Sastra Anak D I S U S U N Oleh : 1. Reza Handi Zakrin (06101413016) 2. Liska Aisyah (06101413027) 3. Shantya Aghnis Widya P (06101413033) 4. Devi Irma Andriani (06101413039) Dosen Pengasuh : 1) Drs. Umar Effendi, M.Pd 2) Bunda Harini, S.Pd FAKULTAS KEGURUAN dan ILMU PENDIDIKAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR UNIVERSITAS SRIWIJAYA 2012 - 2013 Pendahuluan Latar Belakang dan Tujuan Selama ini, guru-guru SD kita tidak begitu tertarik dengan pengajaran sastra dengan berbagai alasan dikemukakan. Ada yang beralasan bahwa dia tidak berbakat dengan bidang puisi, fiksi apalagi drama. Ada yang beralasan, pengajaran bahasa sudah demikian rumit dean ditambah lagi dengan pembelajaran sastra yang lebih rumit lagi. Mereka lebih senang mengajarkan IPA atau matematika yang terkadang lebih sulit lagi dibandingkan materi bahasa dan sastra. Ada juga guru yang menyenangi sastra tetapi kebanykan mereka kurang terampil dalam mencari model dan media yang tepat dalam mengajarkannya. Temuan ini tidak dapat dibiarkan terus menerus dan segera dicari pemecahannya. Padahal, malalui sastra perasaan anak dapat dikendalikan dan dicerahkan. Kata-kata yang terdapat di dalam puisi sering menyentuk pembaca atau pendengarnya dan dapat membuat orang itu terbuai. Di samping itu, irama yang digunakan dalam membaca puisi akan menambah pendengarnya menjadi bergairah dan terhibur. Anak perlu hiburan, pencerahan dan ketenangan. Sastra dapat membuat orang senang dan tenang. Karya sastra yang disajikan baik melalui proses belajar dan dipajangkan secara tidak langsung melalui media yang ada kepada anak didik. Hendaklah membawa manfaat bagi mereka. Manfaat ini tidak hanya daat dirasakan pada masa kini tetapi dapat berdampak jauh sehingga akan menjadi pemacu dan pemicu mereka mempersiapkan hidup untuk masa-masa mendatang. Lembaga pendidikan, khususnya Guru harus terpacu untuk mencari dan memilih karya sastra yang baik agar dapat memuaskan anak saat mereka sedang belajar di sekolah dan dampaknya agak luas. Yang jelas, karya sastra yang disuguhkan kepada anak didiknya akan bermanfaat dan membina dan mengembangkan kemampuan dan keterampilan berbahasa yang pada akhirnya anak gemar menyimak, membaca, berbicara dan menulis ; melakukan pembinaan dan pengembangan moral agar anak lebih berbudi ; melakukan pembinaan dan pengembangan etika dan estetika anak agar hati anak kita menjadi tenang dan cerah; melakukan pembinaan dan pengembangan social supaya anak hidup dalam masyarakat yang tentram dan penuh solider; dan tidak kalah pentingnya melalui suguhan karya sastra dapat membina dan mengembangkan kemampuan kognitif anak yang sangat berguna dalam mencetak manusia cerdas. Dalam bab ini dibahas satu persatu tentang manfaat sastra dalam; (1) pengembangan kebahasaan anak, (2) pengembangan moral anak, (3) pengembangan estetika anak, dan (4) peningkatan kognitif anak. Pembahasan Ada beberapa perkembangan anak yang akan dibahas dalam makalah ini, yaitu perkembangan bahasa, moral , estetika dan sosial . Masing-msing perkembangan dan peran cerita dalam perkembangan tersebut akan dibahas dalam uraian berikut. A. Pemanfaatan Sastra anak dalam Pengembangan Bahasa Anak Ada empat keterampilan berahasa yang dipreoritaskan untuk dibina dan dikembangkan oleh guru SD untuk anak didiknya sebagai bekal pentig yakni keterampilan menyimak atau mendengar, berbicara, membaca dan menulis. Bekal ini sudah dimanfaatkan selama menimba ilmu di SD. Dengan memiliki bekal menyimak yang baik, anak dapat menerima berbagai pesan lisan baik langsung dari guru atau melalui media elektronik seperti televisi atau radio. Dengan memiliki keterampilan membaca baik, siswa dapat menyerap ilmu yang dibacanya. Anak bisa berdiskusi, berpidato atau wawancara kalau keterampilan berbicaranya baik. Begitu juga anak dapat menulis dengan baik pula kalau keterampilan menulisnya baik pula. Setelah menamatkan sekolah dasar dan melanjutkan ke jenjang berikutnya , keterampilan menyimak, berbicara dan membaca dibutuhkan dan masih tetap penting. Pada zaman globalisasi sekarang ini, teknologi semakin berkembang dan jaringan komunikasi sudah menambah ke mana-mana mulai dari perkotaan sampaike pelosok-plosok desa. Kita harus tenang dan tetap waspada tetapi tidak boleh terlena agar kita tidak ketinggalan dan ikut dilanda dan menjadi korban kepesatan komunikasi ini namun harus ikut berada di dalamnya dan sekali gus menguasainya. Kita tidak boleh gatek atau gagap teknologi. Komunikasi saat ini sudah maju pesat dan terkadang tidak diimbangi oleh kemampuan penggunaannya, sehinggga kecepatan informasi lebih cepat dari denyut nadi kita. Salah satu unsur penting untuk menyerap komunikasi adalah bahasa. Semakin cerdas seseorang dalam menyimak informasi, semakin terampil orang berbicara, semakin rajin membaca dari berbagai ilmu dan semakin rajin kita menulis ide kedalam buku akan seakin cerdaslah orang itu. Media televisi dan internet telah menyelinap ke mana-mana mulai dari kota-kota besar sampai ke pelosok pedesaan. Canel televisi seperti parabola dan UHF telah menjamur dimana-mana. Di atap-atap rumah, di atas pematang sawah, di lereng-lereng gunung terpasang canel ini ibarat sebuah pepatah lama “ibarat sendawan besi tumbuh dimusim kdituntut dalam hal ini. emarau “. Canel-canel ini dapat merekam berbagai siaran baik siaran dalam negri maupun manca negara. Siaran-siaran ini sangat beragam, baik dari segi nama acaranya, waktunya maupun dari segi kemasannya. Terkadang, kemasan yang dipertontonkan oleh televisi dan internet tidak atau kurang sesuai dengan dengan budaya setempat yang agamis. Cerita-cerita sastra dapat ditonton setiap hari, setiap jam dan malahn setiap detik. Cerita drama atau sinetron film, sandi wara tradisional sering menghiasi layar televisi kita baik yang berasal dari indonesia maupun dari luar negri. Puisi-puisi sering diperdengarkan juga dilayar televisi yang tentu sasa sudah dikemas dengan menarik. Melalui televisi dan internet orang dapat mencari informasi apa saja dengan harga yang murah hampir terjangkau oleh siapa saja dan dimana saja. Di samping televisi dan internet, radio, kaset, CD telah tersebar di mana-mana. Kita dapat memperolehnya dengan mudah dan murah. Cerita-cerita anak sudah dikemas sedemikian rupa dalam kaset tape atau video. Para guru tidak perlu lagi mencari-car media karena semuanya sudah tersedia di pasar, medianya lebih menarik dan canggih. Tinggal, bagaimana guru memanfaatkan dan melibatkan anak. Kreatif dan aktifitas guru dan sangat dituntut dalam hal ini. Mengapa ruang guru dan kepala sekolah SD lebih indah dan dari ruang pustaka/ Buku-buku cerita sastra anak sudah menyebar kemana-mana. Toko-toko buku sdah semakin banyak dan judul yang disampaikan atau ditawarkan amat beragam. Perpustakaan umum dan sekolah sudah ada, menyebar dimana-mana dan dapat digunakan. Tinggal, apakah guru mau menfasilitasinya. Saat ini, di daerah tertentu, sudah ada pustaka mobil. Mobil pustaka ini menyebar di pasar-pasar. Mereka menggunakan istilah jemput bola dan tidak lagi mencari buku dan menunggu di ruang pustaka yang relatif pengap. Jarang pustaka sekolah dikemas seperti ruang kepala sekolahnya yang lebih menarik, nyaman dan sejuk. Sedang ruang pustaka sangat tidak menarik untuk dilihat apalagi untu dimasuki. Padahal, kalau ditanya mereka akan menjawab bahwa perpustakaan sekolah sangat penting. Sistem guru kelas yang diterapkan pada saat ini sangat terbantu dengan adanya perpustakaan sekolah. Pada saat ini kepala sekolah termasuk guru-guru belum menggap pustaka sebagai sebagai sarana penting dan seharusnya ditata lebih baik. Ruang pustaka harus lebih nyaman dari ruang kelas apalagi ruang kepala sekolah. Kepala sekolah dan guru adalah pendidik, pengajar dan sekaligus pekerja, dan pengabdi siswa. Seharusnya, siswa lebih terhormat dan seharusnya lebih dihormati. Di pustaka, ilmu menyebar dimana-mana dan dalam berbagai disiplin termasuk buku sastra. Apakah keberagaman kecerdasan dan gaya anak belajar akan menghambat kegemaran anak dalam menyimak, berbicara, membaca dan menulis karya sastra? Sarana yang lengkap `yang diberikan sekolah dan kemajuan teknologi belum menjamin guru merasa tertarik untuk menggerakkan hati siswa dalam menggemari kegiatan menyimak, berbicara, membaca dan menulis sastra. Siswa perlu motivasi yang banyak dan berulang-ulang dari guru agar menggemari menyimak, berbicara, membaca dan menulis karya sastra. Guru sering beralasan bahwa mata pelajaran yang harus diajarkan terlalu banyak karena kebijakan guru kelas, gaji belum mencukupi dan perbedaan kecerdasan anak di dalam kelas. Alasan kebijakan dan gaji guru tidaklah menjadi alasan dan pemerintah memperhatikan itu. Benar apa yang menjadi keluhan guru tentang keterbatasan kecerdasan. Seperti dikatakan Gardner s dikutip Burn, dkk. (1997:640) menyatakan bahwa siswa yang berada dalam kelas memiliki tingkat dan ragam kecerdasan yang berbeda-beda seperti ada yang cerdas bahasa, ada yang cerda sains dan matematika, ada yang cerdas spatial, ada yang cerdas musik, ada yang cerdas olah tubuh, ada yang cerdas emosi, dan ada juga yang cerdas diplomasi dan setiap orang hanya bisa mengembangkan satu atau lebih kecerdasan dengan maksimal. Belum lagi cara anak menerima atau menyerap ilmu juga dengan cara yang berbeda-beda seperti ada yang audial atau setelah menyimak dia mengerti atau visual atau setelah melihat sesuatu baru menyerap dan ada yang kinesteik baru mengerti setelah dia memegang barang atau bendanya. Belum lagi keterbedaan jenis kelamin, umur, sosial, ekonomi, agama dan budaya yang berbeda sering menimbulkan keterbedaan pula. Scarr dikutip Borich (1992:56) menjelaskan bahwa ada dua faktor penyumbang kecerdasan anak belajar di sekolah yakni IQ 35% dan kompetensi sosial 75%. Kompetensi sosial meliputi motivasi, kesehatan, keterampilan sosial, kualitas pengajaran, pengetahuan latar, emosional yang baik dan dukungan keluarga. Pendapat piaget tentang perkembangan bahasa anak, Gardner dan Scarr tentang inteligensi dan Vygotsky tentang ZPD menunjukkan bahwa pengetahuan bahasa anak bisa berkembang melalui cara-cara tertentu. Pada saat itulah guru memberikan berbagai tugas bacaan sastra baik puisi, prosa atau drama, melalui bacaan ini kosakata anak akan bertambah. Bertambahnya kosakata anak akan menambah kecerdasan anak seperti yang disampaikan Scarr bahwa pengetahuan latar atau skemata dapat menyumbang kecerdasan anak. Pendapat Gardner menyatakan bahwa anak sudah memiliki tujuh kecerdasan yang dapat ditumbuh kembangkan termasuk kecerdasan bahasa. Kecerdasan ini tidak berarti apa-apa kalau anak tidak memiliki kosakata yang mencukupi untuk mencukupi perbendaharaan pembicaraan. Berapa jumlah kosakata anak setelah menyelesaikan SD? Herman dan Anderson dikutip Cox (1997:14) menyatakan bahwa kosakata anak SD dapat mencapaik 3000/tahun. Smith dikutip Cox (1997:13) menyatakan bahwa pembaca dewasa harus menguasai 50.000 kosakata dan Geldia dikutip Cox (1997:14) menyatakan bahwa tamatan SMA harus menguasai 80.000 kosakata dan lulusan perguruan tinggi 156.000 kosakata. Pendapat ini menunjukkan tanpa perbendaharaan kosakata yang mencukupi untuk berbagai disiplin seseorang tidak begitu cerdas dan sulit berbuat sesuatu. Jadi guru-guru harus dapat menyiapkan media yang beragam dengan model pembelajaran yang beragam agar kosakata anak dapat meningkat dari waktu kewaktu. Perpustakaan sekolah perlu diperankan, kualitas dan kuantitas buku perlu diperhatikan dan ruang pustaka haru kondusif. Kalu dihitung rata-rata 3.000 kosakata/tahun berarti kosakata anak mencapai 18.000. Seandainya, sebelum siswa memasuki sekolah anak sudah memiliki 2.000 kosakata maka setelah menyelesaikan SD kosakata anak mencapai 20.000. Dengan modal 20.000 kata memudahkan anak mengikuti pelajaran di SMP. Keempat keterampilan berbahasa diajarkan secara terpadu dan jangan dipisahkan. Keempat keterampilan berbahasa ini ibarat dua sisi mata uang yang bersebelahan antara satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan. Saat kita menyimak tentu ada orang lain yang menulis simakan kita,hasil tulisan itu dibaca dan setelah itu selalu dibicarakan dan begitulah terus menerus, untuk mempercepat anak menguasai 18.000 kata. Kita dapat menggunakan pendekatan Whole Language dalam pembelajaran. Goodman dikutip Santoso (2008:23) menjelaskan ciri-ciri kelas Whole Language yakni (1) Kelas penuh dengan barang cetak, (2) Guru dan siswa sebagai model belajar, (3) Belajar sesuai dengan tingkat kemampuan masingmasing, (4) Siswa belajar untuk berbagi tanggung jawab, (5) Siswa terlibat secara aktif, (6) Siswa berani mengambil resiko, dan (7) Ada refleksi atau balikan. Bahasa menjadi sarana penting untuk berkomunikasi. Dalam perkembangan anak, perkembangan bahasa tidak bisa dilepaskan dari perkembangan bicara. Menurut Hurlock (2000:185), ada tiga hal penting yang saling berhubungan dalam perkembangan bicara ini, yaitu pengucapan¸pengembangan kosa kata, dan pengembangan kalimat. Bagaimana cerita dapat mengembangkan aspek bahasa anak? Cerita juga dapat mengembangkan kemampuan berbahasa, yaitu melalui perbendaharaan kosa kata yang sering didengarnya. Semakin banyak kosa kata yang dikenalnya, semakin banyak juga konsep tentang sesuatu yang dikenalnya. Selain melalui kosa kata, kemampuan berbahasa ini juga dapat diasah melalui ketepatan berbahasa sesuai dengan suasana emosi, yaitu bagaimana berbahasa ketika suasana sedih, mengharukan, membahgiakan, dan sebagainya. Lebih dari itu, kemampuan berbahasa secara baik dan benar akan diperoleh anak jika si pencerita mampu bercerita dengan menggunakan bahasa yang baik dan benar juga. Selain peran-peran tersebut, cerita juga memiliki manfaat untuk melatih konsentrasi anak. Cerita dapat menjadi terapi bagi lemahnya konsentrasi anak. Melalui aktivitas bercerita, anak terbiasa untuk mendengar, menyimak mimik dan gerak si pencerita, atau memberi komentar di sela-sela bercerita. Sebagai sarana melatih konsentrasi, hal ini juga harus diimbangi oleh kemampuan si pencerita dalam menghidupkan cerita. Selain dengan cerita yang menarik dan penampilan yang ekspresif, si pencerita juga dapat melibatkan anak dalam aktivitas berceritanya, misalnya dengan memberi pertanyaan, berteriak, menirukan suara binatang, atau menirukan gerak. Jika hal ini sering dilakukan maka lambat laun konsentrasi anak pun menjadi terbentuk lebih stabil. Dari uraian di atas tampaklah peran cerita dalam perkembangan anak. Peran-peran itu dapat dieksplorasi lagi sehingga kekayaan peran cerita dalam kehidupan anak akan lebih tergali lagi. B . Pemanfaatan Sastra Anak dalam Pengembangan Moral Anak Anak seusisa SD atau usia 6 – 11 tahun belum tergolong manusia terkena dosa karena pembatasan pembatasan umur yang di tetapkan belum tergolong dewasa usia dewasa. Secara agama , kedewasaan ditentukan dengan ciri – ciri tertentu yang kalau wanita menstruasi umur mencapai lebih kurang 12 bagi yang subur bisa sebelum itu dan kalau laki – laki mendapat mimpi yang mengeluarkan air mani dan biasanya terjadi pada usia lebih kurang 13 tahun. Bagi seorang warga negara ukuran moral tidak tergantung dewasa atau tidak. Banyak anak masuk penjara karena dianggap melanggar aturan atau hukum. Negara kita negara hukum jadi, siapa pun yang bersalah harus dihukum biarpun dia masih anak kecil. John Lock dan beberapa ahli ilmu jiwa anak berpendapat bahwa anak yang baru lahir ibarat seperti kertas putih. Pendapat ini menunjukkan bahwa moral baik dan buruk anak tidak dibawa sejak lahir tapi diserapnya setelah dia bersentuhan dengan lingkungan. Lingkunganlah yang membentuk anak itu bermoral baik dan buruk. Lingkungan yang di maksud disini adalah sekolah , rumah atau masyarakat. Pajangan yang mereka lihat dari berbagai media cetak , televisi , atau melihat langsung kejadian akan berpengaruh besar terhadap perkembangan moral anak. Anak perlu bimbingan dari berbagai pihak agar anak tidak melakukan perbuatan yang melanggar moral. Setiap agama memiliki aturan yang ketat yang hampir kurang lebih sama seperti tidak boleh berjudi , tidak boleh berzina , tidak boleh mencuri , tidak boleh minum – minuman keras , tidak boleh berbohong , menipu dan sebagainya. Setiap agam memilki cara – cara yang baik yang harus dapat diikuti umatnya dan dijanjikan tempat yang sangat baik apabila kelak yakni surga. Kebalikan yang berbuat jahat adalah neraka. Setiap orang tahu tentang neraka dan surga tetapi setiap orang pula sering melupakan itu. Untuk menanamkan pendidikan moral pada anak, menurut Hurlock (1998:75-78) ada empat hal yang harus diperhatikan, yaitu : (1) peran hukum, kebiasaan, dan peraturan, (2) peran hati nurani, (3) peran rasa bersalah dan rasa malu, dan (4) peran interaksi sosial. Pemahaman anak atas hukum, kebiasaan, dan peraturan akan membantunya memahami aturan bermoral dalam lingkungan sosial. Hati nurani bagi anak berperan untuk mengetahui yang benar dan yang salah. Rasa bersalah berperan sebagai evaluasi diri yang bersifat negatif yang yang terjadi pada anak yang perilakunya berbeda dengan nilai moral yang wajib dipenuhi. Rasa malu berperan sebagai pengendali jika anak mendapatkan penilaian negatif karena perilakunya. Dengan interaksi sosial, pemahaman atas nilai moral ini semakin meningkat. Penanaman nilai moral pada anak dapat dilakukan dengan penanaman disiplin. Disiplin ini diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan kelompok sosial. Menurut Hurlock (1998:84) ada empat unsur pokok dalam penanaman disiplin ini, yaitu peraturan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam cara yang digunakan untuk mengajarkannya dan memaksanya, hukuman untuk pelanggaran peraturan, dan penghargaan untuk perilaku yang baik. Bagaimana cerita dapat mengembangkan aspek moral? Cerita memiliki peluang yang sangat besar untuk menanamkan moralitas pada anak. Pesan-pesan yang kental tentang penanaman disiplin, kepekaan terhadap kesalahan, kepekaan untuk meminta maaf dan memaafkan, kepekaan untuk menghormati yang tua dan menyayangi yang muda, dan sebagainya dapat dititipkan melalui para tokoh cerita. Penanaman moralitas melalui cerita dianggap efektif karena cara ini berjalan dengan sangat alami tanpa anak merasa digurui. Contohnya , malin kundang legenda dari Sumatra Barat nilai moral dimana tokoh malin kundang yang tidak mengakui ibunya yang miskin sedangkan dia sudah menjadi juragan dan memiliki istri yang cantik. Sikap malin kundang yang durhaka ini menyebabkan ibunya berang dan malin kundang dikutuknya menjadi batu. Melalui cerita – cerita atau puisi ini akan membawa kesan tersendiri dan mendalam bagi anak yang pada dasarnya sudah baik. Cerita – cerita tentang keagamaan akan banyak merubah moral anak dari keadaan yang tidak baik dan baik. Anak – anak tidak semuanya beruntung dalam sosial ekonomi tetapi moral baik atau tidak baik tidak banyak tergantung pada lingkungan saja tetapi pada anak itu sendiri. Setiap hari dia dipajankan dengan sesuatu yang baik akan membawa dampak yang baik. Apabila disuguhkan atau pajankan pada anak dengan cerita yang tidak baik, lambat laun dia akan terpengaruh dan malahan dia mengikutinya. Kata kunci untuk kebaikan adalah kalau berkata – kata selalu benar, apabila berjanji tidak ingkar, kalau di beri kepercayaan tidak pernah berlaku curang, dan selalu sabar apabila mendapat cobaan. Pantun berikut menanamkan moral untuk bekerja keras, Berakit – rakit dahulu Berenang –renang ke tepian Bersakit-sakit dahulu Bersenang – senang kemudian Secara gamblang anak akan tahu makna yang terkandung di dalamnya dan seketika itu juga dia menyadari bahwa kerja keras itu penting. Tanpa kerja keras sita – sita yang telah kita buat akan menjadi kandas seperti pantun berikut : Berburu ke padang ajar Mendapat rusa belang kaki Berguru kepalang ajar Bagai bunga kembang tak jadi C. Pemanfaatan Sastra Anak dalam Pengembangan Estetika Anak Estetika diartikan sebagai suatu cabang filsafat yang memperhatika atau berhubungan dengan gejala yang indah pada alam dan seni. Sebagian orang beranggapan bahwa estetika identik dengan keindahan. Baumagarten di kutip Sukarya (2010 : 1.3.1)menyatakan bahwa kata estetika berasal dari kata aisthetika berarti penerapan indra atau sense of percertion. Tidak kalah menariknya apabila kita melihat keadaan manusia itu sendiri. Setiap negara, suku memiliki bentuk, rupa yang beragam tetapi namanya tetap manusia. Penciptaan manusia oleh Tuhan tetap misterius walau sudah ada bayangan kasarnya tetapi tetap dalam samar. Membicarakan asal muasal manusia sudah agak kabur dan samar apalagi membahas penciptaannya , mesti lebih kabur dan samar lagi. Semua manusia sepakat dan yakin bahwa manusia telah diciptakan bukan tercipta sendiri. Anak adalah sosok manusia yang kecil yang penciptaanya sangat sempurna. Anak memiliki panca indra seperti sepasang telinga untuk mendengar, sepasang mata untuk melihat, satu hidung untuk mencium , kulit untuk merasa dan lidah untuk mencicip. Kerangka tubuh yang terbentuk sangat serasi mulai dari kepala badan yang memiliki berbagai komponen termasuk otak untuk berfikir dan merasa. Badan yang memiliki berbagai komponen yang salah satunya hati untuk berkata hati. Keajaiban , kesempurnaan dan keindahan tubuh manusia ini selalu menjadi perbincangan pengamat sosial , ekonomi dan seni. Keindahan yang terpancar lewat lekuk tubuh manusia memiliki nilai seni dan jual yang tinggi. Prilaku ditunjukkan manusia seperti perasaan gembira , sedih , cemburu , cinta , culas , munafik , bohong , berbudi , perkasa. Karya sastra ini terkadang amat berpengaruh pada daya estetika anak seusia SD. Imajinasi mereka ikut terbentuk dengan sendirinya setelah membaca atau menonton sebuah karya sastra yang disenanginya. Imajinasi ini sering membawa seorang kreatif dan menghasilkan sesuatu yang lain dan terkadang lebih bagus dari sumber inspirasinya. Ada juga yang ikut terjun dan membaur kedalamnya seperti menyanyi , puitis. Malahan tingkah laku tokoh dalam cerita sering ditiru dengan baiknya oleh anak. D. Pemanfaatan Sastra Anak dalam Pengembangan sosial Anak Hurlock dikutip Mustakim (2005 :164) menyatakan perkembangan sosial ada 4 faktor untuk menjadi pribadi yang dapat bermasyarakat : 1. Kesempatan penuh untuk bersosialisasi dengan orang lain tidak akan terlaksana apabila sebagian besar waktu untuk diri sendiri, 2. Dalam keadaan bersama – sama , anak – anak tidak hanya harus mampu berkomunikasi dengan kata – kata yang harus dimengerti orang lain. 3. Anak akan belajar sosialisasi bila mereka mempunyai motivasi untuk melakukan hubungan 4. Metode belajar yang efektif dengan bimbingan adalah penting. Anak-anak mengembangkan aktivitas sosialnya melalui pergaulan atau hubungan sosial, baik dengan orang tua, anggota keluarga, dan teman bermainnya. Menurut Hurlock (1998:81), perilaku sosial anak-anak dapat dikategorikan menjadi dua pola yaitu pola perilaku sosial dan tidak social. Perilaku sosial tersebut adalah meniru, persaingan, kerja sama, simpati, empati, dukungan social dari teman-temannya, dan berbagi. Perilaku tidak sosial tersebut adalah negativisme, agresif, perilaku berkuasa, memikirkan diri sendiri, mementingkan diri sendiri, merusak, dan pertentangan seks. Seiring dengan bertambahnya usia, kecenderungan terhadap pola-pola itu akan mengalami perubahan. Dalam kehidupan sosialnya, kemampuan sosialisasi anak akan selalu meningkat. Sroufe dkk. (1996:461-464) berpendapat bahwa seiring dengan meluasnya hubungan sosialnya, anak akan memiliki teman yang lebih banyak. Dengan teman yang banyak tersebut, anak mulai mengerti loyalitas dan pengertian, mulai mengerti bahwa teman bisa memberikan dukungan (support), mulai mengerti arti saling membantu dan berbagi, serta mulai mengerti adanya konflik dalam persahabatan dan adanya pendukung yang akan memperkuat persahabatan. Pemahaman perkembangan sosial dari dari kehidupan berkeluarga , sekolahdan masyarakat harus dimiliki anak dalam masa pertumbuhan dan perkembangan. Dalam lingkungan keluarga, orang tua perlu menanamka sikap sosial sebagaimana kodrat manusia yang membutuhkan interaksi dengan mahluk sosial lain. Kehidupan sosial dapat dilatih dengan menyayangi mahluk lain seperti puisi berikut . Hamsterku Hamsterku Kau sangatlah lucu Ku sayang padamu Hamsterku Apa kamu sayang padaku Apa pun jawabanmu Ku tetap sayang padamu Hamsterku Bulumu lembut Wajahmu lucu Ku suka bermain denganmu Hamsterku Maafkan aku Terkadang lupa padamu Terkadang kulupa memberimu makan Hamsterku Kini kau telah tiada Semoga Tuhan mengijinkan kita Untuk bertemu di sana Hamsterku Ku tak akan lupa padamu Ku tahu kau hanyalah seekor hamster Tapi ku tak melupakanu Terkait dengan hal ini , banyak cerita sastra yang membicarakan kehidupan sosial yang dapat dijadikan contoh. Laskar pelangi telah menyiratkan adanya hubungan sosial yang baik yang ditunjukkan warga pribumi di Belitung saat ini. Di samping itu, adanya hubungan cinta antara penduduk lokal dengan warga pribumi menendakan hubungan sosial sangat terjaga. Bagaimana cerita dapat mengembangkan aspek sosial anak? Cerita tidak mungkin dibangun hanya oleh satu tokoh. Munculnya berbagai tokoh dalam cerita mencerminkan kebersamaan dalam kehidupan sosial. Dalam cerita anak, tokohtokoh itu saling berkomunikasi dan bersosialisasi satu sama lain. Berbagai karakter dan berbagai reaksi yang muncul pada tokoh-tokoh cerita tersebut dapat dipelajari oleh anak, apalagi sebuah cerita pasti mengandung pesan-pesan yang dalam. Sebagai contoh, munculnya tokoh yang miskin dan penuh penderitaan akan memunculkan reaksi dari tokoh yang lain dalam bentuk pertolongan dan rasa simpati. Jika hal ini diulang-terus menerus dalam berbagai variasi cerita, maka anak akan belajar memunculkan empati sosial di dalam dirinya. Bukan hanya empati sosial, melalui cerita anak juga dapat belajar bekerja sama dengan teman-temannya, belajar percaya pada orang-orang di sekitarnya, mampu berkomunikasi dengan baik dengan orang lain, dan sebagainya. Banyak aspek sosial lain yang bisa ditanamkan kepada anak melalui cerita. Penutup Kesimpulan Karya sastra yang disajikan baik melalui proses belajar maupun pajangan secara tidak langsung melalui media yang ada kepada anak didik. Hendaklah membawa manfaat bagi mereka , manfaat ini tidak hanya dapat dirasakan saat ini melainkan juga dapat berdampak jauh sehingga akan menjadi pemacu dan pemicu mereka untuk kehidupan di masa yang akan datang. Memlalui cerita – cerita maupun puisi akan membawa kesan tersendiri dan mendalam bagi anak yang pada dasarnya sudah baik. Dengan memasukkan unsur moral , bahasa , estetika , dan sosial.
Sign up to vote on this title
UsefulNot useful