P. 1
neurologi

neurologi

|Views: 7|Likes:
Published by Yudis Wira Pratama
sdsdsd
sdsdsd

More info:

Published by: Yudis Wira Pratama on Apr 07, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/02/2014

pdf

text

original

KESADARAN

Kwantitatif ( GCS ) Spontan Dipanggil Rangsang Nyeri No Respon Orientasi Baik Kata Baik/Kalimat Baik Tapi Membingungkan Kata-Kata Baik Tapi Tidak Dalam Satu Kalimat Mengerang ( Suara Tanpa Arti ) No Respon Mengikuti Perintah Melokalisir Nyeri Menghindar (Menarik) Extremitas Dari Nyeri Fleksi (Dekortikasi) Ekstensi (Deserebrasi) No Respon Kwalitatif

 BRUDZINSKI SIGN  Tanda Leher 4 3 2 1 5 4 3 2 1 6 5 4 3 2 1

PEMERIKSAAN SARAF KRANIALIS
 N. I (N. OLFAKTORIUS )

Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala pasien yang sedang berbaring, kemudian, tangan pemeriksa yang satu lagi sebaiknya ditempatkan didada pasien untuk mencegah diangkatnya badan kemudian kepala pasien difleksikan sehingga dagu menyentuh dada. (+) bila gerakan FLEKSI KEPALA disusul dengan gerakan FLEKSI di sendi LUTUT dan PANGGUL kedua tungkai
 Tanda

KEKUATAN MOTORIK
Kekuatan penuh Ada gerakan tapi tidak penuh Kekuatan melawan gravitasi Tidak ada kekuatan melawan gravitasi Hanya kontraksi Tidak ada kontraksi 5 4 3 2 1 0

RANGSANG MENINGEAL
 KAKU KUDUK

Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala, pasien yang sedang berbaring, kemudian kepala ditekukan ( fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada. Perhatikan adanya tahanan. (+) bila didapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada
 KERNIG SIGN

pasien yang berbaring difleksikan pahanya pada persendian panggul sampai sudut 90 derajat. Tungkai bawah diekstensikan pada persendian lutut sampai membentuk sudut lebih dari 135 derajat terhadap paha. (+)Bila teradapat tahanan dan rasa nyeri < sudut 135 derajat

EYE VERBAL MOTOR

NORMAL

SOMNOLEN

SOPOR ( STUPOR)

KOMARINGAN ( SEMI – KOMA )
KOMA ( DALAM ATAU KOMPLIT)

Composmentis Mengantuk, pulih penuh bila Dirangsang, mampu menjawab, menangkis rangsang nyeri Kantuk yang dalam, dapat dibangunkan Dengan rangsang Tidak ada respons verbal, Refleks ( kornea, pupil dsb) masih baik, msh ada rangsang nyeri Tidak ada gerakan

tungkai kontra lateral Pasien berbaring , Tungkai bawah yang akan dirangsang difleksikan pada sendi lutut, kemudian tungkai atas diekstensikan pada sendi panggul. (+) Bila timbul gerakan fleksi tungkai kontralateral pada sendi lutut dan panggul pipi Penekanan pada kedua pipi tepat dibawah os zygomaticus (+) Bila disusul gerakan fleksi dikedua siku keatas sejenak dari kedua lengan simfisis pubis Penekanan pada simfisis pubis (+) Bila timbulnya gerakan fleksi pada kedua tungkai disendi lutut dan panggul.

Salah satu hidung pasien ditutup, dan pasien diminta untuk mencium bau-bauan tertentu yang tidak merangsang .Tiap lubang hidung diperiksa satu persatu dengan jalan menutup lubang hidung yang lainnya dengan tangan  ANOSMIA adalah hilangnya daya penghiduan.  HIPOSMIA adalah bila daya ini kurang tajam  HIPEROSMIA adalah daya penghiduan yang terlalu peka.  PAROSMIA adalah bila tercium bau yang tidak sesuai  KAKOSMIA adalah parosmia yg tidak menyenangkan atau yang memuakkan
 HALUSINASI OLFAKTORIK

adalah tercium suatu modalitas olfaktorik tanpa adanya perangsangan
 N. II ( N. OPTIKUS )  pemeriksaan visus

 Tanda

 Tanda

 TANDA LASEGUE.

pasien berbaring kedua tungkai diluruskan ( diekstensikan ) , kemudian satu tungkai diangkat lurus, dibengkokkan ( fleksi ) persendian panggulnya. Tungkai yang satu lagi harus selalu berada dalam keadaan ekstensi ( lurus ) . (+) Bila timbul rasa sakit dan tahanan sebelum mencapai 60 70 derajat

jari yang digerakkan harus dapat dilihat jarak 60 meter. Cth: visus = 2/60 pasien hanya dapat melihat pergerakan jari jarak 2 meter  Gerakan tangan harus tampak pada jarak 300 meter. Cth: visus 1/300 = hanya sampai membedakan adanya gerakan, visus 3/300 pasien hanya dapat melihat pergerakan tangan pada jarak 3 meter.  Jika hanya dapat membedakan antara gelap dan terang maka visus nya 1/~, bila sudah disinari masih belum dapat melihat maka visus nol  pemeriksaan lapang pandang ( metode konfrontasi donder ) pasien duduk atau berdiri kurang lebih jarak 1 meter dengan pemeriksa, salah satu mata pasien ditutup, pasien melihat mata pemeriksa, pemeriksa menggerakkan jari tangannya dibidang pertengahan antara pemeriksa dan pasien dan gerakkan jari dari arah luar ke dalam, Jika pasien mulai melihat gerakan jari – jari pemeriksa , ia harus memberitahu, dan hal ini dibandingkan dengan pemeriksa

 Jari

.  Refleks akomodasi pasien diminta untuk melihat telunjuk pemeriksa pada jarak yang cukup jauh. IV.OKULOMOTORIUS. TROKLEARIS.  N. normal 3 mm  Bandingkan kiri dengan kanan ( isokor atau anisokor ). (-): dengan diperiksa pasien baru merasa adanyaskotoma. dan perhatikan pupil sisi yang lain. Cahaya ditujukan pada satu pupil. Pilocarpine dan acetylcholine akan memberikan miosis.  Lihat bentuk bulatan pupil teratur atau tidak. Normal ( pupil akan mengecil /miosis). Indirek/tidak langsung: refleks cahaya konsensuil. normalnya akan miosis atau midriasis yang segera disusul miosis. III. VI (N. Macam macam gangguan ”visual field” antara lain. SKOTOMA adalah bagian bagian visual field yang buta dimana pasien tidak dapat melihatnya. binasal )  Homonymous hemianopsia  Homonymous quadrantanopsia  Total blindness dsb  Pemeriksaan refleks  Refleks cahaya pupil Direk/langsung : cahaya ditujukan seluruhnya kearah pupil. nasal .  Refleks okulosensorik rangsangan nyeri pada bola mata/ daerah sekitarnya. Lihat apakah ada hambatan pada pergerakan matanya. ABDUSENS )  Pemeriksaan gerakan bola mata  N. Nystagmus ( gerakan bola mata diluar kemauan pasien) Pemeriksaan kelopak mata Membandingkan celah Mata/ fissura palpebralis kiri dan kanan Ptosis adalah kelopak mata yang menutup   Pemeriksaan pupil  Lihat diameter pupil. Pasien diminta untuk mengikuti gerakan tangan pemeriksa yang digerakkan kesegala jurusan. bitemporalis . (+) : tanpa diperiksa pasien sudah merasa adanya skotoma. V ( NERVUS TRIGEMINUS ). kemudian dengan tiba – tiba dekatkanlah pada pasien lalu perhatikan reflek konvergensi (+) tampak miosis pupil  Refleks ciliospinal Rangsangan nyeri pada kulit kuduk akan memberi midriasis (melebar) dari pupil homolateral. Atropine dan skopolamine akan memberikan pelebaran pupil/ midriasis.  Hemianopsia ( temporal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->