P. 1
contoh

contoh

|Views: 9|Likes:
Published by dewintasptrn
contoh blog
contoh blog

More info:

Published by: dewintasptrn on Apr 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/16/2013

pdf

text

original

MODUL KETUJUH DINAMIKA KELOMPOK DAN TIM KERJA

Di Susun Oleh: Erna Multahada, M.Si

UNIVERSITAS MERCU BUANA FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI JURUSAN TEKNIK INDUSTRI

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

2

2008
MODUL KETUJUH DINAMIKA KELOMPOK DAN TIM KERJA
1. Tujuan Instruksional Umum Dengan mempelajari modul ini, Anda diharapkan mengetahui dan memahami dinamika kelompok dan tim dalam dunia kerja. 2. a. b. c. d. 3. Tujuan Instruksional Khusus Setelah mempelajari modul ini Anda diharapkan untuk: Mengetahui jenis-jenis kelompok Mengetahui dinamika kelompok formal Mengetahui dinamika kelompok informal Memahami peran tim dalam dunia kerja Jenis-jenis Kelompok Kelompok menurut Kartono (2005) adalah kumpulan yang terdiri dari dua atau lebih individu, dan kehadiran masing-masing individu mempunyai arti serta nilai bagi orang lain, dan ada dalam situasi saling mempengaruhi. Pada setiap anggota kelompok tersebut selalu kita dapati aksi-aksi dan rekasi yang timbal balik. Jadi ada dinamika kelompok. Kelompok secara struktural menurut Munandar (2001) dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu kelompok formal dan kelompok informal. Kelompok formal adalah kelompok yang dibentuk oleh manajer untuk membantu organisasi di dalam mencapai tujuan. Sedangkan kelompok informal didefinisikan sebagai suatu kelompok yang terbentuk berdasarkan tujuan persahabatan. Kelompok formal dan kelompok informal memiliki subklasifikasi. Kelompok formal terdiri atas kelompok komando dan kelompok tugas. Kelompok komando ditentukan oleh bagan organisasinya, terdiri dari atasan dan bawahan. Dan kelompok tugas adalah kelompok yang terdiri dari para karyawan

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

2

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

3

yang bekerja bersama untuk dapat menyelesaikan tugas tertentu. Sedangkan kelompok informal terdiri atas kelompok kepentingan dan persahabatan. Kelompok kepentingan adalah individu-individu bersatu karena memiliki kepentingan bersama. Dan kelompok persahabatan adalah individu-individu membentuk kelompok karena memiliki kesamaan. Gambar-1, Bagan Jenis-jenis Kelompok
Komando Komando Formal Formal Tugas Tugas Kelompok Kelompok Kepentingan Kepentingan Informal Informal Persahabatan Persahabatan

4.

Dinamika Kelompok Formal Kelompok formal atau organisasi formal yang disebut sebagai kelompok

sekunder, merupakan bentuk hierarki resmi, seperti telah ditentukan di atas kertas. Maka menjadi kewajiban para pemimpin ialah untuk memahami bagaimana fungsi dan beroperasinya kelompok formal tersebut dalam kenyataan dan praktiknya. Ciri-ciri kahas organisasi formal ialah: (1) bersifat impersonal, (2) kedudukan setiap individu berdasarkan fungsi masing-masing di dalam satu sistem hierarki, dengan tugas pekerjaan masing-masing, (3) relasinya berlandaskan alasan-alasan idiil, dan (4) suasana kerja dan komunikasi berlandaskan pada kompetisi/persaingan. Peran individu di dalam kelompok formal diatur sesuai dengan hierarki kekuasaan. Kekuasaan hierarkis akan didelegasikan secara bertingkat-tingkat, sehingga peran individu di dalam kelompok formal dapat dijalankan dengan sangat baik ketika ia memiliki iklim yang bersahabat, dan ada iklim saling bertukar pendapat secara terbuka.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

3

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

4

Pada kelompok formal orang melakukan usaha kooperatif mencapai tujuan/sasaran bersama, dibantu macam-macam sumber dan sarana. Berlangsunglah satu kerja sama, disertai kegiatan memimpin-dipimpin, ketertiban, pengaturan atau regulasi, pembagaian tugas pekerjaan, dan tata kerja yang teratur. Kelompok formal secara ringkas memiliki pengorganisasian yang menjalin semua relasi di antara semua kegiatan kerja, pemanfaatan tenaga manusia, dan kesatuan-kesatuan alat-alat serta mesin, dengan tugas dan otoritas sendiri-sendiri. Maka tugas pokok upaya kelompok formal atau pengorganisasian formal meliputi: 1. 2. 3. Menentukan kelompok/unit-unit kerja Membagi tugas-tugas kerja Menentukan tingkat otoritas, yaitu kewibawaan dan kekuasaan untuk bisa bertindak secara bertanggung jawab. Maka dengan sistem pembagian kerja dan tugas-tugas khusus atau spesialisasi, dicapai keterampilan/kemahiran teknis tinggi, penghematan waktu, dan maksimaliasi kecepatan kerja. Tersusunlah kemudian hierarki kerja dengan segala kompleksitasnya, yaitu berupa unit-unit kerja sebagai segmen/bagian dari satau totalitas yang bisa dikuasai dan diperintah secara langsung. Kemudian berlangsunglah relasi kerja yang baik dari pengorganisasian dan pengadministrasian yang dibutuhkan bagi satu kelompok formal. 5. Dinamika Kelompok Informal Kelompok informal atau organisasi informal yang dikenal dengan kelompok primer adalah sistem interelasi manusiawi berdasarkan rasa suka dan tidak suka, dengan iklim psikis yang intim, kontak muka berhadapan muka serta moral tinggi. Ciri-ciri khas kelompok informal meliputi: (1) terintegrasi dengan baik, (2) kelompok informal menjadi bagian dari kelompok formal, (3) setiap anggota kelompok mengadakan interrelasi yang kuat dengan komunikasi yang akrab, (4) terdapat iklim psikis “suka dan tidak suka” atau “iklim acuh dan tidak acuh”, dan (5) memiliki keterikatan afeksi yang baik. Peran individu di dalam kelompok informal menurut Luthans (1992), terkait dengan pola norma-norma yang dikembangkan; dalam pengertian lain, terkait

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

4

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

5

dengan aturan-aturan yang ada di dalam organisasi. Peran individu dapat dijalankan dengan sangat baik ketika ia memiliki harapan besar dapat menyesuaikan diri sesuai dengan norma-norma yang telah dibangun. Pada umumnya, kelompok informal di dalam organisasi memberikan tekanan pada setiap anggotanya agar menjalankan tugas kewajibannya sebaik-baiknya, dan memberikan partisipasi yang layak pada organisasi. Hal ini dilakukan untuk menghindari promosi atau kerja yang tidak wajar dan tidak dapat ditolerir dan dianggap sebagai tidak loyal terhadap kelompok. Setiap anggota akan dibela oleh kawan-kawan sekelompoknya atas dasar solidaritas dan loyalitas kelompok, bila dirugikan oleh atasan atau anggota kelompok lainnya. Dengan demikian aturan dan semua norma kelompok memiliki relasi dengan interest organisasi sekaligus terkait dengan kepentingan individual dari para anggota kelompok. Sukses pemimpin itu tidak hanya diukur dari keberhasilannya dalam menggerakkan individu-individu untuk berbuat saja, akan tetapi terutama sekali pada kemampuannya untuk menggerakkan kelompok sebagai totalitas. Karena itu salah satu tugas pemimpin ialah memperhatikan dinamika kelompok, yang memiliki emosi, afeksi, sentimen, semangat, jiwa dan kepribadian yang khas unik. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah hendaknya seorang pemimpin dapat membedakan antara gerombolan liar (mob, massa) dengan kelompok informal. Di dalam massa gerombolan liar atau mob tidak terdapat interrelasi pribadi/personal. Setiap individu sifatnya anonim---tidak dikenal, tanpa nama---, dan hilang lenyap dalam arus massa. Setiap anggota dari mob/massa tidak dikenal, dan tidak mengenal satu sama lain. Mereka tidak memiliki loyalitas, dan tidak diikat oleh kelompok. sedang dalam kelompok informal terdapat kontrol sosial yang ketat. Massa/mob tidak memiliki tujuan sosial, dan tidak punya suatu fungsi; sehingga tingkah laku masing-masing individu tidak bisa dipastikan oleh fungsinya. Mereka juga tidak dapat dikendalikan oleh kontrol bersama, karena tidak adanya relasi personal. Menurut Faturochman (1997) ciri-ciri psikologis massa adalah: irrasional, emosional, mudah tersugesti, lebih berani mengambil resiko, dan immoral. Lebih lanjut Faturochman menjelaskan bahwa sebab-sebab terjadi kondisi-kondisi di atas adalah karena mereka merasa kehilangan identitas dirinya. Dalam suasana

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

5

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

6

berkelompok, orang-orang merasa bahwa tanggung jawab pribadi terhadap suatu hal berpindah menjadi tanggung jawab kelompok. Keadaan seperti ini di sebut sebagai kekacauan tanggung jawab (diffusion of responsibilit). Oleh karena perpindahan tanggung jawab tersebut, orang-orang lebih berani berbuat nekat dan melanggar norma-norma sosial. Adapun dampak dari massa mob atau gerombolan liar ini sifatnya murni menular, menjalar, atau terinfeksi secara emosional. Kelompok informal di dalam organisasi ---perusahaan, kesatuan dan sebagainya ---bukan gerombolan liar atau massa. Kelompok-kelompok ini bukannya asosiasi-asosiasi sosial temporer. Akan tetapi merupakan asosiasi-asosiasi yang relatif permanen sifatnya; mempunyai ideologi, emosi-emosi kuat, dan tujuan yang jelas. Juga memiliki struktur yang definitif jelas. Jumlah anggotanya terbatas, tidak banyak seperti dalam massa. Setiap orang dalam kelompok informal mengetahui tugasnya, sifat dan kebiasaan masing-masing; jadi tidak anonim sifatnya. Setiap individu punya fungsi tertentu, dan menjalin interelasi akrab dengan anggota lainnya. Sehingga terdapat moral kelompok yang cukup tinggi dan kontrol sosial yang ketat. Eksistensi kelompok informal pada intinya bertopang pada kebutuhan untuk mencapai kepuasaan sosial, dan asas pilihan pribadi. Dalam kelompok informal dengan asosiasi intim, terdapat semacam fusi dari banyak individu, berwujud satu kesatuan totalitas kekamian dengan pemilikan unsur identifikasi dan simpati yang kuat. Maka perasaan individu lebur menyatu dengan emosi-emosi kawan-kawan kelompoknya. Kelompok informal tidak dapat diharapkan munculnya kesatuan yang mutlak serasi dan saling mencinta. Sebab kelompok-kelompok informal ini merupakan unitas-unitas yang selalu terdifirensiasi dan kompetitif sifatnya, di mana terdapat unsur penonjolan diri dan sentimen-sentimen pribadi. Namun semua emosi dan sentimen tersebut diperlunak dan “disosialisir” oleh rasa simpati dan jiwa kelompok yang hampir utuh sifatnya, berkat adanya bimbingan pemimpin. Lalu muncullah disiplin dan jiwa/semangat kelompok. Ambisi-ambisi pribadi biasanya berupa ambisi “dalam kerangkan jiwa kelompok”. Pada umumnya pribadi mematuhi norma-norma kelompoknya.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

6

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

7

Struktur dari kelompok-kelompok, tidak statis; justru perubahan merupakan jaringan kekuatan yang sangat dinamis yang bisa berubah-ubah. Sebabnya antara lain adalah: 1. 2. Seorang atau beberapa orang anggota bisa meninggalkan kelompoknya, dan digantikan oleh orang-orang lain. Mungkin terjadi peristiwa-peristiwa tertentu yang menimpa kelompok atau para anggotanya, sehingga hal tersebut dapat mengubah struktur dan prestise kelompok 3. Dengan terjadinya perubahan tugas, struktur kelompok akan ikut berubah. Lalu muncul mekanisme kerja baru dan figur pemimpin yang baru, sesuai dengan kebutuhan, situasi, dan kondisi yang khusus. 6. Tim Dalam Dunia Kerja Tim menurut Katzenbach dan Smith (dalam Kreitner & Kinicki, 2004) adalah sejumlah kecil orang dengan keterampilan-keterampilan yang saling melengkapi dan menganggap bahwa mereka sama-sama bertanggung jawab terhadap tujuan, sasaran kinerja, dan pendekatan bersama. Tim di dalam dunia kerja memiliki komitmen bersama. Tim kerja diciptakan untuk berbagai maskud yang lebih efisien di dalam menghadapi tantangan yang berbeda. Secara umum tim kerja terdiri dari empat jenis, yaitu: 1. Tim penasihat. Tim penasihat diciptakan untuk memperluas basis informasi bagi keputusan-keputusan manajerial. Tim penasihat cenderung memiliki tingkat spesialisasi teknis yang rendah. Koordinasi juga rendah karena tim penasihat sebagian besar bekerja sendiri. 2. Tim produksi. Tim bertanggung jawab untuk menjalankan operasioperasi harian. Melakukan pelatihan yang minimal untuk tugas-tugas yang rutin, dan memiliki tingkat spesialisasi teknis yang rendah. Namun, koordinasi khususnya tinggi karena arus kerja dari satu tim ke tim yang lain. 3. Tim proyek. Proyek-proyek membutuhkan pemecahan masalah yang kreatif, dan seringkali melibatkan aplikasi dari pengetahuan khusus.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

7

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

8

4.

Tim tindakan. Tim tindakan memiliki spesialisasi tinggi yang dikombinasikan dengan koordinasi yang tinggi pula. Selain empat jenis tim di atas, yaitu bekerja melalui tatap muka, terdapat tim

yang bekerja menggunakan teknologi komputer, yaitu tim virtual. Tim virtual adalah sebuah kelompok tugas yang tersebar secara fisik yang menjalankan usahanya melalui teknologi informasi modern. Menurut pendukungnya tim virtual sangat fleksibel dan efisien karena didorong oleh informasi dan keterampilan. Akan tetapi sisi negatifnya adalah kurangnya interaksi tatap muka dapat memperlemah kepercayaan, komunikasi dan akuntabilitas. Terdapat tiga faktor utama yang membedakan tim virtual dari tatap muka, yaitu (1) kemangkiran paraverbal dan nonverbal, (2) konteks batas sosial, dan (3) bakat yang datang dan tingkat hambatan. Adapun kriteria efektivitas tim kerja, yaitu: kinerja dan kelangsungan hidup. Kinerja berarti keberterimaan output (hasil/informasi) bagi para konsumen di dalam atau di luar organisasi yang menerima produk, jasa, informasi, keputusan, atau pelaksanaan kegiatan-kegiatan tim (seperti presentasi atau kompetisi). Sementara yang sedang berjalan terkait dengan pemuasan kebutuhan dan harapan orangorang luar seperti klien, konsumen, dan penggemar. Untuk kriteria kelangsungan hidup tim, di definisikan sebagai kepuasan anggota tim dan berlanjutnya keinginan untuk berkontribusi. Apakah anggota tim menjadi lebih baik atau lebih buruk karena telah menyumbang pada upaya tim? Sebuah kerja tim tidak benar-benar efektif jika ia berhasil menyelesaikan pekerjaan namun merusak dirinya sendiri selama dalam proses atau menimbulkan habisnya kekuatan fisik, emosional maupun motivasi dari setiap kelompok. Model ekologis menggambarkan tim kerja di dalam lingkungan organisasional mereka. Model ekologi menekankan bahwa tim kerja membutuhkan sebuah sistem dukungan kehidupan organisasional. Terdapat enam variabel penting dalam konteks organisasional. Tim kerja memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk menjadi efektif jika tim diasuh dan difasilitasi oleh organisasi. Tujuan tim harus sesuai dengan strategi organisasi. Demikian juga, partisipasi dan otonomi tim membutuhkan budaya organisasional yang menghargai proses-proses tersebut.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

8

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

9

Anggota tim juga membutuhkan peralatan teknologi dan pelatihan. Kerja tim perlu diperkuat dengan sistem pemberian penghargaan organisasional. Tidak demikian halnya jka pemberdayaan dan bonus dikaitkan semata-mata dengan output individual. Sedangkan berkaitan dengan proses-proses internal dari tim kerja, terdapat lima faktor penting yang merupakan karakteristik tim efektif yang diperluas yang dapat bermanfaat dalam mengevaluasi tim tugas di dalam pekerjaan. Model Ekologis dari Efektivitas Tim Kerja
Konteks Organisasi -Budaya -Sistem penghargaan -Dukungan Administrasi/ pelatihan Kriteria Efektivitas Tim: 1. Kinerja: Hasil tim memenuhi harapan pengguna 2. Kelangsungan hidup -Anggota puas dengan pengalaman kelompok -Anggota berkeinginaan untuk meneruskan kontribusi pada upaya tim

-Strategi -Struktur -Teknologi

Tim Kerja Komposisi anggota Dinamika antar pribadi Tujuan Sumber daya Koordinasi dengan unit kerja lain

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB struktur

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

9

M R-7. P I/O: Dinamika Kelompok dan Tim Kerja

10

REFERENSI

Faturochman. 1997. Diktat Psikologi Sosial. Vol 1. Tidak Diterbitkan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada. Kartono, K. 2002. Psikologi Sosial Untuk Manajemen, Perusahaan dan Industri. Jakarta: Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Kartono, K. 2005. Pemimpin dan Kepemimpinan: Apakah Kepemimpinan Abnormal Itu? Jakarta: Penerbit PT. Raja Grafindo Persada. Kreitner & Kinicki. 2004. Organizational Behavior. 6-th ed. Mc. Graw-Hill Companies, Inc. Luthans, F. 1992. Organizational Behavior. 6-th ed. Mc. Graw-Hill International Book Co-Singapore. Munandar , A. S. 2001. Psikologi Industri dan Organisasi. Jakarta: UI Press. Robbins, S.P. 2003. Organizational Behavior. Jakarta: PT Indeks kelompok Gramedia.

PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR-UMB

Erna Multahada, S.HI., M.Si.

PENGANTAR PSIKOLOGI INDUSTRI

10

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->