Pajak pertambahan nilai

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Dalam bahasa Inggris, PPN disebut Value Added Tax (VAT) atau Goods and Services Tax (GST). PPN termasuk jenis pajak tidak langsung, maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung pajak atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung. Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak pedagang atau produsen sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang disingkat PKP. Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau membuat produknya. Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu sebesar 10 persen. Dasar hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah Undang-Undang No. 8/1983 berikut revisinya, yaitu Undang-Undang No. 11/1994 dan Undang-Undang No. 18/2000.

Karakteristik
• • • • •

Pajak tidak langsung, maksudnya pemikul beban pajak dan penanggung jawab atas pembayaran pajak ke kantor pelayanan pajak adalah subjek yang berbeda. Multitahap, maksudnya pajak dikenakan di tiap mata rantai produksi dan distribusi. Pajak objektif, maksudnya pengenaan pajak didasarkan pada objek pajak. Menghindari pengenaan pajak berganda. Dihitung dengan metode pengurangan tidak langsung (indirect subtraction), yaitu dengan memperhitungkan besaran pajak masukan dan pajak keluaran.

Perkecualian
Pada dasarnya semua barang dan jasa merupakan barang kena pajak dan jasa kena pajak, sehingga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kecuali jenis barang dan jenis jasa sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4A Undang-Undang No. 8/1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 18/2000 tidak dikenakan PPN, yaitu:

Barang tidak kena PPN

dan bubuk sagu. • • Segala jenis kedelai. dalam bentuk: 1. rumah makan. bijih nikel. dengan kadar NaCl 94. atau berondong jagung. meliputi: Minyak mentah. termasuk: 1. bijih besi. Tepung. dikilapkan maupun tidak. bijih emas. restoran. seperti jagung putih. Batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara. bijih tembaga. 6. disosoh. kedelai kuning. 4. Gas bumi. • Segala jenis beras dan gabah. 5. Menir (groats) atau beras jagung. beras merah. • Sagu. Garam meja. Panas bumi. 3. tepung kasar. • Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. baik yang beriodium maupun tidak beriodium. Pasir dan kerikil. Beras pecah.• Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. sepanjang masih dalam bentuk butiran. beras ketan hitam. Garam. jagung kuning kemerahan. dalam bentuk: 1. seperti beras putih. pecah maupun utuh. • Segala jenis jagung. dan sejenisnya. meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat . 5. 2. 2. dan bijih bauksit. Jagung tongkol dan biji jagung atau jagung pipilan. seperti kedelai putih. 3. atau kedelai hitam. jagung kuning. 2. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. 2. 4. meliputi: • 1. Menir (groats) beras. bijih perak. Beras setengah giling atau digiling seluruhnya.7%. 2. kedelai hijau. Bijih timah. Garam dalam bentuk curah atau kemasan 50 kilogram atau lebih. Beras berkulit (padi atau gabah) selain untuk benih. Gilingan. Jagung yang telah dikupas maupun belum. Empulur sagu. warung. atau beras ketan putih dalam bentuk: 1. 3.

2. • Jasa di bidang pendidikan. • Jasa di bidang keagamaan. Jasa pelayanan sosial lainnya. Jasa sewa guna usaha dengan hak opsi. 2. Jasa ahli kesehatan. 3. 3. Jasa paramedis dan perawat. Jasa tidak kena PPN • Jasa di bidang pelayanan kesehatan.maupun tidak. klinik kesehatan. Jasa di bidang olahraga. 4. dan sanatorium. tidak termasuk broker asuransi. Jasa pemadam kebakaran. kecuali yang bersifat komersial. kecuali yang bersifat komersial. laboratorium kesehatan. meliputi: 1. 5. 2. Jasa lainnya di bidang keagamaan. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan. 3. rumah bersalin. termasuk krematorium. meliputi: Jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo. 5. 6. Jasa pemakaman. • Uang. emas batangan. seperti akupunktur. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko yang dilakukan oleh PT Pos Indonesia (Persero). dan ahli gigi. 7. dokter spesialis. ahli gizi. dan sewa guna usaha dengan hak opsi. Jasa kebidanan dan dukun bayi. 3. 2. Jasa rumah sakit. 6. tidak termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha katering atau usaha jasa boga. • • 1. kecuali yang bersifat komersial. fisioterapis. meliputi: . Jasa perbankan. dan surat-surat berharga. meliputi: Jasa dokter umum. kecuali jasa penyediaan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga. meliputi: 1. • 1. dan dokter gigi. serta anjak piutang. Jasa pemberian khotbah atau dakwah. Jasa di bidang pelayanan sosial. Jasa asuransi. kecuali yang bersifat komersial. jasa penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan surat kontrak (perjanjian). Jasa di bidang perbankan. asuransi. Jasa dokter hewan. Jasa pelayanan rumah ibadah. Jasa lembaga rehabilitasi. 4.

• Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum. 3.1. Izin Usaha Perdagangan (IUP). • Jasa di bidang perhotelan. laut. pendidikan keagamaan. pendidikan kedinasan. motel. meliputi jenis-jenis jasa yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah seperti pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). dan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). 2. baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta. Jasa penyelenggaraan pelatihan bagi tenaga kerja. Jasa tenaga kerja. danau maupun sungai yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta. rumah penginapan. hostel. Jasa persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel. Jasa penyediaan tenaga kerja sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak bertanggungjawab atas hasil kerja dari tenaga kerja tersebut. losmen. dan hostel. meliputi jasa angkutan umum di darat. • Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan termasuk jasa di bidang kesenian yang tidak bersifat komersial. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel. pendidikan kejuruan. rumah penginapan. meliputi: • • • 1. yang bukan bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan komersial. Jasa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah. seperti kursus. dan pendidikan profesi. seperti pementasan kesenian tradisional yang diselenggarakan secara cuma-cuma. losmen. Jasa di bidang tenaga kerja. serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap. meliputi: 1. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan seperti jasa penyiaran radio atau televisi. Menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang Harus Dibayar dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Objek Pajak Pertambahan Nilai . 2. Jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan air. seperti jasa penyelenggaraan pendidikan umum. 2. motel. pendidikan luar biasa. pendidikan akademik.

5. pengalihan barang karena suatu perjanjian sewa-beli dan perjanjian leasing. 2. 5. maka terdapat 6 (enam) jenis PPN. penyerahan dari cabang ke cabang lainnya. atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya. yaitu daerah Republik Indonesia. adanya penyerahan. yang menyerahkan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP). 2. 3. . pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma. 3. penyerahan secara konsinyasi. 6. 2 (dua) jenis di antaranya dibatasi dengan unsur untuk dapat mengenakan PPN. sepanjang PPN sewaktu memperoleh aktiva dapat dikreditkan menurut perundangundangan perpajakan yang bersangkutan. yaitu PPN Barang dan PPN Jasa. penyerahan hak karena suatu perjanjian. Unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk dapat dikenakan PPN adalah: 1. penyerahan likuidasi atas aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjuabelikan. yang diserahkan adalah Barang Kena Pajak (BKP). PKP yang menyerahkan harus dalam lingkungan perusahaan /pekerjaannya terhadap barang yang dihasilkan. 4. Penyerahan yang dikenakan PPN meliputi: 1. 7. Dari keenam jenis PPN. penyerahannya harus di Daerah Pabean. penyerahan kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang. 4.Apabila ditinjau dari jenis penyerahan yang menjadi objek PPN. yang masih tersisa pada saat pembubaran.

Barang kena pajak dimungkinkan berbentuk: 1. Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha. atau pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang diikuti dengan perubahan pihak yang berhak atas barang kena pajak. barang hasil perkebunan. penyerahan cabang ke cabang lainnya. barang hasil perikanan. penyerahan dalam rangka perubahan bentuk usaha. atau penggabungan usaha. yang melakukan penyerahan BKP. barang hasil kehutanan. 3. atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya yang telah mendapat izin pemusatan pembayaran pajak. barang hasil penangkaran. mengimpor barang. Daerah Pabean adalah daerah Republik Indonesia.Penyerahan yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah: 1. melakukan usaha jasa atau memanfaatkan jasa dari luar negeri. . barang hasil pertambangan dan barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari. penyerahan untuk jaminan utang-piutang. 4. melakukan usaha perdagangan. PKP yang melakukan penyerahan tersebut harus dalam lingkungan perusahaan/pekerjaannya. mengekspor barang. 3. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar negeri. 2. 2. barang hasil perburuan. Barang yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah: barang hasil pertanian. penyerahan kepada Makelar. barang tidak berwujud yang dimanfaatkan di Indonesia. kecuali pengusaha kecil. barang berwujud dan bergerak. barang hasil budidaya. barang berwujud dan tidak bergerak. barang hasil peternakan. baik berbentuk orang pribadi maupun badan termasuk BUT yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya menghasilkan barang.

6. PT. 3. 10.Subjek Pajak Pertambahan Nilai Kalau dalam objek Pajak Pertambahan Nilai yang ditekankan adalah adanya penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. 2. Koperasi. 7. Bentuk Usaha lainnya. Perseroan lainnya. maka dalam subjek Pajak Pertambahan Nilai yang dibahas adalah siapa yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP. adalah . organisasi lainnya. BUMN/BUMD. Subjek Pajak Pertambahan Nilai. 9. CV. Ormas. Dana Pensiun. melakukan atau tidak melakukan usaha. 4. Badan dapat terdiri dari 1. 5. Kongsi. 8. Yayasan. Persekutuan. Firma. orsospol. Pengertian badan dirumuskan dalam Pasal 1 angka 13 UU PPN 1984 sebagai berikut: Badan merupakan sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan. Adapun yang menyerahkan adalah Pengusaha kena pajak (PKP) yang dapat berupa Orang Pribadi atau juga Badan. Perkumpulan. Lembaga. Bentuk Badan Lainnya.

Dasar perhitungan PPN adalah sebagai berikut: 1. 3. harus dipahami terlebih dahulu tentang Dasar Perhitungan PPN (DPP). pemberian cuma-cuma. untuk PPN Impor adalah Nilai Impor. 4. Pengusaha yang melakukan atau sejak semula bermaksud melakukan penyerahan BKP/JKP. untuk PPN atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar negeri adalah jumlah yang dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan BKPTB atau JKP. Bukan Pengusaha Kena Pajak 1. Bentuk Kerja sama Operasi. 2. persediaan BKP tersisa . untuk PPN Barang adalah harga jual. penyerahan media rekaman suara/gambar. Jasa di bidang perhotelan. penyerahan film. 2. Orang Pribadi/Badan yang mengimpor Barang Kena Pajak (BKP). untuk PPN Jasa adalah penggantian. Orang pribadi yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud/Jasa Kena pajak (JKP) dari luar Daerah Pabean. Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Untuk menghitung besarnya PPN terutang. saat terutangnya PPN dan tarif PPN. untuk PPN atas pemakaian sendiri.Pengusaha Kena Pajak 1. 2. 4. Orang Pribadi/Badan yang membangun sendiri di luar kegiatan usaha/pekerjaannya. 3. 5.

2. untuk persediaan tersisa (likuidasi) dan aktiva yang tujuan semula tidak untuk dijual adalah harga pasar wajar. 3. untuk penyerahan media rekaman suara/gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata. untuk PPN Ekspor adalah Nilai Ekspor. Uraian tentang saat terutangnya PPN meliputi PPN atas penyerahan BKP berbentuk barang berwujud dan bergerak. Saat dan Tempat Pajak Terutang Untuk menghitung PPN harus dipahami pengertian Dasar Perhitungan. Tentang pengertian dari Dasar Perhitungan telah diuraikan pada Kegiatan Belajar 1. 4. aktiva yang tujuan semula tidak untuk dijual dan Jasa Pengiriman Paket. Pengertian harga jual pun dipengaruhi oleh perjanjian penyerahan BKP. adalah: 1. untuk jasa pengiriman paket adalah 1% (satu persen) dari Tagihan atau seharusnya dibayar. adalah Nilai Lain. PPN . apakah loco gudang atau franco gudang. saat terutangnya dan tarif PPN. PPN atas penyerahan BKP berbentuk barang berwujud tidak bergerak. Pengertian Harga Jual dan Penggantian tidak termasuk PPN. PPN atas pemanfaatan JKP dari luar negeri. potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak dan barang retur. PPN JKP. untuk pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma adalah harga jual/penggantian tidak termasuk laba kotor.(likuidasi). PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar negeri. sedangkan pada Kegiatan Belajar 2 ini diuraikan tentang saat terutang pajak dan tempat pajak terutang. Pengertian DPP dengan nilai lain. 6.

karena antara barang yang dibeli tidak harus sama dengan barang yang dijual dan faktor lainnya. Nilai Impor untuk impor barang dan sebagainya. Untuk memudahkan dalam perhitungannya maka yang ditunjuk sebagai dasar pengenaan adalah harga jual untuk PPN Barang. saat terutangnya PPN dan tarif PPN. termasuk menghitung PPN dengan dasar perhitungan nilai lain. Tarif dan Menghitung PPN Setelah memahami dasar perhitungan PPN (DPP). penggantian untuk PPN Jasa. PPN atas penyerahan kaset rekaman lagu dan gambar. Tarif PPN menerapkan tarif yang proporsional dan tunggal. baik saat terutangnya pajak maupun pembayaran Menghitung PPN Pajak Masukan Sasaran Pajak Pertambahan Nilai bukan harga jual atau penggantian. dan PPN jasa pengiriman Paket. PPN atas pemanfaatan JKP dari luar negeri. PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud. Ketentuan tempat pajak terutang juga dibahas. sebagai sarana dalam rangka memudahkan melakukan kredit pajak. atau nilai ekspor. dengan memberi contoh PKP yang memiliki cabang-cabang.Impor. Dalam menghitung PPN terutang diberikan beberapa contoh menghitung. PPN pemakaian sendiri. Tetapi pelaksanaannya menimbulkan pajak berganda. PPN Ekspor dan PPN Bendaharawan termasuk badan-badan tertentu yang ditunjuk. seperti PPN atas pemberian cuma-cuma. bahkan sulit. atau nilai impor. melainkan nilai tambah atas penyerahan BKP. Tetapi untuk mencari nilai tambah tidak semudah diduga. . Di samping itu juga diuraikan tentang tarif efektif termasuk asal-usul tarif efektif. atau pemberian JKP dan seterusnya. maka dengan mudah dapat menghitung PPN terutang secara benar dan cepat. Tidak ketinggalan adalah PPN Bendaharawan.

2. Mengkredit Pajak Masukan Yang melatarbelakangi sistem kredit pajak adalah upaya untuk menghindari pengenaan pajak berganda. 3. dengan menerapkan tarif Pajak yang proporsional dan tunggal. 4.Untuk menghindari pemungutan pajak berganda dapat dilakukan beberapa cara. menerapkan tarif yang berbeda-beda dengan memperhatikan tingkat tahapan produksi seperti barang jadi. 5. barang setengah jadi dan barang esensial. sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undangundang Pajak Pertambahan Nilai bahwa sasaran pengenaannya adalah . sedangkan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang disebut dengan Pajak Keluaran. Baik pada UU No. 18 Tahun 2000 yang menggantikannya sama-sama menerapkan kredit PPS atas bahan baku. menentukan dasar pengenaan dengan memperhatikan pertambahan nilainya. menerapkan pemungutan sekali. dengan beberapa contoh. Agar sistem kredit pajak Pajak Masukan ini tidak disalahgunakan maka diberi batasan tentang Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. Pajak yang dikreditkan disebut dengan Pajak Masukan. menerapkan kredit PPN atas bahan baku atau bahan pembantu termasuk faktor produksi lainnya. yaitu: 1. bahan pembantu dan faktor produksi lainnya. 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM maupun UU No. mencari nilai tambah pada setiap produksi.

. melainkan terbatas yang telah memenuhi persyaratan. Meskipun demikian. maka tidak setiap pajak masukan dapat dikreditkan. masih harus membayar PPN. Melalui sistem pengkreditan pajak masukan tersebut. dalam hal pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan. baik atas pembelian BKP atau bukan BKP. dalam hal Pajak Keluaran lebih kecil daripada Pajak Masukan. agar tercegah adanya pengkreditan pajak yang tidak semestinya. tidak kurang bayar dan tidak terjadi kelebihan pembayaran PPN. 2. Sedangkan untuk menghitung besarnya pertambahan nilai untuk setiap unit produksi adalah sulit sekali. Demikian pula Pajak Masukan karena penggunaan Barang Modal. akan menghasilkan 3 (tiga) alternatif: 1. Sedangkan Pajak Masukan tertuang dalam satu Faktur Pajak Masukan. 3.pertambahan nilai. untuk memudahkan (menyederhanakan) cara perhitungan pajaknya maka ditetapkan harga jual sebagai dasar pengenaan. Pengkreditan Pajak Masukan oleh PKP atas Penyerahan sebagai BKP dan PKP Norma Penghitungan Tidak setiap Pajak Masukan dapat dikreditkan dari pembelian BKP atau JKP. terjadi kelebihan pembayaran pajak. Oleh karena itu. dalam Pajak Keluaran sama dengan Pajak Masukan. dengan ketentuan bahwa PPN yang terutang dan telah dibayar sewaktu membeli Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikreditkan dari PPN yang akan dibayar sewaktu melakukan penjualan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. yang boleh dikreditkan terbatas pada Pajak Masukan atas Barang Modal yang digunakan untuk kegiatan usaha yang menghasilkan BKP.

setiap pengkreditan Pajak Masukan terselip Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. Salah satu sumber data sekaligus sebagai pencerminan tingkat partisipasi wajib pajak adalah angka-angka dalam pembukuan. baik Tahun pembukuan. modal perusahaan. Pajak Masukan bagi PKP yang Menggunakan Norma Penghitungan Pemungutan pajak dapat dikatakan adil. dan angka arab. yang besarnya pajak terutang sesuai dengan objek yang diterima atau diperoleh wajib pajak. Untuk mendapat pemungutan pajak yang adil tersebut diperlukan data yang akurat. serta menerapkan prinsip taat asas. yang isinya dapat menggambarkan perusahaan. huruf latin. maupun metode penilaian persediaan dan sebagainya.Oleh karena itu. 9 Tahun 1994. Pajak Pertambahan Nilai (PPN). baik pada tingkat horisontal maupun vertikal. baik Pajak Penghasilan (PPh). utang perusahaan dan seterusnya. UU mewajibkan kepada setiap wajib pajak untuk menyelenggarakan pembukuan. yang dapat mendukung dalam menghitung pajak terutang. metode penyusutan. Melalui Pasal 28 ayat (1) UU No. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan lain-lain jenis pajak. Yang dikecualikan dari kewajiban pembukuan tersebut adalah: . Rumus menghitung Pajak Masukan yang harus dikembalikan dibedakan antara rumus untuk Barang Modal dan Bukan Barang Modal. Pembukuan harus disusun di Indonesia. Untuk itu disusun dan ditetapkan rumus dalam menghitung Pajak Masukan yang harus dibayar kembali. dalam bahasa Indonesia. disamping rumus menghitung Pajak Masukan yang harus dikembalikan berkenaan penggunaan Barang Modal bukan untuk menghasilkan BKP.

untuk penyerahan BKP adalah sebesar 70% (tujuh puluh persen) dari jumlah Pajak Keluaran. 4. 2.000. 2.00 dan wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dikecualikan dari penyelenggaraan pembukuan. Oleh karena itu. 3.000. 18 Tahun 2000. sejak masa pajak pada permulaan Tahun buku berikutnya PKP tidak lagi diperkenankan menggunakan . wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang oleh UU diperkenankan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan. catatan dimaksud agar dipisah antara penyerahan yang terutang pajak dengan penyerahan yang tidak terutang pajak pertambahan nilai. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah sebagai berikut: 1. dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan diperkenankan menggunakan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana ditentukan pada Pasal 9 ayat (7) UU No. 17 Tahun 2000. Untuk keperluan pelaksanaan ketentuan tersebut PKP wajib membuat catatan nilai peredaran bruto yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak. untuk penyerahan JKP adalah sebesar 40% (empat puluh persen) dari jumlah Pajak Keluaran. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya seTahun kurang dari Rp600. Dalam hal terjadi perubahan. untuk menghitung penghasilan netonya diperkenankan dengan menggunakan Norma Penghitungan. Wajib pajak orang pribadi yang diperkenankan menggunakan norma penghitungan dalam menghitung penghasilan neto sebagaimana disebut pada Pasal 14 ayat (2) UU No.1. Dalam hal PKP disamping melakukan penyerahan BKP juga bukan BKP. wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

dalam hal ini adalah Kepala Kantor Pelayanan Pajak dalam waktu 3 (tiga) bulan pertama dari Tahun pajak yang bersangkutan. Ketentuan ini tidak berlaku bagi PKP pedagang eceran dengan nilai sebagai dasar pengenaan pajak.000. juga menghilangkan kesempatan wajib pajak untuk dapat kompensasi. Latar Belakang Diberlakukannya Pajak Penjualan atas Barang Mewah Setiap pemungutan pajak termasuk pemungutan Pajak Pertambahan Nilai diharapkan mencerminkan keadilan baik secara horizontal maupun vertikal. Administrasi Penggunaan Norma Penghitungan Tidak semua wajib pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan dapat menggunakan Norma Penghitungan dalam menghitung Penghasilan Neto. Penggunaan Norma Penghitungan dan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan. di samping diberlakukan tarif proporsional dan progresif. dan peredaran brutonya seTahun kurang dari Rp600. Wajib pajak tersebut. restitusi dan hak-hak lainnya. di samping memudahkan wajib pajak.00. dalam hal sebagai Pengusaha Kena Pajak dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan. .000. Untuk mencapai sasaran agar pemungutan Pajak Pertambahan Nilai mencerminkan keadilan tersebut maka diberlakukan pemungutan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM). Selain itu. wajib pajak yang bersangkutan wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak. Baik Petunjuk Norma Penghitungan Penghasilan Neto maupun Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan ditetapkan melalui keputusan Direktur Jenderal Pajak. melainkan terbatas pada wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. Meskipun demikian.pedoman pengkreditan Pajak Masukan. wajib pajak yang bersangkutan masih wajib membuat catatan peredaran bruto atau penerimaan penghasilan.

maka diberlakukan pemungutan PPnBM.Dengan diberikan contoh penghitungannya. menunjukkan lebih tajam daripada PPnBM yang menggantikan PPn sebagaimana tertuang pada UU PPn 1951. Akhirnya dapat dihitung besarnya PPnBM atas penyerahan barang berupa kendaraan bermotor dan besarnya PPnBM atas impor kendaraan bermotor dengan unsur-unsurnya Walaupun cara pemungutannya sama sebagaimana PPnBM atas penyerahan BKP. Agar supaya lebih memantapkan tingkat keadilan vertikalnya maka diterapkan tarif proporsional yang progresif. kelompok dengan tarif 20% dan kelompok dengan tarif 35%. namun pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. . dimana tarif pajak PPn BM yang minimal 10% dan maksimal 50% dibagi dalam 3 (tiga) kelompok. Menghitung Pajak Penjualan atas Barang Mewah Non-Kendaraan Bermotor Sebagai pelaksanaan pemungutan tambahan pada pemungutan PPN dalam rangka menciptakan pemungutan yang adil di bidang pajak atas penyerahan barang. bersama-sama memungut Bea Masuk. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa Pajak Penjualan atas Barang Mewah diberlakukan bersama-sama dengan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai. ternyata tingkat progresivitas PPnBM bersama-sama dengan PPN. yaitu kelompok dengan tarif 10%.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful