P. 1
Wart a 200802

Wart a 200802

|Views: 48|Likes:
Published by Mul Yani
jurnal
jurnal

More info:

Published by: Mul Yani on Apr 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/28/2013

pdf

text

original

1

z W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Kata Pengantar
03
Daftar Isi
Volume 3 No. 2
Juni 2008
Penasehat Kepala Badan Geologi Penanggungjawab Sekretaris Badan Geologi Pemimpin Redaksi Eddy Mulyadi, Dewan Reda-
ksi Oman Abdurahman, Priatna, Prima M. Hilman, Joko Parwata, Rudy D. Hadisantono, M. Wafd, Rita S.S., Kusdji D.Kusumah Redak-
tur Pelaksana A.Gurning, M. M. Saphick Nurjaman, Eliza P. Winarno, Bunyamin Koresponden Nandang Sumarna, Evina Widyantini,
Nenen Adriyani, Yusep Hidayat Sirkulasi Asep Sofyan, Dadang Suhendi Fotografer & Dokumentasi Gatot Sugiharto, Titan Roskusumah
Marketing & Humas Lilies M. Maryati Tata Letak & Artistik [V]Artstudio 022-70662366 Alamat Redaksi Gedung D Lantai IV Jl. Dipone-
goro No. 57 Bandung 40122 Telp. 022-7217321 Faks.022-7218154 website: http://www.bgl.esdm.go.id e-mail: warta@bgl.esdm.go.id
[06] Memosisikan Kembali Kedudukan Geopolitik
Indonesia
[16] Jika Aku Mengolah Air Minumku
[20] Ratu Perhiasan
Geologi Populer
06
[24] Pulau Singkep, kembali Menghasikan Timah
[30] Semeru, Gunung Api yang Tak Pernah Tidur
[34] Fosil Kayu, Indikasi Kehidupan Pra-sejarah di
Kubah Bayah
Lintasan Geologi
24
[40] Mengenal Medan Magnet di Alam
Geo Fakta
40
[52] Rudy Dalimin: Ahli Pemetaan Gunung Api
Profl
52
[58] Penyebarluasan Informasi Geologi
[60] Diskusi Meneropong Peran dan Fungsi Geologi
di Masa yang Akan Datang
[62] Sosialisasi Peraturan bidang Geologi
[64] Jurnal Geologi Indonesia Terakreditasi
[67] Temu Editor dan Reviewer JGI
[70] Forum Komunikasi Pejabat Fungsional
[72] Ulang Tahun ke-79 Museum Geologi
Seputar Geologi
58
[83] Wisata ke Gua Pawon
Geo Foto
83
[78] Perpustakaan Geologi
Layanan Geologi
78
[03] Kata Pengantar
[04] Editorial
¸
Pembaca yang budiman,
Selamat bertemu kembali dengan Warta Geologi
(WG) dalam penerbitan kedua Edisi III Tahun
2008. Dapat diinformasikan bahwa rubrik-rubrik
WG Volume III Nomor 2, Tahun 2008 ini pada
prinsipnya melanjutkan rubrik-rubrik sebagaimana
pada WG Volume III nomor perdana, sebelumnya.
Para pembaca akan menjumpai berturut rubrik-
rubrik ”Pengantar Redaksi”, ”Editorial”, ”Geologi
Populer”, ”Lintasan Geologi”, ”Geo Fakta”,
”Profil”, ”Layanan Geologi”, dan ”Seputar
Geologi”.
”Editorial WG kali ini mewacanakan seputar krisis
energi dan tantangannya untuk penelitian dan
pelayanan bidang geologi dalam sudut pandang
geopolitik. Dalam rubrik ”Geologi Populer” para
pembaca akan mendapati tiga tulisan, yaitu:
“Memposisikan kembali Kedudukan Geopolitik
Indonesia”, ”Jika Aku Mengolah Air Minumku”,
dan ”Ratu Perhiasan”. Selanjutnya, dalam
rubrik ”Lintasan Geologi” para pembaca dapat
menelusuri tulisan tentang timah di P. Singkep,
Gunung api Semeru, dan fosil kayu dari daerah
Bayah, Jawa Barat. ”Geo Fakta” mengulas tentang
medan magnet alami. Rubrik ”Layanan Geologi”
mengupas tentang perpustakaan geologi.
Adapun ”Profil” kali ini menampilkan Bapak
Rudy Dalimin Hadisantono, salah seorang yang
memiliki kepakaran langka, namun diperlukan,
yaitu pemetaan gunung api. Seperti biasanya,
WG kali ini pun menyampaikan sejumlah berita
aktivitas penelitian dan pelayanan bidang geologi
yang dikemas dalam rubrik ”Seputar Geologi”.
Para pembaca yang budiman,
Artikel “Memposisikan kembali Kedudukan
Geopolitik Indonesia” adalah artikel unggulan WG
kali ini. Artikel karya Pak Hardoyo Rajiowiryono,
salah seorang ahli geologi lingkungan freelance
ini membicarakan tentang aspek strategis dari
penelitian dan pelayanan bidang geologi, yaitu
geopolitik Indonesia. Apa tantangan dan apa
saja posisi (baru) kedudukan geopolitik Indonesia
ke depan serta bagaimana cara mencapainya
dikupas dalam artikel tersebut. Masih dalam rubrik
yang sama, terdapat artikel tentang salah satu
lingkungan geologi, salah satu sumber daya yang
diperlukan oleh manusia, bahkan seluruh makhluk
hidup lainnya, yaitu air: “Jika Aku Mengolah Air
Minumku” karya Ibu Betty C. Matahelumual
(PLG). Adapun artikel ketiga dalam rubrik geologi
populer ini adalah “Ratu Perhiasan” oleh Adang
Hendarsyah (PSG), sebuah artikel yang mengulas
tentang batu mulia yang menjadi ratunya para
batu mulia.
Artikel “Pulau Singkep Kembali menghasilkan
Timah” karya Sabtanto Joko Suprapto (PMG),
berbicara tentang Pulau Singkep yang kembali
menggeliat dengan pertambangan timahnya.
Artikel lainnya dalam rubrik “Lintasan Geologi”
adalah “Semeru, Gunung Api yang Tidak
Pernah Tidur” oleh Kristianto dan SR Witiri
(PVG). Artikel tentang Gunung Semeru tersebut
mempertahankan konsistensi kehadiran tulisan-
tulisan tentang gunung api atau mitigasi bencana
gunung api yang selalu hadir dalam setiap
penerbitan WG. Artikel terkakhir dalam rubrik
yang sama adalah artikel berjudul “Fosil Kayu,
Indikasi Kehidupan Pra-Sejarah di Kubah Bayah”
karya Hamdan Z. Abidin (PSG).
Profil kali ini menampilkan seorang peneliti senior
dari PVG, Badan Geologi, yaitu Pak Rudy Dalimin
Hadisantono. Beliau adalah salah seorang yang
menekuni dan pemilik keahlian langka, yaitu:
pemetaan gunung api. Adapun rubrik “Layanan
Geologi” kali ini diisi dengan informsi tentang
perpustakaan geologi yang sudah sangat dikenal
itu. Terakhir, rubrik “Seputar Geologi” menyajikan
berita-berita atau event-event berkaitan dengan
bidang geologi atau Badan Geologi yang
berlangsung diantara bulan April hingga Juni
2008. Dalam rangkaian berita event tersebut
para pembaca antara lain dapat menyimak
berita tentang diskusi di seputar peran dan
fungsi geologi dalam RPJPN 2005-2025, “Jurnal
Geologi Indonesia” yang kini sudah Terakreditasi,
acara “Temu Editor dan Reviewer Jurnal Geologi
Indonesia”, forum komunikasi pejabat fungsional
Badan Geologi, dan berita tentang ulang tahun
ke-79 Museum Geologi.
Pembaca yang budiman,
Kami senantiasa mengundang para pembaca
semua, khususnya para peneliti dan pengamat
bidang geologi dari dalam maupun luar
lingkungan Badan Geologi untuk menulis di WG.
Media cetak yang memposisikan diri sebagai
majalah populer-ilmiah di bidang geologi ini
sangat tepat kiranya sebagai ajang menulis dalam
irama tulisan yang mengarah kepada keahlian
science communicator di bidang geologi.
Kepada para penulis yang telah menyumbangkan
tulisannya di WG kali ini, tak lupa kami dari redaksi
mengucapkan terimakasih atas kontribusinya.
Akhir kata, selamat menikmati Warta Geologi
Edisi III Nomor 2 Tahun 2008!nRedaksi
P e n g a n t a r R e d a k s i
PengunLur ReduksI
q W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
E d i t o r i a l
Apakah yang tersisa dari geopolitik Indonesia apabila
Indonesia kesulitan untuk menjaga keajegan pasokan
seluruh kebutuhan energinya seperti akhir-akhir ini?
Bagaimana strategi dan upaya bidang geologi agar
lebih berkiprah dalam mengantisipasi krisis energi?
Bagaimana pula geologi dapat berperan penting
dalam memposisikan kembali kedudukan geopolitik
Indonesia? Pertanyaan-pertanyaan tersebut dalam
situasi Indonesia menghadapi gejolak energi dunia
dewasa ini dan tantangan situasi ekonomi, sosial
budaya dan politik global kedepan menarik untuk
diwacanakan.
Dalam salah satu upaya menghadapi krisis energi,
Presiden kita pada bulan Juli 2008 –sebagaimana
disiarkan antara lain dalam media televisi– meng-
ajak kepada seluruh stakeholder terkait untuk me-
ningkatkan pencarian aspek hulu energi bahan bakar
minyak (BBM) disamping mengembangkan energi
baru dan terbarukan. Ajakan atau imbuan presiden
ini jelas merupakan sebuah tantangan bagi bidang
geologi yang berkiprah pada aspek hulu sektor
energi, khususnya sektor minyak dan gas (migas).

Pada saat ini perencanaan pembangunan nasional
kita memang sudah tidak lagi menganut sistem
GBHN (garis-garis besar haluan negara). Namun
demikian, butir-butir dasar dari GBHN sebelumnya,
seperti konsep geopolitik, masih berguna. Dalam
GBHN 1993 dinyatakan bahwa geopolitik adalah
salah satu modal dasar pembangunan bangsa
Indonesia. Maka, wacana kita pada kesempatan ini
adalah bagaimana melihat krisis energi dan bidang
geologi dari sudut pandang yang lebih luas dan
strategis, yaitu geopolitik.

Krisis Energi dan Peran bidang Geologi
Pada saat ini dunia dapat dikatakan sedang meng-
hadapi ancaman krisis energi. Dampaknya terasa
juga di Indonesia. Beberapa ahli menyatakan bahwa
kondisi energi di Indonesia saat ini sudah termasuk
kategori ”krisis”. Krisis energi atau kegawatan energi
adalah suatu pengurangan atau peningkatan harga
yang besar dalam pasokan energi ke ekonomi; suatu
krisis energi dapat berupa krisis bahan bakar minyak,
pengurangan energi, pengurangan ketersediaan
listrik, atau krisis kelistrikan (lihat, misalnya, (http://
en.wi ki pedi a.org/wi ki /Energy_cri si s).Keadaan
pengurangan yang besar atau peningkatan harga
yang tinggi di sisi pasokan (supply) energi tersebut
pada saatnya dapat menimbulkan kegawatan atau
kegentingan sehingga layak disebut sebagai krisis
energi.

Fokus pembicaraan kita kali ini bukan tentang
penyebab krisis energi, melainkan tentang arah atau
tantangan yang relevan dari krisis energi itu terhadap
Krisis Energi, Geopolitik, dan Geoinformasi
penelitian dan pelayanan bidang geologi. Karena,
sebagaimana imbauan Bapak Presiden kita yang
dikutip di depan, apa pun penyebab krisis energi
yang terjadi, salah satu solusi untuk pemulihan
kondisi energi tersebut mengandung pengharapan
kepada bidang geologi. Dalam sebuah pemaparan
tentang bahan penyusunan road map penelitian
dan pelayanan bidang geologi, Bapak Awang
Harun Satyana, seorang geolog senior dan ahli
geologi perminyakan di Indonesia, menyampaikan
bahwa data, referensi, dan pengalaman geologi
akan menjadi modal utama untuk meneruskan
pembangunan dalam bidang sumber daya migas
dan mineral pada Pembangunan Jangka Panjang
Nasional (PJPN) 2005-2025. Hal tersebut mengingat
migas masih merupakan sumber energi utama atau
sekitar 80% dari komsumsi di Indonesia. Kita sadar,
bahwa tidak akan ada detak kehidupan dan tak akan
dijumpai derap pembangunan tanpa tersedianya
energi yang cukup.
Selanjutnya disampaikan pula oleh beliau yang
berikut ini: ”...dalam sektor migas, dari 60 cekungan
migas yang sudah diketahui, dengan 16 diantaranya
telah berproduksi, maka kita masih memiliki peluang
44 cekungan yang tidak mustahil akan menjadi
cekungan–cekungan produksi di masa depan.
Dari 16 cekungan yang berproduksi, kita juga
masih memiliki cadangan minyak terbukti dan
potensial sebesar sekitar 8,4x109 barel dan gas
sebesar 165x1012 kaki kubik yang akan menjadi
produksi Indonesia di masa mendatang. Setiap
tahun rata-rata sekitar 360x106 barel minyak dan
3x1012 kaki kubik gas produksi Indonesia. Bila kita
tak menambah cadangan baru melalui penemuan-
penemuan eksplorasi maka cadangan tebukti dan
potensial yang telah ada itu akan habis dalam 23
tahun untuk minyak, dan 55 tahun untuk gas. Bila
kita hanya memperhitungkan cadangan terbukti,
maka pengurasan itu akan lebih cepat, yaitu 11
tahun untuk minyak, dan 35 tahun untuk gas.
Hal itu dihitung berdasarkan beberapa parameter
yang konstan. Berdasarkan hal diatas, maka peran
dan fungsi geologi menjadi sangat penting untuk
keberlanjutan pembangunan bidang migas di
Indonesia. Geologi akan menjadi ujung tombak
dalam mewujudkan 44 cekungan sedimen menjadi
cekungan yang memproduksi migas. Geologi pun
akan menjadi ujung tombak dalam mewujudkan
cadangan potensial di lapangan-lapangan produksi
saat ini menjadi cadangan terbukti sehingga akan
memeperpanjang umur Indonesia sebagai produsen
migas. Maka, tidak berlebihan apabila kita katakan
bahwa, disadari atau tanpa disadari, geologi
merupakan salah satu mata rantai penggerak
pembangunan, begitu juga untuk PJPN 2005-
2025”.
¸
Geoinformasi:
Kontribusi Geologi untuk Sektor Energi
Dari apa yang disampaikan oleh pakar geologi
perminyakan tersebut diatas selanjutnya diperoleh
butir penting hubungan pengetahuan geologi
dengan eksplorasi migas saat ini dan ke depan.
Yakni, bahwa sekalipun pengetahuan geologi kita
telah cukup, masih banyak faktor-faktor geologi
yang belum diketahui sehingga kegagalan eksplorasi
biasa terjadi; namun, bila kita dapat belajar dari
pengalaman kegagalan, maka resiko kegagalan
selanjutnya akan semakin kecil. Karena itu, database
dan sistem informasi tentang geologi sumber daya
energi menjadi sangat penting. Sebab, belajar dari
pengalaman kegagalan dalam konteks pengetahuan
memerlukan database dan sistem informasi. Artinya,
salah satu kontribusi penelitian dan pelayanan
bidang geologi untuk sektor energi adalah menyusun
dan menyajikan geoinformasi sektor energi dengan
baik.
Geoinformasi dalam hal ini dimaksudkan sebagai
sub disiplin ilmu yang kajiannya atau ruang
lingkupnya meliputi asepk-aspek: remote sensing,
sistem distribusi data dalam sains kebumian, data
pertambangan, geocomputation dan distributed GIS,
simulasi numerik, dan evaluasi model, pemodelan
keruangan dan statistik keruangan, standar informasi
geografis, interoperabilitas (interoperability) dan
infrastruktur data keruangan, dan komputasi grid
ruang bumi (geospatial grid computing). Penelitian
dan pelayanan bidang geologi aspek geoinformasi
sektor energi paling tidak mampu menyajikan data
dan informasi yang dimilikinya dalam pengertian
geoinformasi sebagaimana tersebut diatas, baik
untuk data dan informasi yang telah ada atau pun
prediksi-prediksi ke depan.
Geoinformasi dan Geopolitik
Geoinformasi ternyata juga merupakan tulang
punggung penting dalam pengukuhan posisi
geopolitik Indonesia yang baru. Posisi geopolitik
Indonesia, menurut salah seorang geolog senior
kita, Bapak Hardoyo, perlu diposisikan kembali
mengingat beberapa alasan akibat konstelasi politik
dan ekonomi di tingkat regional Asia Tenggara dan
sekitarnya. Hal itu mengingat kedudukan geopolitik
Indonesia yang –menurut GBHN 1993 - dianggap
lebih penting dari modal dasar pembangunan yang
keempat (“kekayaan alam yang beraneka ragam”),
dalam waktu 30 tahun ke depan tidak akan relevan
lagi.
Kedudukan geopolitik kita yang menurut GBHN
1993 merupakan modal dasar pembangunan ketiga
itu adalah bahwa Indonesia merupakan negara yang
letaknya strategis untuk lalu lintas perdagangan
dan angkutan barang melalui laut. Dengan adanya
rencana kerjasama beberapa negara-negara di
sekitar kawasan Sungai Mekong di Asia daratan
dengan apa yang disebut proyek pengembangan
GSM (Great Subregion Mekong), maka posisi
geopolitik Indonesia tersebut patut dievaluasi dan
diposisikan kembali. Proyek GSM antara lain akan
membangun terusan Kra sebagai jalur perdagangan
yang lebih efisien. Maka: ”Dalam 30-40 tahun ke
depan, atau mungkin lebih cepat lagi, benarkah
jalur perdagangan melalui laut Indonesia masih
dianggap strategis?”; ”Bukankah ke depan lalulintas
perdagangan akan lebih banyak melalui terusan
tanah genting Kra tersebut?”, dst.
Dari ulasan dan usulan beliau untuk reposisi
kedudukan geopolitik Indonesia sebagaimana dalam
makalahnya yang dimuat dalam WG kali ini dapat
disimpulkan beberapa hal. Yaitu: 1) bahwa menurut
historisnya dan kondisi sumber daya alamnya secara
geologi Indonesia masih penting, bahkan geopolitik
Indonesia masih dapat dipertahankan dan berperan
lebih penting lagi dengan berkiprah dalam isu-isu
strategis sebagaimana dalam posisi geopolitiknya
yang baru; 2) diantara geopolitik baru untuk
Indonesia itu adalah: peluang investasi di sektor
mineral dan energi, pertanian unggulan berbasis
biogeoregion, pengembangan geowisata, dan
pusat pendidikan dan pelatihan geologi. Namun,
pengembangan geopolitik baru untuk Indonesia
itu menuntut sejumlah syarat yang prinsipnya
semua syarat tersebut bertumpu pada sistem
geoinformasi.

Revitalisasi Informasi Geologi Indonesia
Demikianlah, paparan diatas menunjukkan bahwa
dalam berkontribusi untuk solusi dan masa depan
energi serta reposisi geopolitik Indonesia ke depan,
informasi geologi kita memerlukan revitalisasi
sehingga menjadi sistem geoinformasi Indonesia.
Yakni, informsi geologi yang sedikitnya berbasis pada
sistem keruangan (GIS atau SIG: sistem informasi
geografis); memanfaatkan data dan informasi
hasil dari teknologi canggih yang telah tersedia
(remote sensing, dan metode survei dan eksplorasi
lainnya); selalu dihasilkan, divalidasi, dievaluasi,
dan di-update melalui pemodelan, penghitungan,
dan statistik-statistik kebumian (geocomputation);
memiliki tingkat interoperabilitas yang tinggi, serta
merupakan bagian dari sistem informasi sains
kebumian secara keseluruhan. Dengan demikian
dapat diharapkan sistem informasi geologi sumber
daya energi tersebut akurat, up-to-date, dan handal
dalam subtansi; cepat dan tepat dalam pelayanan.
sedikitnya memerlukan pemenuhan ketiga aspeknya:
pemahaman yang mendalam, kebersamaan antar
berbagai stakeholder, dan kreativitas. Maka, agar
kita masih dapat berharap untuk tetap menjadi
produsen migas terbesar di Autralasia, pengeskpor
gas alam nomor satu di dunia, dan posisi terdepan
di dunia di bidang geologi-pertambangan lainnya
seperti saat ini; serta mampu mengukuhkan
posisi baru geopolitik Indonesia, maka kita perlu
memahami secara mendalam makna data dan
informasi, berkoordinasi dengan berbagai sektor
serta berkreativitas dalam membangun geoinformasi
Indonesia. Semoga!.n
Bandung, Juni 2008
Oman Abdurahman

EdILorIuI
6 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
H
arian Kompas tanggal 31 Maret
2008 memberitakan bahwa Re-
publik Rakyat China (RRC) berniat
mengembangkan kawasan sepanjang aliran Su-
ngai Mekong - dikenal sebagai Greater Subregion
Mekong (GSM) - yang melewati enam negara,
yaitu China, Laos, Kamboja, Myanmar, Thailand,
dan Vietnam. Kesepakatan untuk membangun
kawasan GSM sebelumnya telah dicapai diantara
keenam negara tersebut pada tahun 1992.
Pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 30 - 31
Maret 2008 di Vientiane, Laos, adalah pertemuan
ketiga diantara keenam negara kawasan GSM itu.
Memposisikan Kembali
Kedudukan Geopolitik
Indonesia
Oleh: Hardoyo Rajiyowiryono
G e o l o g i P o p u l e r
;

Rencana pengembangan kawasan GSM ini
menjadi sangat menarik apabila kita kaji dengan
fakta-fakta berikut:
1) Bahwa telah lama ada rencana untuk
membuka terusan di Tanah Genting Kra yang akan
menghubungkan Samudra India (Laut Andaman)
dengan Laut Tiongkok Selatan (Teluk Siam),
2) Bahwa keamanan di kawasan Indochina sudah
membaik, dan
3) Bahwa harga minyak dan gas bumi yang
cenderung selalu naik. Rencana pengembangan
kawasan GSM juga sangat menantang apabila
kita kaji secara holistik dengan informasi kondisi
geologi Indonesia yang unik.
Kajian yang terakhir ini mungkin akan mem-
bantu kita untuk memposisikan kembali
kedudukan geopolitik Indonesia di Asia
Tenggara dan menentukan arah kebijakan
pembangunan Indonesia, sekurang-kurangnya
arah pembangunan pada aspek atau bidang
kegeologiannya.
Jika makna revitalisasi meliputi 3 (tiga) langkah
penting, yaitu: pemahaman yang mendalam,
perencanaan bersama, dan pengembangan
kreativitas; maka dalam tulisan ini penulis mencoba
mengaplikasikan revitalisasi di bidang informasi
geologi untuk memposisikan kembali kedudukan
geopolitik Indonesia. Hal ini menjadi lebih penting
lagi dalam kaitannya dengan antisipasi atas situasi
regional dan global yang akan mempengaruhi
Indonesia dalam waktu yang tidak terlalu lama,
terutama rencana pembangunan GSM dan
terusan di Tanah Genting Kra.

POSISI GEOPOLITIK INDONESIA
Dalam Garis Besar Haluan Negara Indonesia
(GHBN), posisi geopolitik Indonesia ditentukan
oleh kondisi geografinya yang terletak
pada persilangan antara dua benua, yaitu
benua Asia dan benua Australia; dan
antara dua samudera, yaitu samudera
Pasifik dan samudera India. GBHN
menjadikan kondisi geopolitik ini sebagai
modal dasar pembangunan yang ketiga,
sesudah “kemerdekaan dan kedaulatan
bangsa (modal dasar pertama)” dan “jiwa
dan semangat persatuan dan kesatuan
(modal dasar kedua)” serta sebelum
“kekayaan alam yang beraneka ragam
(modal dasar keempat)”. Menurut GBHN,
kedudukan geopolitik Indonesia dianggap
lebih penting dari sumber daya alam yang
ada di Indonesia. Faktor penting tersebut
adalah bahwa Indonesia merupakan
negara yang letaknya strategis untuk lalu
lintas perdagangan dan angkutan barang
melalui laut.
Mengingat sejarahnya, penempatan posisi
geopolitik Indonesia sebagai modal dasar ke-
tiga dalam GBHN 1993 mudah dipahami dan
dimengerti. Bukti sejarah menunjukkan bahwa
kedudukan geopolitik Indonesia tersebut telah
menumbuhkan Indonesia sebagai negara
maritim yang kaya dan kuat. Mulai dari Sriwijaya
pada abad ke-8 M dan 9 M, Majapahit pada
abad ke-13 M sampai dengan abad ke-15 M
dan kemudian pada abad ke-16 M dan 17 M
dilanjutkan oleh negara-negara Islam seperti
Aceh (yang menguasai Selat Malaka), Banten dan
kemudian Demak (yang menguasai Selat Sunda
dan perairan Riau), Makasar (yang menguasai
Selat Makasar dan Selat Lombok) serta Ternate
dan Tidore (yang menguasai perairan Maluku dan
Sulawesi Utara). Kota-kota pelabuhan mereka
tumbuh sebagai pelabuhan transito yang besar
dan makmur.
Sebagai gambaran betapa makmur dan ramainya
perdagangan Indonesia pada masa tersebut
diatas dapat dikutip catatan Yunus b. Mihran. Ia
adalah seorang pedagang dari Basra yang pernah
berlayar hingga ke Sumatera dan China. Dalam
buku tulisan kapten kapal Bozorg ibn Shahryar
yang berjudul Merveilles de l’Indie, ditulis
pada sekitar tahun 956 M, Yunus b. Mihran
bercerita:
“Di kota kediaman Maharaja (Palembang) terdapat
pasar besar yang sedemikian banyak jumlahnya
hingga tak dapat dikatakan berapa jumlahnya dan
telah menghitung delapan ratus penukar uang di
pasar (khusus penukaran uang) yang disediakan
bagi mereka tidak termasuk yang tersebar di pasar-
pasar lain, rumah-rumahnya kebanyakan di atas
air dibangun di atas bongkah-bongkah kayu yang
diikat seperti rakit untuk menghindari kebakaran.
Maharaja memerintahkan agar kekayaan emas
Peta Lokasi Indonesia, Kawasan GSM dan Tanah Genting Kra.
GeoIogI PopuIer
8 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
yang didapatnya (dari cukai/pajak perdagangan)
dituang/dilebur dalam bentuk emas batangan
yang jumlahnya adalah 200 mann per hari”.
Kekayaan dan kejayaan Majapahit dapat dibaca
pada kitab Pararathon dan Negarakertagama.
Sedangkan Banten dan Makasar selain dikenal
sebagai bandar internasional, juga dikenal sebagai
pusat ilmu pengetahuan. Banten dan Makasar
mempunyai perpustakaan dengan jumlah buku
yang luar biasa, yang membuat para pengelana
asing terkagum-kagum. Pada abad ke 18 M dan
19 M peran sebagai bandar internasional seperti
tersebut di atas digantikan oleh Jakarta atau
Batavia yang diduduki Belanda sejak tahun 1619
dan Singapura yang didirikan oleh Inggris pada
tahun 1819.
Saat ini Selat Malaka, Selat Sunda, Perairan Riau,
Selat Lombok dan Selat Makasar (seluruhnya
termasuk perairan Indonesia kecuali Selat Ma-
laka) merupakan alur pelayaran penting bagi
kapal tanker dan kapal kargo yang mengangkut
minyak, gas alam, batubara, hasil pertanian dan
hasil industri dari dan ke Timur Tengah, India,
Jepang, Korea, China dan Afrika.
PENGARUH PEMBANGUNAN KAWASAN GSM
Pengembangan kawasan GSM dirancang untuk
meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial
melalui kerjasama pembangunan infrastruktur di
antara keenam negara GSM yang dilalui Sungai
Mekong yang memiliki panjang 4.350 kilometer.
Prioritas pembangunan infrastuktur diletakkan
pada pembangunan jalan kereta api, jalan raya,
pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan saluran
irigasi. China telah menyelesaikan pembangunan
PLTA Manwan yang menghasilkan 1.500 MW
listrik. Ada 12 bendungan atau PLTA lain yang
akan dibangun di bagian hulu Sungai Mekong.
Dengan bantuan Bank Pembangunan Asia (Asian
Development Bank/ADB) Thailand dan Laos telah
melaksanakan penyatuan jaringan kereta api
mereka. Perayaan yang menandai peristiwa ini
dilakukan di Vientiane tanggal 20 Pebruari 2008.
Sebelumnya, pada tahun 1994, China telah
mendahului membangun Yunan Express Way
yang membentang sampai perbatasan Laos,
juga dengan bantuan ADB. Yunan Express Way
merupakan bagian dari pembangunan jalan raya
trans-internasional sepanjang 1.800 kilometer
yang menghubungkan Bangkok (Thailand) dengan
Kunming (ibu kota Propinsi Yunan, China).
Pada pertemuan Vientiane, 30-31 Maret 2008,
ADB kembali menegaskan dukungannya yang
telah diberikan olehnya sejak tahun 1992 terhadap
rencana pembangunan jalan trans-internasional
tersebut dan pembangunan infrastuktur lainnya
di kawasan GSM.
Pembangunan GSM akan ditekankan pada dua
hal:
Pertama, membangun pertanian dan industri
manufaktur (industri yang bukan industri rumah
tangga dan kerajinan tangan) di Propinsi Yunan,
untuk mengejar ketinggalan propinsi ini dari
propinsi-propinsi lain di pantai timur China.
Kedua, mengembangkan pertanian di Laos,
Kamboja, Vietnam, Thailand dan Myanmar.
Vietnam, Kamboja dan Myanmar adalah negara
penghasil beras yang sejak dahulu dijuluki sebagai
“periuk nasi Asia Tenggara”. Thailand adalah
negara yang cukup terkemuka dibidang agro-
industri. Meskipun demikian, ketersediaan jalan
raya, jalan keretaapi dan tenaga listrik, pasti tidak
hanya akan menumbuhkan sektor pertanian,
tetapi juga akan menyebabkan suburnya sektor
industri di kelima negara GSM tersebut.
Fakta bahwa saat ini industri otomotif di Thailand
telah mendapat kepercayaan untuk memproduksi
Mercedes tipe E-class (yang saat ini merupakan
salah satu puncak pencapaian teknologi Mercedes-
Benz), serta dibentuknya Greater Mekong
Subregion Academic dan Research Networks
(GMSARN), dapat memberikan gambaran se-
berapa besar peluang tumbuhnya industri
manufaktur di kawasan GSM serta seberapa
sungguh-sungguhnya usaha mereka. Jadi dapat
dipastikan, di masa mendatang sektor pertanian
dan industri di kawasan GSM akan tumbuh pesat,
dan akan ada arus barang yang jumlahnya luar
biasa yang harus diangkut ke luar (dijual) melalui
pelabuhan-pelabuhan mereka.
Nah, ini dia –dalam hal arus pengangkutan barang
inilah– masalahnya bagi Indonesia. Dengan harga
minyak dan gas bumi yang cenderung naik terus
(dan logikanya memang harus begitu, karena
lama kelamaan cadangan minyak dan gas bumi
dunia pasti akan menurun, disamping lokasi
penambangannya pasti akan bergeser ke lokasi
yang lebih sulit dengan biaya penambangan yang
lebih mahal), pengangkutan barang dari kawasan
GSM ke berbagai negara dan sebaliknya, melalui
perairan Indonesia, suatu waktu menjadi tidak
kompetitif lagi, karena harus memutari Tanah
Genting Kra, (Peta Lokasi Indonesia, Kawasan
GSM dan Tanah Genting Kra), Semenanjung
Malaka, dan Pulau Sumatera.
Keadaan ini dapat memicu untuk menghidupkan
kembali ide untuk membuat terusan di Tanah
Genting Kra yang menghubungkan Teluk Siam
(Laut China Selatan) dengan Laut Andaman
G e o l o g i P o p u l e r
q
(Samudera India), untuk mempersingkat jarak
pelayaran. Rencana membuat terusan di Tanah
Genting Kra tidak tercantum secara eksplisit dalam
rencana pengembangan kawasan GSM. Rencana
ini pernah muncul bersamaan dengan rencana
pembangunan Terusan Panama dan Terusan Suez.
Terusan di Tanah Genting Kra akan menyebabkan
kedudukan geopolotik Indonesia yang strategis
dalam lalu lintas barang (dan perdagangan) di
perairan Asia Tenggara menjadi hilang.
Pembuatan terusan di Tanah Genting Kra juga
akan membuat pengembangan lapangan minyak
bumi di Laut Andaman dan Laut China Selatan,
di masa mendatang menjadi lebih kompetitip,
bukan saja karena harga minyak bumi yang terus
naik, tetapi juga karena menjadi lebih pendeknya
jarak angkut yang mengurangi beaya transportasi.
Di perairan laut Andaman terdapat lapangan
minyak bumi laut Andaman dan lapangan minyak
bumi palung laut Andaman.
Sedang di Laut China Selatan terdapat lapangan
minyak bumi teluk Siam, Saigon – Brunei, Laut
China Selatan, Sabah Utara, Palawan dan teluk
Tonkin (Peta Sebaran Ladang Minyak di Kawasan
Asia Tenggara). Pengembangan sejumlah
lapangan minyak bumi di perairan tersebut
akan memberikan devisa kepada negara-negara
GSM, utamanya kepada Vietnam, Kamboja,
Thailand dan Myanmar. Devisa tersebut pada
gilirannya akan menjadi pendorong lebih lanjut
bagi pertumbuhan dan pengembangan kawasan
GSM.
Selain negara-negara GSM (termasuk China),
negara yang kemungkinan besar akan mendapat
manfaat dari pembuatan terusan di Tanah Genting
Kra adalah, Jepang, Korea, India, negara-negara
Timur Tengah, Afrika, dan mungkin Filipina dan
Malaysia. Jepang dan Korea akan mendapat
manfaat dari semakin pendeknya transportasi
minyak bumi dari Timur Tengah dan batubara
dari India. Negara-negara Afrika akan mendapat
manfaat terbesar dari memendeknya jarak angkut
barang-barang industri dan pertanian dari China
dan kawasan GSM.
Filipina akan mendapat manfaat dari di-
kembangkannya ladang minyak bumi Palawan dan
kemungkinan perdagangan hasil pertanian yang
lebih luas dengan negara-negara Afrika. Malaysia
mendapat manfaat dari dikembangkannya
ladang minyak bumi Teluk Siam dan kemungkinan
tambah berkembangnya kawasan pantai timur
Malaysia.
Mengingat begitu banyak negara yang akan
mendapat manfaat dari pembuatan terusan di
Tanah Genting Kra, maka kemungkinan besar
pembuatan terusan ini akan dilaksanakan. Bagi
Indonesia, pertanyaan terpentingnya adalah
kapan pembangunan terusan Tanah Genting Kra
tersebut dilaksanakan, sehingga Indonesia dapat
mengantisipasinya lebih dini.
Kapankah terusan di Tanah Genting Kra itu akan
dibangun? Jawabannya sangat tergantung dari
keberhasilan pengembangan kawasan GSM.
Dengan memperhatikan keberhasilan China

