EFEKTIVITAS PENDEKATAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING) DALAM MENGATASI KESULITAN BELAJAR BAHASA INGGRIS SISWA KELAS

II SEMESTER I SMP NEGERI 1 BRANGSONG KENDAL TAHUN PELAJARAN 2004/2005

SKRIPSI
Untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Pada Universitas Negeri Semarang

Oleh : Dinny Eritha Ningrum 1124000013

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN JURUSAN KURIKULUM TEKNOLOGI PENDIDIKAN 2005

KATA PENGANTAR
Puji Syukur penulis senantiasa panjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyusun skripsi ini dengan judul “Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris Siswa Kelas II Semester I Sekolah Menengah Pertama Negeri I Brangsong Kota Kendal Tahun Pelajaran 2004/2005”. Penulis sangat bersyukur karena dapat menyelesaikan skripsi ini guna memenuhi sebagian persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang. Dalam proses penyusunan skripsi ini penulis menyadari banyak pihak yang telah membantu dan memberikan dorongan sehingga pada akhirnya skripsi ini dapat berjalan dengan lancar. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada yang terhormat :

1. Dr. A.T. Soegito, SH. MM; Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan dalam rangka penulisan skripsi ini. 2. Drs. Siswanto, MM; Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian.

3. Drs. Haryanto, Ketua Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian. 4. Dr. Nugroho, M.Psi; Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana serta memberikan dorongan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. 5. Dra. Nurussa’adah, M.Si; Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan dengan sabar dan bijaksana serta memberikan dorongan dari awal hingga akhir penulisan skripsi ini. 6. Dra. Hj. Amien Ariyatna Yusuf; Kepala Sekolah SMP Negeri I Brangsong Kendal, yang telah memberikan ijin untuk

melaksanakan penelitian. 7. Pujiono, S.Pd dan Setyawati Rini, S.Pd; Guru Bahasa Inggris kelas II-F dan II-B yang telah memberikan bantuan dan dorongan untuk menyelesaikan skripsi ini. 8. Keluarga besarku yang ada di Semarang yang selalu memberikan semangat baik secara material maupun spiritual. 9. Teman-temanku yang telah membantu dan selalu memberikan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini yang tidak dapat ditulis satu persatu.

oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun dari berbagai pihak sangat diharapkan. Akhirnya semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi penulis sendiri khususnya dan pembaca pada umumnya.Dengan segala kerendahan hati. Semarang. Penulis menyadari bahwa karya ini masih belum sempurna. Januari 2005 Penulis .

Fakultas Ilmu Pendidikan. CTL.Psi. M. M. 2005. Penelitian ini diadakan dengan latar belakang bahwa pada dasarnya masih terdapat kesulitan dalam belajar Bahasa Inggris Siswa Sekolah Menengah Pertama sebab pembelajaran yang dilaksanakan sehari-hari masih menggunakan pendekatan konvensional dalam proses pembelajarannya. Kata Kunci : Efektivitas. Eksperimen. Judul “Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris pada Siswa Kelas II Semester I Sekolah Menengah Pertama Negeri I Brangsong Kota Kendal Tahun Pelajaran 2004 – 2005”. Jurusan Kurikulum Teknologi Pendidikan. Skripsi. Pembimbing II Dra. Nugroho.Si. Kuantitatif. Universitas Negeri Semarang. Dinny Eritha. Nurussa’adah. Kesulitan Belajar.SARI Ningrum. Sedangkan pendekatan CTL bila digunakan dalam pembelajaran akan dapat memenuhi kebutuhan siswa karena . Pembimbing I Dr.

Desain eksperimen yang digunakan dalam penelitian ini adalah pola randomized control group pretest-posttest. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana efektivitas pelaksanaan pendekatan CTL pada proses pembelajaran siswa SMP Negeri I Brangsong Kendal dan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan pendekatan CTL terhadap keberhasilan belajar siswa dibandingkan dengan model pembelajaran konvensional pada mata pelajaran Bahasa Inggris Siswa Kelas II-F dan II-B Semester I Tahun Pelajaran 2004 – 2005. . Pelaksanaan eksperimen dilakukan sejak bulan September – Oktober 2004. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan ketentuan SMP Negeri I Brangsong Kendal Kelas II-F sebagai kelompok eksperimen dan kelas II-B sebagai kelompok kontrol yang sebelumnya telah di matching terlebih dahulu dengan menggunakan nilai pre-test. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan analisa data dari statistik.CTL merupakan metode pembelajaran baru yang menuntut keaktifan guru dan siswa atau menuntun siswa untuk menemukan sendiri kandungan materi pelajaran dengan pengalaman.

60 dan untuk kelompok kontrol adalah 72.15.75.75 dan kelompok kontrol sebesar 75.444. karena r11 > rtabel. Untuk kelompok eksperimen 20 siswa dan untuk kelompok kontrol 20 siswa.Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas II-F dan II-B SMP Negeri I Brangsong Kendal Tahun Pelajaran 2004 – 2005 dengan jumlah 96 siswa. reliabilitas. Sebelum pelaksanaan eksperimen. diperoleh rtabel 0. pengambilan untuk sampel menggunakan teknik cluster random sampling atau sampel acak berkelompok yang sebelumnya telah di matching terlebih dahulu dengan hasil 40 siswa yang dibagi dalam dua kelompok. Dari analisis reliabilitasnya diperoleh rempiris 0. maka instrumen tersebut telah diuji cobakan terlebih dahulu untuk mengetahui tingakat validitas. Dari 25 soal yang telah diuji cobakan yang dinyatakan valid sebanyak 20 soal yang selanjutnya akan digunakan dalam penelitian. Tehnik pengumpulan data dengan menggunakan test yaitu pretest dan post-test. Teknik analisis yang . maka dapat disimpulkan bahwa instrumen yang akan digunakan dalam penelitian tersebut reliabel. indeks kesukaran dan daya pembeda soal. Sedangkan hasil post-test memiliki mean dari kelompok eksperimen sebesar 81.9746 dengan taraf signifikansi 5%. Hasil rata-rata pre-test untuk kelompok eksperimen adalah 72.

69. Hasil dari perhitungan statistik diperoleh bahwa nilai thitung sebesar 1. penulis sarankan hal-hal sebagai berikut : (1) Kepada Guru di Sekolah Menengah Pertama hendaknya dapat mengembangkan kreativitas dalam melaksanakan pembelajaran yang diantaranya dengan menerapkan . Dari hasil data tersebut menunjukkan bahwa thitung lebih besar daripada ttabel. Berdasarkan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menolak hipotesis nihil (Ho) yang menyatakan bahwa “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya tidak berbeda dengan siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional” dan menerima hipotesis penelitian (Hi) yang berbunyi “ Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional”.digunakan untuk menguji hipotesis ini adalah t-test.855. Hasil ini bila dikonsultasikan pada tabel t dengan taraf signifikansi 5% diperoleh ttabel sebesar 1. ketentuannya yaitu Ho ditolak dan Hi diterima. Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian di atas.

. sehingga para Guru dapat bekerja dengan lebih baik dan professional yang nantinya dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia.pendekatan belajar mengajar model CTL dalam setiap mata pelajaran (khususnya mata pelajaran bahasa). disarankan untuk mengadakan pelatihan khusus tentang pelaksanaan pembelajaran model CTL kepada para Guru. baik bagi kehidupannya sendiri maupun orang lain. (2) Kepada Guru disampaikan untuk senantiasa bersikap terbuka terhadap inovasi dan merespon aktif dan kreatif setiap perkembangan pendidikan. sehingga apa yang dilakukan terhadap siswa benar-benar berguna. (3) Kepada Kepala Sekolah agar dapat mengevaluasi kegiatan belajar yang dilaksanakan oleh Guru dan mengadakan monitoring secara rutin dengan tujuan untuk mengingatkan para Guru agar dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik dan (4) Kepada Instansi atau Lembaga yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah.

Selama ini. Kalsel. Sumbar. NTT. Laporan Human Development Report United Development Program (UNDP) tahun 1997 menyatakan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (HDI) yang meliputi pendidikan. Latar Belakang Pendidikan merupakan usaha agar manusia dapat mengembangkan potensi dirinya melalui proses pembelajaran dan/atau cara lain yang dikenal dan diakui oleh masyarakat. Didukung oleh kemajuan ilmu dan teknologi. DIY.1. Suyanto (2003).4%) telah belajar Bahasa Inggris ketika di SD.4% . juga tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan lanjutan dibanding siswa negara lain yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris juga. terlihat dengan adanya pendidikan Bahasa Inggris dimulai sejak di Sekolah Dasar. Indonesia berada pada peringkat 102 di tahun 2001 dibandingkan dengan Jepang pada peringkat ke-8.E.404 siswa di sepuluh propinsi (Jatim. Bali. Mereka merasa senang belajar Bahasa Inggris (89. dan Sumsel) menunjukkan bahwa siswa dengan NEM tinggi (66. memang kita akui bahwa siswa tingkat dasar di Indonesia masih lemah dalam penguasaan Bahasa Inggris. Jateng. dan Thailand ke-47. Kasihani K. kesehatan dan perekonomian dari 173 negara. menerangkan tahun 2002 responden 3. Kalteng.9%) dan dengan NEM rendah (56.BAB I PENDAHULUAN 1. Sulsel. dunia pendidikan secara nyata telah berkembang pesat.

9%) menyatakan mengalami kesulitan dalam pelajaran Bahasa Inggris. Sebagai contoh nilai rata-rata tes untuk mengukur ketrampilan membaca 48 siswa SLTP 2 Boyolali Jawa Tengah adalah 4. Kenyataan dan penelitian diagnostik (Sadtono dkk.18 dan tahun 2000/2001 sebesar 4. Sayang sekali rasa senang belajar Bahasa Inggris di SD ini ketika di SMP justru menurun menjadi 63% dan lebih dari separuh (62.2 yang menunjukkkan bahwa lebih dari 75% siswa memiliki ketrampilan membaca dan penguasaan kosakata yang rendah (Syamsudin. Kenyataan di lapangan juga menunjukkan bahwa tenaga kerja Indonesia (TKI) dan tenaga kerja wanita (TKW) yang keluar negeri kebanyakan lulusan SD/SMP yang belum dapat berbicara dalam bahasa asing terutama Bahasa Inggris walaupun dalam bahasa yang sangat sederhana sehingga mereka sukar untuk .85 yang dihubungkan dengan skor TOEFL antara 400-500 yang diperoleh guru instruktur Bahasa Inggris yang diberikan secara random. Walaupun merasa senang. 1996) menunjukkan bahwa hasil belajar Bahasa Inggris di SMP masih jauh dari target yang diharapkan. Hal tersebut sejalan dengan NEM Bahasa Inggris siswa tahun 1998/1999 sebesar 4.4% NEM rendah). 2001). mereka juga menyatakan bahwa belajar Bahasa Inggris itu sulit.NEM tinggi dan 85. Hasil survey The Political and Economic Risk Consultancy (PERC) di Hongkong menyatakan sistem pendidikan di Indonesia menempati peringkat 12 di Asia setelah Vietnam. sehingga Indonesia harus mengejar kemajuan negara lain dengan memperbaiki kualitas pendidikannya.

berkompetisi dengan tenaga kerja dari negara Philipina dan Thailand yang dapat berbahasa Inggris. (Depdiknas. 2002. Juklak Inggris SLTP) Mengikuti era globalisasi dan AFTA sejak tahun 2003, tidak dapat diragukan bahwa bahasa asing merupakan alat komunikasi terpenting sekaligus merupakan salah satu ketrampilan hidup (life skill) yang harus dikuasai oleh seseorang, khususnya siswa. Hal itu sesuai dengan Undang – Undang No. 25 Tahun 2000 tentang Propenas 2000 – 2004 dengan tujuan untuk mengantisipasi era globalisasi dunia pendidikan. Untuk itu, anak usia dini lebih baik telah diajarkan bahasa asing. Ditinjau dari kondisi psikologis anak, saat anak berumur 4 tahun, perkembangan kapasitas otak hanya 50%. Namun, akan melaju cukup pesat ketika ia di atas 4 tahun menjelang 8 tahun. Saat itu, perkembangan otaknya bisa mencapai 80%. Memang, tak salah bila pakar linguistik yang menyebutkan usia 6-12 tahun merupakan masa emas atau paling ideal untuk belajar bahasa selain bahasa ibu (bahasa pertama). Pada masa ini anak lebih berhasil pada penguasaan fonologi (tata bunyi) bahasa Inggris. Sedangkan pada anak lebih tua 6-15 tahun lebih berhasil pada penguasaan morfologi (satuan bentuk bahasa terkecil) dan sintaksisnya (susunan tata kalimat). ( Kompas, 14 September 2002 ) Alva Handayani ( 14 September 2002 ), dosen Fakultas Psikologi Unisba yang sedang menyelesaikan S-II di program Pasca Sarjana Unpad mengungkapkan otak anak usia 6-15 tahun masih plastis dan lentur sehingga proses penyerapan bahasa lebih mulus. Lagipula daya penyerapan bahasa pada

anak berfungsi secara otomatis. Cukup dengan pemajanan diri (self exposure) pada bahasa tertentu. Masa emas itu tidak dimiliki oleh orang dewasa. Pengajaran Bahasa Inggris pada anak harus memakai cara seperti kalau kita membawa anak ke dunia yang berkomunikasi dengan Bahasa Inggris. Anak dihadapkan langsung dengan lingkungan yang berbahasa Inggris. Dengan begitu, anak akan secara otomatis menyerapnya. Dalam proses belajar mengajar di sekolah, siswa Sekolah Menengah Pertama seringkali masih merasa sulit belajar Bahasa Inggris bahkan cenderung bosan mengikuti proses belajar mengajar di kelas karena strategi pelajaran yang digunakan oleh guru kurang variatif dan menyenangkan. Pada saat sedang belajar di kelas, mereka sering bermain atau minta izin keluar dengan berbagai alasan. Tentunya sistem pembelajaran yang dilakukan di kelas bagi sekolah dengan sistem full day, tentu bisa menimbulkan kejenuhan. Bila dibiarkan dapat berakibat fatal yaitu anak menjadi malas belajar bahkan mogok sekolah. Untuk menjawab kebutuhan terhadap penguasaan Bahasa Inggris, kurikulum di Indonesia telah mengalami beberapa perubahan (Dardjowidjojo, 2000). Dimulai dengan pendekatan tata bahasa dan terjemahan (1945), oral (1968), audio-lingual (1975), komunikatif (1984) dan kebermaknaan (1994). Perubahan drastis dalam tahap perumusan kurikulum standar terjadi di tahun 1984 saat pengajaran bahasa asing bergeser dari behaviorism menuju konstruktivisme. Bahasa dipandang sebagai suatu fenomena sosial, dan pengajaran bahasa seharusnya lebih menekankan pada penggunaan, bukan

pada struktur bahasa. Mengacu paradigma baru ini, kurikulum 1984 dan 1994 bercita-cita membangun kemampuan siswa untuk berkomunikasi dalam Bahasa Inggris secara aktif. Akan tetapi, cita-cita dalam kurikulum 1984 dan 1994 sama sekali tidak mendarat dan terlaksana. Sebagian besar guru Bahasa Inggris di Indonesia belum kompeten dan lancar berbahasa Inggris. Kesulitan dalam ujian listening Bahasa Inggris bukan hanya disebabkan oleh alasan teknis tetapi juga mismatch (ketidakterkaitan) antara apa yang diajarkan dengan apa yang diujikan. Menurut Adji Esa ( 7 Oktober 2003 ), di masa silam ada ungkapan bijak seperti “bawalah kelas ke bawah pohon yang rindang”. Yang terjadi justru anak-anak sekolah menghadapi suasana belajar yang tidak menyenangkan seperti penegakan disiplin belajar yang keras dan kaku. Siswa tidak ditumbuhkan minat belajar, tetapi dipaksa mau belajar. Akibatnya hari libur sekolah dianggap siswa sebagai hari kebebasan yang ditunggu-tunggu. Siswa Sekolah Menengah Pertama sekarang tampaknya dipaksakan untuk mempelajari tiga bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris dan Bahasa Daerah. Bahkan, terkadang ada sekolah yang mengajarkan juga bahasa Arab atau Mandarin. Dengan kenyataan itu, bisa dibayangkan bagaimana beratnya beban siswa. Padahal, mantan Mendikbud Prof. Dr. Fuad Hassan pernah membuat pernyataan yang patut direnungkan yaitu kualitas pendidikan sesungguhnya tidak ditentukan oleh banyaknya mata pelajaran, melainkan daya serap yang maksimal atas pelajaran yang diterimanya di sekolah. (http ://www.Pikiran Rakyat.com/cetak/1003/07/0303.htm – 17k)

Sehingga konsep yang harus diusahakan antara lain meningkatkan kesadaran akan pentingnya menyajikan pembelajaran Bahasa Inggris dengan mengikutsertakan siswa secara aktif. Dalam proses belajar aktif di sekolah. Akan tetapi pemahaman yang kurang sempurna atas konsep-konsep tersebut membuat tujuan pengajaran kurang berhasil. Akibatnya muncul keluhan siswa bahwa Bahasa Inggris merupakan bahasa kebatinan karena hanya dibatin saja dan tidak dapat berbicara. perlunya sarana atau buku yang bervariasi.” kata Agnes. siswa tidak hanya menerima materi pelajaran semata melainkan diberikan kesempatan seluas-luasnya mengembangkan olah pikir dan wawasannya sehingga mereka tidak lagi merasa malu-malu dan berani mengambil inisiatif dalam proses belajar mengajar.Pengajaran Bahasa Inggris di sekolah lebih banyak berfokus pada pengajaran tata bahasa dan kurang memberikan kesempatan pada siswa untuk berlatih berbicara dalam Bahasa Inggris. sehingga anak didik bisa leluasa belajar. “Yang terpenting bagaimana membuat anak didik senang. ibaratnya belajar sambil bermain. bergambar dapat menarik siswa untuk memiliki minat baca yang tinggi. mengapa siswa SMP tidak dapat berbicara Bahasa Inggris sebaik lulusan kursus dan mengapa tidak dapat berbicara dalam Bahasa Inggris seperti orang asing yang sedang berbicara dalam Bahasa Indonesia walaupun terpatah-patah. interaktif dan komunikatif melalui berbagai alat bantu kegiatan atau tugas yang dapat mendorong siswa untuk berlatih menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Pembantu dekan II Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas . Selain itu.

keberanian siswa dalam proses belajar aktif masih kurang dan mereka cenderung malu-malu untuk berperan aktif. dalam proses belajar khususnya mata pelajaran Bahasa Inggris.Katolik Widya Mandala Surabaya ( Kompas. pengalaman selama ini. Berdasar latar belakang masalah tersebut maka pembelajaran dengan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Bahasa . yang kemudian akan berpengaruh terhadap proses belajar mengajar yang diberikan oleh guru. Merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan mengetahui kesulitan dalam belajar Bahasa Inggris dapat membantu guru dalam memberikan pelajaran dan menerapkan strategi belajar yang akan dipakai. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. 18 Agustus 2001 ). bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. sehingga akan terbangun interaksi. Sehingga dapat menghasilkan pembelajaran yang optimal. Sesuai dengan teori di atas maka dapat dicari berbagai macam kesulitan belajar Bahasa Inggris bagi anak Sekolah Menengah Pertama. Dengan demikian peran guru sangat menentukan proses belajar yang menekankan pada belajar aktif siswa. Agnes lebih lanjut mengatakan. Misalnya mencoba menerapkan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Kelebihan konsep belajar ini yaitu hasil pembelajaran diharapkan alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami.

Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan hasil belajar Bahasa Inggris antara kelompok yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan kelompok yang tidak menggunakan pendekatan kontekstual. 1. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas. diangkat menjadi permasalahan penelitian ini. . maka permasalahan dalam penelitian ini adalah : 1.3. Sehingga penulis terdorong untuk melakukan penelitian mengenai Efektivitas Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Bahasa Inggris pada Siswa Kelas II Semester I SMP Negeri 1 Brangsong Kendal Tahun Pelajaran 2004/2005. Seberapa besar efektivitas proses belajar mengajar Bahasa Inggris dengan pendekatan kontekstual untuk mengatasi kesulitan belajar Bahasa Inggris? 1.Inggris bagi anak usia Sekolah Menengah Pertama.2. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah : 1. Adakah perbedaan hasil belajar Bahasa Inggris antara kelompok belajar yang menggunakan pendekatan kontekstual dengan kelompok yang tidak menggunakan pendekatan kontekstual? 2.

dapat diperoleh manfaat atau pentingnya penelitian. Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Adapun manfaat penelitian ini adalah : 1. 1. Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan penelitian di atas. Manfaat Praktis Bagi Peneliti Untuk menambah pengetahuan dan berbagai sarana untuk menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah terhadap masalah nyata yang dihadapi oleh dunia pendidikan. Untuk mengetahui seberapa besar efektivitas penggunaan pendekatan kontekstual yang diberikan oleh guru dalam memberikan mata pelajaran Bahasa Inggris. selain itu juga dapat memberi pemahaman psikologis terhadap guru-guru dalam penggunaan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) khususnya mata pelajaran Bahasa Inggris.2.4. 2. Bagi Sekolah .

khususnya tentang efektifitas penggunaan pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning ) dalam kegiatan belajar mengajar. Bagi Fakultas Dapat digunakan sebagai bahan untuk mengembangkan pengetahuan serta bahan perbandingan bagi pembaca yang akan melakukan penelitian.Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada pihak sekolah. yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memacu belajar siswa. .

bukan gambar atau tanda lain. Bahasa adalah alat verbal yang digunakan untuk berkomunikasi. 2. seorang filsuf bangsa Perancis berpendapat bahwa bahasa itu berasal dari teriakan-teriakan dan gerak-gerik badan yang bersifat naluri yang dibangkitkan oleh perasaan atau emosi yang kuat. B. Sistem bahasa ini merupakan sistem lambang. 2. Jadi. Kemudian .1. sama dengan sistem lambang lalu lintas.1. sedangkan berbahasa adalah proses penyampaian informasi dalam berkomunikasi itu.1. Dan bunyi itu adalah bunyi bahasa yang dilahirkan oleh alat ucap manusia. F.1.1. bahasa itu bukan merupakan satu sistem tunggal melainkan dibangun oleh sejumlah subsistem.1.Asal – Usul Bahasa Banyak teori telah dilontarkan para pakar mengenai asal-usul bahasa. Hakikat Bahasa Bahasa itu adalah satu sistem. yang sekaligus bersifat sistematis dan bersifat sistemis. sama dengan sistem-sistem lain. atau sistem lambang lainnya. KAJIAN PUSTAKA 2.2. Bahasa dan Berbahasa Bahasa dan berbahasa adalah dua hal yang berbeda.1.BAB II LANDASAN TEORI DAN HIPOTESIS A. Konsep Bahasa 2.1. sistem lambang bahasa ini berupa bunyi. Condillac (1975). Hanya. Beberapa diantaranya adalah : a.

fungsi ini sudah mencakup lima fungsi dasar. Kelima fungsi dasar ini mewadahi konsep bahwa bahasa alat untuk melahirkan ungkapan-ungkapan batin yang ingin disampaikan seorang penutur kepada orang lain. dan yang lama kelamaan semakin panjang dan rumit. Kemudian bunyibunyi itu dipakai bersama oleh orang-orang di tempat itu. Brooks (1975). b. dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran. Ada bahasa yang lahir dari onomatope yaitu peniruan bunyi alam. ada juga yang lahir dari kesadaran manusia. Asal-usul bahasa itu sangat berlainan tergantung pada faktor-faktor yang mengatur tumbuhnya bahasa itu. memperkenalkan satu teori mengenai asal-usul bahasa yang sejalan dengan perkembangan psikolinguistik. seorang pakar sosiolinguistik juga mengatakan bahwa fungsi adalah alat komunikasi manusia.teriakan-teriakan ini berubah menjadi bunyi-bunyi yang bermakna. Bahasa itu lahir pada waktu yang sama dengan kelahiran manusia. atau kejadian tetap di sekitar yang dekat dengan bunyi-bunyi itu.1. hal. konsep. gagasan. Bahasa pada mulanya berbentuk bunyibunyi tetap untuk menggantikan atau sebagai simbol bagi benda. 1967 : 51) . baik lisan maupun tulisan. seorang ahli filsafat bangsa Jerman. c. atau juga perasaan (Chaer. Von Sclegel (1975). Wardhaugh (1972).1. Namun. berpendapat bahwa bahasa-bahasa yang ada di dunia ini tidak mungkin bersumber dari satu bahasa. (Michel.3. 2. 1995). Fungsi – Fungsi Bahasa Fungsi bahasa adalah alat interaksi sosial.

1. Karena bahasa ini digunakan manusia dalam segala tindak kehidupan. Fungsi informasi adalah fungsi untuk menyampaikan pesan atau amanat kepada orang lain. marah. gerak-gerik. Fungsi persuasi adalah penggunaan bahasa yang bersifat mempengaruhi atau mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu secara baik-baik. menyenangkan. sedangkan perilaku dalam kehidupan itu sangat luas dan beragam. 1995 : Nasaban. benci. atau memuaskan perasaan batin. sedih. antara kata dengan kata di dalam frase. dan keadaan. Fungsi entertainment adalah penggunaan bahasa dengan maksud menghibur. dan kecewa dapat diungkapkan dengan bahasa meskipun tingkah laku. misalnya antara fonem dengan fonem di dalam kata. Struktur menyangkut masalah hubungan antara unsur-unsur di dalam satuan ujaran. dan mimik juga berperan dalam pengungkapan ekspresi batin itu.Fungsi ekspresi adalah penggunaan bahasa untuk pernyataan senang. maka fungsi-fungsi bahasa itu bisa menjadi sangat banyak sesuai dengan banyaknya tindak dan perilaku serta keperluan manusia dalam kehidupan.4. kagum.1. (Chaer. perkara. Fungsi eksplorasi adalah penggunaan bahasa untuk menjelaskan suatu hal. Struktur Bahasa Dalam setiap analisis bahasa ada dua buah konsep yang perlu dipahami. atau juga antara . yaitu struktur dan sistem. 1984) 2. jengkel.

Whorf Edward Sapir (1884 – 1939) linguis Amerika memiliki pendapat yang hampir sama dengan Von Humboldt. kita lihat berbahasa.2.frase dengan frase di dalam kalimat. Jadi. Teori Sapir . berpikir. Maksudnya. Anggota-anggota masyarakat itu tidak dapat menyimpang lagi dari garis-garis yang telah ditentukan oleh bahasanya itu. Berpikir dan Berbudaya Berbahasa adalah penyampaian pikiran atau perasaaan dari orang yang berbicara mengenai masalah yang dihadapi dalam kehidupan budayanya. Sapir mengatakan bahwa manusia hidup di dunia ini di bawah “belas kasih” bahasanya yang telah menjadi alat pengantar dalam kehidupannya bermasyarakat. a. Telah menjadi fakta bahwa kehidupan suatu masyarakat sebagian “didirikan” di atas tabiat-tabiat dan sifat-sifat bahasa itu. Sedangkan sistem berkenaan dengan hubungan antara unsur-unsur bahasa pada satuan-satuan ujaran yang lain. sarjana abad ke – 19. Karena itulah. menekankan adanya ketergantungan pemikiran manusia pada bahasa. 2. b. pandangan hidup dan budaya suatu masyarakat ditentukan oleh bahasa masyarakat itu sendiri. dan berbudaya adalah tiga hal atau tiga kegiatan yang saling berkaitan dalam kehidupan manusia. Teori Wilhelm Von Humboldt Wilhelm Von Humboldt (1767 – 1835). tidak ada dua buah bahasa yang sama sehingga dapat dianggap mewakili satu masyarakat yang sama. Setiap bahasa . Hubungan Berbahasa.1.

Benjamin Lee Whorf (1897 – 1941). (Simanjuntak. Pikiranlah yang menentukan aspek-aspek sintaksis dan leksikon bahasa. tetapi dalam periode sensomotorik. menolak pandangan klasik mengenai hubungan bahasa dan berpikir yang mengatakan bahwa bahasa dan berpikir merupakan dua hal yang berdiri sendiri. Piaget mengembangkan teori pertumbuhan kognisi. tetapi semuanya menyatakan rumusan-rumusan yang sama yang didasarkan pada pemikiran dan pengamatan yang sama. Teori Jean Piaget Piaget (1962). murid Sapir. . Tanpa pikiran bahasa tidak akan ada. Piaget mengemukakan dua hal penting mengenai hubungan bahasa dengan kegiatankegiatan intelek (pikiran). 1987). Sumber kegiatan intelek tidak terdapat dalam bahasa. bukan sebaliknya. sebagai berikut : 1.dari satu masyarakat telah “mendirikan” satu dunia tersendiri untuk penutur bahasa itu. Pandangan klasik juga mengatakan meskipun setiap bahasa mempunyai bunyi-bunyi yang berbeda. dikembangkan secara penuh dan membuat lebih dahulu gambaran-gambaran dari aspek-aspek struktur golongan-golongan dan hubungan-hubungan benda-benda (sebelum mendahului gambaran-gambaran lain) dan bentuk-bentuk dasar penyimpanan dan operasi pemakain kembali. sarjana Perancis berpendapat justru pikiranlah yang membentuk bahasa. c. yaitu satu sistem skema.

Semua kanak-kanak bisa dikatakan mengikuti strategi dan . Jadwal perkembangan bahasa yang sama berlaku bagi semua kanakkanak normal. banyak bukti yang menunjukkan bahwa manusia menerima warisan biologi asli berupa kemampuan berkomunikasi dengan menggunakan bahasa yang khusus untuk manusia dan yang tidak ada hubungannya dengan kecerdasan dan pemikiran. d. Teori Eric Lenneberg Eric Lenneberg (1964) mengajukan teori yang disebut Teori Kemampuan Bahasa Khusus. Keduanya memiliki suatu proses yang lebih umum. Pembentukan pikiran yang tepat dikemukakan dan berbentuk terjadi pada waktu yang bersamaan dengan pemerolehan bahasa. seperti bagian-bagian otak tertentu (bagian konteks tertentu) yang mendasari bahasa. yaitu konstitusi fungsi lambang pada umumnya. Fungsi lambang ini mempunyai beberapa aspek. Menurut beliau.. Piaget menegaskan bahwa intelek (pemikiran) sebenarnya adalah aksi atau perilaku yang telah dinuranikan dan dalam kegiatan-kegiatan sensomotorik termasuk juga perilaku bahasa. Bukti bahwa manusia telah dipersiapkan secara biologis untuk berbahasa menurut Lenneberg adalah sebagai berikut : Kemampuan berbahasa sangat erat hubungannya dengan bagian-bagian anatomi dan fonologi manusia.2. yang perlu diingat adalah bahwa dalam jangka waktu sensomotor ini kekekalan benda merupakan pemerolehan umum.

Bahasa sebagai alat pemikiran harus berhubungan langsung dengan perilaku aksi. dan dengan struktur perilaku ini pada peringkat permulaan. 2. yaitu lebih dahulu menguasai prinsip-prinsip pembagian dan pola persepsi. Teori Bruner Bruner (1965) memperkenalkan teori yang disebutnya Teori Instrumentalisme. Bahasa tidak dapat diajarkan pada makhluk lain.3. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dari pembelajaran bahasa (language learning). Menurut teori ini bahasa dapat membantu pemikiran manusia supaya dapat berpikir lebih sistemis. sekalipun telah diajar dengan cara-cara yang luar biasa. Perkembangan bahasa tidak dapat dihambat meskipun pada kanak-kanak yang mempunyai cacat tertentu seperti buta.waktu pemerolehan bahasa yang sama.1. bahasa kanak-kanak ini tetap berkembang dengan hanya sedikit keterlambatan. e. Bahasa dan pemikiran berkembang dari sumber yang sama. atau memiliki orang tua pekak sejak lahir. Hingga saat ini belum pernah ada makhluk lain yang mampu menguasai bahasa. Perkembangan Pemerolehan Bahasa Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak seseorang kanak-kanak ketika memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Namun. tuli. Pembelajaran bahasan berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang kanak-kanak .

