Ratu Leak Calonarang Rangda Nateng Girah

Di Kerajaan Kediri pada masa pemerintahan Airlangga yaitu didesa Girah ada sebuah Perguruan Ilmu Hitam atau Ilmu Pengeleakan yang dipimpin oleh seorang janda yang bernama Ibu Calonarang (nama julukan dari Dayu Datu). Murid – muridnya semua perempuan dan diantaranya ada empat murid yang ilmunya sudah tergolong tingkat senior antara lain: Nyi Larung, Nyi Lenda, Nyi Lendi, Nyi Sedaksa.

Ibu Calonarang juga mempunyai anak kandung seorang putri yang bernama Diah Ratna Mengali, berparas cantik jelita, tetapi putrinya tidak ada satupun pemuda yang melamarnya.

begitulah pengaduan dari Nyi Larung yaitu salah satu muridnya yang paling dipercaya oleh Ibu Calonarang. Angin dingin yang tadinya . Suasananya nyaman. Ketika penduduk Rakyat Kediri tertidur lelap di tengah malam. Kegiatan masyarakat berlangsung dari pagi sampai sore. Tak kuat tubuhnya yang sudah tua tersebut menahan gempuran fitnah yang telah ditebar oleh masyarakat Kerajaan Kediri. Suatu hari yang dianggap kramat bagi masyarakat. Masyarakat biasanya pantang pergi sampai larut malam pada hari Kajeng Kliwon. Ibu Calonarang sangat sedih bercampur berang. Maka diutuslah Nyi Larung untuk menciptakan gerubug di Kerajaan Kediri. pandangan matanya berubah seolah-olah menahan panas hatinya yang membara. itu berarti keturunannya akan putus dan tidak bisa pula menggendong cucu. Kemudian dengan kedatangan pasukan leak tersebut. Sehingga penduduk tidak ada yang berani keluar sampai larut malam. sedih karena khawatir putrinya bakal jadi perawan tua. semua masyarakat telah beristirahat tidur. Setelah tengah malam tiba. gelisah. kemudian muncullah niatnya untuk membalas dendam pada rakyat Kediri yang telah menyebar fitnah terhadap Putrinya. seketika berubah menjadi panas. air berubah menjadi api. tiba-tiba saja penduduk desa merasakan udara menjadi panas dan gerah. ketika itulah para murid atau sisya Ibu Calonarang yang sudah menjadi leak datang ke Desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri. tampak nafas Ibu Calonarang mulai meningkat. dan damai sangat terasa ketika itu. Kalau diibaratkan Sang Hyang Wisnu berubah menjadi Sang Hyang Brahma. tentram. dengan di dasarkan pada hukum keturunan yaitu kalau Ibunya bisa ngeleak maka anaknyapun mewarisi ilmu leak itu. bahkan sampai malam hari. dan bagi yang perempuan digunakan untuk mencari kutu rambut. Diceritakan Rakyat Kerajaan Kediri di siang harinya yang ramai seperti biasanya. Amarah Ibu Calonarang membara. Masyarakatnya sebagian besar hidup dari bertani di sawah dengan menanam padi dan palawija.Karena Diah Ratna Mangali diduga bisa ngelelak. Penampilannya yang tadinya tenang. Bagi yang mempunyai waktu luang yang laki-laki biasanya diisi dengan mengeluselus ayam aduan. dingin dan sejuk. ditambah lagi pada hari tersebut adalah hari Kajeng Kliwon. Pengaduan tersebut telah membakar darah Ibu Calonarang dan mendidih. Tak kuasa Ibu Calonarang menahan amarahnya. terasa muncrat dan tumpah ke otak. Karena hari tersebut dianggap sebagai hari yang angker. Mendengar pengaduan tersebut. berang karena putrinya dituduh bisa ngeleak. Tidak ada terasa hal-hal aneh atau pertanda aneh di siang hari tersebut. Suasananya menjadi sangat gelap dan sunyi senyap.

Para balian pun didatangkan ke desa-desa yang kena bencana wabah gerubug.mendesir sejuk. Untuk mengetahui situasi di luar rumah. Namun apa yang dilihatnya? Sangat terkejut orang tersebut menyaksikan kejadian di luar. serta segera memohon kehadapan Hyang Maha Kuasa agar diberikan perlindungan. dan terdengar tangis para bayi di tengah malam. padahal ketika itu adalah musim kering. ada beberapa yang telah meninggal. semua sudah berada di desa pesisir. Ketika malam itu. segera ia masuk ke dalam rumah dan mengunci pintunya rapat-rapat. dan Nyi Sedaksa. sehari-hari orang mengusung mayat kekuburan dalam selisih waktu yang sangat singkat. Nyi Lenda. Ternyata mereka juga tidak dapat berbuat banyak menghadapi penyakit gerubug yang dialami penduduk desa. Demikian seterusnya. Demikian pula suara goak atau burung gagak terdengar di tengah malam. Karena mendadak sebagian penduduk mengalami muntah dan mencret. Menghadapi situasi demikian beberapa penduduk dan prajuru desa mencoba untuk menanyakan kepada para balian atau dukun untuk minta pertolongan. tiba-tiba saja yang tadinya ikut mengubur menjadi sakit dan meninggal. Sungguh mengerikan pemandangan di desa-desa wilayah pesisir Kerajaan Kediri ketika itu. Diceritakan keesokan harinya penduduk desa bangun pagi-pagi. Semua leak tersebut menjalankan tugas seperti apa yang diperintahkan oleh gurunya yakni Ibu Calonarang. masyarakat menjadi ketakutan. Demikian pula tokek pun ribut saling bersahutan seakan-akan memberitahukan sesuatu kepada penduduk desa. ada seorang masyarakat memberanikan diri untuk mengintip dari balik jendela rumahnya. Lolongan anjing saling bersahutan seketika. Kemudian orang tersebut mengalami sakit ngeeb atau ketakutan yang berlebihan dan tidak mau bicara. Kerajaan Kediri gempar. Mendengar dan mengalami suatu yang ganjil tersebut. dan tidak ada yang berani keluar. Penduduk desa dihantui oleh bahaya maut. Seolah-olah kematian ada di depan hidung mereka. Nyi Lendi. . Segera saja yang meninggal dikuburkan di setra atau tempat pemakaman mayat. Beberapa lagi belum ada yang sempat diberi obat. karena saking takutnya. namun ketika pulang dari setra. Demikian semakin panik masyarakat di desa. Orang tersebut. si balian atau dukun yang didatangkan tersebut mengalami mutah berak dan meninggal. tiba-tiba hilang dan menjadi panas yang membuat tidur mereka menjadi gelisah. Masyarakat desa menjadi panik. Bahkan. Para anak-anak yang gelisah. tiba-tiba sudah meninggal. Ketika itu sudah terasa ada yang aneh dan ganjil saat itu. Bahkan pagi itu. Ditambah lagi dengan adanya bunyi kodok darat yang ramai. Para murid atau sisya Ibu Calonarang yang berjumlah tiga puluh empat orang ditambah dengan empat orang muridnya yang sudah senior yaitu Nyi Larung.

para penglingsir atau tetua. kebingungan dan ketakutan. Dijelaskan pula secara panjang lebar mengenai masalah yang sedang melanda desa-desa pesisir wilayah Kerajaan Kediri. . rombongan tersebut kemudian menjelaskan segala sesuatu maksud dan tujuannya mengahap ke Istana. akhirnya para prajuru desa atau Pengurus Desa.Setelah berberapa hari mengalami kepanikan. dan para pemangku. Mereka kemudian memohon agar Sang Prabu berkenan untuk meninjau ke desa-desa. Keesokan harinya para prajuru desa beserta rombongan berangkat menuju Istana Kediri. mengadakan pertemuan di salah satu Balai Banjar di Desa Girah. Setelah memberikan penghormatan kehadapan Sang Prabu. Mereka berencana memohon kehadapan Raja Airlangga agar beliau berkenan untuk datang ke desa-dewa wilayah pesisir Kerajaan Kediri meninjau rakyatnya yang sedang ditimpa musibah penyakit atau gerubug.

Sepeninggalan rombongan Desa Girah. . Raja Airlangga kemudian membuat keputusan untuk menggempur Calonarang Rangda Nateng Girah. Ki Patih Madri gugur dalam peperangan melawan Nyi Larung dan para jawara Kediri banyak yang tewas. maka Raja Kediri sangat panik sehingga Raja Kediri memanggil seorang Bagawanta (Rohaniawan Kerajaan) yaitu Pendeta Kerajaan Kediri yang bernama Empu Bharadah yang ditugaskan oleh Raja untuk mengatasi gerubug (wabah) sebagai ulah onar si Ratu Leak Calonarang. Empu Bharadah lalu mengatur siasat dengan cara Empu Bahula putra Empu Bharadah di tugaskan untuk mengawini Diah Ratna Mengali agar berhasil mencuri rahasia ilmu pengeleakan milik Janda sakti itu. maka beliau sendirian duduk termenung di bale penangkilan. Ki Patih Madri berperawakan tinggi besar.Diceritakan Prabu Airlangga Raja Kediri. dan menguasai beberapa ilmu kanuragan. Dengan kalahnya Patih Madri melawan Nyi Larung murid Calonarang. dan mempercayakan kepada Ki Patih Madri sebagai pimpinan penyerangan. pintar ilmu silat atau bela diri. Ia adalah seorang tabeng dada atau pengawal Istana. Kemudian secara tak disangkasangka datang Ki Patih Madri menghadap Sang Prabu ke Istana.

karena masih ada generasi penerusnya sebagai pewaris pelestarian budaya di Bali. . Pertarunganpun terjadi dengan sangat seram dan dahsyat antara penguasa ilmu hitam yaitu Calonarang dibantu para sisya atau murid-muridnya dengan penguasa ilmu putih yaitu Empu Bharadah dibantu Pasukan Balayuda Kediri. Sangat ampuh mantra sakti Pasupati tersebut.Empu Bahula berhasil mencuri buku tersebut berupa lontar yang bertuliskan aksara Bali yang menguraikan tentang teknik – teknik pengeleakan. di Setra Ganda Mayun. dan pripian tembaga wasa atau lempengan tembaga. maka setelah siang hari Ibu Calonarang akhirnya tidak kuat melawan Empu Bharadah. Ibu Calonarang pun akhirnya meninggal dalam pertempuran itu. Dilengkapi pula dengan sarana sesikepan. Pertempuran berlangsung sangat lama sehingga sampai pagi. Empu Bharadah tidak sedikitpun gentar melihat kawanan leak tersebut. rerajahan kain. Ibu Calonarang sangat marah dan menantang Empu Bharadah untuk perang tanding pada malam hari di Setra Ganda Mayu yaitu sebuah kuburan yang arealnya sangat luas yang ada di Kerajaan Kediri. Dengan meninggalnya Ibu Calonarang maka bencana gerubug (wabah) yang melanda Kerajaan Kediri bisa teratasi. Setelah Ibu Calonarang mengetahui bahwa dirinya telah diperdaya oleh Empu Bharadah dengan memanfaatkan putranya Empu Bahula untuk pura–pura kawin dengan putrinya sehingga berhasil mencuri buku ilmu pengeleakan milik Calonarang. bahkan semangat untuk bertempur semakin membara. Calonarang Rangda Nateng Girah yang mewariskan Ilmu Pengeleakan Aji Wegig sampai sekarang masih berkembang di Bali. dan karena ilmu hitam mempunyai kekuatan hanya pada malam hari saja. Sambil juga Empu Bharadah mengucap mantra sakti Pasupati. sesabukan. Empu Bharadah membawa pusaka sakti berupa sebuah keris yang bernama Kris Jaga Satru.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful