QO’IDAH DAN KEDUDUKANNYA DI DALAM SYARA’

MAKALAH Diajukan untuk salah satu tugas mata kuliah: Aplikasi Qawa‟id Fiqhiyyah Dalam Istinbath Hukum

Dosen Pembimbing: Dr. H. Sutrisno, RS, M.Ag

Oleh: Mujib Iriyanto Subhan (08 3911013) (08 3911014)

PROGRAM STUDI HUKUM KELUARGA PROGRAM PASCA SARJANA SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN) JEMBER APRIL 2013

yaitu dengan cara menggolongkan masalah-masalah yang serupa dibawah satu kaidah. kaidah Fiqhiyah merupakan kelanjutannya. Berhubung hukum fiqih lapangannya luas. yang mengelompokkan masalah-masalah fiqih spesifik menjadi beberapa kelompok. maka mengetahui kaidah-kaidah yang juga berfungsi sebagai pedoman berfikir dalam menentukan hukum suatu masalah yang tidak ada nashnya. adalah perlu sekali.1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Kaidah fiqih yaitu kaidah-kaidah yang bersifat umum. meliputi berbagai peraturan dalam kehidupan yang menyangkut hubungan manusia dengan khaliknya. . Jika dikaitkan dengan kaidah-kaidah ushulliyah yang merupakan pedoman dalam mengali hukum islam yang berasal dari sumbernya. dan hubungan manusia dengan sesama manusia. Al-Qur‟an dan Hadith. juga merupakan pedoman yang memudahkan penyimpulan hukum bagi suatu masalah. Kaidah Fiqhiyah disebut juga sebaagai Kaidah Syari‟iyah Adapun tujuannya adalah untuk memudahkan Mujtahid dalam mengistimbath-kan hukum yang sesuai dengan tujuan syara dan kemaslahatan manusia. Sementara Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jalan untuk mendapat kemashalatan dan menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. Yang dalam pelaksanaannya juga berkaitan dengan situasi tertentu. yaitu sebagai petunjuk operasional dalam peng-istimbath-an hukum islam.

Mendeskripsikan Definisi Qaidah Fiqhiyyah. 5. 2. maka penulis merumskan sebuah rumusan masalah sebagai berikut: 1. Menjelaskan Macam-macam dan Tingkatannya. Mendeskripsikan Sumber-sumber Qaidah Fiqhiyyah. Dan mendeskripsikan Urgeninya dalam istinbath hukum. 3. 2. 4. . 3. 5.2 B. Rumusan Masalah Agar supaya pada pembahasan kali ini tidak melebar dan fokus. 4. Bagaimana Definisi Qaidah Fiqhiyyah? Jelaskan Macam-macam dan Tingkatannya? Bagaimana Sumber-sumber Qaidah Fiqhiyyah? Bagaimana Kehujjahan dan Kegunaan Qaidah Fiqhiyyah? Dan Bagaimana Urgeninya dalam istinbath hukum? C. Tujuan Pembahasan Adapun tujuan pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. Mendeskripsikan Kehujjahan dan Kegunaan Qaidah Fiqhiyyah.

2 Para fuqoha pada umumnya memberikan pengertian bahwa yang dimaksud dengan kaidah fiqhiyyah ialah hukum kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagiannya atau cabang-cabangnya. Dalam tinjauan terminologi kaidah mempuyai beberapa arti. Qowaidul Fiqhyah ialah : dasar-dasar fiqih yang bersifat umum dan bersifat ringkas berbentuk undang-undang yang berisi hukumhukum syara‟ yang umum terhadap berbagai peristiwa hukum yang termasuk dalam ruang lingkup kaidah tersebut.3 BAB II PEMBAHASAN A. Ahmad asy-Syafi„i dalam bukunya ushul fiqh al-islami menyatakan bahwa kaidah adalah: ‫شة‬ٛ‫بث كث‬ٛ‫ُذسج ححج كم ٔاحذة يُٓب حكى جزئ‬ٚ ٗ‫ت انخ‬ٛ‫ب انكه‬ٚ‫انقضب‬ "Hukum yang bersifat universal (kulli) yang diikuti oleh satuan-satuan hukum juz„i yang banyak". Ushul Fiqh Al-Islami (Iskandariyah Muassasah Tsaqofah Al Jamiiyah. Pengertian Kata Qawa‟id merupakan bentuk jama' dari kata Qaidah.4 1 Ahmad Muhammad Asy-Syafii. 2 Abd . 4. Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowaidul al-Fiqhiyyah). Kalam Mulia : Jakarta 4 Ibid. Rahman Dahlan. dalam istilah bahasa Indonesia dikenal dengan kata 'Kaidah' yang berarti aturan atau patokan.3 Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa setiap Qidah Fiqhiyyah telah mengatur dan menghimpun beberapa banyak masalah fiqh dari berbagai bab dan juga diketahui bahwa para fuqoha‟ telah benar-benar mengembalikan masalah-masalah hukum fiqh kepada kaidah-kaidahnya. 13 3 Abdul Mudjib. Ushul Fiqih. 1983). Amzah : Jakarta. .1 Sedangkan bagi mayoritas ulama ushul mendefinisikan kaidah dengan: ّ‫بح‬ٛ‫ع جزئ‬ًٛ‫ُطبق عهٗ ج‬ٚ ٙ‫حكى كه‬ "Hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagianbagiannya“. Menurut Musthafa az-Zarqa.

untuk itu perlu kiranya bagi kaum muslim untuk mempelajari dan mengkaji ulang ilmu ini. adat kebiasaan. Qa‟idah fiqh mustasnayat Dari sumber pengecualian. umpamanya : ”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum” kaidah ini mempunyai beberapa turunan kaidah yang berperan marginal.4 Maka. Macam-Macam Qa’idah Fiqhiyyah 1. Akan tetapi tidak sedikit orang yang kurang memahami tentang hal ini. PT Raja Grafindo : Jakarta.5 B. Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqih). diharapkan pada akhirnya juga bisa menjadi lebih moderat dalam menyikapi masalah-masalah politik. kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua. ”Sesuatu yang ditetapkan berdasarkan kebiasaan seperti ditetapkan dengan naskh” Dengan demikian. Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqih seorang muslim akan mengetahui benang merah yang menguasai fiqih. kaidah yang berfungsi marginal adalah kaidah yang cakupannya lebih atau bahkan sangat sempit sehingga tidak dihadapkan dengan furu. Dengan mempelajari kaidah fiqih. Qa‟idah fiqh menurut fungsinya Dari segi fungsi. yaitu sentral dan marginal. ekonomi. 2. budaya sehingga kaum muslim bisa mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat dengan lebih baik. yaitu : kaidah yang tidak memiliki pengecualian dan yang mempunyai pengecualian. sosial. Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih) adalah sesuatu yang sangat penting dan menjadi kebutuhan bagi kaum Muslim. karena kaidah fiqih itu menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqih. Kaidah fiqh yang berperan sentral. diantaranya : ”Sesuatu yang dikenal secara kebiasaan seperti sesuatu yang telah ditentukan sebagai syarat” . Kaidah 5 Abdul Wahab Khallaf. Kaidah ini dikenal sebagai al-Qawaid al-Kubra al-Asasiyyat. Selain itu juga akan menjadi lebih arif dalam menerapkan fiqih pada waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus. keadaan yang berlainan. kaidah fiqh dapat dibedakan menjadi dua. karena kaidah tersebut memiliki cakupan-cakupan yang begitu luas. 319 .

dan ibn al-Nujaim mengatakan bahwa Abu Thahir al-Dabbas (ulama abad 4H) telah mengumpulkan 17 kaidah penting dalam madzhab Hanafi. Dalam melestarikan kaidah tersebut. yaitu : ”Menolak kerusakan (kejelekan) dan mendapatkan maslahat”. dapat dikembalikan kepada satu kaidah.blogspot. Kaidah diatas merupakan kaidah kunci. Ketika Abu Thahir al-Dabbas telah menghafal sebagian kaidah fiqh yang 6 Tri Winarsih. Abu Thahir al-Dabbas menghafalnya secara berulang-ulang pada setiap malam dimasjid setelah pengunjung masjid lainnya keluar. Abu Thahir al-Dabbas menutup masjid karena pengunjung masjid telah pulang. (http://annajma92. karena pembentukan kaidah fiqh adalah upaya agar manusia terhindar dari kesulitan dan dengan sendirinya ia mendapatkan kemaslahatan. Pada suatu malam. Dan ketika itu Abu Sa‟id al-Harawi bersembunyi dibawah tumpukan tikar masjid untuk mendengar hafalan kaidah fiqh Abu Thahir al-Dabbas. Kaidah asasi Adalah kaidah fiqh yang tingkat kesahihannya diakui oleh seluruh aliran hukum islam. 3. Kaidah fiqh lainnya adalah kaidah yang mempunyai pengecualian kaidah yang tergolong pada kelompok yang terutama diikhtilafkan oleh ulama. ”Kesulitan mendatangkan kemudahan” ”Adat dapat dijadikan pertimbangan dalam menetapkan hukum”. Umpamanya adalah: ”Bukti dibebankan kepada penggugat dan sumpah dibebankan kepada tergugat”. Kaidah fiqh tersebut adalah : ”Perbuatan/ perkara itu bergantung pada niatnya”. Kaidah-kaidah Fiqhiyyah. diakses tanggal 05 April 2013 .6 C.com/2012/04/kedudukan-kaidahfiqhiyah-sebagai. Kaidah fiqh segi kwalitasnya Kaidah kunci Kaidah kunci yang dimaksud adalah bahwa seluruh kaidah fiqh pada dasarnya. ”Kenyakinan tidak hilang dengan keraguan”.5 fiqh yang tidak punya pengecualian adalah sabda Nabi Muhammad SAW. al-Suyuthi. Sumber-sumber dan Kehujjahan Qa’idah Fiqhiyyah Menurut riwayat Al-ala‟i al-Syafi‟i.html).

