Patofisiologi dan Penatalaksanaan Syok Anafilaktik

Pendahuluan. Reaksi anafilaksis merupakan sindrom klinis akibat reaksi imunologis (reaksi alergi) yang bersifat sistemik, cepat dan hebat yang dapat menyebabkan gangguan respirasi, sirkulasi, pencernaan dan kulit. Jika reaksi tersebut cukup hebat sehingga menimbulkan syok disebut sebagai syok anafilaktik yang dapat berakibat fatal. Oleh karena itu syok anafilaktik adalah suatu tragedi dalam dunia kedokteran, yang membutuhkan pertolongan cepat dan tepat. Tanpa pertolongan yang cepat dan tepat, keadaan ini dapat menimbulkan malapetaka yang berakibat ganda. Disatu pihak penderita dapat meninggal seketika, dilain pihak dokternya dapat dikenai sanksi hukum yang digolongkan sebagai kelalaian atau malpratice. Test kulit yang merupakan salah satu upaya guna menghindari kejadian ini tidak dapat diandalkan, sebab ternyata dengan test kulit yang negatif tidak menjamin 100 % untuk tidak timbulnya reaksi anafilaktik dengan pemberian dosis penuh. Selain itu, test kulit sendiri dapat menimbulkan syok anafilaktik pada penderita yang amat sensitif. Olehnya itu upaya menghindari timbulnya syok anafilaktik ini hampir tertutup bagi profesi dokter yang selalu berhadapan dengan suntikan. Satu-satunya jalan yang dapat menolong kita dari malapetaka ini bukan menghindari penyuntikan, karena itu merupakan senjata ampuh buat kita, tapi bagaimana kita memberi pertolongan secara lege-artis bila kejadian itu menimpa kita. Untuk itu diperlukan pengetahuan serta keterampilan dalam pengelolaan syok anafilaktik. Makalah ini akan memberi petunjuk sederhana tentang usahausaha yang harus dilakukan dalam mengelola syok anafilaktik. Insidens Insidens syok anafilaktik 40 – 60 persen adalah akibat gigitan serangga, 20-40 persen akibat zat kontras radiografi, dan 10 – 20 persen akibat pemberian obat penicillin. Sangat kurang data yang akurat dalam insiden dan prevalensi terjadinya syok anafilaktik. Anafilaksis yang fatal hanya kira-kira 4 kasus kematian dari 10 juta masyarakat pertahun. Di Amerika Serikat insisidens reaksi alergi dan anafilaksis yang dicatat dari bagian gawat darurat rumah sakit didapatkan bahwa 0,5persen (5 per 1000) dan 0,02 persen (2 per 10.000) kejadian. Sebagian besar kasus yang serius anafilaktik adalah akibat pemberian antibiotik seperti penicillin dan bahan zat radiologis. Penicillin merupakan penyebab kematian 100 dari 500 kematian akibat reaksi anafilaksis. Secara umum insidens reaksi anafilakis 0,01 % eksposue di Amerika. Gigitan serangga hymenoptera merupakan penyebab yang terbanyak dari syok anafilaktik.(1) Patofisiologi Reaksi anafilaksis timbul bila sebelumnya telah terbentuk IgE spesifik terhadap alergen tertentu. Alergen yang masuk kedalam tubuh lewat kulit, mukosa, sistem pernafasan maupun makanan, terpapar pada sel plasma dan menyebabkan pembentukan IgE spesifik terhadap alergen tertentu. IgE spesifik ini kemudian terikat pada reseptor permukaan mastosit dan basofil. Pada paparan berikutnya, alergen akan terikat pada Ige spesifik dan memicu terjadinya reaksi antigen antibodi yang menyebabkan terlepasnya mediator yakni antara lain histamin dari granula yang terdapat dalam sel. Ikatan antigen antibodi ini juga memicu sintesis SRS-A ( Slow reacting substance of Anaphylaxis ) dan degradasi dari asam arachidonik pada membrane sel, yang menghasilkan leukotrine dan prostaglandin. Reaksi ini segera mencapai puncaknya setelah 15 menit. Efek histamin, leukotrine (SRS-A) dan prostaglandin pada pembuluh darah maupun otot polos

spasme bronkus dan spasme pembuluh darah koroner sedangkan stimulasi reseptor H2 menyebabkan dilatasi bronkus dan peningkatan mukus dijalan nafas.6. Pelepasan mediator biokimiawi dari mastosit melewati mekanisme nonimunologik ini belum seluruhnya dapat diterangkan. sebaliknya obat-obat yang dapat meningkatkan cGMP (misalnya obat cholinergik) dapat memperburuk keadaan karena dapat merangsang terlepasnya mediator.(4.4) Reaksi Anafilaktoid Reaksi anafilaktoid adalah reaksi yang menyebabkan timbulnya gejala dan keluhan yang sama dengan reaksi anafilaksis tetapi tanpa adanya mekanisme ikatan antigen antibodi.3.(2. tubocurarine. opiate. (2. Kedua gangguan tersebut dapat timbul bersamaan atau berurutan yang kronologisnya sangat bervariasi dari beberapa detik sampai beberapa jam.7) Sistem pernafasan Gangguan respirasi dapat dimulai berupa bersin.3) Aktivasi mastosit dan basofil menyebabkan juga respon bifasik dari cAMP intraselluler.eosinofil dan trombosit. Pada tahap selanjutnya mediator-mediator ini menyebabkan pula rangkaian reaksi maupun sekresi mediator sekunder dari netrofil. Obat-obatan yang mencegah penurunan cAMP intraselluler ternyata dapat menghilangkan gejala anafilaksis. Stimulasi reseptor H1 menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah. Selain itu aspirin maupun NSAID lainnya juga sering menimbulkan reaksi anafilaktoid yang diduga sebagai akibat terhambatnya enzim siklooksgenase. Pada dasarnya makin cepat reaksi timbul makin berat keadaan penderita. Rasio H1 – H2 pada jaringan menentukan efek akhirnya. Terjadi kenaikan cAMP kemudian penurunan drastis sejalan dengan pelepasan mediator dan granula kedalam cairan ekstraselluler. hidung tersumbat atau batuk saja yang .bronkus menyebabkan timbulnya gejala pernafasan dan syok. Manifestasi klinik Walaupun gambaran atau gejala klinik suatu reaksi anafilakis berbeda-beda gradasinya sesuai berat ringannya reaksi antigen-antibodi atau tingkat sensitivitas seseorang. namun pada tingkat yang berat barupa syok anafilaktik gejala yang menonjol adalah gangguan sirkulasi dan gangguan respirasi. (2) Efek biologis histamin terutama melalui reseptor H1 dan H2 yang berada pada permukaan saluran sirkulasi dan respirasi.5. dextran maupun mannitol.mediator primer dan sekunder menimbulkan berbagai perubahan patologis pada vaskuler dan hemostasis. Zat-zat yang sering menimbulkan reaksi anafilaktoid adalah kontras radiografi (idionated). Obat-obatan ini antara lain adalah katekolamin (meningktakan sintesis cAMP) dan methyl xanthine misalnya aminofilin (menghambat degradasi cAMP). Sebaliknya penurunan cGMP justru menghambat pelepasan mediator.

tiap gangguan sirkulasi pada gilirannya menimbulkan gangguan respirasi. pertama akibat terjadinya vasodilatasi pembuluh darah perifer dan kedua akibat meningkatnya permeabilitas dinding kapiler sehingga selain resistensi pembuluh darah menurun. Walaupun gejala ini tidak mematikan namun gejala ini amat penting untuk diperhatikan sebab ini mungkin merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala yang lebih berat berupa gangguan nafas dan gangguan sirkulasi. Gejala hipotensi merupakan gejala yang menonjol pada syok anafilaktik.mual. juga banyak cairan intravaskuler yang keluar keruang interstitiel (terjadi hipovolume relatif). atau pruritus harus diwaspadai untuk kemungkinan timbulnya gejala yang lebih berat. Hipotensi terjadi sebagai akibat dari dua faktor. demikian pula sebaliknya.muntah sampai diare merupakan manifestasi dari gangguan gastrointestinal yang juga dapat merupakan gejala prodromal untuk timbulnya gejala gangguan nafas dan sirkulasi. artinya terjadi gangguan sirkulasi tanpa didahului oleh gangguan respirasi. Gangguan gastrointestinal Perut kram. Gangguan kulit. Kedua gejala terakhir ini menyebabkan penderita nampak dispnue sampai hipoksia yang pada gilirannya menimbulkan gangguan sirkulasi. Merupakan gejala klinik yang paling sering ditemukan pada reaksi anafilaktik.kemudian segera diikuti dengan udema laring dan bronkospasme. Sistem sirkulasi Biasanya gangguan sirkulasi merupakan efek sekunder dari gangguan respirasi. Oleh karena itu setiap gangguan kulit berupa urtikaria. eritema.harus diantisipasi untuk dapat berkembang kearah yang lebih berat. Umumnya gangguan respirasi berupa udema laring dan bronkospasme merupakan pembunuh utama pada syok anafilaktik.Gejala hipotensi ini dapat terjadi dengan drastis sehingga tanpa pertolongan yang cepat segera dapat berkembang menjadi gagal sirkulasi atau henti jantung. tapi bisa juga berdiri sendiri. Skema perubahan patofisiologi pada syok anafilaktik Skema perubahan patofisiologi pada syok anafilaktik . Dengan kata lain setiap keluhan kecil yang timbul sesaat sesudah penyuntikan obat.

Titik tangkap terapi berdasarkan perubahan patofisiologi .Pengelolaan Anafilaksis dan syok Anafilaksis Secara umum terapi anafilaksis bertujuan : 1. Mengembalikan fungsi organ dari perubahan patofisiologik akibat efek mediator. Mencegah efek mediator   Menghambat sintesis dan pelepasan mediator Blokade reseptor 2.

3. diberikan perlahan-lahan.8. sehingga absorbsi obat tidak terjadi.Penanganan syok anafilaktik I. Jika respon pemberian secara intramuskuler kurang efektif. Merupakan pilihan kedua setelah adrenalin. Pemberian subkutan.Adrenalin merupakan drug of choice dari syok anafilaktik. Dosis ulangan umumnya diperlukan. Dosis dan cara pemberiannya.5 ml adrenalin dari larutan 1 : 1000 diberikan secara intramuskuler yang dapat diulangi 5 – 10 menit. melalui peningkatan produksi cyclic AMP sehingga produksi dan pelepasan chemical mediator dapat berkurang atau berhenti. 1. sebab keduanya hanya mampu menetralkan chemical mediators yang lepas dan . sebaiknya dihindari pada syok anafilaktik karena efeknya lambat bahkan mungkin tidak ada akibat vasokonstriksi pada kulit. sehingga penderita dengan cepat terhindar dari hipoksia yang merupakan pembunuh utama. mengingat lama kerja adrenalin cukup singkat.2 ml adrenalin dilarutkan dalam spoit 10 ml dengan NaCl fisiologis.9) Prognosis suatu syok anafilaktik amat tergantung dari kecepatan diagnose dan pengelolaannya.3 – 0. Adrenalin merupakan vasokonstriktor pembuluh darah dan inotropik yang kuat sehingga tekanan darah dengan cepat naik kembali.1 – 0. Adrenalin merupakan histamin bloker. Antihistamin dan kortikosteroid. 250 mg aminofilin diberikan perlahan-lahan selama 10 menit intravena. Terapi medikamentosa (7. Dapat dilanjutkan 250 mg lagi melalui drips infus bila dianggap perlu. Kedua obat tersebut kurang manfaatnya pada tingkat syok anafilaktik.Aminofilin Dapat diberikan dengan sangat hati-hati apabila bronkospasme belum hilang dengan pemberian adrenalin. 0. dapat diberi secara intravenous setelah 0. Hal ini disebabkan 3 faktor yaitu :    Adrenalin merupakan bronkodilator yang kuat . 2.

Pada keadaan yang amat ekstrim tindakan trakeostomi atau krikotiroidektomi perlu dipertimbangkan. Jika cairan tersebut tak tersedia.Penderita yang tergolong resiko tinggi (ada riwayat asma. Terapi supportif Terapi atau tindakan supportif sama pentingnya dengan terapi medikamentosa dan sebaiknya dilakukan secara bersamaan. Perangkat yang dibutuhkan :     Oksigen Posisi Trendelenburg (kursi) Infus set dan cairannya Resusitation kit Pencegahan 1. pemberian O2 3 – 5 ltr / menit harus dilakukan. rinitis.11. Dapat diberikan setelah gejala klinik mulai membaik guna mencegah komplikasi selanjutnya berupa serum sickness atau prolonged effect. Antihistamin yang biasa digunakan adalah difenhidramin HCl 5 – 20 mg IV dan untuk golongan kortikosteroid dapat digunakan deksametason 5 – 10 mg IV atau hidrocortison 100 – 250 mg IV. Jika semua usaha-usaha diatas telah dilakukan tapi tekanan darah masih tetap rendah maka pemasangan infus sebaiknya dilakukan. Pemberian Oksigen Jika laring atau bronkospasme menyebabkan hipoksi. penisillin. Cairan plasma expander (Dextran) merupakan pilihan utama guna dapat mengisi volume intravaskuler secepatnya. Posisi Trendelenburg Posisi trendeleburg atau berbaring dengan kedua tungkai diangkat (diganjal dengan kursi ) akan membantu menaikan venous return sehingga tekanan darah ikut meningkat. Obat obat yang dibutuhkan :     Adrenalin Aminofilin Antihistamin Kortikosteroid II. Resusitasi Kardio Pulmoner (RKP) Seandainya terjadi henti jantung (cardiac arrest) maka prosedur resusitasi kardiopulmoner segera harus dilakukan sesuai dengan falsafah ABC dan seterusnya. Mengingat kemungkinan terjadinya henti jantung pada suatu syok anafilaktik selalu ada. 2. Jangan mencoba menyuntikan obat yang . Ringer Laktat atau NaCl fisiologis dapat dipakai sebagai cairan pengganti. 3. eksim.12) 1. perangkat infus dan cairannya juga perangkat resusitasi(Resucitation kit ) untuk memudahkan tindakan secepatnya. atau penyakitpenyakit alergi lainnya) harus lebih diwaspadai lagi. 4.tidak menghentikan produksinya. maka sewajarnya ditiap ruang praktek seorang dokter tersedia selain obat-obat emergency.Pemasangan infus. anestesi lokal dll ) harus selalu waspada untuk timbulnya reaksi anfilaktik. (10. Pemberian cairan infus sebaiknya dipertahankan sampai tekanan darah kembali optimal dan stabil. Kewaspadaan Tiap penyuntikan apapun bentuknya terutama obat-obat yang telah dilaporkan bersifat antigen (serum.

maka paling tidak beban moril akan jauh lebih rendah dan terhindar dari tuntutan hukum. Referensi. 6.William C.pp246-56 . 3. Masalah hukum Walaupun test kulit tidak memberi jaminan 100 % namun demi kepentingan. emergency drug mutlak pada tempat-tempat dimana penyuntikan banyak dilakukan. 4. 2. Tersediakah obat-obatan perfection dan peralatan yang lengkap untuk melakukan RKP yang sempurna.Peter R. walaupun mekanismenya berbeda. selain itu hasilnyapun dapat diandalkan. test kulit sebaiknya dilakukan sebelum menyuntikan obat-obatan yang telah pernah dilaporkan sebagai obat yang dapat menimbulkan syok anafilaksis. Drug of choise dari syok anafilaktik adalah adrenalin. Early diagnosis dan early treatment secara lege-artis serta tersedianya obata-obatan beserta perangkat resusitasi lainnya merupakan modal utama guna mengelola syok anafilaktik yang mungkin tidak dapat dihindari dalam praktek dunia kodokteran. Sebagai pencegahan sebelum penyuntikan obat. Test kulit Test kulitmemang sebaiknya dilakukan secara rutin sebelum pemberian obat bagi penderita yang dicurigai. keterampilan dan peralatan.Shoemaker 4th edWB Saunders companyPhiladelpia-Tokyo. Test kulit senantiasa diperlukan. juga merupakan tindakan yang aman. Sebaiknya mengganti dengan preparat lain yang lebih aman. 3. 4. Reaksi anafilaksis atau anafilaktoid dapat memberi gejala yang sama. 1. Pemberian antihistamin dan kortikosteroid . Kesimpulan 1. Keterampilan RKP dan ketersediaan Resusitation kit.Stephen M. pada penggunaan obat-obat yang sangat dicurigai (untuk kepentingan aspek hukum). Eds : Ake Grenvvik. Pemberian antihistamin dan steroid pra-exposure dilaporkan sangat bermanfaat. 5.Fujii TK et al (2000) Anaphylactic Reactions.Seandainya test kulit negatif dan pada pemberian dosis pernah terjadi syok anafilaksis kemudian tak dapat tertolong maka pertanyaannya adalah : 1. HauptMT . Jika semuanya telah kita lakukan dengan sempurna. 2. Tindakan ini tak dapat diandalakan dan bukannya tanpa resiko tapi minimal kita dapat terlindung dari sanksi hukum. In :Text Book ofCritical care.Ayres. Disini dituntut tersedianya obat-obatan perfection dan peralatan yang lengkap untuk bertindak sesuai dengan standar profesi yang muktahir. Syok anafilaksis merupakan reaksi alergi yang tergolong emergency life-threatening.sama bila sebelumnya pernah ada riwayat alergi betapapun kecilnya. Pada penderita dengan resiko amat tinggi dapat dicoba dengan stracth test dengan kewaspadaan dan persiapan yang prima. Pengetahuan. Sudahkah kita melakukan tugas kita dengan baik yakni menggunakan standar profesi yang optimal ? Disini dituntut pengetahuan dan keterampilan dalam bertindak. 2.

D.Fakultas Kedoketran Universitas Airlangga Surabaya. Rehatta MN.Exam. D.P. Anesthesia and Analgesia 50 : 1.154 : 1978. : Systemic Anaphylaxix in Man JAMA. 10. Publ.1960. PhD.D. 9.R. Shepard. 12. 1971.: Allergic Reaction to Penicillin. 192 : 2 .(2000). In : Update on Shock. Anphylactic Drug Reaction JAMA 6 :1962. Allergic Energencies.Eds :Tintinalli.R and Arbor A. Koury SI.pp 242-6 3. Herfel LU . JAMA 191 : 3. K.5th ed pp.Husni Tanra. 8.Stapczynski 5th ed McGrraw-Hill New York-Toronto. 5.788-9 4. Sanders.Co. and Vandam. Anaphylactic Reaction Handbook of Medical Emergencies. 1964.Pertemuan Ilmiah Terpadu.J. Acute Hypersensitivity Reaction to Penicillin During general Anesthesia : Case Report. Petterson.A. (2000) Anaphylaxis and acute allergic reactions.Kellen.2 nd Ed. Martin (2000) In: Fundamentals Anatomy and Physiology. Et al.A.1965. SpAn.L. Van-Arsdel. In :International edition Emergency Medicine. Cook.P . The Journal of the American Medical Association 172 : 4. Syok anafilaktik patofisiologi dan penanganan.F. Kern R. Severe Anaphylactic Reaction to Thiopentone : Case report. Penulis : Prof dr A. KIC Bagian Anestesiologi dan Perawatan Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin-Makassar . Austen. Anaphylaxis Assiciated with the use of Dextran Anesthesiology 25: 2. TT. Med. 11. 1965. 7.British Medical Journal June 1966. 6. Currie.H.2.

Hasilnya anjing itu mendadak mati. Reaksi Anafilaktoid adalah suatu reaksi anafilaksis yang terjadi tanpa melibatkan antigen-antibodi kompleks. Pada kesempatan lain masuk alergen yang sama ke dalam tubuh. Patofisiologi Oleh Coomb dan Gell (1963). Fase Efektor Adalah waktu terjadinya respon yang kompleks (anafilaksis) sebagai efek mediator yang dilepas mastosit atau basofil dengan aktivitas farmakologik pada organ organ tertentu. kutan dan gastro intestinal yang merupakan reaksi imunologis yang didahului dengan terpaparnya alergen yang sebelumnya sudah tersensitisasi. saluran nafas atau saluran makan di tangkap oleh Makrofag.SYOK ANAFILAKTIK Posted on Januari 29. setelah beberapa lama diinjeksi ulang dengan ekstrak yang sama . respirasi. dimana ia akan mensekresikan sitokin (IL-4. Sel plasma memproduksi Immunoglobulin E (Ig E) spesifik untuk antigen tersebut. anafilaksis dikelompokkan dalam hipersensitivitas tipe 1 atau reaksi tipesegera (Immediate type reaction). mukosa. bradikinin dan beberapa bahan vasoaktif lain dari granula yang di sebut dengan istilah Preformed mediators. Ana = jauh dari dan phylaxis = perlindungan). 2009 by idmgarut Definisi Anaphylaxis (Yunani. dua ilmuwan Perancis yang bekerja di Mediterania menemukan phenomena yang sama dengan yang terjadi pada Pharao itu. Alergen yang sama tadi akan diikat oleh Ig E spesifik dan memicu terjadinya reaksi segera yaitu pelepasan mediator vasoaktif antara lain histamin. Anafilaksis adalah reaksi alergi umum dengan efek pada beberapa sistem organ terutama kardiovaskular. Makrofag segera mempresen-tasikan antigen tersebut kepada Limfosit T. Ikatan antigen-antibodi merangsang degradasi asam arakidonat dari membran sel yang akan menghasilkan Leukotrien (LT) dan Prostaglandin (PG) yang terjadi beberapa waktu setelah degranulasi yang disebut Newly formed mediators. Atas kerjanya ini. menginjeksi anjing dengan ekstrak anemon laut. Richet dianugerahi Nobel pada tahun 1913. Karena kemiripan gejala dan tanda biasanya diterapi sebagai anafilaksis. Mastosit dan Basofil melepaskan isinya yang berupa granula yang menimbulkan reaksi pada paparan ulang . Ig E ini kemudian terikat pada receptor permukaan sel Mast (Mastosit) dan basofil. IL-13) yang menginduksi Limfosit B berproliferasi menjadi sel Plasma (Plasmosit). Alergen yang masuk lewat kulit. Phenomena ini mereka sebut aldquo. Anaphylaxis”. . serotonin. Syok anafilaktik(= shock anafilactic ) adalah reaksi anafilaksis yang disertai hipotensi dengan atau tanpa penurunan kesadaran. Histamin memberikan efek bronkokonstriksi. Fase Aktivasi Yaitu waktu selama terjadinya pemaparan ulang dengan antigen yang sama. Mekanisme anafilaksis melalui beberapa fase : Fase Sensitisasi Yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan Ig E sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan mastosit dan basofil. Tahun 1902. Richet dan Portier. Sejarah Tahun 2641 SM. Anafilaksis berarti Menghilangkan perlindungan. seorang Pharao meninggal mendadak Raja Menes meninggal tidak seberapa lama setelah disengat tawon (wasp).

Parestesia. dan obstruksi komplit. cramp perut. gatal dikulit. ADS. bisa atau racun serangga dan alergen lain yang tidak bisa di golongkan. DIC Diagnosis Anamnesis Mendapatkan zat penyebab anafilaksis (injeksi. Streptomisin. Abdomen : Nyeri tekan. Lain-lain Lateks. trombositopenia. pallor dan kadang cyanosis Respirasi Bronkospasme. Karet. Nadi:Tachycardi. Phenitoin. Vaso-presin. stridor. edema periorbita. Lain-lain: Barbiturat. PTH. yaitu makanan. lemas. rhinitis. Aminopyrine.muntah sakit perut setelah terpapar sesuatu. Edema ekstremitas Pemeriksaan Tambahan Hematologi : Hitung sel meningkat Hemokonsentrasi. Allergen penyebab Anafilaksis Makanan Krustasea: Lobster. minum obat. terasa tercekik karena edema epiglotis. rhonki dan wheezing. Pusing. mual. SABU Ekstrak alergen untuk uji kulit Dextran Antibiotika: Penicillin. Tetrasiklin. trombositopenia eosinophilia naik/ normal / turun. Prostaglandin yang dihasilkan menyebabkan bronchokonstriksi. Jaket kuning. stridor. disfagia.Chymotripsin. Glikoprotein seminal fluid Gejala klinis Anafilaksis merupakan reaksi sistemik. Procain. suara hilang.meningkatkan permeabilitas kapiler yang nantinya menyebabkan edema. diare. angoedema. gejala yang timbul juga menyeluruh. suara parau sesak . Alergen Terr menyebutkan beberapa golongan alergen yang dapat menimbulkan reaksi anafilaksis. Fisik diagnostik Keadaan umum : baik sampai buruk Kesadaran Composmentis sampai Koma Tensi : Hipotensi. wheezing. conjunctivitis. aritmia dan hipoksia Gastrintestinal Mual. muntah. Agent diagnostik-kontras: Vitamin B1. Gejala permulaan: Sakit Kepala. obat-obatan. Acetil cystein . Semut api Tawon (Wasp). Codein. BU meningkat Ekstremitas : Urticaria. udang dan kepiting Moluska : kerang Ikan Kacang-kacangan dan biji-bijian Buah beri Putih telur Susu Obat Hormon : Insulin. Asam folat Agent anestesi: Lidocain. Amphotericin B. X foto : Hiperinflasi . urticaria. Platelet activating factor (PAF) berefek bronchospasme dan meningkatkan permeabilitas vaskuler. pusing. conjunctivitis. Ciprofloxacin. diaphoresis. agregasi dan aktivasi trombosit. ACTH. Penicillinase. lacrimasi. Relaxin Enzim : Tripsin. Cardiovaskular Hipotensi.sekarnafas. Gatal dan perasaan panas Sistem Organ Gejala Kulit Eritema. Beberapa faktor kemotaktik menarik eosinofil dan neutrofil. kabur pandangan. Protamine. edema paru dan batuk. Nitrofurantoin. Nafas : Kepala dan leher : cyanosis. As-paraginase Vaksin dan Darah Toxoid : ATS. nafas cepatdan pendek. sekresi mukus dan vasodilatasi. sincope. inkontinensia urin SSP. Serotonin meningkatkan permeabilitas vaskuler dan Bradikinin menyebabkan kontraksi otot polos. Morfin. Cephalosporin. serak. dispneu. Diazepam. makan sesuatu atau setelah test kulit ) Timbul biduran mendadak. demikian juga dengan Leukotrien. disengat hewan. rhinitis Thorax aritmia sampai arrest Pulmo Bronkospasme. konvulsi dan kom Sendi Arthralgia Haematologi darah. perioral. Asam salisilat dan HCT Bisa serangga Lebah Madu.

. PO dapat dilanjutkan tiap 6 jam selama 48 jam. Kimia meningkat.Aritmia jantung . beri cimetidin 300mg setelah 3-5 menit Monitoring .IM atau PO (1-2 mg/kg BB) sampai 50 mg dosis tunggal. tidurkan dengan posisi Trandelenberg.Hentikan obat/identifikasi obat yang diduga menyebabkan reaksi anafilaksis . 1:1000 dilarutkan dalam 9 ml garam faali diberikan 1-2 ml selama 5-20 menit (anak 0. Aminophilin. Corticosteroid 5-20 mg/kg BB dilanjutkan 2-5 mg/kg selama 4-6 jam. IV selama 20 menit dilanjutkan 0.Reaksi vaso-vagal Penatalaksanaan dan Management syok anafilaktik .5 ml SC/IM lengan atas . Dapat diulang 2-3 x dengan selang waktu 15-30 menit.Asma akut .Pertahankan tekanan darah sistole >100mmHg diberikan 2-3L/m2 luas tubuh /24 jam Bila 100 mmHg 500 cc/ 1 Jam . Diphenhidramin IV pelan (+ 20 detik ) .Urticaria . 0.Bebaskan airway. bila obstruksi intubasi-cricotyrotomi-tracheostomi .Bila perlu pasang CVP Medikamentosa I.2 mg/kg/jam IV. melalui hidung atau mulut 5-10 liter /menit bila tidak bia persiapkandari mulut kemulut .Torniquet.2 –1. sereum triptaase meningkat Diagnosis banding: . EKG : Gangguan konduksi.Posisi.dengan atau tanpa atelektasis karena mukus plug. pasang torniquet di bagian proksimal daerah masuknya obat atau sengatan hewan longgarkan 1-2 menitn tiap 10 menit. sekitar lesi pada venom. atrial dan ventrikular disritmia.Keracunan obat akut . bila tetap sesak + hipotensi segera rujuk. Adrenalin 1:1000.1 cc/kg BB) Medikamentosa II. (anak :1-2 mg /kgBB/ IV) maximal 200mg IV Medikamentosa III.Edema paru dan emboli paru . 0. bila ada spasme bronchus beri 4-6 mg/ kg BB dilarutkan dalam 10 ml garam faali atau D5.Syok bentuk lain . . paha.5-1liter dalam 30 menit (dosis dewasa) monitoring dengan Tensi dan produksi urine .Kejang .Pasang cathether intra vena (infus) dengan cairan elektrolit seimbang atau Nacl fisiologis.3 –0. pemberian selama 72 jam .Berikan oksigen.Hidrocortison IV. Pemberian IV pada stadium terminal /pemberian dengan dosis1 ml gagal . kaki lebih tinggi dari kepala (posisi shock) dengan alas keras.

153-161 .Bila perlu dan memungkin. Kerusakan otak permanen karena syok dan gangguan cardiovaskuler.5-5cc (0. Mills J. produksi urine dan keluhan . 17-18 .Panduan Gawat Darurat.Edukasi px supaya menghindari makanan atau obat yang menyebabkan alergi .Lakukan skin test bila perlu . Lab. aborsi dan gagal ginjal juga pernah dilaporkan.Baringkan dalam posisi syok.Cairan. pasang torniquet .Suplemen Oksigen . Mt.Darah : Gas darah . Jilid I.Mencegah reaksi ulang . A. H tabrani.Injeksi Adrenalin 1:1000. klinis masih ringan dapat membaik dan tertolong Algoritme Management Penderita Syok Anafilaktik Ringan: . gagal nafas.Monitor pernafasan dan hemodinamika .Aminofilin 5-6mg/kgBB IV(bolus).Monitor pernafasan dan hemodinamik .25 cc (0.Purwadianto. Prof. Salber PR. C. Ilmu Penyakit Dalam FKUA/ RSUD Dr. B.25-0. diikuti 0.Desensitisasi alergen spesifik .Catat obat px pada status yang menyebabkan alergi .Observasi ketat selama 24 jam. Myocard infark. Kedaruratan Medik.rujuk untuk mendapat perawatan intensif RJPO § Basic dan Advanced Life Support (RJPO) ———–Arrest Nafas dan Jantung.Rab. EGC Jakarta 2000.Bersiaga selalu bila melakukan injeksi dengan emergency kit Prognosis Bila penanganan cepat.Bebaskan jalan nafas .Encerkan obat bila pemberian dengan SC/ID/IM/IV dan observasi selama pemberian .makanan. Luce JM. 6jam berturut-turut tiap 2 jam sampai keadaan fungsi membaik . vital sign. DD. 2000 : 91-99 . Trunkey. Penerbit FKUI Jakarta 2000. Jakarta 2000. syok dan cardiac arrest.Infus cairan (pedoman hematokrit dan produksi urine) Berat .4-0.25mg) SC Sedang . Obat Inotropik positif.Effendi. Prevensi (Pencegahan) .Jika masuk lewat ekstremitas. EGC Jakarta 1990 : 76-78 . Urtikaria dan angoioedema menetap sampai beberapa bulan.Klinis : keadaan umum.Tentukan penyebab dan lokasi masuknya . Bina Rupa Aksara. Alas keras .Anamnesa penyakit alergi px sebelum terapi diberikan (obat. .9mg/kgBB/menit perdrip (untuk bronkospasme persistent) . kesadaran. Pengatasan shock.Ho.000 – 2.25mg) IM(Sedang) atau 1:10.Dr.25cc(0.Injeksi Adrenalin 1:1000 – 0.atopik) . FKUI. DaftarPustaka .0. Sampurna.Hindari obat-obat yang sering menyebabkan syok anafilaktik. 56-57 . Soetomo.5mg) IV(Berat). Resusitasi KardioPulmoner dan Syok. Anaphylaxis dalam PKB XV . Berikan sublingual atau trans trakheal bila vena kolaps .EKG Komplikasi (Penyulit) Kematian karena edema laring . Obat vasoaktif tergantung hemodinamik .

Decission Making in critical care. Baltimore. KG. Brundage. 2000 : 69-75 . Fauci.Rehata. Martin. Penanggulangan Reaksi Syok Anafilaksis dalam Anestesiologi. Braunwald. Syok Anafilaktik Patofisiologi dan penanganan dalam up date on shock. GT. Anaphylaxis dalam Don H.Sunatrio. pertemuan Ilmiah terpadu I FKUA Surabaya. 1985. Principle’s Internal Medicine 17th Companion Handbook .Barata Widjaya.. Penerbit FKUI. 3 . S. 1996: 76-80 . Harrison’s. Wilson.Kondos.Isselbacher. NM. Imunologi Dasar ed. Kasper.10. 77-85 . BH. Bag. Anestesiologi dan terapi intensif FKUI Jakarta 1990. 46-47 .

Bila pasien mengatakan belum pernah mengalami perdarahan berlebihan maka harus dicari keterangan yang lebih terperinci mengenai riwayat tersebut. Perdarahan yang disebabkan pembuluh darah besar jarang terjadi dan bila ini terjadi maka pembuluh darah tersebut harus ditarik dan dijepit dengan arteri klem kemudian dijahit/cauter. Oleh karena itu anamnesis harus dilakukan secara cermat untuk mengungkap adanya riwayat perdarahan sebelum melakukan pencabutan gigi. kalsium alginat) setelah itu pasien disuruh menggigit tampon dan kemudian dievaluasi kembali dan bila tetap tidak dapat diatasi sebaiknya segera dirujuk ke Rumah sakit terdekat untuk memperoleh perawatan lebih intensif lagi. Bila perdarahan belum teratasi maka kedalam soket gigi dapat dimasukkan preparat foam gelatin atau fibrin (surgicel.5. Bila tidak terjadi komplikasi maka jumlah gigi yang akan dicabut pada kunjungan berikutnya dapat ditingkatkan secara perlahan-lahan. Perembesan darah secara konstan selama pencabutan gigi dapat diatasi dengan aplikasi gulungan tampon atau dengan penggunaan suction. selanjutnya 10 pasien diinstruksikan untuk menggigit tampon selama 5 menit setelah penjahitan. Cara penanggulangan komplikasi seperti pada kebanyakan kasus disarankan untuk melakukan penjahitan pada muko periosteal. Riwayat keluarga pasien yang pernah mengalami perdarahan akibat suatu tindakan operasi juga amat penting. Tujuan dari penjahitan ini adalah bukan untuk menutup soket tetapi untuk mendekatkan jaringan lunak diatas soket untuk mengencangkan muko perioteal yang menutupi tulang sehingga menjadi iakemik. Perdarahan yang lebih parah dapat diatasi dengan pemberian tampon yang diberi larutan adrenalin : aqua bidest 1 : 1000 dan dibiarkan selama 2 menit dalam soket. Karena pada kebanyakan kasus perdarahan tidak timbul dari soket tetapi berasal dari jaringan lunak yang berada disekitarnya. Pasien dengan adanya riwayat diatas harus dirujuk ke ahli hematologi untuk dilakukan pemeriksaan lebih cermat sebelum tindakan pencabutan gigi dilakukan. Anamnesis yang baik dan riwayat penyakit yang lengkap . Perhatikan secara khusus hubungan waktu antara perdarahan dengan lamanya pencabutan (trauma jaringan) dan banyaknya perdarahan dan pemeriksaan laboratorium harus dilakukan (diindikasikan). Perdarahan berlebihan. Bila pasien memiliki riwayat perdarahan pasca pencabutan maka sangat bijaksana jika membatasi jumlah gigi yang akan dicabut pada kunjungan pertama dan menjahi t jaringan lunak serta memonitro penyembuhan pasca pencabutan gigi. Pencegahan kemungkinan komplikasi perdarahan karena faktor-faktor sistemik 1. Perdarahan berlebihan mungkin merupakan komplikasi pencabutan gigi. jahitan horizontal terputus paling cocok dan untuk tujuan ini harus diletakkan pada soket sesegera mungkin. Perdarahan pasca operasi dapat terjadi karena pasien tidak mematuhi instruksi atau sebab lain yang harus segera ditemukan.

Pada perdarahan yang masif dan tidak berhenti. Apabila setelah diekstraksi perdarahan langsung berhenti dengan menggigit tampon atau dengan penjahitan dapat disimpulkan bahwa pasien tidak memiliki penyakit hemoragik. Adanya tanda dari purpura pada kulit dan mukosa mulut seperti perdarahan spontan dari gingiva. Jika ternyata perdarahan belum berhenti.0. perdarahan yang sangat deras misalnya pada terpotongnya arteri. Tetapi bila pasca ekstraksi gigi pasien sampai dirawat atau bahkan perlu mendapat transfusi maka kita perlu berhati-hati akan adanya penyakit hemoragik. Bila ada riwayat perdarahan dalam (deep haemorrhage) didalam otot. dapat kita lakukan penekanan dengan tampon yang telah diberi anestetik lokal yang mengandung vasokonstriktor (adrenalin). dan catgut 3. dihubungkan dengan riwayat penyakit dari pasien itu sendiri mengkonsumsi obat-obatan tertentu seperti antikoagulan atau aspirin Penyebab sistemik seperti defisiensi faktor pembekuan herediter. Penanganan awal yang kita lakukan adalah melakukan penekanan langsung dengan tampon kapas atau kassa pada daerah perdarahan supaya terbentuk bekuan darah yang stabil. persendian atau kulit dapat kita curigai pasien memiliki defek pembekuan darah (clotting defect). Teknik penjahitan yang kita gunakan adalah teknik matras horizontal dimana jahitan ini bersifat kompresif pada tepi-tepi luka. Injeksikan asam traneksamat secara intravena atau intra muskuler.misalnya von Willebrand’s syndrome dan hemofilia Kita perlu menanyakan apakah pasien pernah diekstraksi sebelumnya. Benang jahit yang digunakan umumnya adalah silk 3. dapat ditambahkan pemberian bahan absorbable gelatine sponge (alvolgyl / spongostan) yang diletakkan di alveolus serta lakukan penjahitan biasa. yaitu mengikat pembuluh darah dengan benang atau dengan kauterisasi. Sering hanya dengan melakukan penekanan. perdarahan dapat diatasi. Bila perlu. Bila perdarahan belum juga berhenti. Berikan penjelasan pada pasien bahwa segalanya akan dapat diatasi dan tidak perlu khawatir. Alveolar oozing adalah normal pada 12-24 jam pasca ekstraksi gigi. misalnya haemarthrosis atau menorrhagia dari penyebab kecil riwayat keluarga yang menderita salah satu hal yang telah disebutkan di atas.0. perdarahan pasca ekstraksi gigi Yang pertama harus kita lakukan adalah tetap bersikap tenang dan jangan panik. . dan apakah ada riwayat prolonged bleeding (24-48 jam) pasca ekstraksi.0. maka kita lakukan klem dengan hemostat lalu lakukan ligasi. vicryl® 3. tetap bersikap tenang dan siapkan segera hemostatic agent seperti asam traneksamat. Lakukan penekanan atau pasien diminta menggigit tampon selama 10 menit dan periksa kembali apakah perdarahan sudah berhenti. Penting untuk kita ketahui bagaimana penatalaksanaan perdarahan pasca ekstraksi gigi sebelumnya. petechiae . dapat kita lakukan penjahitan pada soket gigi yang mengalami perdarahan tersebut.Kita harus mampu menggali informasi riwayat penyakit pasien yang memiliki tendensi perdarahan yang meliputi :        bila telah diketahui sebelumnya memiliki tendensi perdarahan mempunyai kelainan-kelainan sistemik yang berkaitan dengan gangguan hemostasis (pembekuan darah) pernah dirawat di RS karena perdarahan spontaneous bleeding.

Maxillofacial and Dental Emergencies. Wright. 4th ed.. Scully C. 1994. Oxford. Oxford University Press.. kita harus bersikap tenang dan mampu berpikir jernih untuk menganalisis penyebab perdarahan. Medical Problems in Dentistry.Kesimpulan Pencabutan gigi merupakan tindakan yang sering dilakukan oleh dokter gigi. 3. 2000.. and Cawson RA.Louis. Bersihkan soket secara cermat dan lakukan tindakan sesuai kondisi yang ada. segera periksa daerah yang mengalami perdarahan.. . 1998. and Banks JG. 5th ed. Apabila setelah ekstraksi gigi terjadi perdarahan. Inc. Mosby. Lihat kondisi pasien. cek tanda vital. dan bila semua dalam keadaan normal. Komplikasi paling sering adalah perdarahan pasca ekstraksi. Hawkesford JE. London. 2. Malamed SF.. sebelum melakukan tindakan tersebut sebaiknya kita lakukan anamnesis serta pemeriksaan klinis yang cermat pada pasien. Daftar Pustaka 1. Medical Emergencies in the Dental Office. St.. Lakukan tindakan ekstraksi gigi dengan hati-hati serta hindari penggunaan alat yang berlebihan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful