P. 1
Konsep Penghasilan Global

Konsep Penghasilan Global

|Views: 299|Likes:
Published by Nadya Kartika
World Wide Income
World Wide Income

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Nadya Kartika on Apr 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/09/2015

pdf

text

original

Konsep Penghasilan Global (World Wide Income Concept) Sesuai dengan prinsip sovereignty, suatu negara memiliki kewenangan

yang luas untuk menentukan cakupan pemajakan terhadap penghasilan yang diperoleh atau diterima oleh penduduknya (resident taxpayer). Cakupan pemajakan atas seluruh penghasilan baik yang berasal dari dalam negeri (on shore income) dan luar negeri (off shore income) yang diperoleh atau diterima penduduknya disebut sebagai pemajakan atas penghasilan global (world wide income). Sebaliknya apabila cakupan pemajakan dibatasi hanya atas penghasilan yang bersumber dari Negara tersebut disebut sebagai pemajakan atas penghasilan domestic (territorial income). Sesuai dengan ketentuan peraturan PPh, terhadap penghasilan WP dalam negeri dikenakan pemajakan atas penghasilan global dan sebaliknya terhadap WP luar negeri dikenakan pemajakan atas penghasilan domestik. Saat ini perpajakan di Indonesia kurang lebih menganut sistem perpajakan dari negara-negara yang sudah berhasil menggunakan sistem pajaknya untuk menyejahterahkan negaranaya. Maka kali ini saya akan membahas tentang suatu aspek perpajakan internasional dalam undang-undang pajak penghasilan di Indonesia. Langsung saja kita bahas. Salah satu jenis pajak yang berlaku di Indonesia dan memiliki peranan penting dalam penerimaan negara adalah Pajak Penghasilan (PPh) yang pertama kali diberlakukan pada tahun 1984 berdasarkan Undang-undang Nomor 7 Tahun 1983. Pajak Penghasilan adalah pajak subjektif di mana jenis pajak ini bisa dikenakan apabila syarat subjektif dan objektif terpenuhi bagi orang atau badan. Pada umumnya hampir semua orang atau badan di Indonesia akan memenihi syarat subjektif dan jika orang atau badan ini memperoleh penghasilan maka syarat objektif juga terpenuhi. Jika subjek pajak yang dikenakan PPh adalah WNI yang penghasilannya berasal dari Indonesia juga, maka tidak ada aspek pajak internasional dalam kasus ini. Namun demikian, karena definisi subjek pajak tidak dikaitkan dengan kewarganegaraan maka terdapat kemungkinan ada warga Negara asing atau badan asing yang dikenakan kewajiban Pajak Penghasilan di Indonesia. Dalam kasus seperti ini, Pajak Penghasilan sudah menyentuh aspek pajak internasional. Aspek pajak internasional juga akan terjadi bila seorang WNI atau badan Indonesia menerima atau memperoleh penghasilan dari luar negeri. Hal ini disebabkan karena Pajak Penghasilan Indonesia menerapkan prinsip worldwide income sehingga penghasilan dari luar negeri di atas juga merupakan objek Pajak Penghasilan Indonesia. Dalam paragra-paragraf berikut saya coba untuk menjelaskan ketentuan-ketentuan dalam Undang-undang Pajak Penghasilan (UU Nomor 7 Tahun 1983 sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU Nomor 36 Tahun 2008).

Subjek Pajak Luar Negeri

Kedua kelompok di atas (SPLN Orang Pribadi dan SPLN Badan) baru bias disebut SPLN jika memdapatkan penghasilan yang bersumber dari Indonesia. peternakan. Nah. bengkel. orang atau badan yang bertindak selaku agen yang kedudukannya tidak bebas. sepanjang dilakukan lebih dari 60 (enam puluh) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. SPLN ini terbagi menjadi dua jenis. tidak berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. wilayah kerja pertambangan minyak dan gas bumi. Tempat usaha tersebut bersifat permanen dan digunakan untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan dari orang pribadi yang tidak bertempat tinggal atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. atau kehutanan. proyek konstruksi. gudang dan komputer atau agen elektronik atau peralatan otomatis (automated equipment) yang dimiliki. atau proyek perakitan. gedung kantor. kantor perwakilan. Kedua bentuk SPLN ini selanjutnya disebut SPLN BUT dan SPLN Non BUT. Sementara itu SPDN Badan adalah badan yang didirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan aktivitas usaha melalui internet. Perwujudan BUT dapat berupa tempat kedudukan manajemen.Dalam pengenaan Pajak Penghasilan. dan suatu tahun pajak tidak berada di Indonesia dan tidak mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. cabang. disewa. SPLN adalah kebalikan dari SPDN dalam arti orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di Indonesia. pertambangan dan penggalian sumber alam. orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 (seratus delapan puluh tiga) hari dalam jangka waktu 12 (dua belas) bulan. gudang. SPLN yang berbentuk badan adalah badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia. Kedua. Bentuk Usaha Tetap Bentuk usaha tetap (BUT) adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh SPLN (baik orang pribdai atau badan) untuk menjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia. ruang untuk promosi dan penjualan. pemberian jasa dalam bentuk apa pun oleh pegawai atau orang lain. perikanan. SPDN terdiri dari SPDN Orang Pribadi dan SPDN Badan. perkebunan. pertanian. instalasi. dilihat dari cara mendapatkan penghasilannya dari Indonesia. pabrik. dikenal dua jenis subjek pajak yaitu subjek pajak dalam negeri (disingkat SPDN) dan subjek pajak luar negeri (SPLN). agen . Suatu bentuk usaha tetap mengandung pengertian adanya suatu tempat usaha (place of business) yaitu fasilitas yang dapat berupa tanah dan gedung termasuk juga mesin-mesin. atau orang pribadi yang dalam suatu tahun pajak berada di Indonesia dan mempunyai niat untuk bertempat tinggal di Indonesia. SPDN Orang Pribadi adalah orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia. peralatan. Pertama adalah SPLN yang mendapatkan penghasilan dengan memiliki tempat usaha tetap di Indonesia. SPLN yang mendapatkan penghasilan dari Indonesia tidak melalui BUT di Indonesia. Tempat usaha tetap ini biasa disebut Bentuk Usaha Tetap (BUT).

yang besarnya ditetapkan oleh Direktur Jenderal Pajak. atau digunakan oleh penyelenggara transaksi elektronik untuk menjalankan kegiatan usaha melalui internet. . atau peralatan otomatis yang dimiliki. agen elektronik. bunga atau royalty kepada kantor pusat BUT. biaya bagi BUT juga diatur dalam Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 5 ayat (3) UU PPh. biaya-biaya yang terkait dengan penerapanforce of attraction rule dan atribusi hubungan efektif dapat dibiayakan oleh BUT. Sementara itu berdasarkan Pasal 5 ayat (3) biaya administrasi kantor pusat yang diperbolehkan untuk dibebankan adalah biaya yang berkaitan dengan usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap. penjualan barang. Penghasilan yang kedua merupakan penerapanforce of attraction rule di mana walaupun penghasilan ini adalah penghasilan kantor pusat BUT di luar negeri. atau pemberian jasa di Indonesia yang sejenis dengan yang dijalankan atau yang dilakukan oleh bentuk usaha tetap di Indonesia 3. penghasilan kantor pusat dari usaha atau kegiatan. Penghasilan yang ketiga merupakan penerapan atribusi karena hubungan efektif di mana jika kantor pusat BUT menerima atau memperoleh penghasilan berupa bunga. sepanjang terdapat hubungan efektif antara bentuk usaha tetap dengan harta atau kegiatan yang memberikan penghasilan dimaksud Penghasilan BUT yang pertama adalah penghasilan sebenarnya BUT dari harta yang dimiliki atau dikuasainya di Inonesia. hubungan yang efektif ini bisa digambarkan sebagai hubungan ketergantungan atau hubungan yang saling menguntungkan antara BUT dan perusahaan yang memberikan dividen. sebagaimana di dalam Pasal 5 ayat (1) UU PPh. 1. disewa. Berdasarkan Pasal 5 ayat (2) UU PPh. 2. Tidak ada definisi kelas tentang hubungan efektif ini namun demikian. maka penghasilan ini ditarik sebagai penghasilan BUT nya di Indonesia. tetapi karena berasal dari penjualan atau pemberian jasa yang sejenis dengan yang dilakukan BUT.atau pegawai dari perusahan asuransi yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia yang menerima premi asuransi atau menanggung risiko di Indonesia. maka penghasilan ini akan diatribusi juga kepada BUT di Inonesia. dividend dan royalty dari suatu perusahaan di Indonesia dan perusahaan ini mempunya hubungan efektif dengan BUT. Penghasilan BUT Penghasilan yang menjadi objek pajak bagi BUT. penghasilan sebagaimana tersebut dalam Pasal 26 yang diterima atau diperoleh kantor pusat. terdiri dari tiga jenis yaitu . penghasilan dari usaha atau kegiatan bentuk usaha tetap tersebut dan dari harta yang dimiliki atau dikuasai. Biaya BUT Selain tunduk kepada ketentuan umum tentang pengurang sebagaimana diatur dalam Pasal 6 dan Pasal 9 UU PPh. dan komputer.

Namun demikian. Dalam menghitung besarnya maksmum kredit pajak PPh Pasal 24 ini. Kredit Pajak Luar Negeri PPh Pasal 24 Terkait dengan prinsip worldwide income di atas. Dilihat dari cara pemotongannya. sewa. Kata-kata “dari luar Indonesia” inilah yang menjadikan prinsip pengenaan PPh kepada SPDN menjadi berdimensi internasional. royalty. 3. 2. premi swap dan keuntungan pembebasan hutang. jasa dan kegiatan. Penghasilan Branch Profit Tax dari BUT. Penghasilan Dengan Tarif 20% dari Perkiraan Penghasilan Neto. Dengan demikian. Penghasilan Dengan Tarif 20% dari bruto. Untuk menghindari pengenaan pajak berganda ini. Negara tempat sumber penghasilan di atas juga kemungkinan besar akan mengenakan pajak atas penghasilan yang bersumber dari negaranya. UU PPh secara unilateral memberikan solusi dengan adanya Pasal 24 UU PPh. Termasuk dalam kelompok ini adalah capital gain atas penjualan atau pengalihan harta di Indonesia dan premi asuransi yang dibayarkan kepada perusahaan asuransi luar negeri. kecuali penghasilan tersebut ditanamkan kembali di Indonesia Prinsip Worlwide Income Prinsip worldwide income pada UU PPh biss kita temui pada Pasal 4 ayat (1) UU PPh di mana ditegaskan bahwa penghasilan yang menjadi objek PPh ini bisa berasal dari Indonesia maupun berasal dari luar Indonesia. UU PPh menerapkan metode pembatasan tiap negara (per country limitation). jenis penghasilan yang menjadi objek withholding tax PPh Pasal 26 ini adalah : 1. Penghasilan yang termasuk kelompok ini adalah dividen.Witholding Tax PPh Pasal 26 Penghasilan yang diterima atau diperoleh SPLN yang tanpa melalui BUT di Indonesia merupakan objek pemotongan PPh Pasal 26. Pasal ini mengatur bahwa atas pajak yang terutang atau dibayar di luar negeri dapat dikreditkan oleh Wajib Pajak dalam negeri. bunga. uang pension. Penghasilan Kena Pajak sesudah dikurangi pajak dari suatu bentuk usaha tetap di Indonesia dikenai pajak sebesar 20%. hadiah dan penghargaan. besar kemungkinan akan terjadi pengenaan pajak berganda di mana dua yurisdiksi perpajakan yang berbeda mengenakan pajak kepada penghasilan yang sama yang diperoleh subjek pajak yang sama. imbalan sehubungan dengan pekerjaan. Termasuk dalam kelompok ini adalah penghasilan dari penjualan atau pengalihan saham sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3c) UU PPh. SPDN yang memperoleh penghasilan dari luar negeri akan dikenakan PPh di Indonesia. Untuk itu maka penentuan Negara . besarnya pajak yang bisa dikreditkan dibatasi tidak boleh melebihi penghitungan pajak terutang berdasarkan UU PPh.

penghasilan bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap tersebut menjalankan usaha atau melakukan kegiatan 6. penghasilan berupa sewa sehubungan dengan penggunaan harta tak gerak adalah negara tempat harta tersebut terletak 4. penghasilan berupa imbalan sehubungan dengan jasa. penghasilan dari saham dan sekuritas lainnya serta keuntungan dari pengalihan saham dan sekuritas lainnya adalah negara tempat badan yang menerbitkan saham atau sekuritas tersebut didirikan atau bertempat kedudukan 2. atau sewa tersebut bertempat kedudukan atau berada 3. Undang-undang PPh. Dalam penjelasan Pasal 32A UU PPh yang mengatur hal ini dijelaskan bahwa perjanjian perpajakan berlaku sebagai perangkat hukum yang berlaku khusus (lex-spesialis). royalti. pekerjaan. ketentuan dalam UU Pajak Penghasilan tidak berlaku jika di dalam perjanjian perpajakan diatur lain. Dengan demikian. Masalah ini diatur dalam Pasal 24 ayat (3) UU PPh di mana penentuan Negara sumber penghasilan ditentukan sebagai berikut : 1. diperlukan suatu perjanjian perpajakan dengan Negara lain. keuntungan karena pengalihan harta yang menjadi bagian dari suatu bentuk usaha tetap adalah negara tempat bentuk usaha tetap berada Persetujuan Penghindaran Pajak Berganda (P3B) Dengan tujuan untuk menghilangkan pengenaan pajak berganda internasional dan juga untuk mencegah terjadinya penghindaran pajak (tax avoidance). . penghasilan dari pengalihan sebagian atau seluruh hak penambangan atau tanda turut serta dalam pembiayaan atau permodalan dalam perusahaan pertambangan adalah negara tempat lokasi penambangan berada 7. penghasilan berupa bunga. keuntungan karena pengalihan harta tetap adalah negara tempat harta tetap berada 8. royalti. telah memberikan mandat kepada pemerintah untuk melakukan perjanjian dengan Negara lain.sumber penghasilan menjadi penting. dan kegiatan adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani imbalan tersebut bertempat kedudukan atau berada 5. dan sewa sehubungan dengan penggunaan harta gerak adalah negara tempat pihak yang membayar atau dibebani bunga.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->