NABHILA PALUPI.P 10501010712106 A. PERBEDAAN PRIVATISASI DAN RESTRUKTURISASI BUMN 1.

Pengertian Restrukturisasi BUMN Restrukturisasi menurut Pasal 1 Angka 11 UU NO. 19 Tahun 2003 tentang BUMN adalah upaya yang dilakukan dalam rangka penyehatan BUMN yang merupakan salah satu langkah strategis untuk memperbaiki kondisi internal perusahaan guna memperbaiki kinerja dan meningkatkan nilai perusahaan. Maksud dan Tujuan Restrukturisasi BUMN Sesuai dengan pasal 72 ayat 1 UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN Restrukturisasi BUMN dilakukan dengan maksud untuk menyehatkan BUMN agar dapat beroperasi secara efisien, transparan, dan profesional. Menurut Pasal 72 ayat 1 UU No. 19 Tahun 2033 tentang BUMN Tujuan Resrukturisasi BUMN : a) meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan; b) memberikan manfaat berupa dividen dan pajak kepada negara; c) menghasilkan produk dan layanan dengan harga yang kompetitif kepada konsumen; dan d) memudahkan pelaksanaan privatisasi. Dalam melaksanakan restrukturisasi BUMN, maka tetap harus memperhatikan asas biaya dan manfaat yang diperoleh Ruang Lingkup Restrukturisasi Menurut Pasal 73 UU No.19 Tahun 2003 tentang BUMN : Restrukturisasi meliputi : a) Restrukturisasi sektoral yang pelaksanaannya disesuaikan dengan kebijakan sector dan/atau ketentuan peraturan perundang-undangan; b) Restrukturisasi perusahaan/korporasi yang meliputi : 1. peningkatan intensitas persaingan usaha, terutama di sektor-sektor yang terdapat monopoli, baik yang diregulasi maupun monopoli alamiah; 2. penataan hubungan fungsional antara pemerintah selaku regulator dan BUMN selaku badan usaha, termasuk di dalamnya penerapan prinsipprinsip tata kelola perusahaan yang baik dan menetapkan arah dalam rangka pelaksanaan kewajiban pelayanan publik.

. menciptakan Persero yang berdaya saing dan berorientasi global. ekonomi makro. dapat dipisahkan untuk dijadikan penyertaan dalam pendirian perusahaan untuk selanjutnya apabila diperlukan dapat diprivatisasi. sistem. operasional. memperluas kepemilikan masyarakat atas Persero. menumbuhkan iklim usaha. b. meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. dan prosedur. c. 2. 19 Tahun 2003 tentang BUMN Persero yang dapat diprivatisasi harus sekurang-kurangnya memenuhi kriteria: a) industri/sektor usahanya kompetitif. e. 19 Tahun 2003 tentang BUMN Privatisasi dilakukan dengan maksud untuk : a. menciptakan struktur industri yang sehat dan kompetitif. restrukturisasi internal yang mencakup keuangan.akuntabilitas. Pengertian Privatisasi BUMN Privatisasi Menurut Pasal 1 Angka 12 UU Nomor 19 Tahun 2003 tentang BUMN adalah penjualan saham Persero (Perusahaan Perseroan). dan kewajaran. d. kepada pihak lain dalam rangka meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. organisasi/ manajemen. Maksud dan Tujuan Privatisasi BUMN Menurut Pasal 74 UU No. atau b) industri/sektor usaha yang unsur teknologinya cepat berubah. JENIS PERSEROAN YANG DAPAT DIPRIVATISASI Sesuai dengan Pasal 76 UU No. serta memperluas saham oleh masyarakat. B . menciptakan struktur keuangan dan manajemen keuangan yang baik/kuat. Sebagian aset atau kegiatan dari Persero yang melaksanakan kewajiban pelayanan umum dan/atau yang berdasarkan Undang-undang kegiatan usahanya harus dilakukan oleh BUMN. f. dan kapasitas pasar.3. memperbesar manfaat bagi negara dan masyarakat. Privatisasi dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja dan nilai tambah perusahaan dan meningkatkan peran serta masyarakat dalam pemilikan saham Persero Sesuai dengan Pasal 75 Privatisasi dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip transparansi. pertanggungjawaban. baik sebagian maupun seluruhnya. kemandirian.

45/2005.19 Tahun 2003 tentang BUMN ) a. ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah berdasarkan usulan Menteri. . (2) Pengkajian terhadap rencana pembubaran Persero sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat mengikutsertakan Menteri Teknis. 45 /2005 Pasal 83 PP No. Persero yang bidang usahanya berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan hanya boleh dikelola oleh BUMN. Persero yang bergerak di sektor tertentu yang oleh pemerintah diberikan tugas khusus untuk melaksanakan kegiatan tertentu yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat. Menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dipandang perlu dengan atau tanpa menggunakan konsultan independen. b. Sedangkan mekanisme pembubaran persero diatur dalam pasal 81 PP No. MEKANISME PEMBUBARAN PERUM DAN PERSEROAN Pembubaran Perseroan diatur dalam pasal 80 – 82 PP No. Pembubaran Perum Pasal 83 – 87 PP No. Selanjutnya menurut Pasal 82 PP No.Persero yang tidak dapat diprivatisasi adalah: ( Pasal 77 UU No. b.45/2005 sebagai berikut : (1) Pembubaran Persero karena keputusan RUPS diusulkan oleh Menteri kepada Presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan Menteri Keuangan. d.45/2005 Menteri segera mengajukan rancangan peraturan pemerintah kepada Presiden mengenai pembubaran Persero yang bubar bukan karena keputusan RUPS. pengurusan.45/2005 Perum bubar karena: a. (3) Dalam hal usulan rencana pembubaran Persero sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan atas inisatif Menteri Teknis. inisiatif tersebut disampaikan kepada Menteri untuk selanjutnya dilakukan pengkajian yang dikoordinasikan oleh Menteri. Persero yang bergerak di bidang usaha sumber daya alam yang secara tegas berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan dilarang untuk diprivatisasi C. c. jangka waktu berdiri yang ditetapkan dalam anggaran dasar telah berakhir. Sesuai dengan Pasal 80 PP No. Persero yang bergerak di sektor usaha yang berkaitan dengan pertahanan dan keamanan negara. pengawasan.45 / 2005 tentang pendirian. dan pembubaran badan usaha milik Negara pembubaran Persero dilakukan sesuai dengan ketentuan dan prinsip-prinsip yang diatur dalam peraturan perundang-undangan di bidang perseroan terbatas.

dan pengawasan terhadap Direksi berlaku pula bagi likuidator sebagaimana dimaksud pada ayat (2). 9) Dalam hal usul perpanjangan jangka waktu berdirinya Perum tidak diajukan Menteri mengajukan rancangan peraturan pemerintah mengenai pembubaran Perum kepada Presiden. 4) Menteri segera mengajukan rancangan peraturan pemerintah kepada Presiden mengenai pembubaran Perum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 huruf a. atau e. maka inisiatif tersebut disampaikan kepada Menteri untuk selanjutnya dilakukan pengkajian yang dikoordinasikan oleh Mentri 8) Selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sebelum berakhirnya jangka waktu berdirinya Perum. dengan atau tanpa menggunakan konsultan independen. penetapan pengadilan. pemberhentian sementara. maka Perum bubar pada tanggal tersebut. Menteri lain dan/atau pimpinan instansi lain yang dipandang perlu. wewenang. 6) Pengkajian terhadap rencana pembubaran Perum dapat mengikutsertakan Menteri Teknis.c. huruf b. huruf b. 1) Pembubaran Perum harus diikuti dengan likuidasi. pemberhentian. 7) Dalam hal inisiatif pembubaran Perum dari Menteri Teknis. Perum dalam keadaan tidak mampu membayar (insolven) sebagaimana diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan di bidang kepailitan. Menteri dapat mengusulkan kepada Presiden untuk memperpanjang jangka waktu berdirinya Perum tersebut. d. dan huruf d dilakukan oleh likuidator yang ditunjuk oleh Menteri. 11) Pengadilan dapat membubarkan Perum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 huruf c atas permohonan kejaksaan berdasarkan alasan kuat Perum melanggar kepentingan umum. 3) Ketentuan mengenai pengangkatan. . kewajiban. 2) Likuidasi sebagaimana dimaksud dalm Pasal 83 huruf a. tanggung jawab. 10) Dalam hal Presiden tidak menetapkan perpanjangan jangka waktu berdirinya Perum sampai dengan tanggal berakhirnya jangka waktu berdirinya Perum. huruf c. kecuali pengangkatan dan pemberhentian likuidator yang ditunjuk oleh pengadilan. huruf c. dicabutnya putusan pernyataan pailit oleh Pengadilan Niaga sebab harta pailit Perum tidak cukup untuk membayar biaya kepailitan. dan huruf d 5) Pembubaran Perum yang dilakukan berdasarkan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 huruf a diusulkan oleh Menteri kepada Presiden disertai dengan dasar pertimbangan setelah dikaji bersama dengan Menteri Keuangan.

tata cara pengajuan tagihan. b) mengumumkan pembubaran Perum dalam 2 (dua) surat kabar harian. Sesuai Pasal 88 (1) Dalam hal Perum bubar karena ketentuan sebagaimana dimaksud Pasal 83 huruf e. jangka waktu mengajukan tagihan yang tidak boleh lebih dari 120 (seratus dua puluh) hari terhitung sejak didaftarkan.12) Dalam penetapan pengadilan ditetapkan pula penunjukan likuidator. 13) Menteri segera mengajukan rancangan peraturan pemerintah mengenai pembubaran Perum sebagaimana dimaksud dalam Pasal 83 huruf e. dan c) memberitahukan kepada semua kreditornya dengan surat tercatat mengenai bubarnya Perum. 14) Likuidator dalam waktu paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak pembubaran. 15) Dalam pendaftaran. b. dan c. wajib: a) mendaftarkan pembubaran Perum sesuai dengan peraturan perundangundangan di bidang wajib daftar perusahaan. pengumuman dan pemberitahuan pembubaran perum wajib disebutkan: a. nama dan alamat likuidator. maka likuidasi dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan di bidang kepailitan. diumumkan dan diberitahukannya pembubaran Perum .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful