PROPOSAL PENELITIAN

STRES DAN COPING LANSIA PADA MASA PENSIUN

Pembimbing : dr. Rina K. Kusumaratna, M.Sc., Ph.D

Disusun oleh : Christian Kevin (030.07.0) Ervan Surya (030.07.085) Fandi Ahmad (030.07.087) Subash (030.06.347)

KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN MASYARAKAT PUSKESMAS KECAMATAN TEBET PERIODE 18 JUNI – 1 SEPTEMBER 2012

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI STRES DAN COPING LANSIA PADA MASA PENSIUN BAB 1 PENDAHULUAN

3.1

Latar Belakang Dalam kehidupan sosial masyarakat usia lanjut sering dihubungkan dengan

menurunnya kemampuan produktifitas dan aktifitas fisik, sudah layak pensiun dari aktifitas pekerjaan, pantas untuk dimanjakan, cukup menunggu cucu, dan harus dihormati untuk dimintai nasihat, pandangan, dan pemikiran yang lebih arif dan bijaksana, seseorang yang makin pikun, berlaku sewenang-wenang, sulit menyesuaikan diri dengan perubahan, makin meningkat kegiatan ibadah sesuai agamanya serta terjadi kemunduran fungsi organ tubuh.(1) Proses menua didalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu hal yang wajar yang akan dialami oleh semua orang yang dikaruniai umur panjang, proses ini terjadi terus menerus dan berkelanjutan secara alamiah. Berdasarkan UU No.12 Tahun 1998 tentang usia lanjut disebutkan bahwa yang masuk dalam kategori lansia adalah mereka yang berusia 60 tahun keatas. Namun yang terjadi di Indonesia banyak individu yang berusia 56 tahun sudah pensiun dari pekerjaannya.(2) Menurut Ronald (2005), persentase penduduk lanjut usia diatas 65 tahun pada tahun 1998 di Swedia ada 17,4%, Belgia 16,4%, Inggris 16%, Jerman 15,9%, dan Denmark 15,2%. Sedangkan di Indonesia pada tahun 1998 jumlah lansia ada 4,5%. Pada tahun 2000 diperkirakan jumlah lansia meningkat 9,99 % dengan harapan hidup 65 sampai 70 tahun yang diperkirakan pada tahun 2020 terus meningkat menjadi 11,09 % dengan harapan hidup 70 sampai 75 tahun. Berdasarkan sensus penduduk Indonesia tahun 2000 diperoleh data bahwa jumlah lansia mencapai 15,8 juta jiwa atau 3,6% dan pada tahun 2005 diperkirakan jumlah lansia meningkat 18,2 juta jiwa dan tidak menutup kemungkinan pada tahun 2015 menjadi 24,4 juta jiwa. Banyak orang takut memasuki masa lanjut usia, karena asumsi mereka lansia itu adalah tidak berguna, lemah, tidak punya semangat hidup, penyakitan, pelupa,

2

(2) Pada umumnya setelah orang memasuki usia lanjut maka ia akan mengalami penurunan fungsi kognitif dan psikomotor. Pada kenyataannya. Kemampuan coping dengan adaptasi terhadap stres merupakan faktor penentu yang penting dalam kesejahteraan manusia. tidak diperhatikan oleh keluarga dan masyarakat. koordinasi yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. Proses penuaan pada setiap orang berbeda-beda. dan dapat memperkuat harga diri). stres yang bersumber dari diri sendiri. Walaupun demikian menua tidak dianggap suatu penyakit tetapi merupakan suatu proses berkurangnya daya tahan tubuh dalam menghadapi rangsangan dari dalam maupun luar tubuh. menjadi beban orang lain. keluarga. Pensiun seringkali dianggap sebagai kenyataan yang tidak menyenangkan sehingga menjelang masanya tiba sebagian orang sudah merasa stres karena tidak tahu kehidupan macam apa yang dihadapi. Penurunan fungsi kognitif meliputi proses belajar. Mekanisme coping yang 3 . dan masyarakat. dan intrapersonal. yaitu. lansia mengalami berbagai perubahan.(3) Kemunduran fisik dan psikologis pada lansia dapat memberikan masalah pada lansia tersebut dan orang disekitarnya. secara fisik maupun mental. jabatan. tindakan. perubahan-perubahan tersebut dapat diantisipasi sehingga tidak datang lebih dini.pikun. Individu dapat menanggulangi stres dengan menggunakan atau mengambil sumber coping baik sosial. tergantung pada sikap dan kemauan seseorang dalam mengendalikan atau menerima proses penuaan itu. Akan tetapi. Dan pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun.(5) Untuk mengatasi stres pada lansia pensiun. yang mengancam dan mengganggu seseorang untuk menanganinya. sumber stres dibagi tiga. coping adalah pemecahan masalah yang digunakan untuk mengelola stres atau kejadian yang dialami oleh lansia. interpersonal. pemahaman. lansia membutuhkan mekanisme pertahanan diri yang disebut koping. perhatian sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia semakin lambat. pekerjaan merupakan salah satu faktor terpenting yang bisa mendatangkan kepuasan (karena uang. persepsi. dan sebagainya.(4) Dalam era modern seperti sekarang ini. Sementara penurunan fungsi psikomotorik meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan. Menurut Hidayat (2004). Stres adalah respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stres (stressor). pengertian.

keluarga.dapat dilakukan ada dua jenis yaitu reaksi yang berorientasi pada tugas (task oriented reaction) dimana individu mencoba menghadapi kenyataan tuntutan stres dengan menilai secara objektif ditujukan untuk mengatasi masalah. Mengidentifikasi bentuk stres dan coping yang digunakan lansia pada masa pensiun yang bersumber dari masalah keluarga. 4 . Pensiunan antara lain: pegawai negeri sipil. pekerjaan. Berdasarkan uraian diatas.2 • Rumusan Masalah Bagaimana coping pada lansia terhadap stres yang bersumber dari masalah finansial. pegawai swasta. wiraswasta. Sedangkan reaksi yang berorientasi pada ego (ego oriented reaction) sering kali digunakan untuk melindungi diri sendiri sehingga disebut mekanisme pertahanan ego. Tujuan Khusus i. buruh/karyawan dan lain sebagainya. peneliti menemukan jumlah lansia sebanyak 130 orang yang terdiri dari pensiunan dan bukan pensiunan.(6) Berdasarkan survei awal yang dilakukan peneliti di kelurahan Manggarai Selatan Kecamatan Tebet. 3. Fenomena diatas menunjukkan bahwa sesungguhnya pensiun adalah situasi yang merupakan stresor bagi lansia dan seringkali dianggap hal yang menakutkan. Mengidentifikasi bentuk stres dan coping yang digunakan lansia pada masa pensiun yang bersumber dari masalah finansial ii. dan penurunan fungsional tubuh? 3.3 Tujuan Penelitian Tujuan umum Meningkatnya kualitas hidup lansia di Indonesia. memulihkan konflik dan memenuhi kebutuhan. maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang stres dan coping lansia pada masa pensiun di Kelurahan Manggarai Selatan Kecamatan Tebet.

i Manfaat Penelitian Bagi akademik/ilmiah • Memberikan informasi tentang stres yang dihadapi lansia pada masa pensiun di Kelurahan Manggarai Selatan Kecamatan Tebet. Bentuk stres masalah fungsional tubuh berupa penurunan fungsi kognitif dan psikomotor dan coping yang digunakan adalah dengan mengikuti kegiatankegiatan di masyarakat. • Memberikan informasi tentang coping pada lansia pada masa pensiun di Kelurahan Manggarai Selatan Kecamatan Tebet. 3. Hipotesis Bentuk stres masalah finansial berupa kelemahan finansial dan coping yang digunakan adalah dengan mencari sumber uang.iii.5 . Mengidentifikasi bentuk stres dan coping yang digunakan lansia pada masa pensiun yang bersumber dari masalah fungsional tubuh. . baik kerja sampingan maupun pinjaman. 3. iv.ii Bagi pelayanan masyarakat • Institusi yang berkaitan dengan pelayanan lansia dapat melakukan upaya 5 . iii.4 i. Bentuk stres masalah pekerjaan berupa berkurangnya aktifitas rutin dan coping yang digunakan adalah mencari kesibukan. Bentuk stres masalah keluarga berupa penelantaran dan coping yang digunakan adalah dengan bersosialisasi dengan tetangga. iv. Mengidentifikasi bentuk stres dan coping yang digunakan lansia pada masa pensiun yang bersumber dari masalah pekerjaan. ii.

iii Bagi pengembangan pendidikan • Memberikan informasi tentang jenis-jenis stres dan coping pansia pada masa pensiun. BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.(7) Koping didefinisikan sebagai pemikiran realistis dan fleksibel serta tindakan penyelesaian masalah sehingga dapat mengurangi stres. Dalam kontek ini koping merupakan proses penyelesaian masalah. Koping adalah suatu proses pengolahan tuntunan eksternal dan internal yang dinilai sebagai beban atau melebihi sumber yang dimiliki.1 Koping Koping adalah perilaku pemecahan masalah yang secara langsung dapat mempengaruhi atau menyeimbangkan keadaan menjadi lebih baik setelah mengalami stress. 3. . Mekanisme koping menurut pada dasarnya adalah mekanisme pertahanan diri 6 .6 Ruang Lingkup • Ruang lingkup tempat Lokasi penelitian adalah Kelurahan Manggarai Selatan Kecamatan Tebet. tidak bersifat statis tetapi berubah dalam kualitas dan intensitas dengan perubahan penilaian kognitif yang berkesinambungan. • Ruang lingkup waktu Pada bulan Juli 2012.pendekatan terkait stres yang yang dihadapi lansia pada masa pensiun.

individu tidak dapat menyesuaikan diri sehingga cenderung muncul tingkah laku destruktif sehingga menyebabkan respon maladaptif. Adapun yang merupakan tingkah laku. menghindar. c. individu tersebut lebih mampu bertahan dan menagantisipasi kemungkinan adanya bahaya. Adapun yang termasuk mekanisme koping maladaptif adalah koping destruktif. Maladaptif Pada tingkah laku yang maladaptif. Respon maladaptif dapat timbul pada kecemasan berat dan panik.terhadap perubahan yang terjadi baik dari dalam maupun luar diri.(8) Sedangkan macam macam sumber koping yang dapat digunakan antara 7 . bercerita kepada keluarga atau mempunyai masalah dengan kesehatan baru memeriksakan diri. yang termasuk dalam mekanisme koping yang konstruktif adalah: 1) Mekanisme koping konstruktif survivol digunakan untuk kelangsungan hidup dan berkaitan dengan suatu yang mengancam. Sumber koping Sumber koping adalah evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. misalnya apabila mempunyai masalah baru. Ada dua macam mekanisme koping yaitu: a. mencederai diri dan minum alkohol. Selain itu. Adpun yng termasuk dalam mekanisme koping maladaptif adalah reaksi yang lambat atau berlebihan. Selanjutnya. b. misalnya memeriksakan kesehatan secara berkala ke puskesmas. 2) Mekanisme koping konstruktif memotivasi digunakan untuk dapat memotivasi. menyerang dan depresi. misalnya marah marah. Adaptif (7) Tingkah laku yang adaptif adalah suatu tindakan yang dapat menyesuaikan diri dan perilaku dengan konstruktif. mudah tersinggung.

ataupun orang ahli. 2) Menghindar dan menjauhkan diri dari situasi tersebut. Setiap individu mempunyai mekanisme penanggulangan atau pertahanan untuk menghadapi setiap stressor yang dapat berubah: 1) Mengadakan perubahan atau manipulasi pada situasi atau keadaan tersebut. mencari tahu lebih banyak tentang keadaan yang dihadapi melalui buku bacaan. kognitif dan psikomotor. 3) Berusaha dan belajar untuk hidup dengan ketidakamanan dan ketidakpuasan itu. Reaksi ini dapat dilakukan seperti berbicara dengan orang lain tentang masalah yang dihadapi untuk menemukan jalan keluarnya. Mekanisme adaptasi psikologis Merupakan proses penyesuaian secara psikologis akibat stressor yang ada. dapat juga berhubungan dengan kekuatan supranatural. Dalam proses adaptasi secara psikologis. melakukan latihan yang dapat mengurangi stres serta membuat alternatif pemecahan masalah dengan menggunakan strategi prioritas masalah. afektif atau perasaan. dengan cara memberikan mekanisme pertahanan diri dengan harapan dapat melindungi atau bertahan dari serangan serangan atau hal-hal yang tidak menyenangkan. ada dua cara untuk mempertahankan diri dari stressor yaitu dengan cara melakukan koping atau penanganan diantaranya berorientasi pada tugas (task oriented reaction) dan ego oriented atau mekanisme pertahanan diri. 8 . (8) 1) Task Oriented Reaction (reaksi berorientasi ada tugas) Reaksi ini merupakan koping yang digunakan dalam mengatasi masalah dengan berorientasi pada proses penyelesaian masalah meliputi. dukungan sosial. asset materi. dan keyakinan positif. d.lain: kemampuan personal.

2. perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan. proyeksi.2 Batasan-batasan lansia(9) Batasan lansia menurut WHO meliputi usia pertengahan (Middle age) antara 45-59 tahun. 2.2 2. represi. 2. Menurut Depkes RI batasan lansia terbagi dalam empat kelompok yaitu pertengahan umur usia lanjut/virilitas yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampak keperkasaan fisik dan kematangan jiwa antara 45-54 tahun.Saat ini berlaku UU No 13 tahun 1998 tentang kesejahteraan lansia yang menyebutkan lansia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas. kelompok usia lanjut/ senium usia 65 tahun keatas dan usia lanjut dengan risiko tinggi yaitu kelompok yang berusia lebih dari 70 tahun atau kelompok usia lanjut yang hidup sendiri. dan perubahan peran sosial di masyarakat. menderita penyakit berat atau cacat. dan usia lanjut tua (Old) antara 75-90 tahun. usia lanjut dini/prasenium yaitu kelompok yang mulai memasuki usia lanjut antara 55-64 tahun. Diantara mekanisme pertahanan diri yang sering digunakan untuk melakukan adaptasi psikologis seperti rasionalisasi. 9 . Belum ada kesepakatan tentang batasan umur lanjut usia disebabkan terlalu banyak pendapat tentang batasan umur lanjut usia. perubahan fungsi dan potensi seksual. serta usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun. tinggal dipanti. terpencil.1 Lansia Definisi(9) Pengertian usia lanjut adalah mereka yang telah berusia 60 tahun atau lebih. kompensasi.2.3 Perubahan-perubahan yang terjadi pada lanjut usia Adapun beberapa faktor yang dihadapi lansia yang sangat mempengaruhi kesehatan jiwa mereka adalah perubahan kondisi fisik. usia lanjut (Elderly) antara 60-74 tahun. perubahan aspek psikososial. displacement. supresi dan denial.2) Ego Oriented Reaction (reaksi berorientasi pada ego) Reaksi ini dikenal dengan mekanisme pertahanan diri secara psikologis agar tidak mengganggu keadaan psikologis yang lebih dalam.

baru selesai operasi (prostatektomi).3. kelelahan atau kebosanan karena kurang variasi dalam kehidupannya.3. umumnya mulai dihinggapi adanya kondisi fisik yang bersifat patologis. pasangan hidup telah meninggal dunia.1 Perubahan Kondisi Fisik Setelah orang memasuki masa lansia. 2. Meskipun tujuan 10 . penglihatan. vaginitis. tenaga berkurang. perhatian.4 Perubahan yang berkaitan dengan pekerjaan Pada umumnya perubahan ini diawali ketika masa pensiun.3. sikap keluarga dan masyarakat yang kurang menunjang serta diperkuat oleh tradisi dan budaya. berkurangnya fungsi indra pendengaran. tulang makin rapuh. pikun. penglihatan kabur. pemahaman.3. dan faktor psikologis yang menyertai lansia seperti rasa malu bila mempertahankan kehidupan seksual pada lansia. tranquilizer). gerak fisik dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia misalnya badan menjadi bungkuk. 2.2 Perubahan Fungsi dan Potensi Seksual Perubahan fungsi dan potensi seksual pada lanjut usia sering kali berhubungan dengan berbagai gangguan fisik seperti gangguan jantung. depresi. Fungsi kognitif meliputi proses belajar. persepsi. penggunaan obatobatan tertentu (antihipertensi.3 Perubahan Aspek Psikososial Pada umumnya setelah orang memasuki lansia maka ia mengalami penurunan fungsi kognitif dan fungsi psikomotor. golongan steroid. Sementara fungsi psikomotorik (konatif) meliputi hal-hal yang berhubungan dengan dorongan kehendak seperti gerakan. pendengaran berkurang.2. gigi makin rontok. Misalnya. dan lain-lain sehingga menyebabkan reaksi dan perilaku lansia menjadi makin lambat. gangguan metabolisme. tindakan. dan disfungsi seksual karena perubahan hormonal atau masalah kesehatan jiwa lainnya misalnya cemas. kulit makin keriput. kekurangan gizi (karena pencernaan kurang sempurna atau nafsu makan sangat kurang). pengertian. koordinasi yang berakibat bahwa lansia menjadi kurang cekatan. sehingga menimbulkan keterasingan. 2. dan sebagainya.

Jika keterasingan terjadi akan semakin menolak untuk berkomunikasi dengan orang lain dan kadang-kadang terus muncul perilaku regresi seperti mudah menangis. penglihatanm gerak fisik. Iatrogenesis (menderita penyakit akibat obat-obatan). dan kulit). pendengaran sangat berkurang. Inanition (kurang gizi). 2. penyakit jantung. Insomnia (gangguan tidur). convalescence. Isolation (depresi). jabatan. namun dalam kenyataannya sering diartikan sebaliknya karena pensiun sering diartikan kehilangan penghasilan. Intellectual impairment (gangguan intelektual/ dementia). taste.5 Perubahan dalam peran sosial di masyarakat Akibat berkurangnya fungsi indera pendengaran. dan sebagainya sehingga sering menimbulkan keterasingan. status. dan harga diri. peran. Infection (infeksi). smell. Instability (berdiri dan berjalan tidak stabil atau mudah jatuh).5 Status Kesehatan pada Lansia Indonesia Membicarakan mengenai status kesehatan para lansia. penglihatan kabur. mengurung diri. komunikasi. 2. Impaction (sulit buang air besar). mengumpulkan barang-barang tak berguna serta merengek-rengek bila ketemu orang lain sehingga perilakunya seperti anak kecil.4 Masalah kesehatan pada lansia Adapun beberapa masalah kesehatan yang sering terjadi pada lansia berbeda dari orang dewasa. dan Impotence (impotensi). 2. communication. dan sebagainya maka muncul gangguan fungsional atau bahkan kecacatan pada lansia. yaitu Immobility (kurang bergerak). yang menurut Kane & Ouslander sering disebut dengan istilah 14 I. hipertensi.ideal pensiun adalah agar para lansia dapat menikmati hari tua atau jaminan hari tua. penyembuhan. Immune deficiency (daya tahan tubuh yang menurun). selama yang bersangkutan masih sanggup. Incontinence (beser buang air kecil dan atau buang air besar). Impecunity (tidak punya uang). penyakit 11 . kegiatan. Hal itu sebaiknya dicegah dengan selalu mengajak mereka melakukan aktivitas.3. agar tidak merasa terasing atau diasingkan. Impairment of vision and hearing. penyakit atau keluhan yang umum diderita adalah penyakit rematik. kedudukan. skin integrity (gangguan pancaindera. Misalnya badannya menjadi bungkuk.

2. perilaku. 2004). Stressreaction acute (reaksi stres 12 . semua sebagai suatu sistem. tetapi dapat pula disertai keluhan-keluhan psikis. Stres dewasa ini digunakan secara bergantian untuk menjelaskan berbagai stimulus dengan intensitas berlebihan yang tidak disukai berupa respons fisiologis. gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan-keluhan somatik (fisik). hal tersebut dikatakan eustres. diabetes mellitus. dan subjektif terhadap stres. misalnya jumlah semua respons fisiologik nonspesifik yang menyebabkan kerusakan dalam sistem biologis. cukup banyak yang bersifat positif. jatuh. Stres adalah reaksi/respons tubuh terhadap stresor psikososial (tekanan mental/beban kehidupan). Sindrom adaptasi umum atau teori Selye.2 Stres(10) 3.(11) Bila seseorang setelah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik. maka ia disebut mengalami distres. menggambarkan stres sebagai kerusakan yang terjadi pada tubuh tanpa mempedulikan apakah penyebab stres tersebut positif atau negatif. Pada gejala stres.paru-paru (bronkitis/ dispnea). Stres membutuhkan koping dan adaptasi. patah tulang dan kanker. paralisis/ lumpuh separuh badan.(10) Stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Tidak semua bentuk stres mempunyai konotasi negatif.2 PENGERTIAN STRES Stres adalah stimulus atau situasi yang menimbulkan distres dan menciptakan tuntutan fisik dan psikis pada seseorang. TBC paru. Stresor adalah semua kondisi stimulasi yang berbahaya dan menghasilkan reaksi stres. konteks yang menjembatani pertemuan antara individu dengan stimulus yang membuat stres. Lebih banyak wanita yang menderita/ mengeluhkan penyakit-penyakit tersebut daripada kaum pria. Respons tubuh dapat diprediksi tanpa memerhatikan stresor atau penyebab tertentu (Isaacs. kecuali untuk bronkitis (pengaruh rokok pada pria).

2 Kajian mengenai stres Konsep milieu interieur (lingkungan internal tubuh). stres tersebut bersifat positif. yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat sehat. sangat penting untuk bertahan hidup. penurunan.Oleh karena itu.2. yaitu eustres dan distres. distres. 2. kemampuan adaptasi. dan menantang . yaitu hasil dari respon terhadap stres yang bersifat tidak sehat.(12) Eustres. kondisi mapan (situasi) di lingkungan badan internal. Ketika tubuh mampu menggunakan stres yang dialami untuk membantu melewati sebuah hambatan dan meningkatkan performa. biasanya mereda dalam beberapa jam atau hari. yang diasosiasikan dengan keadaan sakit. positif. 13 . Contoh kekuatan eksternal adalah seperti suhu. dan konstruktif (bersifat membangun).3 Jenis-jenis stres Terdapat dua jenis stres. 2. sehat. dan destruktif (bersifat merusak). terjadi akibat stres fisik dan atau mental yang sangat berat. dan keberadaan predator. perubahan dalam lingkungan eksternal atau kekuatan eksternal yang mengubah keseimbangan internal harus bereaksi dan mengkompensasi supaya organisme dapat bertahan hidup. kekonstanan. Di sisi lain. Dalam konsep ini. yang pertama kali diajukan oleh Fisiologis Perancis. Kerentanan dan kemampuan koping (copingcapacity) seseorang memainkan peranan dalam terjadinya reaksi stres akut dan keparahannya. dan tingkat performance yang tinggi. konsentrasi oksigen di udara. Distres adalah semua bentuk stres yang melebihi kemampuan untuk mengatasinya. fleksibilitas.(12) Hal tersebut termasuk kesejahteraan individu dan juga organisasi yang diasosiasikan dengan pertumbuhan. Ini adalah semua bentuk stres yang mendorong tubuh untuk beradaptasi dan meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi.2. negatif. penyakit juga stres yang mengancam keseimbangan lingkungan internal tubuh. ia menggambarkan prinsip-prinsip keseimbangan dinamis.akut) adalah gangguan sementara yang muncul pada seorang individu tanpa adanya gangguan mental lain yang jelas. dan kematian. Selain itu. pengeluaran energi. Claude Bernard. Hal tersebut termasuk konsekuensi individu terhadap penyakit sistemik dan tingkat ketidakhadiran (absenteeism) yang tinggi. Dalam keseimbangan dinamis.

Pelepasan neurotransmiter menyebabkan efek fisiologis terlihat pada respon "fight or flight". teman-teman yang sudah tidak ada lagi. Antara penyebabnya adalah. sedangkan stresor sosial yaitu tekanan dari luar disebabkan oleh interaksi individu dengan lingkungannya. makanan. misalnya. kuatir berlebihan. dan bising bisa 14 . hal ini dapat menjadi pemicu stress bagi lansia. marah. dan tidak dapat berperforma secara maksimal. dan lain-lain. misalnya adanya konflik dalam keluarga. perceraian. radiasi. • Lingkungan Stress juga dapat dipicu oleh hubungan sosial dengan orang lain di sekitarnya atau akibat situasi sosial lainnya. rasa peduli dan lain-lain sangat besar pengaruhnya untuk menjauhkan atau meredakan stres pada lansia.membebani tubuh. Dukungan. benci. cemburu. dan menyebabkan masalah fisik atau psikologis. Lansia juga bisa terkena stress karena lingkungan tempat tinggalnya. sedih. trauma.4 Sumber stres Sumber stres atau penyebab stres dikenali sebagai stresor. kehilangan pekerjaan. denyut jantung yang cepat. macet. Sebaliknya. penghargaan. rasa hormat. orang tersebut akan cenderung bereaksi secara berlebihan. serta rasa rendah diri. dan latihan fisik yang terpaksa.2. seperti suara. Contohnya seperti stres adaptasi lingkungan baru. psikologis. pension. merasa jadi beban keluarga.(12) 2. seperti kehilangan orang yang dicintai. polusi. bingung. Stres biasanya yang bersifat negatif seperti frustasi. kecemasan (anxiety). Stresor fisik berasal dari luar diri individu. dan lain-lain. peningkatan kewaspadaan. Lingkungan yang padat. fisik. rasa kasihan pada diri sendiri. rasa bersalah. masalah keuangan. hubungan yang tidak harmonis. dan sosial. suhu udara. Banyak stresor sosial yang bersifat traumatic yang tak dapat dihindari. peran keluarga juga sangat besar dalam menjauhkan stress pada lansia. Stres pada lansia biasanya disebabkan oleh masalah-masalah sebagai berikut : • Keluarga Keluarga berperan besar dalam kejadian stress pada lansia. zat kimia. Ketika seseorang mengalami distres. Jika terdapat masalah dalam keluarga. Pada stresor psikologis tekanan dari dalam diri individu dalam respon terhadap stres. pindah rumah dan lain-lain.

maka ia dituntut untuk terus bekerja.5 Mekanisme stres Empat variabel psikologik yang mempengaruhi mekanisme respons stres: 1. sangat baik bagi lansia. Jika pada waktu mudanya ia telah mempersiapkan cukup "bekal" untuk masa tua. 2. Persepsi: pandangan individu tentang dunia dan persepsi stresor saat ini dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas respons stres. 3. perasaan frustrasi. rasa marah.Beban kerja yang tidak didukung oleh kondisi fisik dan psikis dapat memicu lansia stress. komunikasi yang tidak efektif. ketegangan. • Pekerjaan Pekerjaan dapat menjadi pemicu stres bagi lansia.6 Gejala stres(13) Berikut ini adalah gejala-gejala psikologis stres : kecemasan. Kontrol: keyakinan bahwa seseorang memiliki kontrol terhadap stresor yang mengurangi intensitas respons stres. sehingga lama-kelamaan dapat membuat lansia stress. buat kolam ikan di belakang rumah. penarikan diri depresi. memendam perasaan. buruk.menjadi sumber stress. tidak perlu target-targetan.2. pilihlah pekerjaan yang tidak terlalu berat. penuh dengan pencemaran juga dapat membuat merasa tidak nyaman dan pikiran selalu was-was akan dampak buruk pencemaran pada kesehatannya. kebingungan dan mudah tersinggung. maka ia bisa menikmati masa pensiunnya. sensitif dan hyperreactivity. 2. Selain itu. perasaan terkucil dan terasing. Misalnya memelihara ayam atau ternak lain. 4. Penurunan kondisi fisik dan psikis berpengaruh pada turunnya produktifitas para lansia. Respons koping: ketersediaan dan efektivitas mekanisme mengikat ansietas dapat menambah atau mengurangi respons stres.Jika lansia memilih bekerja. lingkungan yang kotor. kebosanan dan 15 . tidak perlu persaingan. dll. deadline. selain sehat berolahraga ada juga pendapatan bagi keluarga. Apalagi adanya tuntutan untuk pemenuhan nafkah keluarga. dan dendam (kebencian). atau berkebun.2.Tetapi jika lansia merasa belum cukup mempersiapkan bekalnya untuk masa pensiun. 2. Prediktabilitas: stresor yang dapat diprediksi menimbulkan respons stres yang tidak begitu berat dibandingkan stresor yang tidak dapat diprediksi.

vandalisme. menghindari pekerjaan. termasuk gangguan dari kondisi yang ada. perilaku sabotaj dalam pekerjaan. Demikian pula. dan kehilangan konsentrasi. mengarah ke obesitas. Gejala-gejala fisiologis yang utama dari stres adalah: meningkatnya denyut jantung. dan kriminalitas.ketidakpuasan kerja. meningkatnya sekresi dari hormon stres (contoh: adrenalin dan noradrenalin). kemungkinan berkombinasi dengan tanda-tanda depresi. meningkatnya frekuensi dari luka fisik dan kecelakaan. Dr. rusaknya fungsi imun tubuh. dan baru dirasakan bilamana tahapan gejala sudah lanjut dan mengganggu fungsi kehidupannya sehari-hari baik di rumah. gangguan tidur. termasuk risiko tinggi kemungkinan terkena kanker. an Amberg (1979) dalam penelitiannya terdapat dalam Hawari (2001) membagi tahapan-tahapan stres sebagai berikut : 16 . Gejala-gejala perilaku dari stres adalah: menunda. 2. menurunnya kualitas hubungan interpersonal dengan keluarga dan teman serta kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. kehilangan spontanitas dan kreativitas serta menurunnya rasa percaya diri. di tempat kerja ataupun pergaulan lingkungan sosialnya. sakit kepala. gejala dan tanda-tanda stres akan berbeda pada setiap individu.3 Tahapan Stres Gejala-gejala stres pada diri seseorang seringkali tidak disadari karena perjalanan awal tahapan stres timbul secara lambat. Pengalaman stres sangat individual. gangguan pada kulit. ketegangan otot. menurunnya prestasi ( performance) dan produktivitas. Robert J. tekanan darah.gangguan gastrointestinal (misalnya gangguan lambung). meningkatnya agresivitas. sakit pada punggung bagian bawah. meningkatnya penggunaan minuman keras dan obat-obatan. penurunan fungsi intelektual. kelelahan secara fisik dan kemungkinan mengalami sindrom kelelahan yang kronis (chronic fatigue syndrome). kelelahan mental. seperti menyetir dengan tidak hati-hati dan berjudi. dan absen dari pekerjaan. meningkatnya kecenderungan berperilaku beresiko tinggi. Stres yang luar biasa untuk satu orang tidak semestinya dianggap sebagai stres oleh yang lain. gangguan pernapasan. dan kecenderungan mengalami penyakit kardiovaskular. perilaku makan yang tidak normal (kekurangan) sebagai bentuk penarikan diri dan kehilangan berat badan secara tiba-tiba. perilaku makan yang tidak normal (kebanyakan).

misalnya keluhan “maag”(gastritis). Keluhan-keluhan yang sering dikemukakan oleh seseorang yang berada pada stres tahap II adalah sebagai berikut: 1) Merasa letih sewaktu bangun pagi yang seharusnya merasa segar. karena tidak cukup waktu untuk beristirahat. Gangguan lambung dan usus semakin nyata. 5) Detakan jantung lebih keras dari biasanya (berdebar-debar). berlebihan (over acting). Stres tahap II Dalam tahapan ini dampak stres yang semula “menyenangkan” sebagaimana diuraikan pada tahap I di atas mulai menghilang. yaitu: a. 17 . Istirahat yang dimaksud antara lain dengan tidur yang cukup. 2) Penglihatan “tajam” tidak sebagaimana biasanya. maka akan menunjukkan keluhan-keluhan yang semakin nyata dan mengganggu. buang air besar tidak teratur (diare). 3) Lekas merasa capai menjelang sore hari. 7) Tidak bisa santai. 4) Sering mengeluh lambung/perut tidak nyaman (bowel discomfort). 6) Otot-otot punggung dan tengkuk terasa tegang. 3) Merasa mampu menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya. dan timbul keluhan-keluhan yang disebabkan karena cadangan energi yang tidak lagi cukup sepanjang hari.Stres tahap I Tahapan ini merupakan tahapan stres yang paling ringan dan biasanya disertai dengan perasaan-perasaan sebagai berikut: 1) Semangat bekerja besar. b. bermanfaat untuk mengisi atau memulihkan cadangan energi yang mengalami defisit. Ketegangan otot-otot semakin terasa. 2) Merasa mudah lelah sesudah makan siang. namun tanpa disadari cadangan energi semakin menipis. Stres Tahap III Apabila seseorang tetap memaksakan diri dalam pekerjaannya tanpa menghiraukan keluhan-keluhan pada stres tahap II.

Perasaan ketidaktenangan dan ketegangan emosional semakin meningkat. b. d.c. 3. atau bangun terlalu pagi atau dini hari dan tidak dapat kembali tidur (Late insomnia). misalnya sukar untuk mulai masuk tidur (early insomnia). Gangguan pola tidur (insomnia).7 Timbul perasaan ketakutan dan kecemasan yang tidak dapat dijelaskan apa penyebabnya. yang ditandai dengan hal-hal sebagai berikut: a. 3. Stres Tahap V Bila keadaan berlanjut. Seringkali menolak ajakan (negativism) karena tiada semangat dan kegairahan.2 Aktivitas pekerjaan yang semula menyenangkan dan mudah diselesaikan menjadi membosankan dan terasa lebih sulit. Pada tahapan ini seseorang sudah harus berkonsultasi pada dokter untuk memperoleh terapi.1 Untuk bertahan sepanjang hari saja sudah terasa amat sulit. 5) Koordinasi tubuh terganggu (badan terasa oyong dan serasa mau pingsan).3 Yang semula tanggap terhadap situasi menjadi kehilangan kemampuan untuk merespons secara memadai (adequate).4 Ketidakmampuan untuk melaksanakan kegiatan rutin sehari-hari. 3.5 Gangguan pola tidur disertai dengan mimpi-mimpi yang menegangkan. akan muncul: 3. Stres Tahap IV Gejala stres tahap IV. atau bisa juga beban stres hendaknya dikurangi dan tubuh memperoleh kesempatan untuk beristirahat guna menambah suplai energi yang mengalami defisit. maka seseorang itu akan jatuh dalam stres tahap V. 3.6 Daya konsentrasi daya ingat menurun. Kelelahan fisik dan mental yang semakin mendalam (physical dan psychological exhaustion). Ketidakmampuan untuk menyelesaikan pekerjaan sehari-hari yang ringan 18 . 3. atau terbangun tengah malam dan sukar kembali tidur (middle insomnia). 3.

4. Susah bernapas (sesak dan megap-megap). meskipun pada akhirnya dipulangkan karena tidak ditemukan kelainan fisik organ tubuh. kecemasan yang semakinmeningkat. 5. Timbul perasaan ketakutan. Sekujur badan terasa gemetar. 3. c. Stres Tahap VI Tahapan ini merupakan tahapan klimaks. Ketiadaan tenaga untuk hal-hal yang ringan. Bila dikaji maka keluhan atau gejala sebagaimana digambarkan di atas lebih didominasi oleh keluhan-keluhan fisik yang disebabkan oleh gangguan faal (fungsional) organ tubuh. Perubahan Kondisi fisik 2.3 Penurunan fungsi organ Kerangka Teori Perubahan Seksual Lansia Perubahan kognitif Proses belajar Persepsi Pemahaman Pengertian Perhatian Memori Pekerjaan Masalah keuangan Masalah kesehatan Perubahan Sosial dalam masyarakat Keluarga Lingkungan Ego Oriented Reaction Denial Projeksi Regresi Displacement Mencari dukungan Spiritual Task Oriented Sosial Reaction Agresif Reframing Menarik diri Kompromi 19 .dan sederhana. mudah bingung dan panik. seseorang mengalami serangan panik (panic attack) dan perasaan takut mati. Debaran jantung teramat keras. Pingsan atau kolaps (collapse). Gangguan sistem pencernaan semakin berat (gastrointestinal disorder). 2. dingin dan keringat bercucuran. d. Tidak jarang orang yang mengalami stres tahap VI ini berulang dibawa ke Unit Gawat Darurat bahkan ICCU. sebagai akibat stresor psikososial yang melebihi kemampuan seseorang untuk mengatasinya. Gambaran stres tahap VI ini adalah sebagai berikut: 1.

Perubahan Psikomotor Gerakan Koordinasi BAB III KERANGKA KONSEP PENELITIAN 3.1 Kerangka Konsep Keuangan STRESSOR Pekerjaan LANSIA COPING Keluarga TASK EGO 3.2 Variabel Penelitian Dependent/ tergantung : lansia yang pensiun Bebas : umur jenis kelamin coping pekerjaan 20 .

- pendidikan finansial keluarga fungsional tubuh 4.1 Definisi Operasional Tabel 1. Definisi Operasional 21 .

SLTP) 2. Coping 2. Kurang Nominal 4. Pekerjaan terakhir responden sebelum pensiun. Buruh/karyawan 1. Universitas) 1. Tidak merawat Nominal WHO Kuesioner 8. Pendidikan Tingkat pendidikan formal terakhir yang diselesaikan responden. Fungsional tubuh Kemampuan tubuh untuk melaksanakan aktivitas.No Variabel Definisi Usia responden saat dilakukan penelitian. Pekerjaan Nominal 5. Tidak coping 1. Ciri atau karakteristik yang menunjukkan bahwa seseorang adalah laki-laki atau perempuan. Finansial Kondisi keuangan. Keluarga Anggota rumah tangga yang saling berhubungan melalui pertalian darah/perkawinan. kurang aktif Nominal 22 . Pendidikan tinggi (Akademi. Laki-laki 2. Wiraswasta 4. Alat Ukur dan Cara Ukur Kuesioner Cara Ukur: Wawancara Kuesioner Cara Ukur: Wawancara Kuesioner Hasil Ukur Skala Ukur Nominal Kepustakaan 1. Pendidikan sedang (SMU) 3. Jenis Kelamin 1. Cara Ukur: Wawancara Nominal 7. SD. Umur Umur > 60 tahun 2. Coping Cara Ukur: Wawancara Kuesioner Cara Ukur: Wawancara Kuesioner Cara Ukur: Wawancara 1. Kuesioner Cara Ukur: Wawancara 1. Lebih 2. Bentuk mekanisme pertahanan diri. Perempuan Nominal 3. Cara Ukur: Wawancara 1. Cukup 3. Pendidikan rendah (Tidak sekolah. Nominal Kuesioner 6. Pegawai swasta 3. PNS 2. aktif 2. Merawat 2.

4. Jakarta Selatan yang terdiri dari subjek yang tinggal di Kelurahan Manggarai Selatan.1 Lokasi dan Waktu Penelitian Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di puskesmas Tebet.1 Jenis Penelitian Penelitian ini adalah penelitian purposif kualitatif yang menggunakan metode survei dengan pendekatan cross-sectional atau pendekatan rancangan potong silang untuk mengetahui stres dan coping lansia pada masa pensiun. Pemilihan populasi di 23 .BAB IV METODE PENELITIAN 4.2 4.2.

Kriteria eksklusi lansia: − Lansia dengan gangguan jiwa.1 Populasi dan Sampel Penelitian Populasi Penelitian Populasi penelitian ini adalah lansia berumur lebih dari 60 tahun yang sudah pensiun sebanyak dari 130 orang lansia di Kelurahan Manggarai Selatan. 4.3 Sampel Penelitian Sampel penelitian diambil sebanyak 32 orang lansia dari jumlah populasi penelitian lansia sebanyak dari 130 orang lansia yang berumur lebih dari 60 tahun yang sudah pensiun di Kelurahan Manggarai Selatan. 4. Jakarta Selatan per tahun 2012.2 Kriteria inklusi dan eksklusi Kriteria inklusi lansia: − Berusia lebih dari 60 tahun dengan riwayat pensiun.3. Jakarta Selatan per tahun 2012.1 Instrumen penelitian Instrumen penelitian diambil dengan menggunakan wawancara langsung 24 . 4.2.2 Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan dari Juli 2012. − Lansia dengan gangguan pendengaran.3.3 4.5. 4.3. 4.daerah ini karena populasi lanjut usia di daerah ini dianggap mampu mewakili keadaan lansia secara keseluruhan di samping kondisi masyarakatnya yang cukup padat. − Lansia bersedia berpartisipasi dalam penelitian. − Lansia dengan gangguan bicara.

7 Rencana Manajemen dan Analisis Data Data yang telah berhasil diperoleh diolah secara elektronik setelah melalui proses penyuntingan.1 Data Primer Data yang diperoleh dengan cara langsung yaitu dengan menggunakan alat bantu berupa kuesioner kepada lanjut usia yang mengikuti posyandu lansia.menggunakan kuisioner. pemindahan data ke komputer dan tabulasi. Data yang 25 . Daftar pertanyaan yang digunakan adalah pertanyaan yang berkaitan dengan variabel yang diteliti.5. 4.5 Pelaksanaan Penelitian dan Pengumpulan Data Peneliti mengajukan Proposal Proposal disetujui Peneliti ke Kelurahan Manggarai Selatan sewaktu sesi posyandu lansia Peneliti mengumpulkan data dengan wawancara Peneliti mengumpulkan data Peneliti mengolah dan menganalisis data Penyajian data dalam bentuk presentasi 4. 4.

Sikap Hidup Dihari Senja. Sonda AA. 2.html. Perawatan Lansia. 20.7 Penyajian Data Data yang telah terkumpul dan diolah akan disajikan dalam bentuk: Tabular Tekstular Grafik : penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan tabel : penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan kalimat : penyajian data hasil penelitian dengan menggunakan diagram batang yang menggambarkan sifat-sifat yang dimiliki. 3. Semarang. 6th Ed. Kristinaa IF. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Wirakusuma. St. Samino. 52-3. Sundeen SJ. Memahami Mitos dan Realita Tentang Lansia. Jakarta: EGC. 7.87-91. Indriana Y. 4. dianalisis. p. p. p. Jakarta: EGC. Jakarta: EGC. 34-6. 6. 4. Intanirian A. 26 . DAFTAR PUSTAKA 1. Principles & Practices of Psychiatric Nursing.terkumpul dari hasil kuesioner diolah. 2007. Jurnal Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro 8:2. Hidayat.com/usia/lansia. Kuntjoro. 2008. p. p. 25.e-psikologi. Jakarta: EGC. 2010. Model Konsep dan Teori Keperawatan. 15. Nugroho W. Analisis Univariat Dilakukan secara deskriptif masing-masing variabel dengan analisis pada distribusi frekuensi. Accessed on 23th July 2011. 5. Stuart GW. Tingkat Stress Lansia di Panti Wredha Pucang Gading. Available at http://www. Suliswati. Jakarta: Salemba Medika. Tetap bugar Di Usia Lanjut. 8. 2004. 2008.

Stress. Sengupta. Souza-Talarico JN. 13. June 2005. Lazarus RS. Counselling Implications and Interventions. 18(3):457-65 11. Anjana. and Coping. University College London. Departement of Epidermiology and Public Health. Nitrini R. Oniye AO. Paradigm of Retirement: The importance of Health and Ageing in the Whitehall Study. Ferrie. Folkman S. 561-6. Avron. Caramelli P. J Clin Nurs. International Journal of Educational Management. Chaves EC. Stress and coping in older people with Alzheimer´s disease. Mein G. A Longitudinal Study of Retirement in Older Male Veterans. 27 . Journal of Consulting and Clinical Psychology. Retirement stress and Management Strategies Among Retired Civil Servants in Kwara State. Schnurr. Stansfeld. 10.Louis Washington DC. Appraisal. 9. 2009. Higgs P. 12. New York. Lunney PP.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.