Pajak pertambahan nilai

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Dalam bahasa Inggris, PPN disebut Value Added Tax (VAT) atau Goods and Services Tax (GST). PPN termasuk jenis pajak tidak langsung, maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung pajak atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung. Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak pedagang atau produsen sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang disingkat PKP. Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau membuat produknya. Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu sebesar 10 persen. Dasar hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah Undang-Undang No. 8/1983 berikut revisinya, yaitu Undang-Undang No. 11/1994 dan Undang-Undang No. 18/2000.

Karakteristik
• • • • •

Pajak tidak langsung, maksudnya pemikul beban pajak dan penanggung jawab atas pembayaran pajak ke kantor pelayanan pajak adalah subjek yang berbeda. Multitahap, maksudnya pajak dikenakan di tiap mata rantai produksi dan distribusi. Pajak objektif, maksudnya pengenaan pajak didasarkan pada objek pajak. Menghindari pengenaan pajak berganda. Dihitung dengan metode pengurangan tidak langsung (indirect subtraction), yaitu dengan memperhitungkan besaran pajak masukan dan pajak keluaran.

Perkecualian
Pada dasarnya semua barang dan jasa merupakan barang kena pajak dan jasa kena pajak, sehingga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kecuali jenis barang dan jenis jasa sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4A Undang-Undang No. 8/1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 18/2000 tidak dikenakan PPN, yaitu:

Barang tidak kena PPN

6. pecah maupun utuh. Beras berkulit (padi atau gabah) selain untuk benih. Menir (groats) atau beras jagung. Menir (groats) beras. • • Segala jenis kedelai. tepung kasar. dan bubuk sagu. dan sejenisnya. meliputi: • 1. bijih nikel. dan bijih bauksit. 4. Garam dalam bentuk curah atau kemasan 50 kilogram atau lebih. seperti beras putih. bijih emas. 3. seperti jagung putih. dengan kadar NaCl 94. jagung kuning. • Segala jenis jagung. kedelai kuning. 3. warung. Batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara. • Sagu. baik yang beriodium maupun tidak beriodium. 5. Panas bumi. kedelai hijau. dalam bentuk: 1. 2. Tepung. Jagung yang telah dikupas maupun belum. meliputi: Minyak mentah. atau kedelai hitam. jagung kuning kemerahan. 2. • Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. Pasir dan kerikil. rumah makan. sepanjang masih dalam bentuk butiran. termasuk: 1. bijih perak. Bijih timah. meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat . bijih tembaga. dalam bentuk: 1. 4. Jagung tongkol dan biji jagung atau jagung pipilan. beras ketan hitam. 2. • Segala jenis beras dan gabah. Beras setengah giling atau digiling seluruhnya. Empulur sagu. atau beras ketan putih dalam bentuk: 1. bijih besi. Garam. seperti kedelai putih. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Garam meja. Gas bumi. 2.• Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. Gilingan. 5. dikilapkan maupun tidak. restoran. 2. beras merah. Beras pecah. atau berondong jagung. 3. disosoh.7%.

jasa penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan surat kontrak (perjanjian). ahli gizi. 3. 3. Jasa asuransi. asuransi. kecuali yang bersifat komersial. serta anjak piutang. 2. kecuali yang bersifat komersial. Jasa kebidanan dan dukun bayi. 2. rumah bersalin. laboratorium kesehatan. Jasa sewa guna usaha dengan hak opsi. fisioterapis. Jasa di bidang pelayanan sosial. dan sewa guna usaha dengan hak opsi. 6. meliputi: . Jasa paramedis dan perawat. Jasa tidak kena PPN • Jasa di bidang pelayanan kesehatan. • Jasa di bidang keagamaan. tidak termasuk broker asuransi. 2. Jasa rumah sakit. 5. • 1. 3. 4. meliputi: Jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo. Jasa pelayanan sosial lainnya. Jasa di bidang olahraga. • • 1. • Jasa di bidang pendidikan. kecuali jasa penyediaan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga. Jasa pemberian khotbah atau dakwah. Jasa pemakaman. 4. 6. meliputi: Jasa dokter umum. 7. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko yang dilakukan oleh PT Pos Indonesia (Persero). Jasa di bidang perbankan. kecuali yang bersifat komersial. dan ahli gigi. Jasa dokter hewan. 3. Jasa pemadam kebakaran. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan. • Uang. 2.maupun tidak. emas batangan. klinik kesehatan. meliputi: 1. Jasa pelayanan rumah ibadah. tidak termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha katering atau usaha jasa boga. dan sanatorium. dan dokter gigi. dan surat-surat berharga. seperti akupunktur. termasuk krematorium. 5. kecuali yang bersifat komersial. meliputi: 1. Jasa lainnya di bidang keagamaan. Jasa ahli kesehatan. Jasa lembaga rehabilitasi. dokter spesialis. Jasa perbankan.

pendidikan keagamaan. pendidikan akademik. pendidikan luar biasa. pendidikan kejuruan. Menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang Harus Dibayar dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Objek Pajak Pertambahan Nilai . • Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum. Jasa tenaga kerja. pendidikan kedinasan. Jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah. Jasa di bidang tenaga kerja. Jasa di bidang angkutan umum di darat dan air. hostel. • Jasa di bidang perhotelan. rumah penginapan. 3. seperti pementasan kesenian tradisional yang diselenggarakan secara cuma-cuma. baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta. Jasa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah. rumah penginapan. Jasa persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel. serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap. yang bukan bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan komersial. 2. motel. seperti kursus. meliputi jasa angkutan umum di darat. meliputi jenis-jenis jasa yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah seperti pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel. motel. dan pendidikan profesi. dan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). Izin Usaha Perdagangan (IUP). meliputi: 1. seperti jasa penyelenggaraan pendidikan umum.1. losmen. Jasa penyelenggaraan pelatihan bagi tenaga kerja. Jasa penyediaan tenaga kerja sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak bertanggungjawab atas hasil kerja dari tenaga kerja tersebut. 2. meliputi: • • • 1. • Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan termasuk jasa di bidang kesenian yang tidak bersifat komersial. laut. danau maupun sungai yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta. losmen. 2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). dan hostel. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan seperti jasa penyiaran radio atau televisi.

5. . sepanjang PPN sewaktu memperoleh aktiva dapat dikreditkan menurut perundangundangan perpajakan yang bersangkutan. adanya penyerahan. penyerahan likuidasi atas aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjuabelikan. yaitu PPN Barang dan PPN Jasa. 2. 6. penyerahan secara konsinyasi. 5. penyerahan hak karena suatu perjanjian. yang menyerahkan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP). PKP yang menyerahkan harus dalam lingkungan perusahaan /pekerjaannya terhadap barang yang dihasilkan.Apabila ditinjau dari jenis penyerahan yang menjadi objek PPN. pengalihan barang karena suatu perjanjian sewa-beli dan perjanjian leasing. maka terdapat 6 (enam) jenis PPN. penyerahan kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang. 3. 4. 4. 7. yang masih tersisa pada saat pembubaran. 2. Penyerahan yang dikenakan PPN meliputi: 1. yaitu daerah Republik Indonesia. Unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk dapat dikenakan PPN adalah: 1. Dari keenam jenis PPN. 3. 2 (dua) jenis di antaranya dibatasi dengan unsur untuk dapat mengenakan PPN. atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya. penyerahan dari cabang ke cabang lainnya. penyerahannya harus di Daerah Pabean. yang diserahkan adalah Barang Kena Pajak (BKP). pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma.

penyerahan untuk jaminan utang-piutang. barang hasil perikanan. barang berwujud dan bergerak. barang hasil penangkaran. mengekspor barang. 3. atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya yang telah mendapat izin pemusatan pembayaran pajak. 3. barang hasil peternakan. atau penggabungan usaha. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar negeri. penyerahan dalam rangka perubahan bentuk usaha. kecuali pengusaha kecil. melakukan usaha jasa atau memanfaatkan jasa dari luar negeri. barang berwujud dan tidak bergerak. Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha. PKP yang melakukan penyerahan tersebut harus dalam lingkungan perusahaan/pekerjaannya. 2. barang hasil budidaya. melakukan usaha perdagangan. mengimpor barang. penyerahan kepada Makelar. barang hasil kehutanan. . atau pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang diikuti dengan perubahan pihak yang berhak atas barang kena pajak.Penyerahan yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah: 1. penyerahan cabang ke cabang lainnya. barang hasil perburuan. 4. barang hasil pertambangan dan barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari. barang tidak berwujud yang dimanfaatkan di Indonesia. yang melakukan penyerahan BKP. 2. barang hasil perkebunan. Barang yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah: barang hasil pertanian. Barang kena pajak dimungkinkan berbentuk: 1. Daerah Pabean adalah daerah Republik Indonesia. baik berbentuk orang pribadi maupun badan termasuk BUT yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya menghasilkan barang.

orsospol. melakukan atau tidak melakukan usaha. 6. Bentuk Usaha lainnya. Bentuk Badan Lainnya.Subjek Pajak Pertambahan Nilai Kalau dalam objek Pajak Pertambahan Nilai yang ditekankan adalah adanya penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. Pengertian badan dirumuskan dalam Pasal 1 angka 13 UU PPN 1984 sebagai berikut: Badan merupakan sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan. Lembaga. Ormas. 8. 3. CV. organisasi lainnya. 9. 5. Yayasan. 10. Firma. maka dalam subjek Pajak Pertambahan Nilai yang dibahas adalah siapa yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP. Kongsi. Perseroan lainnya. adalah . BUMN/BUMD. Koperasi. Persekutuan. 2. 4. Adapun yang menyerahkan adalah Pengusaha kena pajak (PKP) yang dapat berupa Orang Pribadi atau juga Badan. Subjek Pajak Pertambahan Nilai. PT. Perkumpulan. Dana Pensiun. 7. Badan dapat terdiri dari 1.

penyerahan media rekaman suara/gambar. 2. Orang Pribadi/Badan yang membangun sendiri di luar kegiatan usaha/pekerjaannya. 2. saat terutangnya PPN dan tarif PPN. untuk PPN Impor adalah Nilai Impor. Jasa di bidang perhotelan. 4. Pengusaha yang melakukan atau sejak semula bermaksud melakukan penyerahan BKP/JKP. 2. Orang Pribadi/Badan yang mengimpor Barang Kena Pajak (BKP). Dasar perhitungan PPN adalah sebagai berikut: 1. Orang pribadi yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud/Jasa Kena pajak (JKP) dari luar Daerah Pabean. 3. untuk PPN Barang adalah harga jual. pemberian cuma-cuma. 4. untuk PPN atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar negeri adalah jumlah yang dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan BKPTB atau JKP. Bukan Pengusaha Kena Pajak 1. 5. untuk PPN Jasa adalah penggantian. Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Untuk menghitung besarnya PPN terutang. Bentuk Kerja sama Operasi. 3. untuk PPN atas pemakaian sendiri. persediaan BKP tersisa .Pengusaha Kena Pajak 1. harus dipahami terlebih dahulu tentang Dasar Perhitungan PPN (DPP). penyerahan film.

potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak dan barang retur. untuk jasa pengiriman paket adalah 1% (satu persen) dari Tagihan atau seharusnya dibayar. PPN . Pengertian Harga Jual dan Penggantian tidak termasuk PPN. 3. saat terutangnya dan tarif PPN. 4. untuk penyerahan media rekaman suara/gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata. adalah Nilai Lain. Pengertian harga jual pun dipengaruhi oleh perjanjian penyerahan BKP. untuk pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma adalah harga jual/penggantian tidak termasuk laba kotor. PPN JKP. sedangkan pada Kegiatan Belajar 2 ini diuraikan tentang saat terutang pajak dan tempat pajak terutang. Saat dan Tempat Pajak Terutang Untuk menghitung PPN harus dipahami pengertian Dasar Perhitungan. untuk PPN Ekspor adalah Nilai Ekspor. aktiva yang tujuan semula tidak untuk dijual dan Jasa Pengiriman Paket. 2. 6. Uraian tentang saat terutangnya PPN meliputi PPN atas penyerahan BKP berbentuk barang berwujud dan bergerak.(likuidasi). untuk persediaan tersisa (likuidasi) dan aktiva yang tujuan semula tidak untuk dijual adalah harga pasar wajar. PPN atas penyerahan BKP berbentuk barang berwujud tidak bergerak. Pengertian DPP dengan nilai lain. PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar negeri. Tentang pengertian dari Dasar Perhitungan telah diuraikan pada Kegiatan Belajar 1. adalah: 1. PPN atas pemanfaatan JKP dari luar negeri. apakah loco gudang atau franco gudang.

bahkan sulit. Ketentuan tempat pajak terutang juga dibahas. PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud. melainkan nilai tambah atas penyerahan BKP. seperti PPN atas pemberian cuma-cuma. PPN Ekspor dan PPN Bendaharawan termasuk badan-badan tertentu yang ditunjuk. Dalam menghitung PPN terutang diberikan beberapa contoh menghitung. Tarif dan Menghitung PPN Setelah memahami dasar perhitungan PPN (DPP). penggantian untuk PPN Jasa. Tetapi pelaksanaannya menimbulkan pajak berganda. dengan memberi contoh PKP yang memiliki cabang-cabang. Tidak ketinggalan adalah PPN Bendaharawan. Nilai Impor untuk impor barang dan sebagainya. PPN atas pemanfaatan JKP dari luar negeri. . atau pemberian JKP dan seterusnya. Untuk memudahkan dalam perhitungannya maka yang ditunjuk sebagai dasar pengenaan adalah harga jual untuk PPN Barang. atau nilai impor. sebagai sarana dalam rangka memudahkan melakukan kredit pajak. termasuk menghitung PPN dengan dasar perhitungan nilai lain. PPN pemakaian sendiri. saat terutangnya PPN dan tarif PPN. Tarif PPN menerapkan tarif yang proporsional dan tunggal.Impor. dan PPN jasa pengiriman Paket. karena antara barang yang dibeli tidak harus sama dengan barang yang dijual dan faktor lainnya. maka dengan mudah dapat menghitung PPN terutang secara benar dan cepat. Di samping itu juga diuraikan tentang tarif efektif termasuk asal-usul tarif efektif. atau nilai ekspor. PPN atas penyerahan kaset rekaman lagu dan gambar. baik saat terutangnya pajak maupun pembayaran Menghitung PPN Pajak Masukan Sasaran Pajak Pertambahan Nilai bukan harga jual atau penggantian. Tetapi untuk mencari nilai tambah tidak semudah diduga.

3. 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM maupun UU No. Mengkredit Pajak Masukan Yang melatarbelakangi sistem kredit pajak adalah upaya untuk menghindari pengenaan pajak berganda. yaitu: 1. Agar sistem kredit pajak Pajak Masukan ini tidak disalahgunakan maka diberi batasan tentang Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. mencari nilai tambah pada setiap produksi. menerapkan tarif yang berbeda-beda dengan memperhatikan tingkat tahapan produksi seperti barang jadi. 18 Tahun 2000 yang menggantikannya sama-sama menerapkan kredit PPS atas bahan baku. menentukan dasar pengenaan dengan memperhatikan pertambahan nilainya. barang setengah jadi dan barang esensial. menerapkan pemungutan sekali. bahan pembantu dan faktor produksi lainnya. Baik pada UU No. 2. 4. dengan menerapkan tarif Pajak yang proporsional dan tunggal. dengan beberapa contoh.Untuk menghindari pemungutan pajak berganda dapat dilakukan beberapa cara. sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undangundang Pajak Pertambahan Nilai bahwa sasaran pengenaannya adalah . menerapkan kredit PPN atas bahan baku atau bahan pembantu termasuk faktor produksi lainnya. sedangkan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang disebut dengan Pajak Keluaran. Pajak yang dikreditkan disebut dengan Pajak Masukan. 5.

. baik atas pembelian BKP atau bukan BKP. terjadi kelebihan pembayaran pajak. agar tercegah adanya pengkreditan pajak yang tidak semestinya. dalam hal pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan. dalam hal Pajak Keluaran lebih kecil daripada Pajak Masukan. dengan ketentuan bahwa PPN yang terutang dan telah dibayar sewaktu membeli Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikreditkan dari PPN yang akan dibayar sewaktu melakukan penjualan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. untuk memudahkan (menyederhanakan) cara perhitungan pajaknya maka ditetapkan harga jual sebagai dasar pengenaan. Melalui sistem pengkreditan pajak masukan tersebut. tidak kurang bayar dan tidak terjadi kelebihan pembayaran PPN. 2. akan menghasilkan 3 (tiga) alternatif: 1. Oleh karena itu. Pengkreditan Pajak Masukan oleh PKP atas Penyerahan sebagai BKP dan PKP Norma Penghitungan Tidak setiap Pajak Masukan dapat dikreditkan dari pembelian BKP atau JKP. Meskipun demikian. maka tidak setiap pajak masukan dapat dikreditkan. Demikian pula Pajak Masukan karena penggunaan Barang Modal. melainkan terbatas yang telah memenuhi persyaratan.pertambahan nilai. masih harus membayar PPN. yang boleh dikreditkan terbatas pada Pajak Masukan atas Barang Modal yang digunakan untuk kegiatan usaha yang menghasilkan BKP. dalam Pajak Keluaran sama dengan Pajak Masukan. 3. Sedangkan untuk menghitung besarnya pertambahan nilai untuk setiap unit produksi adalah sulit sekali. Sedangkan Pajak Masukan tertuang dalam satu Faktur Pajak Masukan.

Yang dikecualikan dari kewajiban pembukuan tersebut adalah: . huruf latin. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan lain-lain jenis pajak. Untuk mendapat pemungutan pajak yang adil tersebut diperlukan data yang akurat. dalam bahasa Indonesia. serta menerapkan prinsip taat asas. Pajak Masukan bagi PKP yang Menggunakan Norma Penghitungan Pemungutan pajak dapat dikatakan adil. dan angka arab. Salah satu sumber data sekaligus sebagai pencerminan tingkat partisipasi wajib pajak adalah angka-angka dalam pembukuan. disamping rumus menghitung Pajak Masukan yang harus dikembalikan berkenaan penggunaan Barang Modal bukan untuk menghasilkan BKP. 9 Tahun 1994. UU mewajibkan kepada setiap wajib pajak untuk menyelenggarakan pembukuan. Untuk itu disusun dan ditetapkan rumus dalam menghitung Pajak Masukan yang harus dibayar kembali. maupun metode penilaian persediaan dan sebagainya. Rumus menghitung Pajak Masukan yang harus dikembalikan dibedakan antara rumus untuk Barang Modal dan Bukan Barang Modal. setiap pengkreditan Pajak Masukan terselip Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. Melalui Pasal 28 ayat (1) UU No. yang isinya dapat menggambarkan perusahaan. baik pada tingkat horisontal maupun vertikal. Pajak Pertambahan Nilai (PPN). baik Tahun pembukuan. yang besarnya pajak terutang sesuai dengan objek yang diterima atau diperoleh wajib pajak. modal perusahaan.Oleh karena itu. yang dapat mendukung dalam menghitung pajak terutang. Pembukuan harus disusun di Indonesia. metode penyusutan. baik Pajak Penghasilan (PPh). utang perusahaan dan seterusnya.

catatan dimaksud agar dipisah antara penyerahan yang terutang pajak dengan penyerahan yang tidak terutang pajak pertambahan nilai. Dalam hal terjadi perubahan. untuk penyerahan BKP adalah sebesar 70% (tujuh puluh persen) dari jumlah Pajak Keluaran. Dalam hal PKP disamping melakukan penyerahan BKP juga bukan BKP. wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang oleh UU diperkenankan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan. 4. 17 Tahun 2000. 3.000. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah sebagai berikut: 1. Wajib pajak orang pribadi yang diperkenankan menggunakan norma penghitungan dalam menghitung penghasilan neto sebagaimana disebut pada Pasal 14 ayat (2) UU No. 18 Tahun 2000. untuk menghitung penghasilan netonya diperkenankan dengan menggunakan Norma Penghitungan. wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.00 dan wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dikecualikan dari penyelenggaraan pembukuan. 2.000. Untuk keperluan pelaksanaan ketentuan tersebut PKP wajib membuat catatan nilai peredaran bruto yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak. dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan diperkenankan menggunakan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana ditentukan pada Pasal 9 ayat (7) UU No. Oleh karena itu. sejak masa pajak pada permulaan Tahun buku berikutnya PKP tidak lagi diperkenankan menggunakan .1. Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya seTahun kurang dari Rp600. untuk penyerahan JKP adalah sebesar 40% (empat puluh persen) dari jumlah Pajak Keluaran. 2.

di samping memudahkan wajib pajak. dan peredaran brutonya seTahun kurang dari Rp600. Meskipun demikian. Ketentuan ini tidak berlaku bagi PKP pedagang eceran dengan nilai sebagai dasar pengenaan pajak. melainkan terbatas pada wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas. wajib pajak yang bersangkutan masih wajib membuat catatan peredaran bruto atau penerimaan penghasilan. Selain itu. Untuk mencapai sasaran agar pemungutan Pajak Pertambahan Nilai mencerminkan keadilan tersebut maka diberlakukan pemungutan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).000.pedoman pengkreditan Pajak Masukan.00. di samping diberlakukan tarif proporsional dan progresif. dalam hal sebagai Pengusaha Kena Pajak dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan. Latar Belakang Diberlakukannya Pajak Penjualan atas Barang Mewah Setiap pemungutan pajak termasuk pemungutan Pajak Pertambahan Nilai diharapkan mencerminkan keadilan baik secara horizontal maupun vertikal. . Wajib pajak tersebut. wajib pajak yang bersangkutan wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak. dalam hal ini adalah Kepala Kantor Pelayanan Pajak dalam waktu 3 (tiga) bulan pertama dari Tahun pajak yang bersangkutan. restitusi dan hak-hak lainnya. Baik Petunjuk Norma Penghitungan Penghasilan Neto maupun Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan ditetapkan melalui keputusan Direktur Jenderal Pajak. Administrasi Penggunaan Norma Penghitungan Tidak semua wajib pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan dapat menggunakan Norma Penghitungan dalam menghitung Penghasilan Neto. Penggunaan Norma Penghitungan dan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan. juga menghilangkan kesempatan wajib pajak untuk dapat kompensasi.000.

maka diberlakukan pemungutan PPnBM. Agar supaya lebih memantapkan tingkat keadilan vertikalnya maka diterapkan tarif proporsional yang progresif. namun pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. Akhirnya dapat dihitung besarnya PPnBM atas penyerahan barang berupa kendaraan bermotor dan besarnya PPnBM atas impor kendaraan bermotor dengan unsur-unsurnya Walaupun cara pemungutannya sama sebagaimana PPnBM atas penyerahan BKP. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa Pajak Penjualan atas Barang Mewah diberlakukan bersama-sama dengan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai. yaitu kelompok dengan tarif 10%. ternyata tingkat progresivitas PPnBM bersama-sama dengan PPN. . kelompok dengan tarif 20% dan kelompok dengan tarif 35%. bersama-sama memungut Bea Masuk. dimana tarif pajak PPn BM yang minimal 10% dan maksimal 50% dibagi dalam 3 (tiga) kelompok. Menghitung Pajak Penjualan atas Barang Mewah Non-Kendaraan Bermotor Sebagai pelaksanaan pemungutan tambahan pada pemungutan PPN dalam rangka menciptakan pemungutan yang adil di bidang pajak atas penyerahan barang.Dengan diberikan contoh penghitungannya. menunjukkan lebih tajam daripada PPnBM yang menggantikan PPn sebagaimana tertuang pada UU PPn 1951.