Faktor-faktor yang mempengaruhi Partus Lama

bawah judul Sebab-sebab terjadinya partus lama adalah multi kompleks dan tentu saja bergantung pengawasan selagi hamil, pertolongan persaiinan yang baik dan penatalaksanaannya (Mochtar, 1998). Faktor terjadinya partus lama di bagi menjadi dua yaitu faktor penyebab dan faktor resiko, faktor penyebab: his, mal presentasi dan mal posisi, janin besar, panggul sempit, kelainan serviks dan vagina, disproporsi fetovelvik, dan ketuban pecah dini, dan faktor resiko: analgesik dan anastesis berlebihan, paritas, usia, wanita dependen, respons stres, pembatasan mobilitas, dan puasa ketat (Oxorn, 1996). a. His tidak efisien (adekuat) Keadaan umum penderita biasanya baik, dan rasa nyeri tidak seberapa. Selama ketuban masih utuh umumnya tidak banyak bahaya, baik bagi ibu maupun bagi janin, kecuali jika persalinan berlangsung terlalu lama; dalam hal terakhir ini morbiditas ibu dan mortalitas janin naik. Keadaan ini dinamakan inersia uteri primer atau hypotonic uterine contraction (Wiknjosastro, 2005). Timbulnya his adalah indikasi mulainya persalinan, apabila his yang timbul sifatnya lemah, pendek, dan jarang maka akan mempengaruhi turunnya kepala dan pembukaan serviks atau yang sering disebut dengan inkoordinasi kontraksi otot rahim, dimana keadaan inkoordinasi kontraksi otot rahim ini dapat menyebabkan sulitnya kekuatan otot rahim untuk dapat meningkatkan pembukaan atau pengusiran janin dari dalam rahim, pada akhirnya ibu akan mengalami partus lama karena tidak adanya kemajuan dalam persalinan. b. Faktor janin (mal presentasi, malposisi, janin besar) Bayi yang besar merupakan faktor partus lama yang sangat berkaitan dengan terjadinya malposisi dan malpresentasi, janin yang dalam keadaan malpresentasi dan malposisi kemungkinan besar akan menyebabkan partus lama atau partus macet. Malpresentasi adalah semua presentasi janin selain verteks. Sedangkan malposisi merupakan posisi kepala janin relatif terhadap pelvis depan oksiput sebagai titik referensi. Pada kejadian mal presentasi kerja uterus kontraksinya cenderung lelah dan tidak teratur. Letak janin dalam uterus terjadi pada proses adaptasi janin terhadap ruangan didalam uterus. Pada kehamilan sampai kurang 32 minggu, jumlah air ketuban relatif banyak sehingga memungkinkan janin bergerak dengan leluasa, dengan demikian janin dapat menempati diri dalam presentasi kepala. Faktor-faktor lain yang memegang peranan dalam terjadinya mal posisi di antaranya adalah multiparitas, hamil kembar, hidramnion, placenta previa dan panggul sempit, juga dapat disebabkan oleh kelainan uterus dan kelainan letak uterus (Wiknjosastro, 2002 ). c. Faktor jalan lahir (pinggul sempit, kelainan serviks, vagina, tumor) Penyebab partus lama sebagian besar adalah karena panggul ibu yang terlalu sempit, atau gangguan penyakit pada tulang sehingga kepala bayi sulit untuk berdilatasi sewaktu persalinan. Faktor genetik, fisiologis, dan ingkungan termasuk gizi mempengaruhi perawakan seorang ibu. Perbaikan gizi dan kondisi kehidupan juga penting karena dapat membantu mencegah terhambatnya pertumbuhan. Selain itu servik yang terlalu kaku juga dapat berdampak pada lambannya kemajuan persalinan, karena akibat servik yang kaku akan menghambat proses penipisan portio yang nantinya akan berdampak pada lamanya pembukaan. Adanya tumor juga sangat berpengaruh terhadap proses lamanya persalinan. Jika terjadi tumor di organ reproduksi

sedangkan pada multipara ibu banyak ditemukan kelainan yang bersifat inersia uteri. Kerja uterus yang tidak efisien Kemajuan persalinan yang lambat sering kali disebabkan oieh kontraksi uterus yang tidak efisien.khususnya pada jalan lahir tentunya akan menghalangi proses lahirnya bayi yang kemungkinan besar akan mengakibatkan partus lama. Praktik prestriksi makanan dan cairan pada ibu bersalin dapat memberikan efek yang buruk pada kontraksi karena otot memerlukan suplai energi yang adekuat untuk berkontraksi secara efektif. dan kemampuan kepala janin untuk mengadakan moulage. Ditambah dengan keadaan psikologis. presentasi dan kedudukan janin yang menguntungkan. Jika dilihat dari sisi biologis manusia 20 . hal ini akan membuat ibu kesulitan untuk mengejan yang pada akhirnya apabila ibu terus menerus kehilangan tenaga karena mengejan akan terjadi partus lama (Amuriddin. d. e. serta daya tahan tubuh masih kuat. bahkan kemungkinan besar persalinan vaginal tidak mungkin. diabetes. emosional dan pengalaman yang belum pernah dialami sebelumnya dan mempengaruhi kontraksi uterus menjadi tidak aktif. Berdasarkan pengertian di atas usia ibu dalam penelitian ini adalah lama seorang ibu hidup sampai melahirkan. emosi. f. semuanya dapat menyebabkan persalinan menjadi lama. letak. Tidak semua ibu dengan usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun dipastikan mengalami partus lama. yang nantinya akan mempengaruhi lamanya persalinan. penurunan bagian presentasi janin akan berlangsung lambat. Kelainan his dipengaruhinya oleh herediter. his yang tidak normal baik kekuatan maupun sifatnya ridak menghambat persalinan. Paritas Menurut Wiknjosastro salah satu penyebab kelainan his yang dapat menyebabkan partus lama terutama ditemukan pada primigravida khususnya primigravida tua. Sebaliknya kontraksi yang jelek. akan tetapi pada sebagian wanita dengan usia yang masih muda organ reproduksinya masih belum begitu sempurna dan fungsi hormon-hormon yang berhubungan dengan persalinan juga belum sempurna pula. kedudukan abnormal.35 merupakan tahun terbaik wanita untuk hamil karena selain di usia ini kematangan organ reproduksi dan hormon telah bekerja dengan baik juga belum ada penyakit-penyakit degenerative seperti hipertensi. Salah satu penyebab terjadinya partus lama menurut Moechtar (1998) adalah kelainan his. Dikatakan bahwa . jaringan lunak yang kaku. Jika tidak terdapat kontraksi yang efektif. Ambulasi dapat meningkatkan aktivitas uterus yang lebih efektif. Usia Usia menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (1994) adalah lama waktu hidup atau ada (sejak dilahirkan atau diadakan). Disproporsi fetovelvik Disproporsi fetopelfik adalah ketidak mampuan janin untuk melewati panggul. Sedangkan pada ibu dengan usia lebih dari 35 tahun diketahui kerja organ-organ reproduksinya sudah mulai lemah. dan ketakutan menghadapi persalinan yang sering dijumpai pada primagravida. Disproporsi relatif terjadi apabila faktor-faktor lain ikut berpengaruh. g. 2009). Panggul yang sedikit sempit dapat diatasi dengan kontraksi uterus yang efisien. dan ketidak mampuan kepala untuk mengadakan moulage sebagaimana mestinya. dan tenaga ibu pun sudah mulai berkurang. keionggaran jaringan lanak. Disproporsi dapat absolut atau relati£ Absolut apabila janin sama sekali tidak akan dengan selamat melewati jalan lahir.

Analgesik dan anastesis yang berlebihan dalam fase leten Kadang-kadang besar gaya yang dihasilkan oleh kontraksi otot abdomen sangat menurun sehingga pelahiran pervaginan spontan tidak terjadi. cemas dan ketakutan merupakan calon persalinan lama. h. l. Hai ini akan menyebabkan portio bertambah lama untuk menipis sehingga pembukaan menjadi semakin lamban. k. Sedasi berat atau analgesia epidural yang berlebihan cenderung mengurangi refleks keinginan untuk mengejan terlebih mengingat saat fase laten keadaan portio masih tebal dengan pembukaan kurang dari 4cm. Kerja uterus yang tidak efisien mencakup ketidak mampuan serviks untuk membuka secara lancar dan cepat. Tipe wanita lainnya adalah wanita yang maskulin. cemas dan ketakutan Wanita yang dependen. Puasa ketat . Hormon stres. berinteraksi dengan reseptor-beta di dalam otot uterus dan menghambat kontraksi. apabila kantong ketuban pada saat serviks masih panjang. disamping kontraksi rahim yang tidak efisien pada akhirnya akan terjadi partus lama. persalinannya berhenti baginya untuk mencari tempat yang dirasakannya aman. Pecahnya ketuban dengan adanya serviks yang matang dan kontraksi yang kuat tidak pernah memperpanjang persalinan. Ini merupakan respons involunter ketika ibu merasa terancam atau tidak aman. Respons stres Stres psikologis memitiki efek fisik yang kuat pada persalinan. Pembatasan mobilitas dan postur semi-rekumben Percobaan cochrane review (Gupta dan Nikodem. Epidural meningkatkan insiden malrotasi. m. keras dan menutup.terdapat kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik dari yang berperitas tinggi. 3) Peningkatan penggunaan oksitosin untuk augmentasi 4) Posisi terlentang dapat berakibat kala dua persalinan memanjang 5) Ibu merasakan kontraksi lebih menyakitkan pada kala dua bila berbaring terlentang. j. i. Ketuban pecah dini ketika serviks masih tertutup. Analgesia epigural menurunkan kadar oksitosin alamiah dan merelaksasikan otot dasar pelvis yang normalnya keras. persalinan lama dan intervensi yang bersangkutan. keras dan belum mendatar. maka sebelum dimulainya proses persalinan sering terdapat periode laten yang lama. Bentuk penghilangan nyeri ini berhubungan dengan penurunan kontraksi dan peningkatan penggunaan oksitosin intravena (IV). 2002) mengemukakan bahwa imobilitas atau posisi terlentang memiliki beberapa efek sampling yaitu sebagai berikut : 1) Penurunan kadar sirkulasi oksitosin alamiah 2) Berefek buruk terhadap kontraksi dan juga kemajuan persalinan mengakibatkan rata-rata persalinan lama. seperti adrenalin. memperlambat persalinan. Akan tetapi. masochistik yang kelihatannya menikmati rasa nyeri yang dialaminya. Wanita yang dependen. Hal ini dipengaruhi dimana ketika terjadi kesempitan pintu atas panggul (PAP) yang akhirnya berpengaruh terhadap persalinan yaitu pembukaan serviks lamban dan seringkali tidak lengkap.

2009) . Puasa ketat pada persalinan dapat mengakibatkan persalinan lama.Beberapa klinisi merekomendasikan puasa dalam persalinan karena kekhawatiran mereka mengenai bahaya aspirasi lambung. dan sederet interfensi yang berkulminasi pada kelahiran sesar (Leveno. Aspirasi lambung adalah masalah yang berhubungan dengan tekhnik anastesi buruk saat diberikan anastesi umum dan bukan karena adanya makanan dalam lambung. diagnosis distosia.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful