TOLERANSI BERAGAMA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN Abdul Fatah A.

PENDAHULUAN Belakangan ini, agama adalah sebuahnama yang terkesan membuat gentar, menakutkan, dan mencemaskan. Agama di tangan para pemeluknya sering tampil dengan wajah kekerasan. Dalam beberapa tahun terakhr banyak muncul konflik, intoleransi, dan kekerasan atas nama agama. Pandangan dunia keagamaan yang cenderung anakronostik memang sangat berpotensi untuk memecah belah dan saling klaim kebenaran sehingga menimbulkan berbagai macam konflik. Fenomena yang juga terjadi saat ini adalah muncul dan berkembangnya tingkat kekerasan yang membawa-bawa ama agama (mengatasnamakan agama) sehingga realitas kehidupan beragama yang muncul adalah saling curiga mencurigai, saling tidak percaya, dan hidup dalam ketidak harmonisan. Toleransi yang merupakan bagian dari visi teologi atau akidah Islam dan masuk dalam kerangka system teologi Islam sejatinya harus dikaji secara mendalam dan diaplikasikan dalam kehidupan beragama karena ia adalah suatu keniscayaan social bagi seluruh umat beragama dan merupakan jalan bagi terciptanya kerukunan antar umat beragama. B. KAJIAN BAHASA B.1. Pengertian Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, toleransi berasal dari kata “toleran” (Inggris: tolerance; Arab: tasamuh) yang berarti batas ukur untuk penambahan atau pengurangan yang masih diperbolehkan. Secara etimologi, toleransi adalah kesabaran, ketahanan emosional, dan kelapangan pendirian dada.1 Sedangkan menurut istilah (terminology), toleransi yaitu bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dsb) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya.2 Jadi, toleransi beragama adalah ialah sikap sabar dan menahan diri untuk tidak mengganggu dan tidak melecehkan agama atau system keyakinan dan ibadah penganut agama-agama lain. B.2. Penggunaan Kata “Toleransi dalam Al-Qur’an
1 2

Tafsir Pase, hal. 110 Binsar A. Hutabarat, Kebebasan Beragama VS Toleransi Beragama, www.google.com

Al-Qur’an tidak pernah menyebut-nyebut kata tasamuh/toleransi secara tersurat hingga kita tidak akan pernah menemukan kata tersebut termaktub di dalamnya. Namun, secara eksplisit al-Qur’an menjelaskan konsep toleransi dengan segala batasan-batasannya secara jelas dan gambling. Oleh karena itu, ayat-ayat yang menjelaskan tentang konsep toleransi dapat dijadikan rujukan dalam implementasi toleransi dalam kehidupan. C. KAJIAN TEORITIS C.1. Konsep Toleransi dalam Islam Dari kajian bahasa di atas, toleransi mengarah kepada sikap terbuka dan mau mengakui adanya berbagai macam perbedaan, baik dari sisi suku bangsa, warna kulit, bahasa, adapt-istiadat, budaya, bahasa, serta agama. Ini semua merupakan fitrah dan sunnatullah yang sudah menjadi ketetapan Tuhan. Landasan dasar pemikiran ini adalah firman Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 13:

Seluruh manusia tidak akan bisa menolak sunnatullah ini. Dengan demikian, bagi manusia, sudah selayaknya untuk mengikuti petunjuk Tuhan dalam menghadapi perbedaan-perbedaan itu. Toleransi antar umat beragama yang berbeda termasuk ke dalam salah satu risalah penting yang ada dalam system teologi Islam. Karena Tuhan senantiasa mengingatkan kita akan keragaman manusia, baik dilihat dari sisi agama, suku, warna kulit, adapt-istiadat, dsb. Toleransi dalam beragama bukan berarti kita hari ini boleh bebas menganut agama tertentu dan esok hari kita menganut agama yang lain atau dengan bebasnya mengikuti ibadah dan ritualitas semua agama tanpa adanya peraturan yang mengikat. Akan tetapi, toleransi beragama harus dipahami sebagai bentuk pengakuan kita akan adanya agama-agama lain selain agama kita dengan segala bentuk system, dan tata cara peribadatannya dan memberikan kebebasan untuk menjalankan keyakinan agama masing-masing. Konsep toleransi yang ditawarkan Islam sangatlah rasional dan praktis serta tidak berbelit-belit. Namun, dalam hubungannya dengan keyakinan (akidah) dan ibadah, umat Islamtidak mengenal kata kompromi. Ini berarti keyakinan umat Islam

Karena itu. Maka kata tasamuh atau toleransi dalam Islam bukanlah “barang baru”. Hubungan Antara Toleransi dengan Ukhuwah (persaudaraan) Sesama Muslim Allah berfirman dalam QS. Bahkan Islam melarang penganutnya mencela tuhan-tuhan dalam agama manapun. agama Islam menurut hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari. tetapi sudah diaplikasikan dalam kehidupan sejak agama Islam itu lahir. Demikian juga dengan tata cara ibadahnya. yang diibaratkan al-Qur’an seperti memakan daging saudara sendiri yang telah meninggal dunia (QS. Allah menyatakan bahwa orang-orang mu’min bersaudara. maka beliau menjawab: al-Hanafiyyah as-Samhah (agama yang lurus yang penuh toleransi). Al-Hujurat ayat 10: Dalam ayat di atas. Rasulullah saw. Al-Qur’an memberikan contoh-contoh penyebab keretakan hubungan sekaligus melarang setiap muslim melakukannya. pernah ditanya tentang agama yang paling dicintai oleh Allah. itulah agama Islam. serta menggunjing.Al-Hujurat:12) Untuk mengembangkan sikap toleransi secara umum.kepada Allah tidak sama dengan keyakinan para penganut agama lain terhadap tuhantuhan mereka. dan memerintahkan untuk melakukan ishlah (perbaikan hubungan) jika seandainya terjadi kesalahpahaman diantara 2 orang atau kelompok kaum muslim.2. 110 . tidak mencari-cari kesalahan orang lain. dapat kita mulai terlebih dahulu dengan bagaimana kemampuan kita mengelola dan mensikapi perbedaan (pendapat) yang (mungkin) terjadi pada keluarga kita atau pada keluarga/saudara kita 3 Tafsir Pase.3 C. Ayat di atas juga memerintahka orang mu’min untuk menghindari prasangka buruk. hal.

saling pengertian dan pada akhirnya akan bermuara pada sikap toleran. . al-Qur’an secara tegas memerintahkan orang-orang mu’min untuk kembali kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (sunnah). dengan memiliki kebebasan untuk menjalankan prinsip-prinsip keagamaan (ibadah) masing-masing. Sikap toleransi dimulai dengan cara membangun kebersamaan atau keharmonisan dan menyadari adanya perbedaan. maka petunjuk al-Qur’an adalah: C.sesama muslim. langsung berdiri memberikan penghormatan. dari satu pihakl ke pihak lain. Nabi saw. ketika suatu saat beliau dan para sahabat sedang berkumpul. Dalam konteks pendapat dan pengamalan agama. baik mengakibatkan perbedaan pengamalan ataupun tidak. Jadi sudah jelas. karena toleransi yang paling hakiki adalah sikap kebersamaan antara penganut keagamaan dalam praktek social. Maka akan timbul rasa kasih saying. 4 Tetapi seandainya etrjadi perbedaan pemahaman al-Qur’an dan sunnah itu. kehidupan bertetangga dan bermasyarakat. Dan menyadari pula bahwa kita semua adalah bersaudara. menjawab “Ya. tapi mereka manusia juga”. Quraish Syihab. Sikap toleransi antar umat beragama bias dimulai dari hidup bertetangga baik dengan tetangga yang seiman dengan kita atau tidak. toleransi hendaknya dapat dimaknai sebagai suatu sikap untuk dapat hidup bersama masyarakat penganut agama lain. Wawasan Al-Qur’an Tafsir maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat. Hubungan antara Toleransi dengan Mu’amalah antar Umat Beragama (Non-Muslim) Dalam kaitannya dengan toleransi antar umat beragama. baik untuk beribadah maupun tidak beribadah. M. bahwa sisi akidah atau teologi bukanlah 4 Dr. Hal ini telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw. lewatlah rombongan orang Yahudi yang mengantar jenazah. tanpa adanya paksaan dan tekanan. serta bukan hanya sekedar pada tataran logika dan wacana. Sikap toleransi itu direfleksikan dengan cara saling menghormati. Seorang sahabat berkata: “Bukankah mereka orang Yahudi wahai rasul?” Nabi saw.3. saling memuliakan dan saling tolong-menolong. Hal demikian dalam tingkat praktek-praktek social dapat dimulai dari sikap bertetangga.

melainkan Tuhan SWT dan tidak ada kompromi serta sikap toleran di dalamnya. Sedangkan kita bermu’amalah dari sisi kemanusiaan kita. al-Qur’an menegaskan bahwa umat islam tetap berpegang teguh pada system ke-Esaan Allah secara mutlak. Tidak mungkin manusia menganut beberapa agama dalam waktu yang sama. Pada taraf ini konsepsi tidak menyinggung agama kita dan agama selain kita. Sedangkan untuk urusan akhirat. juga sebaliknya. Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan tentang prinsip dimana setiap pemeluk agama mempunyai system dan ajaran masing-masing sehingga tidak perlu saling hujat menghujat. al-Qur’an menjelaskan pada ayat terakhir surat al-kafirun Bahwa perinsip menganut agama tunggal merupakan suatu keniscayaan. semua haruslah kerjasama untuk mencapai keadilan. atau mengamalkan ajaran dari berbagai agama secara simultan. persamaan dan kesejahteraan manusia. Maka dengan sendirinya kita tidak sah memaksa kehendak kita kepada orang lain untuk menganut agama kita. dan untuk urusan dunia. urusan petunjuk dan hidayah adalah hak mutlak Tuhan SWT. bila tidak . Dalam masa kehidupan dunia. Mengenai system keyakinan dan agama yang berbeda-beda.urusan manusia. Oleh sebab itu. Al-Qur’an juga menganjurkan agar mencari titik temu dan titik singgung antar pemeluk agama. Al-Qur’an menganjurkan agar dalam interaksi social. sedabgkan orang kafir pada ajaran ketuhanan yang ditetapkannya sendiri.

pesantrenonline.Tafsir Pase Surat Al-Kafirun . Al-Mumtahanah: 8): Al-Qur’an juga berpesan dalam QS 16: 125 agar masing-masing agama mendakwahkan agamanya dengan cara-cara yang bijak.dotemukan persamaan. hendaknya masing-masing mengakui keberadaan pihak lain dan tidak perlu saling menyalahkan: Bahkan al-Qur’an mengajarkan kepada Nabi Muhammad saw. REFERENSI . Saba:24-26): Jalinan persaudaraan dan toleransi antara umat beragama sama sekali tidak dilarang oleh Islam.com .www. KESIMPULAN E. dan ummatnya untuk menyampaikan kepada penganut agama lain setelah kalimat sawa’ (titik temu) tidak dicapai (QS.Al-Qur’an Al-Karim . D. selama masih dalam tataran kemanusiaan dan kedua belah pihak saling menghormati hak-haknya masing-masing (QS.

tak hanya di Indonesia. agar suasana dialogis yang ilmiah dan santun menjadi budaya di tengah hiruk pikuknya arus pemikiran yang menyeruak di belantika pemikiran Islam di Indonesia. interest. saya akan berupaya menyoroti karya Akhi Zuhairi Misrawi dari beberapa aspek berikut: 1) beberapa asumsi yang mendasari terbitnya karya ini. 2008 April 09 Membincang Toleransi dalam Perspektif Al-Qur'an[1] Oleh: Fahmi Salim.Quraish Syihab. Buku "Al-Qur'an Kitab Toleransi" yang ditulis oleh Saudara Zuhairi Misrawi ini hendak mencari posisi yang layak dalam pandangan mainstream muslim dalam upaya merespon problem-problem sosial yang selalu muncul di tengah masyarakat muslim di mana saja..A. Apalagi akhir-akhir ini.Dr. Sebagai sebuah karya tulis. tentu saja wacana dan pedoman yang dianut oleh mayoritas penduduk muslim dalam menerapkan praktek demokrasi akan menjadi mainstream fokus hubungan antara Islam dan demokrasi di satu sisi dan peran Islam dalam membimbing hubungan antar umat beragama di sisi lain. 3) produk penafsiran yang dihasilkan. 2) metodologi yang ditawarkan penulis dalam karyanya. Berita Akbar adalah blog yang menyajikan informasi berita bagi segenap umat manusia. Rabu.[2] Pendahuluan Kebutuhan untuk menggali dan merumuskan petunjuk (hidayah) Al-Qur'an untuk kehidupan umat Islam di seluruh lini kehidupan semakin dirasa mendesak. Apalagi di Indonesia. Selaku pembaca. Mizan: Bandung. Beberapa Asumsi Dasar dalam Buku . dan terakhir 4) mendudukkan isu toleransi dalam perspektif visi al-Qur'an tentang pluralitas dan batasan toleransi. sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia dan dihuni oleh mayoritas muslim. justru kaum muslim menunjukkan animo yang luar biasa besar dalam masalah keagamaan yang menjadi panduan segala hal yang terkait urusan dunia dan akhirat. di tengah kegamangan dalam memilih sikap dan pandangan hidup. Kiranya hubungan intra dan antar umat beragama dalam konteks sosial menjadi tema yang sangat aktual untuk dibicarakan. dan ideologi yang diusung oleh penulis dalam bukunya itu. Wawasan Al-Qur’an Tafsir Maudhu’I atas Pelbagai Persoalan Umat. sudah selayaknya diapresiasi terlepas dari apa pun tendensi. Bentuk apresiasi yang paling baik bagi sebuah karya dalam tradisi keilmuan muslim adalah di antaranya dengan mengajukan pembacaan dan pemaknaan dari perspektif berbeda dari yang diajukan sang penulis. M. M.

Hal ini bisa dilihat pada pilihan metodologis penulis yang menekankan arus orientasi penafsir teks ("pemahaman" subjektif) ketimbang orientasi teks itu sendiri ("penjelasan" objektif). ideologi ini paling favorit dan paling laris di berbagai belahan dunia Islam. Maka ikutilah Dia. Seperti: pemurtadan. 19). penyerangan. Bagi saya selaku pembaca. (h. Yang pertama. hal ini sama pentingnya dengan menyelamatkan Al-Qur'an dari tafsir sekularisasi dan ideologi humanisme sekuler. Barangkali penulis melupakan substansi ayat 153 surah al-An'am yang menyatakan dengan tegas bahwa: "Dan bahwa (yang kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus. (h. ingin menghancurkan peradaban atas nama agama. Krisis nalar karena iman tidak dilandasi pada analisa dan metodologi yang kuat. Disamping. kerukunan dan kedamaian. Padahal dalam Al-Qur'an disebutkan bahwa tuhan lebih tahu tentang siapa dari hamba-Nya yang sesat dan dia pula yang . merujuk pada surah an-Nur: 35 ditegaskan bahwa Allah adalah cahaya langit dan bumi. 92). Kegusaran ini bagi saya sebenarnya tak perlu. Al-Qur'an digunakan untuk memvonis sesat pihak lain yang berbeda. Akibatnya. seperti yang akan kita kupas dalam masalah metodologi buku (h." Dalam kurun waktu yang lama. Yang diperlukan saat ini adalah usaha yang berkesinambungan untuk melakukan pencerahan tafsir keagamaan yang moderat. Krisis iman. Ketiga. Artinya tidak semata-mata untuk keselamatan agama itu sendiri (salvation of religion) akan tetapi yang terpenting juga adalah keselamatan manusia (salvation of human) dan seluruh makhluk yang berada di muka bumi. 115-116). karena terjebak pada ideologi kekerasan. Penulis kemudian menafsiri kata 'bumi' dalam ayat itu sebagai salah satu perhatian yang besar terhadap masalah 'antroposentrisme' .Asumsi awal dari buku ini adalah fakta bahwa penulis agaknya sangat gusar dengan fenomena menguatnya arus ideologi kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah." (h. terorisme dll. Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain). Tetapi pada faktanya. dengan karyanya penulis berharap dapat menyelamatkan Al-Qur'an dari ideologisasi dan fungsionalisasi ekstrimisme. ingin menghancurkan sendi agama atas nama keadaban dan peradaban. "Al-Qur'an sebagai alat justifikasi politik lebih dominan daripada sebagai cahaya. sebagian besar umat Islam terjebak dalam tafsir yang lebih berdimensi taklid daripada berdimensi hermeneutis (h. yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. 17) Lokus problematisnya dapat dilihat dari fungsionalisasi Al-Qur'an untuk tindakan intoleransi. Penulis kemudian melompat pada kesimpulan berikut: "Karena itu keterbukaan Al-Qur'an harus dimaknai secara komprehensif. Kedua. karya itu juga ingin meletakkan fungsi Al-Qur'an dalam kehidupan manusia sebagai 'cahaya' dan 'petunjuk'. Upaya ini perlu diutamakan sehingga Al-Qur'an menjadi kitab suci yang membawa pesan-pesan toleransi. 92). Dan yang kedua. menurut penulis. memahami dinamika zaman. penulis lebih berpihak pada klaim antroposentrisme. Sementara kata 'langit' dimaknai penulis sebagai dimensi 'teosentrisme' yang harus berkait kelindan dengan bumi yang menyimbolkan antroposentrisme (h. Kondisi tersebut telah menyebabkan umat Islam mengalami krisis iman di satu sisi dan krisis nalar di sisi lain. Dalam amatannya. Karena kedua hal ini akan menjadi masalah besar bagi umat Islam dan kemanusiaan universal. 18). tetapi juga tidak tercerabut dari akar-akar keimanan dan doktrin keIslaman.

telah dijelaskan perbedaan keduanya dari sudut sejarah dan orientasi pembahasannya. Oleh sebab itu penting kiranya jika kita mengurai lebih dalam benang kusut metodologi tafsir baru yang bernama hermeneutika ini. 116).akan menentukan siapa yang sesat di hari akhir nanti. maw'izah. Namun yang harus digarisbawahi. (h. Tafsir tak boleh melampaui isi dari teks. Yaitu tafsir yang memberi perhatian terhadap posisi manusia sebagai penafsir yang tujuan utama penafsirannya adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. dan dialog argumentatif. vonis sesat itu sah-sah saja jika berlandaskan bukti-bukti yang qath'i. Paul Riccoeur (1913-2005 M). Metodologi yang Ditawarkan Tampak sekali." (h. Sepertinya ia cenderung kepada pemikiran sosok hermeneut. orang kafir yang menghalang-halangi orang lain mendapatkan hidayah (an-Nisa": 168). Jadi bagi saya. karena Al-Qur'an pun telah memberi contoh "penyesatan" suatu kelompok. 115) Sebagai "pemahaman". teks Al-Qur'an. bahwa dalam penafsiran akan muncul dua titik yang berbeda. maka ada perintah berdakwah ke jalan Allah dengan cara hikmah. (h. dan orang-orang yang zalim (Nuh: 24). Apa yang dikatakan Al-Qur'an harus diterima mutlak. yang tak perlu terjadi adalah anarkisme di lapangan dan amuk massa. yaitu penjelasan (explanation) dan pemahaman (understanding) . Di artikel saya yang pernah diturunkan di HU Republika. orang yang mengingkari (kufur) kepada rukun iman (an-Nisa': 136). Lagi pula vonis sesat (fa qad dlalla dlalalan ba'idan) telah dinyatakan Al-Qur'an dengan sangat lugas kepada orang musyrik (anNisa': 116). 116) Tafsir sebagai penjelasan melahirkan arus "teosentrisme" . sedangkan tafsir sebagai pemahaman melahirkan arus "antroposentrisme" . yang telah tertunjuki dan yakin berada di posisi yang benar. Namun ada baiknya diuraikan panjang lebar dalam makalah ini. Logika perintah dakwah tentu meniscayakan adanya dua pihak: pertama. Dalam membandingkan terminologi takwil sebagai teori penafsiran khas peradaban Islam dan hermeneutika yang lahir dari rahim dan khas miliu peradaban BaratKristen. Mengutip pandangan Paul Riccoeur. 31 Desember 2007 lalu. dan pihak kedua sebagai objek dakwah adalah orang yang belum tertunjuki dan diyakini berada dalam kesesatan sehingga pihak pertama merasa sangat perlu untuk mendakwahi pihak kedua. (h. tafsir tidak mempunyai kapasitas untuk mengembangkan makna yang sesuai dengan subjek penafsir. Sepertinya ia sedang mengutip ayat 125 surah al-Nahl dalam hal ini. Sebagai "penjelasan" . tafsir memiliki kesempatan luas untuk menghasilkan sebuah tafsiran yang mensinergikan kehendak penafsir dan kehendak pengarang dan teks. Makna harus mengikuti objek. Studi Komparatif antara Tafsir/Ta'wil dan Hermeneutika Sudah banyak ilmuan yang terkecoh dengan istilah takwil sebagai terjemah Arab untuk istilah hermeneutika. sang penulis sangat mengidolakan metode Hermeneutika yang diimpor dari tradisi interpretasi Bible dan filsafat Barat. kita akan bertolak dari pernyataan Mustafa Kaylani yang menerangkan proses transformasi dalam sejarah perjalanan takwil sebagai berikut: "Dahulu takwil pada awalnya sangat kental bernuansa gramatikal sebatas penjelasan lafal dan susunan kalimat yang telah termakan zaman dengan lafal dan susunan kalimat baru sambil tetap menjaga maknanya yang cocok untuk setiap . 93). Namun jika diperhatikan ayat itu lengkap dari awalnya.

kita dapat mencandra dua aliran yang memperebutkan hakikat makna teks. hermeneutika adalah takwil semiotis atas tanda-tanda (signs) yang telah terasa asing pada era terkini untuk mendapatkan makna semantik baru yang akan merujuk secara langsung kepada idea pengarang teks". maka ia disebut sebagai Mujmal. Afiliasi suatu teks kepada masa silam itu menyebabkan kehadirannya di masa kini menjadi sebentuk kecurigaan. Semangat liberalisasi dan humanisasi inilah yang ikut andil merobohkan tembok sakralisasi teks sehingga teks agama tak lagi sakral dan bahkan mengalami proses humanisasi. indikator yang kuat dan memperkuat satu makna atas makna lainnya. pemahaman yang selalu .E. berupaya membakukan makna dalam petunjuk semantik tertentu dengan cara menjadikan makna itu muhkam yang tidak bisa serampangan ditarik ke dalam wacana metaforis. Akibatnya. Schleirmacher (1768-1834 M) yang mengadakan reorientasi paradigma dari "makna" teks kepada "pemahaman" teks. maka konsep takwil menurut para ahli ushul fiqh berjalin kelindan dengan pembagian tingkatan lafal teks agama: 1) Setiap bentuk lafal yang hanya menerima satu makna tertentu. ia disebut sebagai Nash.[3] Dari kutipan di atas. maka makna yang kuat itu disebut Zhahir (teks yang asli) dan makna yang lemah itu disebut Mu'awwal (teks yang dialihkan maknanya). serta meneguhkan semangat liberalisasi simbol-simbol otoritas agama yang eksklusif dan tertutup. teks. terutama di tangan F. Tentu saja aliran ini berupaya mempertahankan makna asli suatu teks. Posisi dasar pemahaman teks adalah lahiriahnya. metodologi tafsir tradisionalis telah tergantikan dan disaingi metodologi yang lebih humanis dan memberi ruang kesadaran kritis atas keseluruhan sumber teks-teks agama. ia hanya dapat ditinggalkan jika ada indikasi kuat untuk keserasian makna itu dengan tujuan syariah. Dari situ. Sedangkan aliran kedua (modernistik) dalam teori pentakwilan telah mengalami lompatan kualitatif dalam tradisi filsafat Jerman. telah merasuk jauh ke dalam dunia metafor (majaz). Perubahan dari makna zhahir kepada makna mu'awwal itu mensyaratkan adanya dalil.D.[ 4] Schleirmacher telah menubuhkan asas seni pemahaman teks. Sehingga takwil dalam tradisi aliran pertama difungsikan untuk mengalihkan pemahaman lahir suatu lafal dari makna aslinya kepada makna lain dengan indikasi tertentu yang menyebabkan makna aslinya ditinggalkan. mengapa teks yang merespon kejadian masa lalu harus menjadi jawaban problem kekinian?! Tidak kah lebih baik jika teks masa silam itu dienyahkan karena realitas yang terus berubah dari waktu ke waktu? Rasionalitas protestantisme itu telah menantang otoritas gereja yang selalu mengklaim arti Bible yang sah. teks global (yang memerlukan perincian) 3) Jika bentuk lafal teks menerima lebih dari satu makna/pemahaman yang salah satunya lebih kuat dari makna lain.zaman. Sedangkan jenis takwil kedua (dalam peradaban Barat modern). (dari sana kita dapat menyimpulkan bahwa kosakata bahasa Arab mengidentikkan teks dengan pembakuan dan penunggalan makna suatu teks) 2) Jika bentuk lafal teks dapat menerima lebih dari satu makna/pemahaman yang sama-sama kuat. Rasionalitas modern seperti dianut oleh mazhab protestantisme telah mengubah makna literal Bible yang selama ini dianggap oleh mazhab resmi gereja sebagai "makna historis" menjadi "pemahaman historis" yang segala sesuatunya merujuk kepada masa silam. Aliran pertama (tradisionalistik) .

Sakralitas teks agama tidak lagi mendapatkan tempat dalam rasionalitas modern. Eksistensi. Lingkar hermeneutik itu akan mengubah yang konstan menjadi dinamis dan terus bergerak. bukanlah eksistensi yang terbagi antara wujud transendent dan horisontal. Orientasi heremeneutik inilah yang kemudian dikembangkan oleh para filosof aliran eksistensialisme pascaSchleirmacher . Oleh karena itu. Amat wajar jika kekhasan teks agama dari sudut pentakwilan menjadi terabaikan. teks tidak lagi mengungkapkan pengalaman historis yang terkait dengan suatu peristiwa. karena bagi hermeneut modern semua teks sama secara hirarkis. pembacaan dan pemahaman adalah asas bagi transformasi teks dari ketiadaan kepada keefektifan. Jika hermeneutika dahulu berarti pentakwilan teks suci yang terpasung oleh makna yang ditentukan pihak otoritas gereja. Dialektika itu mesti difahami secara eksistensialis. bukan yang dimaksudkan oleh pengarang teks. Dengan pengalaman eksistensialnya itulah manusia bisa meresapi wujudnya dan cara dia bereksistensi sebagai unsur penegas dalam proses memahami suatu teks. ketika itu kita lantas menghadirkan pengalaman- . Dikarenakan masa kelahiran teks telah menjadi bagian masa lalu. Schleirmacher meletakkan kaidah pemahaman teks yang terbatas pada dua aspek utama yaitu: aspek kebahasaan (tata bahasa yang dipakai pengarang) dan aspek kemampuan menembus karakter psikis pengarang. Ia menganggap teks sebagai suatu "ketegangan" dan "tarikmenarik" antara kejelasan dan ketertutupan. sehingga diperlukan ilmu yang mencegah kekeliruan pemahaman. Atas dasar itu. Lingkar hermeneutik meniscayakan produksi makna-makna baru yang tidak pernah final. Pada saat kita membaca suatu karya agung. Hermeneutika Heidegger kemudian dilanjutkan oleh Hans George Gadamer (19002002 M) yang menolak segala bentuk kepastian dan meneruskan eksistensialisme Heidegger dengan titik tekan logika dialektik antara aku (pembaca) dan teks/karya. Sejak abad pencerahan dan humanisme Barat dimulai. eksistensi humanisme! Semakin dalam kesadaran manusia terhadap eksistensinya. Kedua aspek itu saling melengkapi satu dengan lainnya. dikarenakan teori "makna" dan "penjelasan" dalam teori penafsiran klasik diubah menjadi "pemahaman" yang terkait dengan akal manusia yang terus berkembang dan berubah.[5] Tugas kaedah hermeneutik Schleirmacher. maka sedalam itu pula lah pemahamannya atas teks.ian itu adalah untuk sejauh mungkin memahami teks seperti yang dipahami pengarangnya dan bahkan lebih baik dari apa yang dipahami oleh si pengarang. Adalah Martin Heidegger (1889-1976 M) yang mencoba memahami teks dengan metode eksistensialis. eksistensi bersifat tunggal. Tugas itulah yang kemudian dikenal dengan "Hermeneutical Circle". pemahaman teks adalah apa yang diinginkan oleh pembaca teks. Resepsi dan pembacaan manusia adalah dasar bagi kebangkitan dan transformasi teks dari sesuatu yang diwarisi antar generasi menjadi warisan masa silam. Dengan demikian. maka ia kini telah bebas dari belenggu sakralitas dan memungkinkan pentakwilan semua jenis teks. Ketika kita membaca suatu teks kuno maka teks itu kembali dihidupkan dan berubah dari sesuatu yang tadinya mati dan asing kepada keadaan sesuatu yang hidup saat ini. Jarak pemisah antara zaman produksi teks dengan zaman pemahaman kekinian sedemikian meluas dan membentang. menurut Heidegger. maka tidak ada makna yang tetap seperti sediakala. karena hakikatnya memahami teks itu sama dengan pemahaman kita atas diri dan wujud kita sendiri. karena itu. Pemahaman eksistensialis model Heidegger teraplikasikan secara penuh terhadap semua jenis teks.terkait mengikuti perkembangan dari setiap orang dan dari satu zaman ke zaman yang lain. antara ada dan tidak ada.

[6] Filsafat hermeneutika Gadamer meniscayakan wujud kita berpijak pada asas hermeneutis.. Hermeneutika. pertanyaan yang menjadi sebab karya itu ada. maka telah menjadi keharusan untuk keluar dari metafisika transendent yang khusus dalam konsep eksistensial. Eksistensi yang dibangun Heidegger dan Gadamer terasa idealis yang dipengaruhi logika dialektik Hegellian. dia mengajukan upaya modifikasi terhadap orientasi hermeneutika Gadamer dengan perspektif materialisme. tidak berdiri atas asas filsafat.. Sedangkan hermeneutika di Barat memperlakukan teks sebagai murni fenomena bahasa. Selain itu ia akan disyaratkan dengan prasyarat materil yang akan mengendalikan wujud ini. Untuk menautkan proses pemahaman dengan wujud materil.[8] Jika kita kaitkan dengan Dr. Penubuhan asas konsep wujud itu akan mengubah proses pemahaman.). bagi mereka. dan Emillio Betti (1890-1968 M) mengajukan teori objektifitas dalam aliran hermeneutika. tokoh-tokoh filsafat hermeneutika seperti: Paul Ricoer (1913-2005 M). hermeneutika adalah ilmu penafsiran teks atau teori tafsir.[10] Perbedaan Esensial antara Ta'wil dengan Hermeneutika 1) Takwil dalam tradisi keilmuan Islam mengakui dan tunduk kepada kesucian teks dan keilahian sumbernya. realitas yang berdialektik dengan teks mendapat apresiasi dan perhatian serius Nasr Hamid. terlebih khusus dalam masalah teks-teks agama. maka kita akan menemukan penekanan Nasr Hamid atas prinsip simbol teks yang berafiliasi kepada kondisi sosial dan realitas ketika teks itu diciptakan. 2) Takwil dalam tradisi keilmuan Islam mengakui jenis tingkatan lafal. Eric D. Hirsch (1928-. Oleh sebab itu. dan hermeneutika berpijak pada asas eksistensial manusia. ia berangkat dari simbol sosial dengan penekanan melampaui makna lahiriah teks kepada makna batinnya. titik tolak asli bagi upaya pembacaan ulang seluruh dasar agama Islam dan upaya menyingkap kepalsuan pembacaan-pembacaan masa silam atas teks Islam. dalam pengertian bahwa di antara jenis-jenis teks itu ada yang bisa menerima takwil seperti ..pengalam an hidup kita di masa silam.[7] Menghadapi dialektika Heidegger dan Gadamer.. yang menyatakan historisitas yang tidak dipersyaratkan wujud materil yang dikendalikan oleh faktor sosial ekonomi. Bagaimana Nasr Hamid meresepsi teks dan cara dia memperlakukannya? Pertama sekali dia mendukung orientasi Gadamer yang berangkat dari posisi penafsir saat ini karena setiap asas epistemologi pemahaman apa saja berawal dari posisi eksistensial. dalam persepsi Nasr Hamid.) yang terkenal lewat pendekatan hermeneutiknya dalam membaca teks-teks Islam. dan tidak mengakui kesucian teks yang menuntut perlakuan khusus. Proses dialektika memahami karya seni berdiri atas asas pertanyaan yang diajukan karya itu kepada kita. Sederhananya.. sehingga melampaui subjektifitas hermeneutika Gadamer. [9] Kedua. sehingga melahirkan keseimbangan pemahaman atas diri kita sendiri. Nasr Hamid AbuZayd (1943-. Artinya teks adalah produk lingkungan tertentu yang dilingkupi oleh faktor ekonomi-sosial yang menjadi prakondisi kelahiran dan kemunculan suatu teks. Mereka berusaha mendirikan hermeneutika sebagai ilmu penafsiran teks yang menekankan metode objektif. dua tahap yang saling mendukung itulah. Untuk menuju arah tafsir yang objektif dan ilmiah atas teks agama.

Dan makna takwil yang baru itu masih dapat diterima oleh lafal zhahirnya dan juga sesuai dengan sirkulasi penggunaan bahasa dan adat kebisaaan yang lazim dalam syariah. hermeneutika pra-Heidegger (sebelum abad 20) tidak membentuk suatu tantangan pemikiran yang berarti bagi . Jelasnya. karena selalu memperhatikan dimensi realitas kemanusiaan. tetap saja berintikan seni memahami teks. Sedangkan hermeneutika di Barat berarti perpindahan orientasi dari "makna" kepada "pemahaman" yang dapat berubah setiap saat sesuai dengan perkembangan pembaca teks. 3) Takwil dalam tradisi keilmuan Islam menekankan makna yang tetap tidak berubah kecuali jika ada dalil lain yang mengharuskan takwil. Ia juga metode yang baik untuk menghilangkan keragu-raguan dan semakin menambah mantap keimanan. dan ada pula yang hanya menunjukkan satu makna dan tidak dapat ditakwil seperti lafal "nash". Pada kenyataannya. 4) Takwil dalam tradisi keilmuan Islam adalah suatu cara untuk mempertahankan norma keimanan terhadap dasar-dasar keyakinan agama.[11] Lalu apakah pengaruh hermeneutika dalam pembacaan teks-teks agama? Perlu ditekankan di sini bahwa perspektif hermeneutika filosofis atas pemahaman eksistensial secara umum dan pemahaman teks secara khusus merupakan terobosan mutakhir dan tidak pernah dikenal sebelumnya. Di antaranya adalah: 1) Kemungkinan mengajukan bacaan-bacaan yang berbeda dan tak terbatas bagi teks agama. hermeneutika menganggap Sunnah (yang berfungsi sebagai penjelas Al-Qur'an) sebatas ijtihad manusia dan terbatas pada skup budaya tertentu. Sedangkan hermeneutika Barat memukul rata semua jenis teks dengan memisahkan mana yang menjadi makna tanda (signifier) dan tujuan dasar teks (significance) . Bahkan dalam bentuk ekstrim. bukan yang dimaksudkan oleh pengarang.lafal "zhahir". Sebaliknya. 2) Historisitas pemahaman dan keajegan perubahan pemahaman itu sendiri. kecenderungan. jika kita telusuri dan dalami filsafat pemahaman teks-teks Islam yang telah dikonstruk dan diaplikasikan selama berabadabad oleh ulama muslim. Dengan demikian. Pemahaman adalah apa yang diinginkan oleh pembaca. Pemahaman tidak pernah final. 3) Batasan legalitas terlibatnya subjektifitas penafsir dalam proses penafsiran teks. dan harapan penafsir teks kepada pemahaman agama. Pemikiran agama mutakhir saat ini menyaksikan kajian-kajian dan pertanyaanpertanya an baru yang memiliki akar dalam filsafat hermeneutika. tidak memungkinkan kita mencari berbagai perspektif hermeneutika dalam cabang-cabang Islamic Studies yang telah mapan. kita dapatkan kesimpulan yang kontraproduktif dengan perspektif filsafat "pemahaman" Barat. takwil bukanlah alat untuk membatalkan keimanan atau untuk mengosongkan teks agama dari ruh agama seperti yang dipraktekkan dalam filsafat hermeneutika di Barat. Meski terjadi perubahan dan modifikasi radikal terhadap teori-teori hermeneutika.[12] Sejatinya hermeneutika selalu berpusat pada fungsi penafsiran teks. 4) Pengaruh pra-konsepsi. Diskusi dan perdebatan seputar sah tidaknya aplikasi hermeneutika juga betul-betul tidak ada presedennya dalam benak para ulama muslim yang masih meyakini keampuhan terminologi tafsir dan takwil klasik dalam memecahkan isu-isu kontemporer.

Kondisi penafsir yang diidealkan adalah sampai kepada pemahaman yang valid dan meyakinkan terhadap kehendak pengarang teks. Sebelum kita menyinggung tantangan pemikiran yang disebabkan hermeneutika filsafat kontemporer. Karena pengarang teks menjadikan bahasa sebagai sarana mengungkapkan kehendaknya. maka penafsir teks harus menguasai bahasa serta tata bahasa yang lazim dipakai oleh pengarang.Tugas mufassir adalah menangkap makna teks. proses pemahaman teks berporos kepada dua aspek: teks dan pengarang. maka otoritas pemahaman tetap berada pada aspek teks dan pengarang teks itu sendiri. Al-Qur'an sendiri menegaskan beberapa sifat dan ciri yang melekat dalam dirinya. Makna teks adalah apa yang dikehendaki oleh pembicara atau pengarang teks. Makna yang final itu adalah suatu hal yang objektif dan ril. ketika terjadi perbedaan penafsiran sebuah teks. teks agama. karena hal itu akan mengotori upaya penafsiran. Seperti dimaklumi. -menurut teori tafsir klasik. sekalipun telah terjadi evaluasi radikal dalam aliran-aliran filsafat hermeneutika.[13] Metode umum yang dipraktekkan para pakar tafsir Al-Qur'an. mufasir berusaha untuk sampai dan menangkap makna itu. Dalam berbagai versinya. Sementara itu. sehingga dikategorikan sebagai tafsir dengan pandangan akal semata yang dicela agama (bil ra'yi al-madzmum). Metode tafsir klasik menolak setiap upaya penafsiran yang merelatifkan dan menyamakan setiap pemahaman sebagai upaya subjektif penafsir. tidak diperkenankan munculnya prakonsepsi dan pra-asumsi penafsir. 4. sewajarnya penafsir teks menempuh alur metode yang umum dalam menangkap teks. memang cocok dengan karakter dasariah nushush AlQur'an yang menjadi objek penafsiran dari masa ke masa.Untuk mencapai tujuan di atas. Meskipun pemahaman yang valid hanya dapat ditangkap melalui bentuk "nash" yang berindikasi pemahaman objektif yang sesuai dengan fakta. Hal ini diformulasikan dalam bentuk bahasa teks sebagai jembatan memahami tujuan hakiki atau makna yang diinginkan. Dengan kata lain. Al-Qur'an merupakan kitab 'hidayah'. 6. 5. ada baiknya kita menyimak secara global metode umum dalam pemahaman teks yang selama ini kita kenal: 1. Sebab.tidak akan menerima segala bentuk penafsiran yang sembarangan.pemikiran agama. di antaranya bersifat . dalam bentuk "zhahir"nya pun redaksi teks tetap tidak tercerabut dari objektifitas dan norma asli pemahaman. 2. Maksud atau makna yang pasti adalah tujuan utama pengarang teks. hermeneutika filosofis dan turunannya dalam teori-teori kritik sastra dan semantik telah merintis jalan bagi tantangan serius yang membentur metode klasik dan pengetahuan agama. Tanpanya. Karena. Dalam teori tafsir semacam ini. seperti diyakini kaum muslim. petunjuk bagi manusia dalam membedakan yang haq dengan yang batil. sebagaimana terangkum dalam 6 poin di atas. Karena dalam sinaran metode klasik. amat dimungkinkan pemahaman objektif atas teks meski terdapat jarak waktu dan tempat antara pengarang dengan penafsir teks.Teori tafsir klasik sangat menentang teori relativitas tafsir.Jarak waktu yang memisahkan masa penafsir dengan masa saat teks diproduksi tidak akan menghalangi penafsir untuk menangkap makna hakiki yang dimaksud oleh teks agama.Perhatian penafsir harus terpusat kepada kesadaran memahami misi teks. 3. maka tindakan penafsir yang semena-mena akan mencederai proses pemahaman teks. sehingga tugas penafsir adalah untuk menangkap maksud pengarang melalui fungsi semantik teks. alias kewenangan mufasir terabaikan sama sekali.

Problem isu hermeneutika filsafat kontemporer telah melontarkan berbagai diktum yang mengkritisi dan berambisi menjadi alternatif pintas bagi kebuntuan dan kebekuan penafsiran teks agama yang rigid. dengan demikian setiap penafsir tidak diharuskan mencari dan menangkap maksud dan tujuan yang ingin diungkapkan si pengarang teks. N�r petunjuk ilahi untuk menciptakan kebahagiaan dan kesentosaan hidup manusia. dan membuka ruang yang sangat luas bagi penafsiran-penafsir an yang radikal sekalipun.Tidak ada pemahaman yang tetap dan tidak berubah. Sebab. yang tidak bisa dikatakan salah satunya lebih baik dan benar dari yang lain. seperti halnya pluralitas pemahaman teks tidak mengenal batas-batas. dapat dikatakan bahwa teori penafsiran klasik sebagaimana dalam pembahasan metode takwil dalam cabang ilmu ushul fiqh dan ulumul quran. Karena setiap penafsir di setiap zaman memiliki cakrawala yang khas zamannya. politik. Karena sejatinya tidak ada tafsir yang benar dan tunggal. 6. Zhulum�t (di bidang akidah. Dari ke-7 metode umum "pemahaman" teks dalam filsafat hermeneutika yang telah dipaparkan. mulai digugat dan ditantang oleh aliran-aliran hermeneutika filsafat pada abad ke 20. berdialog dengan penafsir sehingga melahirkan suatu pemahaman. Intuisi dan cakrawala berfikir setiap penafsir dalam proses pamahaman tidak dicela. terkuak dengan jelas ketidakcocokan teori filsafat pemahaman ini dengan . dari paparan sekilas di atas. tidak dimungkinkan oleh karena pra konsepsi penafsir adalah syarat tercapainya suatu pemahaman. ekonomi.Suatu pemahaman objektif atas teks dalam arti pemahaman yang benar-benar sesuai dengan fakta ril. Berikut ini akan kita saksikan bagaimana teori tafsir model hermeneutika mulai merangsek dan menawarkan dahaga intelektual bagi kaum muslim modernis: 1.Tidak ada patokan dan standarisasi dalam menilai salah atau benar suatu penafsiran. karena ia merupakan prasyarat eksistensial bagi tercapainya suatu pemahaman. posisi pengarang tak lebih sebagai salah satu pembaca teks yang tidak berbeda dari penafsir-pembaca teks yang lain. Yaitu membawa misi perubahan untuk mengeluarkan manusia (Ikhraju al-Nas)dari kegelapan-kegelapan . Dalam teori filsafat hermeneutika. maka terbuka kemungkinan pemahaman-pemahaman baru.Upaya pemahaman teks adalah proses tiada henti. kaku dan kehilangan elan vital "maqashid syariah". Demikianlah. 7. 3. hukum. tidak dibenarkan pula suatu pembatasan dan finalisasi pemahaman yang tidak bisa berubah-ubah. sosial budaya dll) kepada sebuah cahaya. 4. penafsir saat ini menghadapi sebuah teks.Tujuan penafsiran teks pada saat ini. 5. maka dimungkinkan lahirnya pemahaman baru. Dengan demikian setiap terjadi perubahan dalam diri penafsir berikut cakrawala pikirannya. hermeneutika filsafat mengakui otoritas penafsir dan mengabaikan tujuan pengarang sama sekali. 2. Teks sebagai entitas mandiri dan berdaulat.Pemahaman teks adalah hasil perpaduan antara cakrawala pemahaman penafsir dengan cakrawala makna dalam teks.Hermeneutika filsafat sesuai dengan teori relatifitas penafsiran. Karena pemahaman adalah: upaya kreatif dan perpaduan antara cakrawala penafsir dengan wawasan teks. Antitesa dari teori klasik yang mengandaikan maksud pengarang sebagai tujuan penafsiran. bukan untuk menangkap maksud pengarang teks. dan bukannya pengarang teks. Nah dalam upaya penggalian prinsip dan nilai-nilai Qur'ani yang berdimensi keilahian dan kemanusiaan itulah penafsiran dihasilkan.transformatif. dunia-akhirat. Dari prinsip yang diyakini kaum muslim inilah usaha-usaha manusia muslim dikerahkan untuk menggali format-format petunjuk yang dijanjikan bakal mendatangkan kebahagiaan bagi manusia.

maka tak ada alasan untuk melarangnya karena hal tersebut justeru salah satu pesan yang dimuliakan dalam Islam. Dikatakan bahwa Al-Qur'an telah memberikan contoh ucapan selamat natal sebagaimana tersurat dalam ayat 33 surah Maryam. Produk Tafsir Ayat Toleransi. Lalu disimpulkan bahwa ucapan selamat natal sudah dicontohkan sendiri oleh nabi Isa as (tentu saja dengan asumsi ketika mengucapkannya kita berkeyakinan bahwa beliau adalah seorang nabi dan hamba Allah). Dua alasan dikemukakan terkait tidak sepantasnya kita mengharamkan ucapan selamat natal itu. 350) Saya akan melihatnya berbeda dari perspektif yang dipakai penulis buku. 350-357). Kedua: secara literal dan sepintas redaksi wassalamu diartikan dengan ucapan selamat. "Selamat Natal" Versi Surah Maryam: 33 Saya akan mengambil satu contoh produk tafsir mazhab toleransi yang diusung Zuhairi Misrawi. Nabi Yahya berhasil mereka bunuh. petunjuk untuk kebaikan manusia. Namun jika kita telusuri . bahasa dan susastera (tafsir lughawi. di antaranya tafsir analitik yang memiliki orientasi bermacam-macam sesuai dengan keahlian dan kepakaran masingmasing penafsir. sementara Isa diselamatkan Allah dan diangkat ke langit. Dalam sejarah tafsir. baik Yahya maupun Isa sama-sama dikejar dan ditindas Bani Israil. balaghi). fiqhi). bahkan yang sarat dengan muatan-muatan sosial dan reformasi keumatan (tafsir adabi-ijtima' i). tentang anjuran mengucapkan selamat natal kepada kaum kristiani. Metode penulisan tafsir bil dirayah ini juga telah melahirkan berbagai corak. (h.sifat dan karakter dasariah Al-Qur'an seperti yang telah dijelaskan. Pertama: redaksi 'wassalamu' yang dinisbahkan kepada nabi Isa 'Alayhi wa 'ala Nabiyyina Afdlalu al-Salam ini diucapkan beliau sendiri ketika ibunda Maryam bint 'Imran dipojokkan dan dituduh kelompok Yahudi bahwa Isa yang baru saja dilahirkan adalah hasil perzinahan. Perlu dicatat juga bahwa sebelumnya redaksi seperti ini ditujukan pula kepada nabi Yahya 'Alayhi wa 'ala Nabiyyina Afdlalu al-Salam dengan redaksi 'wasalamun' (ayat 13). tasauf dan tazkiyah (tafsir isyari). Ada jenis tafsir 'bil riwayah' dan juga 'bil dirayah'. dan lain sebagainya. Ini belum lagi peristiwa kelahirannya yang menakjubkan dan mengundang kecurigaan luar biasa. Maryam kemudian menunjuk Isa yang merupakan mukjizat dari Allah swt untuk menepis tuduhan murahan itu (ayat 28-33). saintifik (tafsir 'ilmiy). Sebagai ungkapan bahagia. Sehingga wajar keduanya menggunakan redaksi Salaam. Membantah tuduhan itu. yang datang dari Zat Yang Maha Transenden (Tanzil min Rabbi al-'Alamin). tidak kuasa atas makar dan sangat membutuhkan pertolongan dan bantuan-Nya. Ada yang berorientasi: hukum fiqih (tafsir ahkam. Kesemua corak dan orientasi penafsiran itu tetap saja berporos pada spirit yang sama bahwa Al-Qur'an dapat ditinjau dari pelbagai spektrum kemanusiaan dengan penekanan khusus sebagai kitab hidayah. Para ulama tafsir dan bahasa menyatakan bahwa jenis redaksi seperti ini sering diungkapkan pada saat dan situasi seorang hamba Allah dalam kondisi sangat lemah. telah lahir berbagai produk karya ulama yang mencoba menguraikan kandungan Al-Qur'an dari berbagai perspektif dan corak penafsiran. Kedua: selamat natal adalah ucapan simbolik atas hari bahagia umat Kristen. [14] Karena keduanya. Pertama: selamat natal adalah tradisi keagamaan yang sudah berkembang lama sekali. Memang diakui luas oleh para pakar Al-Qur'an bahwa teks-teks kitab suci mengandung pelbagai kemungkinan makna dan pemahaman sesuai kecenderungan bidang ilmu yang dikuasai setiap mufasir. (h.

[16] Keempat: sesuai analisa bahasa dan sastra Arab. Ini adalah jalan yang lurus. maka jadilah ia 36. Apabila Dia telah menetapkan sesuatu. fungsi definitif dari "al" pada kata assalamu adalah untuk "semua jenis keselamatan" (al lil jinsi) jika digabungkan dengan konteks rangkaian ayat ini yang merupakan pengingkaran dan penolakan akidah Nasrani. [17] Saya hanya ingin mengatakan bahwa berat sekali tugas menganalisa dan mencermati kandungan Al-Qur'an. Paparan saya itu bukan berarti saya sudah menafsiri Al-Qur'an tapi yang saya lakukan adalah mengutip tafsir para ulama yang diakui otoritasnya di bidang tafsir.37. dia juga sebagaimana makhluk Allah lainnya dilahirkan (hidup). Fungsi kebahasaan seperti ini sudah berlaku umum dan menjadi 'urf pemakaian AlQur'an. Itulah Isa putera Maryam. Surah Thaha ayat 48 misalnya menyatakan wassalamu 'ala man ittaba'alhuda. yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. sehingga wajar jumhur/ulama berpendapat mustahil seorang bisa menterjemahkan Al-Qur'an secara harfiyah. mengalami kematian dan dibangkitkan kembali pada hari pembalasan. maka Dia hanya berkata kepadanya: "Jadilah". 35. dan juga bagi kaum Nasrani yang menjadikannya juru selamat. Seakan ayat ini memberi pesan bahwa Isa menyatakan semua keselamatan hanya untuk dirinya dan azab lah yang akan ditimpakan kepada para penentangnya dari umat Yahudi ataupun para pemujanya dari umat Kristiani. Sesungguhnya Allah adalah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak layak bagi Allah mempunyai anak. maka sembahIah Dia oleh kamu sekalian. [15] Ketiga: sesuai konteks rangkaian ayat di atas dan korelasinya dengan rangkaian ayat selanjutnya (ayat 34-37) yang terjemahannya sebagai berikut: 34. Justeru dengan pengakuan tersebut. Nah tugas ini akan lebih berat lagi kalau sudah menyangkut ayat-ayat akidah yang fondasional. Isa as telah menetapkan bahwa dirinya hanya sebagai hamba yang menyembah Allah swt semata. Kita tidak perlu berapologi untuk sekedar menampakkan toleransi semu dan munafik. Karena rangkaian ayat yang sebelum ini menjelaskan secara gamblang peristiwa kelahiran Isa dari rahim Maryam ibunya yang dirasa sangat tidak mungkin ia kemudian dinobatkan menjadi anak Tuhan. Maka kecelakaanlah bagi orangorang kafir pada waktu menyaksikan hari yang besar. yang mengatakan perkataan yang benar. apalagi dengan menggadaikan akidah kita. . maka ia lebih merupakan sindiran (ta'ridl) untuk melaknat kaum Yahudi atas tuduhan zina kepada Maryam. selain makna aslinya ia juga mengandung pesan yang tidak diungkapkan bahwa azab lah yang akan didapat bagi orang yang mendustakan dan berpaling dari petunjuk itu. Maha Suci Dia. karena kualitas bahasa arab yang sangat tinggi untuk Al-Qur'an. Isyarat itu terungkap dari ayat 35. sebagai amanah ilmiah yang harus disampaikan. Rangkaian ayat ini justru menepis kebolehan mengucapkan selamat natal.beberapa kitab tafsir yang memiliki otoritas ternyata bukan seperti itu yang dimaksudkan rangkaian ayat ini. Isa sesungguhnya adalah anak manusia biasa yang dilahirkan melalui "proses yang diluar kebiasaan". ia tidak bisa difahami dengan baik hanya secara literal atau mengikuti petunjuk terjemahan lahirnya saja. Hanya saja beliau akan memperoleh keselamatan sebagaimana para nabi dan rasul lainnya pada hari pembalasan yang keseluruhan manusia sangat sulit untuk memperoleh keselamatan hisab pada hari itu. Maka berselisihlah golongan-golongan (yang ada) di antara mereka. seperti diyakini orang-orang Nasrani.

ada baik dan buruk.Visi Al-Qur'an tentang Pluralitas dan Toleransi Akhirnya. dan dalam waktu yang sama harus berpegang teguh pada kebenaran keyakinannya sendiri. haq dan bathil. Jakarta Selatan. malaikat. Allah SWT lah yang akan mengadili mereka di hari perhitungan kelak. seperti: kejahatan. Penerbit: Fitrah. ii) kayakinan bahwa perbedaan manusia dalam agama dan keyakinan merupakan realitas (ontologis) yang dikehendaki Allah SWT yang telah memberi mereka kebebasan untuk memilih iman atau kufur. al-Syura: 15) Dengan demikian hati seorang muslim menjadi tenang. kekufuran dan segala sesuatu yang Dia benci. dan Dosen Tafsir pada STIU DI al-Hikmah.--[1] Makalah disampaikan dalam acara seminar dan bedah buku "Al-Qur'an Kitab Toleransi". tidak perlu terjadi konflik batin antara kewajiban berbuat baik dan adil kepada mereka (al-Mumtahanah: 8). Staff Peneliti di INSIST dan PP Ikatan Da'i Indonesia. Tapi di sisi lain. Lc. sebagai etape akhir pembacaan saya atas pembacaan (Qira'ah 'ala Qira'ah) Zuhairi. [2] Penulis adalah Ketua I LP3MI Nurul Hikmah. Begitu juga Allah SWT mencela perbuatan zalim meskipun terhadap orang kafir (al-Maidah: 8). yang diselenggarakan oleh Program Pasca-Sarjana Kelas Internasional PTIQ-Jakarta pada hari Kamis. iman. apapun agamanya.--------. kebangsaan dan kesukuannya. Bagi saya sikap yang tepat adalah menerima kehendak Allah SWT dalam menciptakan agama-agama ini sebagai berbeda-beda dan beragam. Kemuliaan ini mengimplikasikan hak untuk dihormati. 3 April 2008. (al-Hajj: 69. Dr. dan segala sesuatu yang Dia cintai dan ridhai. Tapi kehendak Ilahiah ini ada dua macam. Allah SWT menciptakan sesuatu dan memang menghendakinya secara ontologis dan legalistis. Syekh Yusuf al-Qaradhawi[ 18] menyebutkan empat faktor yang melahirkan sikap toleransi yang unik selalu mendominasi perilaku umat Islam terhadap nonmuslim: i) keyakinan terhadap kemuliaan manusia. yaitu: 1) kehendak ontologis (iradah kawniyyah) dan 2) kehendak legalistis (iradah syar'iyyah). kebatilan. Allah SWT menciptakan sesuatu dan menghendakinya secara ontologis tapi tidak secara legalistis. cahaya dan gelap. kebenaran. Karena Allah swt Yang Maha Bijak telah menghendaki untuk menciptakan jagad raya dan segala isinya ini dengan bentuk dan kondisi yang demikian sistematis dan seimbang.--------. 2007. disini perlu ditegaskan bahwa mengakui eksistensi praktis agama-agama lain yang beragam dan saling berseberangan ini dalam pandangan Islam tidak secara otomatis mengakui legalitas dan kebenarannya seperti yang diajarkan oleh kaum pluralis. Oleh karenanya tidak dibenarkan memaksa mereka untuk Islam. -----------. . Di satu sisi. setan. iii) seorang muslim tidak dituntut untuk mengadili kekafiran orang kafir atau menghukum kesesatan orang sesat. Wallahu A'lam bil Shawab. merujuk kepada istilah yang dipopulerkan Syekh Muhammad 'Abduh (1849-1903 M). iv) keyakinan bahwa Allah SWT memerintahkan untuk berbuat Adil dan mengajak kepada budi pekerti mulia meskipun kepada orang musyrik (atTawbah: 6). karya sdr. Zuhairi Misrawi. seperti: kebaikan. bahagia dan sengsara.

88 [5] Nasr Hamid Abu Zaid. Al-Zaitunah. Qira'at al-Nash al-Diniy bayn al-Ta'wil al-Gharbi wa alTa'wil al-Islami (Kairo: Maktabah Syuruq. Ibnu 'Athiyyah seperti dikutip oleh Imam alAlusi dalam Kitab Ruh al-Ma'ani vol. 1992). hlm. hlm. hlm. 2308 [17] lihat Tafsir al-Alusi dalam Ruh al-Ma'ani. hlm. Isykaliyyat al-Qira'ah fi al-Fikr al-'Araby al-Mu'ashir (Univ. 16 h. 2006) hlm.52 [13] Mahiyyat al-Hermeneutiqa. hlm. Jurnal al-Mahajja vol. 55 [12] Ahmad Wa'izhi: Mahiyyat al-Hermeneutiqa. 44 [8] Isykaliyyat al-Qira'ah wa Aaliyyat al-Ta'wil.[3] Mustafa al-Kaylani. 21 [6] Isykaliyyat al-Qira'ah wa Aaliyyat al-Ta'wil. 131 [18] Ghairu al-Muslimin fi al-Mujatama' al-Islami: 53-55 Diposting oleh Akbar Muzakki di 19:52 0 komentar: Posting sebuah Komentar Posting Lebih Baru Posting Lama Halaman Muka Berlangganan: Posting Komentar (Atom) Arsip Blog . Opcit. hlm. 117-118 [16] lihat Tafsir Fi Zhilal al-Qur'an. hlm. 49 [11] Muhammad 'Imarah. hlm. 9 juz. 49 [9] Isykaliyyat al-Qira'ah wa Aaliyyat al-Ta'wil. 107 [15] lihat Tafsir Ibnu Katsir. 40 [7] Isykaliyyat al-Qira'ah wa Aaliyyat al-Ta'wil. juz 4 h. hlm. 34 [4] Lihat Ilyas Quwaisim. juz 3 h. 1992). h. hlm.54-58 [14] lihat Tafsir al-Muharrar al-Wajiz. Tunis: 1998). 49 [10] Isykaliyyat al-Qira'ah wa Aaliyyat al-Ta'wil. Isykaliyyat al-Qira'ah wa Aaliyyat al-Ta'wil (Beirut: alMarkaz al-Tsaqafi al-'Araby. Wujud al-Nash wa Nash al-Wujud (Dar al-Tunisiyah li alNasyr.6.

. antara Fakta dan Kebohon..• ▼ 2007 (37) o ▼ November (16)  KASAD : Banyak Agen Asing Incar Pelajar Indonesia  "Penyesatan" Fatwa Sesat  2010 Surabaya Kekurangan Air Baku  Ketum DDII: Politisi Ideal Bisa Mengamalkan Syaria....  FUI Minta Presiden Bubarkan Ahmadiyah • ..  Pembenci Al-Quran itu akan Buat Film tentang Islam..  Kemana Dana-dana Palestina Mengalir?  Fatwa MUI untuk Luruskan Penyimpangan  “Mengenang Seabad Mohammad Natsir”  Pertumbuhan HIV Indonesia Tercepat di Asia  Fatwa MUI dan Pandangan Fuqaha Tentang Nabi Palsu  Kebijakan Politik Saya Didorong Sentimen ke Kriste. o ► April (30)  Prof Dr.  Spinnet anti Porno: Dakwah di Jalur TI  “Kritik Pesantren Sidogiri terhadap Quraish Shihab..  Waspadai “Injilisasi” Umat Islam-1  Waspadai “Injilisasi” Umat Islam [2]  Indonesia tergolong “Jawara” Akses Situs Porno  Daftar Produk “Boikot” Belanda Versi PPIM  Lebih dari 22 Juta Warga RI Berobat ke LN  "Sebuah Imperium Menunggu Rubuh"  MUI “Angkat Tangan” Kehalalan Roti BreadTalk  Sebuah Imperium Menunggu Rubuh [2]  Ketua Baznas: Perusahaan Bisa Dikenakan Zakat  Nasib Ahmadiyah Terancam Dibubarkan  Homoseksual dan Lesbian dalam Perspektif Fikih  Membincang Toleransi dalam Perspektif Al-Qur'an[1]. KPI akan Umumkan Pelanggaran Siaran Tel.  Privatisasi di Indonesia. antara Fakta dan Kebohon..  Umat Islam dan Kristen Diserukan Bersatu Membela A. antara Fakta dan Kebohon..  “Hadits Nabi di Jalanan Austria”  Vatikan Ingin Bangun Gereja di Saudi  Mulai Mei..... Budhyatna: Jangan Terbuai Pernyataan Vati.  OKI yang Masih Terlupakan  Privatisasi di Indonesia..  MUI Jatim: Sudah Benar Abu Zayd Ditolak!  KH Kholil Ridwan "Nasr Hamid Masuk dalam Jaringan ..  Muhammad Ajib : Da’i Cyber Penyusun Perpustakaan D........  Iklim investasi dan putusan KPPU  Kinerja sektor energi dan krisis minyak o ► Desember (21) ► 2008 (103) o ► Januari (30) o ► Februari (15) o ► Maret (19)  Tangkal Situs Negatif.  Privatisasi di Indonesia. Depkominfo Siapkan Regulasi......

Wassalamu'alaikum Warrahamatullahi Wabarrakatuh .. Sebagai anak ketiga dari enam bersaudara dari hasil pernikahan Achmad Muchtar dan Anisah.. Muhammad 'Afkar Aizar (9).... selama kehidupanku baru kali inilah aku sem. Artis Porno Indonesia 90 Persen Pelajar Ahmadiyah Bajak Al Qur`an *Kyai..... ► Mei (9)  Fatwa MUI dan “Diktator” Minoritas  Pengecam MUI untuk Tahu Diri  Kedudukan Lembaga Fatwa dan Kebatilan Pendapat  Adnan Buyung Anggap HTI. Virus Liberal di UIN Malang Dewan Dakwah dan Wahdah Islamiyah Gagas Forum Sila.. Dan blog ini bermanfaat bagi segenap manusia.. “Pemikiran Modern Ala Barat: Paradigma Baru Pendid. Kartini dan Islam MUI: Waktu Ahmadiyah Telah Habis Bakor Pakem Rekomendasikan Penghentian Aktivitas A. MMI dan FUI Bukan Wakil M. Ahmadiyah Akhirnya Dilarang 'Islam tak Butuh Mirza Ghulam Ahmad' MUHAMMADIYAH DAN AHMADIYAH MUI Sumsel Cekal Delapan Artis Seronok Pertama.                 Mengenai Saya Assalamu'alaikum Warrahamatullahi Wabarrakatuh... Museum Sains dan Tekhnologi Islam di Ista.. Semoga Allah memberi hidayah dan menjadikan seluruh anggota keluargaku shalihshalihah.. 28 April 1967.  Barack Obama Berjanji Wujudkan Mimpi Israel  Proyek Perang Kuman Itu di Indonesia [2]  FUUI: Kasus NII Rekayasa Politik  Aceh akan Peringati Seabad Wafatnya Pejuang Muslim.7).o Homoseksual dan Lesbian dalam Perspektif Fikih [2]. Pendapatan Industri Pornografi Mengalahkan Perusah. Sehari-hari pekerjaaanku bergelut dengan berita dan pemberitaan di media majalah Suara Hidayatullah. Kini aku juga telah menikahi Aliyaturrahmah dan telah dikaruniai 4 anak diantaranya : 'Afra Salsabiilah (11). Aulia Adilah (7)... Terima kasih atas perhatiannya. Lahir di Kelurahan Kandangsapi. dan Amirah (3..  Hamas Kecam Rencana Gus Dur Menghadiri Perayaan 60...

“Allahumma inni as-aluka nafsan bika muthma’innatan tu’minu biliqaika. Jangan lupa sesama saudara Mereka belahan kasih sayangku BERITA DUNIA ISLAM • • • http:///www. biar bacanya lebih lancar PERINGATAN Hadits Ibnu Asakir. ridha terhadap ketentuanmu.insistnet. wa taqna’ bi’athaaika.com http://www.com http://www.Amirah Ayo sholat dulu.com . serta merasa cukup terhadap rezeki yang telah dikaruniakan oleh-Mu). yang tenang jika menemui-Mu. wa tardhabi qadhaika.harunyahya.hidayatullah.” (Ya Allah aku memohon kepada-Mu agar dapat memiliki hati yang thuma’ninah.

atau meletakkan Islam vis a vis Barat dalam setting yang konfrontatif. Memperkuat pandangan hidup Muslim artinya memberi solusi terhadap persoalan ummat secara fundamental dan integral. dalam artian bahwa disatu sisi Islam dapat “mengadapsi” atau meminjam konsep-konsep asing yang sesuai atau disesuaikan terlebih dulu dengan pandangan hidup Islam. dan di sisi lain Islam dapat menolak ide asing yang tidak diperlukan. Alparslan Acikgenc. pakar Ekonomi Islam asal Pakistan dibawah ini: The capitalist and the Socialits model can have no place as our idealtypes.com Membangun Kembali peradaban Islam 4 Ditulis oleh banihamzah di/pada April 26. and moral chalenges of our time and the real need of a humane society and a just economy. maka membangun kembali peradaban Islam adalah memperkuat pandangan hidup Islam. dengan kesadaran bahwa realitas ajaran Islam memang berbeda secara asasi dari kebudayaan manapun. Both have been unable to meet in their own realms the basis economic. although we would like to avail from all those experience of mankind which can be gainfully assimilated and integrated within the Islamic framework and can serve our own purpose wihtout in any way impairing out values and norms. social. But we must reject the archytype of capitalism and socialism. Dengan pendekatan ini kita tidak perlu meletakkan dua pilihan yang saling bertolak belakang. both are exploitative and unjust and fail to treat man as man.mitrafm. 2007 Membangkitkan tradisi keilmuan Jika substansi peradaban Islam adalah pandangan hidupnya. Barat dan kebudayaan asing lainnya harus dilihat dalam konteks kebutuhan yang bersifat konsepsional.• http://www. Hal ini dilakukan dengan menggali konsep-konsep penting khazanah ilmu pengetahuan Islam dan menyebarkannya agar dimiliki oleh kaum terpelajarnya yang secara sosial berperan sebagai agen perubahan dan yang secara individual akan menjadi decision maker. political. Both this model of development are incompatible with our value system. as God’s vicegerent (khalifah) on earth. dan bahkan dalam kontek pengembangan sains telah diformulasikan dengan baik oleh Prof. . termasuk Barat. Pentingnya pandangan hidup Islam ditekankan al-Attas dalam berbagai tulisannya. Untuk menggambarkan pentingnya pandangan hidup Islam atau framework Islam dalam menerima dan menolak konsep-konsep asing kita rujuk sinyalemen Professor Khurshid Ahmad.

tapi mengadopsi suatu konsep tanpa proses tranformasi yang utamanya melibatkan pengetahuan dan kesadaran akan pandangan hidup. Disini fungsi Islam sebagai agama dan pandangan hidup adalah memberi petunjuk bagi penembangan manusia sesuai dengan arah dan garis yang benar. Moral dan material. Sementara bagi mereka yang benar-benar dapat memahami esensi pandangan hidup Islam dan juga Barat akan dapat mengidentifikasi lebih akurat perbedaan dan bahkan pertentangan pada keduanya dan dapat dengan secara kritis menentukan apakah suatu konsep asing diterima (diadapsi) atau ditolak sama sekali. Dalam Islam fokus dari upaya-upaya pembangunan adalah manusia. sosial. tidak adil dan gagal memperlakukan manusia sebagai manusia. tapi selalu dalam framework pengembangan manusia seutuhnya. ekonomi dan sosial. tidak akan memajukan peradaban yang bersangkutan tapi justru menghancurkan.politik. Konsep pembangunan dalam Islam tidak sama dengan konsep pembangunan kapitalis ataupun sosialis. Pembanguan ekonomi dalam literatur umum terdiri dari serangkaian kegiatan ekonomi yang menyebabkan pertumbuhan dalam produktifitas eknomi secara keseluruhan dan produktifitas pekerja secara rata-rata. Bagi mereka yang gagal memahami hal ini secara akademis. karena pembangunan ekonomi adalah bagian dari pengbangan manusia. Barat atau kebudayaan asing lainnya dengan secara terbuka seharusnya mengakui bahwa Islam memiliki pandangan hidup. Kedua model pembangunan ini tidak cocok dengan sistem nilai kita. Perkembangan merupakan tujuan dan aktivitas yang berorientasi pada nilai. Tetap mempertimbangkan aspek-aspek eknomi. baik Orientalis maupun intelektual Muslim.Terjemahan bebasnya adalah bahwa model [ekonomi] kapitalis dan sosialis tidak bisa menjadi tipe ideal kita. moral masa kini dan memenuhi kebutuhan real umat manusia dan ekonomi yang adil di dunia mereka sendiri. dalam mengkaji ekonomi asing dan mengembangkan ekonomi Islam. meskipun tetap membangun sikap toleransi. filsafat dan kebudayaannya sendiri yang harus diterima apa adanya dan tidak ada jalan rekonsiliasi. dan juga pertumbuhan rasio antara tenaga kerja dan keseluruhan penduduk. akan menganggap bahwa penolakan konsep Barat dalam bentuk apapun akan selalu dihubungkan dengan kecemburuan kultural dan religius (cultural and religious prejudice). spiritual dan material. meskipun kita akan memanfaatkan semua pengalaman manusia untuk diasimilasikan dan diintegrasikan dengan framework Islam. Berdasarkan framework itu maka pengembangan ekonomi Islam bersifat komprehensif yang meliputi aspek-aspek moral. Pernyataan Professor Khurshid di atas telah cukup jelas menunjukkan pentingnya pandangan hidup atau dalam istilahnya framework Islam. Sesungguhnya. Pembangunan ekonomi dalam Islam lebih luas dari itu. sebagai khalifah Allah dimuka bumi. keduanya eksploitatif. . Bahkan kita kita harus menolak model kapitalisme dan sosialisme. dalam suatu pandangan hidup dan peradaban proses ‘meminjam’ atau adapsi adalah hal yang alami dan ini telah terjadi dalam sejarah pemikiran Islam. yang sebenarnya tidak perlu. demi meraih kesejahteraan hidup dunia dan akherat. Pembangunan berearti pembangunan manusia secara fisik dan lingkungan sosial ekonominya. untuk dapat membantu mencapai tujuan kita sendiri dengan tanpa mengotori nilai-nilai dan norma kita. spiritual dan fisikal tidak terpisahkan. Keduanya telah gagal mengatasi tantangan ekonomi. diarahkan pada perkembangan manusia dari berbagai dimensi.

telah semakin . proses ini memerlukan pengetahuan tentang paradigma dan pandangan hidup Islam yang tercermin di dalam al-Qur’an dan Sunnah serta pendapat-pendapat para ulama terdahulu yang secara ijma’ dianggap Qoth’iy. Sesungguhnya proses pembaharuan atau Islamisasi yang berulang-ulang dalam tradisi pemikiran Islam ini telah di ramalkan oleh Nabi sendiri dalam hadithnya tentang tajdid. animistis dan kultur kebangsaan yang bertentangan dengan Islam. integral dan memproyeksikan pandangan hidup Islam (worldview) yang dinamis. teratur dan rasional yang dipancarkan oleh konsep Islam sebagai Din. Dalam konteks zaman sekarang. Namun proses Islamisasi tidak melulu berarti menyesuaikan unsur-unsur asing dengan Islam dan tidak pula bermakna bahwa ajaran asasi agama Islam itu usang dan perlu diperbaharui agar sesuai dengan keadaan zaman yang terus menerus berubah. Proses pembebasan ini sekarang dikenal dengan sebutan Islamisasi. sains dan lainnya itu benar-benar sesuai dengan Islam dan sejalan dengan pernyataan dan kesimpulan umum Kebenaran yang Diwahyukan (Revealed Truth). Proses tajdid diperlukan karena pemahaman ummat Islam terhadap ajaran Islam. Proses pembaharuan atau Islamisasi yang merujuk kepada sumber asal ajaran Islam dan ulama yang memiliki otoritas dibidangnya menunjukkan pembaharuan dalam Islam tidak bersifat evolusioner tapi lebih bermakna devolusioner. namun ‘memahami’ tidak selalu berarti ‘mengambil konsep’. tajdid atau islah seperti yang didefinisikan al-Attas mempunyai implikasi membebaskan. misalnya tidak perlu mengambil konsep pembebasan dari pandangan hidup asing. mitologis. sesuai dengan makna Islam itu sendiri. pembebasan manusia dari pengaruh pemikiran sekuler terhadap pikiran dan bahasanya. Selain itu diperlukan juga pemahaman terhadap kebudayaan asing dan pemikiran yang menjadi asasnya. Jika terdapat penafsiran atau pemahaman yang tidak sejalan maka perlu dikoreksi ulang dengan apa yang disebut dengan Perubahan Paradigma (paradigm shift).Dengan pendekatan integral melalui konsep pandangan hidup Islam yang merujuk kepada tradisi intelektual Islam secara kritis dan kreatif akan menunjukkan bahwa pemikiran dalam Islam itu bersifat konseptual. artinya membebaskan manusia dari belenggu tradisi magis. yang berarti perubahan pandangan hidup dan sistem metafisikanya. pandangan hidup Islam tercipta dari adanya konsep ilmu pengetahuan dan pengembangannya yang dibentuk dari kerangka kerja sistem metafisika Islam yang utamanya meliputi pengertian tentang kebenaran dan realitas yang Mutlak. sebab ia telah inheren dalam pemikiran Islam dan pembaharuan Islam. Secara teoritis. filsafat. Maka. Kembali kepada ajaran asal tidak selalu bisa difahami sebagai kembali kepada corak kehidupan dizaman Nabi. dalam artian bahwa ia bukan merupakan proses perkembangan bertahap dimana yang terakhir lebih baik dari yang pertama. Dalam perspektif pandangan hidup inilah kita dapat mengetahui apakah suatu pemahaman atau penafsiran tentang Islam yang berupa ilmu pengetahuan. dan bukan karena ajaran Islamnya. atau pembebasan manusia dari dorongan fisiknya yang cenderung sekuler dan tidak adil kepada fitrah atau hakekat kemanusiaannya yang benar. tapi suatu proses pemurnian dimana konsep pertama atau konsep asalnya difahami dan ditafsirkan sehingga menjadi lebih jelas bagi masyarakat pada masanya dan penjelasan itu tidak bertentangan dengan aslinya. tapi harus dimaknai secara konseptual dan kreatif. Kita. (Sunan Abu Dawud). Dalam tradisi pemikiran Islam aktivitas koreksi ulang atau konseptualisasi ulang ini dapat berarti tajdid yang hakekatnya selalu berorientasi pada pemurnian (refinement) yang sifatnya kembali kepada ajaran asal dan bukan adopsi pemikiran asing.

jauh dari bentuk dan sifat aslinya. sehingga pendapat atau pemahaman yang baru mesti menolak pendapat yang lama dan seterusnya. Pembaharuan dalam Islam bukan menolak atau menghapuskan pendapat lama atau konsep asalnya tapi merupakan rekonseptualisasi yang kreatif berdasarkan akumulasi pemikiran lama yang dijalin dalam ikatan tradisi dan otoritas. Perlu ditekankan disini bahwa dalam tradisi Islam (sunnah) setiap usaha pembaharuan (tajdid) pamahaman dan penafsiran Islam selalu merujuk kepada kebenaran yang mutlak yang termaktub dalam al-Qur’an. Ini sangat berbeda secara diametris dengan pemikiran dalam kebudayaan Barat yang sifatnya terus menerus mencari dan tidak memiliki rujukan yang mutlak dan pasti. .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful