PERJANJIAN KERJA BERSAMA ANTARA PT PLN (PERSERO) DAN SERIKAT PEKERJA PT PLN (PERSERO) NOMOR : 0392.

PJ/061/DIR/2006 NOMOR : DPP-042/KEP-ADM/2006 PERIODE TAHUN 2006 – 2008 MUKADIMAH Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Sebagaimana diketahui bahwa Kesepakatan Kerja Bersama antara PT PLN (Persero) dan Serikat Pekerja PT PLN (Persero) Nomor 057.PJ/061/DIR/2002 dan Nomor DPP-015/KEP-ADM/2002 Periode Tahun 2002 – 2004 dan kesepakatan perpanjangan tanggal 27 Oktober 2005 telah berakhir. Sejalan dengan keberadaan dan perkembangan Serikat Pekerja di lingkungan PT PLN (Persero) serta pengakuan hak-hak Pekerja untuk berorganisasi, diperlukan suatu hubungan kerja yang harmonis, serasi dan dinamis antara PT PLN (Persero) dengan Pegawai untuk mewujudkan sikap saling menghormati, mempercayai satu sama lain dengan penuh rasa tanggung jawab. Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan Pegawai dan Kemajuan Perseroan, diperlukan usaha-usaha pengembangan kemampuan, ketrampilan dan peningkatan produktivitas Pegawai. Agar usaha tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar, diperlukan kerjasama yang baik antara Perseroan, Serikat Pekerja dan Pegawai serta Sistem Manajemen Sumberdaya Manusia yang baku dan terpadu yang selanjutnya dituangkan dalam bentuk Perjanjian Kerja Bersama. Perjanjian Kerja Bersama merupakan ketentuan, syarat-syarat kerja dan kondisi kerja yang dibuat dengan tujuan sebagai berikut : 1. Adanya kepastian hak dan kewajiban PT PLN (Persero), Serikat Pekerja dan Pegawai. 2. Adanya syarat-syarat kerja bagi Pegawai. 3. Terciptanya hubungan kerja yang harmonis dan dinamis antara PT PLN (Persero) dengan Pegawai demi kelangsungan dan kemajuan Perseroan sehingga kesejahteraan Pegawai dapat ditingkatkan. 4. Terwujudnya Good Corporate Governance. PIHAK-PIHAK YANG MELAKUKAN PERJANJIAN Perjanjian Kerja Bersama ini dibuat antara : I. PT PLN (Persero), badan hukum yang berkedudukan di Jakarta berdasarkan Anggaran Dasar yang dimuat dalam Akta Notaris Soetjipto, SH Nomor 169 Tahun 1994 yang telah dimuat dalam Berita Negara Republik Indonesia Nomor 6731, beserta perubahannya yang selanjutnya disebut Perseroan.

II. Serikat Pekerja PT PLN (Persero) yang terdaftar pada Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia Nomor KEP. 385/M/BW/1999 tanggal 13 Oktober 1999 berdasarkan Anggaran Dasar Serikat Pekerja PT PLN (Persero) yang selanjutnya disebut SP-PLN. Kedua belah Pihak sepakat bahwa yang dijadikan dasar hukum pembuatan Perjanjian Kerja Bersama ini adalah : 1. Undang-Undang Nomor 18 tahun 1956 tentang Persetujuan Konvensi ILO mengenai berlakunya dasar-dasar dan hak untuk berorganisasi dan untuk berunding bersama. 2. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. 3. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas. 4. Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja. 5. Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. 6. Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara. 7. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial. 8. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 1994 tentang PT Perusahaan Listrik Negara (Persero). 9. Peraturan Pemerintah Nomor 12 Tahun 1998 tentang Perusahaan Perseroan (Persero) sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2001. 10. Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP.48/MEN/IV/2004 tentang Tata Cara Pembuatan Peraturan Perusahaan serta Pembuatan dan Pendaftaran Perjanjian Kerja Bersama. 11. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor : SE.13/MEN/SD-HK/I/2005 tanggal 7 Januari 2005 tentang Putusan Mahkamah Konstitusi R.I. atas Hak Uji Material UU Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan terhadap UUD Negara R.I. tahun 1945. Kedua belah Pihak sepakat untuk membuat dan mengikatkan diri dalam Perjanjian Kerja Bersama dengan ketentuan sebagai berikut : BAB I KETENTUAN UMUM Bagian Pertama Definisi Pasal 1 Dalam Perjanjian Kerja Bersama ini yang dimaksud dengan : a. Perjanjian Kerja Bersama adalah perjanjian hasil perundingan yang diselenggarakan antara SP-PLN dengan PT PLN (Persero) yang disetujui/diketahui oleh Departemen yang membidangi ketenagakerjaan untuk mengatur dan melindungi hak serta kewajiban kedua belah pihak yang selanjutnya disingkat dengan PKB. b. Direksi adalah Direksi PT PLN (Persero). c. Perseroan adalah PT PLN (Persero) yang didirikan dengan Akta Notaris Soetjipto, SH Nomor 169 Tahun 1994 beserta perubahannya. d. PLN Pusat adalah PT PLN (Persero) Kantor Pusat. e. PLN Unit adalah Unit PLN yang bertanggung jawab secara langsung kepada Direksi. f. Unit PLN adalah PLN Pusat dan PLN Unit. g. Serikat Pekerja adalah Serikat Pekerja PT PLN (Persero) yang selanjutnya disebut SP-PLN. h. Pegawai adalah mereka yang memenuhi syarat-syarat yang ditentukan diangkat dan diberi penghasilan menurut ketentuan yang berlaku di Perseroan, atau dapat juga disebut Pekerja.

i. j. k.

Istri/Suami adalah istri/suami sah Pegawai yang didaftarkan di Perseroan. Anak Kandung adalah anak sah Pegawai yang didaftarkan di Perseroan. Anak Angkat adalah anak yang diangkat menurut hukum/adopsi atau berdasarkan hukum adat setempat yang diperkuat Pengadilan Negeri untuk paling banyak 1 (satu) orang dan didaftarkan di Perseroan. Anak Tiri adalah anak yang bukan anaknya sendiri dan diakui sebagai anak akibat adanya suatu perkawinan antara Pegawai dengan orangtua anak tersebut yang pada saat perkawinan Pegawai yang bersangkutan tidak mempunyai anak kandung/anak angkat. Jumlah anak tiri tersebut paling banyak 1 (satu) orang dan didaftarkan di Perseroan. Ahli Waris adalah keluarga Pegawai yang berhak menerima warisan sesuai ketentuan perundangundangan yang berlaku. Penghasilan adalah imbalan yang diberikan oleh Perseroan dan dibayarkan setiap bulan berdasarkan sistem penghasilan yang ditetapkan Perseroan. Waktu Kerja adalah waktu yang digunakan untuk melakukan pekerjaan, yaitu 7 (tujuh) jam atau 8 (delapan) jam dalam 1 (satu) hari dan tidak melebihi 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. Hari Kerja adalah hari Senin sampai dengan hari Jum’at atau hari Senin sampai dengan hari Sabtu, kecuali hari tersebut merupakan hari libur resmi yang ditetapkan oleh Pemerintah. Untuk tugas-tugas berkesinambungan yang memerlukan pelaksanaan tugas secara bergilir ditetapkan oleh Pimpinan Unit PLN masing-masing. Kerja Lembur adalah waktu kerja di luar ketentuan jam kerja yang telah ditetapkan oleh Perseroan.

l.

m. n. o. p.

q. r.

Hari Libur adalah hari tidak masuk kerja yang ditetapkan oleh Pemerintah Pusat/Pemerintah Daerah dan atau Perseroan sebagai hari libur. s. Waktu Istirahat adalah waktu tidak melakukan pekerjaan pada hari kerja yang diatur dan ditetapkan Perseroan. t. Cuti adalah keadaan tidak masuk bekerja setelah memenuhi persyaratan sesuai peraturan perundangan dan ketentuan yang berlaku di Perseroan. u. Kecelakaan Dinas adalah kecelakaan kerja sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Perundangan yang berlaku dan kebijakan Perseroan tentang kecelakaan dinas. v. Lembaga Kerjasama Bipartit (LKB) adalah forum komunikasi konsultasi dan musyawarah tentang masalah hubungan kerja di Perseroan yang anggotanya terdiri atas unsur Perseroan dan unsur SPPLN. Bagian Kedua Lingkup Perjanjian Pasal 2 (1) PKB ini berlaku bagi Perseroan dan SP-PLN sebagai dasar hukum dalam hubungan kerja. (2) PKB antara Perseroan dan SP-PLN ini memuat syarat-syarat kerja, hak dan kewajiban kedua belah Pihak. (3) Perseroan dan SP-PLN sepakat selama masa berlakunya Perjanjian ini, untuk tidak melakukan perubahan terhadap isi Perjanjian ini, kecuali kedua belah Pihak bersepakat untuk mengadakan perubahan dan dituangkan secara tertulis dan menjadi amandemen atau addendum PKB. Bagian Ketiga Sumber Dana Bagi SP-PLN Pasal 3 (1) Iuran anggota SP-PLN ditentukan sebagai berikut :

(2) Perseroan mengakui sepenuhnya bahwa SP-PLN adalah organisasi Pekerja yang sah dan diakui di Perseroan. Besarnya iuran anggota ditetapkan oleh SP-PLN. (2) SP-PLN berhak : a. membela dan melindungi anggotanya. (3) Bantuan Dana program kerja Tahunan SP-PLN sebagaimana dimaksud pada ayat (2). (7) Bantuan anggota atau pihak lain yang tidak mengikat yang digunakan untuk meningkatkan kualitas dan kesejahteraan anggota. c. (5) Droping dana sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan ayat (3) diberikan sesuai aktivitas yang akan dilaksanakan dan diwajibkan membuat laporan keuangan setelah aktivitas dilaksanakan. Mewakili. Memberikan sanksi kepada Pegawai yang melanggar Peraturan Disiplin Pegawai. Iuran anggota sebagaimana dimaksud dalam huruf a. (2) Perseroan memberikan bantuan dana sesuai kesepakatan berdasarkan Program Kerja Tahunan SPPLN. (6) Hasil usaha yang sah. (4) Bantuan dana sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan (3) diberikan kepada SP-PLN masingmasing Unit PLN oleh Pimpinan Unit yang bersangkutan. b. b. c. (8) Dalam hal bantuan dari pihak lain berasal dari luar negeri. . Bagian Kedua Hak-Hak Perseroan dan SP-PLN Pasal 5 (1) Perseroan berhak : a. ditransfer langsung ke rekening SP-PLN di masing-masing Unit PLN yang bersangkutan. Mengatur Pegawai dan jalannya Perseroan yang sepenuhnya merupakan tanggung jawab Perseroan sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku.a. Pengurus SP-PLN harus memberitahukan secara tertulis kepada instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Mengajukan keberatan atas tindakan SP-PLN yang bertentangan dengan PKB. BAB II PENGAKUAN HAK-HAK DAN KEWAJIBAN Bagian Pertama Pengakuan Para Pihak Pasal 4 (1) SP-PLN mengakui sepenuhnya hak Perseroan untuk memimpin dan mengurus Perseroan sesuai Anggaran Dasar PT PLN (Persero). diajukan sebelum penyusunan RKAP Perseroan pada tahun berjalan untuk masing-masing Unit PLN. Pemotongan iuran anggota dilakukan langsung oleh Perseroan dengan persetujuan anggota dari penghasilan anggota SP-PLN setiap awal bulan.

Menghindari konflik kepentingan antara posisi sebagai Pengurus SP-PLN dengan posisi di Perseroan. membina dan meningkatkan hubungan yang harmonis melalui kerjasama yang baik. meliputi jabatan-jabatan : . f. g. menghormati dan mempercayai sehingga hubungan industrial benar-benar terbina. Memberikan kesempatan kepada SP-PLN untuk mencalonkan anggotanya menjadi Anggota Dewan Pengawas Dana Pensiun PLN yang mewakili Peserta. Mengajukan keberatan atas tindakan Perseroan yang bertentangan dengan PKB dan atau yang merugikan Perseroan. h. Mencalonkan anggotanya untuk menjadi anggota Dewan Pengawas Dana Pensiun PLN yang mewakili Peserta. c. membina dan meningkatkan hubungan yang harmonis melalui kerjasama yang baik.b. Mengatur organisasi dan anggotanya sepanjang tidak bertentangan dengan peraturan perundangan yang berlaku. b. Melindungi dan membela anggota dari pelanggaran hak-hak dan memperjuangkan kepentingannya. Mewakili anggota SP-PLN dalam menyelesaikan perselisihan industrial. Menjaga. e. Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam rangka mewujudkan Good Corporate Governance (GCG). menghormati dan mempercayai sehingga hubungan industrial benar-benar terbina. Membantu Perseroan untuk menjaga ketenangan kerja serta kelancaran jalannya Perseroan dan peningkatan produktivitas kerja dan mendorong terciptanya Perseroan yang bebas dari Korupsi. c. c. c. terpelihara dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. g. Memperjuangkan peningkatan kesejahteraan anggota dan keluarganya. Menjaga. e. d. Mentaati isi PKB. b. terpelihara dan dilaksanakan sebagaimana mestinya. i. Mewakili anggota SP-PLN dalam lembaga ketenagakerjaan. Bagian Ketiga Kewajiban Perseroan dan SP-PLN Pasal 6 (1) Perseroan berkewajiban untuk: a. d. Membuat PKB dengan Perseroan. Mempertanggungjawabkan kegiatan organisasi kepada anggotanya sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga SP-PLN. Membentuk lembaga atau melakukan kegiatan yang berkaitan dengan usaha meningkatkan kesejahteraan Pegawai sepanjang kegiatan tersebut tidak menimbulkan benturan kepentingan dengan Perseroan. Melaksanakan pengelolaan Perseroan secara efisien dengan membangun dan membina terciptanya Perseroan yang bebas dari Korupsi. j. Melakukan kegiatan lainnya dibidang ketenagakerjaan yang tidak bertentangan dengan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku. Memberikan masukan kepada Perseroan terhadap pencapaian kinerja unit PLN. (2) SP-PLN berkewajiban: a. Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam rangka mewujudkan Good Corporate Governance (GCG). f. Mentaati isi PKB.

mengutamakan seleksi terlebih dahulu sesuai kompetensi yang dibutuhkan Perseroan. Bagian Kedua Jabatan Pegawai Pasal 9 (1) Setiap Pegawai diangkat dalam jabatan tertentu. 2) Jabatan supervisori. (2) Perseroan memberikan fasilitas kepada Pengurus dan/atau anggota yang ditugaskan atas nama SPPLN untuk menghadiri konferensi. seminar dan yang berhubungan dengan kegiatan SP-PLN sesuai dengan program kerja tahunan SP-PLN. kursus. BAB III BANTUAN DAN FASILITAS BAGI SP-PLN Pasal 7 2) (1) Perseroan memberikan izin kepada pengurus dan/atau anggota SP-PLN yang ditugaskan atas nama SP-PLN untuk meninggalkan pekerjaan dalam melaksanakan tugas-tugas kepengurusan SP-PLN dengan tidak membebaskan mereka dari tugas dan jabatan di Perseroan. Jabatan struktural di Bidang Sumberdaya Manusia dan Bidang Keuangan. Jabatan struktural : 1) Jabatan manajerial. kongres. (3) Perseroan memberikan bantuan penyediaan ruangan dan fasilitas kantor yang layak untuk kegiatankegiatan SP-PLN sesuai kemampuan Perseroan. . (2) Jenis jabatan terdiri atas : a. b) General Manager/Pemimpin. (4) SP-PLN diberi hak memberikan masukan melalui forum LKB tentang proses penerimaan Pegawai. (2) Pengadaan Pegawai sebagaimana dimaksud ayat (1). c) Kepala/Manajer Unit Pelaksana (Manajer Cabang setingkat). d) Kepala/Manajer Sub Unit Pelaksana (Manajer Unit Pelayanan Pelanggan / Kepala Ranting setingkat). BAB IV HUBUNGAN KERJA Bagian Pertama Pengadaan Pegawai Pasal 8 (1) Pengadaan Pegawai dilakukan untuk mengisi formasi tenaga kerja berdasarkan kebutuhan Perseroan. yaitu : a) Direksi. (3) Pelamar yang telah dinyatakan memenuhi syarat sesuai ketentuan yang berlaku harus menjalani masa magang sebagai proses seleksi untuk diangkat sebagai Pegawai.1) Jabatan Struktural.

rotasi atau demosi. (2) Penempatan Pegawai ditetapkan. Pegawai yang bersangkutan tetap dibina oleh Perseroan. (3) Mutasi yang dilakukan terhadap Pegawai yang menjabat Pengurus SP-PLN dilakukan dengan memperhatikan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2000 tentang Serikat Pekerja/Serikat Buruh. (4) Pelaksanaan mutasi jabatan harus didasarkan pada kriteria yang obyektif. mutasi tersebut dapat berupa promosi. dan akuntabilitasnya dapat dipertanggungjawabkan. (2) Selama ditugaskaryakan. 2) Jabatan keteknisan. Bagian Kelima Mutasi Jabatan Pasal 12 (1) Perseroan berwenang memutasikan Pegawai dalam rangka pendayagunaan tenaga kerja dan pencapaian tujuan organisasi Perseroan. sebagai berikut : a. Pegawai dapat ditugaskaryakan ke Instansi di luar Perseroan atas persetujuan Pegawai yang bersangkutan. (2) Perseroan berwenang memutasikan Pegawai untuk kepentingan dan kebutuhan Perseroan sesuai dengan formasi jabatan dan formasi tenaga kerja. 3) Jabatan operatif. b. (4) Pengangkatan Pegawai dalam jabatan dilakukan berdasarkan formasi jabatan dan formasi tenaga kerja yang telah ditetapkan oleh Perseroan. Bagian Keempat Tugas Karya Pasal 11 (1) Untuk kepentingan Perseroan dan sebagai upaya pembinaan kompetensi. Bagian Ketiga Penempatan Pegawai Pasal 10 (1) Penempatan Pegawai ditentukan berdasarkan kebutuhan Perseroan sesuai dengan formasi jabatan dan formasi tenaga kerja yang telah ditetapkan dengan memperhatikan kesesuaian antara kebutuhan kompetensi jabatan dengan kompetensi Pegawai. (3) Setiap jabatan dihargai dengan peringkat jabatan sebagai dasar pembinaan imbal jasa secara seimbang dan wajar sesuai kewajiban dan tanggung jawabnya. Pegawai yang pengangkatannya menjadi wewenang PLN Pusat ditempatkan di seluruh wilayah Republik Indonesia.b. . Pegawai yang pengangkatannya menjadi wewenang Unit PLN ditempatkan di lingkungan kerja Unit PLN yang bersangkutan. Jabatan fungsional : 1) Jabatan kepakaran.

(3) Pelaksanaan orientasi kerja yang penting dan mendesak sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilaksanakan paling lambat 1 (satu) bulan terhitung sejak kepentingan dinas berakhir.Pasal 13 (1) Promosi adalah alih tugas dari satu jabatan ke jabatan lainnya yang lebih tinggi melalui seleksi yang dilakukan oleh Perseroan. kedisiplinan dan kepemimpinan. Pasal 15 Demosi adalah alih tugas berupa penurunan peringkat jabatan bagi Pegawai yang terbukti melakukan perbuatan yang melanggar Peraturan Disiplin Pegawai dan tata tertib atau atas permintaan sendiri. maka hak untuk melaksanakan orientasi kerja menjadi gugur. Mutasi intern Unit PLN adalah alih tugas Pegawai yang terjadi di lingkungan Unit PLN yang sama. Bagian Ketujuh Pelaksanaan Mutasi Jabatan Pasal 17 (1) Pegawai yang melaksanakan mutasi jabatan diberikan kesempatan untuk melaksanakan orientasi kerja di Unit PLN yang baru paling lambat 1 (satu) bulan setelah keputusan mutasi jabatan diterima dan apabila dalam kurun 1 (satu) bulan tidak dilaksanakan. kompetensi. (2) Rotasi dilaksanakan untuk menambah wawasan. Mutasi antar Unit PLN adalah alih tugas Pegawai yang terjadi di lingkungan Unit PLN yang satu ke Unit PLN yang lainnya. (2) Dalam hal penundaan atau keterlambatan orientasi kerja tersebut disebabkan karena kepentingan dinas yang penting dan mendesak. (3) Perseroan berkewajiban memberikan pelatihan bagi Pegawai yang dimutasikan dengan tujuan untuk mengoptimalkan kemampuannya. pendidikan/pelatihan. harus dinyatakan oleh Pegawai pada jenjang jabatan Manajemen Atas di PLN Pusat atau oleh pimpinan PLN Unit yang bersangkutan. pengalaman dan melengkapi kompetensi/ kemampuan untuk Pegawai sebagai bagian dari pembinaan. terdiri atas : a. Bagian Keenam Jenis Mutasi Jabatan Pasal 16 (1) Jenis mutasi jabatan. b. (2) Mutasi antar Unit PLN sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b menjadi wewenang PLN Pusat sesuai dengan kebutuhan Unit PLN terkait. sehingga tidak menyebabkan hambatan dalam pelaksanaan pekerjaan. (2) Promosi dilaksanakan secara adil dengan mempertimbangkan unsur-unsur kemampuan. Pasal 14 (1) Rotasi adalah alih tugas dari satu jabatan ke jabatan lainnya yang setingkat. . prestasi kerja. (3) Perseroan berkewajiban memberikan pelatihan bagi Pegawai yang dirotasikan dengan tujuan untuk mengoptimalkan kemampuannya.

(5) Mutasi jabatan wajib dilaksanakan paling lama 2 (dua) bulan sejak Pegawai menerima keputusan mutasi jabatan. (2) Mutasi jabatan atas permohonan sendiri. (3) Perseroan harus menjawab permohonan mutasi Pegawai atas permintaan sendiri paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak permohonan diterima. yaitu tempat kerja di lingkungan Perseroan atau lingkungan di luar Perseroan yang telah ditetapkan berdasarkan persyaratan yang dituntut oleh pekerjaan tersebut. dapat dilaksanakan tanpa memperhatikan persyaratan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dengan ketentuan biaya perjalanan pindah diberikan oleh Perseroan. c. Mutasi jabatan atas permintaan sendiri paling banyak 2 (dua) kali selama menjadi Pegawai. sebagaimana dimaksud dalam ayat (5). (4) Mutasi jabatan atas permintaan sendiri sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b. Masa kerja di Perseroan paling sedikit 5 (lima) tahun terus menerus. (6) Pegawai dan/atau Pejabat yang menyebabkan keterlambatan pelaksanaan mutasi. b. Karena alasan kesehatan yang direkomendasikan oleh dokter Perseroan. e. b. dapat dikenakan sanksi/hukuman disiplin.(4) Lamanya masa orientasi kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) paling lama 15 (lima belas) hari kerja dan dilaksanakan sekaligus atau paling banyak 3 (tiga) kali. Masa kerja pada peringkat jabatan terakhir paling sedikit 2 (dua) tahun. Bagian Kedelapan Mutasi Jabatan Atas Permintaan Sendiri Pasal 18 (1) Pegawai dapat mengajukan permohonan mutasi jabatan atas permintaan sendiri. BAB V PENGHASILAN PEGAWAI Bagian Pertama Sistem Penghasilan Pasal 20 (1) Pegawai diberikan penghasilan berupa Gaji Dasar dan tunjangan-tunjangan lainnya. . apabila : a. yaitu suatu tempat di mana pada umumnya pekerjaan diselenggarakan. Semua biaya akibat mutasi jabatan atas permintaan sendiri menjadi tanggung jawab Pegawai yang bersangkutan. (2) Lingkungan Kerja. Mengikuti Istri/Suami yang dipindahkan ke kota lain di luar tempat kedudukan. harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a. d. Bagian Kesembilan Tempat dan Lingkungan Kerja Pasal 19 (1) Tempat kerja. Di Unit PLN penerima tersedia formasi.

b. didasarkan atas hasil survai faktor-faktor kualitas hidup. (3) Gaji Dasar ditinjau secara berkala tahunan disesuaikan dengan : a. Perkembangan indeks biaya hidup. Tunjangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan b ditinjau secara berkala berdasarkan peningkatan kinerja dan kemampuan Perseroan. Lingkungan politik dan sosial. i. c. j. (3) Besarnya Tunjangan Daerah sebagaimana dimaksud ayat (1) ditetapkan berdasarkan peringkat gaji dan kelompok daerah yang dituangkan dalam tabel sebagaimana ketentuan yang berlaku terakhir. Pertimbangan medis dan kesehatan. Lingkungan ekonomi. f. (7) Tunjangan-tunjangan lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat (6) diberikan oleh Perseroan sebagaimana ketentuan yang sudah diatur dengan Ketentuan Direksi saat PKB ditandatangani. Bagian Kedua Tunjangan Daerah dan Insentif Prestasi Kerja Pasal 21 (1) Tunjangan Daerah diberikan kepada Pegawai sebagai kompensasi dari perbedaan kualitas hidup (quality of living) antar daerah.(2) Perseroan berusaha meningkatkan Penghasilan Pegawai dengan memperhatikan kemampuan Perseroan. Barang-barang kebutuhan. g. (6) Tunjangan-tunjangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Tunjangan Jabatan yang diberikan sesuai peringkat jabatan. (2) Kualitas hidup sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Layanan umum dan transportasi. Rekreasi. b. . Sekolah dan perguruan tinggi. (4) Gaji Dasar Pegawai di Perseroan diberikan kesetaraan dengan Gaji Dasar Pegawai Anak Perusahaan sesuai dengan peringkat jabatan. Nilai hasil survai pasar imbalan. h. bertahap diusahakan paling lama sampai tahun 2006. Peningkatan Kinerja Perseroan. b. Lingkungan sosio kultural. Lingkungan alam. (5) Dalam menentukan kenaikan Gaji Dasar secara berkala sebagaimana dimaksud dalam ayat (3). c. e. Tempat tinggal. Tunjangan Dasar yang diberikan sesuai dengan peringkat jabatan. Pasal 22 (1) Selain penghasilan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 20. kepada Pegawai diberikan Insentif Prestasi Kerja (IPK). d. sebagai berikut : a. Perseroan mempertimbangkan masukan dari SP-PLN. terdiri dari : a. c.

Pada bulan ke 7 (tujuh) sampai dengan bulan ke 9 (sembilan). Penahanan sampai dengan waktu 6 (enam) bulan. (4) Dalam hal penahanan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) akibat dari kecelakaan lalu lintas. pembayaran penghasilan ditentukan sebagai berikut : a. maka mulai saat penahanan tersebut. diberikan penghasilan 60 % (enam puluh perseratus).(2) Besarnya IPK sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) didasarkan kinerja Unit. maka yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai dengan mendapatkan hak-hak sesuai ketentuan yang berlaku di Perseroan. c. b. . Bagian Keempat Penghasilan Pegawai Selama Penahanan Pasal 24 (1) Pegawai yang ditahan pihak berwajib untuk keperluan penyidikan dan atau pemeriksaan di persidangan pengadilan karena disangka atau didakwa melakukan tindak pidana. Pada bulan ke 10 (sepuluh) sampai dengan bulan ke 12 (dua belas). diberikan penghasilan 60 % (enam puluh perseratus). b. sesuai ketentuan yang berlaku terhitung sejak tidak masuk bekerja karena ditahan. (3) Pegawai yang tidak masuk kerja karena sakit selama 24 (dua puluh empat) bulan berturut-turut yang dinyatakan dengan surat keterangan Majelis Penguji Kesehatan atau Tim Dokter yang ditunjuk Perseroan bahwa yang bersangkutan dinyatakan tidak mampu bekerja karena sakit (pemeriksaan dilakukan secara periodik). kinerja Individu dan jam kehadiran yang pembayarannya dilakukan secara bertahap berdasarkan periode penilaian kinerja unit dan kinerja individu. diberikan penghasilan bulanan. (3) Besarnya IPK sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dinaikkan sesuai dengan kemampuan Perseroan. maka Serikat Pekerja dan Manajemen yang mempunyai bukti-bukti cukup bahwa kecelakaan lalu lintas tersebut bukan karena kesalahan Pegawai yang bersangkutan. (2) Selama Pegawai dikenakan penahanan. diberikan penghasilan 80 % (delapan puluh perseratus). (2) Cuti sakit pada tahun ke 2 (dua) dalam hal cuti sakit tersebut memerlukan perpanjangan cuti yang dinyatakan dengan surat keterangan Majelis Penguji Kesehatan yang menerangkan bahwa penyakitnya masih dapat disembuhkan. Selama 6 (enam) bulan pertama. (3) Dalam hal putusan pengadilan atau hasil penyidikan. penghasilannya tetap dibayarkan sebagai berikut : a. maka penghasilan selama penahanan dibayar secara penuh paling lama selama 1 (satu) tahun. Penahanan untuk waktu lebih dari 6 (enam) bulan. Pegawai dinyatakan tidak bersalah maka yang bersangkutan harus direhabilitasi dan seluruh hak-hak kepegawaiannya dikembalikan. diberikan penghasilan penuh. Bagian Ketiga Penghasilan Selama Sakit Pasal 23 (1) Pegawai yang menjalani istirahat karena sakit. Pegawai yang bersangkutan berstatus sebagai Pegawai dalam masa penahanan oleh pihak yang berwajib. pembayaran penghasilan dihentikan.

b. (4) Informasi Pendidikan dilaksanakan secara transparan kepada Pegawai dalam waktu yang memungkinkan untuk melakukan persiapan pendidikan. Pemberian penghargaan. . Pembinaan karir. f. e. d. maka Perseroan wajib menyediakan pendidikan di luar Perseroan dengan biaya yang setara dilakukan oleh Perseroan dan menjadi tanggung jawab Perseroan dengan mekanisme sesuai dengan ketentuan yang berlaku pada saat PKB ditandatangani. Memelihara dan mengembangkan motivasi dan ketenangan kerja. bila Perseroan tidak dapat menyediakan pendidikan tersebut. f. (6) Pendidikan wajib diberikan pula kepada Pegawai yang akan memasuki masa pensiun sesuai dengan minat dan keinginannya untuk dua tahun terakhir masa kerjanya. Memberikan kesempatan pengembangan karir Pegawai. Bagian Kedua Pendidikan dan Pelatihan Pasal 26 (1) Pendidikan dan Pelatihan ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan. Menciptakan. d.BAB VI PEMBINAAN PEGAWAI Bagian Pertama Umum Pasal 25 (1) Pembinaan Pegawai termasuk Pegawai Tugas Karya bertujuan untuk : a. Penilaian unjuk kerja Pegawai. Memelihara dan mengembangkan kemampuan dan produktivitas kerja. kemampuan dan ketrampilan serta sikap Pegawai agar dapat menjamin pelaksanaan tugas Perseroan dalam memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat secara berdayaguna dan berhasilguna. c. pembinaan Pegawai dilakukan melalui : a. (2) Untuk mencapai tujuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). sesuai kebutuhan yang menunjang pengembangan karir Pegawai yang bersangkutan dan sesuai dengan kepentingan Perseroan. Pendidikan dan pelatihan. b. e. c. memelihara dan mengembangkan sikap dan disiplin kerja serta kesetiaan kepada Perseroan. (3) Pendidikan dan Pelatihan dilaksanakan berdasarkan program Perseroan dan/atau usulan atasan Pegawai dan/atau Pegawai. Mendorong profesionalisme Pegawai. (2) Pendidikan dan Pelatihan keselamatan & kesehatan kerja wajib diberikan kepada Pekerja yang melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang berpotensi bahaya. Memberikan kepastian adanya pengembangan karir Pegawai. Penegakan ketentuan-ketentuan Peraturan Disiplin Pegawai. (5) Hasil yang dicapai dalam Pendidikan dan Pelatihan termasuk pendidikan dengan dana swadaya dipakai sebagai salah satu pertimbangan dalam pembinaan karir Pegawai. Penjatuhan sanksi bagi yang melanggar Peraturan Disiplin Pegawai.

Bagian Ketiga Pembinaan Karir Pasal 27 (1) Pembinaan karir ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada Pegawai untuk meningkatkan kontribusinya pada Perseroan. dan dilaksanakan berdasarkan kompetensi dengan memperhatikan apresiasi Pegawai. berdasarkan masukan dari Pengurus SP-PLN. dimasukkan sebagai salah satu komponen Penilaian Unjuk Kerja Pegawai yang bersangkutan. pada tahun berjalan digunakan sebagai dasar kenaikan berkala tahun berikutnya dalam hal Pegawai yang bersangkutan telah melaksanakan pekerjaan paling sedikit 6 (enam) bulan pada akhir Desember tahun berjalan. Penilaian dengan predikat Sesuai Dengan Ekspektasi (SDE) memperoleh nilai skala “b” c. Dibawah Ekspektasi (DE) untuk penilaian unjuk kerja dibawah standar. Melampaui Ekspektasi (ME) untuk penilaian unjuk kerja yang melampaui standar. dengan cara berjenjang yang transparan dan objektif. Penilaian dengan predikat Konsisten Sesuai Ekspektasi (KSE) memperoleh nilai skala “c” d. Pegawai yang bersangkutan. (2) Penilaian unjuk kerja Pegawai meliputi tahap perencanaan unjuk kerja Pegawai. b. (3) Kriteria penilaian unjuk kerja Pegawai terdiri atas unsur sasaran individu dan kontribusi individu yang diberikan derajat penilaian sesuai masing-masing unsur. b. (3) Pembinaan karir Pegawai merupakan tanggung jawab dari : a. (7) Penilaian unjuk kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (6). c. Penilaian dengan predikat Melampaui Seluruh Ekspektasi (MSE) memperoleh nilai skala “ c’ “ (5) Hasil penilaian unjuk kerja Pegawai. Sesuai Ekspektasi (SE) untuk penilaian unjuk kerja memenuhi standar. tahap pemantauan unjuk kerja Pegawai dan tahap penilaian unjuk kerja Pegawai. (6) Unjuk kerja Pegawai dalam aktivitasnya sebagai Pengurus SP-PLN. Pejabat yang menangani SDM. Atasan. yaitu : a. (4) Kesimpulan unjuk kerja masing-masing unsur sebagaimana dimaksud ayat (3) dilakukan pada tahun berjalan digunakan untuk penilaian pelaksanaan pekerjaan pada tahun yang bersangkutan yang diberikan nilai skala sebagai berikut : a. Bagian Keempat Penilaian Unjuk Kerja Pegawai Pasal 28 (1) Penilaian unjuk kerja Pegawai dimaksudkan untuk memberikan penghargaan bagi Pegawai selama bekerja di Perseroan dalam kurun waktu 1 (satu) tahun sepadan dengan nilai unjuk kerja yang diperoleh dan dipakai sebagai dasar pemberian kenaikan berkala serta usulan pembinaan dan pengembangan karir Pegawai yang bersangkutan. (4) Pegawai mendapatkan hasil penilaian kinerja pada setiap periode penilaian. c. (2) Pengangkatan Pegawai dalam jabatan dilakukan setelah memenuhi persyaratan yang ditentukan untuk jabatan tersebut berdasarkan ketentuan yang berlaku di Perseroan. Penilaian dengan predikat Tidak Memenuhi Ekspektasi (TME) memperoleh nilai skala “a” b. .

