Teori Produksi dalam Islam

Dosen Pembina Mata Kuliah Ekonomi Indonesia ( Syaiful, S. E )

Disusun oleh : Meika Kusuma Wardani Mas Khuriyah Meris Wahyu Lestari Ahmad Jaelani Lea Praga 10322040 10322041 10322044 10322052 10322053

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK TAHUN 2010 / 2011

Terima kasih pula kepada rekan-rekan seangkatan dan semua pihak yang terlibat dalam pembutan makalah ini. Wassalam. sehingga kelompok kami dapat menyelesaikan sebuah makalah dengan judul “ Teori Produksi dalam Islam”. dan hidayah-Nya. E. selaku Pembina Mata Kuliah Bahasa Indonesia yang dengan telaten dan sungguh-sungguh dalam menyampaikan materinya.KATA PENGANTAR ‫ﺒﺴﻢ ﺃﻟﻟﻪ ﺃﻟﺮ ﺤﻤﻦ ﺃﻟﺮ ﺤﻳﻢ‬ Syukur Alhamdulillah kami panjatkan kehadirat Allah SWT. taufiq. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat Bapak Syaiful. Makalah ini diajukan untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan tugas perkuliahan pada Program Studi Ekonomi Islam Jurusan Akuntansi pada Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Gresik. Penulis . Dengan tersusunnya makalah ini kami berharap kepada Bapak Pembina atau Pembimbing berkenan meluangkan waktu untuk membina dan membimbing pembuatan makalah yang ditugaskan kepada Mahasiswa. S. atas berkat limpahan rahmat.

Dalam teori produksi memberikan penjelasan tentang perilaku produsen tentang perilaku produsen dalam memaksimalkan keuntungannya maupun mengoptimalkan efisiensi produksinya. Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dari produksi menurut syari`at Islam ? 2. 3. Kegiatan produksilah yang menghasikan barang dan jasa. Untuk mengetahui faktor. Apa yang menjadi tujuan dan prinsip-prinsip dalam produksi menurut syari`at Islam ? 3. Sesungguhnya produksi lahir dan tumbuh dari menyatunya manusia dengan alam. dan etika produksi menurut syari`at Islam. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan berhenti. 2. Latar Belakang Produksi adalah sebuah proses yang telah terlahir di muka bumi ini semenjak manusia menghuni planet ini. Produksi sangat prinsip bagi kelangsungan hidup dan juga peradaban manusia dan bumi. Untuk menghasilkan barang dan jasa kegiatan produksi melibatkan banyak faktor produksi. Fungsi produksi menggambarkan hubungan antar jumlah input dengan output yang dapat dihasilkan dalam satu waktu periode tertentu. 2. tujuan dan prinsip produksi menurut syari`at Islam. Dimana Islam mengakui pemilikian pribadi dalam batas-batas tertentu termasuk pemilikan alat produksi. Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi.BAB I PENDAHULUAN 1. Apa saja faktor produksi menurut syari`at Islam ? 4. Tujuan Penulisan 1. begitu pula sebaliknya. kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. Bagaimana pola dan etika produksi menurut syari`at Islam ? 5. Untuk mengetahui tentang fungsi produksi menurut syari`at Islam. Apa yang dimaksud dengan fungsi produksi dalam Islam ? 3. akan tetapi hak tersebut tidak mutlak. Untuk mengetahui pengertian. . pola.

Dalam hal ini. Abdurahman lebih jauh menjelaskan bahwa dalam melakukan proses produksi yang dijadikan ukuran utamanya adalah nilai manfaat (utility) yang diambil dari hasil produksi tersebut. Status (taqrir) dan perbuatan Rasul itu sama dengan sabda beliau. Sebab. Muhammad Rawwas Qalahji memberikan padanan kata “produksi” dalam bahasa arab dengan kata al-intaj yang secara harfiyah dimaknai dengan ijadu sil’atin (mewujudkan atau mengadakan sesuatu) atau khidmatu mu’ayyanatin bi istikhdami muzayyajin min anashir al-intaj dhamina itharu zamani muhaddadin (pelayanan jasa yang jelas dengan menuntut adanya bantuan penggabungan unsur-unsur produksi yang terbingkai dalam waktu yang terbatas). (kata beliau): Perintahkanlah anakmu si tukang kayu untuk membuatkan tempat dudukku. Dari Ibnu mas’ud: “ Bahwa Nabi Saw telah membuat cincin yang terbuat dari emas.BAB II PEMBAHASAN 1. berkata “ Rasulullah Saw telah mengutus kepada seorang wanita. Abdurahman Yusro Ahmad dalam bukunya Muqaddimah fi Ilm al-iqtishad al-Islamy. Dari Saha. Dari pengertian diatas produksi dimaksudkan untuk mewujudkan suatu barang dan jasa yang digunakan tidak hanya untuk kebutuhan fisik tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan non fisik. An-Nabhani memahami produksi itu sebagai sesuatu uang mubah dan jelas berdasarkan as-sunnah. orang-orang biasa memproduksi barang dan beliau pun mendiamkan aktifitas mereka. dalam artian yang . Beliau juga pernah membuat mimbar. ia lebih suka memakai kata istishna untuk mengartikan ‘produksi’ dalam bahasa arab. Hal yang senada di ucapkan oleh Dr. Rasulullah Saw pernah membuat cincin. Pada masa Rasulullah. sehingga aku bisa duduk diatasnya” (HR Imam Bukhari). Sehingga diamnya beliau menunjukan adanya pengakuan (taqrir) beliau terhadap aktifitas berproduksi mereka. Abdurahman merefleksikan pemikirannya dengan mengacu pada al-Quran Surat Al Baqarah: 219 yang menjelaskan tentang pertanyaan dari manfaat memakai (memproduksi) khamr. artinya sama merupakan dalil syara’. Pengertian Produksi dalam Islam Dr. Lain halnya dengan Taqiyuddin an-Nabhani dalam mengantarkan pemahaman tentang produksi.” (HR Imam Bukhari). Diriwayatkan dari Anas yang mengatakan “Nabi Saw telah membuat cincin” (HR Imam Bukhari). Dalam pandangannya harus mengacu pada nilai utility dan masih dalam bingkai nilai “halal” serta tidak membahayakan bagi diri seseorang attaupun sekelompok masyarakat.

Keuntungan bagi seorang produsen biasannya adalah laba (profit). Memindahkannya dari tempat yang tidak membutuhkan ke tempat yang membutuhkannya. Yang dapat dilakukan manusia berkisar pada misalnya mengambilnya dari tempat yang asli dan mengeluarkan atau mengeksploitasi (ekstraktif). Apa yang bisa dilakukan manusia dalam “memproduksi” tidak sampai pada merubah substansi benda. tujuan produksi dalam islam yaitu memberikan Mashlahah yang maksimum bagi konsumen. tetapi dalam jangka panjang kemungkinan justru akan meningkatkan keuntungan. Maksudnya adalah bahwa manusia mengolah materi itu untuk mencukupi berbagai kebutuhannya. Dalam konsep mashlahah dirumuskan dengan keuntungan ditambah dengan berkah. atau penggilingan. yang diperoleh setelah dikurangi oleh faktor-faktor produksi. atau mengubahnya dari satu bentuk menjadi bentuk yang lainnya dengan melakukan sterilisasi. pengukiran. Berkah merupakan komponen penting dalam mashlahah. pemintalan. Walaupun dalam ekonomi islam tujuan utamannya adalah memaksimalkan mashlahah. dan sebagainya. Dalam upaya mencari berkah dalam jangka pendek akan menurunkan keuntungan (karena adannya biaya berkah).lain produksi dimaksudkan untuk menciptakan mashlahah bukan hanya menciptakan materi. sebab berkah mempunyai andil (share) nyata dalam membentuk output. Keberkahan ini dapat dicapai jika produsen menerapkan prinsip dan nilai islam dalam kegiatan produksinnya. Produksi adalah menciptakan manfaat dan bukan menciptakan materi. 2. sehingga materi itu mempunyai kemanfaatan. bagaimanapun dan seperti apapun pengklasifikasiannya. Sedangkan berkah berwujud segala hal yang memberikan kebaikan dan manfaat bagi rodusen sendiri dan manusia secara keseluruhan. Tujuan Produksi dalam Islam Dalam konsep ekonomi konvensional (kapitalis) produksi dimaksudkan untuk memperoleh laba sebesar besarnya. Atau mencampurnya dengan cara tertentu agar menjadi sesuatu yang baru. berkah harus dimasukkan dalam input produksi. atau menjaganya dengan cara menyimpan agar bisa dimanfaatkan di masa yang akan datang atau mengolahnya dengan memasukkan bahan-bahan tertentu. Oleh karena itu. memperoleh laba tidaklah dilarang selama berada dalam bingkai tujuan dan hukum islam. kerena meningkatnya permintaan. . berbeda dengan tujuan produksi dalam ekonomi konvensional. menutupi kebutuhan tertentu.

Jadi produksi bukan hanya menyangkut kepentingan para produsen (staock holders) saja tapi juga masyarakat secara keseluruhan (stake . 3. Prinsip Produksi dalam Islam Pada prinsipnya kegiatan produksi terkait seluruhnya dengan syariat Islam. kebenaran. Selain itu.Berkah yang dimasukkan dalam input produksi meliputi bahan baku yang dipergunakan untuk proses produksi harus memiliki kebaikan dan manfaat baik dimasa sekarang maupun dimasa mendatang. tetapi juga pada kebijakan-kebijakan ekonomi dan strategi pasarnya”. Kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosial-kemasyarakatan Kegiatan produksi harus menjaga nilai-nilai keseimbangan dan harmoni dengan lingkungan sosial dan lingkungan hidup dalam masyarakat dalam skala yang lebih luas. antara lain : 1. larangan ini juga berlaku bagi segala mata rantai dalam produksinya. Di bawah ini ada beberapa implikasi mendasar bagi kegiatan produksi dan perekonomian secara keseluruhan. Terdapat lima jenis kebutuhan yang dipandng bermanfaat untuk mnecapai falah. ilmu pengetahuan dan 5. Sebagai contoh penggunaan bahan baku dari ilegal logging dalam jangka panjang akan menimbulkan berbagai bencana. Penggunaan bahan baku yang ilegal (tanpa izin) baik itu dari hasil illegal logging. hajjiyah dan tahsiniyah) dalam pemenuhan kebutuhan konsumsi serta melarang sikap berlebihan. Konsumsi seorang muslim dilakukan untuk mencari falah (kebahagiaan) demikian pula produksi dilakukan untuk menyediakan barang dan jasa guna falah tersebut. dimana seluruh kegiatan produksi harus sejalan dengan tujuan dari konsumsi itu sendiri. masyarakat juga nerhak menikmati hasil produksi secara memadai dan berkualitas. 4. Selain itu Islam juga mengajarkan adanya skala prioritas (dharuriyah. Produksi barag dan jasa yang dapat merusak moralitas dan menjauhkan manusia dari nilai-nilai relijius tidak akan diperbolehkan. yaitu : 1. 2. kehidupan. maupun penggunaan bahan baku yang tanpa batas dalam penggunaannya dalam jangka waktu pendek mungkin akan memiliki nilai manfaat yang baik(pendistribusian baik). kelangsungan keturunan. proses produksi hingga pemasaran dan dan pelayanan kepada konsumen semuanya harus mengikuti moralitas Islam. dan akan memberikan nilai mudharat kepada para penerus/generasi selanjutnya. Metwally (1992) mengatakan ”perbedaan dari perusahaan-perusahaan non Islami tak hanya pada tujuannya. tetapi dalam jangka waktu panjang akan menimbulkan masalah. 2. Seluruh kegiatan produksi terikat pada tataran nilai moral dan teknikal yang Islami Sejak dari kegiatan mengorganisisr faktor produksi. harta. 3.

Ayat Al-Qur’an tentang Prinsip Produksi Ayat yang berkaitan dengan faktor produksi Tanah dalam Surat As-Sajdah : “Dan apakah mereka tidak memperhatikan. Sikap terserbut dalam AlQur’an sering disebut sebagai kezaliman atau pengingkaran terhadap nikmat Allah. Jelas sekali menunjukkan adanya suatu siklus produksi dari proses turunnya hujan. Hal ini akan membawa implikasi bahwa prinsip produksi bukan sekedar efisiensi. Tanaman itu dapat dimanfaatkan manusia sebagai faktor produksi alam. memiliki dorongan untuk melayani masyarakat sehingga segala keputusan perusahaan harus mempertimbangkan hal ini . lalu kami tumbuhkan dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka dan mereka sendiri. Ayat ini juga memberikan kepada kita untuk berfikir dalam pemanfaatan sumber daya alam dan proses terjadinya hujan. Kegiatan produksi dalam perspektif Islam bersifat alturistik sehingga produsen tidak hanya mengejar keuntungan maksimum saja. Produsen harus mengejar tujuan yang lebih luas sebagaimana tujuan ajaran Islam yaitu falah didunia dan akhirat. baik dalam bentuk sumber daya alam maupunmanusia. susunya dan lain sebagaiya yang ada pada hewan ternak tersebut. Prinsip pokok produsen yang Islami yaitu : 1. tetapi juga disebabkan oleh kemalasan dan pengabaian optimalisasi segala anugerah Allah. optimasi keuntungan diperkenankan dengan batasan kedua prinsip di atas. Permasalahan ekonomi muncul bukan saja karena kelangkaan tetapi lebih kompleks. 3. Kegiatan produksi juga harus berpedoman kepada nilainilai keadilan dan kebajikan bagi masyarakat. tetapi secara luas adalah bagaimana mengoptimalisasikan pemanfaatan sumber daya ekonomi dalam kerangka pengabdian manusia kepada Tuhannya. Masalah ekonomi muncul bukan karena adanya kelangkaan sumber daya ekonomi untuk pemenuhan kebutuhan manusia saja. Pemerataan manfaat dan keuntungan produksi bagi keseluruhan masyarakat dan dilakukan dengan cara yang paling baik merupakan tujuan utama kegiatan ekonomi. bahwasanya kami menghalau (awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus. Maka apakah mereka tidak memperhatikan?” Ayat diatas menjelaskan tentang tanah yang berfungsi sebagai penyerap air hujan dan akhirnya tumbuh tanaman-tanaman yang terdiri dari beragam jenis. memiliki komitmen yang penuh terhadap keadilan. dari tanaman tersebut juga dikonsumsi oleh hewan ternak yang pada akhirnya juga hewan ternak tersebut diambil manfaatnya (diproduksi) dengan berbgai bentuk seperti diambil dagingnya. 2. . 3.holders).

Siklus rantai makanan yang berkesinambungan agaknya telah dijelskan secara baik dalam ayat ini. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan. sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Modal dapat pula . dia Telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya. Ayat yang berkaitan dengan faktor produksi Tenaga Kerja dalam Surat Huud : 6 “Dan kepada Tsamud (Kami utus) saudara mereka shaleh. Kemudian bertobatlah kepada-Nya. Karena itu mohonlah ampunan-Nya. menghasilkan dedunan dan buah-buahan yang segar setelah di disiram dengan air hujan dan pada akhirnya diakan oleh manusia dan hewan untuk konsumsi. Manusia sebagai khalifah dimuka bumi ini diharapkan oleh Allah untuk menjadi pemakmur bumi dalam pemanfaatan tanah dan alam yang ada. sembahlah Allah. akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah). Kata pemakmur mengindikasikan untuk selalu menajdikan alam ini makmur dan tidak menjadi penghabis ( aakiliin) atau perusak alam (faasidiin). Tentunya puila harus disertai dengan prinsip efisiensi dalam memanfaatkan seluruh batas kemungkinan produksinya.tumbuh tanaman. Manusia dengan akalnya yang sempurna telah diperintahkan oleh Allah untuk dpaat terus mengoleh alam ini bagi kesinambungan alam itu sendiri. dalam hal ini nampaklah segala macam kegiatan produksi amat bergantung kepada siapa yang memproduksi (subyek) yang diharapkan dpat menjadi pengolah alam ini menuju kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Kata apa saja harta yang baik menunjukkan bahwa manusia diberi modal yang cukup oleh Allah untuk dapat melakukan kegiatan pemenuhan kebutuhannya secara materi. Maka pahalanya itu untuk kamu sendiri. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hambaNya). Shaleh berkata: “Hai kaumku. dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan Karena mencari keridhaan Allah. niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan)” Modal sangat penting dalam kegiatan produksi baik yang bersifat tangible asset maupun intangible asset. Ayat yang berkaitan dengan faktor produksi Modal dalam Surat Al-Baqarah : 272 “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk.” Kata kunci dari faktor produksi tenaga kerja terdapat dalam kata wasta’marakum yang berarti pemakmur.

penggarapan bisa dilakukan oleh si empunya tanah atau diserahkan kepada orang lain. Hadits yang berkaitan dengan prinsip produksi HR Bukhari Muslim – “Tidak ada yang lebih baik dari seseorang yang memakan makanan. HR Bukhari – Nabi mengatakan.” HR Thabrani dan Dailami – “Sesunggguhnya Allah sangat suka melihat hamba-Nya yang berusaha mencari rezeki yang halal” HR Thabrani – “Berusaha mencari rezeki halal adalah wajib bagi setiap muslim” Hadits diatas menjelaskan tentang prinsip produksi dalam Islam yang berusaha mengolah bahan baku (dalam hal ini kayu bakar) untuk dapat digunakan untuk penyulut api (kompor pemanas makanan) dan dari kompor yang dipanaskan oleh kayu bakar ini menghasilkan suatu makanan yang dapat dikonsumsi. kecuali jika makanan itu diperolehnya dari hasil jerih payahnya sendiri. Namun kami tidak menyukai hal ini. Jika ada seseorang di antara kamu mencari kayu bakar. dan jangan membiarkannya. Jika tidak digarap.” Hadits tersebut memberikan penjelasn tentang pemanfaatan faktor produksi berupa tanah yang merupakan faktor penting dalam produksi . Nampaklah bahwa terjadi siklus produksi dari pemanfaatan input berupa kayu bakar yang melalui proses sedemikian rupa berupa pemanasan makanan yang pada akhirnya menghasilkan output berupa makanan yang dapat dikonsumsi oleh manusia. Hendaklah tanah itu digarap untuk dapat ditanami tumbuhan dan tanaman yang dapat dipetik hasilnya ketika panen dan untuk pemenuhan kebutuhan dasar berupa pangan. Tetapi bila kedua-duanya tidak dia lakukan – tidak digarap. “Seseorang yang mempunyai sebidang tanah harus menggarap tanahnya sendiri. kemudian mengumpulkan kayu itu dan mengikatnya dengan tali lantas memikulnya di punggungnya. tidak pula diberikan kepada orang lain untuk mengerjakannya – maka hendaknya dipelihara/dijaga sendiri. . Tanah yang dibiarkan begitu saja tanpa diolah dan dimanfaatkan tidak disukai oleh Nabi Muhammad SAW karena tidak bermanfaat bagi sekelilingnya. dari hasil yang lebih tersebut terus diputar sampai pada pencapaian keuntungan yang maksimal (profit) dari modal yang kita miliki yang pada akhirnya tercapailah suatu optimalisasi dari modal tersebut. untuk diputarkan secara ekonomi dengan harapan dari modal tersebut menghasilkan hasil yang lebih.memberikan makna segala sesuatu yang digunakan dan tidak habis. sesungguhnya itu lebih baik ketimbang meminta-minta kepada orang lain. dia harus memberikannya kepada orang lain untuk mengerjakannya.

sementara di kejauhan segalanya tetap kering. Dengan kata lain. Pemerintah akan membangun pasar terbesar untuk barang dan jasa yang merupakan sumber utama bagi semua pembangunan. faktor produksi ekonomi islam dengan ekonomi konvesional tidak berbeda. faktor produksi modal yang memerlukan perhatian khusus karena dalam ekonomi konvesional diberlakukan system bunga. yakni melalui pembelanjaannya yang akan mampu meningkatkan produksi dan melalui pajaknya akan dapat melemahkan produksi. Filosofi ekonomi memberikan pemikiran dengan nilai-nilai islam dan batasan-batasan syariah. ‘Abdul-Mannan mengeluarkan modal dari faktor produksi perbedaan ini timbul karena salah satu da antara dua persoalan berikut ini: ketidakjelasan anttara faktor-faktor yang terakhir dan faktor-faktor antara. untuk mempercepat pembangunan kota. peraturan. ilmu ekonomi dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu: Perbedaan ekonomi islam dengan ekonomi konvesional terletak pada filosofi ekonomi. tetapi juga mengakibatkan penurunan dalam penerimaan pajak. bukan pada ilmu ekonominya. Penurunan belanja negara tidak hanya menyebabkan kegiatan usaha menjadi sepi dan menurunnya keuntungan. Faktor terpenting untuk prospek usaha adalah meringankan seringan mungkin beban pajak bagi pengusaha untuk menggairahkan kegiatan bisnis dengan menjamin keuntungan yang lebih besar . Oleh karena itu. Negara merupakan faktor penting dalam produksi. yang secara umum dapat dinyatakan dalam : a) Faktor produksi tenaga kerja b) Faktor produksi bahan baku dan bahan penolong c) Faktor produksi modal Di antara ketiga faktor produksi. atau apakah kita menganggap modal sebagai buruh yang diakumulasikan. sedangkan ilmu ekonomi berisi alat-alat analisis ekonomi yang dapat digunakan. pemerintah harus berada dekat dengan masyarakat dan mensubsidi modal bagi mereka seperti layaknya air sungai yang membuat hijau dan mengaliri tanah di sekitarnya. Pengenaan bunga terhadap modal ternyata membawa dampak yang luas bagi tingkat efisiansi produksi. dan politik. semakin baik perekonomian karena belanja yang tinggi memungkinkan pemerintah untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan bagi penduduk dan menjamin stabilitas hukum. Kegagalan ini disebabkan oleh adannya pra-konsep kapitalis yang menyatakan bahwa bunga adalah harga modal yang ada dibalik pikiran sejumlah penulis. Semakin besar belanja pemerintah.4. Faktor Produksi dalam Islam Dalam pandangan Baqir Sadr (1979). perbedaan ini semakin tajam karena kegagalan dalam memadukan larangan bunga (riba) dalam islam dengan peran besar yang dimainkan oleh modal dalam produksi.

Pajak yang rendah akan membawa kepuasan yang lebih besar bagi rakyat dan berdampak kepada penerimaan pajak yang meningkat secara total dari keseluruhan penghitungan pajak. Pajak dan bea cukai yang ringan akan membuat rakyat memiliki dorongan untuk lebih aktif berusaha sehingga bisnis akan mengalami kemajuan. berapa kuantitas produksi. 1. kapan produksi dilakukan. apa yang diproduksi. faktor modal. tertier) dan ada manfaat positif bagi perusahan dan masyarakat (harus memenuhi kategori etis dan ekonomi) 2. faktor sumber daya lainnya. market share yang dimasuki dan dikuasai. Sebaliknya dalam sistem konvensional. Kapan produksi dilakukan yaitu penetapan waktu produksi. mengapa suatu produk diproduksi. Kurva permintaan pasar tidak dapat memberikan data sebagai landasan bagi suatu perusahaan dalam mengambil keputusan tentang kuantitas produksi. sehingga dapat menjadikan kebutuhan riil masyarakat terabaikan. Dari sudut pandang fungsional. perusalas arikan kebebasan untuk berproduksi. bagaimana proses produksi dilakukan dan siapa yang memproduksi? Berikut akan dijelaskan sekilas mengenai ketujuh aktivitas produksi. produksi meliputi aktivitas produksi sebagai berikut. namun cenderung terkonsentrasi pada output yang menjadi permintaan pasar (effective demand). faktor intern meliputi sarana dan prasarana yang dimiliki perusahan. apakah akan mengatasi kebutuhan eksternal atau menunggu tingkat kesiapan perusahaan. Dari fungsinya demikian. 3. sekunder. Pola Produksi dalam Islam Berdasarkan pertimbangan kemashlahatan (altruistic considerations) itulah. bergantung kepada motif dan resiko. . pembatasan hukum dan regulasi. Adapun faktor ekstern meliputi adanya jumlah kebutuhan masyarakat. Jumlah produksi di pengaruhi dua faktor. intern dan ekstern. ada kebutuhan yang harus dipenuhi masyarakat (primer. Apa yang diproduksi Terdapat dua pertimbangan yang mendasari pilihan jenis dan macam suatu produk yang akan diproduksi.(setelah pajak). 5. Berapa kuantitas yang diproduksi. menurut Muhammad Abdul Mannan. produksi atau proses pabrikasi (manufacturing) merupakan suatu aktivitas fungsional yang dilakukan oleh setiap perusahaan untuk menciptakan suatu barang atau jasa sehingga dapat mencapai nilai tambah (value added). pertimbangan perilaku produksi tidak semata-mata didasarkan pada permintaan pasar (given demand conditions). faktor SDM. kebutuhan ekonomi.

Dimana produksi itu dilakukan a) Kemudahan memperoleh suplier bahan dan alat-alat produksi b) Murahnya sumber-sumber ekonomi c) Akses pasar yang efektif dan efisien d) Biaya-biaya lainnya yang efisien 6. Terdapat tiga bidang dengan fungsi dan perwujudannya yaitu etika deskriptif ( descriptive ethics). Bagaimana proses produksi dilakukan: input. etika normatif ( normative ethics). Etika Produksi dalam Islam Etika sebagai praktis berarti : nilai-nilai dan norma-norma moral sejauh dipraktikan atau justru tidak dipraktikan. bagaimana memproduksi (how). individu Dengan demikian masalah barang apa yang harus diproduksi (what). walaupun seharusnya dipraktikkan.proses – out put – out come 7. Apa yang mendasari para pengambil keputusan yang berperan untuk pengambilan keputusan yang tak pantas dalam bekerja? Para manajer menunjuk pada tingkah laku dari atasan-atasan mereka dan sifat alami kebijakan organisasi mengenai pelanggaran . yang merupakan pertanyaan umum dalam teori produksi tentu saja merujuk pada motifasi-motifasi Islam dalam produksi. Secara filosofi etika memiliki arti yang luas sebagai pengkajian moralitas. Ketiga. serta cara berfikir yang dipakai untuk membenarkan pernyataan-pernyataan etika. yang berusaha menjelaskan mengapa manusia bertindak seperti yang mereka lakukan. Etika sebagai refleksi adalah pemikiran moral.4. dan apakah prinsipprinsip dari kehidupan manusia. Kedua. negara. dalam konteks ini secara normatif menjelaskan pengalaman moral secara deskriptif berusaha untuk mengetahui motivasi. Mengapa suatu produk diproduksi a) Alasan ekonomi b) Alasan kemanusiaan c) Alasan politik 5. kemauan dan tujuan sesuatu tindakan dalam tingkah laku manusia. Siapa yang memproduksi. berapa jumlahnya (how much). yang berusaha untuk memberikan arti istilah dan bahasa yang dipakai dalam pembicaraan etika. untuk siapa produksi tersebut (for whom). Dalam etika sebagai refleksi kita berfikir tentang apa yang dilakukan dan khususnya tentang apa yang harus dilakukan atau tidak boleh dilakukan. Metaetika mempertanyakan makna yang dikandung oleh istilah-istilah kesusilaan yang dipakai untuk membuat tanggapan-tanggapan kesusilaan. 6. kelompok masyarakat. metaetika ( metaethics).

etika atau moral. • • • • • Niat baik yang diikuti tindakan yang baik akan dihitung sebagai ibadah. bahkan dalam kenyataannya merupakan kekhasan yang bersifat menyeluruh yang tampak jelas pada segala sesuatu yang berlandaskan ajaran Islam. 7. Keputusan etis harus didasarkan pada pembacaan secara bersama-sama antara Al-Qur’an dan alam semesta. Karenanya kita berasumsi bahwa suatu organisasi etis. Islam mempergunakan pendekatan terbuka terhadap etika. Tetapi timbul pertanyaan: dapatkah suatu organisasi mendorong tingkah laku etis pada pihak manajerial-manajerial pembuat keputusan. bukan sebagai system yang tertutup. Islammemberikan kebebasan kepada individu untuk percaya dan bertindakberdasarkan apapun keinginannya. maka tampak secara jelas di hadapan kita empat nilai utama. buah. konsumsi. merasa terikat dan dapat mendirikan beberapa struktur yang memeriksa prosedur untuk mendorong oragnisasi ke arah etika dan moral bisnis. . Kemanusiaan dan Pertengahan. Niat yang halal tidak dapat mengubah tindakan yang haram menjadi halal. Keputusan yang menguntungkan kelompok mamyoritas ataupun minoritas secara langsung bersifat etis dalam dirinya. namun tidak dalam hal tanggungjawab keadilan. Jika kita berbicara tentang nilai dan akhlak dalam ekonomi dan mu’amalah Islam. dan distribusi.yaitu: Rabbaniyah (Ketuhanan). Percaya kepadaAllah SWT memberi individu kebebasan sepenuhnya dari hal apapun atau siapapun kecuali Allah. sirkulasi. Allah Maha Kuasa an mengetahui apapun niat kita sepenuhnya secara sempurna. Organisasi memiliki kode-kode sebagai alat etika perusahaan secara umum. dan dampak bagi seluruh segi ekonomi dan muamalah Islamiah di bidang harta berupa produksi. Egoisme tidak mendapat tempat dalam ajaran Islam. Raafik Isaa Beekun dalam bukunya yang berjudul Islamic Bussines Ethics menyebutkan paling tidak ada sejumlah parameter kunci system etika Islam yang dapat dirangkum sbb: • Berbagai tindakan ataupun keputusan disebut etis bergantung pada niat individu yang melakukannya. Akhlak. Nilai-nilai ini menggambarkan kekhasan (keunikan) yang utama bagi ekonomi Islam.etis bukanlah permainan mengenai jumlah. dan berorientasi diri sendiri. Makna dan nilai-nilai pokok yang empat ini memiliki cabang.

3. 2. dalam jangka pendek terdiri dari: a) Biaya tetap (fixed cost) dan biaya variabel (variable cost) b) Biaya total (total cost) terdiri dari total biaya tetap (total fixed cost) dan total biaya variabel (total variable cost) (TC) = TFC + TVC c) Biaya rata-rata (average cost) terdiri dari biaya tetap rata-rata (average fixed cost) dan . Fungsi Produksi dalam Islam Berikut ini beberapa asumsi dasar yang melandasi analisa fungsi produksi dalam pandangan konvensional. Islam mendorong umat manusia untuk melaksanakan tazkiyah melalui partisipasi aktif dalam kehidupan ini. Dengan berprilaku secara etis di tengah godaan ujian dunia.Tidak seperti sistem etika yang diyakini banyak agama lain. Sehingga dengan asumsi ini output setiap perusahaan merupakan bagian kecil dari keseluruhan output yang dibutuhkan oleh pasar. 8. Setiap perusahaan bebas keluar-masuk dalam industri (free entry-exit). Biaya implisit: biaya yang diakui tanpa mengeluarkan uang kas secara nyata. dibutuhkan modal atau biaya. kaum muslim harus mampu membuktikan ketaatannya kepada Allah SWT. Misalnya memelihara taman depan rumah sehingga asri (mengkombinasikan mesin. contohnya penyusutan dan opportunity cost. yaitu: 1. Secara umum biaya dikelompokkan menjadi dua bagian: 1. Biaya (Cost) Dalam kegiatan produksi. Dengan demikian maka bahasan utama dalam ekonomi konvensional adalah kegiatan produksi yang dilakukan oleh perusahaan atau suatu organisasi dengan bentuk badan hukum tertentu yang bertujuan mencari keuntungan. Implikasi dari asumsi ini adalah adanya tarikan yang kuat pada industri yang memiliki tingkat keuntungan yang tinggi. tanah dan keahlian) juga termasuk kegiatan produksi (dilakukan oleh rumah tangga). Biaya eksplisit: biaya yang dengan jelas mengeluarkan uang kas. Kondisi pasar yang eksis dalam industri adalah pasar persaingan sempurna. tenaga kerja. Kegiatan produksi tidak hanya dilakukan terbatas oleh perusahaan saja. 2.

Semakin jauh isoquant dari titik origin semakin besar jumlah output yang dihasilkan dan semakin banyak jumlah input yang digunakan. Perusahaan dapat memilih kombinasi penggunaan input sesuai dengan skala produksi yang diharapkannya. Kombinasi dua jenis faktor produksi yang memberikan tingkat hasil yang sama ditunjukkan dalam kurva isoquant. Dalam hal penambahan faktor input produksi maka implikasi dari hal tersebut adalah perubahan dari output produksi sebagai variabel dependen produksi. yaitu: 1. Skala hasil yang menurun (decreasing return to scale): kenaikan output memiliki proporsi yang lebih kecil dibandingkan dengan penambahan input.L) yang menunjukkan jumlah maksimum barang yang dapat diproduksi dengan menggunakan berbagai alternatif kombinasi input modal (K) dan tenaga kerja (L). Pendapatan (revenue) dapat dinotasikan dengan: TR = Pd x Q Dalam kaitannya dengan penghitungan keuntungan maka diperlukan nilai marginal (tambahan satu unit) dari pendapatan yaitu marginal revenue (MR) MR = TR’ . Skala hasil yang meningkat (increasing return to scale): kenaikan output memiliki proporsi yang lebih besar dibandingkan dengan penambahan input. Sumbu vertikal adalah modal yang direpresentasikan dengan mesin (per jam) dengan sumbu horizontal tenaga kerja (per jam). Pendapatan (Revenue) Salah satu parameter keberhasilan dalam berproduksi adalah jumlah pendapatan (revenue) yang didapatkan dari kegiatan produksi. Skala hasil yang tetap (constant return to scale): kenaikan output memiliki proporsi yang sama dengan penambahan input.biaya variabel rata-rata (average variable cost) ATC/AC = AFC + AVC ATC/TC=TC/Q=TFC/Q=TVC/Q a) Biaya marginal. 2. biaya tambahan dari satu unit output yang dihasilkan yang direpresentasikan dari turunan pertama biaya total Untuk memproduksi suatu barang (q) dapat diformulasikan q = f(K. 3. Dalam produksi jangka panjang seluruh faktor produksi seluruhnya bersifat variabel atau dengan kata lain tidak terdapat lagi biaya tetap seperti halnya produksi dalam jangka pendek. Ada tiga fenomena yang biasanya muncul akibat penambahan faktor produksi yang berkaitan dengan ouput produksi.

MR = Δ TR / ΔQ Berdasarkan asumsi pasar dalam keadaan sempurna maka kurva umum dari MR adalah garis horizontal yang nilainya sama dengan permintaan (D). Hanya biaya variabel saja yang diperhitungkan atau quasi rent. Beberapa pandangan para ulama mengenai komponen biaya dalam hal ini antara lain: 1. Masa kepemilikan (haul) lebih dari 1 tahun Objek zakat perniagaan adalah profit (revenue minus cost). Biaya tetap diperhitungkan sehingga yang menjadi objek zakat adalah economic rent 2. Pada kurva MC zakat perniagaan juga tidak memberikan pengaruh sehingga kurva penawaran tidak akan berubah. Turunnya laba atau keuntungan 2. yang berarti tidak pula berpengaruh terhadap laba yang dihasilkan. Keuntungan (Profit) Dengan berdasarkan ke tiga asumsi produksi konvensional maka tujuan utama perusahaan dalam industri dapat dinotasikan dengan: Profit = Total Revenue – Total Production Cost Dalam pandangan Islam profit bukanlah satu-satunya dan tujuan utama dalam berproduksi (telah dijelaskan diatas). Turunnya tingkat laba maksimum 3. 2. Berdasarkan pandangan yang manapun. pendapatan rata-rata (AR) dan harga (P). zakat perniagaan sama sekali tidak memberikan pengaruh terhadap ATC.5% yang diwajibkan bagi penjualan yang telah memenuhi dua kriteria: 1. Batas minimal (nisab) setara dengan 96 gram emas 2. Biaya Eksternal . antara lain mempertimbangkan hal-hal berikut: 1. Zakat Perniagaan Tingkat rate nya 2. Berkurangnya jumlah barang yang diproduksi. Begitu pula fungsi profit menurut Islam yang muatannya berbeda dengan pandangan konvensional. Di sisi lain pajak penjualan yang umumnya dibebankan dalam penjualan justru akan berpengaruh terhadap: 1.

Sehubungan dengan prinsip tersebut maka biaya eksternalitas yang buruk dalam Islam adalah biaya internalitas yang merupakan tanggung jawab produsen sepenuhnya. Sehingga di dapatlah fungsi keuntungan dalam Islam sebagai berikut: Profit – Zakat= Total Revenue – Total Cost (Production Cost* + External Cost) . Tindakan tersebut dalam Islam adalah zhalim dan tidak adil. pandangan adil dalam Islam diterjemahkan menjadi: a) Dilarang melakukan mafsadah b) Dilarang melakukan ghoror c) Dilarang melakukan maisir d) Dilarang melakukan transaksi riba Dengan demikian menimbulkan biaya eksternalitas yang buruk bagi masyarakat sama halnya melanggar prinsip adil yang pertama dalam Islam. Contoh dari biaya eksternal adalah biaya penyaringan limbah atau daur ulang buangan pabrik yang mengakibatkan biaya kesehatan tambahan bagi masyarakat sekitar atau biaya hilangnya lingkungan yang bersih yang menjadi hak masyarakat.Dalam konvensional berdasarkan asumsi maksimalisasi keuntungan yang hendak dicapai mendorong produsen melimpahkan sebagian biaya yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak lain yang disebut biaya eksternal.

Beberapa implikasi mendasar bagi kegiatan produksi dan perekonomian secara keseluruhan. begitu pula sebaliknya. Kesimpulan Kegiatan produksi merupakan mata rantai dari konsumsi dan distribusi. mampu melaksanakan proses produksi yang sesuai tuntunan dan syari`at Islam dalam berbagai aspek kegiatan produksi. oleh karena itu diharapkan sebagai umat muslim yang memiliki pedoman yang bukan hanya mengacu pada duniawi tetapi juga ukhrawi. kegiatan produksi harus memperhatikan aspek sosialkemasyarakatan. Kritik dan Saran Dalam pelaksanaannya. teori produksi konvensional lebih mengacu pada keuntungan materialisme atau duniawi. . Untuk mengahasilkan barang dan jasa kegiatan produksi melibatkan banyak faktor produksi. Tanpa produksi maka kegiatan ekonomi akan berhenti.BAB III PENUTUP 1. Kegiatan produksilah yang menghasikan barang dan jasa. antara lain : Seluruh kegiatan produksi terikat pada tataran nilai moral dan teknikal yang Islami. kemudian dikonsumsi oleh para konsumen. 2. permasalahan ekonomi muncul bukan saja karena kelangkaan tetapi lebih kompleks.

PT Raja Grafindo Persada. Jakarta Khatimah Husnul. 2008. Kafe Syariah.com/2008/10/04/etikaproduksidalam-islam Adiwarman Karim. http://agustianto. Teori Produksi Islam. Ekonomi Islam Analisis Mikro dan Makro. 2007.Etika Produksi Dalam Islam. Graha Ilmu. Ekonomi Mikro Islami.com Agustianto.google.DAFTAR PUSTAKA www. Abdul. Yogyakarta .niriah.net Azis.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful