P. 1
Peranan IPTEK

Peranan IPTEK

2.0

|Views: 57|Likes:
Published by Riwaldi Sirait
IPTEK
IPTEK

More info:

Published by: Riwaldi Sirait on Apr 06, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/10/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG Membahas tentang ilmu pengetahuan dan teknologi,semua orang pasti sudah tahu bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi ini sangat penting untuk kehidupan kita sehari-hari. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat pesat dari tahun ke tahun dan manfaatnya sangat besar. Di Indonesia, ilmu pengetahuan dan teknologi sangat besar manfaatnya, tapi sebagian besar penggunaan ilmu pengetahuan dan teknologi ini sering di salah gunakan. Contohnya, pada teknologi komputer. Penggunaan komputer sangat besar, apalagi banyak orang yang kecanduan dengan internet. Banyak yang membuka media social network, contohnya facebook, twitter,dll. Penggunaan facebook yang sangat mudah

menjadi peluang bagi orang-orang yang mempunyai niat buruk. Contohnya melakukan penipuan, atau melakukan pencurian(hacking). Lebih baik penggunaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini di manfaatkan dengan baik agar lebih berguna untuk berbagai macam kegiatan. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apa saja Peranan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ? 2. Seberapa Pentingnya Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ?

C. TUJUAN 1. Menjelaskan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Mendukung Pembangunan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 2. Menjelaskan Peranan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Berbagai Kegiatan 3. Menjelaskan Peranan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam Pembangunan Berbasis IPTEK

MENDUKUNG PEMBANGUNAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat beragam contohnya Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi komunikasi di indonesia dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan bangsa indonesia.
PERKEMBANGAN ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI KOMUNIKASI DI INDONESIA DI DALAM MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KETRAMPILAN BANGSA INDONESIA.

Ilmu pengetahuan muncul sebagai akibat daripada aktivitas untuk pemenuhan kebutuhan hidup manusia, baik kebutuhan jasmani maupun kebutuhan rohani. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak lepas dari para ilmuwan terdahulu yang merubah pengetahuan menjadi inovasi teknologi dan pemikiran yang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat dipisahkan dari lembaga pendidikan tinggi. Dimana pada abad-20 peran ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berarti bagi lembaga pendidikan tinggi. Dimana pada abad-20 peran ilmu pengetahuan dan teknologi sangat berarti bagi lembaga pendidikan tinggi. Sehingga pada abad-20 mampu mendorong perkembangan yang lebih cepat dalam bidang industri, informasi, komunikasi, transportasi dan pertanian. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia tertinggal jauh dibandingkan dengan negara-negara Eropa dan Amerika Serikat, dan bahkan juga di negara-negara Asia misalnya Jepang dan China. Hal ini disebabkan karena: 1. Masih terbatasnya jumlah orang Indonesia yang mendapatkan pendidikan barat terutama pendidikan tinggi. 2. Kurangnya keinginan dari pemerintah maupun perusahaan swasta yang ada di Indonesia untuk dapat melakukan alih teknologi. 3. Tidak adanya inovasi teknologi yang berarti di dalam masyarakat Indonesia itu sendiri. Ilmu pengetahuan dan teknologi di indonesia mulai berkembang di mana ditandai dengan adanya perguruan tinggi dan pusatpusat penelitian seperti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan

juga telah membentuk Badan Pengkajiaan dan Penerapan Teknologi (BPPT). Dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia, maka penyebaran informasi dan juga komunikasi di Indonesia pun sudah mulai berkembang. Informasi sangat diperlukan masyarakat Indonesia. Masyarakat Indonesia berhak atas informasi yang benar untuk mengatur kehidupannya dengan tepat dan membina dirinya. Manusia yang tidak memiliki pengetahuan tentang fakta dan tidak sempat memahami pandangan yang berbeda-beda, tidak dapat mengadakan pilihan secara tanggung jawab. Penyampaian suatu informasi di Indonesia disebarkan melalui media massa seperti surat kabar, majalah, radio, televisi dan internet. Teknologi informasi selain membawa dampak yang sangat menguntungkan bagi manusia, teknologi informasi dapat juga menyebabkan terjadinya polusi atau pengotoran informasi. Selain daripada berkembangnya teknologi informasi di Indonesia teknologi komunikasi pun sudah mengalami perubahan yang sangat cepat. Dimana pertama sekali perkembangan komunikasi di Indonesia ditandai dengan sambungan telepon lokal, dan kemudian berkembang menjadi sambungan jarak jauh dan juga membangun sistem komunikasi yang mampu menghubungkan dan menyebarkan informasi keseluruh wilayah Indonesia dan seluruh dunia secara efektif dan efisien. Pada masa sekarang ini proses komunikasi di Indonesia sudah mengalami perubahan yang sangat cepat, sebagai akibat perubahan teknologi komunikasi. Proses komunikasi yang terpenting adalah: 1. Pengumpulan informasi/pengalaman 2. Penyimpanan informasi 3. Memproses informasi 4. Pemilihan / pengeluaran informasi 5. Menstransmisi / menyebarluaskan informasi 6. Umpan balik atau balikan informasi Pada saat ini hampir 90 % di semua wilayah Indonesia telah ada televisi dan telepon serta jumlah pemilik telepon setiap tahunnya terus bertambah.

Dengan adanya kemudahan untuk memperoleh informasi dan komunikasi tentu akan meningkatkan tingkat pengetahuan dan ketrampilan bangsa Indonesia itu sendiri. Oleh karena itu sangat diperlukan peranan pemerintah untuk dapat terus mendorong kemajuaan komunikasi di Indonesia. Ilmu pengetahuan dan teknolongi juga berperan dalam mendukung pembangunan bangsa. Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Dalam Mendukung Pembangunan Bangsa

Menristek, Suharna Surapratana, pada tanggal 25 Maret 2010 yang lalu berkesempatan menjadi pembicara kunci pada program Sekolah Staf dan Pimpinan Bank Indonesia (SESPIBI) XXIX yang diselenggarakan dari 1 Maret sampai 12 Mei 2010 mendatang, dengan topik paparan “Kebijakan Riset Dan Teknologi Dalam Mendukung Pembangunan Bangsa”. SESPIBI kali ini mengusung tema “Mewujudkan kepemimpinan yang kompeten dan berintegritas dalam mendukung kesinambungan pembangunan ekonomi nasional dan stabilitas sistem keuangan” yang bertempat di Menara Radius Prawiro Gedung Bank Indonesia, Jl. MH Thamrin, Jakarta Pusat. Dalam paparannya, Suharna menyampaikan bahwa, untuk menjadi bangsa yang menguasai iptek, kita harus bisa menempatkan inovasi sebagai urat nadi kehidupan bangsa Indonesia. “Dalam pembangunan nasional, pada hakekatnya Iptek adalah upaya pemenuhan atas kepentingan nasional, yakni kepentingan keamanan dan kesejahteraan, yang sekaligus merupakan aspirasi masyarakat Indonesia, baik individual need maupun social need. Dalam sudut pandang ini, Ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) merupakan sebuah instrumen (tool) yang membantu agar proses pembangunan nasional berjalan lancar, untuk kemudian terwujud stabilitas nasional yang mantap. Sebagaimana diketahui, Sekolah Staf dan Pimpinan Bank Indonesia (SESPIBI) merupakan jenjang pendidikan karir tertinggi bagi pejabat Bank Indonesia yang potensial untuk menjadi pimpinan lembaga. Selain itu, penyempurnaanpenyempurnaan yang secara terus menerus dilakukan terhadap program SESPIBI

kiranya telah dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan mutu SESPIBI sebagai program yang efektif membekali para peserta dengan pengetahuan serta wawasan yang diperlukan untuk jabatan-jabatan pimpinan di Bank Indonesia dan di dunia perbankan. Kebutuhan akan adanya tenaga pimpinan yang profesional di Bank Indonesia dan dunia perbankan memang merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar dan ditunda lagi. Kita menyadari bahwa tanpa adanya tenaga pimpinan yang profesional, sulit bagi perekonomian kita, khususnya sektor perbankan, untuk dapat berkembang dan bersaing di era globalisasi ini. Kemajuan suatu bangsa dipengaruhi oleh kemampuan, penguasaaan, pemanfaatan dan kemajuan iptek saat ini. Penguasaan teknologi saat ini sangat diperlukan dalam mengungkit ekonomi suatu bangsa untuk mencapai kesejahteraan bersama. Kekuatan Iptek sudah merupakan suatu keharusan bagi bangsa maju di era globalisasi saat ini. Persaingan negara bukan lagi bertumpu pada kekuatan sumber daya alam melainkan dari ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan adanya SESPIBI yang diikuti oleh hampir seluruh Pimpinan Bank Indonesia, diharapkan akan terwujud kepemimpinan yang kompeten dan berintegritas dalam mendukung kesinambungan pembangunan ekonomi nasional dan stabilitas sistem keuangan, khususnya di lingkungan Bank Indonesia. Ilmu pengetahuan dan teknologi juga berperan dalam Mendukung Kekuatan Pertahanan Negara. Penguasaan Dan Penerapan Iptek Guna Mendukung Kekuatan Pertahanan Negara Dalam Undang Undang Nomor 3 Tahun 2002, pasal 7 ayat (2) dan (3) menyebutkan macam ancaman, yaitu ancaman militer dan ancaman non militer. Ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa.

Ancaman militer yang merupakan ancaman nyata terlihat secara fisik dan dapat menghancurkan atau memporak-porandakan suatu negara. 1. Pendahuluan Berdasarkan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, pasal 2 menyatakan hakikat pertahanan negara adalah segala upaya pertahanan bersifat semesta yang penyelenggaraannya didasarkan pada kesadaran atas hak dan kewajiban warga negara serta keyakinan pada kekuatan sendiri. Sedangkan yang dimaksud dengan pertahanan bersifat semesta adalah keterlibatan seluruh warga negara, wilayah, dan sumber daya nasional lainnya, serta dipersiapkan secara dini oleh pemerintah dan diselenggarakan secara total, terpadu, terarah, dan berlanjut untuk menegakkan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan segenap bangsa dari segala ancaman. Dalam Undang Undang Nomor 3 Tahun 2002, pasal 7 ayat (2) dan (3) menyebutkan macam ancaman, yaitu ancaman militer dan ancaman non militer. Ancaman militer adalah ancaman yang menggunakan kekuatan bersenjata yang terorganisasi yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman militer yang merupakan ancaman nyata terlihat secara fisik dan dapat menghancurkan atau memporak-porandakan suatu negara, misalnya agresi militer, sabotase, pelanggaran wilayah semakin jarang terjadi. Sedangkan ancaman non militer pada hakikatnya adalah ancaman yg menggunakan faktor-faktor non militer yang dinilai mempunyai kemampuan yang membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara, dan keselamatan segenap bangsa. Ancaman non militer ini merupakan ancaman yang sering terlihat tidak nyata secara fisik tetapi sangat efektif untuk menghancurkan suatu negara melalui penetrasi nilai-nilai diantaranya kebebasan, demokrasi, HAM dan lingkungan hidup, akan terus terjadi bahkan meningkat pada masa depan baik dari kuantitas maupun kualitasnya. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pertahanan dapat menimbulkan ancaman militer dan ancaman non militer semakin luas. Untuk itu, kemajuan Iptek harus dimanfaatkan untuk mendukung terwujudnya pertahanan negara yang kuat. 2. Kemajuan Ilmu Pengetahuan Dan Teknologi Pertahanan

Seiring derasnya arus globalisasi yang mempengaruhi segala aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, berbagai negara telah berlomba-lomba dalam penguasaan dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk mendukung pertahanan negaranya. Pemanfaatan kemajuan Iptek dalam bidang pertahanan, dapat memperkuat pertahanan suatu negara dan juga menimbulkan ancaman bagi negara lain. Pemanfaatan teknologi ini dapat meningkatkan kemampuan alutsista dan peralatan militer lainnya, misalnya memperjauh jarak tembak rudal, meningkatkan kemampuan anti radar, meningkatkan kemampuan senjata kimia dan biologi (chemical/biological weapon). Sedangkan dari aspek ancaman yang ditimbulkan dapat berupa Electronic Warfare, Information Warfare, Cyber Warfare dan Psychological Warfare. Pemanfaatan teknologi tersebut akan berpengaruh besar pada kondisi pertahanan dan keamanan dunia. Banyak negara telah mengembangkan teknologi informasi dan komunikasi, teknologi

kedirgantaraan, bioteknologi, teknologi propulsi, teknologi pembangkit energi dan nanoteknologi untuk menggerakan industri pertahanannya dalam rangka memproduksi alutsista yang digunakan untuk memperkuat militernya dan juga untuk menyiapkan sebagai produsen alutsista yang siap bersaing dengan negara produsen lain. Negara-negara maju seperti AS, Inggris, Jerman, Perancis, Rusia dan Jepang secara berkelanjutan mengembangkan industri pertahanannya untuk memperkuat kekuatan militernya dan menjadikan sebagai negara pengekspor alutsista. Masing-masing negara memiliki keunggulan sesuai dengan

pengembangan Iptek yang terdapat di negaranya. Industri pertahahan di negara maju berkembang sangat pesat karena dukungan yang penuh dari pemerintah (baik kebijakan industri maupun finansialnya) dan iklim ekonomi yang menunjang perkembangannya. Di beberapa kawasan muncul negara sebagai kekuatan baru dengan disertai peralatan militer yang canggih. India dan China merupakan contoh negara yang memiliki kekuatan militer sekaligus kekuatan ekonomi yang tangguh. Mereka memanfaatkan kemajuan Iptek untuk mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menggiatkan industri pertahanannya. China mengembangkan kemampuan militer yang berteknologi tinggi dengan

membangun angkatan bersenjata yang terkomputerisasi, kemampuan tempur berbasis teknologi informasi, dan didukung oleh prajurit dengan jumlah yang

besar dan berkualitas. Sedangkan India dengan kemajuan elektroniknya berhasil mengembangkan pembuatan pesawat, helikopter, dan rudal yang cukup disegani.

Dengan Iptek, sistem persenjataan dan alat peralatan baru dapat diciptakan untuk mendukung keperluan militer/pertahanan yang lebih handal, lebih akurat, dan lebih cepat dan fleksibel pengerahannya. Teknologi dalam memproduksi persenjataan dan alat peralatan tersebut terus berkembang sejalan dengan perkembangan Iptek. 3. Kondisi Pertahanan Indonesia Saat Ini Walaupun sejumlah keterbatasan yang dihadapi dalam pembangunan kekuatan pertahanan dan ancaman militer akan semakin jarang terjadi dimasa depan, Indonesia perlu terus meningkatkan kemampuan pertahanan militer baik di darat, laut maupun udara, untuk memberikan jaminan keamanan nasional. Pembangunan pertahanan saat ini belum dapat mewujudkan postur pertahanan yang kuat dan disegani dilihat dari jumlah dan kualitas peralatan militer/alutsista yang dimiliki. Kondisi peralatan pertahanan saat ini sangat memprihatinkan baik dari segi usia maupun kecanggihan teknologi. Alutsista yang dimiliki TNI rata-rata berusia lebih dari 20 tahun. Untuk kesiapan operasional alutsista dilakukan dengan repowering/retrofit dan dilakuan pembelian baru kalau dinilai sangat

mendesak/dibutuhkan. Perkembangan teknologi pertahanan Indonesia saat ini jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan perkembangan teknologi militer (Revolution in Military Affairs-RMA) dari negara-negara lain yang maju pesat dan dapat menciptakan sistem senjata baru yang memiliki daya rusak dan daya jangkau yang lebih besar dan lebih jauh serta lebih akurat. Sedangkan kebutuhan pemenuhan pemeliharaan, pengoperasian, maupun suku cadang alutsista masih bergantung pada negara-negara lain. Dari aspek profesionalisme, kualitas sumber daya manusia dan tingkat kesejahteraan prajurit belum memenuhi kebutuhan yang diharapkan. Oleh karena itu, kondisi kekuatan pertahanan Indonesia saat ini jauh di bawah kebutuhan pokok, bahkan di bawah kekuatan pokok minimal (minimum essential force) sekalipun. Disamping itu, alokasi APBN untuk sektor pertahanan dan keamanan memperoleh prioritas ketiga setelah sektor perekonomian dan

sektor kesejahteraan. Alokasi anggaran pertahanan dalam lima tahun terakhir ini cenderung menurun bila dihadapkan pada APBN maupun PDB.

Kondisi tersebut tidak mencukupi untuk melakukan pemenuhan dan modernisasi alutsista serta peningkatan profesionalisme TNI. Hal ini berakibat terhadap kekuatan pertahanan yang berada dibawah standar penangkalan dan berada dibawah kekuatan pokok minimal. 4. Upaya Penguasaan dan Penerapan Iptek untuk Pertahanan Negara Paradigma pembangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia sedang menuju pembangunan berbasis sumber daya masyarakat berpengetahuan (knowledge based society). Proses ini berimplikasi pada berbagai bidang pembangunan, termasuk pembangunan teknologi pertahanan. Sebagai bagian utama dari knowledge based society, Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas dan kebutuhan hidup manusia dengan

mendayagunakan sumber daya yang ada disekelilingnya. Prioritas pembangunan Iptek ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 20042009, dan Kebijakan Strategis Pembangunan Nasional (Jakstranas) Iptek 20052009, menempatkan bidang teknologi pertahanan dan keamanan pada urutan ke 5 dari enam skala prioritas, dengan arah kebijakan terutama untuk memenuhi kebutuhan alutsista, meningkatkan kapabilitas Iptek Hankam dan memberikan peluang kepada industri strategis (nasional) untuk berperan dalam pengembangan Iptek Hankam. Pembangunan Iptek ini selaras dengan yang digariskan Undangundang, yaitu : Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat (5) menyatakan bahwa pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Undang-undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, pasal 23 ayat (1) menyatakan bahwa dalam rangka meningkatkan kemampuan pertahanan negara, pemerintah melakukan penelitian dan pengembangan industri dan teknologi di bidang pertahanan.

Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi untuk Pertahanan Suatu negara yang memiliki kekuatan pertahanan yang tangguh dengan didukung oleh kecanggihan alutsista akan memiliki bargaining power dan disegani oleh negara lain. Amerika Serikat dengan kecanggihan alutsista dan besarnya anggaran pertahanan yang dialokasikan ($ 711 billions) membuat Amerika Serikat memiliki peran penting baik di kawasan regional maupun internasional. Pada dasarnya, perang dimasa mendatang adalah ”perang otak” atau sering disebut perang daya saing. Perang ini mengandalkan kreatifitas intelektual untuk mengalahkan negara lain dalam persaingan internasional. Untuk itu, setiap negara dituntut untuk memenangkan daya saing, sehingga perlu meningkatkan kemampuan teknologi, sumber daya manusia dan finansialnya. Pembangunan kekuatan pertahanan Indonesia yang sedang dilakukan tidak terlepas dari perkembangan Iptek. Program pembangunan Iptek yang diarahkan untuk mendukung kepentingan pertahanan lebih menjurus pada terpenuhinya kebutuhan alutsista yang difokuskan pada teknologi pendukung, yaitu : Daya Gerak, meliputi Alat transportasi Darat, Laut dan Udara Daya Tempur, meliputi Senjata, Munisi Kaliber Besar dan dan Bahan Peledak, Roket dan Peluru Kendali Komando, Kendali, Komunikasi, Komputer dan Informasi (K4I), meliputi Alat Komunikasi, Surveilance, Penginderaan dan Navigasi Peralatan/Bekal Prajurit , meliputi Perlengkapan Operasi Personel

Bahkan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi juga sangat berperan besar dalam Pembangunan. Pembangunan Berbasis Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Perdebatan bahwa Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) berkorelasi dengan pembangunan ekonomi suatu kawasan masih saja berlangsung. Hal ini disebabkan tidak adanya suatu teori, penelitian, atau model yang dapat menjelaskan hubungan kedua faktor di atas. Diperlukan suatu pengujian dengan menggunakan metode yang sahih untuk menghasilkan suatu kesimpulan yang akurat tentang arah pengembangan dan aplikasi Iptek yang berkorelasi dengan pertumbuhan ekonomi.

Walaupun demikian, sebagian komunitas tetap meyakini

bahwa

Iptek

berkontribusi terhadap pembangunan suatu wilayah. Laporan dari World Development Report satu dekade yang lalu (1998/1999) telah menunjukkan suatu evident (fakta) bahwa pada tahun 50-an negara Ghana dan Korea memiliki pendapatan per kapita yang sama. Pada awal tahun 90-an pendapatan per kapita Korea 6 kali lebih besar dari Ghana. Dari hasil analisis, kenaikan pendapatan Korea dipengaruhi sebagian oleh penggunaan Iptek di negara tersebut. Negara-negara yang mengaplikasi Iptek sehingga kini menjadi negara maju dapat diurut adalah Inggris, Prancis, Jerman, Italia, dan Amerika Serikat. Negara-negara ini merupakan pelopor pengembangan industri melalui pengembangan Iptek. Selanjutnya kelompok negara industri yang bergabung adalah negara-negara di Eropa Barat, Kanada, Australia, dan Selandia Baru. Perlu diberi catatan di sini, perkembangan transformasi ekonomi negara-negara tersebut tercatat dalam sejarah sejak abad ke-15 (Inggris) hingga abad ke-19 (Amerika Serikat). Walaupun saat ini (2011) negara-negara tersebut (khususnya kawasan Eropa) mengalami keredupan ekonomi yang ditenggarai karena faktor kesalahan pengelolaan finansial bukan karena kemunduran Iptek. Negara-negara industri baru di Asia seperti Jepang, Korea, Taiwan, Hongkong, dan Singapura lahir karena diyakini juga telah menerapkan Iptek secara luas di berbagai sektor yang mendukung pembangunannya. Strategi di Aceh Kita mungkin setuju, bahwa pembangunan ekonomi di Provinsi Aceh secara nyata baru dapat dirasakan pasca terjadinya gempa dan tsunami pada Desember 2004. Jadi saat ini (baru) berjalan selama 7 tahun. Suatu durasi sejarah yang relatif singkat untuk mengukur kemajuan pembangunan. Walaupun diyakini masa-masa kemakmuran Aceh pernah dilalui pada masa Iskandar Muda (1607-1637), tetapi kemajuan tersebut tidak dalam konteks dengan perkembangan Iptek.

Pembangunan ekonomi Aceh yang berlangsung selama 7 tahun belakangan ini diwujudkan lebih banyak melalui eksploitasi sumber daya alam dan lingkungan hidup, mencakup minyak bumi dan gas, pertambangan mineral, pertanian dan

perkebunan. Pembangunan yang berorientasi pada eksploitasi sumber daya alam dan mengabaikan norma dan kaidah kelestarian, konservasi, dan keberlanjutan pada akhirnya menimbulkan dampak negatif yang tidak dapat dihindarkan berupa degradasi kualitas sumber daya alam. Upaya-upaya pemanfaatan sumber daya alam untuk mendukung pembangunan agar rakyat menjadi makmur dan sejahtera merupakan salah satu strategi di dalam mencari sumber-sumber pendapatan wilayah. Walaupun demikian, pembangunan yang membawa risiko lingkungan rusak sedapat mungkin dihindari melalui penerapan konsep pembangunan yang berkelanjutan (eco-development). Tuntutan eco-development hanya dapat dilakukan melalui konsep pembangunan berbasis Iptek (science & technologybased development). Proses pembangunan dilakukan melalui perencanaan yang matang, yang didukung oleh data-data ilmiah dan penerapan metode-metode yang diyakini sesuai dengan konteks lokal. Fakta sejarah memperlihatkan bahwa, pembangunan di negara-negara industri yang telah disebut di atas, kekuatan penggerak pembangunannya dimulai dengan mempelajari dan belajar dengan seksama dari permasalah sendiri dan secara bijak melihat kesalahan dan strategi wilayah lain sebagai bahan referensi di dalam pembuatan kebijakan dan keputusan. Contoh dapat dilihat bagaimana Korea dan Taiwan mengembangkan industri elektronikanya. Negara-negara ini dalam mengembangkan industrinya mengadopsi road map pengembangan industri informasi negara Jepang, tetapi tetap menggunakan konteks lokal dan mempelajari kesalahan-kesalahan Jepang dalam pengembangan industrinya. Apa yang dapat dilihat, Jepang memerlukan 100 tahun untuk mencapai status negara industri, sedangkan Korea dan Taiwan hanya membutuhkan lebih kurang 25 tahun (seperempat durasi yang dibutuhkan Jepang) untuk mencapai status tersebut (UN, 2000). Dalam konteks Aceh, tentunya kita harus memilih sektor apa yang dapat dijadikan sebagai salah sektor industri andalan dan mengaplikasi Iptek terkini berbasis kemampuan lokal (SDM dan SDA). Sumber daya alam pertanian di Aceh (salah satu contoh) memiliki potensi yang dapat dikembangkan menjadi salah satu model eco-development. Dalam rangka menentukan peran Iptek di dalam pengembangan agroindustri di Aceh, tentunya harus didefinisikan terlebih dahulu konsep agroindustri berkelanjutan dan di mana Iptek itu akan berperan.

Negara Thailand adalah wilayah tetangga yang dapat dijadikan wilayah referensi pengembangan agroindustri berbasis Iptek. Tanpa meniru apa yang terbaik bisa menuai yang terburuk. Pengembangan agroindustri berbasis sawit saat ini di Aceh bisa kita jadikan suatu contoh kebijakan yang bisa dikatakan kebablasan. Etika kebijakan lingkungan sama sekali tak teradopsi, sehingga banyak konflik timbul sesudahnya. Solusi Lembaga Penelitian dan Pengembangan (R&D) adalah bagian paling kruisial di dalam pengembangan Iptek dalam melahirkan inovasi di suatu wilayah. Lembaga ini akan memberikan kontribusi penting di dalam mengkaji dan melakukan transformasi teknologi termasuk kapasitasnya di dalam melakukan adaptasi, distribusi, dan sosialisasi teknologi baru ke masyarakat pengguna. Lembaga ini juga diharapkan membantu memecahkan masalah proses produksi untuk meningkatkan nilai kompetitif yang tinggi. Membangun Dewan Riset Daerah adalah solusinya. Dewan ini juga diharapkan dapat melahirkan agenda riset daerah yang menjadi acuan pelaku riset (peneliti). Selanjutnya, peran lembaga-lembaga pendidikan di dalam aplikasi IPTEK menjadi sangat penting. Untuk itu, kurikulum yang menekankan praktek magang dan pelatihan teknologi lebih ditekankan dari pada kurikulum hanya berorientasi akademik-teoritis. Mengadopsi kedua metode kurikulum tersebut memang paling baik seperti yang dilalukan di negara Jepang dan Korea untuk melengkapi kompetensi tenaga kerja dari lembaga pendidikan. Karena perkembangan IPTEK yang begitu cepat dan terus-menerus, maka sistem pendidikan diarahkan pada metode belajar seumur-hidup.

Daftar Pustaka http://aceh.tribunnews.com/2012/01/09/pembangunan-berbasis-iptek http://menwamahapura.blogspot.com/2009/11/penguasaan-dan-penerapan-iptekguna.html http://pratamafahmi.blogspot.com/2011/01/perkembangan-ilmu-pengetahuandan.html http://www.ristek.go.id/?module=News%20News&id=5626

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->