap terhadap belajar. yaitu skil. 6 . Transfer test. G. Tes jenis ini lebih banyak bertujuan untuk menguji pemahaman.(b) Recognition test. dan will. Metaskill mengacu pada proses-proses metakognisi dan regulasi diri untuk perencanaan orkestrasi dan monitoring terhadap proses-proses kognitif ketika mengerjakan tugas-tugas belajar. organizing terhadap informasi yang terseleksi ke dalam representasi mental yang koheren dalam memori kerja. Syarat Dalam Transfer Pemecahan Masalah Mayer (1998) mengusulkan tiga prasyarat utama untuk transfer pemecahan masalah. tingkatan pertama adalah retensi. Berdasarkan enam tingkatan kemampuan dalam taksonomi Bloom. Retention test fokus pada pencapaian tujuan-tujuan drill dan practice. Dalam makalah ini. tranfer pemecahan masalah terjadi apabila mahasiswa menggunakan pengalaman pemecahan masalah sebelumnya untuk merencanakan sebuah solusi untuk permasalahan yang baru. dan integrating informasi yang terorganisasi dengan pengetahuan yang telah ada di memori jangka panjang. Skill mengacu pada proses-proses kognitif. Peserta Diklat diminta memilih dari beberapa kemungkinan jawaban yang paling cocok untuk permasalahan yang disajikan. maka diperlukan pengukuran yang majemuk terhadap event belajar. meliputi keyakinan manfaat kerja keras untuk memperoleh pemahaman dalam belajar. fokus kajian adalah pada prasyarat yang pertama sebagai landasan utama dalam perancangan pembelajaran berbasis model SOI. menuntut Peserta Diklat menerapkan apa yang dipelajari ke dalam situasi yang baru. dan 5 tingkatan yang lain adalah transfer. yang tampak dari transfer pemecahan masalah. Menurut Mayer dan Wittrock (1996). metaskill.

pesan-pesan pembelajaran dipresentasikan dalam bentuk gambar dan teks yang akan tersimpan dalam memori kerja visual. 1994). Dari kapasitas terbatas tentang sistem pemerosesan informasi manusia yang diberikan. proses kognitif terjadi sebagai hasil seleksi Peserta Diklat terhadap informasi yang relevan untuk disimpan dalam memori kerja. Tahapan ini merupakan proses pertama yang sangat penting untuk proses selanjutnya. weller.MODEL SOI : MEMPERCEPAT PROSES-PROSES KOGNITIF DALAM KONSTRUKSI PENGETAHUAN Model SOI dilukiskan pada gambar 1. Secara auditorial. Berikut dipaparkan ketiga proses kognitif yang terjadi dalam event belajar. Jadi. Apabila kata-kata dan gambar presentasikan pada mahasiswa dalam suatu pesan pembelajaran. Langkah ini 7 . 1992. maka mahasiswa akan merepresentasikan secara ringkas dalam memori-memori sensori. Seleksi Informasi Yang Relevan. pesan-pesan pembelajaran dipresentasikan dalam bentuk percakapan lisan yang akan tersimpan dalam memori kerja auditori. Secara visual. hanya beberapa representasi saja yang dapat disimpan untuk pemerosesan lebih lanjut dalam memori kerja. Pesan Pembelajaran Kerja Memori Memori Jangka Panjang Selecting organizing Gambar Selecting Kesan Model Mental visual PENGETAHUN integrating AWAL Lisan Selecting Bunyi Model mental verbal Gambar 1 Model SOI dalam pembelajaran konstruktivisme Sampai Disini Model SOI yang dilukiskan pada Gambar 1 mendeskripsikan perbedaan antara memori kerja visual dan auditorial (Baddeley.

Untuk menggunakan model mental tersebut dalam konstruksi pengetahuan berikutnya. Proses ini melibatkan pengorganisasian representasi auditori terpilih ke dalam representasi verbal yang koheren dan pengorganisasian kesan terpilih ke dalam representasi gambar yang koheren. Peserta Diklat membuat hubungan (one-to-one connection) antara unsur-unsur yang bersesuaian dari representasi gambar dan verbal yang mereka telah konstruksi menggunakan pengetahuan awal sebagai spring board. Pada proses ketiga. Pengintegrasian informasi yang terorganisasi. demikian pula pesan yang diterima secara lisan diseleksi untuk pemerosesan lebih lanjut dalam memori kerja auditori. Kintsch (1988) menyebut aktivitas ini sebagai pembangunan model situasi dari informasi yang dipresentasikan Proses ini pada Gambar 1 diwakili oleh tanda panah “organizing”. Hasilnya adalah konstruksi model mental sebagai hasil integrasi antara informasi terseleksi dan terorganisasi dengan pengetahuan awal yang dimiliki. Hasil proses ini adalah konstruksi representasi gambar (model mental gambar) dan verbal (model mental verbal) yang koheren. Aktivitas-aktivitas ini berlangsung dalam memori kerja dalam kapasitas proporsional. dan melihat bagaimana materi pelajaran tersebut berkaitan dengan pengetahuan yang telah dimiliki. Di akhir ketiga proses kognitif tersebut. diperlukan proses orkestrasi dan koordinasi di antara proses-proses kognitif tersebut melalui metakognisi atau kontrol eksekutif. Proses kognitif yang kedua adalah organizing . di mana kesan yang diterima diseleksi untuk pemerosesan lebih lanjut dalam memori kerja visual. Desain pembelajaran konstruktivistisme umumnya 8 . Pengorganisasian Informasi Yang Terseleksi. di mana kesan-kesan visual dan representasi verbal yang tersimpan dihubungkan dalam rangkaian yang tepat seperti hubungan sebab dan akibat.pada gambar 1 direpresentasikan dalam tanda panah “selecting”. tujuan pembelajaran hendaknya didesain/dirancang agar dengan harapan dapat membantu mereka mengidentifikasi informasi yang bermakna. Peserta Diklat akan melakukan encoding terhadap model mental yang terkonstruksi dalam memori kerja dan tersimpan di dalam memori jangka panjang yang telah menjadi retensi/kesan yang permanen. H. memahami bagaimana materi pelajaran yang layak. Proses ini pada Gambar 1 dilukiskan dalam bentuk tanda panah “integrating”. Metode Pembelajaran Alternatif Model SOI Untuk mendorong Peserta Diklat agar terlibat secara kognitif dalam belajar.

bullet. dan/atau white space untuk menyajikan pesan-pesan pembelajaran yang relevan. namum yang lebih penting..anda diharapkan dapat menjelaskan…. Hasil penelitian ini memberikan indikasi bahwa ringkasan dapat mendorong Peserta Diklat untuk lebih berfokus pada informasi yang relevan. underlining .. arrow. 1. Mayer (1993) telah membuktikan keefektifitas penggunaan teknik teknik berikut. pembelajaran perubahan konseptual (Santyasa. italic. Walaupun konteks sosial tentang belajar menyediakan banyak peluang untuk belajar konstruktivistik. bahwa penyajian pesan dalam bentuk ringkasan/sinopsip dapat membantu Peserta Diklat untuk berfokus pada informasi yang relevan.. Selanjutnya Harp dan Mayer (1997) telah menguji gagasan. Interaksi sosial dapat diwujudkan dalam lingkungan belajar interpersonal. margin notes. Peserta Diklat yang membaca ringkasan yang hanya memuat ide-ide/gagasan utama dari materi Pembelajaran tertentu menunjukkan daya ingat dan transfer pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan dengan Peserta Diklat yang membaca materi pelajaran secara menyeluruh. a. dan pejelahanan (scaffolding ). Hasil pengujiannya yang dilakukan Mayer membuktikan bahwa. percepatan komunitas-komunitas Peserta Diklat (Campione et al. Lingkungan pembelajaran tersebut akan memberi peluang kepada Peserta Diklat untuk melakukan diskusi (discussion). 1989). Menggunaan pertanyaan-pertanyaan dan kalimat-kalimat tambahan terkait dengan tujuan pembelajaran. 2003). bahwa pengurangan hal-hal yang menarik tetapi tidak relevan yang terdapat dalam pesan pembelajaran akan membantu Peserta Diklat lebih berfokus hanya pada informasi yang relevan. 2004. penyelidikan terbimbing (guided discovery). 1995). tidak semua pembelajaran konstruktivisme tergantung pada konteks sosial. Teknik-teknik Pendorong proses selecting Untuk mendorong Peserta Diklat melakukan selecting terhadap pesan pembelajaran. pemodelan ( modeling ). Pembelajaran-pembelajaran yang memfasilitasi Peserta Dikat dalam belajar melalui proses interaksi sosial adalah: teknik pemagangan kognitif (Collins et al. namun demikian tidak semua konteks sosial dapat memajukan pembelajaran berdasarkan teori konstruksivesme. Slavin. Mayer et al (1996) telah menguji gagasannya. 2002). icon. Berdasarkan …. Hasil penelitiannya menyimpulkan bahwa Peserta Diklat yang membaca sajian materi dalam 9 . repetition. 1995). Maksudnya adalah untuk memberikan penekanan mengenai informasi yang relevan.. Misalnya: Apa yang akan terjadi apabila . b. pembelajaran berbasis proyek (Fogarty. 1997). Menggunaan heading. dan sebagainya. pembelajaran kooperatif (Santyasa. larger font. pembelajaran berbasis masalah (Boud & Feletti. 1997). pembelajaran berbasis keterampilan berpikir (Santyasa. boldface.memperhatikan peranan interaksi sosial dalam pembelajaran.

dan pointer word. Hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa pembuatan struktur teks/bahan ajar yang lebih jelas dapat membantu Peserta Diklat melakukan konstruksi representasi yang koheren/berkaitan yang dapat digunakan untuk mendukung proses pemecahan masalah secara kreatif. dan pointer word menunjukkan kemampuan transfer pemecahan masalah lebih baik dibandingkan dengan Peserta Diklat yang membaca pesan tanpa outline. Penelitian Mayer et al (1984) menemukan bahwa Peserta Diklat yang menerima pesan yang dilengkapi dengan grafik menunjukkan kemampuan transfer pemecahan masalah yang lebih baik dibandingkan dengan Peserta Diklat yang menerima pesan tanpa dilengkapi grafik. Hasil penelitian yang ini memberikan akan indikasi bahwa atau penyajian materi pembelajaran berlebihan memecah membuyarkan perhatian/konsentrasi Peserta Diklat. dan pointer word. maka mereka cenderung belajar dengan pola rote learning. Heading : caption yang dilengkapi dengan rincian sub langkah Pointer word : oleh karena itu. Apabila struktur itu tidak segera ditangkap oleh persepsi Peserta Diklat. Di samping itu. Perlu dipahami pula bahwa. adalah …. Mayer (1993) telah menunjukkan keefektifan penggunaan outline. heading. Contoh : Outline : terdapat empat langkah dalam …. heading.Sebagai hasil dari …. Teknik Pendorong Proses Organizing Untuk mendorong Peserta Diklat dalam melakukan proses organizing . pengkonstruksian representasi mental yang koheren dari pesan pembelajaran sangat tergantung pada sejauh mana struktur pesan tersebut dapat dengan mudah dikenal dan dilihat oleh Peserta Diklat. Cook dan Mayer (1988) menggunakan teks yang memiliki struktur rantai sebab-akibat sangat mempermudah proses pengorganisasian informasi-informasi yang telah diseleksi. …. heading. 2. Jadi desain buku teks ataupun modul sebagai bahan ajar peserta hendaknya memuat hal-hal yang esensial atau mendasar saja. Di samping itu. Loman dan Mayer (1983) menemukan bahwa Peserta Diklat yang membaca pesan pembelajaran yang disajikan mengandung outline. 10 . representasi grafik juga dapat membantu dalam proses organizing .bentuk standar menunjukkan kemampuan mengingat dan transfer pemecahan masalah lebih baik dibandingkan dengan Peserta Diklat yang membaca pesan-pesan pembelajaran yang disajikan dalam versi mengandung hal-hal yang menarik dan selingan-selingan ilustrasi seperti gambar atau cerita yang sesungguhnya tidak terlalu esensial.

ilustrasi. pesan Hasil yang penelitiannya mengandung menunjukkan teknik-teknik bahwa kelompok yang mempelajari tersebut menampilkan kemampuan retensi dan transfer pemecahan masalah lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol/kelompok pembanding. Hasil penelitian tersebut mengindikasikan bahwa sajian pesan lisan terkoordinasi dengan gambar memberi peluang kepada Peserta Diklat untuk mengembangkan pengetahuan. Mayer (1993) dalam penelitiannya telah menggunakan advance organizer. dan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat elaboratif sebagai teknik percepat/akselerasi proses integrating .3. Mayer (1997) mengusulkan penggunaan ilustrasi untuk memajukan proses tersebut. Satu hal yang tidak bisa dilupakan. contoh-contoh. Penggunaan pertanyaan-pertanyaan elaboratif dalam sebuah teks dapat pula mendorong Peserta Diklat untuk lebih cepat dapat mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan awal yang telah dimiliki. Penggunaan ilustrasi secara tepat untuk melengkapi pesan pembelajaran juga tidak kalah pentingnya dalam upaya mendorong proses integrating . Penelitian Mayer (1993) menyimpulkan bahwa Peserta Diklat yang mempelajari pesan yang mengandung pertanyaan pertanyaan elaboratif yang bersifat dapat menampilkan kemampuan yang lebih baik dalam memanggil informasi/menampilkan pesan-pesan atau pengalaman masa lalu yang tersimpan dalam memori jangka panjang/long term memorinya dalam memecahkan masalah dibandingkan dengan mahasiswa yang mempelajari pesan tanpa memuat pertanyaan-pertanyaan yang bersifat elaboratif. self-efficacy dan atribusi akan keberhasilan dan kegagalan juga mempengaruhi ketekunan mereka dalam upaya mencoba mempelajari materi pelajaran yang baru. 11 . Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa Peserta Diklat yang mempelajari pesan yang berisi ilustrasi sebagai bagian dari sebuah caption menunjukkan kemampuan retensi dan transfer pemecahan masalah lebih baik dibandingkan dengan yang mempelajari pesan dengan ilustrasi yang terpisah dengan caption. Teknik Pendorong Proses Integrating Untuk membantu Peserta Diklat agar lebih cepat mengintegrasikan pesan yang teroganisasi ke dalam pengetahuan awal yang dimiliki. bahwa teknikteknik atau metode-metode pembelajaran untuk memajukan aktivitas dalam melakukan proses kognitif dalam koridor pembelajaran konstruktivistik sangat bergantung kepada keyakinan Peserta Diklat terkait dengan pesan yang mungkin mudah untuk dipahami. analogi. Dalam hal ini. Selanjutnya Mayer menyatakan bahwa ilustrasi yang terintegarasi dengan sebuah caption akan membantu proses integrasi pengetahuan.

Konsep belajar bermakna sesungguhnya telah dikenal pada awalnya munculnya teori psikologi Gestal dimana Wertheimer (1945). Pembelajaran berfokus pada transfer belajar. tujuan pembelajaran hendaknya lebih berfokus pada usaha atau upaya bagaimana memajukan perubahan kognitif. Hal ini merupakan nilai yang mendalam seperti apa yang dikemukan atau gagasan yang dikemukan oleh John Dewey (1902). perspektif pembelajaran hendaknya mengembalikan Peserta Diklat pada fitrahnya sebagai manusia dibandingkan hanya menganggap mereka belajar hanya dari apa yang dipresentasikan atau disampaikan oleh Widyaiswara atau fasilitator. Oleh sebab itu. bahwa terdapat nilai yang lebih penting yang harus dijadikan dasar mempersepsi apa yang terjadi apabila Peserta Diklat yang diasumsikan belajar. Oleh sebab itu.I. Dalam pendidikan berpusat pada Peserta Diklat. 2002). tujuan pembelajaran hendaknya dikemas dalam sebuah model pembelajaran perubahan konseptual (Santyasa. Pembelajaran fokus pada bagaimana belajar. Implikasi nilai tersebut melahirkan komitmen untuk beralih dari konsep pendidikan berpusat atau berorientasi pada kurikulum (curriculum orientied) menuju pendidikan dan pelatihan berpusat pada Peserta Diklat. Satu nilai yang dapat dipetik dari pendekatan tersebut. 2. sesungguhnya peserta Diklat berkembang secara alamiah. Pembelajaran berfokus pada proses. Pembelajaran konstruktivistik bertitik tolak diiri pada gagasan. 1. 3. Selain itu pendekatan konstruktivisme juga mendasarkan diri pada premis “Peserta Diklat dapat menggunakan dibandingkan hanya dapat mengingat apa yang dipelajari”. (2) tranfer belajar. sebagai salah satu pelopornya mengungkapkan sebagai tanda pemahaman mendalam adalah kemampuan dalam melakukan transfer apa yang dipelajari ke dalam situasi baru. dan deep understanding harus diyakini memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan senseless memorization. Nilai Tujuan Pembelajaran Dengan Pendekatan Teori Konstruksivisme Pendekatan konstruksi pengetahuan dalam desain pembelajaran dengan pendekatan berbasis model SOI bertitik tolak dari pada beberapa tujuan pembelajaran yang berfokus fokus pada: (1) proses. Nilai tersebut didasari oleh asumsi. dan (3) bagaimana belajar. bahwa dalam belajar. Pembelajaran yang fokus pada proses pembelajaran adalah suatu nilai utama pendekatan konstruktivisme. Pendekatan konstruktivistik secara jelas meletakkan nilai dasar tentang bagaimana belajar ( how to learn) dibandingkan hanya apa yang dipelajari (what to 12 . bahwa meaningful learning (kebermaknaan pembelajaran) harus diyakini memiliki nilai yang lebih baik dibandingkan dengan rote learning .

learn). keterampilan berpikir tidak bisa dimanjakan dalam proses belajar. dan I terhadap pesan-pesan pembelajaran. 2003). seperti S. Belajar berbasis keterampilan berpikir merupakan dasar untuk mencapai pemahaman secara mendalam (Santyasa. Untuk mencapai tujuan learning how to learn. Implikasi untuk tujuan pembelajaran adalah memfasilitasi Peserta Diklat untuk lebih banyak menggunakan ketarampilan berpikirnya dalam belajar. Penggunaan keterampilan berpikir dalam belajar berarti pula melibatkan strategi belajar untuk mengembangkan proses-proses kognitif. O. 13 .

tujuan penelitian. pengorganisasian serta bagaimana mengggubungkannya dalam sebuah event belajar. dan hipotesis penelitian. Perlu adanya keyakinkan penelitian akan dilakukan sebagai dampak akibat peneliti merasakan adanya masalah (problem sensing ). Buktikan masalah yang dihadapi. 5. 4. yang 14 . Implikasi Terhadap Pembelajaran : Berdasarkan paparan berbagai teori belajar. transfer. dapat ditarik kesimpulan serta bagaimana implikasinya terhadap tujuan dan proses serta hasil pembelajarananatara lain : 1. dan respon-respon yang divergen. dan strategi pembelajaran yang berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Tetapkan butir assesemen atau instrumen yang dapat dijadikan sebagai alat digunakan dalam pengukuran proses. peneliti akan beralih dari paradigma yang sebelumnya diyakini tidak dapat memecahkan masalah yang dihadapi menuju paradigma baru yang diyakini dapat memecahkan masalah pembelajaran. Ungkapkan perumusan masalah penelitian. 2. Ungkapkan karakteristik teoretik paradigma lama dan bandingkan dengan paradigma baru untuk meyakinkan bahwa penelitian yang akan dilaksanakan dapat memecahkan masalah pembelajaran. 3. 3.. dan belajar bagaimana belajar. Perlunya dilakukan analisi berkaitan dengan karakteristik Peserta Diklat sebelum ditetapkan sebuah desain pembelajaran. 2. desain serta model pembelajaran yang dikemukakan oleh para pakar pendidikan diatas.BAB III KESIMPULAN A. Implikasi terhadap Penelitian : Selanjutnya juga dapat disimpulkan bagaimana implikasi dari teori berkaitan dengan pembelajaran. B. Perumusan tujuan pembelajaran yang lebih banyak berfokus pada proses. Tentukan metode penelitian sebagai langkah operasional dalam melakukan penelitian yang diusulkan. metode dan strategi serta penelitian para pakar diungkapkan diatas antara lain : 1. 4. 5. transfer. Perlu dilakukan penetapan pendekatan apa yang akan digunakan.. dalam bentuk Pemilihan. Perlunya adanya penetapan fasilitas belajar yang memberi peluang mempercepat terjadinya proses-proses kognitif. metode apa yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembelaja.

Problem solving principles. (Eds): Theory into practice. I W. Second edition. 1995. Santyasa. 1999. Santyasa. M. I W. Disajikan dalam pelatihan cooperative learning untuk para dosen Teknik Industri Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. R. M. Santyasa. R. 1997. 22-23 Agustus 2003. R. 1997. 2nd edition.H. Arlington Heights. Jakarta. E.M.Dalam Donmoyer. Mayer. (Ed. 27-28 Maret 2004 di Yogyakarta. Dalam Reigeluth. (Eds..L. 2003. I. G. Boston: Allyn and Bacon. Englewood Cliffs.): Instructional massage design: Principles from the behavioral and the cognitive sciences. W. 2002. Pembelajaran kooperatif. How classroom teachers approach the teaching of thinking. 154-160. 1999. D.): Instructional-design theories and models: A new paradigm of instructional theory. 15 . Designing instruction for constructivist learning.Fogarty. Miskonsepsi dan model pembelajaran perubahan konseptual. Hotel Indonesia. problem-based learning & other curriculum models for the multiple intelligences classroom. E. E. volume II. Disajikan dalam Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran. Myers. Dalam Fleming. J. Di Hotel Inna Garuda Yogyakarta. R. Makalah. R. R.32(3). Makalah. Inc. Slavin. Cooperative learning. K. 2004. Disajikan dalam Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran: “Peningkatan Kualitas dan Produktivitas SDM dengan Penerapan Teknologi Pembelajaran”. M. & Levie. Marzano. & Feletti. 50-53. Illinois: Training and Publishing. 18-19 Juli 2002. Publisher. 39(5). C. Is there a place for instructional design in the information age? Educational Technology. Mayer. NJ: Educational Technology Education. London: Kogan Page. 1993.DAFTAR PUSTAKA Bob. New Jersey: Lawrence Erlbaum Associates. Pembelajaran fisika berbasis keterampilan berpikir sebagai alternatif implementasi KBK. & Merryfield. I W.. The challenge of problem-based learning. 1993.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.