Penghargaan Kesetiaan Kerja 2 (dua) windu diberikan kepada Pegawai yang telah bekerja secara terus menerus di Perseroan selama 16 (enam belas) tahun termasuk saat berstatus sebagai Tenaga Harian atau Calon Pegawai/Pegawai Dalam Masa Percobaan. Besaran uang sebagaimana dimaksud huruf a di atas adalah sebagai berikut : 1) Penghargaan Kesetiaan Kerja 2 (dua) windu. apabila kewajiban tidak ditaati dan atau larangan dilanggar oleh Pegawai. ditetapkan sebagai berikut : a. diberikan dengan ketentuan : a. b. larangan dan penjatuhan hukuman disiplin.Bagian Kelima Pemberian Penghargaan Pasal 29 (1) Setiap Pegawai yang berprestasi dan atau telah menunjukkan kesetiaan kerja kepada Perseroan. sebesar 3 (tiga) kali penghasilan bulan pada saat jatuh tempo. pemberian penghargaan ditunda sampai dengan yang bersangkutan selesai menjalani hukuman disiplin atau penghargaan tersebut tidak dapat diberikan dalam hal yang bersangkutan setelah menjalani hukuman disiplin berhenti bekerja atau pensiun. (3) Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf b dan c diberikan apabila Pegawai dinyatakan sebagai Pegawai yang telah melakukan prestasi luar biasa atau penemuan baru sesuai penilaian Tim Khusus yang terdiri atas unsur Perseroan dan unsur SP-PLN serta untuk teknis pelaksanaannya ditetapkan dengan Keputusan Direksi. Penghargaan Kesetiaan Kerja 2 (dua) windu. 3 (tiga) windu dan 4 (empat) windu. sebesar 2 (dua) kali penghasilan bulan pada saat jatuh tempo. diberikan penghargaan yang terdiri atas : a. 3) Penghargaan Kesetiaan Kerja 4 (empat) windu. Penghargaan atas prestasi luar biasa. Penghargaan atas penemuan baru. Penghargaan Kesetiaan Kerja 3 (tiga) windu diberikan kepada Pegawai yang bekerja secara terus menerus di Perseroan selama 24 (dua puluh empat) tahun termasuk saat berstatus sebagai Tenaga Harian atau Calon Pegawai /Pegawai Dalam Masa Percobaan. Penghargaan Kesetiaan Kerja 4 (empat) windu diberikan kepada Pegawai yang telah bekerja secara terus menerus di Perseroan selama 32 (tiga puluh dua) tahun termasuk saat berstatus sebagai Tenaga Harian atau Calon Pegawai/Pegawai Dalam Masa Percobaan. Diberikan dalam bentuk piagam dan uang yang dibayarkan pada saat jatuh tempo. Bagian Kedua . b. apabila pada saat jatuh tempo pemberian penghargaan sedang menjalani hukuman disiplin. c. sebesar 4 (empat) kali penghasilan bulan pada saat jatuh tempo. 2) Penghargaan Kesetiaan Kerja 3 (tiga) windu. c. BAB VII DISIPLIN PEGAWAI Bagian Pertama Ketentuan Disiplin Pegawai Pasal 30 Ketentuan Disiplin Pegawai mengatur kewajiban. (4) Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). (5) Bagi Pegawai yang berhak atas penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). b. (2) Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a.

c. d. Menunjukkan sikap. Melakukan perbuatan yang tidak terpuji. Pegawai yang terbukti melakukan pelanggaran ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dijatuhi hukuman disiplin oleh Pejabat yang berwenang menghukum sesuai dengan Peraturan Disiplin Pegawai. Menyalahgunakan wewenang dan/atau jabatan. Melaksanakan peraturan perundang-undangan dan peraturan kedinasan yang berlaku. i. e. g. Melakukan kegiatan usaha yang dapat merugikan Perseroan. Bekerja untuk negara asing. Melalaikan tugas kedinasan. Melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai warga negara dengan baik. Bagian Kelima Klasifikasi Pelanggaran Disiplin . Menjunjung tinggi norma-norma kesopanan. kesusilaan dan etika. Bagian Ketiga Larangan Pegawai Pasal 32 Setiap Pegawai dilarang : a. Melakukan perbuatan yang dapat merugikan Perseroan. Melakukan perbuatan yang dapat mengganggu ketertiban. Memberikan bimbingan dan keteladanan yang baik kepada bawahan. b. Mengabaikan ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja yang berlaku. e. Jenis Hukuman Disiplin. (2) Dengan tidak mengurangi ketentuan dalam peraturan perundang-undangan pidana dan peraturan perundang-undangan lainnya. h. badan usaha atau instansi lain di luar Perseroan tanpa ijin tertulis dari Perseroan. Dan Prosedur Penjatuhan Hukuman Disiplin . c. f. tingkah laku dan perbuatan yang baik. b.Kewajiban Pegawai Pasal 31 Setiap Pegawai wajib : a. Melakukan hal-hal yang tidak patut diperbuat oleh seorang Pegawai yang bermartabat. f. d. Melaksanakan tugas kedinasan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Bagian Keempat Hukuman Disiplin Pasal 33 (1) Setiap Pegawai wajib mematuhi ketentuan Peraturan Disiplin Pegawai.

(4) Addendum terhadap Peraturan Disiplin Pegawai sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diselesaikan paling lambat 3 (tiga) bulan sejak PKB ditandatangani. BAB VIII TATA TERTIB Bagian Pertama Waktu Kerja Pasal 35 (1) Waktu kerja di Perseroan ditetapkan dengan memperhatikan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku yaitu 7 (tujuh) jam satu hari atau 8 (delapan) jam satu hari dan tidak melebihi 40 (empat puluh) jam dalam 1 (satu) minggu. (3) Untuk pekerjaan yang memerlukan kesinambungan kerja secara bergilir (shift) diatur dan ditetapkan oleh Pemimpin/General Manajer Unit PLN masing-masing.Pasal 34 (1) Klasifikasi pelanggaran disiplin. besarnya sebagai berikut : . Bagian Kedua Kerja Lembur Pasal 36 (1) Perseroan dapat menugaskan Pegawai bekerja melebihi waktu kerja yang ditentukan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 35 ayat (1) dan kelebihan waktu tersebut dianggap sebagai kerja lembur. 225. (3) Kerja lembur dilakukan atas perintah pejabat berwenang dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaan yang dilemburkan dengan menerbitkan surat perintah kerja lembur. apabila melakukan kerja lembur paling sedikit 1 (satu) jam penuh diberikan uang lembur sesuai jumlah jam kerja lembur yang dilaksanakan. (3) Khusus proses PHK mengacu kepada peraturan perundangan yang berlaku. (4) Pegawai dengan peringkat jabatan 21 (dua puluh satu) sampai dengan 26 (dua puluh enam). (5) Dalam hal addendum sebagaimana dimaksud ayat (4) tidak dapat dipenuhi. disesuaikan dengan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). jenis hukuman disiplin dan prosedur penjatuhan Hukuman Disiplin akan dilakukan penyempurnaan dan akan menjadi addendum dari PKB ini.K/010/DIR/2000 beserta peraturan perubahannya diberlakukan sampai dengan penyempurnaan hal-hal yang berkaitan dengan Peraturan Disiplin Pegawai sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disepakati oleh Perseroan dan SP-PLN. (4) Waktu dimulai dan berakhirnya jam kerja ditetapkan sesuai dengan kebutuhan Unit PLN masingmasing. maka pasal ini dinyatakan tidak berlaku lagi dan pasal ini harus di addendum. (2) Waktu istirahat tidak termasuk waktu kerja dan tidak dihitung sebagai jam kerja. (2) Kerja lembur sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan untuk melaksanakan tugas-tugas pekerjaan yang mendesak harus diselesaikan di luar jam kerja resmi dan atau pada hari-hari libur resmi yang ditetapkan oleh Pemerintah. (2) Peraturan Disiplin Pegawai yang diatur dalam Keputusan Direksi PT PLN (Persero) No.

untuk hari Senin – Kamis dan Sabtu atau 5 (lima) jam untuk hari Jum’at : a) Setiap jam kerja lembur dalam 7 (tujuh) jam untuk hari Senin – Kamis atau 5 (lima) jam untuk hari Jum’at = 2 x uang lembur 1 (satu) jam b) Jam pertama setelah 7 (tujuh) jam untuk hari Senin – Kamis atau 5 (lima) jam untuk hari Jum’at = 3 x uang lembur 1 (satu) jam c) Jam kedua dan selebihnya setelah 7 (tujuh) jam untuk hari Senin – Kamis atau 5 (lima) jam untuk hari Jum’at = 4 x uang lembur 1 (satu) jam (5) Uang lembur dibayarkan sekaligus setiap bulan. Setiap Pegawai wajib mentaati/memenuhi persyaratan dan prosedur kerja.5 x uang lembur 1 (satu) jam 2) Untuk setiap jam selanjutnya = 2 x uang lembur 1 (satu) jam c. b. kecelakaan masyarakat umum dan kerusakan/kerugian aset Perseroan akibat kecelakaan. Pegawai wajib merawat alat pelindung diri.a. yaitu pada bulan berikutnya setelah kerja lembur dilaksanakan. maka uang lembur untuk tiap jam kerja lembur dibayarkan sebagai berikut : 1) Untuk seminggu 5 (lima) hari kerja (jumlah jam kerja sehari 8 jam) : a) Setiap jam kerja lembur dalam 8 (delapan) jam = 2 x uang lembur 1 (satu) jam b) Jam pertama setelah 8 (delapan) jam = 3 x uang lembur 1 (satu) jam c) Jam kedua dan selebihnya setelah 8 (delapan) jam = 4 x uang lembur 1 (satu) jam 2) Untuk seminggu 6 (enam) hari kerja (jumlah jam kerja sehari 7 jam). di bawah pengawasan Pengawas Pekerjaan. penyimpangan dari ketentuan ini hanya dapat dilakukan setelah memperoleh ijin dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. apabila melewati jam makan diberikan makan lembur. keselamatan instalasi. (5) . peralatan keselamatan kerja lainnya dan perlengkapan kerja pada waktu melaksanakan pekerjaan yang berpotensi bahaya. Bagian Ketiga Keselamatan Kerja dan Perlengkapan Kerja Pasal 37 (1) Setiap Pegawai wajib memahami fungsi keselamatan dan kesehatan kerja termasuk fungsi keselamatan umum. maka uang lembur untuk tiap kerja lembur dibayarkan sebagai berikut : 1) Untuk 1 (satu) jam pertama = 1. peralatan keselamatan kerja lainnya dan perlengkapan kerja. dan fungsi keselamatan lingkungan. (3) (4) Setiap Pegawai wajib menjaga keselamatan dirinya dan Pegawai lainnya. Apabila kerja lembur dilakukan pada hari libur resmi. (7) Jumlah waktu kerja lembur dalam 1 (satu) bulan tidak boleh melebihi 60 (enam puluh) jam. yaitu sebagai usaha untuk melindungi terhadap terjadinya kecelakaan dinas (kecelakaan kerja. (2) Setiap Pegawai wajib mentaati/memenuhi ketentuan keselamatan dan kesehatan kerja yang berlaku. Uang lembur 1 (satu) jam besarnya adalah 1/173 x Gaji Dasar / bulan. kecelakaan tenaga kerja bukan Pegawai. (6) Pegawai dengan peringkat 0 (nol) sampai dengan 26 (dua puluh enam) yang melaksanakan kerja lembur sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Apabila kerja lembur dilakukan pada hari kerja biasa. menggunakan alat pelindung diri. penyakit akibat kerja dan kecelakaan dinas lainnya).

Cuti karena alasan penting. e. b. Perseroan wajib memberikan tanda pengenal dan pakaian dinas bagi seluruh Pegawai. setelah memenuhi persyaratan berhak atas istirahat sesuai ketentuan yang berlaku di Perseroan dengan tidak mengurangi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. (2) Cuti sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas : a. (4) Pejabat yang berwenang memberikan ijin cuti di luar tanggungan Perseroan adalah Direktur Sumber Daya Manusia dan Organisasi. b. Bagi pegawai di lingkungan PLN Unit dan Unit Pelaksana. d.(6) Perseroan wajib menyediakan persyaratan kerja. oleh Kepala Sub Unit/Manajer Sub Unit Pelaksana. alat pelindung diri. agar melaporkan kepada atasan. Bagian Kedua Cuti Tahunan . BAB IX CUTI Bagian Pertama Jenis Cuti Pasal 38 (1) Setiap Pegawai. Bagi pegawai di lingkungan PLN Sub Unit Pelaksana. Cuti bersalin. pakaian kerja bagi Pegawai yang bekerja di instalasi dan wajib dipakai sesuai ketentuan yang berlaku. Cuti gugur kandung dan cuti haid. c. (3) Pejabat yang berwenang memberikan cuti sebagaimana dimaksud ayat (2) huruf a sampai f adalah sebagai berikut : a. (10) Pegawai dilarang menggunakan alat pelindung diri. oleh atasan langsung Pegawai yang bersangkutan serendah-rendahnya Manajer atau pejabat yang setingkat. Cuti besar. Bagi pegawai di lingkungan PLN Pusat. peralatan keselamatan kerja lainnya dan perlengkapan kerja serta menetapkan Pengawas Pekerjaan untuk melaksanakan pekerjaan yang berpotensi bahaya. Cuti di luar tanggungan Perseroan. c. Cuti karena sakit. Perseroan wajib memberikan ekstra voeding bagi Pegawai yang bertugas di tempat kerja yang beresiko terhadap kesehatan dan/atau yang bekerja secara bergilir ( shift) dan harus dimakan/diminum di tempat kerja. f. (11) Dalam hal Pegawai menemui hal-hal yang dapat mengancam keselamatan Pegawai maupun Perseroan. (7) (8) (9) Perseroan wajib menjaga alat dan peralatan kerja agar selalu dalam keadaan laik pakai dengan mengadakan pengujian secara berkala/sesuai ketentuan yang berlaku. Cuti tahunan. oleh atasan langsung Pegawai yang bersangkutan serendah-rendahnya Asisten Manajer atau pejabat yang setingkat. peralatan kerja lainnya dan perlengkapan kerja untuk kepentingan pribadi. prosedur kerja/SOP ( Standard Operation Procedure). g.

paling sedikit 1 (satu) bulan setiap kali pelaksanaan dengan kurun waktu sampai dengan 2 (dua) tahun berikutnya sejak tanggal jatuh tempo. Bagian Ketiga Cuti Besar Pasal 40 (1) Cuti besar diberikan kepada Pegawai yang telah bekerja paling sedikit 6 (enam) tahun terus menerus di Perseroan mulai tanggal diangkat sebagai Pegawai dalam masa percobaan. Diberhentikan sementara sebagai Pegawai (skorsing).Pasal 39 (1) Cuti tahunan diberikan kepada Pegawai yang telah bekerja paling sedikit 1 (satu) tahun terus menerus di Perseroan mulai tanggal diangkat sebagai Pegawai dalam masa percobaan. (4) Pegawai yang berhak atas cuti besar diberikan tunjangan cuti besar sebesar 3 (tiga) kali penghasilan Pegawai pada bulan jatuh tempo cuti besar. sedangkan tunjangan cuti tahunan tetap dibayarkan. (2) Lamanya cuti besar adalah 3 (tiga) bulan untuk setiap 6 (enam) tahun masa kerja. (7) Pembayaran kompensasi pengganti cuti besar sebagaimana dimaksud ayat (6) diberikan saat pelaksanaan cuti tersebut dibatalkan oleh Perseroan. lamanya cuti tahunan adalah 12 (dua belas) hari kerja untuk setiap tahun. (2) Pegawai diijinkan untuk tidak masuk bekerja karena alasan pribadi yang penting selama 1 (satu) hari dalam 1 (satu) bulan dan tidak diperhitungkan dengan hak cuti tahunan. apabila tidak dapat dilaksanakan kepada yang bersangkutan diberikan kompensasi sebesar 1/22 x Penghasilan untuk setiap hari kerja yang tidak dapat dilaksanakan. . b. c. (9) Pada tahun dimana cuti besar tersebut dilaksanakan. (8) Pelaksanaan cuti besar sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat dilaksanakan sekaligus atau secara bertahap. Cuti di luar tanggungan Perseroan. (5) Pelaksanaan cuti besar sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dapat ditangguhkan karena adanya kepentingan Perseroan yang mendesak. Cuti sakit selama lebih dari 3 (tiga) bulan. Bagian Keempat Cuti Sakit Pasal 41 (1) Pegawai yang menderita sakit berhak atas istirahat karena sakit. (6) Pelaksanaan cuti besar sebagaimana dimaksud dalam ayat (5). hak cuti tahunan pada tahun tersebut gugur. yang harus diajukan paling cepat 1 (satu) bulan sebelumnya. (3) Hal-hal yang tidak diperhitungkan sebagai masa kerja untuk menetapkan hak cuti besar adalah sebagai berikut : a. (2) Pegawai yang tidak masuk bekerja karena sakit selama 1 (satu) atau 2 (dua) hari kerja harus memberitahukan kepada atasan langsungnya. (3) Pegawai yang berhak atas cuti tahunan diberikan tunjangan cuti tahunan sebesar 100 % (seratus perseratus) dari penghasilan Pegawai pada bulan jatuh tempo hak cuti tahunan.

Pegawai yang melangsungkan pernikahan. hak cuti tahunan pada tahun yang bersangkutan menjadi gugur. . Bagian Kelima Cuti Haid dan Cuti Gugur Kandung Pasal 43 (1) Pegawai wanita tidak boleh diwajibkan bekerja pada hari pertama dan hari kedua waktu haid. Pasal 42 (1) Pegawai yang menjalani cuti sakit dapat diperpanjang sampai dengan paling lama 2 (dua) tahun apabila secara periodik diuji oleh Dokter Majelis Penguji Kesehatan dan dinyatakan bahwa penyakitnya masih memerlukan perawatan lebih lanjut. Pegawai tersebut diberhentikan dengan hormat karena uzur/cacat dengan diberikan hak-hak kepegawaian sesuai ketentuan yang berlaku.5 (satu setengah) bulan dengan menerima penghasilan penuh. apabila : a. (2) Dalam hal setelah cuti sakit selama 2 (dua) tahun ternyata belum sembuh.(3) Pegawai yang tidak masuk bekerja karena sakit selama 3 (tiga) sampai dengan 14 (empat belas) hari kalender. kedua dan ketiga dilaksanakan berdasarkan perkiraan persalinan dari Dokter/Bidan. (2) Pegawai wanita yang mengalami gugur kandung dapat diberikan istirahat paling lama 1. Bagian Ketujuh Hak Menyusui Anak Pasal 45 Setiap Pegawai Perempuan yang anaknya masih menyusu harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya. jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja dengan ketentuan dilaksanakan di lingkungan tempat kerja. orangtua/mertua atau anak diberikan cuti selama 3 (tiga) hari kerja dan untuk pelaksanaan di luar tempat kedudukan yang memerlukan waktu untuk perjalanan dapat ditambah lamanya perjalanan paling banyak 12 (dua belas) hari. Bagian Keenam Cuti Bersalin Pasal 44 (1) Cuti bersalin diberikan untuk persalinan pertama. harus memberitahukan kepada atasan langsung dengan melampirkan surat keterangan dokter. (2) Pegawai yang melaksanakan cuti bersalin. (4) Pegawai yang tidak masuk bekerja karena sakit selama 15 (lima belas) hari sampai dengan 6 (enam) bulan harus memberitahukan kepada atasan langsung dengan melampirkan surat keterangan dokter yang menyatakan perlunya perpanjangan cuti sakit. anggota keluarga meninggal dunia yaitu Istri/Suami. Bagian Kedelapan Cuti Karena Alasan Penting Pasal 46 Cuti karena alasan penting diberikan kepada Pegawai. selama 3 (tiga) bulan. Pegawai mengawinkan anaknya.

yang terdiri atas : . (2) Perjalanan dinas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri atas perjalanan dinas dalam negeri dan perjalanan dinas luar negeri. maka yang bersangkutan diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai dengan mendapat hak-hak kepegawaian sesuai ketentuan yang berlaku. Mempunyai masa kerja sebagai Pegawai paling sedikit 5 (lima) tahun terus menerus di Perseroan. sehingga ijin yang diberikan sesuai pertimbangan kebutuhan Perseroan (penugasan negara) dengan perjanjian. (3) Pegawai yang ditugaskan melaksanakan perjalanan dinas dapat diberikan biaya perjalanan dinas yang memadai dan dihitung sesuai jumlah waktu. (2) Lamanya cuti di luar tanggungan Perseroan paling sedikit 1 (satu) tahun dan paling lama 2 (dua) tahun serta dapat diperpanjang paling lama 1 (satu) tahun.b. d. (3) Cuti di luar tanggungan Perseroan bukan hak Pegawai. apabila tidak tersedia formasi jabatan sesuai peringkat yang dimiliki. Bagian Kesembilan Cuti Di luar Tanggungan Perseroan Pasal 47 (1) Cuti di luar tanggungan Perseroan dapat diberikan kepada Pegawai dengan ketentuan : a. selama menjalankan cuti di luar tanggungan Perseroan semua hak-hak kepegawaian tidak diberikan dan fasilitas Perseroan segera dikembalikan. penghargaan kesetiaan kerja dan masa kerja pensiun. anak Pegawai dikhitan. Bagi Pegawai yang sudah mengambil Cuti karena alasan penting sebagaimana huruf a. Saudara kandung Pegawai melangsungkan pernikahan. c. membaptiskan anak dan saudara kandung Pegawai meninggal dunia. kenaikan reguler. (4) Usia yang dijadikan dasar untuk menetapkan hak atas manfaat pensiun bagi Pegawai yang diberhentikan dengan hormat sebagaimana ayat (3) adalah usia pada saat keputusan berhenti bekerja diberlakukan. (5) Masa menjalani cuti di luar tanggungan Perseroan tidak dihitung sebagai masa kerja untuk menghitung : masa kerja untuk kenaikan berkala. BAB X PERJALANAN DINAS Bagian Pertama Umum Pasal 48 (1) Dalam rangka menunjang pelaksanaan kebijakan Perseroan. jarak dan jenis perjalanan yang digunakan. b. hak tidak masuk kerja sebagaimana tercantum dalam Pasal 39 ayat (2) pada bulan yang bersangkutan tersebut gugur. diberikan cuti selama 1 (satu) hari kerja dan apabila dilaksanakan di luar tempat kedudukan yang memerlukan waktu untuk perjalanan dapat ditambah lamanya perjalanan paling lama 12 (dua belas) hari. Untuk kepentingan pribadi yang penting dan mendesak antara lain mengikuti Istri/Suami pendidikan di luar negeri atau dipindahkan ke kota lain. Pegawai dapat ditugaskan melaksanakan perjalanan dinas. Melaksanakan ibadah haji yang pertama kali. Istri Pegawai melahirkan anak. bahwa pada saat masa menjalani cuti berakhir. hak cuti besar.

