RINGKASAN MATERI SENI BUDAYA SEMESTER I

KELAS XII (SEMUA JURUSAN)

TEATER MODERN
PENGERTIAN TEATER Teater berasal dari kata Yunani, “theatron” (bahasa Inggris, Seeing Place) yang artinya tempat atau gedung pertunjukan. Teater menurut Cohen adalah Wadah kerja artistik dengan aktor menghidupkan tokoh tidak direkam, tapi langsung dari naskah. Namun, teater selalu dikaitkan dengan kata drama yang berasal dari kata Yunani Kuno “draomai” yang berarti bertindak atau berbuat dan “drame” yang berasal dari kata Perancis yang diambil oleh Diderot dan Beaumarchaid untuk menjelaskan lakon-lakon mereka tentang kehidupan kelas menengah. Dalam istilah yang lebih ketat berarti lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Kata “drama” juga dianggap telah ada sejak era Mesir Kuno (4000-1580 SM), sebelum era Yunani Kuno (800-277 SM). Hubungan kata “teater” dan “drama” bersandingan sedemikian erat seiring dengan perlakuan terhadap teater yang mempergunakan drama lebih identik sebagai teks atau naskah atau lakon atau karya sastra (Bakdi Soemanto, 2001). Di Indonesia, pada tahun 1920-an, belum muncul istilah teater. Yang ada adalah sandiwara atau tonil (dari bahasa Belanda: Het Toneel). Istilah Sandiwara konon dikemukakan oleh Sri Paduka Mangkunegara VII dari Surakarta. Kata sandiwara berasal dari bahasa Jawa “sandi” berarti “rahasia”, dan “wara” atau “warah” yang berarti, “pengajaran”. Menurut Ki Hajar Dewantara “sandiwara” berarti “pengajaran yang dilakukan dengan perlambang” (Harymawan, 1993). Rombongan teater pada masa itu menggunakan nama Sandiwara, sedangkan cerita yang disajikan dinamakan drama. Sampai pada Zaman Jepang dan permulaan Zaman Kemerdekaan, istilah sandiwara masih sangat populer. Istilah teater bagi masyarakat Indonesia baru dikenal setelah Zaman Kemerdekaan (Kasim Achmad, 2006).

UNSUR – UNSUR TEATER MODERN a. Naskah Lakon Salah satu ciri teater modern adalah digunakannya naskah lakon yang merupakan bentuk tertulis dari cerita drama yang baru akan menjadi karya teater setelah divisualisasikan kedalam pementasan. Naskah Lakon pada dasarnya adalah karya sastra dengan media bahasa kata. Mementaskan drama berdasarkan naskah drama berarti memindahkan karya seni dari media bahasa kata ke media bahasa pentas. Naskah lakon sebagaimana karya sastra lain, pada dasarnya mempunyai struktur yang jelas, yaitu tema, plot, setting, dan tokoh. Akan tetapi, naskah lakon yang khusus dipersiapkan untuk dipentaskan mempunyai struktur lain yang spesifik. Struktur ini pertama kali dirumuskan oleh Aristoteles yang membagi menjadi lima bagian besar, yaitu eksposisi (pemaparan), komplikasi, klimaks, anti klimaks atau resolusi, dan konklusi

tata suara. tetapi lebih bersifat fungsionalistik. Tata Artistik Tata artistik merupakan unsur yang tidak dapat dipisahkan dari teater. pemain dituntut menguasai aspek-aspek pemeranan yang dilatihkan secara khusus. e. b. untuk menangis. yaitu jasmani (tubuh/fisik). Unsur artistik disini meliputi tata panggung . Pertunjukan teater menjadi tidak utuh tanpa adanya tata artistik yang mendukungnya. tetapi lebih dari itu merupakan kesatuan yang utuh dari sebuah pementasan. sutradara selain bertanggung jawab terhadap kelangsungan proses terciptanya pementasan juga harus bertanggung jawab terhadap masyarakat atau penonton. rohani (jiwa/emosi). dan intelektual. Mereka pergi menonton karena ingin memperoleh kepuasan. TUGAS SUTRADARA . Pemain adalah alat untuk memeragakan tokoh. dan cita-cita. tata busana. Sutadara Di Indonesia penanggung jawab proses transformasi naskah lakon ke bentuk pemanggungan adalah sutradara yang merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah teater. PENYUTRADARAAN DALAM TEATER MODERN Sutradara adalah seorang yang mengkoordinasikan segala unsur teater dengan kecakapan dan daya imajinasi sehingga mewujudkan pertunjukan yang sukses.unsur tersebut tidak hanya sebagai bagian yang menempel atau mendukung. karena terharu akibat dari hasrat ingin menonton. Tetapi bukan sekedar alat yang harus tunduk kepada naskah. dan untuk digetarkan hatinya. Kelima bagian tersebut pada perkembangan kemudian tidak diterapkan secara kaku. antara penonton dengan pementasan. Sebagai pimpinan. d.(catastrope). Respon penonton atas lakon akan menjadi suatu respons melingkar. Pemeran/Pemain Pemain yang mampu menghidupkan tokoh dalam naskah lakon menjadi sosok yang nyata. Kelompok penonton pada sebuah pementasan adalah suatu komposisi organisme kemanusiaan yang peka. tata cahaya. kebutuhan. Penonton Tujuan terakhir suatu pementasan lakon adalah penonton. tata musik yang dapat membantu pementasan menjadi sempurna sebagai pertunjukan. Unsur – unsur artistik menjadi lebih berarti apabila sutradara dan penata artistik mampu memberi makna kepada bagian-bagian tersebut sehingga unsur . Untuk itu sutradara dituntut mempunyai pengetahuan yang luas agar mampu mengarahkan pemain untuk mencapai kreativitas maksimal dan dapat mengatasi kendala teknis yang timbul dalam proses penciptaan. Alasan lainnya untuk tertawa. c. Agar bisa merefleksikan tokoh menjadi sesuatu yang hidup. Pemain mempunyai wewenang membuat refleksi dari naskah melalui dirinya. tata rias.

sikap pemain . Menciptakan Aspek – Aspek Laku Sutradara memberikan saran kepada para aktor untuk menciptakan apa yang disebut laku simbolik.a.casting berdasarkan tipe (kecocokan fisik) pemain .memberi suasana khusus .efek tata sinar (tata cahaya) e. Sebagai koordinator bagi para pemain dan para teknisi WILAYAH KERJA SUTRADARA a.membuat cerita gembira menjadi suatu banyolan (lucu) .casting berdasarkan pertentangan watak atau fisik pemain . dll d.casting berdasarkan kesamaan emosi dan temperamen yang dimiliki pemain . Contoh : . Menentukan Casting casting adalah proses penyaringan untuk menentukan pemeran (pemain) berdasarkan hasil analisa naskah untuk diwujudkan dalam pertunjukan macam – macam casting ialah sebagai berikut : .casting berdasarkan kecakapan .casting berdasarkan terapi c. tata busana.pengelompokan (grouping) . Tata Teknis Pentas Sutradara harus mengerti tentang tata dan teknik pentas. Tujuannya untuk . tata cahaya. Menyusun Mise En Scene Menyusun segala perubahan yang terjadi dan terdapat pada daerah permainan karena adanya perpindahan pemeranan (pemain) atau perlengkapan panggung. tata rias. simbol warna. Sutradara bebas menentukan tekanan pada bagian – bagian cerita menurut pandangan sendiri tanpa merubah naskahnya f. Sebagai pusat kesatuan kekuatan dari para aktor b. properti. Motif (gagasan) dapat bersifat sebagai berikut : . Contoh : seting. Laku simbolik adalah cara berperan yang diciptakan sendiri oleh pemain atau sutradara untuk pemain yang biasanya tidak ada dalam naskah. Menemukan Dan Menentukan Motif (Gagasan) Menentukan motif dan gagasan yang merasuk pada suatu karya cerita dan memberi ciri kejiwaan pada karyanya. yaitu segala hal yang menyangkut kebutuhan suatu pementasan. Menguatkan Dan Melemahkan Scene Menguatkan dan Melemahkan Scene (bagian – bagian tertentu) dari suatu cerita adalah teknik atau cara dalam penggarapan cerita yang dituangkan pada bagian – bagian adegan yang ditampilkan.dekorasi yang digunakan dalam pentas .mengurangi tragedi yang berlebihan b.ringan (tidak mendalam) .

. sementara pemain dibentuk menjadi robot – robot yang tetap buta tuli. wayang dimainkan di belakang layar tipis dan sinar lampu menciptakan bayangan wayang di layar. JENIS – JENIS TEATER a. c.kisah religius. Sutradara menempatkan diri sebagai pengarah atau polisi mengkoordinasikan pemain dengan konsep pokok penafsirannya. Sutradara diktator Sutradara mengharapkan pemain dicetak seperti dirinya sendiri. d. Teater Boneka Pertunjukan boneka telah dilakukan sejak Zaman Kuno. sehingga pemain adalah cantrik yang harus setia kepada sutradara. tidak ada konsep penafsiran dua arah ia mendambakan seni sebagai dirinya. Mesir. b. Tetapi juga terikat kepada pokok penafsiran tsb. tipe Sutradara ada 4. Mempengaruhi Jiwa Pemain Sutradara disini menjadi “psikolog dramatis” yang artinya dalam menggambarkan watak. lebih mengutamakan tekananan psikologis agar mimik (raut wajah).Teater disamakan dengan padepokan. Berbagai jenis boneka dimainkan dengan cara yang berbeda.memperkaya permainan. Sutradara paternalis lalulintas yang Sutradara bertindak sebagai guru atau suhu yang mengamalkan ilmu bersamaan dengan mengasuh batin para anggotanya. Sutradara konseptor Sutradara menentukan pokok penafsiran dan menyarankan konsep penafsiranya kepada pemain. digerakkan dengan cara menggerakkan kayu silang tempat tali boneka diikatkan. Pemain dibiarkan mengembangkan konsep itu secara kreatif. Boneka sering dipakai untuk menceritakan legenda atau kisah . diksi sesuai dengan idenya dalam penggarapan cerita. Yaitu : a. menjelaskan pada penonton apa yang terkandung dalam batin seorang permainan. Sisabpeninggalannya ditemukan di makam-makam India Kuno. g. Boneka tangan dipakai di tangan sementara boneka tongkat digerakkan dengan tongkat yang dipegang dari bawah. Sutradara langsung memberikan contoh acting kepada pemain. Sutradara koordinator. Dalam pertunjukan wayang kulit. dan Yunani. Boneka tali. TIPE SUTRADARA Menurut Harymawan.

karena tema merupakan sasaran yang hendak dicapai oleh seorang penulis lakon. menari. Dengan segala konvensi yang ada di dalamnya. Makna pesan sebuah lakon yang hendak disampaikan semua ditampilkan dalam bentuk gerak. tema harus dirumuskan dengan jelas. teater dramatik mencoba menyajikan cerita seperti halnya kejadian nyata. goal. Gaya aktingpara pemain biasanya teatrikal. Satu peristiwa berkaitan dengan peristiwa lain hingga membentuk keseluruhan lakon. Tata panggung dan blocking dirancangsedemikian rupa untuk menegaskan makna puisi yang dimaksud. Karena bahan dasarnya adalah puisi maka teatrikalisasi puisi lebih mengedepankan estetika puitik di atas pentas.b. UNSUR – UNSUR PENULISAN NASKAH LAKON a. root idea. Teater Gerak Teater gerak merupakan pertunjukan teater yang unsur utamanya adalah gerak dan ekspresi wajah serta tubuh pemainnya. nyanyi. Rangkaian cerita dalam teater dramatik mengikuti alur plot dengan ketat. Teatrikalisasi Puisi Pertunjukan teater yang dibuat berdasarkan karya sastra puisi. Mencoba menarik minat dan rasa penonton terhadap situasi cerita yang disajikan. c. Karakter yang disajikan di atas pentas adalah karakter manusia yang sudah jadi. thought. Kemampuan aktor tidak hanya pada penghayatan karakter melalui baris kalimat yang diucapkan tetapi juga melalui lagu dan gerak tari. Dalam teater dramatik. Teater Dramatik Istilah dramatik digunakan untuk menyebut pertunjukan teater yang berdasar pada dramatika lakon yang dipentaskan. dan gerak daripada dialog para pemainnya. Disebut drama musikal karena memang latar belakangnya adalah karya musik yang bercerita. Akan tetapi. d. . dan akting. driving force dan sebagainya. Seorang penulis terkadang mengemukakan tema dengan jelas tetapi ada juga yang secara tersirat. dalam artian tidak ada lagi proses perkembangan karakter tokoh secara improvisatoris. Penggunaan dialog sangat dibatasi atau bahkan dihilangkan seperti dalam pertunjukan pantomim klasik. Menonjolkan laku aksi pemain dan melengkapinya dengan sensasi sehingga penonton tergugah. central idea. Drama Musikal Merupakan pertunjukan teater yang menggabungkan seni menyanyi. Drama musikal mengedepankan unsur musik. e. Tema Tema ada yang menyebutnya sebagai premis. aim. perubahan karakter secara psikologis sangat diperhatikan dan situasi cerita serta latar belakang kejadian dibuat sedetil mungkin. Karya puisi yang biasanya hanya dibacakan dicoba untuk diperankan diatas pentas.

merasa ngeri tetapi sekaligus juga merasa belas kasihan. Latar peristiwa ini bisa sebagai realita bisa juga fiktif yang menjadi imajinasi penulis lakon. Jadi plot merupakan susunan peristiwa lakon yang terjadi di atas panggung.  Komedi . c. d. Pendeknya penonton merasa menyadari betapa kecil dan rapuhnya jiwa manusia di depan kedahsyatan suratan takdir. dan babak itu terjadi. Seting  Latar Tempat Latar tempat adalah tempat yang menjadi latar peristiwa lakon itu terjadi. adegan.  Latar Waktu Latar waktu adalah waktu yang menjadi latar belakang peristiwa. Plot dapat dibagi berdasarkan babak dan adegan atau berlangsung terus tanpa pembagian. Tipe Lakon  Drama salah satu jenis lakon serius dan berisi kisah kehidupan manusia yang memiliki konflik yang rumit dan penuh daya emosi tetapi tidak mengagungkan sifat tragedi. Latar waktu terkadang sudah diberikan atau sudah diberi rambu-rambu oleh penulis lakon. Hal ini berhubungan dengan pola pengadeganan dalam permainan teater. Plot merupakan jalannya peristiwa dalam lakon yang terus bergulir hinga lakon tersebut selesai. Menurut Aristoteles peristiwa dalam lakon adalah mimesis atau tiruan dari kehidupan manusia keseharian. tetapi banyak latar waktu ini tidak diberikan oleh penulis lakon.  Tragedi Lakon tragedi sebenarnya bukan lakon yang bercerita duka cita dan kesedihan tetapi lakon yang bertujuan untuk mengoncang jjiwa penonton sehingga lemas. tergetar.Ketika tema tidak terumuskan dengan jelas maka lakon tersebut akan kabur dan tidak jelas apa yang hendak disampaikan. Plot Plot (ada yang menyebutnya sebagai alur) dalam pertunjukan teater mempunyai kedudukan yang sangat penting. b.  Latar Peristiwa Latar peristiwa adalah peristiwa yang melatari adegan itu terjadi dan bisa juga yang melatari lakon itu terjadi. dan merupakan dasar struktur irama keseluruhan permainan.

 Antagonis adalah peran lawan. atau kelompok masyarakat dengan cara yang sangat cerdik.  Satir Lakon satir adalah lakon yang mengemas kebodohan. pementasannya seolaholah dilebih-lebihkan sehingga kurang menyakinkan penonton. e. karena dia seringkali menjadi musuh yang menyebabkan konflik itu terjadi. Peran-peran tersebut adalah sebagai berikut. Perbedaan-perbedaan peran ini diharapkan akan diidentifikasi oleh penonton. Peran ini juga menentukan jalannya cerita. Penokohan Penokohan merupakan usaha untuk membedakan peran satu dengan peran yang lain. Sasaran dari lakon satir adalah orang. tetapi lebih sebagai sebuah kritik terhadap seseorang. Tokoh protagonist dan antagonis harus memungkinkan menjalin pertikaian. sehingga para penonton bisa lebih menghayati kenyataan hidupnya. kelemahan seseorang untuk mengecam. bisa dari alam. Pementasan lakon-lakon melodrama sangat berbeda dengan jenis-jenis lakon lainnya. maka perasaan penonton akan merasa terwakili oleh perasaan peran yang diidentifikasi tersebut. Peran ini disimbolkan sebagai peran yang baik. sebuah institusi atau lembaga maupun masalah sosial yang menyimpang  Melodrama lakon yang sangat sentimental. ide.Lakon komedi adalah lakon yang mengungkapkan cacat dan kelemahan sifat manusia dengan cara yang lucu. Tujuan drama satir tidak hanya semata-mata sebagai humor biasa. Persoalan ini bisa dari tokoh lain. bisa juga karena kekurangan dirinya sendiri. Tokoh antagonis harus memiliki watak yang kuat dan kontradiktif terhadap tokoh protagonis. Keberadaan peran adalah untuk mengatasi persoalan-persoalan yang muncul ketika mencapai suatu citacita. dan pertikaian itu harus berkembang mencapai klimaks.  Deutragonis . mengejek bahkan menertawakan suatu keadaan dengan maksud membawa sebuah perbaikan. perlakuan kejam. dengan tokoh dan cerita yang mendebarkan hati dan mengharukan perasaan penonton.  Protagonis adalah peran utama yang merupakan pusat atau sentral dari cerita. Lakon satir hampir sama dengan komedi tetapi ejekan dan sindiran dalam satir lebih agresif dan terselubung. Jadi lakon komedi bukan hanya sekedar lawakan kosong tetapi harus mampu membukakan mata penonton kepada kenyataan kehidupan sehari-hari yang lebih dalam. Jika proses identifikasi ini berhasil.

Peran ini ikut mendukung menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh tokoh protaganis.  Foil adalah peran yang tidak secara langsung terlibat dalam konflik yang terjadi tetapi ia diperlukan guna menyelesaikan cerita. D. Pemanggil kekuatan gaib 2. Pelengkap upacara sehubungan dengan peringatan tingkat – tingkat hidup seseorang .  Tritagonis adalah peran penengah yang bertugas menjadi pendamai atau pengantara protagonis dan antagonis. Inilah sebabnya pertunjukan tidak dapat dikemas menurut kehendak penonton atau penyelenggara tontonan. Menjemput roh – roh pelindung untuk hadir di tempat terselenggaranya pertunjukan 3. yang harus dilakukan secara sungguh – sungguh dengan segala hal seremoninya. Peringatan pada nenek moyang dengan mempertontonkan kegagahan maupun kepahlawanannya 5. Pertunjukan teater tradisional harus dipertunjukkan dengan sistem kepercayaan mereka.adalah tokoh lain yang berada di pihak tokoh protagonis. Ia terikat oleh sistem kepercayaan. Memanggil roh – roh baik untuk mengusir roh – roh jahat 4. Untuk memahami teater tradisional diperlukan pemahaman terhadap religi yang menjadi dasarnya.Djajakusuma membagi teater tradisional menjadi dua yaitu : teater orang dan teater boneka. Pertunjukan teater tradisional tidak dapat sembarangan waktu diadakan. FUNGSI POKOK TEATER TRADISIONAL 1. Teater tradisional tidak otonom.  Utility adalah peran pembantu atau sebagai tokoh pelengkap untuk mendukung rangkaian cerita dan kesinambungan dramatik. TEATER TRADISIONAL Mengenal teater tradisional Indonesia tidak sederhana. Seni teater adalah sesuatu yang sakral. Tiap jenis teater telah ada ketentuan permainannya. Biasanya tokoh ini mewakili jiwa penulis. Masing – masing kelompok teater tadi dibagi menjadi teater Istana dan teater rakyat. Biasanya dia berpihak pada tokoh antagonis.

yaitu : Tertawa dan menangis. Penonton mengikuti pertunjukan secara santai dan akrab. mitologi. atau kehidupan sehari – hari 2. Pelengkap upacara untuk saat – saat tertentu dalam siklus waktu CIRI-CIRI TEATER TRADISIONAL/TEATER RAKYAT 1. Jawa Tengah. dan dalam satu adegan biasanya terdapat dua unsur emosi sekaligus. Unsur lawakan selalu muncul 4. tarian dan nyanyian 3. menyajikan dialog. donWgeng. tarian. dan Daerah Istimewa Yogyakarta). Ketoprak menurut arti luasnya adalah Teater rakyat yang lahir di Jawa (Jawa Timur. penggambaran awal dari ketoprak lesung. Cerita tanpa naskah dan digarap berdasarkan peristiwa sejarah. sejarah. Penyajian dengan dialog. dongeng. kurang lebih sebagai berikut : . dan fiktif) baik dari dalam maupun luar negeri. 5. babad. Dan bahkan tidak terelakkan adanya dialog langsung antara pelaku (tokoh/aktor) dengan publiknya (penonton) 7. Ketoprak Lesung (1887 – 1925) Bentuk awal dari kesenian ketoprak hanya berupa permainan hiburan santai di waktu senggang dikalangan rakyat pedesaan. SEJARAH KETOPRAK / PERIODISASI KETOPRAK MENURUT ALAT MUSIKNYA a. Pertunjukan menggunakan tetabuhan / musik tradisional 6. Tempat pertunjukan terbuka dalam bentuk arena (dikelilingi penonton) KETHOPRAK PENGERTIAN KETHOPRAK Kethoprak menurut asal bahasanya yaitu Kethok-kethok dan Prak-Prak Kethok-kethok berati penanda. nyanyian dan lawakan dengan tanda pembabakan menggunakan pukulan keprak (kentongan) dan membawakan cerita rakyat (legenda.6. Prak-Prak itu adalah ilustrasi musiknya. Nilai dan laku dramatik dilakukan secara spontan. Menggunakan bahasa daerah setempat 8.

nyanyi-nyanyian lama kelamaan menjemukan dan monoton. baik diambil dari cerita rakyat. maupun cerita dari luar negeri (Johar Manik. Permainan santai ini diikuti oleh para remaja desa. Ada juga perkumpulan ketoprak lainnya menambahkan peralatan seperti : biola dan mandolin. Cerita pada Ketoprak Lesung masih seputar pertanian (masalah hama. dll) Alat iringan selain lesung. Tradisi permainan gejog lesung memang telah lama ada dikalangan rakyat petani jawa. Baik menyangkut alat iringan. Suara gejog tersebut cukup menarik minat para tetangga untuk menggabung dalam permainan tersebut. Pada awalnya. penyempurnaan dan penambahan mulai dilakukan. .Lesung besar (alat untuk menumbuk padi) telah tersedia disamping kanan atau kiri rumah petani. Diantara penonton yang mempunyai jiwa seni menambahkan beberapa adegan berupa lawakan untuk menyegarkan suasana. di sebuah pendapa. Aktor mennyanyi. kempul. baik laki – laki maupun perempuan. yaitu masih bersifat pedesaan. Ikatan antara pemain dan penonton masih erat dan kesempatan berpartisipasi terbuka lebar. Sam Pek Eng Tay. Pada awal kehadirannya. Gerak – gerak sederhana dengan cara improvisasi muncul dengan bebas menurut gayanya sendiri – sendiri. Suara pukulan lesung yang berirama gejog juga terdengar apabila gerhana bulan. Ketoprak Peralihan (1925 – 1927) Pertunjukan ketoprak lesung mendapatkan sambutan baik dari masyarakat. Seorang atau dua orang penduduk desa mengawali memukul lesung tersebut dengan irama gejog yang umum dimainkan orang pedesaan. kemungkinan awal dari pertunjukan tersebut menandai berawalnya Ketoprak Gamelan. Dewi Sri. Pada Ketoprak Peralihan. seruling dan terbang sudah tidak memuaskan lagi. lalu aktor memperkenalkan dirinya. namanya siapa dan pada malam itu dia memerankan apa. panji. gong dan lainnya. Maka ditambah dengan beberapa gamelan. Klaten (Jawa Tengah) dan daerah pertanian lainnya. kendang. Ketoprak Gamelan (1927 . dll) Gerakan tari lebih teratur dan terkonsep. Permainan gejog lesung yang merupakan bibit pertunjukan ketoprak ini banyak dilakukan didesa – desa di sekitar Daerah Istimewa Yogyakarta. Sifat humor dan penyajian yang sederhana dari pertunjukan tersebut sesuai dengan keadaan masyarakat disana. Lama – kelamaan. seruling dan terbang b. tarian maupun pakaian. unsur tata busana mulai difikirkan. seperti : saron. Sinar bulan merupakan alat penerangan pementasan. Permainan yang pada awalnya hanya berisi bunyi – bunyian.sekarang) Pada tahun 1927. Rombongan Ki Wisangkara (Surakarta) mementaskan Aji Saka dengan menggunakan peralatan gamelan. Sifat kesantaian permainan gejog lesung tidak mengharuskan orang memakai pakaian khusus (tata busana yang khusus). Cerita ketoprak mulai diperluas. namun kapan dan dimana pertama kali muncul tidak diketahui. Bunyi berirama yang keluar dari lesung memancing peserta yang tidak mendapat bagian memukul lesung untuk menari – nari mengikuti irama tersebut. antara lain : kendang. c. babad. cerita. taraf permainan tersebut masih belum berupa pertunjukan dalam arti sebenarnya. ketika Aktor masuk. tari-tarian. Alat iringan yang hanya terdiri dari lesung. namun terkadang tersedia juga lesung lebih kecil. Yang menarik pada Ketoprak Peralihan ini adalah cara memperkenalkan diri kepada penonton.

pengaturan bagian – bagian yang lain dilaksanakan secara terancang. f. sengsem (terhanyut. h. sederhana dan lengkap tanpa dialog e.Blangkon 2. dibuat dari kain bludru yang dibordir (Ketoprak gaya Surakarta/Solo) . meskipun dalang (sutradara) tidak mengendalikan i. Konsep penyutradaraan tidak meninggalkan unsur : sereng (kereng/serius). JENIS PAKAIAN / TATA BUSANA Tata Busana dapat dibedakan menjadi : 1. lucu dan bobot (isi/kualitas).Kemeja panjang . CIRI – CIRI KETOPRAK : a. dan nyanyian sudah melewati tahap latihan. babad.Kemben .Celana panji .mentrinya .Kuluk/ mahkota untuk upacara raja dan mentri. dapat bersama – sama atau perorangan g.Iket lembaran / Udheng .Kebaya . maupun spontanitas. Naskah Ketoprak/woss berbeda dengan naskah lakon lainnya. Pementasan dapat berjalan. Jenis Pakaian Mesiran . dongeng. terlena). Naskah Ketoprak yang dikenal dengan woss d. Dapukan (tokoh yang akan diperankan) / baik terancang maupun spontanitas. Jenis Pakaian Kejawen Jenis – jenis pakaian kejawen antara lain : .Rompi . Penyutradaraan dilakukan secara luwes c. b. tarian. sehingga pada waktu pementasan mereka tidak akan mati diatas pentas.Simbar. para pemeran dapat meluangkan waktu (walau sebentar) untuk berkoordinasi dengan lawan mainnya. Pada Ketoprak Gamelan. Meskipun menggunakan woss (naskah ketoprak) yang hanya sederhana dan menerangkan point pentingnya saja. gerakan – gerakan seperti pencak silat.Jubah . Cerita biasanya sudah dikenal dalam masyarakat (legenda.Dalam Ketoprak ini alat musiknya (secara keseluruhan) menggunakan gamelan. dengan ciri – ciri : Naskah singkat. sejarah. fiktif) baik dari dalam maupun luar negeri. Dapukan disini bahasa lainnya adalah tokoh Penuangan cerita.Baju Surjan .Celana panjang gombyor .

Pakaian ini digunakan untuk membawakan cerita khusus yang bernafaskan Islam.Binggel dan gelang Cara menggunakan kostum dalam ketoprak 1. Jenis Pakaian Gedhog Jenis pakaian ini terpengaruh dengan pakaian wayang orang. Rakyat. hanya disana sini ada perubahan – perubahan. dll 3.Jamang dan sumping . Dengan cerita Damarwulan. pada waktu Ketoprak RRI Yogyakarta pimpinan Cokrojiyo mengadakan pementasan disebuah gedung pertunjukan. Anglingdarmo.Jenis pakaian ini digunakan untuk cerita – cerita dari luar/ mesiran. Jenis pakaian Gedhog digunakan untuk membawakan cerita – cerita mulai jaman sebelum Majapahit s/d mapahit runtuh. Disesuaikan dengan kedudukannya dalam peran (Raja. kostumnya jelas berbeda) 3. Cerita Panji. tidak berlebih – lebihan.Sc) Jenis pakaian ini mulai dikenal pada tahun 1958. yaitu bagian bawah menggunakan kain batik atas menggunakan jubah. Pakaian gedhog antara lain : . Tumenggung. Wajar.Kelat bahu . Misalnya : dongeng dari cerita 1001 Malam. Cerita Wali. cerita Turki. Pancapana Indrayana. Jenis Pakaian Basahan Yang dimaksud dengan pakaian basahan adalah jenis gabungan antara pakaian kejawen dengan mesiran. dll 4. wayang) . Misalnya : Cerita Menak ( Wong Ageng Jayeng Rono). Cerita – cerita tersebut antara lain : Damarwulan. dll (Marsidah B. Patih.Tropong (dapat berbentuk seperti candi. namun cukup untuk menimbulkan rasa keindahan . Kostum sebaiknya ginakan sesuai/ mendekati dengan cerita yang akan dibawakan 2.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful