Pajak pertambahan nilai

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Dalam bahasa Inggris, PPN disebut Value Added Tax (VAT) atau Goods and Services Tax (GST). PPN termasuk jenis pajak tidak langsung, maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung pajak atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung. Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak pedagang atau produsen sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang disingkat PKP. Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau membuat produknya. Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu sebesar 10 persen. Dasar hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah Undang-Undang No. 8/1983 berikut revisinya, yaitu Undang-Undang No. 11/1994 dan Undang-Undang No. 18/2000.

Karakteristik
• • • • •

Pajak tidak langsung, maksudnya pemikul beban pajak dan penanggung jawab atas pembayaran pajak ke kantor pelayanan pajak adalah subjek yang berbeda. Multitahap, maksudnya pajak dikenakan di tiap mata rantai produksi dan distribusi. Pajak objektif, maksudnya pengenaan pajak didasarkan pada objek pajak. Menghindari pengenaan pajak berganda. Dihitung dengan metode pengurangan tidak langsung (indirect subtraction), yaitu dengan memperhitungkan besaran pajak masukan dan pajak keluaran.

Perkecualian
Pada dasarnya semua barang dan jasa merupakan barang kena pajak dan jasa kena pajak, sehingga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kecuali jenis barang dan jenis jasa sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4A Undang-Undang No. 8/1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 18/2000 tidak dikenakan PPN, yaitu:

Barang tidak kena PPN

Menir (groats) atau beras jagung. baik yang beriodium maupun tidak beriodium. Jagung yang telah dikupas maupun belum. kedelai kuning. Beras setengah giling atau digiling seluruhnya. • Segala jenis jagung. • Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. dalam bentuk: 1. pecah maupun utuh. seperti jagung putih. Beras pecah. restoran. Garam. dan sejenisnya. Empulur sagu. dengan kadar NaCl 94. Gilingan. 2. Gas bumi. 2. atau berondong jagung. dikilapkan maupun tidak. Tepung. Panas bumi. bijih besi. 4. 3. meliputi: • 1. 3. Menir (groats) beras. warung. 5. dalam bentuk: 1. 4. jagung kuning. 2. bijih tembaga. beras merah. Batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara. tepung kasar. rumah makan. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat . 3. seperti kedelai putih. sepanjang masih dalam bentuk butiran. jagung kuning kemerahan. • • Segala jenis kedelai. 2. atau beras ketan putih dalam bentuk: 1. 5. • Sagu. bijih emas. Jagung tongkol dan biji jagung atau jagung pipilan. kedelai hijau. disosoh. Garam meja. meliputi: Minyak mentah. Bijih timah. termasuk: 1. 6. • Segala jenis beras dan gabah. bijih nikel. bijih perak.• Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. Beras berkulit (padi atau gabah) selain untuk benih.7%. Garam dalam bentuk curah atau kemasan 50 kilogram atau lebih. beras ketan hitam. dan bijih bauksit. seperti beras putih. atau kedelai hitam. 2. Pasir dan kerikil. dan bubuk sagu.

3. Jasa ahli kesehatan. Jasa kebidanan dan dukun bayi. rumah bersalin. fisioterapis. dan ahli gigi. Jasa pemadam kebakaran. 2. Jasa pemakaman. Jasa pelayanan rumah ibadah. kecuali yang bersifat komersial. 3. Jasa dokter hewan. meliputi: Jasa dokter umum. asuransi. serta anjak piutang. meliputi: . klinik kesehatan. • Jasa di bidang keagamaan. 5. 3. tidak termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha katering atau usaha jasa boga. kecuali jasa penyediaan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga. • 1. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan. Jasa di bidang olahraga. emas batangan. dan sanatorium. 4. Jasa pelayanan sosial lainnya. Jasa tidak kena PPN • Jasa di bidang pelayanan kesehatan. 5. 4. Jasa rumah sakit. Jasa di bidang pelayanan sosial. tidak termasuk broker asuransi. meliputi: 1. Jasa asuransi. dokter spesialis. kecuali yang bersifat komersial. meliputi: 1. 7. 6. • Uang. 2. Jasa di bidang perbankan. termasuk krematorium. 2. dan surat-surat berharga. Jasa lembaga rehabilitasi. jasa penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan surat kontrak (perjanjian). • • 1. Jasa paramedis dan perawat. meliputi: Jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo. 6. 2. dan sewa guna usaha dengan hak opsi. dan dokter gigi.maupun tidak. laboratorium kesehatan. Jasa perbankan. kecuali yang bersifat komersial. • Jasa di bidang pendidikan. ahli gizi. kecuali yang bersifat komersial. 3. Jasa lainnya di bidang keagamaan. Jasa sewa guna usaha dengan hak opsi. Jasa pemberian khotbah atau dakwah. seperti akupunktur. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko yang dilakukan oleh PT Pos Indonesia (Persero).

serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap. rumah penginapan. losmen. seperti jasa penyelenggaraan pendidikan umum. 3. • Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum. • Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan termasuk jasa di bidang kesenian yang tidak bersifat komersial. Jasa tenaga kerja. pendidikan kedinasan. dan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Jasa di bidang tenaga kerja. 2. seperti pementasan kesenian tradisional yang diselenggarakan secara cuma-cuma. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan air. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan seperti jasa penyiaran radio atau televisi. pendidikan kejuruan. hostel. yang bukan bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan komersial. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). • Jasa di bidang perhotelan. meliputi: 1. Izin Usaha Perdagangan (IUP). dan pendidikan profesi. seperti kursus. Jasa penyediaan tenaga kerja sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak bertanggungjawab atas hasil kerja dari tenaga kerja tersebut. Jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah. pendidikan akademik. meliputi jenis-jenis jasa yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah seperti pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB). danau maupun sungai yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta. Jasa penyelenggaraan pelatihan bagi tenaga kerja. Jasa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah. laut. meliputi jasa angkutan umum di darat. 2. pendidikan luar biasa. losmen. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel. 2. motel. baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta. Jasa persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel. pendidikan keagamaan. meliputi: • • • 1.1. rumah penginapan. dan hostel. motel. Menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang Harus Dibayar dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Objek Pajak Pertambahan Nilai .

penyerahan secara konsinyasi. yang menyerahkan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP). sepanjang PPN sewaktu memperoleh aktiva dapat dikreditkan menurut perundangundangan perpajakan yang bersangkutan. yaitu PPN Barang dan PPN Jasa. penyerahan kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang. Dari keenam jenis PPN. 4. yang masih tersisa pada saat pembubaran. 3. . maka terdapat 6 (enam) jenis PPN. atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya. 3. 5. penyerahan likuidasi atas aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjuabelikan. pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma.Apabila ditinjau dari jenis penyerahan yang menjadi objek PPN. yaitu daerah Republik Indonesia. 7. PKP yang menyerahkan harus dalam lingkungan perusahaan /pekerjaannya terhadap barang yang dihasilkan. adanya penyerahan. penyerahan dari cabang ke cabang lainnya. Unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk dapat dikenakan PPN adalah: 1. 4. 2. 5. yang diserahkan adalah Barang Kena Pajak (BKP). pengalihan barang karena suatu perjanjian sewa-beli dan perjanjian leasing. 2 (dua) jenis di antaranya dibatasi dengan unsur untuk dapat mengenakan PPN. penyerahannya harus di Daerah Pabean. Penyerahan yang dikenakan PPN meliputi: 1. 2. penyerahan hak karena suatu perjanjian. 6.

barang hasil penangkaran. 4. penyerahan cabang ke cabang lainnya. barang tidak berwujud yang dimanfaatkan di Indonesia. kecuali pengusaha kecil. Barang kena pajak dimungkinkan berbentuk: 1. . atau penggabungan usaha. Barang yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah: barang hasil pertanian. Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha. PKP yang melakukan penyerahan tersebut harus dalam lingkungan perusahaan/pekerjaannya. barang hasil budidaya.Penyerahan yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah: 1. melakukan usaha jasa atau memanfaatkan jasa dari luar negeri. barang hasil peternakan. 3. atau pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang diikuti dengan perubahan pihak yang berhak atas barang kena pajak. barang hasil perikanan. mengekspor barang. melakukan usaha perdagangan. baik berbentuk orang pribadi maupun badan termasuk BUT yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya menghasilkan barang. barang hasil pertambangan dan barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari. barang berwujud dan bergerak. barang hasil kehutanan. barang hasil perkebunan. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar negeri. 2. 2. barang hasil perburuan. mengimpor barang. penyerahan untuk jaminan utang-piutang. penyerahan kepada Makelar. Daerah Pabean adalah daerah Republik Indonesia. yang melakukan penyerahan BKP. 3. barang berwujud dan tidak bergerak. atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya yang telah mendapat izin pemusatan pembayaran pajak. penyerahan dalam rangka perubahan bentuk usaha.

orsospol. BUMN/BUMD. 7. Adapun yang menyerahkan adalah Pengusaha kena pajak (PKP) yang dapat berupa Orang Pribadi atau juga Badan. Yayasan. 6. 4. 8. melakukan atau tidak melakukan usaha. Bentuk Usaha lainnya. CV. Pengertian badan dirumuskan dalam Pasal 1 angka 13 UU PPN 1984 sebagai berikut: Badan merupakan sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan. Firma. 5. 10. Dana Pensiun. 2. organisasi lainnya. maka dalam subjek Pajak Pertambahan Nilai yang dibahas adalah siapa yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP. Persekutuan. Kongsi. Bentuk Badan Lainnya. Ormas. Subjek Pajak Pertambahan Nilai. adalah . 9.Subjek Pajak Pertambahan Nilai Kalau dalam objek Pajak Pertambahan Nilai yang ditekankan adalah adanya penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. PT. Badan dapat terdiri dari 1. Lembaga. Perkumpulan. Perseroan lainnya. Koperasi. 3.

untuk PPN atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar negeri adalah jumlah yang dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan BKPTB atau JKP. Orang Pribadi/Badan yang membangun sendiri di luar kegiatan usaha/pekerjaannya. untuk PPN atas pemakaian sendiri. 2. Orang Pribadi/Badan yang mengimpor Barang Kena Pajak (BKP). Jasa di bidang perhotelan. harus dipahami terlebih dahulu tentang Dasar Perhitungan PPN (DPP). 3. Orang pribadi yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud/Jasa Kena pajak (JKP) dari luar Daerah Pabean. Bentuk Kerja sama Operasi. 2. untuk PPN Jasa adalah penggantian. untuk PPN Impor adalah Nilai Impor. 2. untuk PPN Barang adalah harga jual. Pengusaha yang melakukan atau sejak semula bermaksud melakukan penyerahan BKP/JKP. saat terutangnya PPN dan tarif PPN. 4. persediaan BKP tersisa . penyerahan film. Bukan Pengusaha Kena Pajak 1. penyerahan media rekaman suara/gambar. Dasar perhitungan PPN adalah sebagai berikut: 1. 3. Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Untuk menghitung besarnya PPN terutang. 4. 5.Pengusaha Kena Pajak 1. pemberian cuma-cuma.

(likuidasi). PPN atas penyerahan BKP berbentuk barang berwujud tidak bergerak. apakah loco gudang atau franco gudang. PPN JKP. Pengertian Harga Jual dan Penggantian tidak termasuk PPN. 6. sedangkan pada Kegiatan Belajar 2 ini diuraikan tentang saat terutang pajak dan tempat pajak terutang. untuk penyerahan media rekaman suara/gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata. 4. PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar negeri. PPN atas pemanfaatan JKP dari luar negeri. untuk PPN Ekspor adalah Nilai Ekspor. Pengertian DPP dengan nilai lain. aktiva yang tujuan semula tidak untuk dijual dan Jasa Pengiriman Paket. 2. untuk persediaan tersisa (likuidasi) dan aktiva yang tujuan semula tidak untuk dijual adalah harga pasar wajar. PPN . untuk pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma adalah harga jual/penggantian tidak termasuk laba kotor. Tentang pengertian dari Dasar Perhitungan telah diuraikan pada Kegiatan Belajar 1. Saat dan Tempat Pajak Terutang Untuk menghitung PPN harus dipahami pengertian Dasar Perhitungan. potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak dan barang retur. Uraian tentang saat terutangnya PPN meliputi PPN atas penyerahan BKP berbentuk barang berwujud dan bergerak. adalah: 1. 3. saat terutangnya dan tarif PPN. Pengertian harga jual pun dipengaruhi oleh perjanjian penyerahan BKP. untuk jasa pengiriman paket adalah 1% (satu persen) dari Tagihan atau seharusnya dibayar. adalah Nilai Lain.

atau nilai ekspor. maka dengan mudah dapat menghitung PPN terutang secara benar dan cepat. melainkan nilai tambah atas penyerahan BKP. PPN atas penyerahan kaset rekaman lagu dan gambar. Dalam menghitung PPN terutang diberikan beberapa contoh menghitung. termasuk menghitung PPN dengan dasar perhitungan nilai lain. bahkan sulit. baik saat terutangnya pajak maupun pembayaran Menghitung PPN Pajak Masukan Sasaran Pajak Pertambahan Nilai bukan harga jual atau penggantian. Tetapi pelaksanaannya menimbulkan pajak berganda. Tidak ketinggalan adalah PPN Bendaharawan. PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud. karena antara barang yang dibeli tidak harus sama dengan barang yang dijual dan faktor lainnya. Tetapi untuk mencari nilai tambah tidak semudah diduga. dan PPN jasa pengiriman Paket. atau nilai impor. Ketentuan tempat pajak terutang juga dibahas. penggantian untuk PPN Jasa. . atau pemberian JKP dan seterusnya. Di samping itu juga diuraikan tentang tarif efektif termasuk asal-usul tarif efektif. Tarif PPN menerapkan tarif yang proporsional dan tunggal. Nilai Impor untuk impor barang dan sebagainya. Tarif dan Menghitung PPN Setelah memahami dasar perhitungan PPN (DPP). sebagai sarana dalam rangka memudahkan melakukan kredit pajak. saat terutangnya PPN dan tarif PPN.Impor. dengan memberi contoh PKP yang memiliki cabang-cabang. PPN Ekspor dan PPN Bendaharawan termasuk badan-badan tertentu yang ditunjuk. PPN atas pemanfaatan JKP dari luar negeri. PPN pemakaian sendiri. Untuk memudahkan dalam perhitungannya maka yang ditunjuk sebagai dasar pengenaan adalah harga jual untuk PPN Barang. seperti PPN atas pemberian cuma-cuma.

18 Tahun 2000 yang menggantikannya sama-sama menerapkan kredit PPS atas bahan baku. Mengkredit Pajak Masukan Yang melatarbelakangi sistem kredit pajak adalah upaya untuk menghindari pengenaan pajak berganda. menerapkan kredit PPN atas bahan baku atau bahan pembantu termasuk faktor produksi lainnya. Agar sistem kredit pajak Pajak Masukan ini tidak disalahgunakan maka diberi batasan tentang Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. barang setengah jadi dan barang esensial. 3.Untuk menghindari pemungutan pajak berganda dapat dilakukan beberapa cara. bahan pembantu dan faktor produksi lainnya. mencari nilai tambah pada setiap produksi. sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undangundang Pajak Pertambahan Nilai bahwa sasaran pengenaannya adalah . 2. menerapkan pemungutan sekali. yaitu: 1. 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM maupun UU No. dengan beberapa contoh. 4. menentukan dasar pengenaan dengan memperhatikan pertambahan nilainya. dengan menerapkan tarif Pajak yang proporsional dan tunggal. Baik pada UU No. menerapkan tarif yang berbeda-beda dengan memperhatikan tingkat tahapan produksi seperti barang jadi. Pajak yang dikreditkan disebut dengan Pajak Masukan. 5. sedangkan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang disebut dengan Pajak Keluaran.

melainkan terbatas yang telah memenuhi persyaratan. Oleh karena itu. yang boleh dikreditkan terbatas pada Pajak Masukan atas Barang Modal yang digunakan untuk kegiatan usaha yang menghasilkan BKP. dalam Pajak Keluaran sama dengan Pajak Masukan. dengan ketentuan bahwa PPN yang terutang dan telah dibayar sewaktu membeli Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikreditkan dari PPN yang akan dibayar sewaktu melakukan penjualan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. dalam hal pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan. masih harus membayar PPN. 2. tidak kurang bayar dan tidak terjadi kelebihan pembayaran PPN. Sedangkan untuk menghitung besarnya pertambahan nilai untuk setiap unit produksi adalah sulit sekali. baik atas pembelian BKP atau bukan BKP. Pengkreditan Pajak Masukan oleh PKP atas Penyerahan sebagai BKP dan PKP Norma Penghitungan Tidak setiap Pajak Masukan dapat dikreditkan dari pembelian BKP atau JKP. maka tidak setiap pajak masukan dapat dikreditkan. Meskipun demikian. agar tercegah adanya pengkreditan pajak yang tidak semestinya. Demikian pula Pajak Masukan karena penggunaan Barang Modal. Sedangkan Pajak Masukan tertuang dalam satu Faktur Pajak Masukan.pertambahan nilai. 3. . akan menghasilkan 3 (tiga) alternatif: 1. dalam hal Pajak Keluaran lebih kecil daripada Pajak Masukan. Melalui sistem pengkreditan pajak masukan tersebut. terjadi kelebihan pembayaran pajak. untuk memudahkan (menyederhanakan) cara perhitungan pajaknya maka ditetapkan harga jual sebagai dasar pengenaan.

Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Rumus menghitung Pajak Masukan yang harus dikembalikan dibedakan antara rumus untuk Barang Modal dan Bukan Barang Modal. yang besarnya pajak terutang sesuai dengan objek yang diterima atau diperoleh wajib pajak.Oleh karena itu. Untuk mendapat pemungutan pajak yang adil tersebut diperlukan data yang akurat. metode penyusutan. dan angka arab. setiap pengkreditan Pajak Masukan terselip Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. modal perusahaan. yang isinya dapat menggambarkan perusahaan. dalam bahasa Indonesia. 9 Tahun 1994. Melalui Pasal 28 ayat (1) UU No. baik Tahun pembukuan. baik pada tingkat horisontal maupun vertikal. disamping rumus menghitung Pajak Masukan yang harus dikembalikan berkenaan penggunaan Barang Modal bukan untuk menghasilkan BKP. baik Pajak Penghasilan (PPh). Pajak Masukan bagi PKP yang Menggunakan Norma Penghitungan Pemungutan pajak dapat dikatakan adil. maupun metode penilaian persediaan dan sebagainya. Untuk itu disusun dan ditetapkan rumus dalam menghitung Pajak Masukan yang harus dibayar kembali. Pembukuan harus disusun di Indonesia. UU mewajibkan kepada setiap wajib pajak untuk menyelenggarakan pembukuan. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan lain-lain jenis pajak. Yang dikecualikan dari kewajiban pembukuan tersebut adalah: . utang perusahaan dan seterusnya. huruf latin. Salah satu sumber data sekaligus sebagai pencerminan tingkat partisipasi wajib pajak adalah angka-angka dalam pembukuan. yang dapat mendukung dalam menghitung pajak terutang. serta menerapkan prinsip taat asas.

17 Tahun 2000. 2. Wajib pajak orang pribadi yang diperkenankan menggunakan norma penghitungan dalam menghitung penghasilan neto sebagaimana disebut pada Pasal 14 ayat (2) UU No. catatan dimaksud agar dipisah antara penyerahan yang terutang pajak dengan penyerahan yang tidak terutang pajak pertambahan nilai. Dalam hal terjadi perubahan. 4. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya seTahun kurang dari Rp600. untuk penyerahan JKP adalah sebesar 40% (empat puluh persen) dari jumlah Pajak Keluaran. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah sebagai berikut: 1. wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. untuk menghitung penghasilan netonya diperkenankan dengan menggunakan Norma Penghitungan. 18 Tahun 2000. Dalam hal PKP disamping melakukan penyerahan BKP juga bukan BKP. Oleh karena itu.1. sejak masa pajak pada permulaan Tahun buku berikutnya PKP tidak lagi diperkenankan menggunakan . dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan diperkenankan menggunakan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana ditentukan pada Pasal 9 ayat (7) UU No. Untuk keperluan pelaksanaan ketentuan tersebut PKP wajib membuat catatan nilai peredaran bruto yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak. wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang oleh UU diperkenankan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan.000.00 dan wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dikecualikan dari penyelenggaraan pembukuan.000. 3. 2. untuk penyerahan BKP adalah sebesar 70% (tujuh puluh persen) dari jumlah Pajak Keluaran.

Untuk mencapai sasaran agar pemungutan Pajak Pertambahan Nilai mencerminkan keadilan tersebut maka diberlakukan pemungutan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Selain itu.pedoman pengkreditan Pajak Masukan.00. . Ketentuan ini tidak berlaku bagi PKP pedagang eceran dengan nilai sebagai dasar pengenaan pajak. Administrasi Penggunaan Norma Penghitungan Tidak semua wajib pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan dapat menggunakan Norma Penghitungan dalam menghitung Penghasilan Neto.000. Latar Belakang Diberlakukannya Pajak Penjualan atas Barang Mewah Setiap pemungutan pajak termasuk pemungutan Pajak Pertambahan Nilai diharapkan mencerminkan keadilan baik secara horizontal maupun vertikal. Baik Petunjuk Norma Penghitungan Penghasilan Neto maupun Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan ditetapkan melalui keputusan Direktur Jenderal Pajak. dalam hal ini adalah Kepala Kantor Pelayanan Pajak dalam waktu 3 (tiga) bulan pertama dari Tahun pajak yang bersangkutan. wajib pajak yang bersangkutan wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak. juga menghilangkan kesempatan wajib pajak untuk dapat kompensasi. dalam hal sebagai Pengusaha Kena Pajak dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan. Penggunaan Norma Penghitungan dan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan. wajib pajak yang bersangkutan masih wajib membuat catatan peredaran bruto atau penerimaan penghasilan. di samping diberlakukan tarif proporsional dan progresif. melainkan terbatas pada wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. Wajib pajak tersebut. restitusi dan hak-hak lainnya. di samping memudahkan wajib pajak.000. dan peredaran brutonya seTahun kurang dari Rp600. Meskipun demikian.

Agar supaya lebih memantapkan tingkat keadilan vertikalnya maka diterapkan tarif proporsional yang progresif. bersama-sama memungut Bea Masuk.Dengan diberikan contoh penghitungannya. dimana tarif pajak PPn BM yang minimal 10% dan maksimal 50% dibagi dalam 3 (tiga) kelompok. maka diberlakukan pemungutan PPnBM. namun pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. . kelompok dengan tarif 20% dan kelompok dengan tarif 35%. Menghitung Pajak Penjualan atas Barang Mewah Non-Kendaraan Bermotor Sebagai pelaksanaan pemungutan tambahan pada pemungutan PPN dalam rangka menciptakan pemungutan yang adil di bidang pajak atas penyerahan barang. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa Pajak Penjualan atas Barang Mewah diberlakukan bersama-sama dengan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai. ternyata tingkat progresivitas PPnBM bersama-sama dengan PPN. Akhirnya dapat dihitung besarnya PPnBM atas penyerahan barang berupa kendaraan bermotor dan besarnya PPnBM atas impor kendaraan bermotor dengan unsur-unsurnya Walaupun cara pemungutannya sama sebagaimana PPnBM atas penyerahan BKP. menunjukkan lebih tajam daripada PPnBM yang menggantikan PPn sebagaimana tertuang pada UU PPn 1951. yaitu kelompok dengan tarif 10%.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful