PENYELENGGARAAN BRIGADE SIAGA BENCANA

Oleh : Dewi Sulistianingsih *)
Abstrak Brigade Siaga Bencana adalah unit khusus yang disiapkan dalam penanganan kegiatan pra rumah sakit, khususnya berhubungan dengan kegiatan pelayanan kesehatan dalam penanganan bencana. Pengorganisasian dibentuk di jajaran kesehatan (Depkes, Dinkes, Rumah Sakit), petugas medis (dokter dan perawat) dan petugas non medis (sanitarian, gizi, farmasi, dll).Brigade Siaga Bencana merupakan salah satu unsur penting dalam Gerakan Masyarakat Sehat dan Aman yang diharapkan dapat meminimalkan angka kematian dan kecacatan. Penyelenggaraan Brigade Siaga Benca dapat dikatakan tepat dan cepat perlu adanya koordinasi yang tepa antara pemerintah dan masyarakat umum Kata Kunci : Brigade Siaga Bencana, Bencana, Penyelenggaraan

A. PENDAHULUAN
Wilayah negara Indonesia secara geografis, geologis, hidrologis, dan demografis sangat memungkinkan untuk terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam, maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, timbulnya kerugian harta benda, dan dampak psikologis bagi manusia. Bencana dapat terjadi kapan saja di hampir semua Wilayah wilayah Negara Republik secara Indonesia. tidak Kalimantan geografis

terjadi, tetapi juga harus memperhatikan kondisi setempat. Undang-undang suatu definisi No. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, memberikan mengenai bencana. Bencana menurut UU ini adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alamdan/atau faktor non alam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis. Potensi penyebab bencana di wilayah negara Indonesia dapat dikelompokkan dalam tiga jenis bencana yaitu bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial. Bencana alam anatara lain berupa gempa bumi karena alam, letusan gunung berapi, angin topan, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan/lahan karena faktor alam, hama penyakit tanaman, epidemi, wabah, kejadian luar biasa, dan kejadian antariksa/bendabenda angkasa. Bencana non alam antara lain kebakaran hutan/lahan yang disebabkan oleh manusia. Kecelakaan transportasi, kegagalan konstruksi/teknologi, dampak industri, ledakan nuklir, pencemaran lingkungan dan kegiatan

termasuk daerah rawan bencana alam gempa, tetapi bencana yang lain dapat terjadi seperti bencana banjir maupun bencana buatan manusia (mans made disaster) maupun konflik horizontal yang pernah terjadi beberapa tahun yang lalu. Definisi bencana berubah dan berkembang dari waktu ke waktu, tetapi secara umum bahwa bencana adalah suatu kejadian mendadak dengan dampak timbulnya korban, rusaknya infrastruktur dan hilangnya hata benda, baik sebagai akibat langsung maupun tidak langsung dari bencana tersebut. Penetapan suatu kejadian adalah bencana atau bukan tidak dapat hanya didasarkan atas jumlah korban maupun kerugian materi yang
*)

Dosen Bagian Hukum Perdata – Dagang Fakultas Hukum UNNES

Rumah Sakit) petugas medis baik dokter maupun perawat juga petugas non medis baik sanitarian gizi. Penyelenggaraan Brigade Siaga Bencana merupakan bagian dari penanganan bencana secara keseluruhan.PENYELENGGARAAN BRIGADE SIAGA BENCANA keantariksaan. Untuk itu diperlukan ketrampilan teknis medis (Disaster Medicine) yang berbasis pada ketrampilan penanggulangan gawat darurat (Emergency Medicine) yang didukung oleh sistim manajerial (Disaster Management) yang baik. Adapun yang dimaksud Brigade Siaga Bencana (BSB) merupakan suatu unit khusus yang disiapkan dalam penanganan pra rumah sakit khususnya yang berkaitan dengan pelayanan kesehatan dalam penanganan bencana. Adapun yang dimaksud dengan SPGDT adalah merupakan suatu sistem dimana koordinasi merupakan unsur utama yang bersifat multi sektor dan harus ada dukungan dari berbagai profesi bersifat multi disiplin dan multi profesi untuk melaksanakan dan penyelenggaraan suatu bentuk layanan terpadu bagi penderita gawat darurat baik dalam keadaan sehari-hari maupun dalam keadaan bencana dan kondisi kejadian luar biasa. Selanjutnya. diperoleh banyak pelajaran berharga yang layak untuk menjadi bahan kajian lebih lanjut. Dari pengamatan dan keterlibatan dalam kegiatan di bidang kesehatan pada beberapa bencana yang terjadi di Indonesia. sistem pelayanan di rumah sakit dan sistem pelayanan antar rumah sakit. Didalam memberikan pelayanan medis SPGDT dibagi menjadi 3 sub sistem yaitu : sistem pelayanan pra rumah sakit. cermat dan tepat dimana tujuannya adalah menyelamatkan nyawa dan mencegah kecacatan (time saving is life and limb saving) terutama ini dilakukan sebelum dirujuk di rumah sakit yang dituju. Segera setelah bencana terjadi. oleh karena itu dalam perencanaan dan pelaksanaannya harus saling mendukung antara Brigade Siaga Bencana dengan bidang lainnya. Penanggulan dampak bencana bidang kesehatan merupakan masalah komplek dan bisa berlangsung lama dan sudah selayaknya untuk diberi prioritas karena menyangkut langsung kehidupan manusia. . Masalah fisik seperti patah tulang dan luka bakar berat bisa memerlukan waktu lebih dari satu tahun untuk pemulihan total. Ada 3 fase pelayanan yaitu : 1). sistem pelayanan medik pra rumah sakit. Dinkes. Sedangkan bencana sosial antara lain berupa kerusuhan sosial dan konflik sosial dalam masyarakat yang sering terjadi. khususnya di Aceh dan Yogyakata. sedangkan trauma psikis pasca bencana (Post traumatic distress syndrom) memerlukan waktu yang lebih lama lagi. 2). Prinsip SPGDT adalah memberikan pelayanan yang cepat. Dari kajian tersebut diharapkan dapat disusun suatu model penyelenggaraan brigade siaga bencana yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia. maka proses pemulihan dapat berjalan sampai beberapa bulan belakang sampai beberapa tahun. farmasi dan lain-lain. Ketiga sub sistem ini tidak terpisahkan satu sama lain yang bersifat saling terkait didalam pelaksanaan sistem. problem yang muncul adalah bagaimana cara untuk menyelamatkan korban. Lebih lanjut penyelenggaraan brigade siaga bencana tidak bisa lepas dari Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). tergantung pada masalah yang harus ditangani. Pembiayaan didapat dari instansi yang ditunjuk dan dimaskan anggaran rutin APBN maupun APBD. Pengorganisasian dibentuk oleh jajaran kesehatan baik di tingkat pusat maupun daerah (Depkes.

Pembiayaan didapat dari instansi yang ditunjuk dan dimasukan dalam anggaran rutin (APBN/APBD). Arti penting penyelenggaraan Brigade Siaga Bencana dalam hal terjadinya bencana a. gizi. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 28/Menkes/SK/VI/1995 Pelaksanaan Umum Korban Bencana f. Bencana itu menyebabkan terjadinya kegawat daruratan medik. 1. Dinkes. Pol : : 1078/MENKES/SKB/VII/2003 tentang Penanggulangan Petunjuk Medik mengemukakan. telah Berdasarkan belakang B/3889/VII/2003 tentang Penanganan Identifikasi Korban Mati pada Musibah Massal. Rumah Sakit).5. 3). Brigade Siaga Bencana dibentuk karena di beberapa wilayah Indonesia telah terjadi bencana alam maupun akibat ulah manusia. farmasi. No. petugas medis (dokter dan perawat) dan petugas non medis (sanitarian. dan korban meninggal atau cacat. tepat." ujar Dirjen Yanmed. UU no 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Propisnsi d. khususnya berhubungan dengan kegiatan pelayanan kesehatan dalam penanganan bencana. PEMBAHASAN Secara umum dalam penyelenggaraan Brigade Siaga Bencana (BSB) tidak bisa lepas dari Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT). di mana secara umum dasar hukum untuk penyelenggaraannya adalah : a. Keputusan Presiden RI nomor 111 tahun 2001 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi g. UU no 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah c. karena begitu terjadi bencana dapat langsung diterjunkan dalam wilayah bencana. Mengingat bahwa wilayah Indonesia yang terdiri dari beberapa ribu pulau dan banyak terdapat gunung-gunung berapi. Seperti dalam laporannya. sistem pelayanan latar medik di rumah yang sakit. Untuk itu diperlukan SDM yang profesional dan siap digerakkan setiap saat. 1. Dirjen Pelayanan Medik Depkes dan Kesos Prof Dr M Ahmad Djojosugito SpB MHA FICS selaku Ketua Umum pelaksanaan pembentukan tim diungkapkan di atas maka perlu dipertanyakan akan arti penting penyelenggaraan Brigade Siaga Bencana dalam hal terjadinya bencana dan apakah diperlukan adanya pelayanan terpadu dengan unitunit lainnya dalam penyelenggaraan Brigade Siaga Bencana ? B. dll). Pengertian Brigade Siaga Bencana Brigade Siaga Bencana adalah unit khusus yang disiapkan dalam penanganan kegiatan pra rumah sakit. Pengorganisasian dibentuk di jajaran kesehatan (Depkes. secara geografis rawan terjadinya bencana. UU no 36 tahun 2009 tentang Kesehatan b. dan cermat untuk meminimalkan korban. untuk melakukan tindakan pertolongan pada korban bencana. "Pada keadaan tersebut diperlukan tindakan cepat. . Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 979/Menkes/SK/IX/2001 tentang Prosedur Tetap Pelayanan Kesehatan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi h. Januari – Juni 2011 sistem pelayanan medik antar rumah sakit. Keputusan Bersama Menteri Kesehatan RI dan Kepala Kepolisian RI dan nomor no. Oleh karena itu keberadaan Brigade Siaga Bencana sebagai unit khusus sangat penting. UU no 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Propinsi e.Pandecta Vol.

seperti penanganan kesehatan TKI di Nunukan. angkot. Demikian penegasan Menkes Dr. dengan diresmikan Markas BSB akan berfungsi sebagai Sentra Pelatihan yang dilengkapi dengan alat-alat peraga untuk kegawatdaruratan sehingga Timur I Makasar di RSUP Dr. Personil yang telah dilatih sebanyak 495 orang terdiri dari 110 dokter umum. Selain itu telah pula dibentuk subsenter Gawat Darurat di provinsi Maluku Utara terdiri dari 30 dokter umum. Untuk Indonesia Bagian Timur telah diresmikan Brigade Gawat Darurat berkedudukan di Makassar dengan RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo sebagai RS rujukan wilayah Timur. Propinsi dan Kabupaten/Kota begitu penting. korban konflik di Poso. dan sopir speed boat di Ternate. Setelah itu dalam penyelenggaraannya dikoordinasikan dengan unitunit penanggulangan bencana yang lain. 50 orang paramedis dari Ambulan Gawat Darurat (AGD) 118. 50 residen. RSUP Persahabatan. Wahidin Sudirohusodo . telah dicanangkan Deklarasi Makassar 2000 yang menekankan pemasyarakatan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dan diresmikan BSB Kawasan Timur I yang berkedudukan di Makassar dengan anggota sebanyak 495 orang. Selanjutnya untuk daerah tingkat propinsi di seluruh wilayah Indonesia segera untuk dibentuk tim Brigade Siaga Bencana tingkat Propinsi. Terdiri dari 21 dokter umum PTT. Menkes mengingatkan. sejak 3 tahun terakhir Depkes mengenalkan dan mengembangkan konsep Safe Community yaitu masyarakat hidup sehat dan aman dengan mengutamakan upaya kesiapsiagaan ( preparedness ) yang berbasis peran serta masyarakat yang didukung oleh pemerintah dan profesi. musibah banjir di wilayah Sulawesi Selatan. 44 dokter spesialis dan perawat mahir dari RSUPN Cipto Mangungkusumo. karena begitu terjadi bencana di satu daerah. dan Kabupaten/Kota. dan 60 awam umum seperti sopir ojek. Keberadaan Brigade Siaga Bencana (BSB) Kawasan Timur I Makasar sangat dirasakan manfaatnya bagi Departemen Kesehatan karena telah banyak membantu daerah-daerah bencana yang menjadi tanggung jawab rujukannya. maupun RS Swasta terdekat. Tidak dapat dipungkiri keberadaan Brigade Siaga Bencana mulai dari tingkat Nasional (Pusat). 63 dokter spesialis. Markas ini. Lebih lanjut ditegaskan. 10 pekerja sosial dan 10 orang dari Depkes Kesos Pusat yang telah berpengalaman menangani bencana. RSAB Harapan Kita dan RS Jantung Harapan Kita.PENYELENGGARAAN BRIGADE SIAGA BENCANA Untuk tim Brigade Siaga bencana ditingkat nasional telah terbentuk. Achmad Sujudi ketika meresmikan Markas BSB Regional Makasar tanggal 9 Januari 2003. 40 paramedis. 92 paramedis. 180 tenaga awam khusus. Menkes menegaskan. Tentena. Maluku dan Maluku Utara. yang pertama-tama segera di tugaskan adalah Tim Brigade Siaga Bencana yang paling dekat dengan daerah bencana. Depkes dan Kesos juga telah membentuk Tim Brigade Siaga Bencana di tiga wilayah. pada 15 November 2000 yang lalu bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional ke-36. RS Daerah. RSUP Fatmawati. dimana personalia Tim Brigade Siaga Bencana Nasional yang anggotanya 150 orang. keberadaannya sangat diperlukan untuk kesatuan gerak BSB yang dapat dipergunakan untuk upaya kesiap siagaan (preparedness) sampai dengan upaya penanggulangan bencana. misalnya terjadi di pelosok ditangani secara terpadu dengan Puskesmas. 15 tenaga surveillance.

Tindakan mitigasi dapat berupa mitigasi struktural (contoh : membuat rumah tahan gempa) maupun non struktural (contoh: pelatihan manajemen bencana). No. bila terjadi bencana di wilayah Sumatera akan digerakkan dari RSUP Palembang (sebagai rujukan). Telah dilatih 33 dokter. maka akan digerakkan Tim Brigade Siaga Bencana Nasional yang berkedudukan di Jakarta. Wahidin Sudirohusodo Dr.5. Hal tersebut mudah dipahami karena organisasi-organisasi tersebut mempunyai kapasitas masing-masing baik dari segi profesionalisme belakangnya. Manajemen bencana dapat dikatakan dimulai pada fase mitigasi. karena tim yang berkedudukan di RSUP H Adam Malik Medan belum terbentuk. Provinsi Sulsel dan perangkatnya juga memberdayakan organisasi profesi (IDI dan PERSI) untuk pemberantasan penyakit TBC yang akan melibatkan dokter praktek swasta dalam penerapan strategi DOTS (Directly Observed Treatmen Shortcourse). dana. . 1. dan 15 orang surveillance. Selain itu. 50 paramedis gawat darurat. Dikti dan Kolegium Kedokteran. Dari aspek tujuan." kata Prof Ahmad. Sementara itu Direktur Utama RSUP Dr.Pandecta Vol. RSUP Dr. Nurdin Perdana dalam laporannya menegaskan Markas BSB ini sangat dibutuhkan dan akan sangat bermanfaat dalam membangun itu merupakan kesiapsiagaan pusat untuk kegiatan masyarakat pelayanan Timur mempersiapkan diri apabila terjadi bencana. yang didefinisikan sebagai ”tindakan yang ditujukan untuk mengurangi dampak bencana pada suatu bangsa atau masyarakat ”. b. Tindakan-tindakan tersebut tim. Sumatera Utara. Wahidin Sudirohusodo dan FK UNHAS telah sepakat menjalin kerja sama dengan Direktur RS Provinsi/Kabupaten di KTI dalam pendidikan dokter ahli yang berbasis kompetensi. maupun latar terobosan dengan melakukan kerja sama dalam bidang pendidikan bagi Asisten Ahli dengan berbagai pihak. "Bila tidak tertangani oleh RS rujukan. tidak semua organisasi bermaksud untuk berpartisipasi pada semua fase penanggulangan bencana. Di samping itu juga dapat menghasilkan SDM yang berkualitas dan meningkatkan produktivitas membuat pendidikan dokter spesialis dalam Sedangkan untuk Indonesia Bagian Tengah berkedudukan di Jakarta. Aktifitas Penanggulangan Bencana. Untuk Indonesia Bagian Barat berkedudukan di RSUP H Adam Malik Medan. Selain kegawatdaruratan termasuk berbagai pelatihan kegawatdaruraratan Kawasan Indonesia. Namun. Januari – Juni 2011 Kawasan Timur I dapat mencetak lebih banyak tenaga-tenaga terampil dalam penanggulangan gawat darurat termasuk menghasilkan Instruktur Gawat Darurat. Mengacu pada konsep yang telah diperkenalkan oleh Depkes. 36 paramedis dan awam 48 orang. terdiri dari 30 dokter umum paska PTT. Diharapkan Markas BSB dapat menjadi tempat berkoordinasi dengan Satkorlak PBP (Penanggulangan Bencana dan Pengungsi) Sulawesi Selatan serta lintas sektor terkait. sementara ahli gizi akan menggunakan tenaga dari RSU atau Dinas Kesehatan setempat. kelompok atau organisasi yang terlibat memberikan bantuan mempunyai tujuan utama yang sama yaitu menolong korban tetapi dari aspek intensitas.

Operasi pelayanan kesehatan tidak hanya melibatkan RS tetapi juga Puskesmas. sehingga selalu ada aktifitas dimasa tidak ada bencana.Menyiapkan organisasi yang didukung personel dengan kemampuan teknis baik. akan jauh lebih besar. Dalam menyusun Disaster Plan modal utama yang harus dimiliki adalah kemampuan akademis yang didasari pengetahuan yang memadai yang disertai penguasaan medan yang baik. Membangun kesiagaan memerlukan usaha keras. .Pemetaan resiko bencana dan kerentanan penduduk. serta adanya kepemimpinan yang kuat. .Memberikan pelatihan teknis dan manajerial pada anggota tim sesuai bidang dan level tugasnya. Pada jam jam pertama setelah kejadian. Dari respon yang dilakukan secara reaktif dalam arti tanpa persiapan sebelumnya. karena menghindari kejenuhan masyarakat pada masa tidak ada bencana maka perlu didukung oleh kebijakan serta komitmen dari eksekutif pemerintah secara nyata. semua organisasi atau unit kerja tersebut harus memiliki Disaster Plan masingmasing. dana yang cukup. Kesiagaan tidak bisa hanya dinilai dari ada tidaknya Disaster Plan saja tetapi harus dilihat dari ada tidaknya usaha usaha pokok seperti berikut : . serta menjamin kesinambungan (sustainabilty) dari sistim itu sendiri. akan sulit mendapatkan hasil yang maksimal. kurangnya dukungan politis dari eksekutif. Kemampuan untuk melakukan respon akan sangat tergantung pada apa yang sudah dilakukan pada fase kesiagaan (preparedness). Oleh karena itu kemampuan lokal inilah yang harus ditingkatkan dan untuk itu provider lokal tersebut harus juga harus memiliki Disaster Plannya sendiri. waktu yang panjang. Segera setelah terjadi bencana maka akan timbul respon. sumber daya manusia. .PENYELENGGARAAN BRIGADE SIAGA BENCANA seharusnya merupakan oleh suatu proses itu yang untuk .Menyusun skenario respon yang realistik terhadap kemungkinan yang terburuk. Disaster Plan yang baik harus dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien dengan merangkum semua potensi yang ada. Kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan mitigasi diantaranya adalah tingginya dana yang diperlukan. dan kesulitan dalam menjalankan program mitigasi itu sendiri. dan dapat saling bekerja sama dibawah kepemimpinan yang kuat. Semakin bagus persiapan yang dilakukan pada fase kesiagaan. Dikatakan bahwa penambahan biaya sebesar 1 – 6% untuk mitigasi struktural ternyata masih dapat dikatakan cost – effectif karena biaya yang harus dikeluarkan bila terjadi kerusakan akibat tidak dilakukannya mitigasi struktural. Dinas Kesehatan Kabupaten dan Propinsi serta provider kesehatan lainnya baik swasta maupun pemerintah. Mengenai besarnya dana yang harus dikeluarkan sebenarnya bersifat relatif. usaha penyelamtan hidup (live saving) akan sangat tergantung pada kemampuan provider lokal ini karena bantuan dari luar baru akan tiba setelah 24 – 48 jam. motivasi tinggi. semakin besar kemungkinan respon dapat berjalan baik. serta dapat bekerja sama ekstramural dan lintas sektoral.Membangun sistim yang yang operasonal yang dilengkapi petunjuk pelaksanaan dan petunjuk teknis yang sederhana tapi jelas. proses pemahaman mitigasi oleh masyarakat memerlukan waktu yang lama. Pihak yang terlibat pada fase kesiagaan dan respon akut pada umumnya jauh lebih banyak berkesinambungan. Untuk itu. .

Usaha-usaha pada fase pemulihan (recovery). . namun konsep operasionalnya masih jelas terlihat dijalankan oleh beberapa Tim Penanggulangan Bencana di Indonesia. 2. Oleh karena itu ada pendapat yang menyatakan bahwa chaos theory dapat diterapkan pada manajemen bencana. baik pemerintah maupun swasta. pembangunan (reconstruction) dan pengembangan (development) umumnya berjalan sebagai kegiatan yang terencana dan terprogram dengan baik karena waktu yang tersedia cukup lama. karena keterbatasan sumber daya manusia. sehingga seharusnya tidak perlu dibatasi oleh wilayah administrasi negara serta bersifat netral dengan mengedepankan keselamatan manusia sebagai tujuan utama. Pelayanan penanggulangan bencana juga merupakan usaha kemanusiaan. memiliki sarana dan prasarana yang diperlukan. sehingga pada keadaan tidak ada bencana tetap memiliki aktifitas sehari-hari. penyelenggaraan gerak langkah brigade siaga bencana harus dilaksanakan secara terpadu antar unit penanggalangan bencana . Pelayanan terpadu penyelenggaraan Brigade Siaga Bencana Bila terjadi bencana sewaktu – waktu disuatu tempat dimana saja dalam wilayah Indonesia. Manajemen bencana pada dasarnya adalah suatu proses manajemen pada usaha penanggulangan dari dampak bencana. meliputi : a. Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu ( SPGDT ) adalah sistem pelayanan penderita gawat darurat yang terdiri dari unsur pelayanan pra rumah sakit . Namun demikian. Sebaiknya organisasi ini merupakan organisasi yang bersifat inklusif dalam arti memanfaatkan komponen yang sudah ada. No. Organisasi seperti ini sudah pernah dirintis oleh Departemen Kesehatan melalui kelompok kerja Pengembangan Sistim Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu dengan membentuk Brigade Siaga Bencana yang sudah berdiri di hampir semua rumah sakit pendidikan dan rumah sakit besar lainnya. oleh karena itu dalam pelaksanaannya aktifitas dari juga merupakan gabungan itu keduanya.Pandecta Vol. c. didukung sumber dana yang kuat. Seperti proses manajemen pada umumnya maka dalam manajemen bencana juga diperlukan organisasi yang mantap. sebaikny organisasi ini didampingi tenaga profesional sebagai narasumber maupun sebagai pelaksana kegiatan yang setiap saat dapat bergabung bila diperlukan. dijalankan oleh sumber daya manusia yang berkompeten. Januari – Juni 2011 dibanding pada fase-fase lainnya sehingga aktifitas pada kedua fase tersebut umumnya akan sangat sibuk (crowded) bahkan mengarah pada kekacauan koordinasi (chaos). Tergantung pada banyak hal. 1.5. pelayanan di rumah sakit dan pelayanan antar rumah sakit. serta mempunyai tujuan yang jelas. Walaupun secara formal keberadaan Brigade Siaga Bencana saat ini tidak jelas. Disamping Organisasi penanggulangan bencana sebaiknya merupakan organisasi pemerintah yang mempunyai akses ke masyarakat dan ke bidang lain. Usaha penanggulangan bencana merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat. maka biaya pada fase-fase ini bisa lebih tinggi atau lebih rendah dibanding pada fase-fase sebelumnya. Organisasi penanggulangan bencana di bidang kesehatan.

dalam hal ini adalah Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana dan Pengungsi ( Satkorlak PBP ). yang melibatkan pelayanan oleh masyarakat awam umum. Selain itu pelayanan pra rumah sakit dilakukan pula dengan membentuk satuan khusus (SATKORLAK PBP) adalah organisasi di bawah . Satuan Pelaksanaan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi (SATLAK PDP) adalah organisasi di bawah SATKORLAK PBP yang berada disetiap kabupaten/kota yang dipimpin oleh seorang ketua yaitu Bupati atau Walikota dan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menjadi salah satu anggotanya. SPGDT bencana pada dasarnya merupakan eskalasi dari SPDGT sehari – hari. e. Satuan Penanggulangan Kesehatan termasuk salah satu anggotanya. Menteri c. Koordinasi Bencana dan Pelaksanaan Pengungsi pelayanan umum terutama yang bersifat gawat darurat. Dalam struktur organisasinya terdapat sejumlah menteri serta pimpinan dari TNI. Public Safety Center (PSC) adalah pusat pelayanan yang menjamin kebutuhan masyarakat dalam hal-hal yang berhubungan dengan kegawatdaruratan . a. 3. kecelakaan lalulintas. SPGDT sehari – hari terhadap individu seperti penanganan kasus penyakit jantung. Pelaksanaan Sistem Penggulangan Gawat Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu ( SPDGT ). Perlu ditekankan bahwa SPGDT ini harus terintegrasi dengan sistem penanggulangan bencana di daerah setempat. oleh karena itu SPDGT bencana tidak mungkin dapat dilaksanakan dengan baik bila SPGDT sehari – hari belum dapat dilakukan dengan baik. kecelakaan kerja. petugas medis. dsb. termasuk pelayanan medis yang dapat dihubungi dalam waktu singkat dimanapun berada.PENYELENGGARAAN BRIGADE SIAGA BENCANA berpedoman pada respon cepat yang menekankan pada time saving is life saving. Sistem pelayanan medik pra rumah sakit Dalam sistem pelayanan pra rumah sakit dilakukan dengan mendirikan Pablik Safety Center (PSC) yaitu unit kerja yang memberikan (BAKORNAS PBP) adalah suatu badan yang dibentuk pemerintah untuk menangani bencana dan pengungsi. d. stroke. f. pelayanan ambulan gawat darurat dan sistem komunikasi. Sejak pakar dari beberapa profesi apa tahun kesehatan yang disebut terakhir telah Sistem Departemen Kesehatan bekerja sama dengan para mengembangkan BAKORNAS PBP yang berada disetiap propinsi dan dipimpin oleh seorang ketua yaitu Gubernur dan Kepala Dinas Kesehatan Propinsi menjadi salah satu anggotanya. b. Sedangkan SPGDT bencana adalah yang ditujukan untuk mengatur pelaksanaan penanganan korban pada bencana. PSC merupakan ujung tombak pelayanan yang bertujuan untuk mendapatkan respon tepat terutama pelayanan pra rumah sakit. Unit Gawat Darurat ( UGD ) adalah unit pelayanan di rumah sakit yang memberi pelayanan pertama pada pasien dengan acaman kematian dan kecacatan secara terpadu dengan melibatkan berbagai multi disiplin. di dalam rumah sakit dan antar rumah sakit. Badan Penanggulangan Koordinasi Bencana dan Nasional Pengungsi Darurat Terpadu ( SPGDT ) Dalam pelayanan medis SPDGT ini terdiri dari 3 sub sistem yaitu : pelayanan pra rumah sakit. awam khusus.

serta masyarakat yang berperan serta dalam yang berperan serta dalam upaya pertolongan bagi masyarakat. ICU. Januari – Juni 2011 dalam penanganan bencana yang kemudian dikenal dengan Brigadir Siaga Bencana ( PSB ) pelayanan ambulance dan subsistem komunikasi. laboratorium. Klinik Swasta. prasarana yang harus ada di UGD. Unit Gawat Darurat ( UGD ) Didalam pelayanan di UGD harus ada organisasi yang baik dan lengkap baik pembiayaan. High Care Unit ( HCU ) Merupakan suatu bentuk pelayanan di rumah sakit bagi pasien dengan kondisi yang sudah . Dari semua komponen akan dikoordinasikan melalui center atau pusat pelayanan yang disepakati bersama dalam rangka mobilisasi ambulance terutam bila terjadi korban bencana masal. SDM terdiri berbagai ubsur. dalam pelaksanaan kegiatan pelayanan kasus gawat darurat sehari – hari memerlukan sebuah sistem komunikasi dimana sifatnya adalah pembentukan jejaring penyampaian informasi. gizi dan ruang rawat inap. Sistem Pelayanan Medik di Rumah Sakit Dalam penyelenggaraan sistem pelayanan medis di rumah sakit yang harus diperhatikan adalah penyediaan sarana. Rumah Sakit pemerintas / Swasta.Pandecta Vol. PT Jasa Marga dll. Pembiayaan didapat dari sumber masyarakat. Prinsip utama dalam pelayanan di UGD adalah respon time baik standar nasional amupun standar international. PSC keterpaduan dalam menyelenggaraan kegiatan. Organisasi dibentuk oleh jajaran kesehatan baik ditingkat pusat maupun Depkes. b. kegiatan menggunakan berbagai perkembangan tehnologi.5. unit – unit pemeriksaan penunjang seperti radiologi. komunikasi kegiatan pembinaan dilakukan memperhatikan dilkukan untuk lintas untuk memberdayakan berbagai potensi masyarakat.Brigade Siaga Bencana ( BSB ) adalah unit khusus yang disiapkan dalam penanganan kegiatan pra rumah sakit khususnya berhubungan dengan kegiatan pelayanan kesehatan dalam penanganan bencana. SDM terlatih sarana terstandar baik sarana medis maupun non medis dan mengikuti tehnologi pelayanan medis. farmasi. 1. Pengorganisasian dibawah pemerintah daerah. Hospital Disaster Plan Dalam rumah sakit sendiri harus membuat suatu perencanaan untuk kejadian bencana yang disebut Hospital Disaster Plan baik yang bersifat kejadian didalam rumah sakit ( Intra Hospital Disaster Plan ) maupun perencanaan yang besifat external untuk menghadapi bencana yang terjadi diluar rumah sakit. unsur pemedam kebakaran. . jejaring koordinasi dan jejaring pelayanan gawat darurat sehingga seluruh kegiatan dapat berlangsung dalam satu sistem terpadu menjadi satu kesatuan kegiatan. Rumah sakit. No. . Dinkes. berfungsi sebagai respon cepat penanggulangan gawat darurat.Pablik Savety Center ( PSC ) didirikan oleh masyarakat untuk kepentingan masyarakat. mendukung sektor. unsur kepolisian. Rumah Bersalin. . HCU. antara lain unsur kesehatan ( ambulance ).Pelayanan Ambulance ( Ambulance service ) merupakan kegiatan pelayanan terpadu didalam satu koordinasi yang memperdayakan ambulance milik Puskesmas. . kamar jenasah.Komunikasi.

ini untuk memastikan kelancaran jalur lalulintas antar rumah sakit dan pos medis maupun komando. C. 2) Fasilitas kesehatan penerima telah diberitahu dan siap menerima korban. fasilitas medis didalam sistem tetapi masih memerlukan pengobatan perawatan dan pengawasan secara 3) Kendaraan dan pengawalan yang dipergunakan yang paling layak yang tersedia. rumah sakit lapangan menuju ke rumah sakit rujuakan atau transportasi antar rumah sakit. Sehingga setiap saat begitu terjadi bencana. Sistem pelayanan medik antar rumah sakit harus berbentuk jejaring rujukan yang dibuat berdasarkan kemampuan rumah sakit dalam memberikan pelayanan baik dari segi kulitas maupun kuantitas untuk menerima pasien dan ini sangat berhubungan dengan kemampuan SDM. Evakuasi Merupakan suatau bentuk pelayanan transportasi yang ditujuakan pos komando. maka sebagai salah satu unsur penting pada Gerakan Masyarakat Sehat dan Aman (safe Comunity) diharapkan dapat meminimalkan angka kematian dan kecacatan yang tidak perlu. ketersediaan ambulance. . c. Syarat – syarat transportasi 1) Korban dalam keadaan yang paling stabil dan memungkinkan untuk dievakuasi. agar penyelenggaraan Brigade Siaga Bencana dapat tepat dan cepat dalam gerak dan langkahnya dituntut kesiapan unsur-unsur penunjang peklaksana tugas baik dari instansi pemerintah maupun masyarakat pada umumnya.PENYELENGGARAAN BRIGADE SIAGA BENCANA stabil baik respirasi hemodinamik maupun tingkat kesadarannya ketat. Kontrol lalulintas Kontrol menfasilitasi pengamanan evakuasi maka harus dilakukan kontrol lalulintas oleh kepolisian. Dengan terbentuknya Brigade Siaga Bencana. segera dapat ditanggulangi secara besar melalui itu Brigade Siaga Bencana. Kamar Jenasah Bentuk pelayanan bagi pasien yang telah meninggal di rumah sakit maupun di luar rumah sakit. Sehubungan dengan itu. Pada saat kejadian masal memerlukan pengorganisasian korban baik yang dikenal maupun yng tidak dikenal dan memerlukan SDM khusus selain berhubungan dengan hal aspek legalitas. PENUTUP Penyelenggaraan Brigade Siaga Bencana dapat berjalan dengan baik jika ada komitmen dari semua unsur – unsur yang terlibat baik lintas sektor maupun lintas sektor terkait maupun lintas program serta dukungan penuh dari masyarakat dan profesi –profesi terkait. Koordinasi Dalam pelayanan terutama pelayanan rujukan diperlukan pemberian informasi keadaan pasien dan pelayanan yang dibutuhkan sebelum pasien ditransportasikan ke rumah sakait tujaun. Sistem Pelayanan Medik Antar Rumah sakit. Pos medis dapat menyampaiakan kepada pos komando agar penderita dapat dilakukan evakuasi. Intensive Care Unit ( ICU ) Merupakan suatu bentuk pelayanan di runah sakit multim disiplin bersifat ksusus untuk menghindari ancaman kematian dan memerlukan alat bantu untuk memperbaiaki fungsi vital dan memerlukan tehnologi yang canggih.

Perawatan Gawat Darurat. 2008. Jakarta Lisda Yulianti H.go. No. Pol : B/3889/VII/2003 tentang Penanganan Identifikasi Korban Mati pada Musibah Massa . Editor dr.5. Jakarta Tim PUSBANKES 119 BAKER-PGDM PERSI DIJ. www. Petrus Adrianto. Boswick. 1. 1997. Kesiagaan Dan Respon Akut Sektor Kesehatan Pada Penanggulangan Bencana (Preparedness and Acute Responsof Health Sector in Disaster Relief). Emergency Medical Servis 119. Depkes & Kesos Bentuk Brigade Siaga Bencana.depkes. Edisi 2007 www. Januari – Juni 2011 DAFTAR PUSTAKA Hendro Wartatmo. Bagian Humas Biro Umum dan Humas Setjen Depkes RI Undang-undang No. Pelatihan Penanggulangan Gawat Darurat.id/index.Pandecta Vol.com John A. www.php/berita/press-release. Penerbit Buku Kedokteran.google.google. 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana Undang-undang No 36 tahun 2009 Tentang Kesehatan UU no 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah UU no 25 tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Propisnsi UU no 25 tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah Pusat dan Propinsi Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 28/Menkes/SK/VI/1995 tentang Petunjuk Pelaksanaan Umum Penanggulangan Medik Korban Bencana Keputusan Presiden RI nomor 111 tahun 2001 tentang Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 979/Menkes/SK/IX/2001 tentang Prosedur Tetap Pelayanan Kesehatan Penanggulangan Bencana dan Pengungsi Keputusan Bersama Menteri Kesehatan RI dan Kepala Kepolisian RI nomor : 1078/MENKES/SKB/VII/2003 dan no.com Nur Abadi. Materi Pelatihan PPGD & Plus.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful