TUJUAN : Setelah mempelajari bab ini diharapkan mahasiswa dapat: 1. Merumuskan pengertian hakekat manusia. 2.

Menjelaskan pengertian manusia menurut pandangan ilmiah dan filsafat. 3. Menjelaskan pandangan manusia sebagai makhluk individu. 4. Menjelaskan pandangan manusia sebagai makhluk sosial. 5. Menjelaskan pandangan manusia sebagai makhluk susila. 6. Menjelaskan pandangan manusia sebagai makhluk keberagamaan. 7. Membandingkan perbedaan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila dan makhluk keberagamaan 8. Menganalisis perbedaan manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, makhluk susila dan makhluk keberagamaan. 9. Menganalisis potensi manusia. A. Manusia Menurut Pandangan Ilmiah dan Filsafat Dalam pandangan klasik dan rasional tentang manusia faktanya manusia adalah makhluk yang berakal. Menurut Plato akal adalah alat untuk mengarahkan budi pekerti. Aristoteles juga berpendapat bahwa akal manusia adalah kekuatan yang tertinggi dari jiwa dan merupakan kebanggaan dan keagungan manusia. Manusia menurut pandangan ilmu Antropologi adalah homo sapien. Pandangan antropologi budaya manusia adalah organisme sosio budaya. Pandangan ilmu psikologi manusia adalah individu yang belajar. Pandangan ilmu sosiologi manusia adalah animal sociale (binatang yang bermasyarakat). Menurut Aristoteles ilmu politika manusia sebagai animal politicon (binatang yang hidup berpolitik). Pandangan ilmu ekonomi manusia adalah animal econominicus (binatang yang terus berusaha memperoleh kemakmuran materiil). Manusia menurut pandangan filsafat manusia adalah: 1. Manusia seutuhnya (animal symbolicum). 2. Hewan yang mempunyai kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk menyatakan pikiran sebagai milik manusia yang unik (animal rationale). 3. Hewan yang mempunyai kemampuan untuk menggunakan simbol-simbol untuk mengkomunikasikan pikirannya (animal sociale). 4. Hewan yang mempunyai kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk menalar dan menyadari sebagai pribadi yang menalar.

5. cita-cita. Sebagai makhluk individu. Perbedaan kecakapan atau kepandaian Sifat-sifat keindividualitasan setiap insan perlu ditumbuhkembangkan melalui pendidikan agar bisa menjadi kenyataan. kemampuan bertindak. jenis kelamin. Keunikan siswa hendaknya dihadapi dengan cara-cara yang beragam guna mencapai efektifitas pembelajaran. Artinya bahwa dalam proses pendidikan itu yang aktif bukan hanya pendidik tetapi juga peserta didik. B. Itulah uniknya manusia. Proses pendidikan adalah tindakan bersama. semangat. 4. sekalipun sanak kembar. Guru tidak bisa memperlakukan siswa secara seragam. daya tahan yang berbeda. yaitu guru dapat menyikapi siswa dengan cara tertentu dalam proses pembelajaran. Perbedaan sosial: status ekonomi. Pendidikan harus mengembangkan peserta didik agar mampu menolong dirinya sendiri. manusia memerlukan pola tingkah lak yang bukan merupakan tindakan instingtif. Karena dengan adanya individulitas itu setiap orang memiliki kehendak. Perbedaan fisik: usia. kebersamaan antara pendidik dan peserta didik untuk menumbuhkan rasa saling percaya dan ini merupakan dasar untuk menumbuhkan kewibawaan pendidik. pendengaran. berlangsung dalam suatu pergaulan timbal balik. 7. Manusia sebagai Makhluk Individu Setiap insan yang dilahirkan tentunya mempunyai pribadi yang berbeda atau menjadi dirinya sendiri. Pendidikan adalah suatu hak fundamental. tingkat dan berat badan. Perbedaan kepribadian: watak. 6. Sifat-sifat manusia yang demikian harus dipahami oleh para pelaku pendidikan sebagai dasar pengembangan proses pendidikan guna mencapai hasil sebagaimana diharapkan baik untuk masa depan peserta didik itu sendiri maupun untuk pembangunan secara luas. kesefahaman.keserasian. suku. Mengenal perbedaan individual murid ini sangat penting bagi guru. kecenderungan. motif. perasaan. Hewan yang mempunyai kemampuan menggunakan simbol-simbol maka dapat mengadakan perbedaan moral. 2005) bahwa perbedaan individualitas setiap insan nampak secara khusus pada aspek sebagai berikut 1. dan hal ini hanya bisa diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman belajar (Tim Dosen FIP-UM. Pendidik hanya menunjukan jalan dan memberikan motivasi bagaimana cara memperoleh sesuatu dalam mengembangkan dirinya. hubungan keluarga. Hewan yang mempunyai kemampuan menggunakan simbol-simbol untuk mengkombinasikan unsur-unsur yang menghasilkan suatu yang kreatif. disini pendidikan berfungsi membantu peserta didik untuk membentuk kepribadianya atau keindividualannya. Hewan yang mempunyai kemampuan menggunakan simbol-simbol dapat menyadari diri sendiri sebagai pribadi. minat dan sikap. 2. Kesanggupan untuk memikul tanggung jawab sendiri merupakan ciri yang sangat essensial dari adanya individualitas pada diri setiap insan. yang juga memperhatikan kepribadian tiap peserta didik. penglihatan. maka masyarakat mempunyai kewajiban untuk . Menurut Oxendine dalam (Tim Dosen TEP. 3.agama.1995).

1978. sosial. serta melaksanakannya sehingga dikatakan manusia itu adalah makhluk susila. agar menjadi manusia yang bisa menjalani kehidupan bersama. Kehidupan sosial. Hakekat manusia sebagai makhluk sosial dan politik akan membentuk hukum. . Esensi manusia sebagai makhluk sosial pada dasarnya adalah kesadaran manusia tentang status dan posisi dirinya adalah kehidupan bersama. Sebab kemajuan manusia nampaknya akan bersandar kepada kemampuan manusia untuk kerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Sebagai makhluk sosial karena manusia menjalankan peranannya dengan menggunakan simbol untuk mengkomunikasikan pemikiran dan perasaanya. Dalam perkembangan ini. negara) dengan wibawanya wajib mengayomi individu. mendirikan kaidah perilaku. Melalui pendidikan dapat dikembangkan suatu keadaan yang seimbang antara perkembangan aspek individual. Kesadaran manusia sebagai makhluk sosial. Manusia sebagai Makhluk Sosial Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Menurut bahasa ilmiah sering digunakan istilah etiket (persoalan kepantasan dan kesopanan) dan etika (persoalan kebaikan). 1988). Manisfestasi manusia sebagai makhluk sosial. justru memberikan rasa tanggungjawab untuk mengayomi individu yang jauh lebih ”lemah” dari pada wujud sosial yang ”besar” dan ”kuat”. (Dirjarkara. Pada hakekatnya manusia memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan susila. Dilain pihak dikatan bahwa pendidikan berhubungan untuk ”dapat membangun diri sendiri serta bersamasama bertanggung jawab atas pembangunan bangsa”. (Arbi. kebersamaan. Kerjasama sosial merupakan syarat untuk kehidupan yang baik dalam masyarakat yang saling membutuhkan. Manusia sebagai Makhluk Susila Susila berasal dari kata su dan sila yang artinya kepantasan yang lebih tinggi. Dirjarkara mengartikan manusia susila sebagai manusia yang memiliki nilai-nilai tersebut dalam perbuatan. moral dan religi. pemerintah dan masyarakat. serta bagaimana tanggungjawab dan kewajibannya di dalam kebersamaan. Pendidikan merupakan tanggungjawab bersama antara keluarga. baik itu non formal (masyarakat) maupun dalam bentuk-bentuk formal (institusi.memberikan kesempatan pendidikan yang diimplikasikan oleh hak itu. serta bekerjasama dalam kelompok yang lebih besar. Jasi kesusilaan selalu berhubungan dengan nilai-nilai. kecuali melalui medium kehidupan sosial. nampak pada kenyataan bahwa tidak pernah ada manusia yang mampu menjalani kehidupan ini tanpa bantuan orang lain. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan dengan dirinya sendiri. C.36-39) nilai-nilai merupakan sesuatu yang dijunjung tinggi oleh manusia karena mengandung makna kebaikan. spesialisasi dan integrasi atau organissai harus saling membantu. D. Manusia tidak dapat menyadari individualitas.

Kodrat manusia sebagai makhluk susila dapat hidup aktif-kreatif. Struktur jiwa yang disebut das Uber Ich (super ego) yang sadar nilai esensial manusia sebagai makhluk susila. kemuliaan dan sebagainya. Oleh karena itu pendidikan harus mampu menciptakan manusia susila. persoalan norma. Persoalan mengenai masalah apakah tindakannya baik dan tidak baik. Pentingnya mengetahui dan menerapkan secara nyata norma. nilai dan kaidah sosial tersebut merupakan hasil persetujuan bersama demi untuk dilaksanakan dalam kehidupan bersama. Kesadaran susila (sense of morality) tidak dapat dipisahkan dengan realitas sosial. bersumber pada kepercayaan bahwa budi nurani manusia secara apriori adalah sadar nilai dan pengabdi norma-norma. adalah persoalan tentang nilai. Untuk kepentingan stabilitas kehidupan masyarakat itu sendiri Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya memiliki aturan yang berupa norma. dengan mengusahakan peserta didik menjadi manusia pendukung norma. 1. Dengan pendidikan pula peserta didik dapat tumbuh kesadarannya terhadap nilai. dan kaidah yang berlaku pada masyarakat. atau berbuat selaras dengan apa yang seharusnya diperbuat. das Ich dan das uber ich). berfungsinya nilai hanya ada di dalam kehidupan sosial. diterima dalam kelompok masyarakat tersebut. maka intervensi pendidikan bukan hanya sekedar penanaman kebiasaan atau latihan namun juga memerlukan motivasi dan pembinaan kata hati atau hati nurani yang kelak akan membentuk suatu keputusan. artinya kesusilaan atau moralitas adalah fungsi sosial. sadar diri dan sadar lingkungan. agar individu tersebut merasa aman. sehingga dapat diyakini dan dijadikan pedoman dalam hidup. demi untuk mencapai tujuan bersama (Tim Dosen FIP UM. tidak sembarang bertindak. dapat tumbuh suatu sikap untuk berbuat dan mau berbuat selaras dengan nilai. Tiap hubungan sosial mengandung hubungan moral.keluhuran. melainkan mereka dapat mempertimbangkan. Hubungan dan kebersamaan dengan sesama manusialah manusia dapat hidup dan berkembang sebagai manusia. antara lain: 1. Perbuatan yang selaras dengan nilai itulah yang menjadi inti dari perbuatan yang bertanggung jawab. dan nilai-nilai susila dan sosial yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Norma. Pandangan manusia sebagai makhluk susila atau bermoral. nilai dan kaidah sosial yang mengatur tingkah laku individu yang bergabung didalamya. Manusia bertindak. merancang. Pendirian ini sesuai dengan analisa ilmu jiwa dalam tentang struktur jiwa (das Es. Untuk kepentingan dirinya sendiri sebagai individu Setiap individu harus dapat menyesuaikan terhadap kehidupan dan bertingkah laku sesuai norma. 1995). nilai. efektifitas nilai. Peran pendidikan disini membantu mengarahkan perbuatan anak dalam kehidupannya dimasa mendatang.nilai dan kaidah masyarakat dalam kehidupan sehari-hari mempunyai beberapa alasan. kaidah. sebab adanya nilai. persoalan moral atau susila. dan mengarahkan tindakannya. 1986). . dan tiada hubungan susila tanpa hubungan sosial” (Noorsyam. “Tiada hubungan sosial tanpa hubungan susila.

pengabdian total untuk mencari kebenaran atau ideal-ideal yang lain. berdoa. tanggung jawab. Manusia memerlukan agama demi keselamatan hidupnya. baik dan buruk. manusia mampu mengendalikan amarah. Manusia sebagai Makhluk Keberagamaan Manusia adalah makhluk beragama. Dengan VQ. memiliki daya juang dan kreatifitas. kerjasama dn kesenia (estetika). Dengan adanya agama maka manusia mulai menganutnya. F. menghayati. kasih sayang. Tetapi sebagai pengembangan pengkajian lebih lanjut tentunya tidak dapat diserahkan hanya kepada satu pihak sekolah saja atau orang tua saja melainkan keduannya harus berperan. meskipun masih terbatas pada latihan kebiasaan (habit formation). Sedangkan potensi yang bersumber dari karsa adalah potensi ketahanmalangan atau adversity quontien (AQ) dan potensi vokasional quontien (VQ). Dengan EQ. Potensi Manusia Manusia dikaruniai fasilitas istimewa dan tidak dimiliki makhluk lain yaitu berupa akal. karsa. lemah lembut ataupun sebaliknya. walaupun kemudian ada yang menjadi agnostic (tidak mau tahu akan adanya Tuhan) atau atheis (mengingkari adanya Tuhan). serta nilai-nilai keagamaan. Tugas pendidikan yaitu membina pribadi manusia untuk mengerti. karya. manusia mampu menyatakan benar dan salah berdasarkan intelektual. Mereka cenderung untuk mengganti Tuhan yang bersifat pribadi seperti negara. Tuhan memberi tugas untuk mengatur. Dengan IQ. memiliki rasa iba. manusia mampu . melakukan ritual (ibadah) atau upacara-upacara. Kita mampu menghitung. membuat konstruksi bangunan. meyusun program. Oleh karena itu dimasukkannya kurikulum pendidikan agama di sekolah-sekolah. proses alam. Suatu fenomena bahwa manusia menyembah. dalam arti bahwa mereka percaya dan/atau menyembah Tuha. Dengan AQ. Manusia dapat menghayati agama melalui proses pendidikan agama. manusia membedakan mana yang baik dan yang buruk. penanaman sikap dan kebiasaan dalam beragama dimulai sedini mungkin. yakni potensi emosional atau emosional quontien (EQ) dan potensi spiritual atau spiritual quontien (SQ). Dengan SQ. Dengan adanya ini muncul sikap tabah. menyesali diri dan minta ampun kepada sesuatu yang ghaib.E. Dari semua kelebihan tersebut bisa dikembangkan kedalam potensi-potensi yang bersumber dari cipta. Dengan adanya EQ maka muncul sikap sabar. mengelola. Hubungan pribadi manusia dengan Tuhan lebih bersifat trasendental. dan hati nurani. Manusia juga diberikan kelebihan yaitu rasa. Selaras dengan pandangan manusia sebagai makhluk beragama. tangguh. Potensi ini sangat terkait dengan etika atau nilai-nilai moral. maka menggali nilai-nilai yang melandasi pendidikan itu hendaknya memperhatikan nilai-nilai yang bersumber pada Tuhan Yang Maha Esa dengan meyeimbangkan antara kehidupan dunia dan akherat. karena hubungan ini lebih banyak melibatkan rohani pribadi manusia yang bersifat perseorangan. manusia mampu menghadapi berbagai hambatan dan tantangan hidup. yaitu potensi intelektual atau intelectual quontien (IQ). memberdayakan dan menjaga kelestarian alam. Dengan akal. ras. Potensi dari rasa. Beragama merupakan kebutuhan manusia karena manusia adalah makhluk yang lemah sehingga memerlukan tempat bertopang. cipta. dan mengamalkan aspek-aspek religi dalam menjalani kehidupan sehari-hari. memahami.

daya cipta muncul bagaimana memulai dan menggambarkan model lukisan yang diinginkan. awal dari proses pengembangan diri manusia. indah. Dia punyai ide atau pikiran wujud benda yang mau dilukis. seorang pelukis ingin membuat sebuah gambar yang menarik menurut pendiriannya. Misalnya bidang olahraga. Hasil dari daya cipta ditunjukkan dengan wujud nyata. kesenian. Kalau tidak.infodiknas. Tetapi jika etika sosial dan keagamaan menjadi dasar dari semua karya cipta manusia akan sangat memungkinkan untuk diterima oleh lebih banyak orang dan lebih abadi. Setelah ide itu muncul dan pikiran mulai berproses. Berikutnya muncul kehendak (rasa) untuk mewujudkan keinginan membuat lukisan wanita itu. ketika pada diri manusia sudah ada kehendak untuk mewujudkan lukisan wanita. walaupun karya ciptanya bisa diterima orang lain.com . kedua potensi AQ dan VQ merupakan manisfestasi dari berbagai potensi diri yang direalisasikan dalam tindakan. dan menarik. yang berfungsi sebagai penyeleksi dan memberi penerangan pada setiap karya cipta manusia. selanjutnya dia menilai secara psikologis (rasa) bahwa model gambar wanita yang mau dilukis itu cocok. yakni yang berupa lukisan wanita sebagaimana yang dibayangkannya. Tidak semaunya pelukis itu membuat lukisan apapun tanpa mempertimbangkan etika. Potensi pikir. Karena manusia adalah mahluk beretika. Inilah fungsi daripada potensi hati nurani dalam diri manusia. Kehendak akan muncul dan ingin diwujudkan apabila hasil penilaian psikologis (rasa) cocok dengan selera sang pelukis. Contoh. Pada hakekatnya. Selanjutnya. itu sangat terbatas. maka karya cipta manuisa itu harus mengandung nilai etika. katakanlah gambar wanita. dan teknik. (Rulam Ahmadi) www.dan cenderung pada bidang-bidang ketrampilan atau kejuruan. Berikut akan dideskripsikan bagaimana potensi-potensi itu berproses pada diri manusia. termasuk pelukisnya juga mahluk etika.