Pajak pertambahan nilai

Pajak Pertambahan Nilai (PPN) adalah pajak yang dikenakan atas setiap pertambahan nilai dari barang atau jasa dalam peredarannya dari produsen ke konsumen. Dalam bahasa Inggris, PPN disebut Value Added Tax (VAT) atau Goods and Services Tax (GST). PPN termasuk jenis pajak tidak langsung, maksudnya pajak tersebut disetor oleh pihak lain (pedagang) yang bukan penanggung pajak atau dengan kata lain, penanggung pajak (konsumen akhir) tidak menyetorkan langsung pajak yang ia tanggung. Mekanisme pemungutan, penyetoran, dan pelaporan PPN ada pada pihak pedagang atau produsen sehingga muncul istilah Pengusaha Kena Pajak yang disingkat PKP. Dalam perhitungan PPN yang harus disetor oleh PKP, dikenal istilah pajak keluaran dan pajak masukan. Pajak keluaran adalah PPN yang dipungut ketika PKP menjual produknya, sedangkan pajak masukan adalah PPN yang dibayar ketika PKP membeli, memperoleh, atau membuat produknya. Indonesia menganut sistem tarif tunggal untuk PPN, yaitu sebesar 10 persen. Dasar hukum utama yang digunakan untuk penerapan PPN di Indonesia adalah Undang-Undang No. 8/1983 berikut revisinya, yaitu Undang-Undang No. 11/1994 dan Undang-Undang No. 18/2000.

Karakteristik
• • • • •

Pajak tidak langsung, maksudnya pemikul beban pajak dan penanggung jawab atas pembayaran pajak ke kantor pelayanan pajak adalah subjek yang berbeda. Multitahap, maksudnya pajak dikenakan di tiap mata rantai produksi dan distribusi. Pajak objektif, maksudnya pengenaan pajak didasarkan pada objek pajak. Menghindari pengenaan pajak berganda. Dihitung dengan metode pengurangan tidak langsung (indirect subtraction), yaitu dengan memperhitungkan besaran pajak masukan dan pajak keluaran.

Perkecualian
Pada dasarnya semua barang dan jasa merupakan barang kena pajak dan jasa kena pajak, sehingga dikenakan Pajak Pertambahan Nilai (PPN), kecuali jenis barang dan jenis jasa sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 4A Undang-Undang No. 8/1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa dan Pajak Penjualan Atas Barang Mewah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang No. 18/2000 tidak dikenakan PPN, yaitu:

Barang tidak kena PPN

• Segala jenis beras dan gabah. beras merah. atau berondong jagung. seperti beras putih. restoran. meliputi: Minyak mentah. 4. bijih besi. 2. termasuk: 1. beras ketan hitam. seperti jagung putih. 2. dalam bentuk: 1. Gilingan. Garam meja. 2. Panas bumi.7%. tepung kasar.• Barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya. Pasir dan kerikil. dan bubuk sagu. • • Segala jenis kedelai. Empulur sagu. Beras pecah. meliputi makanan dan minuman baik yang dikonsumsi di tempat . sepanjang masih dalam bentuk butiran. Gas bumi. 2. atau kedelai hitam. 6. meliputi: • 1. 2. dan sejenisnya. dan bijih bauksit. 5. rumah makan. dalam bentuk: 1. 4. jagung kuning kemerahan. 3. kedelai kuning. bijih emas. jagung kuning. warung. Jagung yang telah dikupas maupun belum. Beras berkulit (padi atau gabah) selain untuk benih. pecah maupun utuh. bijih nikel. bijih tembaga. 3. Beras setengah giling atau digiling seluruhnya. Barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Garam. Jagung tongkol dan biji jagung atau jagung pipilan. • Sagu. Garam dalam bentuk curah atau kemasan 50 kilogram atau lebih. Menir (groats) atau beras jagung. baik yang beriodium maupun tidak beriodium. 3. 5. Tepung. Menir (groats) beras. seperti kedelai putih. disosoh. dengan kadar NaCl 94. atau beras ketan putih dalam bentuk: 1. • Makanan dan minuman yang disajikan di hotel. • Segala jenis jagung. Batu bara sebelum diproses menjadi briket batu bara. bijih perak. kedelai hijau. dikilapkan maupun tidak. Bijih timah.

Jasa di bidang perbankan. 2. • 1. Jasa sewa guna usaha dengan hak opsi. 3. Jasa pelayanan rumah ibadah. kecuali yang bersifat komersial. Jasa dokter hewan. dan dokter gigi. 3. Jasa asuransi. 4. 3. • • 1. Jasa kebidanan dan dukun bayi. Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko yang dilakukan oleh PT Pos Indonesia (Persero). 6. laboratorium kesehatan. Jasa ahli kesehatan. meliputi: Jasa pelayanan panti asuhan dan panti jompo. 3. emas batangan. klinik kesehatan. 2. • Jasa di bidang keagamaan. kecuali jasa penyediaan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga. termasuk krematorium. 2. meliputi: 1. Jasa di bidang pelayanan sosial. • Jasa di bidang pendidikan. Jasa pemakaman. dan sanatorium. dan ahli gigi. ahli gizi. kecuali yang bersifat komersial. 4. 7.maupun tidak. dan surat-surat berharga. 6. 5. Jasa di bidang olahraga. serta anjak piutang. 2. Jasa pemberian khotbah atau dakwah. asuransi. dokter spesialis. dan sewa guna usaha dengan hak opsi. Jasa lembaga rehabilitasi. jasa penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan surat kontrak (perjanjian). Jasa perbankan. rumah bersalin. 5. Jasa pemadam kebakaran. Jasa pemberian pertolongan pada kecelakaan. seperti akupunktur. Jasa paramedis dan perawat. Jasa lainnya di bidang keagamaan. meliputi: Jasa dokter umum. fisioterapis. Jasa pelayanan sosial lainnya. tidak termasuk makanan dan minuman yang diserahkan oleh usaha katering atau usaha jasa boga. Jasa tidak kena PPN • Jasa di bidang pelayanan kesehatan. • Uang. meliputi: . Jasa rumah sakit. tidak termasuk broker asuransi. kecuali yang bersifat komersial. meliputi: 1. kecuali yang bersifat komersial.

Jasa di bidang tenaga kerja. meliputi: 1. Jasa tenaga kerja. dan pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP). yang bukan bersifat iklan dan tidak dibiayai oleh sponsor yang bertujuan komersial. hostel. serta fasilitas yang terkait dengan kegiatan perhotelan untuk tamu yang menginap. losmen. losmen. • Jasa yang disediakan oleh pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP). 2. pendidikan kedinasan. meliputi jenis-jenis jasa yang dilaksanakan oleh instansi pemerintah seperti pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB). Jasa di bidang angkutan umum di darat dan air. 2. rumah penginapan. laut.1. Menghitung Pajak Pertambahan Nilai yang Harus Dibayar dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah Objek Pajak Pertambahan Nilai . meliputi jasa angkutan umum di darat. dan pendidikan profesi. pendidikan kejuruan. rumah penginapan. Jasa persewaan ruangan untuk kegiatan acara atau pertemuan di hotel. seperti jasa penyelenggaraan pendidikan umum. Jasa persewaan kamar termasuk tambahannya di hotel. 2. dan hostel. pendidikan keagamaan. Izin Usaha Perdagangan (IUP). seperti kursus. Jasa penyediaan tenaga kerja sepanjang pengusaha penyedia tenaga kerja tidak bertanggungjawab atas hasil kerja dari tenaga kerja tersebut. pendidikan akademik. danau maupun sungai yang dilakukan oleh pemerintah maupun oleh swasta. • Jasa di bidang perhotelan. Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan seperti jasa penyiaran radio atau televisi. motel. meliputi: • • • 1. seperti pementasan kesenian tradisional yang diselenggarakan secara cuma-cuma. Jasa penyelenggaraan pendidikan sekolah. • Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan pajak tontonan termasuk jasa di bidang kesenian yang tidak bersifat komersial. 3. baik yang dilakukan oleh instansi pemerintah maupun swasta. pendidikan luar biasa. motel. Jasa penyelenggaraan pelatihan bagi tenaga kerja. Jasa penyelenggaraan pendidikan luar sekolah.

3. 5. sepanjang PPN sewaktu memperoleh aktiva dapat dikreditkan menurut perundangundangan perpajakan yang bersangkutan. penyerahan hak karena suatu perjanjian. 3. yang menyerahkan adalah Pengusaha Kena Pajak (PKP). Penyerahan yang dikenakan PPN meliputi: 1. 2. PKP yang menyerahkan harus dalam lingkungan perusahaan /pekerjaannya terhadap barang yang dihasilkan. 4. atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya. 2. penyerahan kepada pedagang perantara atau melalui juru lelang. pengalihan barang karena suatu perjanjian sewa-beli dan perjanjian leasing. . penyerahan likuidasi atas aktiva yang tujuan semula tidak untuk diperjuabelikan. maka terdapat 6 (enam) jenis PPN. yang diserahkan adalah Barang Kena Pajak (BKP). 7. pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma. Unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk dapat dikenakan PPN adalah: 1. 4. yaitu PPN Barang dan PPN Jasa. 5. 6. penyerahan secara konsinyasi. yaitu daerah Republik Indonesia.Apabila ditinjau dari jenis penyerahan yang menjadi objek PPN. adanya penyerahan. yang masih tersisa pada saat pembubaran. penyerahan dari cabang ke cabang lainnya. penyerahannya harus di Daerah Pabean. Dari keenam jenis PPN. 2 (dua) jenis di antaranya dibatasi dengan unsur untuk dapat mengenakan PPN.

Daerah Pabean adalah daerah Republik Indonesia. yang melakukan penyerahan BKP. barang hasil pertambangan dan barang-barang kebutuhan pokok sehari-hari. 3. 2. barang hasil kehutanan. kecuali pengusaha kecil. mengekspor barang. 2. penyerahan untuk jaminan utang-piutang. PKP yang melakukan penyerahan tersebut harus dalam lingkungan perusahaan/pekerjaannya. barang hasil peternakan. memanfaatkan barang tidak berwujud dari luar negeri. barang hasil perikanan. penyerahan kepada Makelar. barang hasil perburuan. barang hasil budidaya. mengimpor barang. melakukan usaha perdagangan. 4. barang tidak berwujud yang dimanfaatkan di Indonesia. atau penggabungan usaha. melakukan usaha jasa atau memanfaatkan jasa dari luar negeri. Barang kena pajak dimungkinkan berbentuk: 1. barang berwujud dan tidak bergerak. penyerahan dalam rangka perubahan bentuk usaha.Penyerahan yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah: 1. penyerahan cabang ke cabang lainnya. barang hasil perkebunan. baik berbentuk orang pribadi maupun badan termasuk BUT yang dalam lingkungan perusahaan atau pekerjaannya menghasilkan barang. atau dari pusat ke cabang atau sebaliknya yang telah mendapat izin pemusatan pembayaran pajak. . Pengusaha Kena Pajak adalah pengusaha. barang berwujud dan bergerak. Barang yang dikecualikan dari pengenaan PPN adalah: barang hasil pertanian. barang hasil penangkaran. 3. atau pengalihan seluruh aktiva perusahaan yang diikuti dengan perubahan pihak yang berhak atas barang kena pajak.

PT. Bentuk Badan Lainnya.Subjek Pajak Pertambahan Nilai Kalau dalam objek Pajak Pertambahan Nilai yang ditekankan adalah adanya penyerahan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. adalah . Pengertian badan dirumuskan dalam Pasal 1 angka 13 UU PPN 1984 sebagai berikut: Badan merupakan sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan. 4. CV. Yayasan. Bentuk Usaha lainnya. Badan dapat terdiri dari 1. maka dalam subjek Pajak Pertambahan Nilai yang dibahas adalah siapa yang melakukan penyerahan BKP dan atau JKP. 2. organisasi lainnya. 8. Subjek Pajak Pertambahan Nilai. Lembaga. Dana Pensiun. Koperasi. Persekutuan. Kongsi. Ormas. 3. 6. 9. BUMN/BUMD. melakukan atau tidak melakukan usaha. 10. Perkumpulan. 5. 7. Firma. Adapun yang menyerahkan adalah Pengusaha kena pajak (PKP) yang dapat berupa Orang Pribadi atau juga Badan. orsospol. Perseroan lainnya.

Pengusaha yang melakukan atau sejak semula bermaksud melakukan penyerahan BKP/JKP. persediaan BKP tersisa . 2. Dasar perhitungan PPN adalah sebagai berikut: 1. penyerahan film.Pengusaha Kena Pajak 1. 2. Dasar Pengenaan Pajak Pertambahan Nilai Untuk menghitung besarnya PPN terutang. untuk PPN Jasa adalah penggantian. untuk PPN Impor adalah Nilai Impor. Orang pribadi yang memanfaatkan BKP Tidak Berwujud/Jasa Kena pajak (JKP) dari luar Daerah Pabean. Orang Pribadi/Badan yang mengimpor Barang Kena Pajak (BKP). Orang Pribadi/Badan yang membangun sendiri di luar kegiatan usaha/pekerjaannya. 5. harus dipahami terlebih dahulu tentang Dasar Perhitungan PPN (DPP). untuk PPN Barang adalah harga jual. Bukan Pengusaha Kena Pajak 1. untuk PPN atas pemakaian sendiri. 4. penyerahan media rekaman suara/gambar. untuk PPN atas pemanfaatan Barang Kena Pajak Tidak Berwujud atau Jasa Kena Pajak dari luar negeri adalah jumlah yang dibayarkan kepada pihak yang menyerahkan BKPTB atau JKP. 2. 4. 3. 3. saat terutangnya PPN dan tarif PPN. Jasa di bidang perhotelan. pemberian cuma-cuma. Bentuk Kerja sama Operasi.

untuk pemakaian sendiri dan pemberian cuma-cuma adalah harga jual/penggantian tidak termasuk laba kotor. untuk persediaan tersisa (likuidasi) dan aktiva yang tujuan semula tidak untuk dijual adalah harga pasar wajar. 3. sedangkan pada Kegiatan Belajar 2 ini diuraikan tentang saat terutang pajak dan tempat pajak terutang. Pengertian DPP dengan nilai lain. Tentang pengertian dari Dasar Perhitungan telah diuraikan pada Kegiatan Belajar 1. untuk jasa pengiriman paket adalah 1% (satu persen) dari Tagihan atau seharusnya dibayar. saat terutangnya dan tarif PPN. Uraian tentang saat terutangnya PPN meliputi PPN atas penyerahan BKP berbentuk barang berwujud dan bergerak. apakah loco gudang atau franco gudang. PPN atas pemanfaatan BKP Tidak Berwujud dari luar negeri. PPN . Pengertian harga jual pun dipengaruhi oleh perjanjian penyerahan BKP. PPN atas penyerahan BKP berbentuk barang berwujud tidak bergerak. adalah Nilai Lain. 4. untuk PPN Ekspor adalah Nilai Ekspor. potongan harga yang dicantumkan dalam faktur pajak dan barang retur. PPN atas pemanfaatan JKP dari luar negeri. 2. Saat dan Tempat Pajak Terutang Untuk menghitung PPN harus dipahami pengertian Dasar Perhitungan. aktiva yang tujuan semula tidak untuk dijual dan Jasa Pengiriman Paket. 6. untuk penyerahan media rekaman suara/gambar adalah perkiraan harga jual rata-rata. PPN JKP. adalah: 1.(likuidasi). Pengertian Harga Jual dan Penggantian tidak termasuk PPN.

bahkan sulit. seperti PPN atas pemberian cuma-cuma. Tidak ketinggalan adalah PPN Bendaharawan. baik saat terutangnya pajak maupun pembayaran Menghitung PPN Pajak Masukan Sasaran Pajak Pertambahan Nilai bukan harga jual atau penggantian. .Impor. PPN atas penyerahan kaset rekaman lagu dan gambar. dengan memberi contoh PKP yang memiliki cabang-cabang. PPN pemakaian sendiri. Nilai Impor untuk impor barang dan sebagainya. atau pemberian JKP dan seterusnya. Tarif dan Menghitung PPN Setelah memahami dasar perhitungan PPN (DPP). atau nilai impor. termasuk menghitung PPN dengan dasar perhitungan nilai lain. Untuk memudahkan dalam perhitungannya maka yang ditunjuk sebagai dasar pengenaan adalah harga jual untuk PPN Barang. penggantian untuk PPN Jasa. melainkan nilai tambah atas penyerahan BKP. Di samping itu juga diuraikan tentang tarif efektif termasuk asal-usul tarif efektif. PPN Ekspor dan PPN Bendaharawan termasuk badan-badan tertentu yang ditunjuk. saat terutangnya PPN dan tarif PPN. PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud. maka dengan mudah dapat menghitung PPN terutang secara benar dan cepat. Dalam menghitung PPN terutang diberikan beberapa contoh menghitung. atau nilai ekspor. Ketentuan tempat pajak terutang juga dibahas. sebagai sarana dalam rangka memudahkan melakukan kredit pajak. Tetapi pelaksanaannya menimbulkan pajak berganda. PPN atas pemanfaatan JKP dari luar negeri. Tarif PPN menerapkan tarif yang proporsional dan tunggal. karena antara barang yang dibeli tidak harus sama dengan barang yang dijual dan faktor lainnya. dan PPN jasa pengiriman Paket. Tetapi untuk mencari nilai tambah tidak semudah diduga.

sebagaimana yang telah ditetapkan dalam Undangundang Pajak Pertambahan Nilai bahwa sasaran pengenaannya adalah .Untuk menghindari pemungutan pajak berganda dapat dilakukan beberapa cara. dengan beberapa contoh. Mengkredit Pajak Masukan Yang melatarbelakangi sistem kredit pajak adalah upaya untuk menghindari pengenaan pajak berganda. sedangkan Pajak Pertambahan Nilai yang terutang disebut dengan Pajak Keluaran. bahan pembantu dan faktor produksi lainnya. Baik pada UU No. 8 Tahun 1983 tentang PPN dan PPnBM maupun UU No. Agar sistem kredit pajak Pajak Masukan ini tidak disalahgunakan maka diberi batasan tentang Pajak Masukan yang dapat dikreditkan dan Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. mencari nilai tambah pada setiap produksi. barang setengah jadi dan barang esensial. menerapkan kredit PPN atas bahan baku atau bahan pembantu termasuk faktor produksi lainnya. 4. menerapkan pemungutan sekali. 2. yaitu: 1. Pajak yang dikreditkan disebut dengan Pajak Masukan. 5. menentukan dasar pengenaan dengan memperhatikan pertambahan nilainya. 3. 18 Tahun 2000 yang menggantikannya sama-sama menerapkan kredit PPS atas bahan baku. dengan menerapkan tarif Pajak yang proporsional dan tunggal. menerapkan tarif yang berbeda-beda dengan memperhatikan tingkat tahapan produksi seperti barang jadi.

dengan ketentuan bahwa PPN yang terutang dan telah dibayar sewaktu membeli Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak dikreditkan dari PPN yang akan dibayar sewaktu melakukan penjualan Barang Kena Pajak atau Jasa Kena Pajak. melainkan terbatas yang telah memenuhi persyaratan. Demikian pula Pajak Masukan karena penggunaan Barang Modal. dalam hal pajak Keluaran lebih besar daripada Pajak Masukan. Oleh karena itu. Sedangkan untuk menghitung besarnya pertambahan nilai untuk setiap unit produksi adalah sulit sekali. Melalui sistem pengkreditan pajak masukan tersebut. Sedangkan Pajak Masukan tertuang dalam satu Faktur Pajak Masukan. untuk memudahkan (menyederhanakan) cara perhitungan pajaknya maka ditetapkan harga jual sebagai dasar pengenaan. dalam Pajak Keluaran sama dengan Pajak Masukan. Pengkreditan Pajak Masukan oleh PKP atas Penyerahan sebagai BKP dan PKP Norma Penghitungan Tidak setiap Pajak Masukan dapat dikreditkan dari pembelian BKP atau JKP. masih harus membayar PPN. 3. yang boleh dikreditkan terbatas pada Pajak Masukan atas Barang Modal yang digunakan untuk kegiatan usaha yang menghasilkan BKP. terjadi kelebihan pembayaran pajak. agar tercegah adanya pengkreditan pajak yang tidak semestinya. akan menghasilkan 3 (tiga) alternatif: 1. dalam hal Pajak Keluaran lebih kecil daripada Pajak Masukan. baik atas pembelian BKP atau bukan BKP. . maka tidak setiap pajak masukan dapat dikreditkan. tidak kurang bayar dan tidak terjadi kelebihan pembayaran PPN.pertambahan nilai. 2. Meskipun demikian.

UU mewajibkan kepada setiap wajib pajak untuk menyelenggarakan pembukuan. setiap pengkreditan Pajak Masukan terselip Pajak Masukan yang tidak dapat dikreditkan. Untuk mendapat pemungutan pajak yang adil tersebut diperlukan data yang akurat. modal perusahaan. metode penyusutan. disamping rumus menghitung Pajak Masukan yang harus dikembalikan berkenaan penggunaan Barang Modal bukan untuk menghasilkan BKP. yang dapat mendukung dalam menghitung pajak terutang. Salah satu sumber data sekaligus sebagai pencerminan tingkat partisipasi wajib pajak adalah angka-angka dalam pembukuan. baik pada tingkat horisontal maupun vertikal. yang besarnya pajak terutang sesuai dengan objek yang diterima atau diperoleh wajib pajak. maupun metode penilaian persediaan dan sebagainya. 9 Tahun 1994. utang perusahaan dan seterusnya. Pembukuan harus disusun di Indonesia. dan angka arab. Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Pajak Masukan bagi PKP yang Menggunakan Norma Penghitungan Pemungutan pajak dapat dikatakan adil. serta menerapkan prinsip taat asas. Melalui Pasal 28 ayat (1) UU No.Oleh karena itu. dalam bahasa Indonesia. yang isinya dapat menggambarkan perusahaan. baik Pajak Penghasilan (PPh). Yang dikecualikan dari kewajiban pembukuan tersebut adalah: . baik Tahun pembukuan. huruf latin. Untuk itu disusun dan ditetapkan rumus dalam menghitung Pajak Masukan yang harus dibayar kembali. Rumus menghitung Pajak Masukan yang harus dikembalikan dibedakan antara rumus untuk Barang Modal dan Bukan Barang Modal. Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM) dan lain-lain jenis pajak.

untuk penyerahan BKP adalah sebesar 70% (tujuh puluh persen) dari jumlah Pajak Keluaran. wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.000.1. Besarnya Pajak Masukan yang dapat dikreditkan adalah sebagai berikut: 1. 17 Tahun 2000.000. 4. 2. untuk penyerahan JKP adalah sebesar 40% (empat puluh persen) dari jumlah Pajak Keluaran. dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan diperkenankan menggunakan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan sebagaimana ditentukan pada Pasal 9 ayat (7) UU No.00 dan wajib pajak orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas dikecualikan dari penyelenggaraan pembukuan. catatan dimaksud agar dipisah antara penyerahan yang terutang pajak dengan penyerahan yang tidak terutang pajak pertambahan nilai. wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas yang oleh UU diperkenankan menghitung penghasilan neto dengan menggunakan norma penghitungan. 3. sejak masa pajak pada permulaan Tahun buku berikutnya PKP tidak lagi diperkenankan menggunakan . Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan usaha atau pekerjaan bebas yang peredaran brutonya seTahun kurang dari Rp600. Oleh karena itu. Dalam hal PKP disamping melakukan penyerahan BKP juga bukan BKP. Wajib pajak orang pribadi yang diperkenankan menggunakan norma penghitungan dalam menghitung penghasilan neto sebagaimana disebut pada Pasal 14 ayat (2) UU No. Untuk keperluan pelaksanaan ketentuan tersebut PKP wajib membuat catatan nilai peredaran bruto yang menjadi Dasar Pengenaan Pajak. Dalam hal terjadi perubahan. 18 Tahun 2000. 2. untuk menghitung penghasilan netonya diperkenankan dengan menggunakan Norma Penghitungan.

wajib pajak yang bersangkutan wajib memberitahukan kepada Direktur Jenderal Pajak.00. Selain itu. dan peredaran brutonya seTahun kurang dari Rp600. wajib pajak yang bersangkutan masih wajib membuat catatan peredaran bruto atau penerimaan penghasilan. Untuk mencapai sasaran agar pemungutan Pajak Pertambahan Nilai mencerminkan keadilan tersebut maka diberlakukan pemungutan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM).000. restitusi dan hak-hak lainnya. Ketentuan ini tidak berlaku bagi PKP pedagang eceran dengan nilai sebagai dasar pengenaan pajak. di samping memudahkan wajib pajak. di samping diberlakukan tarif proporsional dan progresif. juga menghilangkan kesempatan wajib pajak untuk dapat kompensasi. dalam hal sebagai Pengusaha Kena Pajak dalam menghitung Pajak Masukan yang dapat dikreditkan menggunakan pedoman penghitungan pengkreditan. Administrasi Penggunaan Norma Penghitungan Tidak semua wajib pajak yang tidak menyelenggarakan pembukuan dapat menggunakan Norma Penghitungan dalam menghitung Penghasilan Neto. Penggunaan Norma Penghitungan dan Pedoman Pengkreditan Pajak Masukan. dalam hal ini adalah Kepala Kantor Pelayanan Pajak dalam waktu 3 (tiga) bulan pertama dari Tahun pajak yang bersangkutan. Wajib pajak tersebut. Latar Belakang Diberlakukannya Pajak Penjualan atas Barang Mewah Setiap pemungutan pajak termasuk pemungutan Pajak Pertambahan Nilai diharapkan mencerminkan keadilan baik secara horizontal maupun vertikal. .pedoman pengkreditan Pajak Masukan. Meskipun demikian. Baik Petunjuk Norma Penghitungan Penghasilan Neto maupun Pedoman Penghitungan Pengkreditan Pajak Masukan ditetapkan melalui keputusan Direktur Jenderal Pajak.000. melainkan terbatas pada wajib pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha atau pekerjaan bebas.

namun pelaksanaan pemungutannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal Pajak. dimana tarif pajak PPn BM yang minimal 10% dan maksimal 50% dibagi dalam 3 (tiga) kelompok. bersama-sama memungut Bea Masuk. Menghitung Pajak Penjualan atas Barang Mewah Non-Kendaraan Bermotor Sebagai pelaksanaan pemungutan tambahan pada pemungutan PPN dalam rangka menciptakan pemungutan yang adil di bidang pajak atas penyerahan barang. maka diberlakukan pemungutan PPnBM. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa Pajak Penjualan atas Barang Mewah diberlakukan bersama-sama dengan pemungutan Pajak Pertambahan Nilai.Dengan diberikan contoh penghitungannya. kelompok dengan tarif 20% dan kelompok dengan tarif 35%. Agar supaya lebih memantapkan tingkat keadilan vertikalnya maka diterapkan tarif proporsional yang progresif. menunjukkan lebih tajam daripada PPnBM yang menggantikan PPn sebagaimana tertuang pada UU PPn 1951. . Akhirnya dapat dihitung besarnya PPnBM atas penyerahan barang berupa kendaraan bermotor dan besarnya PPnBM atas impor kendaraan bermotor dengan unsur-unsurnya Walaupun cara pemungutannya sama sebagaimana PPnBM atas penyerahan BKP. yaitu kelompok dengan tarif 10%. ternyata tingkat progresivitas PPnBM bersama-sama dengan PPN.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful