PANCASILA SEBAGAI SUMBER DARI SEGALA SUMBER HUKUM, FILSAFAT HUKUM DAN FALSAFAH NEGARA.

REPUBLIK INDONESIA
.

oleh :
DR. J. HENDY TEDJONAGORO, SH Abstrak Hukum di Indonesia tidak dipisahkan dari masyarakat dan wilayah Indonesia serta perjalanan sejarahnya. Materi hukum di Indonesia harus digali dan dibuat dari nilai-nilai yang hidup di Masyarakat. Tulisan ini bertujuan mengeksplorasi Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum nasional dan sekaligus membuktikan bahwa selain filsafat Negara, Pancasila juga sebagai filsafat hukum Indonesia. Berdasarkan Stuven Theori dari Hens Kelsen yang diteruskan Hens Nawiasky, Pembukaan UUD 1945 merupakan filsafat Hukum Indonesia, sedangkan Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum dan Filsafat Negara. Filsafat hukum dan filsafat Negara serta Ideologi Negara Pancasila itu adalah Pedoman dasar bertindak atau berperilaku sesuai dengan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia yang berbeda dengan Volkgeist bangsa-bangsa lain. 1. Pendahuluan a. Latar Belakang Masalah Hukum Pcngcrtian hukum tidak dapat dipisahkan dari masyarakat. Marcus Tullus Cicero (106-43 SM), ahli hukum terbesar Romawi mengatakan bahwa diniana ada masyarakat disitu ada hukum (ubi societas, ibi ius). Selanjutnya, pengertian hukum tidak dapat dipisahkan dari negara dalam arti luas (masyarakat bernegara). Apabila berbicara tentang negara, maka kita berbicara tentang organisasi kekuasaan, sehingga hukum erat sekali hubungannya dengan kekuasaan. Seperti yang dinyatakan oleh Hans Kelsen, The State is a National Legal Order. Mochtar Kusumaadmadja menyatakan bahwa hukum tanpa kekuasaan adalah anga-angan dan kekuasaan tanpa hukum adalah kelalinian. Hukum memerlukan kekuasaan bagi pelaksanaannya, sebaliknya kekuasaan itu sendiri ditentukan batas-batasnya oleh hukum. Disini kita melihat betapa erat hubungan antara hukum, negara dan kekuasaan itu. Walaupun terdapat hubungan yang erat, tidak berarti negara berdasarkan kekuasaan. Seperti dinyatakan dalam pejelasan Undang-undang Dasar 1945 (UUD 1945), negara kita adalah negara berdasar atas hukum (rechstaat), bukan negara berdasar atas kekuasaan yang kemudian diadakan perubahan UUD 1945 yaitu pasal 1 NKRI adalah Negara Hukum. Masalah hukum tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat pada suatu wilayah dan waktu tertentu. Ini berarti hukum di Indonesia pun tidak dapat dipisahakan dari masyarakat dan wilayah Indonesia serta perjalanan sejarahnya. Berhubung dengan itu, materi hukum di Indonesia harus digali dan dibuat dari nilai-nilai yang terkandung dalam masyarakat bangsa Indonesia. Nilai-nilai itu dapat berupa kesadaran dan cita hukum (rechtsidee), cita moral, kemerdekaan individu dan bangsa, perikemanusiaan, keadilan sosial, perdamaian, cita politik, sifat, bentuk dan tujuan negara, kehidupan kemasyarakatan, keagamaandan sebagainnya.

sekalipun demikian Volksgeist itu tidak serta merta mewujud menjadi hukum. Bagi ahli sosiologi dan antropologi. Dalam Sociological Jurisprudence. sumber hukum adala undang-undang atau dokumen lain yang bernilai undang-undang. Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum a.Dengan perkataan lain. Pandangan tersebut ukuran yang digunakan untuk menentukan bahwa suatu hukum itu adil. dapat pula ketahui seperti apa dikatahui seperti apa diketahui seperti apa hukum yang hidup (living law). Tunjukkan bukti-buktinya bahwa disamping sebagai filsafat negara. sedapat mungkin hukum Indonesia harus bersumber dari bumi Indonesia sendiri. mengapa orang mentaati hukum dan sebagainya. maka ada alasan pula untuk mengatakan bahwa sumber hukum adalah masyarakat. hukum (positif) yang baik adalah apabila bersumber pada hukum yang hidup masyarakat. Ahli sejarah berbeda pandangannya tentang sumber hukum dengan ahli sosiologi dan antropologi. Yang dimaksud dengan masyarakat adalah hubungan antar individu dalam suatu kehidupan bersama (bermasyarakat). Apabila kita memperhatikan bahwa hukum tidak dapat dipisahkan dengan masyarakat. yaitu sumber hukum yang sebenarnya. yang dapat . Apabila kita dapat mengetahui Volksgeist ini. Ada pula yang membedakan sumber hukum sebagai kenborn. Demikian pula ahli ekonomi akan berbeda pendapatnya dengan ahli agama atau filsuf. Menurut pandangan ahli sejarah. b. Mengenai sumber hukum juga terdapat bermacam-macam anggapan. berarti kita dapat memahami nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat Indonesia. penganut mazhab sejarah. Benarkah Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum nasional ? 2. Dalam pandangan CF von Savigny. Pancasila juga sebagai filsafat hukum Indonesia ? 2. misalanya undang-undang. yurisprodensi. Sumber hukum menurut ahli ekonomi adalah apa yang tampak di lapangan penghidupan ekonomi dan ini berbeda dengan ahli agama yang menganggap sumber hukum tidak lain adalah kitab-kitab suci. berarti hukum Indonesia harus mencerminkan Volksgeist Indonesia. Pengertian Sumber Hukum Sumber hukum dapat dibedakan dalam dua golongan yaitu sumber hukum formil dan sumber hukum materiil. Jika dapat mengetahui nilai-nilai itu. traktat. Sumber hukum formil adalah bentuk hukum yang menyebabkan hukum itu berlaku sebagai hukum positif dan diberi sanksi oleh penguasa negara. Jadi sumber hukum tersebut harus mengalirkan aturan-aturan (norma-norma) hidup yang adil dan sesuai dengan perasaan dan kesadaran hukum (nilai-nilai) masyarakat. Sumber hukum materiil adalah sumber hukum yang menentukan isi suatu norma hukum. sumber hukmum justru adalah masyarakat seluruhnya. yaitu jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia. Untuk itu perlu dilakukan penelitian terus menerus karena mungkin ada nilai-nilai yang telah bergeser sehingga dapat menjadi masukan dalam penyusunan hukum positif. yaitu sumber hukum untuk mengetahui atau mengenal (kennen) sesuatu dan sumber hukum sebagai welborn. pendapat para ahli hukum terkenal (doktrin). Sumber hukum sebenarnya adalah kesadaran masyarakat tentang apa yang dirasakan adil dalam mengatur hidup kemasyarakatan yang tertib dan damai. Rumusan Masalah Berdasarkan hal-hal tersebut diatas maka timbul permasalahan sebagai berikut : 1.

sering dijumpai undang-undang yang mencerminkan rasa kaedilan masyarakat. disamping hukum yang berwujud undang-undang (formil) masih diperlukan sumber hukum yaitu sumber hukum materiil. khususnya Legisme. Sumber hukum formil itu adalah proses yang membuat suatu ketentuan menjadi ketentuan hukum yang berlaku umum. ukuran. Dibandingkan dengan perundangundangan. Kebiasaan adalah proses yang membuat suatu ketentuan menjadi ketentuan hukum yang berlaku umum yang tidak memenuhi persyaratan yang berlaku bagi perundang-undangan. Sumber Hukum Materiil Sumber hukum materiil ialah faktor yang menentukan isi ketentuan hukum yang berlaku. Termasuk perundang-undangan ini. 1. Apa yang dirasakan adil dan sesuai dengan kesadaran hukum masyarakat. Sumber hukum materiil itu ialah prinsip-prinsip yang menentukan isi ketentuan hukum yang berlaku. penetapan Peraturan Pemerintah dan penetapan Peraturan Daerah. yang membuat suatu ketentuan menjadi ketentuan hukum yang berlaku umum dengan pengertian ketentuan hukum yang merupakan produk dari proses tersebut. Aliran Positivisme Hukum. Proses ini ada dua. dalam hukum nasional Indoensia misalnya pembentukan Undang-undang. kebiasaan lebih sukar diketahui awal dan akhir prosesnya. sedangkan ketentuan . Sumber Hukum Formil Sumber hukum formil adalah faktor yang menjadikan suatu ketentuan menjadi ketentuan hukum yang berlaku umum. Diantara prinsip-prinsip yang diterima umum dalam masyarakat itu terdapat prinsip-prinsip hukum. tidak atau belum semuanya diserap dalam undang-undang yang telah ada. Dengan kata lain sumber hukum formal adalah proses yang membuat suatu ketentuan menjadi ketentuan hukum positif (Positiveringsporces). 2. Jadi hanya ada sumber hukum formil saja. Bahkan dibutuhkan sumebr dari segala sumber hukum sebagai alat penilai. Proses ini biasanya harus disertai dengan pengulangan dan penerimaan umum ketentuan tersebut sebagai suatu keharusan. Pencampur-adukan ini terjadi dalam kepustakan hukum nasional Indonesia dan kepustakaan hukum Internasional. Perundang-undangan adalah proses yang membuat suatu ketentuan menjadi ketentuan hukum yang berlaku umum yang dilakukan melalui prosedur yang ditentukan. Prinsip hukum dan ketentuan hukum sama-sama merupakan ketentuan yang mengatur tingkah laku orang dalam masyarakat secara umum. Dalam kepustakaan sering dicampur-adukan pengertian sumber hukum sebagai proses. yakni perundangundangan (legislation) dan kebiasaan. karena hukum disamakan dengan undang-undang. yakni ditetapkan bukan oleh penguasa masyarakat yang berwenang atau ditetapkan oleh penguasa masyarakat yang berwenang tetapi tidak dilakukan melalui prosedur yang ditentukan. Berhubung dengan itu. Prinsip hukum ini tidak berbeda menurut hakikatnya dengan ketentuan hukum. menganggap bahwa undang-undang adalah satu-satunya sumber hukum. atau batu ujian terhadap hukum yang berlaku itu benar-benar sesuai dengan rasa keadilan serta dapat menciptakan suasana damai dan ketertiban dalam masyarakat. Proses ini tidak dilakukan melalui prosedur yang ditentukan.menciptakan suasana damai dan teratur karena selalu memperhatikan kepentingan masyarakat.

Berlakunya norma itu dapat dirasakan sebagai kenyataan. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam perwakilan permusyawaratan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. karena kedaulatan rakyat kita dijiwai dan diliputi oleh Ketuhanan Yang Maha Esa dan sila-sila lain dari Pancasila. Norma tersebut belum sesuatu yang nyata (Sein). berasal dari rakyat. Kelsen juga menyatakan bahwa berlakunya hukum (Geltung des Rechts) sama halnya dengan kekuasaan negara. dan negara masingmasing. yang disebut Grundnom atau Ursprungnorm. setiap norma hukum berlaku atas dasar kekuatan norma yang lebih tinggi kedudukannya. (3) Karena badan seperti itu menurut teori hukum mempunyai wewenang menetapkan dasar negara yang paling fundamental. teori kedaulatan rakyat kita berbeda dengan teori Hobbes (yang mengarah ke absolutisme) dan Jhon Locke (yang berpengaruh ke arah demokrasi parlementer). Bagaimana halnya dengan negara kita mengenai tertib hukum yang tertinggi ini? Tertib hukum yang tertinggi dan sekaligus sumber dari segala sumber hukum itu. namun tertib hukum yang tertinggi adalah kedaulatan rakyat. kekuasaan negara yang diutamakan. Sebagai suatu norma. Sumber dari segala sumber hukum Negara yang mengikuti paham kedaulatan rakyat adalah kedaulatan rakyat (teori Kontrak Sosial dari Rousseau). dalam dua bukunya Allgemetre Straatslehre dan Reine Rechtslehre. Meskipun hal tersebut tidak konkert. Sumber tertib hukum inipun berbeda-beda. Jadi. yang menjadi sumber dari segala sumber hukum adalah ajaran-ajaran Tuhan yang berwujud wahyu.hukum mengatur tingkah laku orang dalam masyarakat secara rinci. b. Bagi negara yang mengikuti paham negara teokrasi. tetapi masih sesuatu yang ideal (sollen). bergantung kepada masyarakat. tentu perwujudan Grundnorm ini tidak dapat dilihat atau diraba seperti halnya benda. Menurut Hans Kelsen. bangsa. Untuk negara yang mengikuti paham negara kekuasaan (menurut teori Hobbes). semula diwakili kepada suatu badan istimewa yang disebut Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Sumber dari Segala Sumber Hukum (Sumber Tertib Hukum) Sumber tertib hukum. Demikian pula. Walaupun demikian. badan ini adalah badan yang melahirkan atau membentuk negara Republik Indonesia. persatuan Indonesia. yang disebut dasar falsafah negara atau norma dasar hukum negara. (2) Karena menurut sejarah perjuangan kemerdekaan. yang terhimpun dalam kitab-kitab suci atau yang serupa dengan itu. dasar validitas itu pada suatu saat harus berhenti. yang dianggap sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah kekuasaan atas kekuatan. yakni pada satu norma yang paling tinggi. Kedaulatan rakyat itu menurut sejarah pembentukan negara kita. demikian seterusnya. kemanusiaan yang adil dan beradab. Teori kedaulatan rakyat dari Rousseau tidak sama dengan teori kedaulatan rakyat Negara Pancasila. . Badan ini memiliki keistimewaan yaitu: (1) Karena badan ini mewakili seluruh bangsa Indonesia dan sekaligus sebagai pembentuk negara Republik Indonesia. yang biasanya disebut sumber dari segala sumber hukum (maha sumber hukum) adalah sumber hukum yang terakhir dan tertinggi. Prinsip hukum itu di Indonesia misalnya ketuhanan yang maha esa.

hendaklah memperhatikan juga hukum tidak tertulis itu. maka unsur-unsur hukum adat dan hukum agama ditransformasikan atau menjadi bagian dari bidang-bidang hukum sistem hukum nasional. Harus diakui bahwa hukum adat dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk hukum tidak tertulis yang mencerminkan kepribadian bangsa. perdamian nasional dan mondial.Jadi dasar negara kita. jelas pula bahwa Pancasila itu yang menjadi sumber dari segala sumber hukum negara kita. mengandung nilai-nilai bangsa. Apabila kita menggunakan teori Kelsen untuk menjelaskan pengertian Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum (sumber tertib hukum0. “Sumber tertib hukum suatu negara atau yang biasa dinyatakan sebagai sumber dari segala sumber hukum adalah pandangan hidup. tetapi yang akan mengenal jauh lebih banyak bidang hukum lagi seperti hukum lingkungan. kemerdekaan bangsa. Disamping hukum yang tertulis dalam undang-undang masih terdapat hukum lain yang tidak tertulis. termasuk MPR hasil pemilihan umum . perikemanusiaan. Pancasila telah disahkan oleh suatu badan yang memang berwenang untuk itu. Dasar negara Pancasila itu dinyatakan secara tegas dalam pokok-pokok pikiran dari Pembukaan UUD 1945. V/MPR/1973 dan Ketetapan MPR No. hukum ekonomi. Kata ”memperhatikan” mengandung unsur pertimbangan yang hati-hati. Dalam kutipan diatas juga tertulis “cita-cita hukum” sebagai suatu terjemahan yang kurang tepat dari kata “rechtsidee”. XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPR-GR mengenai Sumber Tertib Hukum Republik Indonesia dan tata Urutan Peraturan Perundangan Republik Indonesia. lebih tepat ditulis “cita hukum” saja. karena pluralisme hukum tidak lagi ingin dipertahankan. terutama asas-asasnya yang sesuai dengan tujuan pembangunan nasional. yang di akhir abad ke-20 ini diperkirakan tidak lagi hanya akan terbagi-bagi dalam hukum tata negara. sebagaimana disampaikan oleh Sunaryati Hartono Sunario. cita-cita moral mengenai kehidupan kemasyarakatan dan keagamaan. walaupun diakui perlu dilakukan penyempurnaan. hukum acara dan hukum administrasi negara. XX/MPRS/1966 dijelaskan bahwa Pembukaan UUD 1945 sebagai pernyataan kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan memuat Pancasila sebagai dasar negara. apabila kita ingin menemukan hukum yang dirasakan adil oleh bangsa Indonesia. Dalam Ketetapan MPRS No. bukan berarti pandangan Kelsen adalah penganut Positivisme Hukum dan dapat pula dimasukkan ke dalam Neokantianisme. Dengan demikian. hukum pidana. Apalagi. karena dapat saja terjadi nilai-nilai dalam hukum adat itu ternyata tidak sesuai apabila diangkat ke tingkat nasional. cita-cita politik mengenai sifat bentuk dan tujuan negara. dengan demikian. dinyatakan. Dalam ketetPn MPRS No. Dalam pandangan Positivisme Hukum. ialah cara mengenai kemerdekaan individu. hukum identik dengan undang-undang sehingga tiada hukum diluar undang-undang. IX/MPR/1978 masih berlaku sampai sekarang. dan lebih dalam lagi meminjam istilah von Savigny memuat volksgetst Indonesia. kesadaran dan cita-cita hukum serta cita-cita moral yang meliputi suasana kejiwaan serta watak dari bangsa Indonesia. yang berarti berlaku untuk semua golongan penduduk Indonesia. seperti hukum adat. hukum perdata. terutama Legisme. Ketetapan ini menurut Ketetapan MPR No. keadilan sosial. Pada tanggal 18 Agustus 1945 telah dimurnikan dan di padatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar negara Republik Indonesia yaitu Pancasila. merupakan satu rangkaian dengan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan oleh karena itu tidak dapat diubah oleh siapapun juga. hukum kesehatan dan hukum komputer.

dan (3) pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) dan Dewan Pertimbangan Agung Sementara (DPAS). Perwujudan Sumber dari Segala Sumber Hukum bagi Republik Indonesia Perwujudan sumber dari segala sumber hukum bagi Republik Indonesia adalah sebagai berikut: 1) Proklamasi kemerdekaaan 17 Agustus 1945 Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan titik kulminasi dari sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia setelah selama berabad-abad dengan didorong oleh Amanat Penderitaan Rakyat (Ampera) yang berjiwakan Pancasila. Dengan demikian Negara dan Hukum Nasional kita lahir pada saat ”Declaratoin of Independence” yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945. dasar pertimbangannya adalah sebagai berikut: a) Setelah sekian tahun ditinggalkan. c. 7 tanggal 15 Pebruari 1946. yakni antara naskah yang dimuat dalam Berita Republik Indonesia tahun II No. 7 tanggal 15 Pebruari 1946. Dekrit tersebut dikeluarkan atas dasar hukum darurat negara (staatsnoodrecht). UUD 1945 dinyatakan berlaku kembali dengan Dekrit Presiden RI tanggal 5 Juli 1959. 75 tahun 1959. Batang Tubuh dan Penjelasannya Pernah terjadi suatu polemik mengenai dua naskah UUD 1945 yang berbeda. sehingga sangat mengganggu pengertian. . 75 tahun 1959). maka yang dimaksudkan seharusnya adalah UUD 1945 sebagaimana naskahnya dimuat dalam Berita Republik Indonesia tahun II No. Proklamasi. Batang Tubuh dan Penjelasannya. mengingatkan keadaan ketatanegaraan yang membudayakan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara. maka pada tanggal 18 Agustus 1945. 3) Undang-Undang Dasar. Kemudian atas dasar aturan Peralihan UUD 1945 itu. PPKI menetapkan Undang-undang Dasar Kesatuan Republik Indonesia. termasuk Pembukaan.yang berdasarkan Pasal 3 dan Pasal 37 UUD 1945 berwenang menetapkan dan mengubah undang-undang dasar. Perlu ditegasakan disini bahwa apabila disebutkan „Undang-undang Dasar 1945”. PPKI telah pula memilih Soekarno sebagai Presiden pertama Republik Indonesia dan Mohammad Hatta sebagai Wakil Presiden. Untuk mewujudkan tujuan Proklamasi tersebut. Isi dekrit tersebut diumumkan dalam Lembaran Negara RI No. tanggal 5 Juli 1959. (2) berlakunya kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi Undang-Undang Dasar Sementara 1950. 2) Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 menetapkan tiga hal: (1) pembubaran Konstituante. yang terdiri dari Pembukaan. 7 tanggal 15 Pebruari 1946 dan naskah yang dilampirkan pada Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 (Lembaran Negara RI No. Lebih jauh lagi naskah UUD 1945 dalam lampiran itu tidak sesuai dengan naskah yang memuat dalam Berita Republik Indonesia tahun II No. karena mengubah isi Pembukaan berarti pembubaran negara. Lembaran Negara tersebut memuat pula lampiran naskah UUD 1945 yang isinya ternyata terdapat banyak kesalahan cetak.

kesadaran dan cita hukum. Supersemar ini memberi legitimasi kepada Letjen Soeharto untuk mulai mengambil segala tindakan yang dianggap perlu agar pelaksanaan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dapat berlangsung secara murni dan konsekuen. Pada kesempatan itu. serta Penjelasannya. keadilan sosial. yang kutipan lengkapnya adalah sebagai berikut: “Saudara Ketua. Perdana Menteri Djuanda memberikan keterangan (sebagai jawaban pemerintah dalam rangka kembali ke UUD 1945). perikemanusiaan. kemerdekaan bangsa. bentuk.dalam sejarah telah tercatat. yang harus dipandang sebagai pemberitaan resmi oleh pemerintah”. 4 Pasal Aturan Peralihan. yang mengandung cita-cita luhur Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa perbedaan naskah UUD 1945 pada lampiran itu semata-mata karena kesalahan pengetikan. dan tujuan negara. Pemerintah RI telah memberikan keterangan yang mendukung alasan pertama diatas. bukan sesuatu yang disengaja. diuraikan terinci dalam Pembukaan UUD 1945 yang mengandung nilai-nilai Pancasila. Dari uraian tersebut. Pemerintah perlu menegaskan pertama-tama. tanggal 15 Pebruari 1946. Pembukaan UUD 1945 sebagai pernyataan kemerdekaan yang terinci. seperti pembubaran Partai Komunis Indonesia (PKI) bersama dengan organisasi massa dibawah naungannya serta memberi laporan pertanggung jawaban pada Presiden/PBR. keagamaan sebagai pengejawantahan dari budi nurani manusia telah dimumikan dan dipadatkan menjadi dasar negara Pancasila. 37 Pasal. termasuk menjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan Presiden/Pangti ABRI/PBR Mandataris MPR. Pembukaan UUD 1945 adalah penuangan jiwa Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.b) Dalam acara Pemandangan Umum Babak II Sidang konstituante RI tanggal 21 Mei 1959. demi untuk keutuhan bangsa dan negara Republik Indonesia dan melaksanakan dengan pasti segala ajaran PBR. . dan 2 ayat Aturan Tambahan). untuk terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan jalanya pemerintahan dan revolusi. 4) Surat Perintah 11 Merat 1966 Inti pokok dari Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) adalah perintah kepada Letjen Soeharto Mentri/Panglima Angkatan Darat. kehidupan kemasyarakatan. c) Dalam Dekrit Presiden tanggal 5 Juli 1959 tidak disebutkan adanya lampiran naskah UUD 1945 yang telah diadakan perubahan. agar mengambil segala tindakan yang dianggap perlu. Pancasila yang menjiwai Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945. cita politik mengenai sifat. dapat disimpulkan bahwa sumber dari segala hukum yang meliputi pandangan hidup. cita moral yang mengenai kemerdekaan individu. untuk atas nama Presiden/Panglima Tinggi ABRI/Pemimpin Besar Revolusi (PBR) Soekarno. Batang Tubuh (16 Bab. yakni jiwa Pancasila. pemerintah berpegang pada naskah yang dimuat dalam Berita Republik Indonesia Tahun II no 7. maka akan terjadi perpecahan bangsa dan negara dan adanya kesalahan dalam penerapan ajaran-ajaran PBR. UUD 1945 terdiri atas Pembukaan (4 alenia).bahwa menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 sebagai UndangUndang Dasar Republik Indonesia. Apabila kurangnya stabilitas ini tidak diatasi. bahwa Letjen Soeharto kemudian melakukan berbagai tindakan strategis. selanjutnya dijabarkan dalam Pasal-Pasal dari Batang Tubuh UUD 1945. perdamaian nasional dan mondial.

6) Peraturan-peraturan pelaksana lainnya. 4) Peraturan Pemerintah 5) Keputusan Presiden. hal ini berarti bahwa semenjak itu kekuasaan pemegang Supersemar tidak lagi bersumber pada hukum tata negara yang tidak tertulis. Instruksi menteri dan lain-lain. karena sumber utama dari segala kekacauan adalah Partai Komunis Indonesia (PKI). yaitu: (1) melanjutkan pelaksanaan Pembangunan Lima Tahun dan menyusun serta melaksanakan Rencana Lima Tahun II dalam rangka GBHN. Dalam sidang V MPRS tahun 1968. terbukanya jalan untuk melaksanakan cita-cita Orde Baru. (2) membina kehidupan masyarakat agar sesuai dengan demokrasi Pancasila. maka tindakan pertama dalam mewujudkan cita-cita Orde Baru adalah membubarkan PKI dan organisasi massa di bawah naungannya. dengan penafsiran resmi tersebut. 3) Undang-undang/Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang. (2) mengambil tindakan-tindakan untuk membersihkan aparatur negara dari semua bentuk penyelewengan-penyelewengan. maka bagi pemegang Supersemar. XX/MPRS/1966 disebut “peraturan perundangan) adalah sebagai berikut: 1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945. serta mengamankan 15 orang menteri yang mempunyai indikasi terlibat G-30 S/PKI. Dalam perkembangan berdasarkan Ketetapan MPR No X/MPR/1973. tata urutan peraturan perundang-undangan (dalam Ketetapan MPRS No. isi ketetapan MPRS tahun 1968 diatas memuat kembali dan diperluas/ditambah dengan tiga wewenang lain kepada Presiden/Mandataris MPR. dan (4) memelihara persatuan bangsa dan tegaknya negara persatuan Republik Indonesia atas landasan Pancasila dan UUD 1945. Sidang MPRS IV tahun 1966 menerima dan memperkuat Supersemar ini dengan mengangkatnya menjadi Ketetapan MPRS No. Menurut ketetapan itu. XX/MPRS/1966. yang dituangkan dalam Ketetapan MPRS No. MPRS memberikan penafsiran yang lebih luas atau penjelasan resmi terhadap Ketetapan MPRS No.Tanggal 31 Maret 1966 disebut sebagai tonggak pelaksanaan orde Baru karena dengan keluarnya Supersemar. IX/MPRS/1966. IX/MPRS/1966 untuk lebih disesuaikan dengan perkembangan Orde Baru. . (3) mengamankan kebijaksanaan pengembalian pelaksanaan UUD 1945. dan (3) melaksanakan politik luar negeri yang bebas aktif dengan orientasi pada kepentingan nasional. Hal ini telah diatur pula dalam Ketetapan MPRS No. 2) Ketetapan MPR. seperti: Peraturan Menteri. tetapi bersumberkan pada kedaulatan rakyat yang dilaksanakan oleh MPR/MPRS (Pasal 1 ayat (2) UUD 1945). Tata Urutan Peraturan Perundang-undangan Satu hal yang erat kaitannya dengan pembahasan mengenai sumber dari segala sumber hukum ini adalah tentang tata urutan peraturan perundang-undangan. d. maka pengemban Supersemar diberi wewenang untuk: (1) mengambil semua tindakan yang dianggap perlu untuk mencegah kembalinya G30S/PKI. XLIII/MPRS/1968.

norma hukum dasar dari suatu negara mungkin saja untuk diubah. Pertimbangannya. menurut Carl Schmitt merupakan keputusan atau consensus bersama tentang sifat dan bentuk suatu kesatuan politik (eine Gesammtenscheidung Uber Art und Form etner Politischen Einhet) yang disepakati oleh suatu bangsa. sifatnya masih merupakan aturan-aturan pokok dan belum mengundang suatu sanksi dan sifatnya masih umum. aturan-aturan dasar negara ini apabila dituangkan dalam suatu dokumen negara disebut dengan undang-undang dasar atau Verfassung. Hans Nawlasky dengan teorinya Die Stufenordnung der Rechtsnormen atau Die Lehre von dem Stufenoufbau der Rechtsordnung. Terakhir adalah Verordnungen dan Autonome Satzungen atau peraturan pelaksanaan dan peraturan-peraturan otonom. Staatsfundam entalnorm ini masih bersifat abstrak. kesusilaan. yakni sebagai norma tertinggi. Sifat aturan dalam undang-undang dasar tersebut masih abstrak. Dalam hal ini merupakan peraturan-peraturan yang sifatnya delegasian atau atribusian. Jika Staatsfundam entalnorm adalah norma dasar negara. sedangkan norma tertinggi Grundnom yang pada hakikatnya tidak mudah diubah-ubah. maka Staatsgrundgesetze merupakan aturan-aturan dasar/pokok negara. Nawiasky memberi norma hukum dalam empat kelompok norma. dan hukum) mengalami lapisan-lapisan dari yang terendah sampai yang tertinggi. Artinya. Hakikat hukum suatu Staatsfundam entalnorm ialah syarat bagi berlakunya suatu konstitusi atau undang-undang dasar. baik berupa paksaan pelaksanaan (Vollsstreckungszwang) maupun berupa hukuman (Strafe). Memang buru pada sistem undang-undang ini kita memperoleh suatu tata norma hukum yang mengikat (verbinlich) secara nyata. Berbeda dengan Kelsen. Teori Kelsen ini sesungguhnya masih bersifat umum karena tidak ditujukan khusus kepada norma hukum. Formelle Gesetze atau undang-undang (formal). yang biasanya sudah dapat dilekatkan ketentuan memaksa. Groundnorm tersebut harus diterima secara aksiomatis (kenyataan yang diterima sebagai kebenaran tanpa perlu pembuktian lebih lanjut). Hans Nawlasky mengemukakan lebih lanjut bahwa apa yang disebut sebagai peraturan perundang-undangan dalam suatu negara Formelle Gesetze dan semua peraturan pelaksanaannya. Ia ada terlebih dulu sebelum adanya konstitusi atau undang-undang dasar. teori Nawiasky lebih bersifat khusus. setiap norma itu mendasarkan validitasnya dari norma lain yang lebih tinggi. sopan santun. Dibawahnya terdapat Staasgrundgesetz yaitu dasar negara yang biasanya berupa undang-undang dasar (Verfassung) atau konstitusi. Biasanya. sedangkan konstitusi. dan apabila ditungkan dalam beberapa dokumen akan disebut sebagai aturan dasar atau Grundgesetze. Ia sengaja menggunakan istilah Staatsfundam entalnorm bukan Grundnom atau Staatsgrundnorm. Aturan dasar negara antara lain menentukan tata cara membentuk peraturan perundang-undangan lainnya yang mengikat umum. Jenis norma hukum yang lebih rendah lagi adalah Formelle Gesetze karena suatu dapat dilengkapi ketentuan-ketentuan . untuk menyebutkan norma yang tertinggi itu.Menurut Stufentheorle dari Hans Kelsen. walaupun lebih konkret dibandingkan Staatsfundam entalnorm. yaitu: (1) Staatsfundam entalnorm (2) Staatsgrundgestze (3) Formelle Gesetze dan (4) Verordnungen dan Autonome Satzungen. norma apapun (agama. karena ia sudah diterapkannya terhadap norma hukum sebagai aturan-aturan yang dikeluarkan oleh negara. Teori jenjang kelsen ini kemudian dikembangkan lebih lanjut oleh muridnya. Hamis Attamimi dalam disertasinya dengan mengutip Nawlasky dan Carl Schmitt menjelaskan bahwa isi Staatsfundamentalnorm adalah norma yang merupakan dasar bagi pembentukan konstitusi atau undang-undang dasar suatu negara (Staatverfassung). termasuk norma perubahannya.

maka susunan yang disarankan adalah: 1) Peraturan perundang-undangan tingkat Pusat: (a) Undang-undang/peraturan pemerintah undang-undang. (d) Keputusan Kepala lembaga pemrintah non departemen. V/MPR/1973 dan Ketetapan MPR No.mengenai sanksi-sanksi bagi pelanggannya. Kedua. Hamid S. sehingga seharusnya keduanya dimasukkan sebagai aturan dasar negara (staatsgrundgesetze menurt teori Nawiasky). Menteri Ketetapan MPRS No. sedangkan keputusan yang bersifat mengatur dan berlaku terus menerus tidak disebut dalam ketetapan itu. (e) Keputusan Direktur Jenderal. Hamid S. Kata “bentuk‟ lebih menunjuk pada ciri-ciri lahiriah. UUD 1945 (Batang Tubuhnya) bukan peraturan perundang-undangan karena ia dibentuk oleh badan yang membentuk negara ini (PPKI). Menurut A. Berdasarkan catatan di atas. mengingat kata dasarnya adalah “undang-undang”. terutama jika ditinjau dari sudut ilmu perundang-undangan. yang dapat disebut sebagai peraturan perundangundangan hanya undang-undang atau peraturan pemerintah pengganti undang-undang sampai dengan Keputusan KDH tingkat II. Hal ini bukan tidak disadari oleh MPR. (c) Keputusan Presiden. Kelima. Attamimi. sedangkan “jenis” berarti macam peraturanperundang-undangan tersebut. (b) Peraturan Pemerintah. Istilah pertama tidak mencerminkan suatu tingkatan atau jenjang (hirarki) dari peraturan perundangundangan yang mengandung fungsi. padahal peraturan perundang-undangan itu bersifat umum. 2) Peraturan perundang-undangan tingkat daerah: (a) Peraturan daerah tingkat I (b) Keputusan Gubernur KDH I (c) Peraturan daerah tingkat II (d) Keputusan Bupati/Walikota KDH II . Ketiga. karena dapat diartikan secara luas. Didalam ketetapan tersebut disebutkan Keputusan Presiden yang einmahlig (berlaku sekali saja). mengingat dalam ketetapan MPR No. Jenis terakhir adalah Verordnungen dan Autonome Satzungen berupa peraturan pelaksanaan atau peraturan otonomi yang bersifat konkret. Istilah “perundangan” seharusnya diganti dengan “perundang-undangan”. XX/MPRS/1966 ini banyak mengandung kekurangan. hanya dengan Ketetapan MPR sebagai produk hukum lembaga tertinggi negara. IX/MPR/1978. Perkataan “dan lain-lain” adalah tidak benar. Keenam. Istilah “tata urutan” yang sebaiknya diganti dengan “tata susunan”. Istilah “bentuk” peraturan perundang-undangan sebaiknya diganti dengan “jenis”. materi dan jenis yang berbeda. telah ada amanat untuk menyempurnakan Ketetapan MPRS No. XX/MPRS/1966 itu. Ada tujuh catatan yang dibeerikan oleh Maria Farida Indrarti yang pendapanya juga sejalan dengan pemikiran A. Demikian pula. Keempat. Instruksi Menteri tidak tepat dimasukkan ke dalam susunan peraturan perundangundangan karena instruksi bersifat konkret dan merupakan perintah dari atsan kepada bawahan. Peraturan Menteri sebaiknya diganti dengan “Keputusan Menteri”. Ketujuh. (f) Keputusan “badan” negara (yang otonomi). Attamimi: Pertama.

Pancasila digali dari pandangan hidup bangsa Indonesia yang merupakan jiwa dan kepribadian bangsa Indonesia sendiri. menurut Attamimi. Pancasila “dibuat” (dalam arti digali) oleh Bangsa Indonesia juga ada tujuannya. adalah norma hukum yang paling tinggi. Padahal. Pertanyaan kita sekarang. jika mengikuti teori Nawiasky. sedangkan Batang Tubuh UUD 1945 tidak dapat dipersamakan dengan undang-undang formal biasa. Hukum di Indonesia harus menjamin dan menegakkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pembukaan UUD1945 yang merupakan pencerminan Pancasila dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Batang Tubuh UUD 1945 serta Penjelasannya. yakni sebagai cita-cita serta pandangan hidup bangsa dan negara Republik Indonesia. . Dilihat dari materinya. Pancasila menempati kedudukan yang paling tinggi. Pancasila dalam Pembukaan UUD 1945. juga kedudukannya juga tidak sama. Pancasila memiliki fungsi utama sebagai dasar negara Republik Indonesia. Dasar negara Pancasaila terbuat dari materi atau bahan “dalam negeri” yang merupakan asli murni dan menjadi kebanggan bangsa. Dilihat dari kedudukannya. Dengan menjadikan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. Ketetapan-ketetapan MPR yang merupakan produk dari lembaga tertinggi negara semestinya juga termasuk dalam aturan-aturan dasar negara (Staatsgrundgestze). maka sebenarnya yang termasuk peraturan perundang-undangan di Republik Indonesia adalah undang-undang ke bawah atau undang-undang dan peraturan-peraturan pelaksanaannya yang bersifat delegasian atau atribusian. sehingga apabila Pembukaan UUD 1945 adalah norma dasar negara (Staatsfundam entalnorm) dan Batang tubuh UUD 1945 serta Ketetapan MPR merupakan aturan-aturan dasar negara. Rumusan pancasila ini dijumpai dalam alenia keempat Pembukaan UUD 1945.Undang-Undang dasar 1945 dan ketetapan MPR/MPRS tidak dimasukkan ke dalam tata susunan peraturan perundang-undangan itu karena dalam Pembukaan UUD 1945 mengandung norma dasar negara (Staatsfundam entalnorm) dan Batang Tubuh UUD 1945 adalah aturan dasar negara (Staatsgrundgestze). dilihat dari fungsinya. sama dengan menempatkannya terlalu rendah. yaitu Filsafat Hukum pancasila. Staatsfundam entalnorm indonesia adalah pembukaan UUD 1945 karena didalamnya dimuat rumusan Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. Dengan kata lain. meskipun mungkin saja mendapat pengaruh dari luar negeri. 3. berarti kita menjadikan Pancasila sebagai ukuran dalam menilai hukum kita. Pancasila dengan demikian adalah identik dengan kebenaran dan keadilan bagi bangsa Indonesia. baik dalam rumusannya maupun dalam pokok-pokok pikirannya. Dasar negara kita tidak diimpor dari luar. Aturan-aturan hukum yang diterapkan dalam masyarakat harus mencerminkan kesadaran dan rasa keadilan sesuai dengan kepribadian dan falsafah hidup Indonesia. Menggolongkan UUD 1945 ke dalam peraturan perundang-undangan. bagaimana halnya dengan Grundnorm atau Staatsfundam entalnorm di negar kita? Kita sudah sepakat bahwa pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum. yang merupakan hasil kajian dan perenungan jiwa yang dalam dari Bangsa Indonesia. karena selain lembaga pembentukannya tidak sama. Pancasila sebagai Sumber dari Filsafat Hukum Indonesia Segala sesuatu yang dibuat menuasia tentu ada tujuannya. sehingga tepat sekali jika Pancasila dijadikan sebagai sumber dari segala sumber hukum. Tujuannya adalah untuk dipergunakan sebagai dasar negara. Jadi.

Fungsi hukum nasional kita adalah pengayoman sebagaiamana pernah diintroduksi oleh saharjo pada tahun 1963. yang identik dengan pokok-pokok pikiran dalam Pembukaan UUD 1945. (2) seluruh tumpah dara Indonesia. ditegaskan bahwa hukum peradilan itu bersumber pada Filsafat Peradilan yang merupakan bagian dari Filsafat Hukum “Pancasila”. tidak dapat dilakukan langsung begitu saja. Apabila filsafat hukum mengadakan penilaian tehadap hukum (apakah hukum yang ada itu sudah memenuhi rasa keadilan. alat penilai atau batu ujiannya adalah Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum. ini pedoman bagi Mahkamah Konstitusi R. Pembangunan hukum Indonesia harus mampu mengarahkan dan menampung kebutuhan-kebutuhan hukum sesuai dengan tingkat-tingkat kemajuan pembangunan di segala bidang. dan (6) terhadap usaha mencerdaskan bangsa agar pelaksanaan pembangunan menyeluruh. Filsafat Hukum dan Filsafat Negara serta Ideologi Pancasila itu adalah pedoman dasar bertindak atau perilaku sesuai dengan jiwa dan kepribadian Bangsa Indonesia yang berbeda dengan Volksgeist bangsa-bangsa lain.” maka dalam mengintepretasikan Pembukaan UUD 1945 (sebagai filsafat hukum Indonesia). dan kemanfaatan). kehormatan. maka Batang Tubuh UUD 1945 adalah teori hukumnya. kepastian hukum. Pada bagian lain dikatakan Penjabaran Kekuasaan Kehakiman yang merdeka itu bersumber pada Staatsidee (Filsafat Negara) dan Rechtsidee (Filsafat Hukum).Karena Pembukaan UUD 1945 merupakan Staatsfundam entalnorm. hukum dengan aturan-aturannya yang terutama bersumber pada rasa keadilan agar dapat melindungi: (1) segenap bangsa Indonesia. melainkan harus melalui pasal-pasal dalam Batang Tubuh berikut dengan Penjelasan UUD 1945 (sebagai teori hukumnya). kebebasan individu. Adapun penjelesan UUD 1945 kita memberikan latar belakang pikiran dan suasana batin yang muncul pada saat UUD 1945 itu dibentuk.warganegaranya. yang mengandung pancasila itu. maka dapat disimpulkan bahwa Pembukaan UUD1945 adalah filsafat hukum Indonesia. Teori hukum tersebut meletakkan dasar-dasar failsafati hukum positif kita.I. Dalam disertai saya. Dikatakan demikian karena dalam Batang Tubuh UUD 1945 itu akan ditemukan landasan hukum positif Indonesia. sehingga tercapai pula ketertiban dan kepastian hukum yang mengarah pada manfaat untuk meningkatkan pembinaan kesatuan bangsa NKRI. Jadi penjabaran tentang filsafat hukum Indonesia itu ada dalam teori hukumnya. serta Pancasila merupakan sumber dari segala sumber hukum. (5) jiwa. Apabila Pembukaan UUD 1945 merupakan filsafat hukum Indonesia. Soedjono Dirdjosisworo menegaskan bahwa Filsafat Peradilan Pidana dan perbandingan hukum merupakan sumber pembaharuan Hukum Pidana Nasional. maka bagi bangsa Indonesia. yang dipergunakan sebagai ukuran. . kemudian masuk dalam pasal-pasal setelah perubahan UUD 1945 I s/d IV (1999-2002) yang masihperlu penyempurnaan bagi melalui Perubahan ke IV sebelum tahun 2009. (4) masyarakat Indonesia dan individu-individunya. dan harta bendanya. (3) cita-cita dan tujuan bangsa Indonesia. Sesuai dengan bunyi “kalimat kunci” dalam Penjelasan UUD 1945: “Undang-Undang Dasar menciptakan pokok-pokok pikiran yang terkandung dalam Pembukaan dalam Pasalpasalnya.