P. 1
viskositas 1

viskositas 1

|Views: 26|Likes:
viskosity
viskosity

More info:

Published by: Bagus Drajat Trimulyo on Apr 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/17/2014

pdf

text

original

Dasar Dasar Aliran Fluida setidaknya ada beberapa faktor fisik yang ada dalam tubuh fluida yang

mempengaruhi mekanisme transportasi fluida. dua yang paling penting adalah densitas dan viskositas yang akan kita bahas disini sebelum mengacu kepada faktor faktor lain (kinematika gerakan aliran fluida) yang dipengaruhi oleh dua karakter fisik ini. densitas fluida dilambangkan dengan ρ (rho) merupakan massa per unit volume fluida. densitas mempengaruhi magnitud (tingkat) gaya yang bekerja dalam fluida dan diatas bed juga seiring dengan kemampuan partikel akan jatuh (settle) dalam fluida (lebih lambat di fluida yang leibh padat). densitas ini memiliki pengaruh khusus pada fluida terutama yang di lereng yang disebabkan oleh gravitasi. densitas bervariasi pada fluida yang berbeda, dan hal ini akan mempengaruhi perilaku fluida dalam mengangkut sedimen juga berbeda sebagai contoh air memiliki densitas 0.998 g/mL pada temperatur 20° C, dan ternyata udara lebih kecil 700 kali dibandingin air densitasnya. maka bisa dibayangin benda yang jatuh bebas (tidak ada lagi aliran secara lateral) di udara pasti lebih cepat (plus gesekan udara diam) dibandingkan di air yang tenang. densitas fluida berkurang seiring dengan bertambahnya tempertur fluida. Viskositas diartikan sebagai ukuran kemampuan fluida untuk mengalir (Boggs, 2006), atau ukuran ketahanan fluida terhadap deformasi oleh shear stress dan tensile stress (Wikipedia LOL). atau di dalam mekanika fluida viskositas yang umum dari definisi ini dikenal juga sebagai viskositas dinamik (Dynamic viscosity atau µ) meski dikenal juga viskositas kinematik (Kinematic viscosity atau v). fluida dengan viskositas yang lebih tinggi (atau lebih kental) akan mengalir lebih lambat daripada yang viskositanya rendah (lebih encer), viskosiatas air lebih rendah dari madu silahkan liat yang mana yang lebih cepat ngalir di bidang miring air apa madu?? (jawabannya adalah kelereng wkwkwkwk). air memiliki viskositas 55 kali lebih besar dari udara pada suhu 20° C (Blatt, Middleton, Murray, 1980). sama kayak densitas viskositas juga akan menurun seiring dengan bertambahnya temperatur atau viskositas akan naik kalau tempertur turun . menurut Boggs (2006) viskoistas ini memegang peranan penting dalam mempengaruhi turbulensi air (kita bahas lebih detil nanti), dimana meningkatnya viskositas akan menkan turbulensi arus (Boggs, 2006). menurunnya tubulensi juga akan menambah kemampuan air dalam mengerosi dan meng’entrain’ sedimen. kita akan bahas mengenai viskositas (dinamik) dibawah. oh iye hampir lupe aye… di pembahasan mekanisme transport sedimen ini banyak istilah istilah yang sering dipakai untuk menjelaskan prosesnya ada erosion, weathering, entrainment, transportation, settling, dan deposition.. semuanya bahasa inggeris dan

pengertiannya berbeda satu sama lain, meski ada bahasa indonesianya tapi saya belum tahu… weathering diartikan sebagai pengrusakan (wew gue gak tau kata kata pasnya dari breaking down) atau hancurnya (lapuk) batuan menjadi partikel partikel yang lebih kecil akibat proses proses abrasi oleh: angin, air, panas (heat expansion crack and abrasion), dingin (frost wedging), hydraulic fracture, aktivitas biogenik, dan proses transportasi yang menghantam material terangkut didasar tubuh fluida (bed) saat transportasi terjadi.weathering dibagi dua yaitu chemical weathering dan mechanical weathering. Erosion diartikan sebagai pergerakan material yang telah lapuk tadi dari satu tempat ke tempat lain oleh agen agen erosi (yang juga agen agen transportasi yaitu air, angin, es, gravitasi). transportasi diartikan sebagai proses pergerakan material solid (dalam hal ini sedimen) dalam fluida akibat kombinasi dari gravitasi dan pergerakan fluida itu sendiri. sedangkan Entrainment merupakan istilah untuk proses mekanis yang terjadi saat partikel sedimen akan bergerak pertama kali (sesaat sebelum transportasi terjadi). Settling secara harfiah artinya tenang, tenggelam, jatuh, pengendapan, dan lain lain tapi di proses geologi kita artikan settling sebagai ‘tenggelam’ alias jatuhnya sedimen karena sudah tidak ada lagi gaya yang mengankutnya (arus tenang) tentu saja dipengaruhi oleh densitas fluida dan geometri dan densitas dari butiran. terakhir Deposition secara harfiah artinya pengendapan karena artinya itu ya itulah dia bukan bukan, deposition adalah proses pengendapan material material yang terangkut oleh fluida ke lingkungan pengendapan (artinya pengendapan terjadi setelah proses proses tadi; weathering, erosion, entraintment, transportation, dan settling terjadi alias terhenti). oke sip??? lanjuuuuuttt…. kita mulai dari mana yah??? mmm….. oke sebelumnya mari kentut dulu….

Viskositas dinamik dari definisi kita tahu kalau viskositas ini berhubungan dengan shear stress atau tensile stress yang terjadi pada fluida, bagaimana ilmuwan menjelaskan hal ini? pemahaman mengenai viskoistas dan penjelasan detailnya bisa dipahami melalui percobaan sederhana dua plate yang bergerak saling berlawanan pada permukaan (atas dan dasar) fluida.

dua plat yang berada membatasi tubuh fluida (atas dan bawah) yang atasnya gerak anggap aja yang bawahnya diem… dan fluida yang berada di dalamnya akan merespon ‘shearing force’ ini dengan tingkat viskositasnya dipengaruhi oleh perkalian gaya gesek (shear) terhadap jarak antar plat (dy) dibagi jarak pergeseran plat yang bergerak (du) dari titik awal atau µ=τ/(du/dy)(pusing ya?? haha)

Oke, dari gambar diatas kita bisa simpulkan ada dua plat yang membatasi fluida plat yang bawah statis (diam) plat yang diatas bergerak. gaya pergeseran (shear stress) alias τ(thou) diartikan sebagai besarnya gaya yang diperlukan untuk menggeser plat yang diatas melawan gaya viskositas molekuler fluida (µ dibaca: myu) terhasdap seberapa besar pergeseran. diekspresikan dalam persamaan dibawah ini: τ=µ(du/dy)………………………………………… (1) dimana:

τ = shear stress (satuannya gaya perunit area atau dyne/cm2) µ = viskositas molekular du = dipatiukur (:D bukan sob) perubahan jarak plat yang bergeser terhadap titik awal dy = jarak antar plat terus apa maksud persamaan diatas?? oke kalau lihat ekspresi rumus diatas, kita bisa lihat semakin besar nilai viskositas molekular (µ) dan jarak geser yang diinginkan (du) ditambah (makin jauh) maka gaya yang diperlukan (τ) juga harus besar dong…. tapi kalo kolom fluidanya dangkal (alias cetek) maka gaya gesek fluida (atau ( µ) ) tentunya gaya yang diperlukan untuk dorong itu plat lebih kecil (disini kita mengabaikan gravitasi dan ukuran dari plat bayangin aja lu dorong perahu di air cetek bisa mencret kan? artinya murni ketahanan partikel fluida terhadap gaya gesek yang bekerja pada permukaannya) sekarang, bagaimana dengan molecular (dynamic) viscosity nya? dari persamaan diatas viskositas dinamik (µ) dapat diartikan sebagai suatu ukuran ketahanan zat (fluida) untuk berubah bentuk akibat kecepatan tertentu. maka dari definisi ini dan melihat dengan seksama ilustrasi gambar diatas.. kita simpulkan bahwa viskositas molekular (µ) diartikan sebagai rasio antara tingkat shear stress (τ) terhadap tingkat deformasi (du/dy). µ=τ/(du/dy)…………………………………………… (2) τ = shear stress (satuannya gaya perunit area atau dyne/cm2) µ = viskositas molekular (satuannya poise) du = dipatiukur (:D bukan sob) perubahan jarak plat yang bergeser terhadap titik awal dy = jarak antar plat persamaan awal (1) diatas merupakan persamaan untuk fluida fluida newtonian (newtonian fluisd) apa itu?? semua jenis fluida yang memiliki viskositas konstan, artinya ketika shear stress bekerja tidak terjadi perubahan nilai viskositas fluida (contohnya air, gas, dan yang encer encer). sementara fluida yang tidak masuk kategori ini dikelompokan ke dalam non-newtonian. karena densitas dan viskositas dinamik sangat mempengaruhi perilaku fluida, maka dinamisitas fluida biasanya dikombinasikan oleh parameter lain yang dinamakan viskositas kinmeatik (kinematic viscosity) atau dikasih lambang v.

v = µ/ρ…………………………………………………….(3) dimana: v = viskositas kinematis (satuannya stokes (st) atau cm^2/s) µ = viskotisats dinamis (g/(ms) atau poise) ρ = densitas atau berat jenis fluida (g/L) viskositas kinematik ini merupakan faktor penting dalam mengetahui pergerakan arus lebih lanjut apakah akan bersifat acak (turbulen) atau tidak. kita akan bahas nanti… sobat.. sejatinya, viskositas kinematis ini telah diteliti oleh ‘bapak viskositas’ yaitu oleh George Gabriel stokes (1851), kemudian aplikasinya banyak dipakai di berbagai bidang industri dan sains yang banyak bermain dengan fluida. kita tidak akan bahas disini karena itu terlalu luas cakupannya kita bahas yang ringkas, turunan persamaanpersamaan yang sudah ada, dan aplikasinya di bidang keilmuwan yang kita pakai secara sederhana.. karena dengan kejujuran tingkat dewa saya ingin berkata saya juga masih ‘buta’ sama mekanika fluida yang lebih detail.. bila ingin mempelajarinya lebih dalam silahkan tanyakan kepada sahabat sahabat anda yang jago fisika (khusunya fluid mechanics), aerospace engineer, chemical engineer, hidrogeologist, petroleum engineer, rheologist (ini yg paling khusus suka ngubek ngubek fluida ) dan engineer engineer lainnya yang suka maen aerrrr….. hukum Stoke (Stoke’s Law) menjelaskan kecepatan settling (jatuh atau tenggelamnya) partikel (sedimen) dalam fluida, Stoke’s law diekspresikan seperti persamaan dibawah ini:

……………………………………… (4) dimana: V= velositas terminal (atau kecepatan akhir or kecepatan jatuh/settling) ingat ini v bukan untuk viskositas kinematis satuannya m/s (disini gue bedain huruf V nya gede)

g = percepatan gravitasi ρs= rho sedimen (atau densitas sedimen) ρf=rho fluida (densitas fluida) µ = viskositas settling velocity ini berkaitan atau berhubungan langsung dengan (dari persamaan diatas) gravitasi, viskostias dinamis, berat jenis, dan yang paling penting diameter dari partikel sedimen. untuk viskositas dan berat jenis sudah dibahas dimana nilai viskositas berbanding terbalik dengan kecepatan settling sedangkan berat jenis berbanding lurus, gravitasi tentu saja sifatnya konstan, dan bagaimana dengan ukuran diameter partikel? Oke, diameter (D) ini sebenernya ukuran penampang partikel dalam fluida. ukuran penampang yang lebih besar (D) tentu akan jatuh lebih cepat sementara yang lebih kecil akan jatuh lebih lambat hal persamaan ini dapat menjelaskan fenomena terbentuknya struktur (tekstur) graded bedding (menghalus keatas), tapi menurut Nichols (2005) persamaan ini hanya berlaku untuk material sedimen berukuran halus sementara yang kasar dan gede gede ketika akan jatuh ke fluida malah cenderung mengurangi velositas (?? entahlah).. tapi persamaan ini tidak berlaku untuk bentuk partikel yang aerodinamis (platy shape alias gepeng) seperti mineral mika biotit meskipun dia memiliki densitas (berat jenis) yang tinggi bisa saja mengalami settling yang lambat karena bentukya yang aerodinamis mendapat tekanan fluida (Pf) atau gaya archimedes yang rendah sebab penampang permukaannya yang luas meski memiliki densitas yang sama dengan butiran lain yang lebih bulet atau menyudut. maka tak jarang mineral mika sering kali dijumpai dipermukaan perlapisan batuan.. untuk settling velocity akan kita bahas lebih detail lagi nanti dibagian bagian berikutnya dari artikel ini. Newtonian fluid vs non-newtonian fluid Oke kita pakai batasan definisi bahwa newtonian fluid ini merupakan fluida dimana viskositasnya tidak berubah meskipun shear stress (atau shear rate) bertambah, sementara non-newtonian fluid berbeda viskositasnya akan berubah rubah seiring dengan berubahnya shear stress (ada yang menurun ada yang meningkat viskositasnya bergantung sifatnya. air dan gas adalah contoh newtonian fluid, artinya air begitu begitu aja ketika diberi shear stress di permukaanya (logikanya begini saat anda aduk aduk air akan kembali

seperti semula kan?) ketika air ini ditambahkan material sedimen dengan densitas yang tinggi (jenuh) konsentrasinya sekitar 30% maka akan menghasilkan pencampuran yang sifatnya non-newtonian (mixture sedimennya bukan pelarut airnya) ini untuk jenis non newtonian fluid jenis pertama (dikenal sebagai dilatant) artinya apparent viscosity (viskositas semu) nya bertambah seiring dengan shear stressnya bertambah, yang paling umum adalah jenis non-newtonian yang di dunia rheology kenal sebagai pseudoplastic. ini adalah jenis material yang bila shear stress bertambah maka viskositasnya malah berkurang, contohnya banyak sekali, cairan tepung kanji, cat latex, bubur kertas dalam air, dan lain lain yang serupa.. bayangkan begini ketika material material itu kena aduk mereka akan mempertahankan tekstur yang muncul setelah diaduk kan macam ‘lubang’ pada pusat wadah yang muncul karena adukan dan kerut kerut di permukaan fluida.. ketika fluida tenang viskositasnya kuat (kental sekali) tapi pas diaduk aduk.. rada rada encer kan?? logikanya seperti itu sob…. terakhir jenis non newtonian ada yang dikenal sebagai bingham plastic dimana viskoisatas materialnya sangat tinggi seperti keju, cream, pelumas kental, dan lain lain. bingham plastic memerlukan yield strenth (atau initial strength) yang tinggi dan memiliki kurva yang ‘sedikit’ linear dibandingkan dengan non-newtonian fluid lainnya. tidak semua non-newtonian fluid dibahas di geologi karena masa iya kita ngubek ngubek: keju, kecap, cat lukis, dan lai lain??

kurva pengaruh peningkatan shear stress terhadap tingkat deformasi yang terjadi dari newtonian fluid dan non newtonian fluid

pencampuran material sedimen dalam fluida newtonian (air) dapat merubah sifat fluida newtonian menjadi non newtonian jika konsentrasi fluidanya sangat tinggi (contohnya aliran debris, mudflow dan lain) berbeda dengan fluida newtonian (campuran konsentrasi sedimen sangat kecil) aliran akan mudah mengalir hanya dengan slope yang landai sekalipun (initial yield strength) sementara yang udah kelewat jenuh sama material tadi (non newtonian) misalnya kayak keju cair di tempelin di lereng malah nempel terus kan?? kecuali ada yield strength (kemiringan lereng ditambah atau ada air yang bisa mendorong material kebawah) mengakibatkan longsoran (material longosran dengan konsentrasi mud sangat tinggi terjadi karena ini).

gambar diatas menunjukan bahwa newtonian fluid akan berprilaku linear atau pertambahan deformasi meningkat seiring dengan meningkatnya stress, tapi viskositasnya (nilai kemiringan kurva atau di matematika kita sebut gradien m) bandingin sama yang non newtonian karena kurvanya lengkung otomatis kemiringan garisnya berbeda bukan? artinya viskositasnya berubah. untuk bingham plastic viskoistanya sejatinya hampir linear karena udah kental banget (keras malah) nah viskositanya pun ‘setidaknya’ konstan sama dengan newtonian fluid. lihat kurva dibawah

kurva linear antara hubungan dari yield stress dan shear stress terhadap rata rata shear (deformasi) yang terjadi menunjukan nilai perubahan viskositas konstan (gradien kemiringan garis) tapi bedanya untuk menghasilkan deformasi (biar si material mengalir) perlu ada initial atau yield stress dulu untuk yang bingham plastic. kalau melihat kemiringan garis diatas bingham plastic lebih landai dari newtonian fluid artinya meski konstan perubahan viskositasnya shear rate yang terjadi tentulah lebih besar (deformasi yg terjadi)

apa lagi yah?? oh iya.. ini ada lagi kurva yang menggambarkan hubungan antara shear stress (thou alias τ) yang bekerja terhadap deformasi yang terjadi dari berbagai jenis material fluida yang kita bahas diatas.

hubungan antara kurva bingham plastic, newtonian fluid, shear thinning (pseudoplastic), shear thickening (dilatant) terhadap pengaruh deformasi yang dipicu oleh shear stress. semua bisa terdeformasi hanya dengan shear stress yang konstan kecuali bingham plastic perlu initial stress untuk mendeformasi material itu.

oke, saya percaya pak dhe pak dhe sekalian mabok baca tulisan ini.. jangankan anda saya yang nulisanya aja pengen mencret.. daripada memikirkannya mari lihat aplikasinya di bidang sedimentologi yang kita bahas sekarang.

dua baris kedua paling bawah merupakan jenis transortasi mekanis dengan material fluida yang bersifat tinggi viskositasnya, artinya do’i berdua bukan lagi newtonian fluid dan shear stressnya haruslah tinggi dibandingin sama ‘kawan-kawannya’ yang lain..

Laminer vs Turbulen streamline adalah istilah untuk pergerakan aliran fluida yang divisualisasikan dalam bentuk garis garis. aliran laminer streamlinenya lurus dan sejajsar sementara aliran

trubulen sudah tentu acak acakan (streamline yang terganggu). aliran laminar sejatinya dikenal juga sebagai streamline flow artinya streamline ini merupakan pola lintasa garis yang lurus dan paralel terhadap arah pergerakan arus. pergerakan partikel air di aliran turbulen yang cenderung acak akan mengurangi settling velocity (kecepatan jatuh) dari partikel sedimen, sebaliknya di laminer partikel akan memiliki settling velocity lebih cepat bergantung pada parameter persamaan Stoke (persamaan 4) diatas. tapi, aliran turubulen ini membantu mengabrasi bed (dasar wadah aliran) dan membawa (entrainment) material sedimen baru.

visualisasi streamline laminar (kiri) dan turbulen ‘streamline yang terganggu’ (kanan)

pertanyaannya adalah bagaimana membedakan antara aliran laminar dan turbulen dari parameter yang pas? kita akan jawab di pembahasan dibawah ini. Reynold number (Angka Reynold) pertama kali diperkenalkan oleh George Gabirel Stokes tahun 1851 tapi pertama kali ditemukan Osborne Reynold (1842-1912) dan menjadi populer di kalangan ahli mekanika fluida tahun 1883 (saat usia Reynold 41 tahun)-sampai sekarang.

angka reynold ini menggambarkan hubungan antara kecepatan aliran, jarak, densitas terhadap viskositas dinamis dari fluida atau kecepatan aliran, jarak terhadap viskositas kinematis dengan menagbaikan denstias material. mari lihat ekspresi persamaannya dibawah ini: Re=ULρ/µ……………………………….. (5) dimana: Re=angka reynold tanpa dimensi L=kedalaman aliran (m) U=velositas arus (m/s) ρ=berat jenis atau densitas (g/L) µ= viskositas material (viskositas dinamis) (g/(ms)) dengan mengabaikan berat jenis fluida atau menginat ekspresi viskositas kinematik dari persamaan (3) diatas (v = µ/ρ) maka persamaan diatas dengan mensubtitusi nilai µmenjadi µ= v*ρ bisa di tulis lagi menjadi: Re=UL/v………………………………………(6) dimana: Re=angka reynold U=velositas atau kecepatan aliran L=panjang aliran (m) biasanya kedalaman aliran (m) menurut Nichols (2007) angka Reynolds ini berkisar antara 500-2000 maka, ketika nilainya <500 aliran akan bersifat laminar, sedangkan angka Reynold >2000 aliran akan cenderung bersifat turbulen. ketika berada pada nilai 500-2000 sifatnya transisional artinya dia tidak laminer tidak turbulen tapi akan berubah menjadi turbulen ketika kecepatan arus makin kuat. boundary layer, viscous sublayer, free layer (outer layer)

saat fluida bergerak ternyata tidak semua arah pergerakan (turbulensi), kecepatan, dan viskositas di seluruh tubuh fluida itu sama, hal ini diketahui dari hasil percobaan oleh para ilmuwan. terdapat layer layer pada tubuh aliran berdasarkan perbedaan perbedaan yang muncul (turbulensi dan viskositas arus). mari kita pahami satu satu, pada viscous sublayer dimana arus disini berjalan lebih lambat karena viskositas lebih tinggi dibandingkan dengan arus dipermukaan, bila partikel sedimen yang diangkutnya halus maka alirannya akan cenderung laminar bila kasar dan permukaan yang dilewati arus kasar bisa saja alirannya menjadi turbulen. pada layer ini struktur sedimen akan terbentuk karena yang paling dekat dengan permukaan (bed) dan arus akan bekerja membentuk struktur itu. di viscous sublayer ini erosi bisa terjadi dan akan semakin intens jika arusnya turbulen, shearing pada permukaan bed dominan terjadi di sini dibandingkan di bagian atas nya, viscous sublayer ini lebih tipis dibandingkan layer-layer aliran lainnya (diatasnya).

gambar nyolong dari internet: ilustrasi gambaran grafis kartesian dari boundary layer, viscous sublayer dan outer layer (constant velocity) dari tubuh aliran fluida

dalam keilmuan teknik sipil, penentuan boundary layer beserta ‘teman-temannya’ dilakukan dalam eksperimen mengamati perilaku aliran dalam pipa tapi hal ini ‘somewhat’ berbeda dengan aplikasi di geologi dimana channel tempat mengalirnya fluida ini lebih besar dari gambaran sebuah pipa (misalnya channel sungai, lembah di submarine fan, delta etc..). tapi setidaknya kita bisa ‘mengadopsi’ hasil percobaan ini (meski gaya inersia atau shear stress di dasar aliran pada channel sungai ‘hanya’ terjadi di dasar sungai sedangkan di pipa di seluruh permukaan dinding pipa). dari hasil percobaan diatas (grafik diatas) perhatikan garis garis sejajar berarah lateral ke kanan (panah biru) menunjukan velositas aliran (Uz) dan garis parameter vertikal adalah

kedalaman channel. mari kita lihat, kecepatan aliran semain ke dasar channel akan semakin berkurang (karena densitas aliran atau viskositas di bawah berbeda dari di atas aliran), di atas permukaan kecepatan akan konstan (lebih besar) tapi tiba tiba kecepatan ini menurun dratstis (kurva lengkung yang membatasi garis panah biru (Uz) atau kecepatan aliran), batas awal (kritis) sebelum pola kurva kecepatan aliran ini akan melengkung adalah batas dari ‘boundary layer’, pada batas ini karena perbedaan perubahan kecepatan terjadi turbulensi dapat terjadi disini. dan ternyata semakin ke bawah (dasar aliran) kecepatan aliran semakin rendah (karena viskositas tinggi akibat konsentrasi sedimen yang lebih banyak dan gaya inersia oleh permukaan bed tempat aliran flluida mengalir), pada zona ini aliran lebih lambat dan viskositas lebih tinggi artinya aliran akan cenderung laminar!, zona ini (zona tempat aliran laminar) hadir sangat tipis (lebih tipis dari zona lain) dinamakan ‘laminar sublayer’ atau dikenal juga sebagai viscous sublayer (karena sifatnya yang ‘sangat’ viscous). untuk lebih jelasnya silahkan lihat ilustrasi yang dibuat Nichols (2007) dibawah ini:

ilustrasi boundary layer, viscous (laminar) sublayer dan outer layer dari aliran di dasar channel yang melewati bed.. perhatikan viscous sublayer diisi oleh material sedimen, bila sedimennya halus (yang diangkut) maka viscous sublayer yang hadir akan menunjukan karakter ‘hyrdolically smooth’ dan bila kasar (sedimennya) maka akan membentuk karakter ‘hydraulically rough’ (istilah ini ada dalam boggs hal 26 dan Nichols hal 50)

gambar diatas mengilustrasikan kurva yang diatasnya lagi … pada proses pengankutan sedimen layering layering ini terjadi akibat konsentrasi sedimen di dasar aliran lebih tinggi dari diatasnya (artinya lebih viscous alias viskositasnya gede) , serta kontak antara fluida (yang mengalir) dengan bed dibawahnya akan menghasilkan friction (shear atau gaya inersia) antara bed dan aliran akibatnya pengaruh yang dialami dibagian bawah aliran secara umum akan berbeda dengan di bagian atas hingga permukaan aliran berdampak pada kecepatannya dan perliaku arah (turbulensi) dari aliran.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->