Perjalanan Pendidikan dan Pelatihan yang dilakukan oleh Pegawai yang ditugaskan untuk mengikuti pendidikan yang diselenggarakan di luar tempat kedudukan sesuai ketentuan yang berlaku. Perjalanan Jabatan untuk melaksanakan tugas-tugas Perseroan. Perjalanan Pindah. (2) Biaya perjalanan dinas dalam negeri. Perjalanan Pengobatan yang dilakukan Pegawai dan atau keluarganya yang berhak atas rekomendasi dokter yang ditunjuk yang diharuskan berobat atau memerlukan perawatan di rumah sakit yang terletak di luar tempat kedudukan. Perjalanan Jabatan. Perjalanan Pindah untuk kepentingan dinas dari tempat kedudukan lama ke tempat kedudukan baru. d. b. b) Biaya pemeliharaan kesehatan sesuai ketentuan. 5) Tunjangan perumahan selama 2 (dua) tahun yang dibayarkan secara sekaligus. yaitu : a. dan c. 4) Biaya pengganti fasilitas perumahan. b. d) Dalam hal Pegawai meninggal dunia dalam rangka perjalanan pengobatan. apabila diperlukan. dengan ketentuan : . b. Biaya-biaya lain sebagai penunjang. Biaya angkutan. e.a. 2) Bagi yang berobat jalan. terdiri atas : 1) Biaya sesuai dengan biaya perjalanan jabatan dengan biaya angkutan ke kota tujuan sekali jalan. terdiri atas : a) Biaya sesuai dengan biaya perjalanan jabatan dengan uang harian untuk paling lama 3 (tiga) bulan. c. Perjalanan Pengobatan 1) Bagi yang memerlukan rawat inap. 3) Uang harian yang meliputi biaya penginapan. dari tempat kedudukan ke suatu tempat di dalam negeri yang dipilihnya yang ditetapkan dalam Keputusan Pemberhentian. diberikan biaya pemetian dan pengangkutan jenazah. menurut keputusan pindah beserta keluarga. Uang harian. c. terdiri atas : a) Biaya sesuai dengan biaya perjalanan jabatan dengan uang harian selama waktu menunggu untuk memperoleh perawatan inap di Rumah Sakit paling lama 7 (tujuh) hari dan selama waktu menunggu kesempatan pulang ke tempat kedudukan. ditetapkan sebagai berikut : a. terdiri atas : 1) Biaya angkutan ke kota tujuan pergi pulang. angkutan setempat dan uang saku. termasuk dalam pengertian perjalanan jabatan antara lain perjalanan detasir yang dilakukan untuk kepentingan dinas/dipekerjakan/dipindahkan untuk sementara di luar kedudukan paling lama 3 (tiga) bulan. cucian. 2) Sumbangan pindah. Bagian Kedua Perjalanan Dinas Dalam Negeri Pasal 49 (1) Perjalanan dinas dalam negeri dibedakan menjadi 5 (lima) jenis. c) Biaya angkutan ke kota tujuan pergi pulang untuk 1 (satu) orang pengantar. 3) Biaya pengangkutan barang-barang rumah tangga. 2) Biaya angkutan dari dan ke stasiun/bandara/pelabuhan/terminal bis. sesuai jenis perjalanan dinas. makan. paling lama 3 (tiga) hari. Perjalanan Pensiun yang dilakukan oleh Pegawai beserta keluarganya yang berhenti bekerja yang berhak atas manfaat pensiun.

Perjalanan Pensiun. diberikan biaya pemetian dan pengangkutan jenazah. terdiri atas : 1) Biaya angkutan ke kota tujuan 1 (satu) kali jalan. (3) Berdasarkan sumber dana. (2) Biaya perjalanan dinas luar negeri sebagaimana dimaksud ayat (1). visa. sebesar 75 % (tujuh puluh lima perseratus) Minggu kelima dan seterusnya. angkutan setempat dan uang saku. Biaya perjalanan Pola A adalah perjalanan yang biayanya ditanggung sepenuhnya oleh Penanggung (sponsor) berdasarkan kontrak. Perjalanan pendidikan dan pelatihan adalah perjalanan untuk mengikuti pendidikan dan pelatihan berdasarkan penugasan untuk kepentingan dinas termasuk seminar. 5) Biaya sebagaimana dimaksud dalam angka 1). b. Bagian Ketiga Perjalanan Dinas Luar Negeri Pasal 50 (1) Perjalanan dinas luar negeri dibedakan menjadi 3 (tiga) jenis yaitu : a. Biaya angkutan dari dan ke stasiun/bandara/pelabuhan/terminal bus. Uang harian atau uang saku yang meliputi biaya hidup selama di luar negeri. e. c. 2) Biaya angkutan dari dan ke stasiun/bandara/pelabuhan/terminal bus. yaitu : a. biaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dikategorikan menjadi 3 (tiga) pola. dan 3) termasuk anggota keluarga dan pembantu rumah tangga sesuai ketentuan yang berlaku. sesuai ketentuan. lokakarya yang diselenggarkan di luar negeri. 3) Uang harian yang meliputi biaya penginapan. Perjalanan jabatan adalah perjalanan ke luar negeri untuk kepentingan dinas mengadakan perundingan atau untuk memenuhi undangan dari badan atau lembaga untuk suatu program yang berkedudukan di luar negeri. b. terdiri atas : a. . e. 4) Biaya pengangkutan barang-barang rumah tangga. Biaya perjalanan pendidikan dan pelatihan berupa biaya perjalanan jabatan dengan uang harian sesuai ketentuan yang berlaku. d) Dalam hal Pegawai meninggal dunia dalam rangka perjalanan pengobatan. c) Biaya angkutan ke kota tujuan. Perjalanan pengobatan adalah perjalanan yang dilakukan Pegawai atas rekomendasi sepenuhnya dari dokter yang ditunjuk yang diharuskan berobat atau memerlukan perawatan di rumah sakit yang terletak di luar negeri. pergi pulang untuk 1 (satu) orang pengantar apabila diperlukan. sebesar 100 % (seratus perseratus) Minggu ketiga dan keempat. cucian. Biaya-biaya lain untuk menunjang perjalanan tersebut seperti pengurusan paspor. sebesar 50 % (lima puluh perseratus) b) Biaya pemeliharaan kesehatan. makan. asuransi kesehatan dan lain-lain. Biaya angkutan ke kota tujuan pergi pulang. d. c. Biaya fiskal dan pajak bandara (airport tax). d. 2).- Minggu pertama dan kedua.

E/7840/DIR/96 jo Edaran Direksi 005. sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Orangtua kandung. 3. Janda/duda. atau e. berhak memperoleh bantuan kematian sebesar 3 (tiga) kali Penghasilan bulan terakhir. Ahli waris . c. diberikan bantuan pendidikan sampai Perguruan Tinggi sesuai ketentuan yang berlaku. Perseroan menanggung biaya selebihnya yang tidak ditanggung oleh Penanggung. (3) Pegawai yang meninggal dunia sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). (2) Dalam hal keluarga/ahli waris yang bersangkutan memilih penyelenggaraan pemakaman sebagaimana dimaksud ayat (1) dilaksanakan sendiri. atau h. atau c. Kakek/nenek kandung. atau d.000.E/012/DIR/2002 tentang Ketentuan Bagi Pegawai yang Mengalami Kecelakaan Dinas. atau b.. Cucu kandung.000. Anak kandung. kecuali ditentukan lain dalam PKB ini. dengan ketentuan paling sedikit Rp. Saudara kandung..000. Bagian Ketiga Bantuan Kematian Pasal 53 (1) Pegawai yang meninggal dunia bukan karena menjalankan tugas kewajibannya atau bukan karena kecelakaan dinas. berhak memperoleh tunjangan tewas sebesar 60 % x 70 x penghasilan terakhir sebulan dan bantuan penyelenggaraan pemakaman oleh Perseroan. 15. Biaya perjalanan Pola B adalah perjalanan yang biayanya ditanggung sebagian oleh Penanggung.(tiga juta rupiah).000.(tiga juta rupiah) yang diberikan kepada ahli warisnya.000. atau f.(lima belas juta rupiah) dan bantuan pemakaman sebesar Rp. Bagian Kedua Tunjangan Tewas Pasal 52 (1) Pegawai yang meninggal dunia karena menjalankan tugas kewajibannya atau karena mendapat kecelakaan dinas berakibat tewas. (2) Pegawai yang menderita cacat total akibat kecelakaan dinas dan apabila mempunyai anak yang menjadi tanggungan Perseroan. Perseroan memberikan bantuan pemakaman sebesar Rp 3. (2) Bantuan kematian dan pemakaman adalah bantuan berupa uang yang diberikan kepada keluarga atau ahli waris dari pegawai yang meninggal dunia dengan urutan sebagai berikut : a. BAB XI JAMINAN SOSIAL Bagian Pertama Kecelakaan Dinas Pasal 51 (1) Ketentuan yang berkaitan dengan kecelakaan dinas tetap berpedoman pada Edaran Direksi Nomor 007.000. Biaya perjalanan Pola C adalah perjalanan yang biayanya ditanggung sepenuhnya oleh Perseroan. Mertua.b. pada saat pemakaman diberikan penghormatan terakhir oleh Dinas atas nama Perseroan dan jika meninggalkan Anak yang masih menjadi tanggungan Perseroan. diberikan bantuan pendidikan sampai dengan Perguruan Tinggi.. atau g.

(3) Dalam hal Istri/Suami atau anak Pegawai yang terdaftar di Perseroan meninggal dunia. (2) Batas usia anak yang diberikan pemeliharaan kesehatan adalah usia 25 (dua puluh lima) tahun dan atau tidak/belum pernah kawin dan atau tidak mempunyai penghasilan sendiri dan atau masih menjadi tanggungan pegawai. Rumah sakit. e. d.. Alat-alat rehabilitasi untuk mengembalikan fungsi alat tubuh seoptimal mungkin termasuk kacamata hanya untuk Pegawai. serta pelaksanaan rawat jalan. laboratorium dan apotik. f. . (4) Untuk memudahkan pelayanan kesehatan sebagaimana dimaksud ayat (3) Perseroan dapat melanggan dokter. Upaya peningkatan kesehatan Pegawai yang diselenggarakan oleh Perseroan secara massal. Pemeriksaan kehamilan. b. terdiri atas : a. (3) Pemeriksaan dan pengobatan dapat dilakukan di sarana pelayanan kesehatan milik pemerintah atau milik swasta. dengan cara melakukan koordinasi dengan Unit PLN lainnya apabila dalam satu wilayah kerja terdapat beberapa Unit PLN. (8) Bantuan pemeliharaan kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter umum/dokter gigi. terdiri atas : a. d. rumah sakit. e. Rawat inap. b. untuk lingkungan Kantor Pusat oleh Sekretaris Perusahaan dan untuk PLN Unit diserahkan kepada Pimpinan Unit PLN setempat. (7) Jenis bantuan pemeliharaan kesehatan yang ditanggung oleh Perseroan. Apotik. c. laboratorium dan apotik yang dilanggan dan penetapan kelas rawat inap. (4) Bantuan Kematian diberikan berdasarkan surat kematian yang dikeluarkan oleh Lurah atau Kepala Desa setempat. Pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis.000. b.(satu juta rupiah). Dokter. Rawat jalan. Bagian Keempat Bantuan Pemeliharaan Kesehatan Pasal 54 (1) Pegawai. Pertolongan persalinan atau gugur kandung atas indikasi medis. (5) Pelaksanaan penetapan dokter. Pelayanan keluarga berencana dan imunisasi/vaksinasi yang menjadi program Pemerintah serta bedah minor (khitan). diberikan bantuan biaya pemakaman sebesar Rp 1. Pemeriksaan penunjang atau pemeriksaan untuk peneguhan diagnosa. d. c. g. Pertolongan persalinan sampai dengan anak ketiga. tidak termasuk perawatan wajah dan kecantikan (skin care). tidak termasuk bedah plastik (kosmetik) kecuali akibat Kecelakaan Dinas. c.000. yang terdiri atas : a. Laboratorium dan tempat pemeriksaan penunjang lainnya. (6) Pelaksanaan koordinasi sebagaimana dimaksud ayat (5) untuk mencapai efisiensi yang lebih optimal. Pemeriksaan dan pengobatan oleh dokter spesialis. keluarga Pegawai (Istri/Suami dan anak yang memenuhi syarat) yang terdaftar dan diakui di Perseroan berhak mendapatkan bantuan pemeliharaan kesehatan. rumah sakit.

Pemeriksaan kesehatan berkala (khusus) bagi Pegawai yang menjalankan tugas di tempattempat kerja yang berpotensi bahaya yang dapat mengakibatkan penyakit yang timbul karena hubungan kerja. . perawatan dan pengobatan gigi serta pengobatan dalam kondisi darurat gawat. Gangguan jiwa dalam keadaan gaduh gelisah. j. e. termasuk pemeriksaan penunjang. Pasal 55 Jenis bantuan pemeliharaan kesehatan yang tidak ditanggung oleh Perseroan. Stroke. j. Pemeriksaan kesehatan berkala (umum) bagi Pegawai yang usianya lebih dari 40 (empat puluh) tahun. h. Sakit atau cedera serius karena kecelakaan termasuk Kecelakaan Dinas. Pengobatan penyakit AIDS disebabkan karena perbuatan amoral. Obat yang diperlukan sehubungan dengan huruf a sampai i sesuai ketentuan yang berlaku. Bagian Kelima Pemeliharaan Kesehatan dalam Kondisi Darurat Pasal 56 (1) Dalam hal terjadi kondisi darurat/darurat gawat yang menyebabkan suatu keadaan yang memerlukan pemeriksaan dan tindakan medis sesegera mungkin. b. Muntah berak. adalah pemeliharaan kesehatan yang dilakukan oleh dokter/bidan atau dilakukan di Rumah Sakit. d. dikenakan sanksi hukuman disiplin paling sedikit penurunan 3 (tiga) peringkat lebih rendah. Serangan jantung. antara lain : 1) Penyalahgunaan obat (narkoba). (12)Biaya pemeliharaan kesehatan rawat jalan ditanggung 100 % (seratus perseratus) oleh Perseroan dengan cara restitusi. paling rendah menggunakan fasilitas kelas II. c. (11)Pelaksanaan pemeliharaan kesehatan diatur lebih lanjut oleh Perseroan. 2) Percobaan bunuh diri. hematikum. b.h. tenggelam. (2) Kriteria darurat / darurat gawat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah : a. Pendarahan hebat termasuk pendarahan pada kehamilan. benda asing dalam saluran pernafasan. Biaya pengobatan penyakit yang timbul sebagai akibat dari perbuatan yang bersangkutan. d. c. i. (13)Penyalahgunaan terhadap fasilitas pemeliharaan kesehatan. dan apabila tidak segera dilakukan tindakan akan menyebabkan hal yang fatal bagi jiwa penderita. i. k. kecuali rawat jalan di Rumah Sakit yang dilanggan Perseroan. kecelakaan lalulintas dan kecelakaan dalam rumah tangga. Pemeliharaan kesehatan yang tidak termasuk standar prosedur perawatan baku (seperti terapi ozon dan lain-lain). Kehilangan kesadaran termasuk koma. adalah : a. Kejang – kejang termasuk epilepsi. (9) Rawat jalan yang dimaksud dalam ayat (7) huruf a. Perawatan wajah untuk kecantikan ( skin care) dan bedah plastik (kosmetik) yang bukan akibat kecelakaan dinas. f. g. Distress pernafasan termasuk serangan asma menetap (status asthmaticus). pengobatan dan atau perawatan dapat dilaksanakan di rumah sakit terdekat. Demam tinggi (39 derajat Celsius ke atas). Digigit binatang buas dan atau berbisa. (10)Rawat inap sebagaimana dimaksud dalam ayat (7) huruf b. diabetikum.

Lensa kacamata dan bingkai kacamata sebesar Rp. adalah : a) Alat bantu dengar diberikan 1 (satu) kali.000.000. Lensa dan bingkai kacamata yang diberikan untuk pertama dengan dioptri lensa paling sedikit minus 0. meliputi bantuan terhadap : a. atau b.(satu juta rupiah). Bagian Keenam Alat Rehabilitasi Pasal 57 (1) Alat rehabilitasi adalah alat yang dapat menunjang fungsi tubuh sehingga dapat berfungsi seoptimal mungkin yang diberikan berdasarkan indikasi medis dari dokter yang merawat. 10. Rumah pribadi yang ditempati sendiri yang tidak dapat dipakai lagi. atau . c. b.50 (nol koma lima puluh) atau plus 0. Kacamata..(lima ratus ribu rupiah). (3) Macam alat rehabilitasi yang diberikan kepada keluarga Pegawai. 500. (2) Bantuan kacamata sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). Barang-barang milik Pegawai yang tidak dapat dipakai lagi. Alat penyangga cacat tubuh kruk / kursi roda dan penyangga leher. Protesa. rusak dan atau musnah karena perjalanan dinas atau tugas dinas. Penggantian lensa kacamata diberikan dalam hal dioptri lensa berubah paling sedikit 0. harus segera dilaporkan secara tertulis kepada Perseroan dalam waktu 2 x 24 jam (tidak termasuk hari libur resmi dan hari besar) disertai dengan keterangan tertulis dari dokter yang merawat tentang hal–hal yang berkaitan dengan penyakit yang diderita.(lima ratus ribu rupiah). (2) Macam alat Rehabilitasi yang diberikan kepada Pegawai. Penggantian lensa kacamata sebesar Rp.25 (nol koma dua puluh lima). dapat diberikan bantuan kacamata 1 (satu) kali selama pensiun. Pasal 58 (1) Perseroan memberikan bantuan kacamata kepada Pegawai.000. atau b. (3) Bantuan kacamata diberikan dalam bentuk uang yang besarnya ditetapkan sebagai berikut : a.000. kecuali kondisi pasien tidak memungkinkannya. (4) Pegawai yang diberhentikan dengan hormat sebagai Pegawai dengan hak pensiun. Penggantian bingkai kacamata diberikan dalam hal Pegawai yang bersangkutan telah menerima bantuan bingkai kacamata yang terakhir paling sedikit selama 3 (tiga) tahun... b) Alat penyangga cacat tubuh kruk diberikan 1 (satu) kali dengan ketentuan kursi roda tidak diberikan. Bagian Ketujuh Bantuan Ganti Rugi Pasal 59 (1) Pegawai yang terkena musibah akibat peristiwa luar biasa dan atau dalam hal melaksanakan perjalanan dinas atau tugas dinas. rusak dan atau musnah karena bencana alam dan atau kebakaran dan atau kerusuhan.(sepuluh juta rupiah) (2) Bantuan ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).000.(3) Tindakan dalam kondisi darurat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2).000. adalah : a) b) c) d) Alat bantu dengar dan apabila rusak dapat diganti. Penggantian bingkai kacamata sebesar Rp. terdiri atas : a. diberikan bantuan ganti rugi paling banyak sebesar Rp. 1. atau c. 500.50 (nol koma lima puluh). berdasarkan rekomendasi dokter yang mengharuskan menggunakan kacamata..

serta telah memiliki masa kerja paling sedikit 3 ( tiga ) tahun terus menerus dan tidak terputus di Perseroan. selama 2 (dua) tahun berturut-turut. tetap dilaksanakan oleh Perseroan sebagaimana ketentuan yang berlaku di Perseroan. c. Bencana alam banjir yang sifatnya musiman/rutin. Kebakaran yang disebabkan karena kesalahan dan atau kelalaian sendiri dan atau anggota keluarga/orang-orang yang menjadi tanggung jawabnya. penghargaan per tahun masa kerja diberikan sebesar 1 (satu) kali penghasilan bulan terakhir. diberikan sebesar 3 (tiga) kali penghasilan bulan terakhir kepada Pegawai yang telah mempunyai masa kerja paling sedikit 6 (enam) tahun terus menerus dan tidak terputus di Perseroan. BAB XII PENGHARGAAN PENSIUN Bagian Pertama Penghargaan. Memiliki masa kerja di Perseroan paling sedikit 25 (dua puluh lima) tahun termasuk masa kerja sebagai Tenaga Harian. termasuk masa kerja sebagai Tenaga Harian dan Calon Pegawai. rusak dan atau musnah karena bencana alam dan atau kebakaran. diberikan sebesar 4 (empat) kali penghasilan bulan terakhir. diberikan penghargaan pengabdian dengan persyaratan sebagai berikut : a. b. termasuk masa kerja sebagai Tenaga Harian dan Calon Pegawai. penghargaan per tahun masa kerja diberikan sebesar 2 (dua) kali penghasilan bulan terakhir. (2) Tunjangan tambahan penghasilan. Memiliki nilai unjuk kerja paling rendah Sesuai Dengan Ekspektasi (Prestasi 3). b. yang besarannya ditetapkan sebagai berikut : a. Tidak sedang menjalani hukuman disiplin. tidak diberikan dalam hal : a. penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah sebagai uang pesangon. Uang penghargaan untuk Pegawai yang mempunyai masa kerja ke 16 tahun dan seterusnya. (3) Bantuan ganti rugi sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). (4) Terhitung mulai tanggal 1 Januari 2003. Tunjangan Tambahan Penghasilan dan Uang Pengganti Masa Cuti Besar Bagi Pegawai Yang Berhenti Bekerja Pasal 61 (1) Penghargaan diberikan bagi Pegawai yang diberhentikan sebagai Pegawai. Bagian Kedua Penghargaan Purna Jabatan Bagi Pegawai Yang Berhenti Bekerja Pada Usia 56 Tahun Pasal 62 (1) Pegawai yang berhenti bekerja pada usia 56 (lima puluh enam) tahun. b. . (3) Uang pengganti masa cuti besar. c. Uang penghargaan untuk Pegawai yang mempunyai masa kerja 1 tahun sampai dengan 15 tahun. uang penghargaan masa kerja dan uang ganti kerugian.Barang-barang dan atau perabotan rumah tangga yang ditempati Pegawai tidak dapat dipakai lagi. Bagian Kedelapan Pelaksanaan Jaminan Sosial Pasal 60 Pelaksanaan Jaminan Sosial sebagaimana dimaksud dalam Pasal 51 sampai dengan Pasal 59.

BAB XIV BANTUAN PINJAMAN Pasal 65 (1) Perseroan memberikan bantuan pinjaman lunak dalam bentuk uang kepada Pegawai yang telah bekerja di Perseroan paling sedikit selama 5 (lima) tahun terus menerus tidak terputus dengan ketentuan pada 3 (tiga) tahun terakhir. BAB XV KOPERASI PEGAWAI Pasal 66 (1) Koperasi Pegawai dibentuk dalam rangka meningkatkan salah satu kesejahteraan Pegawai yang kegiatan usahanya dijalankan berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Koperasi. c. (3) Penghasilan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2). Tunjangan Jabatan.(2) Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1). tunjangan tambahan penghasilan dan uang pengganti masa cuti besar tidak diberikan kepada Pegawai yang diberhentikan karena hukuman disiplin. Gaji Dasar. d. Tunjangan Daerah. BAB XIII TUNJANGAN HARI RAYA KEAGAMAAN Pasal 64 (1) Tunjangan Hari Raya Keagamaan. (2) Perseroan sesuai dengan kemampuannya berkewajiban mendorong dan membantu kearah pengembangan koperasi. diberikan paling sedikit sebesar 1 (satu) kali penghasilan bulan tanggal jatuh tempo. Pinjaman pembelian rumah atau pinjaman bagi perawatan rumah. Bagian Ketiga Hak Yang Tidak Diterima Bagi Pegawai Yang Melanggar Disiplin Pegawai Pasal 63 Penghargaan. b. terdiri atas : a. c. Tunjangan Dasar. Pinjaman bagi yang terkena musibah bencana alam. berupa uang sebesar 2 (dua) kali penghasilan bulan terakhir sebelum berhenti bekerja. (2) Bantuan pinjaman sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah sebagai berikut : a. penilaian unjuk kerja paling sedikit bernilai baik. (3) Pemberian bantuan pinjaman sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diberikan untuk ketenangan dan kenyamanan kerja yang disesuaikan dengan kemampuan Perseroan. . Pinjaman bagi pembelian kendaraan bermotor. (2) Pelaksanaan pemberian Tunjangan Hari Raya Keagamaan berpedoman pada Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. b.

(3) Pegawai yang diberhentikan sebagai Pegawai bukan karena hukuman disiplin diberikan hak-hak sebagai berikut : a. Bagian Kedua Program Pensiun Pegawai Pasal 69 (1) Program pensiun Pegawai diselenggarakan oleh Dana Pensiun PLN. Pemeliharaan kesehatan bagi Pegawai yang berhenti bekerja pada usia 56 (lima puluh enam) tahun dan telah memiliki masa kerja di Perseroan paling sedikit 16 (enam belas) tahun atau berhenti bekerja karena cacat atau berhenti bekerja karena meninggal dunia/tewas. Alasan yang jelas dilakukannya pemberhentian. Menjadi anggota Direksi Perseroan. b. h. Mencapai batas usia pensiun. Pasal 68 (1) Pemberhentian Pegawai selain hal-hal yang dimaksud dalam Pasal 67 ayat (1) harus didasarkan atas kesepakatan antara Perseroan dengan SP-PLN. Meninggal dunia. (4) Pegawai yang menjadi peserta Dana Pensiun PLN dan diberhentikan karena hukuman disiplin. d. (2) Pemberhentian Pegawai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus didasarkan pertimbangan sebagai berikut : a. b. Imbalan harus lebih baik dari Pemberhentian atas permintaan sendiri. (2) Dalam melaksanakan penyelenggaraan program pensiun Pegawai. e. f. Hilang. karena melanggar Peraturan Disiplin Pegawai. c. c. Uzur jasmani dan atau rohani (cacat). Penghargaan sesuai ketentuan ketentuan Pasal 61. . (2) Pegawai dapat diberhentikan tidak hormat. c. Bersifat suka rela / tidak ada unsur paksaan. g. Dana Pensiun PLN berpedoman pada Peraturan Dana Pensiun PLN. Manfaat pensiun atau pengembalian iuran Peserta bagi Pegawai yang menjadi peserta Dana Pensiun PLN. b.BAB XVI PEMBERHENTIAN PEGAWAI DAN PENSIUN PEGAWAI Bagian Pertama Pemberhentian Pegawai Pasal 67 (1) Pegawai dapat diberhentikan karena : a. dan diberikan kepada keluarga Pegawai yang memenuhi persyaratan. (3) Pegawai yang akan pensiun diberikan penghargaan pengabdian sesuai ketentuan yang berlaku. Atas permintaan sendiri. d. Tidak adanya formasi bagi Pegawai yang telah menyelesaikan cuti di luar tanggungan Perseroan. Target dan kompetensi. hanya diberikan Manfaat Pensiun atau pengembalian Iuran Peserta sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Hukuman disiplin.

(2) Peserta Dana Pensiun PLN terdiri atas : a. Pegawai. berhak memperoleh salah satu hak atas Manfaat Pensiun atau Pengembalian Iuran Peserta. (3) Untuk menghitung Manfaat Pensiun dipergunakan rumus dasar sebagai berikut : Manfaat Pensiun I = Faktor Penghargaan x Masa Kerja x PhDP I Manfaat Pensiun II = Faktor Penghargaan x Masa Kerja x PhDP II Faktor Penghargaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) adalah 2. Mantan Pegawai yang masih berhak atas Manfaat Pensiun. Pengembalian Iuran Peserta diberikan kepada Pegawai yang berhenti bekerja pada usia kurang dari 46 (empat puluh enam) tahun dan mempunyai masa kepesertaan kurang dari 3 (tiga) tahun. Bagian Keempat Hak Atas Manfaat Pensiun dan Pengembalian Iuran Peserta Pasal 71 (1) Peserta yang memenuhi persyaratan. (2) Jenis Manfaat Pensiun sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah : a. bagi yang berhenti bekerja karena cacat. paling tinggi adalah 80 % (delapan puluh perseratus) dari PhDP dibayarkan secara bulanan atau dapat dibayarkan secara sekaligus apabila memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku. (4) Besarnya PhDP sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) adalah 100 % (seratus perseratus) dari Gaji Dasar dan dapat diubah sesuai Keputusan Pendiri Dana Pensiun PLN. (3) Pegawai yang menjadi peserta Dana Pensiun PLN wajib membayar Iuran Peserta yang besarnya 6 % (enam perseratus) dari Penghasilan Dasar Pensiun (PhDP). b. Manfaat Pensiun Cacat. bagi Pegawai yang berhenti bekerja pada usia 46 (empat puluh enam) tahun atau lebih tetapi kurang dari 56 (lima puluh enam) tahun. bagi Pegawai yang berhenti bekerja pada usia 56 (lima puluh enam) tahun. Pensiunan. Bagian Kelima Pemutusan Hubungan Kerja Pasal 72 (1) Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dapat dilakukan karena adanya ketentuan yang mengakibatkan Perseroan terpaksa mengadakan pengurangan Pegawai. c. b. Manfaat Pensiun Normal. d. Manfaat Pensiun Dipercepat. Jumlah Manfaat Pensiun bagi. (4) (5) (6) (7) .Bagian Ketiga Kepesertaan Dana Pensiun PLN Pasal 70 (1) Kepesertaan Dana Pensiun PLN bersifat sukarela dan didahului dengan permohonan untuk menjadi Peserta. Pensiun Ditunda bagi Pegawai yang berhenti bekerja pada usia kurang dari 46 (empat puluh enam) tahun dan mempunyai masa kepesertaan 3 (tiga) tahun atau lebih. Pensiun cacat karena menjalankan tugas Perseroan. c. Jumlah Manfaat Pensiun paling tinggi adalah 75 % (tujuh puluh lima perseratus) dari PhDP dibayarkan secara bulanan atau dapat dibayarkan secara sekaligus apabila memenuhi persyaratan sesuai ketentuan yang berlaku.50 % (dua koma lima puluh perseratus) untuk tiap tahun masa kerja.

d. Sebagai forum untuk membahas masalah hubungan industrial di Perseroan guna meningkatkan produktivitas kerja dan kesejahteraan Pegawai yang menjamin kelangsungan usaha dan menciptakan ketenangan kerja. (3) Besarnya uang ganti kerugian harus disepakati bersama antara SP-PLN dengan Perseroan. Melakukan pertemuan secara periodik atau sewaktu-waktu bila diperlukan. konsultasi dan musyawarah untuk peningkatan produktivitas kerja yang anggotanya terdiri atas unsur Perseroan dan Pegawai. d. b. Sebagai forum komunikasi. Mengundurkan diri sebagai anggota. b. b. sebelum besarnya uang ganti kerugian disepakati bersama antara SP-PLN dengan Perseroan. BAB XVII KOMUNIKASI Bagian Pertama Lembaga Kerjasama Bipartit Pasal 73 (1) Lembaga Kerjasama Bipartit (LKB) adalah suatu lembaga di Perseroan yang berfungsi sebagai forum komunikasi. e. (3) Pergantian keanggotaan LKB sebelum berakhirnya masa jabatan dilakukan atas usul dari unsur yang diwakilinya. e. Diganti atas usul yang mewakilinya. (4) Pelaksanaan PHK tidak dapat dilakukan. terdiri atas wakil Direksi atau wakil yang ditunjuk. 50 persen wakil Perseroan. 50 persen wakil SP-PLN atau wakil Pegawai yang ditunjuk. b. Melakukan deteksi dini dan menampung permasalahan hubungan industrial di Perseroan. (2) LKB bertujuan : a. Mutasi atau keluar dari perusahaan. Sebab-sebab lain yang menghalangi tugas-tugas dalam keanggotaan LKB. penggantian keanggotaan sehabis masa kerja dilakukan sejalan dengan cara pengangkatan sesuai ketentuan yang berlaku. c. c. . (2) Masa kerja keanggotaan LKB adalah 2 (dua) tahun. (4) Pergantian tersebut pada ayat (3) diberitahukan kepada instansi terkait. diberikan uang pesangon dan uang penghargaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 61. (3) LKB mempunyai tugas : a. Meninggal dunia. Menyampaikan saran dan pertimbangan kepada Perseroan dalam menetapkan kebijakan Perseroan. konsultasi dan musyawarah antara Perseroan dengan SP-PLN. Mengkomunikasikan kebijakan Perseroan dan aspirasi Pegawai yang berkaitan dengan kesejahteraan pegawai dan kelangsungan usaha. (5) Masa jabatan keanggotaan LKB berakhir apabila : a. Bagian Kedua Keanggotaan LKB Pasal 74 (1) Keanggotaan LKB paling sedikit 10 (sepuluh) orang dengan komposisi : a. Menyampaikan saran dan pendapat kepada SP-PLN dan Pegawai.(2) Dalam hal Pegawai terkena PHK sebagaimana dimaksud dalam ayat (1).

(5) Terhitung mulai 14 Januari 2005. (6) Selama dalam proses penyelesaian. penyelesaian perselisihan hubungan industrial antara SP-PLN dengan Perseroan akan merujuk Undang-undang Republik Indonesia nomor 2 tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial dan peraturan pelaksanaannya. maka perbedaan pendapat ini dianggap sebagai perselisihan dan penyelesaian selanjutnya sesuai dengan perundangan yang berlaku. gotong royong dan musyawarah untuk mufakat. kedua Pihak wajib menjaga supaya kegiatan kerja tetap berlangsung dengan lancar dan aman.Bagian Ketiga Azas LKB Pasal 75 (1) Azas kerja LKB adalah kekeluargaan. diselesaikan secara musyawarah untuk mufakat. maka permasalahan tersebut diteruskan kepada pimpinan unit kerja masing-masing. (2) LKB tidak mencampuri hal-hal yang bersifat rahasia baik dari pihak Pegawai maupun pihak Perseroan. (2) Hubungan kerja LKB dengan Perseroan bersifat koordinatif. (4) Setelah dirundingkan dengan sungguh-sungguh antara SP-PLN dengan pimpinan Perseroan. rekomendasi dan memorandum bagi Perseroan dan Pegawai. (2) Penyelesaian secara musyawarah untuk mufakat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) untuk tahap pendahuluan diselesaikan dengan atasan langsung Pegawai dan jika penyelesaian tersebut belum memuaskan kedua belah Pihak. ternyata masih terdapat perbedaan yang tidak dapat diselesaikan secara mufakat. (3) Dalam hal dengan cara dan prosedur sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) belum diperoleh penyelesaian yang memuaskan. konsultatif dan komunikatif. BAB XVIII PENYELESAIAN PERSELISIHAN HUBUNGAN INDUSTRIAL Pasal 77 (1) Dalam hal terjadi kesalahpahaman atau ketidaksesuaian dalam penafsiran kebijakan Perseroan sehingga Pegawai menganggap bahwa perlakuan terhadapnya tidak adil dan atau bertentangan dengan PKB atau Peraturan Perundangan yang berlaku. maka persoalan tersebut diselesaikan bersama secara musyawarah antara SP-PLN dengan pimpinan Perseroan. BAB XIX KETENTUAN PERALIHAN Pasal 78 . (3) LKB tidak mengambil alih hak SP-PLN maupun pimpinan Perseroan. Bagian Keempat Hasil LKB Pasal 76 (1) Hasil konsultasi dan komunikasi yang dicapai oleh LKB hanya terbatas untuk internal Perseroan dan merupakan saran.

. BAB XX PENUTUP Pasal 79 (1) PKB ini berlaku sejak tanggal penandatanganan dan mengikat kedua belah Pihak selama 2 (dua) tahun. (3) Perubahan PKB diadakan atas kesepakatan kedua belah Pihak yang akan dituangkan dalam Adendum serta ditetapkan berdasarkan musyawarah untuk mufakat. maka terhadap PKB akan diadakan perubahan yang merupakan Addendum dan atau amandemen dan ditandatangani bersama antara Perseroan dan SP-PLN. baik kebijakan Perseroan maupun kebijakan dalam peraturan perundangan yang berlaku yang dapat mempengaruhi ketentuan yang ditetapkan dalam PKB. maka ketentuan pelaksanaan KKB periode tahun 2002 – 2004 dan perpanjangannya sesuai kesepakatan bersama antara PT PLN (Persero) dengan Serikat Pekerja PT PLN (Persero) dinyatakan tetap berlaku.(1) Sebelum berlakunya PKB periode tahun 2006 – 2008. (3) Dalam hal terjadi perubahan kebijakan-kebijakan. semua aturan Perseroan tentang Kepegawaian yang bertentangan dengan PKB tidak berlaku lagi. (4) PKB ini dibagikan kepada setiap Pekerja dan disosialisasikan oleh Perseroan bersama SP-PLN untuk diketahui dan dipahami. maka PKB 2006-2008 yang sedang berlaku. (2) Dengan berlakunya PKB ini. (2) Dalam hal perundingan PKB 2008-2010 tidak mencapai kesepakatan. tetap berlaku untuk paling lambat 1 (satu) tahun.