Peta Sebaran Ladang Minyak di Kawasan Asia Tenggara.
GeoIogI PopuIer
1o W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
melakukan pembangunan ekonomi, stabilnya
kondisi politik dan ekonomi di Thailand,
serta kemampuan Vietnam dan Myanmar
menarik investor, dapat diperkirakan bahwa
pengembangan kawasan GSM akan berhasil. Hal
ini berarti juga pembangunan terusan di Tanah
Genting Kra segera akan mengikuti pembangunan
kawasan GSM.
Deng Xiaoping memerlukan dua dekade dari saat
Mao Zedong mengucapkan haluan politiknya
yang terkenal ”mundur selangkah untuk meloncat
jauh ke depan”, untuk memulai reformasi pasar
bebas di tahun 1978. Tiga dekade kemudian,
China telah menjadi raksasa ekonomi dengan
neraca ekonomi surplus terhadap Amerika
Serikat. Rencana pengembangan kawasan GSM
dicanangkan pertama kali pada tahun 1992.
Satu setengah dekade kemudian (tahun 2008),
rencana pengembangan kawasan GSM telah
mendapat dukungan internasional, dalam hal ini
penegasan komitmen dukungan dari ADB yang
diberikan pada pertemuan Vientiane 30-31 Maret
2008.
Dengan mengambil analogi keberhasilan China,
pengembangan kawasan GSM akan mencapai
puncaknya pada sekitar 30 sampai 40 tahun
mendatang, dan pada sekitar saat itulah terusan di
Tanah Genting Kra kemungkinan mulai dibangun.
Ini berarti pula bahwa pada saat itulah peran
penting geopolitik Indonesia yang mengontrol
arus barang dan perdagangan antara Samudera
India dan Samudera Pasifik mulai terhapus. Angka
30 sampai dengan 40 tahun di atas tampaknya
cukup realistis mengingat Thailand merencanakan
sejumlah pelabuhan mereka yang dirancang
untuk mendukung kawasan GSM dengan standar
sesuai FTA (Federal Transport Authority), harus
sudah beroperasi penuh pada tahun 2015 atau
selambat-lambatnya pada tahun 2020.
KEKUATAN KEKHASAN GEOLOGI INDONESIA
Sekitar tiga puluh tahun ke depan, saat terusan
di Tanah Genting Kra dibangun, akan hilanglah
peran penting perairan Indonesia sebagai alur
lalulintas barang dari dan ke Asia Tenggara, Asia
Timur, Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika.
Pada saat tersebut hilanglah peran penting modal
dasar ketiga pembangunan Indonesia. Tiga puluh
tahun ke depan adalah bukan waktu yang lama,
Indonesia harus mulai memposisikan kembali
kedudukan geopolitiknya, atau paling tidak
memperkuatnya. Mari kita lihat peran penting
apa yang dapat diambil dari kondisi geologi
Indonesia yang khas ini.
Peluang Investasi di Sektor Sumber Daya
Mineral dan Energi
Kondisi geologi Indonesia, sebetulnya sangat
mirip dengan kondisi geografis yang menentukan
peran geopolitik perairan Indonesia. Indonesia
terbentuk dari tumbukan 3 lempeng tektonik,
yaitu Lempeng Eurasia, Lempeng Indo Australia
dan Lempeng Pasifik, serta diapit oleh Lempeng


Peta Posisi Geotektonik Indonesia. Indonesia merupakan hasil tabrakan Lempeng Indo Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng Pasifk.
11
Indo Australia dan Lempeng Pasifik yang
menumbuknya (Peta Posisi Geotektonik Indonesia.
Indonesia merupakan hasil tabrakan Lempeng
Indo Australia, Lempeng Eurasia dan Lempeng
Pasifik.).
Tumbukan ketiga lempeng tektonik tersebut
membuat kondisi geologi Indonesia menjadi unik
dan atraktif. Fisiografi Indonesia merupakan
rangkaian kepulauan yang membentang dari barat
ke timur dengan rangkaian pegunungan batuan
sedimen dengan berbagai ketinggian, serta sekitar
150 gunung api fosil dan 129 gunung api aktif
(Peta Sebaran Gunung api Aktif di Indonesia).
Kondisi geotektonik ini menyebabkan Indonesia
memiliki cadangan sumberdaya mineral dan
energi yang sangat menjanjikan sebagai salah
satu lumbung mineral dan energi dunia.
Dua pertiga dari wilayah Indonesia merupakan
lautan. Dua paparan besar terdapat di Indonesia,
yaitu Paparan Sunda di bagian barat dan Paparan
Sahul di bagian timur, masing-masing dengan
ciri kedalaman laut yang berbeda. Selain minyak
dan gas bumi, perairan Indonesia diperkirakan
mengandung timah dan mungkin magnetit,
zirkon, intan dan emas (di perairan Paparan
Sunda) serta nikel, nodula mangan, nodula
fosforit dan nodula polimetalik lain (di perairan
Paparan Sahul). Papua merupakan tempat
diketemukannya cadangan tembaga forfiri, emas
dan logam dasar lain yang kaya.
Sedangkan rangkaian gunung api yang ada juga
merupakan lokasi cadangan emas epitermal (Peta
Sebaran Potensi Emas Epithermal di Indonesia)
dan sumber panas bumi. Dari 150 gunung api
fosil yang ada, terdapat 217 daerah prospek
panas bumi dengan potensi listrik sebesar 19.658
Mega Watt, dan baru sekitar 2,5 % dimanfaatkan.
Saat ini Indonesia masih mempunyai beberapa
cekungan minyak dan gas bumi yang boleh
dikatakan belum dijamah eksplorasi, seperti:
cekungan Selatan Jawa, Selatan Nusa Tenggara,
Flores, Aru, Arafuru, Minahasa, Gorontalo,
Weber, Selabangka, Tanimbar, Barat Sumatera,
Pembuang dan Ketungau.


Peta Sebaran Gunung api Aktif di Indonesia
Dari keragaman sumber daya mineral dan
energi serta pengalaman selama 50 tahun
mengelolanya, Indonesia masih punya peluang
yang cukup atraktif bagi investasi, terutama
jika Indonesia mampu menciptakan insentif
yang menguntungkan bagi para penanam
modal. Salah satu jenis insentif tersebut adalah
tersedianya informasi sumber daya mineral dan
energi dengan data coverage yang memadai
untuk mempertimbangkan besarnya risiko
dan keuntungan investasi. Untuk mendukung
hal ini Indonesia perlu secepatnya melakukan
ekstensifikasi dan intensifikasi inventarisasi dan
eksplorasi.
1z W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Dalam intensifikasi inventarisasi dan eksplorasi
selain harus menerapkan metoda yang canggih,
juga perlu menerapkan metoda yang tepat
guna. Seperti misalnya dalam inventarisasi dan
eksplorasi endapan placer di perairan Paparan
Sunda, eksplorasi perlu dipusatkan pada wilayah-
wilayah posisi muka air laut terendah pada
kala Plio-Plistosen atau sekitar 200.000-100.000
tahun yang lalu, yang berarti harus digunakan
penelitian lingkungan purba (paleo–environment)
dan geografi purba (paleo–geography). Penelitian
lingkungan purba dan geografi purba juga dapat
diterapkan pada inventarisasi dan eksplorasi
endapan placer di darat, seperti misalnya pada
endapan placer intan dan emas di dalam endapan
fluviatil Formasi Dahor yang tersebar luas di
Provinsi Kaliman Tengah dan Provinsi Kalimantan
Selatan.
Pertanian Unggulan berbasis Geobioregion
Berdasarkan kondisi geologi Indonesia, hal lain
yang dapat membantu memperbesar peluang
pembangunan Indonesia adalah dengan me-
ningkatkan peran atau sumbangan geologi
dalam pengembangan pertanian unggulan,
pengembangan pariwisata serta menjadikan
Indonesia sebagai pusat penelitian dan pem-
belajaran internasional.
Indonesia yang terbentuk dari tumbukan tiga
lempeng tektonik (Peta Posisi Geotektonik
Indonesia. Indonesia merupakan hasil tabrakan
Lempeng Indo Australia, Lempeng Eurasia dan
Lempeng Pasifik), melahirkan beberapa mandala
geologi dengan geodiversity yang beragam.
Wallace membagi Indonesia atas dua mandala
utama, yang kurang lebih sama dengan Paparan
Sunda (sebelah barat) dan Paparan Sahul (sebelah
timur). Indonesia sebelah barat didominasi oleh
tiga pulau besar, sedangkan Indonesia sebelah
timur didominasi oleh puluhan pulau-pulau kecil.
Tanah di Indonesia sebelah barat lebih asam dari
tanah di sebelah timur. Iklim mikro di sebelah barat
berbeda dengan yang di sebelah timur. Menurut
Wallace, fauna dan flora di kedua mandala
tersebut sangat berbeda. Pengelompokan
seperti yang dilakukan Wallace, saat ini dikenal
sebagai pengelompokan berdasar geobioregion,
yaitu pembagian wilayah yang didasarkan pada
kekhasan kondisi geologi yang melahirkan kondisi
biologi atau flora dan fauna yang spesifik.

Dalam teori geobioregion diyakini bahwa
kondisi geologi (dan geomorfologi) tertentu
akan menyebabkan iklim mikro dan tumbuhnya
vegetasi tertentu yang kemudian akan menjadi
habitat fauna tertentu. Secara umum kita
telah mengenal beberapa geobioregion, seperti
misalnya: Sumatera untuk kayu gaharu; Banten,
Lampung dan Bangka–Belitung untuk lada; Ka-
limantan untuk kayu besi dan lei (sejenis durian),
Nusa Tenggara untuk kayu cendana, serta Maluku
untuk pala, fuli dan cengkih. Kita juga mengenal
beberapa geobioregion yang lebih kecil, seperti:
Sumatera Utara untuk Pisang Berangan,
Kalimantan Barat untuk Jeruk Pontianak, Cilembu
(Sumedang, Jawa Barat) untuk Ubi Cilembu, dan
Sleman (Yogyakarta untuk) Salak Pondoh.
Tanaman-tanaman tersebut hanya tumbuh baik,
menghasilkan produktivitas optimal dengan
kualitas prima hanya di wilayah-wilayah yang
bersangkutan. Pala dan cengkih misalnya,
meskipun dapat tumbuh di seluruh Indonesia,
tetapi produktivitas dan kualitas buahnya tidak
akan sebagus jika ditanam di Maluku. Di seluruh
Indonesia hanya terdapat 3% tempat yang cocok
untuk tanaman kentang, dan salah satu syaratnya,
tanahnya harus berupa tanah vulkanik.


Peta Sebaran Potensi Emas Epithermal di Indonesia



Peta Sebaran Batugamping Karst di Indonesia. Sebaran batugamping karst ditunjukkan dengan warna biru.
Indonesia terkenal sebagai negara yang paling
kaya keragaman hayatinya. Indonesia ditumbuhi
oleh 25.000 spesies tanaman berbunga yang
merupakan 10% tanaman berbunga di dunia.
Lebih dari 400 spesies pohon penghasil kayu
komersial paling bernilai di Asia Tenggara ter-
dapat di Indonesia. Di Papua terdapat sembilan
macam tanaman matoa. Di Maluku diketemukan
sembilan pokok tanaman sagu. Di Kalimantan
ada 19 jenis durian liar. Keragaman ini belum
termasuk pisang, mangga, jeruk, jambu dan
buah–buahan tropis lainnya.
Aspek yang menarik lainnya adalah bahwa
bumi Indonesia ternyata secara alami mampu
memuliakan beberapa jenis tanaman import.
Kina yang didomestikkan di Jawa Barat
Selatan sekitar 150 tahun yang lalu, kini telah
bermetamorfosa menjadi varietas kina yang
kualitas dan produktivitasnya jauh lebih unggul
dari kina yang tumbuh di tempat asalnya. Sayang
hak intelektual pengembangan kina–indonesia
untuk keperluan pengobatan, dipegang oleh
sebuah perusahaan farmasi Eropa yang sejak
tahun 1990–an melakukan riset penggunaan
kina-indonesia untuk pengobatan.
Dengan keragaman kondisi geologi (geodiversity)
serta keragaman hayati (biodiversity) yang
dipunyainya, Indonesia mempunyai peluang da-
lam mengembangkan berbagai produk pertanian
unggulan (sesuai dengan geobioregion-nya)
yang khas Indonesia dengan kualitas prima
dan produktivitas tinggi, sehingga dapat me-
ningkatkan daya saing produk pertanian Indonesia
di pasar internasional. Sayangnya pemetaan dan
penelitian Indonesia dibidang geobioregion masih
sangat terbatas. Indonesia harus secepatnya
mulai meningkatkan pemetaan dan penelitian di
bidang geobioregion ini.
Pola hidup masyarakat internasional yang
saat ini sedang bergeser ke arah serba herbal,
dapat dimanfaatkan sebagai starting point
pengembangan pertanian unggulan berbasis
geobioregiony. Hal ini bermakna pula strating
point dalam peningkatan pemetaan dan penelitian
bidang geobioregion di Indonesia. Sedikitnya
80% penduduk Dunia Ketiga, atau hampir 3 milyar
jiwa, tergantung pada pengobatan tradisional
dengan bahan baku obatnya bersumber dari
alam. Salah satu negara produsen dan peng-
impor obat tradisional terkemuka, China, meng-
gunakan sekitar 5.100 spesies tanaman dan
hewan untuk bahan baku obat tradisionalnya.
Dua puluh obat terlaris di Amerika Serikat berasal
dari ekstrak tumbuhan, mikroba dan hewan, dan
menghasilkan laba sebesar US$ 6 milyar di tahun
1988.
Pengembangan Geowisata
Indonesia memiliki kawasan karst yang luasnya
19,40 juta ha, terbentang dari Sabang sampai
Merauke, pada pulau besar maupun kecil (Peta
Sebaran Batugamping Karst di Indonesia.
Sebaran batugamping karst ditunjukkan dengan
warna biru). Geodiversity kawasan karst Indonesia
sangat menonjol. Bentuk bukit karst, lembah,
goa dan sungai bawah tanahnya sangat berbeda
dari satu tempat ke tempat lainnya, sehingga
melahirkan berbagai tipe bentang alam karst.
Karena itu, kita mengenal kawasan karst tipe
Gombong, tipe Gunung Sewu, tipe Nusa Penida,
tipe Sangkulirang, tipe Maros, tipe Wawotobi dan
tipe Pegunungan Tengah – Papua. Geodiversity
kawasan karst tersebut lebih diperkaya lagi dengan
kekhasan keanekaragaman-hayatinya, misalnya,
yang paling menonjol, adalah Kawasan Karst
Bantimurung – Toraja dengan kupu-kupunya.
Kawasan karst dapat dikembangkan sebagai
kawasan wisata minat khusus dan wisata
GeoIogI PopuIer
1q W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
petualangan. Inventarisasi dan publikasi
yang intensif akan membantu mendorong
tumbuhnya jenis wisata ini. Saat ini Kawasan
Karst Mangkalihat dan Hulu Mahakam dikenal di
seluruh dunia sebagai tempat wisata petualangan
yang paling menantang di Indonesia. Meskipun
demikian inventarisasi dan publikasinya belum
dikelola secara intensif, apalagi untuk kawasan
karst yang lain. Belum banyak diantara kita
yang mengetahui bahwa kita dapat menelusuri
sebuah sungai bawah tanah yang cukup
menantang sepanjang alurnya yang mengalir di
bawah Kota Wonosari, Yogyakarta. Bayangkan,
menelusuri sebuah sungai bawah tanah di bawah
sebuah kota, sebuah pengalaman yang sangat
sensasional.
Selain kawasan karst, potensi geowisata yang
lain adalah wisata gunung api. Seperti telah
disebutkan di muka, Indonesia memiliki 129
gunung api aktif (Gambar 4) dan 150 gunung
api fosil. Gunung api menawarkan kegiatan
wisata yang beragam, mulai dari keindahan
alam, air panas sampai proses letusan gunung
api, sehingga kawasan gunung api bisa tumbuh
sebagai kawasan wisata minat khusus maupun
wisata massal (mass tourism).
Saat ini gunung api yang telah terkenal sebagai
tempat wisata minat khusus adalah Krakatau,
Merapi, Rinjani dan Tambora. Sedangkan yang
telah tumbuh sebagai tempat wisata massal antara
lain adalah Tangkubanprahu, Dieng, Bromo, Ijen,
Gunung Batur dan Gunung Agung. Kekuatan
wisata gunung api Indonesia, adalah bahwa
setiap gunung api Indonesia mempunyai perilaku
letusan dan bentuk gunung api yang tidak sama,
beberapa bahkan sangat khas seperti misalnya
Kerinci – Sumatera, Kelut – Jawa, Kelimutu – Nusa
Tenggara Timur, Soputan – Sulawesi Utara, Banda
Api dan Gamalama – Maluku.
Peluang untuk mengembangkan wisata gunung
api Indonesia masih terbuka luas. Inventarisasi dan
publikasi yang lebih intensif akan meningkatkan
kelebihan komparatif wisata gunung api Indonesia
dengan tempat-tempat wisata lain (bukan ha-
nya gunung api lain) di seluruh dunia. Kita me-
nunggu, beberapa tahun ke depan, publikasi
tempat-tempat pariwisata di Indonesia dan juga
dokumen rencana pengembangan pertanian
unggulan atau bahkan rencana pengembangan
wilayah di Indonesia di mulai dengan semacam
alinea pembuka yang digunakan oleh National
Geographic. Lembaga yang sangat terkenal di
bidang geografi itu dalam salah satu reportasenya
membuka tulisan tentang pembangunan China
sebagai berikut ini:
“Salah satu tubrukan paling dramatis dalam sejarah
geologis Bumi telah membentuk dataran yang
disebut China. Tektonik India menabrak Eurasia
mulai 35 juta tahun lalu hingga menonjolkan
Himalaya yang dihiasi puncak tertinggi, Everest,
dan menaikkan Dataran Tinggi Tibet, dataran
tinggi yang tertinggi di dunia. Elevasi baru
menggubah pola iklim, mencipta gurun di utara
dan mengguyur China tenggara dengan hujan
muson”.
Penelitian dan Pendidikan Geologi
Dari aspek penelitian (research) dan pendidikan
(study), keragaman bentukan bumi (geodiversity),
dan geotektonik Indonesia semestinya merupakan
lahan kajian yang tidak habis-habisnya, serta
berpotensi melahirkan berbagai teori dan
pemikiran baru. Geologi Indonesia memiliki
kekhasan berikut:
• proses geologi yang masih aktif, seperti
pengangkatan, sesar aktif yang panjangnya
sampai ribuan kilometer, gunung api aktif
sebanyak 129 buah, serta tentu saja proses erosi
dan sedimentasi kuarter;
• paleo environment yang berkisar dari laut dalam,
laut dangkal sampai daratan, dengan berbagai
fosil fauna dan flora sampai fosil manusia purba;
• cekungan sedimentasi mulai dari palung
samudra, busur kepulauan sampai dataran
limpah banjir;
•jenis batuan yang lengkap yang terdiri dari
batuan beku, batuan sedimen, batuan piroklastik
dan batuan malihan, dengan sifat kimia mulai
dari ultra basa sampai asam, berasal dari lempeng
benua maupun lempeng oceania;
•bencana geologi yang cukup beragam, seperti
gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, tanah
longsor, banjir dan kekeringan.
Tidak banyak negara-negara di dunia yang memiliki
kekhasan geologi dan kekayaan geodiversity
seperti Indonesia. Seperti contohnya, fosil
manusia purba dan gunung api tidak terdapat
di semua negara. Peluang Indonesia untuk
menjadikan dirinya sebagai pusat penelitian dan
pendidikan geologi internasional terbuka lebar.
Minimalnya, Indonesia dapat tumbuh sebagai
pusat penelitian dan pendidikan internasional di
bidang mitigasi bencana geologi.
Di Indonesia dapat dipelajari mitigasi bencana
geologi secara holistik. Hampir semua propinsi
di Indonesia (kecuali beberapa propinsi di
Kalimantan) potensial terancam semua jenis
bencana geologi yang ada, sehingga dapat
dikembangkan dan dipelajari metoda mitigasi
bencana geologi yang bersifat holistik. Saat ini
pelaksanaan pendidikan di berbagai negara
sudah bersifat global, melampaui batas-batas
negara dan telah menjadi sumber devisa. Pusat
penelitian internasional dan pendidikan dengan
G e o l o g i P o p u l e r

siswa lintas negara, secara tidak langsung juga
akan membantu mengembangkan wisata minat
khusus, terutama jika pendidikan dan penelitian
itu di bidang geologi yang sering melakukan field
trip (kunjungan lapangan).
Dalam kaitan di atas, apa yang diperlukan bagi
Indonesia adalah: secepatnya menyiapkan pusat-
pusat penelitian dan pendidikan geologi yang
handal, menjalin kemitraan yang kuat antara
sesama lembaga penelitian dan pendidikan
geologi, baik nasional, regional maupun
internasional, membuka dan mempromosikan
pendidikan geologi dengan siswa lintas
negara. Hal yang tak kalah pentingnya adalah
menyelenggarakan berbagai terbitan (majalah,
buletin, journal atau situs) yang bertaraf
internasional untuk mempublikasikan hasil–hasil
penelitian dan keragaman bentukan geologi
(geodiversity) Indonesia.
POSISI BARU GEOPOLITIK INDONESIA
Cepat atau lambat, pembangunan kawasan GSM
akan berhasil, dan jika biaya tranportasi laut
menjadi semakin mahal, maka ada kemungkinan
pembuatan terusan di Tanah Genting Kra
dilaksanakan. Pembuatan terusan ini akan
menghapus posisi geopolitik Indonesia (dalam
hal ini posisi geografis Indonesia yang terletak
di antara Samudra India dan Samudra Pasifik)
dari perannya sebagai salah satu modal dasar
pembangunan Indonesia. Meskipun demikian,
berdasarkan kekayaan geodiversity dan kekhasan
geologinya, hapusnya peran geopolitik Indonesia
sebagai modal dasar pembangunan, tidak
otomatis mengurangi peluang Indonesia untuk
melanjutkan pembangunan.
Dengan kerja keras dan melaksanakan beberapa
terobosan, Indonesia tetap mempunyai peluang
untuk menjadi tempat yang atraktif bagi investasi di
sektor sumber daya mineral dan energi. Pemetaan
dan penelitian geobioregion untuk mendukung
kebijakan dibidang pertanian (agriculture)
dapat mengantarkan Indonesia menjadi pusat
komoditas pertanian unggulan yang dapat
bersaing dengan Thailand dan negara-negara
GSM lainnya, mengembalikan kejayaan Indonesia
sebagai pemasok komoditas pertanian kelas
dunia yang pernah terkenal sejak masa Sriwijaya
sampai abad ke-19 M. Publikasi yang gencar
tentang kekhasan dan keragaman geodiversity
Indonesia dapat menjadikan Indonesia sebagai
tempat tujuan utama geowisata di Asia Tenggara,
serta menjadikan Indonesia sebagai salah satu
“mekah”–nya penelitian dan pendidikan geologi
internasional.
Tempat tujuan utama untuk geowisata serta
“mekah”-nya penelitian dan pendidikan geologi
adalah posisi geopolitik baru dan salah satu
kekuatan ekonomi Indonesia di masa depan.
Untuk mewujudkan hal itu diperlukan revitalisasi
informasi geologi lebih lanjut, koordinasi lintas
sektoral, promosi dan publikasi yang tepat
sasaran. n
PUSTAKA
Anonim, 1999. Buku Tahunan Pertambangan dan
Energi – 1999. Departemen Energi dan Sumber Daya
Mineral, Jakarta.
Bale, Dj., Suprapti, Mc., Ridwan, M. J. dan Sudibjo, Z.
H., 1990. Atlas Indonesia dan Dunia. Balai Pustaka,
Jakarta.
Garis Besar Haluan Negara (GBHN) 1993 – 1998 dan
Kabinet Pembangunan VI, tanpa tahun terbit, tanpa
nama penerbit.
Harian Kompas, 2008. China Menggarap Sungai
Mekong, Senin, 30 Maret, h. 10.
Heryanto, R. dan Sanyoto, P., 1994. Peta Geologi
Lembar Amuntai, Kalimantan, Sekala 1:250.000. Pusat
Pengembangan dan Penelitian Geologi, Bandung.
http://www.adb.org/GSM
http://www.angkor.com/2bangkok/2bangkok/forum/
showthread.php?p=199964
http://www.asdu.ait.ac.th/NewsAndEvents/NewsById.
cfm?NewsID=2708
Katili, J. A., 1978. Sumber Alam: Untuk Kesejahteraan
dan Ketahanan Nasional. Direktorat Jenderal
Pertambangan Umum, Jakarta.
Lombard, D., 1996a. Nusa Jawa: Silang Budaya. Buku
ke 1, Batas-batas Pembaratan. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
Lombard, D., 1996b. Nusa Jawa: Silang Budaya. Buku ke
2, Jaringan Asia. PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
National Geographic Indonesia, 2008. China: Dibalik
Sang Naga. Edisi khusus, Mei.
Sembiring, S., 2004. Makalah Kunci. Workshop Nasional
Pengelolaan Kawasan Karst: Kawasan karst untuk
peningkatan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Wonogiri, 4 – 5 Agustus.
Shiva, V., 1994. Keragaman Hayati: Dari Bioimperialisme
ke Biodemokrasi. PT Gramedia Pustaka Utama dan
Konphalindo, Jakarta.
Sudradjat, A., 1992. Seputar Gunung api dan
Gempabumi. Adjat Sudradjat, Jakarta Selatan.
Tjetjep, W. S., 2002. Dari Gunung api hingga Otonomi
Daerah. Yayasan Media Bhakti Tambang, Jakarta.
Penulis adalah ahli geologi lingkungan freelance
GeoIogI PopuIer
16 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
S
eperti udara, air begitu me-
limpah di muka bumi ini. Na-
mun, keduanya bernasib sama
yaitu terabaikan. Di banyak tempat, apalagi
di perkotaan, sungguh sulit menemukan
air berkualitas baik. Seperti disampaikan
Jacques Diouf, Direktur Jenderal Organisasi
Pangan dan Pertanian Dunia (FAO), pada
Hari Air Dunia 22 Maret lalu (Kompas, 14
Mei 2007), bahwa saat ini penggunaan
air di dunia naik dua kali lipat lebih
dibandingkan dengan seabad silam,
namun ketersediaannya justru menurun.
Kekurangan air telah berdampak negatif ter-
hadap semua sektor, termasuk kesehatan.
Oleh: Bethy C. Matahelumual
Jika Aku
Mengolah Air Minumku
G e o l o g i P o p u l e r
1;
Contoh air aku lewatkan pipa yang bagian ujung-
nya aku pasang keran air yang berlubang kecil-
kecil, seperti jika aku menyiram bunga, sehingga
air yang keluar akan terpecah-pecah, kemudian
kontak dengan udara dan ditampung dalam bak
penampungan yang diberi lubang kran penyar-
ing di bagian bawahnya.
Kation Fe
+3
, Mn
+2
, Mg
+2
, NH
4
+
dan Al
+2
bila dis-
emprotkan ke udara (aerasi) akan mombentuk
oksida Fe
2
O
3
, Mn
2
O
2
, Mg
2
O
2
, NH
4
O dan Al
2
O
3

yang kemudian mengendap, lalu disaring (filtra-
si). Proses ini sekaligus dapat megurangi kekeru-
han dan warna air.
Sumber: Mengolah Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum
(Kusnaedi, 1995)
Sumber: Mengolah Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum (Kusnaedi, 1995) Sistem penyaringan sederhana milik warga
Tanpa adanya air minum yang higienis, 3800 anak
meninggal setiap hari diakibatkan oleh berbagai
penyakit. Sumber kehidupan ini telah dicemarkan
oleh sampah organik dan zat beracun, hingga
akhirnya berbalik menjadi sumber kematian.
Di Negara maju seperti Australia, Jerman, Belanda,
dan lain-lain, warga dapat meminum air langsung
dari keran, atau istilahnya tap water (Australia)
atau water from the tap (Belanda). Di Belanda,
pengelolaan air minum yang telah mapan itu
adalah hasil pembangunan sejak 150 tahun
yang lalu. Sumber air di negeri kincir angin itu
umumnya berasal dari air tanah (groundwater),
air permukaan (surface water) dan di beberapa
wilayah utara menggunakan air laut dengan
proses desalinasi (menghilangkan rasa asin air
laut).
Jika aku berangan-angan untuk membuat
sebuah instalasi pengolahan air bersih untuk
air minum langsung dari keran, aku tak akan
bisa menikmatinya, karena usiaku untuk bekerja
maksimal mungkin hanya sepertiganya. Tetapi tak
ada salahnya jika aku membuat unit pengolahan
air sederhana untuk keperluan di lingkunganku
sendiri.
Andaikan contoh air minumku setelah dianalisis
di laboratorium ternyata mengandung kadar
besi, mangan, magnesium, ammonium dan
aluminium yang melebihi persyaratan air minum
yang dikeluarkan Menteri Kesehatan RI No. 907/
MENKES/SK/VII/2002, maka aku akan melakukan
proses pengudaraan (aerasi) untuk menurunkan
kadar Fe, Mn, Mg, dan NH4. Proses pengudaraan
ini ada beberapa macam, tergantung kebutuhan
dan kemampuan kita. Proses pengudaraan yang
sederhana sebagai berikut:
Jika Aku
Mengolah Air Minumku
GeoIogI PopuIer
18 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Air aku masukkan dalam saringan berlubang,
yang kemudian terpecah dan mengalami
kontak dengan udara (oksigen) dalam proses
pengudaraan, kemudian membentuk endapan
saat masuk gentong penyaringan, dan endapan
tersebut akan tersaring oleh kerikil, pasir dan
arang, dan akhirnya menetes di gentong yang
kedua sebagai air yang jernih. Air yang sudah
jernih ini dapat digunakan untuk air minum dan
memasak, jadi tidak perlu menyediakan tempat
penampungan yang besar, cukup disesuaikan
dengan kebutuhan air tiap hari. Sedangkan untuk
keperluan mandi, mencuci dan kakus masih
dapat menggunakan air sumur tanpa olahan,
yang penting jangan lupa mandi dan cuci tangan
pakai sabun.
Jika warga tidak memiliki gentong, maka
mereka dapat menggunakan drum bekas yang
dicuci bersih. Proses penjernihan air dengan
menggunakan drum tidak jauh berbeda dengan
menggunakan gentong.
Seandainya nenekku punya rumah cukup
besar dan halaman yang luas, maka aku akan
membuatkan tempat penampungan dan proses
pengudaraan air yang lebih besar dengan daya
tampung 200 liter. Walaupun pembuatannya
cukup rumit, tetapi nenek boleh bangga jika air
bersih yang dihasilkan dapat memenuhi konsumsi
air warga disekitar rumah nenek.
Tapi nenekku yang tinggal di desa menggunakan
air sumur yang ditimba dan ditampung dalam
bak penampungan sederhana dan seadanya.
Bahkan letak sumur berdekatan sekali dengan
WC (jamban) sehingga kemungkinan tercemar
mudah sekali, terutama pencemaran yang berasal
dari jamban yaitu ditemukannya bakteri coli yang
dapat meyebabkan sakit perut.
Nenekku tidak menyediakan sarana khusus
penampungan dan penyaringan air, tetapi aku
melihat disekitar rumah nenek ada batu bata,
arang, kerikil, sabut kelapa, gentong air, bambu,
dll. Nah! Aku pikir tidak ada salahnya jika
kubuatkan alat pengudaraan dan penyaringan
sederhana dengan bahan-bahan yang ada
disekitar rumah nenek. Proses pengudaraan-
penyaringan sederhana ini dapat mengurangi
kekeruhan, wama, besi (Fe
+3
), magnesium
(Mg
+2
), mangan (Mn
+2
), dan aluminium (Al
+2
).
Bahan-bahan yang aku sediakan adalah batu-
bata untuk meletakkan gentong air; gentong
air 2 buah, yang satu untuk menampung air
bersih yang sudah disaring dan yang satu lagi
dilubangi bagian bawahnya kemudian disusun
lapisan penyaring arang, pasir, dan kerikil dengan
perbandingan 3:2:1; kaleng susu yang dilubangi
bagian bawahnya seperti saringan yang diikatkan
pada penyangga supaya ada jarak sekitar 30 cm
dari bibir gentong penyaringan.
Di desa nenekku, masih ada warga yang memanfaatkan air
sungai untuk keperluan sehari-hari. Aku dapat bayangkan be-
tapa kotor dan baunya, apalagi jika sungai tersebut berfungsi
juga sebagai tempat pembuangan sampah. Lagi-lagi aku me-
lihat gentong berserakan disekitar rumah seorang penduduk
yang rupanya bermatapencaharian membuat gentong. Aku
terinspirasi untuk menolong mereka membuatkan sistem
penjernihan air dengan gentong bertingkat, yang dapat di-
gunakan oleh warga yang memanfaatkan air sungai untuk
keperluan sehari-hari mereka.
•Pertama-tama, sediakan 3-4 buah gentong berukuran sama yang disu-
sun bertingkat dan dilengkapi kran (saluran) air;
•Kedua, tempatkan air kotor pada gentong pertama (a), kemudian tam-
bahkan 1 gram tawas dan 1 gram kapur kedalam setiap 10 liter air
(sebaiknya pada sore hari);
•Ketiga, aduklah air datam gentong tersebut hingga terbentuk enda-
pan, biarkan semalan agar kotoran mengendap;
•Keempat, alirkan air dari gentong pertama (a) ke gentong kedua (b)
yang terIebih dahulu dilapisi berturut-turut dari bawah ke atas sbb
: ijuk (ketebalan 10 cm), pasir dengan diameter antara 0,25-0,1 mm
(ketebalan 40 cm), kerikil (ketebalan 10 cm), dan genting kaca (kete-
balan 5 cm), atau dengan perbandingan 2:8:2:1;
•Kelima, alirkan air ke dalam gentong ketiga (c), tambahkan 2,5 g ka-
porit pada setiap 10 liter air, aduklah cepat selama beberapa (2) menit,
kemudian aduk perlahan selama 5- 10 menit, diamkanlah selama 30
menit, selanjutnya air jemih siap digunakan;
•Keenam, jika air masih tetap berbau pada gentong ketiga, maka penlu
ditambah satu gentong lagi yang telah dilapisi pasir (ketebalan 10
cm) dan arang batok (ketebalan 20 cm) diatasnya; arang batok akan
menghilangkan bau tersebut,selanjutnya perlakukan air seperti pada
butir kelima.
1q
Jika air minumku keruh, dengan mudah aku
dapat menyaringnya, dan bila air minumku
berwarna aku tambahkan arang aktif untuk
menjernihkannya. Arang aktif dapat juga dipakai
untuk menghilangkan bau yang tidak sedap
dari air minumku; jika air minumku terasa asam
atau mempunyai nilai pH rendah, aku dapat
menambahkan kapur tohor secukupnya, untuk
menetralkan kembali air minumku.
Di banyak tempat, apalagi perkotaan, sungguh
sulit untuk menemukan air berkualitas baik.
Bagi mereka yang mampu, mereka dapat
menggunakan atau membeli alat penjernih air
yang menggunakan resin penukar ion, yang
banyak ditawarkan dengan harga bervariatif
sesuai dengan tingkat pencemarannya. Sumber
kehidupan ini telah dicemarkan sampah organik
dan zat beracun, hingga akhirnya berbalik menjadi
sumber kematian. Oleh karena itu, Indonesia
sebagai negara yang hanya memiliki kurang lebih
30% daratan, haruslah menjaga ketersediaan air
tawar di darat dalam jumlah yang memadai. Dan
bagi warga desa, mereka dapat mengupayakan
air bersih dengan pengolahan sederhana
menggunakan alat dan bahan yang tersedia di
sekitar lingkungan tempat tinggal mereka.n
Penulis adalah Penyelidik Bumi pada Pusat Lingkungan
Geologi - Badan Geologi
•Pertama, sediakan 2 buah drum berukuran sama yang dis-
usun bertingkat dan dilengkapi kran (saluran) air;
•Kedua, tempatkan air kotor pada drum pertama, kemu-
dian tambahakan 1 gram tawas, 1 gram kapur dan 2,5
gram kaporit kedalam setiap 10 liter air (sebaiknya pada
sore hari);
•Ketiga, aduklah air dalam drum pertama hingga terbentuk
endapan, biarkan semalan agar kotoran mengendap;
•Keempat, alirkan air dari drum pertama ke drum kedua
yang telah dilapisi berturut-turut dari bawah ke atas kerikil
(ketebalan 5 cm), arang batok (ketebalan 10 cm), ijuk
(ketebalan 10 cm), pasir dengan diameter antara 0,25-0,1
mm (ketebalan 15 cm), selanjutnya dari drum ini dihasilkan
air yang jernih;
•Kelima, jika air yang dihasilkan tidak jernih, maka bahan
pelapis pada drum kedua harus dicuci atau diganti atau
ditambah satu tingkat lagi dengan perlakuan yang sama
seperti pada butir keempat.
Sumber: Menjernihkan Air (Onny Untung, 1998)
• Pertama, sediakan 2 buah drum dengan kapasitas 200 li-
ter air, dilengkapi dengan keran air untuk keluar (1 buah),
keran sambung (1 buah), pipa PVC 1 inci (1 buah), sam-
bungan siku 1 inci (5 buah), pasir halus dengan diameter
0,25-0,10 mm, kerikil dengan diameter 10-20 mm, dan
seng dibentuk kerucut.
• Kedua, drum dicat atau dilapisi semen; bagian bawah
drum pertama dipotong kecil-kecil, sedangkan dinding
atasnya diberi ventilasi; dinding bagian atas drum kedua
diberi ventilasi, dan diberi lubang (keran) tempat keluar
air.
• Ketiga, pasir dan kerikil dicuci bersih, sebaiknya dicuci den-
gan air panas atau direbus supaya steril; kemudian kerikil
dimasukkan ke dalam drum pertama hingga sepertiga
tinggi drum, sedangkan pasir dimasukkan ke dalam drum
kedua hingga sepertiga tinggi drum.
• Keempat, pipa pemasukkan dan pengeluaran dipasang
seperti gambar disamping, drum pertama disusun diba-
gian atas dan yang kedua dibaian bawah; kemudian ba-
gian bawah drum diberi alas plesteran yang ditinggikan;
• Kelima, bagian atas drum pertama diberi seng kerucut
yang dilubangi kecil-kecil, dan usahakan agar saringan (pa-
sir) tetap dalam keadaan terendam air walaupun sedang
tidak dipakai.
• Keenam, keran pemasukan dibuka, sedangkan keran pen-
geluaran ditutup hingga seluruh bagian pasir penyaringan
terendam air; setelah drum penuh seluruhnya, keran pen-
geluran dibuka terus untuk memperoleh air bersih.
• Ketujuh, setelah diperoleh air yang bersih sesuai kebutu-
han, matikan keran pengeluaran tetapi bagian penyaring
(pasir) harus selalu terendam air, barulah keran pemasukan
ditutup.
Sumber: Mengolah Air Gambut dan Air Kotor Untuk Air Minum (Kusnaedi, 1995)
GeoIogI PopuIer
zo W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Ratu Perhiasan
Oleh: Adang Hendarsyah
G e o l o g i P o p u l e r
M
utiara dikenal sebagai ”Ratu
Perhiasan”, karena memiliki
kecantikan yang feminim dan
mistik. Kilauan cahayanya lembut memancar bak
sinar bulan purnama.
Mutiara merupakan batu mulia yang pertama kali
dihargai umat manusia secara universal karena
keindahan dan kelangkaannya. Meskipun langka,
mutiara dapat ditemukan dimana saja selama ada
oyster dan remis, baik di laut maupun air tawar.
Oleh karena itu mutiara digolongkan menjadi
dua, yaitu mutiara laut dan mutiara air tawar.
Yang tergolong mutiara laut ialah mutiara Akoya,
mutiara Tahiti, dan mutiara Laut Selatan.
z1
Oyster berisi mutiara Pinctada margaritifera
Margaritifera margaritifera Anodonta anatina
Pinctada sp. untuk mutiara laut, dan remis masuk
kedalam famili Unionidae (Anodonta anatina)
dan Margaritiferidae (Margaritifera margaritifera)
untuk mutiara air tawar.
Beberapa spesies oyster yang mutiaranya bernilai
komersil ialah :
•Pinctada radiata; oyster mutiara teluk (Gulf
pearl oyster), di Teluk Persia, Laut Merah dan Laut
Mediteran
•Pinctada margaritifera; oyster mulut hitam
(black-lip oyster), di Teluk Persia, bagian selatan
Lautan Hindia, Australia, Fiji, Tahiti, Myanmar,
Baja California dan Teluk Meksiko
•Pinctada maxima; oyster mulut putih atau oyster
mulut emas (white-lip oyster, gold-lip oyster), di
Australia, Fiji, Tahiti, Myanmar, dan Filipina
•Pinctada fucata atau disebut juga Pinctada
imbricata; oyster mutiara Akoya (Akoya pearl
oyster), di Laut Merah, Sri Lanka, Teluk Persia,
Lautan Hindia, Lautan Pasifik sebelah barat,
Australia, dan Cina
•Pinctada albina; oyster mutiara teluk hiu (Shark
Bay pearl oyster), di Australia
Mutiara memiliki warna yang beragam: perak,
merah jambu, hitam, hijau, kuning (emas),
Mutiara tidak seperti kristal batu mulia, yang
harus dipotong terlebih dahulu dan dipoles untuk
memperlihatkan keindahannya sebagai perhiasan.
Mutiara tidak membutuhkan sentuhan tangan
manusia untuk mengeluarkan daya pikatnya.
Dalam legenda Bangsa India, dewa umat Hindu,
Krisna, dipercaya sebagai yang pertama kali
menemukan mutiara. Penemuannya itu diberikan
kepada putrinya sebagai hadiah pernikahan.
Referensi pertama tentang mutiara datang dari
Cina pada tahun 2206 S.M., sang raja menerima
mutiara yang berasal dari Sungai Hwai sebagai
upeti. Pada abad 11, penguasa Vietnam, Ly
Nhat Ton telah membayar dengan harga sangat
tinggi untuk mendapatkan mutiara dari Jawa
yang dijuluki ”Berkilau Dalam Gelap”. Di sisi lain
dunia ini, Suku Indian di Amerika menggunakan
mutiara untuk menghiasi barang peninggalan
(yang dianggap) keramat. Ketika Christoper
Columbus turun ke pantai ia melakukan tukar
menukar mutiara dengan Bangsa Indian.
Rumah Mutiara
Mutiara diproduksi oleh oyster dan remis, klas
bivalvia. Oyster masuk kedalam famili Pteriidae,
GeoIogI PopuIer
zz W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Bentuk mutiara Akoya
Warna mutiara Akoya
Giwang Akoya
Kalung Akoya
abu-abu hitam, hijau-hitam. Spesies Pinctada
yang berbeda menghasilkan ukuran dan warna
mutiara yang berbeda pula, tergantung kepada
ukuran spesies dan warna alami ‘nacre’ yang
berada dalam cangkang. Mutiara Laut Selatan
hitam, atau mutiara Tahiti berasal dari oyster
mulut hitam, mutiara Laut Selatan putih dan
emas berasal dari oyster mulut putih dan oyster
mulut emas.
Sumber Mutiara Alam
Tempat yang menjadi sumber mutiara alam
terbaik pada waktu yang lalu adalah Teluk Persia,
perairan India dan Sri Lanka.
Kualitas mutiara ditentukan oleh lima unsur
yaitu kilap (luster), permukaan (surface), bentuk
(shape), warna (color), dan ukuran (size).
Beberapa Jenis Mutiara
•Mutiara Akoya
Jepang menemukan cara membudidayakan
mutiara secara komersil. Oyster yang dipilih
adalah oyster Akoya yang umum terdapat
di Jepang. Budidaya dilakukan dengan cara
menanamkan manik-manik dari cangkang mutiara
ke dalam cangkang oyster untuk merangsang
perkembangan mutiara, kemudian oyster
tersebut dikembalikan ke laut dan menunggu
perkembangannya antara 2 - 3 tahun.
Mutiara Akoya Jepang yang pertama walaupun
kecil dan memiliki bentuk yang tidak konsisten,
muncul dalam kancah pasar internasional hingga
bergantinya abad ke 20. Pada tahun 1920 teknik
yang digunakan sudah sempurna, menghasilkan
mutiara yang indah, mutiara berbentuk bola dan
mulai diproduksi secara komersil.
Bentuk mutiara Akoya Bentuk mutiara Akoya
Warna mutiara Akoya
Kalung Akoya
G e o l o g i P o p u l e r

Mutiara Akoya berukuran 2-10 mm, rata-rata
berukuran 7 mm, bentuk bulat dan semi bulat,
atau ’baroque’, warna rose, silver, putih, emas,
krem, biru-hijau Lihat gambar).
•Mutiara Tahiti
Mutiara Tahiti berukuran hampir dua kali mutiara
Akoya (8-18 mm, rata-rata ukuran 13 mm), berasal
dari ’oyster bibir hitam’ Pinctada margaritifera,
terdapat di kepulauan Polynesia. Berbentuk bulat,
kancing, buah pear, oval, berwarna hijau, biru,
abu-abu, hitam-hijau.
•Mutiara Laut Selatan
Mutiara Laut Selatan terkesan memiliki ukuran
yang besar, berdiameter antara 9-17 mm, bila
dibandingkan mutiara Akoya. Mutiara Laut
Selatan memiliki warna yang mengagumkan, dari
warna hitam hingga keemasan, krem, keperakan,
merah jambu, dan bayang-bayang kebiruan.
Tidak mengherankan bila mutiara Laut Selatan
mendapat julukan ”Ratu Mutiara” karena secara
umum nilainya lebih tinggi dari yang lainnya.
•Mutiara Air Tawar
Cina dianggap sebagai pelopor teknologi modern
budaya mutiara air tawar sekitar tahun 1100. Saat
ini, pengolahan mutiara air tawar dari Cina telah
membuat langkah yang menakjubkan. Mutiara
Cina memiliki variasi warna, ukuran dan bentuk,
tersebar luas kemana-mana dan memberikan
hasil yang luar biasa. Pasar utama untuk seluruh
mutiara air tawar tersebut berada di Zuzhou,
dekat Shanghai, tapi untaian mutiara dari Cina
dapat ditemukan di seluruh pasar permata di
Asia.
Mutiara terbesar
Mutiara terbesar ditemukan di Pilipina pada tahun
1934, berat 6,4 kg, ditemukan oleh seorang
muslim Pilipina saat menyelam di Pulau Palawan,
diberi nama ‘Pearl of Allah’. Mutiara tersebut
diperoleh dari dalam kerang raksasa, Tridacna
gigas.n
Pustaka:
1.http://www.premiumpearl.com
2. http://www.pearlsofjoy.com
3.http://en.wikipedia.org/wiki/Pearl
4.http://www.perlesdetahiti.net/site/en/
tahitian-by-nature.html
5.http://www.americanpearl.com/
historybtcul.html

Penulis adalah Penyelidik Bumi pada Pusat Lingkungan
Geologi - Badan Geologi
Bentuk mutiara Laut Selatan
Warna mutiara Laut selatan
Warna mutiara Laut selatan
Mutiara air tawar merah jambu
Mutiara terbesar didunia
GeoIogI PopuIer
zq W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
P
enutupan tambang merupakan tahapan
akhir kegiatan usaha pertambangan.
Pilu tentu dirasakan oleh seluruh
komunitas tambang dan masyarakat sekitarnya.
Hiruk pikuk tambang yang indentik dengan kerja
keras selama 24 jam harus berakhir, daerah yang
ditinggalkan menjadi sepi bahkan beberapa
wilayah bekas tambang tanpa penghuni,
hingga disebut ghost town (kota hantu).
PT Timah berpamitan kepada masyarakat
Dabo pada 14 April 1993, sebagai akhir
aktivitas pertambangan timah oleh perusa-
haan milik negara itu di Pulau Singkep.
Oleh: Sabtanto Joko Suprapto
Pulau Singkep
Kembali menghasilkan timah
L i n t a s a n G e o l o g i




Bekas kantor dan pabrik pengolahan PT Timah di Dabo masih berdiri kokoh margaritifera
Kota Dabo yang sepi dan pengangguran
merupakan dampak dari berakhirnya kegiatan
pertambangan. Pengakhiran kegiatan
pertambangan tersebut bukan akibat habisnya
sumber daya timah. Hampir selama satu
dasawarsa 1990an potensi timah putih di Pulau
Singkep nyaris dilupakan. Bijih timah yang tersisa
masih dalam jumlah besar, dan oleh masyarakat
serta pengusaha setempat beberapa tahun
terakhir kembali diusahakan.
Berada pada jalur timah, Pulau Singkep selama
hampir dua ratus tahun dikenal sebagai penghasil
timah putih yang sangat besar. Kegiatan usaha
pertambangan dimulai sejak jaman penjajahan
Belanda dilanjutkan oleh PT Timah dan diakhiri
pada tahun 1992. Sejarah panjang perjalanan
pengusahaan timah putih, telah meninggalkan
bekas-bekas bukaan tambang dan infrastruktur
penunjang yang pada saat ini digunakan oleh
masyarakat dan pemerintah daerah setempat.
Keunikan kondisi geologi dan potensi timah yang
masih sangat besar menjadi modal pembangunan
Pulau Singkep. Wilayah usaha pertambangan
timah, meskipun telah diakhiri, bekas tambangnya
dapat menjadi obyek wisata yang selain menarik,
juga memberikan nilai pendidikan.
Profil Pulau Singkep
Pulau Singkep dengan bentuk mirip benua
Australia ini, merupakan pulau terbesar di bagian
selatan Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan
Riau, terletak di sebelah selatan Pulau Lingga.
Perjalanan menuju Singkep dari Jakarta sampai
Batam menggunakan pesawat terbang dapat
ditempuh sekitar 1,5 jam dengan frekuensi
penerbangan yang sangat padat.
Perjalanan dari Batam dilanjutkan menggunakan
kapal laut menuju Tanjungpinang di Pulau Bintan,
tiap 15 menit ada pemberangkatan kapal, paling
awal mulai dari jam tujuh pagi. Lama perjalanan
menuju Tanjungpinang 40 menit, dengan banyak
pilihan perahu motor, dapat menggunakan
speedboat atau kapal motor biasa. Perjalanan
dari Tanjungpinang menuju pelabuhan Dabo atau
Jagoh di Pulau Singkep menggunakan
kapal penumpang yang dalam sehari dilayani dua
kali pemberangkatan, ditempuh selama tiga jam.
Sepanjang perjalanan dari Batam menuju
Pulau Singkep melewati gugusan pulau-pulau
kecil menyajikan pemandangan yang unik,
menambah kenyamanan selama perjalanan.
Sejak bulan April 2008 bandara di Pulau Singkep
yang dulunya merupakan infrastruktur penunjang
pertambangan timah, kembali dioperasikan
dengan melayani penerbangan dua kali seminggu
dari dan menuju Batam.
z6 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8

Cebakan timah primer berupa urat kuarsa-kasiterit di Bukit Hitam
Sumber daya timah lepas pantai tersisa di beberapa daerah prospek
margaritifera
Lokasi
Kedalaman
(m)
Kadar
(kwt/1000 m³)
Sumber daya
(kwt)
Todak 14 1.57 1.576
Pengambil 1 12 1.00 3.285
Kando 16 1.59 17.170
Dabo 15 1.15 2.948
Todak 12 1.88 3.550
S. Kecil 13 0.77 3.380
Pengambil 2 13 0.96 2.653
Grafk perkembangan harga timah putih di bursa London (London Metal
Exchange, 2008)margaritifera
Kehadiran perusahaan pertambangan timah di
Pulau Singkep selama hampir 180 tahun (1812-
1992) telah meninggalkan infrastruktur cukup
memadai. Infrastruktur yang telah menjadi aset
Pemda setempat dan departemen teknis yaitu
seperti bandara, pelabuhan laut, jalan raya,
prasarana listrik, air minum, telekomunikasi,
rumah sakit, bangunan bank, perkantoran
perusahaan timah, dan bangunan perumahan
karyawan.
Bandara Dabo dapat didarati pesawat jenis Fokker-
27, sedangkan dermaga laut telah mengalami
renovasi, dapat disinggahi kapal-kapal ukuran
menengah dari Jakarta dan Bangka menuju Batam
atau Tanjung Pinang. Sedang fasilitas komunikasi
dengan kode area 0776 sudah menyediakan
kontak Saluran Langsung Jarak Jauh (SLJJ).
Akibat dari restrukturisasi PT Timah pada awal
tahun 1990-an menyebabkan banyaknya
pengangguran. Kondisi ini telah menyebabkan
para penganggur yang telah berpengalaman itu
mencari pekerjaan ke Batam, Tanjung Pinang,
Karimun, Jambi, dan sebagainya. Meskipun
pernah mengalami penurunan jumlah penduduk
akibat putus hubungan kerja dengan PT Timah
sejak pertengahan 1992, namun sejak tahun 1996
jumlah penduduk Pulau Singkep terus bertambah.
Hal ini mendukung aktivitas perekonomian
Kecamatan Singkep secara keseluruhan.
Sumber Daya Timah Putih
Kisah tentang kejayaan Pulau Singkep sebagai
penghasil timah putih, nampaknya akan
kembali terulang. PT Timah pada masa lalu
ketika mengakhiri kegiatan pertambangannya
tidak dilatarbelakangi oleh habisnya sumber
daya timah. Sumber daya timah yang tersisa
diperkirakan masih sangat besar. Sehingga
dengan peningkatan konsumsi timah dunia yang
besar, disertai peningkatan harga timah
sangat tajam, mendorong pelaku usaha
pertambangan setempat serta masyarakat
kembali mengusahakan sumber daya timah yang
masih tersisa.
Timah putih (Sn) adalah logam berwarna putih
keperakan, dengan kekerasan yang rendah, berat
jenis 7,3, serta mempunyai sifat konduktivitas
panas dan listrik yang tinggi. Logam timah
putih bersifat mengkilap dan mudah dibentuk.
Timah diperoleh terutama dari mineral kasiterit
yang terbentuk sebagai oksida, tidak mudah
teroksidasi, sehingga tahan karat
Potensi timah putih di Indonesia tersebar
sepanjang kepulauan Riau termasuk Singkep
sampai Bangka Belitung, serta terdapat di daratan
Riau, yaitu di Kabupaten Kampar dan Rokan Ulu.
Sumber daya timah putih yang telah diusahakan
merupakan endapan sekunder, baik terdapat
sebagai tanah residu dari cebakan primer, aluvial
darat, maupun sebagai endapan lepas pantai.
L i n t a s a n G e o l o g i
z;
Kapal eksplorasi timah di lepas pantai timur Pulau Singkep

Penambangan timah oleh masyarakat di lepas pantai timur Pulau Singkep
Kapal keruk timah
Kapal eksplorasi timah di lepas pantai timur Pulau Singkep
Penambangan timah oleh masyarakat di lepas pantai timur Pulau Singkep
Penambangan timah putih lepas pantai pada
masa lalu di Singkep menggunakan kapal keruk
yang mempunyai kapasitas dapat menjangkau
kedalaman 15-50 meter. Sumber daya timah putih
dengan sebaran berada pada kedalaman dari
permukaan air lebih dari 50 meter atau kurang
dari 15 meter tidak tertambang dan sebagian
besar masih tersisa. Penggunaan kapal hisap
yang mempunyai kapasitas dapat menjangkau
kedalaman lebih dari 50 meter memberikan
peluang untuk mengusahakan endapan timah
putih lepas pantai tersebut. Selain itu endapan
pada lepas pantai yang dangkal kurang dari 15
meter dapat diusahakan oleh masyarakat atau
untuk pertambangan skala kecil.
Kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan
timah lepas pantai, kembali dilakukan di sekitar
Pulau Singkep. Beberapa perusahaan telah
mendapatkan izin untuk kembali mengusahakan
timah putih di darat dan terutama pada daerah
lepas pantai. Salah satunya yaitu PT Singkep
Timah Utama (STU) yang berdiri sejak tahun
2000 mencoba memanfaatkan sumber daya yang
GeoIogI PopuIer
z8 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8

Kapal eksplorasi timah di lepas pantai timur Pulau Singkep
Penambangan timah oleh masyarakat di lepas pantai timur
Pulau Singkep
tersisa. Perusahaan swasta milik putra daerah itu
mencoba juga menampung konsentrat timah
dari penduduk di sekitarnya. Konsentrat timah
per kilogramnya di Singkep dapat dijual dengan
harga Rp 70.000. Seluas 1.200 hektar lahan
tengah dieksploitasi, dan dalam sebulan rata-rata
PT STU mengirim 10 ton konsentrat timah ke PT
Timah Tbk di Pulau Bangka.
Penambangan dan pengolahan
Penambangan timah putih di Pulau Singkep saat
ini umumnya dalam sekala kecil. Penambangan
di darat dilakukan menggunakan cara semprot.
Sedangkan penambangan di lepas pantai
masih sebatas menambang endapan timah
pada daerah dangkal, oleh masyarakat dengan
peralatan sederhana berupa sekop, saringan
dan dulang. Penambangan lepas pantai oleh
masyarakat dilakukan saat laut surut. Penggalian
menggunakan sekop dengan tangkai sepanjang
2,5 meter.
Endapan pasir timah lepas pantai disaring
dipisahkan dari kerikil dan kerakalnya. Selanjutnya
pasir yang mengandung kasiterit (SnO
2
) didulang.
Kerikil dan kerakal yang terpisahkan, ditampung
dan dimasukkan ke dalam karung ukuran 25kg,
dijual sebagai bahan bangunan dengan harga
Rp2.000 per karung.
Pengolahan pasir timah darat hasil penambangan
oleh masyarakat dengan cara semprot umumnya
menggunakan sluice box/palong dan dulang.
Penambangan umumnya dilakukan pada sekitar
wilayah bekas tambang PT Timah, yaitu pada
endapan aluvial alur sungai dengan sebaran relatif
kecil, yang oleh PT Timah belum dimanfaatkan.
Peleburan
Pasir timah dengan kadar Sn 72% siap dilebur
untuk menghasilkan logam timah putih.
Peleburan timah tidak dilalukan di Pulau Singkep.
Di Pulau ini tidak ada pabrik peleburan timah,
demikian juga ketika PT Timah melakukan aktivitas
pertambangan timah pada masa lalu. Konsentrat
atau pasir
timah diangkut ke Pulau Bangka, dan dilebur di
sana.
Produk yang dihasilkan dari peleburan timah di
Bangka berupa:
wBanka Tin (kadar Sn 99.9%)
wMentok Tin (kadar Sn 99,85%)
wBanka Low Lead (Banka LL) terdiri atas:
sBanka LL100ppm,
sBanka LL50ppm,
sBanka LL40ppm,
sBanka LL80ppm,
sBanka LL200ppm
wBanka Four Nine (kadar Sn 99,99%)
Bentuk produk peleburan logam timah terdiri dari
small ingot, tin shot, pyramid, anoda, pelet, dan
ball.
Kegunaan
Dalam sejarah peradaban manusia, penggunaan
timah untuk paduan telah berlangsung sejak
3.500 tahun sebelum masehi, sebagai logam
murni digunakan sejak 600 tahun sebelum
masehi. Kebutuhan timah putih dunia setiap
tahun sekitar 360.000 ton.
Logam timah putih bersifat mengkilap, mudah
dibentuk dan dapat ditempa (malleable), tidak
mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan
karat. Kegunaan timah putih di antaranya untuk
melapisi logam lainnya yang berfungsi mencegah
karat, bahan solder, bahan kerajinan untuk
cendera mata, bahan paduan logam, casing
L i n t a s a n G e o l o g i
zq
telepon genggam. Selain itu timah digunakan
juga pada insdutri farmasi, gelas, agrokimia,
pelindung kayu, dan penahan kebakaran.
Sejumlah pabrik minuman di negara barat
menggunaan kaleng pelat timah tipis, serta
mengganti tembaga dengan timah untuk tutup
botol agar lebih aman. Pembuatan kaleng timah
sangat hemat energi apabila dibandingkan
energi untuk pembuatan kaleng aluminium.
Logam timah dikembangkan untuk pengganti
merkuri sebagai campuran bahan penambal gigi.
Produsen stik golf beralih menggunakan lapisan
timah pada stik golf. Demikian juga penyedia
amunisi senjata api untuk olah raga mengganti
bahan tembaga dengan timah.
Industri kimia adalah konsumen timah yang
paling cepat berkembang. Permintaan besar
untuk peralatan rumah tangga seperti cat dan
plastik. Timah efektif sebagai penahan api pada
polimer bungkus kabel PVC, plastik dan kain
poliester. Penggunaan timah meningkat pesat
untuk peralatan elektronik, seperti kamera,
telepon genggam, komputer, TV dan radio, yang
papan sirkuitnya menggunakan patri timah.
Kesadaran akan kesehatan lingkungan telah
membuat banyak produsen mengganti bahan
patri dari timah hitam menjadi 90% timah putih.
Timah digunakan sebagai bagian dasar dari bola
lampu pijar dan neon.
Penutup
Pulau Singkep dengan lebar sekitar 40 kilometer
masih menyimpan sumber daya
timah putih yang tersebar di daratan dan
lepas pantai. Sumber daya timah putih yang
tersisa ketika dilakukan pengakhiran kegiatan
pertambangan oleh PT Timah pada tahun 1992,
saat ini prospektif untuk kembali diusahakan.
Peningkatan harga timah yang sangat tajam
meningkatkan jumlah cadangan ekonomis.
Sumber daya kadar rendah yang dulunya tidak
layak ditambang menjadi ekonomis untuk
diusahakan. Selain itu perkembangan teknologi
eksplorasi dan penambangan lepas pantai yang
mempunyai kapasitas dapat menjangkau laut
dalam akan membuka peluang kepada Pulau
Singkep untuk kembali menjadi produsen timah
putih dalam jumlah besar.n
Penulis adalah Penyelidik Bumi pada Pusat Sumber Daya
Geologi-Badan Geologi
Kegunaan Timah putih
GeoIogI PopuIer
¸o W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
P
erilaku yang sangat menonjol dari
kegiatan vulkanik Gunung Semeru
adalah letusan abu yang terjadi secara
periodik setiap 15-30 menit. Karena aktivitasnya
yang tidak pernah berhenti, gunung yang masuk
kedalam wilayah Kabupaten Lumajang, Malang,
dan Kabupaten Probolinggo di Provinsi Jawa
Timur tersebut dikenal dengan gunung api yang
tidak pernah tidur.
Aktivitas Gunung Semeru berpusat di Kawah
Jonggring Seloko yang mengambil tempat di
sebelah tenggara Puncak Mahameru. Sejak
1946 hingga saat ini, letusan terjadi setiap
interval antara 15 menit hingga 30 menit dan
berlangsiung setiap hari.
Oleh: Kristianto dan SR. Wittiri
Gunung Api
yang Tidak Pernah Tidur
SEMERU,
L i n t a s a n G e o l o g i
¸1
Aktivitasnya berupa letusan abu dengan tinggi
asap berkisar antara 400 – 800 m di atas puncak.
Dalam kondisi fluida mencapai puncak tekanan,
kegiatan letusan abu terkadang berubah menjadi
letusan freato magmatik dan cenderung bersifat
strombolian yang berakhir dengan munculnya
lidah lava atau sumbat lava. Pada kegiatan
letusan selanjutnya akan menghasilkan awan
panas (guguran) akibat penghancuran lidah atau
sumbat lava.
Dapat dikatakan, bahwa letusan yang disertai
dengan aliran awan panas adalah puncak kegiatan
Semeru dalam suatu kurun waktu tertentu.
Antara tahun 2003 hingga 2007 kegiatan
letusan yang disertai awan panas terjadi pada 29
Desember 2003, 20 Januari 2004, 29 Desember
2005. Sepanjang tahun 2006 tidak ada awan
panas. Tahun 2007 awan panas terjadi pada 15
November dan dalam tahun 2008 (hingga Juni)
awan panas terjadi pada 15, 17, dan 19-23 Mei.
Dalam kurun waktu tersebut kejadian awan panas
yang terbesar berlangsung pada 29 Desember
2003. Saat itu aliran awan panas mencapai jarak
11.000 m dari puncak. Sedangkan kejadian yang
lainnya jaraknya antara 1000 hingga 3000 m.
Saat ini pemantauan kegiatan Gunung Semeru
dilakukan dari 2 (dua) Pos Pengamatan,
masing-masing Pos Pengamatan Sawur dan Pos
Pengamatan Argosuko. Sistem pengamatan
yang dilakukan dengan visual dan kegempaan
(seismik)
Ada 5 (lima) lokasi seismometer seismik masing-
masing, stasiun Leker (LEK), Tretes (TRS), Puncak
(PCK), Kepolo (KPL), dan stasiun Besuk Bang
(BAN).
Aktivitas Letusan 2008
Perilaku keseharian kegiatan vulkanik Gunung
Semeru adalah letusan abu/gas dengan jumlah
rata-rata 95 kejadian perhari. Pada masa tertentu
apabila terjadi migrasi fluida magma secara
mendadak atau terjadi penurunan interval letusan
gas, akan terjadi penumpukan lava di mulut kawah
dan akan terdobrak bersama letusan berikutnya.
Dalam kondisi tersebut biasanya letusan disertai
dengan awan panas.
Kejadian awan panas tersebut menjadi perhatian
lebih dibanding dengan hujan abu karena
dampaknya sangat serius, terutama bagi
penduduk yang berada di lereng karena dapat
mematikan.
Rangkaian awanpanas sejak mulai sampai dengan akhir kegiatan yang terjadi pada
21 Mei 2008, pukul 06.26 wib
(Foto: Liswanto, 2008)
Alur awanpanas yang mengarah ke Besuk Kobokan
Foto Kristianto, 2008
¸z W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Awan panas mulai terjadi pada
tanggal 15 Mei 2008, pukul
06.30 WIB dan menerjang ke
dalam Besuk (Sungai/Lembah)
Bang sepanjang 2500 m.
Keesokan harinya, pada 17
Mei 2008, pukul 08.53.17
wib terjadi awan panas kedua
dengan jarak luncur sejauh
2000 m ke arah Besuk Bang.
Pada malam harinya teramati
lava pijar di Kawah Jongring
Seloko.
Secara berturut-turut terjadi
letusan yang disertai dengan
awan panas, masing-masing
pada 18 Mei 2008, 21 Mei
2008, 29 Mei 2008 mengalir
ke dalam Besuk Bang dan
Besuk Kembar sejauh antara
1000 – 3000 m dari puncak.
Secara visual asap awan panas berwarna kelabu,
pada seismograf terekam mempunyai amplituda
(pp) antara 2 – 4 mm.
Letusan yang disertai dengan awan panas
di Gunung Semeru pada bulan Mei 2008 ini
merupakan fenomena yang tidak lazim. Hasil
pengamatan visual tidak menunjukkan adanya
lava pijar yang mendahului letusan yang
menghasilkan awan panas. Meskipun tidak lazim,
tetapi secara ilmiah kemungkinan tersebut sangat
mungkin terjadi.


Grafk jumlah gempabumi yang terekam di Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sawur sejak Januari 2008
sampai dengan Juni 2008
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh
Iguchi dkk. di Semeru ditemukan bahwa lava pijar
adakalanya muncul beberapa saat menjelang
letusan berlangsung. Hal tersebut dimungkinkan
karena kantong fluida sangat dangkal dan kawah
dalam keadaan terbuka.
Kondisi tersebut dapat terjadi apabila memenuhi
beberapa syarat, antara lain interval letusan
memanjang, artinya kejadian letusan berkurang
yang berakibat pada terbentuknya akumilasi
fluida, kawah dalam keadaan terbuka, terjadi
suplai magma secara mendadak dalam waktu
singkat yang ditandai dengan terekamnya
gempabumi vulkanik. Ternyata kegiatan awan


Lembah sungai di lereng Semeru yang berpotensi dilalui awan panas


L i n t a s a n G e o l o g i
¸¸
Apabila akumulasi fluida magma di dalam mulut
kawah mengkiristal dalam volume yang besar
sehingga membentuk lidah/sumbat lava, maka
letusan yang terjadi akan menghasilkan awan
panas dengan viskositas yang besar.
Model yang dikemukakan oleh Tagemuri et.al.,
2002 di Gunung Sakurajima, Jepang yang
diterapkan di Gunung Semeru yang mempunyai
kemiripan. Antara kantong ma g ma , d e n g a n
sumbat lava terdapat kantong gas. Ketika gas
terpanaskan akan menekan dinding kawah, pada
saat yang sama aliran magma terus menekan
dan menimbulkan letusan sekaligus mendobrak
sumbat lava yang sudah terbentuk sebelumnya.
Ketika itulah lava pijar ikut terdorong dan
menghasilkan awan panas. Apabila mulut kawah
dalam keadaan terbuka dan kantong fluida
dangkal, maka letusan gas, terkadang disertai
lontaran lava pijar, akan selalu terjadi karena
tekanan gas tidak pernah berhenti. Mungkin itu
salah satu alasan Gunung Semeru tidak pernah
tidur.n



Grafk Seismogram gempa letusan (dalam lingkaran kuning) dan gempa awanpanas
(dalam kotak merah),
21 Mei 2008, stasiun LKR
panas yang terjadi dalam Mei 2008 memenuhi
persyaratan tersebut.
Dalam grafik jumlah gempa terlihat penurunan
jumlah gempa letusan pada akhir April hingga
awal Juni 2008 disusul munculnya gempa
vulkanik-dalam pada 7 Mei yang menandakan
terjadinya perekahan akibat migrasi fluida.
Keesokan harinya migrasi tersebut berlanjut ke
permukaan ditandai dengan terekamnya gempa
vulkanik-dangkal pada 7 dan 8 Mei 2008. Dua
minggu kemudian tekanan tersebut menghasilkan
letusan yang disertai dengan awan panas.
Hanya saja para penikmat gunung api yang
sering menyaksikan awan panas di Merapi tidak
menemukan hal serupa di Semeru. Dari rekaman
seismograf, amplituda awan panas hanya
mencapai 4 mm, sangat jauh dibanding dengan
awan panas Merapi yang amplitudanya mencapai
34 mm. Hal tersebut terjadi karena kandungan
material padat di dalam aliran awan panas lebih
sedikit dibanding dengan material gas. Faktor
itu terjadi karena volume magma yang terbatas
jumlahnya karena muncul secara mendadak.
Lidah Lava 1994
Foto: SR. Wittiri
Hasil foto sekuen dengan kamera infra merah memperlihatkan
kondisi kawah menjelang letusan berlangsung. Tampak lava mun-
cul di mulut kawah (detik 34.1s dan detik 34.1s)
¸q W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
K
eberadaan fosil kayu mencerminkan
bahwa suatu daerah pada masa lalu kaya
akan tumbuh-tumbuhan purba. Purba
(ancient) disini artinya berumur mencapai jutaan tahun
yang lalu. Di Indonesia, di beberapa daerah, banyak
dijumpai peninggalan kehidupan di masa lalu berupa
fosil kayu. Fosil-fosil kayu ini tersebar di Pulau Jawa,
Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Irian dan pulau lainnya.
Walaupun begitu, terdapat beberapa daerah yang
sangat berlimpah kandungan fosil kayunya, ada pula
daerah-daerah yang keberadaan fosil kayunya hanya
berupa jejak. Muncul satu pertanyaan: “Mengapa di
sebagian tempat fosil kayu ini berlimpah dan di tempat
lainnya hanya sedikit?”.
Fosil Kayu,
Oleh: HZ. Abidin
Indikasi Kehidupan Pra-sejarah
di Kubah Bayah
L i n t a s a n G e o l o g i
¸¸
Di daerah Jawa Barat khususnya di wilayah Kubah
Bayah yang terletak di Kabupaten Bogor, Jawa Barat;
dan Pandeglang, Banten; dijumpai banyak peninggalan
fosil-fosil kayu bahkan sangat berlimpah, terdapat di
permukaan maupun tertimbun di bawah permukaan.
Sebegitu jauh, belum dilakukan penelitian apakah
fosil-fosil kayu tersebut sama dengan kayu-kayu yang
dijumpai sekarang ini. Namun, menurut salah seorang
pengumpul, fosil-fosil kayu itu berasal dari kayu-kayu
yang sama dengan kayu-kayu yang tumbuh sekarang
seperti Meranti, Ketapang, dsb.
Pembentukan fosil kayu tentu melalui proses
waktu yang relatif cukup lama yaitu ratusan tahun
hingga jutaan tahun. Proses pembentukannya juga
pembentukan fosil lainnya, adalah proses geologi yang
dikenal dengan istilah-istilah: pemfosilan, pemineralan,
pembatuan dan pengarangan. Tulisan ringkas ini akan
membicarakan tentang keterdapatan fosil kayu di
Kubah Bayah, Jawa Barat tersebut, meliputi proses
pembentukannya, manfaat bagi ilmu pengetahuan,
dan nilai ekonomisnya.
Istilah fosil
Dalam kamus geologi, fosil (fossil) diartikan sebagai
bukti kehidupan kuno (ancient) atau sebagai sisa
kehidupan pra-sejarah yang terkubur akibat proses
alam (geologi) dan kemudian terawetkan. Proses
terbentuknya peninggalan sisa-sisa pra-sejarah ini
disebut pemfosilan. Pemfosilan ini bisa terjadi pada
bagian yang lunak maupun yang keras dari suatu
kehidupan. Namun, untuk pemfosilan bagian yang
lunak, agar dapat terawetkan, memerlukan kondisi
yang khusus. Sebaliknya, untuk pemfosilan bagian
yang keras tidak memerlukan kondisi yang khusus
karena bagian yang keras tersebut mudah terawetkan
(cangkang kerang dll). Proses pemfosilan tergantung
dari material asal dari suatu kehidupan dan lingkungan
kehidupannya. Ada tiga kategori proses pemfosilan,
yaitu: karbonisasi, permineralisasi dan petrifikasi.
Suatu benda yang telah membatu namun masih
memperlihatkan bentuk aslinya di sebut juga fosil. Dalam
istilah umum, fosil hanya berkonotasi dengan sisa bekas
kehidupan binatang atau hewan atau organisme masa
lalu. Namun, dalam arti yang luas, fosil bisa berarti lain
seperti fosil kayu, fosil geotermal, fosil minyak, dll.
Geologi umum Kubah Bayah
Kubah Bayah terdiri atas batuan gunung api dan
sedimen berumur Tersier dan secara keseluruhannya
daerah tersebut ditutupi oleh batuan gunung api
Kuarter. Batuan gunung api Tersier terdiri atas basalt,
andesit, dasit dan piroklastik. Secara umum, batuan ini
telah mengalami ubahan hidrotermal dari lemah sampai
sangat kuat dan disebut sebagai Formasi Andesit Tua
(FAT). Batuan sedimen yang terdiri dari batu lempung,
batu gamping, batu pasir dan konglomerat dengan
sisipan tuf berhubungan menjari dengan batuan gunung
api FAT. Retas andesit dan granodiorit menerobos satuan
yang lebih tua dan diduga bahwa hasil terobosan inilah
yang mengakibatkan terubahnya Formasi Andesit Tua
dan sedimen Tersier, serta terbentuknya pemfosilan
pohon kayu
Jalur Tektonik di Indonesia
Indonesia terletak di daerah segi tiga pertemuan 3
lempeng besar, yaitu Indo-Australia (selatan), Pasifik
(timur) dan Eurasia (utara). Lempeng Indo-Australia
bergerak ke arah utara, Pasifik ke arah barat dan
Eurasi ke arah selatan di mana daerah pertemuan
terjadi di wilayah Indonesia. Hasil tumbukan tersebut
membentuk suatu jalur magmatisme atau vulkanisme
- dikenal secara populer sebagai ring of fire - dari timur
hingga ujung barat Kepulauan Indonesia. Jalur-jalur
magmatisme ini dikenal dengan jalur Sunda (Sumatera-
Jawa), Jalur “Volcanic Corridor” Kalimantan Timur, Jalur
Banda. Jalur Sunda (Sumatera dan Jawa) memanjang
dari ujung barat laut Pulau Sumatera hingga Jawa
(Sunda Arc). Jalur berikutnya yang menerus ke Pulau
Nusa Tenggara yang dikenal dengan jalur Banda (Banda
Arc). Jalur ”Volcanic Corridor” yang juga disebut sebagai
orogen Dayak, terdapat di Kalimantan Timur.

Lokasi Kubah Bayah, Jawa Barat.
Batangan sebuah fosil kayu (32 potong, 33 m, berat 32 ton).
Beberapa batangan fosil kayu (silisifkasi) dan karbonisasi (tengah).
GeoIogI PopuIer
¸6 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Tekstur pulau dari fosil kayu (silisifkasi dan karbonaisasi). Tekstur melingkar fosil kayu. Tekstur koloform dari fosil kayu. Tekstur berlapis dengan perbedaan warna yang mencolok.
Tekstur garis dari fosil kayu. Tekstur sirkular yang diisi oleh tekstur bintang. Tekstur berlobang dari fosil kayu. Tekstur atol dari fosil kayu.
Indikasi kehidupan pra-sejarah
Keberadaan fosil-fosil, baik kayu, binatang maupun
organisme lain, menandakan bahwa pada saat itu
(jaman atau masa asal dari fosil-fosil tersebut) ada suatu
kehidupan. Di daerah Jawa Barat, khususnya kawasan
Kubah Bayah, ditemukan fosil kayu yamg berlimpah,
menunjukkan bahwa pada masa sumber fosil itu ada
suatu hutan lebat yang tumbuh dengan suburnya
di kawasan tersebut. Hal ini dapat kita lihat diameter
sisa pohon yang mencapai 3 meteran dengan panjang
mencapai 30 meteran. Fakta ini menguatkan kembali
temuan-temuan bahwa kehidupan di masa lalu lebih
subur dibanding saat ini: yaitu adanya bukti-bukti fosil
kayu raksasa dan binatang raksasa (dinosaurus).
Seperti telah diuraikan sebelumnya, bahwa peninggalan
sisa-sisa kehidupan masa lalu dalam bentuk fosil kayu
berbeda-beda jumlahnya atau kelimpahannya untuk
setiap daerah. Sisa kehidupan kayu purba bisa berbentuk
batubara atau fosil kayu. Batu bara merupakan proses
pengarangan sisa-sisa kayu (purba) yang telah mati baik
akibat ketuaan maupun akibat suatu peristiwa geologi/
katastropi. Untuk menjadi suatu endapan batu bara
diperlukan waktu jutaan tahun (Pra-Kambrium sampai
Tersier).
Daratan Sumatera-Jawa termasuk busur gunung api
(Sunda) baik yang sudah padam maupun yang masih
aktif. Sehingga, wilayah ini didominasi oleh batuan
gunung api dan sedikit batuan sedimen. Dalam
pembentukan kedua jenis batuan ini, dua proses geologi
berbeda yaitu proses gunung api dan sedimentasi.
Proses gunung api, muncul dari bawah permukaan
yang berupa bahan panas (magma) dan membentuk
batuan melalui proses pendinginan (lava). Oleh karena
itu, di daerah yang kaya akan gunung api, kehidupan
(pepohonan) akan sulit untuk hidup. Kalaupun ada
kehidupan (pepohonan) tidak akan tumbuh besar
(kerdil).
Sebaliknya, proses sedimentasi yang membentuk
batuan sedimen, tidak akan membutuhkan panas
baik dari awal sedimentasi sampai menjadi batuan
sedimen (pasir menjadi batu pasir). Pengerasan batuan
sedimen diakibatkan oleh proses diagenenesa yang
diartikan sebagai perubahan yang terjadi dengan
kondisi temperatur dan tekanan yang rendah setelah
sedimentasi. Di daerah sedimentasi ini, umumnya
kehidupan (tumbuhan) bisa berkembang dengan baik.
Begitu pula, proses pembatu baraan/karbonisasi sangat
efektif bersamaan dengan proses sedimentasi.
Dalam sejarah geologi, kehidupan terutama
(pepohonan) tumbuh dengan subur di daerah rawa.
Dengan demikian, tanpa adanya daerah rawa,
kemungkinan kecil bahkan tidak ada kehidupan flora
yang merupakan asal muasal batu bara dan fosil kayu.
Di daerah yang kaya akan fosil kayu, yang sekarang
dikenal sebagai Kubah Bayah, sebelumnya diduga
merupakan (Cekungan) Bayah). Dalam cekungan inilah
pepohonan tumbuh dengan suburnya bahkan menjadi
pohon-pohon raksasa.
¸;
Tekstur pulau dari fosil kayu (silisifkasi dan karbonaisasi). Tekstur melingkar fosil kayu. Tekstur koloform dari fosil kayu. Tekstur berlapis dengan perbedaan warna yang mencolok.
Tekstur garis dari fosil kayu. Tekstur sirkular yang diisi oleh tekstur bintang. Tekstur berlobang dari fosil kayu. Tekstur atol dari fosil kayu.
Tidak diketahui berapa umur kehidupan pohon-pohon
purba ini secara pasti (mungkin seratus tahun atau
lebih). Namun, dengan kondisi diameter serta tingginya
kayu tersebut, dapat dipastikan mencapai ratusan
tahun bahkan lebih. Dari data geologi, kehidupan
flora di daerah cekungan Bayah ini diduga sebelum
terjadinya aktifitas gunung api dan magmatisme. Atau
sebelum terjadi pembentukan Kubah Bayah. Karena,
kehidupan sekarang diduga terjadi setelah padamnya
kegiatan volknisme atau setelah pembentukan Kubah
Bayah. Namun, untuk memastikan umur pohon fosil ini
diperlukan penelitian rinci di bidang biologi.
Proses pemfosilan di daerah Kubah Bayah
Pada kala Oligo-Miosen (20 juta tahun yang lalu),
terjadi proses tektonik (endogen) yang mengangkat
cekungan Bayah secara berlawanan yang sebelumnya
berbentuk convex (cekung) berubah menjadi concave
(cembung). Hasil dari aktivitas ini dikenal dengan
Kubah Bayah. Bersamaan dengan itu terjadi kegiatan
vulkanisme dan diikuti pula oleh terobosan. Kegiatan
volkanisme diduga menghasilkan batuan gunung api
Formasi Andesit Tua (FAT) (Oligosen sampai Miosen
Awal) sedangkan kegiatan terobosan menghasilkan
retas andesit dan granodiorit (Miosen Tengah). Kegiatan
terobosan berumur Miosen Tengah inilah sebagai
pemicu terjadinya mineralisasi di Kubah Bayah. Muncul
suatu pertanyaan ”Kenapa banyak terjadi mineralisasi”.
Pada kondisi proses akhir kegiatan terobosan, terbentuk
larutan hidrotermal yang merupakan cikal bakal proses
mineralisasi. Di kala itulah proses meneralisasi (emas
dan logam dasar) terbentuk dan diendapkan dalam FAT
sehingga ditemukan cebakan emas Cikotok (Tersier) dan
Pongkor (Tersier dan Kuarter).
Sebaliknya, bersamaan dengan proses ”pen-kubah-an”,
kehidupan flora (pepohonan) mati (binasa) dan terkubur
di bawah permukaan. Kegiatan terobosan dan gunung
api menghasilkan larutan hidrotermal (bersifat asam)
yang kaya silika. Larutan ini yang melalui celah atau
rongga menerobos permukaan yang kaya akan sisa-sisa
kayu purba serta mengganti komponen kayu yang mati
tersebut secara kimiawi menjadi silika/karbon. Proses
demikian disebut silisifikasi (pengsilikaan/pengersikan
suatu material) tanpa mengubah struktur asli material
tersebut.
Sebetulnya, larutan hidrotermal ini sama dengan
cikal bakal pemineralan namun karena temperatur
semakin rendah/makin dekat dengan permukaan,
sehingga mineral (emas dan logam dasar) tidak
terbentuk. Sedangkan silika (kuarsa) bisa terbentuk
pada temperatur rendah sampai tinggi. Halusnya
mineral silika (mendekati bentuk opal/ silika opalan atau
amorfus silika) menandakan bahwa proses silisifikasi
sangat dekat permukaan. Inilah yang kita lihat sekarang
ini berupa peninggalan kayu fosil/ fosil kayu yang
bertekstur sangat halus yang berlimpah. Sehingga di
daerah ini, kayu yang tertimbun di bawah permukaan
tidak berkembang menjadi batu bara akan tetapi
menjadi kayu fosil/ fosil kayu.
Nilai geologi fosil kayu
Dari uraian tersebut di atas, adanya fosil kayu
GeoIogI PopuIer
¸8 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Tekstur dendritik dari fosil kayu. Pernik-pernik fosil kayu.
Cendra mata dari fosil kayu berupa asbak. Potongan fosil kayu siap untuk digosok.
Fosil kayu untuk tempat air. Bentuk-bentuk fosil berukuran mini siap dipasarkan.
memberikan ”clue” kepada kita bahwa sekitar 36-40
juta tahun lalu (Eosen Akhir (?) ada suatu kehidupan
(flora) di Cekungan Bayah. Artinya, cekungan Bayah
merupakan rawa yang ditutupi oleh hutan yang purba
yang lebat. Selanjutnya, kenapa kayu tersebut tidak
menjadi batu bara (proses karbonisasi) karena daerah ini
intense terjadi kegiatan gunung api baik yang telah mati
(selama Oligosen) maupun yang masih aktif (Kuarter).
Juga diikuti oleh kegiatan intrusi (Miosen Tengah) yang
menerobos batuan yang lebih tua. Proses akhir kegiatan
intrusi ataupun volkanisme ini menghasilkan larutan
hidrotermal yang bersifat asam (kaya silika). Suatu studi
menunjukkan bahwa sumber silika yang kaya dihasilkan
oleh proses gunung api (berkomposisi menengah).
Jadi, jelaslah bahwa sumber silika yang termasuk
kedalam larutan hidrotermal di daerah Kubah Bayah ini
berasal dari gunung api dan intrusi. Larutan tersebut
di samping sebagai cikal bakal mineralisasi logam, juga
sebagai cikal bakal pemfosilan kayu. (silisifikasi). Dengan
demikian, walaupun tidak ada munculnya sebuah intrusi
dan gunung api di permukaan, apabila ditemukan
adanya kayu tersilisifikasikan berarti di daerah tersebut
ada kegiatan gunung api/ intrusi di bawah permukaan.
Sehingga, fosil kayu/ kayu fosil bisa dijadikan salah
satu petunjuk kemungkinan adanya mineralisasi. Sama
halnya di bekas Tambang Emas Kelian (Kalimantan
Timur), juga ditemukan sisa-sisa fosil kayu/ kayu fosil.
Di Kubah Bayah, yang banyak ditemukan cebakan
logam (Cikotok, Cirotan, Pongkor, Pangraden, Cireret,
Kopo dll.) juga diikuti oleh penemuan banyak fosil
kayu. Dengan demikian, daerah yang kaya adanya fosil
kayu, perlu dikaji kemungkinannya ada cebakan mineral
logam yang berharga. Sebelumnya, indikasi fosil kayu
tidak pernah diindikasikan sebagai suatu petunjuk
adanya mineralisasi. Untuk membuktikan ini, tentunya
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut (termasuk
melakukan studi inklusi fluida dalam fosil kayu) dan
dibandingkan dengan fluida dalam urat kuarsa yang
berasosiasi dengan cebakan logam (emas). Apakah
komposisi fluida ini berasal dari fluida yang sama.
Di samping itu melakukan pentarikhan geologi terhadap
fosil kayu yang terdapat di daerah ini. Dari keberadaan
fosil yang dijumpai di Kubah Bayah, fosil kayu dijumpai
dalam Formasi Formasi Genteng, Cipacar, Batuan
gunung api Endut dan Tuf Malimping. sedangkan
cebakan logam terdapat dalam Formasi Cimapag
(Pongkor) dan Formasi Cikotok (Tambang Cikotok).
Nilai ekonomi fosil kayu
Adanya fosil kayu/ kayu fosil di samping menandakan
kehidupan di masa lalu, juga memberikan kehidupan
kepada umat manusia di masa kini. Bagaimana tidak,
sisa-sisa kayu yang telah membatu (fosil kayu) bisa
memberikan nilai ekonomis karena bisa dijual baik
masih berupa asal aslinya ataupun yang sudah diolah.
Di daerah Kecamatan Leuwiliang (Bogor), terdapat
beberapa pengumpul/industri fosil kayu sudah memulai
kegiatan usaha untuk menjualnya.
Salah satu dari industri fosil kayu adalah PT. Petrified
Wood, Desa Cibeber, Kecamatan Leuwiliang, Bogor.
Perusahaan ini dimilik oleh Bapak Wardiyaka. Usahanya
ini dimulai sejak tahun 1997 yang lalu, karena ”hobi”.
Sejak itu Pak Wardiyaka ini memburu fosil kayu di
beberapa tempat di sekitar Kubah Bayah dan tidak sia-
sia sehingga beliau bisa mengumpulkan banyak jenis
fosil kayu. Fosil kayu itu termasuk akar, batang, dan
dahan dari sebuah kayu purba.
Bobot fosil kayu dari beberapa kg sampai ribuan
kilogram. Untuk menopang pekerjaan tersebut Pak
Handiyaka di bantu oleh 20 orang pekerja. Untuk
memburu fosil kayu tersebut, Pak Handoyo menjelajahi
hutan di Kubah Bayah ini sampai sejauh 15 km.
Menurut pak Wardiyaka, untuk memperoleh fosil kayu
tersebut dia mempergunakan ”orang pintar” karena
ada fosil kayu sulit diambil seolah-olah ada pemiliknya.
Bagian-bagian yang telah berbentuk artistik, dibiarkan
begitu saja dan hanya dilakukan pemolesan. Salah satu
koleksi Pak Hardiyaka, berukuran sekitar 2 meteran
dengan berat sekitar 1 ton pernah ditawar seharga Rp
500.000.000,-. Nilai yang cukup tinggi untuk sebuah
fosil kayu. Di tempat industri fosil kayu Pak Wardoyo ini,
merupakan industri terlengkap koleksinya dibandingkan
dengan yang lain dengan koleksi mulai dari potongan
kecil fosil kayu sampai kepada ukuran besar. Selain itu,
kita bisa memilih cendra mata berupa fosil kayu saja,
asbak, tempat cuci tangan, hiasan dinding serta pernik-
L i n t a s a n G e o l o g i
¸q
Tekstur dendritik dari fosil kayu. Pernik-pernik fosil kayu.
Cendra mata dari fosil kayu berupa asbak. Potongan fosil kayu siap untuk digosok.
Fosil kayu untuk tempat air. Bentuk-bentuk fosil berukuran mini siap dipasarkan.
pernik lainnya sesuai dengan warna yang menarik (abu-
abu, kecoklatan, kekuningan, kemerahan, kehitaman),
serta dengan tekstur yang memukau berupa garis-garis
hitam-putih, bergelombang, berlapis, melingkar, pulau,
atol, dendritik, berlobang, koloform dll. Mengenai
harga, tentunya bervariasi sesuai dengan keindahannya;
sedangkan yang besar akan dihitung nilai jualnya per-
kilogram.
Selain di tempat Pak Wardoyo, juga ditemukan
pengumpul fosil kayu. Di tempat ini banyak ditemukan
batangan fosil kayu dibandingkan dengan di tempat
Pak Wardiyoko. Batang fosil kayu mencapai panjang 30
meter dengan bobot seberat 30 ton. Sama seperti di
tempat Pak Wardiyoko, fosil kayu dihargai sebesar Rp
7.000/kg. Kalau satu fosil kayu dengan bobot sebesar
30 ton, maka satu potong fosil kayu akan menghasilkan
rupiah : 30.000 x Rp 7.000,- = Rp 210.000.000. (baca
dua ratus sepuluh juta rupiah) perbatang. Belum lagi
fosil kayu yang diolah sebagai cendra mata (kursi, asbak
dan lain-lain) mempunyai nilai ekonomi yang memberi
peluang untuk diolah lebih lanjut.

Sebaran fosil kayu di Indonesia
Seperti yang telah diuraikan di atas, bahwa fosil kayu
terdapat di daerah yang kaya akan kegiatan gunung
api atau intrusi magma. Karena, sumber silika berasal
dari kegiatan ini. Namun demikian, beberapa parameter
lainnya untuk menunjang pembentukan fosil kayu
masih diperlukan (adanya kehidupan (flora) di masa lalu
serta proses geologi yang berkaitan dengan munculnya
kegiatan volkanisme). Di daerah yang miskin kegiatan
gunung api, fosil kayu/ kayu fosil tidaklah berkembang
akan tetapi berkembang fosil fuel (batu bara). Oleh
karena itu, untuk mencari kayu fosil, sebaiknya di daerah
yang intens terjadinya kegiatan gunung api.
Di Indonesia, sama halnya seperti mencari cebakan
mineral logam, daerah yang diduga prospek untuk
berburu fosil kayu adalah di jalur Sunda (Busur
Sunda). Busur Sunda ini memanjang dari ujung barat
daya Sumatera hingga Pulau Jawa bahkan sampai
ke Kalimantan (walaupun sedikit berbeda dengan
Sumatera dan Jawa karena kegiatan gunung api tidak
se intense di Sumatera dan Jawa). Ternyata, di Pulau
Jawa, khususnya Jawa bagian barat, dijumpai banyak
fosil kayu yang telah dibicarakan di atas.
Kesimpulan
Ternyata, apapun yang ada di muka bumi ini akan
memberikan manfaat ganda bagi umat manusia (dari
segi ilmiah ataupun nilai ekonomi). Keberadaan fosil
kayu yang berlimpah di Kecamatan Leuwiliang (Bogor,
Jawa Barat) memberikan kesan kepada umat manusia
bahwa di waktu tertentu di masa lalu, ada kehidupan
yang tidak kalah dengan saat kini. Artinya, proses
siklusisasi kehidupan terjadi sejak bumi ini diciptakan
oleh Alloh SWT.
Kehidupan masa lalu di daerah Jawa Barat, terjadi
sekitar ± 30 juta tahun yang lalu di kala terbentuknya
cekungan Bayah yang merupakan rawa di mana flora
bisa hidup dengan suburnya (ratusan tahun lamanya
bahkan lebih). Pada kala (Oligosen sampai Miosen
Awal), terjadi kegiatan endogen yang mengangkat
cekungan Bayah menjadi cembung yang dikenal
dengan Kubah Bayah. Gaya endogen inilah yang
diduga merupakan hasil kegiatan subduksi Lempeng
Samudera Hindia dengan Busur Banda. Bersamaan
dengan kegiatan endogen tersebut, diikuti pula oleh
kegiatan gunung api dan terobosan. Proses akhir
kegiatan volkanisme dan magmatisme menghasilkan
larutan hidrotermal yang kaya silika (acid condition).
Larutan tersebut menggantikan sel-sel kayu yang telah
ada sebelumnya dengan istilah silisifikasi. Hasil akhir
silisifikasi ini menghasilkan kayu terkersikan (silicified
wood).
Pembentukan fosil kayu telah memberi kehidupan
selanjutnya di mana masyarakat memanfaatkan kayu
tersebut baik yang masih asli atau yang sudah diolah
untuk dijual sehingga memperoleh nilai ekonomis.
Pemburuan fosil kayu dapat dilakukan di sepanjang
busur Gunung Api Sunda. Di jalur ini, mengingat
sumber silika berasal dari gunung api, maka tentunya
diharapkan akan banyak dijumpai fosil kayu berupa
kayu terkersikan.n
Penulis adalah salah satu Peneliti Utama Pusat Survei Geologi
GeoIogI PopuIer
qo W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
M
agnet atau magnit adalah
suatu obyek yang mempunyai
medan magnet. Kata magnet
(magnit) berasal dari bahasa Yunani magnítis
líthos yang berarti batu Magnesian. Magnesia
adalah nama sebuah wilayah di Yunani pada masa
lalu, yang kini bernama Manisa (sekarang berada
di wilayah Turki). Sejak zaman dulu di wilayah
tersebut ditemukan kandungan batu magnet.
Pada saat ini, istilah magnet diperuntukkan bagi
suatu materi yang mempunyai medan magnet.
Materi tersebut bisa berwujud magnet tetap atau
magnet tidak tetap. Magnet yang sekarang ini
ada hampir semuanya adalah magnet buatan.
Mengenal Medan
Magnet di Alam
G e o F a k t a
Oleh: Joko Parwata
q1
Magnet selalu memiliki dua kutub, yaitu: kutub
utara (north/N) dan kutub selatan (south/
S). Walaupun magnet itu dipotong-potong,
potongan magnet kecil tersebut akan tetap
memiliki dua kutub.
Magnet dapat menarik benda lain. Beberapa
benda bahkan tertarik lebih kuat dari yang lain,
yaitu bahan logam. Namun tidak semua logam
mempunyai daya tarik yang sama terhadap
magnet. Besi dan baja adalah dua contoh materi
yang mempunyai daya tarik yang tinggi oleh
magnet. Sedangkan oksigen cair adalah contoh
materi yang mempunyai daya tarik yang rendah
oleh magnet.
Medan Magnet, dalam ilmu Fisika, adalah suatu
medan yang dibentuk dengan menggerakkan
muatan listrik (arus listrik) yang menyebabkan
munculnya gaya di muatan listrik yang bergerak
lainnya. Putaran mekanika kuantum dari satu
partikel membentuk medan magnet dan putaran
itu dipengaruhi oleh dirinya sendiri seperti arus
listrik, inilah yang menyebabkan medan magnet
dari ferromagnet “permanen”. Sebuah medan
magnet adalah medan vektor: yaitu berhubungan
dengan setiap titik dalam ruang vektor yang
dapat berubah menurut waktu. Arah dari medan
ini adalah seimbang dengan arah jarum kompas
yang diletakkan di dalam medan tersebut.

Medan Magnet Bumi
Situs elektroindonesia.com menyebutkan, bumi
secara alamiah juga mengandung medan listrik
antara 100-500 V/m dan medan magnet antara
0,004-0,007 mT. Medan listrik dan medan
magnet termasuk kelompok radiasi non-pengion.
Radiasi ini relatif tidak berbahaya, berbeda sama
sekali dengan radiasi jenis pengion seperti radiasi
nuklir atau radiasi sinar rontgen.
Melemahnya medan magnet Bumi dipercaya
sebagai awal dari pembalikan arah medan
magnet bumi. Pada masa lalu kejadian ini telah
dikonfirmasikan pada catatan geologi. Yang
belum jelas adalah bagaimana kejadiannya dan
apa yang terjadi pada kehidupan di permukaan
Bumi saat itu.
Pembalikan Medan Magnet Bumi
Menyaksikan kedahsyatan bencana alam tanggal
26 Desember 2004, banyak orang mencari sebab
terjadinya ketidakstabilan lempengan bumi.
Peringatan tentang kiamatnya dunia dan ilmuwan
amatir percaya bahwa pembalikan medan magnet
bumi ada kaitannya dengan bencana ini.
Para ilmuwan telah mengamati perubahan arah
magnet bumi yang sekarang sedang terjadi
sebagaimana telah terjadi di masa silam. Situs
web NASA memuat peta tentang perubahan arah
Utara dari masa 150 tahun yang lalu hingga kini.
Karena telah begitu lama waktu sejak terakhir
kalinya terjadi, banyak yang percaya kita berada di
awal masa perubahannya. Bagaimanapun Bumi
membutuhkan waktu paling sedikit 5000 tahun
hingga 50 juta tahun. Sepertinya tidak tepat
untuk berasumsi bahwa bencana ini disebabkan
oleh perubahan arah medan magnet Bumi.
Tidak hanya arah, tetapi kekuatan medan magnet
juga menjadi perhatian. Pada masa dinosaurus
menguasai Bumi, kekuatannya 2,5 Gauss sekitar
80% lebih kuat daripada sekarang. Mungkin
itulah kenapa ada kehidupan yang berukuran
raksasa seperti dahulu. Teori tentang punahnya
seluruh binatang raksasa oleh satu bencana
besar telah banyak diterima tetapi ada yang
aneh seperti punahnya mamalia berukuran besar
seperti mammoth yang masih menjadi misteri.
Ukuran bintang yang lebih kecil sekarang
‘mungkin’ sebagai akibat dari melemahnya
medan magnet Bumi. Ribuan tahun yang lalu saat
bangsa Cina dengan pengetahuannya tentang
energi bio-elektrik dikenal sebagai “meridian”,
menyebutkan medan magnet mempengaruhi
Pola medan magnet pada pasir besi yang ditaburkan diatas kertas.
Arus mengalir melalui sepotong kawat membentuk suatu medan
magnet (M) disekeliling kawat. Medan tersebut terorientasi menurut
kaidah tangan kanan (Hans Christian Oersted, 1777-1851).
GeoIukLu
qz W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
bentuk kehidupan. Bangsa ini menggunakan
batu-batu bermagnet untuk pengobatan. Dalam
abad terakhir ada lebih banyak pengurangan
kekuatan medan magnet Bumi hingga 5%
sehingga sekarang cuma tinggal 0,5 Gauss. Hal
ini telah membuat Dr. Dean Bonlie menyebutkan
“sindrom kekurangan magnet” untuk kasus stress
biologis.
Apakah medan magnet bumi dapat melemah
hingga 0 Gauss? Prediksi paling pesimis
menyebutkan peralatan elektronik akan terkena
risikonya: antara rusak atau tidak dapat digunakan
sama sekali, seluruh satelit akan hilang termasuk
stasiun angkasa. Efek bagi kehidupan biologis
meliputi dari burung yang kehilangan arah
migrasinya hingga penurunan sistim kekebalan
tubuh dan tingginya kasus kanker.
Lebih parah lagi, atmosfer akan menipis dan turun
sehingga membuat sindrom ketinggian di dekat
permukaan laut bahkan pancaran sinar kosmis
yang mematikan akan membunuh sebagian
besar mahkluk hidup di permukaan Bumi. Hanya
yang tinggal di gua-gua di dalam Bumi akan
bertahan. Skenario ini telah membuat sejumlah
orang membangun bunker bawah tanah dengan
harapan untuk bertahan.
Melawan pandangan mengerikan ini, NASA
meramalkan bahwa tidak menjadi 0 Gauss,
tetapi medan magnet Bumi akan kacau. Saat itu
kita akan memiliki lebih dari satu Kutub Utara
dan satu Kutub Selatan. Laporan ilmiah resmi
menyebutkan atmosfer tidak akan menghilang
dan komunikasi hanya akan terganggu dan
menjelang saat itu manusia akan menemukan
cara untuk bertahan. Tetapi ada yang menentang,
mengingat anomali magnet di Atlantik Selatan
dan kerusakan akibat radiasi pada satelit yang
beredar di daerah itu dikatakan sebagai akibat
dari hilangnya atmosfer.
Teori ini didukung oleh bukti geologi bahwa saat
pembalikan terakhir, atmosfer tidak hilang. Aliran
lava dari Gunung Steen memperlihatkan kutub
magnet berputar mengelilingi lingkaran tropis
tiga kali. Meskipun kekuatannya berkurang hingga
20% tetapi tidak pernah menjadi 0 Gauss.
Teori bahwa aktivitas dari inti luar Bumi yang
terbuat dari logam yang meleleh menyebabkan
terjadinya medan magnet sedang hangat
dibicarakan oleh ilmuwan. Aktivitas jauh di
bawah inti Bumi dipercaya dapat menyebabkan
pergerakan lempengan Bumi dan menyebabkan
gempa.
Ada teori alternatif tentang terjadinya medan
magnet Bumi. Ernest McFarlane dalam artikelnya
“Asal muasal medan magnet Bumi” menyebutkan
sebuah sistem yang terbuat dari sel-sel elektronik
di dalam inti logam yang mengkristal dengan titik-
titik panas dari logam berat yang memancarkan
partikel Alpha dan Beta. Karena suhu yang tinggi
partikel Alpha tidak dapat menyatu dengan
elektron bebas. “Akibatnya terjadi putaran dari
dalam dan luar inti... medan magnet tercipta
sebagai akibatnya”.
Teori mana yang benar? Mungkin kita sendiri
yang akan mengalaminya.
Matahari mengubah medan magnetnya seperti
putaran jam setiap 11 tahun di puncak siklus
sunspot. Siklus terdekat diperkirakan terjadi tahun
2012. Sunspot (bintik Matahari) adalah magnet
yang lebih kuat bahkan dari intinya yang secara
terus menerus bergerak. Walaupun kejadian
seperti ini tidak banyak dipahami, peneliti angkasa
Ulyssess telah mengirimkan sejumlah data yang
dapat menjawab banyak pertanyaan.
PES Network berusaha untuk menarik orang-
orang di seluruh dunia untuk berpartisipasi
dalam pengumpulan data medan magnet.
Sebuah situs web di PESWiki.com telah dibuat
untuk kepentingan ini. Anda disarankan untuk
membuat “garis dasar” dengan menentukan arah
Utara akurat untuk lokasi Anda dan melaporkan
derivasi dari arah dan derajat dari arah dasar
tadi.
Seorang sukarelawan dari Kanada bagian Barat
yang menggunakan kompas besar buatan sendiri
menemukan variasi sebesar 10 derajat dalam
beberapa hari. Karena heran sukarelawan ini
meminjam kompas sensitif dan menemukan
anomali ini memang terjadi.
Perpindahan Kutub Magnetik Bumi
Tidak ada seorangpun yang merasakan, melihat
atau menyadari bahwa kutub magnetik Bumi
terus berpindah dengan cepat. Tidak juga jarum
kompas, yang tetap menunjuk ke arah utara.
Namun penelitian para ahli geofisika menunjukkan,

dinamika di inti Bumi menyebabkan pindahnya
kutub magnetik Bumi lebih ke utara. Di antara
inti Bumi yang cair dan panas, serta kerak Bumi
yang dingin, terjadi gerakan konveksi panas terus
menerus. Rotasi Bumi menyebabkan pergerakan
panas itu membentuk semacam pusaran.
Perubahan pada rotasi Bumi, menyebabkan
pindahnya kutub magnetik tersebut.
Volker Haak, peneliti dari pusat penelitian
kebumian di Potsdam Jerman-GFZ, melaporkan,
kutub magnetik Bumi bergerak dari Kanada ke
arah Rusia. Kecepatan pergerakannya dalam
beberapa tahun terakhir ini terus meningkat,
dari rata-rata 10 kilometer per tahun, menjadi
50 kilometer per tahun. Jika kecepatan itu tetap
konstan, dalam waktu 50 tahun, kutub magnetik
Bumi akan pindah sampai ke Siberia. Pengamatan
menunjukkan sejak tahun 1.600 kutub magnetik
Bumi telah berpindah beberapa kali.
Perpindahan kutub magnetik Bumi, bukanlah
fenomena luar biasa. Penelitian para ahli
geofisika terhadap arah megnetisme pada
batuan menunjukkan, rata-rata setiap 500.000
tahun sekali medan magnet Bumi berubah arah.
Perubahan kutub magnetik terakhir, terjadi sekitar
750.000 tahun lalu. Perubahan kutub magnetik
Bumi, tidak berdampak apapun bagi Bumi itu
sendiri. Akan tetapi di zaman teknik canggih
seperti saat ini, dampaknya amat besar pada
umat manusia. Jika dalam pergerakannya, medan
magnet yang melindungi Bumi menghilang,
walaupun dalam waktu singkat, dampaknya akan
sangat terasa.
Ketika medan magnet menghilang, Bumi
kehilangan pelindung dari serangan angin
matahari. Pancaran partikel ter-ionisasi akan
menembus jauh ke bawah atmosfer Bumi. Saklar-
saklar berukuran mikro atau nano dalam chips
komputer akan terpengaruh. Instrumen pada
pesawat terbang atau satelit menjadi kacau.
Juga jaringan pemasok enegi dan informasi
akan terganggu berat. Kedengarannya seperti
cerita fiksi ilmiah, akan tetapi semuanya nyata.
Manusia sudah memasuki zaman teknologi,
dimana gangguan dari luar angkasa akan sangat
berpengaruh.
Walaupun demikian, di beberapa kawasan di
Bumi, perubahan kutub magnetik Bumi sudah
terasa dampaknya. Misalnya pada ketinggian
di atas 10.000 meter di atas kawasan Atlantik
selatan, dosis pancaran sinar kosmisnya ribuan
kali lebih tinggi dibanding kawasan udara di Asia.
Penghuni stasiun ruang angkasa internasional
ISS, terpapar pancaran partikel terionisasi sekitar
90 persen dari dosis aman, pada saat satelitnya
melewati kawasan Atlantik selatan. Padahal
dalam satu hari, ISS hanya melintasi kawasan
tersebut hanya selama 10 menit.
Dengan bantuan satelit Jerman, “Champ”
sejak bulan Juli tahun 2000, para peneliti
di GFZ mendapatkan data akurat mengenai
perkembangan global medan magnet.
Berdasarkan data terakhir, terbukti intensitas
medan magnet Bumi sejak tahun 1979 sudah
berkurang 1,7 persen. Bahkan di kawasan
Atlantik selatan, pengurangan intensitasnya
sudah mencapai 10 persen. Perubahan medan
magnetik di permukaan Bumi tersebut, adalah
akibat perubahan dinamika fluida pada inti Bumi.
Bahkan diamati, gerakan dinamika inti Bumi tidak
hanya berhenti sejenak, bahkan mulai bergerak ke
arah berlawanan. Para ahli menduga, akan terjadi
pertukaran kutub magnetik Bumi dari Utara ke
Selatan.
Para ahli kebumian bahkan sudah melaporkan
adanya kawasan anomali. Di kawasan tersebut,
jarum kompas tidak lagi menunjuk arah utara,
akan tetapi sebaliknya. Pengamatan selama
20 tahun dari tahun 1980 sampai tahun 2000
menunjukkan, semakin meluasnya kawasan yang
jarum kompasnya menunjukkan arah terbalik
tersebut. Menurut para peneliti, di kawasan
inti Bumi kemungkinan terjadi gerakan yang
berlawanan dengan dinamika unsur besi cair.
Apa yang disebut antisiklus inilah yang menjadi
penyebab jarum kompas menunjuk arah selatan,
bukan lagi utara seperti lazimnya.
Lembaga antariksa AS-NASA dan lembaga luar
angkasa Eropa-ESA, dewasa ini bekerjasama lebih
erat, untuk meneliti perubahan medan magnetik
Bumi tersebut. Kedua lembaga antariksa
terkemuka di dunia itu, meluncurkan berbagai
program penelitian cuaca di luar angkasa.
Sasarannya untuk dapat meramalkan, kapan
terjadinya badai matahari. Ramalan diharapkan
dapat ditarik tiga hari sebelum terjadinya bagai.
Sebab badai kosmis dari matahari, memerlukan
waktu tiga hari untuk mencapai Bumi. Dengan
begitu, dapat diambil langkah yang diperlukan,
untuk mencegah dampak dari badai kosmis
tersebut.
Energy Vibration- Medan Magnet Pada Diri
Anda
Suka atau tidak suka, memang pada sekeliling
diri manusia terdapat getaran energi atau satu
gelombang yang dihasilkan dari tubuh badan
manusia itu sendiri berdasarkan sistem energi
manusia. Mungkin bahasa yang saya sebut ini
yaitu Vibrasi Energi nampak agak pelik. Tetapi jika
saya sebut aura mungkin ramai yang baru boleh
faham apakah yang saya maksudkannya.
Realitasnya, baik manusia maupun hewan dan
tumbuhan memang menghasilkan suatu medan
elektromagnet yang dihasilkan sendiri dari tubuh
badan atau empunya diri. Cuma kemampuan
penglihatan manusia membataskan tahap mampu
GeoIukLu
qq W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
lihat dengan menggunakan lima pancaindera yang
ada pada diri manusia. Bagaimanapun, manusia
sendiri memang memiliki kemampuan yang
tertentu yaitu jika dilatih mampu untuk melihat
dan merasai dengan baik medan elektromagnet
ini. Kemampuan tersebut sama dengan melihat
aura itu sendiri atau merasa dengan pintu hatinya
atau melihat secara psikis dengan pancaindera ke
enamnya atau kita boleh menggunakan.
Apa Itu Terapi Magnetik
Bumi adalah medan magnet alam. Tubuh manusia
juga merupakan suatu medan magnet sebagai
akibat dari proses bioelektrik dalam tubuh.
Dalam kondisi normal, elektron dan ion bekerja
seimbang. Bila keseimbangan terganggu, maka
arus dan distribusi dalam sel akan terpengaruh
dan hal ini biasanya menjadi akar dari banyak
penyakit yang disebabkan oleh gangguan fungsi
organ tubuh.
Kesehatan dapat dijaga dengan menyeimbangkan
Bio Magnetik dalam tubuh. Orang yang sehat
memiliki ion positif dan negatif yang seimbang.
Dewasa ini, orang melakukan sebagian ak-
tifitasnya didalam kendaraan dan gedung tinggi.
Banyak penggunaan barang elektrik, kabel
tegangan tinggi dan komputer, telpon gengam
(HP) yang membuat kita selalu berhubungan
dengan medan magnet positif, yang kurang baik
bagi kesehatan kita.
Selain itu, mengkonsumsi terlalu banyak
daging dan makanan yang bersifat asam, akan
mempengaruhi keseimbangan ion positif dan
negatif, membuat kita berhubungan dengan
medan magnet positif (positif dan keasaman).
Hal ini mempengaruhi metabolisme kita
sehingga berbagai gejala penyakit akan muncul,
dan terjadilah asam urat, asam lambung dll.
Sebaliknya, medan magnet negatif (negatif,
alkalin lemah) akan menormalkan metabolisme
dan menyeimbangkan Asam Basa dalam tubuh
serta mengatur fungsi-fungsi organ tubuh
dengan baik.
Oleh karena itu, dewasa ini banyak dikenal terapi
pengobatan biomagnetik untuk menyeimbangkan
bio magnetik dalam tubuh.

Tubuh-tubuh Ajaib
Bila medan magnet bumi membuat tubuh kita
menyala atau semua benda tiba-tiba menempel
di tubuh mirip pintu kulkas yang penuh dengan
hiasan bermagnet, tentunya kita jadi ngeri.
Ternyata magnet masih menyimpan segudang
misteri.
Menyala tiba-tiba
Beberapa kasus misterius yang mengerikan masih
menjadi tanda tanya sampai saat ini, yakni tentang
kasus terbakarnya seseorang akibat tubuhnya
tiba-tiba mengeluarkan api seperti yang menimpa
Phyllis Newcombe dan Madge Knight.

Tengah malam pada 27 Agustus 1938, Phyllis dan
pria tunangannya baru saja meninggalkan lantai
dansa Chelmsford, ketika ia tiba-tiba berteriak.
Gaun crinoline-nya penuh nyala api. Dengan
susah payah gaun dansa itu dicoba ditanggalkan.
Sayang terlambat. Phyllis pun meninggal di rumah
sakit beberapa jam kemudian.
Kesimpulan yang diambil kemudian, gaun itu
terbakar gara-gara puntung rokok. Tapi dalam
pengujian, gaun dari bahan sama ternyata
tidak terbakar saat dilempari puntung rokok
yang menyala. Yang lebih membingungkan ahli
forensik, seharusnya nyala api tidak akan sebesar
itu kecuali ada sejumlah besar bensin dan oksigen
disiramkan dalam waktu lama. Tubuh Phyllis
seharusnya juga tidak terbakar sampai dalam.
Namun, kenyataannya daging wanita itu gosong
sampai ke dalam-dalam.
Kasus lain terjadi pada Madge Knight. Pada
tanggal 19 November 1943, pukul 03.30,
wanita ini pergi tidur sendiri di kamar tamu di
rumahnya di Aldingbourne, Sussex. Ia terbangun
tiba-tiba karena merasa terbakar. Teriakannya
membangunkan seluruh penghuni rumah.
Madge akhirnya meninggal pada 6 Desember
1943 di rumah sakit. Para penyelidik masih
bertanya-tanya soal bahan yang mengakibatkan
wanita malang itu terbakar. Dalam kasusnya tak
ditemukan sisa-sisa bahan yang terbakar. Bahkan
bau pun tidak. Sehingga, luka bakar hebat di
punggungnya itu malah diduga akibat cairan
kimia yang keras.
Mungkin kunci dari semua itu tercantum
pada artikel yang ditulis Livingstone Gearhart
di Majalah Pursuit pada tahun 1975. Pria ini
menemukan kesamaan dari serangkaian kematian
akibat kebakaran spontan yang menimpa
beberapa orang tanpa sebab yang jelas. Katanya,
kebanyakan kebakaran tersebut terjadi menjelang
atau pada titik puncak kekuatan magnetik.
Gaya medan magnet bumi memang selalu naik
turun secara dramatis akibat pengaruh aktivitas
matahari. Angka rata-rata kekuatan medan
magnet di seluruh dunia tiap hari dicatat untuk
kepentingan para astronom dan ahli geofisika.
Nah, dari catatan ini terlihat hubungan yang
jelas antara peristiwa kebakaran dan kekuatan
geomagnetik yang tinggi. Hal tersebut
merupakan indikasi bahwa kebakaran mendadak
itu merupakan akibat rentetan peristiwa rumit,
yakni adanya interaksi antara kondisi astronomi
tertentu dengan keadaan tubuh seseorang.
G e o F a k t a

Terbakar tiba-tiba.
“Wanita magnet”, Erika Zur Stirnberg, mendemonstrasikan kekuatannya.
Seterika menempel di badan
Rupanya, misteri magnet tidak hanya menyelimuti
peristiwa kebakaran tanpa sebab itu. Beberapa
orang juga dibuat repot dengan daya tarik-menarik
magnet yang “salah tempat”. Salah seorang yang
terkenal dan paling ekstrem tercatat adalah Frank
McKinstry dari Joplin, Missouri, AS. Pria ini paling
repot di pagi hari, karena “serangan” selalu
datang di waktu-waktu seperti itu. Pria malang
ini harus terus mondar-mandir ke sana-sini pada
pagi hari. Ia tak boleh berhenti bergerak, biarpun
hanya sedetik karena ia bisa “terpaku” di tempat.
Untuk bisa melepaskan kakinya yang lengket,
ia harus dibantu orang untuk merenggutkan
kakinya dari lantai!
“Rekannya” yang lain, meskipun kadarnya
lebih ringan karena tidak rutin terjadi, tercatat
bernama Erika Zur Stirnberg, ibu rumah tangga
asal Bochum, Jerman. Pada tahun 1994, begitu
1 2 3 4 5 6 7 8 9
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0

January 1905
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s
M
e
d
a
n

M
a
g
n
e
t
moment of
combustion
Elizabeth Clark ditemukan mati terbakar di-
kamar yang tak terjamah api.
15 16 17 18 19 20 21 22 23
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0

November 1943
I
n
t
e
n
s
i
t
a
s
M
e
d
a
n

M
a
g
n
e
t
Madge Knight terbakar hebat diranjangnya.
Alas ranjang sama sekali tidak terbakar.
10 11 12 13 14 15 16 17 18
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0

December 1959
Billy Peterson menderita luka bakar stadium
tiga dan luka dalam.
20 21 22 23 24 25 26 27 28
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0

October 1963
Olga Worth terbakar sampai meninggal dimo-
bil yang sama sekali tak terbakar.
1 2 3 4 5 6 7 8 9
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0

December 1966
Dr. john Irving Bentley terbakar hangus dika-
mar mandi. Hanya kakinya yang tersisa.
3 4 5 6 7 8 9 10 11
2.0
1.5
1.0
0.5
0.0

April 1969
Grace Walker masih tertolong biarpun den-
gan 90% luka bakar.
hari
hari
hari
Bagan yang menunjukkan hubungan erat antara intensitas medan magnet dengan kebakaran spontan.
GeoIukLu
q6 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Kelelawar coklat besar (Eptesicus fuscus).
selesai menyaksikan acara TV yang menyajikan
film dokumenter tentang wanita magnet dari
Rusia, sambil main-main ia menempelkan sendok
di dadanya. Ternyata sendok melekat di situ. Ia
pun menempelkan barang-barang lain sampai
seluruh isi laci dapurnya pindah ke tubuhnya.
“Manusia magnet”, begitu mereka diistilahkan,
rupanya bukan barang aneh. Pada tahun 1991
Sofia Press Agency dari Bulgaria mencatat ada
lebih dari 300 orang yang ikut dalam kontes adu
lama barang logam menempel di tubuh.
Namun, hal yang masih menjadi tanda tanya
besar, ada manusia magnet yang tidak hanya
bisa menarik barang logam saja. Majalah
Science melaporkan serangkaian eksperimen
yang diadakan Dr. W. Simon pada tahun 1889
terhadap seorang pemuda asal Baltimore, Louis
Hamburger.

Ternyata ujung jari Hamburger - asal sudah
dibersihkan dan dikeringkan - tetap menarik
logam, batu, karet, kayu, gelas, dan bahan-bahan
lainnya. Ia dapat mengangkat barang yang dia
inginkan hanya dengan menyentuhnya. Ia juga
dapat mengangkat muk besi seberat 2,5 kg
seolah-olah seperti mengangkat batang bambu.
Liew Thow Lim dari Perak juga tidak mengerti
bagaimana ia bisa “menarik” piring, garpu,
sendok, seterika, sampai batu bata pun menempel
di tubuhnya. Pria berusia 68 tahun ini tak pelak
jadi tontonan orang.
“Manusia magnet” macam itu merupakan
bagian dari manusia yang memiliki kemampuan
elektrik. Dalam buku Phenomena yang ditulis
oleh Joni Michell dan Robert J.M. Rickard tercatat
nama lain: Jennie Morgan dari Sedalia, Missouri.
Percikan bunga api memancar dari tubuhnya ke
barang-barang di sekitarnya. Jabatan tangan
dengan remaja di akhir abad XIX ini dilaporkan
bisa membuat seseorang jatuh pingsan.
Sang penulis juga mencatat gadis lain, Caroline
Clare asal Kanada, yang dilaporkan oleh Ontario
Medical Association. Pisau dan garpu melesat ke
tubuh gadis ini!
Barangkali repot juga mempunyai kemampuan
ajaib seperti itu. Tapi, siapa yang bisa tahu kalau
seseorang memang diberi kelebihan demikian.
Semua itu toh datang tanpa rekayasa!
Magnetisme pada hewan
Matahari sendiri mengalami siklus dengan jangka
waktu rata-rata 11 tahun, walau panjang siklus
individual bervariasi antara delapan hingga 17
tahun. Beberapa bukti yang ada menunjukkan
bahwa siklus yang lebih pendek akan menciptakan
lonjakan radiasi yang lebih tinggi.
Dr. Klaus Vanselow dan rekan-rekannya dari
Universitas Kiel telah menganalisa panjang siklus
Matahari dan menemukan 87 dari 97 laporan
pendamparan paus sperma selama 300 tahun
terakhir di Laut Utara terjadi saat panjang siklus
aktivitas Matahari di bawah rata-rata.
Mereka yakin pendamparan ini disebabkan
karena gangguan pada medan magnet Bumi.
Paus, seperti halnya merpati dan lumba-lumba,
memiliki sensor magnet dalam selnya.

Merpati menggunakan sel-sel ini untuk mendeteksi
medan magnet Bumi guna membantu mereka
menentukan arah. Burung-burung ini kadang
tersesat pada saat aktivitas Matahari sedang
tinggi dan medan magnet terganggu.
“Ini juga yang mungkin terjadi pada paus,” kata
Dr Vanselow. “Paus sperma bermigrasi menempuh
jarak yang panjang dengan sedikit petunjuk visual
ke mana mereka akan pergi. Maka tidak heran
bila mereka juga memiliki magnetic sense.”
“Riset kami yang menunjukkan lebih banyak
paus mendamparkan diri pada waktu Matahari
mengganggu medan magnet Bumi menunjukkan
bahwa mereka menggunakan medan magnet
sebagai penentu arah.”
Jumlah cetacean -- paus dan lumba-lumba -- yang
mendamparkan diri di sekitar perairian Inggris
telah berlipat dua sejak sepuluh tahun terakhir.
Liew Thow Lim jadi tontonan gara-gara
benda yang menempel di tubuhnya.
(Foto: The Sun)
q;
Sejauh ini para peneliti mamalia laut
mengatakan peningkatan aktivitas perikanan
yang menyebabkan mereka sering tertangkap,
merupakan penyebab utama masalah itu.
Sedangkan para aktivis lingkungan menuduh
suara bising dalam laut, berasal dari mesin dan
sonar kapal, merupakan faktor signifikan yang
menyebabkan paus kehilangan arah.
Burung Bisa Melihat Medan Magnet Bumi
Perdebatan panjang selama empat dekade
mengenai kemampuan burung mendeteksi
medan magnet Bumi mulai terkuak sedikit
demi sedikit. Para ilmuwan telah membuktikan
rahasianya pada kedua mata burung yang selama
ini dicari-cari. Penjelasan tentang kemampuan
burung mendeteksi medan magnet memicu
perdebatan saat Klaus Schulten dari Universitas
Illinois, AS mengungkapkan pendapatnya bahwa
burung-burung migran pasti memiliki molekul-
molekul di mata atau otak yang peka terhadap
medan magnetik Bumi. Teori ini sudah dipelajari
sekitar empat puluh tahunan, namun tak satu
pun ilmuwan yang berhasil membuktikan adanya
molekul tersebut. Seperti dilansir jurnal ilmiah
Nature, baru-baru ini para peneliti berhasil
menemukan bahwa molekul tersebut mungkin
cryptochrome.

Henrik Mouritsen dari Universitas Oldenburg,
Jerman menemukan bahwa protein tersebut
terkandung dalam retina burung migran. Sel-
sel protein juga diketahui aktif setiap petang
menjelang saat burung tersebut tidak dapat
mengandalkan cahaya untuk melihat benda-
benda di sekitarnya. Selama ini, cryptochrome
banyak diketahui sebagai jenis protein yang
sensitif terhadap cahaya. Protein ini diketahui
berperan dalam mengatur jam biologi, seperti
pengaturan tahap pertumbuhan pada tanaman
dan waktu kawin. Membuat tiruan bahkan
menemukan protein cryptochrome tergolong
sulit. Jadi, untuk mempelajarinya, digunakan
senyawa yang memiliki sifat mirip yakni CPF
(carrotenoid-porphyrin-fullerene). Jika diberi
medan magnet, meskipun sangat kecil, senyawa
ini bereaksi dengan melepaskan dua jenis radikal
bebas.
Kolega Mouritsen, Peter Hore dari Universitas
Oxford dapat mengatur konsentrasi radikal
bebas sesuai medan magnet yang dipaparkan.
Ia berpendapat, cryptochrome pada burung
mungkin diaktifkan cahaya biru yang muncul
saat senja dan mulai bekerja dengan mekanisme
pelepasan radikal bebas tersebut untuk melihat
medan magnet Bumi. Namun, bagaimana
burung mendeteksi medan magnet Bumi masih
menjadi bahan perdebatan baru. Mouritsen
yakin mata burung memiliki lapisan penglihatan
ganda. Saat protein diaktifkan, layar visual akan
berubah menjadi semacam panel radar yang akan
melihat garis-garis medan magnet Bumi seperti
pada pesawat.
Kelelewar Ikuti Medan Magnet Bumi
Kelelawar tidak hanya bisa menghindari rintangan
di kegelapan, tapi juga dapat menjelajah ke
tempat yang jauh dan kembali ke sarangnya
tanpa kehilangan arah. Bagaimana mereka
bisa melakukannya, mungkin berkaitan dengan
kompas magnetik Bumi.

Kelelawar diperkirakan memiliki sistem internal
yang dapat mendeteksi arah berkas medan
magnet Bumi. Sebagaimana dilaporkan dalam
jurnal Nature, para ilmuwan menyatakan
kemampuan tersebut melengkapi sistem sensor
suara yang digunakan hewan malam tersebut
untuk menghindari rintangan.
Pada jarak dekat, kelelawar memantulkan
gelombang suara berfrekuensi tinggi untuk
mengatur arah terbangnya di kegelapan. Proses
yang disebut echolocation ini digunakan untuk
menentukan lokasi mangsa dan menghindari
rintangan. Namun, sistem ini tidak begitu berguna
untuk menentukan letak suatu benda pada jarak
jauh. Para ilmuwan tidak yakin cara inilah yang
juga dipakai kelelawar untuk menentukan arah
jalan pulangnya setelah semalaman berburu.
Hewan-hewan lain seperti merpati, burung-
burung migran, kadal air, dan kura-kura, misalnya
memanfaatkan medan magnet Bumi untuk
menentukan arah. Apakah cara seperti ini juga
dipakai kelelawar?
Untuk mempelajarinya, Richard Holland dari
Universitas Princeton, AS mengamati perilaku
15 ekor kelelawar coklat besar (Eptesicus fuscus)
yang umumnya hidup di Kanada dan Amerika
Utara. Kelelawar jenis ini secara rutin melakukan
perjalanan hingga 100 kilometer untuk mencari
tempat hibernasi selama musim dingin.
Pada pengujian yang dilakukan, setiap kelelawar
diberi pemancar radio dan dilepas 20 kilometer
dari sarangnya dan diamati dari pesawat kecil.
Sebagian diberi sejenis helm yang menghasilkan
medan magnet yang tidak searah dengan medan
magnet Bumi, sedangkan sebagian lainnya tidak.

Satu persatu kelelawar yang tidak diberi gangguan
kedan magnet terbang ke arah sarangnya dengan
tepat. Namun, kelelawar yang diberi gangguan
medan magnet kebanyakan membelok ke tempat
lain, hanya sebagian yang sampai ke sarang
dengan tepat.
GeoIukLu
q8 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Hal ini menunjukkan kelelawar memanfaatkan
medan magnet Bumi sebagai navigasi. Mereka
kemungkinan juga bisa mengetahui bahwa
’kompas’ internalnya melakukan kesalahan dan
melakukan reorientasi dengan mengubah ke
mekanisme lain.
Paus Terdampar karena Gangguan Medan
Magnet?
Penyelidikan terhadap peristiwa pendamparan diri
paus antara tahun 1712 dan 2003 menunjukkan
bahwa kebanyakan peristiwa tersebut terjadi
ketika aktivitas Matahari sedang tinggi.
Dalam tulisan di Journal of Sea Research, para
ilmuwan menyampaikan dugaan bahwa paus
memanfaatkan medan magnet Bumi untuk
menentukan arah, seperti burung merpati juga
melakukan hal yang sama. Nah, bila aktivitas
Matahari mengganggu medan magnet ini, maka
paus akan menjadi bingung.
Medan Magnet Penyebab Kecelakaan di
Perlintasan KA
Mitos lama ini kembali terngiang di kepala.
Motor/mobil dapat mogok pada saat melewati
perlintasan KA, dan mengalami kesulitan
menghidupkan dan menggerakkan kembali. Jadi
apakah benar teori yang mengatakan bahwa
mesin motor/mobil rawan mogok ketika melewati
perlintasan KA yang akan segera dilewati KA?
Ada yang tegas-tegas membantah, ada pula yang
menyangsikan.
Mencari referensi tentang teori ini susah juga,
kebanyakan artikel yang membahas ini berasal
dari blog atau situs dalam negeri. Itupun masih
banyak yang mempertanyakan keabsahannya.
Prof. Yohanes Surya misalnya, menyatakan ketika
kereta api lewat, udara di dekat kereta bergerak
cepat sekali. Udara cepat ini menyebabkan
tekanan udara dekat kereta berkurang. Akibatnya,
ada perbedaan tekanan udara antara daerah yang
dekat kereta dengan daerah yang agak jauh dari
kereta. Perbedaan tekanan ini akan mendorong
benda-benda mendekati kereta. Itu sebabnya
mobil yang terlalu dekat dengan kereta akan
merasakan dorongan untuk lebih dekat lagi ke
kereta.
Ada juga peneliti lain yang menyatakan; Roda
KA dari baja berjenis ferritic, mempunyai medan
magnet yang sangat kuat. Baja ferritic itu yang
terbaik magnetnya dibanding jenis baja yang
lainnya. Karena perputaran roda yang sangat
cepat dan tinggi itu, maka medan magnet akan
maju lebih dahulu. Bisa mencapai 600 meter ke
depan. Namun kata dia, tidak semua roda KA
menggunakan baja jenis ferritic ini.
Prof. Wiranto Arismunandar, pakar Mesin Bakar
dari Institut Teknologi Bandung, mengatakan,
mesin mobil bisa mati atau tak berfungsi di
mana dan kapan saja, tak hanya saat melintasi
rel kereta. Sebaliknya, kalau kondisi mesin mobil
prima, terutama pada sistem kelistrikannya, mobil
akan mudah dihidupkan meski di atas rel kereta
sekalipun.
Menurut Wiranto, kondisi lintasan kereta di
Indonesia umumnya tak terawat baik. Kondisi
ini membuat mesin mobil sering mati karena
pengemudi kurang sigap mempermainkan kopling
dan gas. Keadaan bisa makin runyam kalau sistem
kelistrikan kendaraan itu pun bermasalah.
Sepertinya dibutuhkan penelitian lebih lanjut
tentang hal ini karena mungkin saja teori itu
benar secara kasuistik. Teori ini bisa jadi berlaku
untuk daerah perlintasan KA tertentu atau untuk
jenis Kereta Api tertentu. Entahlah.
Keajaiban Medan Magnet di Madinah
Ada sebuah wilayah di utara Madinah yang
merupakan tempat wisata warga sekitar, letaknya
di balik Gunung Uhud, sekitar 25 kilometer utara
pusat kota Madinah. Jalan raya di sana menuju
Seekor paus sperma yang terdampar di pantai utara
G e o F a k t a
qq
kuldesak, jalan buntu. Banyak warga camping
di sini. Jangan dibayangkan sama seperti di
Indonesia, di mana tempat perkemahan biasanya
merupakan lahan hijau nan penuh rumput dan
pepohonan. Di utara Madinah ini, lahan tempat
campingnya adalah sebuah tanah lapang tandus,
padang pasir, dengan pohon dan semak sesekali
dikelilingi oleh bukit batu. Daerah ini berada di
luar batas tanah haram.
Warga Madinah yang ingin melakukan
perkemahan atau sekadar jalan-jalan biasanya
membawa tenda sendiri dan berkendaraan
pribadi. Mereka juga membawa makanan sendiri.
Persis tradisi rakyat Indonesia di era tahun 1970-
an yang sering melakukan piknik di pinggir jalan
dengan beralaskan tikar dan makan-makan
seadanya, duduk bersama di bawah pohon.
Wilayah ini termasuk wilayah tersubur di
Madinah, selain di Quba. Jalannya berkelak-kelok,
berbeda dengan jalan-jalan raya kebanyakan di
sini yang lurus-lurus. Yang tumbuh ditanahnya
juga kurma terbaik di Jazirah Arab, kurma Nabi
atau Kurma Ajwa. Dinamakan demikian karena
diyakini pohon kurma tersebut dahulu langsung
ditanam Rasulullah SAW. Di masa dahulu, wilayah
ini merupakan tempat uzlah atau menyepi bagi
mereka yang tengah berselisih pendapat agar
bisa mendapat ketenangan.
Namun, yang membuat wilayah ini terkenal ke
seantero jagad bukanlah karena wilayah yang
disebut sebagai perkampungan putih (Mantheqa
Baidha) ini dijadikan tempat wisata, melainkan
keajaiban alamnya yang hanya ada di segelintir
tempat di dunia. Banyak orang percaya bahwa di
daerah ini terdapat sebuah medan magnetik yang
sangat kuat dan besar.
Fenomena alam yang luar biasa ini bisa dirasakan
sepanjang lima kilometer ruas jalan dari ujung
aspal sampai pintu masuk ke daerah ini. Jalan
ini sendiri berakhir di lima deret bukit yang
mengelilingi wilayah tersebut. Jalannya turun
naik. Namun kendaraan yang menuju perbukitan
jalannya hanya bisa pelan, seolah ada yang
menahan. Sebaliknya, dari arah perbukitan,
walau jalannya tidak menurun tetapi turun naik,
semua kendaraan akan berjalan dengan cepat
bahkan bisa sampai 120km/jam walau persneling
dibebaskan. Bahkan kendaraan dimatikan pun
akan tetap melaju sekencang itu.
Ini tentu bukan isapan jempol. Beberapa jamaah
haji/umrah asal Indonesia sempat membuktikan
cerita itu. Salah seorang wartawan Eramuslim,
mencoba untuk mengetes apakah memang
ada medan magnet atau sekadar tipuan mata.
Dengan sebuah bus besar, rombongan melalui
daerah ini. Sesaat menjelang masuk ke wilayah
yang dikatakan ada medan magnetiknya, guide
menyerukan agar handphone yang ada segera
dimatikan untuk menghindari hilangnya data.
Semua penumpang mengeluarkan ponselnya
dan mematikan. Kecuali ponsel milik Eramuslim.
”Kami ingin mengecek benar tidaknya himbauan
guide kami tersebut”.
Sesaat kemudian, guide berseru, “Inilah
saatnya…” Tiba-tiba bus besar yang ditumpangi
memposisikan free pada roda gigi busnya dan
bus pun berhenti. Tak sampai beberapa detik,
bus yang tadinya berhenti dan masih di free
roda giginya tiba-tiba bergerak perlahan. Kian
lama kian kencang. Hingga ajaib, kendaraan
melaju dengan kecepatan 90 kilometer per jam
sejauh tiga kilometer! Sang pemandu perjalanan
mencoba menerangkan fenomena unik. Dia
mengatakan bahwa kemungkinan besar bukit-
bukit yang ada di sekitar mengandung magnet
yang kuat, sehingga bisa menarik tiap logam ke
arahnya.
Wartawan Eramuslim pun mengecek ponsel
yang tidak matikan. Ternyata benar. Ponsel
tidak bekerja dan bahkan banyak data hilang di
dalamnya. Subhanallah… Allahu Akbar! Dia telah
membuktikannya. Dan bagi siapa saja yang pergi
haji atau umroh dan melalui wilayah ini, bersiap
menikmati pengalaman yang tidak terlupakan.
Jangan lupa, matikan ponsel Anda, atau data-data
di dalam ponsel akan banyak yang hilang….
Kian Besar Kian Cepat
Menurut warga sekitar, kecepatan kendaraan
yang bisa ditarik oleh medan magnet di wilayah
ini bisa berbeda-beda. Semakin besar dan berat
kendaraan yang melintas, maka akan semakin
cepat magnet menariknya hingga bisa sampai 120
kilometer perjam sejauh lima kilometer! Sudah
banyak yang membuktikan hal tersebut. Ada
sejumlah orang yang datang dengan kendaraan
berbeda dan membuktikannya.
Seekor paus sperma yang terdampar di pantai utara
GeoIukLu
¸o W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Bukit Gravitasi
Tidak banyak tempat di seluruh dunia yang
memiliki medan magnetic seperti di Madinah
ini. Tempat serupa ada di Korea Selatan, Yunani,
Australia, timur Amerika, dan juga di sekitar
Gunung Kelud, Jawa Timur. Hanya saja, kekuatan
magnet di daerah-daerah tersebut tidaklah sekuat
yang ada di Madinah.
Siapa pun bisa mengalami hal ini dengan
mengunjungi langsung wilayah tersebut. Namun
bagi yang belum bisa merasakan sendiri, silakan
menonton fenomena unik ini dengan mengklik
situs youtube dengan menulis ‘Gravity Hills’
atau ‘Magnetic Hills’ di kolom pencariannya.
Yang jelas, keajaiban ini seharusnya mampu
menambah kecintaan kita kepada Allah SWT, yang
telah menciptakan alam semesta seisinya dengan
kesempurnaan yang tiada cela sedikit pun.
Perisai Antariksa
Peneliti matahari di Watukosek, Jawa Timur,
menemukan bahwa medan magnet statis Bumi
mampu bereaksi secara dinamis melawan bahaya
aktivitas Matahari. Hasilnya adalah perisai ganda
magnetis yang menakjubkan, yang menarik untuk
diketahui masyarakat.
Magnetosfer, sebagai lapisan medan magnet
statis Bumi, mampu bereaksi secara dinamis,
tak terduga, dan eksotis. Terutama saat terjadi
badai antariksa akibat aktivitas Matahari. Medan
magnet statis Bumi dapat berperan sebagai
perisai antariksa untuk melindungi kehidupan
di bawahnya. Dari penelitian itu diketahui pula
bahwa tanpa lapisan magnet, aktivitas Matahari
akan berdaya bunuh yang amat besar bagi
kehidupan di Bumi.
Sejak 1957 hingga sekarang, aktivitas Matahari
memang bahkan sudah membunuh ratusan
hingga ribuan satelit di orbit Bumi dan menjadikan
satelit sebagai “sampah antariksa”. Bahaya
serupa dapat terjadi pada astronot yang bekerja
di stasiun ruang angkasa.
Dari statis ke dinamis
Medan magnet Bumi merupakan medan gaya.
Karena itu, kehadirannya tidak bisa dirasakan
secara langsung. Kehadirannya baru dapat
“dilihat” bila menggunakan logam yang bersifat
sama dengan medan magnet Bumi. Contohnya
adalah logam yang dipakai sebagai jarum
kompas, yang selalu mengarah ke utara-selatan
kutub magnet Bumi.
Dengan mempelajari sifat medan jarum kompas,
dapat diketahui bahwa medan magnet Bumi
mempunyai bentuk dasar medan gaya dipole.
Pengukuran menggunakan satelit menunjukkan
bahwa medan magnet Bumi bersama dengan
plasma atmosfer Bumi membentuk suatu sistem
fisis yang disebut sebagai magnetosphere yang
berada dalam kondisi statis. Akan tetapi, jika
terjadi badai Matahari informasi dari satelit
menunjukkan karakter statis magnetosphere
dalam waktu beberapa menit berubah menjadi
dinamis.
Peristiwa alam itu sungguh mengagumkan,
karena secara teoretis hal ini sukar dicapai dalam
laboratorium di Bumi. Medan magnet Bumi
bereaksi secara “proporsional” sesuai dengan sifat
dan tingkat bahaya yang datang menerpanya.
Jarum kompas yang bergerak-gerak saat
datangnya badai Matahari cukup menjadi bukti
berubahnya sifat statis (diam) medan magnet
Bumi menjadi dinamis.
Pada sisi yang berhadapan dengan badai
Matahari, dari waktu ke waktu secara eksotis

G e o F a k t a
¸1
medan magnet dipole Bumi berubah membentuk
perisai ganda magnetis yang bergetar dengan
sangat dinamis dan mempesona. Semakin deras
badai menimpa, maka perisai antariksa semakin
tajam dan intensif.
Di sisi yang berlawanan, medan magnet Bumi
membentuk struktur magnetotail yang membuka
hingga jauh ke ruang angkasa. Bentuk perisai yang
melengkung ternyata berfungsi membelokkan
arus plasma elektron yang berbahaya sehingga
Bumi terhindar dari kerusakan yang akan
ditimbulkan oleh badai. Sementara medan magnet
yang diterbangkan dari Matahari berdifusi dan
sebagian bersatu dengan medan magnet Bumi
menjadi lapisan luar dari perisai antariksa.
Ketinggian perisai secara ajaib melindungi tempat
kedudukan satelit komunikasi geostasioner. Tetapi
pada peristiwa badai Matahari yang cukup besar,
ketinggian perisai menjadi lebih dekat ke Bumi.
Akibatnya satelit geostasioner dapat langsung
terkena dampaknya.
Perisai magnetis akan menipis dan menjadi statis
kembali bila badai mulai berlalu. Walaupun
demikian, kesiagaan tetap perlu dipelihara karena
badai antariksa yang baru akan datang secara tak
terduga.
“Salju” Besi dan Medan Magnet Merkurius
Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa jauh di
bawah permukaan planet Merkurius, “salju” besi
membentuk dan kemudian jatuh ke pusat planet
tersebut, mirip seperti hujan salju yang terbentuk
di atmosfer Bumi dan jatuh ke tanah.
Pergerakan salju besi ini bertanggung jawab
terhadap medan magnet misterius di Merkurius,
demikian seperti dijelaskan para peneliti dari
University of Illinoiss dan Case Western Reserve
University. Dalam paper yang diterbitkan April
lalu di jurnal Geophysical Research Letters,
para ilmuwan menjelaskan hasil pengukuran
laboratorium dan permodelan yang meniru
kondisi yang diyakini berlangsung pada inti
Merkurius.
“Inti Merkurius yang bersalju membuka skenario
baru dimana peristiwa konveksi dapat memicu dan
menghasilkan medan magnet global,” demikian
dijelaskan geolog dari University of Illinoiss, Prof.
Jie (jackie) Li. “Penemuan kami memiliki implikasi
langsung pada pemahaman terhadap sifat dan
evolusi inti Merkurius dan hal serupa pada planet
dan bulan lainnya.”
Merkurius, planet terdalam di tata surya, adalah
satu-satunya planet terestrial selain Bumi yang
memiliki medan magnet global. Ditemukan pada
1970 oleh wahana NASA, Mariner 10, medan
magnet global Merkurius 100 kali lebih lemah
daripada Bumi. Sebagian besar permodelan yang
ada masih belum dapat menjelaskan medan
magnet selemah itu.
Tersusun sebagian besarnya oleh besi, inti
Merkurius juga diduga mengandung sulfur
(belerang), yang memiliki titik leleh lebih rendah
dari besi dan memiliki peranan penting dalam
membentuk medan magnet planet tersebut.
“Pengukuran terakhir oleh radar di Bumi terhadap
gerak rotasi Merkurius mengungkap adanya sedikit
goncangan pada gerak planet tersebut yang
menunjukkan bahwa sebagian inti planet berada
dalam bentuk cair,” jelas Bin Chen, mahasiswa
pascasarjana University of Illinoiss, penulis utama
paper tersebut. “Namun karena ketiadaan data
seismologis dari planet tersebut, kami hanya
mengetahui sedikit mengenai permukaannya.”
Untuk lebih memahami sifat-sifat fisik inti
Merkurius, para peneliti memanfaatkan perangkat
multi-landasan untuk mempelajari perilaku
lelehan dari campuran besi-sulfur pada tekanan
dan suhu tinggi.
Pada setiap eksperimen, sampel besi-sulfur
dipadatkan pada tekanan tertentu dan dipanaskan
pada suhu tertentu pula. Sampel tersebut
kemudian didinginkan, dibagi menjadi dua,
dan dianalisis masing-masing dengan pindaian
(scanning) mikroskop elektron dan perangkat
electron probe microanalyzer.
“Pendinginan yang sangat cepat mengawetkan
tekstur sampel, yang mengungkap pemisahan
antara fase padat dan cair serta kandungan sulfur
pada tiap fase,” jelas Chen. “Berdasarkan hasil
eksperimen ini, kita dapat menyimpulkan apa
yang terjadi di inti Merkurius.”
Inti Merkurius nampaknya mencurahkan hujan
salju besi pada dua zona yang terpisah, demikian
dilaporkan para peneliti. Ini adalah kondisi yang
unik diantara planet maupun bulan terestrial
di tata surya. Penemuan tersebut menyediakan
konteks baru terhadap bagaimana mengaitkan
kondisi fisik planet terdalam (tata surya) kita
dengan formasi dan evolusi planet-planet
terestrial pada umumnya. n
Disadur dari berbagai sumber
GeoIukLu
¸z W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
P R O F I L
Rudy Dalimin
Hadisantono
AHLI PEMETAAN GuNuNG API
W
arta Geologi kali ini akan me-
nampilkan seorang yang telah
menekuni bidangnya berpuluh
tahun dan demi kecintaan serta kompetensinya
terhadap bidang yang dipilihnya Rudy Dalimin
Hadisantono digelari sebagai ahli pemetaan gu-
nung api.
Tak banyak pegawai yang mau menekuni peker-
jaan pemetaan gunung api, mengingat pekerjaan
ini tergolong pekerjaan berat bagi sorang ahli
geologi dan vulkanologi. Untuk menghasilkan se-
buah peta diperlukan survei lapangan yang cukup
lama dengan jumlah tim yang cukup banyak.
¸¸
¸q W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Tahun 1970 Rudy kuliah di Akademi Geologi
dan Pertambangan dan lulus tahun 1974 akhir.
Pada tahun 1975 ia masuk Direktorat Geologi.
“Pak Kama Kusumadinata yang menerima saya
masuk Seksi Petapi Direktorat Geologi. Saya
bahkan ikut terlibat dalam penyusunan buku
Data Dasar Gunung Api yang ditulisnya”, akunya.
Ia ditempatkan di Seksi Pemetaan Gunung api
dan tugasnya yang pertama adalah membuat
Peta Geologi Regional skala 1:250.000 Daerah
Flores, NTT.
Rudy dikenal sebagai ahli pemetaan gunung api
yang terdiri atas khususnya Pemetaan kawasan
rawan bencana gunung api, Pemetaan geologi
gunung api, Pemetaan Risiko Bahaya Gunung api,
Pemetaan laharan, pemetaan sebaran abu letusan,
pemetaan sebaran endapan awan panas.
Bagaimana sih cara membuat peta geologi
gunung api itu? Rudy menjelaskan, pertama harus
menyiapkan peta dasar berupa peta topografi
(keluaran AMS) sekarang peta rupa bumi (Bako
Rudy Dalimin menamatkan pendidikan dasarnya
di Gombong, Kebumen, Jawa Tengah. Setelah
itu ia pindah ke Bandung bersama kakak dan
ibunya. Sang ayah menyusul pindah kemudian.
Di Bandung Rudy melanjutkan pendidikan di SMP
7. Namun pada kelas 2 pindah ke SMP Persit
Kartika Chandra Kirana karena teman-teman
bermainnya banyak yang bersekolah di sana.
Usai menamatkan SMP dengan peringkat 2 ia
melanjutkan sekolah di SMAN 4 Jalan Gardujati
Bandung.
Sosok pegawai Badan Geologi yang bekerja
di unit kerja Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi ini mengaku masa mudanya ia
lalui dengan biasa saja. Tetapi ia ingat, bersama
teman-teman SMAnya ia memiliki kebiasaan unik.
“Kalau pas pulang sekolah turun hujan, kami naik
motor hujan-hujanan keliling Bandung”, katanya.
Kadang-kadang pula ia menonton tukang obat
yang menggelar jualannya di Taman Cibeunying
sekedar untuk melihat atraksi sulapnya dan
sesekali nonton film di Liga Film Mahasiswa ITB.
P R O F I L
¸¸
Surtanal) dengan memiliki skala 1:50.000. Untuk
peta regional skalanya 1:250.000. Selanjutnya
yang kedua, menentukan batas-batas koordinat.
Yang ketiga, melakukan penyelidikan ke lapangan
dengan membawa peralatan-peralatan GPS, Palu
Geologi, Kompas geologi, alat pembesar (lup),
teropong, kamera untuk dokumentasi, foto udara
(dari Bakosurtanal), dan kantong sampel. Proses
pembuatan peta ini berlangsung relatif lama. Saat
pembuatan Peta geologi Gunung Ijen, misalnya,
Rudy harus bekerja di lapangan selama 3 bulan,
begitu pula saat pemetaan geologi Lembar Turen.
Sampai saat ini kurang lebih sudah 60 gunung
api memiliki Peta Kawasan Rawan Bencana. Rudy
mengakui bahwa dengan kemajuan teknologi
saat ini proses pembuatan peta bisa lebih cepat.
“Dengan teknik digitasi, proses pembuatan peta
KRB bisa lebih cepat”, tambahnya.
Meskipun peta-peta tiap negara berbeda
satu dengan lainnya, peta yang dibuat Pusat
Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi seperti
juga peta-peta lainnya masih mengacu peta
geologi di negara lain. Misalnya untuk batuan
beku diberi simbol sama dan biasanya dengan
warna merah, untuk sedimen warna kuning, biru/
hijau. Rudy menjelaskan bahwa jenis peta yang
dibuatnya ada tiga, yaitu Peta Geologi Gunung
Api, Peta Kawasan Rawan Bencana Gunung Api
(KRB), dan Peta Zona Risiko Bahaya Gunung
Api. Peta Geologi Gunung Api dibuat untuk
mengetahui proses evolusi suatu gunung api, Peta
KRB dibuat untuk mengetahui tingkat kerawanan
bencana di suatu daerah jika terjadi letusan
gunung api, sedangkan Peta Zona Risiko Bahaya
Gunung Api adalah peta yang menggambarkan
risiko yang mungkin terjadi bila timbul letusan
gunung api. Peta kegunung apian lain seperti Peta
Sebaran Abu Letusan, Peta Sebaran Awan Panas,
Peta Laharan dibuat bila terjadi erupsi (letusan)
gunung api.
Staf subdit pemetaan yang memilih senam dan
karate dengan tingkat Kyu III (sewaktu mahasiswa)
sebagai olahraga untuk menjaga kebugarannya
ini memiliki kemampuan berbahasa Inggris yang
good (Ref. The British Council). Saking banyak
kosa kata bahasa asing yang dikuasainya beberapa
rekannya sering mencari Rudy ketimbang kamus.
“Beliau itu kamus berjalan,“ seloroh Syamsul
Rizal Wittiri dalam salah satu kesempatan. Rudy
mengakui ia memang menyukai bahasa Inggris
sejak SMA. Tidak jarang ia diminta tolong untuk
membantu pembuatan proposal ajuan beasiswa
ke luar negeri. Selain senam dan bahasa Inggris,
Rudy juga menyenangi dunia menulis. Hanya
untuk yang satu ini ia mengaku sekarang kurang
produktif. “Ya, karena kesibukan pekerjaan yang
menghambat hobi ini”, ujarnya.
Lulusan S2 Victoria University of Wellington,
Selandia Baru ini memiliki pengalaman menarik
saat kuliah disana. Dalam acara tahunan Festival
Profl
¸6 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Makanan Internasional (International Food Fair)
bersama teman-teman kuliahnya dari Indonesia,
salah satunya adalah Igan S. Sutawidjaja, menjual
sate kambing hasil masakan mereka. Kambingnya
mereka beli sendiri. Sementara bumbu-bumbu
masaknya mereka peroleh dari kedubes RI di
sana. Sate buatan mereka ternyata laku keras.
Salah seorang pengunjung stand yang vegetarian
rupanya tidak tahan dengan aroma daging sate
domba yang enak sehingga memutuskan untuk
makan sate.
Sebagaimana kemampuan umum geologis lain
pekerjaan pemetaan KRB memerlukan fisik kuat
karena harus mendaki gunung-gunung. Hingga
saat ini telah 41 gunung api yang didaki. Untuk
itu Rudy menganjurkan agar para pemeta harus
menjaga fisik mereka. Selain itu juga Rudy
mengakui bahwa pekerjaan ini harus dilandasi
dengan kecintaan. Dengan rasa cinta itu akan
tumbuh rasa dedikasi, jadi tidak bosan.
Medan yang paling berat yang pernah dialami
Rudy adalah di Gunung Semeru tahun 1981.
Peristiwanya terjadi karena Rudy dan kawan-
kawan waktu itu memutuskan potong kompas
dalam perjalanan menuju base camp. Alih-alih
sampai dalam empat jam, mereka malah tersesat
jauh, sehingga mereka harus menginap di sebuah
hutan pada ketinggian 2.000 m tanpa bahan
makanan dan perlengkapan yang memadai.
Namun beruntung mereka akhirnya selamat di
base camp sore harinya.
Melihat Badan Geologi sekarang? Rudy
menjelaskan bahwa bersama disiplin ilmu lainnya
seperti geologi teknik, geofisika, dan geokimia,
...bersama teman-teman
SMA-nya ia memiliki
kebiasaan unik. “Ka-
lau pas pulang sekolah
turun hujan, kami naik
motor hujan-hujanan
keliling Bandung”...
P R O F I L
¸;
aspek geologi makin terasa diperlukan dalam
proses pembangunan. Mengenai Badan Geologi
sendiri, Rudy mengakui bahwa lembaga ini
kurang dikenal oleh masyarakat karena mungkin
masih baru. ”Oleh karena itu bila datang ke
daerah masyarakat mengira kita datang dari
BMG,” ungkapnya. Sehingga untuk ke depan
Rudy mengharapkan agar peran Badan Geologi
bisa lebih mengemuka, selain sosialisasi dalam
bentuk penanganan bencana geologi yang cepat
sebelum didahului instansi lain, juga memberikan
pelayanan yang sebaik mungkin. Selain itu juga
dapat dilakukan sosialisasi tentang peranan
Badan Geologi.
Rudy kini tinggal di Gede Bage, Bandung
bersama Istri serta dua orang anaknya, yang satu
lulusan Universitas Widyatama saat ini bekerja
di perusahaan batubara di Lahat, Sumatera
dan satunya lagi lulus UNPAR Sospol Hubungan
Internasional saat ini telah bekerja di The Jakarta
Post, Jakarta. n
Pewawancara : Priatna, Bunyamin
Juru Foto : Gatot Sugiharta
¸8 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Salah satu program penyebarluasan informasi
geologi tahun 2008 yang dilaksanakan oleh Badan
Geologi adalah melaksanakan Sosialisasi Bidang
Geologi di 2 Provinsi yakni Provinsi Gorontalo
dan Provinsi Bengkulu. Acara sosialisasi bidang
geologi tersebut terselenggara atas kerjasama
Badan Geologi dengan Pemerintah Provinsi,
melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral.
Sosialisasi Bidang Geologi di Provinsi Gorontalo
diselenggarakan pada tanggal 8 April 2008
sementara di Provinsi Bengkulu dilaksanakan
tanggal 17 Juni 2008.
Acara sosialisasi ini diawali dengan presentasi oleh
sekretaris Badan Geologi, kemudian berturut-
turut penyajian dari Pusat Survei Geologi, Pusat
Sumber Daya Geologi, Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi, dan diakhiri oleh Pusat
Lingkungan Geologi.
Beberapa pokok-pokok penting yang dipresenta-
sikan adalah sebagai berikut:
Pada acara sambutan Sekretaris Badan Geologi
menyampaikan tugas pokok dan fungsi, serta
organisasi Badan Geologi sebagai salah satu unit
eselon I yang baru dibentuk pada tahun 2006 di
lingkungan Departemen Energi dan Sumber daya
Mineral.
Selain itu juga disampaikan Peran geologi
dalam manajemen sumber daya alam untuk
pembangunan berkelanjutan melalui visi Geologi
untuk Perlindungan dan Kesejahteraan Masyarakat
serta Misi Badan Geologi melalui: Pengungkapan
potensi sunber daya geologi untuk peningkatan
ekonomi nasional dan daerah; Mempromosikan
potensi lingkungan geologi untuk kepentingan
penataan ruang, perencanaan dan wilayah;
Memasyarakatkan potensi gunung api dan
mitigasi bencana geologi bagi kepentingan
perlindungan manusia dan ekonomi; serta
Mendorong penerapan sains geologi bagi
kepentingan pengelolaan sumber daya alam,
konservasi dan perlindungan lingkungan.
Dalam kesempatan tersebut disampaikan pula
bahwa Badan Geologi adalah institusi yang
mempunyai kewenangan dalam mengidentifikasi,
mengumpulkan, mengungkap, menganalisis,
memberikan rekomendasi serta penyebarluasan
informasi kegeologian. Informasi kegeologian
mencakup empat kelompok besar, yaitu informasi
dasar geologi (sains geologi), sumber daya
geologi, lingkungan geologi, dan bahaya atau
kebencanaan geologi.
Diakhir presentasi dijelaskan tentang sarana
Laboratorium dan Peralatan yang dimiliki oleh
Penyebarluasan Informasi
Geologi
S e p u t a r G e o l o g i
¸q
Badan Geologi serta fasilitas penunjang lain yang
ada seperti Museum Geologi, Balai Penyelidikan
dan Pengembangan Teknologi Kegunung apian
serta Perpustakaan dan Sistim Informasi Geologi.
Pihak Pemeritah Daerah merasa berterimakasih
dengan adanya acara sosialisasi tersebut, selain
acara presentasi dan diskusi penyerahan dokumen
geologi sangatlah bermanfaat dalam rangka
memahami potensi geologi di daerah.
Dalam diskusi beberapa hal yang berkembang
diantaranya adalah kurangnya informasi dan
pengetahun dalam mengakses data dan informasi
kegeologian. Mengingat data-data tersebut
sangat dibutuhkan dalam perencanaan dan
penyusunan tata ruang. Badan Geologi sebagai
institusi yang mempunyai kewenangan dalam
mengidentifikasi, mengumpulkan, mengungkap,
dan menganalisis informasi geologi mempunyai
tugas dan tanggung jawab dalam menyediakan
data kegeologian dan mensosialisasikannya
kepada masyarakat dan para pemangku
kepentingan.n (A. Gurning)
6o W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Diskusi Meneropong Peran dan Fungsi
Geologi pada Masa yang Akan Datang
dalam Mengisi RPJPN 2005-2025
S e p u t a r G e o l o g i
10-11 April 2008
Hotel Puteri Gunung, Lembang
Pada tanggal 10-11 April 2008 bertempat
di Hotel Puteri Gunung Lembang, Badan
Geologi bekerjasama dengan Pusat Penelitian
dan Pengembangan Sumber Daya Alam
Lembaga Pengabdian Masyarakat/LPPM UNPAD
mengadakan acara diskusi meneropong peran
dan fungsi Geologi pada masa yang akan datang
dalam mengisi RPJPN 2005-2025. Acara tersebut
secara resmi dibuka oleh Ketua Panitia Ir. Nana
Sulaksana M.Sc.
Tujuan diadakannya diskusi ini adalah memperoleh
masukan dari berbagai stakeholder menyangkut
masalah pembangunan Geologi 2005-2025.
Hadir pada acara tersebut dari perwakilan LPPM
UNPAD, MIGAS, ITB, UNPAD dan juga perwakilan
dari unit-unit yang ada di lingkungan Badan
Geologi.
Diskusi difokuskan kepada 3 hal penting
menyangkut pembangunan Geologi yaitu:
1.Peran Geologi dalam Industri Migas dan
Sumber Daya Mineral.
2.Peran Geologi dalam Meningkatkan
Kesejahteraan Rakyat Indonesia.
3.Peran Penelitian dan Pendidikan Geologi
dalam RPJPN 2005-2025
Presentasi pertama dengan topik INDUSTRI
GEOLOGI DI BIDANG MIGAS DAN SUMBER DAYA
MINERAL, dibawakan oleh Ir. H. Awang Harun
Satyana dari Migas.
Dalam pemaparannya Awang Harun Satyana
menyampaikan tujuan yang ingin dicapai dengan
ditetapkannya Undang-Undang No. 17 Tahun
2007 tentang RPJP Nasional Tahun 2005-2025
salah satunya adalah menjamin tercapainya
penggunaan sumberdaya secara efisien, efektif,
berkeadilan dan berkelanjutan.
Berdasarkan US Geological Survei tahun 2008,
Indonesia masih merupakan Negara yang
kaya akan sumber daya mineral di Asia. Data
PT. Austindo Mining Corporation tahun 2001
menyatakan Indonesia merupakan salah satu
negara pengekspor mineral terbesar di dunia yaitu
gas alam, timah, batu bara, tembaga, nikel dan
emas. Selain itu wilayah Indonesia masih memiliki
22 cekungan yang belum dibor, 13 cekungan
belum ditemukan dan 9 cekungan belum
berproduksi. Data-data tersebut menunjukan
proses eksplorasi masih akan terus terjadi, hal
ini menyimpulkan masih diperlukannya peranan
Geologi. Berdasarkan pada fakta tersebut, maka
seorang Geologiawan yang diperlukan adalah
geologiawan yang handal. Geologiawan yang
handal hanya dapat tercapai salah satunya
melalui lembaga pendidikan dan didukung
61
oleh kurikulum yang sesuai. Geologiawan yang
diharapkan kelak adalah seorang geologiawan
yang berpandangan multidisipliner dan holistik,
berwawasan teknologi tinggi, dan memiliki ilmu
geologi yang applicable dalam dunia industri.
Presentasi kedua dengan judul PERAN GEOLOGI
DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN
RAKYAT INDONESIA, dibawakan oleh DR. Ir. M.
Basuki Hadimoeljono, M.Sc., dari Kantor Irjen
Dept. PU.
Menurut Basuki Hadimoeljono, Geologi diperlukan
bagi pengembangan dan penyelenggaraan
wilayah dengan memperhatikan pengaturan
ruang wilayah yang nyaman dan aman, kondisi
fisik wilayah dan daya dukung wilayah. Peran
Geologi disini adalah menyangkut kajian
kewilayahan yang dilakukan secara komprehensif,
perencanaan tata ruang secara mikro dan
kualitatif sehingga mudah dipahami oleh orang
non-Geologi.
Dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat
Indonesia, Basuki Hadimoeljono melihat dari
dua aspek yaitu Geologi dan Penyelenggaraan
Wilayah, serta Geologi dan Pengembangan
Sumber Daya Air. Sebagai penyelenggaraan
Wilayah Geologi, berkaitan erat dengan jalan.
Jalan sebagai penggerak ekonomi dan sebagai
pemersatu wilayah, menuntut terpenuhinya
fasilitas ini demi tercapainya kesejahteraan
rakyat. Geologi permukaan (kwarter) membantu
menentukan tipe kontruksi jalan agar jalan
tersebut memiliki kualitas yang baik. Terkait
dengan peran geologi dan sumber daya air,
Basuki Hadimoeljono menekankan pentingnya
peran geologi dalam mengatasi kebutuhan
masyarakat yang besar terhadap penyediaan air
baku, penanganan kerusakan DAS, pembentukan
tandon air, pemanfaatan air tanah dan rawa serta
pengamanan pantai.

Geologi berpengaruh terhadap “Decision Making
Process” sehingga tidak ada satupun prasarana
yang sepi dari pengaruh geologi. Pengetahuan
geologi bukan merupakan MASALAH tapi harus
menjadi SOLUSI. Geologiawan harus berpikir
strategis dari makro ke mikro dengan orientasi
keluar (outward looking). Geologi harus mampu
menjadi guide bukan hanya sebagai pendukung
dalam pembangunan. Oleh karena itu perlu
adanya komunikasi antara geologi dengan
cabang ilmu lainnya. Basuki Hadimoeljono berjanji
akan membantu mengkomunikasikan data-data
geologi ke lingkungan Departemen PU.
Presentasi ketiga dengan topik PERAN PENELITIAN
DAN PENDIDIKAN GEOLOGI DALAM RPJPN 2005-
2025, dibawakan oleh Ir. Lambok M. Hutasoit,
Ph.D., dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian
ITB.
Lambok M. Hutasoit memaparkan bahwa Undang-
undang No. 17 tahun 2007 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN)
bermaksud memberikan arahan atau garis besar
perencanaan pembangunan demi mewujudkan
kesejahteraan rakyat, maka pendidikan dan
penelitian Geologi harus diarahkan agar dapat
memberikan kontribusi berarti bagi rencana
pembangunan jangka panjang nasional.
Pendidikan dan penelitian geologi harus jadi
“determinan” dalam pengambilan keputusan.
Kemasan hasil penelitian Geologi harus mudah
dipahami sehingga mampu menumbuhkan
kepedulian bagi masyarakat terhadap bencana
alam dan masalah lingkungan. Geologist masa
depan diharapkan merupakan lulusan geologi
yang memiliki kehandalan di lapangan, namun
juga tidak gagap teknologi.
Pendidikan Geologi harus mampu menciptakan
perilaku atau budaya ilmiah, langkah awal
adalah dengan menambahkan kurikulum yaitu
menambahkan mata kuliah filsafat, ekonomi
manajemen dan etika profesi. Penambahan
mata kuliah ini diharapkan mampu menciptakan
lulusan geologi yang berjiwa “entrepreneur”
disamping mempunyai intellectual skill juga
memiliki managerial skill yang baik.n
(Lilies Marie Maryati)
6z W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Pada hari Selasa, 22 Maret 2008 bertempat di
Hotel Guning Putri Lembang, Kabupaten Bandung,
Sekretariat Badan Geologi menyelenggarakan
kegiatan Sosialisasi Peraturan Bidang Geologi
yang dihadiri oleh sekitar 64 orang peserta yang
mewakili unit-unit di lingkungan Geologi dan
Pemerintah Kota dan Kabupaten Se-Jawa Barat.
Dari Lingkungan Geologi hadir perwakilan dari
Pusdiklat Geologi dan Pusat Penelitian dan
Pengembangan Geologi. Sementara peserta dari
Pemerintahan Kota dan Kabupaten di Jawa Barat
seperti Kota Bandung, Kabupaten Bandung,
Kabupaten Cianjur, Kabupaten Ciamis, Kota
Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten
Sumedang, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten
Garut, Kabupaten Subang, Kota Tasik Malaya,
Kabupaten Tasik Malaya dan Dinas Pertambangan
dan Energi Provinsi Jawa Barat.
Acara Sosialisasi yang dibuka oleh Sekretaris
Badan Geologi ini selanjutnya diisi dengan pe-
maparan yang dibagi dalam 3 sesi. Sesi pertama
pemaparan dari Biro Hukum Sekretariat Jenderal
DESDM mengenai Peraturan Pemerintah RI No.
38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan
Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintah
Daerah Provinsi dan Pemerintah Daerah
Kabupaten/Kota dilanjutkan dengan pemaparan
dari Universitas Padjadjaran yang disampaikan
oleh Prof. Dr. Adjat Sudradjat, M.Sc. tentang
Materi Naskah Akademik RUU Kegeologian.
Dari sesi ini diperoleh kesimpulan bahwa payung
hukum khususnya di bidang geologi merupakan
suatu urgensi tersendiri mengingat segala aspek
dikehidupan pada dasarnya selalu berkaitan
dengan bidang geologi dan bayak sekali peraturan
perundang-undangan yang mengandung unsur
Sosialisasi Peraturan
bidang Geologi
S e p u t a r G e o l o g i

kegeologian di dalamnya, tapi tanpa didukung
peraturan khusus mengenai geologi itu sendiri.
Pada sesi kedua adalah pemaparan yang
disampaikan oleh Pusdiklat Geologi tentang
Standardisasi dan Kompetensi Bidang Geologi
dilanjutkan pemaparan oleh Pusat Survei
Geologi tentang Peraturan Jabatan Fungsional
Penyelidik Bumi serta Angka Kreditnya. Sesi ke-
dua ini merupakan sesi yang sarat informasi
yang bermanfaat khususnya bagi yang berminat
mendalami bidang penyelidik bumi.
Sesi ketiga diawali dengan pemaparan dari Pusat
Lingkungan Geologi mengenai Materi Air Tanah
dan Kawasan Kars. Dari paparan ini diperoleh
suatu hal penting yaitu untuk mengoptimalkan
air tanah pada masa yang akan datang perlu
dilakukan pengkajian daerah imbuhan air tanah
secara rinci. Selain itu juga konservasi air tanah
pada setiap cekungan air tanah wajib dilakukan
oleh para pihak yang berkepentingan. Pemaparan
berikutnya dari Pusat Sumber Daya geologi
tentang Peraturan Perundang-undangan di Bidang
Sumber Daya Mineral dan dari Pusat Vulkanologi
dan Mitigasi Bencana Geologi tentang bencana-
bencana geologi, permasalahan seputar mitigasi
bencana, dan penanggulangannya.
Dari semua pemaparan materi diatas, diperoleh
beragam informasi mengenai peraturan bidang
geologi baik standard, pedoman, undang-undang
maupun peraturan pemerintah yang menambah
wawasan peserta serta merupakan kesempatan
untuk menggali berbagai permasalahan seputar
bidang geologi. Beberapa permasalahan,
khususnya yang terjadi di daerah menjadi bahan
diskusi, antara lain, masih banyak hal-hal yang
merupakan kewenangan daerah sering kali
tumpang tindih dengan pusat seperti pengelolaan
pertambangan, manfaat pertambangan bagi
daerah, izin pengelolaan air tanah dan lain-lain.
Antusias peserta, khususnya dari daerah sangat
terlihat dengan banyaknya pertanyaaan yang
disampaikan. Dengan dilaksanakannya kegiatan
ini, diharapkan dapat menambah pengetahuan
mengenai peraturan bidang geologi dan semakin
meningkatkan kepedulian pemerintah daerah
dalam menangani permasalahan kegeologian.n
(A. Gurning)
SepuLur GeoIogI
6q W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Jurnal Geologi Indonesia yang dikelola oleh Badan
Geologi telah terakreditasi berdasarkan Surat
Keputusan Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan
Indonesia No. 832/D/2007 tanggal 26 Oktober
2007.
Berdasarkan hasil penilaian LIPI tentang Akreditasi
Majalah Berkala Ilmiah, Jurnal Geologi Indonesia
ditetapkan sebagai Majalah Berkala Ilmiah Ter-
akreditasi B. Akreditasi tersebut dituangkan dalam
Sertifikat No. 109/AKRED-LIPI/P2MBI/10/2007
dan berlaku selama 3 tahun.
Pemberian Akreditasi ini merupakan upaya pemer-
intah dalam hal ini LIPI memberikan jaminan ke-
pada masyarakat bahwa Jurnal Geologi Indonesia
memenuhi persyaratan mutu yang ditetapkan
berdasarkan hasil penilaian yang dilaksanakan
oleh Panitia Penilai Majalah Berkala Ilmiah Lem-
baga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Pemberian Sertifikat dilaksanakan pada hari
Senin, 28 April 2008 di Gedung Widya Graha LIPI
Jakarta. Pada acara penyerahan sertifikat, Jurnal
Geologi Indonesia diwakili oleh Dr. Eddy Mulyadi,
Kepala Bagian Rencana dan Laporan Sekretariat
Badan Geologi selaku Ketua Dewan Penerbit Jur-
nal Gologi Indonesia serta Ir. Igan S. Sutawidjaja,
M.Sc. selaku Anggota Dewan Redaksi Jurnal Ge-
ologi Indonesia.
Penilaian akreditasi dilakukan terhadap Kelem-
bagaan Penerbit, Penyunting/Dewan Penerbit,
Kemantapan Penampilan, Gaya Penulisan, Ke-
berkalaan, Tiras, dan Substansi.
(A. Gurning)
Melongok ke Dapur Jurnal Geologi Indonesia
Dalam kesempatan ini Warta Geologi ingin men-
gajak para pembaca melongok ke dapur Jurnal
Geologi Indonesia untuk berkenalan dengan Para
Dewan Redaksi Jurnal Geologi Indonesia yang
telah berjasa mengelola Jurnal Geologi ini sejak
Badan Geologi Berdiri tahun 2006.
Jurnal Geologi Indonesia
Terakreditasi
S e p u t a r G e o l o g i
Ir. Igan S. Sutawidjaja, M.Sc. saat menerima Sertifkat akreditasi
Jurnal Geologi Indonesia.

1 Nama Dr. Nana Suwarna
Ttl Sumedang, 7 Juni 1941
Alamat Jl. Suka Asih IV No. 17
No. Telp 022-7808206 / 0811214260
E-mail n.suwarna@yahoo.com
Jabatan di JGI Ketua Dewan Redaksi
2
Nama
Dr. Hermes Panggabean
Ttl Pematang Siantar, 14 Maret 1951
Alamat Jl. Puri Asih A3/23 Sentosa Asih Bandung 40292
No. Telp 022-7500084 / 081320647312
E-mail hermespanggabean@yahoo.com
hermes@grdc.esdm.go.id
Jabatan di JGI Wakil Ketua Dewan Redaksi
3
Nama
Dr. Rachmat Heryanto
Ttl Karawang, 29 September 1952
Alamat JL. Parakan Ayu III No. 4 Bandung 40266
No. Telp 022-7566614 / 081320629579
E-mail rachmat_heryanto@grdc.esdm.go.id
rachery52@yahoo.co.id
Jabatan di JGI Anggota Dewan Redaksi
4
Nama
Syamsul Rizal Wittiri, Dipl. Seis
Ttl Makassar, 12 Desember 1951
Alamat Kompleks Pasir Pogor, RN 22 Ciwastra Bandung
40287
No. Telp 022-7566989 / 08122064139
E-mail syamsul@vsi.esdm.go.id
Jabatan di JGI Anggota Dewan Redaksi
5
Nama
Ir. Danny Z. Herman, M.Sc.
Ttl Bandung, 17 Desember 1952
Alamat Jl. Tubagus Ismail, G. Virgo 13
Jl. Cigadung Raya Timur 92 Bandung
No. Telp 08122158952
E-mail abi_aizar@yahoo.com
Jabatan di JGI Anggota Dewan Redaksi
SepuLur GeoIogI
66 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
6 Nama Ir. Hardoyo Rajiyowiryono, M.Sc.
Ttl Surakarta, 30 Oktober 1950
Alamat Jl. Sepak bola No. 7 Arcamanik, Bandung 40243
No. Telp 022-7208732 / 0816621595
E-mail hardoyou@yahoo.com
Jabatan di JGI Anggota Dewan Redaksi
7
Nama
Ir. Igan Supriatman Sutawidjaja, M.Sc.
Ttl Cianjur, 23 Juli 1957
Alamat Jl. Atletik III No. 10 Arcamanik Bandung 40293
No. Telp 022-7203807 / 085220071956
E-mail igan@vsi.esdm.go.id
Jabatan di JGI Anggota Dewan Redaksi
8
Nama
Ir. Oki Oktariadi, M.Si
Ttl Bandung, 19 Oktober 1961
Alamat Jl. Malang No. 19 Bandung
No. Telp 022-7207388 / 08122107186
E-mail oki@plg.esdm.go.id
okigtl@yahoo.com
Jabatan di JGI Anggota Dewan Redaksi
9
Nama
Dra. Nenen Adriyani, MA
Ttl Jambi, 6 Mei 1958
Alamat Jl. Cikutra Baru XII/7 Bandung 40124
No. Telp 022-7100210
E-mail nadriyani2002@yahoo.com
Jabatan di JGI Editor Bahasa
S e p u t a r G e o l o g i
6;
Penerbitan sebuah majalah, jurnal, dan buletin
menjadi sangat penting dengan meningkatnya
kebutuhan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Perkembangan informasi kebumian, khususnya
geologi, saat ini banyak diperlukan sejalan
dengan meningkatnya kebutuhan pertukaran
informasi. Hasil-hasil kegiatan penelitian ilmiah
bidang geologi yang dipublikasikan dalam Jurnal
Geologi Indonesia hendaklah up to date serta
memiliki nilai orisinil.
Itulah kira-kira ide diselenggarakannya temu
editor dan reviewer Jurnal Geologi Indonesia
pada tanggal 21 Mei 2008 di Hotel Putri
Gunung Lembang. Dalam kesempatan tersebut
diundang dewan redaksi dan para pengelola
penerbitan di beberapa instansi, perguruan
tinggi, dan perhimpunan yang berkaitan dengan
ilmu kebumian. Melalui pertemuan tersebut
diharapkan terjadi kerjasama dan tukar menukar
informasi dalam pengelolaan majalah ilmiah
kebumian.
Acara diawali dengan sambutan yang sekaligus
dibuka oleh Sekretaris Badan Geologi, Dr. Djadjang
Sukarna. Dalam kesempatan tersebut Sekretaris
Badan Geologi menyampaikan terimakasih kepada
para undangan terutama kepada 9 pembicara
yang telah hadir untuk bertukar pengalaman
dalam mengelola publikasi ilmiah kebumian.

Setelah acara pembukaan Sekretaris Badan
berkenan membagikan dokumen jurnal, kepada
para pengelola penerbitan ilmiah kebumian serta
kepada LIPI. Isi dari dokumen jurnal tersebut
adalah kumpulan Jurnal yang berhasil dihimpun
terutama dari para pembicara yang juga
mengelola jurnal ilmiah kebumian.
”Tingkatkan Mutu Karya
Tulis Ilmiah, Hindari Mental
Plagiat”
TEMU EDITOR DAN REVIEWER JURNAL GEOLOGI INDONESIA
SepuLur GeoIogI
68 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Pembicara pertama pada sesi presentasi adalah
Dr. LT. Handoko dari LIPI, yang menyampaikan
makalah berjudul “Pengelolaan Jurnal ilmiah dan
Migrasi ke Jurnal Elektronik”
Tampil 8 pembicara yakni:
1. Dr. Nana Suwarna (Jurnal Geologi Indonesia
– Badan Geologi)
2. Prof. Dr. Udi Hartono (Jurnal Sumber Daya
Geologi – PSG Badan Geologi)
3. Dr. Syoni Supriyanto (JTM – Teknologi Mineral
ITB)
4. Ir. Dedy Mulyadi, MT. (J Riset – Geoteknologi
LIPI)
5. Dr. Eddy Sunardi (Majalah Geologi Indonesia
- IAGI)
6. Dr. Ir. Binarko Santoso (Buletin Tekmira
– TekMIRA)
7. Ir. Dida Kusnida, M.Sc. (Buletin Geologi
Kelautan – Puslitbang Geologi Kelautan)
8. Ir. Zufialdi Zakaria, MT. (Bulletin of Scientific
Contribution – Teknik Geologi Unpad)
Setelah delapan orang presenter menyampaikan
pengalamannya, acara dilanjutkan dengan
diskusi panel yang dipimpin oleh Ir. Hardoyo
Rajiyowiryono, M.Sc. Acara diakhiri dengan
rencana pembentukan dewan redaksi publikasi
ilmiah kebumian. Tampil Dr. Nana Suwarna
dan Dr. Hermes Panggabean memimpin acara
tersebut. Tujuan dari pembentukan Forum Dewan
Redaksi Komunikasi Publikasi Ilmiah Kebumian
adalah membentuk satu forum komunikasi yang
dapat bekerjasama dalam melakukan penelaahan
serta pengelolaan makalah yang akan diterbitkan
dalam sebuah majalah, jurnal, dan buletin
ilmiah kebumian. Melalui forum ini diharapkan
adanya peningkatkan mutu makalah ilmiah serta
menghindari terjadinya duplikasi makalah yang
diterbitkan pada jurnal kebumian.
Beberapa resume hasil diskusi panel diantaranya
adalah mengenai Legalitas jurnal elektronik,
kaitannya dengan nilai angka kredit makalah
ilmiah. Pada kesempatan tersebut dibahas
mengenai standar dan kriteria menentukan
reviewer apakah harus memenuhi standar LIPI
atau ditentukan oleh Dewan Redaksi Jurnal,
standar gaya dan cara menelaah para reviewer.
Selain dari segi intelektualitas dalam mengedit
makalah, reviewer juga harus punya wisdom.
Untuk meningkatkan tukar menukar informasi
makalah ilmiah yang diterbitkan dalam setiap
Jurnal dan Buletin, perlunya dibuat suatu link
para Dewan Redaksi, reviewer, dan para pengelola
jurnal kebumian.
Perlunya melakukan pembinaan terhadap para
penulis muda seperti para mahasiswa agar tertarik
S e p u t a r G e o l o g i
6q
menulis makalah ilmiah. Seperti yang dilakukan
IAGI melakukan pembinaan dengan menerima
makalah karya ilmiah mahasiswa dalam PIT IAGI
dan IPA. Pembinaan dalam menulis makalah ilmiah
harus ditanamkan sejak di bangku sekolah.
Perlu melibatkan ahli bahasa yang menguasai
tata cara berbahasa ilmiah, baik dalam bahasa
Indonesia maupun dalam asing, seperti bahasa
Inggris.
Keputusan lainnya yang disepakati adalah
perlunya diadakan pertemuan lanjutan untuk
membicarakan rencana pembentukan forum
komunikasi editor Jurnal kebumian.n(Priatna)
SepuLur GeoIogI
;o W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Pada tanggal 26 Mei 2008 di Auditorium Geologi
telah dilaksanakan Forum Komunikasi Pejabat
Fungsional. Forum Komunikasi ini dihadiri oleh
para pejabat fungsional yang terdiri dari pejabat
fungsional peneliti, perekayasa, penyelidik
bumi dan pejabat fungsional penunjang seperti
pranata komputer, arsiparis, pustakawan,
surveyor pemetaan, teknisi litkayasa, pengamat
gunung api, analisis kepegawaian dan pranata
humas. Forum Komunikasi Jabatan Fungsional
ini dibuka oleh Kepala Badan Geologi dengan
mengambil Tema “Peranan Kelompok Jabatan
Fungsional dalam Pengembangan Karier Pejabat
Fungsional”. Tema ini mengandung harapan
adanya keterbukaan antara unsur pimpinan
sebagai pembuat keputusan dengan para pejabat
fungsional sebagai pelaksana.
Dalam sambutan pembukaan. Kepala Badan
Geologi mengingatkan bahwa kegiatan ini jangan
dianggap sebagai sekedar kegiatan seremonial,
tetapi memiliki nilai penguatan kelembagaan.
Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan para
Koordinator Kelompok Program dan Koordinator
Kelompok Jabatan Fungsional di lingkungan
Badan Geologi yang telah diberi kepercayaan
untuk memimpin kelompoknya tidak saja
mampu mengkoordinir kelompoknya tetapi
juga mampu menjadi pejabat penghubung yang
dapat menampung dan menyalurkan aspirasi
kelompoknya kepada pimpinan unit masing-
masing.
Sebaliknya, melalui forum pejabat fungsional
ini juga para pejabat struktural sebagai unsur
pimpinan akan lebih peka terhadap permasalahan,
usul dan harapan, serta kesiapan pejabat
fungsional sendiri dalam melaksanakan tugas.
Pejabat fungsional juga seharusnya mendapat
informasi tentang kebijakan pejabat struktural
yang berkaitan dengan pengembangan karier
pejabat fungsional.
Forum Komunikasi Pejabat
Fungsional Badan Geologi
S e p u t a r G e o l o g i
;1
Kelompok Jabatan Fungsional
berdasarkan Peraturan Menteri
ESDM No. 0030 tahun 2005,
berperan sebagai pelaksana
tugas pokok organisasi.
Pelaksanaan tugas tersebut
harus disertai dengan
profesionalisme dan sikap
yang konsisten dengan visi,
misi, tugas pokok dan fungsi
Badan Geologi. Para pejabat
fungsional memiliki kompetensi
jabatan dan keahlian sebagai
salah satu kekuatan sumber
daya organisasi yang sangat
penting dalam kelembagan di
unit masing-masing.
Kepala Badan Geologi juga
menyinggung tentang menurunnya produksi
migas saat ini yang tentunya menjadi perhatian
kita semua. Dengan isu penurunan produksi migas
tersebut, diharapkan para ahli kebumian atau
pejabat fungsional khususnya yang menekuni
bidang hidrokarbon dituntut meningkatkan
profesionalisme untuk menemukan cekungan
SepuLur GeoIogI
baru yang tentunya nanti pelaksanaannya
bekerja sama dengan instansi terkait seperti
Ditjen Migas, Balitbang ESDM dan Perguruan
Tinggi. Selain penelitian terhadap komoditas,
para ahli kebumian juga dituntut untuk mampu
melaksanakan mitigasi bencana geologi.
Pada akhir sambutan, Kepala Badan Geologi
menyinggung tentang kelembagaan Badan
Geologi yang saat ini memiliki sumber daya
manusia sebanyak 1615 pegawai, prasarana dan
sarana kerja yang memadai dan laboratorium
yang canggih. Dengan kekuatan yang dimiliki
tersebut, diharapkan kita sebagai kelembagaan
perlu membangun suatu sistim yang mampu
menggerakkan organisasi dengan memantapkan
rencana strategis, mengkoordinasikan
perencanaan penelitian, menyusun standard dan
metoda penelitian serta pengawasan mutu hasil
penelitian. Kepala Badan Geologi beserta jajaran
manajemen mengharapkan adanya kerja sama
dalam meningkatkan kinerja organisasi dengan
melakukan sinergi kegiatan unit-unit di lingkungan
Badan Geologi dengan dikoordinasikan oleh
Sekretaris Badan Geologi serta mensosialisasikan
data dan informasi yang kita miliki kepada para
pemangku kepentingan secara nasional.
Acara Forum Komunikasi Jabatan Fungsional
dilaksanakan satu hari diawali dengan
pemaparan oleh Sekretaris Badan Geologi
tentang Pengembangan Karir Pejabat Fungsional,
kemudian berturut-turut pemaparan oleh
Kelompok Jabatan Peneliti, Kelompok Jabatan
Perekayasa, Kelompok Jabatan Penyelidik Bumi
dan Kelompok Jabatan Fungsional lainnya
(Gabungan). Diakhir acara merupakan diskusi
dengan nara sumber Kepala Badan Geologi
dan Para Pejabat Eselon II di lingkungan Badan
Geologi.n (A. Gurning)
;z W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Dalam rangka hari jadinya yang ke-79 pada
tanggal 16 Mei 2008, UPT Museum Geologi
menyelenggarakan serangkaian kegiatan sekaligus
untuk lebih mensosialisasikan Museum Geologi
kepada masyarakat luas tentang manfaat dan
kemajuan ilmu pengetahuan kebumian khususnya
dan untuk lebih meningkatkan pelayanan kepada
masyarakat.
Ya, tahun 2008, Museum Geologi genap berusia
79 tahun. Untuk mengetahui perkembangan
Museum Geologi selama 79 tahun tersebut, kita
akan kembali ke belakang menengok sejarah
berdirinya Museum Geologi.

Berdirinya Museum Geologi sangat erat kaitannya
dengan sejarah penyelidikan geologi di Indonesia
yang telah dimulai sejak tahun 1850-an oleh
“Dienst van het Mijnwezen”, yang berkedudukan
di Bogor (1852-1866). Lembaga ini kemudian
pindah ke Jakarta (1866 – 1924) dan pada
tahun 1924 pindah ke Bandung, di Gedung
Gouvernement Bedrijven (sekarang Gedung
Sate).
Dalam rangka melaksanakan penyelidikan
geologi di berbagai daerah, para ahli geologi
selalu membawa contoh batuan, mineral,
dan fosil untuk diteliti di laboratorium. Mulai
tahun 1922 penyelidikan geologi semakin
meningkat sehingga contoh batuan, mineral,
dan fosil tersebut yang dikumpul dari berbagai
macam wilayah di Indonesia semakin banyak
sehingga memerlukan tempat khusus untuk
pendokumentasiannya, kemudian timbul suatu
gagasan untuk memperlihatkan koleksi tersebut
kepada masyarakat luas. Pada tahun 1928
dibangun gedung yang diperuntukan bagi
Laboratorium dan Museum Geologi di Rembrandt
Straat yang sekarang disebut Jl. Diponegoro,
Bandung. Gedung ini dirancang dengan gaya
arsitek “art deco” oleh arsitek Belanda Ir. H.
Menalda van Schou.
Pada 16 Mei 1929 bertepatan dengan Kongres
Ilmu Pengetahuan Pasifik yang ke IV, Museum
Geologi diresmikan dengan nama “Geologische
Museum”. Peragaan pada waktu itu sangatlah
sederhana, dimana berbagai koleksi museum
geologi disimpan di dalam lemari kaca. Sistem
Ulang Tahun ke-79
MUSEUM GEOLOGI
S e p u t a r G e o l o g i

peragaan seperti itu tidak berubah sampai tahun
1998. Meskipun sistem peragaan Museum
Geologi sampai tahun 1998 relatif sama seperti
pada waktu Museum Geologi untuk pertama
kali diresmikan, tetapi pengunjung ke Museum
Geologi meningkat terus jumlahnya. Agar museum
geologi dapat meningkatkan pelayanannya
kepada masyarakat, mulai tahun 1993 disusun
rencana pengembangan atas kerjasama antara
Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang,
yang meliputi: renovasi gedung, pengembangan
sistem dokumentasi koleksi, pengembangan
sistem peragaan, pengembangan sistem edukasi,
dan pengembangan program penelitian.
Museum Geologi sebagai sarana informasi
ilmiah dan ilmiah populer yang menjembatani
antara kurikulum sekolah dan perkembangan
ilmu pengetahuan khususnya mengenai ilmu
kebumian pada saat ini semakin terasa dibutuhkan
keberadaannya oleh masyarakat khususnya oleh
kalangan pelajar baik itu di tingkat Sekolah Dasar
(SD), SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi. Hal ini
terbukti dengan meningkatnya jumlah kunjungan
yang tajam bahkan pada hari Rabu (19 Maret
2008) jumlah pengunjung mencapai 5.347 orang
dalam waktu 8 jam. Hal tersebut diakibatkan
oleh meningkatnya animo masyarakat terutama
kalangan pelajar untuk memenuhi keingintahuan
tentang ilmu kebumian, khususnya geologi, serta
warisan geologi.

Melalui tema “Mengenal Alam dan Lingkungan
Melalui Museum Geologi” dapat lebih menyadar-
kan dan lebih mensosialisasikan mengenai bumi
dan lingkungan Indonesia kepada masyarakat
serta diharapkan agar masyarakat dapat lebih me-
mahami dan menjaga lingkungannya di mana kita
tinggal. Tujuan dari dilaksanakannya rangkaian
kegiatan memperingati hari jadi Museum ke-79
ini adalah “Mengenang dan meningkatkan peran
Museum Geologi dalam pelayanan publik untuk
mendukung progam mencerdaskan bangsa”.
Kegiatan dalam rangka memperingati 79 tahun
hari jadi Museum Geologi Bandung dilaksanakan
selama 10 hari dari tanggal 2 – 11 Juni 2008
dengan rangkaian kegiatan sebagai berikut:
1. Talkshow Radio (30 Mei 2008)
2. Pembukaan Rangkaian Kegiatan (2 Juni 2008)
3. Pameran hasil kegiatan (2 – 11 Juni 2008)
4. Ceramah Umum (4 Juni 2008)
5. Ekskursi (5 Juni 2008)
6. Puncak acara Malam Keakraban Karyawan
Museum Geologi (7 Juni 2008)
1.Talkshow di radio Ninetyniners (100 Fm,
Bandung)
Talkshow di radio ini dilaksanakan dalam rangka
sosialisasi museum geologi, kegiatan rangkaian
ulang tahun museum geologi ke-79, serta
penyuluhan terhadap warga Bandung tentang
alam dan lingkungan geologi Cekungan Bandung.
Talkshow tersebut dilaksanakan pada hari Jumat
tanggal 30 Mei 2008 pukul 16.30 bertempat di
Studio Ninetyniners Gedung BRI Tower Lantai 14
Jalan Asia Afrika Bandung.
Dalam talkshow tersebut dibuat kuis untuk
mengetahui seberapa besar animo masyarakat
terutama kalangan pelajar tentang Museum
Geologi khususnya dalam hal pengenalan alam
dan lingkungan Cekungan Bandung. Kuis tersebut
dilakukan dengan memberikan 5 pertanyaan
kepada penelepon dengan hadiah diikutsertakan
dalam acara ekskursi (Field Trip) ke Gua Pawon
dan The Peak.
Dari kegiatan ini, panitia dapat menyimpulkan
bahwa sebenarnya animo masyarakat khususnya
kalangan pelajar memiliki antusias yang tinggi
terhadap museum geologi sebagai jendela
informasi kebumian, hanya mereka tidak memiliki
cukup informasi tentang museum geologi dalam
hal pelayanan dan informasi secara global tentang
apa saja yang terdapat di Museum Geologi.
Hal ini dapat dikatakan pula bahwa persepsi
masyarakat umum dan pelajar tentang museum
masih berupa tempat penyimpanan benda kuno.
Hal ini merupakan suatu tantangan dan peluang
bagi museum geologi untuk lebih meningkatkan
jati dirinya sebagai Jendela Informasi Kebumian di
masa yang akan datang.
Pembukaan dilaksanakan oleh Kepala Pusat
Survei Geologi yang didampingi oleh Kepala
Museum Geologi pada hari Senin tanggal 2
Juni 2008 bertempat di Ruang Utama Museum
Geologi. Acara ini diikuti oleh Guru Geografi Se-
Kota Bandung sebanyak 20 orang, murid terbaik
di sekolah-sekolah pilihan di Kota Bandung
sebanyak 35 orang, serta seluruh karyawan
museum geologi.
Pembukaan secara simbolis dilaksanakan dengan
pemotongan tumpeng oleh Kepala Pusat Survei
Geologi dan Kepala Museum yang diberikan
kepada wakil guru sebagai simbol transfer ilmu
yang diberikan oleh Museum Geologi kepada
masyarakat pendidik yang diharapkan dapat
ditindaklajuti kepada anak didik di sekolah
masing-masing. Pembukaan dilakukan pula
dengan pelepasan balon merah putih yang
dilakukan secara bersama oleh Kepala Pusat
2. Pembukaan rangkaian kegiatan memper-
ingati 79 tahun hari jadi Museum Geologi.
SepuLur GeoIogI
;q W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
Survei Geologi dengan perwakilan murid sebagai
simbol persatuan dan kerjasama yang erat antara
Museum Geologi dan Pelajar dalam hal mencari
ilmu setinggi-tingginya untuk kemajuan bangsa
dan Negara.
Dalam pembukaan dilaksanakan juga Ceramah
Umum (Public Lecture) dengan pembicara
Drs. T. Bachtiar, M.Si tentang Danau Bandung
Purba. Jumlah peserta yang mengikuti Ceramah
Umum (Public Lecture) ini sebanyak 85 orang.
Suatu hal yang tidak diduga, bahwa dalam sesi
diskusi, guru dan khususnya pelajar sangat aktif
bertanya kepada narasumber tentang pemaparan
narasumber tersebut. Hal tersebut menunjukan
pula bahwa animo dari kalangan pelajar sangat
besar dalam mengetahui alam dan lingkungan
Bandung pada khususnya sebagai tempat mereka
tinggal. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan baik
dan benar oleh museum geologi sebagai jendela
informasi kebumian yang tepat bagi masyarakat.
3. Pameran (2 – 11 Mei 2008) di Ruang Ori
entasi
4. Museum Geologi.
Pameran diselenggarakan sejak tanggal 2
sampai 11 Juni 2008 di Hall Museum Geologi
yang menampilkan beberapa hasil penelitian
yang dilakukan oleh Museum Geologi berupa
kawasan kars, penemuan fosil Homo Floresienses
(Hobit), dll. Pameran ini juga diikuti oleh unit -
unit di lingkungan Badan Geologi dan instansi
terkait. Pameran ini terlihat penuh dipadati oleh
pengunjung setiap harinya, karena tempatnya
yang sangat strategis sehingga menarik
pengunjung untuk melihat pameran tersebut.
5. Ceramah Umum
Ceramah umum dilakukan pada tanggal 4 Juni
2008 di Auditorium Museum Geologi dengan
tema “Homo Florienses” yang merupakan hasil
penelitian kerjasama antara Pusat Survei Geologi
dengan University of Wolongong, Australia. Pada
acara ini, yang membuka ceramah umum adalah
Sekretaris Badan Geologi, Dr. Ir. Djadjang Sukarna.
Peserta ceramah umum adalah wartawan yang
tergabung dalam Forkom Wartawan Dept. ESDM
dan Karyawan Pusat Survei Geologi. Jumlah
peserta dalam kegiatan ini berjumlah 60 orang.
Dalam kegiatan ini, peserta tampak antusias sekali
dalam mendengarkan penjelasan dari pembicara
tentang penemuan fosil Homo Florienses (Hobit)
yang merupakan salah satu hasil penelitian yang
tak ternilai harganya yang dihasilkan oleh Badan
Geologi, Pusat Survei Geologi, Museum Geologi.
Setelah selesai mengikuti ceramah umum, para
peserta diperkenankan untuk meninjau pameran
dan mengunjungi seluruh ruang peragaan di
Museum Geologi.
Pelepasan Balon oleh Kepala Pusat Survei Geologi
Suasana peserta yang sangat fokus dalam mengikuti Ceramah Umum dari
Drs. T. Bachtiar,M.Si. Tampak keingintahuan yang sangat besar dari masyarakat
pendidikan akan Danau Bandung Purba.
Tampilan pameran yang diselenggarakan di Hall Museum Geologi.
Prof. Mike Morwood sedang memberikan ceramah umum kepada peserta, tampak penuh
semangat dan lugas dalam memberikan informasi yang selengkap-lengkapnya.

S e p u t a r G e o l o g i


Di akhir acara, seluruh peserta mengunjungi pameran dan ruang peraga di Museum
Geologi untuk mengetahui lebih dalam tentang peran serta dan informasi apa saja
yang terdapat di Museum Geologi, peserta dibantu oleh petugas senior dari
Museum Geologi.
Pembukaan dan pengarahan dari Kepala Museum Geologi dalam kegiatan Ekskursi.

6. Ekskursi dan penyuluhan (Public Lecture)
Ekskursi dan penyuluhan (Public Lecture)
diselenggarakan pada hari Kamis tanggal 5 Juni
2008. Kegiatan ini diikuti guru-guru geografi
tingkat SMP dan SMA se-Kota Bandung, siswa-
siswi SMA, serta masyarakat umum dengan tujuan
untuk melihat dan mengenal fenomena alam
dan sejarah kehidupan di Cekungan Bandung.
Jumlah peserta yang mengikuti kegiatan tersebut
sebanyak 60 orang dengan rincian sebagai
berikut:
•Guru SMP : 25 orang
•Guru SMA : 15 orang
•Siswa : 10 orang
•Masyarakat : 10 orang
Rute perjalanan dalam kegiatan Ekskursi dan
penyuluhan (Public Lecture) ini adalah Museum
Geologi – Stone Garden Padalarang – Gua pawon
– The Peak – Museum Geologi. Acara diawali
dengan pemutaran film sejarah Museum Geologi
dan pembukaan oleh Kepala Museum Geologi,
lalu dilanjutkan dengan pembekalan/penerangan
tentang Cekungan Bandung bertempat di
Auditorium Museum Geologi dengan Pembicara
Dr. Budi Brahmantyo (KRCB) dan Drs. Lutfi Yondri
(Balai Arkeologi Bandung). Pembekalan ini
dilakukan dengan maksud memberikan sekilas
gambaran umum kepada peserta tentang proses
geologi cekungan Bandung serta Kehidupan
zaman pra sejarah di Cekungan Bandung,
sebelum melihat secara langsung bukti-bukti
nyata di lapangan nanti.
Rombongan terlebih dahulu mengunjungi Stone
Garden untuk melihat bukti-bukti geologi yang
terdapat disana. Untuk memudahkan dalam
pemberian materi di lapangan, peserta dibagi
menjadi 3 kelompok. Kegiatan ekskursi di Stone
Garden berjalan dengan lancar dan para peserta
tampak tidak terlihat lelah di teriknya matahari
siang itu serta perjalanan yang melelahkan
namun rasa penasaran dan keingintahuan dari
peserta tentang temuan dan bukti-bukti proses
geologi Cekungan Bandung membuat peserta
bersemangat untuk mengikuti kegiatan tersebut.
Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi
Gua Pawon untuk melihat temuan Fosil Manusia
jaman Pra Sejarah di lokasi tersebut. Di dalam
Gua Pawon, peserta kembali dibagi menjadi 2
kelompok, disamping itu juga Kepala Museum
memberikan pemaparan sekilas tentang kegiatan
ekskursi, sejarah Gua Pawon, serta peran serta
Museum Geologi dalam pembangunan di
hadapan wartawan media cetak dan Elektronik.
Kegiatan ini diliput langsung oleh stasiun televisi
lokal yaitu Bandung TV sebagai bentuk kerjasama
antara Museum Geologi dan Bandung TV dalam
rangka mensosialisasikan penemuan geologi dan
arkeologi kepada warga Bandung khususnya
dengan harapan warga Bandung dapat lebih
mengenal alam dan lingkungannya dimana
mereka tinggal.
Perjalanan dilanjutkan dengan mengunjungi
Kawasan The Peak di Desa Karyawangi, Cihideung-
Lembang Kabupaten Bandung Barat. Perjalanan
ke sana memang cukup perlu perjuangan. Dari
dalam kota Bandung, menuju Jl. Setiabudhi ke arah
Lembang, setelah kampus Universitas Pendidikan
Indonesia (d/h IKIP Bandung), berbelok ke kiri
menuju Jl. Sersan Bajuri. Ikuti terus jalan yang
hanya mampu memuat dua buah mobil ini, dari
jalan raya memang agak jauh, hampir menempuh
jarak sepanjang 10 km. Lokasi The Peak berada di
puncak bukit dengan pemandangan seluruh sudut
kota Bandung, Lembang, Gunung Burangrang,
sampai Tangkuban Perahu.
SepuLur GeoIogI
;6 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
arkeologi Danau Bandung Purba. Para peserta
yang mendapatkan buku teersebut mengutarakan
kesan dan pesan selama mengikuti acara ekskursi
ini. Kebanyakan kesan dan pesannya adalah
sangat menikmati acara ini dan merupakan acara
yang sangat baik dengan harapan agar kegiatan
ini dapat dilakukan secara berkala karena manfaat
dari kegiatan ini sangat banyak dirasakan oleh
peserta dalam memperoleh ilmu kebumian untuk
ditransferkan lagi kepada anak didik di sekolah
masing-masing.
Acara dilanjutkan kembali dengan mendengarkan
paparan dari Dr. Budi Brahmantyo dibantu oleh
Drs. T. Bachtiar M.Si dan Kepala Museum Geologi
tentang pola terbentuknya Cekungan Bandung
dan bagaimana kondisi Danau Bandung Purba
dahulu. Peserta sangat menikmati keindahan
alam Cekungan Bandung di lokasi ini serta
pemaparan materi dari pembicara. Suasana yang
terjadi tampak sangat akrab sekali antara peserta,
pembicara, dan panitia ketika di akhir acara
dilakukan kuis/pertanyaan oleh para pembicara
dengan hadiah buku tentang geologi dan
Peserta sangat antusias dalam memperhatikan penjelasan dari pembimbing di tengah terik matahari dalam kegiatan ekskursi
di Stone Garden, Kompleks Gua pawon, Padalarang
Peyerahan hadiah buku kepada peserta bagi yang bisa menjawab pertan-
yaan dari pembicara membuat kemeriahan danj keakraban suasana antar
pantia dan peserta serta pemaparan kesan dan pesan dari peserta men-
genai kegiatan yang dilaksanakan tersebut sebagai bahan masukan bagi
Museum Geologi untuk masa yang akan datang.
Rombongan Forkom Wartawan Dept. Energi Sumber Daya Mineral dalam ekskursi di Stone Garden Padalarang,
kelompok ini di bimbing langsung oleh Kepala Museum Geologi.
S e p u t a r G e o l o g i
;;
Di akhir kegiatan, acara ditutup dengan
pengarahan oleh Kepala Museum Geologi
serta foto bersama antara peserta, panitia,
dan pembicara. Lalu peserta kembali menuju
bis masing-masing untuk kembali ke Museum
Geologi untuk mengambil sertifikat yang telah
disediakan oleh panitia. Kegiatan ini sangat baik
karena merupakan sumbangsih transfer ilmu dari
Museum Geologi kepada masyarakat pendidikan
khususnya dan masyarakat umum di Kota
Bandung.
7. Malam Keakraban Karyawan Museum
Geologi
Sebagai puncak acara dari rangkaian kegiatan
dalam memperingati ulang tahun Museum
Geologi ke-79 ini, diselenggarakan malam
keakraban karyawan Museum Geologi yang
dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 7 Juni
2008 dengan kegiatan kesenian anak serta
perpisahan dan penghargaan pada karyawan
yang menjelang dan/atau sudah pensiun. Peserta
terdiri dari seluruh karyawan beserta keluarga di
Museum Geologi.
Malam keakraban karyawan Museum Geologi
dihadiri oleh Kepala Badan Geologi, para
pejabat eselon 2 di lingkungan Badan Geologi,
para pejabat eselon 3 di lingkungan Pusat
Survei Geologi, dan seluruh karyawan Museum
Geologi beserta keluarga. Acara dibuka dengan
pemutaran film Sejarah Museum Geologi sebagai
pandangan balik para tamu undangan untuk
menyegarkan kembali ingatan akan sejarah
museum geologi yang penuh dengan perjuangan
dan pengorbanan hingga masih berdirinya saat
ini.
Malam keakraban karyawan Museum Geologi
dibuka secara langsung oleh Kepala Badan
Geologi setelah mendengarkan laporan rangkaian
kegiatan Ulang Tahun Museum Geologi ke-79
Pemutaran flm Sejarah Museum Geologi Pemberian cindera mata kepada pensiunan karyawan Museum
Geologi
oleh Kepala Museum Geologi serta menyaksikan
film sekilas rangkaian kegiatan yang telah
dilaksanakan.
Kegiatan dilanjutkan dengan penayangan film
profile pelepasan pension dan pemberian cindera
mata kepada 4 orang pensiunan karyawan
Museum Geologi sebagai bentuk penghargaan
akan jasa-jasa yang telah diberikan kepada
museum dan sebagai tanda ikatan tali silaturahmi
yang erat dari karyawan Museum Geologi kepada
mereka yang sudah selesai masa baktinya.
Karyawan tersebut adalah: Priharjo Sanyoto, B.Sc;
Sahat L. Tobing, M.Phil (Alm); Ir. Tatty Suwarti
(Alm); Ngaliman.
Penyerahan dilaksanakan langsung oleh Kepala
Badan Geologi didampingi oleh Kepala Museum
dan diikuti oleh seluruh para pejabat eselon 2
di lingkungan Badan Geologi. Acara dilanjutkan
dengan santap makan malam besama secara
parasmanan diiringi kecapi suling, lalu seluruh
peserta dihibur dengan kesenian sunda berupa
tari-tarian dan bobodoran dari Dinding Pusaka
Arum, Ujung Berung, Bandung. Setelah para
karyawan beramah tamah sambil diiringi oleh
kesenian sunda, acara malam keakraban karyawan
Museum Geologi ditutup dengan doa.
Penutup
Dengan diselenggarakannya rangkaian kegiatan
tersebut diharapkan UPT Museum Geologi dapat
meningkatkan mutu dan kualitasnya dalam
menjalankan tugas dan fungsinya terutama
dalam rangka mengembangkan ilmu kebumian
serta sebagai pusat informasi yang menjembatani
antara para peneliti dan masyarakat luas tentang
perkembangan ilmu kebumian di Indonesia.n
(Ivan S. Suwardi dan Yunus Kusumahbrata)
SepuLur GeoIogI
;8 W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
L a y a n a n G e o l o g i
P
eran yang sangat berharga dan penyediaan
berbagai gagasan segar ini barangkali
adalah merupakan suatu pelayanan terhebat
kepada warga masyarakat yang diberikan oleh
perpustakaan, yang tidak dapat dipenuhi oleh
institusi jenis lainnya. Melalui perpustakaan,
warga masyarakat dapat memberdayakan diri
mereka sendiri dengan memperoleh berbagai
infomasi yang sesuai dengan kebutuhan profesi
dan bidang tugas masing-masing; yang pada
akhirnya bermuara pada tumbuhnya warga
masyarakat yang terinformasi dengan baik,
berkualitas dan demokratis.
UNESCO di dalam Public Library Manifesto-
nya pada tahun 1994 menyebutkan bahwa
perpustakaan umum merupakan gerbang
pengetahuan lokal yang menyediakan suatu
kondisi dasar untuk belajar sepanjang hayat,
pengambilan keputusan independen dan
pengembangan budaya baik perorangan maupun
kelompok masyarakat. Bagaimanakah di negara
kita? Apakah peran seperti itu telah berjalan dan
berkelanjutan?
Mungkin kita sependapat bahwa perpustakaan
umum di negara kita, terutama yang terdapat
di sejumlah kota besar pada dasarnya belum
memperlihatkan perkembangan yang memuaskan.
Hal hal tersebut mudah diidentifikasi, berdasarkan
fakta/kegiatan yang menunjukkan bahwa banyak
warga masyarakat yang tidak pernah meluangkan
sebagian waktunya untuk pergi ke perpustakaan.
Bahkan banyak di antara mereka tidak mengetahui
dimana letak atau lokasi perpustakaan umum di
kota mereka.
PERPUSTAKAAN
GEOLOGI
Lahirnya perpustakaan di masyarakat seiring dengan lahirnya sejarah peradaban manusia, menurut sejarah
perpustakaan, dimulai sekitar tahun 400-an. Sudah sangat lama bukan? Perpustakaan umum memainkan
peranan yang unik di dalam masyarakat. Sebagai suatu institusi netral, perpustakaan menyediakan sekaligus
infomasi dan perbedaan pandangan di suatu tempat dimana warga masyarakat dapat mengetahuinya tanpa
paksaan tentang berbagai isu mutakhir yang menjadi perhatian mereka.
;q
Dengan perkataan lain, mungkin perpustakaan
umum belum berhasil menarik minat warga
masyarakat untuk mengunjunginya. Keadaan ini
terutama disebabkan oleh lemahnya pengelolaan
perpustakaan umum, karena para pengelola
perpustakaan tidak memiliki perencanaan yang
bersifat strategis dan tidak berupaya secara
maksimal mengangkat berbagai isu strategis
yang berkaitan dengan pelayanan perpustakaan
umum ke permukaaan. Akibatnya tidak mendapat
perhatian publik dan para pengambil keputusan
di tingkat lembaga induknya.
Pencanangan “Pemberdayaan Perpustakaan
Daerah di Masyarakat” oleh Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono yang bertepatan dengan
Hari Ulang Tahun Perpustakaan Nasional RI ke-
26 di Jakarta telah menorehkan sejarah bagi
dunia perpustakaan, dokumentasi, dan informasi
di Indonesia, setelah sebelumnya tanggal 14
September 1995 dicanangkan “Hari Kunjung
Perpustakaan” dan tanggal 12 November 2002
sebagai “Hari Membaca Nasional”. Rangkaian
hari bersejarah tersebut menjadi tolok ukur dan
indikasi keseriusan pemerintah dalam upaya
pemberdayaan perpustakaan dan budaya minat
baca masyarakat.
Selanjutnya, apa yang harus dan bisa dilakukan
oleh pustakawan pada lembaga unit kerja
perpustakaan? Pertanyaan tersebut semestinya
dapat mendorong pustakawan untuk segera
memberikan jawaban bagi terberdayakannya
perpustakaan dan terbudayakannya minat
membaca masyarakat. Hal tersebut merupakan
tugas dan tanggung jawab pustakawan.
Megahnya gedung perpustakaan tidak akan
berarti apabila tidak dikelola dengan baik oleh
para pustakawan. Pendek kata, pustakawan
menjadi garda terdepan dalam mewujudkan
budaya baca masyarakat, tentunya melalui
pemberdayaan pengelolaan perpustakaan.
Upaya memberdayakan perpustakaan dan
membangun budaya baca memang tidaklah
mudah karena banyak komponen yang harus
disediakan serta banyak pula pihak yang harus
dilibatkan. Pokok permasalahannya adalah
bahwa perpustakaan yang merupakan lembaga
unit kerja dan tempat upaya pengembangan
serta pemberdayaan masih bergantung
pada kebijakan. Sampai saat ini kebijakan
pemberdayaan perpustakaan belum memiliki
standar dan parameter yang jelas. Hal tersebut
menjadi salah satu kendala dalam mencapai
tujuan akhir pemberdayaan perpustakaan yaitu
mewujudkan budaya baca masyarakat.
Bagaimana dengan Perpustakaan Geologi?
Perpustakaan Geologi berada di bawah unit Pusat
Survei Geologi (PSG) merupakan perpustakaan
tertua di Indonesia yang menyimpan data dan
informasi geologi. Sejarah Perpustakaan geologi
yang sekarang terletak di jalan Diponegoro no.
57 Bandung, tidak dapat dipisahkan dengan
sejarah Museum Geologi. Meskipun tanggal
berdirinya perpustakaan geologi tidak diketahui
secara pasti namun keberadaannya telah dimulai
mengiringi berdirinya “Diens van het Mijnwezen”
pada tahun 1850. Pada awalnya perpustakaan
geologi berfungsi sebagai tempat penyimpanan
hasil laporan penyelidikan geologi, eksplorasi,
dan buku-buku yang dibawa oleh ahli geologi
Belanda.
Diawali sebagai tempat penyimpanan hasil laporan
penyelidikan geologi, eksplorasi, dan buku-
buku ahli geologi Belanda tersebut, kemudian
¡uyunun GeoIogI
8o W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
berkembang sebagai tempat arsip dan koleksi data
geologi. Oleh karena itu, diperpustakaan geologi
tersimpan berbagai dokumen dan publikasi
penting tentang geologi wilayah Indonesia dan
dokumentasi perkembangan ilmu kebumian.
Pada zaman Belanda, koleksi perpustakaan
geologi berkembang sangat cepat. Yang diawali
dengan diterbitkannya berbagai publikasi
ilmiah baik secara berkala ataupun tidak. Hasil
penyelidikan geologi di Indonesia yang dilakukan
oleh pemerintah Kolonial Belanda hingga tahun
1942 diarsipkan secara teratur dan sistematik di
perpustakaan geologi.
Pada zaman pendudukan Jepang dan periode
perjuangan kemerdekaan, penambahan koleksi
perpustakaan geologi hampir tidak bertambah.
Namun mulai tahun 1969, sejalan dengan
dimulainya periode pembangunan yang
terencana dan berkesinambungan, perpustakaan
geologi kembali mulai berkembang dengan
pesat. Kerjasama dengan berbagai perpustakaan
baik di dalam maupun di luar negeri juga dirintis,
sehingga keberadaan perpustakaan tersebut
menjadi bagian dari jaringan perpustakaan
nasional dan internasional. Perpustakaan geologi
telah direnovasi dan sampai saat ini sekitar
46.050 judul publikasi telah dimiliki perpustakaan
dengan kondisi yang baik.
Seiring dengan perkembangan jaman, saat ini
perpustakaan geologi sudah memiliki kondisi yang
jauh lebih baik dari sisi pelayanan, perlengkapan,
serta koleksi buku yang lengkap (+ 46.050 judul).
Perpustakaan Geologi saat ini dikelola langsung
oleh Sub. Bidang penyediaan informasi publik,
Bidang Informasi, Pusat Survei Geologi. Melalui
sub-bidang ini lah penataan dan penambahan
koleksi buku-buku kebumian berusaha
ditingkatkan guna memberikan pelayanan yang
maksimal kepada masyarakat yang datang ke
perpustakaan geologi.

Perpustakaan geologi memiliki koleksi berbagai
buku dan laporan geologi, peta, jurnal, bulletin
dan majalah yang terkait sejak tahun 1800-
an. Koleksi publikasi Pusat Survei Geologi
yang terdapat di perpustakaan dapat dilihat
oleh publik secara bebas diantaranya: Jurnal
Sumber Daya Geologi, Buletin, Publiksi khusus
Seri Paleontologi, dan Seri Geofisika, juga peta
geologi, peta Anomali Bouguer, peta Geologi
Kuarter, peta Seismotektonik, peta Geomorfologi
dengan skala 1 : 1.000.000; 1 : 250.000 (untuk
seluruh Indonesia) dan 1 : 100.000 untuk pulau
Jawa. Selain itu, terdapat pula koleksi buku/
informasi yang langka dan hanya terdapat di
Perpustakaan geologi diantaranya adalah Album
Krakatau oleh R.D.M. Verbeek terbitan tahun
1883 dan “Junghuhn Jawa Album”.
Dalam rangka meningkatkan pelayanan yang
maksimal kepada masyarakat, Perpustakaan
geologi telah menambah koleksi buku-buku/
data baik dari dalam maupun dari luar negeri
yang dapat dipublikasikan untuk pengembangan
ilmu kebumian pada khususnya. Disamping itu,
untuk meningkatkan jangkauan pelayanan publik
yang lokasinya jauh dari Bandung, perpustakaan
geologi telah membuka counter di UPT
L a y a n a n G e o l o g i
81
Perpustakaan UPN “Veteran” Jogjakarta untuk
melayani masyarakat yang membutuhkan data
dan informasi kebumian yang berada di daerah
Jawa Tengah dan Jawa timur.
Disamping menyediakan pelayanan jasa informasi,
perpustakaan geologi pun memiliki kegiatan
pendukung berupa pengadaan peta-peta
(hardcopy) dan literature/pustaka berupa jurnal/
buletin terbaru dari berbagai sumber (dalam dan
luar negeri). Pengadaan peta-peta (hardcopy)
yang dapat dilayani oleh perpustakaan geologi
diantaranya meliputi peta geologi, geomorfologi,
geofisika, kuarter, seismotektonik, peta rupa
bumi (topografi) Jantop & AMS dengan beraneka
skala.

Perpustakaan geologi banyak dikunjungi oleh para
pelajar dan mahasiswa, professional, perusahaan
swasta, bahkan dari para sejarahwan. Persentasi
pengunjung perpustakaan geologi terdiri dari
mahasiswa (75 %), professional dan perusahaan
swasta (20 %), serta sejarahwan dan masyarakat
umum (5 %).
Mengingat besarnya animo masyarakat tersebut
maka pengurus perpustakaan Geologi perlu terus
berbenah guna mendukung upaya pembinaan
minat baca. Pembenahan ini mencakup perbaikan
kualitas koleksi, sarana layanan serta SDM
perpustakaan. Koleksi perpustakaan baik dari
segi kuantitas maupun kemuktahiran perlu terus
ditingkatkan. Sarana perpustakaan juga perlu
dilengkapi sehingga dapat meningkatkan rasa
nyaman pengguna perpustakaan. Peningkatan
kualitas SDM diperlukan agar perpustakaan
dikelola oleh individu yang profesional
dibidangnya sehingga mampu berkreasi dalam
pengembangan perpustakaan dan pembinaan
minat baca masyarakat.

Craeford dan Gorman seperti dikutip oleh Awcock,
mengemukakan beberapa prinsip atau asas
baru untuk perpustakaan (seperti yang pernah
dibuat oleh Ranganathan pada tahun 1930an),
yaitu: (1) Perpustakaan melayani seluruh Umat
manusia; (2) Hargai semua bentuk pengetahuan
dikomunikasikan; (3) Gunakan teknologi secara
tepat untuk meningkatkan pelayanan; (4)
Lindungi akses bebas terhadap pengetahuan; dan
(5) Hormati masa lalu dan ciptakan masa depan.

Berdasarkan hal tersebut diatas, pengurus
perpustakaan geologi membuat langkah-langkah
pembenahan diri untuk meningkatkan kualitas
pelayanan perpustakaan serta untuk memenuhi
permintaan (demand), yang diantaranya:
1. Direncanakan membuat internet public library
(Internet PSG library) sehingga para pengguna
jasa perpustakaan dapat mengakses referensi
dengan bebas (any where & any time).
2. Penyusunan katalog di ruang baca dengan
sistem komputerisasi yang up to date.
Untuk mewujudkan perpustakaan yang senantiasa
menjaga kemuktahir koleksi dan kenyamanan
pengunjung, memang bukanlah pekerjaan
mudah dan murah. Untuk itu perlu dukungan
seluruh pihak khususnya peneliti yaitu berupa
tulisan ilmiah hasil penelitian. Adanya dukungan
seluruh pihak maka perpustakaan geologi akan
mampu berperan maksimal dalam mendukung
pengembangan dan peningkatan ilmu kebumian
(geologi khususnya) di tanah air tercinta.n
(Ivan S. Suwardi dan Kusdji D. Kusumah)
8z W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8
KOL E KS I L A NGKA
KR A KAT AU
R . D. M. V E R B E E K
1 8 8 3

G e o f o t o
Wisata ke Gua Pawon
8q W u r L u G e o I o g I . J u n I z o o 8

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->