1. Bahasa sama sekali dekat dengan kita.1. itu sama seperti memberikan penjelasan yang panjang. ketika kita mencoba belajar sebuah bahasa baru atau memulai memikirkan tentang bagaimana bahasa diperoleh anak kecil. Apa itu bahasa.3.mempelajari bahasa kedua. Kompetensi adalah proses penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari. yaitu proses kompetensi dan proses performansi. sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua.3. Jadi. dan bagaimana kita dapat memulai mengerti bahasa itu ? 2.1. 2. yaitu proses pemahaman melibatkan kemampuan atau kepandaian mengamati atau kemampuan mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar. Sedangkan penerbitan melibatkan kemampuan mengeluarkan atau menerbitkan kalimatkalimat sendiri. dan membaca tanpa pernah memikirkan tentang hal tersebut. Ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak sedang memperoleh bahasa pertamanya. pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama. Di sisi lain. mendengar. setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Proses kompetensi ini menjadi syarat untuk terjadinya proses performansi yang terdiri dari dua buah proses. Komponen Bahasa Bahasa adalah fenomena kompleks yang mempunyai beberapa elemen yang saling berhubungan.2. Bahasa dibangun dari bunyi yang merupakan signal . Karakteristik Bahasa Kita biasanya bicara.

perbedaan makna yang disebut fonem. Morfem adalah unit terkecil yang mempunyai makna, leksikal cocok untuk kata sederhana, walaupun gramatikalnya merubah kata. Makna kata adalah fokus dari semantik, walaupun dengan menunjukkan bahwa kata dapat dikombinasi ke dalam unit terbesar / dapat membentuk keseluruhan makna kata. Pragmatik menunjukkan efek dari konteks bahasa. Bagan 1.1 : Komponen Bahasa

BAHASA
Struktur Bahasa

Bunyi Bahasa

Makna Bahasa

Bunyi

Fonem

Morfem

Sintaksis

Semantik

Pragmatik

John A. and Roger H, 1987 : 141 Phones / bunyi Bunyi manusia dapat dibuat dengan vokalnya yang menjadi dasar untuk semua bahasa. Dengan jelas, mengenal cara berbicara (logat) mengenai bunyi dan belajar membuat bunyi. Phonemes / fonem

Fungsi bunyi dibedakan satu kata dari kata yang lain dalam bahasa khusus. Dapat diartikan unit terkecil dari bunyi yang berbeda dalam menghasilkan bunyi dalam perbedaan makna. Morphemes / morfem Dari beberapa bahasa dapat dibuat dari unit terkecil yang mempunyai makna. Syntax / sintaksis Bahasa tidak hanya kata. Dalam berbahasa, kata mempunyai bagian unit terbesar, seperti frase, klausa, atau kalimat. Sintaksis adalah ucapan yang digunakan menurut aturan bahasa bahwa kata adalah kombinasi makna dalam unit terbesar. Semantics / semantik Tujuan dari bahasa adalah penyampaian makna. Anak – anak dan orang dewasa menggunakan bahasanya untuk memberikan pengertian, membuat permintaan, aksi protes dan memberikan informasi kepada yang lainnya. Semantik adalah setiap kata dapat membentuk keseluruhan makna kata dari kombinasi kata. Pragmatics / pragmatik Efek dari konteks bahasa. 2.1.3.3. Pengetahuan Ilmu Bahasa Anak – anak menggunakan bahasa dengan lancar jauh sebelum mereka mempunyai banyak pengetahuan tentang bahasa. Tidak sampai

setengah dari masa kanak – kanak dapat membuat anak berfikir tentang bahasa merupakan bagian abstraksi dari dirinya. Perkembangan pengetahuan ilmu bahasa, bagaimanapun juga telah memberikan kemampuan untuk menganalisa dan menggunakan bahasa secara singkat. Pengetahuan ilmu bahasa datang dalam beberapa bentuk. Satu bentuk dari pengetahuan ilmu bahasa adalah realisasi kata yang terpisah dari referensinya. (John A. Glover, Roger, 1987 : 150) Dua periode utama dalam pembentukan bahasa pada manusia yaitu : 1. Periode Preling, dari lahir sampai umur 1 tahun : apa yang diucapkan tidak mengandung arti. 2. Periode Linguistik, satu tahun ke atas : apa yang diucapkan mulai mengandug arti. Bersuara menjadi cara berkomunikasi dan ini merupakan awal dari bahasa yang sebenarnya. Kombinasi dari komunikasi dan vokalisasi menandai awal periode linguistik. Ketika anak-anak bergumam mereka tidak dibatasi oleh arti. Bergumam adalah latihan yang baik untuk anak-anak, namun tidak dapat disebut bunyi atau bahasa. Kata-kata pertama bunyi berbeda dengan kata-kata orang dewasa. Secara bertahap kata-kata yang diucap menjadi lebih jauh dari konteks walaupun pada tahap presimbolik kata-kata mengikuti aksi / tindakan. Pada tahap selanjutnya, anak sudah mampu mengartikan kata-kata. Perkembangan kosakata pada anak sejalan dengan pertambahan umur. Penggunaan kata – kata pada anak dengan tujuan :

meminta atau menyatakan keinginan. dimana guru bertanggung jawab untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang efektif. Pada usia 10-11 tahun. Beberapa Hipotesis Tentang Pemerolehan Bahasa . Mereka telah mempunyai kemampuan metalinguistik yaitu kemampuan untuk menganalisa bahasa secara obyektif. 2. Untuk tujuan kognitif . fungsi kata.1. anak mulai dapat melihat bahwa bahasa mempunyai ciri-ciri obyektif yang dapat diteliti.a. Siswa perlu belajar berinteraksi baik dalam kelompok besar maupun kecil.4. memberi nama. Ruang kelas merupakan wadah yang penting bagi perkembangan percakapan. dsb. Anak dapat mulai menggunakan kalimat setelah mereka menguasai kosakata. Menjelang usia 3 – 4 tahun. percakapan anak-anak berkembang sangat cepat. Tetapi mereka mengenali kata-kata baru dari percakapan melalui kegiatan membaca. tahapan tersebut disebut replacement sequences. b. Pada pertengahan tingkat sekolah dasar. Pencarian arti atau makna kata tidak hanya didapat melalui kamus tetapi dengan menerkanya disesuaikan dengan konteks kata tersebut diucapkan.3. kemudian berkembang menjadi kalimat komplek. anak sudah dapat menguasai elemen bahasa terpenting seperti kosakata. hingga kosakata mereka semakin bertambah. sintaksis bahkan mampu menyusun kata menjadi kalimat. selain itu mereka juga menguasai dasar percakapan dengan beragam topik. mengomentari tindakan. Sebagian besar kosakata yang digunakan orang-orang tidak dipelajari melalui pembelajaran formal. Untuk tujuan instrumental .

Proses pemerolehan bahasa oleh kanak-kanak dimanapun sesuai dengan jadwal yang erat kaitannya dengan proses pematangan jiwa kanak-kanak. 1967. Hipotesis nurani lahir dari beberapa pengamatan yang dilakukan para pakar terhadap pemerolehan bahasa kanak-kanak (Lenneberg. Semua kanak-kanak yang normal akan memperoleh bahasa ibunya asal saja “diperkenalkan” pada bahasa ibunya itu. Bahasa tidak dapat diajarkan kepada makhluk lain. Chomsky. hanya manusia yang dapat berbicara. Diantara hasil pengamatan tersebut adalah sebagai berikut : a. baik anak yang cerdas maupun yang tidak cerdas akan memperoleh bahasa itu. c. tidak lengkap dan jumlahnya sedikit. e. Maksudnya. menerbitkan) kalimat-kalimat dalam bahasanya karena dia telah “menuranikan” atau “menyimpan” dalam nuraninya akan tata bahasa bahasanya itu menjadi kompetensi (kecakapan) bahasanya. Artinya. juga telah menguasai kemampuan-kemampuan performansi (pelaksanaan) bahasa itu. b. . dia tidak diasingkan dari kehidupan ibunya (keluarganya). Pemerolehan bahasa tidak ada hubungannya dengan kecerdasan kanak-kanak. d.Hipotesis Nurani Setiap bangsawan (penutur asli suatu bahasa) tentu mampu memahami dan membuat (menghasilkan. Kalimat-kalimat yang didengar kanak-kanak seringkali tidak gramatikal. 1970).

Bahasa dan berbahasa hanyalah sebagian saja dari yang umum itu. kompleks. yang nanti akan ditulis atau diisi dengan pengalaman-pengalaman. 1977). Namun. Kemudian.f. Maka beda kedua hipotesis ini adalah bahwa hipotesis nurani bahasa menekankan terdapatnya sesuatu “benda” nurani yang dibawa sejak lahir yang khusus untuk bahasa dan berbahasa. dapat dikuasi kanak-kanak dalam waktu yang relatif singkat. dalam arti belum ditulis apa-apa. Mengenai hipotesis nurani ini perlu dibedakan adanya dua macam hipotesis nurani yaitu hipotesis nurani bahasa yang merupakan satu asumsi yang menyatakan bahwa sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia. dan bersifat universal. dan hipotesis nurani mekanisme menyatakan bahwa proses pemerolehan bahasa oleh manusia ditentukan oleh perkembangan kognitif umum dan mekanisme nurani umum yang berinteraksi dengan pengalaman. Hipotesis ini pada mulanya dikemukakan oleh John Locke seorang tokoh empirisme yang sangat terkenal kemudian . hipotesis ini menyatakan bahwa otak bayi pada waktu dilahirkan sama seperti kertas kosong. yaitu dalam waktu antara tiga atau empat tahun saja. Sedangkan hipotesis nurani mekanisme terdapatnya suatu “benda” nurani berbentuk mekanisme yang umum untuk semua kemampuan manusia. (Simanjuntak. Hipotesis Tabularasa Tabularasa secara harfiah berarti “kertas kosong”. Struktur bahasa sangat rumit.

Maka dengan demikian. Menurut teori behaviorisme ini bahasa adalah sekumpulan tabiat-tabiat atau perilaku-perilaku. Bisa dikatakan bahasa kanak-kanak itu berkembang setahap demi setahap. dan sebagainya. Jika tiruannya itu betul atau mendekati ucapan yang sebenarnya. ciuman. pada mulanya akan mengucapkan semua bunyi yang ada pada semua bahasa yang ada di dunia ini pada tahap berceloteh (babling period). maka dia akan mendapat “hadiah” dari ibunya berupa senyuman. Seorang kanak-kanak yang sedang memperoleh sistem bunyi bahasa ibunya.dianut dan disebarluaskan oleh John Watson seorang tokoh terkemuka aliran behaviorisme dalam psikologi. tawa. Tabiat-tabiat seperti inilah yang dituliskan pada “kertas kosong” tabularasa otak kanak-kanak. orang tua si bayi atau kanak-kanak itu hanya memberikan bunyi-bunyi yang ada dalam bahasa ibunya saja. si bayi hanya dilazimkan untuk menirukan bunyi-bunyi dari bahasa ibunya saja. Namun. Urutan pemeroleh ini secara garis besar adalah sebagai berikut : . Hipotesis Kesemestaan Kognitif Dalam kognitifisme hipotesis kesemestan kognitif yang diperkenalkan oleh Piaget telah digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan proses-proses pemerolehan bahasa kanak-kanak. mulai dari bunyi. kata. si bayi akan menggabungkan bunyi-bunyi yang telah dilazimkan itu untuk menirukan ucapan-ucapan orang tuanya. Teori pembelajaran bahasa pelaziman operan menyatakan bahwa perilaku berbahasa seseorang dibentuk oleh serentetan ganjaran yang beragamragam yang muncul di sekitar orang itu. Lalu. frase atau kalimat.

Hal ini berbeda dengan penguasaan bahasa pertama atau bahasa ibu yang diperoleh secara alamiah.a. secara tidak sadar di dalam lingkungan keluarga pengasuh kanak-kanak itu. b. . c. Berdasarkan struktur-struktur akal ini kanak-kanak mulai membangun satu dunia benda-benda yang kekal yang lazim disebut kekekalan benda. 1995). (Chaer dan leonie. dengan representasi simboliknya berakhir. namun tidak berarti benda-benda itu tidak ada lagi di dunia ini.1. Antara usia 0 – 1.4. Pada tahap ini kanak-kanak telah mampu membentuk representasi simbolik bendabenda seperti permainan simbolik. 2. maka kanak-kanak memasuki tahap representasi kecerdasan. Setelah tahap representasi kecerdasan. kanak-kanak telah mulai sadar bahwa meskipun benda-benda yang pernah diamatinya atau disentuhnya hilang dari pandangannya. gambar-gambar dan lain-lain. yang terjadi antara usia 2 tahun samapai 7 tahun. Pembelajaran Bahasa Kedua Digunakannya istilah pembelajaran bahasa karena diyakini bahwa bahasa kedua dapat dikuasai hanya dengan proses belajar. maka bahasa kanak-kanak semakin berkembang dan dengan mendapatkan nilai-nilai sosialnya. Maksudnya. Kemudian pola ini diatur menjadi strukturstruktur akal (mental). dengan cara sengaja dan sadar. bayangan mental.5 tahun kanak-kanak mengembangkan pola-pola aksi dengan cara bereaksi alam sekitarnya. peniruan. Setelah struktur aksi dinuranikan.

Kanak-kanak yang berada pada masa kritisnya memang mudah untuk belajar bahasa. Dengan demikian bahasa-ibu atau bahasa pertama si anak adalah bahasa Indonesia dan bukan bahasa yang digunakan oleh ibu dan bapaknya.Penggunaan istilah bahasa – ibu perlu dilakukan dengan hati-hati sebab banyak kasus terjadi. apalagi pengganti bahasa yang sudah dinuranikannya dengan bahasa lain. materi. Ellis (1986 : 215) menyebutkan adanya dua tipe pembelajaran bahasa yaitu tipe naturalistik dan tipe formal di dalam kelas. Pembelajaran berlangsung di dalam lingkungan kehidupan bermasyarakat. Jadi. sebenarnya penggunaan istilah bahasa pertama akan lebih tepat daripada penggunaan bahasa ibu. terutama di kota besar yang multilingual seperti Jakarta. Namun. dan alat-alat bantu belajar yang sudah dipersiapkan. Di Jakarta banyak pasangan suami istri. kenyataan di negeri kita yang bisa kita saksikan hingga sekarang hasil pembelajaran bahasa sangat tidak menggembirakan. Seharusnya hasil yang diperoleh secara formal dalam kelas ini jauh lebih baik daripada hasil secara naturalistik. yang bila berdua saja menggunakan bahasa daerah tetapi bila ada kanak-kanaknya mereka menggunakan bahasa Indonesia. Yang pertama tipe naturalistik bersifat alamiah tanpa guru dan tanpa kesengajaan. bahasa ibu seseorang bukanlah bahasa yang digunakan atau dikuasai ibu sejak lahir. Dalam masyarakat bilingual atau multilingual tipe naturalistik banyak dijumpai. Berbeda dengan orang dewasa atau mereka yang masa kritisnya sudah lewat tidak akan mudah belajar bahasa lain. Tipe kedua yang bersifat formal berlangsung di dalam kelas dengan guru. Berbagai penyebab telah .

Perubahan yang berarti. tetapi hasilnya sama saja. Hal ini sering menjadi cibiran generasi tua yang mendapat pendidikan bahasa kedua pada zaman Belanda dulu.teridentifikasikan dan berbagai perbaikan telah dilakukan. Tahap kedua adalah masa antara tahun 1920 – 1940. Tetap tidak memuaskan. Menurut Nurhadi (1990) dalam sejarah perkembangannya ada empat tahap penting yang dapat diamati sejak 1880 sampai dasawarsa 80-an. adalah masa antara tahun 1940 – 1970.1. Sejarah Perkembangan Bahasa Adanya pembelajaran bahasa sejak adanya interaksi antara dua masyarakat atau lebih yang memiliki bahasa yang berbeda. Pada tahap ini terjadi rekonstruksi bentuk-bentuk metode langsung yang pernah digunakan atau dikembangkan pada zaman Yunani dulu. Ini merupakan perluasan dari tehnik-tehnik pengajaran membaca yang sudah ada.1. Anggota sosial dari masyarakat yang satu tentu akan mempelajari bahasa dari masyarakat yang lain agar dapat berinteraksi dengan anggota masyarakat lain itu. Selain itu. yang kemunculannya dilatarbelakangi . dalam arti perubahan pandangan dan adanya inovasi baru dimulai tahun 1880. Metode langsung yang pernah digunakan pada awal abad-abad Masehi direkonstruksi dan diterapkan di sekolah-sekolah. Tahap ketiga. Pada masa ini di Amerika dan Kanada terbentuk forum belajar bahasa asing yang kemudian menghasilkan aplikasi metode-metode yang bersifat kompromi. 2.4. dikaitkan dengan tujuan-tujuan pengajaran bahasa yang lebih khusus. dikembangkan juga metode bunyi (phonetic method) yang juga berasal dari Yunani. Tahap pertama adalah periode antara 1880 – 1920. Berabad-abad lamanya pembelajaran bahasa berlangsung tanpa perubahan.

adanya perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua akan menimbulkan kesulitan dalam belajar bahasa kedua. sedangkan adanya persamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua akan menyebabkan terjadinya kemudahan dalam belajar bahasa kedua. Sedangkan kemudahan dalam belajar bahasa kedua disebabkan oleh adanya kesamaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua. 2. di mana orang berikhtiar mencari metode belajar bahasa asing yang paling cepat dan efisien untuk dapat berkomunikasi dengan pihak-pihak yang bertikai.4. Unsur kebahasaan tertentu akan diperoleh terlebih dahulu. Asumsi Hipotesis Pembelajaran Bahasa a.2.1. Kesamaan itu terletak pada urutan pemerolehan struktur bahasa. Hipotesis Pemerolehan (acquisition) dan Belajar (learning) . Hipotesis Kontrastif Hipotesis ini menyatakan bahwa kesalahan yang dibuat dalam belajar bahasa kedua adalah karena adanya perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua.oleh situasi peperangan (Perang Dunia II). sementara unsur kebahasaan lain diperoleh baru kemudian. Hipotesis Krashen Stephen Krashen mengajukan sembilan buah hipotesis yang saling berkaitan. Hipotesis Kesamaan Antara Bahasa Pertama dan Bahasa Kedua Hipotesis ini menyatakan adanya kesamaan dalam proses belajar bahasa pertama dan belajar bahasa kedua. antara lain : 1). Jadi. yang mungkin juga akan menimbulkan kesalahan. b. c.

terutama yang berkenaan dengan kaidah-kaidah bahasa. 5. Hipotesis Monitor Menyatakan adanya hubungan antara proses sadar dalam pemerolehan bahasa. Kaidah tata bahasa yang kita kuasai ini hanya berfungsi sebagai monitor saja dalam pelaksanaan (performansi) berbahasa. 3. Hipotesis Afektif (Sikap) .Penguasaan suatu bahasa perlu dibedakan adanya pemerolehan dan belajar. maupun bahasa asing. Hipotesis Urutan Alamiah Hasil penelitian menunjukkan adanya pola pemerolehan unsur-unsur yang relatif stabil untuk bahasa pertama. Kita dapat berbicara dalam bahasa tertentu adalah karena sistem yang kita miliki sebagai hasi dari pemerolehan. dan bukan pada bentuk. Proses pemerolehan tidak melalui usaha belajar yang formal dan eksplisit. Pemerolehan adalah penguasaan suatu bahasa melalui cara bawah sadar atau alamiah dan terjadi tanpa kehendak yang terancang. Hipotesis Masukan Seseorang menguasai bahasa melalui masukan (input) yang dapat dipahami yaitu dengan memusatkan perhatian pada pesan atau isi. bahasa kedua. dan bukan dari hasil belajar. Belajar adalah usaha sadar untuk secara formal dan eksplisit menguasai bahasa yang dipelajari. 2). 4. Semua kaidah tata bahasa yang kita hafalkan tidak selalu membantu kelancaran dalam berbicara.

Hipotesis Bakat Bakat bahasa mempunyai hubungan yang jelas dengan keberhasilan belajar bahasa kedua. Jika seorang anak pada tahap permulaan belajar bahasa kedua dipaksa untuk menggunakan atau . dan sebagainya. situasi yang menegangkan. Hipotesis Filter Afektif Sebuah filter yang bersifat afektif dapat menahan masukan sehingga seseorang tidak atau kurang berhasil dalam usahanya untuk memperoleh bahasa kedua. Sikap secara langsung berhubungan dengan pemerolehan bahasa kedua. Seseorang dengan kepribadian terbuka dan hangat akan lebih berhasil dalam belajar bahasa kedua dibandingkan dengan orang yang kepribadiannya agak tertutup. 7. selagi penguasaan bahasa kedua belum tampak. yang dapat mengurangi kesempatan bagi masukan untuk masuk ke dalam sistem bahasa yang dimiliki seseorang. 8. Mereka yang mendapat nilai tinggi dalam tes bakat bahasa. sikap defensif. 6. pada umunya berhasil baik dalam tes tata bahasa. sedangkan bakat berhubungan dengan belajar. Hipotesis bahasa Pertama Bahasa pertama anak akan digunakan untuk mengawali ucapan dalam bahasa kedua.Orang dengan kepribadian dan motivasi tertentu dapat memperoleh bahasa kedua dengan lebih baik dibandingkan orang dengan kepribadian dan sikap yang lain. Filter itu dapat berupa kepercayaan diri yang kurang.

e. sewaktu dia belum dapat menguasai dengan baik dan sempurna bahasa kedua itu. yaitu sejenis bahasa yang digunakan oleh satu kelompok masyarakat dalam wilayah tertentu yang berada di dalam dua bahasa tertentu. Bahasa pijin ini digunakan untuk keperluan singkat dalam masyarakat yang masing-masing memiliki .bebicara bahasa kedua. tetapi ada pula yang tidak pernah menggunakannya. Hipotesis Variasi Indivuidual dalam Penggunaan Monitor Cara seseorang memonitor penggunaan bahasa yang dipelajarinya ternyata bervariasi. maka dia akan menggunakan kosakata dan aturan tata bahasa pertamanya. diantara keduanya ada pula yang menggunakan monitor itu sesuai dengan keperluan atau kesempatan untuk menggunakannya. d. Bahasa antara memiliki ciri bahasa pertama dan bahasa kedua. 9. Namun. Hipotesis Pijinisasi Menyatakan bahwa dalam proses belajar mengajar bisa saja selain terbentuknya bahasa antara juga yang disebut bahasa pijin (pidgin). Ada yang terus-menerus menggunakannya secara sistematis. Hipotesis Bahasa Antara Bahasa antara (interlanguage) adalah bahasa atau ujaran yang digunakan seseorang yang sedang belajar bahasa kedua pada satu tahap tertentu.

emosi atau keinginan yang menggerakkan seseorang untuk berbuat sesuatu. Faktor-Faktor Penentu dalam Pembelajaran Bahasa Kedua Beberapa faktor yang berkaitan dengan keberhasilan pembelajaran bahasa kedua : a. 2. yaitu (1) Fungsi integratif adalah motivasi itu mendorong seseorang untuk mempelajari suatu bahasa karena adanya keinginan untuk berkomunikasi dengan masyarakat penutur bahasa itu atau menjadi anggota masyarakat bahasa tersebut. dorongan sesaat. Faktor Usia . Faktor Motivasi Brown (1981). Jadi. 1972 : 3) b.4.3.bahasa sendiri. menyatakan motivasi adalah alasan untuk mencapai tujuan secara keseluruhan. motivasi itu mempuinyai dua fungsi. Sedangkan menurut Lambert (1972).1. menyatakan bahwa motivasi adalah dorongan dari dalam. bisa dikatakan bahasa pijin ini tidak memiliki penutur asli (Chaer dan Agustina. (2) Fungsi instrumental adalah motivasi itu mendorong seseorang untuk memiliki kemauan untuk mempelajari bahasa kedua karena tujuan yang bermanfaat atau karena dorongan ingin memperoleh suatu pekerjaan atau mobilitas sosial pada lapisan atas mayarakat tersebut (Gardner dan Lambert. 1995). Dalam kaitannya dengan pembelajaran bahasa kedua.

Faktor Penyajian Formal Steiberg (1979 : 166). c. perbedaan umur mempengaruhi kecepatan dan keberhasilan belajar bahasa kedua pada aspek fonologi. dan Krashen. . 1969). (3) Disajikan kaidah-kaidah gramatikal secara eksplisit untuk meningkatkan kualitas berbahasa siswa yang tidak dijumpai di lingkunagn alamiah. Burt. yang dilakukan guru berdasarkan kurikulum yang digunakan. 1976. Disimpulkan bahwa. 1982. dapat disimpulkan : (1) Anak-anak lebih berhasil daripada orang dewasa dalam pemerolehan sistem fonologi atau pelafalan. morfologi dan sintaksis tetapi tidak berpengaruh dalam pemerolehan urutannya. (2) Dilakukan preseleksi terhadap data linguistik. menyebutkan karakteristik lingkungan pembelajaran bahasa kedua di kelas atas lima segi sebagai berikut : (1) Lingkungan pembelajaran bahasa kedua di kelas sangat diwarnai oleh fakor psikologi sosial kelas yang meliputi penyesuaian-penyesuaian. dan prosedur yang digunakan.Dalam hal kecepatan dan keberhasilan belajar bahasa kedua. (2) Orang dewasa maju lebih cepat daripada anak-anak dalam bidang morfologi dan sintaksis. (‘Oyama. (3) Anak-anak lebih berhasil daripada orang dewasa tetapi tidak selalu lebih cepat. Asher dan Gracia. Dulay. disiplin.

jika struktur bahasa yang dikuasai (bahasa pertama) banyak mempunyai kesamaan dengan bahasa yang dipelajari.(4) Disajikan data dan situasi bahasa yang artifisial (buatan). Apabila seorang pembelajar ingin memperbanyak penggunaan ujaran. e. Lingkungan bahasa dapat dibedakan atas : . Berbahasa kedua adalah suatu proses transferisasi. Maka. (5) Disediakan alat-alat pengajaran seperti buku teks. papan tulis. buku penunjang. Faktor Lingkungan Dulay (1985 : 14) menerangkan bahwa kualitas lingkungan bahasa sangat penting bagi seorang pembelajar untuk dapat berhasil dalam mempelajari bahasa baru (bahasa kedua). akan terjadilah semacam pemudahan dalam pross transferisasinya. tidak seperti dalam lingkungan kebahasaan alamiah. Faktor Bahasa Pertama (1) Menurut teori stimulus-respon oleh kaum behaviorisme. Oleh karena itu peranan lingkungan sebagai sumber datangnya stimulus menjadi dominan dan sangat penting di dalam membantu proses pembelajaran bahasa kedua. 1986 : 5). d. (2) Teori kontrastif menyatakan bahwa keberhasilan belajar bahasa kedua sedikit banyaknya ditentukan oleh keadaan linguistik bahasa yang telah dikuasi sebelumnya oleh si pembelajar (Klein. dia harus memperbanyak penerimaan stimulus. tugas-tugas yang harus diselesaikan. bahasa adalah hasil perilaku stimulus-respon.

1984) . merupakan bagian dari keseluruhan pengajaran bahasa di sekolah atau di kelas dan c). tidak dibuat-buat. Dalam pembelajaran bahasa kedua. bersifat artifisial. Lingkungan bahasa mempunyai ciri : a). (2) Lingkungan Informal bersifat alami atau natural. Dalam pembelajaran bahasa kedua. campur kode. Yang termasuk lingkungan informal antara lain bahasa yang digunakan temanteman sebaya. bahasa guru baik di kelas maupun di luar kelas. pengembang komunikasi. bahasa pertama dapat mengganggu penggunaan bahasa kedua pembelajar. yang digunakan media massa. Akibatnya terjadilah apa yang dalam kajian sosiolinguistik disebut interferensi. (Nababan. pembentuk ikatan batin dengan pembelajar dan c). bahasa pengasuh atau orang tua. bahasa yang digunakan anggota kelompok etnis pembelajar. pembelajar diarahkan untuk melakukan aktivitas bahasa yang menampilkan kaidah-kaidah bahasa yang dipelajarinya dan diberikan balikan oleh guru dalam bentuk koreksi terhadap kesalahan yang dilakukan oleh pembelajar.(1) Lingkungan Formal yaitu salah satu lingkungan dalam belajar bahasa yang memfokuskan pada penguasaan kaidah-kaidah bahasa yang sedang dipelajari secara sadar (Dulay. dan kekhilafan (error). sebagai model pembelajaran. b). bahasa penutur asing menurut Hatch (1983) dan Ellis (1986) berperan sebagai a). 1986 : 297). b). Pembelajar akan cenderung mentransfer unsur bahasa pertamanya ketika melaksanakan penggunaan bahasa kedua. 1985 : 19 dan Ellis.

pikiran.2.1. Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran Sekolah Menengah Pertama kelas I. II dan III. teknologi dan budaya. (Depdiknas.5. Bahasa Inggris merupakan mata pelajaran yang mengembangkan ketrampilan berkomunikasi lisan dan tulisan untuk memahami dan mengungkapkan informasi. 2004 : 1). Adapun pelaksanaan pengajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran dapat mulai diajarkan pada kelas I SMP.1. Pembelajaran Bahasa Inggris 2. Mata pelajaran Bahasa Inggris diajarkan di Sekolah Menengah Pertama dianggap perlu oleh masyarakat di daerah yang bersangkutan dan didukung oleh adanya guru yang berkemampuan untuk mengajarkan mata pelajaran tersebut.5. sehingga pertumbuhan mereka tetap berkepribadian Indonesia.2. 2. perasaan serta mengembangkan ilmu pengetahuan. Pengertian Mata Pelajaran Bahasa Inggris Bahasa Inggris adalah bahasa asing yang dianggap penting diajarkan untuk tujuan penyerapan dan pengembangan ilmu pengetahuan. 2004 : 1) .Fungsi Belajar Bahasa Inggris Mata pelajaran Bahasa Inggris berfungsi sebagai wahana pengembangan diri siswa dalam bidang ilmu pengetahuan. teknologi dan seni budaya serta pengembangan hubungan antar bangsa (Depdiknas. teknologi dan seni budaya.1.1.5.

membaca dan menulis sederhana .2. membaca. Sedangkan jenis penilaian terbagi atas penilaian harian (tiap pokok bahasan). e) Penilaian. minat dan kemampuan siswa. Tujuan Belajar Bahasa Inggris a) Mata pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama bertujuan agar siswa memiliki ketrampilan menyimak. dan test perbuatan. sekolah. penilaian satuan bahasan (gabungan beberapa pokok bahasan). d) Pola pembinaan mata pelajaran Bahasa inggris di Sekolah Menengah Pertama dikembangkan dengan menekankan keterpaduan dan keterkaitan (link and match) antara keluarga.1. (Depdiknas 2004 : 3) 2. penilaian akhir semester dan penilaian akhir tahun. tujuan penilaian adalah untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam menguasai bahan pelajaran yang diberikan dalam kurun waktu tertentu. Ruang Lingkup Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama mencakup ketrampilan menyimak. dan masyarakat dengan memperhatikan faktor bakat. c) Alokasi waktu mata pelajaran Bahasa Inggris disediakan waktu 4 (empat) jam pelajaran setiap minggu (disesuaikan dengan ketentuan sekolah setempat). yaitu test tertulis.5.3.4. Ada tiga cara dalam penilaian. berbicara. test lisan. memberikan pendapat dan menulis secara baik.5.1. b) Mata pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama diajarkan pengetahuan mengenai ragam bahasa dalam konteks sehingga para siswa dapat menafsirkan isi berbagai bentuk teks lisan maupun tertulis dan meresponnya dalam bentuk kegiatan yang beragam dan interaktif.

setelah itu disuruh untuk mengevaluasi sendiri bagaimana kegiatan yang telah dilakukan oleh siswa tersebut. penyajian materi meliputi berbagai indikator : mendengar (listening). membaca (reading). 2004) Materi yang dipilih untuk diuji cobakan adalah materi health and clothes. bicara (speaking). menulis (writing). diseases.1 : Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Inggris Kelas II SMP .dalam Bahasa Inggris. (Depdiknas. kinds of clothes and making clothes yang akan disesuaikan dengan menggunakan pendekatan CTL. di sekolah dan di masyarakat. Pada materi ini siswa diharapkan mampu mencari makna gambar dan kalimat dalam Bahasa Inggris dan menafsirkan hasilnya untuk memahami tentang doctors. Tabel 1. Penekanan pembelajaran pada ketrampilan berbicara mengenai ungkapan-ungkapan yang ada hubungannya dengan lingkungan siswa di rumah. paramedics. Adapun ruang lingkup pembelajaran muatan lokal Bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertama meliputi ungkapan-ungkapan dan kalimat-kalimat sederhana mengenai : (1) Sport (2) Health (3) Clothes (4) City Life Dari ruang lingkup tersebut. Materi health and clothes ini diterapkan kepada siswa dengan menggunakan pembelajaran CTL yaitu siswa diminta untuk mengadakan diskusi dengan memahami gambar dan teks secara kelompok serta mendengar bacaan dari guru (listening).

Pendidikan Agama Bahasa Indonesia Matematika Ilmu Pengetahuan Alam ( IPA ) Ilmu Pengetahuan Sosial ( IPS ) Kerajinan Tangan dan Kesenian Pendidikan Jasmani dan Kesehatan Bahasa Inggris Muatan Lokal ( Sejumlah Mata Pelajaran ) Jumlah Jam / Minggu 2 2 6 6 6 6 2 2 4 6 42 Keterangan : Lamanya 1 jam pelajaran untuk kelas I1 adalah 45 menit ( GBPP SMP Kelas II ) . 4. Mata Pelajaran Minggu Pendidikan Pancasila dan 1. 5. 10. 3. 7. Kewarganegaraan 2. 6.Jumlah Jam / No. 8. 9.

pekerjaan.5. Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah dengan di Kursus Belajar Bahasa Inggris di sekolah Dasar dan Menengah memenuhi dua tujuan.6. sampai kursus privat milik perseorangan. Tetapi. kemampuan berbahasa Inggris masih digunakan sebagai faktor penentu guna mendapatkan pekerjaan dan imbalan menarik. siswa perlu menyiapkan diri agar bisa membaca buku teks dalam bahasa Inggris di tingkat perguruan tinggi. hasil yang ingin dicapai ialah para siswa yang mampu menguasai Bahasa Inggris secara aktif serta memiliki wawasan yang luas. 2.1. Goethe Institut. Netherlands Education Centre (NEC). Dengan kurikulum tersebut. Sementara sekolah – sekolah secara de fakto masih mengacu pada pengajaran tata bahasa dan hafalan aturan bahasa. Siswa perlu memahami dan menggunakan Bahasa Inggris untuk mengembangkan rasa percaya diri dan memiliki kompetensi dalam berbahasa tersebut. umumnya kompetensi dalam bahasa ini di kalangan lulusan sekolah menengah secara umum masih tergolong sangat rendah. terutama Bahasa Inggris mendorong munculnya kursus – kursus bahasa.2. kursus-kursus justru menekankan ketrampilan berbicara yang mampu mengungkapkan .5. Mulai dari kursus yang dikelola perwakilan resmi negara asing seperti The British Council. sehingga dapat memenuhi tuntutan lingkungan sekolah. Kedua. Ketidakmampuan sekolah mengajarkan bahasa asing.1. Pertama. meskipun anak sudah belajar Bahasa Inggris selama bertahun-tahun di sekolah. Kurikulum 2004 berkeinginan membangun siswa untuk mampu berkomunikasi dalam Bahasa Inggris. dan pendidikan selanjutnya.

Bahkan untuk mempercepat ketrampilan berbicara. “tutur Gerda K. seperti kemah. catat.pendapat dan pikirannya. kenyatannya . 8 Juli 2004) Bobot penilaian saat ujian pun amat berbeda dengan yang terjadi di sekolah. Pendekatan yang berbeda ini mampu melahirkan pembelajar bahasa yang fasih berbahasa asing. Ketua Jurusan Bimbingan konseling Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta. (Kompas. Di kursus. yaitu ketepatan dan kelancaran (accurancy dan fluency). Beberapa kursus tidak segan-segan mempromosikan program “lancar berbicara dalam tiga bulan” untuk menarik konsumen. mayoritas kursus Bahasa Inggris ditujukan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris dalam kehidupan sehari – hari. kemampuan membaca. beberapa kursus menyediakan guru penutur asli (native speaker). mendengarkan kaset dan menonton film perlu diperkenalkan. Proses pembelajaran bahasa asing mencakup dua hal yang seharusnya saling menunjang. bukan paksaan. bukan untuk tujuan lain. dengar. menulis dan berbicara mendapat bobot paling tinggi sementara gramatika dianggap sebagai penunjang. Pengajaran di sekolah formal terlalu menekankan ketepatan. Tidak untuk mengejar nilai atau prestasi tetapi untuk memenuhi kebutuhan pelipatgandaan intelegensi yang belum bisa dipenuhi di sekolah. “Belajar harus ada unsur menyenangkan. Wanei. Meskipun kurikulum Bahasa Inggris telah berganti beberapa kali. Pada kenyataannya. oleh karena itu cara belajar eksperimental tidak sekadar duduk. pasti ditekankan. mendengarkan. tinggal di rumah penduduk. Aktivitas di luar ruangan.

2. Masalah – Masalah dalam Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah 1. Berbeda dengan kegiatan pembelajaran di sekolah formal. a. Ada banyak permainan dan kesempatan untuk menggunakan bahasa asing.siswa tetap saja menghafalkan daftar panjang kata kerja beraturan dan tidak beraturan tanpa konteks dan rumusan sekian banyak tenses. pelafalan. Sering terjadi pengulangan materi pelajaran Bahasa Inggris. 3. Kosa kata yang diberikan kurang berguna (bersifat teknis) dalam percakapan sehari – hari. kelancaran berkomunikasi dijadikan fokus. b. dan kosakata). Kegiatan Belajar Mengajar di Sekolah . aktivitas belajar bahasa asing di kursus dibuat menarik dan menyenangkan. Pelajaran terlalu menekankan pada tata bahasa bukan pada percakapan. Secara ekstrem kursus yang menjajikan “lancar berbicara dalam tiga bulan” akan mengabaikan ketepatan aturan berbahasa (struktur bahasa. Tetapi memang mustahil mengajar seseorang untuk bisa lancar berbahasa asing dalam waktu singkat. tetapi siswa kurang diberi arahan mengenai bagaimana dan apa fungsi dari unsur – unsur tata bahasa yang mereka pelajari. Penekanan berlebihan pada ketepatan berbahasa ternyata bukan hanya penghambat kelancaran berkomunikasi tetapi juga mematikan rasa senang dan motivasi belajar. Kurangnya guru berbicara dengan Bahasa Inggris di dalam kelas. Sebaliknya di jalur informal (kursus). 4.

kepemimpinan.2.Sistem pengelolaan kurikulum 2004 menuntut kegiatan belajar mengajar yang memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. kemandirian. Untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi. toleransi dan kecakapan hidup pesert didik. solidaritas. empati. 2. antara lain : 1) Berpusat pada peserta didik 2) Mengembangkan kreativitas peserta didik 3) Menciptakan kondisi menyenangkan dan menantang 4) Mengembangkan beragam kemampuan yang bermuatan nilai 5) Menyediakan pengalaman belajar yang beragam 6) Belajar melalui berbuat Pelaksanaannya diwujudkan dengan menerapkan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang efektif. kemudian ceramah sebagai pilihan utama strategi belajar. Pemberdayaan ini diarahkan untuk mendorong individu belajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar yang dilandasi oleh prinsip-prinsip. kontekstual dan bermakna. kerjasama. kreativitas. Maka perlu strategi baru yang lebih . Konsep Contextual Teaching and Learning 2.2.1. Kelas berfokus pada guru sebagai sumber pengetahuan utama. Latar Belakang CTL Sejauh ini pendidikan kita masih didominasi oleh pandangan bahwa pengetahuan sebagai perangkat fakta-fakta yang harus dihafal.

apa manfaatnya. Dalam kelas kontekstual. guru lebih banyak berurusan dengan strategi . Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi mengingat jangka pendek. bukan mengetahuinya. Maksudnya. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang yang dipelajarinya. mereka memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing. Ada kecenderungan dewasa ini untuk kembali pada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik jika lingkungan diciptakan alamiah. Siswa perlu mengerti apa makna belajar. Dalam upaya pencapaiannya. dalam status apa mereka dan bagaimana mencapainya. tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. sebuah pendekatan pembelajaran yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta tetapi mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri.memberdayakan siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil. Pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami.

Pendekatan kontekstual dapat dijalankan tanpa harus mengubah kurikulum dan tatanan yang ada. Kontekstual hanyalah sebuah strategi pembelajaran. Melalui strategi CTL siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ bukan ‘menghafal’. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerjasama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Landasan Teoritis Contextual Teaching and Learning memiliki landasan yang kuat dan merupakan hasil penelitian di alam psikologi pendidikan dan psikologi sosial. kontekstual dikembangkan dengan tujuan agar pembelajaran berjalan lebih produktif dan bermakna. b. 2. 2) Pengetahuan dikonstruksi dalam berbagai ragam konteks untuk diterapkan pada konteks yang baru. Sesuatu yang baru (pengetahuan dan ketrampilan) datang dari ‘menemukan sendiri’. pendekatan kontekstual (CTL) dipromosikan menjadi alternatif strategi belajar yang baru. Seperti halnya strategi pembelajaran yang lain. bukan dari ‘apa kata guru’.1. Melalui landasan filosofi konstruktivisme.1.daripada memberi informasi. antara lain : a. Konstruktivisme . Sains Kognitif : 1) Semua proses belajar terjadi dari pengetahuan dan pengalaman yang telah diperoleh sebelumnya.2.

Hakekat Pembelajaran CTL Pembelajaran konstektual ( Contextual Teaching and Learning ) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. 2) Seseorang mengkonstruksi pengetahuannya di dalam struktur dan melalui interaksi sosial.2. Perbedaan ini antara lain kecepatan belajar atau banyaknya belajar yang dapat dikuantifikasi dalam skala linier. 3) Pengetahuan yang dimiliki oleh individu atau masyarakat tidak statis. 3) Pengetahuan yang dimiliki oleh individu atau masyarakat tidak statis.2. c. Teori motivasi : Belajar amat efektif bila dimotivasi oleh keberhasilan dalam melaksanakan tugas. 2) Seseorang memiliki dan mengembangkan ketrampilan dan bakat yang berbeda serta bernilai sama. Sesuai dengan mottonya yang berbunyi : Student . 2. Teori Kecerdasan Ganda 1) Setiap orang belajar dan mencapai sesuatu secara berbeda.1) Struktur pengetahuan setiap orang berbeda dengan struktur pengetahuan orang lain. d. setiap pengetahuan masing-masing individu dibentuk secara unik oleh pengalaman hidup dan pilihan-pilihan individu.

dan bermakna bukan sekedar diberi oleh guru Pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang itu terorganisasi dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang sesuatu persoalan (subyect matter) Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proposisi yang terpisah. menemukan sesuatu yang berguna.2. 1999) (Cara belajar terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya) 2.Learn Best By Actively Constructing Their Own Understanding (CTL Academy Fellow. Proses Belajar Belajar tidak sekedar menghafal tetapi harus mengkonstruksikan pengetahuan Belajar dari mengalami.2.1. Transfer Belajar . tetapi mencerminkan ketrampilan yang dapat diterapkan Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam mensikapi situasi baru Dibiasakan memecahkan masalah. dan bergelut dengan ide-ide Proses belajar dapat mengubah struktur otak yang berpengaruh pada perilaku 2. Ditinjau dari pemikiran tentang belajar 1.

14 – 22 ) 1. Siswa sebagai Pembelajar Ada kecenderungan untuk belajar hal baru dengan cepat Hal-hal yang sulit perlu strategi belajar Peran guru membantu menghubungkan antar “yang baru” dan yang sudah diketahui Tugas guru sebagai fasilitator agar informasi baru bermakna. Activating Knowledge Pengaktifan pengetahuan yang sudah ada 2. Lima Elemen Pembelajaran Konstektual ( Zahorik.2. siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri 4. sebagai umpan balik Menumbuhkan komunitas belajar dalam bentuk kerja kelompok 2. bukan dari ‘pemberian’ Ketrampilan dan pengetahuan itu diperluas dari konteks yang terbatas (sempit). 1995. Pentingnya Lingkungan Belajar Belajar berpusat pada siswa Strategi belajar lebih dipentingkan dibanding hasilnya Proses penilaian (assessment) yang benar.2.2. dan bagaimana menggunakan pengetahuan dan keterampilan itu 3. Acquiring Knowledge .Belajar dari “mengalami”. sedikit demi sedikit Tahu untuk apa ia belajar.

Reflecting Knowledge Melakukan refleksi terhadap strategi pengembangan pengetahuan 2. Langkah-langkah penerapan CTL secara garis besar adalah sebagai berikut : a. Melakukan sharing kepada orang lain agar mendapat tanggapan / validasi c.Pemerolehan pengetahuan baru dengan cara mempelajari secara keseluruhan. Konsep sementara / hipotesis b.3. Konsep tersebut direvisi & dikembangkan 4. . kemudian memperlihatkan detailnya 3. Applying Knowledge Mempraktekkan pengetahuan & pengalaman 5. Understanding knowledge Pemahaman pengetahuan dengan cara menyusun: a.2. menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan barunya. Kembangkan pemikiran bahwa anak akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri. Konsep Dasar CTL Konsep dasar pembelajaran kontekstual adalah pendekatan dalam pembelajaran dengan kegiatan mengajar dari guru yang menghubungkan materi pembelajaran dengan situasi dunia nyata dan kegiatan belajar yang memotivasi siswa agar menghubungkan dan menerapkan pengetahuannya pada kehidupan sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat.

Hadirkan model sebagai contoh pembelajaran.b. d. menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain. f. Ciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok). . Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiri untuk semua topik. Pembelajaran CTL di Kelas CTL dapat diterapkan dalam kurikulum apa saja. Siswa dibiasakan untuk memecahkan masalah. dan kelas yang bagaimanapun keadaannya. dan bergelut dengan ide-ide.4. 2. atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Guru tidak akan mampu mengkonstruksikan semua pengetahuan kepada siswa. g. c.2. Lakukan refleksi di akhir pertemuan. dan apabila dikehendaki informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta. Kembangkan sifat ingin tahu siswa dengan bertanya. Lakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara. Pendekatan CTL memiliki tujuh komponen utama yaitu : 1. konsep. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Konstruktivisme (Constructivism) Constructivism merupakan landasan berfikir (filosofi) pendekatan CTL. e. bidang studi apa saja. yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak sekonyongkonyong.

Untuk itu tugas guru adalah menfasilitasi proses tersebut dengan : a. Guru harus selalu merancang kegiatan yang merujuk pada kegiatan menemukan. menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya sendiri menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam belajar 2. membimbing. strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. dan menilai kemampuan berpikir siswa. c. apapun materi yang diajarkannya. Siklus inkuiri : Observasi (Observation) Bertanya (Questioning) Mengajukan Dugaan (Hipotesis) Mengumpulkan Data (Data Gathering) Penyimpulan (Conclussion) 3. Bertanya (Questioning) Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam melaksanakan pembelajaran yang . Menemukan (Inquiri) Pengetahuan dan ketrampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaran yang berbasis CTL.Dalam pandangan konstruktivis. b. tetapi hasil dari menemukan sendiri. Bagi siswa. Bertanya dalam pembelajaran dipandang sebagai kegiatan guru untuk mendorong.

. antara guru dengan siswa. Dalam sebuah pembelajaran yang produktif. kegiatan bertanya berguna untuk : (1) menggali informasi. yang tahu memberi tahu yang belum tahu. Yang pandai mengajari yang lemah. bekerja dalam kelompok ketika menemui kesulitan. antara siswa dengan guru. yang cepat menangkap mendorong temannya yang lambat. Masyarakat Belajar (Learning Community) Dalam kelas CTL guru disarankan selalu melaksanakan pembelajaran dalam kelompok-kelompok belajar. baik administrasi maupun akademis (2) mengecek pemahamn siswa (3) membangkitkan respon kepada siswa (4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa (5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa (6) memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru (7) untuk membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa (8) untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa Hampir pada semua aktivitas belajar. 4. yang mempunyai gagasan segera memberi usul. dan sebagainya. questioning dapat diterapkan antara siswa dengan siswa. ketika mengamati. dan sebagainya. mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui dan mengarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. antara siswa dengan orang lain yang didatangkan ke kelas. Aktivitas bertanya juga ditemukan ketika siswa berdiskusi. dan seterusnya.berbasis inquiri. yaitu menggali informasi. Siswa dibagi dalam kelompok-kelompok yang anggotanya heterogen.

atau guru melakukan kolaborasi dengan mendatangkan seorang ahli ke kelas.Kelompok siswa bisa sangat bervariasi bentuknya. maka setiap orang lain bisa menjadi sumber belajar. olahragawan. yaitu informasi hanya datang dari guru ke arah siswa. jumlah. bahkan bisa melibatkan siswa di kelas atasnya. Prakteknya dalam pembelajaran terwujud dalam : Pembentukan kelompok kecil Pembentukan kelompok besar Mendatangkan ahli ke kelas (tokoh. “Masyarakat belajar” bisa terjadi apabila ada proses komunikasi dua arah. “Seorang guru yang mengajari siswanya” bukan contoh masyarakat belajar karena komunikasi hanya terjadi satu arah. dan sebagainya) Bekerja dengan kelas sederajat Bekerja kelompok dengan kelas di atasnya Bekerja dengan masyarakat 5. Pemodelan (Modeling) . Kalau setiap orang mau belajar dari orang lain. Dalam contoh ini yang belajar hanya siswa bukan guru. Metode pembelajaran dengan tehnik “learning community” ini sangat membantu proses pembelajaran di kelas. baik keanggotaan. dokter. dan ini berarti setiap orang akan sangat kaya dengan pengetahuan dan pengalaman. tidak ada arus informasi yang perlu dipelajari guru yang datang dari arah siswa.

Model itu berupa cara mengoperasikan sesuatu. Seorang penutur asli berbahasa Inggris sekali waktu dapat dihadirkan di kelas untuk menjadi model cara berujar. Catatan atau jurnal di buku siswa.Dalam sebuah pembelajaran ketrampilan atau pengetahuan tertentu. Refleksi (Reflection) Refleksi adalah cara berfikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah kita lakukan di masa yang lalu. bagaimana pengetahuan itu mengendap di benak siswa. . dan sebagainya. Siswa mencatat apa yang sudah dipelajari dan bagaimana menerapkan ide-ide baru. ada model yang bisa ditiru. Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu. cara menghafal bahasa Inggris. Model juga dapat didatangkan dari luar. Diskusi. cara bertutur kata. Atau guru memberi contoh cara mengerjakan sesuatu. contoh : karya tulis. 6. dan sebagainya. gerak tubuh ketika berbicara. Dengan begitu. Realisasinya berupa : Pernyataan langsung tentang apa-apa yang diperolehnya hari itu. Pada akhir pembelajaran guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi. guru memberi model tentang bagaimana cara belajar. yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. cara melempar bola dalam olah raga. Siswa mengendapkan dengan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru. Kunci dari semua itu adalah.

2 Hal-hal yang dapat digunakan untuk penilaian : 1. 2. Proyek kegiatan dan laporannya Pekerjaan rumah Kuis Karya siswa Presentasi atau penampilan siswa Demonstrasi Laporan selama dan sesudah proses pembelajaran . 7. Kemacetan belajar siswa harus diketahui sejak awal dengan cara mengidentifikasi data. 6. 3. Hal ini dilakukan supaya siswa terbebas dari kemacetan belajar. 4. Penilaian Yang Sebenarnya (Authentic Assessment) Penilaian authentic adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran perkembangan belajar siswa.1 Karakteristik authentic assessment : Dilaksanakan berlangsung Digunakan untuk formatif muapun sumatif Berkesinambungan Terintegrasi Dapat digunakan sebagai feed back 7. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. 7. 5. 7.Hasil karya.

8.2. humor. 2. : Perbedaan Pendekatan Kontekstual dengan Pendekatan Konvensional . peta-peta. gambar. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor. artikel. Dinding kelas dan lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa. 9. tetapi hasil karya siswa. guru kreatif 10. 3. Kerja sama Saling menunjang Menyenangkan. karangan siswa dan lain-lain Tabel 1. 9. 5. tidak membosankan Belajar dengan bergairah Pembelajaran terintegrasi Menggunakan berbagai sumber Siswa aktif Sharing denga teman Siswa kritis. 8. laporan hasil praktikum. Jurnal Hasil tes tulis 10. 7. Karya tulis 7. dan lain-lain 11.3 Karakterisrtik pembelajaran berbasis CTL adalah sebagai berikut : 1. 6. 4.

No 1 2 3 4 PENDEKATAN CTL Siswa aktif terlibat Belajar dengan kerja sama Berkait dengan kehidupan nyata Perilaku kesadaran diri dibangun PENDEKATAN KONVENSIONAL Siswa penerima informasi Belajar individual Abstrak dan teoritis atas Perilaku dibangun atas kebisaan 5 Keterampilan dikembangkan Keterampilan dikembangkan atas dasar latihan Memperoleh pujian atau nilai saja melakukan yang jelek atas dasar pemahaman 6 7 Memperoleh kepuasan diri Kesadaran tidak melakukan Tidak yang jelek tumbuh dari dalam 8 Bahasa pendekatan diajarkan karena takut hukuman diajarkan dengan dengan Bahasa komunikatif. . pendekatan struktural. diterima. kritis. bergelut Siswa pasif hanya menerima rumus relatif Rumus adalah kebenaran absolut dengan ide 12 Pengetahuan dibangun tanpa kontribusi ide dari Pengetahuan dibangun dari fakta. kemudian dilatihkan digunakan dalam konteks nyata 9 Pemahaman dikembangkan Rumus Rumus berada di luar diri siswa berdasarkan yang harus diterangkan. skemata yang telah ada dalam dihafal dan dilatihkan diri siswa 10 Pemahaman berbeda 11 Siswa aktif.

14 Siswa bertanggung jawab Guru adalah penentu jalannya memonitor dan mengembangkan proses pembelajaran pembelajaran 15 Pengahargaan pengalaman diutamakan 16 Hasil belajar diukur dengan Hasil belajar hanya diukur dengan prinsip Alternative Assessment 17 tes siswa terhadap Pembelajaran sangat memperhatikan pengalaman tidak Pembelajaran terjadi di berbagai Pembelajaran hanya terjadi di tempat. konteks dan setting dalam kelas adalah hukuman dari 18 Penyesalan adalah hukuman dari Sanksi perilaku jelek perilaku jelek 19 Perilaku baik berdasar motivasi Perilaku baik berdasar motivasi instrinsik ekstrinsik karena dia Berperilaku baik karena terbiasa 20 Berperilaku baik yakin itulah yang terbaik dan melakukan begitu.kebermaknaan 13 konsep atau hukum Pengetahuan selalu berkembang Kebenaran bersifat absolut dan sejalan dengan fenomena baru pengetahuan bersifat final. HIPOTESIS Hipotesis penelitian ini yaitu : . dan karena bermanfaat. mendapat hadiah B.

Oleh karena itu dalam penelitian ini hipotesis penelitian (Hi) yang berbunyi “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional” harus diubah terlebih dahulu ke dalam hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya tidak berbeda dari siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional”. .“Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional”.

Setiap kelompok terdiri dari 20 siswa. penelitian ini adalah penelitian eksperimen (Ruseffendi dan Achmad Sanusi.2. Efektivitas : dalam penelitian ini efek yang ditimbulkan akibat yang berarti adanya daya guna dan membawa hasil di dalam penggunaan pendekatan Contextual Teaching and Learning pada pembelajaran Bahasa Inggris (Poerwadarminta. maka sampel penelitian ini adalah sebagian dari siswa kelas II-B dan II-F Tahun Ajaran 2004/2005.1. Sampel dalam penelitian ini menggunakan dua kelompok. 3. Sampel Berdasarkan sifat populasi di atas. Peneliti melakukan perlakuan terhadap variabel bebas (paling tidak sebuah) dan mengamati perubahan yang terjadi pada satu variabel terikat atau lebih. Jumlah seluruhnya adalah 40 siswa.BAB III METODE PENELITIAN Berdasarkan klasifikasi menurut metodenya. 3. Definisi Operasional Variabel 1. Pendekatan Kontekstual ( Contextual Teaching and Learning ) : konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam .1. 2. penelitian yang benar-benar untuk melihat hubungan sebab akibat. 2001 : 73).1. Jumlah seluruhnya adalah 96 siswa. 3.3. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas II-B dan II-F SMP Negeri 1 Brangsong Kendal masing – masing kelas sebanyak 48 siswa. masing-masing sebagai kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.1. 1980 : 250).1 Obyek Penelitian 3. Pengambilan sampel berdasarkan teknik cluster random sampling (sampel acak berkelompok) dan tidak secara individu terhadap siswa melainkan kelompok siswa dalam satu kelas (Sugiarto. 1994 : 27-32).

kehidupan mereka sehari-hari sebagai anggota keluarga dan masyarakat (Johnson. peneliti menggunakan instrumen berupa tes atau soal-soal tes. Kesulitan belajar Bahasa Inggris : ketidak berhasilan seseorang mencapai taraf kualifikasi belajar tertentu (berdasarkan ukuran kriteria keberhasilan seperti dinyatakan dalam tujuan instruksional khusus atau ukuran kemampuan dalam program pengajaran) khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Inggris. b. 4. dan oleh karena itu penguasaan bahasa asing menjadi salah satu ciri sumber daya manusia yang berkualitas ( Huda. penguasaan bahasa asing menjadi salah satu modal utama keunggulan kompetitif. Metode Tes Dalam menggunakan metode tes ini. Bahasa Inggris : mata pelajaran yang digunakan sebagai wahana untuk meningkatkan interaksi global yang memerlukan bahasa sebagai alat berkomunikasi. Elaine : 1996) 3. Metode Dokumentasi Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data nama dan jumlah siswa kelas II-B dan II-F. Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang . 1999 : 405 ). Penguasaan Bahasa asing menjadi lebih penting. 3.2 Metode Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data dari variabel-variabel penelitian yang akan diteliti digunakan metode pengumpulan data sebagai berikut : a. Secara individual.

lalu kedua kelompok ini dikenai pengukuran yang sama. Metode ini juga digunakan untuk memperoleh keterangan tentang keberhasilan pendekatan CTL yang akan diterapkan.3 Desain Eksperimen Dalam penelitian ini penulis menggunakan desain eksperimental yang sebenarnya/eksperimen sungguhan dengan pola randomized control – group pre test – post test design. c. Kelompok eksperimen dikenai variabel perlakuan tertentu dalam jangka waktu tertentu.berapa besar pengaruh penerapan CTL terhadap hasil belajar siswa yang mengalami kesulitan belajar Bahasa Inggris. Metode Observasi Metode observasi ini digunakan sebagai penunjang dalam melakukan suatu penelitian. 1996 : 53). Dalam rancangan ini sekelompok subyek yang diambil dan populasi tertentu dikelompokkan secara rambang menjadi dua kelompok yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. lalu dibandingkan hasilnya. Desain eksperimen pola Randomized Control-Group Pretest-Posttest Design dapat digambarkan sebagai berikut : Group E K Pre Test T1 T1 Treatment X Post Test T2 T2 . 3. Perbedaan yang timbul dianggap bersumber pada variabel perlakuan (Rachman.

Setelah itu baru kedua kelompok baik eksperimen maupun kontrol diberi post test (T2).1. 3. Eksperimen yang dilakukan dalam penelitian ini adalah proses pembelajaran bidang studi Bahasa Inggris yang dilakukan di kelas II-F SMP Negeri 1 Brangsong Kendal yang diberi perlakuan dengan menggunakan model pembelajaran CTL yang seterusnya disebut sebagai kelompok eksperimen. kemudian diambil secara . Keterangan : E = Group eksperimen K = Group kontrol T1 = Soal pre test X = Pengajaran dengan menggunakan pendekatan CTL T2 = Soal post test Kelompok eksperimen (E) maupun kelompok kontrol (K) sebelum melakukan penelitian melakukan pre test terlebih dahulu untuk mengetahui apakah hasil dari pre test (T1) tersebut sama atau berbeda.4. Setelah itu baru dapat diketahui apakah pengajaran dengan model CTL lebih baik atau tidak.Gb 01. Matching Skor awal siswa yang berupa skor pre-test dari masing – masing kelas diurutkan dari nilai tertinggi hingga terendah. sedangkan 1 kelas yang lain sebagai kelompok kontrol tanpa diberi perlakuan apapun dengan menggunakan model pembelajaran konvensional yang dalam hal ini menggunakan kelas II-B SMP Negeri 1 Brangsong Kendal.4 Matching dan Kontrol 3. Setelah itu baru kelompok eksperimen diberi suatu perlakuan khusus (Treatment) sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan. Desain Eksperimen pola Randomized Control-Group Pretest-Posttest Design Sumber : Suryabrata (1998 : 45).

5.4. Jumlah tiap-tiap kelompok sebanyak 20 siswa. sehingga perbedaan hasil kedua kelompok tersebut akibat adanya perlakuan. 3. pre-test. kehilangan. Sedangkan kontrol terhadap variabel ekstra dilakukan terhadap peristiwa khusus. kematangan.berpasangan.5. Kontrol Kontrol terhadap kelompok dalam penelitian ini digunakan prosedur pengambilan secara acak dengan matching kelompok. 3. Metode Penyusunan Instrumen 3.1. Bentuk tes yang digunakan adalah tes buatan guru (tidak baku) dengan bentuk tes . 2001 : 22). interaksi kematangan dan seleksi (Sudjana. perbedaan memilih subjek.2. Siswa yang skornya tidak mendapat pasangan tidak diambil. Penentuan menjadi kelompok eksperimen atau kelompok kontrol dilakukan secara acak Aspek yang dimatching yaitu nilai pre-test siswa yang telah diketahui nilainya lalu dilakukan secara acak untuk menentukan sampel penelitian yang rata-ratanya hampir sama dan sebagian pendukung yaitu jenis kelamin siswa yang dalam penelitian ini 10 putra dan 10 putri baik itu kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen. Pengambilan siswa dari kelompok pasangan yang berlebih dilakukan secara acak. instrument pengukur regresi statistika. Dengan cara tersebut dipenuhi persyaratan bahwa kedua kelompok berangkat dari kondisi yang sama. Instrumen Penelitian Sesuai dengan permasalahan dan variabel yang akan diuji dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah jenis tes yakni tes hasil belajar.

taraf kesukaran dan daya pembeda. Agar dalam penelitian memunyai kualitas tinggi.5.5. indeks kesukaran. dan daya pembeda soal. Uji Coba Instrumen Sebelum diujikan pada kelas subyek penelitian. soal terlebih dahulu diuji cobakan pada kelas lain. reliabilitas. 3. instrumen non tes digunakan untuk mendeskripsikan proses pembelajaran yang menggunakan model CTL yaitu berupa observasi. validitas.objektif yang telah diuji tingkat validitas. Pemilihan kelas II-A SMP Negeri 1 Brangsong Kendal sebagai responden uji coba didasarkan atas pertimbangan bahwa kelas II di SMP Negeri 1 tersebut juga memiliki kesetaraan atau kesamaan karakteristik dengan subyek penelitian. syarat-syarat yang dimaksud terdiri dari : (1) Analisis Validitas . 3. Adapun responden yang dipilih adalah siswa kelas II-A SMP Negeri 1 Brangsong Kendal. Analisis Perangkat Tes Instrumen penelitian ini menggunakan tes objektif. Dalam hal ini instrumen berupa soal-soal tes. maka instrumen yang digunakan harus memenuhi syarat-syarat sebagai alat pengukur yang baik. Tujuan uji coba dalam penelitian ini adalah untuk memperoleh butir tes yang masuk dalam kategori baik dan bisa dipakai untuk penelitian dengan mengetahui reliabilitas.2.3. Selain itu karena peneliti perlu mendeskripsikan proses pembelajaran dengan menggunakan model pendekatan CTL.

Dari tabel nilai r product moment diperoleh nilai 0. Dalam penelitian ini. (Suharman. Sebuah item dikatakan valid apabila mempunyai dukungan yang besar terhadap skor total. Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa harga rpbis lebih besar daripada rtabel. 2001 : 65-68). Hasil tersebut kemudian dikonsultasikan pada tabel nilai r product moment. . 2001 : 76).Pemenuhan validitas logis (validitas berdasarkan logika atau penalaran) dilakukan sejak penyusunan instrumen.788. Sedang item soal yang tidak valid tidak digunakan dalam penelitian. Soal-soal tes disusun berdasarkan materi pelajaran dan kurikulum yang berlaku di sekolah (Arikunto. 1990 : 163). Dengan taraf signifikansi tertentu. jika harga rpbis > rtabel maka perangkat tes tersebut valid. Dari hasil data pada lampiran 5 contoh perhitungan validitas butir soal terdapat pada lampiran 6. maka soal tersebut valid. Sebuah sistem akan mempunyai validitas yang tinggi apabila skor pada item tersebut mempunyai kesejajaran dengan korelasi dan untuk mengetahui validitas item digunakan korelasi (Arikunto. Pertanyaan nomor 1 diperoleh hasil rpbis = 0. Skor pada item tersebut menyebabkan skor total menjadi tinggi atau rendah. jenis validitas empiris yang dicari adalah validitas item.444. Dalam hal ini digunakan rumus korelasi Biserial yaitu : rpbis = M p − Mt St p q Keterangan : rpbis Mp Mt St p q = Koefisien korelasi biserial = Rata-rata skor total yang menjawab benar pada butir soal = Rata-rata skor total = Standart deviasi skor total = Proporsi siswa yang menjawab benar pada setiap butir soal = Proporsi siswa yang menjawab salah pada setiap butir soal Setelah diperoleh harga rpbis dikonsultasikan dengan tabel nilai r product moment.

00 – 1. 6. 24. 2001 : 86).444. 19. (2) Analisis Reliabilitas Suatu tes dapat dikatakan mempunyai kepercayaan yang tinggi jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap (Arikunto. 3. 8. 5. 15. Ringkasan hasil perhitungan tingkat validitas instrumen penelitian yang menunjukkan valid adalah nomor 1. 12. 4. 11. 13. Maka r11 > rtabel maka instrumen tersebut adalah reliabel. (3) Indeks Kesukaran . 2.Langkah untuk mencari koefisien korelasi pertanyaan instrumen nomor 1 sampai 25 ditempuh dengan menggunakan cara yang sama seperti terlihat pada lampiran 5. 23. Menurut Ruseffendi (1994 : 149) Besarnya koefisien korelasi reliabilitas berkisar antara 0. 10. 21.00.9746. sedangkan rtabel sebesar 0. 25. Dari jumlah 25 soal yang akan digunakan untuk penelitian sebesar 20 soal. 17. 22. Dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan rumus Kuder – Richardson 20 (K – R 20) sebagai berikut : 2  k  s − ∑ pq   r11 =     s2  k − 1   Keterangan : r11 = reliabilitas tes secara keseluruhan p = proporsi subyek yang menjawab item yang benar q = proporsi subyek yang menjawab item yang salah (q = 1-p) ∑ pq = jumlah hasil perkalian antara p dan q k = banyaknya item soal s = standar deviasi dari tes (Arikunto. Semakin mendekati angka satu koefisien reliabilitas semakin baik. 9. 2001 : 100) Langkah awal menghitung reliabilitas dengan rumus K-R 20 adalah membuat tabel skor responden uji coba seperti terlihat pada lmpiran 5. Berdasarkan perhitungan reliabilitas yang terdapat pada lampiran 7 menunjukkan bahwa r11 sebesar 0.

5.00 < IK ≤ 0. Untuk mencari indeks deskriminasi ditentukan terlebih dahulu jumlah responden kelompok atas yang menjawab benar dan kelompok bawah yang menjawab benar. 6. Soal no 1. 1990 : 112) Langkah awal untuk menentukan indeks kesukaran adalah membuat tabel kerja mengenai hasil jawaban responden terhadap soal-soal uji coba seperti terlihat pada lampiran 5. . Hasil perhitungan tingkat kesukaran soal terdapat pada lampiran 8.Teknik perhitungan indeks kesukaran adalah dengan menghitung berapa test yang gagal menjawab benar atau memperoleh skor nilai dibawah lulus untuk tiaptiap soal. 17. 9.00 adalah soal mudah (Suharman. 21.30 adalah soal sukar 0. 4.70 < IK ≤ 1. 18. 23. 25 termasuk soal sedang. 13. 16. 8. 20 termasuk soal sukar. 14. 19. 12. (4) Daya Pembeda soal Langkah awal untuk mencari indeks deskriminasi adalah membuat tabel kerja yang dikelompokkan antara kelompok atas denagn kelompok bawah. Soal no 2. Untuk soal bentuk objektif digunakan rumus sebagai berikut : IK = JBA + JBB JS A + JS B Keterangan : IK JBA JBB JSA JSB = Indeks Kesukaran = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah = Banyaknya siswa pada kelompok atas = Banyaknya siswa pada kelompok bawah Klasifikasi atau ketentuan yang digunakan adalah : IK = 0.30 < IK ≤ 0. 15. Dari tabel tersebut diketahui soal no 7.70 adalah soal sedang 0. 3. 10. 11. 22. 24 termasuk soal mudah.00 adalah soal terlalu sukar 0. Langkah awal menentukan indeks kesukaran adalah membuat tabel kerja mengenai hasil jawaban responden terhadap soal-soal yang akan diuji cobakan.

Dari hasil perhitungan tersebut dapat diketahui bahwa soal no 7. 14. Soal no 1.00 < DP ≤ 0. 20 tergolong jelek.70 adalah soal baik 0. 5. 8. 10.00 adalah soal sangat jelek 0. 16. 19. 18. 2. Soal no 4. 24 tergolong cukup. Uji Homogenitas Uji homogenitas digunakan untuk mengetahui kesamaan varians antara kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Tahap Awal a.20 < DP ≤ 0.00 adalah soal sangat baik (Suharman. 3.6. 1990 : 112) Berdasarkan hasil perhitungan dalam mencari daya pembeda soal terdapat pada lampiran 5. Analisis Data 1. 1996 ) sebagai berikut : . 21. Contoh perhitungan soal terdapat pada lampiran 9. 25 tergolong soal baik. 12. 15. 13.20 adalah soal jelek 0.40 adalah soal cukup 0. Untuk hal itu digunakan Uji F (Sudjana.70 < DP ≤ 1.40 < DP ≤ 0. 6. 3. 17. 9.Untuk menghitung daya pembeda dari alat yang diukur digunakan rumus sebagai berikut : DP = JBA − JBB JS A Keterangan : DP JBA JBB JSA = Indeks Deskriminasi = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok atas = Jumlah yang benar pada butir soal pada kelompok bawah = Jumlah siswa pada kelompok atas Klasifikasi untuk daya pembeda adalah sebagai berikut : DP 0. 11. 23. 22.

Uji Normalitas Sampel Untuk menguji normalitas sampel digunakan teknik statistik X kuadrat dengan rumus :  Oi − Ei X = ∑  E i =1  i k 2     2 Keterangan : X2 Oi Ei k = Chi kuadrat = Frekuensi yang diperoleh dari data penelitian = Frekuensi yang diharapkan = Banyak kelas interval Kriteria pengujian : Jika X2 data ≤ X2 tabel dengan derajat kebebasan dk = k – 3 dan taraf signifikasi α = 5%. maka data yang diperoleh berdistribusi normal. Analisis Tahap Akhir Untuk mengetahui tingkat CTL pengaruhnya terhadap prestasi belajar Bahasa Inggris pada pokok bahasan Health dan Clothes digunakan tehnik statistika Uji-t rumus sebagai berikut : X1 − X 2 1 1 s + n1 n2 t= Dimana. Demikian juga sebaliknya (Sudjana. s= (n1 − 1)s12 + (n2 − 1)s22 n1 + n2 − 2 . 1989 : 273) 2.Fo = Varians − terbesar Varians − terkecil Ketentuan : Tolak Ho jika Fo ≥ Ft Terima Ho jika Fo ≤ Ft b.

Ketentuan : Ho ditolak apabila t ≥ t (1 − α )(n1 + n2 − 2 ) Keterangan : X 1 = Mean Kelompok 1 X 2 = Mean Kelompok 2 (Sudjana. 1996 : 243) .

Gambaran Umum Subjek Penelitian SMP Negeri 1 Brangsong Kendal terletak di jalan Raya No. yaitu model pembelajaran dan pembelajarannya masih berpusat pada guru. SMP Negeri 1 Brangsong Kendal ini mempunyai 20 kelas. 4. Untuk deskripsi pelaksanaan pembelajaran. Amien Ariyatna Yusuf. Daftar nama siswa-siswi kelas II-F dan II-B SMP Negeri 1 Brangsong Kendal terdapat pada lampiran 26 dan 27. Kelas II-F ini digunakan sebagai kelas eksperimen yang model pembelajarannya menggunakan pendekatan kontekstual (CTL). data hasil belajar yaitu . Serta daftar siswa yang terpilih menjadi sampel penelitian kelas eksperimen dan kelas kontrol terdapat pada lampiran 28 dan 29. Sedangkan jumlah siswa kelas II-F dan kelas II-B yang dipilih menjadi sampel penelitian masing-masing berjumlah 48.1. 65 Kecamatan Brangsong Kota Kendal yang dipimpin oleh Ibu Dra. Hj. Proses pembelajaran sehari-hari menggunakan sistem guru kelas dengan model pembelajaran konvensional. Sedangkan kelas II-B dijadikan sebagai kelas kontrol.2. Penyajian Data Data yang diperoleh sebagai hasil pengukuran variabel dalam penelitian ini berupa daftar hasil observasi dan skor observasi yang terdapat pada lampiran 36. proses pembelajaran yang biasa dilakukan yaitu model konvensional. Daftar formasi lengkap mengenai personalia di SMP Negeri 1 Brangsong Kendal ini pada tahun ajaran 2004/2005 di sajikan pada lampiran 31.aBAB IV LAPORAN HASIL PENELITIAN 4. Jumlah keseluruhan siswa SMP Negeri 1 Brangsong Kendal ini adalah 907.

4.perbandingan antara nilai pre-test dan nilai post-test untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.60 dan kelompok kontrol sebesar 72. a. minat siswa terhadap materi pembelajaran. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa nilai . Hasil Pre-Test Hasil pre-test ini digunakan untuk mengetahui korelasi antara nilai sebelum perlakuan dan nilai sesudah perlakuan. Selain itu pre-test juga sangat diperlukan untuk matching. Hasil pre-test digunakan untuk memilih siswa yang akan digunakan dalam melaksanakan penelitian. Hal ini dapat disimpulkan bahwa proses pembelajaran yang terjadi berlangsung dengan baik.3. Adapun daftar subjek terpilih sebagai sampel penelitian kelas eksperimen terdapat pada lampiran 28 dan daftar subjek terpilih sebagai sampel penelitian kelas kontrol terdapat pada lampiran 29. Aspek penggunaan bahasa oleh guru. penggunaan sumber belajar selama proses pembelajaran. variasi dan ketepatan penggunaan media atau metode. dan prosedur pelaksanaan evaluasi jumlah rata-rata skornya adalah 3. Analisis Deskriptif Hasil observasi terhadap variabel model pembelajaran CTL menunjukkan bahwa model pembelajaran tersebut menghasilkan skor rata-rata yang tinggi yang terdapat pada lampiran 36. Dari data tersebut diketahui nilai rata-rata kelompok eksperimen adalah 72. suasana belajar secara umum. kerjasama siswa dalam proses belajar. Analisis Data 4. partisipasi siswa dalam pencapaian tujuan pembelajaran. b.1.3. penghargaan terhadap siswa. Hasil Post-Test Untuk mengetahui keberhasilan eksperimen yang telah dilakukan yaitu melakukan tes akhir yang menggunakan soal-soal tes yang telah diuji cobakan seperti terdapat pada lampiran 41.15. Hasil pre-test selengkapnya dapat dilihat pada lampiran 41.

maka data yang diperoleh berdistribusi normal.2910 untuk kelompok eksperimen dan 2. Perbandingan kedua kelompok itu X2 ≤ X2 tabel. Analisis Inferensial a.99.53.1474 dan harga Ft sebesar 2. Hasil perhitungannya menunjukkan bahwa harga Fo adalah 2. Hasil pengujian terhadap nilai hasil belajar siswa dari kedua kelompok masing-msing menghasilkan harga X2 sebesar 1.2. Perhitungannya terdapat pada lampiran 52. Adapun untuk uji homogenitas digunakan uji-F dengan ketentuan : Tolak Ho jika Fo ≥ Ft dan terima Ho jika Fo ≤ Ft. 4.3. Dari perhitungan tersebut diketahui bahwa Fo ≤ Ft.75 sedangkan nilai rata-rata kelompok kontrol sebesar 75. dengan demikian Fo diterima.4864 untuk kelompok kontrol. Uji Persyaratan Untuk menguji normalitas digunakan rumus statistik X kuadrat dengan ketentuan Jika X2 data ≤ X2 tabel dengan derajat kebebasan dk = k – 3 dan taraf signifikansi α = 5 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa nilai hasil belajar siswa kedua kelompok yang akan dibandingkan bersifat homogen. Harga X2 tabel dengan derajat kebebasan dk = 5-3 dan taraf signifikansi α = 5% sebesar 5. Berdasarkan perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa data tentang hasil belajar siswa dari kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol berdistribusi normal. Dengan demikian Ho yang menyatakan bahwa data tersebut berdistribusi normal diterima seperti yang terdapat pada lampiran 50 dan 51.75.rata-rata kelompok eksperimen adalah 81. . Demikian juga sebaliknya (Sudjana 1989 : 273).

. b. Terima Ho jika t < ttabel dan terima Ho jika t > ttabel. Perhitungan analisis statistik t-test nilai posttest untuk kelompok eksperimen dan kelompok kontrol terdapat pada lampiran 53 yang menghasilkan t sebesar 1. Hasil perhitungan ttest (t) kemudian dikonsultasikan dengan t pada tabel (ttabel). 1996 : 239) Oleh karena itu dalam penelitian ini hipotesis penelitian (Hi) yang berbunyi “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional” harus diubah terlebih dahulu ke dalam hipotesis nihil (Ho) yang berbunyi “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya tidak berbeda dari siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional”. Uji Hipotesis Dalam penelitian ini uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t.Berdasarkan hasil perhitungan uji normalitas dan uji homogenitas di atas dapat disimpulkan bahwa nilai tes hasil belajar siswa. (Sudjana. Hipotesis yang dapat diuji adalah hipotesis nihil (Ho).855 dan ttabel sebesar 1. baik kelompok eksperimen maupun kelompok kontrol telah memenuhi syarat untuk pengujian selanjutnya.69. Langkah awal untuk mendapatkan harga t adalah mencari nilai rata-rata dan simpangan baku kemudian dikonsultasikan ke dalam rumus di atas.

3. Untuk mengetahui besarnya pengaruh pembelajaran CTL terhadap peningkatan hasil belajar siswa digunakan rumus Koefisien Korelasi Biserial (Sudjana : 1996) Perhitungan analisis besarnya pengaruh pendekatan CTL terhadap hasil belajar siswa terdapat pada lampiran 54. Oleh . Pembahasan Hasil Penelitian Guru dan siswa merupakan dua faktor penting dalam setiap penyelenggaraan proses pembelajaran di kelas.Dari hasil data tersebut menunjukkan bahwa nilai t lebih besar daripada ttabel. ketentuannya yaitu Ho ditolak dan Hi diterima.3.71 %. Guru sebagai unsur utama dan pertama dalam proses pembelajaran. Dari hasil data yang ada menunjukkan bahwa pendekatan CTL mempunyai pengaruh yang cukup signifikan terhadap hasil belajar siswa yaitu sebesar 12. 4. Berdasarkan ketentuan di atas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menolak hipotesis nihil (Ho) yang mengatakan bahwa “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya tidak berbeda dari siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional” dan menerima hipotesis penelitian (Hi) yang berbunyi “Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional”. Keberhasilan pendidikan adalah tanggung jawab guru. membutuhkan keterlibatan siswa demi tercapainya tujuan pembelajaran.

1999). Sesuatu yang baru (pengetahuan dan ketrampilan) datang dari menemukan sendiri. guru perlu merancang model pembelajaran yang efektif. Pendekatan Kontekstual : 2). Pemberdayaan ini diarahkan untuk mendorong individu belajar sepanjang hayat dan mewujudkan masyarakat belajar. “Students learn best by actively constructing their own understanding” (Cara belajar yang terbaik adalah siswa mengkonstruksikan sendiri secara aktif pemahamannya) (CTL Academy Fellow. bukan dari apa kata guru (Departemen Pendidikan Nasional. maka dapat diduga bahwa proses pembelajaran di sekolah tersebut memang berkualitas. kelas tidak selalu . Sebaliknya. jika hasil belajar siswa rendah besar kemungkinannya bahwa proses pembelajaran di sekolah tersebut kurang berkualitas. siswa diharapkan belajar melalui mengalami bukan menghafal. Model pembelajaran CTL yang dikaji dalam penelitian ini diduga merupakan model pembelajaran yang efektif. Oleh karena itu.sebab itu. Sebuah strategi belajar yang tidak mengharuskan siswa menghafal fakta-fakta. sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal. dapat diketahui melalui hasil belajar siswa. tetapi sebuah strategi yang mendorong siswa mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Jika siswa-siswi di sekolah mempunyai hasil belajar yang tinggi. Hasil belajar umumnya dapat diketahui melalui nilai hasil tes belajar. Salah satu tolak ukur sebuah proses pembelajaran berkualitas atau tidak. Sistem pengelolaan kurikulum 2004 menuntut kegiatan belajar mengajar yang memberdayakan semua potensi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang diharapkan. Melalui strategi CTL.

majalah. 3. menemukan sendiri dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan ketrampilan baru 2. kemudian ceramah menjadi pilihan utama strategi belajar yang biasa dilaksanakan di kelas konvensional. (buku. Adanya kegiatan inquiri Kegiatan bertanya Menciptakan masyarakat belajar (belajar dalam kelompok-kelompok) . Membiasakan komunikasi Bahasa Inggris dalam kelas agar peserta didik tidak canggung dalam kehidupan sehari-hari.berfokus pada guru sebagai sumber utama pengetahuan. 4. Ketrampilan dasar yang harus dimiliki guru dalam pembelajaran kontekstual : 1. vcd. koran. 2. 4. Memiliki kreativitas yang tinggi dalam menyesuaikan buku pelajaran dengan tingkat pengetahuan siswa dalam kehidupan nyata siswa. maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan pendekatan CTL guru mampu menyajikan ide-ide atau konsepkonsep yang sulit disampaikan secara lisan maupun tulisan agar lebih dimengerti oleh siswa. Bekerja sendiri. dll) Kebaikan menggunaan pendekatan CTL : 1. Berdasarkan hal tersebut di atas. Memiliki motivasi yang tinggi untuk mengajar Bahasa Inggris dengan menerapkan strategi belajar yang menyenangkan (kontekstual). Menerapkan berbagai strategi pembelajaran di kelas dengan memanfaatkan bermacam sumber belajar. tape recorder. 3.

toleransi dan kecakapan hidup siswa yang dapat membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa. interaktif. dan komunikatif melalui berbagai alat bantu atau tugas yang dapat mendorong siswa untuk berlatih menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Kekuatan CTL dalam Pembelajaran Bahasa Inggris Pendekatan kontekstual di kelas.3. Hal ini dimaksudkan untuk mengembangkan dan meningkatkan kompetensi. kepemimpinan. Dengan melatih siswa menjadi pembaca yang efisien melalui membaca cepat (speed reading) dan meningkatkan minat baca serta penguasaan kosakata melalui pendekatan self access learning yang mengarah pada kemandirian siswa sebagai pembelajar Bahasa Inggris (autonomous language learners) (Syamsudin. berwarna dan bergambar untuk menarik siswa agar memiliki minat baca yang tinggi terhadap pelajaran Bahasa Inggris.3.1.3. empati. 4. kreativitas. Kegairahan Pembelajaran Siswa dengan CTL . kontekstual dan bermakna. pelaksanaannya diwujudkan dengan menerapkan berbagai strategi dan metode pembelajaran yang efektif.3. Selain itu pemanfaatan sarana atau buku-buku yang bervariasi. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran Melaksanakan refleksi di akhir pertemuan Melaksanakan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara 4.5. kerjasama. Pada pembelajaran Bahasa Inggris pendekatan kontekstual mengajak siswa secara aktif.2. kemandirian. 7. 6. solidaritas. Sehingga pemahaman yang sempurna terhadap konsep pengajaran berhasil dengan baik. 2001).

Proses pembelajaran di kelas menjadi aktif dan kreatif. dapat mengubah anggapan kelas yang kurang produktif menjadi kelas yang aktif dengan pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning). Dengan begitu. Kemudian adanya pemodelan sebagai contoh pembelajaran dapat meningkatkan semangat siswa untuk mencoba meniru seperti apa yang telah dilihatnya. jadi siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.Selama ini kita menyadari bahwa kelas-kelas kita tidak produktif. Sehingga menimbulkan kegairahan belajar siswa karena adanya kebersamaan dalam memecahkan masalah. Sehari-hari kelas hanya diisi dengan ceramah. siswa diharapkan belajar melalui ‘mengalami’ dengan mengkonstruksi pengetahuan yang dimilikinya dan menerapkan pada situasi dunia nyata siswa. Dengan pendekatan kontekstual (CTL) yang mengutamakan strategi belajar daripada hasil. siswa merasa memperoleh . Dalam pendekatan kontekstual refleksi merupakan peranan penting. Kegiatan inquiry dan bertanya merupakan salah satu strategi dalam CTL untuk menggali sifat ingin tahu siswa. siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang lemah. Selain itu keberadaan masyarakat belajar menjadi nilai plus dalam pembelajaran karena siswa tidak belajar sendiri tetapi saling bekerja sama (belajar dengan kelompok-kelompok) agar pengetahuan dan pemahaman lebih mendalam. karena siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif di kelas. sementara siswa dipaksa menerima dan menghafal materi pelajaran yang diberikan. dengan demikian siswa tidak mengalami kesulitan dalam mengkonstruksi pengetahuannya. yaitu siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan baru yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya.

Dengan demikian.69 menerima hipotesis penelitian yang menyatakan siswa yang menempuh . Hasil analisis data dalam penelitian ini menunjukkan bahwa siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya berbeda secara signifikan dan lebih baik daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional. Guru yang ingin mengetahui perkembangan belajar Bahasa Inggris bagi para siswanya harus mengumpulkan data dari kegiatan nyata saat para siswa menggunakan Bahasa Inggris bukan pada saat para siswa mengerjakan tes Bahasa Inggris. Perbedaan hasil belajar tersebut ditunjukkan oleh rata-rata hasil belajar. Jadi siswa semakin tertarik dengan pembelajaran model CTL karena mereka memperoleh nilai tambahan dari kegiatan pembelajarannya di kelas yang dapat mempengaruhi nilai akhirnya. Untuk hal ini hasil belajar siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL diperbandingkan dengan hasil belajar siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional. antara kelompok siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL dengan siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran konvensional. Yang terakhir. hasil belajar siswa sebagai tolak ukur yang harus diuji kebenarannya. Hasil ttest sebesar 1.sesuatu yang berguna bagi dirinya tentang apa yang baru saja dipelajarinya. adanya authentic assessment untuk menilai kemampuan yang dimiliki siswa tidak hanya dari hasil ulangan tetapi dari kegiatan yang dilakukan siswa selama proses pembelajaran di kelas.855 ≥ ttabel sebesar 1.

.proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya lebih baik daripada siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan menggunakan model pembelajaran konvensional.

KESIMPULAN Penyajian kesimpulan berdasarkan interpretasi peneliti sebagai berikut : 1. diberikan simpulan untuk memudahkan pembaca membuat generalisasi pemahaman dan saran dalam kapasitas sebagai seorang peneliti. mengingat pengertian yang terbentuk diharapkan akan mewarnai persepsi mereka di jenjang pendidikan yang berikutnya. Usaha tersebut perlu dilakukan sejak usia dini.BAB V PENUTUP Guru wajib mengembangkan naluri anak dalam mempelajari hal-hal yang baru. SARAN Dengan hasil penelitian ini. Untuk keperluan teresebut guru dituntut untuk mengenal lebih dekat sisi kejiwaan anak. Siswa yang menempuh proses belajar mengajar dengan model pembelajaran CTL hasil belajarnya berbeda dan lebih efektif daripada siswa yang menempuh konvensional. Mengakhiri laporan ini. terutama taraf perkembangan intelegensinya. khususnya jenjang pendidikan dasar agar hasil belajar siswa meningkat. .71 %.1. Jadi pembelajaran CTL itu mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap hasil belajar siswa jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yang berarti bahwa pembelajaran CTL memiliki pengaruh yang signifikan. Pengaruh penggunaan metode belajar mengajar CTL terhadap hasil belajar siswa mata pelajaran Bahasa Inggris siswa kelas II-F SMP Negeri 1 Brangsong Kendal Tahun Ajaran 2004/2005 sebesar 12. 5. 2. proses belajar mengajar dengan model pembelajaran 5. peneliti menyampaikan saran-saran yang berkaitan dengan upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.2.

2. 3. Perguruan Tinggi (LPM. Dinas Pendidikan. sehingga apa yang dilakukan terhadap siswa benar-benar dapat berguna. baik bagi kehidupannya sendiri maupun orang lain. media massa dan lembaga lain yang . disarankan untuk mengadakan pelatihan khusus tentang pelaksanaan pembelajaran model CTL kepada para Guru. Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris). 4. Dengan demikian eksplorasi pustaka dan eksperimen empirik tentang metode kontekstual terus dilaksanakan. Kepada Instansi atau Lembaga yang terkait dengan penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Kepada para Guru disampaikan untuk senantiasa bersikap terbuka terhadap inovasi dan merespon secara aktif dan kreatif setiap perkembangan pendidikan. Kreativitas dalam melaksanakan pembelajaran diantaranya dengan menerapkan pendekatan belajar mengajar model CTL dalam setiap mata pelajaran. Kepada Depdiknas.Saran-saran tersebut adalah sebagai berikut : 1. Kepada Kepala sekolah agar dapat mengevaluasi kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan oleh Guru dan mengadakan monitoring secara rutin dengan tujuan untuk mengingatkan para guru agar dapat melaksanakan proses pembelajaran dengan baik serta tercapai peningkatan kegiatan belajar mengajar yang optimal. Kepada Guru di Sekolah Menengah Pertama hendaknya dapat mengembangkan kualitas profesinya. Lemlit. sehingga para Guru dapat bekerja dengan lebih baik dan profesional yang nantinya dapat meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. 5.

. Mereka harus dilatih terutama penguasaan bahasa.terkait untuk melakukan kegiatan-kegiatan pelatihan yang tujuannya meningkatkan kemampuan dan ketrampilan berbahasa Inggris para guru SMP terutama yang tidak mempunyai latar belakang pendidikan Bahasa Inggris.

Hanifa.htm – 17k. Psikolinguistik. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Suharsimi. Johnson.id/html/setdirjen/sekretariat%201/setdirjen – juklak %20ING %20 SLTP. Serasa Belajar di Rumah. Bagaimana meningkatkan Mutu Hasil Pelajaran Bahasa Inggris di Sekolah. John. Elaine. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Educational Psychology Principles and Application. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. 2002. http ://www. http ://www. 2001. Syukur. Max. Contextual Teaching and Learning. 2003. Azwar. 1987. Jakarta : Kompas Edisi 24-5-2002. Depdiknas. Chaer. 2001. Jakarta : Rineka Cipta.html. Depdiknas. 2002. Brown and Company. program – Depdiknas. Arikunto. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). 2002. Artsiyanti. http ://www. 2002. Republika.html.DAFTAR PUSTAKA Arikunto. 2003. http ://www. Dikdasmen. et al. 1996. Inc. Roger H. Boston Toronto : Little. Pikiran Rakyat. 2003. 2003. Diba. Suharsimi.shtm. Jakarta : Depdiknas. Glover.go. Adjie. Abdul. Depdiknas. Sekolah mengalami Degradasi.Com/Cetak/1003/07/0303. Jakarta : Depdiknas. Esa.id/berita/Koran/2002/05/13/74526. Jakarta : Rineka Cipta. Metode Peningkatan Kemampuan Bahasa. Jakarta : Rineka Cipta. Saefuddin. Yogyakarta : Pustaka Belajar. Budiardjo. A. . 2000. Juklak Inggris SLTP. California : Corwin Press. Semarang : IKIP Semarang Press. us/Artsiyanti.co. Tes Prestasi : Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar (Edisi III). Artikel. Darsono.

Metode Peningkatan Kemampuan Bahasa. Erwin. Contextual Teaching and Learning. 1999. Semarang : Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Jawa Tengah. Awal Kusumah. http ://www.Com/intisari/1998/September/b_bing.us/nsomantri 2. http ://www. Perlukah Pengajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar. 2001. Bambang. Surabaya : SIC Surabaya. Kapan Anak Belajar Bahasa Inggris. Rianto. http ://www. Kathy Sylva. Nurdin. Nina. Jakarta : Rineka Cipta. 1996. Artikel. Rosdijati. 1984.htm. Bahasa Inggris Dihafal atau ?. Kosasih. http ://www. Jakarta : Arcan. Wjs. Metodologi Penelitian Pendidikan. Metodologi Penelitian Pendidikan. Ibrahim. Bandung : PT sinar Baru Algensindo. Proposal Penelitian di Perguruan Tinggi. Jalu. . Yatim. Aji.Com/intisari/1998/September/bing. 2000. Tabrani.Com/cetak/0902/14/hikmah/htm – 20k. Achmad. Margono. E. Bandung : Sinar Baru Algesindo. 1987. 2003. 1994. Semarang : IKIP Semarang Press. S. Sarnapi. Pengantar Statistik. Sudjana Nana. com/cetak/1102/22/0301. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar.htm – 18k.Kaswanti Purwo. Bandung : Remadja Rosdakarya. Rusyam. 1999.htm – 7 8k. et al. Indomedia.htm – 7k. Dasar – Dasar Penelitian Pendidikan dan Bidang Non Eksakta lainnya. A. Sudjana. Pikiran-rakyat. Nani. Jangan Pakai Pola Dewasa. Somantri. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Nurlina. Indomedia. Kustiman. Pikiran Rakyat Cyber Media. Problem Belajar Bahasa Inggris Bagi Anak Usia SD. Ingrid Lunt. Russefendi & Sanusi.Pikiran rakyat. Kamus Besar Umum Bahasa Indonesia. 1989. 2004. Bandung : Rineka Cipta. Child Development A First Course (Perkembangan Anak). 1998. Sudjana Nana. 2002. 2002. 2002. 1998. http ://www. Jakarta : PN Balai Pustaka.Com Poerwodarminto.

htm. Pengajaran Bahasa Asing. …… 2002. Bambang. 1998.Suharman. . Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual. Jakarta : Bulan Bintang. Widodo. Evaluasi Pendidikan Matematika. 1974. 2003. com/kompas – cetak/0301/30/pendidikan/105006. Metodologi Penelitian. Pelajaran Bahasa Inggris Perlu Diperbaiki.09. Suminarsih. Suryabrata. http ://www. Lahan Bisnis Subur di Bandung. Semarang : IKIP Semarang Press. Maunya Pintar. Contextual Teaching and Learning. 2003.com/kompas – cetak/0205/02/daerah/laha26.pikiran – rakyat.Kompas. kompas. Wisudo. http ://www.htm.com/cetak/0504/13/03. Tim Pengadaan MKDK IKIP Semarang.htm. Jakarta : Raja Grafindo Persada. http ://www. 2004. …… 2004. Mulianto. Semarang : Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Jawa Tengah. Sumadi. Semarang : Depdiknas. Bisa – Bisa Malah Mundur. 1990. Wahono. 1990. Sumardi. Psikologi Perkembangan. Bandung : Wijaya Kusumah.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful