Model Pembelajaran VCT A.

Pengertian VCT

VCT adalah salah satu teknik pembelajaran yang dapat memenuhi tujuan pancapaian pendidikan nilai. Djahiri (1979: 115) mengemukakan bahwa Value Clarification Technique, merupakan sebuah cara bagaimana menanamkan dan menggali/ mengungkapkan nilai-nilai tertentu dari diri peserta didik. Karena itu, pada prosesnya VCT berfungsi untuk: a) mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai b) membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik yang positif maupun yang negatif untuk kemudian dibina kearah peningkatan atau pembetulannya c) menanamkan suatu nilai kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa sebagai milik pribadinya. Dengan kata lain, Djahiri (1979: 116) menyimpulkan bahwa VCT dimaksudkan untuk “melatih dan membina siswa tentang bagaimana cara menilai, mengambil keputusan terhadap suatu nilai umum untuk kemudian dilaksanakannya sebagai warga masyarakat” Teknik mengklarifikasi nilai (value clarification technique) atau sering disingkat VCT dapat diartikan sebagai teknik pengajaran untuk membantu siswa dalam mencari dan menentukan suatu nilai yang dianggap baik dalam menghadapi suatu persoalan melalui proses menganalisis nilai yang sudah ada dan tertanam dalam diri siswa. Menurut A. Kosasih Djahiri (1985) model pembelajaran VCT meliputi; metode percontohan; analisis nilai; daftar/matriks; kartu keyakinan; wawancara, yurisprudensi dan teknik inkuiri nilai. Selain itu dikenal juga dengan metode bermain peran, diskusi, curah pendapat. Metode dan model di atas dianggap sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran PKn, karena mata pelajaran PKn mengemban misi untuk membina nilai, moral, sikap dan prilaku siswa, disamping membina kecerdasan (knowledge) siswa. Kelemahan yang sering terjadi dalam proses pembelajaran nilai atau sikap adalah proses pembelajaran dilakukan secara langsung oleh guru, artinya guru menanamkan nilai-nilai yang dianggapnya baik tanpa memerhatikan nilai yang sudah tertanam dalam diri siswa. Akibatnya, sering terjadi benturan atau konflik dalam diri siswa karena ketidakcocokan antara nilai lama yang sudah terbentuk dengan nilai baru yang ditanamkan oleh guru. Siswa sering mengalami kesulitan dalam menyelaraskan nilai lama dan nilai baru. Salah satu karakteristik VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran sikap adalah proses penanaman nilai dilakukan melalui proses analisis nilai yang sudah ada sebelumnya dalam diri siswa kemudian menyelaraskannya dengan nilai-nilai baru yang hendak ditanamkan.

Unsur-Unsur Model Pembelajaran VCT 1. berupa contoh keadaan/perbuatan yang memuat nilai-nilai kontras sesuai dengan topik atau tema target pelajaran. mengundang. meniadakan mengintervensi dan menyubversi berbagai nilai moral naif yang ada dalam sistem nilai dan moral yang ada dalam diri seseorang 7) menuntun dan memotivasi untuk hidup layak dan bermoral tinggi. b) Terjangkau oleh pengetahuan dan potensi afektual siswa (ada dalam lingkungan kehidupan siswa). melibatkan. sehingga pada akhirnya nilai tersebut akan menjadi milik siswa 4) Melatih siswa bagaimana cara menilai. serta mengambil keputusan terhadap sesuatu persoalan dalam hubungannya dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat. c) Memuat sejumlah nilai moral yang kontras. .VCT sebagai suatu model dalam strategi pembelajaran moral bertujuan : 1) Untuk mengukur atau mengetahui tingkat kesadaran siswa tentang suatu nilai 2) Membina kesadaran siswa tentang nilai-nilai yang dimilikinya baik tingkatannya maupun sifatnya (positif dan negatifnya) untuk kemudian dibina ke arah peningkatan dan pembetulannya 3) Untuk menanamkan nilai-nilai tertentu kepada siswa melalui cara yang rasional dan diterima siswa. B. Pembelajaran VCT menurut A. Media stimulus yang akan Anda gunakan dalam ber VCT hendaknya: a) Mampu merangsang. dan melibatkan potensi afektual siswa. membina dan mengembangkan potensi diri siswa terutama potensi afektualnya 5) mampu memberikan pengalaman belajar dalam berbagai kehidupan 6) mampu menangkal. Kosasih Djahiri (1992). Ciri-ciri model pembelajaran VCT a. Langkah-langkah (Sintaks) model pembelajaran VCT Membuat/mencari media stimulus. 1) mampu membina dan mempribadikan nilai dan moral 2) mampu mengklarifikasi dan mengungkapkan isi pesan materi yang disampaikan 3) mampu mengklarifikasi dan menilai kualitas nilai moral diri siswa dan nilai moral dalam kehidupan nyata 4) mampu mengundang. dianggap unggul untuk pembelajaran afektif karena. menerima.

1. setiap tahapan dijelaskan sebagai berikut. atau film. Artinya. Artinya. dan klasikal). Pada tingkat ini terdapat 3 tahap. kelompok. terdiri atas 2 tahap. (1) Adanya perasaan senang dan bangga dengan nilai yang menjadi pilihannya. b) Memberi kesempatan beberapa saat kepada siswa untuk berdialog sendiri atau sesama teman sehubungan dengan stimulus tadi. (3) Memilih setelah dilakukan analisis pertimbangan konsekuensi yang akan timbul sebagai akibat pilihannya. f) Penyimpulan. Nilai yang dipaksakan tidak akan menjadi miliknya secara penuh.Kegiatan Pembelajaran (KBM) a) Guru melontarkan stimulus dengan cara membaca cerita atau menampilkan gambar. maka kita akan berani dengan penuh kesadaran untuk menunjukkannya di depan orang lain. Berbuat. bila kita menggagap nilai itu suatu pilihan. . artinya kesempatan untuk menentukan pilihan yang menurutnya baik. Artinya. (1) Kemauan dan kemampuan untuk mencoba melaksanakannya (2) Mengulangi perilaku sesuai dengan nilai pilihannya. 2. atau klasikal. c) Melaksanakan dialog terpimpin melalui pertanyaan guru. e) Pembahasan/pembuktian argumen. d) Menentukan argumen dan klarifikasi pendirian (melalui pertanyaan guru dan bersifat individual. nilai yang menjadi pilihan itu harus tercermin dalam kehidupannya sehari-hari. (2) Memilih dari beberapa alternatif. kelompok. (2) Menegaskan nilai yang sudah menjadi bagian integral dalam dirinya di depan umum. baik secara individual. Terdiri atas 2 tahap pembelajaran. yaitu. yaitu: (1) Memilih secara bebas. Kebebasan Memilih. untuk menentukan pilihan dari beberapa alternatif pilihan secara bebas. Pada fase ini sudah mulai ditanamkan target nilai dan konsep sesuai materi pelajaran. 3. Menghargai. Langkah Model Pembelajaran VCT John Jarolimek (1974) menjelaskan langkah pembelajaran dengan Value clarification technique (VCT) dalam 7 tahap yang dibagi ke dalam 3 tingkat. sehingga nilai tersebut akan menjadi bagian dari dirinya. yaitu. foto. Pada tahap ini.

Sistem sosial model pembelajaran VCT Sistem sosial adalah pola hubungan guru dengan siswa pada saat terjadinya proses pembelajaran. Sistem pendukung yang diperlukan untuk melaksanakan model pembelajaran VCT adalah sebagai berikut. 1) Tersedianya perpustakaan yang dapat mendukung proses pembelajaran. Guru sebagai pembimbing dalam pembelajaran. 2) Adanya sumber belajaran yang lain dan narasumber yang dapat dimanfaakan oleh siswa. VCT menekankan bagaimana sebenarnya seseorang membangun nilai yang menurut anggapannya baik. VCT dikembangkan melalui proses dialog antara guru dan siswa. d. Guru memberikan fasilitas agar proses pembelajaran berlangsung optimal. Beberapa hal yang harus diperhatikan guru dalam mengimplementasikan VCT melalui proses dialog . Prinsip reaksi dalam model pembelajaran VCT adalah sebagai berikut. 3) Peranan guru dan siswa sederajat. Prinsip reaksi model pembelajaran VCT Prinsip reaksi berkaitan dengan pola kegiatan yang menggambarkan bagaimana seharusnya guru memberikan respon terhadap siswa. walaupun dalam hal ini berbeda peran. Proses tersebut hendaknya berlangsung dalam suasana santai dan terbuka. yaitu memberikan pesan-pesan moral yang menurut guru dianggap baik. Sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya. Sehingga setiap siswa dapat mengungkapkan secara bebas perasaannya. yaitu sebagai berikut : 1) Hindari penyampaian pesan melalui proses pemberian nasihat. Sistem sosial pada model pembelajaran VCT adalah sebagai berikut. 1) Kegiatan kelas berorientasi pada pemecahan masalah. c. Dalam praktik pembelajaran. Sistem pendukung model pembelajaran VCT Sistem pendukung adalah penunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di kelas.b. 2) Guru dan siswa mengenal dan menganalisis masalah secara rinci. . yang pada gilirannya nilai-nilai tersebut akan mewarnai perilakunya dalam kehidupan sehai-hari di masyarakat.

. dari persoalan yang ada atau yang ditemukan peserta didik 2) Guru bertanya berkenaan yang dialami peserta didik 3) Peserta didik merespon pernyataan guru 4) Tanya jawab guru dengan peserta didik berlangsung terus hingga sampai pada tujuan yang diharapkan untuk menanamkan niai-nilai yang terkandung dalam materi tersebut. adil tidak adil. Berkenaan dengan teknik pembelajaran nilai Jarolimek merekomendasikan beberapa cara. salah benar. 7) Jangan mengorek alasan siswa lebih dalam. Langkah-langkahnya antara lain: 1) Memilih satu masalah / kasus / kejadian yang diambil dari buku atau yang dibuat guru. 2) Siswa dipersilahkan memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan menggunakan kode. 3) Usahakan dialog dilaksanakan secara bebas dan terbuka. 4) Dialog dilaksanakan kepada individu. Teknik Lecturing Teknik lecturing. 3) Hasil kerja kemudian dibahas bersama-sama atau kelompok kalau dibagi kelompok untuk memberikan kesempatan alasan dan argumentasi terhadap penilaian tersebut.2) Jangan memaksa siswa untuk memberi respons tertentu apabila memang siswa tidak menghendakinya. Sehingga siswa akan mengungkapkan perasaannya secara jujur dan apa adanya. bukan kepada kelompok kelas. Sehingga ia menjadi defensif. 5) Hindari respons yang dapat menyebabkan siswa terpojok. antara lain: a. dsb. misalnya: baik-buruk. b. 6) Tidak mendesak siswa pada pendirian tertentu. Teknik evaluasi diri (self evaluation) dan evaluasi kelompok (group evaluation) Dalam teknik evaluasi diri dan evaluasi kelompok peserta didik diajak berdiskusi atau tanya-jawab tentang apa yang dilakukannya serta diarakan kepada keinginan untuk perbaikan dan penyempurnaan oleh dirinya sendiri: 1) Menentukan tema. dilalukan guru dengan bercerita dan mengangkat apa yang menjadi topik bahasannya.

harus. Teknik mengungkapkan nilai melalui permainan (games). dan penemuan. pemahaman.2007:143). e. Penelitian entografi adalah suatu bentuk penelitian yang berfokus pada makna sosiologis melalui observasi lapangan tertutup dari fenomena sosiokultural (Emzir. Teknik menarik dan memberikan percontohan Dalam teknik menarik dan memberi percontohan (example of axamplary behavior). Selanjutnya hasil kerja itu dibahas bersama atau kelompok untuk memberikan tanggapan terhadap penilaian. Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan Teknik indoktrinasi dan pembakuan kebiasan. benar – tidak-benar. 2. dinilai dan didiskusikan. Pendekatan yang digunakan pada model pembelajaran VCT Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. siswa membuat tulisan sedangkan guru membuat catatan kode penilaiannya. kemudian dianalisis. guru memberikan dan meminta contoh-contoh baik dari diri peserta didik ataupun kehidupan masyarakat luas. baik dari buku atau khusus dibuat guru. f. Prinsip dalam penelitian entografi adalah naturalism. Teknik menilai suatu bahan tulisan Teknik menilai suatu bahan tulisan. dan sebagainya. Teknik tanya-jawab Teknik tanya-jawab guru mengangkat suatu masalah.buruk.c. lalu mengemukakan pertanyaan-pertanyaan sedangkan peserta didik aktif menjawab atau mengemukakan pendapat pikirannya. Cara ini dapat dibalik. g. Ada tiga strategi yang digunakan dalam pendekatan ini yakni: 1. Dalam hal ini peserta didik diminta memberikan tanda-tanda penilaiannya dengan kode (misal: baik . Pendekatan yang digunakan dalam Model Pembelajaran VCT adalah pendekatan kualitatif. dilarang. d. . adil – tidak-adil dll). Pendekatan Kualitatif Pendekatan yang secara primer menggunakan paradigma pengetahuan berdasarkan pandangan konstruktivist (pengalaman individu atau pandangan advokasi). dalam teknik ini peserta didik dituntut untuk menerima atau melakukan sesuatu yang oleh guru dinyatakan baik.

amb il resiko.Memelihara kolaborasi dan pembelajaran subjek.Membuat generalisasi yang mendasar. .Menyiapkan suatu pernyataan masalah teoritis. teori.Menetapkan suatu kesepatakantan penelitian formal. elaborasi. interpretif. Tindakan tradisional. penurunan teori.2007:193). . formatif.Mengulangi peningkatan. yaitu: 1.2007:233). penilaian teori. historis dan ekonomis yang mempengaruhi fenomena sentral. . Penelitian tindakan (action research) adalah suatu penelitian informal. .2.data pengkodean poros. peneliti membentuk kategori awal. 4. 3. . . Tindakan radikal. dan validasi dari teori ilmu sosial (Glaser dan Strauss dalam Emzir.data pengkodean terbuka. di mana semua individu diibaratkan dalam studi sebagai peserta yang mengetahui dan menyokong (Hopkin dalam Emzir. reflektif dan suatu model penelitian pengalaman. sumber daya kolaboratif. Penelitian grounded theory (teori dasar) adalah teori umum dari metode ilmiah yang berurusan dengan generalisasi.Merencankan metode pengumpulan data. pengembangan teori. 2. • Prinsip penelitian tindakan meliputi kritik reflektif. Tindakan bidang pendidikan. . Prinsip dalam grounded theory sebagai metode ilmiah sebagai berikut: perumusan masalah.Mempertimbangkan pergantian paradigma. peneliti mengindentifikasi garis cerita dan menulis cerita. • Jenis penilitian tindakan ada 4. subjektif. . 3. struktur jamak. . • proses analisis data . praktis dan transformasi. deteksi fenomena.data pengkodean selektif. . kualitatif. kritik dialektif. Tindakan kontekstural. • Metode penelitian tindakan . peneliti merakit data dalam cara baru setelah open coding.peneliti mengembangkan dan menggambarkan secara visual suatu penjelasan kondisi sosial.

para peserta dapat saling beradu argumentasi untuk meyakinkan peserta lainnya. curah pendapat. • Dapat mendorong partisipasi peserta didik secara aktif baik sebagai partisipan. Sedangkan kelemahan metode ini. maka metode menyangkut masalah cara kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan. • Memerlukan waktu yang tidak terbatas. Sehubungan dengan upaya ilmiah. prakarsa ataupun terobosan -terobosan baru dalam pemecahan masalah. Pengetahuan tentang metode-metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik. permainan. Diskusi biasanya digunakan sebagai bagian yang tak terpisahkan dari penerapan berbagai metode lainnya. • Sulit menentukan topik masalah yang sesuai dengan tingkat berfikir peserta didik yang memiliki relevansi dengan lingkungan. sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran (gagasan. penanya. Metode yang digunakan dalam Model Pembelajaran VCT yaitu sebagai berikut a. sebab berhasil atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode mengajar yang digunakan oleh guru. • Melatih kestabilan emosi dengan menghargai dan menerima pendapat orang lain dan tidak memaksakan pendapat sendiri sehingga tercipta kondisi memberi dan menerima (take dan give). kesimpulan). Kesepakatan pikiran inilah yang kemudian ditulis sebagai hasil diskusi. • Keputusan yang diambil kelompok akan lebih baik daripada berfikir sendiri. Untuk mencapai kesepakatan tersebut. • Menimbulkan kreativitas dalam ide. pendapat. penyanggah maupun sebagai ketua ataupun moderator.3. Metode yang digunakan pada model pembelajaran VCT Metode berasal dari Bahasa Yunani “Methodos‟‟ yang berarti cara atau jalan yang ditempuh. dan lain-lain. Diskusi Metode ini bertujuan untuk tukar menukar gagasan. . seperti: penjelasan (ceramah). Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan. informasi/ pengalaman diantara peserta. gagasan. pemikiran. diskusi kelompok. Kelebihan metode diskusi. • Menumbuhkan kemampuan berfikir kritis dan partisipasi demokratis.

Curah Pendapat (Brain Storming) Metode curah pendapat adalah suatu bentuk diskusi dalam rangka menghimpun gagasan. Kelebihan metode ini. • Perbedaan pendapat dapat mengundang reaksi di luar kelas bahkan dapat menimbulkan bentrokan fisik. pada penggunaan metode curah pendapat pendapat orang lain tidak untuk ditanggapi. dilengkapi. Metode ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam „pertunjukan‟. yang diperlukan dalam menghadapi berbagai situasi sosial yang problematis. dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran. • Memperkaya pengetahuan. sikap. peta pengalaman. • Kadang tidak membuat penyelesaian yang tuntas walaupun kesimpulannya telah disepakati namun implementasi sangat sulit dilaksanakan. dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. atau peta gagasan (mindmap) untuk menjadi pembelajaran bersama. pendapat. Bermain Peran (Role-Play) Bermain peran pada prinsipnya merupakan metode untuk „menghadirkan‟ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu „pertunjukan peran‟ di dalam kelas/pertemuan. atau tidak disepakati) oleh peserta lain. c. informasi. sebab simulasi dilakukan sesuai dengan kreasi siswa masing-masing dalam membawakan peranannya. dikurangi. Berbeda dengan diskusi. dan keterampilan serta pengalaman tidak langsung. pengetahuan. dari semua peserta. • Didominasi oleh orang-orang tertentu yang biasanya aktif. dimana gagasan dari seseorang dapat ditanggapi (didukung. Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut. pengalaman semua peserta yang sama atau berbeda. informasi. • Dapat merangsang siswa untuk menjadi terampil dalam menanggapi dan bertindak secara spontan.• Pembicaraan atau pembahasan sering meluas dan mengambang. . pengalaman. • Memupuk daya cipta. b. yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Hasilnya kemudian dijadikan peta informasi. tanpa memerlukan persiapan dalam waktu lama. Tujuan curah pendapat adalah untuk membuat kompilasi (kumpulan) pendapat.

• Biaya pengembangannya tinggi dan perlu waktu lama. Wawancara Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden. d. pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu. a. metode wawancara juga memiliki kelemahan. b. c. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan. a. . Menjadi satu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan. • Resiko siswa atau pengajar tinggi. • Fasilitas dan alat-alat khusus yang dibutuhkan mungkin sulit diperoleh serta mahal harganya dan pemeliharaannya. d. Menurut Yin (2003) disamping kekuatan. Retan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai. Fleksibel. b. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan.Kelemahan metode ini. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik. caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka. Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara. yaitu sebagai berikut. c.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful