P. 1
Gangguan Pada Lansia

Gangguan Pada Lansia

|Views: 56|Likes:
Published by Tyqqa Chupbbe

More info:

Published by: Tyqqa Chupbbe on Apr 04, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/04/2013

pdf

text

original

Sections

  • A.Konsep Lansia
  • 1.Pengertian Lansia
  • B.Tanda – lansia, Faktor – factor yang mempengaruhi dan Keluhan
  • terhadap lansia
  • 1.Proses menua
  • Factor yang mempengaruhi penuaan
  • 2. Perubahan yang terjadi pada lansia
  • 1. Perubahan Fisik
  • a. Sistem pernafasan pada lansia
  • Sistem persyarafan
  • Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia
  • 1) Penglihatan
  • 2) Pendengaran
  • b. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut
  • c. Sistem genito urinaria
  • d. Sistem endokrin / metabolik pada lansia
  • e. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut
  • f. Sistem muskuloskeletal
  • g. Perubahan sistem kulit & karingan ikat
  • h. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual
  • 2) Kegiatan sexual
  • 3. Perubahan-perubahan mental/ psikologis
  • 4.Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial
  • 5. Perubahan Spiritual
  • C.Gangguan Integument Pada Lansia
  • Penyakit Integumen pada Lansia
  • 1.Kandidiasis
  • 2.Herpes Zoster
  • 3.Psoriasis
  • 4.Pruritus
  • 5.Melanoma Ganas
  • Â Melanoma nodular
  • 6.Dekubitus
  • Informasi:
  • Etiologi
  • Patofisiologi
  • 1. Stadium Satu
  • 2. Stadium Dua
  • 3. Stadium Tiga
  • 4. Stadium Empat
  • Faktor resiko
  • Klasifikasi dan stadium ulkus dekubitus
  • 1. Tipe normal
  • 2. Tipe arterioskelerosis
  • 3. Tipe terminal
  • Derajat lesi dibedakan atas :
  • D.Gejala Pada Lansia Wanita
  • Menopouse
  • Diagnosa Keperawatan

BAB I PENDAHULUAN

Kulit adalah organ yang paling luas pada tubuh, mewakili kira-kira 16% dari berat badan orang dewasa. Kulit merupakan organ satu-satunya yang dapat digosok, dipijat, diregangkan, dan dicium. Kulit bersifat fleksibel dan tahan terdapat perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang kehidupan sehari-hari. Tanpa fleksibilitas ini, suatu jabatan tangan yang sederhana akan menimbulkan pengelupasan kulit akibat regangan dan tekanan. Karena kulit dapat terlihat sangat jelas, kulit tersebut bertindak sebagai suatu suatu jendela terhadap kematian seseorang. Walaupun benar bahwa tidak seorangpun meninggal karena kulit yang sudah tua atau terjadi kegagalan kulit karena suatu diagnosis, pemahaman tentang bukti-bukti perubahan fisiologis pada kulit seiring peningkatan usia memberikan banyak informasi bagi perawat tentang klien lansia. Secara structural, kulit adalah suatu organ kompleks yang terdiri dari epidermis, dermis, dan subkutis. Hal yang dikaitkan dengan penuaan adalah khususnya perubahan yang terlihat pada kulit seperti atropi, keriput, dan kulit yang kendur. Perubahan yang terlihat sangat abervariasi, tetapi pada prinsipnya terjadi karena hubungan antara penuaan intreinstik (alami) dan penuaan ekstrinsik (lingkungan). Secara fungsional kulit memiliki berbagai kegunaan, dan kehadirannya sangat penting untuk bertahan hidup secara keseluruhan. Karena kulit mampu untuk melakukan sensasi, kulit dapat melindungi tubuh dari cedera dan serangan

Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA

1

tiba-tiba dari lingkungan. Kulit yang utuh lebih jauh lagi dapat melindungi individu secara imunologis dengan cara mencegah bakteri masuk kedalam tubuh. Kulit memainkan suatu peran utama dalam termoregulasi dan adaptasi terhadap lingkungan. Kulit juga bertindak sebagai organ ekskresi, sekresi, absorbsi, dan akumulasi. Akhirnya, kulit mewakili kontak pertama individu dengan orang yang lain secara social dan secara seksual. Bagaimana cara kita melihat diri sendiri cenderung untuk menentukan bagaimana perasaan kita tentang diri kita sendiri dan merupakan suatu komponen penting dari harga diri dan konsep diri.

PROSES PENUAAN NORMAL PADA KULIT

STRATUM KORNEUM Lapisan paling luar dari epidermis, stratum korneum terutama terdiri dari timbunan korneosit. Dengan peningkatan usia, jumlah keseluruhan sel-sel dan lapisan sel secara esensial tetap tidak berubah, tetapi kohesi sel mengalami penurunan. Waktu perbaikan lapisan sel menjadi lambat, menghasilkan waktu penyembuhan yang lebih lama. Penurunan kekohesivan sel dalam hubungannya dengan penggantian sel beresiko terhadap lansia. Pelembab pada stratum korneum berkurang, tetapi status barier air tampaknya tetap terpelihara, yang berakibat pada penampilan kulit yang kasar dan kering. Kekasaran ini menyebabkan pemantulan cahaya menjadi tidak seimbang, yang menyebabkan kulit kurang bercahaya yang sering dihubungkan dengan kemudahan dan kesehatan yang baik.

Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA

2

EPIDERMIS Epidermis mengalami perubahan ketebalan sangat sedikit seiring penuaan sesorang. Namun, terdapat perlambatan dalam proses perbaikan sel, jumlah sel basal yang lebih sedikit, dan penurunan jumlah dan kedalaman rete ridge. Rete ritge dibentuk oleh penonjolan epidermal dari lapisan basal yang mengarah kebawah kedalam dermis. Pendataran dari rete ridge tersebut mengurangi area kontak antara epidermis dan dermis, menyebabkan mudah terjadi pemisahan antara lapisan-lapisan kulit ini. Akibatnya adalah proses penyembuhan kulit yang rusak ini lambat dan merupakan predisposisi infeksi bagi individu tersebut. Kulit dapat mengelupas akibat penggunaan plester atau zat lain yang dapat menimbulkan gesekan. Oleh karena itu, penting untuk menggunakan suatu perekat yang tidak lebih kuat dari taut epidermal-dermal itu sendiri untuk mencegah atau meminimalkan cedera akibat penggunaan plester. Terjadi penurunan jumlah melanosit seiring penuaan, dan sel yang tersisa mungkin tidak dapat derfungsi secara normal. Rambut mungkin menjadi beruban, kulit mungkin mengalami pigmentasi yang tidak merata, dan perlindungan pigmen dari sinar ultraviolet (UV) mungkin menurun.

DERMIS Pada saat individu mengalami penuaan, volume dermal mengalami penurunan, dermis menjadi tipis, dan jumlah sel biasanya menurun. Konsekuensi fisiologis dari perubahan ini termasuk penundaan atau penekanan timbulnya penyakit pada kulit, penutupan dan penyembuhan luka lambat, penurunan termoregulasi, penurunan respon inflamasi, dan penurunan absorbsi kulit terhadap zat-zat topical.

Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA

3

Perubahan degeneratif dalam jaringan elastis dimulai sekitar usia 30 tahun. Serabut elastis dan jaringan kolagen secara bertahap dihancurkan oleh enzimenzim, menghasilkan perubahan dalam penglihatan karena adanya kantung dan pengeriputan pada daerah sekitar mata. Pada saat elastisitas menurun, dermis meningkatkan kekuatan peregangannya; hasilnya adalah lebih sedikit ‘’melentur’’ ketika kulit mengalami tekanan. Organisasi kolagen menjadi tidak teratur, dan turgor kulit hilang. Vaskularitas juga menurun, dengan lebih sedikit pembuluh darah kecil yang umumnya terdapat pada dermis yang memiliki vaskuler sangat tinggi. Dermis berisi lebih sedikit fibroblast, makrofag, dan sel batang. Secara visual kulit tampak pucat dan kurang mampu untuk melakukan termoregulasi. Lansia oleh karena hal tersebut beresiko tinggi untuk mengalami hipertermia atau hipotermia.

SUBKUTIS Secara umum, lapisan jaringan subkutan mengalami penipisan seiring dengan peningkatan usia. Hal ini turut berperan lebih lanjut terhadap kelemahan kulit dan penampilan kulit yang kendur/menggantung diatas tulang rangka. Penurunan lapisan lemak terutama dapat dilihat secara jelas pada wajah,tangan, kaki, dan betis, pembuluh darah menjadi lebih cenderung untuk mengalami trauma. Deposit lemak cenderung untuk meningkatkan pada abdomen baik pada wanita dan pria, seperti halnya bagian paha pada wanita. Distribusi kembali dan penurunan lemak tubuh lebih lanjut menimbulkan gangguan fungsi perlindungan dari kulit tersebut.

Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA

4

• Mengenali dampak dari penuaan dini karena sinar matahari pada kulit. • Menyebutkan dua jenis resiko dari trauma terhadap kulit. • Mengembangkan suatu rencana perawatan untuk mempertahankan integritas kulit Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 5 . • Menggambarkan lesi pada kulit sebagai akibat terpajan penyinaran.2 Tujuan • Menggambarkan perubahan fisiologis pada kulit yang mengalami penuaan. • Menggambarkan proses pengkajian kulit dan mendemonstrasikan dokumentasi yang sesuai. • Menggambarkan dua alasan terjadinya penyembuhan luka yang tertunta pada lansia.1.

serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. 2000). Belum lagi mereka harus berhadapan dengan kehilangan-kehilangan peran diri.BAB II MATERI A. Semua hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak (Soejono. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuan normal. serta kemunduran daya tahan tubuh. merupakan bagian dari proses kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan di alami oleh setiap individu. kerut-kerut ketuaan di wajah. berkurangnya ketajaman panca indera. Pengertian Lansia Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia. Lanjut usia (Elderly) yakni antara usia 60-74 tahun. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia Lanjut usia meliputi : usia pertengahan yakni kelompok usia 46 sampai 59 tahun. khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental. 2. Usia lanjut tua Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 6 . Konsep Lansia 1. kedudukan sosial. seperti rambut yang mulai memutih. Batasan Lansia Ada beberapa pendapat mengenai batasan umur lanjut usia yaitu: a.

penurunan pendengaran. B. b. masa dewasa dan masa tua ( Nugroho. Tiga tahap ini berbeda baik secara biologis maupun psikologis. 1. Dr. penglihatan memburuk. gerakan lambat. rambut memutih. Faktor – factor yang mempengaruhi dan Keluhan terhadap lansia.(Old) yaitu antara 75 sampai 90 tahun dan usia sangat tua ( Very Old) yaitu usia diatas 90 tahun. 1992). Menurut Undang-undang nomor 13 tahun 1998 Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas. Terbagi untuk umur 75-80 tahun (Old) dan lebih dari 80 tahun (Very Old). Memasuki masa tua berarti mengalami kemunduran secara fisik maupun psikis. Menurut Prof. kelainan berbagai fungsi organ vital. Usia dewasa penuh (Middle year) atau maturitas : 25-60 atau 65 tahun. sensitifitas emosional meningkat dan kurang gairah. Kemunduran fisik ditandai dengan kulit yang mengendor. Koesoemato Setyonegoro pengelompokkan lanjut usia sebagai berikut : Usia dewasa muda (Elderly adulthood) : 18 atau 20-25 tahun. Proses menua Pada hakekatnya menjadi tua merupakan proses alamiah yang berarti seseorang telah melalui tiga tahap kehidupannya yaitu masa anak. Tanda – lansia. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 7 . Lanjut usia (Geriatric Age) lebih dari 65 atau 70 tahun. c.

Apabila proses penyesuaian diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbullah berbagai masalah. tetapi tidak harus menimbulkan penyakit oleh karenanya lanjut usia harus sehat. Hurlock (1979) seperti dikutip oleh Munandar Ashar Sunyoto ( 1994) menyebutkan masalah-masalah yang menyertai lansia yaitu : 1) Ketidakberdayaan fisik yang menyebabkan ketergantungan pada orang lain 2) Ketidakpastian ekonomi sehingga memerlukan perubahan total dalam pola hidupnya 3) Membuat teman baru untuk mendapatkan ganti mereka yang telah meninggal atau pindah 4) Mengembangkan aktifitas baru untuk mengisi waktu luang yang bertambah banyak Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 8 . 1996) Akibat perkembangan usia. mental dan sosial 2) Mampu melakukan aktifitas untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari 3) Mendapat dukungan secara sosial dari keluarga dan masyarakat (Rahardjo.Meskipun secara alamiah terjadi penurunan fungsi berbagai organ. lanjut usia mengalami perubahan-perubahan yang menuntut dirinya untuk menyesuaikan diri secara terus menerus. Sehat dalam hal ini diartikan : 1) Bebas dari penyakit fisik.

Lanjut usia juga mengalami perubahan dalam minat. kemudian Hurlock (1990) mengatakan bahwa perubahan yang dialami oleh setiap orang akan mempengaruhi minatnya terhadap perubahan tersebut dan akhirnya mempengaruhi pola hidupnya. 1992). Perubahan yang diminati oleh para lanjut usia adalah perubahan yang berkaitan dengan masalah peningkatan kesehatan. terkhir minta terhadap kegiatan rekreasi tak berubah hanya cenderung menyempit. hal ini tergantung dari pengaruh perubahan terhadap peran dan pengalaman pribadinya. Bagaimana sikap yang ditunjukan apakah memuaskan atau tidak memuaskan. Motivasi tersebut diperlikan untuk melakukan latihan fisik secara benar dan teratur untuk meningkatkan kebugaran fisiknya. ekonmi atau pendapatan dan peran sosial (Goldstein. 1979) di kutip oleh Munandar (1994) adalah : 1) Minat sempit terhadap kejadian di lingkungannya Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 9 . Hurlock mengemukakan bahwa perubahan fisik yan g mendasar adalah perubahan gerak. Berkaitan dengan perubahan. Dalam menghadapi perubahan tersebut diperlukan penyesuaian. Ketiga minat terhadap uang semakin meningkat. Pertama minat terhadap diri makin bertambah. Ciri-ciri penyesuaian yang tidak baik dari lansia ( Hurlock.5) Belajar memperlakukan anak-anak yang telah tumbuh dewasa. Kedua minat terhadap penampilan semakin berkurang. Berkaitan dengan perubahan fisik. Untuk itu diperlukan motivasi yang tinggi pada diri lansia untuk selalu menjaga kebugaran fisiknya agar tetap sehat secara fisik.

Factor yang mempengaruhi penuaan 1) Hereditas atau ketuaan genetik 2) Nutrisi atau makanan 3) Status kesehatan 4) Pengalaman hidup 5) Lingkungan 6) Stres Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 10 . ketidaktergantungan secara ekonomi. menikmati kegiatan yang dilakukan saat ini dan memiliki kekuatiran minimal terhadap diri dan orang lain. menikmati kerja dan hasil kerja. kontak sosial luas.2) penarikan diri ke dalam dunia fantasi 3) Selalu mengingat kembali masa lalu 4) Selalu kwuatir karena pengangguran 5) Kurang ada motivasi 6) Rasa kesendirian karena hubungan dengan keluarga kurang baik 7) Tempat tinggal yang tidak diinginkan Dilain pihak ciri penyesuaian diri lanjut usia yang baik antara lain adalah : Minat yang kuat.

a. 2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga potensial terjadi penumpukan sekret. Perubahan Fisik Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh. muskuloskeletal. Sistem pernafasan pada lansia. penglihatan. 3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan. kardiovaskuler. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 11 . sehingga pernafasan cepat dan dangkal. sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan. diantaranya sistem pernafasan. Perubahan yang terjadi pada lansia 1. pendengaran. 6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri. 5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi dari hemoglobin. sistem pengaturan tubuh. endokrin dan integumen. sehingga volume udara inspirasi berkurang. genito urinaria. 1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan. kalau pada pernafasan yang tenang kira kira 500 ml. gastrointestinal. Ù menyebabkan terganggunya prose difusi. 4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal 50m²).2.

7) kemampuan batuk berkurang. e) Hilangnya daya akomodasi. susah melihat dalam cahaya gelap. mengecilnya syaraf pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya ketahanan terhadap dingin. d) Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap kegelapan lebih lambat. Sistem persyarafan. 1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan. f) Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 12 . b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar. 2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir. 3) Mengecilnya syaraf panca indera. 1) Penglihatan a) Kornea lebih berbentuk skeris. hilangnya pendengaran. sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi. c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa). Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia. 4) Berkurangnya penglihatan.

c) Terjadinya pengumpulan serumen. panas dan dingin. a) Menurunnya kemampuan pengecap. antara lain nada nada yang tinggi. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 13 . 4) Peraba. b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan berkurang. 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun. a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) : Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam. dapat mengeras karena meningkatnya kreatin. a) Kemunduran dalam merasakan sakit. 1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku. terutama terhadap bunyi suara. b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis. 3) Pengecap dan penghidu. 2) Pendengaran. sulit mengerti kata kata. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut. suara yang tidak jelas. b) Kemunduran dalam merasakan tekanan. b.g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.

aliran darah ke ginjal menurun sampai 50 %.2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20 tahun. Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 14 . 2) Vesika urinaria / kandung kemih. c. BUN meningkat sampai 21 mg % . Otot otot menjadi lemah. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya. 3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah. penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %. 3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun. vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin. 4) Atropi vulva. Mengecil dan nephron menjadi atropi. nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat. kapasitasnya menurun sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat. fungsi tubulus berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin. 4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer (normal ± 170/95 mmHg ). Sistem genito urinaria. 1) Ginjal. perubahan posisi dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ). berat jenis urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) .

d. 6) Daya sexual. estrogen. 2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah. testosteron. 6) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron. 3) Pituitary. e. Selaput menjadi kering. penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan gizi yang buruk.5) Vagina. 1) Kehilangan gigi. FSH dan LH. Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi setelah umur 30 tahun. 1) Produksi hampir semua hormon menurun. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 15 . Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH. TSH. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut. Sistem endokrin / metabolik pada lansia. sekresi menjadi berkurang. reaksi sifatnya lebih alkali terhadap perubahan warna. 5) Menurunnya produksi aldosteron. 4) Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat. elastisotas jaringan menurun juga permukaan menjadi halus. Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk melakukan dan menikmati berjalan terus. depresi dari sumsum tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess). 7) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism.

2) Indera pengecap menurun. waktu mengosongkan menurun. asam & pahit. Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan. f. 7) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan berkurang ). 2) resiko terjadi fraktur. 4) Lambung. berkurangnya aliran darah. 3) Esofagus melebar. asin. 5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi. lutut & jari pergelangan tangan terbatas. Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir. 7) Liver ( hati ). hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah terutama rasa manis. 1) Tulang kehilangan densikusnya Ù rapuh. 6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ). 4) persendian besar & menjadi kaku. atropi indera pengecap (± 80 %). 3) kyphosis. 6) Pinggang. asam lambung menurun. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 16 . rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ). 5) pada wanita lansia > resiko fraktur. Sistem muskuloskeletal.

Pertumbuhan rambut berhenti. 4). 6). Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. b. sehingga tidak begitu tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi. Gerakan sekutu Ù Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin efektifitas dan ketangkasan otot volunter. rambut menipis dan botak serta warna rambut kelabu.a. 1). tidak sebagai reaksi terhadap suatu perangsangan terhadap lobus d. Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik. Perubahan sistem kulit & karingan ikat. 7). Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka kurang baik. c. Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan adiposa 3). Gerakan involunter Ù Gerakan diluar kemauan. Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen. Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh. Gerakan volunter Ù gerakan berlawanan. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 17 . g. Gerakan reflektonik Ù Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap rangsangan pada lobus. 2). 5).

Secara jasmani sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang berhubungan dengan proses reproduksi. Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak rendahnya akitfitas otot. asal kondisi kesehatan baik. Setiap orang mempunyai kebutuhan sexual. Secara rohani Ù tertuju pada orang lain sebagai manusia. e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun. d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur berangsur. Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun. a) selaput lendir vagina menurun/kering. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan sexual. 10).8). 9). Sexualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan yang berhubungan dengan alat reproduksi. Secara Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 18 . disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik. b) menciutnya ovarium dan uterus. c) atropi payudara. Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun. 2) rohani. 2) Kegiatan sexual. 1) Perubahan sistem reprduksi. h. dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial.

kesehatan umum c. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus berhubungan badan. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili i. Ttingkat pendidikan d. khususnya organ perasa. Perubahan-perubahan mental/ psikologis Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah : a. b. Lingkungan f. yaitu dengan cara yang lain dari sebelumnya. membuat pihak lain mengetahui bahwa ia sangat berarti untuk anda. Sexualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya. 3. timbul kebutaan dan ketulian g. msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan pasangan anda. Pertama-tama perubahan fisik. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik. Gangguan saraf panca indra. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan sexualitas dalam pengalaman sex.sosial Ù kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan h. perubahan terhadap gambaran diri dan perubahan konsep diri Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 19 . Keturunan (herediter) e.

sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi.persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi perubahan pada daya membayangkan. Mundurnya daya ingat. seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri. Gangguan halusinasi. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 20 . mencakup beberapa perubahan. 3.Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang. kekakuan mungkin oleh karena faktor lain seperti penyakit-penyakit. 2. karena tekanan-tekanan dari faktro waktu. perubahan fisik. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi. kenangan buruk. 4. penglihatan. 2) Kenangan jangka pendek atau seketika (0-10 menit). 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan verbal. 4. Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial. 1) kenangan jangka panjang. Kenangan (memory) ada dua. 1. 5. Intelegentia Quation. Fungsi psikososial. kemunduran orientasi. penurunan degenerasi sel sel otak. pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada fungsi mereka. berjam-jam sampai berhari-hari yang lalu. 2) berkurangnya penampilan.

hal ini terlihat dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. penyakit kencing manis (diabetes melitus/DM). lebih sering menggunakan obat antibiotik. Kandidiasis Di Amerika Serikat. kulit kering dan kurang elastik karena menurunnya cairan dan kehilangan jaringan adiposa. Gangguan Integument Pada Lansia Gangguan integumen yang biasanya sering ditemui pada lansia adalah kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak. (Murray dan Zentner.5. dan tampaknya meningkatnya infeksi ini terutama didapati pada lanjut usia (lansia). kuku pada jari tangan dan kaki menjadi lebih tebal dan rapuh. Infeksi jamur kandida ini lebih sering terjadi pada lansia karena daya tahan tubuh yang menurun.1970). Perubahan Spiritual Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya (Maslow.1970) C. kulit pucat dan terdapat bintik-bintik hitam akibat menurunnya aliran darah ke kulit dan menurunnya selsel yang memproduksi pigmen. Penyakit Integumen pada Lansia 1. pada wanita usia lebih dari 60 tahun rambut wajah meningkat. infeksi kandida dewasa ini merupakan penyebab infeksi pada darah nomor empat paling banyak. memakai obat kortikosteroid yang dihirup misalnya memakai obat triamcinolone pada Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 21 . Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya. rambut menipis atau botak dan warna rambut kelabu.

serta mengalami penyakit-penyakit kulit dan tulang. yang memudahkan penderita cenderung mengalami kukunya terbentur dan infeksi pada kuku. dan berkurangnya produksi air ludah. infeksi jamur kandida merupakan suatu masalah yang perlu dipertimbangkan pada lansia. karena pemakaian obat-obat tertentu. ditandai dengan menebalnya kuku dan bahkan dapat tanggal sendiri • Onychomycosis : penderita DM lebih sering mendapat infeksi jamur ini. Penyakit ini ditandai dengan sulitnya memotong kuku kaki. yang kesemuanya hal ini sering terjadi pada lansia. penyinaran dengan sinar rontgen dan lain-lain. penggunaan alat-alat yang harus dimasukkan ke dalam tubuh di dalam ruang rawat intensif. mengingat seringnya terjadi infeksi ini. kurang gizi.penderita penyakit asma. Infeksi kandida juga menyebabkan tingginya angka kesakitan bagi lansia. perawatan diri yang kurang baik. pada lansia lebih sering pula mengalami transplantasi atau pencangkokan organ-organ vital tubuh. memakai alat-alat untuk membantu pemberian makanan. mendapat pengobatan dengan khemoterapi untuk penyakit kanker secara agresif. daerah antara kemaluan dan lubang dubur • Paronychia : infeksi jamur kandida pada bagian samping dan bawah kuku. yang kesemuanya ini sering menggunakan obat-obat yang dapat menurunkan daya tahan tubuh. mulut kering (xerostomia) yang dapat disebabkan penyakit dan obat. Infeksi jamur kandida pada kulit dan kuku • Intertigo : infeksi jamur kandida pada kulit di bawah payudara. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 22 . penyakit paru obstruktif menahun (PPOM) seperti bronkhitis. Selain daripada itu. Oleh karena itu.

yaitu herpes genitalis dan herpes zoster. Herpes zoster intinya memang berurusan dengan daya tahan tubuh. dan keluarnya secret atau cairan dari liang senggama berwarna keju sampai dengan keruh encer.• Vulvovaginitis : infeksi pada daerah kemaluan dan liang senggama wanita. banyak orang yang terserang akibat daya tahan tubuhnya lemah. Ada dua macam penyakit herpes. demikianlah para medis menyebut penyakit radang kulit yang ditandai dengan pembentukan gelembung-gelembung berkelompok ini. Gelembunggelembung tersebut berisi air pada dasar perdangan. Herpes Zoster Herpes. Tak heran kalau penyakit ini banyak menyerang kaum lanjut usia atau mulai di atas 50 tahun. sedangkan herpes zoster disebabkan oleh virus varisela zoster dan menyerang kulit secara umum. Herpes genitalis disebabkab oleh virus herpes simplek dan merupakan penyakit kelamin. Gejala • Infeksi pada lipatan kulit atau infeksi intertriginosa Infeksi penis Thrush Perleche Paronikia • • • • 2. Pada usia di atas 50 tahun. Terjadinya nyeri pascaherpes disebabkan lambatnya pengobatan saat Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 23 . Gejala yang palin sering adalah gatal pada daerah kemaluan terutama pada malam hari.

Di atas 50 tahun kemungkinannya menjadi 40%. Atau. Jika gejala ini telanjur terjadi. di atas 60 tahun jadi 50%. Akan tetapi. penderita akan mengalami nyeri pada saat kondisi ketahanan tubuhnya menurun. misalnya sampai ke mata. rasanya seperti terbakar. dan di atas 80 tahun menjadi 80% dari populasi. Pada usia di atas 50 tahun. virus sempat merusak jaringan saraf di sekitarnya.Faktor usia sangat menentukan kerentanan serangan nyeri. Akibatnya. kulit yang terkena sentuhan sedikit saja bisa menimbulkan nyeri. Semakin tua seseorang saat terkena herpes zoster. bukan berarti penderita herpes zoster berusia muda tak mungin terkena nyeri.seseorang terserang virus varisela zoster. Jumlah mantan penderita yang berlanjut ke nyeri kira-kira 10% – 15% populasi. si penderita muda juga mungkin terkena nyeri pascaherpes. Jika terkena penyakit ini. Jika serangannya parah. Gejala • Demam Malaise Nyeri yang menyerupai appendisistis Pleuritis Nyeri musculoskeletal Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 24 • • • • . semakin besar kemungkinannya menderita nyeri. Kaum lanjut usia dengan gangguan saraf akibat penuaan atau diabetes lebih mudah terkena nyeri pascaherpes. kadang saraf memancarkan sinyal nyeri terus-menerus. banyak orang yang terserang herpes zoster akibat daya tahan tubuhnya lemah. Sekitar 75% penderita nyeri ini mengaku.

Psoriasis juga merupakan penyakit menahun dan bersifat kambuahan. Paling sering ditemukan pada usia 15-35 tahun.Penatalaksanaan • Memberikan vaksin pada lansia Mengalihkan perhatian untuk manajemen nyeri Memberikan obat-obatan untuk memblok impuls di saraf kulit agar tidak sampai ke otak. ruam) Pemakaian obat anti malaria Pemakaian litinium Infeksi virus dan atau bakteri Pemakaian alcohol yang berlebihan Obesitas Cuaca dingin • • • • • • • Gejala Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 25 . Psoriasis Psoriasis merupakan kelainan pada kulit berupa bercak-bercak merah. berbatas tegas. gigitan serangga. seperti amitriplitin • • 3. Penyebab • Sengatan matahari hebat Iritasi kulit atau cedera (luka bakar. dan di atasnya terdapat sisik yang tebal. luka sayat.

kulit kepala • • • • • • 4. dan stress emosional. Pruritus bisa juga dihubungkan dengan gangguan kulit atau penyakit sistemik. lutut. tetapi histamine adalah suatu mediator yang mengetahui pruritus. Sering juga pruritus diasosiasikan dengan kulit kering.• Kering atau merah Tertutup oleh sisik berwarna keperakan Bercak menonjol Pinggiran merah Bisa pecah dan menimbulkan nyeri Biasanya terpisah satu sama lain Ditemukan di siku. Penyebab yang paling sering dari rasa gatal adalah kulit kering yang umumnya pada lansia. produk pembersih seperti sabun. reaksi obat. ekzema. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan terbentuknya jaringan parut dan penebalan kulit. Rasa gatal bisa juga disebabkan oleh panas. Pruritus Pruritus adalah suatu perasaan yang secara otomatis menuntut penggarukan. batang tubuh. kelelahan. Mekanisme rasa gatal itu sendiri belum diketahui dengan pasti. pakaian. berkeringat. tapi bisa diasosiasikan dengan kudis. perubahan suhu yang tiba-tiba. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 26 . penyakit hati atau ginjal. Penggarukan bisa juga mengiritasi kulit dan menyebabkan bertambahnya rasa gatal sehingga terjadi suatu lingkaran setan. atau xerosis. Hal itu bisa menyebabkan kemerahan dan goresan dalam pada kulit. hal ini biasanya lebih terasa hebat saat musim dingin.

Terdapat empat tipe melanoma : Â Melanoma yang menyebar ke superficial Biasa terjadi diantara usia 40 dan 50 tahun. Insidennya meningkat sangat cepat dan lebih banyak terjadi pada wanita. menginvasi dermis. Melanoma Ganas Melanoma merupakan neoplasma yang berasal dari melanosit yang kemungkinan besar adalah kanker kulit yang menyebabkan kematian. Prognosisnya bervariasi berdasarkan ketebalan tumor. paru. Tumor ini tumbuh secara horizontal selama bertahun-tahun tpi prognosis semakin memburuk ketika pertmbuhan ventrikel terjadi. gejala prodormal dari herpes zozter. dan anemia. tungkai pada wanita. stasis pada vena. Melanoma biasanya terjadi di kepala dan leher pada pria. dan bermanifestasis lebih awal. Â Melanoma nodular Terjadi diantara usia 40 dan 50 tahun. Kanker ini paling banyak dari insiden kanker yang ada. kulit. 5. Puncaknya pada usia 50 dan 70. dan system saraf. melanoma menyebar melalui system vascular dan limfatik serta bermetastasis ke kelenjar getah bening regional. Â Melanoma lentigionosa-akral Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 27 . penyakit tiroid.hiperglikemia. Tumor ini tumbuh secara vertical. serta punggung pada individu yang terpajan sinar matahari secara berlebih.

3. Melanoma ini berasal dari lentigo ganas pada permukaan kulit yang terpajan. bintik-bintik atau kutil. putih atau biru diatas dasar coklat atau hitam. Melanoma biasanya terjadi di area yang sering terpajan sinar matahari dan terjadi pada lansia diantara usia 60 dan 70 ahun. seperti tah lalat. tanda lahir.Melanoma ini terjadi di telapak tangan dan telapak kaki serta di sublingual. Terpajan sinar matahari yang berlebihan Tipe kulit Faktor-faktor genetik Riwayat keluarga Riwayat masa lalu Tanda dan gejala pada melanoma : • Luka yang tidak kunjung sembuh Benjolan atau pembengkakan yang menetap Perubahan tanda kulit yang telah ada. pertumbuhannya paling lambat dan yang paling tidak agresif dari keempat jenis melanoma. Â Melanoma lentigo ganas Melanoma ini jarang terjadi. Ini merupakan kanker kulit yang paling jinak. 4. 5. Mungkin mempunyai Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 28 . jaringan parut. • • • Lesi pada pergelangan kaki atau permukaan lutut yang tampak merah. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya melanoma: 1. 2.

Apabila ini berlangsung lama. nodul tampak pucat dan tidak seragam bentuknya yang menyerupai blackberry keunguan • Pada lentiginosa-akral. Dekubitus Dekubitus adalah kerusakan/kematian kulit sampai jaringan dibawah kulit. keputihan atau warna seperti batu dengan kemungkinan terdapat nodul hitam yang menyebar dan tidak beraturan pada permukaannya. lesi berwarna kecoklat-coklatan dan hitam pada telapak tangan dan telapak kaki serta kemungkinan terdapat warna kecoklatan atau noda coklat pada kuku yang berdifusi dari dasar. 6. hitam. bahkan menembus otot sampai mengenai tulang akibat adanya penekanan pada suatu area secara terus menerus sehingga mengakibatkan gangguan sirkulasi darah setempat. • Pada melanoma lentigio ganas. lesi tahan lama dan luas diwajah. Kompresi jaringan akan menyebabkan gangguan pada suplai darah pada daerah yang tertekan. hal ini dapat Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 29 . coklat tua. Dan dapat mengalami ulserasi dan perdarahan pada penderita melanoma yang menyebar secara superfisial • Pada melanoma nodular. atau dibawah kuku jari yang mengalami ulserasi dapat terlihat seperti bintik-bintik berwarna kecoklatan. dipunggung tangan.migraine yang tidak teratur dan menonjol. Dekubitus atau luka tekan adalah kerusakan jaringan yang terlokalisir yang disebabkan karena adanya kompresi jaringan yang lunak diatas tulang yang menonjol (bony prominence) dan adanya tekanan dari luar dalam jangka waktu yang lama.

seperti pasien stroke. Perubahan posisi yang kurang. Status gizi. atau peralatan medik yang menyebabkan penderita terfiksasi pada suatu sikap tertentu. Ini diartikan bahwa luka tekan hanya berkembang pada pasien yang dalam keadaan berbaring. tapi juga dapat terjadi pada pasien yang menggunakan kursi roda atau prostesi. underweight atau kebalikannya overweight. Anemia. Penyakit-penyakit neurologik dan penyakit-penyakit yang merusak pembuluh darah. Keadaan hidrasi/cairan tubuh. Istilah dekubitus sebenarnya kurang tepat dipakai untuk menggambarkan luka tekan karena asal kata dekubitus adalah decumbere yang artinya berbaring. Posisi yang tidak tepat. Faktor Ekstrinsik:Kebersihan tempat tidur.menyebabkan insufisiensi aliran darah. Etiologi Faktor intrinsik: penuaan (regenerasi sel lemah). Hipoalbuminemia. Duduk yang buruk. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 30 . Sejumlah penyakit yang menimbulkan seperti DM. anoksia atau iskemi jaringan dan akhirnya dapat mengakibatkan kematian sel Informasi: Luka tekan (pressure ulcer) atau dekubitus merupakan masalah serius yang sering tejadi pada pasien yang mengalami gangguan mobilitas. alat-alat tenun yang kusut dan kotor. Oleh karena itu istilah dekubitus sekarang ini jarang digunakan di literatur literatur untuk menggambarkan istilah luka tekan. injuri tulang belakang atau penyakit degeneratif. Padahal sebenarnya luka tekan tidak hanya berkembang pada pasien yang berbaring.

luka akan kelihatan sebagai warna merah yang menetap. Sedangkan pada yang berkulit gelap. sehingga seakan-akan kulit “tertinggal” dari area tubuh lainnya. Tanda dan Gejala.tekanan daerah sakrum akan mencapai 60-70 mmHg dan daerah tumit mencapai 30-45 mmHg (normal: tekanan daerah pada kapiler berkisar antara 16 mmHg-33 mmHg).nekrosis jaringan kulit selain faktor tegangan. Apabila dibandingkan dengan kulit yang normal. Adanya perubahan dari kulit yang dapat diobservasi. 2. Stadium Dua Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 31 . stadium dan komplikasi 1. perubahan konsistensi jaringan (lebih keras atau lunak) c. Stadium Satu a. maka akan tampak salah satu tanda sebagai berikut: perubahan temperatur kulit (lebih dingin atau lebih hangat) b. luka mungkin kelihatan sebagai kemerahan yang menetap.Patofisiologi Immobile atau terpancang pada tempat tidurnya secara pasif dan berbaring (lebih dari 2 jam). perubahan sensasi (gatal atau nyeri) d. ada faktor lain yaitu: Faktor teregangnya kulit misalnya gerakan meluncur ke bawah pada penderita dengan posisi dengan setengah berbaring Faktor terlipatnya kulit akibat gesekan badan yang sangat kurus dengan alas tempat tidur. Pada orang yang berkulit putih.iskemik. biru atau ungu.

Hilangnya sebagian lapisan kulit yaitu epidermis atau dermis. Usia 8. meliputi kerusakan atau nekrosis dari jaringn subkutan atau lebih dalam. abrasi. tapi tidak sampai pada fascia. Nutrisi 7. Penurunan sensori persepsi 3. atau keduanya. Tekanan arteriolar yang rendah Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 32 . Cirinya adalah lukanya superficial. Tenaga yang merobek (shear) 5. atau membentuk lubang yang dangkal. Faktor resiko 1. Luka terlihat seperti lubang yang dalam 4. nekrosis jaringan. tulang atau tendon. melempuh. Mobilitas dan aktivitas 2. Kelembapan 4. 3. Stadium Empat Hilangnya lapisan kulit secara lengkap dengan kerusakan yang luas. kerusakan pada otot. Adanya lubang yang dalam serta saluran sinus juga termasuk dalam stadium IV dari luka tekan. Pergesekan ( friction) 6. Stadium Tiga Hilangnya lapisan kulit secara lengkap.

9. 2. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 33 .5oC dibandingkan kulit sekitarnya dan akan sembuh dalam perawatan sekitar 6 minggu. Keadaan ini menunjukkan gangguan aliran darah akibat penyakit pada pembuluh darah (arterisklerotik) ikut perperan untuk terjadinya dekubitus disamping faktor tekanan. Stress emosional 10. Dengan perawatan. 3. ulkus ini diharapkan sembuh dalam 16 minggu. Temperatur kulit Klasifikasi dan stadium ulkus dekubitus Berdasarkan waktu yang diperlukan untuk penyembuhan dari suatu ulkus dekubitus dan perbedaan temperatur dari ulkus dengan kulit sekitarnya. Tipe normal Mempunyai beda temperatur sampai dibawah lebih kurang 2. Tipe arterioskelerosis Mempunyai beda temperatur kurang dari 1oC antara daerah ulkus dengan kulit sekitarnya. Ulkus ini terjadi karena iskemia jaringan setempat akibat tekanan. dekubitus dapat dibagi menjadi tiga: 1. Tipe terminal Terjadi pada penderita yang akan meninggal dunia dan tidak akan sembuh. tetapi aliran darah dan pembuluh-pembuluh darah sebenarnya baik. Merokok 11.

Lansia beresiko tinggi mengalami dekubitus karena adanya perubahan nutrisi. menimbulkan alergi. adanya penyakit kronis. defisit. Jika dibutuhkan antiseptik. pada tahun 1992 – edisi Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 34 . Cairan antiseptik sebaiknya tidak digunakan. bau. Jika memungkinkan bisa direndam selama 10 menit dalam larutan kalium permanganat (PK) 1:10. karena dapat merusak fibriblast yang sangat penting dalam proses penyembuhan luka. perubahan sensasi untuk perlindungan terhadap tekanan. kecuali jika terdapat infeksi. Sedang luka basah dan mudah berdarah dibersihkan dengan teknik irrigasi.9 %.Proses penyembuhan luka Prinsip-prinsip Perawatan Luka Ada dua prinsip utama dalam perawatan luka: Prinsip pertama menyangkut pembersihan/pencucian luka. dukungan dirumah tidak adekuat. bahkan menimbulkan luka di kulit sekitarnya. yaitu ditekan dan digosok pelan-pelan menggunakan kasa steril atau kain bersih yang dibasahi dengan air steril atau NaCl 0. defisit perawatan diri.9 %. Luka kering (tidak mengeluarkan cairan) dibersihkan dengan teknik swabbing. yang cukup aman adalah feracrylum 1% karena tidak menimbulkan bekas warna.000 atau rivanol 1:1000 menggunakan kain kasa. yaitu disemprot lembut dengan air steril (kalau tidak ada bisa diganti air matang) atau NaCl 0.000 (1 gram bubuk PK dilarutkan dalam 10 liter air). dan perubahan tingkat kesadaran . mobilitas. inkontensia. dan tidak menimbulkan reaksi alergi. atau dikompres larutan kalium permanganat 1:10.

jaringan akan dipenuhi darah karena pembuluh darah kapiler membesar dan daerah tersebut akan berwarna kemerahan yang dikenal secara klinis sebagai hiperemia regional.pertama presure ulcers in adult : prediction and prevention diterbitkan olek agency for health care policy and research. tekanan tidak akan dapat dihilangkan dan edema sel akan berkembang menjadi trombosis pembuluh darah Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 35 . Derajat ulserasi bergantung pada beberapa faktor. jika masalah tidak diketahui pada titik ini. baik faktor instrinsik maupun ekstrinsik. Petunjuk ini sangat bermanfaat dalam menentuka suatu program yang menyeluruh untuk mengidentifikasi individu yang beresiko tinggi dan strategi awal untuk pencegahan dan pemeliharaan integritas kulit. Dekubitus terjadi terutama diatas tonjolan tulang tetapi munkin juga terjadi padadaerah jaringan lain yang tertekan . daerah di bawah restrain dan daerah jaringan lunak yang tertekan oleh suatu traksi atau bidai adalah beberapa contoh lokasi non tulang yang merupakan predisposisi terjadinya nekrosis akibat tekanan. Setiap jaringan dapat mengalami ulserasi jika terpajan tekanan dari luar yang lebih besar dibandingkan tekanan penutupan kapiler untuk jangka panjang. Pada saat tekanan terus berlanjut tanpa interupsi.dalam keadaan ini area yang berada dibawah tekanan dapat dengan sepenuhnya kembali kekondisi semula pada saat faktor resiko telah dikenali dan dihilangkan dan tindakan pencegahan dimulai. jaringan tersebut menjadi kekurangan oksigen dan nutrisi yang penting bagi metabolismesel dan kemudian sel mengalami hipoksia dan membengkak.tempat terpasangnya slang . Jika diberi tekanan pada titik ini . Namun .

Lesi derajat 4 mengakibatkan infeksi tulang lokal dan sulit. Derajat lesi dibedakan atas : Lesi derajat 1 dilihat sebagai daerah berwarna merah. Lesi derajat 3 pada saat lapisan lapisan jaringan mengalami nekrosis. dan jaringan akan mulai mengalami ulserasi. Ulkus ini dapay dengan cepat mengikis bagian tepi sementara lapisan jaringan subkutan mengalami nekrosis lebih cepat dibandingkan dengan dermis yang sangat vaskuler. D. subkutis menjadi lebih terlibat mendorong ke arah perkembangan.kecil. menampakkan dermis yang memiliki vaskularisasi sangat tinggi. daerah yang jelas tidak memucat ketika ketika dilakuka palpasi ringan. lesi derajat 2 ini sangat menyakitkan. Bila sensasi tetap utuh . Gejala Pada Lansia Wanita Fase Klimakterium Fase klimakterium adalah masa peralihan yang dilalui seorang wanita dari periode reproduktif ke periode non reproduktif. Tanda. yang mengidisikan adanya kerusakan jaringan yang lebih dalam. serta memakan waktu cukup lama untuk sembuh tanpa intrvensi pembedahan. gejala atau keluhan yang kemudian timbul sebagai akibat dari masa peralihan ini disebut tanda atau gejala Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 36 . Lesi derajat 2 epidermis telah mengelupas. penurunan suplai oksigen yang lebih lanjut.

Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 37 . Sebelum menopouse Masa sebelum berlangsungnya saat menopouse. dan dindingnya menipis. Leher rahim (serviks) menyusut tidak menonjol kedalam vagina bahkan lama-lama akan merata dengan dinding vagina. Fase klimakterium berlangsung bertahap sebagai berikut : a. berbagai organ reproduksi akan mengalami perubahan. c. Jaringan miometrium (otot rahim) menjadi sedikit dan lebih banyak mengandung jaringan fibriotik (sifat berserabut secara berlebihan). yaitu fungsi reproduksinya mulai menurun. Rahim mengalami antropi (keadaan kemunduran gizi jaringan). panjangnya menyusut. Pada fase ini fungsi reproduksi wanita menurun. sampai timbulnya keluhan atau tanda-tanda menopouse. Masa wanita mengalami akhir dari datangnya haid sampai berhenti sama sekali. Pada masa ini menopouse masih berlangsung. Saat menopouse Periode dengan keluhan memuncak. Setelah menopouse Masa setelah perimenopouse sampai munculnya perubahan-perubahan patologic secara permanen disertai dengan kondisi memburuknya kondisi badan pada usia lanjut (Senilitas).menopouse. Menopouse Akibat berhentinya haid. Periode ini dapat berlangsung antara 5 sebelum dan sesudah menopause. rentangan 1-2 tahun sebelum dan 1-tahun sesudah menopouse. b.

dalam kehidupan seorang wanita. 2002 : 58). 1) Hot flushes (perasaan panas) Adalah rasa panas yang luar biasa pada wajah dan tubuh bagian atas (seperti leher dan dada). jaringanjaringan vagina menjadi lebih tipis dan berkurang kelembabannya seiring dengan Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 38 . Selain itu. suhu udara yang semula dirasakan nyaman. mendadak menjadi terlalu panas dan tubuh mulai menjadi panas serta mengeluarkan keringat untuk mendinginkan diri.Lipatan-lipatan saluran telur menjadi lebih pendek. Akibatnya. Akibat perubahan organ reproduksi maupun hormon tubuh pada saat menopouse mempengaruhi berbagai keadaan fisik tubuh seorang wanita. Dengan perabaan tangan akan terasa adanya peningkatan suhu pada daerah tersebut. Gejolak panas terjadi karena jaringan-jaringan yang sensitif atau yang bergantung pada esterogen akan terpengaruh sewaktu kadar estrogen menurun. dan mengerut. Keadaan ini berupa keluhan-keluhan ketidaknyamanan yang timbul dalam kehidupan sehari-hari. tetapi pancaran panas pada tubuh akibat pengaruh hormon yang mengatur termostat tubuh pada suhu yang lebih rendah. Rambut getar yang ada pada ujung saluran telur atau fimbria menghilang (Kasdu. 2) Keringat Berlebihan Cara bekerjanya secara persis tidak diketahui. Pancaran panas diperkirakan merupakan akibat dari pengaruh hormon pada bagian otak yang bertanggung jawab untuk mengatur temperatur tubuh. menipis.

air seni sering tidak dapat ditahan pada saat bersin dan batuk.kadar estrogen yang menurun. Padahal. Hal ini akibat estrogen yang menurun sehingga salah satu dampaknya adalah inkonsitensia urin (tidak dapat mengendalikan fungsi kandung kemih). rontok. epitel vagina mengandung banyak reseptor estrogen yang sangat membantu mengurangi rasa sakit dalam berhubungan seksual. rambut terbelah-belah. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 39 . dan elastisitas dinding vagina. 3) Vagina Kering Perubahan pada organ reproduksi. diantaranya pada daerah vagina sehingga dapat menimbulkan rasa sakit pada saat berhubungan intim. Kekurangan estrogen menyebabkan terjadinya gangguan penutupan uretra dan perubahan pola aliran urin menjadi abnormal sehingga mudah terjadi infeksi pada saluran kemih bagian bawah. jaringan penunjang. Selain itu. 5) Hilangnya jaringan penunjang Rendahnya kadar estrogen dalam tubuh berpengaruh pada jaringan kolagen yang berfungsi sebagai jaringan penunjang pada tubuh. 4) Tidak dapat menahan air seni Ketika usia bertambah. dinding serta lapisan otot polos uretra perempuan juga mengandung banyak reseptor estrogen. Hilangnya kolagen menyebabkan kulit kering dan keriput. Perlu diketahui. akibat berkurangnya estrogen menyebabkan keluhan gangguan pada epitel vagina. Gejala lain yang dialami wanita adalah berkeringat dimalam hari.

diantaranya tulang. sariawan.gigi mudah goyang dan gusi berdarah. Berdasarkan penelitian. kuku rusak. serta timbulnya rasa sakit dan ngilu pada persendian. 6) Penambahan berat badan Saat wanita mulai menginjak usia 40 tahun. Hal ini tentu saja berkaitan dengan kebugaran dan kesehatan tubuh wanita (Kasdu. Bahkan. Hal ini diduga ada hubungannya dengan turunnya estrogen dan gangguan pertukaran zat dasar metabolisme lemak. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 40 . biasanya tubuhnya mudah menjadi gemuk. 7) Gangguan mata Kurang dan hilangnya estrogen mempengaruhi produksi kelenjar air mata sehingga mata terasa kering dan gatal. akan bertambah berat badan atau tubuh melebar kesamping secara bertahap. 2002 : 56). Selain itu dengan bertambahnya usia penyakit yang timbul semakin beragam. tetapi sebaliknya sangat sulit menurunkan berat badannya. 8) Nyeri tulang dan sendi Seiring dengan meningkatnya usia maka beberapa organ tidak lagi mengadakan remodeling. mengalami proses penurunan karena pengaruh dari perubahan organ lain. setiap kurun 10 tahun.

dipilih berdasarkan hasil kultur dan sensitivitas. Jenis Kelamin Biasnya laki – lak 2 -3 kali lebih banyak dari perempuan. pitiasis rubra pilaris . yang diresepkan dokter jika terdapat infeksi . Seboroik dan dermatosiss atopik . c. Riwayat Kesehatan – Riwayat penyakit dahulu Meluasnya dermatosis keseluruh tubuh dapat terjadi pada klien planus . limfoblastoma. toksisitas berat dan pembentukan skuama kulit. eritamatosus serta basah amat rentan terhadap infeksi dan dapat menjadi tempat kolonisasi mikroorganisme pathogen yang akan memperberat inflamasi antibiotik . dermatitis. Pola Fungsi Gordon Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 41 . psoriasis . Kulit yang mengalami disrupsi . pemfigus foliaseus . b. – Riwayat Penyakit Sekarang Mengigil panas .BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PENGKAJIAN FOKUS Pengkajian keperawatan yang berkelanjutan dilaksanakan untuk mendeteksi infeksi. BIODATA a. I. lemah .

Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 42 . f.1. 3. hipoproteinemia dan keseimbangan nitrogen yang negative mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh pasien ( dehidrasi ). Pemeriksaan fisik a. Abdomen Adanya limfadenopati dan hepatomegali. Ekstremitas Perubahan kuku dan kuku dapat lepas. pembentukan skuama sehingga mengganggu harga diri. d.pengelupasan kulit . c. TTV : suhu naik atau turun. KU : lemah b. Pola persepsi dan konsep diri – Konsep diri Adanya eritema . Kepala Bila kulit kepala sudah terkena dapat terjadi alopesia. sisik halus berupa kepingan / lembaran zat tanduk yang besr – besar seperti keras selafon . e. 2. Pola Nutrisi dan metabolisme Terjadinya kebocoran kapiler . Mulut Dapat juga mengenai membrane mukosa terutama yang disebabkan oleh obat.

Kerusakan Integritas Kulit berhubungan dengan usia yang ekstern (Eksternal) dan perubahan turgor (elastisitas kulit). Diagnosa Keperawatan 1. Adanya eritema .Mampu melindungi kulit dan mempertahan kelembapan kulit dan perawatan alami Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 43 . ditandai dengan : Tujuan .Integritas kulit yang baik dapat dipertahankan (sensasi.Menunjukan perbaikan kulit dan mencegah terjadinya cedera berulang e. b. Kulit Kulit periorbital mengalami inflamasi dan edema sehingga terjadi ekstropion pada keadaan kronis dapat terjadi gangguan pigmentasi. elastisitas.Perfusi jaringan baik d. pigmentasi.g. sisik halus dan skuama. temperature. Tissue integrity : Skins and mukos membrane Gangguan pada bagian tubuh Kerusakan lapisan kulit/dermis Gangguan permukaan kulit/epidedermis Kriteria Hasil : a.Tidak luka / lesi pada kulit c. hidrasi. pengelupasan kulit .

Jaga kebersihan kulit supaya tetap kering dan bersih e. Hindari kerutan pada tempat tidur c. Mandikan pasien dengan sabun dan air hangat. Oleskan lotion/minyak/ baby oil pada daerah yang tertekan. Monitor status nutrisi pasien h. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap 2 jam sekali d. g. Anjurkan Klien untuk menggunakan pakaian longgar b. Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 44 . Monitor kulit akan adanya kemerahan f.Intervensi a.

Wahit Iqbal. Keperawatan Gerontik.klinikmedis. Ilmu Keperawatan Komunitas 2. Jakarta : EGC 6.E. Jakarta : Sagung Seto 4. Jaime L. Asuhan Keperawatan Geriatrik.suaramerdeka. www.co Rakha Arrayyan | GANGGUAN SISTEM INTEGUMEN PADA LANSIA 45 . Jakarta : EGC 3. Stockslager. www.majalah-farmacia. Wahjudi. Nugroho. 2007. Meiner.com 9. Mubarak.medicastore. Sue. 2000. St. www. Missouri : Mosby 5.com 8. www.DAFTAR PUSTAKA 2.com 7. Louis. Gerontologic Nursing. 2006.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->