2002). Imam Abu Hanifah dan imam ahmad bin hambal mendudukkan niat sebagai syarat perbuatan. dan sesungguhnya bagi seseorang itu hanyalah apa yang ia niati). yaitu:7 1) Kaidah yang Berkaitan Dengan Fungsi Tujuan a) Teks kaidahnya: ْ ‫ذَْب‬ ُ ْٕ‫ي‬ ِ‫ص‬ ِ ‫ًقَب‬ ُ ُ‫اْل‬ َ ِ‫س ب‬ “Setiap perkara tergantung pada tujuannya. 64 . (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Adapun kaidah-kaidah fiqh Abu Thahir al-Dabbas yang berhasil dihafal Abu Sa‟id al-Harawi adalah lima kaidah pokok.” b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah SWT: ‫َعْ بُذُٔا ا‬ِٛ‫ْل ن‬ ‫يشُٔا إِ ا‬ ْ ‫ي‬ ِّ ‫ٍَ نَُّ ان‬ٛ‫ص‬ ‫ء‬ ُ ٍَٚ‫ذ‬ ِ ِ ‫خه‬ ُ َ‫َّللا‬ ِ ُ ‫يب أ‬ َ ‫حَُفَب‬ َ َٔ Artinya : “Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus (jauh dari syirik dan jauh dari kesesatan)”. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi.6 dikuasainya. Sedang imam syafi‟I mendudukkan niat sebagai rukun perbuatan. Akhirnya Abu Sa‟id al-Harawi dipukul dan dikeluarkan dari masjid oleh Abu Thahir al-Dabbas dan setelah kejadian itu Abu Thahir al-Dabbas tidak pernah mengulangi hafalannya tersebut. Kemudian Abu Sa‟id al-Harawi batuk dan Abu Thahir al-Dabbas mendengarnya. 7 Jaih Mubarok. Syarat adalah ketentuan yang harus dilakukan mukallaf sebelum terjadinya perbuatan. (QS. sedangkan rukun adalah ketentuan yang harus dilakukan bersama dengan perbuatan. Al-Bayyinah: 5) Dan dalam Sabda Nabi Muhammad SAW: َٕ٘‫بث ٔإًَب نكم ايشئ يب‬ُٛ‫إًَب األعًبل ببن‬ Artinya:“(Sesungguhnya segala amal tergantung pada niat.” c) Eksistensi niat Para fuqaha” berbeda pendapat dalam mendudukkan niat.

” Yang dimaksud yakin adalah ْ ‫كبٌَ ثَببِخًب بِب نُا‬ ‫ٔان ا‬ َ ‫يب‬ ْ ِ ‫ذن‬ ‫م‬ ُ ٛ َ ‫ش‬ َ ُْ ٍُِْٛ‫َق‬ٛ‫اَ ْن‬ َ ٕ ِ ‫ظ‬ “Sesuatu yang tetap . karena bukan ibadah amaliyah yang diperintahkan secara adat. Sedangkan yang dimaksud dengan syak adalah ْ ٕ ْ ‫ان ا‬ َ ‫يب‬ ُ ‫ء‬ َ ‫ان‬ ِّ ‫ش‬ ْ َ‫ددًا ب‬ ‫ش‬ َ ‫ًب‬ َ‫ع‬ َ ٔ َ َ‫ْح ا‬ ْ َ ‫شف‬ َ َ‫بٖٔ ط‬ َ َ‫ع ح‬ َ‫ي‬ َ َ‫يخ‬ ِ ‫ذ‬ ِ‫ح‬ ِ ‫خطَب‬ ِ‫ي‬ ِ‫ذ‬ ِ ُْٕ‫ٍَ انثب‬ٛ ُ ٌَ‫كب‬ َ ِ‫إاب‬ َ ‫ٗ انص‬ َ ‫ث‬ َ ُْ ‫شك‬ ِ ْ‫دْٔ ٌَ حَش‬ َْ َ ّ َ ٕ ِ ‫س‬ ِ َ‫عهَٗ األَخ‬ ِ ٛ‫ج‬ “Sesuatu yang tidak menentu antara ada dan tiadanya. apakah shalat wajib atau sunah.‫حً ب‬ 8 Mukhlis Usman. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah. dan dalam ketidaktentuan itu sama antara batas kebenaran dan kesalahan. Pada dasarnya ibadah itu ada yang membutuhkan niat adapula yang tidak membutuhkannya. Ibadah yang membutuhkan niat adalah ibadah yang amaliyah yang memerlukan penjelasan secara khusus. baik dengan penganalisaan maupun dengan dalil”. misalnya niat shalat. 3. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.8 2) Kaidah yang Berkenaan Dengan Keyakinan a) Teks kaidahnya: ‫ل ب ِب ن ا‬ ِّ ‫ش‬ ‫ك‬ ُ ‫ُزَ ا‬ٚ ‫ٍُْ ْل‬ِٛ‫َق‬ٛ‫اَ ْن‬ “Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan. misalnya iman kepada Allah cukup dilakukan dengan bacaan syahadatain. 1999).7 Jalaludin abdurrahman as syuyuti menyatakan bahwa waktu niat adalah dipermulaan ibadah. cet. 105 . tanpa dapat dimenangkan salah satunya. Dan ibadah yang tidak membutuhkan niat. sedangkan tempatnya didalam qolb (Amaliyah Qolbiyah) yang bersamaan dengan perbuatan (Amaliyah Fi‟liyah).” b) Dasar-dasar nash kaidah Sabda Nabi SAW: ْ َ‫ى فِٗ ب‬ ْ ٍَ‫ي‬ ْ َ‫ئًب فَأ‬ٛ ْ َٚ‫و ْل فَال‬ ْ‫ي‬ ُ‫ذ‬ َ ِ‫إ‬ ‫جا‬ َ‫ش‬ َ ُ ُّ َ ّ ُ‫ح‬ َ َ‫ّ ا‬ ْ‫س‬ ْ َٚ ٗ‫حخا‬ ْ ً ْ َ ‫عه‬ ْ‫ش‬ ٚ ُ ‫خ‬ َ‫ج‬ َ ‫م‬ َ‫ج‬ َ ‫ع‬ َ ً َ ‫ذ‬ َ ‫ش‬ ْ َ‫ْئ ا‬ٛ‫ش‬ َ ‫ش‬ َ‫خ‬ َ ‫ك‬ ْ‫ك‬ َ َ‫ذ ا‬ َ ٔ‫ا‬ ِ‫ج‬ ِ ٍ ِ ‫ج‬ ِٛ ِ ُِ‫ط‬ َ ‫ر‬ ِ َٚ َْٔ‫صْٕ حًب ا‬ ِ ‫س‬ َ‫س‬ َ ‫ان‬ ِ ‫ذ‬ (‫ )سٔاِ يسهى‬. sedang setiap hari tidak perlu melakukan niat bila beriman kepada Allah SWT.

Muslim) ْ َٛ‫صهّٗ أ ثَالثًب أَْ اَسْ بَبعًب فَ ْه‬ ‫حبن ا‬ ُ ‫ذ‬ َ ِ‫إ‬ ْ َٚ ‫ى‬ َ ‫س‬ ‫ش ا‬ ُ‫ح‬ َ ‫را‬ ْ َ‫سخ‬ ْ ‫يب‬ ْ َٛ‫ٔ ْن‬ (ٖ‫قٍََ )سٔاِ انخشيز‬ٛ َ ٍ َ‫ط‬ َ ‫ى‬ ْ‫ك‬ ْ َ‫ّ فَه‬ َ ِٗ‫ى ف‬ ْ‫ك‬ َ َ‫ك ا‬ ِ ‫ش‬ ِ ِ‫صالح‬ َ ‫شك‬ َ َٗ‫عه‬ ِ ‫ب‬ ِ ‫ذ‬ “Apabila salah seorang diantara kalian ragu dalam mengerjakan shalat. maka buanglah keragu-raguan itu dan berpeganglah kepada apa yang diyakini (yang paling sedikit. tidak tahu berapa rakaat yang telah dikerjakan tiga ataukah empat rakaat.9 c) Pembagian syak Abu hamid al-Asfiroyini menyebutkan bahwa syak (keraguan) itu terdapat 3 macam. 9 Ibid. yaitu: Keragu-raguan yang berpangkal dari yang haram. Macam keraguan ini dicontohkan khusus penyembelihan binatang dinegara yang penduduknya islam dan majusi. Keragu-raguan yang berpangkal dari yang mubah.”( HR.8 “Apabila seorang diantara kalian menemukan sesuatu didalam perut kemudian sangsi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya atau belum. 114-115 . maka sembelihan itu haram dimakan. Thurmudhi). maka yang yakin adalah rakaat yang paling sedikit. maka janganlah keluar dari masjid sehingga mendengar suara atau mendapatkan baunya. karena yang paling sedikit itu yang yakin sedang yang paling banyak merupakan yang diraguragukan. maka air dapat dibuat bersuci sebab pada dasarnya air itu suci. karena pada dasarnya hal tersebut haram. Keragu-raguan yang tidak diketahui pangkal asalnya. perubahan itu ada 2 kemungkinan. Pada kedua dalil itu disebutkan bahwa keyakinan tidak dapat dihilangkan dengan keraguaan. bisa karena najis dan bisa juga karena sudah lama. Contoh keraguan ini adalah kasus seseorang yang menemukan air yang telah berubah. sehingga diketahui benar-benar bahwa yang menyembelih adalah seorang muslim.”( HR. Misalnya seseorang ragu-ragu berapa raka‟at yang ia lakukan dalam shalatnya. atau diketahui bahwa umumnya yang menyembelih binatang disitu adalah orang muslim.

Agar dalam realisasi penghambaan itu tidak terjadi kekeliruan maka dia membuat aturan-aturan khusus yang disebut sebagai syari‟ah demi kemashlahatan itu sendiri. Tentunya syari‟ah itu disesyuaikan dengan tingkat kemampuan dan potensi . namun dikhawatirkan karena itu hukumnya makruh. b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah: ْ ‫ًهُٕا‬ ْ ‫ى‬ ْ ‫ى‬ ‫كبِّشُٔا ا‬ ‫ذ ا‬ ْ ُ‫ٔنِخ‬ ْ َ‫ى ح‬ ُ‫ش‬ ُ ‫عه ا‬ ُ ‫يب َْذَا‬ ُ ِ‫ذ ب‬ ُ ِ‫َّللاُ ب‬ َٔ َ ُ‫ٔنِخ‬ ‫عا‬ ُ ٚ‫ُش‬ ُ ٚ‫ُش‬ ْ ‫ع‬ ْ ُٛ‫ان‬ ُ ‫ان‬ ٰ َ ‫عه‬ ٌَُٔ‫كش‬ َ َ‫َّللا‬ ْ‫ك‬ َ َ ‫ٔن‬ ْ‫ك‬ َ‫س‬ َ‫س‬ ِ ‫ان‬ ِ‫ك‬ ُ‫ك‬ ُ‫ك‬ َ ‫ى‬ َ َ‫ذة‬ َ ‫ش‬ َ ‫ش‬ َ ٗ ِ ٚ ‫ْل‬ ِ ٚ….Allah menghendaki kemudahan bagimu. Artinya: “…. dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Kondisi semacam ini diperbolehkan jual beli karena dimungkinkan modalnya halal dan belum jelas keharaman modal tersebut.9 Contoh keraguan ini adalah kasus bekerja dengan orang yang modalnya sebagian besar haram. dengan kekuasaannya-Nya itu dia mampu menundukkan ketaatan manusia untuk mengabdi kepadanya. Al-Baqarah:185) Dan dalam Sabda nabi SAW: ْ ِ‫ٍ اِنَٗ َّللا‬ ِّ ‫حب ان‬ ِّ ‫ان‬ ْ ُِ‫ح‬ ْ‫ذ‬ ‫فَتُ ان ا‬ٛ )ٖ‫حتُ (سٔاِ انبخبس‬ َ ً ْ‫س‬ َ ‫ان‬ َ َ‫ُسْش ا‬ٚ ٍُْٚ‫ذ‬ ِ ٚ “Agama itu memudahkan. supaya kamu bersyukur. (QS. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu. 3) Kaidah yang Berkenaan Dengan Kondisi Menyulitkan a) Teks kaidahnya: ْ َ ً ْ ‫شقاتُ حَجْ هِبُ انخا‬ ‫ش‬ ُ ‫س‬ ِ ٛ َ ‫ان‬ “Kesukaran itu dapat menarik kemudahan”. (HR Bukhori) c) Rasionalisasi kemudahan dalam islam Allah SWT sebagai musyari‟ memiliki kekuasaan yang tiada tara. Dan tidak dapat dibedakan antara modal yang haram dan yang halal. agama yang disenangi Allah adalah agama yang benar dan mudah”.

karena jika ia melakukannya niscaya akan merusak diri dan memberatkan kehidupannya. Tahfitul tarkhis (meringankan dengan kemurahan) misal bolehnya menggunakan benda najis atau khomr untuk keperluan berobat.10 d) Klasifikasi kesulitan Wahbah Az. 130-131 .11 4) Kaidah yang Berkenaan Dengan Kondisi Membahayakan a) Teks kaidahnya: ‫ل‬ ُ ‫ُزَ ا‬ٚ ‫س‬ ُ ‫اشا‬ َ ‫انض‬ 10 11 Ibid. dimana manusia tidak mampu memikul kesulitan itu. Kesulitan Ghoiru Mu‟tadah adalah kesulitan yang tidak pada kebiasaan .Zuhaili mengklasifikasikan kesulitan dalam 2 kategori: Kesulitan Mu‟tadah adalah kesulitan yang alami. Tahfitul taqdim (meringankan dengan mendahulukan waktunya) misalnya kebolehan melakukan jama‟ taqdim ketika shalat. yaitu: Tahfitul isqoth (meringankan dengan menggugurkan) misal menggugurkan kewajiban shalat jum‟at jika ada udzur. Tahfitul ta‟khir ( meringankan dengan mengakhirkan waktu) misal bolehnya melakukan jama‟ ta‟khir dalam shalat. e) Bentuk-bentuk keringanan dalam kesulitan Syekh Izzudin bin Abdis Salam menyatakan bahwa bentuk-bentuk keringanan dalam kesulitan itu ada enam macam. Tahfitul tanqish (meringankan dengan mengurangi) misal bolehnya mengqoshor shalat dari 4 raka‟at menjadi 2 raka‟at.10 yang dimiliki seorang hamba. Tahfitul ibdal (meringankan dengan mengganti) misal mengganti wudhu dengan tayamum. 122-124 Ibid. dimana manusia mampu mencari jalan keluarnya sehingga ia belum masuk pada keterpaksaan. karena pada dasarnya syari‟ah itu bukan untuk kepentingan tuhan melainkan untuk kepentingan manusia sendiri.

tetapi bila mengenai orang lain dianggap najis.11 “Kemadharatan harus dihilangkan” Kaidah ini adalah suatu kaidah pokok yang dari kaidah tersebut merujuklah sebagian besar masalah-masalah fiqh dan diistinbathkannya berbagai hukum.12 b) Dasar-dasar nash kaidah Firman Allah SWT : ْ ‫ُحب‬ ‫ٌ ا‬ ًْ َ َ‫َّللا‬ ‫إِ ا‬ ٍَٚ‫ذ‬ ِ‫س‬ ِ ‫ف‬ ُ ‫ان‬ ِ ٚ ‫ْل‬ Artinya:“Sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang membuat kerusakan. Sedangkan darurat adalah kesulitan yang sangat menentukan eksistensi manusia.” (HR.” b) Dasar-dasar Nash Kaidah Firman Allah SWT: ْ ٍَ ْ ِ‫يشْ ب‬ ْ ‫ز‬ ْ‫ع‬ ُ ْ َ ‫ٔأ‬ ٍَِٛ‫ْه‬ َ ‫ان‬ َ ‫ان‬ ِ ‫جب‬ ِ ْ‫بنعُش‬ ُ ‫ٔ ْأ‬ ِ‫خ‬ َ ‫ف‬ َ ٕ َ‫ف‬ ِ ‫شضْ ع‬ ِ ‫ع‬ 12 Teungku Muhammad Hasby As Shidieqy. karena jika ia tidak diselesaikan maka akan mengancam agama. Al Qoshosh: 77) Dan Sabda nabi SAW: ‫س‬ َ ‫شا‬ َ‫ض‬ َ‫ش‬ َ‫ض‬ َ َ‫ْل‬ ِ َ‫ْٔل‬ َ ‫س‬ “Tidak boleh membuat kerusakan pada diri sendiri serta membuat kerusakan pada orang lain. 364 . harta serta kehormatan manusia. Pengantar Hukum Islam. 5) Kaidah yang Berkenaan Dengan Adat Kebiasaan a) Teks kaidahnya: َ ْ‫يح‬ ‫ًت‬ َ ‫عب‬ َ ‫اَ ْن‬ ُ ُ‫د ة‬ َ‫ك‬ “Adat kebiasaan dapat ditetapkan sebagai hukum. Ahmad dan Ibnu Majah) c) Perbedaan antara masyaqot (kesulitan) dengan darurat Masyaqqot adalah suatu kesulitan yang menghendaki adanya kebutuhan (hajat) tentang sesuatu. jiwa. 1997). (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.”(QS. Contoh kaidah diatas yaitu bahwa darah para pejuang islam ketika perang dianggap suci untuk dipakai shalat. nasab. bila tidak dipenuhi tidak akan membahayakan eksistensi manusia.

setiap bulan seorang wanita mengalami menstruasi dan cara perhitunganya ada yang menggunakan metode tamyiz (yakni membedakan darah kuat dan darah lemah. Namun sebagian fuqoha‟ membedakannya. Misal „uruf/‟adah yaitu menggunakan kalender haid bagi wanita. Bagi Imam Hanafi mewajibkan penggunaan metode „adah sedang imam Syafi‟I menguatkan metode tamyiz. Al Jurjani misalnya mendefinisikan „adah yaitu suatu perbuatan yang terus-menerus dilakukan manusia. Al A‟raf: 199) Sabda Nabi SAW: ْ ‫ى‬ ْ ْ‫ح‬ ْ ُ‫ذ ا‬ ُ ‫ٔعَب‬ ْ َ‫شةً ب‬ ْ َ‫دْٔ ااِن‬ ًْ ْ َ ‫عه‬ ْ ‫يب ا‬ ‫يا‬ ‫ً ا‬ ٖ‫ش‬ ُ َٗ‫عه‬ َ‫ع‬ َ ّ َ ُ‫ش انُابس‬ َ ‫عب‬ َ‫خ‬ َ ‫ان‬ ِٛ ِٛ َ ‫ل‬ ِ ُْٕ‫عق‬ ِ‫ك‬ َ ّ َ ‫ان‬ َ َ‫سخ‬ َ ُ‫دة‬ “apa yang dipandang baik oleh muslim maka baik pula disisi Allah. karena sejalan dengan akal sehat dan diterima oleh banyak orang. 140-142 . Sedangkan „urufyaitu suatu perbuatan yang jiwa merasa tenang melakukannya. karena logis dan dilakukan secara terus-menerus. Op.” (QS. karena jika tidak berpegang pada kaidah itu maka hasil ijtihadnya banyak bertentangan dan berbeda 13 Mukhlis Usman.13 D. Kegunaan Qa’idah Fiqhiyyah Imam Abu Muhammad Izzuddin Ibn Abbas Salam menyatakan bahwa Kaidah Fiqhiyah mempunyai kegunaan sebagai suatu jalan untuk mendapat suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana cara mensikapi kedua hal tersebut. Ahmad) c) Pengertian adah dan „uruf Jumhur ulama‟ mengidentikkan „adah dengan „uruf keduanya mempunyai arti yang sama. Sedangkan Al-Qarafi dalam al-Furu‟nya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang kepada kaidah fiqhiyah. dan yang kuat dianggap darah haid) dan ada juga metode „adah ( yakni menganggap haid atas hari-hari kebiasaan keluarnya darah tiap bulan).12 Artinya:“Dan serulah orang-orang yang mengerjakan yang ma‟ruf serta berpalinglah dari orang yang bodoh.Cit.” (HR..

6) Pengetahuan tentang kaidah merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara memahami furu‟ yang bermacam-macam. kegunaan kaidah fiqh adalah sebagai pengikat (ringkasan) terhadap beberapa persoalan fiqh.go.kemenag.14 E. Menguasai suatu kaidah berarti menguasai sekian bab fiqh. 5) Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hukum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar. mempelajari kaidah dapat memudahkan orang yang berbakat fiqh dalam menguasai persoalan-persoalan yang menjadi cakupan fiqh.13 antara furu-furu‟ itu.php?a=artikel&id=10117). . Urgensi Qa’idah Fiqhiyyah Qa‟idah Fiqhiyyah dikatakan penting dilihat dari dua sudut : 14 Ahmad Supardi Hasibuan.id/index. 3) Mendidik orang yang berbakat fiqih dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk mengetahui hukum permasalahan-permasalahan baru. 4) Mempermudah orang yang berbakat fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hukum dengan mengeluarkannya dari thema yang berbedabeda serta meringkasnya dalam satu topik tertentu. Demikian kegunaan kaidah yang disampaikan oleh Ali Ahmad al-Nadwi. Oleh karena itu. 2) Kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu‟-furu‟nya. diakses tanggal 05 April 2013 Islam. Kaidah-kaidah Hukum (http://riau. Secara sederhana. karena kaidah dapat mengelompokkan persoalan-persoalan berdasarkan illat yang dikandungnya. Lebih lanjut berbicara tentang kegunaan Kaidah Fiqhiyah ini adalah sebagaimana disebutkan oleh Ali Ahmad al-Nadwi sebagai berikut: 1) Mempermudah dalam menguasai materi hukum karena kaidah telah dijadikan patokan yang mencakup banyak persoalan.

Sedangkan al-Qrafy dalam al-Furuqnya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah fiqhiyah. karena dengan mendalami beberapa nash. maka perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu‟ menjadi beberapa kelompok. Cit.14 1. kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya. pidana. Oleh karena itu. ulama dapat menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan. Dengan berpegang pada kaidah-kaidah fiqhiyah. Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jlan untuk mendapatkan suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. para mujtahid merasa lebih mudah dalam mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah. kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan menguasai muqasid al-Syari‟at. kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum terjadi. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu‟nya dan mudah dipahami oleh pengikutnya. Dari segi istinbath al-ahkam. 15 Abdul Wahab Khallaf. Op. yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di bawah lingkup satu kaidah. 2.15 Karena cakupan dari lapangan fiqh begitu luas. baik mengenai perdata. . Abdul Wahab Khallaf dalam ushul fiqhnya bertkata bahwa hash-nash tasyrik telah mensyariatkan hokum terhadap berbagai macam undang-undang. Dari sudut sumber. ekonomi dan undang-undang dasar telh sempurna dengan adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip umum dan qanun-qanun tasyrik yang kulli yang tidak terbatas suatu cabang undang-undang. karena jika tidak berpegang paa kaidah itu maka hasil ijtihatnya banyak pertentangan dan berbeda antara furu‟-furu‟ itu.

15 .

Dasar pengambilan qawaid fiqhiyah terbagi pada dua yakni: dasar formil dan dasar materiil. dan juga merupakan cakupan persoalan yang sudah maupun belum terjadi. lain halnya dengan dhabith fiqhiyah. Tujuan mempelajari kaidah fiqh itu untuk mempermudah dalam mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan sebagainya. tidak dapat berdiri sendiri.16 BAB III PENUTUP Dari penjelasan di atas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa qawaid fiqhiyah ialah hukum yang biasa berlaku yang bersesuaian dengan sebagian besar bagianbagiannya. Perbedaan qawaid fiqhiyah dengan ushul fiqh ialah . Penggunaan masing-masing kaidah tersebut selalu berkaitan. Perbedaan qawaid fiqhiyah dengan dhawabit fiqhiyah ialah cakupan dhabith fiqhiyah lebih sempit dari cakupan qawaidh fiqhiyah dan pembahasan qawaid fiqhiyah tidak dikhususkan pada satu bab tertentu. Sedangkan qawaid fiqhiyah merupakan himpunan sejumlah masalah yang meliputi hukum-hukum fiqh yang berada di bawah cakupannya semata. mengingat kaidah ushuliyah memuat pedoman penggalian hukum dari sumber aslinya sedang kaidah fiqhiyah merupakan petunjuk pelaksana dari kaidah ushuliyah tersebut. qawaid ushuliyyah adalah himpunan sejumlah persoalan yang meliputi tentang dalil-dalil yang dapat dipakai untuk menetapkan hukum. . Pentingnya qawaid fiqhiyah karna kaidah fiqh ini merupakan media bagi peminat fiqh Islam dalam menguasai Maqashid Syariah.

com/2012/04/kedudukan-kaidah-fiqhiyahsebagai. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. 1999. 3. Teungku. Jakarta: Pustaka Amani. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah.blogspot. 2002. Sejarah dan Kaidah-Kaidah asasi. RajaGrafindo Persada. Jakarta: PT.php?a=artikel&id=10117). 105 Teungku Muhammad Hasby As Shidieqy. Pengantar Hukum Islam.17 DAFTAR PUSTAKA Abd . Kaidah-Kaidah Hukum Islam (Ilmu Ushulul Fiqih). (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Amzah : Jakarta. 2002. 4. 1983). 319 Ahmad Muhammad Asy-Syafii. PT Raja Grafindo : Jakarta. 3 .go. 2003. 2002). Miftahul. Kaidah-kaidah Fiqhiyyah. 2002 Mubarok. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Jaih Mubarok. Kaidah-kaidah Hukum Islam. Pengantar Hukum Islam. 1999). Fiqh dan Ushul Fiqh. cet. diakses tanggal 05 April 2013 Usman. diakses tanggal 05 April 2013 Arifin. (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Jaih. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi. Ushul Fiqih.html). Surabaya: Citra Media. 13 Abdul Mudjib. Jaih. Rahman Dahlan. Alquran dan Terjemahannya. Nazar. 64 Mubarok. Ushul Fiqh Al-Islami (Iskandariyah Muassasah Tsaqofah Al Jamiiyah. Semarang: PT PUSTAKA RIZKI PUTRA. Mukhlis. (http://annajma92. Kaidah-kaidah ushuliyah dan fiqhiyah. Muhammad Hasby As Shidieqy. Ahmad Supardi Hasibuan. cet.kemenag. Kementerian Agama RI. 1997 Mukhlis Usman. Kaidah Fiqh Sejarah dan Kaidah-kaidah Asasi. Kaidah-kaidah Ilmu Fiqih (al-Qowaidul al-Fiqhiyyah). 1997). (http://riau. Ushul Fiqh : Kaidah-Kaidah Penetapan Hukum Islam. 364 Tri Winarsih. Kalam Mulia : Jakarta Abdul Wahab Khallaf. Jakarta: PT.id/index. (Semarang: PT Pustaka Rizki Putra. RajaGrafindo Persada. 1997 Bakry.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful